Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 97

Guru Pemberani, Guru yang Memanusiakan

0

Belajar di kelas menitikberatkan pada upaya membangun ilmu pengetahuan siswa. Hal-hal penting yang kemudian perlu menjadi titik tekan namun kadang masih penuh masalah adalah, apakah siswa cukup memahami teks pelajaran dan mampu menjawab soal-soal dalam berbagai jenisnya seperti pilihan ganda, esai atau lainnya.

Saat para guru hiruk-pikuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang didalamnya juga mencakup perumusan tujuan belajar dan capaian pembelajaran (learning outcome), maka guru sebagian besar tenaganya mengarah ke administrasi kurikulum. Apalagi koridor tersebut dibayang-bayangi banyak kepentingan yang tidak pernah mendengarkan suara-suara anak.

BACA JUGA :
Ikuti kegiatan Konvensi Pendidikan 5 dalam Jumpa Pendidik yang Memanusiakan
Kuliah singkat hasil jagongan para pakar tentang pendidikan kita

Suara anak sepertinya hanya kegiatan seremonial dalam kegiatan pra-sekolah atau semacam kegiatan orientasinya saja. Mereka ditanya dan dipandu untuk menyuarakan cita-citanya, tetapi setelah masuk di kelas, entah kemana cita-cita anak itu diwadahi secara terpadu dan pelajaran yang dipelajari dapat disalingsinergikan dengan isi cita-cita tersebut.

Kenyataan ini adalah hasil teramati  mendampingi anak saya menyesuaikan diri saat memasuki Sekolah Menengah Atas. Harapannya, dengan aneka catatan cita-cita tersebut, anak-anak dapat belajar melalui berbagai pendekatan keilmuan yang sedang dipelajari selama di kelas. Anak-anak kembali ke kebiasaan semula, disodori paket mata pelajaran, berikut simulasi tes/ujian dan menyetor penguasaan pelajaran tersebut. Setelah itu remidi jika jawaban tidak sesuai dengan sumber ilmu pengetahuan yang diajarkan.

Perasaan yang sangat terlambat muncul baru saja, satu hari sebelum saya menulis artikel ini. Mahasiswa psikologi yang sangat menyukai kegiatan bisnis. Dia mengatakan, mengapa Pak, mahasiswa yang terjun ke dunia bisnis lebih banyak mengatakan bahwa mendapatkan uang tidak butuh ijazah, sehingga mereka akhirnya gagal atau kuliahnya terbengkalai. “Begitu juga saya, seolah harus mengatakan, fokus di dunia bisnis atau kuliah, mana yang diprioritaskan ?” Keluh mahasiswa tersebut.

Saya kemudian memberi umpan balik, dan menyebutkan beberapa nama mata kuliah di psikologi, seperti psikologi kepribadian, psikologi sosial, metodologi penelitian kualitatif, statistika, psikologi kognitif, bahkan psikologi Islam dan agama. Setelah berdialog panjang, dia mengatakan semua mata kuliah tersebut bisa relevan dengan kegiatan bisnis. Sayangnya, dia sudah tahun terakhir kuliah.

Dialog suara anak seperti apa yang ingin dan sedang digemari adalah modal dasar merancang materi-materi belajar. Setelah berhasil berdialog dengan anak-anak, maka mata pelajaran dapat didesain berdasarkan spirit dasar anak sehingga mereka juga diajari bagaimana setahap-demi-setahap dilatih menguasai ilmu pengetahuan yang relevan mampu mendorong lahirkan penemuan dan pemahaman baru dari inisiatif yang dipilihnya.

Lantas, bagaimana guru harus berani mengubah cara memulai belajar di kelas yang terpusat di dorongan siswa tanpa keluar dari konteks belajar ?

Gelas dan Teko Bambu | Diambil dari laman anekadodolan.com atau klik di http://kampusdesa.or.id/gelas-dan-teko-bambu/

Guru yang membuka hati berdialog dengan siswanya

Saya mulai mengikuti agenda Kampus Guru Cikal yang dirintis oleh Najela Shihab. Guru Cikal selalu mendorong agar para guru belajar dalam kelas sehingga mampu melahirkan cara mengajar yang sejalan dengan kebutuhan anak dan terus berinovasi menemukan beragam kemajuan-kemajuan di kelas. Guru pemberani adalah guru yang terus berinovasi demi sebuah kreatifitas karena dirangsang oleh keragaman anak. Bahkan keunikan anak yang terjadi di kelas. Bukan karena tuntutan pekerjaan, apalagi yang semata-mata terjebak dengan administratif kurikulum.

Menjadi guru pemberani seperti menjadi Bapak atau Ibu di rumah. Saat anak memiliki kemauan kuat ingin merangkak, atau jalan, orang tua memberikan bantuan atau membuatkan alat yang memudahkan anak tahu bagaimana caranya belajar. Saat anak terpuruk, orang tua hadir membantu jalan terangnya.

Guru pemberani yang dengan bahasa hati menemukan dunia anak-anak yang didorongnya untuk berkembang dan membangun iramanya dengan ilmu pengetahuan yang sedang dibangunnya. Desain belajar ramah anak. Guru pemberani adalah yang memiliki kreatifitas membela suara-suara anak. Sebagaimana saya contohkan tadi, mata kuliah atau ilmu pengetahuan dirumuskan dari potensi anak dan disitulah tema-tema kuliah akan dicari berdasarkan kebutuhan yang paling diinginkan untuk maju. Guru pemberani adalah yang berani berangkat dari siswa dan racikan mata pelajaran didaurulang dari tema-tema yang melekat dalam diri siswa.

