Rabu, Mei 6, 2026
Beranda blog Halaman 47

Permainan Tradisional, Benarkah Perannya Mulai Tergantikan oleh Media Elektronik?

0

Permainan tradisional ini mulai digantikan dengan media elektronik. Banyak orang tua yang menggunakan televisi dan gadget sebagai media untuk membuat anaknya anteng tanpa peduli dengan dampak dari gadget itu sendiri. Sejatinya, aktifitas bermain pada anak-anak sangat esensial tidak hanya untuk pertumbuhan fisik tapi juga perkembangan emosi dan menambah pengetahuan.

KampusDesa.or.id–Permainan tradisional memegang peran penting dalam menunjang tumbuh kembang anak. Dengan permainan tradisional, anak bisa mengembangkan kecerdasan intelektualnya. Misalnya saja permainan dakon; kecerdasan emosi seperti dalam permainan layang-layang; daya kreatifitas semisal membuat pesawat dari kertas atau kardus bekas; meningkatkan kemampuan bersosialisasi contohnya gobak sodor, dan melatih kemampuan motorik seperti pada permainan engklek. Sebenarnya setiap jenis permainan tradisional dapat meliputi pengembangan dari beberapa kecerdasan sekaligus. Contoh-contoh tersebut untuk menggambarkan kecerdasan yang dominan saja. Meski sangat besar manfaatnya, sayangnya seiring kemajuan teknologi, permainan tradisional ini mulai digantikan dengan media elektronik.

Gadget dapat berpengaruh buruk terhadap perkembangan otak anak.

Media elektronik mengalami perkembangan yang pesat di abad modern. Bila dulu televisi hanya mempunyai satu stasiun televisi yaitu TVRI, namun sekarang banyak sekali stasiun televisi yang menyajikan berbagai program sehingga lebih banyak pilihan. Hal ini juga terjadi pada mobile phone atau handphone (HP). Dulu HP hanya digunakan untuk menelpon dan mengirim pesan pendek (SMS), namun saat ini begitu banyak fitur yang disajikan pada layar HP. Perkembangan internet mengalami kemajuan yang cepat di mana muncul berbagai pilihan media sosial mulai dari facebook, youtube, instagram,  dan sebagainya, yang memungkinkan orang menyebarkan sebuah informasi secara cepat dan luas. Segala kemudahan ini membuat orang menjadi fokus dengan berbagai media tersebut, tak terkecuali anak-anak bahkan bayi sekalipun. Banyak orang tua yang menggunakan televisi dan gadget sebagai media untuk membuat anaknya anteng. Padahal gadget dapat berpengaruh buruk terhadap perkembangan otak anak.

Televisi dan gadget dapat diibaratkan sebagai candu yang dapat membuat anak menjadi addicted atau ketergantungan.

Otak anak mengalami perkembangan yang pesat pada usia di bawah 3 tahun. Kepadatan syaraf pada usia ini merupakan yang tercepat dalam kehidupan manusia. Kepadatan syaraf akan berhenti ketika seseorang berusia 19 tahun. Bila usia anak kurang dari tiga tuhun sudah diberi televisi atau gadget, maka perkembangan kepadatan syarafnya akan terganggu. Televisi dan gadget dapat diibaratkan sebagai candu yang dapat membuat anak menjadi addicted atau ketergantungan. Untuk menghilangkan ketergantungan ini perlu diterapi cukup lama. Anak normal yang menderita ketergantungan terhadap televisi dan gadget bisa terlihat seperti anak berkebutuhan khusus, sehingga anak rawan mengalami salah diagnosis. Bila anak normal usia kurang dari 3 tahun yang mengalami ketergantungan dengan televisi dan gadget diperlukan terapi minimal selama satu tahun, dan tentu butuh waktu lebih lama bagi anak berkebutuhan khusus untuk menghilangkan ketergantungannya dan meminimalisir dampak-dampak buruk yang ditimbulkannya.

Anak juga rentan mengalami gangguan kesehatan terutama menimbulkan obesitas akibat kurang aktifitas karena bermain gadget.

Ada beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh televisi atau gadget. Pertama, anak yang suka menonton televisi dan bermain gadget akan mengalami keterlambatan bicara (speech or language delay). Interaksi searah dari gadget dan televisi membuat anak tidak berkembang kemampuan berkomunikasinya. Anak menjadi tidak mahir memperhatikan gerak bibir dan mengenal ekspresi dari lawan bicara. Kedua, menyebabkan terjadinya gangguan perhatian (attention deficits). Ketiga, gangguan belajar (learning problems). Hal ini sebagai akibat dari gangguan perhatian sehingga anak kesulitan memahami apa yang dipelajarinya. Keempat, timbulnya kecemasan (anxiety). Anak yang menonton kekerasan di televisi atau bermain games perkelahian di gadget rentan mengalami kecemasan dan kesulitan mengendalikan emosi. Terakhir, menimbulkan depresi pada anak. Ketegangan dan kekalahan ketika bermain games di gadget sangat mempengaruhi terjadinya gangguan psikis berupa depresi pada anak. Yang dimaksud depresi di sini adalah kumpulan gejala-keluhan yang tidak dapat diselesaikan dengan baik, berupa sulit tidur, malas bertemu dan berbicara dengan orang lain, mudah emosi, dan lain-lain. Selain kelima gangguan tersebut anak juga rentan mengalami gangguan kesehatan terutama menimbulkan obesitas akibat kurang aktifitas.

Aktifitas bermain pada anak-anak sangat esensial tidak hanya untuk pertumbuhan fisik tapi juga perkembangan emosi dan menambah pengetahuan. Permainan tradisional yang lebih banyak menggunakan aktivitas fisik seperti engklek, egrang, terompah panjang, obak sodor dan lain-lain sangat bagus untuk meningkatkan berbagai jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan bodily, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Mari kita kembalikan jenis permainan anak-anak kita ke permainan tradisional dan jangan fasilitasi mereka dengan gadget agar kita tidak menyesal di kemudian hari.

EDITOR: FAATIHATUL GHAYBIYYAH

Pondok Pesantren, Antara Kebebasan dan Penyesuaian

0

Remaja biasa menghadapi dilema. Upaya memilih yang disukai atau tuntutan belajar menjadikan remaja goyah untuk memutuskan yang terbaik bagi masa depannya. Ada yang terjebak pada kesukaan sesaat, tetapi ada yang sudah rasional menentukan apa yang terbaik untuk dirinya, bahkan untuk Indonesia. Goncangan lain termasuk memilih berdaya tahan di pondok pesantren Quran, atau enyah dari kesempatan tersebut. Suara Nafisa mengisahkan bagaimana seorang remaja bergulat antara kesenangan sesaat, keputusan masa depan, dan dilema berada di pondok pesantren.

Kampusdesa.or.id–Hai semua, untuk mengisi waktu luang di liburan kali ini, ada sedikit cerita yang bisa aku tuliskan.

Masih berhubungan dengan pondok. Bukan cerita yang saat ini, tapi yang kemarin sudah terjadi.

Saya anak kelas delapan dan berumur 13 tahun. Semua orang tentunya punya negara impian masing-masing, termasuk saya. Orang tua saya juga tahu apa negara impian saya, dan Mereka punya cara sendiri untuk membantu saya supaya bisa ke negara yang saya impikan. Tapi dengan cara yang sama sekali tidak pernah saya pikirkan, yakni melalui pondok.

