Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 25

Stereotip Salah Kaprah terhadap Orang Tua ABK

1

Walaupun zaman sudah modern, nyatanya masih banyak  anggapan dan mitos salah kaprah terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan orangtuanya. Banyak masyarakat beranggapan bahwa memiliki ABK merupakan bentuk karma dan korban untuk pesugihan. Stereotip dan mitos keliru tersebut tentu makin membebani psikologis para orang tua anak spesial tersebut yang sebenarnya sudah berat.

Kampusdesa.or.id–Pada dasarnya setiap anak memiliki kekhususan, karena setiap individu mempunyai bakat dan minat yang berbeda. Namun, anak berkebutuhan khusus yang dimaksud di sini adalah anak dengan kendala tertentu yang menyebabkannya memiliki kebutuhan spesial. Tidak heran bila banyak yang menyebut anak berkebutuhan khusus dengan sebutan anak spesial. Misalnya anak tuna daksa tentu mempunyai kebutuhan yang berbeda dengan anak pada umumnya, demikian juga dengan anak tuna netra, anak tuna rungu, anak autis, down syndrom dan lain sebagainya.

Sayangnya, dalam kehidupan nyata masih ada berbagai pandangan tertentu berkaitan dengan anak kebutuhan khusus. Bagi masyarakat modern, dimana teknologi sudah begitu mudah diakses untuk mendapatkan informasi atas berbagai hal, pemikiran terhadap adanya ABK ini merupakan hal yang sudah tidak aneh lagi. Mereka lebih terbuka dalam menerima keberadaan mereka sehingga anak-anak berkebutuhan khusus bisa mendapatkan pendidikan yang layak sesuai kebutuhannya. Bahkan gedung-gedung, baik sekolah/kampus maupun kantor-kantor dan tempat umum mulai didesain sedemikian rupa demi kemudahan para orang berkebutuhan khusus atau kaum difabel untuk melakukan mobilitas.

Ternyata, banyak pandangan miring terhadap anak berkebutuhan khusus. Ada berbagai stereotip keliru yang membuat ABK dan orang tua merasa tidak nyaman.

Bagaimana dengan masyarakat yang masih awam? Nah, di sini masalahnya. Ternyata, banyak pandangan miring terhadap anak berkebutuhan khusus. Ada berbagai stereotip keliru yang membuat ABK dan orang tuanya merasa tidak nyaman. Masih banyak orang yang beranggapan bahwa keberadaan ABK ini merupakan manifestasi dari karma. Keberadaannya dinilai sebagai akibat dari perbuatan dosa yang pernah dilakukan orang tuanya hingga lahirlah anak yang berkekurangan dari segi tertentu. Bisa dibayangkan beban mental orang tuanya, kan?

Baca Juga:

  • Ini Lima Sikap Orangtua yang Menentukan Tumbuhkembang Anak Autisnya
  • Ragam Reaksi Orang Tua terhadap Indikasi Gangguan Tumbuhkembang Anak

Ada juga yang beranggapan bahwa anak berkebutuhan khusus sebagai penyakit turunan. Mereka beranggapan bahwa orang yang di keluarganya terdapat ABK akan mempunyai turunan ABK pula. Mungkin gen memang turut  mempengaruhi, tapi kebanyakan ABK terjadi karena banyak faktor, kesehatan ibu selama kehamilan, proses persalinan yang bermasalah, maupun faktor kecelakaan. Sebagai contoh ibu yang mengalami malnutrisi selama kehamilan akan rentan melahirkan bayi dengan berbagai gangguan akibat kekurangan gizi tersebut. Proses kelahiran yang mengalami berbagai hambatan semisal lahir sebelum waktunya juga dapat menyebabkan gangguan pada anak seperti low vision, gangguan pada indra pendengaran, akibat belum matang saat dilahirkan, dan lain-lain.

Selain itu, ada juga yang beranggapan anak berkebutuhan khusus terjadi karena faktor kurangnya perhatian dari orang tua, terutama ibu. Anggapan ini biasanya terjadi pada anak autis, ADHD, dan gangguan pemusatan perhatian (PDD). Maka jangan heran bila ada anak yang hiperaktif mendapat sebutan anak nakal atau anak kurang ajar. Anak autis yang lambat bicara sering dikira akibat kecuekan sang ibu yang tidak mengajak anaknya berkomunikasi. Ibu yang mestinya didukung malah disalahkan.

Ada ABK yang dianggap sebagai lebon pesugihan. Anak dikira menjadi cacat karena digunakan sebagai persembahan kepada danyang tertentu untuk memperoleh  kekayaan.

Stereotip terakhir memang lucu dan tidak rasional. Ada ABK yang dianggap sebagai lebon pesugihan. Anak dikira menjadi cacat karena digunakan sebagai persembahan kepada danyang tertentu untuk memperoleh  kekayaan. Masyarakat pedesaan ternyata masih banyak yang percaya dengan mitos bahwa orang yang mencari pesugihan model tertentu menjadikan anak tidak normal. Anggapan ini tidak hanya membebani psikologis orang tua ABK tapi juga membuat orang tua si anak dijauhi oleh masyarakat yang masih mempercayai mitos seperti itu. Itulah mengapa ada orang tua yang menyembunyikan anak berkebutuhan khususnya.

Baca Juga:

  • Lorong Gelap Itu Bernama Autis (Bagian 1)
  • Lorong Gelap Itu Bernama Autis (Bagian 2)
  • Lorong Gelap Itu Bernama Autis (Bagian 3)

Melihat besarnya dampak adanya berbagai anggapan yang menyudutkan orang tua ABK, hendaknya membuat kita lebih berempati pada mereka, yaitu para ABK dan orang tuanya. Sosialisasi pada masyarakat sangat penting, terutama masyarakat desa melalui kegiatan kemasyarakatan seperti PKK dan Posyandu. Tujuannya, agar masyarakat dapat menerima keberadaan ABK sebagai sebuah keniscayaan. Dengan sosialisasi ini diharapkan para ABK dan orang tuanya bisa hidup nyaman dan harmonis sehingga hak-hak mereka sebagai anggota masyarakat tidak terzalimi.

Meneladani Skill Belajar Imam Salaf, Nasehat Pendidikan Di Masa Pandemi Covid-19

0

Demotivasi di tengah pandemi Covid-19 mengempiskan niat belajar siswa, padahal pepatah mengingatkan “Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan“. Kesadaran minat belajar siswa perlu dirawat serta ditumbuhkan, jalan pintasnya dengan berbagi kisah meneladani skill belajar para Imam Salaf

Kampusdesa.or.id-Kondisi pendidikan Indonesia di tengah pandemi Covid-19 belum menemukan titik temu. Meski demikian tahun ajaran baru peserta didik dan mahasiswa tetap dibuka pada pertengahan tahun 2020 ini dengan metode daring. Realita baru ini bukanlah hal yang mengancam jika sedari awal pelajar Indonesia memiliki kesadaran kenapa mereka harus belajar dan bagaimana cara belajar yang menyenangkan, dalam konsep psikologi hal itu disebut Self Regulated Learning.

