Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 44

Pramuka itu Identik dengan Kemandirian dan Kepemimpinan, Mengapa KPAI Berkomentar Tak Sedap?

0

Tragedi susur sungai oleh adik-adik Pramuka salah satu SMPN di Yogyakarta memunculkan tanggapan tak sedap dari Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti. Bagaimanapun, saya menduga segala sesuatu sudah diperhitungkan sebelumnya meskipun bisa menimbulkan sakit bagi peserta kegiatan tapi tetap terkendali karena tanggungjawab pendidik atau pembinanya.

Kampusdesa.or.id-Buntut dari tragedi susur sungai oleh adik-adik Pramuka salah satu SMPN di Yogyakarta memunculkan tanggapan tak sedap dari Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti. Ia mendorong Kemendikbud mengevaluasi kebijakan yang menjadikan pramuka sebagai ekstrakurikuler yang wajib diikuti setiap pelajar (CNN Indonesia).

Kegiatan kepramukaan ini mewadahi kegiatan sekolah yang mendorong siswa menjadi pribadi mandiri, tangguh, dan nilai-nilai kebaikan lainnya seperti jiwa kepemimpinan, kedisiplinan dan lain-lain.

Saya tidak bermaksud menggagas atau menanggapi lebih detil pernyataan tersebut. Karena publik sudah menyaksikan bahwa tragedi susur sungai tersebut diduga keras karena keteledoran pembina pramukanya. Baiklah, saya ingin menunjukkan bahwa kegiatan kepramukaan ini mewadahi kegiatan sekolah yang mendorong siswa menjadi pribadi mandiri, tangguh, dan nilai-nilai kebaikan lainnya seperti jiwa kepemimpinan, kedisiplinan dan lain-lain.

Semasa saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah melalui proses diklat kepemimpinan yang kegiatan-kegiatannya terintegrasi dengan kegiatan pramuka. Sama dengan mereka para siswa yang susur sungai di Yogyakarta itu, saya masih kelas 2 SMP. Ajang diklat kepemimpinan untuk semua pengurus OSIS di SMPN Kutorejo, Mojokerto kala itu.

Jika diterapkan hari ini, pastilah para orang tua akan lapor kepada pihak-pihak terkait karena keluhan anak-anaknya yang manis manja.

Pelaksaan kegiatan ini di makam Troloyo, Trowulan, Mojokerto. Mendirikan tenda-tenda di sekitar kuburan yang ukurannya panjang-panjang. Konon orang jaman dulu memang tinggi-tinggi. Diklat kepemimpinan 3 hari 2 malam itu terkesan sampai kini. Para calon pengurus digembleng sedemikian kerasnya. Jika diterapkan hari ini, pastilah para orang tua akan lapor kepada pihak-pihak terkait karena keluhan anak-anaknya yang manis manja.

Saya dan kawan-kawan lainnya tidak ada yang mengeluh jengkel. Kami hanya menghela nafas panjang ketika suara keras, mimik muka tak bersahabat menghiasi wajah para senior (notabene kakak kelas kami) juga pembina OSIS dan pembina pramuka (tetap salam ta’dhim kepada mereka jika ada yang membaca tulisan ini).

Latihan PBB di sekitaran makam Troloyo. Waktu itu seolah hilang sifat ‘kemenungsan’ kami, kami tak boleh salah barang sekecilpun saat latihan PBB. Fokus konsentrasi mengikuti aba-aba dari pembina pramuka. Salah sedikit,  suara keras bakal kami dengar lengkingannya dari pemberi komando. Malamnya ada yang namanya uji nyali. Dulu itu namanya apa ya, saya lupa. Umumnya dinamai dengan “jeritan malam”. Bayangkan sudah di area makam,  masih pula dicarikan makam yang lebih serem. Saat itu bukan hantu yang saya takuti, tapi banyaknya nyamuk yang menggigit saya dan kami semua sehingga kami tak bisa khusyuk mengikuti kegiatan ini .

Keesokan harinya, agendanya jalan-jalan. Mestinya jalan-jalan ini asyik, tapi berhubung kami dalam masa penggembelengan, saya curiga, pasti jalan-jalan ini ndak asyik. Benar!  Sebelum jalan-jalan ada sesi halang rintang. Kami tiarap di bawah ranjau. Eh, tapi ranjaunya aman, dibuat dari tali rafia yang dirangkai sedemikian rupa. Ranjau dipasang kurang lebih dengan ketinggian 40cm, sehingga kalau kami tiarap tidak serius, kepalanya akan nyantol ke tali rafia tersebut. Kecantol tali masih bisa dihindari, tapi baju belepotan lumpur tak bisa kami hindari. Di atas ranjau tempat kami tiarap,  tanah kering disiram air sampai becek sekali. Bayangkan, betapa kerennya kami bisa seperti tentara! Sudah tidak memikirkan penampilan seperti apa wajah kami kala itu.’ Ngunu iku yo ‘tidak jengkel dengan para senior dan pembina OSIS dan pembina pramuka.

Tiarap di atas lumpur dan di bawah ranjau masih termasuk gemblengan setengah berat. Berikutnya,  kami harus melewati jalan yang ada kubangan kerbau. Baunya pasti ‘kebul-kebul badeg banget’.  Kami ‘njegur ‘ ke situ. Walhasil pakaian pramuka kami sudah belepotan lumpur, bau pula.

“Duh Gusti, niat banget nih para panitia bikin kami tahan banting, tidak hanya mental, tapi kesehatan kami juga dibanting-banting!” Batin saya campur aduk antara jengkel juga sok bangga. ‘Ngunu iku kapok’? ‘ Purik’? Melarikan diri dari kegiatan?  Tak satupun yang melakukan hal itu. Kami tetap stay sampai pulang bareng keesokan harinya.

Usai masuk kubangan kerbau, kita napak tilas ke Sumur Upas, makam Kencana Wungu, istri Damarwulan dan terakhir ke pendopo Agung Majapahit. ‘Saking pegel e’ saya tertidur di situ. Pulang dari pendopo kami berkemas pulang, dengan mengenakan seragam  pramuka yang masih bau kubangan kerbau.

Saya menduga segala sesuatu sudah diperhitungkan sebelumnya meskipun bisa menimbulkan sakit bagi peserta kegiatan tapi tetap terkendali karena tanggungjawab pendidik atau pembinanya.

Agenda-agenda kegiatan seperti itu memang tidak se-ekstrim dengan kejadian susur sungai tersebut, tapi saya menduga segala sesuatu sudah diperhitungkan sebelumnya meskipun bisa menimbulkan sakit bagi peserta kegiatan tapi tetap terkendali karena tanggungjawab pendidik atau pembinanya. Bagaimanapun, saya yakin tiada niat yang buruk dari para senior melainkan untuk membentuk karakter dan mental kami untuk menghadapi hidup yang tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Merdeka Belajar: Model BCCT dalam Pengelolaan Sekolah (2)

0

Mewujudkan lingkungan sekolah yang kondusif untuk Merdeka Belajar sebenarnya mudah. Persoalannya hanyalah apakah pihak pengelola sekolah mau atau tidak. Terutama ketika dituntut untuk mengubah pola manajerialnya dari otoritarian menjadi egaliter dan demokratis serta mengedepankan kreativitas dan inovasi. Teramat banyak kita temui pimpinan sekolah yang demikian berjarak, baik fisik maupun psikis, dengan ‘bawahannya’ (guru). Jika terus begitu, bagaimana bisa merdeka belajar diterapkan?

Kampusde.or.id-Dalam tulisan terdahulu, sudah saya paparkan latar belakang Pamela Phelps mengembangkan model pembelajaran BCCT, yaitu agar anak-anak kreatif. Mereka akan tumbuh kreatif bila tidak mendapat hambatan baik verbal, fisik, psikis, legal dan lain-lain. Dalam rangka demikian, Pamela membuat aturan “don’t say No to the kids.”

“Guru di depan kelas, melambangkan guru sebagai penguasa kelas, anak-anak semua menghadap ke depan melambangkan komunikasi yang searah.”

Hambatan psikis bisa disebabkan karena hambatan fisik, karena setting kelas konvensional.Guru di depan kelas, melambangkan guru sebagai penguasa kelas, anak-anak semua menghadap ke depan melambangkan komunikasi yang searah. Posisi duduk anak dan guru ada yang di depan dan ada yang dibelakangi menunjukkan ada ketidakegaliteran.

Karena itu, Pamela Phelps lewat Creative School-nya merombak secara radikal pendidikan konvensional dengan BCCT. Pertama, dengan tidak boleh menghambat dan melarang anak untuk berkreasi, maka kreativitas anak akan berkembang. Kedua, dengan duduk melingkar menunjukkan adanya jiwa demokratis yang egaliter pada anak, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, semua saling berhadapan. Ada komunikasi multi arah, tidak hanya searah.

