Rabu, Mei 6, 2026
Beranda blog Halaman 48

Memaknai Hari Pahlawan dengan Gerakan Satu Cinta Untuk Lansia

0

Kampusdesa.co.id–Lamongan, 10 November 2019 hari di mana bertepatan dengan Hari Pahlawan. Untuk mengenang jasa pahlawan Indonesia, tidak hanya melalui upacara atau bersinggungan dengan urusan perang karena menjadi pahlawan bisa dengan mencintai sesama yang membutuhkan bantuan. Pahlawan sejati tak pernah pamrih. Belajar dari perjuangan Pahlawan kita yang telah gugur dalam tugasnya. Mereka tidak pernah lelah dan tidak pernah takut memperjuangkan negeri ini. Hari itu sinergi-kolaborasi Divisi Kewirausahaan sebagai tim Fundrising dengan Divisi Sosial Lingkungan dan Masyarakat (Soslinmas) Diaspora Muda Lamongan bekerja sama dengan Kak Sugi Foundation mengadakan kegiatan bakti sosial, bernama “Satu Cinta Untuk Lansia”.

Gerakan ini diinisiasi berawal dari program Birthday Fundraising dalam rangka ulang tahun Diaspora Muda Lamongan yang pertama dalam rangka berbagi cinta untuk para lansia yang tidak mampu. Diawali dengan penggalangan dana (donasi) yang dikumpulkan melalui aplikasi online kitabisa.com dan donasi offline melalui rekening bendahara umum Diaspora Muda Lamongan, yang pada akhirnya terkumpul sebesar 3 juta rupiah. Dengan total donasi tersebut siap disalurkan kepada penerima bantuan sosial.

Hari itu juga bertepatan dengan Bulan Rabiul Awal (Maulid), yang merupakan bulan memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw. Salah satu bentuk mencintai Nabi Muhammad ialah dengan mengamalkan apa yang telah disunnahkan, yakni berbagi kasih, peduli dan materi kepada sesama yang kurang mampu. Kegiatan tersebut mendapat restu dari Kepala Desa baru Kendal Kemlagi, Bapak Iwan. Menurutnya jumlah lansia yang tersebar di Kendal Kemlagi cukup banyak dengan beragam kondisi dan latar belakang, “Ada yang menempati tempat tinggal yang tidak layak huni, ada pula yang tidak memliki keluarga inti, sehingga kesehariannya hanya sendiri, namun ada juga yang dirawat tetangga setempat”, jelasnya.

Siang itu, dengan pelukan matahari yang juga bahagia menyaksikan program ini. Kami enam orang pengurus Diaspora Muda Lamongan saling bahu-membahu membawa peralatan dan barang yang akan disalurkan untuk Mbah Si’ah. Menurut penuturan Elza Amelia Firdaus selaku koordinator lapangan penyaluran bantuan sosial ini yang sekaligus sebagai tetangga mbah Si’ah, beliau adalah salah satu lansia yang tidak mampu. Setiap harinya Mbah Si’ah dirawat oleh keluarga terdekatnya. Kondisi rumahnya cukup memprihatinkan, oleh kerena itu kami memilih Mbah Si’ah sebagai target utama dalam menyalurkan donasi tersebut.

Ketika kami datang ke rumahnya terlihat dari raut wajah Mbah Si’ah penuh bahagia. Donasi tersebut langsung diberikan oleh perwakilan Diaspora Muda Lamongan dan Kepala Desa Kendal Kemlagi. Mbah Si’ah sangat bersyukur dengan adanya bantuan tersebut dan semoga para donatur diberi kesehatan dan rezeki yang lancar. Sambil terbata-bata beliau menngucapkan doa untuk kami, khususnya pengurus dan anggota Diaspora Muda Lamongan agar semakin baik terutama dalam mengabdi dan berkontribusi di Lamongan.

Setelah menyalurkan donasi ke rumah Mbah Si’ah kami melanjutkan perjalanan ke rumah 5 lansia perempuan janda yang lainnya. Satu persatu kami datangi dan alhamdulillah berjalan dengan lancar. Kepala Desa Kendal Kemlagi mengucapkan terima kasih kepada Diaspora Muda Lamongan yang sudah turut prihatin dengan kondisi para lansia di Desa Kendal Kemlagi, untuk para donatur semoga rezekinya dilipat gandakan dan semoga acara “Satu Cinta Untuk Lansia” nantinya berjalan dengan lancar di desa-desa lainya. Dengan adanya program ini kami mengajak para generasi muda agar peka sosial, mau nimbrung berbagi cinta serta membuat para lansia tersenyum bahagia. Sejumlah nilai yang terkandung dalam kepedulian sosial dan peyebaran cinta kepada lansia hendaknya perlu direvitalisasi. Pasalnya, kepedulian sosial merupakan spirit dan warisan dari leluhur bangsa Indonesia.

Program ini sangat didukung oleh pemerintah Kota Kabupaten Lamongan untuk dilanjutkan dan terus dikembangkan lebih baik dan lebih tepat sasaran. Semoga kami keluarga besar Diaspora Muda Lamongan dapat terus mengadakan kegiatan positif seperti ini setiap tahunnya. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada seluruh donatur yang telah berdonasi, mendoakan, dan juga mendukung terlaksananya program ini dengan baik dan lancar. (Iin/Hsn)

*Berita ini dimuat juga di fanspage Diaspora Muda Lamongan.

Kesalahan Berpikir Netizen 4.0, Lima di antaranya Sering Kamu Alami.

0

Secuil fakta yang buruk akan mampu menutupi segudang fakta kebaikan seseorang. Hal itu terjadi ketika individu mengalami Distorsi Kognitif, yaitu pembenaran irasional tak sesuai realita. Rupanya leluhur bangsa ini sudah menyadari akan kesalahan berpikir yang turun temurun akan sering terjadi dengan mengabadikannya dalam sebuah seni kata ” Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga “.

Kampusdesa.or.id-Otomasisasi teknologi cyber 4.0 terhadap setiap inchi kehidupan  membuat individu di masa ini cepat dalam membagikan informasi. Akan tetapi adaptasi masyarakat untuk mengelola kecepatan jaringan komunikasi perlu dipertanyakan dan dibahas mendalam. Jika tidak, pecahan informasi yang salah pemaknaan dapat menjadi Hoaks dan sentimen emosi antar netizen. Terlalu remeh jika bangsa ini masih berkutat soal Hoaks dan Isu isu sensasional. Saat nya belajar mandiri dengan mengenali kesalahan berpikir sehingga kita bisa bangkit lebih produktif menjajaki peluang Revolusi Industri di Pemerintahan yang baru ini.

Berpikir adalah sesuatu yang pasti dilakukan oleh manusia bahkan menjadi pembeda yang paling mendasar antara hewan dengan manusia. Kesalahan berpikir dapat terjadi pada seluruh jenjang usia, dari anak sekolah, pegawai bahkan ilmuwan pun bisa terjebak dalam kelalaian berpikir. Akan selalu ada kejadian yang tidak diharapkan dan mood negatif disetiap masa kehidupan sehingga setiap individu pasti pernah mengalami kesalahan berpikir. David Burns seorang Psikiater dan ahli Cognitive Behavioral Therapy dari Stanford University menyebutnya sebagai Thinking Errors Pattern atau dalam istilah psikologi disebut Cognitive Distortions.

Bagaimana kesalahan berpikir terjadi?

Karunia tuhan yang pertama kali digunakan untuk menerima informasi adalah panca indera. Melalui indera tersebut informasi dilangsungkan ke dalam internal map, otak akan memberikan makna terhadap masing masing informasi yang kita terima. Pemberian makna oleh otak merujuk pada Historical Files individu yang berisi tentang keyakinan suatu norma perilaku berdasarkan pengalaman masa lalu.

Keyakinan masa lalu ini menciptakan nilai atau frame of mind yang terulang ulang di bawah alam sadar manusia. Makna yang diproses melalui otak tadi akan berhubungan dengan central nervous system atau pusat syaraf. Dari pusat syaraf akan menghasilkan sebuah perasaan yang menghantarkan individu pada suatu reaksi berbentuk perilaku. Dapat disimpulkan bahwa tindakan kita saat ini dalam pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu.

Dapat disimpulkan bahwa tindakan kita saat ini dalam pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh kejadian masa lalu.

Dalam proses pemberian makna yang sudah di jelaskan tersebut, terdapat celah terjadinya suatu kesalahan dalam penerjemahaan makna yang disebut thinking error pattern. Terdapat foggy atau kabut yang menyebabkan otak meleset dalam pemberian makna sehingga sesuatu yang kita yakini tidak sesuai dengan realita. Banyak faktor yang memicu terbentuknya foggy, selain berasal dari ingatan realita masa lalu, foggy bisa disebabkan oleh stress, kurang energi, gaya berpikir childish, cemas dan kondisi negatif.

Ketika gaya berpikir individu semakin dominan dalam melibatkan masa lalu maka foggy akan semakin tinggi, sebab realita masa lalu dan kini merupakan hal yang berbeda. Masa lalu memang bisa digunakan sebagai prediksi pengambilan keputusan namun perlu diimbangi dengan identifikasi fakta dan realita yang sedang terjadi sehingga kesalahan interpretasi informasi bisa dihindarkan.

Menurut Mahrus Affif seorang Behavioral  Specialist dalam seminar Online “ Thinking Error Pattern and Teenager “ (Inmed, 25 Oktober 2019), Kurang lebih 80 % orang yang mengalami Distorsi Kognitif disebabkan karena individu mengambil keputusan dalam keadaan emosi yang tidak stabil. Jika hal ini tidak dibenahi, individu akan larut dalam kesalahan berpikirnya dimana kesalahan berpikir itu dijadikan argumen utama untuk membenarkan perilaku individu yang salah tersebut. Orang akan mengambil sudut pandang irasional terhadap peristiwa tertentu sehingga menyebabkan pikiran dan emosi yang tidak dapat dikendalikan, parahnya hal ini bersifat kebiasaan. David Burns dalam bukunya The Feeling Good menjelaskan sepuluh jenis kesalahan berfikir, lima diantaranya akan diulas dalam tulisan ini.