Guru pemberani boleh jadi akan keluar dari pembakuan semata karena dinamika anak tidak bisa serta-merta diseragamkan. Hal ini senyatanya juga mendorong guru memang lebih mengutamakan kebutuhan dan keberadaan nyata siswa karena perubahan kemampuan siswa bukanlah lahir dari keinginan orang lain, tetapi keinginan anak. Perbedaan generasi terjadi perbedaan kebutuhan dan cara belajar.

Guru benar-benar berani menjamin proses kreasi siswa yang asli dapat berkembang dengan baik sehingga koridor etiklah yang sebaiknya dikembangkan oleh guru. Contohnya, kalau anak menyukai air, maka anak dibantu belajar dengan air, lalu guru membangun pikiran-pikiran tentang air yang ada di anak-anak dikelola sehingga membentuk pemahaman tentang air. Buku-buku yang tepat disajikan atau anak dipandu bagaimana sumber-sumber yang dicari berfungsi dan orisinil. Sekali lagi tugas guru memantau agar keilmuan anak berproses sesuai kaidah ilmu pengetahuan dan etika kemanusiaan. Guru harus berani tidak lagi menguasai materi pelajaran tetapi lebih pada menguasai metodologi atau cara kerja ilmu pengetahuan. Ketika guru lebih menguasai metodologi, maka proses belajar lebih menekankan inisiasi, inovasi dan kreasi sehingga keragaman anak mampu dipandu dengan baik.

Guru pemberani dengan begitu adalah guru yang membela sudut pandang anak sehingga anak-anak benar-benar mempunyai pengalaman baru dan nyata. Guru mengajari (memfasilitasi) anak membangun ilmu pengetahuan dari proses belajar anak mandiri dan terbimbing. Hasilnya bukan lagi dites dengan mutliple choice atau esai, tetapi dari hasil langsung yang diciptakan oleh anak.

Mangga Milenial, Mungkinkah untuk Petani Gurem ?

0

Banyak varietas yang telah dilepas pada komoditas hortikultura sering ditemukan tidak Peka Pasar (belum sesuai permintaan pasar atau bahkan tidak diminati pasar). Oleh karenanya rakitan varietas unggul baru harus berorientasi selera atau preferensi pasar dengan mengembangkan–dalam istilah kerennya–participatory breeding. Beruntung, adanya UU Hortikultura tentang aspek sumberdaya genetik (SDG) dan pengembangan perbenihan bisa menjadi payung hukum yang jelas dalam menciptakan rakitan varietas unggul baru.

Saat ini lalu lintas pertukaran SDG masih menjadi permasalahan yang pelik karena di satu sisi Indonesia memiliki ragam genetika yang banyak. Di sisi lain galur-galur murni belum banyak ditemukan. Galur hasil introdusir lebih cepat tersedia dan introduksi varietas unggul baru lebih praktis dari pada melakukan sendiri pemuliaan tanaman yang membutuhkan waktu panjang. Dalam arti kata, boleh jadi lebih efisien impor benih/bibit varietas baru yang peka pasar daripada melakukan perakitan sendiri yang ternyata lebih lama dan mahal.

Dalam dunia bisnis hal semacam ini, sah saja terjadi. Meski mungkin saja pilihan semacam ini bisa dituduh tidak nasionalis. Tapi itulah faktanya di era liberalisasi pertanian. Bagi negara yang tidak mau dan tidak mampu mempersiapkan diri cenderung pada akhirnya akan memberi tekanan yang tidak menguntungkan dan memarjinalkan petani-petani kecil/rakyatnya dikarenakan tidak memiliki kemampuan untuk menangkap dan memanfaatkan peluang yang tersedia.

Bertolak dari momentum “Gelar SDG Mangga” yang diselenggarakan di kebun percobaan Cukurgondang Pasuruan dibawah naungan Puslitbang Horti Kementan ini, melalui launching varietas baru Mangga “Agri Gardina46” sebagaimana deskripsi pada (gambar) diharapkan ke depan bisa membidik segmen dan memenuhi selera pasar masyarakat urban/perkotaan. Kendati pada faktanya, seringkali kita dalam beberapa langkah pengembangannya masih tertinggal jauh dibanding dengan negara lainnya seperti. China, Thailand, Taiwan dan India. Tak hanya keseriusan/political will negaranya tapi juga karakter kemandirian warga/petaninya dalam mengembangkan tanaman buah seperti hal-nya mangga ini kita masih lemah.

Banyak petani gurem/kecil yang dibantu bibit tanaman (misal, mangga) oleh pemerintah tetapi mereka tidak memiliki orientasi berkebun secara intensif. Kalaupun ada, mereka masih banyak yang tertinggal dari segi penerapan teknologi budidayanya sehingga komoditas yang dihasilkan tidak memiliki daya saing di pasar.

Baca juga ;

Pak Aji Tan, cuma singkong dan pisang yang bisa ditunai
Dicari, orang yang ingin kaya sebagai petani
Ngaji Tani 1 : hilangkan rasa malas petani, ayo membuat pupuk sendiri !

