Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 96

Reaksi Manusia pada Perubahan

0

Secara alamiah, reaksi setiap orang pada perubahan adalah menolak. Setelah itu dia akan memberi perlawanan, membantah hal hal baru yang dikemukakan orang.

Sebagian besar orang berhenti di sana dan tidak berubah, bahkan menjadi semakin yakin bahwa yang dijalaninya itu benar. Meskipun dia melihat bahwa orang orang yang melakukan seperti yang dia lakukan sekarang itu hidupnya tetap begitu begitu saja, dia tidak peduli. “Itu orang lain, saya beda karena punya kemampuan yang berbeda”.

Sebagian kecil ada yang kemudian melakukan eksplorasi. Sebagian besar yang melakukan eksplorasi ini salah bertanya. Dia bertanya kepada orang orang yang gagal atau cari info di internet. Kebanyakan orang gagal akan menyalahkan siapa saja kecuali dirinya sendiri. Kebanyakan tulisan di internet ada dua macam yaitu iklan/promosi tentang hal-hal baru dan berita negatif tentang hal hal baru. Dua duanya bias.

Mereka yang mencari informasi dengan benar, akan mengambil keputusan menerima. Setelah semakin mengerti tentang apa yang dihadapi dan yakin bahwa hal itu benar, maka dia akan mengambil komitmen.

Perjalanan hidup seperti grafik itu berlaku pada siapapun dan bidang apapun. Entah perubahan agama, kepercayaan, politik, keuangan bahkan untuk menjadi teroris juga melewati fase itu.

Buku Cerita ; Kiat Berada dalam Masalah Jungkir Balik

0

Kampusdesapreneur–TELAH TERBIT !!! Kumcer : Jungkir Dibalik, Balik Dijungkir

Penulis : N. Ulfi dan Inez Shabrina
Tebal : 141 Halaman
Ukuran : 14 x 20 Cm
ISBN : 978-602-5464-10-2
Harga : Rp. 45.000 (Belum termasuk ongkir)

Karena realita hidup tidak seindah bayangan, maka ada hal di mana kita seperti dipermainkan oleh rule of life. Ada hal yang sudah diperjuangkan, namun nyatanya mengalah adalah hal yang bijak. Ada hal yang disebut itu cinta, namun masih juga menarik luka. Ada hal yang digaungkan dengan nama keadilan, namun kesengsaraan masih dibawa.

Kadangkala kita sudah berjalan jauh. Meniti hidup sesuai garis ketentuan yang diperuntukkan. Tapi lagi-lagi hidup tidak selancar itu. jungkir balik kehidupan menjadi makanan dan kawan. Namun, sejungkir baliknya hidup, kita harus tetap survive berjalan.

Apa kata pakar dan pelaku literasi ? Berikut petikannya.

“Kumpulan cerpen yang bercerita dengan jujur. Membacanya, saya terbayang seorang teman menceritakan keluh kesahnya. Selamat untuk Inez dan Ulfi untuk karya antologi ini. Semoga tidak merasa puas!” Saiful Haq, penulis, pegiat sosial, mentor Creative Writing.

“Dengan bahasa yang sederhana tapi kaya, Jungkir Dibalik Balik Dijungkir menjadi sebuah bundelan menawan yang dengan renyah mengajak para pembaca menjadi seakan mengikuti kejadian demi kejadian di dalamnya. Membuka mata terhadap realita dan fenomena yang terjadi. Melarutkan pada pemikiran yang panjang dan sangat mendalam.” Nia Kiena, penulis Novel Cinta Komaku, Founder Rumah Sebuku, Founder Wanita Punya Cerita, Mentor Pena Bulir Padi Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang.