Kurang lebih 80 %  orang yang mengalami Distorsi Kognitif disebabkan karena individu mengambil keputusan dalam keadaan emosi yang tidak stabil.

Yang pertama adalah Over Generalization. Hal ini terjadi ketika anda menyimpulkan suatu perkara yang buruk berdasarkan satu buah bukti saja. Tidak hanya itu, anda akan membesar besarkan masalah itu dan melabeli hal tersebut dengan rumor negatif. Jenis kesalahan berpikir ini akan membuat orang menggunakan kata “ Biasanya” atau “ tidak pernah “ sebagai kata kunci.

Contoh:  ketika anda melihat berita seorang artis sedang menangis karena tertimpa suatu musibah. Kemudian terbesit dalam pikiran anda “ wah biasanya itu cuman akting saja” sehingga kemudian anda mencibir dan merendahkan artis tersebut.

Suatu ketika anda melihat Bapak Paruh baya yang tidak rupawan menjemput wanita muda cantik di sebuah caffe. Kemudian terbesit dalam pikiran anda “ wahh jangan jangan wanita simpanan nih, biasanya seperti itu”. Lantas anda berbisik bisik dengan teman nongkrong dan menganggap wanita tersebut seorang yang gampangan.

Kedua adalah Black and White Thinking. Gaya berpikir ini terjadi ketika individu membagi dirinya dalam dua kategori yaitu “ aku benar benar baik” atau “ aku benar benar buruk”. Hal ini teradi karena sikap perfeksionis yang dominan, memikirkan diri sendiri ditambah lagi merasa dirinya harus berpengaruh dalam kelompoknya, sehingga ketika suatu hal terjadi tidak sesuai standar atau ekpektasi, maka individu akan menganggap dirinya tidak berguna. Tidak ada pilihan ketiga dan tidak ada tempat untuk berbuat salah.

Contoh: Arif adalah seorang ketua team player basket. Saat pertandingan, Arif tidak berhasil membawa teamnya menuju kemenangan. Akhirnya ia murung dan merasa bahwa ia adalah orang yang tidak berguna. Ia malu dan menganggap semua itu terjadi karena kesalahannya semata.

Ketiga ialah Jumping to Conclusion atau labeling. Pernahkah anda menjustifikasi orang lain tanpa di dukung informasi yang jelas? itulah yang disebut labeling. Individu mendeskripsikan seseorang dengan fakta yang tidak sempurna, ada sebagian realita seseorang yang disembunyikan. Hal ini adalah proyeksi bahwa diri kita sedang marah , cemas , frustasi atau sedang tidak percaya diri. Bahkan, ketika anda memberi label negatif kepada seseorang, hal itu akan membuat anda tidak nyaman dan sulit membangun komunikasi yang positif. Pada kasus ekstrim, memberi label negatif  terhadap seseorang mampu mengubah identitas sosial dan konsep diri individu.

Contoh: Ulum adalah mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, ia dibimbing oleh Dosen A. Setiap kali bimbingan, Dosen A selalu emosi dan memarahi ulum yang selalu datang terlambat. Akhirnya Ulum menyebarkan rumor kepada temannya bahwa Dosen A adalah Dosen yang Killer. Nah, ini lah yang disebut Jumping to Conclusion, ulum hanya mensifati Dosen A berdasarkan perasaan yang mewakili dirinya bahwa dosen A selalu memarahi Ulum. Padahal Jika mahasiswa datang tepat waktu, Dosen tersebut akan bersikap ramah dan lembut. Nah Sifat ramah dan lembut disembunyikan oleh Ulum sehingga terbentuklah labeling yang tidak adil.

Apakah kita tidak boleh melabeli seseorang? boeh asal dengan fakta yang jelas dan adil. Contoh: Dosen ini killer ketika melihat mahasiswa yang melanggar aturan. nah ini labeling yang diperbolehkan.

Ke Empat adalah Victim Mentality atau Blaming. Kesalahan berfikir pada jenis ini akan membuat orang hidup dengan sejuta keluhan. Individu akan mengkritik dan menyalahkan orang lain atas hal buruk yang menimpa dirinya. Artinya tidak ada niatan untuk memperbaiki diri justru menganggap orang lain lah akar dari semua masalah.

Contoh : Yoyo adalah pengangguran, setiap bertemu teman temanya  ia selalu mengkritik pemerintah atas kondisinya, seakan akan Yoyo dirugikan oleh Negara. (Padahal Yoyo terlalu cepat menyerah mencari pekerjaan dan tidak mau meng upgrade skillnya).

Amin mendapat nilai jelek di bidang Matematika, ia menyalahkan gurunya bahwa gurunya tidak cermat dalam mengajar. (Padahal Amin sendiri sering bolos sekolah).

Ke Lima adalah Discounting, orang yang memiliki kecenderungan seperti ini akan selalu mengeluarkan statement negatif tentang kelebihan dirinya. Maksudnya ialah individu tidak apresiatif terhadap prestasinya sendiri, mendiskon segala pencapaian yang ia buat. Pribadi ini menunjukkan bahwa ia memiliki konsep diri yang lemah dan kepercayaan diri rendah.

Contoh: Arif mendapat nilai 70 dalam pelajaran Bahasa, kemudian gurunya memberi pujian “ wah arif kamu hebat ya, pintar dan cerdas”. Akan tetapi Arif berfikir dalam hati “ aiiih apa apaan sih, pasti bohong itu bu guru. Padahal yang lain banyak yang lebih pinter ”.

Kecepatan sistem informasi yang setiap detik dapat berubah, tanpa batas dan selalu ada identitas anonim akan menyebarkan ranjau ranjau Distorsi Kognitif bagi Netizen. Terutama bagi Rakyat +62 yang minat bacanya masih tergolong rendah. Lantas apa yang bisa dilakukan untuk mengindari kesalahan berfikir?.

Mulailah dengan membudayakan One Day One Page, membaca buku akan melatih reasoning otak kita menjadi lebih awas dalam mengelola informasi. Kemudian gunakan aturan Lima menit, gunakan waktu tersebut untuk mengecek informasi di media atau fakta di lapangan melalui sumber yang kredibel dan selama lima menit tersebut usahakan untuk tidak mengomentari apapun.

Kenali pola kesalahan berpikir yang berkembang di masyarakat, setelah mengenali pola , cobalah untuk mengkategorisasikan jenis kesalahan berpikir yang dirasa sangat berpotensi terjadi pada diri anda. Latihlah pikiran anda untuk melawan jenis kesalahan berpikir tersebut, gunakan humor humor untuk membuat pikiran anda stabil. Yang terpenting jadilah pribadi yang suportif, bijak dan sabar dalam segala situasi.

Hubungan Harmonis Netizen sangat mahal harganya, dan sangat remeh jika kesalahan berpikir yang beredar di masyarakat membuat konflik dan buruk sangka . Buku “Feeling Good: the new mood therapy,” dan  “When Panic Attacks” yang ditulis  David Burns dapat menjadi rujukan bagaimana merawat akal sehat ditengah pusaran peradaban Revolusi 4.0. Bangsa yang hebat berawal dari akal sehat yang selalu dirawat.

Biopik Habibie-Ainun, Kesetiaan Melampaui Hasrat Poligami

0

Habibie-Ainun menjadi sosok teladan tentang cinta. Selain Habibie sebagai Presiden RI, sosoknya menjadi contoh baik di kalangan anak muda, bukan hanya jejak intelektual dunia. Beliau menjadikan sebagian kisah romantisme yang dapat dipelajari oleh siapa saja. Kesetiaan Habibie pada Ainun tidak hanya saat masih hidup. Ketika sudah tiada, Ainun masih menjadi magnit cinta Habibie. Ada apa kesetiaan itu kok tidak menjadikan alasan baginya berpoligami. Kesetiaan adalah harga diri, tidak sekedar cinta birahi.

Kampusdesa.or.id–Sepeninggal B.J Habibie, warganet tidak hanya membahas kecerdasan dan capaian beliau untuk negara ini. Berkali-kali muncul di beranda facebook saya, ungkapan kekaguman mereka atas kesetiaan beliau kepada istrinya ‘Ibu Ainun’. Tak hanya facebook, saat Anda menulis di google search engine “Habibie- Ainun” maka yang muncul adalah berita dan artikel yang menyertakan gambar kemesraan beliau berdua. Terlebih kalau kita mencari foto di google, semua foto yang muncul merepresentasikan tentang kesetiaan dan kemesraan beliau berdua.

Ada yang mengatakan bahwa ketika pria ditinggal mati istrinya belum 100 harinya sudah punya calon pengganti almarhum istrinya,  bahkan justru ada yang sudah melangsungkan pernikahan.

Sebelum kekaguman ini mencuat di dunia maya, berkali-kali memenuhi status beranda dan kabar berita, pikiran saya terkontaminasi prasangka bahwa seolah memang dari sananya kalau pria itu tidak bisa memberikan totalitas kesetiaannya kepada pasangannya. Prasangka ini terbangun oleh ungkapan-ungkapan yang kita dengar guyonan namun menjadi justifikasi ‘iya’. Ada yang mengatakan bahwa ketika pria ditinggal mati istrinya belum 100 harinya sudah punya calon pengganti almarhum istrinya, bahkan justru ada yang sudah melangsungkan pernikahan. Akhirnya prasangka tak baik saya ini dipatahkan oleh Pak Habibie, Pak Suharto, dan mungkin berikutnya Pak SBY juga.

Tulisan ini tidak bermaksud mempersuasi para ‘duren’ (duda keren) ‘duka’ (duda kaya)  untuk tidak menikah lagi. Saya sekedar ingin mengapresiasi dan ikut bahagia melihat kesetiaan Pak Habibie kepada istrinya. O ya, saya tak menyertakan ‘ducer’ (duda cerdas) dalam akronim yang saya buat sendiri ‘duren’dan ‘duka’ karena golongan ‘ducer’ telah mepresentasikan dirinya sebagai pria setia.