Pengusaha yang melalukan investasi di sektor hulu (dengan kepemilikan kebun intensif) keberadaannya juga sangat minim dibanding negara-negara tersebut. Lebih banyak pelaku dihilir (off farm) dari pada yang bermain hulu (on farm) pada skala kebun intensif/komersil. Wajar jika ada disparitas supply dan demand buah-buahan tak terkecuali mangga. Ini menjadikannya susah untuk bersaing baik kuantitas maupun kualitasnya dengan negara-negara lain yang memiliki banyak kebun-kebun intensif dalam skala besar, akibatnya kran impor terpaksa dibuka.

Lantas, bagaimana bentuk terobosannya?

Inilah yang saat ini sedang kita tunggu dan harus diupayakan secara bersama-sama dengan melibatkan stakeholder yang ada. Pihak Swasta, Pemerintah, Asosiasi dan Komunitas Petani dudah saatnya saling berkolaborasi untuk mendorong sektor pertanian khususnya hortikuktura agar menjadi lebih baik. Adapun kondisi ideal yang diinginkan sebenarnya sederhana saja. Setidaknya bisa dimulai dari hasil rakitan varietas yang dilepas di era milenial ini, seperti halnya Mangga Agri Gardina 46 ini (~sebut saja “Mangga Pisang” atau “Banana Mango”).

Senyampang belum terlambat, segeralah terobosan program pengembangannya dimulai dari sekarang dengan tetap melibatkan petani gurem sebagai sasaran. Sebab, jika tidak demikian, maka nantinya akan menjadi sebuah keniscayaan bahwa beragam varietas mangga milenial dari luar negeri (impor) akan memborbardir pasar domestik, tanpa ada perlawanan.

Bagi anda yang paham dan peduli dengan dunia pertanian khususnya “per-MANGGA-an, mari kita berkolaborasi dengan Komunitas #NgajiTani ! Cukurgondang, Pasuruan (4/11).

A
bdus Salim. Founder Komunitas #NgajiTani, Inisiator dan Pembakti Kampung Cabe di Dusun Daleman, Kadur, Kabupaten Pamekasan. Selalu berusaha mengajak para petani untuk mandiri. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang

Agility dan Bonus Demografi

0

Subbanul Yaum Rijalul Ghod; Pemuda saat ini, Pemimpin masa depan, begitu kata pepatah arab yang begitu magis dan monumental itu. Begitu juga dengan ucapan Bapak Revolusi kita, yang dengan begitu heroik Presiden Sukarno menyampaikan, “Berilah aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengajaknya merubah dunia”. Setidaknya kedua hal tersebut bisa kita jadikan rujukan betapa harapan begitu banyak ditumpuhkan kepada pemuda pada zamannya, seperti halnya pada saat ini, para pemuda atau yang biasa disebut generasi milenial begitu sangat diharapkan peran dan sepak terjangnya dalam membangun Indonesia.

Disisi lain, Indonesia memiliki permasalahan yang seakan tiada berujung hingga usia republik ini mencapai 72 tahun.  Hampir setiap hari di media cetak maupun elektronik bisa kita saksikan ada saja masalah yang diberitakan, mulai dari masalah ekonomi, politik, hukum, budaya, pertahanan dan keamanan, dan seolah masalah yang menimpa bangsa Indonesia tanpa ujung dan tidak mungkin bisa diperbaiki lagi. Belum permasalahn daya saing negara kita dengan negara lain dalam dunia global, perkembangan dan kecepatan dunia yang begitu sangat cepat, perubahan seakan tidak bisa diprediksi lagi, anomali sekan bisa terjadi kapan pun dan dimanapun dan Indonesia pun menghadapi tantangan eksternal yang tidak mudah untuk bisa terus survive dan berkompetisi dengan negara lain.

Namun, yang patut kita syukuri bersama adalah bersamaan dengan masalah tersebut, Indonesia diberikan potensi besar saat ini yaitu adanya jumlah usia produktif (Bonus Demografi) yang berada pada posisi puncak yang berdasarkan data BPS, jumlah usia produktif telah mencapai 70% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia, dan sudah diketahui bersama bahwa bonus demografi merupakan kesempatan (window of opportuniy) Indonesia untuk mencapai kejayaan pada usia satu abad nanti di tahun 2045, dengan syarat para generasi milenial tersebut memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan untuk bisa berkompetesi di zamannya, dan salah satu kualifikasi itu selain kualitas sumber daya manusia adalah kelincahan atau Agility.

Agility dalam bahasa populer diartikan sebagai kemampuan untuk berubah dengan cepat dan mudah, melihat perubahan yang terjadi begitu cepat, untuk bisa hidup dan berkiprah dalam kanca Internasional maka para pemuda harus memiliki personal agility, karena hal tersebut sebagai modal awal untuk bisa melakukan transformasi lainnya.

Pada dasarnya negara Indonesia Indonesia secara alamiah merupakan sekolah alam yang luar biasa potensial untuk mendidik seseorang untuk memiliki personal agility, lihat saja alamnya, Indonesia secara geografis terletak pada posisi yang strategis diantara para negara sahabat, selain itu sosio antropologi masyarakanya pun begitu beragam, kekayaan sumber daya alam yang begitu melimpah. Potensi yang semacam itulah yang mampu menyajikan berbagai tantangan atau pendidikan kepada generasi bangsa untuk terus dinamis dan menemukan personal Agility.

