Rabu, Mei 6, 2026
Beranda blog Halaman 49

Bahasa Indonesia: Bahasaku dan Bahasa Kita Semua

0

Meski terlambat, pengakuan dan kebijakan penggunaan Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional oleh Presiden RI Joko Widodo melalui Perpres Nomor 63 Tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia, adalah semangat kesadaran poskolonialisme. Tantangannya, apakah para Internasionalis Indonesia, berani melawan diri sendiri dari yang semua sangat percaya diri berbahasa Inggris, kemudian membuka kanal, atas nama Bangsa Indonesia, kami akan menggunakan Bahasa Indonesia. Penerapan Bahasa Indonesia sebagai praktik bahasa internasional musuhnya adalah diri kita sendiri. Bagaimana dengan Anda?

Kampusdesa.or.id–Patut kiranya kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, hidup dan tinggal di negeri tercinta Indonesia ini. Banyak hal yang menjadi alasan mengapa kita harus bersyukur sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) dan juga banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai upaya mensyukuri nikmat tingga di Indonesia ini. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai sebuah bangsa, bagaimanapun kita tidak boleh merasa rendah diri dan minder, justru seharusnya kita bangga dan percaya diri sebagai bagian dari bangsa ini.

Perbedaan adat istiadat, agama, ras, suku bangsa, dan bahasa antar tiap daerah di Indonesia yang beraneka ragam adalah kekayaan yang tak ternilai harganya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang terhimpun dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peristiwa sejarah “Sumpah Pemuda” telah menjadi tonggak dasar persatuan bangsa Indonesia yang berbeda-beda ini. Sumpah Pemuda telah memberikan makna untuk persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 merupakan ikrar dari berbagai organisasi kedaerahan yang merasa memiliki kesamaan tanah air, bangsa, dan bahasa.

Bahasa Indonesia sebagai salah satu bagian yang disepakati dalam Sumpah Pemuda menjadi bahasa persatuan, ketika para pemuda mengikrarkan diri, “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia”. Kemudian dalam perkembangannya bahasa Indonesia dikukuhkan menjadi bahasa resmi negara, pada tanggal 18 Agustus 1945 sehari setelah peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, yang tertuang dalam UUD 1945 pada Bab XV, Pasal 36, yang menyatakan bahwa, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia”. Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara digunakan sebagai bahasa resmi kenegaraan, pengantar pendidikan, komunikasi tingkat nasional, pengembangan kebudayaan nasional, transaksi dan dokumentasi niaga, serta sarana pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bahasa media massa.

Pada saat ini bahasa Indonesia terancam oleh bahasa lain, baik secara eksternal dari berbagai bahasa asing/luar negeri maupun secara internal oleh bahasa daerah dan bahasa gaul atau bahasa alay ala anak-anak muda dan artis.

Pada saat ini bahasa Indonesia terancam oleh bahasa lain, baik secara eksternal dari berbagai bahasa asing/luar negeri maupun secara internal oleh bahasa daerah dan bahasa gaul atau bahasa alay ala anak-anak muda dan artis. Bukan bermaksud menyalahkan orang-orang yang menggunakan bahasa asing, bahasa daerah bahkan bahasa gaul atau bahasa alay dalam komunikasi kesehariannya, namun penggunaannya hendaknya secara proporsional disesuaikan dengan situasi, kondisi, waktu dan tempat.

Penggunaan bahasa Indonesia dalam konteks komunikasi resmi dan ilmiah haruslah menggunakan bahasa Indonesia yang baku, baik dan benar. Bahasa Indonesia adalah kebanggaan nasional yang merupakan jati diri bangsa yang harus tetap dipertahankan, dilestarikan dan dibiasakan untuk digunakan dalam komunikasi, baik komunikasi lisan maupun tulisan. Oleh sebab itu bahasa Indonesia diharapkan dapat menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan negara dan menjadi sarana pemersatu, identitas, dan wujud eksistensi bangsa Indonesia, bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang harus dikuasai dan digunakan oleh bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia dengan keanekaragaman suku bangsa yang juga memiliki bahasa daerah yang beranekaragam pula, berpotensi menghadapi masalah perpecahan bangsa dikarenakan karena masalah komunikasi. Bayangkan apabila setiap daerah di Indonesia menggunakan bahasa daerahnya masing-masing dalam komunikasi dengan suku bangsa yang lain, tentunya akan kesulitan dalam memahaminya. Dengan adanya bahasa Indonesia yang telah disepakati sebagai bahasa nasional oleh semua suku bangsa yang ada di Indonesia, kendala berkomunikasi bisa diatasi dan perpecahan dapat dihindari, karena suku-suku bangsa di Indonesia merasa satu.

Adanya bahasa Indonesia telah menyatukan berbagai suku bangsa yang berbeda dan ini adalah sebuah kebanggaan bagi bangsa Indonesia.

