Islam Jalan Hidup, Bukan Gaya Hidup

0
179

0Shares
0

Modernitas berikut anak turunnya seperti globalisasi dan digitalisasi telah berdampak serius pada keberislaman kita. Hari ini, di era digital ini, Islam tak lagi dimaknai sebagai jalan hidup, yang dengannya kita menemukan kedamaian dan jalan pulang kembali kepada-Nya. Islam hari ini telah bergeser menjadi sebuah komoditi. Akibatnya, Islam lebih akarab dimaknai sebagai lifestyle saja. Kesalehan kemudian hanya diukur dari tampilan fisik yang serba syar’i.

Kampusdesa.or.i-“Jika kau bukan anak raja & ulama’ besar, maka menulislah.!“ pesan Hujjatul Islam Al-Ghozaly. Kesadaran untuk berkarya merupakan fitrah manusia. Apapun bentuk karyanya sebagai representasi bahwa ia pernah hidup di dunia serta memberi makna.

Borobudur, Candi Prambanan, Negara Kertagama, Pararaton dan ragam literatur klasik merupakan bukti pernah ada manusia-manusia hebat dalam bidangnya masing-masing di Nusantara. Peninggalan peradaban merupakan warisan penting bagi generasi ke generasi.

Apa yang kita lakukan hari ini laksana simpul peradaban yang menghubungkan dari masa ke masa. Peradaban yang dibangun atas karya manusia-manusia yang bisa dikembangkan dan diambil hikmahnya.

“Di era digital sekarang, banyak kerasahan yang perlu direnungi dan dituliskan. Pergeseran zaman membawa pengaruh manusia serta keberagamaanya”

Termasuk karya tulis. Karya tulis merupakan cermin zaman, wajah dari sebuah era. Di era digital sekarang, banyak kerasahan yang perlu direnungi dan dituliskan. Pergeseran zaman membawa pengaruh manusia serta keberagamaanya. Trend perkembangan islam yang simbolis menjadi wabah baru bagi gen-milenial.

Kapitalisme berwajah agama juga menjadi transformasi dimana butuh kewarasan di dalamnya. Substansi terpinggirkan oleh formalitas dan cover. Sebut saja fenomena obral label halal untul produk-produk yang non-konsumtif. Seperti kulkas, kacamata, pampers, dan kerudung menjadi lelucon yang perlu diceritakan pada anak cucu nanti.

“Zaman dimana Islam lebih dijadikan gaya hidup (Hijrah, fashion islami, syariatisasi dan sebagainya), bukan sebagai jalan hidup”

Buku ini saya tulis dari endapan kerasahan-keresahan atas fenomena & problematika keislaman di era digital, milenial seperti sekarang ini. Zaman dimana Islam lebih dijadikan gaya hidup (Hijrah, fashion islami, syariatisasi dan sebagainya), bukan sebagai jalan hidup.

“Jika engkau ingin menjajah suatu negara; jauhkan generasi dari tradisi leluhurnya dan hancurkan literatur dan peradaban bangsa tersebut.”

Mudah-mudahan melalui karya sederhana ini anak-cucuku nanti dapat belajar, mengambil kebijaksanaan dan dapat merajut simpul peradaban dengan karya agar tiada terputus. Napoleon Bonaparte pernah mengatakan; “jika engkau ingin menjajah suatu negara; jauhkan generasi dari tradisi leluhurnya dan hancurkan literatur dan peradaban bangsa tersebut.”

Semoga dapat terbit dengan baik dan membawa manfaat.