Baca juga :Selamat Jalan BJ Habibie, Bapak Demokrasi Indonesia

Baiklah, masih dangkal pemahaman saya soal definisi kesetiaan ini, apa yang saya tulis ini bagian dari yang saya baca dan saya dengar saja. Tidak bermaksud menggeneralisasikan, namun sekedar ikut alur apa yang sudah dibangun oleh warganet terkait kesetiaan ini. Ada yang menulis dalam story WA-nya  “Belajar dari Habibie, orang cerdas itu setia kepada pasangannya, kalau pasangannya banyak berarti memiliki kecerdasan majemuk.” Membaca story WA ini saya teringat catatan saya setahun lalu tentang pasangan hidup yang menjalani pernikahan poligami.

Saya yakin Anda juga setuju bahwa membuat keputusan untuk berpoligami tentulah melalui proses berpikir cerdas dan bijaksana. Jika cerita dan bahkan film biopik Habibie belum mempengaruhi cara pandang seseorang tentang kesetiaan kepada pasangannya, mungkin cerita pilu ini akan menjadi pembuka cakrawala lain dalam kaitannya menjalani hidup tenang bersama keluarga kecil tiap individu yang membangun maghligai rumah tangga. Sebelum memutuskan untuk berpoligami, mendukung niatan berpoligami atau sebaliknya menolak poligami. Saya ingin mengungkapkan pikiran saya tentang poligami ini. Dan saya mengambil salah satu buntut pernikahan poligami yang tak berakhir bahagia di pihak istri dan anak-anak. Silahkan pembaca bisa berkomentar di catatan ini jika ada ending bahagia dari pihak anak, istri, madu, dan suami dari pernikahan poligami ini.

Setahun lalu, ada berita  yang menggemparkan warganet. Tentang Evy Suliastin Agustin (26) yang membunuh tiga anaknya -Sayid Mohammad Syaiful Alfaqih (6), Bara Viadinanda Umi Ayu Qurani (4) dan Umi Fauziah (4 bulan)-dalam upaya bunuh diri yang tak berhasil . Istri ke dua Fakihudin waktu itu masih dalam perawatan di RSUD Jombang dinyatakan tersangka. Saya baca berulang-ulang beritanya. Hal ini karena ada dorongan ingin tahu saya apa penyebab peristiwa memilukan pada  15 Januari 2018 jam 21.00 ini. Mana ada ibu yang tega berlaku demikian kepada buah hatinya yang semasa bayinya digendong, disusui, dirawat dengan kasih sayang dan belaian lembut agar merasakan kenyamanan tiba-tiba mengajak mereka minum baygon? Dan ketiganya akhirnya mati. Rasanya sedih membaca kematian tragis yang menimpa anak seusia murid-murid PAUD ini, mereka tak membuat kesalahan tapi mengalami perlakukan begitu.

Berkali- kali saya membaca berbagai sumber berita penyebab kejadian tragis ini. Sayapun membaca chat- chat sosial media seperti WAG maupun komentar postingan berita di sosial media antara lain karena pernikahan dini berdampak pada kurang matangnya si ibu dalam menyikapi persoalan hidup (bisa dihitung usia ibu 26 tahun memiliki anak pertama usia 6 tahun). Riwayat hidup si ibu yang hidup di panti asuhan setelah ditinggal mati bapaknya sementara ibunya menjadi TKW di luar negeri kemudian mondok dan dinikahi sirri oleh seorang yang dipanggil Gus Din menjadi alasan berikutnya. Ia bukanlah satu- satunya istri Gus Din alias ia dimadu dengan perempuan lainnya. Dalam chat-chat membahas berita pembunuhan ini, tidak sedikit yang menyinggung masalah pernikahan lebih dari satu istri (poligami) yang dikaitkan dengan penyebab pembunuhan tersebut.

Selama ini, saya menanggapi ringan tiap diskusi di sosial media yang membahas poligami ini.Ya, karena saya takut salah memahami tiap pendapat tentang poligami, hal yang dibolehkan oleh Allah SWT namun sulit diterima oleh perempuan dan mungkin anak-anaknya. Bagi perempuan yang dimadu bukanlah hal mudah melepaskan hatinya untuk berbagi kasih sayang dan apa saja yang menjadi haknya dari suaminya akan dibagi kepada perempuan lain dengan status istri suaminya.

Bukanlah hal mudah ketika istri yang satu membutuhkan kehadiran sang suami tiba-tiba tak dapat dipenuhi karena suami sedang memenuhi hak madunya. Tidak mudah pula, istri yang juga ibu dari anak-anaknya memahamkan kepada mereka mengapa ayahnya tidak bisa sepenuhnya memperhatikan mereka sepanjang waktu kehadiran dan mendampingi aktivitas anak-anak sebagaimana anak-anak yang ayahnya mampu mencurahkan perhatiannya penuh karena tak ada tanggungjawab untuk membahagiakan anak-anak dari ibu yang lain.

Apakah tugas untuk berpikir bijak menyikapi poligami ini hanya milik sang istri dan istri pula yang harus kuat menahan sakitnya luka dihadapan anak-anaknya atas keputusan berpoligami ayahnya? Apakah ini masih dianggap perempuan egois tidak memikirkan kebaikan sang suami yang menolong perempuan lain agar terangkat status sosialnya dengan menjadikan ia madunya? Tidak bisakah suami bersama istri menolong perempuan itu dengan mencarikan pria single? Para suami yang melakukan poligami tidak hanya Gus Din saja. Dari sekian yang menjalani pernikahan poligami, baik dari kalangan tokoh masyarakat, tokoh agama dan selebritas, cerita bahagia yang bagaimana yang bisa dijadikan syiar bahwa pernikahan poligami ini menyelesaikan masalah dari sudut pandang istri kesatu, istri kedua, suami, masing-masing anak-anak mereka dan aspek kehidupan yang lainnya?

Jika niatan berpoligami adalah niat ibadah kepada Allah, apakah ulama-ulama yang baik pemahamannya kepada agama dan mengamalkan ajaran agama sehingga menjadi panutan ummat, rujukan dalam berpendapat, memiliki santri-santri yang taat semuanya menjalani pernikahan poligami? Yang sudah nampak dalam indra kita, mereka yang terpadang dari segi ilmu pengetahuan dan  status sosial seperti Habibie, Suharto dan SBY tidak melakukan hal itu. Mungkin saya membuat majas hiperbola mengaitkan bahasan ini dengan para mantan presiden ini. Tapi mereka juga manusia menjalani tahapan hidup yang miirp bahkan sama, cuma beda bagaimana menjalaninya.

Siapakah yang dibahagiakan oleh pernikahan poligami jika ada dampak yang memilukan hingga ada anak-anak tak pernah tahu urusan orang tuanya terbunuh di tangan ibunya sendiri?

Siapakah yang dibahagiakan oleh pernikahan poligami ketika seorang ibu yang menahan cemburu misalnya ditanyai anaknya “ayah dimana?” Cukupkah sang ibu menjawab,

“Sedang berada di rumah ibu Fulan ” (misalnya). Pernikahan yang sejatinya dijalani seumur hidup bisakah anak dan istri yang berada dalam kehidupan pernikahan poligami ini memiliki suasan batin yang stabil selalu ihlas, istri yang bersikap dan berpikir bijak dengan dinamika perjalanan poligami suaminya?

Nuwon sewu, kepada mendiang Habibie dan keluarga, kalau biopiknya saya jadikan bahan renungan berdampingan dengan kisah memilukan di daerah saya untuk memahami kembali arti bahagia dalam biduk rumah tangga itu tak bisa dijalani secara parsial. Dalam keluarga, bahagia itu dapat dirasakan benar-benar bahagia ketika suami,istri dan anak-anak bahagia. Berhati- ati saya tuangkan pikiran saya dalam tulisan ini untuk menghindari salah persepsi tentang pandangan saya terhadap pernikahan poligami.

Apa yang sudah diatur Allah dalam al-Quran adalah ajaran yang kebenaran bagi saya dan seluruh umat manusia. Allah Maha Bijak, Allah Maha Tahu, apakah hambaNya mampu atau tidak menjalankan perintahNya yang termaktub dalam AlQuran, terbukti ada tahapan-tahapan dalam beribadah kepadaNya. Mungkin manusia saja yang kurang paham bagaimana menerapkan ajaran agama yang dikehendakiNya. Manusia lupa bahwa mengambil dalil AlQuran secara parsial akan berakibat tidak baik bagi dirinya di kemudian hari.

Sungkem ta’dhim saya kepada Pak Habibie dan Ibu Ainun teriring do’a semoga rahman, rahim dan pengampunan Allah melapangkan jalan beliau bedua menuju keabadian.

Selamat Tinggal Televisi, Selamat Datang Media Sosial

0

Media lama (old media) sudah mulai ditinggalkan. TV mulai banyak tidak dilihat, terutama bagi generasi milenial. Mungkin hanya ibu-ibu tua yang masih setia duduk di depan TV untuk melihat sinetron, gosip selebritis (infotainment), atau acara-acara hiburan di TV. Sedangkan, anak-anak muda dan belia atau yang masuk kategori generasi milenial mulai beralih pada Youtube sebagai tontonan, juga jenis-jenis media sosial lainnya.

Kampusdesa.or.id–Para peneliti mengatakan bahwa, “media sosial adalah televisi yang baru”—persis yang dikatakan Brahamson (2017) dalam tulisannya berjudul Social Media Is the New Television. Dipaparkan bahwa saat ini media sosial menjadi televisi baru bagi khalayaknya khususnya kaum muda. Menurutnya, kaum muda sudah mulai menjauhi layar televisi. Mereka berganti layar ke layar smartphone.

CNN Indonesia (09/05/2018) memberitakan bahwa jumlah netizen Indonesia yang nonton Youtube hampir menyaingi jumlah netizen yang nonton televisi. Hal ini terungkap dari Survei Google dan Kantor TNS pada Januari 2018: YouTube ditonton oleh 53% pengguna internet di Indonesia. Sementara 57% netizen juga nonton televisi. Berdasarkan survey tersebut membuat prime time menjadi lebih luas karena orang tidak perlu menunggu jam tayang di TV.