Bersyukur kita memiliki bahasa Indonesia yang dapat menyatukan seluruh bahasa-bahasa daerah di indonesia yang jumlahnya sangat banyak sekali sehingga dapat berkomunikasi dengan baik antar suku bangsa di Indonesia. Adanya bahasa Indonesia telah menyatukan berbagai suku bangsa yang berbeda dan ini adalah sebuah kebanggaan bagi bangsa Indonesia.

Keterampilan berbahasa Indonesia, yaitu keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan mendengar perlu dikembangkan dan diajarkan kepada para generasi muda, untuk dapat berkomunikasi secara efektif dalam pergaulannya. Selain itu, perlu ditanamkan dan dibudayakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada generasi muda, selain untuk membentengi mereka dari bahasa gaul atau bahasa alay, juga sebagai sebuah kompetensi dasar yang wajib dipahami dan dimengerti, sebelum mereka belajar bahasa yang lainnya.

Di sisi lain bahasa Indonesia juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan era saat ini dengan mampu menjawab kebutuhan kosakata-kosakata dalam bahasa Indonesia terhadap kosakata-kosakata baru yang belum ada di bahasa Indonesia.

Sebagai penutup tulisan ini sekali lagi saya mengingatkan bahwa kita hendaknya bersyukur memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia dan wujud bersyukur itu, kita hendaknya memiliki kemampuan berbahasa Indonesia secara efektif, baik dan benar karena bahasa Indonesia adalah bahasaku dan bahasa kita semua.

Kampung Organik dan Ekonomi Biru

0

Kampung ini benar-benar beraksi mencapai harapan menjadi ekonomi biru. Mereka memutus matarantai kartel pertanian. Dengan kemauan beraksi yang kuat dan sudahlah dengan teori yang ndakik-ndakik, ekonomi bisa digerakkan melalui kegaitan apapun sejauh berdampak pada kepentingan bangsa lebih dari kepentingan para god-fahters bangsa ini.

Kampusdesa.or.id–Saya optimis dengan anak-anak muda kreatif. Mereka hidup dengan alternatif-alternatif baru. Dibesarkan pada masa reformasi, meninggalkan tradisi senioritas organisasi dan terpanggil dengan simpul media digital. Anak-anak muda ini adalah energi hebat masa depan. Bukan dipatronase oleh budaya urban, tapi menyadari bahwa mereka harus berkomunitas tanpa hirarki umur.

Mereka menemukan alternatif dengan memanfaatkan segala sumber daya dan mengolah limbah jadi barang berguna. Konsep ekonomi biru yang memaksimalkan potensi sekitar. Budaya dan teknologi disatukan menjadi kolaborasi yang berguna bagi kehidupan.

Tiga malam lalu kami berbicara tentang petani di Lampung Tengah yang frustasi. Dia membeli pestisida dengan kandungan racun maksimal seharga 600 ribu. Bermaksud mengusir hama dua hektar tanaman padi, pestisida itu meruntuhkan harapan hidup. Jerami hasil padi dipanen diberikan ke puluhan ekor sapinya, kemudian mati tak tersisa. Putus asa karena terlilit hutang, petani memutuskan bunuh diri.

Rantai makanan yang sudah lama terputus akibat pestisida, menjadikan hama punya system imun yang terus meningkat. Pestisida dengan berbagai tingkatan tidak membuat hama berkurang tapi bertambah. Rantai makanan yang dulu saling terkait kini punah dan tinggal manusia, hama dan tanaman pangan. System preneurship (ecosystem yang terpadu) adalah mata rantai nilai yang dihilanglan oleh modernisme.

Mereka tak percaya penguluh pertanian kiriman perusahaan pestisida. Mereka memproduksi pupuk, meramu pengusir hama (bukan mematikan hama), mengembalikan keanekaragaman, mencoba menangkap energi yang selama ini dibuang.

Tapi tidak dengan anak-anak muda ini. Mereka masuk di lahan gersang, mereka menantang pendidikan orang urban. Mereka tak percaya penguluh pertanian kiriman perusahaan pestisida. Mereka memproduksi pupuk, meramu pengusir hama (bukan mematikan hama), mengembalikan keanekaragaman, mencoba menangkap energi yang selama ini dibuang.

Menanam sayuran organik, membuat pupuk cair, memelihara lebah, menanam bunga sebagai pengundang predator hama, tentu yang paling penting membangun konsep ekonomi biru. Ya ekonomi yang memanfaatkan sumber daya alam dan mengelola limbah jadi produk berguna.

Sebuah Socio-Eco-Techno-Preneurship yang diciptakan dengan gerakan, bukan teori di ruang-ruang kelas.

Mimpi kami ada sistem terpadu yang saling berkait-kelindan. Energi terbarukan-Pengairan-Tanaman-Hewan-Manusia-Pangan-Limbah dan kembali ke energi. Sebuah Socio-Eco-Techno-Preneurship yang diciptakan dengan gerakan, bukan teori di ruang-ruang kelas. Kami berjuang untuk mengembalikan ciptaan Tuhan untuk menjadi rantai nilai yang terikat kuat.

*Berita ini ditulis oleh Dharma Setyawan dan dimuat di situs resmi IAIN Metro Lampung dengan judul yang sama pada tanggal 26 September 2019.

Pemimpin Itu Harus Menginspirasi dan Memotivasi

0

Tugas pemimpin harus selalu bisa memotivasi orang-orang yang dipimpinnya dan orang disekitarnya untuk melakukan perbuatan baik. Seorang pemimpin harus mendorong organisasi menuju perubahan. Organisasi jangan sampai staknan.

Kampusdesa.or.id- Di samping bisa memotivasi, tugas pemimpin harus bisa menggerakkan roda organisasi. Seluruh komponen organisasi harus bergerak. Bila organisasi staknan tidak ada aktifitas atau kegiatan itu menandakan bahwa pemimpin itu tidak bisa menggerakkan organisasi.

Seorang pemimpin itu harus banyak ide dan gagasan dalam menggerakkan organisasi. Dengan ide dan gagasan yang cemerlang organisasi akan maju dan dinamis. Yang dipimpin pun akan semakin senang dan sejahtera.

Tak kalah pentingnya, dalam menggerakkan organisasi seorang pemimpin harus berbekal ikhlas dan mau menginfakkan dirinya untuk kemajuan organisasi.

Agar sukses di dalam memimpin, seorang aktifis pandu harus melaksanakan tri tertib yakni tertib beribadah, tertib belajar, dan tertib berorganisasi.

Berani Menghadapi Tantangan: Tantangan? Masalah? Semuanya tidak akan membuat para pemimpin hebat menjadi gentar untuk mundur atau berbalik arah. Berani dalam menghadapi setiap tantangan yang datang adalah ciri utama dari kepemimpinan yang baik dan menginspirasi. Tidak peduli dimanapun para pemimpin tersebut memimpin, sikap berani adalah faktor utama yang akan menjadi bahan pertimbangan apakah orang tersebut layak menjadi pemimpin atau tidak.

Berani mengambil risiko, berani menghadapi tantangan, berani bertindak, dan sikap berani lainnya sangat diperlukan. Jika semua orang bersikap tidak berani, lalu siapa dong yang akan berani berdiri di depan untuk menangani segala kesulitan? Itulah mengapa para pemimpin yang berani menghadapi tantangan benar-benar sangat diperlukan.

Dalam dunia kerja, pemimpin yang berani menghadapi tantangan tidak pernah meninggalkan para karyawannya sendirian dalam menghadapi masalah. Mereka akan menjadi orang yang paling terdepan, yang rela menangani tantangan atau membantu karyawan mereka dalam menyelesaikan segala permasalahan.

Ketika seseorang telah ditunjuk untuk menjadi seorang pemimpin, ini menandakan bahwa dia telah memenangkan kepercayaan dari banyak orang, terutama semua anggota timnya.

Mendapatkan Kepercayaan: Ketika seseorang telah ditunjuk untuk menjadi seorang pemimpin, ini menandakan bahwa dia telah memenangkan kepercayaan dari banyak orang, terutama semua anggota timnya. Para anggota percaya bahwa kita bisa menjadi pemimpin yang baik untuk mereka, sehingga bisa membawa kehidupan ke dalam perubahan yang lebih baik, damai dan sejahtera.

Apabila seorang direktur memberikan promosi kepada salah satu karyawannya untuk menjadi manajer, itu juga mengindikasikan bahwa karyawan yang bersangkutan telah mendapatkan kepercayaan penuh dari sang direktur untuk memimpin tim-nya. Semua hubungan yang baik datang dari kepercayaan, begitu juga hubungan antara mereka yang dipimpin dan memimpin.

Apabila rekan pembaca adalah seorang pemimpin perusahaan, manajer atau pemimpin tim, cara ampuh untuk mendapatkan kepercayaan dari anggota tim adalah dengan menunjukkan kepada semua karyawan bahwa kita sangat peduli terhadap mereka.

Tentunya, kita harus melakukan ini dengan setulus mungkin ya, karena orang lain akan menyadari dengan baik apakah orang tersebut benar-benar peduli dengan mereka atau tidak.

Cara lainnya adalah dengan tidak pernah berbohong kepada mereka. Satu kebohongan akan menghancurkan segala ketulusan dan kejujuran yang akan rekan pembaca berikan di masa depan. Jadi, jagalah kepercayaan yang orang lain berikan kepada kita. Seorang pemimpin yang baik dan inspiratif tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan yang mereka miliki.

Menjadi Otentik: Apabila rekan pembaca bukanlah seorang Soekarno, maka rekan pembaca tidak perlu mencoba menjadi Soekarno. Atau di dalam dunia bisnis, jika rekan-rekan Career Advice bukanlah seorang Steve Jobs, maka tidak perlu memaksakan diri menjadi Steve Jobs dong, hehe.

Faktanya, setiap pemimpin pasti memiliki ciri khas mereka sendiri, sehingga kita tidak perlu bersusah-payah untuk menjadi seperti pemimpin lainnya. Itu hanya akan menyusahkan dan merumitkan diri kita sendiri.

Salah satu ciri kepemimpinan yang baik dan terus menginspirasi orang lain adalah bangga menjadi diri sendiri, menjadi otentik dan tidak malu untuk bersikap apa adanya. Keotentikan yang kita miliki sebagai pemimpin akan menjadi ciri khas yang selalu dikenang oleh orang banyak.

Mendapatkan Rasa Hormat: Kepemimpinan inspiratif lainnya adalah pemimpin tersebut telah mendapatkan rasa hormat dari orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang bersikap etis dan benar-benar memberikan contoh yang baik kepada orang lain (bukan hanya sekedar ucapan), akan menjadi panutan yang baik bagi orang banyak, sehingga karena sikap terpujinya itulah menjadikan pemimpin tersebut dihormati oleh orang-orang disekitarnya.

Seorang pemimpin yang baik dan inspiratif tidak akan pernah mau terkungkung dengan kebodohan atau ketidaktahuan akan suatu hal.
 

Selalu Mencari Tahu: Seorang pemimpin yang baik dan inspiratif tidak akan pernah mau terkungkung dengan kebodohan atau ketidaktahuan akan suatu hal. Inilah resep permimpin keren akan memiliki tingkat intelektual yang sangat tinggi dan mereka adalah orang-orang yang selalu penasaran dengan hal-hal yang belum mereka ketahui sebelumnya. Ketidaktahuan ini mendorong mereka untuk selalu mencari tahu segala hal.

Sikap selalu mencari tahu juga akan mengarahkan para pemimpin untuk selalu berinovasi. Tidak pernah ada kata “cukup” bagi mereka. Mereka sangat menyadari bahwa kehidupan ini penuh dengan perubahan-perubahan baru yang membuat kita harus tetap bergerak dan mengikuti alur perubahan tersebut. Jika tidak? Maka kesejahteraan tim atau orang-orang yang mereka pimpin akan terancam. Yakinlah anda adalah pemimpin yang mampu memotivasi dan menginspirasi bagi peradaban.

Dengan kesadaran, umpan balik yang baik, dan rencana pengembangan, para pemimpin mampu meningkatkan kompetensi kepemimpinan menjadi lebih baik. itu dia langkah-langkah hebat yang dilakukan oleh para pemimpin untuk dapat terus menjadi pemimpin yang menginspirasi. Jadi, apakah rekan-rekan  ingin menjadi seorang pemimpin yang menginspirasi? Jika ya, yuk kita mulai terapkan hal-hal di atas.

Editor: Fathan Faris Saputro

Kenapa Anak Muda atau Mahasiswa Perlu Berinvestasi?

0

Kampusdesa.or.id–Kalau kita bisa menyisihkan uang lebih banyak, yang kita pikirkan adalah kita harus berkerja, itu bukan generasi NOW karena akan menyita banyak waktu kita sehingga tenaga kita terkuras disitu. Apalagi tuntutan kuliah tidak bisa diabaikan. Pingin segera mendapat uang sendiri tetapi apa daya orang tua dan cita-cita kuliah tidak bisa kita tinggalkan.

Anda mahasiswa yang disiplin menabung kah? Godaan menabung biasanya diliputi hasrat segera mengambil uangnya untuk kebutuhan kita. Jika tidak, uang tabungan Anda diam tidak bisa bergerak bertambah lebih besar. Padahal uang tabungan Anda bisa menghasilkan nilai tambah tanpa harus terlibat kerja, seperti digunakan untuk usaha Anda.

Investasi menjadi pilihan bagaimana menggerakkan nilai guna uang Anda yang didiamkan tanpa menghasilkan surplus keuntungan. Anda juga tidak harus menyediakan waktu dan tenaga untuk bekerja. Kita hanya butuh memilih investasi yang tepat. Tenaga kita tidak perlu hadir, paling-paling hanya memantau dan melihat progres nilai uang kita.

Baca juga; Kelas Menabung Saham

Generasi NOW lebih fleksibel, ketika bisa berhasil menyisihkan uang sedikit saja dan memiliki skill investasi maka uang itu akan bertambah nilainya tanpa kita harus bekerja. Cocok bagi mahasiswa yang pingin menyisihkan uang (nabung) tetapi bisa produktif. Lulus kuliah dapat ijazah, dan siap menikah buah investasi. Kuliah tetap lancar tanpa terporsir tenaga Anda hanya gara-gara ingin dapat uang tambahan tetapi anda harus menggadaikan waktu kuliah.

Bagaimana caranya, hadir saja di extra-kulikuler Kampus Desa menuju mandiri atau bebas finansial.

Yuk hadir di SMART INVESTING, “MENANGKAP PELUANG INVESTASI DENGAN MODAL YANG KECIL” sehingga kita bisa mendapatkan untung secara konsisten, tetap bisa kuliah serius, uang tabungan mampu menambah pundi-pundi finansialnya sendiri. Kami hadirkan kesempatan sangat murah nara sumber yang memiliki pengalaman sebagai trainer investasi dan punya analisis prospektif mengenai rekomendasi target investasi terhadap jenis usaha yang layak. Melalui bolasalju.com, narasumber yang kita hadirkan memiliki referensi analitis bagaimana mengarahkan pilihan investasi dari besaran uang yang kita miliki.

Arif Widianto
Founder Analis dan Prediktor Investasi di Bolasalju.com
Sabtu, 19 Oktober 2019 | 09.00 — 12.30 WIB
Tempat di GB Kafe, Gasek, Karangbesuki, Malang

Berpikirlah Investasi, Don’t Thinking A Worker.

Oh ya, bisa untuk guru lo. Kita ikhlas mengajar dan berinovasi tidak lagi dibebani oleh kegalauan finansial. Senyampang kita bisa menabung atau punya tabungan, kita bisa berkolaborasi di Kampus Desa untuk membuat kelompok Guru Investasi. Asyik kan. Sembari kita tempatkan mas Arif Widianto sebagai konsultan investasi para guru secara lebih aman.

Daftarkan segera dengan mengklik WA di Yusuf Wildan

Melampaui Taksonomi Bloom dengan Belajar Mr Steam

0

High Order Thinking Skill (HOTS), melengkapi jargon Bloom (kognitif, afektif, dan psikomotorik) menjadi tren terkini dunia pendidikan. Meski masih berjibaku dengan perabaan format dan hasil HOTS yang masih saja terpaku pada tes berbasis teks, ada provokator untuk melengkapi kemampuan anak belajar, yakni MR STEAM (Moralitas, Religius, Sains, Teknologi, Enginering, Art dan Matematik), sebuah ide dari pendiri Sekolah Garasi, Kentar Budhojo.

Kampusdesa.or.id–Seperti yang pernah saya unggah, puluhan tahun kita dijajah dengan pendidikan yang berorientasi pencerdasn individual dengan tokohnya Bloom yang terkenal dengan tiga ranahnya yaitu kognitif, psikomotor dan afektif. Seorang individu akan melakukan sebuah perilaku dengan baik bila dia memiliki pengetahuan tentang perilaku yang dilakukan, memiliki kemampuan atau ketrampilan untuk melakukan dan memiliki sikap positif terhadap perilaku tersebut.

Taksonomi Bloom ini telah menjadi kerangka pendidikan kita puluhan tahun. Pembelajaran selalu diarahkan untuk aspek kognitif berupa kemampuan berpikir, kemampuan afektif dan kemauan untuk bertindak. Tanpa didasari pengetahuan tentang sebuah perilaku yang akan atau harus dilakukan, maka tidak mungkin seorang individu akan bisa melakukannya dengan baik. Namun pengertahuan saja tanpa kemampuan dan ketrampilan (psikomotor) juga tidak mungkin melakukan dengan baik, seperti tahu tentang berenang secara teori sampai hafal tanpa pernah mencoba berenang, tahu tentang HP, komputer tapi tidak bisa menggunakannya.

Kedua syarat itu belum juga cukup. Perlu syarat ketiga yaitu afektif berupa sikao terhadap obyek tersebut. Banyak orang yang tahu HP, komputer, dan bisa mengoperasikan namun tetap tidak mau menggunakannya. Contoh hasil penelitian Bank Dunia tentang hasil pelatihan guru-guru dalam PLPG, mereka telah diberi pengetahuan dan kemampuan untuk menyelenggarakan pembelajaran yang menasrik, dan juga lulus ujian teori maupun praktek, namun setiba di sekolahnya kembali, tetap tidak mau menerapkan hasil pelatihannya.

Jadi ketiga ranah Bloom harus dicapai. Sayangnya pendidikan kita lebih menekankan pada ranah kognitif yang dominan, kemudian ranah psikomotor dalam proporsi yang kurang dan paling rendah adalah membina sikap positif terhadap materi pembelajaran yang disajikan,

Negara-negara Barat, terutama USA berhasil dengan pendidikan berbasis taksonomi Bloom. Lulusan pendidikan bisa mencapai tujuan sesuai taksonomi Bloom dengan baik. Lulusan pendidikan memiliki pengetahuan yang mendalam, ketrampilan yang tinggi dan sikap positif yang penuh motivasi untuk sukses.