Setelah tes Alhamdulillah saya menjadi salah satu calon santriwati yang lulus dari tes dan diterima, tinggal menunggu waktu masuk pondok diumumkan. Masalah pondok yang akan saya masuki ini memang membuka jalan yang sangat luas menuju negara impian saya, tapi kalau boleh jujur sebenarnya mengenai harus lagi untuk mondok, setelah mulai dari kelas 4,5,6,7, dan sampai kelas 8 ini  selalu berurusan dengan kata pondok, pondok, dan pondok tuh. Kalau juga boleh bilang bosan, maka saya akan mengatakannya. Saya sama seperti remaja lainnya yang masih ingin main ke sana ke sini dan nggak mau ada batasan apapun.

Tapi akhirnya saya tetap mengikuti alur. Saya tetap masuk pondok dan mengikuti semua kegiatan-kegiatan di sana dengan baik. Saya mengikuti pelajaran dengan tekun, setor duluan, apa apa duluan. Pokoknya saya ingin lebih dulu. Dalam tanda kutip, “supaya saya nggak kemakan umur, biar saya bisa ngerasain masa remaja saya di luar sana.” Saking pinginnya saya bisa sekolah SMA secara formal di luar, saya berpikir bahwa “saya hanya mau menyelesaikan proses belajar sampai di Indonesia saja dan tidak mau melanjutkannya sampai negara impian saya. Masalah ke negara impian itu nanti waktu kuliah saja. Yang penting saya tidak melewatkan masa remaja saya”.

Mungkin, saking banyaknya kegiatan dan saya yang terlalu memaksakan diri, akhirnya selang beberapa waktu saya sakit. Sebelum masuk UKS memang seminggu sebelumnya sudah pusing terus menerus, batuk-pilek, meriang, dan lain sebagainya. Dari sini saya merasa mulai ragu, kalau aku sedikit-sedikit sakit, gimana bisa cepet lulus dari sini? Anak-anak yang lain juga anak-anak yang pintar, langkah mereka cepat, pasti aku ketinggalan jauh!. Pokoknya di sesi ini saya benar-benar merasa paling bodoh, lemah, rentan, dan lain sebagainya.

Beberapa hari kemudian saya sembuh. Ketika kami makam malam, ada sebuah insiden yang mana ada teman saya tiba-tiba kejang-kejang padahal sebelumnya dia ketawa-ketawa. Lebih parahnya lagi, dia duduk nggak jauh dari saya, jadi saya bisa melihatnya secara langsung. Semua yang ada di ruang makan kebingungan, apalagi saya saya yang di dekatnya. Lalu apa yang saya pikirkan? MATI. Saya berpikir bahwa teman saya ini sedang sakaratul maut. Dengan cepat kakak-kakak lama membawanya keluar dari ruang makan menuju UKSZ. Jadinya saya benar-benar tidak nafsu untuk memakan mie ayam yang ada di depan saya.

Tapi syukurlah setelah saya bertanya pada kakak-kakak lamanya, teman saya yang tadi itu bukan sakaratul maut, melainkan ia memiliki penyakit epilepsi. Alright bukan sakaratul maut, tapi epilepsi itu sama-sama memngerikan. Fakta selanjutnya bahwa ada teman satu kamar saya sendiri yang memiliki penyakit asma, setiap hari mimisan, bisa sampai 4-5 kali dalam sehari. Sering banget bangun-bangun mau sholat tahajud dia udah bingung lari-lari ke kamar mandi karena tiba-tiba mimisan. Dan satu lagi, bukan teman sekamar tapi satu angkatan, yang satu ini dia punya penyakit vertigo (pusing berat), kalau migrain yang terjadi pada sebagian kepala saja sudah sangat sakit dan dapat menghambat banyak aktivitas, apalagi vertigo yang terjadi pada seluruh bagian kepala.

Dari sini saya mulai membuka mata. Kenapa saya harus merasa lemah, padahal banyak orang yang punya penyakit lebih parah saja mereka selalu tertawa dimana-mana. Seperti bukan orang punya penyakit parah. Lah saya apa… sakit dikit langsung mengeluh. Ini pelajaran yang dapat saya ambil dari satu bulan pertama saya di pondok. Tapi tetap memegang kalau saya tidak mau

Lama-lama di sini, saya ingin merasakan masa remaja saya.

Di lain cerita, menginjak bulan kedua. Pertama saya banyak mendapat kabar tentang teman-teman saya yang meninggal, atau bahkan keluarga teman saya yang meninggal. Kedua, tentang memanasnya politik diluar dan sedikit gesreknya pergaulan di luar, ketiga saya mendapatkan fakta bahwa guru-guru yang mengajar saya umurnya masih kisaran 21-23 tahunan, bahkan ada yang berumur 19 tahun. guru-guru yang mengajar di pondok saya dan cabang-cabang asrama lainnya itu semuannya sudah hafidz, sudah menyelesaikan kelas takamul (penyempurnaan) di luar negri sana (negri impian saya) . dan ijazahnya setara dengan ijazah S1 keagamaan di negara itu. berarti mengajarnya beliau-beliau di sini termasuk juga sudah termasuk penghasilan dong.

“Saya ingin cepat menyelesaikan belajar di asrama Indonesia dan tidak mau melanjutkan belajar di asrama luar negeri, supaya cukup waktunya untuk saya bisa sekolah SMA di luar dan bisa merasakan masa remaja saya di luar.”

Setelah itu saya menimbang-nimbang perkataan saya sendiri tentang: “saya ingin cepat menyelesaikan belajar di asrama Indonesia dan tidak mau melanjutkan belajar di asrama luar negeri, supaya cukup waktunya untuk saya bisa sekolah SMA di luar dan bisa merasakan masa remaja saya di luar. Konsekuensi pertama adalah tentang kematian, kalau saya cepat-cepat keluar dari pondok belum tentu di luar saya sudah bisa membimbing diri sendiri untuk selalu mengerjakan kebaikan, bagaimana kalau saya mati ketika dalam keadaan mengerjakan keburukan? (ketika ini saya mengingat kejadian kambuhnya teman saya yang mengidap penyakit epilepsi, ketika ia tertawa-tertawa terus tiba-tiba kejang, hehe…), kedua tentang dunia luar, saya juga heran padahal sebenarnya apa yang saya inginkan dari dunia luar itu tidak lebih penting dibanding segala pengalaman dan apa yang saya dapatkan di pondok. Ketiga, ini poin yang paling penting… karena ego dan keinginan tidak penting saya, saya hampir melewatkan tujuan utama dan negara impian saya, cita-cita saya. Saya belajar giat bukan semata-mata karena ilmu dan untuk berdakwah di jalan Allah, melainkan untuk bisa cepat keluar dari pondok dan bermain-main di luar sana, bahkan sampai-sampai saya tidak ingin bisa kenegara impian saya.

Dan di bulan ketiga-nya saya mulai berusaha menata niat saya, merubah maindset saya, dan pola pikir saya untuk menjadi lebih positif. Dan untuk kalian semua jangan pernah berfikir pendek apalagi salah berfikir seperti saya, dahulukanlah kebutuhan dan cita-cita kalian, bukan keinginan kalian.

Rabu, 09 Oktober 2019

Menanti Lompatan Staf Khusus Milenial

0

Pembangunan di etape ke-4 revolusi industri sekarang ini memerlukan lompatan-lompatan dan ide out of the box untuk mengejar ketertinggalan. Perkembangan akseleratif teknologi yang membawa dampak multidimensi harus disikapi dengan serius. Masuknya wajah milenial di lingkungan istana tak ayal menjadi tumpuan asa. Akankah ada perubahan siginifikan?

