Selamat Tinggal Televisi, Selamat Datang Media Sosial

0
281

Media lama (old media) sudah mulai ditinggalkan. TV mulai banyak tidak dilihat, terutama bagi generasi milenial. Mungkin hanya ibu-ibu tua yang masih setia duduk di depan TV untuk melihat sinetron, gosip selebritis (infotainment), atau acara-acara hiburan di TV. Sedangkan, anak-anak muda dan belia atau yang masuk kategori generasi milenial mulai beralih pada Youtube sebagai tontonan, juga jenis-jenis media sosial lainnya.

Kampusdesa.or.id–Para peneliti mengatakan bahwa, “media sosial adalah televisi yang baru”—persis yang dikatakan Brahamson (2017) dalam tulisannya berjudul Social Media Is the New Television. Dipaparkan bahwa saat ini media sosial menjadi televisi baru bagi khalayaknya khususnya kaum muda. Menurutnya, kaum muda sudah mulai menjauhi layar televisi. Mereka berganti layar ke layar smartphone.

CNN Indonesia (09/05/2018) memberitakan bahwa jumlah netizen Indonesia yang nonton Youtube hampir menyaingi jumlah netizen yang nonton televisi. Hal ini terungkap dari Survei Google dan Kantor TNS pada Januari 2018: YouTube ditonton oleh 53% pengguna internet di Indonesia. Sementara 57% netizen juga nonton televisi. Berdasarkan survey tersebut membuat prime time menjadi lebih luas karena orang tidak perlu menunggu jam tayang di TV.

Kian ditinggalkannya televisi sebagai old media menurut saya membuka ruang yang lebih demokratis dalam hal hubungan manusia dengan manusia lainnya melalui media. Televisi telah menjadi biang kerok resmi dan tumpuan kesalahan dari beberapa generasi pendidik dan orangtua yang mengkhawatirkan pengaruh buruk dari si “kotak bodoh” pada anak-anak muda yang mudah terpengaruh. Reputasi TV sudah selayaknya tenggelam karena TV sendiri punya dampak buruk untuk otak. Sebuah studi yang dilakukan oleh The National Opinion Research Center dari tahun 1974 sampai 1990— sebagaimana diungkapkan oleh Michael R. LeGault (1996)—menemukan bahwa “menonton televisi memperburuk kosakata, sedangkan membaca koran memperbaikinya.”

Maka sudah selayaknyalah di era milenial ini, warga bisa menikmati media baru yang memungkinkan mereka semua berpartisipasi untuk menyuguhkan dirinya sebagai penyampai pesan—dan bukan hanya sebagai penerima pesan saja. Ketika hanya ada TV, maka yang ada hanyalah masyarakat penonton yang harus menerima tayangan kaum-kaum elit (selebritis) di atas sana.

Kejayaan TV dan old media lainnya bersama struktur sosial yang elitis telah mendapatkan kritik sejak lama—yang tak terpisahkan pula dari masyarakat kapitalistik. Industrialisasi media kapitalis menciptakan—apa yang disebut Alex Comfort sebagai—“masyarakat penonton” yang “berjejal-jejal tetapi kesepian, dipandang dari segi teknik sama sekali tidak merasa aman, dikendalikan oleh suatu mekanisme tata tertib yang rumit tetapi tidak bertanggungjawab terhadap individu.”

Dalam bukunya The Power Elite (1956), Mills mengutuk fungsi media yang lebih berfungsi sebagai instrumentyang memfasilitasi—apa yang ia sebut sebagai—“kebutahurufan psikologis.”

Bahkan sosiolog ternama seperti C. Wright Mills mengajukan pandangan yang pesimistik terhadap fungsi media waktu itu. Dalam bukunya The Power Elite (1956), Mills mengutuk fungsi media yang lebih berfungsi sebagai instrumentyang memfasilitasi—apa yang ia sebut sebagai—“kebutahurufan psikologis.” Mills juga memandang media sebagai pemimpin “dunia palsu” (pseudo-world), yang menyajikan realitas eksternal dan pengalaman internal serta penghancuran privasi dengan cara menghancurkan “peluang untuk pertukaran opini yang masuk akal dan tidak terburu-buru serta manusiawi”.

Elitisme terjadi karena kepemilikan media. Pemilik media adalah kaum elit dengan pergaulannya sebagai kekuatan ekonomis yang mencari keuntungan dan mengakomodasi kepentingan kaum elit sebagai komunikator seperti politisi kelas atas, seniman-selebritis, dan para moralis yang bisa menjaga stabilitas tatanan kapitalistik. Massa rakyat sebagai penonton hanya menjadi penerima pesan (bersifat pasif).

Kini ketika era media sosial muncul, melaui persebaran ‘smartphone’ dan akses internet yang kian mudah orang memiliki medianya sendiri. Media kian dekat dengan banyak manusia. Mungkin juga bisa dikatakan sebagai “sosialisme media” karena jika dulunya media hanya milik kapitalis, sekarang rakyat pekerja dan orang banyak juga punya media—yang disebut “Media Sosial”.

Apakah tanpa masalah? Tentunya masalah baru muncul. Yang paling menonjol, sejak setiap orang bisa menjadi pengirim pesan dan menyebar informasi, peluang munculnya pesan-pesan yang buruk, informasi yang tidak teruji atau bohong (hoax), fitnah, dan ungkapan-ungkapan serta opini yang agresif dan bernuansa kebencian semakin besar. Sebanyak-banyaknya kritik terhadap media lama yang diorganisir sebagai perusahaan media, justru mereka punya pekerja-pekerja informasi yang terlatih, profesioal, dan dibekali dengan etika jurnalistik yang ketat.

Tapi, terbukanya ruang bagi tiap orang sebagai penyebar informasi, memungkinkan niat jahat lewat penyebaran informasi dapat dilakukan. Demikian juga niat narsis difasilitasi. Egoisme dan selfisme merajalela lewat media sosial. Artinya, tidak semua distribusi tulisan, gambar, dan video adalah suatu pesan yang berkualitas. Bisa jadi malah punya dampak yang buruk.

Maka yang harus dilakukan kemudian adalah dua hal. Pertama, menciptakan content-creator atau pencipta pesan yang berkualitas. Kedua, mengajak melakukan literasi media sosial agar pesan-pesan yang berseliweran di medsos tidak diterima mentah-mentah dan ditelan begitu saja sebagai sebuah kebenaran. Di situ mencakup pemberdayaan warga medsos baik sebagai penyampai pesan dan sebagai penerima pesan.

Kemampuan menciptakan content harus ditingkatkan. Harus dicetak kreator-kreator yang kreatif, edukatif, yang tidak menyumbangkan dampak negatif bagi masyarakat di era medsos.

Sebagai penyampai pesan, kemampuan menciptakan content harus ditingkatkan. Harus dicetak kreator-kreator yang kreatif, edukatif, yang tidak menyumbangkan dampak negatif bagi masyarakat di era medsos. Workshop-workshop menulis postingan, membuat video dengan basis literasi yang baik, pemahaman terhadap pentingnya melakukan edukasi melalui konten-konten yang berkualitas menjadi penting untuk sering dilakukan.

Sebagai penerima pesan, warga harus punya kemampuan kritis dan analitis terhadap apa yang disebarkan oleh akun medsos. Jangan gampang menyebarkan (share) atau like. Dianalisis dulu bagaimana isinya. Bahkan jika postingan atau tayangan media sosial masuk pada kategori kejahatan, maka ia harus dilawan dan setidaknya jangan sampai menyebar luas.

Trenggalek, 20/10/2019