Rabu, Agustus 26, 2026
Beranda blog Halaman 98

Dicari, Orang yang Ingin Kaya sebagai Petani

0

Pastikan, diri anda sebagai bagian dari orang yang terlibat menyiapkan dan membangun lapis baru generasi petani Indonesia.

Apa itu lapis baru generasi petani ?

Artin
ya ini satu angkatan petani yang adaptif terhadap teknologi, bertani dengan cara baru, mindset baru, yaitu lapis petani entrepreneur yang cakap dalam bertani, terampil dan mandiri.

Anda berminat dan ingin berbagi ilmu, pengalaman dari keahlian di lapangan….TANPA BATAS!

Lebih lanjut, mari kolaborasi di Komunitas #NgajiTani ! dengan mengakses formulir di http://bit.ly/2hucTSx atau hubungi 081235270127

Baca juga ;

Ngaji Tani 1 : Hilangkan Rasa Malas Petani, Ayo Membuat Pupuk Sendiri !
Kampung Cabe, Kemandirian Pangan Melalui Ngaji Tani

Jika Anda ingin tahu beberapa kegiatan yang sudah diunggah di kampusdesa tentang Ngaji Tani, silahkah membuka link di #NgajiTani

Manakib Tradisi Keilmuan Santri untuk Indonesia Emas

1

Proses islamisasi nusantara terutama jawa menghasilkan sesuatu yang begitu penting yaitu lahirnya tradisi keagaaman santri dalam kehidupan sosio kultural masyarakat nusantara. Tradisi keagamaan santri ini dengan pesantren serta kyai telah menjadi inti terbentuknya tradisi monumental Islam nusantara, yang secara substansial merupakan hasil akulturasi antara tradisi Islam dan tradisi asli nusantara. Seperti yang disebutkan oleh H.J. Benda bahwa proses Islamisasi di jawa telah melahirkan peradaban santri (santri civilization), yang memiliki pengaruh sangat besar. Sementara Clifford Geertz memandang kehadiran Islam di jawa telah membentuk varian sosio kultural masyarakat Islam jawa yang biasa disebut Santri, yang benar-benar berbeda dengan tradisi sosio kultural lainnya, yaitu Abangan dan Priyayi.

Tradisi Santri dan Kyai merupakan unsur kebudayaan Islam-Jawa yang memiliki pengaruh besar terhadap dinamika kehidupan agama, sosial dan politik dalam masyarakat Jawa dan Nusantara, hal tersebut terjadi secara terus menerus mulai masa tradisional, masa kolonial hingga Indonesia merdeka. Sebut misalnya pada saat pendirian kerajaan Demak, Banten dan Cirebon konstribusi tradisi Santri dan Kyai sangatlah besar disana, pada era kolonial juga begitu, ketika era kerajaan-kerajaan Islam runtuh tradisi besar Santri kembali menjadi basis kekuatan sosial politik di pedesaan untuk melawan kolonialisme belanda, hal teresebut berlanjut ketika masa pertumbuhan nasionalisme Indonesia dengan munculnya organisasi mulai dari Sarekat Dagang Islam, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Partai Sarekat Islam hingga Masyumi, dan Partai Nahdlatul Ulama hingga lahirnya partai yang lain mulai PPP, PBB,PAN hingga PKB.

Tradisi Intelektual Santri

Santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti orang yg mendalami agama Islam, orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yg saleh), Orang yang mendalami pengajiannya dalam agama islam dengan berguru ketempat yang jauh seperti pesantren dan lain sebagainya. Ada yang menyebut, santri diambil dari bahasa ‘tamil’ yang berarti ‘guru mengaji’ ini seperti pendapat Zamakhsyari Dhofier yang mengutip pendapat  Johns. Ada juga yang menilai kata santri berasal dari kata india ‘shastri’ yang berarti ‘orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci’ ini adalah pendapat C.C. Berg. Selaras dengan Berg, Cliford Geertz menduga, bahwa pengertian santri mungkin berasal dan bahasa sangsekerta ‘shastri’, yang berarti ilmuan Hindu yang pandai menulis, yang dalam pemakaian bahasa modern memiliki arti yang sempit dan arti yang luas. Dalam arti sempit, ialah seorang pelajar yang belajar disekolah agama atau yang biasa disebut pondok pesantren, sedang dalam arti yang lebih luas, santri mengacu pada bagian anggota penduduk Jawa yang menganut Islam dengan sungguh-sungguh.

Selain itu, berdasarkan telaah sejarah, santri memiliki tradisi intelektual yang tidak bisa dipandang sebelah mata, beberapa sumber mengatakan bahwa Santri memiliki tradisi berkelana untuk mengunjungi padepokan yang satu ke padepokan lainnya, dari pondok yang satu ke pondok lainnya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dari para guru atau Kyai,  tradisi berkelana ini juga digunakan para santri untuk mempraktekkan ilmunya. Tradisi berkelana ini sebenarnya telah ada sejak wali sembilan atau bahkan sebelumnya, dari berbagai sumber dikisahkan bagaimana Raden Syahid atau lokajaya dulu mengembara berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk menuruti titah gurunya yaitu Sunan Bonang.

Selain berkelana, santri jawa juga memiliki riwayat menjunjung tinggi dialog ilmiah melalui tradisi diskusi dan debat, tradisi tersebut dimulai semenjak zaman wali sembilan. Dan sudah diketahui bersama bahwa wali sembilan merupakan sebuah forum bertemunya para wali di tanah jawa untuk merancang dan mengembangkan dakwah serta membangun desain pemerintahan  di tanah jawa. Perlu diketahui bahwa anggota dari wali sembilan memiliki keahlian masing-masing ada yang ahli pemerintahan, ahli ekonomi, ahli budaya, ahli strategi dan lain sebagainya, maka tak heran ada yang mengatakan bahwa sebenarnya landscape ilmu pengetahuan di tanah jawa bisa digambarkan dengan posisi geografis wali sembilan di tanah jawa.

Gambaran monumental mengenai sepak terjang santri jawa dalam membangun dan merawat tradisi keilmuan diatas merupakan modal besar bagi santri zaman sekarang untuk bisa meneladani dan merawat tradisi keilmuan para santri terdahulu. Dengan berpegang teguh pada kaidah ushul fiqh yaitu “Al Muhafadhah ala-l qodimis sholih wa-l akhdzu bi-l jadid-il ashlah” dan bagi santri kaidah tersebut merupakan spirit continous improvement yang autentik untuk dijadikan landasan melaksanakan perintah agama dalam dzikir, pikir dan amal sholih.

Konstribusi Santri untuk Indonesia

Secara tersurat maupun tersirat dengan adanya pengakuan negara atas keberadaan santri dengan ditetapkannya tanggal 22 oktober sebagai hari santri nasional merupakan panggilan bangsa kepada para santri untuk lebih berperan secara nyata kepada bangsa dan negara diberbagai bidang mulai dari ekonomi, politik, hukum, sains dan teknologi serta sosial humaniora.

Dengan bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini, menjadi sebuah keniscayaan Indonesia untuk menjadi negara yang Baldatun Toyyibatun Wa Rabbun Ghofur di usia emas tahun 2045 nanti, tentu hal tersebut membutuhkan peran serta santri secara signifikan diberbagai bidang dengan modal manakib tradisi santri jawa yang begitu monumental.

Melalui peringatan hari santri nasional yang ke-3 ini seyogyanya kalangan santri mulai melakukan sebuah refleksi dan menata formulasi diri untuk mandiri, percaya diri, lincah, berwawasan luas dan berahlak mulia untuk terus menjadi motor perubahan dalam melaksanakan khidmah kepada umat dimanapun dan dalam posisi apapun. Selamat hari santri 2017. Santri Kuat, NKRI Hebat.Wallahua’lam

(Artikel telah diterbitkan di Jawa Pos Radar Bojonegoro 22 Oktober 2017)

Jumpa Pendidik yang Memanusiakan

0

Hadirilah Jumpa Pendidik yang Memanusiakan! Terbuka untuk Umum.

Konvensi Pendidikan V

“MENAPAKJEJAKI OASE PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN”

???? A G E N D A : ????
(1) Refleksi Pendidikan 2017 dan Prospek 2018
Dihadiri Oleh :
???? Dr. Abdullah (Direktur GTK PAUD DIKMAS)
Diskusi terfokus antara para pelaku pendidikan PAUD dengan Dr. Abdullah. Para pelaku pendidikan dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengurai aneka jalan keluar seputar PAUD

(2) Pengembangan Jejaring Sekolah yang Memanusiakan
Arena untuk saling terhubung bagi sekolah-sekolah yang sudah menerapkan pendidikan yang memanusiakan. Para pelaku pendidikan bisa saling terhubung untuk bertukar kekuatan dalam mengembangkan perluasan dan implementasi pendidikan yang memanusiakan.

(3) Bursa & Berbagi Pengalaman Best Practice Pendidikan yang Memanusiakan
Anda dapat melihat atau berkonsultasi pada para pelaku pendidik yang sudah menerapkan pendidikan yang memanusiakan. Anda juga bisa memanfaatkan pameran ini untuk menunjukkan pada khalayak, bahwa pendidikan yang anda kelola sudah sesuai dengan pendidikan yang memanusiakan. Anda juga bisa memamerkan keunggulan sekolah yang anda kelola, atau keunikan lain yang telah dilakukan selama ini untuk menginspirasi para tamu yang datang.

Hari Minggu| Tanggal 30 Desember 2017 Pukul : 09.00 s/d 16.00 WIB

TEMPAT : Gedung DPRD Kabupaten Pasuruan Jl. Baci, Bangil, Bangilan, Panggungrejo, Pasuruan

Ajang temu Pendidik dan konsolidasi pendidikan memanusiakan. Mari saling berbagi pengalaman dalam pengelolaan pendidikan yang memanusiakan. Mari bangun kekuatan melakukan perubahan pendidikan melalui keunggulan-keunggulan berkemanusiaan.

Panitia mengundang Saudara pelaku pendidikan untuk menulis pengalaman nyata yang inovatif, unik, dan inspiratif seputar Pendidikan yang Memanusiakan. Tulisan yang Anda sumbangkan sangat bermanfaat untuk menginspirasi pelaku pendidikan lainnya untuk melakukan perubahan. Kadang, perubahan menjadi jauh lebih sulit jika dilakukan dari perubahan berpikir langsung melalui informasi verbal melalui seminar atau ceramah, tetapi dengan menyuguhkan pengalaman yang sudah ada, pikiran orang langsung tertuju ke model nyata. Perubahan ternyata bisa dilakukan. Untuk itulah, tulisan para pelaku pendidikan dari pengalaman yang ada, akan menjadi amal inspiratif menciptakan pendidikan yang memanusiakan.

Mari membikin tulisan seputar pendidikan. Boleh jika Anda adalah para Guru, Pelaku pendidikan, Pendidik,  Pengelola sekolah, atau semua orang yang peduli terhadap pendidikan yang memanusiakan.

Format tulisan bebas dan mudah dipahami. Disarankan disertai foto-foto unik. Panjang tulisan +/- 2000 kata.

Konsultasi tulisan dan/atau hasil tulisan hubungi ;
Najmah Katsir     : +62 856-4978-6707 (WAon)
Alfin Mustikawan : +62 858-5656-9150 (WAon)

Akan ada bagi-bagi doorprize puluhan buku

Konfirmasi kehadiran ke Nara hubung :
Kentar Budhojo  : 081333193605
Nanang               : 08973806033

Diselenggarakan oleh OLDWA (Ojo Leren Dadi Wong Apik)

Disediakan tempat istirahat bagi peserta yang dari jarak jauh ala pesantren

Didukung oleh Taman Bunda Pasuruan | PP Darul Mukmin | Sekolah Garasi | MTsNU Pakis | Sekolah Dolan | kampusdesa.or.id | Gusdurian Malang | Penerbit Kota Tua | TIMES Indonesia | TIMES Lovers |

Terbuka untuk para sponsorship

Paman, Mengapa Salamku Kau Abaikan ?

0

Hujan masih merinai mesra, ketika adzan Subuh menggema. Syukur dalam debur bahagia, begitu ringan hatiku untuk menjalankan syariat-Nya. Kini tugasku membangunkan suami dan anak-anak yang tertidur pulas. Ya, Jakarta menjadi kota besar yang sejuk setiap  kali hujan menyambangi bumi.

Sayup sampai di antara gemericik hujan, kudengar ada yang mengetuk pintu. Kutinggalkan dapur dan segala aktifitas di sana dengan penasaran yang begitu besar. Siapa pagi-pagi begini ?

Setelah memastikan tombol merah menyala pada rice cooker, aku mengambil kunci rumah yang biasa kami simpan di atas kulkas. Sejenak pandang kuedarkan ke sekeliling dapur. Cerek sudah duduk manis di atas kompor dengan api sedang. Mesin cuci pun sudah bekerja dengan sempurna. Di meja kecil dekat kompor, ada brokoli, bayam dan wortel yang tadi kutiriskan. Ahhh, kadang takjub pada diri sendiri! Penasaran demikian besar menggulung, tapi masih sempat mengamati sekitar. Mungkin, karena sudah menjadi rutinitias pagi sejak sebelas tahun silam. Ya, setelah menikah.

“Paman? Ya Allah, kok nggak kabar-kabar mau dateng?” Kaget aku, mendapati Paman basah kuyup di teras.

Aku sibuk mencari keset untuk Paman sambil nyerocos melempar pertanyaan-pertanyaan. Tapi tak satupun pertanyaanku dijawab oleh beliau.

“Ah mungkin beliau tidak mendengar,” kataku dalam hati.

Ya, karena aku bertanya sambil jalan sana sini mencari keset dan mengambil handuk untuk mengelap kepalanya yang basah oleh air hujan.

“Paman, ini teh hangatnya ya, di meja luar”

Aku bicara dari balik pintu kamar tamu yang tertutup rapat.

Tak lupa aku menyiapkan sarapan serta bekal untuk suami dan anak-anak, kemudian melepas mereka sampai diteras rumah. Jika pagi hari, anak-anak berangkat sekolah diantar oleh suamiku dan ketika pulang tugasku yang menjemputnya.

Mereka berangkat penuh semangat, aku mengerjakan tugas domestik lanjutan, mencuci piring, menyapu dan mengepel. Belum selesai mengepel lantai. Mesin cuciku menjerit artinya mencuci telah selesai dan pakaian siap dijemur.

Tak terasa jam dinding menunjukkan pukul 10.00 WIB waktunya jemput sekolah adek. Makan untuk Paman pun sudah saya siapkan.

“Paman, aku jemput adek dulu ya. Assalamu’alaikum..”

Lagi, salamkupun tidak terjawab. Nampaknya Paman masih tertidur pulas, kecapekan selama berjam-jam tubuhnya terguncang kecil oleh ular besi yang membawanya.

Baru beberapa meter aku menjalankan motor, tetiba terdengar bunyi panggilan dari handphone. Aku membiarkannya, nanti saja jika sudah sampai sekolah akan aku telp balik, pikirku. Namun nada dering itu kembali terdengar. Baiklan aku mengalah, menepi dan mematikan mesin motor. MAMI, sebuah nama nampak di layar handphoneku.

“Assalamu’alaikum. Ada apa Mi?”

“Wa’alaikumsalam, tidak apa-apa.  Ini mami mengabarkan kalau sekarang sudah di dalam bus perjalanan ke Sukorejo. Ada lelayu. Adik papi meninggal,” suara dari seberang sana yang nyaris membuatku tak percaya.

“Adik Papi meninggal ?” Tanyaku melongo tanpa melafat kalimat istirja’.

“Iya, adik papi meninggal..”

“Lho, Paman sedang main ke sini kok Mi. Beliau sedang tidur di rumah. Baru sampai tadi subuh kehujanan.”

“Yan, jangan bercanda kamu ya. Mami dapat kabar lelayu. Paman semalam kecelakaan dan meninggal.”

Aku masih tak percaya, kututup pembicaaran itu tanpa salam kemudian puter balik kerumah, memastikan bahwa Paman baik-baik saja dan sedang tidur dikamar.

Secepat mungkin aku parkir motor dan langsung membuka pintu menuju kamar tamu.

“Assalamu’alaikum, Paman, Paman !”

Berulang kali kuketuk-ketuk pintu, tapi tidak ada jawaban jua. Akhirnya kuberanikan diri mendorong. Betapa terkejutnya aku, ketika kudapati tempat tidur yang kosong dan semua benda utuh seolah tak tersentuh di tempat yang sama.

Mataku mulai menghangat. Ada genangan bening yang membola di sudutnya. Perlahan jatuh satu, dua dan menganak sungai di kedua pipiku. Tubuhku mulai lunglai. Jadi, kabar itu benar adanya. Lalu, lalu, siapa yang kuajak bicara subuh tadi? Ataukah ?

Pantas saja tangan yang kujabat dingin. Kukira karena air hujan. Pantas saja semua pertanyaanku tidak dijawab. Salam ini mungkin akan menjadi salam yang tak terjawab selamanya. Selamat jalan Paman.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosamu.

Jakarta, 26 Oktober 2017

Sugiyanti. terlahir di sudut kota Semarang, menjadi manusia bermanfaat merupakan salah satu misi kehidupan penulis, dengan rumah maya di www.sembilanhuruf.blogspot.com dan nomer handphone 085640401991. Sekarang berdiam di bumi Jakarta mengikuti dinas suami Danang Kurniawan bersama dua putri, Aisha dan Keisha. Penulis adalah ibu rumah tangga yang mengelola online shop bernama Gerai Dhanays. Menulis adalah hobinya. Awal Oktober 2017 telah terbit antalogi terbarunya yang ke 61 dengan judul “Bisnis Online, Cara Sukses Pejuang Online”

Cita-citaku, Ingin Menjadi Tukang Sapu

0

Jujur, salut padanya. Ada sebongkah bangga di hati, mendengar penuturannya tentang cita-cita. Sebut saja Ratih, salah seorang siswi SD di Sleman.

Segar dalam ingatan saya, bagaimana dengan bangga penuh harapan Ratih menyebutkan Tukang Sapu sebagai cita-citanya. Padahal, profesi orang tuanya sama sekali tidak berkaitan dengan pekerjaan itu. Ayahnya seorang Guru SMP dan ibunya seorang pegawai Tata Usaha salah satu universitas di Yogyakarta. Lantas, apakah yang melatar belakangi Ratih bercita-cita menjadi Tukang Sapu?

Jadi, waktu itu saya mengadakan survey cita-cita anak usia SD di lingkungan tempat tinggal. Dan ternyata, sebagian besar anak memilih menjadi Presiden, Pilot, Astronot, Dokter dan Apoteker. Satu-satunya yang dengan lantang memilih Tukang Sapu adalah Ratih.

Deg!

Ada sensasi dingin di hati saya, saat mendengar sederet alasan polos darinya, “Tukang Sapu banyak manfaatnya untuk lingkungan. Lingkungan jadi bersih dan sehat.”

“Ratih sering melihat Tukang Sapu bekerja?” akhirnya saya lontarkan juga pertanyaan buah penasaran dalam jiwa.

Anak berusia sembilan tahun itu tersenyum simpul sembari mengangguk, “Setiap berangkat sekolah, aku lihat Pak Tukang Sapu di jalan. Waaah, rajin banget! Aku jadi pingin banget jadi Tukang Sapu seperti Bapak itu,”

Saya hanya sanggup mengusap-usap lembut kepalanya. Sungguh, cita-cita yang mulia. Memang benar, bukan profesi yang membuat kita menjadi manusia berguna. Tetapi, bagaimana kita menjalaninya dengan tulus dan ikhlas sepenuh hati. Agar bisa menebar manfaat dan kebahagiaan terhadap sesama.

Sleman, 27 Oktober 2017

Humairah Samudra. Penulis yang juga anggota Indonesia Menulis Online. Saat ini bersama anggota group yang berafiliasi di whatsapp sedang mengerjakan proyek menulis bersama tentang Cerita Anak.

Indonesia Menulis Online dan Golden Time

0

Kampus Desa turut berpartisipasi mendorong lahirnya para penulis muda di Indonesia Menulis Online yang akrab disebut IMO. IMO adalah pelatihan menulis dengan menggunakan kelas online melalui fasilitas whatsapp. Beberapa hasil penting yang perlu dijadikan bahan pelajaran adalah, IMO menjadi pemantik dan semangat untuk menulis, meskipun bagi orang yang sebenarnya sudah menyukai menulis. IMO menjadi teman, keluarga atau lingkungan yang tetap membarakan semangat seorang penulis untuk terus menulis. Penulis ini adalah Humairoh Samudra. Berikut paparan kesan dia selama tergabung di group pelatihan menulis Indonesia Menulis Online.

Sampai detik ini, saya meyakini bahwa tidak ada satu hal pun yang terjadi secara kebetulan. Termasuk, saat seorang teman menawarkan untuk bergabung di sebuah grup kepenulisan, Indonesia Menulis Online. Awalnya, tertarik saja, karena profinya keren. Mampu menggugah selera belajar yang sedang jenuh.

Oke, dari ketertarikan pada profil, saya mulai menikmati belajar di sana. Tidak hanya opini, di Indonesia Menulis Online juga bisa belajar menulis apa saja. Cerpen, puisi, bahkan artikel. Bagi saya itu hal yang sangat mewah! Belum lagi, saat ini kami sedang mengadakan antologi cerita anak. Waaah, kesempatan emas bagi saya!

Rasa jenuh yang sempat menggerogoti semangat menulis pun, terkikis habis. Minder yang terkadang menjamah, sirnalah sudah. Pokoknya, asa dalam tungku jiwa saya benar-benar membara. Penasaran, perubahan positif yang terjadi setelah saya bergabung di Indonesia Menulis Online?

Ini dia :

Kumpulan artikel parenting saya yang sempat terbengkelai, sudah mencapai 20 % penulisan dalam waktu sepekan. Begitu juga dengan beberapa kumpulan cerita dan novel, berangsur membaik. Kebekuan seolah meleleh dan mencair. Bahkan, saya sudah mulai menulis puisi lagi. Padahal, sudah beberapa hari vacum.

Ada yang bisa menebak, mengapa saya bisa menyelesaikan semua tulisan saya?

Ya benar, karena saya sudah memiliki waktu spesial untuk menulis dan saya disiplin di dalamnya. Saya menyebutnya Golden Time. Jadi, thanks to Indonesia Menulis Online yang sudah memberikan motivasi belajar dan berkarya. Terima kasih banyak, atas segala ruang dan waktu.

Sleman, 27 Oktober 2017

Humairah Samudra. Penulis yang juga anggota Indonesia Menulis Online. Saat ini bersama anggota group yang berafiliasi di whatsapp sedang mengerjakan proyek menulis bersama tentang Cerita Anak.

Ngaji Tani 1 : Hilangkan Rasa Malas Petani, Ayo Membuat Pupuk Sendiri !

1

Sore itu, di sebuah kampung tampak sekelompok orang berduyun mendekati mobil pickup lalu satu persatu mengangkat bersak-sak pupuk untuk dibawa ke lahannya masing-masing. Begitulah mereka setiap kali akan memupuk tanamannya mereka selalu tergantung pada kehadiran mobil pickup pengantar pupuk milik kios langganannya ini.

Meski kadang tepat waktu bahkan juga tidak mesti sesuai jadwal yang diharapkan, apalagi mereka harus merogoh isi kantong yang tidak sedikit untuk membelinya.

Alhasil, sejak mulai diadakan kegiatan ngaji tani yang melatih petani warga kampung untuk membuat pupuk, secara perlahan mereka mulai sadar dan paham bahwa banyak potensi di sekitar lingkungannya yang bisa dijadikan bahan untuk membuat pupuk.

Subahri (37 th), petani cabe dikampung yang dikenal dengan kampung cabe ini sangat bersemangat setelah mengetahui bahwa kencing sapi piaraannya yang awalnya disia-siakan ternyata kini bisa dia jadikan pupuk cair yang baik untuk tanamannya.

Baca juga : Kampung Cabe, Kemandirian Pangan Melalui Ngaji Tani

Dia mengaku pertumbuhan tanaman cabenya sangat terbantu dengan aplikasi pupuk Bio Urine buatannya sendiri ini. Pupuk ini juga bisa lebih menghemat biaya pemakaian pupuk kimia/pabrikan yang selama ini ia gunakan meski tidak langsung berhenti total.

Ilmu membuat pupuk yang didapatnya melalui kegiatan ngaji tani dirasanya cukup memberi wawasan, memancing nyali dan kreatifitasnya agar bisa membuat pupuk sendiri untuk tanamannya.

Inilah salah satu cara diantara banyak cara untuk membantu petani, yaitu mengkondisikan petani agar tidak malas membuat pupuk sendiri.

Kini, Subahri (37th) berinisiatif akan berusaha terus memproduksi lebih banyak lagi pupuk cair Bio Urine ini untuk kebutuhan sendiri dan juga petani di komunitasnya (jamaah ngaji tani) yang membutuhkan.

Jika anda juga butuh dan ingin membuktikannya, silakan berkunjung ke Kampung Cabe (Cakap Bertani) ! bersambung. #SalamNgajiTani

Abdus Salim. Founder Komunitas NgajiTani, Inisiator dan Pembakti Kampung Cabe. Selalu berusaha mengajak para petani untuk mandiri. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.

Ngaji Tani 1 : Hilangkan Rasa Malas Petani, Ayo Membuat Pupuk Sendiri !

0

Sore itu, di sebuah kampung tampak sekelompok orang berduyun mendekati mobil pickup lalu satu persatu mengangkat bersak-sak pupuk untuk dibawa ke lahannya masing-masing. Begitulah mereka setiap kali akan memupuk tanamannya mereka selalu tergantung pada kehadiran mobil pickup pengantar pupuk milik kios langganannya ini.

Meski kadang tepat waktu bahkan juga tidak mesti sesuai jadwal yang diharapkan, apalagi mereka harus merogoh isi kantong yang tidak sedikit untuk membelinya.

Alhasil, sejak mulai diadakan kegiatan ngaji tani yang melatih petani warga kampung untuk membuat pupuk, secara perlahan mereka mulai sadar dan paham bahwa banyak potensi di sekitar lingkungannya yang bisa dijadikan bahan untuk membuat pupuk.

Subahri (37 th), petani cabe dikampung yang dikenal dengan kampung cabe ini sangat bersemangat setelah mengetahui bahwa kencing sapi piaraannya yang awalnya disia-siakan ternyata kini bisa dia jadikan pupuk cair yang baik untuk tanamannya.

Baca juga : Kampung Cabe, Kemandirian Pangan Melalui Ngaji Tani

Dia mengaku pertumbuhan tanaman cabenya sangat terbantu dengan aplikasi pupuk Bio Urine buatannya sendiri ini. Pupuk ini juga bisa lebih menghemat biaya pemakaian pupuk kimia/pabrikan yang selama ini ia gunakan meski tidak langsung berhenti total.

Ilmu membuat pupuk yang didapatnya melalui kegiatan ngaji tani dirasanya cukup memberi wawasan, memancing nyali dan kreatifitasnya agar bisa membuat pupuk sendiri untuk tanamannya.

Inilah salah satu cara diantara banyak cara untuk membantu petani, yaitu mengkondisikan petani agar tidak malas membuat pupuk sendiri.

Kini, Subahri (37th) berinisiatif akan berusaha terus memproduksi lebih banyak lagi pupuk cair Bio Urine ini untuk kebutuhan sendiri dan juga petani di komunitasnya (jamaah ngaji tani) yang membutuhkan.

Jika anda juga butuh dan ingin membuktikannya, silakan berkunjung ke Kampung Cabe (Cakap Bertani) ! bersambung. #SalamNgajiTani

Abdus Salim. Founder Komunitas NgajiTani, Inisiator dan Pembakti Kampung Cabe. Selalu berusaha mengajak para petani untuk mandiri. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.