Kian ditinggalkannya televisi sebagai old media menurut saya membuka ruang yang lebih demokratis dalam hal hubungan manusia dengan manusia lainnya melalui media. Televisi telah menjadi biang kerok resmi dan tumpuan kesalahan dari beberapa generasi pendidik dan orangtua yang mengkhawatirkan pengaruh buruk dari si “kotak bodoh” pada anak-anak muda yang mudah terpengaruh. Reputasi TV sudah selayaknya tenggelam karena TV sendiri punya dampak buruk untuk otak. Sebuah studi yang dilakukan oleh The National Opinion Research Center dari tahun 1974 sampai 1990— sebagaimana diungkapkan oleh Michael R. LeGault (1996)—menemukan bahwa “menonton televisi memperburuk kosakata, sedangkan membaca koran memperbaikinya.”

Maka sudah selayaknyalah di era milenial ini, warga bisa menikmati media baru yang memungkinkan mereka semua berpartisipasi untuk menyuguhkan dirinya sebagai penyampai pesan—dan bukan hanya sebagai penerima pesan saja. Ketika hanya ada TV, maka yang ada hanyalah masyarakat penonton yang harus menerima tayangan kaum-kaum elit (selebritis) di atas sana.

Kejayaan TV dan old media lainnya bersama struktur sosial yang elitis telah mendapatkan kritik sejak lama—yang tak terpisahkan pula dari masyarakat kapitalistik. Industrialisasi media kapitalis menciptakan—apa yang disebut Alex Comfort sebagai—“masyarakat penonton” yang “berjejal-jejal tetapi kesepian, dipandang dari segi teknik sama sekali tidak merasa aman, dikendalikan oleh suatu mekanisme tata tertib yang rumit tetapi tidak bertanggungjawab terhadap individu.”

Dalam bukunya The Power Elite (1956), Mills mengutuk fungsi media yang lebih berfungsi sebagai instrumentyang memfasilitasi—apa yang ia sebut sebagai—“kebutahurufan psikologis.”

Bahkan sosiolog ternama seperti C. Wright Mills mengajukan pandangan yang pesimistik terhadap fungsi media waktu itu. Dalam bukunya The Power Elite (1956), Mills mengutuk fungsi media yang lebih berfungsi sebagai instrumentyang memfasilitasi—apa yang ia sebut sebagai—“kebutahurufan psikologis.” Mills juga memandang media sebagai pemimpin “dunia palsu” (pseudo-world), yang menyajikan realitas eksternal dan pengalaman internal serta penghancuran privasi dengan cara menghancurkan “peluang untuk pertukaran opini yang masuk akal dan tidak terburu-buru serta manusiawi”.

Elitisme terjadi karena kepemilikan media. Pemilik media adalah kaum elit dengan pergaulannya sebagai kekuatan ekonomis yang mencari keuntungan dan mengakomodasi kepentingan kaum elit sebagai komunikator seperti politisi kelas atas, seniman-selebritis, dan para moralis yang bisa menjaga stabilitas tatanan kapitalistik. Massa rakyat sebagai penonton hanya menjadi penerima pesan (bersifat pasif).

Kini ketika era media sosial muncul, melaui persebaran ‘smartphone’ dan akses internet yang kian mudah orang memiliki medianya sendiri. Media kian dekat dengan banyak manusia. Mungkin juga bisa dikatakan sebagai “sosialisme media” karena jika dulunya media hanya milik kapitalis, sekarang rakyat pekerja dan orang banyak juga punya media—yang disebut “Media Sosial”.

Apakah tanpa masalah? Tentunya masalah baru muncul. Yang paling menonjol, sejak setiap orang bisa menjadi pengirim pesan dan menyebar informasi, peluang munculnya pesan-pesan yang buruk, informasi yang tidak teruji atau bohong (hoax), fitnah, dan ungkapan-ungkapan serta opini yang agresif dan bernuansa kebencian semakin besar. Sebanyak-banyaknya kritik terhadap media lama yang diorganisir sebagai perusahaan media, justru mereka punya pekerja-pekerja informasi yang terlatih, profesioal, dan dibekali dengan etika jurnalistik yang ketat.

Tapi, terbukanya ruang bagi tiap orang sebagai penyebar informasi, memungkinkan niat jahat lewat penyebaran informasi dapat dilakukan. Demikian juga niat narsis difasilitasi. Egoisme dan selfisme merajalela lewat media sosial. Artinya, tidak semua distribusi tulisan, gambar, dan video adalah suatu pesan yang berkualitas. Bisa jadi malah punya dampak yang buruk.

Maka yang harus dilakukan kemudian adalah dua hal. Pertama, menciptakan content-creator atau pencipta pesan yang berkualitas. Kedua, mengajak melakukan literasi media sosial agar pesan-pesan yang berseliweran di medsos tidak diterima mentah-mentah dan ditelan begitu saja sebagai sebuah kebenaran. Di situ mencakup pemberdayaan warga medsos baik sebagai penyampai pesan dan sebagai penerima pesan.

Kemampuan menciptakan content harus ditingkatkan. Harus dicetak kreator-kreator yang kreatif, edukatif, yang tidak menyumbangkan dampak negatif bagi masyarakat di era medsos.

Sebagai penyampai pesan, kemampuan menciptakan content harus ditingkatkan. Harus dicetak kreator-kreator yang kreatif, edukatif, yang tidak menyumbangkan dampak negatif bagi masyarakat di era medsos. Workshop-workshop menulis postingan, membuat video dengan basis literasi yang baik, pemahaman terhadap pentingnya melakukan edukasi melalui konten-konten yang berkualitas menjadi penting untuk sering dilakukan.

Sebagai penerima pesan, warga harus punya kemampuan kritis dan analitis terhadap apa yang disebarkan oleh akun medsos. Jangan gampang menyebarkan (share) atau like. Dianalisis dulu bagaimana isinya. Bahkan jika postingan atau tayangan media sosial masuk pada kategori kejahatan, maka ia harus dilawan dan setidaknya jangan sampai menyebar luas.

Trenggalek, 20/10/2019

Jangan Khianati Rakyat, Surat Terbuka Pelantikan Jokowi Ma’ruf Amin

0

Asssalamu-alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bapak Jokowi dan KMA, pertama kali, ijinkan saya menyampaikan selamat kepada Bapak berdua yang dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI untuk masa jabatan 2019-2024. Saya tahu, Bapak berdua saat ini sangat sibuk mempersiapkan pemerintahan baru. Jika saat ini tak sempat membaca surat ini, saya sungguh maklum. Ini hanyalah sebuah surat biasa, dari rakyat biasa, sekalipun jika sempat membacanya, saya sungguh sangat bahagia.

Bapak Jokowi dan KMA yang saya muliakan, saya sengaja menulis surat ini untuk Bapak berdua agar Bapak berdua menyadari bahwa rakyat menginginkan Bapak berdua selalu seiring sejalan dalam menahkodai negeri ini. Pak Jokowi memilih KMA sebagai wakilnya tentu bukan untuk sekedar memajang fotonya. Pun Bapak KMA bersedia mendampingi Pak Jokowi tentu bukan sekedar untuk memanfaatkannya. Bapak berdua mendapatkan amanat dari rakyat Indonesia untuk memimpin negeri ini berdua, bukan untuk memuasi ambisi diri sendiri sambil diam-diam mengkhianati pasangannya.

Bapak Jokowi dan KMA yang saya hormati, dengan surat ini saya mungkin terkesan menggurui, tapi percayalah, saya adalah seorang santri yang tahu adab kepada seorang kiai. Sekalipun demikian, saya adalah rakyat dengan seluruh hak yang melekat dalam diri saya. Apa yang saya lakukan ini adalah karena saya warga negara dan Bapak berdua adalah pemimpinnya. Adalah sehat bagi kita semua jika saya sebagai rakyat tidak ketakutan kehilangan nyawa hanya karena mengkritik pimpinannya. Saya tidak ingin Bapak berdua sebagai penguasa merasa bisa melakukan apa saja sehingga akhirnya jatuh pada tindakan-tindakan nista yang mengkhianati bangsanya.

Bapak Jokowi dan KMA yang mulia, Bapak berdua tentu pernah mendengar kisah pelantikan Abu Bakar As-Siddiq sebagai khalifah menggantikan Rasul Muhammad. Dalam pidato pelantikannya, beliau berkata:

“SESUNGGUHNYA AKU TELAH DIANGKAT SEBAGAI PEMIMPIN KALIAN MESKI AKU BUKAN YANG TERBAIK DI ANTARA KALIAN. JIKA AKU BERBUAT BAIK, DUKUNGLAH AKU. SEBALIKNYA, JIKA AKU BERBUAT SALAH, LURUSKANLAH AKU. KEJUJURAN ADALAH AMANAH, SEDANGKAN DUSTA ADALAH PENGKHIANATAN. KAUM YANG LEMAH MENEMPATI POSISI YANG KUAT DI SISIHKU HINGGA AKU DAPAT MENGEMBALIKAN PADANYA HAK-HAKNYA. SEDANGKAN KAUM YANG KUAT MENEMPATI POSISI YANG LEMAH DI SISIHKU HINGGA AKU DAPAT MENGAMBIL DARINYA HAK-HAK ORANG LAIN.”

Bapak Jokowi dan KMA yang terhormat, satu setengah milenium yang lalu, bahkan seorang manusia gurun seperti Abu Bakar telah sadar bahwa ketika seseorang diangkat menjadi pimpinan, sama sekali tidak berarti bahwa orang itu adalah yang terbaik. Apakah Bapak Jokowi dan KMA adalah manusia terhebat dan terbaik di negeri ini? Tentu Bapak berdua akan menjawab ‘tidak’. Bapak berdua adalah politisi yang mendapatkan mandat kememimpinan dalam proses politik. Proses politik bukan perlombaan manusia hebat. Karena itu, janganlah Bapak berdua menjadi sombong seakan Bapak berdua adalah manusia paling mulia yang tidak mungkin salah. Karena Bapak berdua bukanlah manusia terbaik-termulia, jangan pernah menutup hati dan telinga bahkan kepada suara manusia yang paling rendah derajatnya.

