Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 98

Jumpa Pendidik yang Memanusiakan

0

Hadirilah Jumpa Pendidik yang Memanusiakan! Terbuka untuk Umum.

Konvensi Pendidikan V

“MENAPAKJEJAKI OASE PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN”

???? A G E N D A : ????
(1) Refleksi Pendidikan 2017 dan Prospek 2018
Dihadiri Oleh :
???? Dr. Abdullah (Direktur GTK PAUD DIKMAS)
Diskusi terfokus antara para pelaku pendidikan PAUD dengan Dr. Abdullah. Para pelaku pendidikan dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengurai aneka jalan keluar seputar PAUD

(2) Pengembangan Jejaring Sekolah yang Memanusiakan
Arena untuk saling terhubung bagi sekolah-sekolah yang sudah menerapkan pendidikan yang memanusiakan. Para pelaku pendidikan bisa saling terhubung untuk bertukar kekuatan dalam mengembangkan perluasan dan implementasi pendidikan yang memanusiakan.

(3) Bursa & Berbagi Pengalaman Best Practice Pendidikan yang Memanusiakan
Anda dapat melihat atau berkonsultasi pada para pelaku pendidik yang sudah menerapkan pendidikan yang memanusiakan. Anda juga bisa memanfaatkan pameran ini untuk menunjukkan pada khalayak, bahwa pendidikan yang anda kelola sudah sesuai dengan pendidikan yang memanusiakan. Anda juga bisa memamerkan keunggulan sekolah yang anda kelola, atau keunikan lain yang telah dilakukan selama ini untuk menginspirasi para tamu yang datang.

Hari Minggu| Tanggal 30 Desember 2017 Pukul : 09.00 s/d 16.00 WIB

TEMPAT : Gedung DPRD Kabupaten Pasuruan Jl. Baci, Bangil, Bangilan, Panggungrejo, Pasuruan

Ajang temu Pendidik dan konsolidasi pendidikan memanusiakan. Mari saling berbagi pengalaman dalam pengelolaan pendidikan yang memanusiakan. Mari bangun kekuatan melakukan perubahan pendidikan melalui keunggulan-keunggulan berkemanusiaan.

Panitia mengundang Saudara pelaku pendidikan untuk menulis pengalaman nyata yang inovatif, unik, dan inspiratif seputar Pendidikan yang Memanusiakan. Tulisan yang Anda sumbangkan sangat bermanfaat untuk menginspirasi pelaku pendidikan lainnya untuk melakukan perubahan. Kadang, perubahan menjadi jauh lebih sulit jika dilakukan dari perubahan berpikir langsung melalui informasi verbal melalui seminar atau ceramah, tetapi dengan menyuguhkan pengalaman yang sudah ada, pikiran orang langsung tertuju ke model nyata. Perubahan ternyata bisa dilakukan. Untuk itulah, tulisan para pelaku pendidikan dari pengalaman yang ada, akan menjadi amal inspiratif menciptakan pendidikan yang memanusiakan.

Mari membikin tulisan seputar pendidikan. Boleh jika Anda adalah para Guru, Pelaku pendidikan, Pendidik,  Pengelola sekolah, atau semua orang yang peduli terhadap pendidikan yang memanusiakan.

Format tulisan bebas dan mudah dipahami. Disarankan disertai foto-foto unik. Panjang tulisan +/- 2000 kata.

Konsultasi tulisan dan/atau hasil tulisan hubungi ;
Najmah Katsir     : +62 856-4978-6707 (WAon)
Alfin Mustikawan : +62 858-5656-9150 (WAon)

Akan ada bagi-bagi doorprize puluhan buku

Konfirmasi kehadiran ke Nara hubung :
Kentar Budhojo  : 081333193605
Nanang               : 08973806033

Diselenggarakan oleh OLDWA (Ojo Leren Dadi Wong Apik)

Disediakan tempat istirahat bagi peserta yang dari jarak jauh ala pesantren

Didukung oleh Taman Bunda Pasuruan | PP Darul Mukmin | Sekolah Garasi | MTsNU Pakis | Sekolah Dolan | kampusdesa.or.id | Gusdurian Malang | Penerbit Kota Tua | TIMES Indonesia | TIMES Lovers |

Terbuka untuk para sponsorship

Paman, Mengapa Salamku Kau Abaikan ?

0

Hujan masih merinai mesra, ketika adzan Subuh menggema. Syukur dalam debur bahagia, begitu ringan hatiku untuk menjalankan syariat-Nya. Kini tugasku membangunkan suami dan anak-anak yang tertidur pulas. Ya, Jakarta menjadi kota besar yang sejuk setiap  kali hujan menyambangi bumi.

Sayup sampai di antara gemericik hujan, kudengar ada yang mengetuk pintu. Kutinggalkan dapur dan segala aktifitas di sana dengan penasaran yang begitu besar. Siapa pagi-pagi begini ?

Setelah memastikan tombol merah menyala pada rice cooker, aku mengambil kunci rumah yang biasa kami simpan di atas kulkas. Sejenak pandang kuedarkan ke sekeliling dapur. Cerek sudah duduk manis di atas kompor dengan api sedang. Mesin cuci pun sudah bekerja dengan sempurna. Di meja kecil dekat kompor, ada brokoli, bayam dan wortel yang tadi kutiriskan. Ahhh, kadang takjub pada diri sendiri! Penasaran demikian besar menggulung, tapi masih sempat mengamati sekitar. Mungkin, karena sudah menjadi rutinitias pagi sejak sebelas tahun silam. Ya, setelah menikah.

“Paman? Ya Allah, kok nggak kabar-kabar mau dateng?” Kaget aku, mendapati Paman basah kuyup di teras.

Aku sibuk mencari keset untuk Paman sambil nyerocos melempar pertanyaan-pertanyaan. Tapi tak satupun pertanyaanku dijawab oleh beliau.

“Ah mungkin beliau tidak mendengar,” kataku dalam hati.

Ya, karena aku bertanya sambil jalan sana sini mencari keset dan mengambil handuk untuk mengelap kepalanya yang basah oleh air hujan.

“Paman, ini teh hangatnya ya, di meja luar”

Aku bicara dari balik pintu kamar tamu yang tertutup rapat.

Tak lupa aku menyiapkan sarapan serta bekal untuk suami dan anak-anak, kemudian melepas mereka sampai diteras rumah. Jika pagi hari, anak-anak berangkat sekolah diantar oleh suamiku dan ketika pulang tugasku yang menjemputnya.

Mereka berangkat penuh semangat, aku mengerjakan tugas domestik lanjutan, mencuci piring, menyapu dan mengepel. Belum selesai mengepel lantai. Mesin cuciku menjerit artinya mencuci telah selesai dan pakaian siap dijemur.

Tak terasa jam dinding menunjukkan pukul 10.00 WIB waktunya jemput sekolah adek. Makan untuk Paman pun sudah saya siapkan.

“Paman, aku jemput adek dulu ya. Assalamu’alaikum..”

Lagi, salamkupun tidak terjawab. Nampaknya Paman masih tertidur pulas, kecapekan selama berjam-jam tubuhnya terguncang kecil oleh ular besi yang membawanya.

Baru beberapa meter aku menjalankan motor, tetiba terdengar bunyi panggilan dari handphone. Aku membiarkannya, nanti saja jika sudah sampai sekolah akan aku telp balik, pikirku. Namun nada dering itu kembali terdengar. Baiklan aku mengalah, menepi dan mematikan mesin motor. MAMI, sebuah nama nampak di layar handphoneku.

“Assalamu’alaikum. Ada apa Mi?”

“Wa’alaikumsalam, tidak apa-apa.  Ini mami mengabarkan kalau sekarang sudah di dalam bus perjalanan ke Sukorejo. Ada lelayu. Adik papi meninggal,” suara dari seberang sana yang nyaris membuatku tak percaya.

“Adik Papi meninggal ?” Tanyaku melongo tanpa melafat kalimat istirja’.

“Iya, adik papi meninggal..”

“Lho, Paman sedang main ke sini kok Mi. Beliau sedang tidur di rumah. Baru sampai tadi subuh kehujanan.”

“Yan, jangan bercanda kamu ya. Mami dapat kabar lelayu. Paman semalam kecelakaan dan meninggal.”

Aku masih tak percaya, kututup pembicaaran itu tanpa salam kemudian puter balik kerumah, memastikan bahwa Paman baik-baik saja dan sedang tidur dikamar.

Secepat mungkin aku parkir motor dan langsung membuka pintu menuju kamar tamu.

“Assalamu’alaikum, Paman, Paman !”

Berulang kali kuketuk-ketuk pintu, tapi tidak ada jawaban jua. Akhirnya kuberanikan diri mendorong. Betapa terkejutnya aku, ketika kudapati tempat tidur yang kosong dan semua benda utuh seolah tak tersentuh di tempat yang sama.

Mataku mulai menghangat. Ada genangan bening yang membola di sudutnya. Perlahan jatuh satu, dua dan menganak sungai di kedua pipiku. Tubuhku mulai lunglai. Jadi, kabar itu benar adanya. Lalu, lalu, siapa yang kuajak bicara subuh tadi? Ataukah ?

Pantas saja tangan yang kujabat dingin. Kukira karena air hujan. Pantas saja semua pertanyaanku tidak dijawab. Salam ini mungkin akan menjadi salam yang tak terjawab selamanya. Selamat jalan Paman.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosamu.

Jakarta, 26 Oktober 2017

Sugiyanti. terlahir di sudut kota Semarang, menjadi manusia bermanfaat merupakan salah satu misi kehidupan penulis, dengan rumah maya di www.sembilanhuruf.blogspot.com dan nomer handphone 085640401991. Sekarang berdiam di bumi Jakarta mengikuti dinas suami Danang Kurniawan bersama dua putri, Aisha dan Keisha. Penulis adalah ibu rumah tangga yang mengelola online shop bernama Gerai Dhanays. Menulis adalah hobinya. Awal Oktober 2017 telah terbit antalogi terbarunya yang ke 61 dengan judul “Bisnis Online, Cara Sukses Pejuang Online”

Cita-citaku, Ingin Menjadi Tukang Sapu

0

Jujur, salut padanya. Ada sebongkah bangga di hati, mendengar penuturannya tentang cita-cita. Sebut saja Ratih, salah seorang siswi SD di Sleman.

Segar dalam ingatan saya, bagaimana dengan bangga penuh harapan Ratih menyebutkan Tukang Sapu sebagai cita-citanya. Padahal, profesi orang tuanya sama sekali tidak berkaitan dengan pekerjaan itu. Ayahnya seorang Guru SMP dan ibunya seorang pegawai Tata Usaha salah satu universitas di Yogyakarta. Lantas, apakah yang melatar belakangi Ratih bercita-cita menjadi Tukang Sapu?

Jadi, waktu itu saya mengadakan survey cita-cita anak usia SD di lingkungan tempat tinggal. Dan ternyata, sebagian besar anak memilih menjadi Presiden, Pilot, Astronot, Dokter dan Apoteker. Satu-satunya yang dengan lantang memilih Tukang Sapu adalah Ratih.

Deg!

Ada sensasi dingin di hati saya, saat mendengar sederet alasan polos darinya, “Tukang Sapu banyak manfaatnya untuk lingkungan. Lingkungan jadi bersih dan sehat.”

“Ratih sering melihat Tukang Sapu bekerja?” akhirnya saya lontarkan juga pertanyaan buah penasaran dalam jiwa.

Anak berusia sembilan tahun itu tersenyum simpul sembari mengangguk, “Setiap berangkat sekolah, aku lihat Pak Tukang Sapu di jalan. Waaah, rajin banget! Aku jadi pingin banget jadi Tukang Sapu seperti Bapak itu,”

Saya hanya sanggup mengusap-usap lembut kepalanya. Sungguh, cita-cita yang mulia. Memang benar, bukan profesi yang membuat kita menjadi manusia berguna. Tetapi, bagaimana kita menjalaninya dengan tulus dan ikhlas sepenuh hati. Agar bisa menebar manfaat dan kebahagiaan terhadap sesama.

Sleman, 27 Oktober 2017

Humairah Samudra. Penulis yang juga anggota Indonesia Menulis Online. Saat ini bersama anggota group yang berafiliasi di whatsapp sedang mengerjakan proyek menulis bersama tentang Cerita Anak.

Indonesia Menulis Online dan Golden Time

0

Kampus Desa turut berpartisipasi mendorong lahirnya para penulis muda di Indonesia Menulis Online yang akrab disebut IMO. IMO adalah pelatihan menulis dengan menggunakan kelas online melalui fasilitas whatsapp. Beberapa hasil penting yang perlu dijadikan bahan pelajaran adalah, IMO menjadi pemantik dan semangat untuk menulis, meskipun bagi orang yang sebenarnya sudah menyukai menulis. IMO menjadi teman, keluarga atau lingkungan yang tetap membarakan semangat seorang penulis untuk terus menulis. Penulis ini adalah Humairoh Samudra. Berikut paparan kesan dia selama tergabung di group pelatihan menulis Indonesia Menulis Online.

