Relasi Orang Tua dan Seni Mendidik Anak Milenial

0
275
milenial, orang tua, anak, mendidik
Sumber: Pixabay

0Shares
0

Tiap keluarga pasti memiliki pengalaman unik dan menarik bagaimana mendidik anak, apalagi anak milenial, lebih-lebih di era disrupsi dan kebutuhan akan gadget tak bisa dihindarkan. Banyak teori menjelaskan bagaimana karakter anak milenial dan cara berkomunikasi dengan mereka. Namun, adanya #stayathome memberikan pelajaran banyak hal bahwa relasi orang tua dan anak tak semudah yang diteorikan. Hal tersebut harus dialami. Tak bisa hanya dibayangkan atau dikatakan. Experience is the best teacher, begitu kata pepatah.

Kampusdesa.or.id–Relasi orang tua dan anak zaman sekarang atau milenial memang unik, bahkan kerap menggelikan. Seringkali diwarnai prasangka dan ketidaktahuan. Tapi tak jarang pula mengasyikkan dan mengagetkan. Tak terduga, tiba-tiba menyebalkan. Kala waktu begitu akrab, tetiba saja berlangsung perang urat syaraf. Nyebelin (menyebalkan) tapi sekaligus ngangeni (membuat kangen). Cuek tingkat dewa, tapi kadang makan saja minta disuapi. Ketergantungannya pada gawai membuat orang tuanya jantungan. Ketika dilarang, malah marah, dibiarin tak tau kalau dicuekin. Mager (malas gerak)nya gak ketulungan, hanya berkutat dari kamar ke ruang tamu dengan nenteng HP. Apalagi relasi lain diantara keduanya?

Itu seni cinta orang tua dan anak milenial.

Kalau Anda punya anak yang menginjak remaja dan masuk kategori milenial, camkan kata-kata saya soal relasi diatas. Bila Anda manggut-manggut, itu pertanda setuju. Jika senyam-senyum berarti Anda pernah mengalami.

Selama menjalani #WorkFromHome yang sudah sebulan lebih, banyak kenangan betapa dinamisnya hubungan orang tua dan anak milenial.

Selama menjalani #WorkFromHome yang sudah sebulan lebih, banyak kenangan betapa dinamisnya hubungan orang tua dan anak milenial. Berdiam diri begitu lama #DiRumahSaja pastilah membosankan alias bete. Butuh cadangan kesabaran berlipat. Kalo tidak, emosi mudah tersulut. Salah menjelaskan sesuatu bisa berantem mulut. Gegara makanan saja bisa selebor dan bersungut-sungut. Suasana yang hening bisa meletus cekcok seperti sinetron sedang dalam kemelut.

Anak sekarang (milenial) maunya kalau makan serba instan. Pengen cepat dalam membuatnya maupun memperolehnya. Asal tersedia mie plus telor di kulkas, selesai urusan. Mau makan kapan saja, menyalakan kompor lalu menyeduhnya. Kalo tak pengen ribet, apalagi ngebet makanan enak, pesan via GoFood atau GrabFood. Beres. Apa saja yang diinginkan asal masih ada saldo di Dana, Gopay atau Ovo, makanan datang sendiri dalam waktu tak lama. Praktis.

Giliran orang tuanya, terutama ibunya, yang ngomel dan baper. Sudah masak dan menyiapkan makanan di meja, dengan niat menyenangkan anaknya yang tak mesti setiap hari ada di rumah, eh… malah pesan GoFood. Cemilan kesukaannya yang dulu sering dibuat, tidak dilirik. Capek-capek di dapur malah gak dihargai. Ujung-ujungnya keluarlah kata-kata pamungkas: sakjane arek iki piye to karepe? (Yang tidak faham bahasa Jawa jangan minta diterjemahkan ya, hehe).