Kampusdesa.or.id—Setelah gonjang-ganjing lantaran masuknya Bos Gojek, Nadiem Makarim, dalam Kabinet Indonesia Maju sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), publik kembali dihebohkan dengan wajah-wajah milenial di jajaran Staf Khusus Presiden. Lagi-lagi, muncul pro dan kontra terhadap langkah berani Presiden kali ini.

Tujuh nama milenial yang didapuk menjadi staf khusus tersebut adalah Andi Taufan Garuda Putra (32), Ayu Kartika Dewi (36), Adamas Belva Syah Devara (29), Grasia Billy Mambrasar (30), Putri Indahsari Tanjung (23), Angkie Yudistia (32), Aminudin Ma’ruf (30). Tujuh nama ini melengkapi tujuh staf khusus yang ditunjuk sebelumnya. Semuanya bukanlah pemuda biasa. Mereka sarat dengan prestasi di bidang masing-masing.

Bagi yang pro, menyikapi hal ini sebagai langkah positif karena para pemuda harus diberi kesempatan berperan dalam roda pemerintahan. Hal ini sekaligus sebagai penyiapan penerus pemimpin bangsa ke depannya. Sementara yang kontra, meragukan kompetensi dan kapasitas para milenial ini. Terutama menghadapi isu-isu kebangsaan yang sedemikian pelik dan kompleks. Apalagi ditambah gaji mereka yang tergolong tinggi, 51 juta.

Jika selama ini, pos-pos strategis di lingkungan istana diisi oleh generasi-generasi senior, dengan gelar akademik mentereng. Presiden Jokowi di periode keduanya ini tak melanjutkan tradisi tersebut

Terlepas dari pro dan kontra di atas, apresiasi patut diberikan kepada Presiden atas langkah beraninya ini. Jika selama ini, pos-pos strategis di lingkungan istana diisi oleh generasi-generasi senior, dengan gelar akademik mentereng. Presiden Jokowi di periode keduanya ini tak melanjutkan tradisi tersebut. Ia menggandeng generasi milenial menjadi mitra diskusinya dalam mengambil kebijakan-kebijakan strategis.

Apa sesungguhnya tujuan Presiden Jokowi mengambil langkah ini? Lompatan, itulah tujuan Jokowi di periode keduanya ini. “Sehingga kita bisa mencari cara baru, cara-cara yang out of the box, yang melompat untuk kejar kemajuan negara kita,” ujarnya di Istana Kepresidenan 21 November lalu sebagaimana dilansir www.liputan6.com.

Di era disrupsi sekarang ini, lompatan dan ide-ide segar yang out of the box amat diperlukan untuk tampil dalam kontestasi global. Kecepatan, ketepatan, kemudahan, dan inovasi merupakan kata kunci sukses di era teknologi sekarang ini

Rupanya Jokowi menyadari sepenuhnya, bahwa di era disrupsi sekarang ini, lompatan dan ide-ide segar yang out of the box amat diperlukan untuk tampil dalam kontestasi global. Kecepatan, ketepatan, kemudahan, dan inovasi merupakan kata kunci sukses di era teknologi sekarang ini. Setidaknya kata kunci-kata kunci tersebut sudah ditunjukkan para milenial melalui tumbuh suburnya industri kreatif berbasis e-commerce yang mereka inisiasi dan kelola sendiri. Tentu ini menunjukkan bahwa mereka layak untuk diberi peran di pemerintahan. Terutama dalam rangka mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Patut kita nantikan lompatan-lompatan dan ide-ide out of the box dari para milenial ini.

Menghabiskan Jatah Gagal, Sanggupkah?

0

Ada orang yang sekali mencoba mimpi suksesnya, langsung tok cer. Sukses seketika seseorang memulai menapaki mimpinya. Namun, ada juga orang yang mencoba berkali-kali belum juga segera menggenggam kesuksesan. Kegagalan bisa dipercayai, atau juga tidak perlu dipercayai. Anggap saja segala usaha kita adalah liku-liku jalan yang kadang kita memang hanya bisa menginginkan kesuksesan, tetapi jodoh sukses bukan sebagaimana yang kita inginkan. Justru kita mendapatkan hal lain di luar keinginan kita. Sepertinya bukan kita gagal atas impian kita, tetapi kemungkinan kita itu salah memilih impian sehingga ketika kita mengambil proses yang berbeda, maka kita justru mendapatkan sesuatu yang tidak kita impikan tetapi hasilnya bisa lebih baik dari yang kita impikan. Apa kita mengatakan, kegagalan sebuah sukses tertunda, atau kita masih buta keinginan yang positif bagi kita?

Kampusdesaa.or.id–Ada pepatah yang mengatakan bahwa; “kegagalan adalah sukses yang tertunda.” Saya meyakini dengan pepatah tersebut, karena telah membuktikan sendiri kebenaran pepatah tersebut dalam berbagai peristiwa kehidupan yang saya alami dan saya juga yakin pepatah tersebut juga ada benarnya bagi para sahabat pembaca tulisan saya ini.

Coba kita ingat flahsback pada masa lalu kita, tentang kisah cinta kita misalnya. Sebelum akhirnya berhasil menemukan jodoh kita sekarang ini, yang hidup bersama kita saat ini dan insyaallah menjadi jodoh dunia akhirat kita, biasanya sebelumnya didahului dengan beberapa kisah percintaan yang gagal. Saya pribadi sebelum menikah dengan istri saya (berhasil menikah/ menemukan jodoh), pernah sekitar tujuh kali menjalin cinta dengan wanita yang pada akhirnya putus alias tidak berjodoh.

Orang yang jatah kegagalannya nol, adalah orang yang sekali mencoba langsung berhasil. Orang yang jatah kegagalannya sedikit, adalah orang yang membutuhkan sedikit waktu untuk mencoba, hingga pada akhirnya berhasil. Sedangkan orang yang jatah kegagalannya banyak, adalah orang yang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk berhasil menggapai impiannya.

Ada banyak kegagalan-kegagalan lain yang mungkin pernah kita alami sebelum pada akhirnya kita berhasil. Misalnya dalam hal menemukan pekerjaan tetap, memiliki rumah, pendidikan, prestasi, rezeki, mimpi, keinginan, harapan, cinta dan lain sebagainya. Karena sesungguhnya setiap orang memiliki jatah kegagalan masing-masing, ada yang jatah kegagalannya nol, sedikit dan banyak. Orang yang jatah kegagalannya nol, adalah orang yang sekali mencoba langsung berhasil. Orang yang jatah kegagalannya sedikit, adalah orang yang membutuhkan sedikit waktu untuk mencoba, hingga pada akhirnya berhasil. Sedangkan orang yang jatah kegagalannya banyak, adalah orang yang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk berhasil menggapai impiannya.

Membutuhkan kesabaran, daya tahan dan keyakinan yang kuat dalam upaya menghabiskan jatah kegagalan yang mesti kita ‘habiskan’ sebelum pada akhirnya kegagalan itu habis dan kita pun berhasil menggapai harapan yang kita inginkan. Jikalau kita tidak sabar, malas dan tidak percaya bahwa suatu ketika kita akan berhasil ketika menghadapi kegagalan, bisa dipastikan kita akan selamanya gagal.