Jauh sebelum Konstruk SRL ditemukan oleh Zimmerman tahun 1989, para ulama salaf sudah bisa mengatur regulasi belajarnya sendiri. Selain itu, secanggih canggih nya teknologi abad 21 proses belajar tetap saja memerlukan waktu yang tidak instan bahkan bertahun tahun. Regulasi belajar harus didukung oleh ketahanan indvidu dalam belajar, ketahanan ketika gagal memahami retorika berfikir, kekuatan untuk bangkit membuka kembali buku pelajaran, dan teguh menghadapi kritikan. Potensi kekuatan itu disebut academic buoyancy dan dalam sudut pandang lain juga disebut grit (Perseverance & Consistency).

Regulasi belajar harus didukung oleh ketahanan indvidu dalam belajar, ketahanan ketika gagal memahami retorika berfikir, kekuatan untuk bangkit membuka kembali buku pelajaran, dan teguh menghadapi kritikan.

Telah lama sebelum konsep Academic Buoyancy dikemukakan oleh Martin tahun 2008 dan Grit diseminarkan oleh Angella Duckworth tahun 2002, para ulama salaf sudah menguasai skill itu semua, sederet kemampuan untuk teguh nan gigih menekuni bidang yang dipelajari. Bukti kehebatan belajar para imam salaf dapat dilihat dari karyanya yang tak lekang oleh zaman, lantas siapa sajakah Imam Salaf itu?

Ada begitu banyak para salafus shalih yang memiliki karya fenomenal dan berdedikasi tinggi dalam pengembangan ilmu, diantaranya adalah Ibnu Hajar al Asqalani, beliau telah menulis 282 Kitab di bidang Hadist. Ibnu Hajar bukan manusia jenius, ketekunan lah yang membuatnya berhasil. Negeri negeri muslim banyak yang telah ia singgahi untuk menyisir ilmu ilmu hadist.

Kitab sejarah para Nabi dan Raja Tarikh ar Rasul wal Muluk kemudian Tafsir Al Quran At Thabari merupakan karya dari Ibnu Jarir At Thabari. Semenjak baligh hingga wafat beliau sibuk menulis, dalam sehari kurang lebih At Thabari menulis 14 lembar dan ketika diakumulasikan pada akhir hayatnya beliau telah menulis sebanyak 300.058 lembar.

Siapa yang tidak kenal Tafsir Jalalain, sebuah karya klasik yang menjadi rujukan sebagian besar kalangan ahli ilmu. Tafsir Jalalain disusun oleh dua ulama besar yaitu Jamaludin al Mahalli dan Jalaluddin as Syuyuti. Setelah Imam Mahalli wafat, penulisan kitab dilanjutkan oleh Imam as Syuyuti. Menakjubkan! meski ditulis oleh dua orang yang berbeda namun gaya bahasa dan kepenulisan sangat mirip seakan akan ditulis oleh satu orang saja, selain itu Tafsir Jalalain berhasil dirampungkan oleh Imam as Syuyuti hanya dalam waktu 40 hari saja pada bulan Ramadhan, bahkan usia beliau ketika itu masih berumur 22 tahun!

Kitab dasar utama Fiqh yaitu al Muwaththa’ merupakan karangan Imam Malik bin Anas. Beliau adalah salah satu dari empat Imam Madzab. Dalam suatu sumber diceritakan bahwa Imam Malik istiqomah melakukan ibadah puasa Daud yaitu puasa sehari dan tidak berpuasa sehari selama 60 tahun. “ Dalam istiqomah terdapat karomah “ puasa sunnah dan kegigihan belajar membuat Imam Malik menjadi ulama panutan umat.

Ditengah pandemi Covid-19 yang men demotivasi diri, inilah waktu yang tepat bagi kita meneladani semangat belajar para Imam salaf sebagai api motivasi pemuda Indonesia supaya terus belajar baik di rumah maupun di kelas online.

Hemat kata, jalan pintas untuk tahu bagaimana cara belajar yang tepat adalah dengan meniru kebiasaan para imam salaf. Ilmuwan psikologi Albert Bandura dari kalangan Behavioristik menyebutnya dengan proses modeling, sebuah perilaku meniru dengan cara mengamati perilaku sebagai tindakan belajar. Ditengah pandemi Covid-19 yang men demotivasi diri, inilah waktu yang tepat bagi kita meneladani semangat belajar para Imam salaf sebagai api motivasi pemuda Indonesia supaya terus belajar baik di rumah maupun di ruang online. Zainul Achyar dalam bukunya “ Kebiasan Kebiasaan dan Karakter Karakter Hebat Para Imam Salaf “ menjelaskan terdapat banyak skill belajar yang bisa diteladani dari para salafus shalih, secara singkat rahasia kesuksesan mereka diantaranya sebagai berikut:

  1. Rajin Membaca dan Menulis.

Tentu kedua hal tersebut adalah hal yang telah mendengking lama di telinga kita, masalahnya apakah kita sudah melakukan itu? Menurut Quraisy Syihab membaca merupakan syarat utama bagi pemuda untuk membangun peradaban. Semakin berlimpah apa yang dibaca maka semakin berkualitas pula peradaban yang bisa dibangun.

Otak manusia ibarat pedang, semakin diasah akan semakin tajam, jika tidak maka kecerdasan manusia akan tumpul. Membaca merupakan salah satu metode untuk mengasah otak, menambah kosa kata serta koleksi pengetahuan.

Menulis merupakan kebiasaan populer para imam salaf. Dengan menulis otomatis kita akan membaca, keberhasilan seseorang dalam menulis ditentukan oleh seberapa besar daya serap individu dalam membaca, karena di dalam otaknya sudah terinstall perpustakaan pengetahuan hasil dari membaca. Sekedar anda tahu, Imam Ibnul Jauzi telah membaca katalog kitab Abu Hanifah, al Humaidi, Abdul wahab bin Nashir dan Abu Muhammad bin Khasysyab dan kitab lainnya dengan total 20.000 Jilid hingga akhir hayatnya, luar biasa!

