Rabu, Mei 6, 2026
Beranda blog Halaman 46

Harapan itu Misteri

0

Ada kalanya kita menep (berhentik sejenak) untuk berefleksi terhadap jalan hidup yang kita terjuni guna memeroleh penyegaran diri. Energi menep akan mampu mendorong lejitan semangat untuk melampaui apa yang disebut gagal, tidak berhasil, atau tertunda harapan seseorang. Masa depan itu misteri, maka kesigapan kedisinian akan menyadarkan penerimaan bahwa apa yang sudah dilakukan, biarlah menjadi pengalaman yang ada. Harapan tetap menjadi pemantik bahwa esok hari kita masih harus berkarya agar bahagia.

KampusDesa.or.id–Setiap manusia mempunyai cita-cita, mimpi dan harapan untuk kehidupannya di masa mendatang. Entah itu dalam segi ekonomi, pendidikan, karir, keluarga, cinta, atau pun hal-hal yang lain. Intinya, ingin hidup bahagia di masa depan.

Harapan dalam diri setiap manusia berbeda-beda, tergantung pemikiran dan passion masing-masing orang. Yang pasti, siapapun tak akan bisa melakukan intervensi harapan dalam hati sanubari person to person. Maksudnya adalah, manusia satu tak bisa dan tidak boleh mencegah, menghalangi dan menghambat harapan manusia lainnya, meskipun itu orang terdekatnya sekalipun (baca: orang tua, suami, istri).

Beruntunglah jikalau kita mempunyai harapan. Itu tandanya, pemikiran dan perasaan kita masih hidup dan jiwa kita optimis untuk meraih harapan itu. Sebaliknya jika sudah tak punya harapan, itu tandanya pemikiran dan perasaan kita telah mati, jiwa kita penuh rasa pesimis.

Memang harapan itu adalah misteri yang tak terlihat dan teraba sebelum semuanya menjadi nyata. Namun, kita mesti tetap menyalakan api keyakinan dalam dada, bahwa harapan kita pasti tercapai dan menjadi fakta. Entah bagaimana caranya, terserah Tuhan. Sebagai manusia kita sekuat tenaga untuk mewujudkan harapan itu, setelah itu pasrahkan kepada Tuhan sebagai Saat Yang Maha Menentukan.

Pasti ada solusi dan kata kunci dalam teka-teki ini, kalau kita jeli, ajeg dan telaten dalam berusaha menyelesaikannya.

Harapan juga hampir sama dengan teka-teki yang menuntut kita untuk menyelesaikannya. Memang pusing dalam mengerjakan teka-teki ini, namun tetap tak boleh menyerah sebelum teka-teki terpecahkan. Pasti ada solusi dan kata kunci dalam teka-teki ini, kalau kita jeli, ajeg dan telaten dalam berusaha menyelesaikannya. Jangan sampai karena sulitnya teka-teki, kita menyerah dan putus asa merusak dan menghancurkan teka-teki itu.

Keyakinan terhadap harapan jangan sampai pupus dan musnah. Karena dengan modal yakin saja, hal itu sudah 50% keberhasilan harapan kita, sebaliknya kalau kita sudah tidak yakin akhirnya berujung menyerah, itu artinya harapan kita kemungkinan berhasil 0% alias sudah pasti gagal.

Meski halangan dan hambatan telah nyata ada di depan kita, harusnya tidak membuat kita takut dan mundur. Mungkin adakalanya kita sedih dan putus asa dalam berusaha meraih harapan yang tak kunjung nyata. Namun kita mesti tetap yakin, bolehlah sesekali menyerah dan berhenti sebentar saja untuk istirahat dan ambil nafas, selanjutnya kembali berusaha lagi mewujudkan harapan dengan semangat yang meningkat. Menyerahlah untuk menang. Seperti lirik lagu berikut;

Hadapi dengan senyuman
Semua yang terjadi biar terjadi
Hadapi dengan tenang jiwa
Semua kan baik-baik saja

Bila ketetapan Tuhan
Sudah ditetapkan, tetaplah sudah
Tak ada yang bisa merubah
Dan takkan bisa berubah

Relakanlah saja ini
Bahwa semua yang terbaik
Terbaik untuk kita semua
Menyerahlah untuk menang

Gusdurian Malang dan Tantangan Relationship Management

0

Malam ini (08/12/2019) saya hadir di pertemuan lokal Gerakan Gusdurian Muda (Garuda) Malang. Komunitas yang merawat dan mengembangkan pemikiran Abdurrahman Wahid, khususnya mewakili gerakan nasional Gusdurian. Hal penting yang saya temukan adalah organisasi komunitas ini didasari oleh nilai, kultur, dan sumberdaya sosial yang bervariasi, tanpa diikat oleh struktur organisasi yang ketat. Tapi tetap bertahan sejak 2010 dan mendapatkan pengakuan publik. Ternyata, kesadaran mengelola komunitas berbasis nilai menginspirasi kebutuhan memaksimalkan modal kemanusiaan (human capital) dengan pendekatan menejemen kesalinghubungan (relationship management).

KampusDesa.or.id–Pertemuan lokal (local meeting) Garuda (Gusdurian Muda) Malang menjadi momen penting dalam mereproduksi semangat penggerak Gusdurian Malang. Pertemuan ini adalah wadah resmi Gusdurian di Kota Malang (yang tercatat sebagai organ penggerak Kota Malang di Sekretaris Nasional Jaringan Gusdurian Nasional) di Yogyakarta.

Keuangan Gusdurian, Dilalah Ada

Saya sajikan catatan kecil di sini. Sub judul ini berangkat dari sebuah pertanyaan penting mas Hasan. Pertanyaan tersebut ternyata melahirkan sudut pandang penting mengenai gagasan yang direfleksikan selama ini dari pengalaman para penggerak. Padahal pertanyaan mas Hasan tersebut sudah dilampau bagi para penggerak. Begini pertanyaannya,

Manakah yang harus didahulukan, uangnya dulu atau kegiatannya dulu untuk melakukan kegiatan-kegiatan di Gusdurian.

Garuda Malang yang tidak punya struktur dan gerakannya berbasis nilai yang menjadi acuan penggerak memang tidak memiliki perhatian khusus terhadap penggalangan dana, apalagi seperti LSM yang menyangga berbagai proyek berduit. Wajar jika Garuda menjadi lembaga yang tidak mementingkan syarat keuangan untuk bergerak. Aneh memang.

Bagi penggerak lama, itu sudah menjadi biasa tetapi bagi pendatang baru sepertinya tidak mungkin. Nah, di sini kemudian dijelaskan apa yang sebenarnya menjadi penyangga finansial Gusdurian agar para pendatang baru tidak merasa takut atau bingung untuk berkegiatan mandiri. Ini  pelajaran penting yang tidak mudah bagi gerakan yang sudah terbiasa mengurus organisasi berbasis pada andalan proposal ke banyak pihak.

Modal finansial memang dibutuhkan tetapi tidak boleh mendikte gerakan. Ada penyangga mental yang sebenarnya sudah melekat untuk diaktifasi mendatangkan dukungan material. Penyangga Gusdurian itu adalah kekuatan jaringan. Kekuatan jaringan memberi peluang peran dari masing-masing orang yang terhubung dengan Garuda (Gusdurian Muda) berdasarkan sumberdaya yang tersedia. Gusdurian mampu mengambil tempat di hati masing-masing orang untuk berkonstribusi. Jadi tidak perlu khawatir mengenai budgeting kegiatan. Sudah beruntunglah kita diberkahi nama besar Gus Dur sehingga banyak orang yang percayanya mendarah daging. Potensi ini menjadi banyak orang selesai dalam membuat penilaian.

Situasi menjelang pemilihan kordinator Garuda

Namun, bukan berarti kita bisa menjual Gusdurian? Semangatnya tetap bukan pada kebutuhan kita atas nama uang. Mental berkegiatan tidak lagi menekankan uangnya dulu tetapi penggerak lebih dulu kokoh membangun kemauan yang kuat dalam mengaktifasi kegiatan, maka kita akan mampu mengelola kegiatan. โ€œDukungan akan ada saja. Kata Laila. Bahkan menjadi fleksibel, jika memang ada hal yang belum siap, maka ya bisa diundur tanggal kegiatannya.

Semangat yang ada memang bukan uang, tetapi nilai yang kita kedepankan menjadikan kehadiran kita memperoleh dukungan dari berbagai orang-orang yang peduli. Inilah yang tidak bisa dibangun secara instan. Garuda dengan prinsip nilai, tidak menjadi oportunis dengan kebesaran nama Gus Dur, tetapi para penggerak memang memihak kepada nilai itu sehingga dukungan banyak pihak memang sejalan dengan tujuan nilai itu.

Gus Anas, penggagas Garuda Malang menegaskan, untuk mendapatkan dukungan finansial, Garuda Malang telah memulai dari gerakan semacam peduli koin alias urunan. Semangatnya cukup beragam. Keragaman ini justru mengokohkan dukungan banyak orang. Semangat yang ada memang bukan uang, tetapi nilai yang kita kedepankan menjadikan kehadiran kita memperoleh dukungan dari berbagai orang-orang yang peduli. Justru jikalau terlalu mengedepankan uang dan terlalu menghitung-hitungnya, akan melesat bubar dengan sendirinya, tanpa harus dievaluasi ini dan itu.