Perlu usaha terus menerus tentu juga dengan disertai doa, pasti suatu ketika keberhasilan itu akan tiba. Ada beberapa kisah dalam hidup saya, yang hampir rasanya tidak mungkin bisa berhasil namun pada akhirnya berhasil. Satu cerita diantaranya adalah ketika saya ditugaskan oleh Pimpinan di tempat yang sangat jauh dari domisili rumah saya, hampir 11 tahun saya berada di sana. Namun berkat usaha dan doa yang tak pernah lelah, akhirnya keajaiban datang, saya pun dimutasi di tempat yang dekat dengan domisili saya. Bagi saya hal itu merupakan keberhasilan yang membahagiakan.

Pernah juga dulu ketika tahun 2015 saya gagal mewakili Provinsi Jawa Timur untuk mengikuti lomba guru berprestasi tingkat nasional karena sesuatu hal, padahal saya adalah juara 1 guru berprestasi tingkat Jawa Timur, yang mestinya berhak untuk itu. Sempat waktu itu saya putus asa, emosi dan kecewa berat. Untung saja waktu itu saya ditelpon dan ditenangkan oleh sahabat saya yang merupakan panitia lomba dari Jakarta. Akhirnya saya pun positive thingking, insyaallah ada hal lain yang lebih baik yang akan saya terima kelak di kemudian hari.

Subhanallah benar saja dua tahun kemudian, di tahun 2017 saya berkesempatan ditugaskan oleh Kementerian Agama RI dalam kapasitas sebagai guru berprestasi Propinsi Jawa Timur, untuk mengikuti Diklat di Puncak Bogor (jadi tahu suasana puncak) dan beberapa waktu kemudian diundang ke Jakarta untuk bertemu Menteri Agama RI dan setelahnya saya mendapatkan amanat untuk berbagi pengalaman pada guru di daerah pedalaman, tepatnya di Tarakan Kalimantan Utara. Kesemuanya itu gratis, naik pesawat gratis, tinggal di hotel mewah gratis, antar jemput mobil ke bandara gratis dan justru mendapatkan uang honorarium yang lumayan. Bagi saya hal tersebut pantas disyukuri, karena tidak semua orang berkesempatan untuk itu.

Pada tahun ini pun, kembali saya dipercaya Pimpinan untuk mengikuti seleksi Anugerah Konstitusi 2018 yang diselenggarakan atas kerjasama Mahkamah Konstitusi, Kementerian Agama RI dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Alhamdulillah, di tingkat Kabupaten, Provinsi dan Kementerian saya lolos. Berikutnya insyaallah pada tanggal 5 s/d 10 November 2018, saya ditugaskan Kementerian Agaama RI untuk bertanding di grand final di Pusdiklat MK di Puncak Cisarua Bogor. Mohon doanya sahabat, agar saya bisa memberikan yang terbaik untuk Kementerian Agama dan bisa bermanfaat bagi orang lain.

Intinya adalah kegagalan-kegagalan yang kita alami apapun itu, sesuai dengan konteks kehidupan kita masing-masing, sejatinya adalah keberhasilan yang tertunda saja. Yakinlah akan ada sesuatu yang lebih baik dan indah suatu ketika yang akan kita dapatkan, asalkan kita tetap sabar dan semangat dalam menjemput keberhasilan kita. Aamiin..

Confession dan Apology, Sudahkah Seorang Guru Menguasai Keduanya?

0

Sebuah nasihat dalam kitab Ihya Ulumuddin menuturkan bahwa hubungan antara Guru dan Siswa ibarat seperti tongkat dan bayangan. Guru sebagai tongkat dan Siswa adalah bayangannya. Jika tongkat itu bengkok, maka bengkok pula bayangan tersebut.

Kampusdesa.or.id-Begitupula dalam aliran Perenialisme Pendidikan, posisi guru ialah sebagai pusat intelektual yang akan selalu digugu dan ditiru. Disinilah letak pengajaran etika moral, guru harus lebih awal menjadi teladan, setidaknya untuk mengucap kata maaf apabila memang melakukan suatu perbuatan yang tidak sesuai norma.

Sikap guru ketika lalai dalam tugas mengayomi siswa jarang menjadi sorotan, padahal guru yang kehilangan kepercayaan dari siswa akan sulit melakukan manajemen kelas. Budaya mengakui kesalahan dan mengucap maaf perlu dibiasakan terhadap seluruh jenjang pendidikan di Indonesia dari sekolah Anak Usia Dini hingga Perguruan Tinggi. Sebab the Power of Apology dapat mempermudah solusi konflik, sementara guru akan mudah memenangkan hati siswa melalui Confession dan Apology.

Overgeneralisasi yang ada pada masyarakat, umumnya mengira bahwa orang yang meminta maaf adalah suatu aib dan kelemahan. Sehingga sangat jarang budaya mengakui kesalahan dan meminta maaf terlihat dalam ruang kelas yakni guru terhadap siswa, manajer kepada karyawan atau lingkup yang terdapat derajad struktural individu. Orang yang berada pada jabatan satu tingkat diatas orang lain akan sulit untuk melakukan budaya ini terhadap individu dibawahnya sebab oleh persepsi yang salah terhadap ungkapan kata Maaf.

Bevery Engel seorang Psikoterapis mencatat bahwa individu yang sulit meminta maaf memiliki sifat perfeksionis, selalu ingin benar, sulit ber empati, selalu ingin mengoreksi orang lain dan suka menjadikan orang lain sebagai alasan. Maka mari kita satukan persepsi positif bahwa ungkapan maaf dan mengakui kesalahan adalah tindakan yang Keren dan Bijak!.

Individu yang sulit meminta maaf memiliki sifat perfeksionis, selalu ingin benar, sulit ber empati, selalu ingin mengoreksi orang lain dan suka menjadikan orang lain sebagai alasan.

True Leader admit the mistakes ” Pemimpin sejati adalah ia yang mampu mengakui kesalahannya dan berbenah. Guru adalah pembimbing, pendamping dan fasilitator dalam kelas yang harus memilii skill tersebut. Apology merupakan kemampuan untuk merehabilitasi seseorang, meredam konflik dan mengembalikan keharmonisan dua batin yang sedang tidak berdamai. Tidak hanya itu , Apology memungkinkan untuk mencegah kesalah pahaman dan memutus sekat diantara kolega yang sedang bekerjasama. Puncaknya kualitas hubungan dan kepuasan hubungan antar individu akan dapat terwujud melalui budaya mengakui dan meminta maaf. Maka Student Engagement atau kelekatan siswa dan guru juga bisa dirangkul oleh pengajar melalui budaya mengakui dan meminta maaf.

Apology merupakan kemampuan untuk merehabilitasi seseorang, meredam konflik dan mengembalikan keharmonisan dua batin yang sedang tidak berdamai.

Penelitian dengan Setting sekolah pernah dilakukan oleh McCullogh yang dirilis dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa permintaan maaf dan pengakuan salah individu akan memicu terbentuknya empati dan empati secara tidak langsung akan meningkatkan kemampuan individu untuk memaafkan. Intinya orang yang mudah minta maaf maka orang itu juga pasti murah hati atau pemaaf. Dari hal tersebut kita bisa memprediksi bahwa sekolah adalah lahan kondusif dalam melatih kepekaan simpati dan empati siswa dimana guru harus terdepan dalam memberi contoh!.