Bapak Jokowi dan KMA yang terkasih, Abu Bakar As-Siddiq telah memberi pelajaran kepada kita semua bahwa soal kepemimpinan adalah soal memilih di antara dua pilihan: memegang amanat atau berkhianat. Jika Bapak berdua ingin tetap memegang amanat, jujurlah kepada rakyat! Tepati jani! Bapak berdua dipilih untuk memimpin kami, bukan untuk memanipulasi kami demi keuntungan pribadi, memperkaya keluarga, kolega, para pendukung, dan para pencari untung. Tapi jika Bapak berdua memilih untuk menjadi pengkhianat, Bapak berdua akan berhadapan dengan kami, karena sesungguhnya di tangan kamilah kekuasaan itu bermula. Jangankan seorang kader partai dan kiai, bahkan Abu Bakar Sahabat Nabi pun mempersilahkan rakyatnya untuk menentangnya jika dia mengkhianati amanat rakyatnya.

Bapak Jokowi dan KMA yang terhormat, jika pidato Abu Bakar terasa teramat jauh, tengokla sejarah teladan kepemimpinan dari negeri ini sendiri. Bapak berdua akan menemukan teladan keadilan pada diri seorang ratu. Dialah Ratu Shima, seorang ratu Kerajaan Khalingga yang bertahta di masa yang hampir bersamaan dengan kekuasaan para Khulafaur Rasyidin. Sang Ratu sangat dicintai rakyatnya karena sanggup menciptakan kemakmuran dan ketegasannya dalam menegakkan keadilan. Seakan perwujudan dari pernyataan Abu bakar, dalam kekuasaan Ratu Shima, si lemah dikuatkan, dan yang zalim dilemahkan. Keadilan itu untuk semua orang. Bahkan, dia tidak segan-segan memotong kaki putranya sendiri hanya karena menyentuh barang yang bukan miliknya.

Bapak Jokowi dan KMA yang tersayang, jangan baper hanya karena ada kelompok kampret yang tak memilihmu. Bapak berdua adalah presiden dan wakil presiden untuk seluruh rakyat Indonesia. Bahkan para golputers pun berhak menuntut Bapak berdua karena mereka juga adalah pemilik sah negeri ini. Kepemimpinan bukan soal berfoto di rumah-rumah kumuh, tapi soal bagaimana menyelesaikan kemiskinan. Kepemimpinan bukan semata-mata tentang blusukan, tapi bagaimana memberi ketenteraman dan kemakmuran kepada semua orang. Bapak berdua tak mungkin bisa memuaskan semua orang, tapi itu tidak bisa menjadi alasan untuk tidak menegakkan keadilan. Selalu ingat, “Kejujuran adalah amanah; pengkhianatan adalah dusta.”

Demikian surat dari saya, sekali lagi, selamat menjalankan amanat rakyat sebagai Presiden Republik Indonesia 2019-2024.

Wassalam

Surabaya, 18 Oktober 2019

Positif Youth Development, Mencerdaskan Remaja melalui Pemberdayaan Komunitas

0

Biarkan para remaja tahu betapa berharganya mereka bagi Bangsa Indonesia, dengan segala cara bebaskan remaja dari virus ke sia sian. Arung jeram kejahiliaan peradaban 4.0 mesti dinetralisir melalui kegiatan ekstra sekolah yang humanis dan konstruktif.

Kampusdesa.or.id- “Remaja” adalah fase transisi menuju dewasa, gaya hidup egosentris, liar dan tak kenal takut merupakan bagian dari jiwa mereka yang sedang mencari identitas diri. Kemampuan berfikir rasional dan gelora antusiasme yang kuat merupakan karunia baru bagi remaja setelah melewati masa kanak kanak. Namun karunia tersebut dapat berubah menjadi keburukan apabila termanipulasi oleh lingkungan yang ugal ugalan.

Lagi lagi kita harus mereview ulang bahwa remaja dipengaruhi oleh tiga hal, yang pertama adalah pola asuh orangtua, lingkungan dan teman sebaya. Sekolah adalah lapangan yang kondusif untuk merawat akal sehat remaja untuk tetap visioner mempersiapkan masa depannya. Dalam konteks sekolah, Fungsi orangtua dapat diwakili oleh guru , lingkungan dapat disiasati dengan membentuk komunitas belajar atau kegiatan di sekolah dan pelatihan peer counseling sehingga dapat mengarahkan hubungan teman sebaya kepada hal yang tidak beresiko. Salah satu pendekatan untuk mensukseskan hal tersebut ialah Positive Youth Development (PYD). Pendekatan positif pada perkembangan remaja bertujuan untuk menciptakan kesempatan kesempatan bagi remaja berdasarkan kekuatan (Strengt) mereka. Program yang dapat membuat remaja terkoneksi dengan sesama dan lingkungannya serta mengasah life skill sebagai bekal ke tahap dewasa nantinya.

Karakteristik Remaja berbeda dengan anak SD. Rentang usia remaja ialah saat anak berusia 12-17 th. Berdasarkan konsep biologis ditandai ketika anak sudah mengalami mimpi basah pada anak laiki laki dan mentruasi pada anak perempuan. Saat usia tersebut anak di Indonesia pada umumnya sedang mengenyam pendidikan di bangku SMP dan SMA, atau jenis pendidikan lainnya berupa Madrasah, Boarding school dan Pondok Pesantren.

Data dari berbagai sumber berita tahun 2018 tercatat  kasus tawuran antar pelajar naik dari 11 persen menjadi 14 persen. Survei demografi tahun 2017 mengungkapkan umur mulai minum alkohol sebesar 70 persen didominasi anak berusia 15-19 tahun. Riset tahun 2017 menyebutkan bahwa ada 43,7 juta gamer di Indonesia dan 2,7 juta player diindikasikan kecanduan game online. Info terbaru dari Kominfo dari 142 pengguna internet terdapat 30 Juta anak millenial aktif bermain game setiap harinya. Dalam kasus lain, dari 500 remaja di lima kota besar Indonesia, 33 persen remaja pernah melakukan seks penetrasi. Beberapa sajian fakta tersebut cukup kiranya menggambarkan bahwa permasalahan remaja di negeri ini harus terus ditekan baik secara preventif dan kuratif. Siswa yang terjerumus dalam lingkaran kenakalan remaja pasti diantara ketiga komponen yaitu pola asuh, lingkungan dan teman sebaya ada yang tidak beres!.

Maka melalui program PYD diharapkan memiliki dampak preventif terhadap kenakalan remaja. Penelitian Systematic review of positive youth development oleh Bonell dkk tahun 2016 menjelaskan bahwa PYD didefinisikan sebagai kegiatan pendidikan berbasis relawan (voluntary) yang bertujuan untuk meningkatkan komponen perkembangan positif bagi remaja dalam hal kecakapan (skill), sikap kesopanan (attitudes), hubungan (relationships) dan identitas diri. Definisi lain meyebutkan bahwa PYD  merupakan kegiatan pendidikan diluar jam sekolah untuk membangkitkan aset perkembangan remaja seperti resiliensi, sosial, emosional, kognitif, kompetensi moral, determinasi diri, spiritualitas, kepercayaan diri, percaya terhadap masa depan dan terlibat dalam aktivitas pro sosial. Berbagai macam aset tersebut dapat dilatih melalui berbagai wadah, seperti keluarga atau komunitas lokal.

PYD didefinisikan sebagai kegiatan pendidikan berbasis relawan (voluntary) yang bertujuan untuk meningkatkan komponen perkembangan positif bagi remaja dalam hal kecakapan (skill), sikap kesopanan (attitudes), hubungan (relationships) dan identitas diri.

Hasil penelitian Jelice dkk tahun 2005 menunjukkan PYD dapat memprediksi kontribusi yang lebih tinggi dan menurunnya tingkat perilaku berisiko. Schwartz dkk 2010 menggambarkan  PYD bertindak sebagai faktor protektif untuk perilaku berisiko, khususnya merokok dan penggunaan ganja. Sementara di Malaysia, riset tahun 2018 menyatakan kelekatan teman sebaya dari 677 responden melalui konsep PYD terbukti memiliki hubungan positif dengan religiusitas dan aktifitas pro sosial.

Positif youth Development selain memiliki efek pencegahan, dapat juga menjadi proses promotif untuk mengalihkan remaja dari kesempatan berperilaku negatif. Kecenderungan remaja yang menjauhi orangtua karena ingin bebas membuat mereka lebih terbuka terhadap relasi pertemanan sebaya. Sehingga perlu diciptakan ruang antara remaja dengan dunia sosial mereka salah satunya dengan pembentukan komunitas di sekolah. Konformitas pada usia remaja menjadikan lingkungan komunitas sebagai sarana yang tepat dalam pembentukan psiko-sosial, termasuk identitas dan penanaman nilai moral dan spiritual.

Konformitas pada usia remaja menjadikan lingkungan komunitas sebagai sarana yang tepat dalam pembentukan psiko-sosial, termasuk identitas dan penanaman nilai moral dan spiritual.

Bukankah hampir di sekolah SMP-SMA sudah ada komunitas atau kegiatan ekstrakulikuler? Iya, memang kegiatan komunitas ektrakulikuler menjadi unggulan namun hal itu hanya sebagai embel embel pemanis bahwa sekolah itu maju dan memiliki banyak fasilitas, setelah remaja lulus, efek dari kegiatan ekstra tersebut nihil tak berbekas. Komunitas yang ada disekolah rata rata masih kering, belum menerapkan konsep PYD. Remaja mengatur dan mengeksekusi kegiatan komunitas mereka sendiri tanpa ada pembinaan dan monitoring yang jelas dari guru, itulah kecacatan sebagian komunitas kita. Disisi lain, pembinaan jika hanya berorientasi pada hasil popularitas perlombaan dan kompetensi skill, tanpa ada pembinaan kepribadian remaja yang terstruktur dan berkelanjutan, itu sama saja dengan mentraining siswa menjadi buruh, kering!