Sejarah  negara-negara besar dunia, menyebutkan dengan jelas bahwa kiprah pemuda selalu saja digoreskan dengan tinta emas termasuk juga di Indonesia, kita ketahui bersama sejak era merebut kemerdekaan hingga tercapainya cita-cita bersama bangsa Indonesia yaitu kemerdekaan, peran serta pemuda seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia. Satu peristiwa besar yang terjadi dan menjadi ibrah adalah Sumpah Pemuda, peristiwa tersebut merupakan sublimasi dari personal agility yang dimiliki pemuda saat itu yang terangkai satu sama lain. Kita tentu mengenal para tokoh sumpah pemuda seperti Soegondo Jojopoespito, Moh Yamin, Soenario Sastrowardoyo, WR Supratman, Djoko Marsaid, Amir Syarifudin dan beberapa tokoh lainnnya, kesemuanya tokoh yang disebut diatas telah dikenal memiliki personal agility yang tidak diragukan lagi.

Terdapat ungkapan menarik dari seorang diplomat Perancis Charles Maurice de Talleyrand (Kasali:2014) yang mengatakan “ seratus kambing yang dipimpin oleh seekor singa lebih berbahaya daripada seratus singa yang dipimpin oleh seekor kambing”, ungkapan tersebut menegaskan bahwa agility menjadi aspek utama dalam setiap perubahan besar, dan menjadi jawaban atas kedua adagium yang dituliskan pada paragraf pembuka tulisan ini.

Agility merupakan kekuatan yang tidak nampak (Intangible) pada diri seseorang, pada beberapa perusahaan besar aspek tersebut digunakan untuk melejitkan capaian perusahaan, Indonesia sebagai negara besar dengan modal bonus demografi memiliki potensi menuju kejayaan di masa yang akan datang, apabila modal bonus demografi tersebut dikelolah dengan sebaik mungkin dan menjadi prioritas garapan pemerintah saat ini selain menggenjot aspek infrastruktur. Sehingga para pemuda saat ini akan menjadi pemimpin atau minimal memiliki sifat kepemimpinan yang agile untuk bergerak cepat menuju kejayaan Indonesia emas.Wallahua’lam

(Artikel telah dimuat pada Koran Inspirasi Pendidikan edisi XXVII Minggu I/07-18 Nopember 2017)

Jangan Takut atau Merasa Lucu Membuat Impian Besar, Ini Buktinya !

0

Beberapa tahun yang lalu saya membuat “papan impian” di kamar saya. Di pojok kanan atas tertempel gambar hotel bertingkat, dengan tulisan “Punya hotel Boutique”, yaitu sebuah hotel yang mengedepankan keindahan.

Jarak saya ke hotel itu dan jarak Anda ke hotel itu sama. Nilai sebuah hotel 5-6 lantai sekitar 100 milyar. Jarak sy saat ini ke 100 milyar itu sangat jauh. Seandainya saya menabung 100 juta sebulan, butuh 1000 bulan atau 83 tahun. Anda mungkin butuh 830 tahun jika menabung 10 juta sebulan. Jika 1 juta sebulan ? Tetapi 83 tahun, 830 tahun atau 8300 tahun tidak banyak bedanya, sama sama sangat jauh. Sama dengan tenggelam di laut berkedalaman 3 meter, 30 meter atau 300 meter ya sama saja. Jika kita tidak bisa berenang ya sama sama tenggelam.

Beda saya dengan Anda adalah saya berani menempelkan impian itu dan menjemput nasib saya. Bagaimana dengan Anda. Beranikah Anda keluar dari zona nyaman yg Anda kerjakan sekarang dan menjemput nasib Anda ?

Percaya tidak ? Impian itu hampir terwujud.

Selama beberapa tahun saya berniat menjual hotel kecil saya di Batu, karena hasil dan nilai aset tidak seimbang, karena harga tanah yang semakin mahal, nilai hotel saya itu kisaran 25 milyar. Sudah beberapa tahun tidak kunjung laku-laku. Saya mengatakan ke isteri, bahwa ini lokasi emas, di jalan kembar, dekat dengan hampir semua tempat wisata di Batu. Belakang rumah, eh hotel ada Jatim Park 1. Jalan beberapa menit ke arah kiri sampai ke museum angkut. Jalan beberapa menit ke kanan sampai di Jatim Park 2.

Semua mengatakan eman. Saya hanya mengatakan bahwa eman jika lokasi sebagus ini hanya ditempati hotel kelas melati seperti ini. Seharusnya ini ditempati hotel berbintang, barulah nilai tanah dan pemanfaatannya berimbang. Sedang saya jelas tidak mampu membangun hotel berbintang. Jadi biarlah orang lain yang mengelola lokasi emas ini.

Kemarin dream come true, tepatnya hampir come true. ????

Ada ide membangun dengan sistem gotong royong dengan masyarakat atau model Condotel (Condominium Hotel). Misal 200 kamar, yg 100 dijual ke masyarakat dan uangnya digunakan membangun hotel. Mirip di CD pak Rennier Latief itu. Dan ini sedang jadi trend saat ini. Punya uang 600 juta sampai 1 milyar sudah bisa punya hotel, meski hanya 1 kamar. Pengelolaan diserahkan salah satu operator yaitu hotel Harris.

Doakan ini sukses. Ponakan ponakan saya yang menanganinya (Tulisan ini diambil dari seri pelajaran kewirausahaan di group whatsapp Program Lanjutan yang diasuh oleh Penulis).