Permintaan maaf dan pengakuan salah individu akan memicu terbentuknya empati dan empati secara tidak langsung akan meningkatkan kemampuan individu untuk memaafkan. Intinya orang yang mudah minta maaf maka orang itu juga pasti murah hati atau pemaaf.

Mengucap kata maaf tentu tidak sembarangan, ada tekniknya sehingga niat untuk menjalin komunikasi yang baik dapat dimediasi oleh cara meminta maaf yang baik. Engel dalam bukunya the Power of Apology menyarankan Teknik 3R untuk menyampaikan permintaan maaf yang efektif, yaitu Regret, Responsibility dan Remedy. Perhatikan contoh kalimat berikut yang mengandung ketiga unsur tersebut:

“ Mohon maaf ya nak, telah membuat kalian lelah menunggu, dalam waktu yang tersisa saya akan tetap menjelaskan materi dengan jelas dan tuntas. Next time saya akan lebih tepat waktu lagi dalam mengajar. ”

Michael Woods penulis buku Healing Words: The Power of Apology in Medicine menambahkan satu tips dalam mengungkapkan ucapan maaf yaitu Recognition, sehingga menjadi 4R, Recognition, Regret, Responsibility dan Remedy. Sebelum kata penyesalan terucap, baiknya diawali dengan Recognition terlebih dahulu yaitu mengenali perasaan lawan bicara kita, apakah ia sedang takut, sedih atau marah atas perilaku yang telah kita buat. Sehingga kita bisa memilih kata kata Regret (penyesalan) yang sesuai dengan kondisi mereka.

Nyamankan posisi duduk, minum air aqua untuk menambah konsentrasi, berikut penjelasan detail tentang komponen mengucap kata maaf yang efektif.

Mengekpresikan Penyesalan Regret diawali dengan pengakuan diri atas kesalahan yang menyebabkan kerugian pada orang lain. Kita memposisikan diri lebih rendah dari korban yang kita rugikan tersebut, disinilah pentingnya membangun empati ketika mengucap kata maaf, sebab tanpa ada jalinan emosional, pernyataan maaf kita akan kosong.

Contoh yang umum dalam  orang Indonesia “ Aduuh Maaf ya, gara gara saya anda terjatuh “.

Meskipun nampak basa basi, namun hal itu cukup membuat lawan bicara meredam emosi terhadap kesalahan kita. Tentu tidak terhenti disitu , masih ada lagi tahap selanjutnya, yaitu Responsibility.

Sesuai etika, orang yang berbuat salah tentu harus bertanggung jawab. Responsibility yang dimaksud disini memang ungkapan kata untuk bersedia bertangung jawab, sehingga tidak ada celah untuk mebuat alasan atau menyalahkan orang lain.

Misalnya “ saya minta maaf pak atas kecerobohan saya, saya tidak punya alasan untuk membela diri dan saya sadar telah melanggar aturan.  Sekiranya ada sanksi, saya siap menerima sesuai kapasitas saya ”.

Dalam artikel The Importance of Saying “ i’m Sorry ” to Students yang ditulis oleh Larry Ferlazzo seorang Praktisi Pendidikan. Menjelaskan bahwa sangat manusiawi jika guru mendapat stressor buruk di kelas, akan tetapi menjaga ledakan amarah dan senantiasa berkata “ Maaf “ merupakan teknik classroom Management yag sangat disarankan. Sebab hal tersebut dapat membuat individu lebih dekat dengan lawan bicaranya. Dalam teknik 3R, Ferlazzo tidak menggunakan statement Responsibility sebagaimana tips milik Engel dalam pengucapan maaf, namun menggantinya dengan Reason. Sehingga Regret, Reason dan Remedy menjadi alternative lain sesuai identifikasi masalah yang sedang dihadapi.

Dengan catatan, penyertaan ungkapan Reason atau alasan bukan untuk menjadikan orang lain sebagai kambing hitam sehingga kita lepas tanggung jawab, namun lebih kepada penjelasan kenapa kita telah melakukan hal yang kurang menyenangkan atau perilaku yang kita perbuat. Contoh penyertaan Reason:

“ Maaf ya nak jika tadi saya terlalu keras dalam mengajar sehingga membuatmu tidak nyaman, sebetulnya saya sedih ketika kamu tidak bisa mengerjakan soal soal seperti tadi, padahal saya yakin kamu adalah anak yang cerdas. Maaf Ya Nak, saya akan berusaha lebih sabar lagi untuk mengajar mu “

Setelah mengungkapkan penyesalan, kesediaan tanggung jawab atau alasan, maka yang terakhir adalah ungkapan Remedy. Yaitu ungkapan yang menggambarkan bahwa kita punya keinginan untuk mengevaluasi dan berubah, berupaya semaksimal mungkin untuk tidak terjatuh dalam kesalahan yang sama. Seyogyanya kita tidak akan pernah bisa merubah satu detik kejadian yang telah lalu, namun kita masih bisa memperbaiki situasi sekarang untuk menghangatkan kembali interaksi yang nyaman akibat perilaku yang telah kita perbuat. Ungkapan Remedy dapat diilustrasikan sebagai berikut:

” Maaf ya, saya tidak tahu kalau kamu akan tersinggung dengan leluconku tadi, next time aku akan memilah humor apa yang sopan untukmu.“

Siswa harus melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana guru bertanggungjawab atas kesalahannya. Pengakuan dan Permintaan maaf guru merupakan pelajaran penting serta akan menjadi model bagi siswa bagaimana cara mengatur diri ketika ia berada pada posisi bersalah. Sekali lagi, dengan mengakui kesalahan dan meminta maaf ketika kita merugikan orang lain merupakan suatu integritas yang akan membentuk pribadi menjadi insan yang lebih baik, karena disitu ada proses evaluasi diri, kemampuan observasi dan ke bagusan attitude. Finally, Let me say attitude is everything!

Pahlawan dan Historiografi Istana-Sentris

0

Sebagai gelar pahlawan, istana negara selalu menerbitkan ajuan masyarakat yang tahu peran orang-orang istimewa di negeri ini ketika melawan penjajahan. Sisi lain, peran-peran penting mempertahankan kemerdekaan tidak hanya selera istana. Peran perjuangan itu begitu masif sehingga beberapa sosok penting tidak lagi ditemukan sebagaimana selera istana. Bagaimana sebenarnya kepahlawanan itu dipahami dalam konteks peran kesejarahan?

Kampusdesa.or.id–Orang-orang miskin yang kemudian bergabung dalam laskar-laskar rakyat itu berjuang tanpa banyak pertimbangan. Karena berada di kelas paling bawah, tidak begitu banyak tanggungan dan beban. Terutama yang jomblo-jomblo, yang tak punya istri dan anak, bisa jadi merekalah yang merasa jika matipun tak ada beban. Apalagi yang hidupnya paling susah dan merasa paling tertindas, pasti merekalah yang paling keras menumpahkan jiwanya untuk perjuangan dan rela mati melawan penjajah.

Dan ada di lapisan atas sosial masyarakat Jawa (Indonesia) yang memang sudah merasa hidup enak sejak feodalisme-kerajaan muncul, lalu sejak penjajah masuk mereka juga masih eksis sebagai kaum elit yang hidupnya tetap saja enak. Anak-anaknya juga hidup enak, tinggal di istana dengan makanan serba enak, juga mudah menikah dengan siapapun—bahkan menikahi sembilan perempuan, belasan, atau puluhan juga bisa. Di lapisan bawah masyarakat, terutama kaum tani hamba, rakyat jelata, kuli, penjajahan dan penindasan beroperasi sedemikian ganasnya. Setelah dihisap tenaganya oleh tuan tanah dan raja-raja, rakyat jelata tertindas oleh kapitalis-kolonialis yang kejam.