“Kumpulan cerpen tersebut sangatlah cocok dengan kehidupan mulai dari usia remaja hingga dewasa. Kumpulan cerpen itu isinya mengungkap fakta- fakta unik di tanah air Indonesia. Cerpen yang berjudul jungkir dibalik, balik dijungkir yang sekaligus menjadi judul dari kumpulan cerpen tersebut merupakan kegelisahan Sukri mengenai perbuatan apa yang harus dilakukan jika berada dalam kondisi yang sudah melampaui batas kritis. Dan peristiwa tersebut seringkali terjadi di kehidupan sehari-hari,” Andi. WY Welly ilianti, penulis buku Alter Ego

Yuk, Yukk, diorder bukunya melalui WA penulis (Ulfi): 081333015743
Id Line: @nulfil | IG: n_ulfi | FB: N Ulfi

Jangan Bisu Jadi Penonton, Mahasiswa Jaman Now Wajib Jadi Juri Pilkada Malang

0

Pilkada yang akan digelar untuk memilih pemimpin Kota Malang sekarang memasuki siapa yang akan mencalonkan diri. Ada sejumlah nama yang sudah muncul di permukaan.

Namun, siapa yang sadar jika kita lupa, atau sengaja dilupakan untuk berbicara kebutuhan Malang dan warganya. Lebih dari siapa pemimpin kita nantinya, apakah politik yang hari ini diperdebatkan sebagai sebuah kebutuhan warga atau kebutuhan elit politik. Dan memang bicara kebutuhan warga Malang memang jauh tidak menguntungkan media karena isunya tidak populis.

Mahasiswa, Juri Netral Corong Warga Malang Jaman Now

Bagi kota-kota besar yang disebut kota pendidikan, saat Pilkada, nampaknya peran mahasiswa tidak begitu ambil bagian. Suatu contoh kota Malang. Sepertinya mahasiswa tidak peduli apa arti dinamika politik demokrasi Malang. Pernahkah mahasiswa membangun suara kritis guna membantu masyarakat Malang ? Meskipun kita tahu, kadang ada demonstrasi aspiratif seperti membantu memperjuangkan nasib relokasi pasar Dinoyo dan Blimbing Malang.

Pada jelang Pilkada seperti ini, peran mahasiswa juga penting didorong mampu menjadi juri pemilihan. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui kreatifitas yang tidak harus melulu demonstrasi.

Pada zaman ini, digitalisasi aspirasi membuktikan lebih efektif dalam menyampaikan pesan. Perubahan informasi dan teknologi melahirkan partisipasi kreatif. Ada salah satu pemuda kreatif yang membuat aplikasi pemantauan hasil pemilu secara online. Aplikasi tersebut langsung dapat digunakan oleh masyarakat umum. Perubahan yang cepat di bidang informasi dan teknologi dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa dalam meningkatkan partisipasinya menjadi juri dalam mendorong lahirnya kualitas partisipasi demokrasi.

Mahasiswa zaman now. Hidupnya akrab dengan teknologi seharusnya juga mampu berkarya dalam penguatan kecerdasan artifisial. Kecerdasan dengan kekuatan permainam bahasa informasi, pemrogramam dan aplikasi dari yang sederhana (gratisan) sampai yang berbayar atau dengan ciptaannya sendiri adalah peluang demokratisasi tanpa batas.

Apalagi saat ini hampir dipastikan gelombang informasi politik sudah digerakkan dengan kekuatan kecerdasan artifisial. Perubahan informasi, atau bahkan telah menjadi lompatan dahsyat (dalam ilmu fisika biasa dikenal dengan istilah kuantum) bagi perubahan mindset dan perilaku orang. Apa yang viral sekarang adalah apa yang menjadi benar dan apa yang salah pula. Jika deliberasi komunal yang masif telah terjadi maka proses pembangunan wacana kebenaran politik tentunya ditentukan oleh kekuatan kebenaran informasi maya.

Masyarakat mengambang (floating mass) justru akan mudah dikonstruksi oleh kebenaran semu tersebut. Contohnya Pilgub DKI, bagaimana politik identitas dipantik dari sebuah potongan video dan masyarakat buta mengonsumsi informasi tersebut. Benar salah sudah tidak lagi bisa dicerna. Benar salah tergantung konstruksi dominan yang mampu menyentuk emosi dan persepsi awam. Kondisi tersebut sangat mudah tercipta dan mempengaruhi publik.