Marilah kedua prinsip itu kita terapkan dalam pengelolaan sekolah.

“Buang semua aturan yang menunjukkan adanya kekangan berkreasi. Bahkan, beri insentif untuk guru dan anak yang kreatif”

Pertama, sesuai dengan anjuran Merdeka Belajar dari Mas Mendikbud, jangan hambat guru dan anak berkreasi dalam pembelajaran. Buang semua aturan yang menunjukkan adanya kekangan berkreasi. Bahkan, beri insentif untuk guru dan anak yang kreatif. Insentif itu bisa secara sosio-emosional dengan pujian, memberikan kesempatan kepada guru dan anak yang kreatif untuk unjuk kerja di hadapan sejawat sehingga ada sharing ideas dan saling mendukung.

“Salah satu faktor penghalang dalam menerapkan pembelajaran inovatif dalam penelitian saya di tahun 2015 adalah ketidaknyamanan secara psikis dan verbal yang diterima guru apabila dia kreatif dan inovatif.”

Ciptakan zona nyaman dan aman bagi guru dan anak yang kreatif. Jangan sebaliknya, guru dan anak yang kreatif justru menerima perundungan dari sekitarnya. Salah satu faktor penghalang dalam menerapkan pembelajaran inovatif dalam penelitian saya di tahun 2015 adalah ketidaknyamanan secara psikis dan verbal yang diterima guru apabila dia kreatif dan inovatif.

Insentif berupa material-finansial bisa berupa dukungan dana untuk biaya mengembangkan dan menerapkan kreativitas guru dan anak-anak, sehingga tidak merasa yang kreatif malah lebih berat karena harus membiayai kreativitasnya. Faktor biaya ini juga merupakan salah satu faktor penghambat guru untuk berkreasi menurut hasil penelitian saya di tahun 2015. Meski sebenarnya sebagian dari Tunjangan Fungsional itu seharusnya sebagian untuk pendanaan pembelajaran inovatif.

Kedua, susun setting dan iklim organisasi di sekolah menjadi iklim organisasi yang egaliter. Buang sekat-sekat fisik yang melambangkan perbedaan status, ada kepala, ada anak buah yang ASN dan ada anak buah yang non ASN dari seragam dan pangkat yang dipakai, seperto larangan guru honorer memakai seragam kheki misalnya.

“Jangan hapus dan kubur kebanggan beliau-beliau dengan menghilangkan atribut-atribut sosial guru”

Bagi guru-guru non ASN menjadi guru itu merupakan prestise di mata masyarakat, jangan hapus dan kubur kebanggan beliau-beliau dengan menghilangkan atribut-atribut sosial guru. Secara psiko-sosial, menjadi guru itu jauh lebih berharga daripada secara ekonomis, karena itu beliau-beliau rela diberi honorarium hanya 200-300 ribu dan harus mencari kekurangan biaya rumah tangganya di luar menjadi guru.

“Susun setting kesetaraan antara kepala sekolah dan guru, bahkan dengan wali siswa dan dengan siswa sekalipun”

Susun setting kesetaraan antara kepala sekolah dan guru, bahkan dengan wali siswa dan dengan siswa sekalipun. Isi ruangan kepala sekolah dengan meja kerja yang besar dan mewah dengan kursi kepala sekolah yang seperti direktur perusahaan dan posisi kursi yang lebih tinggi dari yang menghadap juga merupakan hambatan psikis yang terbangun, yang membedakan antara kepala dan anak buah. Lebih baik meja kerja sederhana, tapi lengkapilah ruang kepala sekolah dengan sofa tempat menerima tamu di ruang kepala sekolah. Meja kerja adalah meja tempat kepala sekolah mengerjakan tugas-tugas fisiknya, menulis, mengetik komputer dan sebagainya, sedang tempat menerima tamu adalah sofa.

“Datanglah lebih awal dari jam kerja dan ikutlah menyambut kedatangan anak-anak (dan juga guru) di pintu gerbang sekolah”

Pintu ruang kepala sekolah yang selalu tertutup, kepala sekolah yang lebih sering berada di ruangnya sendirian dan jarang berada di tengah-tengah guru merupakan hambatan juga. Selalulah berada di tengah guru-guru dan anak-anak setiap saat tidak melakukan pekerjaan fisik kepala sekolah, bahkan saat guru-guru dan anak-anak melakukan pekerjaan \fisik seperti ikut membersihkan sekolah, masak dan makan bersama. Datanglah lebih awal dari jam kerja dan ikutlah menyambut kedatangan anak-anak (dan juga guru) di pintu gerbang sekolah. Tanpa disadari perilaku untuk ikut menyambut kedatangan anak-anak akan membuat guru-guru sungkan untuk datang terlambat.

Pertemuan kepala sekolah dengan guru dan juga dengan wali siswa usahakan disetting bentuk melingkar, atau paling tidak berbentuk U sesuai dengan prinsip model pembelajaran BCCT, dalam bentuk Circle. Bangun suasana demokratis dan egaliter dengan memberi kesempatan seluas-luasnya pada hadirin untuk mengemukakan pendapat. Beri penghargaan dan respect yang tinggi pada semua ide hadirin.

“Jangan melakukan character assasination (pemunuhan karakter) dengan menyalahkan dengan kasar ide yang hadir”

Jangan melakukan character assasination (pemunuhan karakter) dengan menyalahkan dengan kasar ide yang hadir. Sakit hati akibat dipermalukan akan diingatnya sampai mati. Bila merasa ada yang tidak sesuai, diperslilahkan yang bersangkutan untuk menjelaskan mengapa dia memiliki pendapat atau ide seperti itu. Kalau kepala sekolah merasa ide itu salah atau bertentangan dengan ide atau pendapatnya, sehabis rapat, ajak yang bersangkutan untuk bicara empat mata agar yang bersangkutan bisa secara rinci dan jelas.

Kalau kepala sekolah tetap tidak setuju dengan ide, kemukakan dasar pemikiran secara konsep, etika, logika estetika dan legal formal mengapa kepala sekolah tidak bisa menerima idenya. Buang rasa harga diri terpaksa menerima ide anak buah karena secara obyektif rasional ide anak buah lebih baik. Malah kalau seperti itu, beri selamat dan penghargaan karena idenya bagus, maka yang bersnagkutan akan lebih termotivasi untuk menerapkan idenya.

“Semakin anda membaur dan melebur di tengah anak buah maka simpati dan penghargaan anak buah akan semakin tinggi, demikian juga wibawa anda”

Buang jauh-jauh konsep untuk membentuk wibawa perlu ada jarak antara kepala dan anak buah. Jarak itu bisa dalam pengertian simbolik fisik seperti pangkat, seragam, posisi duduk dan dalam pergaulan keseharian. Semakin anda membaur dan melebur di tengah anak buah maka simpati dan penghargaan anak buah akan semakin tinggi, demikian juga wibawa anda. Buang jauh-jauh ide the leader can do no wrong, sang pemimpin tidak pernah berbuat salah, yang berbuat salah hanya anak buah.

“Semakin sering anda melebur dan membaur dengan anak buah dalam segala kesempatan, semakin kurang penting anda melakukan rapat formal”

Semakin sering anda melebur dan membaur dengan anak buah dalam segala kesempatan, semakin kurang penting anda melakukan rapat formal. Karena melalui forum yang alamiah, dalam keseharian itu, anda mendapatkan masukan lebih banyak dan lebih jujur dan masukan yang tepat waktu.

Manfaatkan teknologi dalam melebur dan membaur dengan anak buah dalam satu grup yang terbuka, penuh keceriaan, dan tanpa ketakutan akan dibully bila menyampaikan sesuatu informasi. Terima semua informasi dan ajak semua anggota untuk mendiskusikan informasi yang masuk.

Pelakukan secara adil dan proporsional semuanya, baik guru, anak maupun wali siswa. Perlakuan secara tidak adil akan menyebabkan ketidaknyamanan dan akan memicu terbentuknya kelompok-kelompok kecil dalam organisasi sekolah anda dan ini akan menjadi kontraproduktif dalam anda mencapai puncak kinerja anda bersama teman-teman.

“Kepuasan kerja merupakan kunci motivasi untuk melakukan kinerja terbaik secara kreatif”

Dengan penciptaan iklim organisasi sekolah yang menghargai inovasi dan kreativitas guru-guru, maka guru akan mendapatkan zona nyaman dan aman untuk melakukan pembelajaran merdeka yang kreatif. Ingat pendapat Herzberg (1981) bahwa kepuasan kerja merupakan kunci motivasi untuk melakukan kinerja terbaik secara kreatif.