Memang, di antara anak-anak pangeran itu ada yang melawan. Bisa karena selirnya diganggu oleh elit Belanda, atau karena jengkal tanah warisannya direbut. Dan itu juga bisa menimbulkan perlawanan panjang di bawah pimpinan pangeran feodal yang bisa jadi meluluhlantakkan pundi-pundi ekonomi politik kolonialis. Tapi perlawanan baru di awal abad 20 hingga era revolusi fisik Kemerdekaan adalah kisah heroik tersendiri, di mana laskar-laskar rakyat dari kalangan muda juga mulai belajar mengangkat senjata, baris-berbaris, dan kemudian mereka membangun laskar-laskar perjuangan.

Laskar-laskar pemuda berasal dari arus bawah tentunya adalah yang paling radikal dan punya semangat paling menyala dibanding kaum-kaum elit atau pemuda-pemuda anak orang kaya yang memang sudah menikmati enaknya menjadi elit sejak Kolonial memperkenalkan mereka pada pendidikan modern dan menjadikan mereka sebagai ‘abstenaar-abstenaar” dan professional-profesional di alam baru ketika modernism di perkenalkan—mereka adalah baut baut dan onderdil-onderdil berjalannya kapitalisme Hindia Belanda. Di antaranya banyak yang tidak langsung ikut megangkat senjata, dan sebagian kecil juga berpihak pada perjuangan kemerdekaan dengan membantu lewat jalan diplomasi—karena mereka memang “well-educated” dan bisa berbahasa asing, sekolahnya saja ada yang di luar negeri.

Perjuangan mereka lewat organisasi, tulisan-tulisan, dan orasi-orasi maupun diplomasi memang banyak dicatat oleh sejarah. Tapi bagaimana sejarah mencatat kaum muda dari kalangan miskin yang dengan modal nekad berani memanggul senjata itu? Apakah mereka sering disebut atau malah dilupakan. Masalahnya mereka tidak bisa menulis, tidak ada arsip yang bisa menceritakan dan menarasikan kisah mereka sendiri. Kisah sejarah tentang mereka tentunya lebih banyak dimanipulasi dan ditutupi.

Melalui historiografi yang agak berbau kerakyatan dan bebas dari racun Orde Baru, setidaknya masih ada kisah tentang Pemuda radikal yang telah memahami arti perlawanan massif dengan organisasi dan memahami pentingnya perjuangan bersenjata, sebagian adalah pembaca-pembaca GERPOLEK-nya Tan Malaka, tentu tidak bisa kompromi dengan penjajah. Mereka memang terhipnotis dengan pidato Soekarno di lapangan Ikada, agar mereka pulang. Tetapi begitu Belanda kembali ingin menguasai Republik, mereka inilah yang kelak menjadi benteng perlawanan yang nyata bagi bertahannya wilayah kekuasaan dan mengorganisir semangat dari daerah-daerah dan wilayah pinggiran yang belum terjamah pasukan penjajah.

Hati para pemuda perjuangan ini bergetar, airmata mereka meleleh, ketika mendengarkan pidato berjam-jam tanpa teks dari Tan Malaka dalam pertemuan Persatoean Perdjoeangan (PP) di Perwokerto pada tahun 1946. Palnglima Besar Soedirman konon juga hadir di situ. Pidato tentang analisa politik dunia, kapitalisme dan kolonialisme, front perjuangan radikal, dan taktik pertempuran, itulah yang kemudian meradikalisir pertempuran kaum muda.

Para Pemuda itulah yang memaksanya, dengan menculiknya ke Rengasdengklok. Berbeda dengan kalangan orangtua, kaum muda itu tidak kompromis. Sebab kompromi-kompromi itulah yang ternyata melahirkan karakter bangsa yang tidak revolusioner di kemudian hari.

Kaum muda memang punya semangat menyala. Bahkan ketika Soekarno masih enggan deklarasi kemerdekaan, para Pemuda itulah yang memaksanya, dengan menculiknya ke Rengasdengklok. Berbeda dengan kalangan orangtua, kaum muda itu tidak kompromis. Sebab kompromi-kompromi itulah yang ternyata melahirkan karakter bangsa yang tidak revolusioner di kemudian hari. Bangsa yang memang akhirnya tidak pernah ada revolusi, bangsa yang akhirnya—dalam bahasa Max Lane—“belum selesai”. Bangsa yang belum selesai ini akhirnya akan terus menyelesaikan dirinya, entah nantinya selesai atau tidak—yang masih terus berjalan.

Ketika Indonesia sudah dideklarasikan dan kemudian hendak direbut kembali melalui agresi militer (I dan II), laskar-laskar rakyat dan pemuda itu semakin mampu mengonsolidasikan diri. Barisan pemuda radikal, yang tidak ada beban tanggungan karena mewakili kaum muda yang bukan berasal dari kalangan elit dan bukan keturunan ningrat itu, terus ingin bertempur sampai titik darah penghabisan.

Sayangnya, ketika pasukan dan laskar-laskar hendak dirasionalisasikan dan Negara butuh tentara regular, merekapun harus tersingkir. Bagaimana tidak tersingkir. Mereka pendidikannya tidak jelas, jarang yang sekolah, tak punya ijasah. Republik baru harus memilih pasukan regular yang akan digaji Negara, syaratnya memberatkan bagi mereka anggota laskar-laskar dari kaum rendahan. Kebijakan Reformasi dan rasionalisasi (Rera) di tubuh pasukan banyak mengambil para pasukan yang berasal dari kaum kelas menengah ke atas.

Laskar-laskar rakyat yang tak pernah sekolah dan hanya bermodal keberanian itu tersingkir. Apalagi mereka banyak yang berafiliasi pada kelompoknya kaum komunis.

Laskar-laskar rakyat yang tak pernah sekolah dan hanya bermodal keberanian itu tersingkir. Apalagi mereka banyak yang berafiliasi pada kelompoknya kaum komunis. Mereka ada yang pengikut Muso, pengikut Tan Malaka, dan beraliran Kiri. Mereka tersingkir, dan mungkin juga disingkirkan.

Beda dengan pasukan yang rerata anak-anak orang kaya dan elit. Mereka memang mendapatkan kesempatan latihan militer dari Belanda dengan masuk KNIL atau Jepang dengan masuk sebagai pasukan elit PETA. Mereka yang hasil didikan militer penjajah (Belanda dan Jepang) inilah yang kemudian justru banyak yang lolos sebagai tentara regular.

Sejak laskar-laskar radikal di kubu Kiri dan Islamis merasa tersingkirkan, merekapun membangun basis perjuangan. Karena mereka mengaku tidak setuju dengan pemerintahan pusat, merekapun dianggap sebagai kaum pemberontak.