  1. Bertahan dari Kebosanan

Mencintai “ kebosanan “ merupakan kiat sukses imam salaf. Aktivitas belajar, menulis, dan membaca yang dilakukan berjam jam bahkan berhari hari akan melahirkan kejenuhan. Inilah tantangan seorang pelajar. Rasa bosan akan membuat performa menurun, minat belajar menjadi kempis, fokus menjadi kacau dan pada akhirnya timbulah rasa tidak sabar dan perasaan putus asa.

Maka hal yang harus dilakukan adalah mencintai seluruh aktivitas belajar, cari alasan menarik kenapa kita harus belajar dan apa untungnya saat kita belajar. Faktor eksternal yang harus dicari adalah teman yang memiliki visi yang sama, sehingga ketika kita merasa bosan, ada teman yang selalu menyemangati dan menstimulus betapa pentingnya aktivitas belajar itu. ” Sebaik baik teman adalah mereka yang selalu mengajakmu dalam hal kebaikan ” anonim.

  1. Tidak Hobi Rebahan

“ Tahanlah matahari agar tidak bergerak, baru aku akan bergabung duduk duduk dan berkelakar bersama kalian “ ucap Amir bin Abdul Qais. Para imam salaf sangat menghargai waktu dan haram menyia nyiakannya. Waktu adalah hal yang tidak bisa diulang, tidak bisa dibeli dengan uang, apalagi meminjam waktunya teman, maka seorang pelajar harus produktif dan efisien memanfaatkan waktu. Tinggalkan kegiatan kegiatan yang tiada berguna apalagi aktivitas yang berisi kesenangan belaka.

Kemajuan tenologi telah memudahkan aktivitas manusia dalam memnuhi kebutuhannya, namun manusia semakin hari semakin manja bahkan terlena dengan kemajuan peradaban. Rebahan adalah aktivitas populer mahasiswa dan kaum millenial. Waktu mereka terkuras habis berselancar dimedia online untuk berbagai kegiatan yang tidak jelas juntrungnya. Game dan paltfom online telah menyihir pemuda tak sehebat skill literacy Bung Karno atapun Bung karni sebagaimana dialektika berfikir di ILC.

  1. Bangun Pagi dan Berpuasa

Dua hal yang menjadi jadwal wajib bagi imam salaf, yaitu bangun pagi dan puasa sunnah. Ibnu Qoyim mengibaratkan waktu pagi adalah semangat di masa muda sedangkan sore hari adalah semangat di waktu tua. Pagi hari adalah waktu yang penuh ketenangan, udara bersih dan hawa yang menyegarkan, maka waktu ini sangat tepat untuk belajar atau kegiatan positif lainnya. Dengan bangun lebih awal dari biasanya, kita memiliki waktu lebih sehingga produktifitas bisa bertambah. Bangun pagi adalah kebiasan orang orang sukses, karena pemalas tidak akan mampu mengalahkan rasa ngantuknya dan akan bersembunyi di balik selimut.

Ibnu Qoyim mengibaratkan waktu pagi adalah semangat di masa muda sedangkan sore hari adalah semangat di masa tua.

Detoksifikasi adalah proses pengeluaran racun di dalam tubuh, itulah yang terjadi ketika sedang berpuasa. Tatkala tubuh menjadi sehat, sangat mudah bagi kita untuk fokus belajar. Puasa adalah proses menahan lapar, menahan hati untuk bermaksiat. Proses menahan adalah cara yang baik untuk melatih kecerdasan emosi, inilah pentingnya puasa karena 80% keberhasilan seseorang ditentukan oleh kecerdasan emosi (Emotional Quotient individu. Prof Teguh AS. Ranakusuma Sps (K) menerangkan bahwa ketika berpuasa tubuh kita akan memperbarui sistem organ termasuk sel otak dan sel pembuluh darah, dua organ inilah yang memiliki kecerdasan tinggi sehingga ketika berpuasa secara tidak langsung akan membantu meningkatkan kecerdasan individu.

Imam Syafi’i berpesan “ Jika anda menginginkan kesuksesan, maka ikutilah jalan kesuksesan itu, karena sesungguhnya perahu layar tidak akan bisa berlayar diatas pasir “. Jalan kesuksesan bertebar luas mengikuti potensi dan selera individu. Namun perlu diingat, ada lubang ditengah jalan, ada kerikil tajam merata dipinggir jalan, ada jalan yang menikung tajam, ada jalan yang terjal, ada jalan yang licin berlumpur dan sebagainya. Menjadi pelajar harus siap berperang, cobaan Covid-19 tak layak untuk dijadikan beban, karena manusia memiliki kemampuan survive paling tinggi diantara ciptaan tuhan. Kiat sukses imam salaf bukan sekedar cara, tetapi karakter yang harus ditiru oleh setiap muslim, karena mereka adalah ulama warasatul anbiya. Selamat Belajar!

Ketika Facebook di Ujung Tanduk

0

Sesungguhnya filter utama dari media sosial adalah dari pengguna itu sendiri. Di sini pentingnya edukasi terkait penggunaan media sosial baik oleh pihak media sosial facebook dan anak usahanya seperti instagram dan whatsapp maupun pendidik di sekolah serta orang tua di rumah.

Kampusdesa.or.id–Beberapa hari yang lalu saya mendengarkan video Podcast edisi #04 pak Dahlan Iskan bersama putranya sendiri, Azrul Ananda di channel DI’s Way. Salah satu topik yang diangkat adalah terkait isu Facebook tengah diboikot oleh banyak perusahaan. Saat dulu media konvensional musuhnya adalah media sosial, sekarang media sosial juga ada musuhnya.

Aksi boikot ini berupa tidak memasang iklan lagi di Facebook (FB). Isu ini terus bergulir dan beberapa perusahaan sepakat meninggalkan FB karena merasa media sosial itu gagal dalam upayanya mencegah penyebaran ujaran kebencian, rasisme, dan keamanan data.

Hal ini bermula dari koalisi hak asasi manusia, yang di dalamnya termasuk Anti-Defamation League (ADL) dan NAACP, meluncurkan kampanye #StopHateforProfit pekan lalu (29/6/2020). Kampanye itu mengajak perusahaan-perusahaan besar untuk berhenti beriklan di Facebook.

Nama-nama perusahaan yang sudah berhenti beriklan di FB di antaranya: Arc’teryx, Ben & Jerry’s, Beam Suntory, Coca-Cola, Dashlane, Eddie Bauer, Eileen Fisher, Hershey’s, Honda America, JanSport, Levi Strauss, Magnolia Pictures, Patagonia, The North Face, REI, Upwork, Unilever, Verizon, dan Starbucks.

Devie Rahmawati, dosen Vokasi Komunikasi Universitas Indonesia, mengatakan ujaran kebencian dan hoax di media sosial yang tak kunjung reda terjadi karena banyak sebab. Pertama, menurut Devie, karena minimnya program literasi media digital ke masyarakat. Devie menganggap penting literasi media digital untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang konten apa saja yang berpotensi melanggar hukum dan tidak.