Pak Aji Tan, Cuma Singkong dan Pisang yang Bisa Ditunai

0

Sebut saja, Pak Aji Tan (nama samaran) seorang petani tua yang hidup di desa pinggir hutan berdekatan dengan laut dan pantai di Malang Selatan. Berkenalan dengan beliau bagiku merupakan sebuah anugerah dan juga panggilan Tuhan. Sudah barang tentu bukan semata sebuah kebetulan. Sebab tak ada hal apapun di dunia ini yang tak berjalan dalam koridor takdir dan iradat-Nya.

Setelah sonjo ke rumah beliau dan dihidangi gorengan pisang dan kopi tubruk ala ndeso, Aku diajaknya berkeliling mengunjungi lahan garapannya. Luasnya kurang lebih 2ha, itupun bukan miliknya. Pak Aji Tan hanya di percaya untuk mengelolanya oleh seorang Tuan yang domisilinya di kota jauh di sana. Yang sesekali si Tuan bisa datang mengunjungi lahannya serta menanyakan bagi hasil pertaniannya. Meski tidak ikut memberi modal apa-apa. Enak ya?

Apa lacur, setelah kucoba menyelami agak dalam komoditas yang ditanam dan tatakelola bertani Pak Aji Tan selama ini, sepertinya ia masih berada seolah-olah di jaman purba, yakni bertani dengan tradisi nomaden (berpindah-pindah tempat).

Padahal sekarang ini, katanya sudah era digital dan melenial lho. Betapa tidak, pilihan menanam komoditas pisang itu karena lebih mudah dan gampang menjualnya (meski harga tidak sepantasnya). Singkong pun dipilihnya karena tinggal tancap saja tumbuh tanpa perlakuan apapun hingga panen tiba, meski harganya pun tidak sepantasnya sehingga ketika tiba saatnya merekap hasil usaha taninya seolah hanya seperti angin lalu saja. Tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dapurnya, apalagi berpikir meningkatkan kesejahteraannya.

Bayangkan harga pisang kepok 1 tandan Rp.15 ribu dan singkong Rp. 200,-/kg. Sangat tidak pantas dan tidak menarik. Meski Pak Aji Tan dan juga dari Tuannya tak pernah melakukan investasi unsur hara di lahan yang digarapnya, tetapi setiap tahun dan periode tanam, mereka terus berharap agar alam dan lahan tetap memberikan kebaikannya sehingga ia bisa memanen tanamannya.

Abdus Salim (kanan) berbincang seputar hasil pertanian dengan pak Aji Tan 

Begitulah seterusnya Pak Aji Tan menjalani hidup sehari-harinya dan menggeluti kerja-kerja pertanian dengan caranya sendiri tanpa ada yang menemani.

Tentu masih banyak sosok lain spt Pak Aji Tan yang juga masih menjalani kerasnya hidup dari bertani di sekitar desa ini. Bahkan di berbagai pelosok negeri. Jika kenyataan ini masih terus dibiarkan, maka jangan disalahkan kalau di negeri yang—katanya–gemah ripah loh jinawi, generasinya kelak lebih gemar menanam beton-beton berurat besi. Salam #NgajiTani.

Malang, Jalur Lintas Selatan 2/11/2017

Abdus Salim. Founder Komunitas #NgajiTani, Inisiator dan Pembakti Kampung Cabe di Dusun Daleman, Kadur, Kabupaten Pamekasan. Selalu berusaha mengajak para petani untuk mandiri. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.

Menggugat Jejak Tentara Santri yang Dibuang

0

Kampus Desa Indonesia — Kaget rasanya mendengar kesimpulan bahwa para santri sebenarnya telah berkonstribusi dalam mempertahankan kedaulatan bangsa ini, tetapi ternyata demi perbedaan pemikiran, sejarah kaum santri disingkirkan dari historiografi tentara Indonesia. Bagaimana bisa begitu ?

Menarik mengikuti diskusi di hotel Grand Palace Malang (19/10/2017) tentang sejarah hidup KH Masykur (1902 – 1992), Seorang Kyai dan Panglima Sabilillah dari Arema (Malang) yang difasilitasi oleh Pemerintah Kota Malang. Diskusi ini dilakukan untuk mengaji kelayakan KH. Masykur sebagai Pahlawan Nasional. Pengajuan ini didasari jasa semasa revolusi kemerdekaan. Apalagi, KH. Masykur pernah menjabat menteri agama zaman Soekarno. Siapa KH. Masykur ? KH. Tholhah Hasan dan KH. Agus Sunyoto membantu para audiens memahami sudut pandang yang menjadikan KH. Masykur sebagai sosok penting yang layak diberikan gelar Pahlawan Nasional.

Bahkan, KH. Masykur adalah tokoh penting yang terlibat menjadi salah satu panitia persiapan kemerdekaan di BPUPKI. Peran-peran dalam pemerintahan Soekarno telah menjadikan KH. Masykur adalah tokoh penting. KH. Masykur berasal dari Jepara dan peran penting tersebut tidak bisa dilepaskan dari dinamika hidupnya di Malang. Peran kenegarawanan tersebut bahkan sampai di masa Orde Baru, yang mana KH. Masykur perenah menjaba sebagai wakil ketua DPR-RI.

Masykur tumbuh dari pesantren ke pesantren termasuk akhirnya menjadi salah satu menantu KH Rohim dari Bungkuk Singosari. Selain itu, hubungan pengetahuan keagamaan KH. Masykur tidak bisa dilepaskan persinggungannya dengan para Kyai yang membidani lahirnya NU, seperti Kyai Kholil Bangkalan, KH. Wahab Chasbullah dan KH. Hasyim Asyari, termasuk persinggungannya dengan pesantren Jamsarena Solo yang banyak melahirkan tokoh-tokoh penting nasional zaman kemerdekaan.