Sampai detik ini, saya meyakini bahwa tidak ada satu hal pun yang terjadi secara kebetulan. Termasuk, saat seorang teman menawarkan untuk bergabung di sebuah grup kepenulisan, Indonesia Menulis Online. Awalnya, tertarik saja, karena profinya keren. Mampu menggugah selera belajar yang sedang jenuh.

Oke, dari ketertarikan pada profil, saya mulai menikmati belajar di sana. Tidak hanya opini, di Indonesia Menulis Online juga bisa belajar menulis apa saja. Cerpen, puisi, bahkan artikel. Bagi saya itu hal yang sangat mewah! Belum lagi, saat ini kami sedang mengadakan antologi cerita anak. Waaah, kesempatan emas bagi saya!

Rasa jenuh yang sempat menggerogoti semangat menulis pun, terkikis habis. Minder yang terkadang menjamah, sirnalah sudah. Pokoknya, asa dalam tungku jiwa saya benar-benar membara. Penasaran, perubahan positif yang terjadi setelah saya bergabung di Indonesia Menulis Online?

Ini dia :

Kumpulan artikel parenting saya yang sempat terbengkelai, sudah mencapai 20 % penulisan dalam waktu sepekan. Begitu juga dengan beberapa kumpulan cerita dan novel, berangsur membaik. Kebekuan seolah meleleh dan mencair. Bahkan, saya sudah mulai menulis puisi lagi. Padahal, sudah beberapa hari vacum.

Ada yang bisa menebak, mengapa saya bisa menyelesaikan semua tulisan saya?

Ya benar, karena saya sudah memiliki waktu spesial untuk menulis dan saya disiplin di dalamnya. Saya menyebutnya Golden Time. Jadi, thanks to Indonesia Menulis Online yang sudah memberikan motivasi belajar dan berkarya. Terima kasih banyak, atas segala ruang dan waktu.

Sleman, 27 Oktober 2017

Humairah Samudra. Penulis yang juga anggota Indonesia Menulis Online. Saat ini bersama anggota group yang berafiliasi di whatsapp sedang mengerjakan proyek menulis bersama tentang Cerita Anak.

Ngaji Tani 1 : Hilangkan Rasa Malas Petani, Ayo Membuat Pupuk Sendiri !

1

Sore itu, di sebuah kampung tampak sekelompok orang berduyun mendekati mobil pickup lalu satu persatu mengangkat bersak-sak pupuk untuk dibawa ke lahannya masing-masing. Begitulah mereka setiap kali akan memupuk tanamannya mereka selalu tergantung pada kehadiran mobil pickup pengantar pupuk milik kios langganannya ini.

Meski kadang tepat waktu bahkan juga tidak mesti sesuai jadwal yang diharapkan, apalagi mereka harus merogoh isi kantong yang tidak sedikit untuk membelinya.

Alhasil, sejak mulai diadakan kegiatan ngaji tani yang melatih petani warga kampung untuk membuat pupuk, secara perlahan mereka mulai sadar dan paham bahwa banyak potensi di sekitar lingkungannya yang bisa dijadikan bahan untuk membuat pupuk.

Subahri (37 th), petani cabe dikampung yang dikenal dengan kampung cabe ini sangat bersemangat setelah mengetahui bahwa kencing sapi piaraannya yang awalnya disia-siakan ternyata kini bisa dia jadikan pupuk cair yang baik untuk tanamannya.

Baca juga : Kampung Cabe, Kemandirian Pangan Melalui Ngaji Tani

Dia mengaku pertumbuhan tanaman cabenya sangat terbantu dengan aplikasi pupuk Bio Urine buatannya sendiri ini. Pupuk ini juga bisa lebih menghemat biaya pemakaian pupuk kimia/pabrikan yang selama ini ia gunakan meski tidak langsung berhenti total.

Ilmu membuat pupuk yang didapatnya melalui kegiatan ngaji tani dirasanya cukup memberi wawasan, memancing nyali dan kreatifitasnya agar bisa membuat pupuk sendiri untuk tanamannya.

Inilah salah satu cara diantara banyak cara untuk membantu petani, yaitu mengkondisikan petani agar tidak malas membuat pupuk sendiri.

Kini, Subahri (37th) berinisiatif akan berusaha terus memproduksi lebih banyak lagi pupuk cair Bio Urine ini untuk kebutuhan sendiri dan juga petani di komunitasnya (jamaah ngaji tani) yang membutuhkan.

Jika anda juga butuh dan ingin membuktikannya, silakan berkunjung ke Kampung Cabe (Cakap Bertani) ! bersambung. #SalamNgajiTani

Abdus Salim. Founder Komunitas NgajiTani, Inisiator dan Pembakti Kampung Cabe. Selalu berusaha mengajak para petani untuk mandiri. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.

Ngaji Tani 1 : Hilangkan Rasa Malas Petani, Ayo Membuat Pupuk Sendiri !

0

Sore itu, di sebuah kampung tampak sekelompok orang berduyun mendekati mobil pickup lalu satu persatu mengangkat bersak-sak pupuk untuk dibawa ke lahannya masing-masing. Begitulah mereka setiap kali akan memupuk tanamannya mereka selalu tergantung pada kehadiran mobil pickup pengantar pupuk milik kios langganannya ini.

Meski kadang tepat waktu bahkan juga tidak mesti sesuai jadwal yang diharapkan, apalagi mereka harus merogoh isi kantong yang tidak sedikit untuk membelinya.

Alhasil, sejak mulai diadakan kegiatan ngaji tani yang melatih petani warga kampung untuk membuat pupuk, secara perlahan mereka mulai sadar dan paham bahwa banyak potensi di sekitar lingkungannya yang bisa dijadikan bahan untuk membuat pupuk.

Subahri (37 th), petani cabe dikampung yang dikenal dengan kampung cabe ini sangat bersemangat setelah mengetahui bahwa kencing sapi piaraannya yang awalnya disia-siakan ternyata kini bisa dia jadikan pupuk cair yang baik untuk tanamannya.

Baca juga : Kampung Cabe, Kemandirian Pangan Melalui Ngaji Tani

Dia mengaku pertumbuhan tanaman cabenya sangat terbantu dengan aplikasi pupuk Bio Urine buatannya sendiri ini. Pupuk ini juga bisa lebih menghemat biaya pemakaian pupuk kimia/pabrikan yang selama ini ia gunakan meski tidak langsung berhenti total.

Ilmu membuat pupuk yang didapatnya melalui kegiatan ngaji tani dirasanya cukup memberi wawasan, memancing nyali dan kreatifitasnya agar bisa membuat pupuk sendiri untuk tanamannya.

Inilah salah satu cara diantara banyak cara untuk membantu petani, yaitu mengkondisikan petani agar tidak malas membuat pupuk sendiri.

Kini, Subahri (37th) berinisiatif akan berusaha terus memproduksi lebih banyak lagi pupuk cair Bio Urine ini untuk kebutuhan sendiri dan juga petani di komunitasnya (jamaah ngaji tani) yang membutuhkan.

Jika anda juga butuh dan ingin membuktikannya, silakan berkunjung ke Kampung Cabe (Cakap Bertani) ! bersambung. #SalamNgajiTani

Abdus Salim. Founder Komunitas NgajiTani, Inisiator dan Pembakti Kampung Cabe. Selalu berusaha mengajak para petani untuk mandiri. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.

Testimoni Santri, The Origin of Santri Unique on the Wall in Facebook Status

0

SEJUMLAH STATUS DI FACEBOOK ALUMNI SANTRI MENARIK DIMUAT KEMBALI DI SINI. KITA BISA MENGETAHUI BAGAIMANA MEMORI TENTANG MASA LALU SANTRI BEGITU MENGGEMASKAN. ADA YANG LUCU, ADA YANG SERIUS DAN ADA YANG DIHUKUM INI DAN ITU. SEBAGAI KENANGAN YANG INDAH, DI SINI, KAMPUS DESA MENCOBA UNTUK MELAKUKAN PENAYANGAN ULANG STATUS FACEBOOK TERSEBUT AGAR LEBIH MUDAH DIBACA. SEMOGA BISA MENJADI BACAAN MENGHIBUR MEMPERINGATI HARI SANTRI, 22 OKTOBER 2017 YANG TELAH LALU. TERBUKA BAGI PEMBACA YANG PINGIN MENULIS SEPUTAR KEHIDUPAN PESANTREN DAN PENGALAMAN MENJADI SANTRI. SILAHKAN HUBUNGI ADMIN DI FOOTER WEB INI. BERIKUT SEJUMLAH PETIKAN-PETIKAN STATUS FACEBOOK DARI TEMAN-TEMAN SANTRI, TETAPI SUDAH MENJADI ORANG-ORANG SUKSES.
AAN ANSHORI | KETIKA SANTRI NOT-NOW BERTEMU KIDS ZAMAN NOW

“Kak Aan pengen tahu siapa yang bisa doa sebelum makan. Ngacung dong,” saya bertanya pada puluhan kids Islam-Kristen zaman now yang berkumpul di Joglo Sinau milik Gereja Bethany Gudo Jombang, malam ini. Banyak sekali tangan diacungkan.

Saya senang melihat mereka bermain tanpa melihat latarbelakang agama. Acara ini digagas oleh PDM Petra dan alumni training penggerak perdamaian, Vivi.

“Kami selalu dicurigai akan melakukan kristenisasi, Mas. Padahal kami tulus lho,” kata Petra. Saya tertawa saja sembari terus memotivasinya agar tidak patah semangat mengajarkan kebhinnekaan di kampungnya.

Begitu saya diperkenalkan dan maju ke forum, orang tua yang muslim serentak ikut mendekat –sebelumnya mereka hanya mengawasi anak-anak mereka dari jauh.

“Kenalkan, saya Kak Aan, santri dari Jombang. Kalian senang nggak main di sini? Punya banyak kawan kan? Oh ya, meski Muslim, teman Kak Aan beragam lho. Ada yg Kristen, Katolik, Buddha, Khonghucu. Yang Tionghoa juga banyak. Punya banyak kawan enak lho seperti kalian saat ini,” saya nyerocos, mati-matian bergaya guru PAUD .

ROY MURTADHO | MODYAR DITAKZIR 2 JUZ DIULANG SAMPAI SUBUH

Hari santri. Dulu jaman masih ngafalin Qur’an dan nadzam Imrithi, dan Alfiyah. Sering tidur di makbarah Hadratus SyaiHasyim Asy’ari. Atau kalau enggak ya di makam Mbah Asy’ari di Keras. Namun sekarang sudah tidak bisa, sebab yang ziarah sudah buanyakkkk…

Nah, waktu di Krapyak yang paling ingat sering kena razia subuh Kiai Najib. Di kejar-kejar sampai masuk WC, Sebab malamnya begadang di masjid Krapyak, diskusi ngalor ngidul nggak jelas. Tapi kalau kena takzir ringan banget cuman disuruh nyapu tiap pagi di ndalem dan pelataran kompleks. Yang paling berat kalau dihukum setoran 2 juz dan diulang-ulang sampai subuh. Modyar tenan. Anak-anak yang lain sudah pada keluar. Tapi saya dibiarin, ngaji mulai jam 10 malam sampai jam 3 pagi. Udah gitu besoknya dibilangin Kiai: “kalau Ndak begitu kapan nderese. Mosok nderese novel tok…” Hehe

Nah kalau sudah pengen cari ketenangan larinya ke makam Dongkelan. Di sana sepi. Tapi bukannya ngaji malah ngatamin novelnya Mangun, “Burung-Burung Manyar” Hahaha…

Yang paling lucu salah kasih amplop ke pak Kiai, yang akhirnya dibalikin sama beliau. Isin puolll… Terakhir kami ngopi bareng di Tebuireng. Beliau bilang, “sing penting aja lali ngaji lan sholat”.

Soal gudiken di pondok? Ya mesti lah! Hukumnya wajib

Mufid Ibnu Rowi | Santri dan pohon Mangga muda

Siang itu, pondok Asy Syafiiyah Babat sedang sepi, sebagian santri pulang kampung. Beberapa santri yang masih di pondok ingin memanjat pohon mangga yang ada di dalam pondok. Maklumlah buat “camilan”. Sementara buahnya masih muda belum layak di panen. Biasanya pohon ini dipanen santri saat sudah masak.

Singkat cerita, beberapa santri itu berdiskusi untuk memilih siapa yang bertugas memanjat dan menjaga di bawah pohon sambil melihat situasi kalau ada pengasuh dan Kyai yang lewat. Hehehe

Tibalah saatnya sang santri A memanjat pohon dan beberapa santri menunggu di bawah dengan tugasnya masing masing. Saat ambil beberapa buah mangga dan diterima santri yang di bawah, Tiba-tiba dan tidak disangka pengasuh keluar rumah yang berada di samping pondok dan menuju ke arah pondok. Santri yang bertugas mengawasi situasi segera memberi tahu, namun terlambat, pengasuh lebih dulu sudah masuk di dalam pondok. Para santri yang di bawah pohon berhamburan menuju kamar. Kemudian pengasuh berdiri tepat di bawah pohon mangga.