Dalam penelitiannya yang berjudul “Media Sosial dan Demokrasi di Era Informasi pada tahun 2014 silam”, Devie mengatakan hampir seluruh aktor politik saling berebut pengaruh melalui penggunaan media sosial untuk kepentingan politik. Mereka berebut mempengaruhi masyarakat melalui saluran media sosial.

Baca Juga:

Damar Juniarto, Praktisi Demokrasi Digital dan Executive Director SAFEnet memiliki cara pandang berbeda dalam melihat kasus-kasus ujaran kebencian maupun hoax di media sosial yang ditangani aparat kepolisian. Kasus-kasus itu, menurutnya, menunjukkan betapa rentannya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronika (UU ITE) Nomor 19 tahun 2016 mengontrol hak berpendapat masyarakat.

Media sosial memang sangat bebas dan siapa saja bisa posting dan share apapun. Saat media konvensional ada editor yang bisa memfilter, media sosial sekarang dapat penalti oleh para pengguna yang mulai gerah. Sehingga wajar jika beberapa perusahan besar melakukan punishment. Meski pihak facebook mengklaim sudah melakukan seleksi terkait konten yang berbau sara, porno, dan ujaran kebencian.

Namun sesungguhnya filter utama dari media sosial adalah dari pengguna itu sendiri. Di sini pentingnya edukasi terkait penggunaan media sosial baik oleh pihak media sosial facebook dan anak usahanya seperti instagram dan whatsapp maupun pendidik di sekolah serta orang tua di rumah. []

Takut Mati Karena Berjabat Tangan

0

Kampusdesa.or.id-Di negara asalnya. Kabarnya pandemi sudah mereda. Walaupun trauma karena virus itu jelas masih tampak. Namun, di negara kita. Tampaknya korban yang terinfeksi terus meningkat. Bahkan, hari-hari ini angka infeksi di atas 1000 per hari. Mungkin karena penanganan yang kurang baik. Tidak seperti di negara asalnya.

Soal baik atau buruknya penanganan. Saya tidak ingin bicara lebih jauh lagi soal itu. Itu urusan orang-orang yang punya otoritas. Bukan urusan orang seperti saya ini. Lebih asik bicara soal sikap orang-orang tentang ini. Ada pelajaran yang bisa diambil.

Ya. Virus itu belum juga mereda. Bahkan, hingga di pelosok-pelosok desa. Virus itu semakin dikenal. Sebagai benda yang menakutkan. Sebagai benda yang paling mematikan. Yang bisa menyebabkan mereka mati dalam hitungan hari.

Kebanyakan, orang merasa mereka paling steril. Seakan dirinya tidak atau belum terinfeksi. Dan orang lain jelas terinfeksi. Sehingga mereka harus menghindari kontak fisik dengan cara apapun. Takut bukan kepayang. Seakan orang lain yang mendekat itu adalah virusnya. Atau paling tidak dia membawa virus. Sudah terinfeksi.

Apa lagi jika tau seseorang itu baru saja dari luar kota. Atau berasal dari daerah dengan tingkat infeksi tinggi. Mereka sangat menjaga jarak. Mereka menjaga kontak fisik walau sekedar berjabat tangan. Seakan orang tersebut sudah terinfeksi. Dan dia manusia paling steril di muka bumi.

Adapun jika terpaksa harus kontak fisik. Atau mungkin karena tidak sengaja bersentuhan. Mereka cepat-cepat membersihkan tangan mereka.  Padahal, belum pasti juga orang itu terinfeksi. Memang. Menjaga kontak fisik itu dianjurkan. Tapi ekspresi mereka itu yang tampak lucu. Betapa takut mereka dengan kematian.

Pada kondisi seperti itu, tampak sifat aslinya. Takut mati. Betapa mereka tidak bisa merelakan kehidupan dunia ini. Betapa mereka tidak bisa merelakan segala sesuatu yang mereka kumpulkan di dunia ini.

Saya mesti acungkan dua jempol untuk orang-orang yang sudah siap dengan kematian. Terbukti dengan sangat akurat. Betapa tebalnya iman mereka. Apa yang mereka katakan? “Saya tidak perlu pakai masker atau menjaga agar tidak berjabat tangan. Jika saya mati. Itu sudah takdir saya. Bukan karena virus. Atau karena berjabat tangan.”

Orang-orang seperti ini menawarkan diri ketika bertemu. Apakah yang mereka temui itu akan berjabat tangan dengannya atau tidak. Jika tidak. Tidak masalah. Jika iya. Mereka tidak keberatan untuk berjabat tangan. Tanpa harus menyinggung orang lain. Dengan berkata dalam hati, “Anda terinfeksi virus. Karena itu saya tidak mau berjabat tangan dengan Anda. Saya takut mati.” Betapa menyakitkan ucapan ini. Walau hanya diucapkan dalam hati.

Memang. Mereka ini sudah siap. Jika sewaktu-waktu mereka harus meninggalkan dunia yang menurut sebagian orang nyaman ini. Mereka sudah siap untuk berpisah dengan harta yang mereka miliki. Bukan pasrah. Tapi sikap kesatria. Berani mati jika takdir memanggil.

Orang-orang seperti ini memang orang-orang pilihan. Orang-orang yang tegas. Bersikukuh dengan iman mereka. Terbukti dalam kehidupan nyata. Bahkan, jika memang waktunya tiba, itu yang terbaik bagi mereka.

Jadi bagaimana? Berjabat tangan atau tidak? Atau cukup mengganti jabat tangan dengan gerakan-gerakan yang dicontohkan itu? Membungkuk sambil tersenyum, adu sikut, membungkuk, atau menempelkan kedua tangan di depan dada sambil tersenyum?  Atau gerakan-gerakan lain yang bisa menggantikan jabat tangan?

Alangkah baiknya di tengah pandemi ini, jika tetap menjaga jarak. Dan tidak bersentuhan dengan yang lain. Untuk kebaikan bersama. Untuk antisipasi. Meminimalisir penyebaran virus. Tanpa menyinggung perasaan orang lain. Tanpa menganggap dirinya manusia paling steril di planet ini. Dan orang lain paling terinfeksi.

Kreatif dan Kritis dalam Proses Menulis

1

Kebanyakan orang mulai merevisi tulisan saat mereka memperoleh satu ide bagus. Namun, menurut Peter, kita harus memulai revisi saat kita sudah memperoleh banyak ide bagus dari yang dapat kita gunakan. Hal itu tidak membutuhkan waktu lama jika kita memulai proses menulis dengan sesi brainstorming.

Kampusdesa.or.id-Menurut Peter Elbow dalam bukunya yang berjudul “Writing with Power”, proses menulis melibatkan dua keterampilan yang begitu berbeda dan tak jarang saling berkonflik satu sama lain. Dua keterampilan tersebut adalah creating dan criticizing.

Dua keterampilan ini harus digunakan dengan tepat. Bila tidak, akan menimbulkan kesulitan, hingga menyebabkan tulisan tidak kunjung selesai. Misalnya dengan menggunakan keduanya pada saat bersamaan.

Nah, tips menarik dari Peter Elbow adalah dua keterampilan ini kita gunakan secara terpisah yaitu dengan membagi proses menulis menjadi dua tahap.

Tahap pertama, kita maksimalkan keterampilan creating. Kita ungkapkan semua unek-unek, ide, gagasan, pemikiran, dan imajinasi ke dalam tulisan. Tak perlu takut salah ketik, tidak koheren, dan seterusnya. Tak perlu juga takut terlihat bodoh, tidak kompeten, amatiran, dan seterusnya. Intinya, di tahap pertama ini kita hanya menulis saja. Bahkan, menurut Peter, kita tak perlu terikat dengan aturan saat berada di tahap ini.

Tahap kedua, saatnya kita maksimalkan keterampilan criticizing. Gunakan kepakaan berbahasa, kaidah-kaidah kebahasaan, keseuaian isi, koherensi kalimat/paragraf dan seterusnya. Intinya, di tahap kedua ini kita melakukan perbaikan atau revisi sekritis mungkin.

Baca Juga:

Empat Pertanyaan Kunci Menulis Artikel Ilmiah
Menulis Layaknya Naik Sepeda
Menulis Saja Meskipun Tak Ada yang Baca

Kata Peter, “If you separate the writing process into two stages, you can exploit these opposing muscles one at a time: first be loose and accepting as you do fast early writing; then be critically toughminded as you revise what you have produced. What you’ll discover is that these two skills used alternately don’t undermine each other at all, they enhance each other” (hal: 9).

Untuk meningkatkan keterampilan creating tadi, menurut Peter, kita harus berpikir kritis. Lebih baik kita biarkan saja kata-kata dan berbagai ide keluar tanpa mengeceknya. Memang, tak bisa dipungkiri akan terkesan bodoh. Tapi, perlu disadari bahwa kita sedang berada di tahap pertama. Masih ada tahap kedua, yaitu tahap kritik atau revisi.

Lebih baik kita biarkan saja kata-kata dan berbagai ide keluar tanpa mengeceknya. Memang, tak bisa dipungkiri akan terkesan bodoh. Tapi, perlu disadari bahwa kita sedang berada di tahap pertama. Masih ada tahap kedua, yaitu tahap kritik atau revisi.

Kata Peter, “What prevents most people for being inventive and creative is fear for looking foolish.” So, jika kita bisa menyingkirkan ketakutan ini, kita akan bisa menulis secara kreatif.

Adapun untuk meningkatkan keterampilan criticizing, kita harus bekerja secara kreatif. Menurutnya, “for what prevents most people from being really critical of their own writing is the fear of having to throw away everything.”

Kebanyakan orang mulai merevisi tulisan saat mereka memperoleh satu ide bagus. Namun, menurut Peter, kita harus memulai revisi saat kita sudah memperoleh banyak ide bagus dari yang dapat kita gunakan. Hal itu tidak membutuhkan waktu lama jika kita memulai proses menulis dengan sesi brainstorming.

Adu Kuat Bisnis Gaib

0

Kampusdesa.or.id-Seorang teman pernah berkata bahwa bisnis gaib sedang jadi primadona jaman sekarang. Perihal bisnis gaib, coba ingat, apakah Anda pernah melihat seorang pengendara motor berhenti di depan sebuah rumah? Tak lama, terlihat ia menghampiri seseorang yang menenteng tas kresek berisi makanan. Setelah basa-basi sebentar, ia amati gawainya dengan mimik serius. Sejurus kemudian, pengendara motor tersebut menerima tas kresek lalu meluncur ke suatu tempat.

Adegan di atas pasti sering Anda temui, apalagi saat pandemi saat ini. Sambil bergurau, orang-orang menyebutnya bisnis gaib. Apa maksud dari guyonan tersebut?

Model bisnis gaib di atas bukan bermaksud menjelaskan hal-hal mistis semata. Model bisnis ini disebut gaib karena tak jelas siapa yang pesan makanan atau barang, ujug-ujug ada orang yang mengambil lalu mengantar makanan tanpa disuruh, lalu ujug-ujug juga makanan tiba kepada orang yang mendaku diri sebagai pemesan.

Model bisnis gaib ini memang sedang moncer. Bisnis yang bisa berlangsung tanpa tatap muka antara pembeli dan penjual. Perdagangan elektronik (e-commerce), platform pesan antar, keduanya menjadi andalan untuk proses transaksi. Sambil rebahan tanpa takut kepanasan atau kehujanan, kita bisa miliki barang impian, nyaris sejengkal pun tak perlu keluar rumah .

Namun, bisnis gaib ini bukan berarti sepi dari genderang perang. Para pelaku bisnis gaib seakan punya hukum tak tertulis bahwa siapa yang kuat, ia yang menang. Ia yang kuat dalam jaringan bahan baku, produksi dan distribusi bisa tersenyum bahkan tertawa di akhir laga.

Genderang perang nampaknya sudah ditabuh. Kali ini suaranya terdengar dari negeri sebelah, India. Penabuh genderang itu berencana membuka 100 dapur. Rebel Food, begitu mereka menyebut dirinya.

Soal sejarah Rebel Food di India, Anda akan mudah mencarinya lewat dunia maya. Tapi yang jadi poin menarik adalah mereka memilih dapur, alih-alih restoran sebagai titik utama. Mengapa dapur yang notabene berskala kecil, dipilih sebagai perhatian utama dibanding restoran?

Justru dengan dapur, mereka ingin melakukan semacam pemberontakan. Dengan dapur, mereka ingin meruntuhkan status quo restoran yang menyedot banyak modal, ribet dalam pilihan lokasi, menguras banyak waktu untuk administrasi, pajak, hingga urusan tenaga kerja.

Restoran yang identik dengan area luas, lokasi strategis, ketersediaan bahan baku hingga tenaga kerja yang terampil. Hal itu membuat restoran lekat dengan embel-embel modal tinggi. Berbeda dengan dapur yang tak butuh area luas, tak perlu tempat strategis, asal terhubung dengan platform pesan antar untuk menghubungkan mitra pengantar dan penyedia bahan baku, urusan mereka sudah selesai.

Tak heran Gojek berani investasi jutaan dollar pada Rebel Food. Berbekal kompetensi jaringan dapur di atas, cukup rasanya mendompleng kemapanan restoran. Setelah OYO dari India selaku manajemen properti masuk ke Indonesia, kini giliran dapur dari India segera menyusul.

Saling Adu Kuat

Kita ingat para pedagang daring ramai berjualan lewat e-commerce. Ribuan hingga jutaan pedagang pemula mencari peruntungan lewat dunia maya. Para pedagang tersebut memajang barang dagangan mereka, membangun branding, tak ketinggalan membangun keramaian pasar dengan mengajak pembeli bertransaksi lewat e-commerce.

Perlahan fenomena di atas disusul oleh para pebisnis besar. Misal, awalnya pedagang pemula kulakan baju dari pabrik, lalu dijual lewat e-commerce. Tak mau ketinggalan dan berusaha menaikkan branding, pabrik baju itu ikut menjual barangnya lewat e-commerce serupa. Hasilnya, pedagang pemula mulai terpinggirkan. Mau tak mau mereka harus kalah dari segi harga atau stok barang. Kondisi menjadi berdarah-darah, kecuali pedagang pemula itu punya produk yang khas, atau hanya ia punya produk yang benar-benar berbeda dari pedagang lainnya.

Sepertinya sejarah terus berulang. Dulu pedagang kecil ramai mengajak pembeli untuk transaksi lewat platform pesan antar. Setelah platform punya pasar sendiri, ia akan bikin dapur sendiri lalu berjualan sendiri. Bisnis memang begitu. Ia yang pintar memanfaatkan peluang akan jemawa di akhir kompetisi.

Gelanggang pertarungan bisnis gaib sudah dibuka. Pemain yang kuat mencitra diri, pemain yang kuat pengelolaan biaya, pemain yang kuat pengelolaan pelanggan, ia akan bertahan dalam pertarungan ini.

Akhir kata, selamat bertarung.

Kelahiran Sekolah Rumah Sebelah

0

Imajinasi menjadi pilihan masa depan. Kelahiran Sekolah Rumah Sebelah merupakan masa depan pendidikan Indonesia yang tersandung PPDB zonasi. Keadilan akses pendidikan adalah pekerjaan rumah ketika zonasi dimaksudkan sebagai sekolah yang berkeadilan untuk semua tetapi selalu ada yang tidak terpikirkan, ternyata sekolah yang ada masih ditemukan ada di pusat keramaian yang belum menjangkau kelompok masyarakat terjauh dari sekolah.

Kampusdesa.or.id–Saya sendiri tidak menyangka, tiba-tiba dibuka pendaftaran sekolah dengan jarak yang cukup dekat dengan rumah. Anak-anak berangkatnya tidak perlu diantar. Pelataran sekolah pun longgar dan penuh dengan pepohonan nan rimbun. Tidak ada lalu lalang orang parkir. Tidak ada jubelan mobil mewah dan sepeda motor sport dan feminin yang berjubel antri masuk gerbang utama. Bahkan, saking sepinya, jalanan di depan sekolah itu dibuat bermain anak-anak yang sedang menunggu bel sekolah.

Kedatangan mereka penuh kegembiraan seolah-olah tidak ada pekerjaan rumah yang belum tuntas karena memang tidak ada PR. Tidak seperti biasanya. Anak-anak berebut segera masuk kelas, sembari menunggu bel masuk, mereka bergerombol di bangku kelas untuk mencari tahu jawaban PR yang tidak bisa dikerjakan. Bahkan PR anak yang lumayan kurang serius di kelas menjadi rebutan karena dia berhasil menyontek dengan cepat PR temannya yang terkenal sangat rajin di kelas. Di sekolah ini, tradisi tersebut nyaris tidak ditemui. Anak-anak datang langsung berlari menaruh tas dan berhamburan bermain hingga di jalanan depan sekolah. Riuh banget. Tetapi mereka sungguh amat ceria.

Tidak ada pemandangan berjabat tangan tanda akan masuk halaman sekolah setelah anak=anak turun dari mobil atau sepeda motor. Mereka memang tidak diantar dan jabat tangan dengan orang tua sudah selesai dilakukan sebelum mereka keluar dari halaman rumah. Mereka dilepas orang tuanya cukup dari pintu keluar rumah. Anak-anak berjalan, ada yang sedikit berlari, dan seketika itu langsung bertemu dengan teman-teman tetangganya untuk jalan bersama berangkat sekolah. Riang gembira betul mereka.

Sekolah ini memang muncul dari kesadaran gotong royong masyarakat. Ada seorang yang dermawan. Mereka ditinggali warisan rumah limas (rumah joglo ala adat Jawa) dengan luas hampir 1000m2 plus halamannya. Rumah itu mau dibongkar dan dijual kayunya, tetapi karena selalu tidak cocok dengan pembeli, akhirnya dibiarkan mangkrak tidak terurus dengan baik. Entah apa yang menjadikan pewaris rumah limas ini berbaik hati mau meminjamkan rumahnya sebagai sekolah yang menampung anak-anak di sekitar rumah. Konon, ada bocoran yang nyeletuk, si pemilik rumah itu gemes melihat berita dari mulut ke mulut jika anak-anak tidak lagi sekolah gara-gara ada zonasi yang diterapkan pemerintah.

Pewaris rumah limas tersebut sebenarnya seorang pendiam di kampungnya, tetapi dia orang yang peka terhadap masalah di sekitar. Dia juga sering cangkrukan dengan beberapa perangkat desa dan orang-orang keren yang ada di kampung itu. Al-kisah, sebut saja Pak De Shony. Belum lama ini, Pak De Shony bergiat menjadi Satgas Covid-19 di kampungnya. Di kampung ini nyaris mereka tidak ada berita terpapar Covid-19. Ya, mereka telah terbiasa hidup dengan siklus ekonomi pendek dan organisme kampungnya mampu meningkatkan perputaran ekosistem hidup ke dalam, tanpa banyak mengandalkan ekonomi eksternal jalur panjang. Dan herannya, mereka juga bisa hidup layak. Saat pandemi Covid-19, kampung ini tidak gaya-gayaan, “walah, covid-19 itu konspirasi.” Tidak. Mereka tetap waspada dan bergotong royong melakukan sosialisasi hidup sehat, bahkan buah, sayur, dan protein dari kebun dan produksi rumahan disebar merata ke warga. Satgas kampung ini lebih suka menyosialisasikan makanan sehat yang harus dikonsumsi agar wabah Covid-19 tidak mampir di kampungnya. Kesibukan satgas lebih ke arah sehat ketimbang sakit. Aneh memang, tetapi ya begitulah kampung Pak De Shony.

Sekolah rumah sebelah. Imajinasi sekolah yang digagas oleh Rukun Tetangga menjadi ruang potensial di saat pandemi. Kerja volunteerisme pertetanggaan menjadi modal sosial pengembangan layanan belajar ramah anak.

Pak De Shony, mendadak nyletuk, “sudahlah, kalau pandemi ini bisa diatasi dengan gotong royong, dan pemerintah itu senangnya bukan main melihat gotong royong berjalan di kampung-kampung, tidak perlu ribut mengenai zonasi. Barangkali pemerintah dananya masih fokus ke penanganan pandemi sehingga pembangunan sekolah belum sempat di tambah agar zonasi menjamin keadilan tidak saja bagi anak yang bertetangga dengan sekolah, tetapi anak yang bukan tetangga sekolah negeri juga bisa sekolah dengan murah. Mari kita gotong royong.”

Sebagian orang kaget. Mendadak cangkrukan di poskampling hening. Tertawa berhenti mendadak. Mereka saling pandang dan kedap-kedip mata mengisyaratkan gestur efek aha dan saling sapa tapi dalam hati. Seperti biasa, Pak De Shony memang pendiam, tetapi kalau pas cangkrukan, kadang kata-katanya penuh gairah.

Baca juga:

Tanpa The New Normally Lifestyle In Learning, Sekolah Akan Menjadi Killing Field Anak-Anak Kita
Merumahkan Sekolah atau Sekolah Telah Mati
Membangun Solidaritas Sosial di Tengah Situasi Pandemi COVID-19

“Begini lo, mosok kamu tidak melihat update status facebook tempo hari dan melahirkan komentar yang cerdas. Beberapa orang di sini kan juga ikut berdiskusi di komentar itu, pungkas Pak De Shony.

Di status facebook itu seperti nada eufimis (bahasa singgungan). Pak Moh itu bilang, “zonasi sekolah cuma menampung anak yang tinggal di radius maksimal 1,8 km. Padahal sudah dijatah sekolah itu 90% yang diperkirakan menampung sampai dengan radius anak yang tinggal 5 km. Nah, kebetulan sekolah ada di tengah kota, sementara hunian yang padat di sekitar sekolah tak lagi diminati dan orang-orang kurang mampu cenderung tinggal menjauhi kota. Dia tawarkan solusi ketjeh. Pindah KK saja dekat sekolah, atau para pengembang buat lelang rumah dekat sekolah. Tukar guling penataan lokasi sekolah yang netangga dengan masyarakat terjauh, tertinggal, terpinggir, dan ter-ter lainnya. Pemilu saja TPS-nya merata, masak kalau pendidikan itu adalah hak setiap warga tidak diupayakan demikian.” Lagi-lagi, orang yang nyangkruk itu dehem-dehem, sembari ada yang menambah gestur seolah mengatakan, “lihat tuh, Pak De Shony sudah berceramah.”

Pak De Shony seolah tidak peduli dan melanjutkan ceritanya. “Menarik  status facebook pak Moh, bikin sekolah kampung, semacam PKBM. Apalagi dana desa sekarang ini kan berlimpah, daripada hanya berpikir desa wisata terus untuk dana desa?”

“Ada pak Kentar yang bilang di komentar atasmu itu Ril, pak Kentar itu mendirikan sekolah dimulai dari sekolah garasi.  Terus komentarmu Ril, sekolah kampung menurutmu sangat idealis.   Ada lagi komentarmu Kik, pilih calon kepala daerah yang mau kontrak politik buat sekolah dekat rumah.  Tok, Io, Ano, kamu juga nyerocos gitu di statusnya pak Moh, berangkat, nunggu dipanggil ngopi segala.  Sudah, apa yang bisa kita lakukan.” Pak De Shony mengakhiri kata-kata dicangkrukan tersebut.

Cangkrukan itu membahas ulang status facebook dan  pecah keramaian berdiskusi. Di cangkrukan itu kemudian lahir kesepakatan, rumah warisan pak De Shony menjadi tempat sementara bagi pendidikan anak-anak yang terpapar efek zonasi.

Sekolah itu menggunakan metode berfokus pada pembelajaran otentik ala orang desa. Bermainnya terjamin. Anak-anak memiliki kreasi permainan yang dijadikan mata pelajaran. Sekolah ini tidak mengenal PR karena kegiatan di kelas dan di luar kelas tidak ada bedanya. Semua anak dianggap berprestasi karena mereka menekuni minatnya masing-masing. Meskipun mereka tidak menang kompetisi, tetapi mereka selalu tuntas mengerjakan apa yang diminati. Ketika mereka mengerjakan secara tuntas, mereka selalu membikin pameran karya. Gurunya selalu menganggap karya setiap anak dan rombongan belajar itu sebagai prestasi.

Mereka jarang yang ikut kompetisi. Tetapi beberapa karya sekolah mereka kadang ada yang digunakan di sekolah, di rumah, dan kebutuhan bersama di kampung tersebut. Seringkali mereka bikin webinar untuk uji publik karya rombongan belajar yang dikembangkan. Meski mereka ogah-ogahan ikut kompetisi, tetapi karya mereka biasanya diuji publik oleh orang lokal yang ahli, atau kalau tidak ada mereka biasanya difasilitasi oleh gurunya agar karnya mereka direview oleh kenalan gurunya dari luar daerah untuk direview lewat webinar. Mereka lalu mendapat masukan untuk perbaikan karya. Murid-muridnya sudah terbiasa direview karya akhirnya dari orang lokal atau kadang ada dari luar negeri. Tetapi mereka suka banget kalau karyanya direview pak De Shony yang autis tapi suka teknologi jaringan, otak atik teknologi informasi. Senangnya, anak-anak boleh memetik buah ciplukan di ladangnya setelah mereka direview karyanya. Sekolah rumah sebelah telah menjadi solusi alternatif di tengah ketimpangan zonasi.

Sekolah rumah sebelah. Sekolah rumah sebelah. Beberapa orang yang ingin studi banding ke sekolah itu selalu bertanya, sekolah rumah sebelah itu di mana di kampung ini?

Literasi dan Kemajuan Bangsa

0

Pernahkah kita berfikir ulang mengenai perintah pertama yang Tuhan berikan pada Nabi kita Muhammad SAW?, bukan syahadat, sholat, atau puasa melainkan membaca. Bahkan perintah membaca diulang sampai tiga kali. Dan perintah Tuhan yang paling banyak ditinggalkan saat ini adalah membaca. Padahal membaca merupakan fungsi paling penting dalam kehidupan seseorang. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak, tingkat keberhasilan baik di sekolah ataupun di kehidupan masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik. Kampusdesa.or.id–Keterampilan membaca adalah komponen paling penting dalam berbahasa. Semakin tinggi keterampilan siswa dalam membaca, semakin besar kemampuannya untuk berkembang ke bidang-bidang lain. Bahasa adalah thingking skill yang paling utama. Artinya jika kemampuan berbahasa kurang maka bidang lainnya pun akan tertinggal. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menguasai dan mengembangkan kemampuan bahasanya ke tingkat bahasa ilmu pengetahuan. Jika tidak mampu meningkatkan kemampuan berbahasa anak-anak, maka mimpi untuk bisa menjadi bangsa yang besar tidak akan terwujud.

Namun jika kita telaah ke belakang, data dari United Nations Development Programme (UNDP) menyatakan bahwa hingga akhir tahun 2008 terdapat 9.763.256 orang penduduk Indonesia atau 5,97%, penduduk usia 15 tahun ke atas yang masih buta aksara, sebagian besar 6.248.484 orang atau 7,51% adalah perempuan dan laki-laki 3.514.772 orang atau 4,27%. Hal ini yang menjadikan bangsa kita kalah bersaing dengan bangsa lain, bahkan Indonesia menduduki peringkat di bawah Vietnam dalam hal literasi. Saat ini kita ketahui bersama bahwa menteri pendidikan mewajibkan kembali gerakan literasi di sekolah-sekolah. Hal ini disebabkan rendahnya kemampuan baca rakyat Indonesia selama beberapa dekade ke belakang. Saat ini kita ketahui bersama bahwa menteri pendidikan mewajibkan kembali gerakan literasi di sekolah-sekolah. Hal ini disebabkan rendahnya kemampuan baca rakyat Indonesia selama beberapa dekade ke belakang. Jika kita memutar ulang sejarah, akan kita dapatkan bahwa masa pada saat Negara kita dalam penjajahan bangsa Belanda, setiap murid di sekolah-sekolah masih diwajibkan untuk menamatkan minimal 25 buah buku sastra dan menulisnya kembali dalam bentuk resensi. Pada saat itu jumlah buku sastra yang disediakan berlimpah. Sehingga tokoh-tokoh besar bangsa kita pada masa itu tidak asing dengan nama Shakspeare, Leo Tolstoy, Mh. Roesli, Amir Hamzah, dan lain-lain.

Dengan kewajiban menamatkan berbagai karya sastra tersebut kemudian menuliskan kembali resensi dari kisah yang dibaca, membantu mengembangakan kemampuan berbahasa dan menulis secara serempak. Di mana kita tahu bahwa kemampuan berbahasa sangat dibutuhkan dalam bermasyarakat. Dan kemampuan menulis sangat dibutuhkan dalam akademik. Di beberapa Negara lain, minat baca masyarakat terbilang tinggi, seperti di beberapa Negara di Eropa, siswa masih diwajibkan untuk menamatkan beberapa buku sastra per tahun, menelaah dan menuiskan kembali resensinya. Dari latihan tersebut, kemampuan membaca, berbahasa dan menulis meningkat pesat. Hal ini berdampak pada bidang akademik, ketika tugas membuat jurnal menjadi sangat mudah diselesaikan oleh para siswa. Sementara di Indonesia, Chairil Anwar pernah menuliskan sebuah puisi yang menyindir kondisi negara kita yang nol buku. Maksudnya siswa di sekolah-sekolah di Indonesia sama sekali tidak diwajibkan untuk membaca sama sekali baik buku biasa apalagi buku sastra. Keadaan ini mengakibatkan rendahnya kemampuan baca tulis siswa kita. Baca Juga: Berkawan dengan Literasi Hari Buku dan Minat Baca Pemuda Hari Ini Hari Buku Sedunia 2020, Apa Kabar Industri Perbukuan Nasional? Menulis Saja Meskipun Tak Ada yang Baca Menulis Layaknya Naik Sepeda Dari sejarah yang ada, bisa kita ketahui bahwa kewajiban membaca dihilangkan sejak tahun 1950 dimana pemerintah lebih mementingkan untuk meningkatkan infrastruktur daripada membeli buku untuk masyarakat. Dengan dalih karena Negara baru saja merdeka, maka dibutuhkan dana sangat besar untuk memperbaiki infrastruktur. Karenanya dana untuk buku dipangkas habis. Ini jelas kesalahan besar yang dilakukan pemerintah. Seandainya pemerintah kita memahami pentingnya kemampuan baca dan tulis masyarakat berbanding lurus dengan kemajuan bangsa tentu kebijakan tersebut tidak akan dilakukan. Seandainya pemerintah kita memahami pentingnya kemampuan baca dan tulis masyarakat berbanding lurus dengan kemajuan bangsa tentu kebijakan tersebut tidak akan dilakukan. Bahkan Nabi Muhammad SAW ketika perang Badar dimenangkan oleh kaum muslim kala itu, sebagai tebusan untuk para tahanan perang, Nabi tidak meminta tebusan uang yang bisa mencapai 1000 dinar, tetapi mewajibkan para tahanan untuk mengajari minimal 10 orang masyarakat muslim baca tulis untuk membayar kemerdekaan mereka. Jadi bisa kita simpulkan bahwa harga orang yang mampu baca tulis sama dengan 1000 dinar emas. Karena kebijakan beliau, maka lahirlah para cendekiawan muslim yang mendunia dan karya-karyanya diakui dan dipakai sebagai panduan dalam berbagai disiplin ilmu. Seperti Ibnu Sina, Al- Khawarizm, Jabir Bin Hayyan, dan lain-lain.

Jika Nabi Muhammad SAW saja sangat mementingkan kemampuan baca tulis padahal beliau adalah seorang ummi, maka seharusnya kita sebagai umat dapat mencontoh tauladan beliau untuk meningkatkan kualitas diri dengan kemampuan membaca dan menulis.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan, bahwa apabila kita ingin berjuang menjadi bangsa yang besar, maka kita perlu meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Untuk itu hal mendasar yang saat ini perlu dan harus dilakukan di antaranya menanamkan baca buku sejak balita, mewajibkan pembuatan satu karangan per minggu untuk siswa, menyelesaikan membaca buku sastra 10 buah per tahun kemudian membuat resensi buku tersebut, mewajibkan membaca ±840.000 kata per minggu, dan melengkapi koleksi buku sastra di perpustakaan.

Selanjutnya tergantung dari kita sendiri, apakah kita mau dan mampu untuk memupuk kembali minat baca kita, untuk dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis kita agar nantinya dapat dihasilkan generasi yang melek baca tulis dan membawa bangsa kita menjadi bangsa yang besar. Semoga saja!