Pembinaan jika hanya berorientasi pada hasil popularitas perlombaan dan kompetensi skill, tanpa ada pembinaan kepribadian remaja yang terstruktur dan berkelanjutan, itu sama saja dengan mentraining siswa menjadi buruh, kering!.

Remaja merupakan masa dimana kretitiftas tak terbendung, tenaganya tak berujung. Sayang jika masa remaja tidak dimaksimalkan dengan baik. Remaja adalah tunas, tunas yang baik pasti akan tumbuh menjadi pohon yang kuat, sedang tunas yang cacat sudah pasti hanya menumbuhkan pohon yang rapuh dan tak berbuah. Perbedaan kegiatan ektrakulikuler atau komunitas lokal pada umumnya dengan konsep PYD terletak teknis fase dan area yang dicanangkan. Fase PYD yang pertama ialah persiapan konsep program, kedua adalah impelementasi program dan ketiga monitoring berkelanjutan. Disetiap fase terdapat fokus area, eksekutor, aktifitas spesifisik dan strategi kedepan atau evaluasi. Sederhananya, PYD membungkus kegiatan komunitas untuk remaja dengan memaksimalkan prinsip ekologi perkembangan manusia, sangat disiplin, target perubahan psikologis jelas, team fasilitator yang koperatif berkomitmen melakukan evaluasi pada hasil akhir kegiatan.

Sederhananya, PYD membungkus kegiatan komunitas untuk remaja dengan memaksimalkan prinsip ekologi perkembangan manusia, sangat disiplin, target perubahan psikologis jelas, team fasilitator yang koperatif berkomitmen melakukan evaluasi pada hasil akhir kegiatan.

Remaja perlu pendampingan, berbeda dengan orang dewasa yang sudah memiliki kesadaran penuh atas target belajarnya. Mendengarkan aspirasi remaja dan menghargai apa yang disuarakan oleh remaja merupakan proses penting dalam PYD, sebab remaja merupakan masa transisi dari anak anak menuju dewasa. Perlu diketahui , positif youth development tidak terlalu fokus dalam bidang permasalahan remaja , melainkan  fokus pada apa yang dibutuhkan remaja untuk tumbuh.

Dalam proses pendampingan pun ada seninya, guru pasti akan menyampaikan materi sebaik mungkin agar mudah diterima oleh siswa. Hal itu bagus, namun akan lebih sempurna apabila dalam proses evaluasi dibarengi penciptaan  kesadaran kritis,  dimana remaja mengerti untuk apa ia belajar materi tersebut dan bagaimana materi tersebut menjadi bermakna bagi siswa. Kesadaran akan kebutuhan belajar lebih mudah dimunculkan ketika remaja mampu menulis konsep cita cita di masa depan dengan spesifik dan penuh komitmen.

Akan lebih sempurna apabila dalam proses evaluasi dibarengi penciptaan  kesadaran kritis,  dimana remaja mengerti untuk apa ia belajar materi tersebut dan bagaimana materi tersebut menjadi bermakna bagi siswa.

Jika anda sempat mengikuti, pada tanggal 10 Oktober 2019 lalu, HIMPSI memperingati hari kesehatan mental sedunia dengan tema “ Working Together to Prevent Suicide “ , salah satu pencegahan dari kasus bunuh diri adalah dengan memberi ruang bicara pada teman atau kerabat yang sedang memilik masalah. Ruang curhat, ruang berbincang untuk melampiaskan keresahan remaja adalah sasaran vital yang tidak boleh kosong. Ruang ini menjadi perhatian penting PYD, dimana remaja harus memiliki teman atau ruang yang nyaman untuk menumpahkan keluh kesahnya, melalui itu diharapkan terjadi penguatan dan self evaluation pada remaja itu sendiri.

Remaja perlu dibesarkan hatinya, jangan melulu dianggap remeh apalagi selalu dilabeli  anak baru gede (ABG). Pemuda merupakan sumber dan partner yang dapat menghasilkan kontribusi besar dalam segala hal. Pendekatan PYD mangajak semua kalangan untuk berkolaborasi bersama remaja, dalam artian melibatkan remaja dalam kegiatan komunitas. Contohnya Komunitas Jurnalistik sekolah bekerjasama dengan dinas sosial mengadakan sekolah calistung gratis bagi anak jalanan. Selain melibatkan berbagai kalangan warga, kegiatan tersebut mampu menyadarkan empati, apa dan bagaimana mereka bertanggung jawab dalam ranah kehidupan bermasyarakat.

Disadur dari Student Mentoring, Departmenet Of Education and children service, Goverment of South Australia terdapat tiga komponen dalam penerapan PYD, diantaranya adalah kelekatan (Enggagement), ketersambungan (Connectedness), Persiapan (Preparedness).

“ Saya merasa dianggap ada ”,  ungkapan tersebut adalah bentuk engagement yang berhasil terbentuk. Dalam wadah komunitas, suara pemuda bagaimanapun kualitasnya perlu mendapat apresiasi setidaknya diterima atau ditolak dengan cara terhormat. Hal tersebut perlu dilakukan agar supaya rasa “ ingin berpartisipasi ” pemuda terhadap kegiatan komunitas  tetap terjaga. Berilah pemuda kepercayaan untuk terlibat mengambil keputusan dan bertanggungjawab atas konsekuensi pilihannya. Sehingga pemuda akan merasa benar benar memiliki  “ nilai “ di dalam komunitasnya

Krisis identitas pada pemuda diawali dengan kebingungan pemuda tentang “ peran “ apa yang sesuai untuk mereka. Maka untuk menyetabilkan kebingungan tersebut, pemuda butuh terkoneksi dengan keluarga dan komunitas yang dapat diajak untuk berkolaborasi dalam ranah sosial yang luas. Hal ini akan membangun identitas pemuda, efikasi diri, meningkatkan kepekaan terhadap sesama dan menjadi stimulus berfikir ke arah masa depan,  ini lah yang disebut dengan Connectedness.

Komponen terakhir ialah Preparedness persiapan. Persiapan yang dimaksud adalah pengembangan kemampuan pemuda berupa life skill untuk menuju kehidupan dewasa. Life skill yang dimaksud mencakup ranah kompetensi kognitif, sosial, emosional , kejuruan dan budaya. Life Skill tentu diajarkan melaui program dan tenaga didik yang ahli di bidangnya. Ketika remaja telah melakukan persiapan tersebut dengan baik, maka ia akan memiliki kemampuan untuk menghadapi perbedaan dan menyelesaikan target hidupnya. Komponen ini banyak berhasil dicapai oleh lembaga sekolah yang elit, dalam artian pihak sekolah dan komite siswa memiliki komitmen dan kesepatakan  untuk membayar iuran yang tidak kecil jumlahnya  demi kelengkapan kebutuhan sarana pendidikan yang terbaik.

Ketiga komponen positive youth development nampak efektif jika diterapkan dalam komunitas baik berupa ektrakulikuler atau lembaga remaja lokal. Kenapa menekankan Komunitas? Kenapa remaja harus cerdas?.

Komunitas amoral lebih menarik dan masif dibumbui kecanggihan teknologi informasi 4.0 daripada komunitas yang  mempromosikan kebaikan. Parahnya, remaja kita mematok baik buruknya sebuah perilaku kelompok bukan dari konsekuensinya melainkan sebarapa enjoy dia dalam aktifitas tersebut.

Rusaknya perilaku remaja saat ini, yang telah disebutkan pada paragraf ke empat adalah dampak dari komunitas global yang tidak karuan,. Komunitas amoral lebih menarik dan masif melalui kecanggihan teknologi informasi 4.0 daripada komunitas yang  mempromosikan kebaikan. Parahnya, remaja kita mematok baik buruknya sebuah perilaku kelompok bukan dari konsekuensinya melainkan sebarapa enjoy dia dalam aktifitas tersebut. Maka melalui komunitas terdekat yakni lingkup sekolah, keluarga dan sekitar akan menjadi tindakan primer yang preventif . Konsep PYD diharapkan  bisa menjadi filter dan mengarahkan remaja ke jalan yang dicita citakan bangsa.

Kesimpulannya, remaja Indonesia perlu dibuat cerdas terlebih dahulu sebelum dicetak menjadi pintar. Karena makna “ cerdas “ adalah kemampuan remaja dalam mengontrol dirinya untuk menyelesaikan masalah tanpa menambah masalah. Positif Youth Development ada untuk membantu terbentuknya kompetensi yang dibutuhkan remaja antara lain; cakap dibidang akademik, sosial, emosional, memiliki identitas diri, sikap peka terhadap diri juga orang lain, berkarakter serta memiliki rasa peduli dan kasih terhadap sesama manusia. Akhir kata , Kepada seluruh praktisi pendidikan, mari  bersama sama lebih gigih lagi mencerdaskan remaja Indonesia.

Tiga Prinsip Dahsyat dalam Berbisnis dari Owner Lapis Tugu Malang

0

Berbicara bisnis tidak hanya tentang untung dan rugi. Melainkan juga prinsip hidup, cara pandang, edukasi, mental, dan kompetensi. Banyak pebisnis pemula yang masih terjebak pada hal-hal receh seperti kekurangan modal, takut tak laku, kalah bersaing dan sebagainya. Akibatnya, bisnis yang dirintis selalu kembang kempis, tak berkembang, kemudian mati dengan sendirinya. Padahal kesuksesan dalam berbisnis bukan persoalan itu saja.

Kampusdesa.or.id—“Hidup adalah bisnis” demikian ujar Prayogo Danardono, owner dari toko kue yang outlet-nya sudah tersebar di berbagai penjuru Malang, Lapis Tugu Malang, mengawali pemaparannya. Pria yang juga dosen di Politeknik Negeri Malang (Polinema) ini pagi itu (29/09) berkesempatan memberikan motivasi berwirausaha dalam Seminar Nasional Kewirausahaan yang digelar Divisi Kewirausahaan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PGMI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Acara yang dilaksanakan di aula Fakultas Sains dan Teknologi ini dihadiri oleh kurang lebih 200 peserta dari berbagai kampus di Malang.