Sejak laskar-laskar radikal di kubu Kiri dan Islamis merasa tersingkirkan, merekapun membangun basis perjuangan. Karena mereka mengaku tidak setuju dengan pemerintahan pusat, merekapun dianggap sebagai kaum pemberontak. Laskar-laskar rakyat yang membangun basis di Madiun itu mendeklarasikan “Negara Madiun” yang hendak dibangun seperti Soviet. Sedangkan yang membangun basis di Malangbong, laskar-laskar Islamis yang semangatnya melawan penjajah adalah bagian dari Jihad, membangun Daulah Islam dan Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Tragis memang. Perjuangan mempertahankan NKRI memakan anak-anaknya sendiri. Jejak-jejak perlawanan melawan penjajah yang peristiwanya banyak, yang punya banyak dimensi yang beranekaragam, dari sudut ruang dan waktu di berbagai wilayah itu, harus ditinjau dari berbagai macam sudut pandang. Biar kita kaya dalam menilai sejarah. Kita gali sejarah sedalam-dalamnya, seluas-luasnya, biar kita generasi sekarang ini mampu melihat begitu kayanya perjuangan bersejarah bangsa ini melahirkan Indonesia dan mempertahankannya.

Sejarah memberikan pelajaran pada kita tentang karakter dan perilaku manusia. Membekali kita bahwa ia akan terus berjalan bersama pergolakan-pergolakan masyarakat

Apakah kemudian pertanyaannya hanyalah: Siapakah yang paling berjasa dan siapakah yang layak dipahlawankan? Urusan itu bukanlah kepentingan saya. Kepentingan saya adalah belajar sejarah dari berbagai sumber, dengan menggunakan pikiran yang tidak melulu apa kata kekuasaan—apalagi kekuasaan yang terkenal memanipulasi sejarah. Sejarah memberikan pelajaran pada kita tentang karakter dan perilaku manusia. Membekali kita bahwa ia akan terus berjalan bersama pergolakan-pergolakan masyarakat karena berbagai kepentingan-kepentingan individu dan kelompok manusia yang diekspresikan—yang di antaranya bisa mempengaruhi perjalanan sejarah, baik dalam kekuatan kecil atau besar. Baik yang bisa dicatat dengan baik atau yang diabaikan—atau yang bahkan disembunyikan.

Siapapun yang telah berkorban mengorbankan harta, benda, dan nyawa dengan seungguh-sungguhnya dan seikhlas-ikhlasnya—Kalianlah pahlawan sejati! Meskipun kalian bahkan tidak sempat diangkat dalam sejarah…!

Pahlawan tidak semata berpihak pada yang menang atasnama selera istana. Beberapa tokoh masyarakat lain yang terdeteksi oleh istana, boleh jadi masih menyisakan aneka peran penting yang turut serta memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Oleh karena itu, jika tahu peran penting perjuangan ini, belajar sejarah kepahlawanan menjadi lebih longgar untuk bisa menemukan peran-peran penting membangun bangsa ini.

TANCEP KAYON!
KAKI GUNUNG JABUNG, TRENGGALEK, 10/11/2019.

KH. Masjkur, Dianugerahi Sebagai Pahlawan Nasional Siaran Pers Yayasan Sabilillah Malang, Jumat 8 November 2019

0

Kampusdesa.or.id–Siang ini pukul 13.30 WIB akan disampaikan pengumuman di Istana Negara bahwa KH Masjkur, Pimpinan Tertinggi Barisan Sabilillah, Anggota BPUPKI yg merumuskan Pancasila dan UUD 1945, Pendiri Yayasan Sabilillah Malang, Ketua Yayasan Universitas Islam Malang (UNISMA) Pertama, Ketua Umum PBNU, Menteri Agama RI, akan dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia oleh Presiden Joko Widodo.

Pengusulan dan pengurusan berkas pahlawan nasional KH. Masjkur ini sudah dilakukan sejak tahun 1995 namun sempat berhenti proses pemberkasannya. Pada Oktober tahun 2017, proses dan pemberkasan diulang kembali dan diserahkan secara resmi kepada Direktorat Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial RI. Proses verifikasi lapangan dari Kemensos juga sudah dilakukan pada Oktober 2018.

Menjelang peringatan hari pahlawan nasional tahun 2019 ini alhamdulillah berhasil ditetapkan oleh presiden.

Tim mengikutsertakan dan disupport oleh Gubernur Jatim, Bupati Malang, Walikota Malang, Walikota Batu, dan tokoh-tokoh di Malang Raya dikordinasi oleh Yayasan Sabilillah Malang dimana KH Masjkur membangun masjid yg sekarang menjadi masjid besar percontohan paripurna nasional tahun 2017. Selain itu, dukungan untuk Gelar Pahlawan Nasional RI juga datang dari berbagai pondok pesantren dan perguruan tinggi baik negeri dan swasta yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia.

Pengusulan KH Masjkur menjadi pahlawan nasional dilakukan selama setahun lebih melalui Dinas Sosial dan ditujukan ke Kementrian Sosial RI. Buku-buku dan bukti sejarah ditelisik oleh tim peneliti, tokoh agama dan tokoh masyarakat, pimpinan perguruan tinggi terutama Unisma, UIN, UB, UM dan Unira. Sebanyak sedikutnya 8 buku tentang almaghfurlah KH. Masjkur telah diterbitkan dan pernah didistribusikan ke lembaga-lembaga pendidikan di Jawa Timur. Buku-buku tersebut beragam, mulai buku biografi perjuangan (3 naskah buku), fragmen pemikiran KH. Masjkur dalam pandangan akademik (2 buku), kiprah dan perjuangan dalam catatan media (1 buku), komik (1 buku), napak tilas gerilya militer di trenggalek (1 buku).

Ini adalah penghormatan negara yang sangat besar untuk masyarakat Jawa Timur, Malang Raya, dan NU, dan khususnya pihak keluarga Singosari, Yayasan Al Maarif Singosari, keluarga besar Pesantren Bungkuk Singosari, terutama almaghfurlah KH M Tholchah Hasan. Dalam penganugerahan gelar pahlawan nasional pihak keluarga diwakili oleh cucu dari KH. Masjkur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam hal ini Gubernur Khofifah Indar Parawansa akan mewakili pemerintah dan masyarakat Jawa Timur mendampingi keluarga KH Masjkur di Istana Negara.

Gubernur Khofifah juga akan mengundang keluarga di Singosari, Yayasan Sabilillah dan perwakilan untuk upacara peringatan hari Pahlawan Nasional 10 November di Gedung Negara Grahadi Surabaya.

Semoga semangat berjuang kita, keikhlasan kita, daya khidmad kita bisa meniru para alim umalam seperti KH Masjkur.

Berita ini pernah dimuat di Gramedia Post.

Pewarta: M. Mas’ud Said (Ketua Yayasan Sabilillah bidang Sosial, Ekonomi dan Kemasyarakatan)

Bapak, Inspirator dalam Hidupku

0

Menjadi penghafal al-Quran selalu punya cerita unik. Membayangkan memanggil kembali simpanan memori 30 Juz sepertinya tidak mudah. Menghafal Pancasila saja, masih banyak yang tidak mudah menjaganya. Lah, ini halaman al-Quran yang ratusan halaman. Semuanya mungkin. Landasan dan motivasi apa mereka hingga melejitkan kemampuannya menghafal al-Quran. Kisah apa yang mendasarinya seorang penghafal al-Quran. Khususnya inspirator penghafal al-Quran Laily Zakiyah.

Kampusdesa.or.id–Memiliki anak yang hafidz Al-Qur’an adalah cita-cita bapak sejak belia. Namun beliau tidak memiliki kesempatan untuk bisa menyaksikan semuanya.

“Innaa nahnu nazzalna al-dzikro wa innaa lahuu lahaafizhuun.”