Nah, sebagai mahasiswa, sebagai anggota masyarakat yang terdidik perlu menyadari perannya dan bisa mengambil bagian di gerakan penyadaran politik masyarakat melalui penguatan kecerdasan artifisial. Dalam konteks Pilkada Kota Malang transformasi kesadaran politik demokrasi bisa diciptakan dari kamar-kamar kos mahasiswa atau dari nongkrong di warung kopi dan tempat-tempat rekreatif. Cara ini lebih murah dan membuka kesempatan seluas-luasnya bagi individu mahasiswa.

Bagi saya peran ini wajib diambil mahasiswa. Warga butuh juri agar mampu memilih pemimpin dengan bijak agar pikiran pemilih tidak dikooptasi semata oleh Calon atau Partai. Bukankah mahasiswa menggunakan sebagian besar layanan di Malang ini yang sebenarnya sebagian yang lain mahasiswa harus berbagi dengan warga Malang ? Sudah sepatutnya pikiran cerdas mahasiswa dapat dijadikan sebagai juri politik demokrasi Pilkada yang menyeimbangkan secara adil antara kepentingan calon Penguasa dengan keadilan masyarakat

Sederhana saja. Saat saya diundang PC PMII Kota Malang, saya menyampaikan, jikalau ada 50 rayon yang tersebar di Malang, maka setiap anggora Rayon PMII melakukan reproduksi kritis menggunakan kecerdasan artifisial, maka kita bisa membantu membangun isu politik demokrasi yang berpihal pada kecerdasan politik warga. Kita bisa membuat gerakan kritis masif. Cukup foto realitas kritis, lalu unggah di instagram atau media sosial lain, maka imformasi yang lahir dari mahasiswa pergerakan jauh lebih kredibel daripada produsen hoax ala pemain politik.

Kemampuan tersebut dapat diciptakan melalui lini kepemimpinan media artifisial juga. Cara ini membantu masyarakat agar tidak terjebak dalam logika kebohongan dalam menyerap informasi politik jelang pemilihan Walikota Malang. Peran juri ini dapat memberikan tersedianya informasi politik yang lebih memihak pada logika kritis ketimbang logika kebohongan yang sangat menguasai jagat pikir masyarakat yang sudah tidak bisa dilepaskam lagi dari pengaruh arus deras informasi dunia maya.

Saat yang Lain Menunggu dengan Bengong, Mahasiswa Ini Melejit Melampauinya

0

Mengajar dengan memantik motivasi sehingga mahasiswa melejit dengan kemauannya sendiri menjadi pekerjaan yang rumit. Ada perbedaan nyata di cara belajar di kelas. Sebagaimana biasanya, mahasiswa menunggu dan mengikuti kuliah dengan penuh disiplin dari satu materi ke materi yang lain. Mereka mengerjakan tugas dan akhirnya menjawab soal-soal Ujian Akhir Semester dan mendapat nilai.akhir. Semua berlalu begitu saja dan masuk pada episode semester depan dengan mengulang lagi cara belajar yang sama.

Energi paling banter biasanya mengerjakan tugas paper, mampu membuat tulisan dan dikumpulkan ke dosen. Dibaca dan menunggu balasan. Biasanya dibaca kalau akan dikembalikan tetapi kalau tidak ada kewajiban memberi feedback, cukup diliha-lihat sekilas saja. Lalu dinilai. Proses belajar begini sepertinya banyak terjadi pada matakulaih ilmu-ilmu sosial. Ada sedikit berbeda bagi matakuliah yang ada praktikumnya yang proses dan hasilnya lebih nyata.

Pada kegiatan seperti itu, hasil akhirnya adalah nilai yang diberikan oleh dosen. Mahasiswa berbondong-bondong berburu nilai dengan perjuangan penalaran murni. Motivasi mereka terfokus pada nilai yang dampak nilai itu hanya diakumulasi pada ijazah. Hasil kerjanya nyaris belum sepenuhnya dapat digunakan langsung atau menjadi salah satu praktik kapitalisasi ide sehingga keuntungannya bisa dirasakan langsung.

Proses-proses begitu yang lebih dominan di kelas-kelas kuliah. Apalagi ketika di awal kuliah, tujuan kuliah sepenuhnya dirumuskan oleh dosen tanpa melibatkan suara mahasiswa.

Kuliah psikologi sosial kali ini dikelola dengan mendorong terciptanya pembelajar mandiri dari mahasiswa. Tujuan kuliahnya pun dibagikan tidak hanya tujuan normatif yang disusun melalui otoritas kurikulum dari atas (dosen dan institusi) tetapi mahasiswa diminta membuat tujuan kuliahnya sendiri. Mahasiswa ditantang agar hasil kuliah dapat berdampak langsung pada hidup sukses mereka sehingga mereka bisa merasakan langsung nilai tambah finansialnya. Ini yang saya sebut dengan kapitalisasi ide keilmuan. Mereka diberi kebebasan melakukan kreasi dan inovasi secara berkelompok. Saya sebagai dosen hanya memandu mereka merumuskan capaian nyata dan mengawal agar isi capaian mengacu pada tema-tema keilmuan psikologi sosial.

Ternyata cara seperti ini menjadi titik balik karena melawan budaya bisu. Kebiasaan diberi kuliah, mendengarkan presentasi yang tidak membutuhkan daya juang agar ide kuliahnya dapat bernilai sehingga mahasiswa mengenali miniatur suksesnya secara nyata, ternyata saya rasakan ada banyak yang shock. Mereka berdiam diri, menunggu dan mulai muncul banyak alasan di sana sini.

Apa hikmahnya ?

Ada mahasiswa yang disentil kemudian menemukan ritme belajar mandirinya. Jiwa mereka tergugah dan melejit. Mereka tidak mau terjebak dengan masalah dan hambatan. Meski begitu mereka bukan tanpa masalah.

Buku melawan arus, adalah perwujudan praktis psikologi sosial yang tersaji dalam untaian produk motivasi. Bobot teorinya bernilai implisit tetapi produksi keilmuan yang tersaji dalam buku bernilai praktis, bahkan ekonomis. Praktis dalam arti produk teorinya diterjemahkan kedalam nilai-nilai kehidupan nyata, bukan semata tersaji dalam rentetan teks ke teks. Ekonomis berarti entreprener. Mahasiswa langsung menemukan nilai bisnis dari keilmuannya sehingga miniatur sukses bisa langsung digengam.

Saat yang lainnya masih saja bingung dan hanya menjadi penonton, buku melawan arus benar-benar melawan kelaziman. Buku melawan arus adalah buku yang menohok bahwa berdiam diri dengan masalah hanya menjadikan pribadi kita penonton orang sukses. Sementara buku melawan arus sudah diorder padahal belum masih proses cetak. Sementara yang lainnya masih terjebak dalam budaya bisu.

Sebelum kuliah berakhir, dengan semangat melawan arus, para penulis buku ini telah mampu melejitkan dirinya melampaui kemapanan yang masif ada di ruang-ruang kelas. Mereka melawan arus kebisuan.

Mohammad Mahpur. Dosen Psikologi Sosial, Fasilitator untuk pengembangan komunitas, parenting, pendidikan dan kewirausahaan.

Untuk pemesanan, hubungi Dwiky di WA +62 838-4871-2666

Seri Cerita Anak : Kacamata Onde, Empat Potong Cerita

0

Teman-teman, kami perlu minta maaf karena tak lekas memberi kabar lanjutan tentang buku “Kacamata Onde”. Semoga teman-teman belum telanjur kecewa. Selain memberi (ketidak)kejelasan lanjutan, bolehlah kita ngobrol sebentar.

Kita tahu, Indonesia mulai bergairah pada buku anak-anak. (Kita tidak bisa mengatakan era buku Inpres-nya Orde Bau itu sebagai “gairah”, to? Haha.) Buku anak dengan rupa-rupa tema, kita jumpai di toko-toko buku. Kita ingin segera membelikan anak-anak kita, keponakan, atau adik-adik buku-buku bagus. Tetapi, buku anak tidak selalu murah, lebih sering muahal karena pemanjaan mata yang mesti diperoleh bocah saat membaca. Hanya saat pameran akhir tahun atau di toko buku bekas kita bisa menjumpai buku-buku anak berharga murah.

Kami sangat ingin buku “Kacamata Onde” bisa dimiliki bocah-bocah dengan harga tidak mahal. (Kami pikir harga cetaknya juga akan seperti buku-buku terbitan Bilik sebelumnya.) Maka, selepas memamerkan poster ke teman-teman, dengan baik hati Pak Patrick Manurung mengajak saya dan Mbak Setya Ningsih ke Jogja buat cetak-coba ini buku. Kami ke Ortindo, daerah Gejayan. Satu buku jadi dalam hitungan jam.

Buku digital yang mulanya hanya bisa terlihat di layar mewujud di tangan. 52 halaman berwarna, di atas kertas bookpaper. Rasanya sangat menyenangkan-hampir-lebih-terasa-mengharukan bisa memegang buku anak kedua kami itu! “Apiiiiiiiiiiik!” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut kami saat menghadapinya. Meski saat dilihat dengan seksama lagi, masih ada yang perlu dibenahi (huruf yang luput ter-convert, pindaian bermerek “canson”, dan warna). Tetapi tetap saja, melihat buku itu benar-benar hadir sebagai buku cetak yang bisa dipegang-pegang, dibolak-balik halamannya, oh!

Tetapi, ada rupa, ada harga. Buku cetak-coba mesti ditebus dengan 150 ribu. Saat itulah kami benar-benar mengalami dan mengerti kenapa buku anak penuh warna selalu berharga mahal. Kami menatap buku dengan sedih-sedih-mringis-tapi-seneng-juga-tapi-gimana-masa-mau-jual-buku-dengan-harga-segitu-huf. Wajah kami jadi kemrungsung juga.

Pak Patrick yang ikut terjerumus ke masalah kami (dan ikut bingung pula. Hahaha) mengajak ke percetakan temannya, Pak Oscar. Di sana, sambil ngobrol, terjadilah hitung-menghitung lanjutan. Hasilnya, dengan sistem POD, buku akan tetap berharga 100 ribuan per eksemplar. Meski bisa saja nekat cetak terbatas, kami tak mau buku berharga 100 ribu. Bocah mau bersenang-senang bersama buku saja kok, pakai mahal banget!

Setelah makan Indomie goreng, gorengan, es teh, dan rasan-rasan perbukuan anak di Indonesia di Burjo sebelah rumah Pak Oscar, kami pulang, membawa oleh-oleh masalah. Hari ini, kami berkabar pada teman-teman, juga demi berbagi masalah. Biar teman-teman tidak melulu mikirin masib sial tiang listrik yang tercederai oleh Setn*v gitu lho…

Akhirnya, atas nama Gusti Allah Foundation, buku “Kacamata Onde” berharap dapat cetak awal tahun depan dengan harga 45 ribu saja (jika dirimu memesan sekarang) atau 50 ribu saja (jika dirimu membeli setelah buku berhasil tercetak). 52 halaman penuh warna, kertas bookpaper! (Dan semoga saja bocah-bocah juga Bapak Ibu sekalian suka dengan cerita dan gambarnya!)

Jika teman-teman ingin berinfak untuk menambah dana cetak atau ingin memiliki buku, kami akan dengan senang hati menyambut!

Tak usah malu buat bertanya atau membagikan berita seru ini kepada kekasih, kerabat, teman, mertua, calon mertua, adik, kakak, Bapak Ibu Guru SD tempat Anda mengajar atau pernah belajar, dan kepada orang-orang yang menurut Anda akan mau ikut memiliki dan membaca buku ini. Terima kasih bangeeeettt!

Salam manis,
Na’im (085736294414)
Setya (085647037115)

Berbahagia Bersama Masalah, Mungkinkah Dijalani ?

0

Dalam hidup ini, siapa yang tidak menghadapi masalah? Mulai dari bayi baru lahir sampai lanjut usia, tentu setiap saat harus menghadapi masalah. Baik itu masalah yang terlihat sepele namun sebenarnya besar maupun masalah yang benar-benar besar. Jadi, menghadapi masalah adalah fitrah kita sebagai manusia. Maka, hadapilah setiap masalah yang ada dengan bahagia. Sebisa mungkin bertahan, jangan sampai putus asa! Putus asa hanya akan merugikan diri sendiri.

Bahagia bersama masalah, bagaimana biisa?

Bisa. Selama keyakinan dalam diri terbangun teguh, kita akan bisa menghadapi setiap masalah yang ada dengan bahagia. Caranya? Bersahabatlah dengan setiap masalah yang Tuhan hadirkan. Terimalah sebagai tantangan bagi pendewasaan diri. Asyik bukan, jika hidup ini kita jadikan sebagai wahana dalam lokasi out bond? Bermain, belajar, menghadapi halang rintang mencapai tujuan. Malah, tentu kita tidak merasa lelah. Penuh semangat dan tak ingin semua berakhir begitu saja.

Nah, inilah tips sederhana untuk kita bisa bahagia dalam mengadapi dan menyelesaikan masalah :

Pertama, yakinilah bahwa Tuhan memberikan masalah kepada kita, bersama solusinya. Ibarat masalah di tangan kanan, maka solusi ada di tangan kiri. Begitu juga dengan sebaliknya.

Kedua, ketika masalah singgah, sambutlah dengan senyuman. Dalam senyum itu, tuangkanlah semangat kepada diri sendiri untuk bisa berpikir, berperasaan dan bersikap positif. Nah, nilai-nilai positif dalam diri inilah yang akan membuat kita ringan hati dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap masalah.

Ketiga, jika ternyata memerlukan teman untuk diskusi, maka bukalah lebar-lebar pintu hati kita. Agar apa? Agar kita bisa segera membuka diri kepada orang tua, guru, teman atau sahabat yang bisa kita percaya. Ingat, bukan hanya bisa kita percaya, tetapi juga kita pandang mampu memberikan pencerahan dan ide-ide menuju jalan keluar permasalahan.

Keempat, saatnya tersenyum manis di hadapan Tuhan untuk memohon petunjuk dan persetujuan. Jika hati telah mantap, maka jurus terakhir adalah penyelesaian masalah. Yakinlah, tidak ada kesulitan melainkan bersamanya Tuhan sertakan kemudahan.

Indah bukan, berbahagia dalam setiap masalah yang singgah.
Salam bahagia.

Sleman, 21 November 2017

Humairah Samudra. Penulis yang juga anggota Indonesia Menulis Online. Saat ini bersama anggota group yang berafiliasi di whatsapp sedang mengerjakan proyek menulis bersama tentang Cerita Anak.

Temanku yang Kini Di Atas Kursi Roda

0

Lebih dari dua puluh satu tahun yang lalu, kamu adalah seorang gadis periang, centil dan kemayu. Dengan paras ayumu kamu bisa menggoda banyak teman pria di sekolah. Dengan genit kau merayu guru untuk mendapatkan nilai bagusmu. Sri Indarti itu namamu dan yang pupuler dengan nama Iin.

Sekian lama tak tahu apa kabarmu. Dimana kamu tinggal, anakmu berapa, apa pekerjaanmu, suamimu siapa, aku tidak tahu sama sekali. Bahkan waktu acara reuni 2007 itupun kau tak datang. Hanya ada cerita bahwa kau tinggal di Jakarta bersama keluarga dan bahagia.

Namun kabar itu berputar terbalik ketika tiga bulan yang lalu, ada kabar sangat mengejutkan yang menyatakan kau lumpuh dan buta. Karena kesibukanku mendampingi anak juga waktu yang belum cocok dengan temen, belum sempat untuk menjenguk.

Akhirnya berunding dengan temen-temen di grup WA yang dulu pernah sekelas waktu kelas 1 SMK (dulu SMEA). Di hari sabtu kemarin bersama-sama menjenguk Iin. Kebetulan yang bisa ikut menjenguk adalah temen-temen yang suka sembrono, walau bukan temen dekat.

Sungguh kaget tatkala kursi roda bergerak keluar dari balik korden pintu. Sungguh diluar dugaan kalau dirimu berada di kursi roda. Rambutmu yang pendek, tipis, bercampur warna sangat beda jauh dengan rambutmu yang selalu terurai panjang berkilau kala itu.

Pandangan matamu yang menerawang jauh seoalah mencari sosok di kejauhan. Ternyata kau berusaha mengenali siapa yang datang hari padamu hari itu. Dengan suara yang bergetar, kau tebak kami satu per satu. Dengan kau mengingat suara dan mengenali bayang-bayang kami dari sisa-sisa cahaya yang masuk ke retinamu.

Sungguh hati ini pilu dan teriris perih melihat kenyataan yang dialami seorang teman sendiri. Sungguh berbedaan yang sangat jauh dari waktu dulu. Dalam dua puluh satu tahun sungguh waktu yang panjang yang bisa merubah keadaan. Dan itu nyata.

Penyakit diabetes yang membuatmu seperti ini. Faktor genetik yang menjadikanmu harus mengalami ini semua. Dua tahun kau menahan semuanya. Bersyukur dua bidadarimu senantiasa di dekatmu. Mendampingimu, merawatmu dengan cinta, kasih sayangnya, dan sabarnya. Di balik kerapuhanmu ada kekuatan yang membuatmu bertahan.

Diabates yang diderita oleh seorang ayah, telah dibawa oleh delapan anaknya. Dan ke delapan anak itupun menderita karena penyakit itu. Iin adalah anak keenam. Dia yang pertama ketahuan menderita, dan dia yang bertahan lama. Karena dua kakaknya telah kalah melawan penyakit itu. Betapa hancur hatinya dengan kenyataan itu.

Dia belum bisa menerima kenyataan hidupnya yang seperti itu, yang dari hari senin sampai sabtu selalu berkunjung ke Rumah Sakit. Dari poli syaraf sampai cuci darah seminggu dua kali. Sungguh berat memang, apa yang dia alami. Dari itu kami sebagai temanya dulu, datang untuk memberikan motivasi agar tetap semangat melawan penyakit demi anak-anaknya.

Iin, terima kenyataan ini dengan ikhlas. Percayalah bahwa Allah punya rencana yang lebih bagus setelah ini. Allah tak akan menguji hambanya lebih dari kemampuannya. Serahkan semua kepadaNya, berserahlah pada titik yang paling rendah. Lawanlah sakitmu, tetaplah semangat demi anak-anakmu. “Yakin, kamu bisa.” Itu yang bisa kuucapkan untuknya sebelum aku memeluk dan meninggalkannya.

Kami pun berpamitan pulang, melanjutkan agenda masing-masing.

Whandri Ferita. Partisipan Indonesia Menulis Online angkatan pertama.

Manfaat Kesehatan dari Ziarah dan Berwisata

0

Sudah menjadi rutinitas keluarga besar jika setelah lebaran kami pergi ziarah ke makam para Wali Songo, Waliyullah, dan para ahli sufi lainnya. Biasanya kalau untuk ziarah ke makam wali songo, yang paling dekat dan terjangkau adalah makam Sunan Gunung Jati yang memiliki nama asli Syekh Syarifuddin Hidayatullah, yang berlokasi di Cirebon, Jawa Barat.

Untuk rutenya masih sama seperti biasa, setelah dari Cirebon, aku dan keluarga besar segera meluncur ke tujuan berikutnya yaitu makam Waliyullah Syekh Abdul Muhyi yang berada di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Sesampainya di sana kami langsung menuju tempat penginapan tanpa perlu mencari tempat, karena sudah sering berkunjung. Memang sejak awal turun dari bis, udara dingin sudah mulai kurasakan, sehingga rasa kantukku hilang. Tapi tidak dengan keluargaku yang langsung ganti baju dan tidur untuk persiapan esok pagi. Terlebih setelah keluar dari kamar mandi, aku sungguh tak dapat memejamkan mataku, padahal keluargaku sudah mulai memasuki alam mimpi yang ditandai dengan suara dengkuran.

Tanpa pikir panjang lagi, aku segera pergi ke masjid dimana jaraknya berdekatan dengan tempat penginapan. Ku dirikan sholat sunnah, berharap ku bisa lebih tenang, lebih berdamai dengan lingkungan baru, dan segera tidur.

Tepat pukul 06.00 WIB, aku dan keluargaku sudah siap untuk ziarah ke makam Waliyullah Syekh Abdul Muhyi. Disana ada banyak sekali rombongan ziarah dari berbagai daerah di indonesia.

Pulang dari pemakaman, aku dan keluargaku langsung menuju Goa Pemijahan yang memiliki nama lain Goa Safarwadi, terletak di desa Pemijahan Tasikmalaya, jawa barat. Untuk dapat ke Goa Safarwadi, kami harus melewati tanjakan dan turunan yang terjam. Berjalan menikmati suasana sejuk yang tak ada di kota, dimanjakan dengan indahnya pemandangan alam semesta, sambil bermesraan dengan keluarga inti dan sesekali mengambil gambar dan video guna mengabadikan momen.

Saat kaki sudah tak mampu melangkah, beristirahat lah. Maka aku dan keluargaku sesekali duduk di musollah di pinggir jalan yang kami lalui dan membeli aneka jualan makanan yang masih hangat. Selain itu, di sisi jalan ini pula banyak sekali yang menjual baju koko, mukena, tasbih, kolang kaling, baju bergambar Gua Safarwadi yang menjadi oleh-oleh para wisatawan mancanegara.

Fasabbih Bismirobbikal Adziim
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar.

Seperti yang sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW, saat perjalanan turun aku membaca tasbih “Subhanallah Walhamdulillah Wa Laailaha Ilallah Wa Allahu Akbar” dan berbeda saat menanjak, aku justru menyuarakan takbir “Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar” ku ulangi begitu seterusnya sampai aku dan keluargaku tiba di Goa Safarwadi.

Menurut pemandu wisata, di Goa Safarwadi terdapat lorong yang dapat tembus menuju Banten, Cirebon sampai Mekkah. Di dalam Goa juga terdapat sumber mata air yang jernih seperti air zamzam, serta lekukan-lelukan bulat yang menyerupai peci. Kemudian kami di suruh untuk mencoba semua lubang tersebut yang menurut beberapa sumber, jika salah satu lubang~menyerupai kopiah haji~ yang pas saat berdiri, maka ia akan melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu pergi haji ke Baitullah di tanah suci Mekkah, insyaa Allah.

Dalam perjalan rihlal ziarah dan wisata kali ini, ada berberapa manfaat umum yang dapat diambil, di antaranya;

  1. Meningkatkan rasa solidaritas.
  2. Mengukuhkan ukhuwah.
  3. Memperbaiki kembali kerenggangan ukhuwah.
  4. Membangun kebersamaan terhadap sesama.
  5. ‎Menjalin hubungan baru diantara para peziarah dan wisatawan.

Sedangkan manfaat khususnya adalah kesehatan jasmani dan rohani. Mengapa demikian? Ya, karena kita dapat melakukan berbagai macam kegiatan seperti jalan santai atau berlari kecil sesekali mengejar rombongan, yang mungkin ketika di kota sudah sibuk dengan urusan masing-masing sampai lupa untuk menyapa walau hanya say hello. Adapun manfaat rohaninya, rihlah bukan hanya menikmati panorama alam semesta saja, sebab jika niat karena Allah, apapun itu kan bernilai ibadah. Insyaa Allah. Selain itu, dapat meningkatkan kualitas iman yang di aplikasikan melalui akhlakul karimah dan lebih bertakwa kepada Allah SWT.

Zr. Runekaf. Tinggal di Tambun Bekasi dan saat ini sudah bekerja di Inhouse Clinic dan RSCM sebagai Perawat. Kesibukan lainnya sebagai Pendidik PMR di PPDA Cibitung. Admin Odoj G3527 F57. Pengusaha Paytren dan Milagros.