Negara-negara Barat, terutama USA berhasil dengan pendidikan berbasis taksonomi Bloom. Lulusan pendidikan bisa mencapai tujuan sesuai taksonomi Bloom dengan baik. Lulusan pendidikan memiliki pengetahuan yang mendalam, ketrampilan yang tinggi dan sikap positif yang penuh motivasi untuk sukses. Sesuai dengan jiwa orang Barat yang individualis dan liberalis, pendidikan berbasis Bloom ini bisa menjadikan manusia-manusia barat yang memiliki kompetensi tinggi, berdaya saing tinggi dan siap bersaing dalam masyarakat yang menganut free fight liberalism.

Namun pada tahun-tahun 1970an, saat pertumbuhan ekonomi pesat, perkembangan dunia industri pesat, tampak ada gejala yang memprihatinkan. Tingginya angka bunuh diri dan perceraian, meningkatnya pasien di layanan-layanan psikologis karena stress akibat alienasi sosial yang tinggi, mayoritas orang-orang Barat bekerja untuk dan demi dirinya sendiri. Beberapa pakar pendidikan aliran humanis mempertanyakan gejala ini, dan mereka menoleh ke dunia Timur seperti Thailand, India, termasuk Indonesia (kita boleh bangga dong).

Ada yang menarik dari temuan pada masyarakat bangsa-bangsa Timur, yaitu adanya jiwa dan rasa kebersamaan yang tinggi dalam mayarakatnya. Seseorang apabila mengalami tekanan sosial atau psikologis memiliki buffer (penyangga) atau bemper (kayak pada mobil) kehidupan sosial di sekitarnya,

Menurut mereka selain to know (kognitif pada Bloom) to do (psikomotor pada Bloom) dan to be (affektif pada Bloom), dipertlukan satu lagi yaitu belajar hidup dalam kebersamaan (to learn to life together).

Atas dasar itu para pakar pendidikan yang tergabung di UNESCO merekomendasikan ranah ke empat yang perlu ditambahkan ke Taksonomi Bloom. Menurut mereka selain to know (kognitif pada Bloom) to do (psikomotor pada Bloom) dan to be (affektif pada Bloom), dipertlukan satu lagi yaitu belajar hidup dalam kebersamaan (to learn to life together).

Kitapun yang sebenarnya sudah lama melaksanakan belajar tentang hidup dalam kebersamaan dan tergila-gila pada Bloom, juga kembali balik kucing dengan mengadopsi keempat ranah dari Unesco tersebut. Sayangnya dalam kurikulum perguruan tinggi Indonesia, keempat ranah itu diberikan secara terpisah, ada matakuliah-kuliah teoritik dimasukkan to know, mata kuliah yang ada praktikumnya dimasukkan ke to do, kemudian ada matakuliah-matakuliah yang dimasukkan dalam kelompok to be dan to life together. Menurut saya pengkateorian secara terpisah matakuliah seperti ini tidak tepat, sejak awal penyusunan kurikulum berbasis KKNI saya selalu berpendapat sebaiknya semua matakuliah mengandung ke empat kategori UNESCO tersebut.

Menurut saya ada satu landasan lagi diperlukan yaitu landasan moral dan agama. Bila to know, to do, to be and to life together itu bebsa nilai, sehingga bisa baik dan buruk secara moralitas dan agama

Selain itu menurut saya, keempat ranah dari UNESCO itu masih kurang. Bisa saja seseorang hidup dengan baik di kelompoknya, namun belum tentu kelompok itu baik, misalkan kawanan perampok, penjahat atau yang lain. Menurut saya ada satu landasan lagi diperlukan yaitu landasan moral dan agama. Bila to know, to do, to be and to life together itu bebsa nilai, sehingga bisa baik dan buruk secara moralitas dan agama.

Baca juga: Pendidikan seni sebagai pendidikan karakter

Ada perbedaan antara moralitas dan agama. Moralitas berlaku secara universal, siapa saja, bangsa apa saja dan agama apa saja. Misalkan moral kejujuran, sportif, setia kawan dan sebagainya. Sementara agama juga menyangkut moralitas namun dengan muatan-muatan ajaran dan ritual-ritual sesuai dengan ajaran agama yang bersangkutan,

Mengapa saya bedakan antara moral dan agama, karena ada juga aliran-aliran kepercayaan yang tidak tergabung dalam salah satu agama yang ada. Di samping itu ada juga moralis tapi tidak masuk agama manapun sebagaimana pernah saya unggah pertemuan saya dengan profesor Jerman yang sedang mencari Tuhannya.

Tingkat kemampuan aplikasi dari mata pelajaran dalam kehidupan keseharian sangat rendah karena pembelajaran kita penuh dengan hafalan semata tanpa memahami makna sesungguhnya. Karena itu pembelajaran harus bermuatan HOTS (High Order Thinking Skill), di mana siswa mencapai ketrampilan berpikir tingkat tinggi

Perjalanan sejarah terus berlanjut, Ternyata dalam evaluasi PISA (Programme for International Student Assesment). Indonesia selalu menduduki ranking bawah. Tingkat kemampuan aplikasi dari mata pelajaran dalam kehidupan keseharian sangat rendah karena pembelajaran kita penuh dengan hafalan semata tanpa memahami makna sesungguhnya. Karena itu pembelajaran harus bermuatan HOTS (High Order Thinking Skill), di mana siswa mencapai ketrampilan berpikir tingkat tinggi.