“Kepala Madrasah saya, Mbak Wiwin Artika lebih sering berada di ruang guru dan di tengah-tengah siswa”

Dalam hal ini, jujur saya banyak belajar dari kepala madrasah saya, Mbak Wiwin Artika yang menolak ketika ingin saya buatkan ruang kepala sekolah. Tapi karena syarat akreditasi harus ada ruang kepala sekolah, terpaksalah dibangun. Namun saat ini kebanyakan tidak digunakan kecuali ada tamu atau ada guru yang ingin bicara personal. Kepala Madrasah saya, Mbak Wiwin Artika lebih sering berada di ruang guru dan di tengah-tengah siswa.

Kesimpulannya, pengelolaan Model BCCT dengan menghilangkan hambatan berkreasi dan membangun kebersamaan dengan suasana sekolah yang nyaman dan aman bagi semua warga sekolah akan dapat memudahkan mencapai Merdeka Belajar.

Belajar Merdeka: Belajar Penuh Makna

0

Walaupun terdiri dari 100 milyar sel saraf, nyatanya tak setiap informasi dapat disimpan oleh otak manusia. Keterbatasan ini tentu harus dipertimbangkan guru dalam melangsungkan pembelajaran. Jangan sampai proses belajar siswa kehilangan makna, hanya karena guru asyik sendiri berceramah ria dan lupa bahwa setiap detail katanya tak terrekam oleh ingatan siswa.

Kampusdesa.or.id-Setiap detik, bahkan setiap saat, hanya sepersekian detik indra penerima kita bisa menerima sekian banyak informasi. Mata melihat berbagai rangsangan visual, telinga mendengar berbagai suara, hidung menerima berbagai bau, demikian pula indra kita yang lain yaitu indera pencecap, dan peraba. Namun informasi yang terbanyak lewat indra penglihatan dan pendengaran.

Saat kita berangkat ke sekolah, di jalan bertemu dengan puluhan, bahkan mungkin bisa ratusan orang, saat kita di mall, kita melihat ribuan benda yang dipajang di situ, saat di pasar kita mendengar aneka suara, demikian pula saat di sekolah, celoteh anak-anak meramaikan telinga kita.

Namun, apakah semua itu masuk ke benak kita….??? Apakah semua itu meninggalkan kesan dalam diri kita…???

Hanya sebagian kuecilll yang mampir ke otak kita. Itulah kebesaran Allah, seandainya saja mata kita seperti CCTV dan semua yang dilihat disimpan di memori, mungkin otak kita meskipun isinya ribuan gigabyte akan hang (eror.red) juga.

Self exposure itulah filter yang menyaring mana informasi yang perlu diterima dan karena itu memerintahkan indera penerima untuk fokus pada stimulus tersebut dan mengabaikan stimulus-stimulus lainnya”

Alhamdulillah. Gusti Allah memberi kita sensor yang namanya self exposure yang mengatur mana informasi yang perlu masuk dan disimpan di otak dengan infomasi yang hewhwez-hewhez bablas angine, hanya lewat aja. Self exposure itulah filter yang menyaring mana informasi yang perlu diterima dan karena itu memerintahkan indera penerima untuk fokus pada stimulus tersebut dan mengabaikan stimulus-stimulus lainnya. Sebetulnya saya berusaha menghindari menggunakan kata stimulus respon, karena saya takut dikatakan menyamakan sahabat-sahabatku dengan anjingnya Pavlov atau burungnya Skinner, tapi saya terpaksa dan hanya dua kali barusan saja, selanjutnya akan saya gunakan kata informasi.

“Ilmu tentang self exposure ini sangat didalami dalam psikologi marketing, khususnya iklan sehingga iklan-iklan yang disajikan langsung disantap dengan lahap oleh konsumen”

Ilmu tentang self exposure ini sangat didalami dalam psikologi marketing, khususnya iklan sehingga iklan-iklan yang disajikan langsung disantap dengan lahap oleh konsumen. Sayangnya tidak begitu diperhatikan dalam psikologi pendidikan, sehingga informasi yang diberikan guru mulai dari jam 07.00 sampai jam 13.00, bahkan yang polde (full day school) sampai jam 16.00 banyak yang hewhwez-hewhez bablas angine. Bibir guru sampai berbuih-buih tapi hanya lewat saja tak ada yang masuk ke dalam memori anak. Bukankah kalau sudah begini, terjadi pensia-siaan atau pemubadziran tenaga, waktu dan tentu saja dana yang sebenarnya bisa dirancang menjadi suatu pembelajaran yang bermakna.

Lalu bagaimana caranya…???

Dengan Belajar Merdeka…!!!

Kok bisa…??? Bagaimana caranya…???

Apa itu self exposure dan apa kaitannya dengan Belajar Merdeka…???

Agar uraian ini tidak terlalu puanjang dan luebar, to be continued dulu nggih sahabat-sahabatku karena saya harus nyiapin sarapan cucu yang mau sekolah dan tukang kandang di belakang…see you next edition

Turen, 18 Feb 2020

Studiomini Kampus Desa, Memecah Kreatifitas Konvensi Pendidikan

0

Baru berjalan sembilan kali, baru sadar jika kerja videografi menjadi penting bagi digitalisasi keragaman hasil Konvensi Pendidikan. Ketika banyak praktisi pendidikan bergerak bersama, sibuk dengan aneka persiapan, Kampus Desa Indonesia juga hanyut dengan kesibukan mengatur jadwal, mengawal diskusi kelompok menjadi sentral belajar, dan beberapa lainnya. Ada yang luput, yakni kerja millennial yang belum tersentuh. Studio Mini Kampus Desa hadir sebagai kesadaran baru, rekaman pengetahuan perlu dilakukan untuk merawat pengalaman baik di dunia pendidikan.

Kampusdesa.or.od--Konvensi Pendidikan terselelenggara sudah ke-9. Konvensi ini dapat menjadi daya tawar perubahan pendidikan. Terbukti sejumlah tokoh nasional regional memiliki kemauan untuk datang ke area konvensi. Jangan tanya kalau seputar praktisi pendidikan. Setiap agenda konvensi mesti dihadiri lebih dari 100 orang persemester.

Ada aneka alternatif pengalaman baik yang bisa dituturkan untuk yang lain sebagai ilmu baru di kelompok-kelompok diskusi di areal konvensi. Ada menejemen pendidikan, pengelolaan kelas inklusi, pendidikan luar sekolah, pembelajaran kreatif-inovatif, seputar pendidikan anak usia dini. Ada banyak pengalaman yang memesona pada setiap sesi. Pengalaman itu berujud temuan kreatif di lapangan yang sudah berhasil dilakukan, lantas dituturkan ulang di kelompok diskusi sesuai dengan tema.

Ada sajian pengalaman baik mendongeng di kelompok diskusi PAUD, ada teknik menulis cepat dan menghasilkan tulisan seputar PAUD, beberapa pengalaman mengajar positif (jejak pembelajaran) dipaparkan juga di konvensi pendidikan. Keragaman ini menunjukkan jika para pelaku pendidikan telah melampaui batas-batas politik administratif pendidikan menuju ke penghargaan kekuatan dominan pada pembelajarnya, maka aneka karya dapat lahir dari habitus (pembiasaan) pendidikan. Birokasi administratif telah menjadi perangkap nyata yang menggeser fokus guru (pelaku pendidikan) tertuju pada kerja-kerja administratif, sedemikian melupakan arah dan dialog intesif dengan siswa.

Habitus ini yang menjadikan jembatan dialog guru pembelajar tidak begitu mendapatkan wadahnya. Konvensi pendidikan, mengajak para praktisi pendidikan untuk hadir dalam kerangka menyeritakan pengalaman baiknya bagaimana mereka telah mewakili momentum dialog-dialog positif dengan siswanya sehingga melahirkan karya yang bisa menjadi contoh baik bagi pelaku pendidikan yang lain. Di konvesi inilah praktik baik itu kemudian dibagikan secara suka rela.

Mengenali aset menginisiasi Studio Mini Kampus Desa di Konvensi Pendidikan.

Saya menukilkan secuil pengalaman mengapa di Konvensi Pendidikan ada studio mini Kampus Desa Indonesia? Al-kisah, saya berkumpul dengan seorang penggila teknisi multimedia yang paham dunia elektronik, videografi, fotografi, dan seputar itu. Kegetolannya otak-atik komputer dan perangkat elektronik menjadikan sosok ini orang yang super detil. Bahkan saking detilnya, saya sering diprotes hal-hal yang saya anggap sudah tidak berguna. Termasuk dunia videografi. Kalau hal-hal sederhana bisa disulap menjadi karya yang setara atau minimalis untuk produksi video, mengapa tidak difungsikan dengan baik. Namun sayang, kegemaran dia mengendap sedemikian lama dan menjadi permainan individu di rumah saja. Saking getolnya, rumahnya selalu ditumpuki aneka barang elektronik dan berbagai bekas instalasi teknik. Bahkan, dia seperti seorang autis pengangguran yang kerjanya hanya otak-atik komputer.