Santri yang di kamar mengintip temennya yang masih di atas pohon dan pengasuh yang cukup lama berdiri di bawah pohon. beliau sebenarnya tahu kalo ada santri di atas pohon. Lalu beliau senyum senyum dan memanggil santri. Keluarlah santri dari dalam kamar dengan perasaan dag dig dug, dengan wajah pucat dan beliau berkata:

“PELEM IKI WOHE AKEH ENAK DIPANGAN NEK WES MATENG (POHON MANGGA INI BUAHNYA BANYAK, ENAK DIMAKAN KALAU SUDAH MASAK).” SEREMPAK SANTRI MENJAWAB ” NGGIH MBAH”. PERASAAN MEREKA LEGA DAN GEMBIRA KARENA TERNYATA BELIAU TIDAK MARAH BAHKAN MENDAPAT SENYUMAN SANG PENGASUH.

Kemudian beliau pun pergi menuju rumah kediaman dengan senyum senyum, mungkin sudah cukup memberikan pelajaran santri A yang masih di atas pohon. Tak lama kemudian turunlah santri A dari atas pohon mangga dengan wajah pucat dan disambut dengan gelaktawa para santri yang lainnya.

Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini?

edesiharisantri2017

Tata Khoiriyah | Santri Nakal

Dulu ibu kekeuh sekali masukin saya dan adek-adek ke pesantren. Alasannya supaya bisa kecipratan barokah doanya kyai. Bukan cuma itu, mondok jadi tempat yang tepat untuk mendidik anak mandiri, dewasa, dan mampu bersosialisasi sekaligus. Kata ibu, senakal-nakalnya cah santri itu ndak bikin jantungan ketimbang nakalnya anak yg ndak masuk pondok. Pandangan ibu begini karena suka miris mendengar cerita anak kampung yg nakalnya bikin geleng-geleng atau ngelus dada.

Padahal, sejak MTs, SMA hingga kuliah saya termasuk santri ndableg. Gimana ndak ndableg, sukanya pulang terlambat, lebih memilih organisasi ketimbang kegiatan pondok, suka telat jamaah, apalan tasrifan, jurmiyah dan imriti cuma segitu-gitu aja, alias pas-pasan. Pas ngaji kitab suka ketiduran. Baca kitab, cuma mentok di arab pegon. Intinya ndak ada yg dibanggakan. Bahkan saya ini setiap minggu langganan dipanggil pengurus pondok karena kena takziran.

Takzirannya beragam, mulai dari nguras bak kamar mandi, baca sholawat setiap sore, ngepel musholla, disetrap ndak boleh keluar pondok kecuali sekolah, sampe diskors disuruh pulang ke rumah untuk merenung. Semua takziran gakk bikin kapok.

Tapi setelah melewati tahun-tahun diluar pesantren, hal yang bikin kangen dari pondok itu macam makan sistem kepungan, kerja bakti bersih-bersih pondok, senengnya kumpul-kumpul kalau dapat izin keluar, sampe rasa seneng tak terkira karena ngajinya khatam.

Alhasil, saya jadi kepengen kalau punya anak sekolahnya sambil mondok sajalah. Tentunya sekarang usaha dulu cari calon pasangan yang santri juga. Eh ….

Selamat hari santri …

IRHAM THORIQ ALY | DI PESANTREN

Di pesantren, masak mie rebus, terong bakar, dan sambal seadanya sudah nikmat.
Di pesantren, kita tidak diajari hidup enak. Kata embah saya; pesantren itu bukan tempat untuk hidup enak, meski kamu punya uang untuk memanjakan anakmu. Katanya, suatu ketika kepada ibu saya.

Ya, mungkin karena hidup enak itu tidak butuh dilatih, tapi hidup penuh kegetiran itu yang butuh dilatih. Berulang-ulang.

Sungguh, saya rindu pesantren, ketika definisi kebahagiaan hanya berupa masak bersama sampai larut malam. Memasak dengan kayu dan kompor seadanya, dinding-dinding dapur yang menghitam, hingga berjejal agar nasi lekas masak.