Menurut KH. Tholhah Hasan, sejak bersinggungan dengan para kyai dan keluar masuk pesantren tersebut, KH. Masykur mulai tumbuh minat dalam dirinya untuk cinta agama, cinta negara dan cinta bangsa yang pada akhirnya menentukan arah perjuangan KH. Masykur untuk berkhidmat demi agama dan negara.

Beliau adalah pengurus NU Cabang Malang hingga PBNU yang tahun 51an sudah terlibat dalam perhatian kebangsaan. Beliau juga pernah menjabat Menteri Agama empat kali. Dan beliau terlibat masalah-masalah keagamaan. Dalam bidang keagamaan, KH. Masykur adalah sosok penting yang jejaknya tidak bisa dipisahkan dari pergumulan organisasi di NU. Beliau adalah pribadi yang besar mulai dari Anshor, menjadi ketua NU Cabang Malang sampai dengan menjabat ketua PBNU terlama, empat periode.

Di bidang perjuangan kemerdekaan, KH. Masykur pun satu diantara kyai yang turut serta menjadi bagian dari pasukan perang gerilya bersama Panglima Besar Jendral Soedirman. Pengalaman inilah yang akhirnya menempatkan KH. Masykur adalah sosok yang memiliki pengalaman berjuang memanggul senjata. Bahkan, KH. Masykur kemudian menjadi salah satu tokoh sentral dalam barisan pasukan perjuangan di bawah pasukan Sabilillah sebagai salah satu dari anak kandung pasukan Hizbullah yang bergerak melawan agresi Inggris dan Belanda di masa revolusi kemerdekaan, terutama untuk agresi menjelang perlawanan 10 November. KH. Masykur lah yang diamanati KH. Hasyim Asyari untuk mengawal resolusi jihat melawan agresi militer Inggris di Jawa Timur.

Ada dua catatan penting jejak KH. Masykur di Malang, yakni produk pemikirannya bisa disaksikan dengan berdirinya Perguruan Tinggi dan RSI Unisma. KH. Masykur mendorong bahwa pendidikan dan kesehatan perlu dikembangkan untuk melayani masyarakat umum. Sebagaimana disampaikan KH. Tholhah Hasan, pusat pendidikan Ma’arif yang ada di Singosari pun bagian dari buah pikir KH. Masykur.

10 November dan Santri Terbuang

Penuturan menarik tentang historiografi pahlawan santri mengagetkan. KH. Agus Sunyoto, Pengasuh Pesantren Global Malang dan Ketua Lesbumi PBNU, menyatakan, telah terjadi beberapa usaha yang sistematis menghilangkan peran penting para santri dan kyai dalam poros penting pembentukan kemerdekaan Indonesia dan setelahnya.

Agus Sunyoto membongkar beberapa historiografi kyai dan santri yang terkubur oleh dampak kebijakan dan dimulainya pengelolaan negara menggunakan rasional birokratis. Agus Sunyoto memiliki data-data akurat yang menyatakan bahwa peran kyai dan santri sangat besar, terutama dalam membangun kekuatan perjuangan melawan penjajah.

Agus Sunyoto dalam risetnya menemukan data bahwa, banyak sekali nama-nama komandan pasukan, tentara zaman kemerdekaan atau sebelumnya yang namanya ada sebutan KH, sekarang sebutan tersebut lenyap, seperti nama KH. Sam’un, KH Sandar Sulaiman. Nama-nama tersebut merupakan di antara komandan gerakan nasional, atau Tentara Rakyat Indonesia. Keterlibatan kyai dan santri tersebut tidak hanya di komandan tentara, tetapi juga sebagai prajurit.

Mengapa kok para kyai dan santri mendominasi ? Saat membangun negara kemerdekaan, pembentukan alat kelengkapan negara tentunya membutuhkan biaya. Lalu, siapa yang mau jikalau negara merekruit tentara tanpa dibayar. Kata Agus Sunyoto, jawabannya ya santri. Santri sudah sangat terlatih berjuang demi negara ini, apalagi perjuangan negara juga sepadan dengan pengalaman jihad (yakni membela negara juga sama dengan pengalaman beragama), Selain itu, para santri juga memang dididik untuk menyiapkan diri melawan kedhaliman terhadap negeri ini.

Santri yang dapat diorganisir melalui pesantren dan kyainya, tentunya merupakan kekuatan besar yang dapat digerakkan untuk melawan penjajah. Logika inilah mengapa santri menjadi anggota Tentara Rakyat Indonesia waktu itu. “Siapa yang mau melawan penjajah dan mengorbankan diri demi negara Indonesia kalau bukan kyai dan santri,” tegas Agus Sunyoto.