Prayogo memulai pemaparannya dengan meminta salah seorang peserta menjadi volunteer bersamanya di panggung. Ia meminta peserta tersebut menengadahkan salah satu tangannya. “Berat nggak?” tanyanya diikuti gelengan kepala peserta di depannya. Prayogo lalu menaruh sling bag miliknya di atas tangan peserta tersebut. Sekali lagi ia bertanya “Berat nggak?.” Yang ditanya mengangguk.

“Orang yang hidupnya lebih banyak menerima daripada memberi, hidupnya akan terasa berat”

“Ini baru satu ya, kalau saya tambah lagi dan lagi, kira-kira kuat apa tidak? Begitulah hidup. Orang yang hidupnya lebih banyak menerima daripada memberi, hidupnya akan terasa berat .”

Maka, masih menurut Prayogo, dalam berbisnis atau berwirausaha, memberi harus menjadi salah satu prinsipnya. Ia kemudian menceritakan pengalamannya ketika produk tokonya tak habis terjual sementara masa expired tinggal dua hari lagi. Prayogo membagi-bagikan kue tersebut kepada panti asuhan, tukang parkir, tukang becak, dan siapa saja yang membutuhkan.

“Tidak ada ruginya kalau kita memberi. Bisa jadi, berkat doa-doa dari mereka itulah usaha saya bisa seperti sekarang ini. Maka dari itu, jika kalian berbisnis jangan lupa untuk memberi.”

“Kesalahan yang jamak dilakukan oleh para pebisnis pemula adalah terlalu berfokus pada hasil. Padahal, hasil yang baik itu didapat dari proses yang baik”

Prinsip kedua adalah fokus pada proses. Kesalahan yang jamak dilakukan oleh para pebisnis pemula adalah terlalu berfokus pada hasil. Padahal, hasil yang baik itu didapat dari proses yang baik. Dampak dari terlalu fokus pada hasil, tak sedikit para pebisnis yang dilanda kekecewaan saat hasil yang diharapkan tak tercapai. Akibatnya beberapa di antara mereka melakukan berbagai cara untuk mendongkrak pendapatan yang justru kontraproduktif dengan masa depan bisnis yang dibangunnya.

Sementara prinisp ketiga dan yang tak kalah penting adalah prinsip edukasi. Pria energik yang sudah menjadi dosen di Polinema selama 30 tahun ini menceritakan bagaimana ia merekrut karyawan.

“Karyawan saya itu banyak yang saya temukan di jalan. Mereka berasal dari berbagai background pendidikan. Ada yang awal-awal kerja itu tidak bisa senyum dengan ramah kepada pelanggan. Ya saya ajari. Lama-lama juga bisa. Saya memang mengutamakan pelayanan yang baik kepada pelanggan. Saya tekankan kepada karyawan saya bahwa niatkan kerja sama saya untuk mencari ilmu”

Perusahaan yang bagus dan berkualitas memang tidak lahir tiba-tiba atau dalam waktu yang sekejap mata. Ia membutuhkan para karyawan yang juga berkulaitas. Yang disebut terakhir ini hanya bisa diwujudkan melalui proses yang namanya edukasi.

“Semakin banyak ketakutan yang kita pelihara, maka semakin tidak jalanlah bisnis kita”

Selain ketiga prinsip di atas, Prayogo juga menuturkan bahwa dalam berbisnis rasa takut harus kita hilangkan. Takut tidak laku. Takut banyak saingan. Bahkan takut tak punya modal. Semakin banyak ketakutan yang kita pelihara, maka semakin tidak jalanlah bisnis kita.[]

Digitalisasi Bahan Ajar Bahasa Indonesia Berwawasan Lingkungan

0

Ajaib, dari beratus suku dan bermacam adat yang ada, tak membuat susah anak bangsa untuk berkomunikasi. Harmoni merah putih tetap terjaga melalui bahasa yang satu, bahasa Indonesia. Saat ini teknologi adalah medium yang meriah untuk mengawal pengajaran bahasa Indonesia.

Kampusdesa.or.id-Era Revolusi Industri 4.0. membawa dampak yang kompleks dan menyeluruh terhadap kehidupan manusia. Termasuk dalam ranah pendidikan. Era ini ditandai dengan semakin sentralnya peran teknologi siber dalam kehidupan manusia. Pemanfaatan daya komputasi dan data unlimited di era Revolusi Industri 4.0 akibat dari perkembangan teknologi digital dan internet menyebabkan segala hal menjadi tanpa batas.

Era ini memungkinkan terjadinya disrupsi di banyak bidang, tanpa kecuali juga terjadi di bidang pendidikan. Maka tak heran jika dalam dunia pendidikan muncul istilah “Pendidikan 4.0”. Pendidikan 4.0 (Education 4.0) adalah istilah umum digunakan oleh para ahli pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi siber, baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Ini adalah lompatan dari pendidikan 3.0 yang menurut Jeff Borden mencakup pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan. Pendidikan 4.0 adalah fenomena yang merespon kebutuhan munculnya revolusi industri keempat, dimana manusia berupaya memecahkan masalah dan tentu saja menemukan inovasi baru.

Hal tersebut berimplikasi pada munculnya berbagai tantangan dalam pembelajaran. Saat ini, guru dituntut agar mampu memberikan keterampilan yang dibutuhkan oleh siswa-siswanya dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Selain itu juga, pembelajaran pun hendaknya merujuk pada empat karakter belajar abad 21, yaitu 1) berpikir kritis dan pemecahan masalah, 2) kreatif dan inovasi, 3) kolaborasi, dan 4) komunikasi.

Karena itu, dibutuhkan sosok guru yang memiliki motivasi yang tinggi untuk terus belajar meningkatkan kualitas diri dengan mempelajari ilmu dan pengetahuan baru, bersifat terbuka dalam hal-hal yang baru, adaptif terhadap perubahan, merespon dengan tanggap dan cepat terhadap informasi baru dan akomodatif terhadap kebutuhan siswa, serta kreatif dalam mengembangkan media pembelajaran dan bahan ajar, baik dari segi penyediaan bahan ajar, penggunaan model pembelajaran, penggunaan teknik penilaian, dan penciptaaan atmosfir belajar yang mampu membuat nyaman dan semangat siswa untuk belajar.

Seorang guru yang luar biasa adalah sosok guru yang bukan hanya terampil dalam teknologi, berpengetahuan luas dan memiliki kemampuan mengajar yang baik, tapi juga harus mampu menginspirasi para peserta didiknya. Di sinilah seorang guru semestinya punya kreatifitas tinggi untuk bisa berkreasi dan berinovasi, diantaranya dengan melakukan inovasi pengembangan bahan ajar yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan peserta didiknya.

Baca juga : Bahasa Indonesia: Bahasaku dan Bahasa Kita Semua

Dalam hal pengembangan bahan ajar, seorang guru hendaknya memiliki kemampuan mengembangkan bahan ajar, yang bukan saja berorientasi pada pengembangan kompetensi berbahasa Indonesia dan apresiasi sastra, tapi juga mengakomodasi berbagai tuntutan yang bersifat lebih luas, yaitu untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik yang tentunya terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Misalnya terkait tentang pembelajaran. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru (teacher centered), namun lebih berpusat pada peserta didik (student centered), guru berperan sebagai fasilitator bagi siswa. Sebuah keniscayaan yang tidak terelakkan lagi terhadap perubahan yang dikarenakan dari waktu ke waktu kebutuhan, tuntutan dan keinginan manusia juga terus mengalami perubahan.

Seorang guru memiliki peran yang sangat strategis, karena gurulah yang paling menentukan keberhasilan pembelajaran di dalam kelas. Karena itu, guru harus mampu menerjemahkan dan menjabarkan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum dan mentransformasikan nilai-nilai tersebut kepada siswanya. Saat ini peran guru mengalami pergeseran, berbeda dengan guru zaman dulu. Misalnya terkait tentang pembelajaran. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru (teacher centered), namun lebih berpusat pada peserta didik (student centered), guru berperan sebagai fasilitator bagi siswa. Sebuah keniscayaan yang tidak terelakkan lagi terhadap perubahan yang dikarenakan dari waktu ke waktu kebutuhan, tuntutan dan keinginan manusia juga terus mengalami perubahan.

Menurut Munir (2010) mengatakan bahwa globalisasi merupakan justifikasi transformasi dalam pendidikan dan pembelajaran. Guru harus lebih fleksibel, bekerja lebih keras dan mengembangkan keterampilan teknologi agar pendidikan lebih berkontribusi terhadap produktivitas untuk mencapai daya saing. Di sisi lain dalam pembelajaran bahasa Indonesia, hambatan dan tantangan seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman, tentunya juga mengalami perkembangan dan perubahan pula.

Tentu pembaca penasaran dan bertanya-tanya apa makna dari esai berjudul “Digitalisasi Bahan Ajar Bahasa Indonesia Berwawasan Lingkungan,” dan apa alasan dan penjelasan dari judul esai ini. Secara umum, dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia dalam menghadapi permasalahan di era revolusi industri 4.0, solusi yang ditawarkan oleh penulis adalah dengan melakukan digitalisasi bahan ajar bahasa Indonesia berwawasan lingkungan, yaitu bahan ajar mata pelajaran bahasa Indonesia berbasis digital teknologi dengan mengakomodir nilai-nilai cinta lingkungan.

Secara khusus akan saya jelaskan judul di atas dengan menguraikan judul tersebut satu per satu sebagai berikut;

Digitalisasi bahan ajar

Cepat atau lambat, pembelajaran berbasis kertas dan papan tulis akan tergantikan dengan teknologi digital. Buku-buku pelajaran dan modul yang masih memakai kertas sudah mulai tergantikan dengan e-book (buku elektronik), menulis dengan kapur atau spidol di papan tulis, akan dianggap sebagai sebuah pemborosan dan ketidakefektifan, karena itu digantikan dengan teknolgi touchscreen (layar sentuh), jadi hanya dengan telunjuk jari saja kita bisa menulis di papan atau layar LCD (Liquid Crystal Display).