Baca juga :ย Berorganisasi Tanpa Kenali Aset, Seperti Tong Kosong Nyaring Bunyinya

Selain itu, jangan lupa, kekuatan berkegiatan juga hasil dari energi barokah. Melalui semangat ini, ternyata ada saja orang-orang yang berkemauan menyumbang kegiatan yang kita selenggarakan seperti acara Haul di Gereja Ijen tempo dulu. Sungguh tidak terduga. Keajaiban pun bisa datang. Termasuk media televisipun juga datang karena jasa jaringan dari Romo Bondan. Bahkan beberapa orang ada yang membawa makan bungkusan. Dan ini terjadi detik-detik terakhir dukungan itu melimpah. Padahal Garuda tidak mengajukan proposal.

Kalau ada sisa ya kita tabung atau simpan. Termasuk kalau kita diundang kegiatan menjadi narasumber maka sebagian disisihkan untuk tabungan Garuda. Jadi, uang akan hidup kalau kita bisa memanfaatkan hubungan emosi sosial yang bagus dan dirawat. Inilah yang disebut human relationship management.

Menurut Romo Bondan. Kalau yang kita sebut budget adalah kapital, maka kita mengenali manusia sebagai human capital. Ini yang disebut sebagai bagian dari relationship management. Relationship itu tidak bisa dibangun dalam semalam. Maka nilainya bersifat sosial. Kekuatan itu didasari oleh relationship yang sebenarnya memiliki kekuatan berdasarkan aset. Oleh karena itu kepemilikan tersebut perlu diaktifasi secara sosial dengan waktu yang lama atau hubungan yang lebih baik. Prinsipnya adalah komunitas berbasis nilai. Yang perlu diperkuatkan adalah pemaksimalan aset yang diikat dalam hubungan sosial. Jadi, uang akan hidup kalau kita bisa memanfaatkan hubungan emosi sosial yang bagus dan dirawat. Inilah yang disebut human relationship management. Karenanya, tidaklah kita hanya mengandalkan logo dan bendera Gusdurian.

โ€œJangan pula sambate lek wes gede. Yo sumerdaya kapitale ora arep nyedek. Moko, yo bangunen sing suwe, ora mung lek wis utange okeh, baru sambat. Membina hubungan yang baik selama proses berjalan sehingga tidak berada dalam hubungan membeku, tetapi mencair.โ€

Kekuatannya ada di spirit menejemen lillahi taโ€™ala. Kata Gus Ilmi Najib. Tidak berjenis kelamin, tidak berumur, tidak beragama tertentu. Boleh untuk eksistensi, mendapatkan jaringan untuk bekerja, tetapi jikalau memanfaatkan Gusdurian untuk kepentingan dirinya, maka inilah yang perlu diingat dan perhatikan. Maka untuk sumberdaya finansial, perlu semangat juang yang didasari oleh hubungan yang baik.

Relationship management

Refleksi berikutnya yang menarik adalah, posisi Garuda Malang ditengah lahirnya sub-leader baru. Ada Duta Damai, Gubuk Tulis, Perempuan Bergerak, Sabda Perubahan, Gerakan Lingkungan, LSFD, dan sebagainya. Bagaimana agar Garuda tidak tenggelam disaat yang dilahirkan itu semakin besar dan merajai gerakan lokal?

Kordinator Baru. Ahmad Qomaruddin (Kanan). Rio (Kiri), Kordinator Lama

Ada dua tantangan, yakni Garuda sebagai brand superbody atau sebagai demit. Kita bisa memilih berdasarkan brand atau berdasarkan demit. Kalau berdasarkan brand maka sebagaimana yang kita inginkan ya kita menjadi brand superbody. Tetapi jika pakai strategi demit, maka memang Garuda akan tenggelam dan tidak nampak. Tetapi tetap memiliki kemampuan mengorkrestasi penggerak (sub-leader), untuk tetap menjadi bagian dari spirit penggerak. Jika demikian, kembali pada relationship management yang perlu dirawat sebagai ketrampilan kekinian bagi para penggerak. Begitu nasihat pendeta Tatok dalam menyikapi kekuatan Gusdurian yang sudah melahirkan sub-leader penggerak di beberapa lini publik.

Selain itu, kita juga butuh mempertimbangkan neraca sembilan nilai yang menjadi spirit Gusdurian. Kekuatan kita ada di human capital. Kekuatan ini yang perlu dihayati dengan lebih baik. Ini tentunya menyangkut jawaban atas pertanyaan how (siapa) yang akan memainkan peran dengan caranya yang berbeda-beda. Sejauh nilai-nilai Gusdurian masih dapat diwakili dan diejawantahkan, maka mereka tetap menjadi bagian dari Gusdurian. Nah, kalau sudah tidak selaras, maka penggerak atau Garuda memiliki kewajiban untuk mengingatkan dengan baik. Penggerak yang sudah memilih jalan hidupnya, baik kapitalis kiri atau seperti apa, ya silahkan.

Hal penting yang perlu diperhatikan adalah sharing kekuatan. Kapasitas Garuda dengan demikian wajib merawat sharing kekuasaan tersebut agar tetap memiliki kemampuan mengembangkan nilai. Acuan ini dapat menyadarkan kita untuk memulai kesadaran baru agar berorganisasi lebih baik sehingga menghindari kenaifan.

Penekanan relationship management dapat dikuatkan dengan kemampuam delivered value dan economic value. Kalau tidak ada ini maka kita tidak bisa menguasai aneka kekuatan nilai dan semakin hilang oleh kekuatan lain yang justru lebih menguasai. Apa yang kita nominasikan tidak lain adalah upaya untuk mengkristalisasi the power of collaboration. Yakni, sharing kekuatan yang selalu dirawat agar tetap memiliki kemampuan mengembangkan nilai. Acuan ini dapat mengingatkan kita untuk memulai kesadaran baru berorganisasi lebih baik sehingga menghindari kenaifan. So, kegiatan kita memasilitasi kekuatan itu sehingga kita tidak kelihatan, menjadi demit. Inilah yang akhirnya perlu ditata untuk menentukan pilihan brand kita, Garuda. Karenanya redefine penggerak perlu untuk ditata dengan baik dan jelas. Dengan begitu apakah yang perlu kita jadikan kesadaran adalah kemampuan pengikat yang laten, bukan lips service, termasuk sembilan nilai Gusdurian tersebut.

Si Taro; Pegawai Milenial RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid

0

Bekasi, KampusDesa.or.id–Padi semakin berisi akan semakin merunduk, orang semakin pandai akan semakin rendah hati. Karena, menyadari bahwa kepandaiannya masih belum seberapa. Masih banyak orang lain yang mungkin lebih pandai dari dirinya.

Semua hadirin adalah para undangan, tentu undangan tersebut langsung dari bapak Direktur. Menarik bukan? Temanya pun tak kalah menariknya, yaitu “Bareng-bareng ngobrolin milenial, wajah dan harapan dunia.”

Menurut Wikipedia; millenial adalah kelompok demografi setelah Generasi X. Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Meskipun para ahli mengatakan demikian, tetapi sebagian besar yang hadir kelahiran tahun 1990-an sampai 2000-an.

Workshop ini terbagi menjadi beberapa gelombang. Tidak menutup kemungkinan gelombang kedua dan ketiga dipenuhi oleh undangan yang berkelahiran tahun 1980-an. Tertantang bukan? Diajak produktif bareng dengan terus berinisiatif menghasilkan kerja nyata.

Memiliki direktur yang tidak hanya cerdas, tetapi produktif tanpa batas. Energi itu membuat para pegawainya menjadi semangat, energi positifnya itu dapat banget. Apalagi berkesempatan ngobrolnya sama orang nomor satu di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi. Pasti sangat happy sekali.

Awal tahun 2020. Tahun cantik yang banyak membawa harapan, InsyaAllah. Bahkan rencananya, di awal tahun 2020, gedung F akan beroperasi seperti gedung A,B, C, D dan E. Selain itu, direktur pun mengatakan bahwa jembatan penghubung antara gedung A,B, C dengan Gedung E, F berserta sekitarnya akan dilakukan Go Green. Tujuannya agar pengunjung; pasien rawat jalan, pasien rawat inap, keluarga pasien, sales, mahasiswa/i, dsb merasa nyaman berada di rumah sakit.

Direktur berusaha memfasilitasi bukan hanya pasien, tetapi menyeluruh. Pun dengan dokter, perawat dan para medis lainya. Fasilitas yang baru launching adalah Si-Taro (Siap Antar Obat). Untuk memudahkan para pasien yang tidak bisa menunggu karena beberapa alasan dan kepentingan lainnya, Si-Taro selalu siaga.

Caranya mudah, usai periksa dari poli, resep obatnya diberikan ke farmasi atau apoteker, kemudian akan diedukasi oleh pihak farmasi tentang Si-Taro, jika pasien tertarik menggunakan jasa Si-Taro yang free bebas biaya. Maka pasien tersebut bisa langsung pulang tanpa menunggu obat.

Semoga kedepannya RSUD dr Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi semakin terdepan, maju dan jaya. Seperti yang tercerminkan oleh sikap pegawainya dalam salam RSUD; Ramah, Sigap, Unggul, Dipercaya.