Begitu giliran makanan terhidang di meja makan, si anak dipanggil tiga-empat kali tak juga bergabung. Ibunya nyerocos lagi. Kalaupun sudah bergabung dan siap makan bersama, malah dapat ‘ceramah sebelum makan’. “Ya sudah”, kata anaknya, “makan di kamar aja”.

Banyak urusan sepele yang menjadi titik tengkar gegara perbedaan kebiasaan orang tua dan anaknya.

Belum cukup drama relasi orang tua dan anak zaman now. Banyak urusan sepele yang menjadi titik tengkar gegara perbedaan kebiasaan orang tua dan anaknya. Misalnya meletakkan sampah bekas snack sembarangan, lebih asyik mendengarkan lagu-lagu terkini ketimbang mengaji, tak cepat membersihkan rumah yang kotor, mager (malas gerak) gegara main games; hingga cuek-bebek kalau diajak bicara. Itu diantara poin yang menjengkelkan orang tua era kolonial dengan anaknya yang hidup di zaman milenial. Beda banget nilai yang dianut, prinsip yang dipegang, kebiasaan yang diikuti, dan cara belajar yang khas-unik.

Tiap keluarga pasti memiliki pengalaman unik dan menarik bagaimana mendidik anak, apalagi anak milenial, lebih-lebih di era disrupsi dan kebutuhan akan gadget tak bisa dihindarkan. Banyak teori menjelaskan bagaimana karakter anak milenial dan cara berkomunikasi dengan mereka. Namun, adanya #stayathome mengajari banyak hal bahwa relasi orang tua dan anak tak semudah diteorikan. Ia harus dialami. Tak bisa hanya dibayangkan atau dikatakan. Experience is the best teacher, begitu kata pepatah.

Pengalaman yang saya peroleh selama berinteraksi dengan anak remaja milenial (saya memiliki dua anak, si sulung berjenis kelamin laki-laki sudah lulus S1 dan bekerja; adiknya perempuan sudah gadis, sedang kuliah semester pertama) membuka mata bahwa anak memiliki dunianya sendiri yang harus dimengerti dan difahami. Mereka berpikir dengan pikirannya sendiri. Mereka bertindak dengan insting dan pertimbangan yang dimiliki. Tapi yakinlah bahwa tindakan dan pikiran mereka tak selalu absurd. Mencoba memahami pikiran-tindakan mereka jauh lebih baik dan mengena ketimbang mencap (apalagi menuduh) mereka tak disiplin, tak patuh, dan kalimat negatif lainnya. Pikiran negatif akan mengarahkan pada tindakan negatif, demikian petuah lama kita kenali.

Namun sebaliknya, berkah berada di rumah dalam jangka waktu lama dan super-intensif (jika tepat mengisi #stayathome), anak juga belajar memahami psikologi dan world-view orang tuanya yang barangkali menurut mereka jadul. Perbedaan persepsi terhadap suatu obyek yang sama, bisa jadi cara pandang orang tuanya berbeda dengan mereka. Sigap membereskan barang-barang sisa makanan bagi orang tua sangat penting. Tapi bagi anak dianggap “nanti kan bisa”. Peduli terhadap lingkungan sekitar (air kran yang bocor, taman yang kotor, lampu teras masih hidup di siang hari, dan sebagainya) yang kerap minus alias defisit di anak remaja, kerap membuat bersitegang orang tua. Sekali lagi, mempertemukan cara pandang dan nilai-nilai yang diadopsi sebelumnya (previously adopted values) oleh orang tua dan anak milenial adalah kesempatan yang harus dialami bersama (must be experienced together), tak bisa hanya teori.

Berkah berkumpul keluarga di rumah selama karantina sosial (PSBB) adalah saling belajar dan memahami. Menerima dan memberi. Berpikir dari sudut pandang mereka, bukan ‘pokok’e alias terpusat pada sudut pandang orang tua. Ini penting dan bisa mejadi lesson learned (pelajaran berharga) untuk membangun relasi orang tua-anak yang setara dan adil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here