Begitulah permulaan dalam teks syahadah yang kupegang. Dengan selesainya pembacaan doa khotmil Qur’an, seolah ada sebuah perjanjian yang harus kujaga.

Kupegang erat syahadahku dengan linangan air mata. Alhamdulillah, Setelah menjalani berliku-liku kehidupan, akhirnya dengan pertolongan Allah, aku bisa menyelesaikan hafalan al-Quranku 30 juz dengan predikat mumtaz (sempurna). Ingin rasanya kupersembahkan semuanya untuk bapak dan ibuku yang telah mengasuh, merawat serta mendidikku sejak kecil. Namun sayang, kebahagiaan ini tidak bisa disaksikan oleh bapak, karena beliau telah meninggalkan kami semua satu tahun yang lalu.

“Bapak, betapa engkau ingin menyaksikan anakmu menyelesaikan hafalan ini. Kini saksikanlah semuanya aku persembahkan untukmu.” Ucapku lirih.

Lantunan sholawat dari grup Annabawi masih terdengar. Semua terlihat sumringah bersama keluarganya. Mereka saling duduk bersama keluarga besarnya.

Halaman pondok penuh dengan berbagai kendaraan. Mulai dari becak, kereta kelinci, sepeda motor, mobil, Elf, hingga mini bus. Semua ingin berkhidmat dalam acara prosesi wisuda khotmil Qur’an.

Kembali kupandangi diriku. Rupanya hanya aku yang cukup didampingi ibu. Dengan jasa kereta api ekonomis, ibu terlihat sangat bahagia bisa hadir dalam acara yang sudah dinanti-nantikannya. Dialah satu-satunya orang tuaku. Orang yang paling kusayang.

*

Kembali kuingat sosok Bapak. Seorang yang sangat bersahaja dalam hidupnya, tetapi memiliki prinsip yang kuat dalam pendidikan anaknya. Bapak hanya ingin anaknya berbekal agama serta ilmu yang kuat. Karena beliau sadar, tiada yang abadi dengan harta benda.

Beliau memang mengharuskan anaknya untuk menuntut ilmu di pesantren. Karena di pesantrenlah pendidikan karakter serta akhlak diterpa, selain ilmu agama.

Pernah suatu hari, di saat awal mula aku mulai mondok, bayangan akan rumah, kenangan manis bersama Bapak Ibu senantiasa hadir dalam ingatanku sehingga membuatku kurang konsentrasi dalam belajar dan kurang selera untuk makan. Akhirnya menjadi masalah juga dengan kesehatanku sehingga saat itu aku terkena gejala typus. Bapak Ibu pun menjemputku ke pondok dan membawa aku pulang untuk berobat. Dan benar-benar mujarab, begitu sampai rumah, semangatku mulai muncul dan tumbuh kembali. Sungguh, obat yang sangat ampuh tanpa harus ke dokter sekalipun.

Selama satu Minggu di rumah, Bapak senantiasa memberikan dukungan padaku sehingga kesehatanku cepat pulih dan semangat muncul kembali.

Bapak mulai bercerita bagaimana beliau dulu harus berjuang sendiri untuk bisa belajar di pesantren. Bapak harus bekerja, ikut nelayan yang mencari ikan di malam hari. Kebetulan pesantren tempat Bapak belajar berada di pesisir pantai. Yakni, Pesantren Alhidayat, asuhan Romo KH. Ma’sum. Rutinitas tersebut dilakukan sehabis ngaji ‘wekton’ bersama sang Kiai. Menjelang subuh Bapak baru berada di pondok lagi, dan paginya akan menerima upah dari nelayan tersebut. Dari upah itu Bapak bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya serta menyisihkan sedikit demi sedikit uang untuk membeli kitab.

Bapak kebetulan memang termasuk keluarga besar, dan kakek bukanlah orang yang berada. Dengan semangat yang kuat, akhirnya keinginan untuk belajar di pesantren tercapai.

Kini aku sungguh sangat enak, bisa belajar dengan tanpa harus bekerja. Lantas kenapa harus kusia-siakan? Dari situlah muncul semangat baru untuk belajar.

Aku bertekad akan belajar dengan giat serta lebih keras lagi dalam menghafal Al-Qur’an. Akan aku persembahkan semuanya untuk kedua orang tuaku.

*

“Nduk, ayo temani ibu sowan ke bu Nyaimu,” Suara Ibu membuyarkan lamunanku.

“Inggih, Bu.”

“Ibu harus berterima kasih pada bu Nyai atas bimbingannya selama ini.”

“Itu kadonya jangan lupa kamu bawa.” Kata ibu sambil menunjuk bungkusan dalam kresek hitam.

“Nopo niki, Bu?”

“Owalah nduk, kemarin itu IIbu dikasih bibimu oleh-oleh mukenah sutera. Katanya dibeli dari Mekah. Ibu berniat untuk menghadiahkannya pada bu Nyaimu. Hanya itu yang bisa ibu berikan.”

Aku melihat gurat ketulusan yang dalam dari wajahnya. Tak terasa butiran air mata telah menggenang di mataku. Ibu, semoga ketulusanmu menjadi wasilah keberkahan ilmu untukku.

“Lekas Nduk, kita ikut sowan bersama tamu yang lain.”

“Inggih, Bu.”

Selama ini, Bapak dan Ibu mengajariku untuk selalu takdzim (hormat) pada guru. Karena dari situlah keberkahan ilmu akan didapat.

Setelah mendapatkan beberapa nasihat dari ibu Nyai, akhirnya kami pamitan satu persatu. Ibu tak lupa memintakan pamit untukku seraya memohon doa restunya.

“Pulanglah Nduk, amalkan ilmumu. Aku sudah ridlo.” Ucap bu Nyai.

Jagalah Qur’an mu Nduk, karena ia bagaikan jodoh bagimu. Jika kamu bisa merawatnya dengan baik maka ia akan menjadi penolong untukmu, tapi jika kamu menyia-nyiakan maka ia akan menjadi azab untukmu.”

Kemudian beliau mewanti-wanti lagi, “jagalah Qur’an mu Nduk, karena ia bagaikan jodoh bagimu. Jika kamu bisa merawatnya dengan baik maka ia akan menjadi penolong untukmu, tapi jika kamu menyia-nyiakan maka ia akan menjadi azab untukmu.”

*

Pagi ini, hari pertama aku resmi berada di rumah setelah berhasil menyelesaikan studiku di pesantren. Aku harus bisa mengamalkan ilmuku.

Kuamati anak-anak di kampung halamanku, terasa mereka masih banyak yang belum bisa mengaji Al-Qur’an. Iya, aku harus berjuang di sana.

Sore hari, kukumpulkan anak-anak sambil menikmati buah jambu di kebun yang ditanam almarhum bapak.

Kuajak anak-anak untuk mendengarkan cerita tentang sosok doktor husein. Bocah usia 7 tahun yang sudah hafal Al-Qur’an berikut tafsirnya. Cerita ini sengaja kusimpan rapi dalam memori, karena aku menaruh harapan yang sangat untuk bisa memiliki generasi sepertinya.

Anak-anak begitu antusias mendengarkan. Setelah muncul ketertarikannya, aku tawarkan mereka untuk belajar mengaji di sore hari. Dan mereka pun begitu antusias. Alhamdulillah.

Hari-hari berikutnya Ku lalui lembaran baru sebagai guru TPQ bagi para generasi Qur’ani di kampungku.

JOMBANG,11 OKTOBER 2019