Berorganisasi Tanpa Kenali Aset, Seperti Tong Kosong Nyaring Bunyinya

0

Ingin memiliki pengaruh signifikan di sebuah organisasi, apalagi berusaha memenangi kompetisi dengan organisasi lain sehingga lebih dapat disebut sebagai warga negara yang bermanfaat untuk negara dan bangsa, rasanya tidak cukup hanya mengandalkan teriakan. Sejumlah orang di Pengurus Anak Cabang GP Anshor Kedungkandang Malang menyadari, selama ini aset organisasi tidak pernah di ketahui, apalagi anggota itu memiliki aset pribadi apa? Mana mungkin akan bertanding di area public spare (ruang publik) keagamaan dan kemasyarakatan, sementara tidak pernah menajamkan aset yang benar-benar bisa kita andalkan.

Kampusdesa.or.id–Hadir di undangan Anshor, IPNU-IPPNU Kedungkandang Kabupaten Malang merasa mendapatkan kesempatan menyoba pendekatan pengembangan masyarakat menggunakan ABCD (Asset based Community Development). Sebuah pendekatan yang mengedepankan potensi yang nyata-nyata dimiliki oleh sebuah komunitas atau organisasi. Pendekatan ini tidak lagi menekankan tentang apa saja yang secara idealis baik, keren, dan sebagaimana kita membayangkan jika sebuah organisasi begini dan begitu, maka akan ideal, maju, dan akan memetik hasilnya. Biasanya, dalam sebuah rapat organisasi, rembuk desa, atau berbagai ide kegiatan selalu akan dirumuskan berdasarkan pemikiran terbaik dengan berbagai bayangan harapan bergengsi, tujuan yang menggemberikan, dan hasil yang membanggakan.

Kira-kira akan well-done, alias tercapai dengan baik, atau terjadi kekisruhan masalah sehingga menjadikan seseorang lebih berkeluh kesah melakukan analisis masalah dan berusaha melakukan aneka cara yang super rumit dengan berbagai metode tertentu. Apakah anda mengalami hal itu? Akhirnya terjadi berbagai komentar kritis bagaimana seharusnya organisasi, masyarakat ini menyelesaikan masalah dalam rangka mencapai hasil indah yang kita bayangkan secara menarik melalui berbagai perencanaan yang super kece badai bagusnya. Kerapkali menghadapi itu semua, kita membutuhkan emosi, pikiran, dan baper juga deh dalam menggerakkan roda organisasi dan komunitas yang bersifat sosial.

Prinsip isi gelas. Nah, malam itu saya menghadirkan perumpamaan sebuah gelas yang terisi separuh air. Kalau kita melihat organisasi berdasarkan gelas yang sudah terisi air separuh, pikiran kita terarah pada situasi idealis untuk mengisi gelas itu agar isinya bisa segera penuh air. Padahal kita sudah tidak punya air lagi untuk memenuhi gelas tersebut. Sebagaimana organisasi, kita menyusun organisasi dengan pola pikir bagaimana agar gelas itu penuh, akan tetapi kita jelas tidak ada air. Pikiran kita membayangkan indahnya gelas itu jika terisi air. Maka kita berusaha berpikir bagaimana ya jikalau gelas ini segera dapat dipenuhi. Energi kita tercurah sepenuhnya untuk menemukan air sesuai idealisme kita.

Sehebat apapun, jikalau tidak tahu aset (apa yang nyata kita miliki), niscaya lebih sulit menyelesaikannya mencapai kesuksesan. Bahkan kajian atas peluang, hebatnya perancangan dan berbagai analisis masa depan sudah canggih-canggih, namun tidak begitu berdampak. Seperti tong kosong nyaring bunyinya.

Gelas Aset. Melihat isi gelas berarti menyadari aset apa yang nyata dimiliki perseorangan dan organisasi. Bukan, berusaha memenuhi apa yang dibutuhkan tetapi melupakan apa yang dimiliki. Ini menghilangkan kebersyukuran dan mendorong ketamakan

Perumpamaannya lagi, siswa itu kita bayangkan akan menjadi pandai semua. Kita mencar cara dengan berbagai gaya agar anak itu pintar. Pertanyaannya, siapa gelas itu atau siswa itu? Apakah gelas itu punya sesuatu? Demikian juga siswa tadi, apakah siswa itu punya sesuatu? Apakah ada aset (kepemilikan yang nyata ada pada sebuah gelas, atau seorang siswa yang memiliki sesuatu yang nyata untuk ditumbuhkan)? Satuan organisasi, komunitas, atau kelompok tertentu biasanya lebih mengidealkan seandainya gelas itu penuh dan seandainya siswa itu bisa begini begitu, pasti dia akan hebat. Padahal bekal dan bahan yang menjadi bekal gelas itu hebat dan anak itu hebat tidak diketahui sama sekali? Akhirnya sehebat apapun, jikalau tidak tahu aset (apa yang nyata kita miliki), niscaya lebih sulit menyelesaikannya mencapai kesuksesan. Bahkan kajian atas peluang, hebatnya perancangan dan berbagai analisis masa depan sudah canggih-canggih, namun tidak begitu berdampak. Seperti tong kosong nyaring bunyinya. Kepiawaian membangun sudut pandang tetapi kesulitan memperoleh acuan tindakan yang berarti.

Cobalah kita berpikir apa yang dimiliki gelas itu, bukan kurang berapa mililiter air untuk memenuhi gelas. Bukan pula apa kekurangan dari organisasi atau komunitas tertentu, tetapi apa yang menjadi kepemilikan utama bagi seseorang? Ya, kepemilikian itu aset yang berupa potensi. Keberadaannya nyata jika kita mampu menemukannya. Keberhasilan menemukan aset otomatis kita mengetahui secara realistik organisasi itu punya apa. Tentunya, pengamatan terhadap aset yang dimiliki oleh organisasi ditentukan oleh kemampuan melihat apa saja aset nyata, obyektif, dan bisa diaktifasi sehingga memperoleh gambaran progresifnya. Barulah aset itu dijadikan sebagai imajinasi personal atau organisasi. Tanpa aset yang kita miliki, bayangan masa depan sepertinya sulit terwujud.

Contohnya, kita mengajak orang bergerak cepat menggunakan sepada motor, sedangkan orang tersebut hanya bisa naik sepeda gunung. Kita bercerita sedemikian menarik bagaimana manfaat sepeda motor dalam menggerakkan orang, otomatis orang tersebut hanya tertegun, mempunyai pengetahuan baru sih iya, tetapi tetap tidak bisa naik sepeda motor. Beda kalau kita manfaatkan saja sepeda ongkel itu untuk keperluan dia yang lebih baik. Dia diajak memikirkan kira-kira sepeda ongkel ini akan dibuat apa agar fungsinya lebih maksimal ketimbang memaksakan mereka diajari sepeda motor. Begitulah pola pikir berbasis aset menumbuhkan penghargaan terhadap kepemilikan riil daripada membayangkan sesuatu yang asyik tetapi tidak terhubung dengan sumberdaya yang tersedia secara realistik (nyata). Oleh karena itu berpikir tentang gelas berdasarkan isi gelas akan lebih membumi roda organisasinya daripada berpikir bagaimana gelas itu penuh sementara tidak pernah tahu organisasi itu mempunyai aset apa. Isi gelas itulah yang kita jadikan sebagai senjata organisasi atau kekuatan komunitas, termasuk cita-cita organisasi yang digeluti.

Lebih mudah mengasah pisau yang sudah dimiliki semakin tajam, daripada berharap gergaji mesin tetapi tidak mempunyai modal besar guna membelinya. Organisasi yang mampu maksimalkan fungsi pisau itu dengan maksimal sampai tumbuh kesadaran baru mengenai sebaik-baiknya fungsinya justru akan melahirkan keajaiban hasil, dan menambah orisinalitas yang membedakan dari organisasi lain yang memang berbeda asetnya. Maka organisasi akan lebih percaya diri daripada merajuk iri kok orang lain lebih baik.

Mengenali aset personal.  Sebelum memasuki aset organisasi, langkah positif adalah mengenali  aset personal. Seorang anggota organisasi, komunitas dan kelompok dilatih untuk mengenali aset personal. Pengenalan  aset personal bertujuan untuk menghadirkan diri sendiri sebagai bagian dari aset organisasi. Melalui penggalangan aset personal, maka setiap orang bisa mengukur  kekuatan atau potensi yang dimilikinya secara riil. Tujuannya untuk menemukan persepsi dan internalisasi kekuatan diri sehingga setiap pengurus organisasi memiliki orientasi dan cara pandang tentang dirinya secara eksplisit, nyata, dan dapat dipertanggungjawabkan secara individu dan dipilih nantinya untuk bisa dibagikan ke orang lain dalam organisasi.

Ketika organisasi berjalan menggunakan aset personal, niscaya setiap orang akan merasa dihargai oleh karena kecenderungan personal tersebut bertumpu pada kekuatan personal dan seseorang akan merasa lebih dihargai keterlibatannya.

Aset personal menjadi acuan organisasi agar sharing (berbaginya) organisasi dapat menjawab kebutuhan personal yang menjadi kekuatan organisasi. Berprinsip pada kecenderungan personal, organisasi tidak semata-mata menjadi sistem yang menekan sementara efek personal tidak mendapatkan manfaat yang nyata. Kecenderungan personal menjadi alasan organisasi agar sistem nilai yang dibangun memang mengapresiasi aset personal sebagai senjata yang tajam dan rodanya berjalan lebih sinergis. Ketika organisasi berjalan menggunakan aset personal, niscaya setiap orang akan merasa dihargai oleh karena kecenderungan personal tersebut bertumpu pada kekuatan personal dan seseorang akan merasa lebih dihargai keterlibatannya. Mereka menjadi tidak terpaksa jika mendapat tugas. Tugasnya akan sejalan dengan peran yang paling diminati, bahkan menopang bakat mereka.

Bagaimana caranya? Saya memraktikkan pada sahabat Anshor, IPNU-IPPNU, dan sebagian pengurus syuriah di tingkat PAC (Pengurus Anak Cabang). Pertama, mereka diminta menuliskan, apa yang menjadi hal positif dan potensial untuk kemduian disebut sebagai aset personal. Mereka menuliskan apa yang dimilikinya, baik di organisasi, di kehidupan sehari-harinya, pengalaman profesionalnya, atau pengalaman lain yang secara praktis sudah menjadi kemampuan pentingnya. Boleh juga bakat yang sudah menjadi perilaku melekat dalam kesehariannya. Mereka diminta menulis sebanyak-banyaknya.

Kedua, setiap orang kemudian diminta untuk memberi peringkat daftar potensi yang sudah ditulisnya berdasarkan kualitas yang paling optimal. Kualitas yang dianggap paling unggul diberi skor 1. Sementara kualitas yang dibawahnya, diberi skor 2 sampai dengan terakhir dengan skor paling banyak berarti kualitasnya lebih kecil.

Ketiga, kualitas yang dianggap ungguk tersebut perlu disharingkan ke orang lain dalam organisasi agar orang lain dalam organisasi dapat mengetahui secara langsung apa potensi unggul masing-masing anggota. Selanjutnya, anggota yang lain juga dimintai menilai dengan cara yang sama sesuai dengan persepsi yang selama ini dikenali. Mereka diminta menykor dengan cara yang sama. Skor 1 adalah gambaran yang dianggap unggul olehnya tanpa harus menykor dengan angka sama sebagaimana skor yang diberikan oleh orang pertama. Setelah selesai, mereka dapat diskor oleh teman lain. Penykoran oleh orang lain dapat dilanjutkan dengan aturan yang sama. Demikian seterusnya hingga minimal dalam latihan, setiap orang mendapat penykoran oleh orang lain minimal 5 orang. Jika ingin lebih akurat, penykoran dapat dilakukan lebih banyak lebih baik. Jika sudah selesai, setiap potensi yang mendapat skor individu dan orang lain.

Miniatur aset organisasi. Untuk mengetahui aset organisasi, miniaturnya dapat dilatihkannya sebagai berikut dengan melanjutnya langkah ketiga di atas. Keempat,  jumlahkan skor per-potensi baik skor yang diberi oleh diri sendiri dan skor yang diberikan oleh orang lain. Lalu hitung rata-ratanya. Rata-rata adalah jumlah skor per-potensi dibagi sejumlah orang (skor diri sendiri dan orang lain). Skor inilah yang menggambarkan kecenderungan potensi/kelebihan individu. Jumlah rata-rata menggambarkan skor pengakuan sosial atas potensi keunggulan kita. Setiap orang dengan demikian akan mendapat gambaran potensi yang diakui baik secara pribadi atau sosial. Skor yang paling sedikit nilai rata-ratanya berarti adalah skor terbaik. Mengapa kok yang paling sedikit yang paling baik? Skor sedikit karena skor 1 adalah pengakuan yang paling unggul. Demikianlah, kita sudah mendapat gambaran yang realistik tentang simulasi aset personal sekaligus aset organisasi, khususnya para pengurusnya.

Aset adalah senjata tanpa angan-angan kosong. Setelah saya jabarkan bahwa secara psikologi sosial, ketika skor sosial sudah dinilai oleh diri sendiri dan orang lain, maka seseorang memperoleh gambaran nilai penerimaan sosialnya. Ini disebut aset. Dalam prinsip ABCD, aset yang sudah teridentifikasi dapat dikoleksi untuk dijadikan sebagai kekuatan organisasi. Dengan demikian pola gerakan organisasi jika didasarkan pada aset, maka aset tersebut tinggal dicarikan kekuatan untuk bersinergi. Meminjam bahasa Renald Kasali, tinggal diorkrestasikan saja.

Sebagaimana dikatakan oleh M Hatif, Ketua PAC GP Anshor, โ€œjadi saya ini bekerja selama ini hanya dalam angan-angan saja, atau bermain dengan angan-angan orang lain, tanpa tahu aset nyata organisasi ini apa.โ€

Saya pun menimpali. โ€œLa iya-lah mas. Ya selama ini gerak kita masih buta dengan aset. Ibarah berperang, kita tidak pernah tahu, apa senjata yang kita miliki. Lah wong senjatanya yang dimiliki saja tidak tahu, kok mau wora-woro ke sana kemari dengan mengatakan, kita ini lo banyak, berani, dan lebih baik dari lainnya. la h berarti kita ini turun lapangan seperti orang yang berbekal bayangan saja, persepsi yang sundul langit. Ketika di lapangan tidak punya apa-apa sehingga balik kucing dan reaktif, atau membanggakan apa yang riil hari ini sebenarnya belum diketahuai.โ€

Jika aset Anshor, IPNU-IPPNU, atau lainnya dapat ditemukan, niscaya apa yang dimiliki tinggal menguatkannya dan mendapat kesempatan membangun kesadaran baru. Gerakan organisasi dengan demikian dapat menjawab kebutuhan yang dimiliki, bukan angan-angan kosong yang basis realitasnya tidak pernah ada dan bisa disentuh.

Kita boleh jadi mengejar tujuan yang sangat ideal tetapi tidak pernah tahu aset yang dimiliki itu apa. Ini seperti “tong kosong nyaring bunyinya.” Jika aset Anshor, IPNU-IPPNU, atau lainnya dapat ditemukan, niscaya apa yang dimiliki tinggal menguatkannya dan mendapat kesempatan membangun kesadaran baru. Gerakan organisasi dengan demikian dapat menjawab kebutuhan yang dimiliki, bukan angan-angan kosong yang basis realitasnya tidak pernah ada dan bisa disentuh.

Begitulah kilasan refleksi, bahwa penemuan aset adalah modal penting bagi kalangan Nahdliyin, utamanya GP Anshor, IPNU-IPPNU, dan Fatayat Kedungkandang untuk mengangkat senjata prestasi. Tugasnya mengapresiasi, memberi ruang, agar mereka bergerak dengan aset yang kita miliki.

Sebagaimana mereka menyadari, ternyata gerak organisasi kita buta dengan aset, bahkan mengabaikannya untuk kemudian dengan latah mengatakan yang paling baik.

Terima kasih.

6 Desember 2019

Memaknai Harta dan Uang Bukan Segalanya

0

Sudah nonton 3 idiot? Film India yang lucu tetapi penuh dengan kritik. Film itu menggambarkan antara kemerdekaan dan obsesi orang-orang kaya yang dipenuhi oleh prestise untuk memenuhi gaya hidup. Sementara itu, peran tokoh 3 idiot menjadi simbol perlawanan gaya hidup. Di era media online, figur publik telah menyeruak menjadi model bagi gaya hidup, termasuk menjadi kaya. Sementara kekayaan otentik, sebagaimana kelaziman perjuangan menjadi kaya ada daya juang yang butuh proses, bukan instan. Apakah kekayaan yang otentik sekarang tidak lagi berakar pada itu semua? Atau orang kaya yang berjibun dengan gaya hidup sejatinya mereka miskin otentisitas?

Kampusdesa.or.id–Kamu pernah melihat film โ€œ3 Idiotsโ€ di mana di dalamnya ada adegan bagaimana Racho (diperankan Amir Khan) menebak dengan jitu bagaimana reaksi yang akan terjadi setelah ia menyiram minuman pada sepatu seorang laki-laki kaya dalam sebuah pesta? Rancho ingin menunjukkan itu pada Pia (diperankan Kareena Kapoor) bahwa tebakannya akan benar. Bahwa bahwa laki-laki itu akan menyebut harga sepatu itu yang dipakai dalam pesta itu!

Dan ternyata benar. Laki-laki yang akan menjadi suami kakak Pia itu teriak-teriak marah dan menyebut harga sepatu yang mahal itu. Dari situ Rancho ingin mengingatkan bahwa suami kakak Pia adalah tipe laki-laki yang membanggakan harta dan kekayannya. Dan kita melihat dalam film itu bahwa Rancho dan teman-teman akrabnya adalah mahasiswa โ€˜miskinโ€™ yang punya nyali untuk datang ke pesta dosennya (ayah Pia) agar bisa dapat makan malam gratis. Mereka adalah anak-anak muda yang suka โ€˜mengerjaiโ€™ para dosen di kampusnya yang bangga menggunakan otoritas, juga temannya yang ingin mengejar nilai tinggi dengan cara manipulasi. Rancho adalah sosok anak muda yang penuh solidaritas dan punya empati, tapi memang punya naluri iseng untuk mempecundangi orang-orang ambisius, gila harta, gila gelar, dan gila otoritas itu tadi!

Di akhir film kita melihat bagaimana ternyata Rancho menjadi sosok ilmuwan yang melakukan banyak riset dan penemuan. Dengan gaya personalitas yang masih sederhana dan tampaknya juga masih โ€œgokilโ€, baik hati, dan tidak sombong. Ia bikin yayasan di mana ia bisa bermain layang-layang dengan anak-anak untuk menyemaikan motivasi dan pengetahuannya.


Ada yang mengatakan bahwa pada dasarnya tiap orang ingin nyaman dan enak. Bahasa awamnya, siapa yang tak ingin kaya. Tapi harus kita akui bahwa memang tak sedikit orang yang menilai kekayaan adalah dari sisi materi (uang dan harta kepemilikan, aset, dan tabungan, dan lain-lain). Keinginan kaya membuat mereka membayangkan enaknya bisa memenuhi keinginan apa saja.

Lalu kita lihat orang-orang kaya yang tak didukung tingkat wawasan dan pendidikan itu kadang amat lucu. Seperti banyak di sekitar kita orang kaya baru (OKB) yang karena wawasan dan pergaulannya kurang, lantas bertingkah laku aneh ketika punya banyak harta. Akhirnya ia menganggap kekayaan materinya itu saja yang menjadi bahan untuk bereksistensi.

Mungkin Si perempuannya beli berlaksa emas yang ditaruh di tangannya, di lehernya, di kupingnya, dan bahkan di kakinya. Mobilnya mewah. Beli ini dan itu. Anaknya juga dibelikan ini dan itu. Kamu pasti mudah menduga orang kaya baru ini (OKB) ini dulunya terlalu lapar dan miskin, sehingga ketika menjadi kaya mendadak, menjadi kalap.

Tapi memang tak semua begitu lho. Ada juga yang tidak. Hal itu tergantung dari beberapa faktor. Yang jelas manusia itu hidup dari kondisi yang dialami dan dihadapi, juga dari sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai. Dengan siapa ia bergaul. Bagaimana tingkat kesusahan dan kebahagiaan hidup yang dialami dari kondisi nyata yang ia hadapi. Semuanya membentuk jalinan keadaan dan berpengaruh pada kejiwaan, pemikiran, dan perilaku. Persepsi dibangun oleh pengalaman dan komunikasi diri yang mempengaruhi cara melihat sisi luar diri (keadaan, lingkungan, kehidupan).

Kadang kita temui di antara orang-orang miskin itu yang cerdas dan bijak. Tak sedikit juga orang-orang banyak harta yang tak bijak. Banyak juga dari mereka lahir generasi tidak cerdas dan tidak bijak.

Memang rata-rata kemiskinan mengakibatkan minimnya pendidikan dan juga membawa tingkat kesadaran tersendiri. Tapi kadang kita temui di antara orang-orang miskin itu yang cerdas dan bijak. Tak sedikit juga orang-orang banyak harta yang tak bijak. Banyak juga dari mereka lahir generasi tidak cerdas dan tidak bijak. Artinya jika kita bicara keumuman dari fenomena, tentu masih ada kondisi khusus dari fenomena itu.

Memang, secara umum kemiskinan membuat orang serba kekurangan. Tapi kekurangan juga membuat orang bisa berjuang keras, dan kadang melahirkan kesadaran baru dan kecerdasan yang tinggi. Tapi memang sedikit, tapi selalu ada yang seperti itu. Demikian juga, ketercukupan materi memang memungkinkan orang berada bisa memenuhi kebutuhan apa saja. Tapi di satu sisi keadaan itu juga membuat mereka terlena dan menumpulkan otak mereka alias meminimalisir kesadaran.

Seperti yang saya jumpai di beberapa keluarga berkecukupan yang ternyata anaknya justru tak terkontrol, liar, nakal, yang akhirnya justru merepotkan si orangtua itu sendiri. Mengonsumsi narkoba dan pergaulan bebas. Kita jadi bertanya, sebenarnya apakah kaya dan berkecukupan harta itu adalah tujuan utama dari orang yang sudah berkeinginan membangun ekonomi keluarga dan kemudian melahirkan anak?

Bagi orang yang berada dalam kehidupan miskin susah, memang ada di antara mereka yang dengan ambisi besarnya kerja keras dan ketika menemukan jalan untuk kaya mereka telah berada dalam proses perjuangan keras mencari harta. Orang obsesif-kompulsif pengejar harta ini mungkin lupa diri dan akhirnya ketika tujuan mencari harta tercapai ia menganggap memang itulah tujuan hidupnya sehingga itulah yang dianggap bisa โ€œdipamerkanโ€ pada orang lain. Tapi ternyata mereka lupa bahwa harta adalah sarana eksistensi dan bukan tujuan untuk bisa eksis. Harta adalah alat untuk hidup yang baik dan bermanfaat.

Tapi kalau ambisi memang kuat dan dibangun terus dalam jangka waktu yang lama, hingga lupa makna hidup yang lain selain mengejar harta karena memang awalnya amat lapar dan takut tidak kaya, maka ambisi itu akan jadi afirmasi diri yang membentuk cara pandang dan perilaku. Anak jadi tidak diperhatikan, dan mungkin memberikan perhatian hanya lewat materi. Dan perhatian manipulatif ini ternyata mengganggu perkembangannya menuju pribadi yang otentik. Celaka bagi keluarga kaya yang memberikan perhatian dan kasih sayang ini melalui materi dan kurang berkomunikasi dengan anaknya.

Demikian juga bagi kaum miskin yang tingkat kemiskinannya ekstrim. Kemiskinan akut membuat orang yang mengalaminya tertekan, dunia menyempit dalam jiwa, karena hal yang paling mendesak untuk dipikirkan adalah bagaimana caranya bisa makan. Bahkan fenomena kemiskinan di daerah perkotaan, ada kalanya mereka hanya berjuang untuk makan dan kemudian baru berteduh. Dari mereka lahir pribadi yang keras dan liar, dunia hidup dan mati. Bahkan ada di antara mereka yang pilihannya hanya mencuri atau tidak makan! Meminta atau tidak makan! Kesehatan yang buruk, lingkungan tempat hidup yang mengenaskan, membuat mereka tak mampu mengembangkan diri.

Mereka pun sering tak diakui keberadaannya oleh pemerintah kota. Disebut sebagai gelandangan dan pengemis. Dan disembunyikan di belakang gedung-gedeng mewah dan tinggi menjulang.

Saya sering bilang, kemiskinan ekstrim dan dan kekayaan โ€˜overโ€™ (berlebih) itu sama-sama membuat orang jadi miskin eksistensi. Tapi itulah yang terjadi di negara ini. Orang kaya hidup mewah di gedung-gedung menara, di bawah dan di belakangnya hidup dalam kemiskina yang buruk. Ini adalah ketimpangan nyata. โ€˜Gapโ€™ ini menjadi basis bagi permasalahan eksistensi inividu-individu di dalamnya.

Gaya hidup orang kaya yang sering dimunculkan di media kemudian dianggap sebagai patokan gaya hidup yang paling sahih. Sedangkan ambisi untuk menjadi kaya raya muncul juga dari kalangan kaum miskin, pas-pasan, atau kelas menengahnya.

Yang kata raya memamerkan gaya hidupnya yang sebenarnya miskin eksistensi lewat medianya. Mayoritas rakyat miskin dirayu dengan tayangan iklan dan tayangan gaya hidup mereka. Gaya hidup orang kaya yang sering dimunculkan di media kemudian dianggap sebagai patokan gaya hidup yang paling sahih. Sedangkan ambisi untuk menjadi kaya raya muncul juga dari kalangan kaum miskin, pas-pasan, atau kelas menengahnya. Media borjuis memfasilitasi ambisi dan keinginan naik kelas dengan ilusi pendidikan agar bisa mobilitas sosial ke atas (naik kelas). Di bidang budaya mereka juga diilusi dengan audisi-audisi menjadi artis yang selalu dijadikan acara televisi.

Pada masyarakat beginilah kita hidup. Ketimpangan dilanggengkan. Ambisi-ambisi menjadi kaya banyak muncul dari orang miskin, terutama pemuda-pemudanya yang berjuang keras untuk menjadi kaya. Dan ketika mereka merasa menggapai ambisinya, belum tentu mereka menjadi manusia-manusia yang berkualitas dan otentik. Dalam masyarakat yang timpang ini, kaum muda banyak dihipnotis juga dengan tata cara menjadi kaya dengan cara instan. Seperti pernah saya jumpai dalam seminar motivasi MLM, yang diomongkan pembicaranya adalah: Ayo menjadi kaya! Ayo menjadi kaya! Dan mereka menunjukkan caranya, ya salah satunya tentunya agar gabung dengan MLM yang sedang ditawarkan.

Dan saya meyakini, dengan intervensi akal sehat dan kekuatan tertentu dari manusia yang berjuang bersama, bisa saja kita menciptakan kondisi di mana manusia kaya semua atau setidaknya ketimpangannya tidak separah ini.