Banyak orang yang sudah melakukan sesuatu, kok kita hanya jagongan terlalu lama, membakar ide hingga melambung ke langit tanpa jejak. Di konvensi, Siti Nur Imamah telah melakukan berbagai perubahan penting. Kita mau apa?

Sosok ini saya kenal di Senam Kecerdasan. Bahkan pernah saya ajak hadir pada konvensi pendidikan ke-8 di Desa Wisata Petungwulung Nganjuk. Ini menjadi gambaran perkenalan saya sudah cukup bagi proses pertukaran kompetensi, namun tetap saja tak melahirkan inisiatif baru. Dia sosok yang tetap saja pasif. Bisa jadi karena saya berprofesi sebagai dosen, dan dia “pengangguran,” karena bisnisnya sudah berjalan sendiri (passive income). Ini saya simpulkan dari cletukan saat ngobrol dengannya dan dia sering bilang, “mohon maaf pak, saya ini bukan apa-apa, jadi ya begini ini kalau bicara, tidak seperti orang kampusan.” Setelah dari konvensi pendidikan ke-8 Nganjuk, dia terhentak dan mengatakan, “banyak orang yang sudah melakukan sesuatu, kok kita hanya jagongan terlalu lama, membakar ide hingga melambung ke langit tanpa jejak. Di konvensi, sosok seperti Siti Nur Imamah telah melakukan berbagai perubahan penting. Kita mau apa?” Celetuknya kesekian kali, saat jagongan dengan saya dan sejumlah orang yang terlibat di Kampus Desa.

Dialog ngalor-ngidul sering terjadi. Tibalah pada suatu kebuntuan mengenai kehadiran Kampus Desa di Konvensi Pendidikan ke-9. Saya mencoba bertanya seputar online di media sosial. Tentu ada banyak dialog diisi pembicaraan di seputar dunia digital. Dia, lantas memasuki pembicaraan seputar jaringan, digital, dan potensi yang pernah dia kerjakan, termasuk pekerjaannya sebelum dia benar-benar menjadi “autis,” dengan kesukaannya.

Der. Saya pun bicara mengenai peluang livestreaming dalam kegiatan konvensi pendidikan. Syahdan, sentilan saya ini disahut dengan aneka ide dan rancang bangun jaringan digital. Saya mulai menyerah karena ketidaktahuan saya. Dus, akhirnya kami bersepakat untuk merancang peluang menawarkan konsep Studio Mini Kampus Desa Indonesia pada Konvensi Pendidikan ke-9 di Blitar. Saya hanya paham livestreaming ala HP saja. Sesederhana itu. Bagi saya ini akan lebih baik dilakukan agar konten konvensi bisa dokumentatif seketika, tidak hanya tulisan yang bernilai super terbatas saja penggemarnya.

Dialog setara saling menyodorkan potensi memberikan ruang kesadaran bersama untuk beranjak dari argumen-argumen langit.

Dialog setara saling menyodorkan potensi memberikan ruang kesadaran bersama untuk beranjak dari argumen-argumen langit. Dialog setara saling menguji seberapa potensi masing-masing orang bisa dikolaborasikan. Di sinilah Mini Studi Kampus Desa kemudian bisa hadir memecah kebekuan forum di Konvensi Pendidikan. Ini juga terbentur oleh pemikiran Kampus Desa, kita mau berbuat apa di Konvensi. Toh para orang hebat sudah berbondong hadir dan berbagai pengalaman baik ke para pelaku pendidikan. Mau membikin pameran, kami belum punya produk non-literasi. Kegoncangan ini akhirnya sampai pada menggeser konsep pameran menjadi layanan. Yah, layanan dokumentasi ilmu pengetahuan (stored knowledge). Jarang yang bersedia dan mau mengambil peran ini. Kecuali parsial dari kamera telpon pintar dalam swafoto dan dokumen pribadi.

Kami akhirnya bergeser dari livestreaming ke membuat saja Studio Mini sebagai bentul layanan baru di Konvensi Pendidikan. Pertimbangannya agar sebagian pengalaman baik tersebut dapat direkam dengan baik dan dapat disajikan lebih tertata stored knowledge-nya (pengetahuan yang terekam). Alasan lain, aneka aset yang sudah melimpah di konvensi pendidikan butuh dirawat dengan peralatan digital dan ditransformasi menjadi sumber rekaman ilmu pengetahuan. Di sini kami akhirnya mencoba melakukan penawaran untuk menghadirkan Studio Mini Kampus Desa ke Lukman Hakim sebagai modal bagi proses penyimpanan ilmu pengetahuan secara ringkas yang dapat dengan mudah dijadikan sumber belajar peserta konvensi atau yang belum sempat hadir.

Desk video yang berhasil diciptakan dari peralatan yang seadanya dapat dikunjungi di laman youtube Kampus Desa Indonesia dengan link sebagai berikut;

  • Jejak belajar bersama Najma Katsir, Kepala MtsNU Pakis Kabupaten Malang
  • Sekolah Ramah Anak bersama Bekti Prasetyani, Fasilitator Nasional Sekolah Ramah Anak
  • Praktik Baik Pendidikan Anti Korupsi bersama Zubaidah, Kepala KB/TK Al Karimah Malang
  • Cerdas dengan Bertutur bersama Kak Rubi, Pemilik Rumah Kreasi Rubi
  • Egrang, Pendidikan Aman Bencana Bersama Aria Kusuma Aji dari Komunitas Egrang (Energi Gembira Anak Negeri)
  • In Loco Parentis Malang bersama Sakban Rosidi, Pemilik In Loba Parentis Malang
  • Dalang Cilik bersama Prabu Dilan dan Solaris Java Art

Penciptaan Mini Studio Kampus Desa di Konvensi Pendidikan ke-9 menjadi semangat baru peran Kampus Desa sebagai Desk Ilmu Pengetahuan yang lahir dari kemerdekaan berdialog antara saya, tim, dan seorang yang memang bakatnya di jaringan, elektronika, komputer, dan fotografi-videografi. Seorang ini bernama Sonny HC yang membikin jabatannya sendiri sebagai Sutradara dan Editing di Studio Mini Kampus Desa Indonesia.

Jikalau kita bisa memanfaatkan alat sederhana dan kemudian bisa berkarya, itulah kemerdekaan belajar. Sebaliknya, jika menunggu peralatan dan ketersediaan alat yang mewah tetapi tidak jua berangkat berkarya, apalah artinya. Justru kita tidak merdeka” (Sonny HC).
Suasana Laboratorium Studi Mini Kampus Desa Indonesia. Sebuah cikal bakal yang lahir dari tangan kreatif Sonnya HC (Tengah Berkaos Biru Abu-abu)

Bagi saya, proses perjumpaan ini bagian dari dialog merdeka, khususnya bagi Sonny HC. Kami mencoba mengapresiasi bakat tersebut agar setara diantara kemauan bersama. Kemerdekaan ini pada akhirnya menjadikan kami bisa saling mendukung berkarya. Apakah karya ini baik dan sempurna? Tidak. Menurut Sonny HC, justru kita bermakna berkarya jika dari peralatan yang ada kita mampu menciptakan berbagai kebutuhan yang sama di antara orang-orang yang memiliki peralatan yang canggih. Menurutnya, sudah biasa kalau punya alat yang canggih dan mampu berproduksi atau berkarya. Bagi Sonny HC, dia mengatakan, “jikalau kita bisa memanfaatkan alat sederhana dan kemudian bisa berkarya, itulah kemerdekaan belajar. Sebaliknya, jika menunggu peralatan dan ketersediaan alat yang mewah tetapi tidak jua berangkat berkarya, apalah artinya. Justru kita tidak merdeka.”

Terima kasih Sonny HC. Si Sutradara dan Editor Studio Mini Kampus Desa Indonesia. Kolaborasi dengan Anda, menjadi Konvensi Pendidikan mampu mengabadikan ilmu pengetahuan yang berserak menjadi berguna untuk orang banyak. Konvensi Pendidikan menjadi forum yang pecah, mencair, dan lebih bercitra positif untuk perubahan pendidikan, berkat semesta dari perjumpaan membumikan senam kecerdasan.

MALANG, 24 FEBRUARI 2020

Merdeka Belajar: Model BCCT dalam Pengelolaan Sekolah (1)

0

Terjajahnya peserta didik dalam belajar sering kali disebabkan oleh para pendidiknya sendiri. Misalnya penerapan model pembelajaran yang seringkali diskriminatif, monoton, mengekang, dan menjauhkan peserta didik dari kreativitas dan inovasi. Dampaknya, kebijakan Merdeka Belajar hanya akan berakhir tanpa suara dan tidak akan mampu melahirkan sekolah-sekolah yang merdeka. Model belajar BCCT, Beyond Circle and Center Times layak untuk diketengahkan sebagai terobosan dalam mengatasi masalah ini.

Kampusdesa.or.id-Beberapa waktu lalu sepulang dari sebuah kegiatan, saya mendapat sesuatu yang menarik dari percakapan guru-guru muda dengan guru-guru saya, yang juga masih muda-muda. Ternyata mereka semua ngrasani kepala sekolah mereka sampek entek ngapek, kurang golek, sik kurang maneh ngutang. Tak putus-putusnya sejak awal sampai akhir perjalanan yang lebih dari dua jam itu. Mereka umumnya mengeluhkan suasana kerja di sekolah masing-masing.

“Penak sampeyan, diajangi amba karo kepala sampeyan (Enak Anda diberi kesempatan yang luas oleh kepala sekolah)” kata mereka ke guru-gurusaya. Guru saya pun lalu cerita suasana keseharian di madrasah kami, dan bukan karena ada saya lalu ceritanya dibuat-buat, namun sepengetahuan saya, ya memang begitu adanya.

“Mereka mengeluhkan bagaimana kepala sekolah membatasi keinginan guru-guru muda yang masih segar otaknya untuk berkreasi, dengan berbagai cara”

Mereka mengeluhkan bagaimana kepala sekolah membatasi keinginan guru-guru muda yang masih segar otaknya untuk berkreasi, dengan berbagai cara. Ada kepala sekolah yang marah kalau merasa dilangkahi, ada juga kepala sekolah yang just do it atau malah just duwit. Ada yang kalau dimintai biaya untuk mewujudkan kreativitasnya, langsung ditolak dengan alasan tidak ada biaya, ada juga yang memperlakukan guru-guru secara tidak adil, ada yang dibenci ada yang disayang, like and dislike dan banyak lagi yang membuat mereka pasrah dan menyerah ikut arus suasana kerja yang ada di sekolah.

Saya lalu teringat postingan saya kemarin, yaitu tentang penelitian saya di tahun 2015, bahwa dari analisis CIPP faktor iklim kerja di sekolah memiliki sumbangan yang terbesar sebagai penghambat guru mewujudkan kreativitas dan inovasinya.

“Naiknya gaji atau honor tidak menyebabkan peningkatan kinerja secara signifikan karena gaji dan honor hanya sebagai faktor penyehat organisasi”

Juga teringat kuliah almarhum Bapak Dr. Frans Mataheru di tahun 1987 lalu, saat saya belajar di Pasca Sarjana IKIP Malang, tentang faktor-faktor motivasi kerja. Bahwa gaji, honorarium dan imbalan materi itu hanyalah faktor pendukung saja, sementara suasana kerja, pelibatan dalam pengambilan keputusan dan perlakuan yang humanis merupakan faktor motivator yang menentukan kualitas kerja karyawan. Bila faktor pendukung ditingkatkan, peningkatan yang terjadi tidak sebanding dengan peningkatan kinerjanya. Tapi bila faktor motivator dikurangi akan mengurangi tingkat kinerja secara tajam. Itulah ternyata mengapa naiknya gaji atau honor tidak menyebabkan peningkatan kinerja secara signifikan karena gaji dan honor hanya sebagai faktor penyehat organisasi.

Tapi apabila faktor-faktor motivator yang ditingkatkan, maka akan terjadi peningkatan kinerja secara sangat signifikan, bahkan kalau skor maksimal kinerja 100, dengan peningkatan faktor motivator akan menyebabkan lonjakan kinerja sampai bisa di atas skor maksimalnya. Saya sangat angkat topi (meski saya hampir nggak pernah pakai topi) kepada kepala madrasah saya yang menjadikan guru-guru saya bisa sampai keranjingan kerja (workalholic) bersedia pulang sampai maghrib saat menyelesaikan tugas-tugasnya di sekolah.

Saya teringat lagi akan model belajar BCCT yang merupakan terobosan yang dilakukan oleh Bapak Prof. Fasli Jalal, Dirjen PLSPO saat itu untuk PAUD, yang sebenarnya merupakan pembelajaran yang egaliter yang bisa merupakan faktor motivator belajar. Namun sayangnya, di negeri kita kemudian dimaknai sebagai pembelajaran Sentra dan Lingkaran dan disingkat Seling (untung bukan Selingkuh) dan mengabaikan makna kata Beyond yang merupakan filosofi dan jiwa BCCT.

“Pamela Phelps mendapati bahwa ketidakkreatifan dan ketidakegaliteran pendidikan di Amerika saat itulah yang menjadi penyebab mengapa orang Amerika kalah dari Uni Sovyet”

BCCT sendiri merupakan revolusi radikal pendidikan di Amerika Serikat setelah terkejut bangun dari mimpi saat dikalahkan oleh Uni Sovyet dengan peluncuran Sputnik di tahun 1957. Amerika lalu mencari penyebab kekalahan itu dengan penelitian-penelitian ilmiah. Dari salah satu penelitian pendidikan yang dilakukan oleh Pamela Phelps mendapati bahwa ketidakkreatifan dan ketidakegaliteran pendidikan di Amerika saat itulah yang menjadi penyebab mengapa orang Amerika kalah dari Uni Sovyet.

Pamela Phleps pun lalu membangun Creative School dengan model belajar BCCT, Beyond Circle and Center Times. Beda dengan di sini, yang melabeli sekolahnya dengan nama-nama yang “wouuww” tapi pembelajarannya sami rawon, di sana pemebelajaran kreatif benar-benar dilaksanakan (tidak hanya jargon red.)

“Anak-anak Amerika tidak kreatif itu karena setiap harinya 87% kata-kata yang diterima anak merupakan kata-kata yang menghalangi anak untuk menjadi kreatif, terutama kata NO”

Melalui BCCT itulah dibangun kreativitas dengan slogannya yang terkenal “Don’t say NO to the Kids”, jangan katakan TIDAK pada anak. Pamela Phelps menemukan bahwa anak-anak Amerika tidak kreatif itu karena setiap harinya 87% kata-kata yang diterima anak merupakan kata-kata yang menghalangi anak untuk menjadi kreatif, terutama kata NO.

“Dengan duduk melingkar membatasi dominasi guru yang berdiri di depan kelas dan anak-anak duduk manis di kursinya yang tetap dari hari ke hari”

Melalui BCCT juga dibangun sikap egaliter. Dengan duduk melingkar maka hilanglah sekat-sekat yang membatasi interaksi fisik dan psikis karena semua duduk sama rendah berdiri sama tinggi, begitu pepatah kita. Dengan duduk melingkar semua posisinya sama, tidak ada yang di depan dan tidak ada yang di belakang. Dengan duduk melingkar membatasi dominasi guru yang berdiri di depan kelas dan anak-anak duduk manis di kursinya yang tetap dari hari ke hari. Sehingga secara psikologis, tanpa disadari sudah membangun persepsi diri masing-masing anak bahwa posisi saya harus di belakang si X, dan si Y, temannya. Dengan duduk melingkar maka tidak ada siswa yang membelakangi dan dibelakangi siswa yang lain.

Karena suasana kerja atau iklim organisasi sekolah sangat menentukan kinerja guru, bagaimana pendapat saudaraku kalau prinsip-prinsip BCCT itu diterapkan dalam pengelolaan sekolah? Beberapa langkah yang perlu ditempuh adalah:

“Berikan KEMERDEKAAN bagi guru untuk membangun belajar merdeka. Dukung guru-guru dengan menciptakan suasana nyaman untuk berinovasi”

Pertama, menghilangkan pengekangan terhadap kreativitas guru dengan mengurangi sebanyak mungkin kata “JANGAN” atau “TIDAK”. Bebaskan guru, bahkan dukung guru untuk berkreasi secara inovatif dalam pembelajaran. Berikan KEMERDEKAAN bagi guru untuk membangun belajar merdeka. Dukung guru-guru dengan menciptakan suasana nyaman untuk berinovasi. Dari rasan-rasan guru-guru muda tadi memang peran kepala sekolah dalam hal ini adalah sebagai bottle-neck atau leher botol penghambat arus kemerdekaan untuk berkreati.

Dukung guru-guru yang kreatif dengan rewards, tidak hanya dengan kata-kata dan dukungan verbal dan psikis namun juga dengan rewards insentif baik biaya untuk melakukan tindakan pembelajaran merdeka maupun insentif berupa materi atau uang, sehingga selain mendapatkan kredit poin, guru yang kreatif juga mendapatkan kredit koin.Dukung guru-guru yang belum kreatif untuk kreatif dengan membersamakan beliau-beliau itu dalam tim kreatif yang merupakan peer mentoring dengan guru-guru yang kreatif.

Kedua, bangun suasana kebersamaan dengan menghilangkan sekat-sekat simbolik, sekat-sekat fisik maupun sekat-sekat psikis. Karena itu, kemarin saya unggah bahwa saya tidak setuju dengan sekat simbolik berupa pemakaian tanda pangkat bagi guru ASN. Demikian juga pelarangan guru honorer memakai seragam ASN.

“Salah satu penghargaan yang bisa diraih oleh guru-guru honorer itu dari masyarakat adalah status sebagai guru”

Salah satu penghargaan yang bisa diraih oleh guru-guru honorer itu dari masyarakat adalah status sebagai guru, sehingga meskipun honor yang diterima sangat minim secara rasional untuk memenuhi kebutuhan hidup guru-guru honorer, beliau-beliau tetap setia mengabdi menjadi guru. Sekat simbolik lain yang sering saya lihat di ruang kepala sekolah adalah kursi kepala sekolah seperti kursi direktur perusahaan, dan tidak sama dengan orang yang menghadapnya.

“Sekat secara fisik adalah ruang kepala sekolah yang mencerminkan kepala sekolah sebagai penguasa sekolah”

Sekat secara fisik adalah ruang kepala sekolah yang mencerminkan kepala sekolah sebagai penguasa sekolah. Saya jadi teringat kepala Madrasah saya Mbak Wiwin Artika sejak awal menolak dibuatkan ruang kepala madrasah, hanya gara-gara akreditasi harus ada ruang kepala sekolah maka dibuat ruang kepala sekolah. Itupun kini hanya lebih banyak digunakan untuk menerima tamu dan mengerjakan tugas adminsitrasi saat di ruang guru tidak ada tempat. Ada juga sekat secara fisik itu dengan menyediakan tempat parkir khusus untuk kepala sekolah.

“Sekat yang paling parah dampaknya adalah sekat psikologis dengan adanya diskriminasi subyektif kepala sekolah”

Sekat secara psikis lebih parah dampaknya. Sikap saya adalah kepaladan saya adalah bos, jelas mematikan rasa egaliter dan kebersamaan. Rangkul dan rengkuh semua guru secara adil tanpa diskriminasi. Sekat yang paling parah dampaknya adalah sekat psikologis dengan adanya diskriminasi subyektif kepala sekolah. Hilangkan sekat-sekat kelompok-kelompok kecil dalam semua guru di sekolah. Perbedaan perlakuan menyadi penyebab utama kelompok-kelompok kecil dalam komunitas guru di sekolah tersebut.

Membangun suasana yang kondusif tersebut di atas, secara kata-kata dan teori mudah dikatakan namun sulit untuk diterapkan, sangat tergantung dari manajeman sekolah yang diterapkan sang kepala sekolah. Secara pengetahuan dan kemampuan memimpin, seorang kepala sekolah sudah sangat menguasai, apalagi saat ini sudah ada sertifikasi kepala sekolah dengan pengetahuan (to know) dan kemampuan melakukan saat di pelatihan. Namun hal itu tidak serta merta menjamin mereka mampu menjiwai (to be), masih perlu kemampuan to life together with others.

Siap membangun sekolah yang demokratis…??? Sekolah yang memberikan kepada guru merdeka untuk berimprovisasi dan berkreasi dalam mendidik siswanya…???

Kalau sahabatku siap lahir batin berarti belajar merdeka siap dilaksanakan. Tapi kalau belum, sahabatku belum siap, maka Belajar Merdeka hanya slogan kosong tanpa makna.

Sahabat-sahabatku sudah tahu dan memiliki kemampuan untuk membangun sekolah merdeka melalui model pengelolaan BCCT, penentunya hanya pada apakah sahabatku MAU menerapkan atau TIDAK MAU menerapkan saja.

Turen, di hari Kasih Sayang 2020

Diskusi Mengatasi Kemiskinan dan Riwayat Alat Bantu Pemerintah

0

Program pengentasan kemiskinan dari dulu hingga sekarang selalu dihadapkan dengan berbagai kendala. Tak jarang kendala tersebut justru datang dari si pelaksana program itu sendiri. Misalnya hanya asal memberi bantuan tanpa pengkajian mendalam terhadap kebutuhan masyarakat sasaran. Akhirnya, pemberian bantuan tersebut hanya sekadar untuk penyerapan anggaran. Alat yang diberikan akhirnya tak terpakai, mangkrak di gudang, atau dijual.

Kampusdesa.or.id-Kemarin saya tidak jadi menyimak diskusi di pendopo tentang peran pemuda dalam pemberantasan kemiskinan. Karena, baru datang dan menyimak pengantar dari moderator, anak saya mengajak pulang. Maklum karena tugas utama saya siang kemarin adalah menjemput anak di Pendopo, karena ia sudah dijemput dulu Ibunya dan ibunya yang punya kewajiban untuk menyimak diskusi itu.

Tema kemiskinan itu cukup menarik. Sebab kemiskinan adalah situasi yang bisa dibicarakan dengan nada memberi harapan dan ketika dibuat retorika yang bagus, ia bisa mendatangkan harapan besar pada si pembuat janji-janji untuk mengatasi kemiskinan.

“Kemiskinan itu harus diurai. Mulai dari kontradiksi polok relasi material ekonomi, hingga problem-problem ikutannya yang kadang dianggap sebagai problem pokok”

Tapi setidaknya kemiskinan itu harus diurai. Mulai dari kontradiksi polok relasi material ekonomi, hingga problem-problem ikutannya yang kadang dianggap sebagai problem pokok. Meski arah diskusi di atas panggung kemarin sebenarnya tidak akan cukup membedah itu. Tapi saya tertarik karena setidaknya ada frase “peran pemuda” dalam mengatasi kemiskinan. Pertanyaan yang paling tepat diajukan tentunya adalah tentang bagaimana peran kaum muda mengatasi kemiskinan?

Saya hanya membayangkan bahwa ada beberapa pilihan untuk atasi kemiskinan. Cara-cara ini keluar dari narasumber, lalu kita tahu kelebihan dan kekurangan dari masing-masing strategi mengatasi kemiskinan. Tentu pilihan-pilihan bisa diambil oleh para generasi muda sesuai dengan posisi dan perannya masing-masing.

Salah satunya, misalnya, membagi kekayaan orang kaya ke orang miskin. Misalnya konsep zakat sudah bagus. Di sini, berarti istilahnya sistem charity atau kedermawanan. Yang kaya berderma. Ini adalah aksi heroik dan punya legitimasi kuat dalam moral dan reliji (agama).

Tapi kalau berderma ini memang punya efek akan memunculkan banyak ketergantungan. Demikian juga sistem penjaminan sosial di mana masyarakat dikasih uang tunai. Tapi mungkin menariknya jika uang (cash money) yang disalurkan benar-benar dipakai untuk kegiatan sebagaimana diharapkan. Benar-benar untuk pendidikan, kesehatan, gizi, dll. Bantuan tak sia-sia. Ini seperti dilakukan program PKH (Program Keluarga Harapan) yang memang sudah diakui secara global dan diterapkan di beberapa negara.

Kegiatan berderma dari komunitas masyarakat juga baik. Hanya saja kelemahan model charity ini juga ada, misalnya si pemberi bisa mempolitisir untuk kepentingan, bisa untuk meraup suara dalam pemilihan, bisa juga sekedar untuk narsis-narsisan. Memberi lalu difoto, dan si pemberi merasa bak pahlawan. Kalau programnya dari duit negara, secara aturan memang tidak bisa dipolitisir secara sepihak. Tidak perlu juga exposure yang begitu narsistik.

Tapi kesadaran untuk berderma ini memang sangat penting sekali. Kompetisi berderma di era medsos menjadi semarak, dilakukan oleh berbagai komunitas. Bukan hanya calon kepala desa, calon anggota legislatif, dan calon bupati dan wakil bupati ketika memasuki masa pemilihan—tapi antar komunitas medsos juga berkompetisi untuk tampil sebagai penderma dan mem-posting di medsos.

Biasanya kalau berderma memang harus ikhlas, bahkan konon ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa kalau memberi itu harus diam-diam dan bahkan tidak ditunjuk-tunjukkan. Mungkin di era medsos hal itu sulit. Positifnya, ketika memberi atau menyumbang lalu dimedsoskan, mungkin bisa menginspirasi yang lain. Kebaikan menularkan kebaikan. Semoga bukan kompetisi antar komunitas atau antar individu untuk saling merasa eksis karena memberi. Kita harus berpersepsi positif bagi bangkitnya aksi karitas dari berbagai komunitas.

“Problemnya, apakah alat tersebut diberikan pada orang-orang yang memang membutuhkan? Ataukah bantuan alat hanya sekedar penyerapan anggaran”

Ada pula jalan pemberdayaan. Jadi orang yang dianggap miskin diberikan keterampilan, alat, dan bahkan juga modal (atau semuanya, termasuk pelatihan). Tapi juga ada juga yang diberikan alat atau sarana saja. Problemnya, apakah alat tersebut diberikan pada orang-orang yang memang membutuhkan? Ataukah bantuan alat hanya sekedar penyerapan anggaran.

Saya pernah melihat sendiri tentang hal ini. Kebetulan ibu saya yang dulu berdagang ikan di pasar pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Satu alat berupa alat tempat pembakaran ikan. Satunya kotak/boks tempat penyimpanan ikan. Lucunya, keduanya akhirnya tidak dipakai. Alat untuk pembakaran ternyata tak digunakan karena kurang enak dipakai, terlalu lebar. Dan hasil pembakarannya lebih bagus jika dibakar dengan alat menggunakan batu bata sebagai “amping-amping” perapian dan meletakkan sapit ikan (ujung dan pangkal Sapit, terbuat dari bambu).

Yang boks juga tidak terpakai. Kenapa, tempatnya terlalu besar, terlalu lebar dan tinggi. Alat itu terlalu besar untuk pedagang kecil seperti Mbok Fatonah (ibu saya) dan pedagang-pedagang ikan lainnya. Malahan, boks itu akhirnya saya pakai untuk menyimpan arsip, beberapa buku, dan kliping-kliping koran yang saya buat sejak kuliah.

Posisi boks itu sekarang di rumah kami yang berada di Karangan, bukan lagi di Prigi rumah ibu saya yang sudah meninggal lima tahun lalu. Bukan Mbok Fatonah saja yang tidak menggunakan alat yang merupakan bantuan dari pemerintah. Ada juga beberapa pedagang yang mengalami hal yang sama.

“Problem bantuan barang seringkali seperti itu. Yang didahulukan biasanya adalah pokoknya ada pengadaan barang untuk menyerap anggaran atau kegiatan pengadaan barang”

Menurut suami saya, problem bantuan barang seringkali seperti itu. Yang didahulukan biasanya adalah pokoknya ada pengadaan barang untuk menyerap anggaran atau kegiatan pengadaan barang. Bahkan kadang pada pencarian kelompok sasaran juga dilelang. Kalimat tawarannya ada yang begini: “Mau kami kasih bantuan barang senilai sekian, tapi tolong ‘susukan’ (uang kembalian) ke kami ya. Berani nggak? Kalau nggak berani aku tawarkan ke yang lain!”

Dilihat dari kisah-kisah demikian itu, setidaknya kita masih menghadapi beberapa mentalitas SDM baik di kalangan si miskin sendiri maupun pihak yang merasa atau ingin membantu si miskin. Diskusi tentang mentalitas ini tampaknya rumit. Tetapi sebenarnya bisa diurai. Relasi kuasa yang terkonstruksi bisa dibongkar (didekonstruksi).

“Berbagai cara dan strategi melawan kemiskinan harus dilakukan bersama-sama bagi kaum muda yang merasa punya posisi dan peran untuk berbuat”

Cara pemberdayaan maupun model “charity” sama-sama penting untuk dilakukan. Kontrol terhadap kebijakan pemerintah agar mau dan mampu mengatasi kemiskinan juga penting untuk dilakukan. Berbagai cara dan strategi melawan kemiskinan harus dilakukan bersama-sama bagi kaum muda yang merasa punya posisi dan peran untuk berbuat.

Islam Jalan Hidup, Bukan Gaya Hidup

0

Modernitas berikut anak turunnya seperti globalisasi dan digitalisasi telah berdampak serius pada keberislaman kita. Hari ini, di era digital ini, Islam tak lagi dimaknai sebagai jalan hidup, yang dengannya kita menemukan kedamaian dan jalan pulang kembali kepada-Nya. Islam hari ini telah bergeser menjadi sebuah komoditi. Akibatnya, Islam lebih akarab dimaknai sebagai lifestyle saja. Kesalehan kemudian hanya diukur dari tampilan fisik yang serba syar’i.

Kampusdesa.or.i-“Jika kau bukan anak raja & ulama’ besar, maka menulislah.!“ pesan Hujjatul Islam Al-Ghozaly. Kesadaran untuk berkarya merupakan fitrah manusia. Apapun bentuk karyanya sebagai representasi bahwa ia pernah hidup di dunia serta memberi makna.

Borobudur, Candi Prambanan, Negara Kertagama, Pararaton dan ragam literatur klasik merupakan bukti pernah ada manusia-manusia hebat dalam bidangnya masing-masing di Nusantara. Peninggalan peradaban merupakan warisan penting bagi generasi ke generasi.

Apa yang kita lakukan hari ini laksana simpul peradaban yang menghubungkan dari masa ke masa. Peradaban yang dibangun atas karya manusia-manusia yang bisa dikembangkan dan diambil hikmahnya.

“Di era digital sekarang, banyak kerasahan yang perlu direnungi dan dituliskan. Pergeseran zaman membawa pengaruh manusia serta keberagamaanya”

Termasuk karya tulis. Karya tulis merupakan cermin zaman, wajah dari sebuah era. Di era digital sekarang, banyak kerasahan yang perlu direnungi dan dituliskan. Pergeseran zaman membawa pengaruh manusia serta keberagamaanya. Trend perkembangan islam yang simbolis menjadi wabah baru bagi gen-milenial.

Kapitalisme berwajah agama juga menjadi transformasi dimana butuh kewarasan di dalamnya. Substansi terpinggirkan oleh formalitas dan cover. Sebut saja fenomena obral label halal untul produk-produk yang non-konsumtif. Seperti kulkas, kacamata, pampers, dan kerudung menjadi lelucon yang perlu diceritakan pada anak cucu nanti.

“Zaman dimana Islam lebih dijadikan gaya hidup (Hijrah, fashion islami, syariatisasi dan sebagainya), bukan sebagai jalan hidup”

Buku ini saya tulis dari endapan kerasahan-keresahan atas fenomena & problematika keislaman di era digital, milenial seperti sekarang ini. Zaman dimana Islam lebih dijadikan gaya hidup (Hijrah, fashion islami, syariatisasi dan sebagainya), bukan sebagai jalan hidup.

“Jika engkau ingin menjajah suatu negara; jauhkan generasi dari tradisi leluhurnya dan hancurkan literatur dan peradaban bangsa tersebut.”

Mudah-mudahan melalui karya sederhana ini anak-cucuku nanti dapat belajar, mengambil kebijaksanaan dan dapat merajut simpul peradaban dengan karya agar tiada terputus. Napoleon Bonaparte pernah mengatakan; “jika engkau ingin menjajah suatu negara; jauhkan generasi dari tradisi leluhurnya dan hancurkan literatur dan peradaban bangsa tersebut.”

Semoga dapat terbit dengan baik dan membawa manfaat.

Merdeka Belajar, Sudah Siapkah Guru Kita?

0

Tak lama setelah Mendikbud baru merilis terobosannya berupa kebijakan Merdeka Belajar, berbagai tanggapan pun bermunculan. Pro dan kontra, sikap optimis dan psimis, bahkan hingga apatis menyambut kelahiran kebijakan ini. Terlepas semua itu, memang ada segudang aspek yang perlu dipersiapkan, agar implementasi kebijakan ini tidak seperti kucing-kucing diraupi. Utamanya, apakah guru-guru kita sudah siap dengan perubahan frontal semacam ini? apakah mereka sudah paham sepenuhnya hakikat dan arah kebijakan ini?

Kampusdesa.or.id.-Tulisan ini dipicu oleh unggahan Mas Sunarto Ismunandar, yang mempertanyakan, jangan-jangan istilah yang jadi jargon itu hanya abang-abange lambe, ireng-irenge alis (basa-basi, wacana red.). Pada awal Mas Mendikbud merilis pernyataannya saat sambutan Hari Guru 2019, saya sudah memposting suara warning, jangan #dipaksakan untuk seluruh Indonesia secara serentak saat ini juga. Mengapa…???

Ada dua hal yang membuat saya teringat saat saya masih belum di-PHK untuk menjawab pertanyaan di atas.

“Untuk dapat melaksanakan K13 diperlukan prasyarat-prasyarat baik alat dan media belajar, serta kesiapan guru mengubah pola berpikirnya dari pendekatan behavioristik ke pendekatan kognitivitik”

Pertama, pemberlakuan Kurikulum 13 (K13). Saat awal diterapkan di tahun 2013-2014 hanya sekolah yang terakreditasi A dan sekolah-sekolah eks RSBI yang diharuskan menerapkan. Hal ini karena untuk dapat melaksanakan K13 diperlukan prasyarat-prasyarat baik alat dan media belajar, serta kesiapan guru mengubah pola berpikirnya dari pendekatan behavioristik ke pendekatan kognitivitik. Eh, tiba-tiba menjelang tahun ajaran baru 2014-2015, karena Bapak Menteri akan lengser ada instruksi bahwa semua sekolah harus melaksanakan K13.

“K13 menjadi kurtilas atau kurikulum tidak jelas. Jadilah semua perangkat pembelajaran sudah berwajah K13 tapi belum berjiwa K13.”

Bayangkan betapa gedandapannya (gelagapan red.) sekolah-sekolah yang biasa-biasa saja, apalagi sekolah yang termasuk lagard dan late majority. Namun karena instruksi harus dilaksanakan, jadilah kucing-kucing diraupi, tunggak-tunggak diudengi (dipaksakan seadanya red.), sehingga K13 menjadi kurtilas atau kurikulum tidak jelas. Jadilah semua perangkat pembelajaran sudah berwajah K13 tapi belum berjiwa K13.

“Pelatihan guru yang dilaksanakan secara massal dan instant tidak ada dampak hasilnya pada proses pembelajaran. Saya ingin meneliti sebab-sebabnya”

Kedua, berbasis penelitian saya. Bank Dunia merilis hasil penelitiannya di tahun 2013 bahwa pelatihan guru yang dilaksanakan secara massal dan instan tidak ada dampak hasilnya pada proses pembelajaran. Saya ingin meneliti sebab-sebabnya.

Tahun 2015, saya melakukan penelitian dengan metode analisis CIPP (Daniel Stuffleabem, dkk 1967), Dengan analisis CIPP (Context, Input, Process and Product) saya berharap dapat menelanjangi faktor-faktor penyebab secara sistemik dan holistik.

Dari sisi konteks, saya gali lingkungan sekolah tempat guru bekerja, lingkungan keluarga si guru, interaksi lingkungan sekolah dan keluarga siswa. Dari sisi input, saya gali motivasi guru untuk menerapkan pembelajaran inovatif dan kemampuan kompetensi guru. Dari sisi instrumental input, saya kaji semua peraturan yang berkaitan dengan kinerja guru, kurikulum yang diterapkan serta adanya SOP pembelajaran yang berlaku di sekolah. Konteks pembinaan dan pendampingan pasca pelatihan juga merupakan fokus kajian saya.

Dari sisi proses saya gali proses pembelajaran yang dilakukan guru yang bersangkutan, proses pemberian reward dan untuk memacu kinerja guru dan suasana kebatinan sekolah itu di kesehariannya. Dari sisi produk, saya gali hasil capaian guru dan siswa yang diampunya.

Guru yang dijadikan sampel ada 2 kelompok yang ada di sekolah sampel, kelompok pertama adalah guru-guru yang telah bersertifikat, artinya telah mengikuti proses sertifikasi baik melalui diklat PLPG maupun berkas bukti fisik kinerjanya dan kelompok sampel kedua guru-guru yang belum memperoleh giliran untuk mengikuti proses sertifikasi. Sekolah yang dijadikan sampel meliputi sekolah di kota, pinggiran dan pedesaan.

“Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam proses dan hasil pembelajaran antara guru yang bersertifikat dan tidak bersertifikat dan itu terjadi baik di sekolah perkotaan, pinggiran maupun pedesaan.”

Hasilnya….??? Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam proses dan hasil pembelajaran antara guru yang bersertifikat dan tidak bersertifikat dan itu terjadi baik di sekolah perkotaan, pinggiran maupun pedesaan. Ternyata penelitian bank dunia yang mempertanyakan keefektivan pelaksanaan diklat yang dibiayai bank dunia tersebut benar-benar benar di lapangan.

Mengapa kok seperti itu…???

Dari konteks lembaga kerja, ternyata secara instrumental maupun suasana kebatinannya tidak mendukung guru untuk menerapkan hasil pelatihannya. Tidak ada penghargaan pada guru baik materi maupun psikis bagi guru yang menerapkannya, bahkan ada kesan guru yang telalu bersemangat memperoleh kesan negatif dari koleganya di sekolah tempatnya bekerja.

Dari segi konteks hubungan dengan wali murid juga tidak ada dukungan pada guru untuk menerapkan pembelajaran inovatif hasil pelatihannya. Orangtua menyerahkan sepenuhnya pembelajaran anaknya pada sekolah dan hanya memperhatikan nilai belajar anaknya bukan proses pembelajarannya.

“Guru merasa tidak mampu mengubah budaya organisasi di tempatnya bekerja karena semua merasa nyaman.”

Dari guru, tidak menerapkan hasil pelatihan karena mereka merasa berada di zona aman dan nyaman bila tidak menerapkan. Kalau menerapkan mereka malah merasa berada di zona tidak nyaman, karena dilirik dan dinilai negatif oleh koleganya di sekolah, guru merasa tidak mampu mengubah budaya organisasi di tempatnya bekerja karena semua merasa nyaman. Kalau menerapkan terpaksa harus ribet menyiapkan media, alat peraga, skenario pembelajaran dan assesmen hasil belajar siswa yang semua itu harus dibiayai sendiri.

Sebagian kecil guru menerapkan hasil pelatihan, namun tidak konsisten dan dalam waktu yang lama, karena merasa tidak mendapat dukungan serta melihat teman-teman lain yang tisak menerapkan pembelajaran hasil pelatihan tidak mendapat sanksi atau teguran.

Dari segi penguatan penerapan hasil pelatihan guru-guru merasa tidak mendapat dukungan. Penguatan secara struktural arahnya hanya dari atas ke bawah. Kalau menemui kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran kepada jajaran struktural seperti kepala sekolah, pengawas dan KKG mereka malah sering disalahkan atau tidak ada diskusi setara untuk mengatasi masalah yang dihadapi guru.

“Sesuai dengan judul tulisan ini, saya berpendapat bahwa sebagian besar guru-guru belum siap menerapkannya”

Masih banyak hasil penelitian saya yang akan saya ungkapkan kemudian. Namun sesuai dengan judul tulisan ini, saya berpendapat bahwa sebagian besar guru-guru belum siap menerapkannya.

Pertama, tentang makna belajar merdeka itu dari wawancara selintas dengan sahabat-sahabat guru, ada yang memandang belajar merdeka itu, guru merdeka hanya membuat RPP satu lembar dan tidak mengerjakan perangkat pembelajaran lain serta dimerdekakan dari pekerjaan administrasi.

Hanya sedikit sahabat guru yang menyatakan belajar merdeka adalah merdekanya si siswa dan merdekanya siswa dan guru untuk membangun pembelajaran yang real life dan efektif serta menyenangkan semua pihak. Kalau berbicara menyenangkan orientasinya menyenangkan gurunya bukan siswanya.

“Perlu diadakan rewards dan ajang guru-guru kreatif yang memerdekakan murid dalam suatu ajang yang nonstruktural dan berjenjang. Beri kesempatan semua guru dan lembaga pendidikan yang inovatif untuk berbagi praktek terbaik (best practice)nya tanpa harus dibatasi jumlahnya setiap satuan wilayah”

Kedua, perlu diadakan rewards dan ajang guru-guru kreatif yang memerdekakan murid dalam suatu ajang yang nonstruktural dan berjenjang. Beri kesempatan semua guru dan lembaga pendidikan yang inovatif untuk berbagi praktek terbaik (best practice)nya tanpa harus dibatasi jumlahnya setiap satuan wilayah. Langkah-langkah menemujejaki guru-guru kreatif dari bawah yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga mitra seperti komunitas Inovasi Pendidikan Indonesia, suatu lembaga nonprofit kerjasama dengan pemerintah Australia dengan Bapak Prof. Fasli Jalal sebagai senior advisornya perlu ditirujejaki.

Demikian pula ada lembaga mitra komunitas pendidik dalam komunitas Ojo Leren Dadi Wong Apik yang dipelopori oleh Nafik Naff dari the Naff school. Gus Lukman Hakim dari Sekolah Dolan, Gus Mohammad Mahpur dari Kampus Desa, bunda Bekti Prastyani dan Yanti Kerlip dari SRA, bunda Astatik Bestari dari PKBM Bestari Jombang, bunda Siti Nur Imamah dengan Sekolah Rakyatnya, bunda Mia Enggal Permata dengan Sanggar Belajar BBM serta Sekolah Garasi dengan Sekolah Kehidupannya yang saya bina dan banyak lagi komunitas bisa digunakan sebagai partmer untuk membuka wawasan dan pendamping tentang Belajar Merdeka.

“Beri peluang untuk menerapkan dan beri ajang serta jalin bina jejaring dengan lembaga mitra untuk menyiapkan guru siap memberi kemerdekaan siswanya untuk belajar”

Ketiga, jangan Belajar Merdeka ini dipaksakan secara serentak harus berlaku. Beri peluang untuk menerapkan dan beri ajang serta jalin bina jejaring dengan lembaga mitra untuk menyiapkan guru siap memberi kemerdekaan siswanya untuk belajar. Tidak perlu kegiatan pelatihan secara terstruktur, sistemik dan masif sehingga hanya menguntungkan proyektor-proyektor pendidikan saja.

Turen, 11 Februari 20220