Fakta yang ditemukan tidak hanya itu. Ikhwal posisi KH. Masykur yang berjuang dari Malang. KH. Masykur adalah komandan Sabilillah. Sabilillah itu sama dengan Hizbullah. Pembedaan ini didasari oleh perbedaan antara kyai dan santri. Oleh karena itu, Hizbullah kemudian dipecah, terutama yang kiai dipecah dan diberi nama Sabilillah dan santrinya berada di Hizbullah. Peran kedua pasukan ini tidak bisa diabaikan, terutama zaman revolusi menjelang perang 10 November 2017,

Waktu itu, komandan Tentara Keamanan Rakyat yang dipimpin Sujai, berangkat dari Malang bergerak ke Surabaya. Menurut Agus Sunyoto berdasarkan bukti nyata dari dokumentasi yang dikumpulkan, Sujai didukung juga rombongan pasukan Hizbullah-Sabilillah mulai dari Malang, Singosari, Lawang hingga Surabaya dengan jumlah yang cukup banyak, 10 ribu pasukan Hizbullah-Sabilillah. Sebagian besar adalah pasukan santri. Mengapa ini terjadi ? Tidak mungkin proses transisi kemerdekaan ini langsung merekrut tentara untuk melawan pendudukan Inggris-Belanda. Jawabannya tidak lain adalah mengerahkan pasukan santri melalui Hizbullah-Sabilillah.

Gerakan ini memang sebelumnya diawali oleh komunikasi Soekarno, KH. Hasyim Asyari dan termasuk KH. Masykur. Soekarno meminta pertimbangan bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan. Mereaksi itu, lalu, KH. Hasyim Asy’ari mengeluargkan fatwa resolusi jihat yang kemudian menggerakkan semua santri menuju Surabaya untuk melawan tentara Inggris. Resolusi jihad dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 dan pertempuran dengan tentara Inggris dan Belanda sudah mulai bergerak 26 Oktober 1945. Kedatangan pasukan tersebut juga tidak lepas dari skenario Jepang.

Kata Agus Sunyoto, perang ini langka. Tentara Inggris dan Belanda dilawan tanpa senjata. Tentunya, juga banyak sekali korban di pihak pasukan tanah air, khususnya pasukan yang menjadi satu dengan Sabilillah. Bahkan, ditegaskan, pada 3 Ramadhan, agresi Belanda masuk ke Malang, yang kemudian menelan banyak korban, Mulai dari Lawang sampai dengan Blimbing. Jenazah bertebaran sepanjang jalan tersebut. Menapaki kisah inilah, mengapa sekarang di Blimbling ada masjid Sabilillah.

Sebagaimana diungkapkan oleh Agus Sunyoto, jejak santri di pasukan tentara nasional tidak bisa diabaikan. Agus Sunyoto memiliki data faktual di kearsifan tentara, nama-nama sejumlah komandan pasukan adalah nama yang di depannya tersemat gelar KH. Mengapa sekarang menjadi sirna. Ada suatu peristiwa penting yaitu lahirnya kebijakan RERA (Restrukturisasi dan Rasionalisasi Tentara) yang di usung oleh Bung Hatta di tahun 1948. Katanya, kebijakan ini dilihatnya sangat seksis dengan anggota tentara yang kebanyakan santri. Apalagi jika dirunut Bung Hatta memiliki pandangan sosialis. Kebijakan RERA adalah awal dimulainya penerapakan modernisasi birokrasi di tubuh tentara. Untuk itulah, muncul kebijakan bahwa militer harus profesional yang dibuktikan dengan ijazah. Rontoklah para tentara yang dulu gegap gempita melawan penjajah akhirnya rontok, termasuk tentara berlatar belakang santri.

Dicari, Orang yang Ingin Kaya sebagai Petani

0

Pastikan, diri anda sebagai bagian dari orang yang terlibat menyiapkan dan membangun lapis baru generasi petani Indonesia.

Apa itu lapis baru generasi petani ?

Artin
ya ini satu angkatan petani yang adaptif terhadap teknologi, bertani dengan cara baru, mindset baru, yaitu lapis petani entrepreneur yang cakap dalam bertani, terampil dan mandiri.

Anda berminat dan ingin berbagi ilmu, pengalaman dari keahlian di lapangan….TANPA BATAS!

Lebih lanjut, mari kolaborasi di Komunitas #NgajiTani ! dengan mengakses formulir di http://bit.ly/2hucTSx atau hubungi 081235270127

Baca juga ;

Ngaji Tani 1 : Hilangkan Rasa Malas Petani, Ayo Membuat Pupuk Sendiri !
Kampung Cabe, Kemandirian Pangan Melalui Ngaji Tani

Jika Anda ingin tahu beberapa kegiatan yang sudah diunggah di kampusdesa tentang Ngaji Tani, silahkah membuka link di #NgajiTani

Manakib Tradisi Keilmuan Santri untuk Indonesia Emas

1

Proses islamisasi nusantara terutama jawa menghasilkan sesuatu yang begitu penting yaitu lahirnya tradisi keagaaman santri dalam kehidupan sosio kultural masyarakat nusantara. Tradisi keagamaan santri ini dengan pesantren serta kyai telah menjadi inti terbentuknya tradisi monumental Islam nusantara, yang secara substansial merupakan hasil akulturasi antara tradisi Islam dan tradisi asli nusantara. Seperti yang disebutkan oleh H.J. Benda bahwa proses Islamisasi di jawa telah melahirkan peradaban santri (santri civilization), yang memiliki pengaruh sangat besar. Sementara Clifford Geertz memandang kehadiran Islam di jawa telah membentuk varian sosio kultural masyarakat Islam jawa yang biasa disebut Santri, yang benar-benar berbeda dengan tradisi sosio kultural lainnya, yaitu Abangan dan Priyayi.