Disinilah perlunya digitalisasi bahan ajar, yaitu proses mengubah berbagai informasi, kabar, atau berita dari format analog menjadi format digital sehingga lebih mudah untuk diproduksi, disimpan, dikelola, dan didistribusikan (wikipedia). Tentu informasi yang dimaksud dalam hal ini adalah materi pelajaran atau bahan ajar mata pelajaran bahasa Indonesia yang diajarkan oleh guru kepada peserta didiknya.

Digitalisasi bahan ajar yang ditawarkan penulis pada esai ini bisa dijadikan alternatif pilihan sebagai upaya memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi pada kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia antara guru dengan siswa baik di dalam maupun di luar kelas. Selanjutnya di akhir pembelajaran bahasa Indonesia, sebagai penyempurna kegiatan pembelajaran, guru melakukan penilaian autentik (authentic assesment), yaitu suatu proses pengumpulan , pelaporan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti autentik, akurat, dan konsisten sebagai akuntabilitas publik (Pusat Kurikulum,

Bahasa Indonesia
Pelajaran bahasa Indonesia adalah salah satu pelajaran pokok dan penting di sekolah, yang harus diajarkan kepada para peserta didik setiap jenjang dan di setiap jurusan. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan komunikasi tentu sangat penting untuk dipelajari. Peserta didik tidak akan mampu memahami berbagai pelajaran yang lain tanpa sebelumnya memiliki kemampuan dan pemahaman terhadap bahasa Indonesia. Selain itu, dengan memahami bahasa Indonesia, diharapkan peserta didik memiliki etika dan kesopanan dengan berbahasa sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada, dan berbahasa sesuai dengan kaidah bahasa.

Tatat Hartati (2006: 75), menjelaskan tentang fungsi mata pelajaran Bahasa Indonesia. Standar Kompetensi ini disiapkan dengan mempertimbangkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara serta sastra Indonesia sebagai hasil cipta intelektual produk budaya yang berkonsekuensi pada fungsi mata pelajaran bahasa Indonesia sebagai berikut:

Sarana pembinaan kesatuan dan kesatuan bangsa
Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya.
Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Sarana penyebarluasan pemakaian Bahasa Indonesia yang baik untuk keperluan menyangkut berbagai masalah
Sarana pengembangan penalaran
Sarana pemahaman beragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusastraan Indonesia.

Berwawasan Lingkungan
Pentingnya peserta didik diberi pemahaman dan pengetahuan tentang wawasan lingkungan dengan membangun kecerdasan ekologis, yaitu kemampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan di mana tempat manusia berada. Hal ini penting untuk dimiliki oleh manusia untuk mampu berinovasi dengan kecerdasan, kesadaran, kemampuan dan kreatifitasnya membentuk sebuah karakter cinta pada lingkungan. Mereka bisa menjadi manusia yang responsif dan cekatan dalam memberikan solusi terhadap suatu masalah lingkungan dan bermanfaat bagi manusia lainnya.

Adapun nilai-nilai karakter cinta pada lingkungan yang perlu ditanamkan pada peserta didik sejak dini dalam konteks kecil di sekolah, diantaranya adalah diharapkan peserta didik memiliki kepedulian lingkungan, sopan santun kepada orang tua dan guru, sayang sesama teman, suka menolong, bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan, disiplin, rajin belajar, patuh, jujur dan dapat dipercaya, cinta kebersihan kelas dan halaman sekolah, tindakan bersih-bersih ketika melihat kelas dan halaman sekolah yang kotor, selalu menghemat penggunaan air, hemat listrik, membuang sampah di tempat sampah, tidak suka mencoret meja, kursi dan tembok, tidak merusak bunga, memelihara dan merawat tanaman di sekolah dengan baik, membersihkan kaca dan jendela kelas dan lain-lainnya. Wawasan lingkungan perlu diintegrasikan dalam materi pelajaran bahasa Indonesia sesuai kurikulum yang sudah ditetapkan, sebagai memberikan bekal kepada peserta didik untuk kehidupannya di masa saat ini dan masa mendatang sehingga diharapkan, peserta didik memiliki nilai-nilai karakter di dalam jiwanya.

Digitalisasi bahan ajar bahasa Indonesia berwawasan lingkungan bisa dikembangkan oleh guru mata pelajaran bahasa Indonesia dengan sekelompok guru yang lain dalam forum KKG (kelompok Kerja Guru) atau MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Bahan ajar bahasa Indonesia yang dihasilkan berbasis teknologi digital yang dikembangkan oleh guru bisa berupa tulisan digital, foto, video, powerpoint, slide show, musik, suara digital, dan lain sebagainya, yang dapat dijadikan sarana guru untuk mendidik dan mengajar peserta didik secara langsung maupun tidak langsung tentang pelajaran bahasa Indonesia sesuai dengan materi pelajaran, sekaligus belajar karakter cinta pada lingkungan dengan berbasis teknologi.

Internalisasi nilai-nilai wawasan lingkungan terhadap peserta didik dalam pelajaran bahasa Indonesia akan lebih mudah dengan bahan ajar yang diinginkan dan sesuai kebutuhan peserta didik saat ini, yaitu bahan ajar berbasis teknologi digital. Bahan ajar yang sudah berbasis tenologi digital ini, tentu perlu didukung dengan sarana dan prasarana lainnya, misalnya komputer jinjing, LCD, pointer, I-pad, handphone berbasis android dan layar sentuh, loudspeaker, dan lain sebagainya.

Implementasi pembelajaran bahasa Indonesia dengan bahan ajar digital berwawasan lingkungan adalah dengan mengimplementasikan pembelajaran campuran sebagai suatu alternatif solusi permasalahan yang mungkin dihadapi oleh guru dalam mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia di Era Indutri 4.0. saat ini.

Satu contoh yang penulis sudah pernah lakukan adalah melakukan pengembangan bahan ajar bahasa Indonesia pada Tema 2 Kepahlawanan Kelas 6 SD/ MI semester 1, dengan mengunduh video di youtube tentang berbagai cerita sejarah dan profil para pahlawan Indonesia. Lalu penulis kumpulkan biodata dan potongan video pendek tersebut di dalam slide powerpoint sesuai dengan yang berisi bermacam-macam profil pahlawan. Peserta didik bisa melihat tayangan foto dan video setiap pahlawan yang ditampilkan dengan menggunaan LCD. Daripada harus membaca di buku, peserta didik lebih antusias dan termotivasi melihat tayangan videonya secara langsung.

Misalnya foto dan video tentang kisah sejarah pahlawan Pangeran Diponegoro. Tinggal klik, kita sudah bisa melihat foto, profil dan film tentang Pangeran Diponegoro. Nilai-nilai wawasan lingkungan bisa dijelaskan oleh guru dengan meminta para peserta didik melakukan refleksi setelah melihat tayangan video tentang Pangeran Diponegoro. Sikap apa saja yang dimiliki Pangeran Diponegoro yang layak untuk diteladani oleh peserta didik. Ditemukanlah nilai-nilaisikap rela berkorban, semangat berjuang demi kemerdekaan, tidak rela harga diri dihina oleh orang lain, tanggungjawab, kecerdasan, dan lain sebagainya. Hal itu juga bisa dicari di pahlawan-pahlawan yang lainnya.

Penulis juga pernah mengembangkan bahan ajar berbasis teknologi dengan mengedepankan nilai-nilai wawasan lingkungan dan spiritual, yaitu dengan mengunduh video-video berbagai bencana alam, yaitu; gempa bumi, angin topan, tsunami, banjir, pasang naik, gunung meletus, meteor jatuh, dan lain-lain lalu mengumpulkannya di dalam slide powerpoint. Misalnya salah satu wawasan lingkungan dalam bahan ajar tersebut diantaranya adalah kepedulian lingkungan dan menjaga kebersihan, untuk mencegah terjadinya bencana banjir. Adapun nilai-nilai spiritual dalam bahan ajar yang pernah saya kembangkant itu adalah, bahwasanya setiap bencana alam ada ayat-ayat Al-Qur’an yang membahasnya. Hal ini tentu dapat menambah keimanan peserta didik terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Berkehendak.

Digitalisasi bahan ajar bahasa Indonesia berwawasan lingkungan, adalah alternatif yang bisa dipilih untuk media pembelajaran yang efektif dan efisien dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan untuk peserta didik

Digitalisasi bahan ajar bahasa Indonesia berwawasan lingkungan, adalah alternatif yang bisa dipilih untuk media pembelajaran yang efektif dan efisien dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan untuk peserta didik. Bahan ajar bahasa Indonesia yang menggunakan sarana teknologi digital, tanpa meninggalkan dan mengabaikan nilai-nilai karakter wawasan lingkungan. Teknologi boleh digunakan, namun akhlak dan karakter yang baik juga harus mengiringi. Jikalau karakter baik sudah menjadi bagian dari kebiasaan diri peserta didik, tentu akan menjadi baik pula untuk orang-orang disekitarnya. Sehingga diharapkan peserta didik memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih hal-hal yang sesuai dengan dirinya atau tidak.

UNTUK PENUTUP ESAI INI, SAYA INGIN MENAWARKAN DIRI. JIKALAU ADA PEMBACA YANG TERTARIK DAN BERMINAT MELIHAT HASIL PENGEMBANGAN BAHAN AJAR SAYA TERSEBUT, SAYA BERSEDIA MEMPRESENTASIKANNYA SEKALIGUS MENGAJARI SECARA LANGSUNG CARA MEMBUATNYA.
DAFTAR PUSTAKA :
Depdiknas. 2009. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.
Hartati, Tatat. 2006. Pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas Rendah. Bandung. UPI.
Munir. 2010. Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta