Menghabiskan Jatah Gagal, Sanggupkah?

0
48
Paling kanan: Azis Tatapangarsa

Ada orang yang sekali mencoba mimpi suksesnya, langsung tok cer. Sukses seketika seseorang memulai menapaki mimpinya. Namun, ada juga orang yang mencoba berkali-kali belum juga segera menggenggam kesuksesan. Kegagalan bisa dipercayai, atau juga tidak perlu dipercayai. Anggap saja segala usaha kita adalah liku-liku jalan yang kadang kita memang hanya bisa menginginkan kesuksesan, tetapi jodoh sukses bukan sebagaimana yang kita inginkan. Justru kita mendapatkan hal lain di luar keinginan kita. Sepertinya bukan kita gagal atas impian kita, tetapi kemungkinan kita itu salah memilih impian sehingga ketika kita mengambil proses yang berbeda, maka kita justru mendapatkan sesuatu yang tidak kita impikan tetapi hasilnya bisa lebih baik dari yang kita impikan. Apa kita mengatakan, kegagalan sebuah sukses tertunda, atau kita masih buta keinginan yang positif bagi kita?

Kampusdesaa.or.id–Ada pepatah yang mengatakan bahwa; “kegagalan adalah sukses yang tertunda.” Saya meyakini dengan pepatah tersebut, karena telah membuktikan sendiri kebenaran pepatah tersebut dalam berbagai peristiwa kehidupan yang saya alami dan saya juga yakin pepatah tersebut juga ada benarnya bagi para sahabat pembaca tulisan saya ini.

Coba kita ingat flahsback pada masa lalu kita, tentang kisah cinta kita misalnya. Sebelum akhirnya berhasil menemukan jodoh kita sekarang ini, yang hidup bersama kita saat ini dan insyaallah menjadi jodoh dunia akhirat kita, biasanya sebelumnya didahului dengan beberapa kisah percintaan yang gagal. Saya pribadi sebelum menikah dengan istri saya (berhasil menikah/ menemukan jodoh), pernah sekitar tujuh kali menjalin cinta dengan wanita yang pada akhirnya putus alias tidak berjodoh.

Orang yang jatah kegagalannya nol, adalah orang yang sekali mencoba langsung berhasil. Orang yang jatah kegagalannya sedikit, adalah orang yang membutuhkan sedikit waktu untuk mencoba, hingga pada akhirnya berhasil. Sedangkan orang yang jatah kegagalannya banyak, adalah orang yang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk berhasil menggapai impiannya.

Ada banyak kegagalan-kegagalan lain yang mungkin pernah kita alami sebelum pada akhirnya kita berhasil. Misalnya dalam hal menemukan pekerjaan tetap, memiliki rumah, pendidikan, prestasi, rezeki, mimpi, keinginan, harapan, cinta dan lain sebagainya. Karena sesungguhnya setiap orang memiliki jatah kegagalan masing-masing, ada yang jatah kegagalannya nol, sedikit dan banyak. Orang yang jatah kegagalannya nol, adalah orang yang sekali mencoba langsung berhasil. Orang yang jatah kegagalannya sedikit, adalah orang yang membutuhkan sedikit waktu untuk mencoba, hingga pada akhirnya berhasil. Sedangkan orang yang jatah kegagalannya banyak, adalah orang yang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk berhasil menggapai impiannya.

Membutuhkan kesabaran, daya tahan dan keyakinan yang kuat dalam upaya menghabiskan jatah kegagalan yang mesti kita ‘habiskan’ sebelum pada akhirnya kegagalan itu habis dan kita pun berhasil menggapai harapan yang kita inginkan. Jikalau kita tidak sabar, malas dan tidak percaya bahwa suatu ketika kita akan berhasil ketika menghadapi kegagalan, bisa dipastikan kita akan selamanya gagal.

Perlu usaha terus menerus tentu juga dengan disertai doa, pasti suatu ketika keberhasilan itu akan tiba. Ada beberapa kisah dalam hidup saya, yang hampir rasanya tidak mungkin bisa berhasil namun pada akhirnya berhasil. Satu cerita diantaranya adalah ketika saya ditugaskan oleh Pimpinan di tempat yang sangat jauh dari domisili rumah saya, hampir 11 tahun saya berada di sana. Namun berkat usaha dan doa yang tak pernah lelah, akhirnya keajaiban datang, saya pun dimutasi di tempat yang dekat dengan domisili saya. Bagi saya hal itu merupakan keberhasilan yang membahagiakan.

Pernah juga dulu ketika tahun 2015 saya gagal mewakili Provinsi Jawa Timur untuk mengikuti lomba guru berprestasi tingkat nasional karena sesuatu hal, padahal saya adalah juara 1 guru berprestasi tingkat Jawa Timur, yang mestinya berhak untuk itu. Sempat waktu itu saya putus asa, emosi dan kecewa berat. Untung saja waktu itu saya ditelpon dan ditenangkan oleh sahabat saya yang merupakan panitia lomba dari Jakarta. Akhirnya saya pun positive thingking, insyaallah ada hal lain yang lebih baik yang akan saya terima kelak di kemudian hari.

Subhanallah benar saja dua tahun kemudian, di tahun 2017 saya berkesempatan ditugaskan oleh Kementerian Agama RI dalam kapasitas sebagai guru berprestasi Propinsi Jawa Timur, untuk mengikuti Diklat di Puncak Bogor (jadi tahu suasana puncak) dan beberapa waktu kemudian diundang ke Jakarta untuk bertemu Menteri Agama RI dan setelahnya saya mendapatkan amanat untuk berbagi pengalaman pada guru di daerah pedalaman, tepatnya di Tarakan Kalimantan Utara. Kesemuanya itu gratis, naik pesawat gratis, tinggal di hotel mewah gratis, antar jemput mobil ke bandara gratis dan justru mendapatkan uang honorarium yang lumayan. Bagi saya hal tersebut pantas disyukuri, karena tidak semua orang berkesempatan untuk itu.

Pada tahun ini pun, kembali saya dipercaya Pimpinan untuk mengikuti seleksi Anugerah Konstitusi 2018 yang diselenggarakan atas kerjasama Mahkamah Konstitusi, Kementerian Agama RI dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Alhamdulillah, di tingkat Kabupaten, Provinsi dan Kementerian saya lolos. Berikutnya insyaallah pada tanggal 5 s/d 10 November 2018, saya ditugaskan Kementerian Agaama RI untuk bertanding di grand final di Pusdiklat MK di Puncak Cisarua Bogor. Mohon doanya sahabat, agar saya bisa memberikan yang terbaik untuk Kementerian Agama dan bisa bermanfaat bagi orang lain.

Intinya adalah kegagalan-kegagalan yang kita alami apapun itu, sesuai dengan konteks kehidupan kita masing-masing, sejatinya adalah keberhasilan yang tertunda saja. Yakinlah akan ada sesuatu yang lebih baik dan indah suatu ketika yang akan kita dapatkan, asalkan kita tetap sabar dan semangat dalam menjemput keberhasilan kita. Aamiin..

SHARE
Previous articleConfession dan Apology, Sudahkah Seorang Guru Menguasai Keduanya?
Next articleAgama dan Keadaban Hidup Bersama
Abd Azis Tata Pangarsa. Lahir di Malang, 28 Januari 1984. Dosen STAIMA Al Hikam Malang, Guru MI Miftahul Abror Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Program Pascarjana S-3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Sekretaris PCNU LP Ma’arif Kab. Malang. Penulis buku; Guru Juga Manusia: Catatan Harian Seorang Pendidik dan Penyunting buku: Merawat Nusantara, Menumbuhkan Kembali Spirit Persatuan dalam Kebhinekaan. Kontributor artikel di beberapa buku. Menjuarai berbagai even lomba guru berprestasi tingkat Provinsi dan Nasional. Dapat dihubungi di Jl. Joyo Raharjo I/ 235 K Merjosari Kota Malang. HP dan WA: 082331783484. Facebook:Azis Tatapangarsa, IG:Azis Tatapangarsa, Email:tatapangarsa@yahoo.co.id.