Mohon maaf, saya bukanlah manusia yang anti menjadi kebercukupan atau kaya. Tapi, melalui tulisan ini, saya ingin mengatakan soal bagaimana hubungan kekayaan dan kemiskinan, ketimpangan, dan jejalin ideologisnya mewarnai masyarakat. Kalau toh tiba-tiba nanti saya ditakdirkan punya rejeki lebih baik, saya hanya ingin bahwa saya bukan tipe orang yang lupa pada masyarakat jenis apa saya hidup. Dan saya meyakini, dengan intervensi akal sehat dan kekuatan tertentu dari manusia yang berjuang bersama, bisa saja kita menciptakan kondisi di mana manusia kaya semua atau setidaknya ketimpangannya tidak separah ini. Semisal, seperti di negara-negara Kesejahteraan Eropa sana, setidaknya kebutuhan pokok masyarakat terjamin dan tiap orang bisa ber-eksistensi bukan dengan cara lucu dan bodoh! []

TRENGGALEK, 08/04/2016

Ketika Pendidikan Anti Korupsi Menjadi PR Bagi Guru

0

Beberapa bulan belakangan ini guru memang dibingungkan dengan adanya salah satu target pencapaian yang harus dimasukkan dalam perangkat pembelajaran terbaru, yakni pendidikan anti korupsi. Setelah sebelumnya guru dipusingkan dengan pendidikan karakter kini ada lagi yang menjadi PR bagi para pendidik. Entah harus dengan metode apa para guru menyampaikan pendidikan anti korupsi ini. Pendidikan karakter saja mereka masih keteteran.

Kampusdesa.or.id- Sekarang ditambah pendidikan anti korupsi. Bagaimana mereka menanamkan jiwa anti korupsi kepada para peserta didik jika gurunya saja masih sering korupsi waktu? Yang sulit memang dari dulu adalah memberikan contoh, kalau soal meminta anak-anak untuk tidak korupsi tentulah mudah, cuma hanya meminta saja, meminta kan sama dengan menyuruh. Tapi bagaimana para guru memberikan contoh bahwa hal kecil saja seperti soal waktu juga bisa menjadi ajang untuk berkorupsi. Ah sungguh di lema.

Dilema mulai melanda para guru, mereka harus sembari mencari ke sana dan ke sini perangkat pembelajaran terbaru yang di dalamnya memuat pendidikan anti korupsi ini, mulai dari MGMP, meminta teman sesama guru, meminta waka kurikulum, bahkan jika mungkin bisa jadi para guru meminta tetangganya masing-masing. Maklum saja, para guru sendiri belum paham seperti apa pendidikan anti korupsi yang dimaksud, yang mereka tahu hanya bahwa korupsi itu tidak boleh, sedangkan pendidikan anti korupsi itu bagaimana? Mereka masih abu-abu. Masalah belum berakhir di situ, para guru masih harus mengedit sana sini, disesuaikan dengan sekolahNya masing-masing, tentu saja harus begitu, persersepsi guru tersebut mengajar di SMP Negeri 5 Lamongan tapi di perangkat pembejalaranNya tertulis SMP Negeri 1 Malang, kan tidak lucu. Setelah edit sana sini para guru masih harus mencetak perangkat pembelajaran tersebut lalu meminta tanda tangan pejabat yang berwenang. Lucu memang, seharusNya membuat perangkat pembelajaran kan memang tanggung jawab guru sebelum dia mengajar, namun praktekNya yang ada adalah copy paste edit print out.

Setelah pertahapan tersebut selesai, masalah baru dimulai. Masalahnya adalah bagaimana mengajarkan kepada anak didik mengenai pendidikan anti korupsi itu sendiri? Maksud saya prakteknya bagaimana? Bukan sekedar teorinya. Pendidikan karakter saja susah sekarang ditambah pendidikan anti korupsi. Faktanya, metode mengajar guru dari dulu sampai sekarang ya begitu-begitu saja.

Dari jaman saya masih jadi anak didik sampai saya sekarang sudah jadi salah satu pendidik ya tetap ada saja guru yang gaptek alias gagap teknologi.

Dari jaman saya masih jadi anak didik sampai saya sekarang sudah jadi salah satu pendidik ya tetap ada saja guru yang gaptek alias gagap teknologi. Pegang komputer tidak pernah, apalagi mengoperasikannya. Mana mereka kenal soal power point, excel, dan peragkat-perangkat lunak sederhana lainnya, apalagi yang kompleks. Belum lagi yang tidak menguasai ilmu pedagogi dengan baik, mengajar cukup dengan ceramah dari awal hingga akhir. Lalu bagaimana pendidikan karakter itu didapat para siswa jika mengajarnya masih begitu-begitu saja, sekarang ditambah pendidikan anti korupsi.

Bukan pemerintah yang salah, sudah menetapkannya sebagai salah satu capaian yang harus dimasukkan ke dalam perangkat pembelajaran serta harus diaplikasikan ke dalam kegiatan pembelajaran. Yang sulit menerima ini sekali lagi adalah guru. Tujuan pemerintah bagus, pendidikan anti korupsi ini tentu saja untuk memangkas bibit-bibit koruptor sejak dini. Sehingga dewasa nanti mereka tidak akan menjadi salah satu calon tikus berdasi itu. Para guru memang harus belajar lagi bagaimana pembelajaran tidak hanya belajar soal pelajaran saja. Maksudnya pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya mengajarkan materi Bahasa Indonesia semata. Pembelajaran IPA tidak hanya mengajarkan materi IPA saja. Nah ini lah dimaksud dengan PR baru bagi guru.

Dalam pendidikan karakter ada capaian siswa harus bersikap mandiri, namun yang terjadi saat ada anak yang bekerja sama untuk mengerjakan tugas, guru mata pelajarannya membiarakan hanya agar tugas yang diberikan segera selesai, dan nilai anak tersebut melampaui KKM.

Mengapa ini disebut dengan PR? Karena faktanya sampai saat ini memang itulah yang terjadi. Contohnya adalah dalam pendidikan karakter ada capaian siswa harus bersikap mandiri, namun yang terjadi saat ada anak yang bekerja sama untuk mengerjakan tugas, guru mata pelajarannya membiarakan hanya agar tugas yang diberikan segera selesai, dan nilai anak tersebut melampaui KKM. Di mana sikap mandiri yang harus dimiliki anak akan tumbuh jika yang terjadi adalah hal semacam itu? Maka seperti sudah disinggung di paragraf pertama bagaimana guru mengajarkan anak mengenai pendidikan anti korupsi jika para guru saja masih sering korupsi waktu?

Korupsi waktu bagaimana yang dimaksud? Seharusnya guru tersebut masuk pada jam 07.00, jam 07.00 sudah bel, yang menandakan waktu pelajaran akan segera dimulai, tapi yang terjadi guru tersebut masih asyik mengobrol di kantor sampai tak terasa sudah jam 07.15. oke lah mungkin dia tidak mendengar adanya bel. Kasus ke dua adalah jam pelajaran seharusnya berakhir pada jam 10.00, belum terdengar bel berbunyi, artinya jam pelajaran belum berakhir, namun yang terjadi adalah guru tersebut sudah mengakhiri jam pelajaran pada jam 09.15, 15 menit sebelum bel berbunyi. Mungkin guru tersebut tidak membawa jam tangan. Ayo kan ada bel, mengapa harus keluar sebelum bel berbunyi?

Itulah mengapa pendidikan anti korupsi ini masih menjadi PR, bahkan sampai perangkat pembelajarannya sudah jadi dan sudah saatnya dipraktekkan dalam pembelajaran. Karena soal memberi contoh untuk tidak korupsi saja guru sudah terlambat, apalagi ditambah dengan memasukkan pendidikan anti korupsi dalam pembelajaran. Guru oh guru, PR mu bertambah lagi.

Editor: Fathan Faris saputro

Birokrasi dan Kebijakan Bencana Alam๏ฟผ


Keserasian antara kebijakan pembangunan dengan pengurangan resiko bencana alam sudah sepatutnya mendapat perhatian lembaga pemerintah (birokrasi) terutama BNPB dan BPBD sebagai institusi pemerintah yang fokus pada penanggulangan bencana alam karena memiliki nilai strategis untuk menciptakan mekanisme penanggulangan bencana secara komprehensif saat pra bencana, darurat bencana dan pasca bencana (rehabilitasi dan rekonstruksi) yang terstruktur dan terpadu.

Kampusdesa.or.id–Masyarakat dilanda rasa cemas ketika penghujung tahun selalu identik dengan bencana. Hal tersebut bukan tanpa sebab, fenomena bencana hidrometeorologi terutama banjir terjadi dari bulan desember sampai Maret menyebabkan curah hujan yang tinggi. Terlebih pengundulan hutan dan saluran-saluran air yang tersumbat oleh sampah, bisa menyebabkan sungai-sungai meluap dan memperparah banjir. Jika hujan terjadi di daerah berbukit maka banjir dan tanah longsor menjadi ancaman yang menyebabkan jatuhnya ratusan korban, hancurnya rumah-rumah dan infrastruktur lain, dan kerugian bagi bisnis-bisnis lokal. Bahkan di megapolitan seperti Jakarta, banjir terjadi secara reguler karena lemahnya manajemen air dikombinasikan dengan curah hujan yang tinggi. Permasalahan lainnya ketika jenis bencana sudden onset disaster (menghancurkan infrastruktur dan modal produktif), slow onset disaster (menghambat investasi, tabungan, produk domestik bruto dan sumber produksi) dan compound disaster (bencana vulkanis) terjadi dalam jangka waktu yang tidak bisa diprediksi membuat kebijakan penanggulangan bencana harus menjadi sangat urgent baik di pemerintah pusat dan daerah sebagai aktor utama penanggulangan bencana alam.

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel yang berjudul “POLITIK, DAN BIROKRASI BENCANA ALAM” mengenai keterkaitan antara politik dan bencana alam yang tayang 14/09/2018. Untuk pembahasan ini penulis menguraikan tentang keterkaitan antara birokrasi dan bencana alam. Permasalahan paling mendasar yang diangkat tema kali ini adalah terdapat wadah organisasi pemerintahan yang memiliki wewenang penuh dalam menangani bencana alam di Indonesia yaitu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di tingkat pusat dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat lokal.

Mengapa birokrasi? Mengacu pada KBBI birokrasi berarti kantor yang diisi oleh pengawai negeri beserta aturan yang melekat dapat juga disebut administrasi pemerintahan, setiap pelayanan oleh pemerintah kepada masyarakat pasti melalui birokrasi, merujuk pendapat dari Max Weber tentang โ€œbirokrasi rasionalโ€ bahwa birokrasi merupakan pemisahan antara kantor dan si pemegang jabatan, wadah yang tepat untuk pengangkatan dan kenaikan pangkat, hubungan otoritas yang sistematik antara kedudukan, hak dan kewajiban yang diatur dengan tegas.

Kenyataannya, birokrasi identik dengan konotasi yang tidak menyenangkan (red tape), kekakuan dan pengurusan yang berbelit-belit. Pengertian yang demikian bukan terjadi begitu saja tetapi melalui proses yang cukup panjang dan dialami oleh banyak orang yang pernah berurusan dengan pejabat (birokrasi). Kebanyakan pengalaman dari masyarakat yang berurusan dengan pejabat, mereka merasa pelayanan yang lambat, berbelit-belit , minta balas jasa, dan sebagainya. Khusus dalam kasus penanggulangan bencana alam, BNPB dan BPBD masih kesulitan untuk mengupayakan penanggulangan bencana alam yang sifatnya antisipatif-preventif yang lebih mengutamakan tahap pra bencana daripada tahap tanggap darurat sebagai wujud pelayanan kebencanaan kepada masyarakat.

Pelayanan kebencanaan oleh kedua lembaga tersebut bukanlah pelayanan yang bersifat langsung seperti pelayanan KTP, perizinan, kesehatan, maupun pendidikan sifat akan tetapi pelayanan tersebut berada pada tabap perumusan implentasi kebijakan karena dilakukan saat bencana tidak ada/tidak sedang terjadi bencana alam. Kesulitan ini karena kebijakan  tahap pencegahan bencana  alam yang dirumuskan oleh BNPB dan BPBD belum terintegrasi dengan kementrian atau dinas di daerah seperti yang telah diatur dalam UU 24 (2007) tentang penanggulangan bencana bahwa penanggulangan bencana alam dilakukan pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan. Bisa dilihat secara seksama penataan ruang kawasan pesisir dipenuhi dengan ativitas ekonomi (pariwisata, homestay, warung, resort, perumahan dan masih banyak lagi).

Dalam kacamata ekonomi wilayah, kawasan pesisir yang memiliki posisi strategis di dalam struktur alokasi dan distribusi ekonomi disebut memiliki locational rent yang tinggi. Di sisi lain dinas pariwisata dan aktor lain yang terlibat tetapi membiarkan wilayah pesisir sumpek dengan wilayah pesisir sebagai pusat produksi ekonomi dan sosial. Akibatnya ketika terjadi air pasang laut yang besar kebanyakan fasilitas yang telah dibangun hancur terkena dampak gelombang pasang. Hal ini bisa saja terus menjadi ancaman ketika pembangunan di wilayah pesisir tidak dibarengi dengan mapping sesuai dengan potensi bencana atau biasa disebut daerah rawan bencana.

Dalam konteks keterkaitan tersebut, diperlukan keserasian mulai dari rumusan kebijakan hingga implementasi kebijakan terkait aktivitas pembangunan dengan pengurangan resiko bencana. Setidaknya kebijakan ini mengacu pada 1) UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, 2) UU No. 27 Tahun 2007 tentang tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil, 3) UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selanjutnya patut mempertimbangkan kesesuaian zona untuk pengurangan resiko bencana dengan membentuk Kawasan konservasi sebagaimana dimaksud dalam UU 27 Tahun 2007 Pasal 28 ayat (2) bahwa pengelolaan pesisir dibagi atas tiga Zona, yaitu: a. Zona inti (zona bagi pusat pertumbuhan ekonomi dan sosial) b. Zona pemanfaatan terbatas (penetapan batas antara sempadan pantai dengan kesesuaian lahan, semisal untuk kegiatan ekonomi) dan c. Zona lain sesuai dengan peruntukan Kawasan (zona konservasi, zona pelindungan gempa dan bencana, zona akses publik).

Zonasi yang mengarah pada pengurangan resiko bencana inilah yang seharusnya mendapat penguatan baik ditingkat provinsi untuk menetapkan arahan batas sempadan pantainya maupun wilayah lain yang memiliki resiko bencana tinggi ke dalam peraturan daerah tentang rencana tata ruang wilayah provinsi maupun di tingkat pemerintah daerah kabupaten/kota yang memiliki sempadan pantai wajib menetapkan batas sempadan pantainya dalam peraturan daerah tentang rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota berbasis pengurangan resiko bencana. Keserasian antara kebijakan pembangunan dengan pengurangan resiko bencana alam sudah sepatutnya mendapat perhatian lembaga pemerintah (birokrasi) terutama BNPB dan BPBD sebagai institusi pemerintah yang fokus pada penanggulangan bencana alam karena memiliki nilai strategis untuk menciptakan mekanisme penanggulangan bencana secara komprehensif saat pra bencana, darurat bencana dan pasca bencana (rehabilitasi dan rekonstruksi) yang terstruktur dan terpadu. Terakhir, penguatan secara normatif  melalui undang-undang dan peraturan daerah sangat disarankan untuk menjamin wewenang kedua lembaga ini sehingga tidak terbentur otoritas terutama persoalan anggaran untuk mewujudkan masyarakat tangguh bencana.

Dating Violence, Sisi Gelap Romantisme Budaya Pacaran

0

Jutaan orang tidak menyadari bahwa di Indonesia ada lebih dari 1000 kasus kekerasan pada orang yang sedang menjalani hubungan pacaran. Fenomena ini umumnya disebut dating violence, yakni sisi gelap romantisme budaya pacaran. Wanita ketika jatuh cinta berpikirnya mengggunakan perasaan, sedang pria tetap menggunakan akal. Itulah salah satu alasan mengapa wanita tetap bertahan walapun dalam hubungan pacaran yang penuh luka dan air mata. Lalu apa saja dampak dating violence yang terjadi pada wanita?

KampusDesa.or.idDating violence merupakan istilah yang menggambarkan kekerasan fisik, pemaksaan emosional, makian verbal dari salah satu pasangan yang sedang berkencan atau pacaran. Disadur dari Womenslaw.Org (2007) dating violence terjadi ketika seorang laki-laki atau wanita melakukan kekejaman seperti tamparan, pemukulan, ancaman melalui ucapan atau berupa teks yang bertujuan untuk mengekang kegiatan pasangannya.

Bagi anda yang sedang menjomblo dari lahir hingga sekarang, perilaku dating violance pasti akan terasa asing, bahkan Anda akan mengernyitkan dahi dan berfikir โ€œ gak mungkin orang yang saling sayang bisa berujung aniaya, bukannya pacaran itu saling pengertian ya? โ€œ. Baik, simpan saja imajinasi kejombloan Anda dan terus membaca.

Kekerasan dalam berpacaran versi Departemen of Health & Human Service USA terangkum dalam empat kategori, yakni kekejaman fisik, cyberdating violence atau stalking, sexual abuse, psychological agression. Kekejaman fisik meliputi tamparan, pukulan dan segala bentuk pemaksaan fisik.

Cyberdating violence atau stalking; contohnya seperti pesan melalui whatsapp, twitter, dan media digital lainnya yang tidak diinginkan, bernada ancaman yang menimbulkan rasa takut dan hilangnya rasa aman. Sexual abuse; yaitu memaksa partner untuk melakukan kegiatan seksual ketika tidak ingin melakukan aktivitas sex. Terakhir adalah ยญpsychological agression; di mana pasangan mengeluarkan ucapan verbal maupun kode non verbal yang bertujuan untuk mengintimidasi mental atau emosional serta mendominasi pasangan.

WHO menggunakan istilah Intimate Partner Violence untuk menjelaskan fenomena ini, Jenis perilakunya pun kurang lebih sama. Bedanya terdapat kategori lain yaitu controlling behavior, di mana pasangan mengisolasi partner dari keluarga dan temannya, memonitor setiap gerakan bahkan sampai membatasi akses keuangan.

Dating violence ini adalah kasus kekerasan terhadap pasangan yang berpacaran, bukan mereka yang telah menikah.