Di pesantren, ada kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sekarang tinggallah lelucon. Suatu hari, saya dan Rohim Warisi mancal ke Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang. Betapa konyolnya, ketika tiba di stadion, dia malah tidak berani nonton.”Ham, Ham, nanti masuk tv, kenak gundul nanti,” kira-kira seperti itulah ucapannya ketika itu. Saya tidak ingat persis, karena kejadian itu sudah berlalu sekitar 11 tahun silam.

Ya, hukuman bagi santri yang menonton Arema memang berat: digundul. Entah itu menonton di stadion atau menonton di televisi warga sekitar pesantren.
Karena ketakutan itu, kami akhirnya tidak jadi menonton Arema. Kami keluar Stadion, mengayuh sepeda, dan pergi ke rumah saudara. Lumayan, dikasih makan. Kira-kira, kalau ditotal, waktu itu kita mancal sekitar 15 kilometer. Kitapun pulang ke pesantren dengan selamat. Dalam hal melanggar aturan, saya termasuk orang yang beruntung tidak pernah ketahuan meski beberapa kali nonton Arema dan liga champions di televisi, maka selamatlah rambut saya…hehhee

Menjadi santri, sejatinya belajar tentang kehidupan. Mungkin karena itulah, santri tidak pernah takut miskin. Mereka selalu berani menikah meski tidak punya pekerjaan. Lalu, yang sarjana, menunda nikah karena belum mapan. Apa tidak malu?
Di pesantren, kini semuanya tinggal cerita…

Selamat hari santri…

Tidak Perlu Kagetan pada Penawaran Investasi yang Menggiurkan

0

Dalam sebuah percakapan di pesan whatsapp, ada seseorang yang bertanya,

Pertanyaan : “Lagi rame tracto Pak, Pendapat pak Sigit pripun, Jawab saya, “Saya memilih tidak berpendapat.”

Tugas saya membekali semua dengan pengetahuan tentang keuangan dan bisnis, pola pikir yang benar dan sebagainya. Supaya yang akan datang tidak terjebak investasi bodong atau money game yang dibungkus segala macam seperti MLM, saham, asuransi, tabungan dan sebagainya.

Anda harus bisa dengan cepat mengenali ini money game atau bukan ketika di tawari. Untuk itu lihat arah uangnya kemana, kemudian kalau ada keuntungan itu masuk akal apa tidak orangnya ajak ajak kita, memangnya dia malaikat ? (lihat e book Membangun Jaringan dan Sistem hal 29)

Kalau bisnis atau investasi yang sudah diikuti sekarang dan sepertinya bau money game ya sudahlah namanya sudah terlanjur. Didoakan saja Anda masih di level level atas yang masih akan dapat uangnya karena masih dibutuhkan untuk promo. Tapi kalau sudah dapat ya jangan dimasukkan lagi. Sebaiknya digunakan untuk hal-hal baik karena di sana banyak uangnya orang lain yang tertipu dan mungkin nanti tidak mendapat haknya kalau dianggap sudah waktunya untuk dibubarkan oleh penyelenggara.

Dari obrolan saya dengan banyak orang di luar sana, umumnya mereka ngotot bahwa “ini bukan money game.” Ya tidak apa apa karena waktu yang akan berbicara.

Money game terbesar di dunia dilakukan Bernard Maddof. Didirikan tahun 1960 dan baru terbongkar tahun 2008. Klien nya hanya 4800 orang milyuner, tapi kerugian yg ditimbulkan 50 milyar dollar atau 650 Trilyun. Rahasia bisa berlangsung selama itu karena dikelola dengan hati hati dan hanya melibatkan keluarga sendiri. Penawaran investasinya pun eksklusif hanya diantara para milyarder yang sudah freedom. Sehingga tidak ada orang yg ingin ambil investasinya di tengah jalan karena mereka sebenarnya dudah tidak butuh uang.

Baru terbongkar ketika si anak akan diwarisi perusahaan itu dan bapaknya mengatakan, ” Sebenarnya tidak ada investasi apa apa. Saya membayar hasil investasi ke orang itu ya dengan uang mereka sendiri ditambah uang orang lain yang baru masuk.”

Anaknya lapor ke polisi karena tidak mau diwarisi masalah. Di tahun 2009 Maddof dihukum 150 tahun dan denda 170 milyar dollar.

Anaknya langsung memutuskan hubungan secara hukum dengan ayahnya.