Tradisi Santri dan Kyai merupakan unsur kebudayaan Islam-Jawa yang memiliki pengaruh besar terhadap dinamika kehidupan agama, sosial dan politik dalam masyarakat Jawa dan Nusantara, hal tersebut terjadi secara terus menerus mulai masa tradisional, masa kolonial hingga Indonesia merdeka. Sebut misalnya pada saat pendirian kerajaan Demak, Banten dan Cirebon konstribusi tradisi Santri dan Kyai sangatlah besar disana, pada era kolonial juga begitu, ketika era kerajaan-kerajaan Islam runtuh tradisi besar Santri kembali menjadi basis kekuatan sosial politik di pedesaan untuk melawan kolonialisme belanda, hal teresebut berlanjut ketika masa pertumbuhan nasionalisme Indonesia dengan munculnya organisasi mulai dari Sarekat Dagang Islam, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Partai Sarekat Islam hingga Masyumi, dan Partai Nahdlatul Ulama hingga lahirnya partai yang lain mulai PPP, PBB,PAN hingga PKB.

Tradisi Intelektual Santri

Santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti orang yg mendalami agama Islam, orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yg saleh), Orang yang mendalami pengajiannya dalam agama islam dengan berguru ketempat yang jauh seperti pesantren dan lain sebagainya. Ada yang menyebut, santri diambil dari bahasa ‘tamil’ yang berarti ‘guru mengaji’ ini seperti pendapat Zamakhsyari Dhofier yang mengutip pendapat  Johns. Ada juga yang menilai kata santri berasal dari kata india ‘shastri’ yang berarti ‘orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci’ ini adalah pendapat C.C. Berg. Selaras dengan Berg, Cliford Geertz menduga, bahwa pengertian santri mungkin berasal dan bahasa sangsekerta ‘shastri’, yang berarti ilmuan Hindu yang pandai menulis, yang dalam pemakaian bahasa modern memiliki arti yang sempit dan arti yang luas. Dalam arti sempit, ialah seorang pelajar yang belajar disekolah agama atau yang biasa disebut pondok pesantren, sedang dalam arti yang lebih luas, santri mengacu pada bagian anggota penduduk Jawa yang menganut Islam dengan sungguh-sungguh.

Selain itu, berdasarkan telaah sejarah, santri memiliki tradisi intelektual yang tidak bisa dipandang sebelah mata, beberapa sumber mengatakan bahwa Santri memiliki tradisi berkelana untuk mengunjungi padepokan yang satu ke padepokan lainnya, dari pondok yang satu ke pondok lainnya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dari para guru atau Kyai,  tradisi berkelana ini juga digunakan para santri untuk mempraktekkan ilmunya. Tradisi berkelana ini sebenarnya telah ada sejak wali sembilan atau bahkan sebelumnya, dari berbagai sumber dikisahkan bagaimana Raden Syahid atau lokajaya dulu mengembara berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk menuruti titah gurunya yaitu Sunan Bonang.

Selain berkelana, santri jawa juga memiliki riwayat menjunjung tinggi dialog ilmiah melalui tradisi diskusi dan debat, tradisi tersebut dimulai semenjak zaman wali sembilan. Dan sudah diketahui bersama bahwa wali sembilan merupakan sebuah forum bertemunya para wali di tanah jawa untuk merancang dan mengembangkan dakwah serta membangun desain pemerintahan  di tanah jawa. Perlu diketahui bahwa anggota dari wali sembilan memiliki keahlian masing-masing ada yang ahli pemerintahan, ahli ekonomi, ahli budaya, ahli strategi dan lain sebagainya, maka tak heran ada yang mengatakan bahwa sebenarnya landscape ilmu pengetahuan di tanah jawa bisa digambarkan dengan posisi geografis wali sembilan di tanah jawa.

Gambaran monumental mengenai sepak terjang santri jawa dalam membangun dan merawat tradisi keilmuan diatas merupakan modal besar bagi santri zaman sekarang untuk bisa meneladani dan merawat tradisi keilmuan para santri terdahulu. Dengan berpegang teguh pada kaidah ushul fiqh yaitu “Al Muhafadhah ala-l qodimis sholih wa-l akhdzu bi-l jadid-il ashlah” dan bagi santri kaidah tersebut merupakan spirit continous improvement yang autentik untuk dijadikan landasan melaksanakan perintah agama dalam dzikir, pikir dan amal sholih.

Konstribusi Santri untuk Indonesia

Secara tersurat maupun tersirat dengan adanya pengakuan negara atas keberadaan santri dengan ditetapkannya tanggal 22 oktober sebagai hari santri nasional merupakan panggilan bangsa kepada para santri untuk lebih berperan secara nyata kepada bangsa dan negara diberbagai bidang mulai dari ekonomi, politik, hukum, sains dan teknologi serta sosial humaniora.

Dengan bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini, menjadi sebuah keniscayaan Indonesia untuk menjadi negara yang Baldatun Toyyibatun Wa Rabbun Ghofur di usia emas tahun 2045 nanti, tentu hal tersebut membutuhkan peran serta santri secara signifikan diberbagai bidang dengan modal manakib tradisi santri jawa yang begitu monumental.

Melalui peringatan hari santri nasional yang ke-3 ini seyogyanya kalangan santri mulai melakukan sebuah refleksi dan menata formulasi diri untuk mandiri, percaya diri, lincah, berwawasan luas dan berahlak mulia untuk terus menjadi motor perubahan dalam melaksanakan khidmah kepada umat dimanapun dan dalam posisi apapun. Selamat hari santri 2017. Santri Kuat, NKRI Hebat.Wallahua’lam

(Artikel telah diterbitkan di Jawa Pos Radar Bojonegoro 22 Oktober 2017)