Perlu ditekankan bahwa dating violence ini adalah kasus kekerasan terhadap pasangan yang berpacaran, bukan mereka yang telah menikah. Meskipun KDRT dan dating violence terlihat mirip namun konteks dan hukumnya berbeda. Pacaran adalah hubungan yang tidak legal dari segi agama maupun hukum tata negara. Sehingga perlindungan hukum bagi mereka yang masih berpacaran sangat lemah.

Laki laki cenderung melakukan kekerasan fisik untuk mengontrol pacarnya, sementara wanita melakukan kekerasan sebagai bentuk self defense untuk melawan atau mengantisipasi intimidasi yang dilakukan oleh pacarnya.

Dalam konteks Physical Dating Violence (PDV), memang wanitalah yang berporsi besar menjadi korban. Dating violence bisa terjadi dua arah. Laki laki kepada Wanita atau Wanita kepada laki laki. Davis dalam artikelnya  Interpersonal and Physical Dating Violence among Teens menemukan perbedaan motif antara laki laki dan Wanita. Laki laki cenderung melakukan kekerasan fisik untuk mengontrol pacarnya, sementara Wanita melakukan kekerasan sebagai bentuk self defense untuk melawan atau mengantisipasi intimidasi yang dilakukan oleh pacarnya. Namun tetap saja pada akhirnya wanita lah yang akan kalah (secara fisik dan psikis) menjadi korban.

Bukankah wajar jika pasangan saling mengontrol, bukankah wajar jika berpacaran terjadi konflik. Bukankah wajar jika pasangan mengoreksi dengan sedikit kekerasan?  Nah persepsi โ€œkewajaranโ€ ini lah yang memicu terjadinya dating violance, karena terjadi pembiaran terhadap indikasi perilaku tersebut.

Bayangkan kalau kita berada dalam sebuah cyrcle pertemanan, misalkan berjumlah 10 orang dan 9 orang dari mereka menganggap bahwa memukul, menampar pasangan adalah hal wajar, bukan kah ini kacau?! Maka hati hati dalam memilih lingkungan teman karena itu akan membentuk persepsi dan norma tentang bagaimana memperlakukan pasangan anda.

Ada beberapa tanda tanda akan terjadinya dating violance. Bagi anda yang sedang menjomblo lebih dari 365 hari, akan sangat sulit untuk menyadari warnings tersebut, maka anggap saja ini informasi untuk kekayaan intelektual anda.

  1. Anda merasa takut, tidak enak untuk mengatakan โ€œtidakโ€ pada pasangan. Akhirnya anda menuruti segala kemauan pasangan.
  2. Pasangan anda terlalu posesif, berlebihan dalam mengirim pesan dan menelpon.
  3. Anda semakin jarang bercengkrama dengan keluarga dan teman teman. Artinya anda sudah terperangkap dalam zona kontrol pacar anda.
  4. Kegiatan anda menjadi terbengkalai, pekerjaan atau tugas sekolah menjadi tidak terpikirkan.
  5. Anda tutup mulut atas kejadian buruk selama pacaran. Enggan dan tidak bisa menjelaskan perlakuan kasar pasangan kepada siapapun.

Bagaimana perilaku kekerasan saat pacaran bisa muncul?

Hasil review psikologi klinis oleh Davis dan Cristine dengan tema Dating Violance in Mid Adolescence: Theory, Significance, and Emerging mengungkapkan ada tiga perspektif teori paling umum menjelaskan fenomen PDV, yaitu Social Learning, attachment dan Feminist.

Persepsi individu tentang hubungan dekat, perilaku sexual dan romantisme akan beriringan sesuai tayangan media sosial yang mereka konsumsi.

Orang yang melakukan kekerasan kepada pasangan dapat dijelaskan melalui teori sosial learning bandura (1977). Individu akan melakukan observasi untuk mendapatkan kemampuan interaksi , singkatkanya perilaku memaksa dan asertive didapatkan melalui pola imitasi berdasarkan pengalaman yang dulu pernah terjadi dalam lingkungannya. Pengetahuan, budaya dan media digital  juga mempengaruhi pemahaman individu terhadap boleh tidaknya  melakukan kekerasan. Akhirnya persepsi individu tentang hubungan dekat, perilaku sexual dan romantisme akan beriringan sesuai tayangan media sosial yang mereka konsumsi.

Attachment merupakan kelekatan antar individu melalui pola pengasuhan seperti orangtua kepada anak. Pola asuh anak yang buruk, kurang perhatian  serta tidak konsisten akan bedampak di masa dewasa, hubungan romantisme anak akan menjadi tidak sehat. Seperti mudah cemburu, emosi yang labil dan cenderung mudah ngambek. Haza dan Shaver (1987) menemukan bahwa anak yang diasuh penuh kebahagiaan dan kepercayaan akan lebih memiliki kesetiaan yang kuat ketika mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.

Pasif, patuh, berlemah lembut, penyayang dan dituntut untuk meminimalkan expresi kemarahan merupakan ukuran normal sebagai wanita.

Dominasi Wanita yang menjadi korban dating violance  secara tidak langsung menunjukkan bahwa laki laki memiliki kuasa untuk berlaku kasar. Inilah yang ditentang oleh pejuang feminis. Berdasarkan teori feminis, struktur kekuatan lebih banyak dimiliki lelaki sedangkan Wanita adalah objek yang harus tunduk. Lelaki selalu diajarkan untuk bisa berperilaku layaknya pria (aggresive), dominan, kompetitif dan dilarang untuk menunjukkan kelemahan seperti rasa takut dan berlemah gemulai. Sikap seperti itu berbanding terbalik dengan pengajaran yang selalu didengungkan untuk anak Wanita. Pasif, patuh, berlemah lembut, penyayang dan dituntut untuk meminimalkan expresi kemarahan merupakan ukuran normal sebagai wanita.

Pemahaman gender yang tidak fleksibel dan seimbang akan menimbulkan internalisasi pola pikir individu yang keliru terhadap suatu hubungan. Wanita akan meng amini bahwa mereka memiliki tugas sebagai pelengkap kebutuhan laki laki . Sementara laki laki akan merasa memiliki otoritas penuh dan sah walaupun melakukan penindasan terhadap Wanita.

Dilansir oleh WHO Understanding and Addressing violance against women, berikut beberapa pemahaman masyarakat yang membuat kekerasan terhadap wanita selalu ada.

  1. Pria memiliki hak superior terhadap wanita dalam strata sosial.
  2. Pria memiliki hak untuk mendisiplinkan kesalahan wanita melalui pendekatan fisik.
  3. Kekerasan fisik adalah cara yang bisa diterima untuk menyelesaikan konflik dalam suatu hubungan.
  4. Pria memiliki hak (jatah) aktivitas seksual terhadap pacar.
  5. Wanita adalah subjek yang harus bertangung jawab atas syahwat laki laki.

Orangtua menganggap akan menggangu privasi dan terlalu naif berpikir bahwa putra-putri yang beranjak dewasa sudah tahu bagaimana cara mengatasi konflik.

Keluarga saat ini, ayah dan ibu merasa sungkan untuk membicarakan perihal pacaran kepada putra putrinya. Orangtua menganggap akan menggangu privasi dan terlalu naif berpikir bahwa putra-putri yang beranjak dewasa sudah tahu bagaimana cara mengatasi konflik. Hal ini merupakan gaya parenting yang keliru, sebab bagaimanapun Remaja belum bisa secara tegas membedakan bentuk kasih sayang yang benar. Bisa jadi perilaku kasar pasangan dianggap sebagai bentuk kasih sayang walau sebenarnya perilaku itu sudah masuk kategori dating abuse.

Mengapa wanita yang menjadi korban tidak meninggalkan pasangannya?

Wanita adalah wanita, pria adalah pria. Wanita ketika jatuh cinta berpikirnya mengggunakan perasaan, sedang pria tetap menggunakan akal. Itulah salah satu alasan mengapa wanita tetap bertahan walapun dalam hubungan pacaran yang penuh kegaduhan. Sifat mulia wanita adalah kasih sayang, mereka selalu berharap kelak pacar mereka yang kasar dan tak berbudi akan berubah seiring berjalannya hari. Bodohnya, mereka terlalu berharap kepada lelaki yang belum tentu mengucap kata ijab.

Wanita adalah wanita, rapuhnya mereka sehingga jika sampai hubungannya gagal ia akan malu bukan kepalang. Disiksa dihina akan mereka terima asal kata perpisahan menjadi mimpi buruk yang tak akan pernah menjadi kenyataan.

Dear Wanita, dirimu sangatlah berharga, jika di ujung jalan ada pria yang membuat hatimu tertawan, sabarlah, berdoalah, jangan kau beri apapun untuknya sebelum selfie bersama di pelaminan.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

Referensi:

Antoinette Davis, MPP. (2008). Interpersonal and Physical Dating Violence among Teens. Views from the National Council on Crime and Delinquency.

Barbara, Blachman, & Carrie.(2014).Teen Dating violance How Peers can Affect Risk and Protective Factors. National Institute of Justice.

David & Christine.(1999).Dating Vilance in Mid Adolescence: Theory,Significance, and Emerging Prevention Initiatives. Clinical Psychology Review.

Www.CDC.gov/violenceprevention. (2012). Centers for Disease Control and Prevention, USA.

WHO.(2012). Understanding and Addressing violance against women. WHO Publications.