Baca juga: Mengembangkan Pendidikan Segar Rasa

Sebagai implementasi HOTS maka dirancanglah pembelajaran yang bersifat STEM (Science Technology, Enginering and Mathematic) yang dirasa sangat kurang dalam pembelajaran kita. Ini sesuai dengan kondisi era 4.0 yang memerlukan STEM secara mutlak.

Kelompok humanis memasukkan satu unsur lagi Art, karena kehidupan tanpa seni adalah hampa, sehingga jadilah pembelajaran yang lebih hidup berwarna-warni. Dengan dimasukkan Art maka akronimnya adalah STEM A, atau STEAM.

Seorang sahabat yang sudah menjadi seperti anak saya sendiri, Mia Enggal Permata, seorang pendidik PAUD sekaligus instruktur, Owner dan pengembang BBM (Belajar Bersama Mia) merasa resah melihat pembelajaran yang hanya bercorak STEM A. Menurutnya ada yang hilang bagi bangsa Indonesia kalau pembelajaran hanya ditekankan pada STEM A. Hal itu dipaparkan oleh mbak Mia Enggal Permata di depan Simposium Penanaman Nilai-nilai Pancasila di Malang bulan September 2019 lalu.

Menurut mbak Mia, tanpa R (eligius) maka bisa kehilangan kendali karena STEM A itu bebas nilai, bisa baik dan bisa pula buruk dilihat dari standar ajaran agama, karena itu ditambahkan R pada awal untuk dasar semuanya sehingga menjadi R STEM A

Dengan demikian saya menggabungkan ke semuanya dengan belajar bersama MR STEAM, yang merupakan akronim dari Moralitas, Religius, Sains, Teknologi, Enginering, Art dan Matematik.

Ayo Belajar bersama MR STEAM!

Turen, 05 Oktober 2019

Bedah Web Kampus Desa For Digital Literacy

0

Pemerataan melek digital perlu diperluas agar tidak terjadi kesenjangan. Melalui bedah web Kampus Desa, ketrampilan sederhana perlu ditularkan ke masyarakat yang masih terbatas aksesnya.

Kampus Desa bergerak ke luar dari kementerengan kampus untuk digital literacy (melek IT) pada jaringan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang dimediasi oleh PKBM Bestari Jombang.

Menariknya, kami memulai dari membuka mental block (mental kenyamanan) dengan menawarkan perubahan kecil, yakni para pemilik akun media sosial untuk menajamkan akunnya menjadi akun yang memiliki personal branding dan institutional branding. Dengan demikian media sosial yang awalnya hanya bersifat asli (otentik) ternyata dapat dinaikkan auranya menjadi merek diri dan merek lembaga.

Kemelekan ini ternyata menyadarkan peluang bagaimana akun media sosial dapat bernilai jual, berkemandirian finansial, bukan hanya kesenangan. Kesenangan iya tetapi dapat berdampak pada bangkitnya kesadaran finansial.

Menghindari Lemah Fisik Anak dengan Mengontrol Gaya Hidup Kekinian.

0

Kewajiban orangtua terhadap anak ialah menjamin keselamatan anak dengan tidak meninggalkan mereka dalam keadaan lemah. Lemah fisik pada anak merupakan  hal utama untuk dicegah melalui pola asuh yang telaten dan peka sesuai perkembangan zaman.

Kampusdesa.or.id-Setiap manusia akan mengalami proses tumbuh kembang yang berkelanjutan. Dimulai ketika sejak bayi hingga menjelang kematian, perubahan fisik pasti terjadi. Tumbuh kembang dalam diri meliputi perkembangan fisik , psikis dan emosi. Perkembangan fisik adalah hal yang paling nampak dan mudah terdeteksi baik atau buruk proses pertumbuhannya.

Pertumbuhan fisik lebih banyak dipengaruhi oleh asupan gizi yang diterima oleh anak. Bukan seberapa banyak makan, tapi sudah cukupkah nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Hal ini sering dilupakan oleh orangtua. Salah kaprah, banyak yang menganggap ukuran gizi yang cukup adalah ketika anak tidak merasa lapar, sehingga semua keinginan anak dituruti dan jadilah anak kelebihan berat badan.

Pertumbuhan fisik lebih banyak dipengaruhi oleh asupan gizi yang diterima oleh anak. Bukan seberapa banyak makan, tapi sudah cukupkah nutrisi yang diperlukan oleh tubuh.

Kebutuhan nutrisi pada tahap perkembangan anak berbeda, perempuan lebih membutuhkan zat besi karena ia mengalami menstruasi. Pada anak usia 11-15 tahun, protein sangat penting untuk percepatan tinggi. Remaja  membutuhkan kalsium dan mineral yang cukup, sebab kepadatan tulang akan mencapai sempurna pada anak usia 17 tahun. Untuk kebutuhan sistem reproduksi dan sitem imunologik, vitamin berperan penting.

Fisik adalah tampilan luar, ada kurus, ideal dan gemuk. Tubuh yang ideal atau proporsional antara tinggi dan berat badan  merupakan ukuran fisik yang sehat. Jika berbadan kurus, anak bisa dikaitkan ia mengalami gizi buruk. Anak yang mengalami malnutrisi dalam jangka panjang akan mengalami stunting, gagal tumbuh dan berfisik kerdil. Dalam kasus lain kekurangan protein yang extrim anak akan mengalami penurunan berat badan yang parah, kulit tipis, rambut rontok, serta kelelahan atau disebut marasmus. Malnutrisi tidak hanya berdampak pada fisik, namun juga akan mempengaruhi IQ anak. Anak yang mengalami gagal tumbuh berpotensi mengidap beberapa gangguan diantaranya ialah downsyndrome, gangguan organ tubuh, masalah pada saraf, otak, jantung dan paru paru.

Anak yang mengalami gagal tumbuh berpotensi mengidap beberapa gangguan diantaranya ialah downsyndrome, gangguan organ tubuh, masalah pada saraf, otak, jantung dan paru paru.

Kelebihan berat badan (obesitas) pada anak bukanlah hal yang baik. Penelitian membuktikan bahwa orang yang waktu kecil obesitas cenderung mengalami kondisi yang sama ketika beranjak dewasa. Mungkin nutrisi anak telah terpenuhi, namun kelebihan lemak juga tidak baik bagi peredaran darah. Anak akan lebih suka melakukan aktifitas fisik ringan atau males gerak, gaya hidup tanpa gerak tersebut justru akan memicu datangnya penyakit. Paras fisik anak yang mengalami obesitas dapat mempengaruhi sikap mental, rasa tidak nyaman karena merasa memiliki citra tubuh yang berbeda dari lingkungannya membuat anak menarik diri dari relasi sosial, hal ini disebtu dengan krisis percaya diri.

Paras fisik anak yang mengalami obesitas dapat mempengaruhi sikap mental, rasa tidak nyaman karena merasa memilki citra tubuh yang berbeda dari lingkungannya membuat anak menarik diri dari relasi sosial, hal ini disebut dengan krisis percaya diri.

Kewajiban utama orangtua  ialah memastikan anak mendapatkan pangan yang bergizi, bernutrisi, bersih dan bukan cepat saji. Makanan cepat saji mungkin higienis akan tetapi kita tidak bisa mengontrol kandungan kalori dan micin di dalamnya. Sayur mayur dan buah buahan perlu menjadi hidangan rutin keluarga demi tercukupnya gizi pada anak. Tidak sulit sebenarnya mengatur makan sehat, namun di zaman pencitraan saat ini gaya hidup kekinian dan perilaku makan sembrono menyebabkan anak defisit nutrisi, vitamin dan zat penting lainnya.

Tidak sulit sebenarnya mengatur makan sehat, namun di zaman pencitraan saat ini, gaya hidup kekinian dan perilaku makan sembrono menyebabkan anak defisit nutrisi, vitamin dan zat penting lainnya.

Screen Technology telah merubah gaya hidup manual menjadi otomatis atau serba isntan, membuat anak anak hingga orang dewasa males gerak. Game dan online entertainment yang diakses melalui smartphone membuat anak cenderung mengurung diri dalam kamarnya. Pada mahasiswa, Go food dan layanan tranportasi online memanjakan pemuda untuk tidak berjalan kaki meskipun lokasi ke tujuan begitu dekat, atau jarak antara warung dengan kos tak begitu jauh. Defisit gerak pada muda mudi saat ini sudah pasti melemahkan fisik tepatnya fungsi motorik pemuda. Hal ini diafirmasi oleh info riset kesehatan dasar (RISKESDAS) 2018, bahwa penduduk diatas usia 10 tahun yang kurang melakukan aktifitas fisik meningkat dari 26,1% menjadi 33,5% dalam kurun waktu lima tahun.

Quota internet lebih menarik daripada teman sebaya. Wifi lebih dicari daripada teman untuk berbagi. Kehadiran teknologi di zaman ini membuat anak anak tidak lagi merasakan manfaat permainan tradisional. Permainan kuno tahun 90 an justru merupakan mainan terbaik untuk melatih fisik anak. Bahkan untuk sekedar memanjat pohonpun anak zaman now pasti akan kesulitan. Padahal di UK dan Irlandia (Tree climbing competition) lomba memanjat pohon merupakan event bergengsi.

Mudah lelah termasuk dalam kelemahan fisik, anak yang mengalami hal ini sudah pasti jarang olahraga, sebab metabolisme tubuh tidak berjalan dengan baik. Biasanya, anak usia 12-17 tahun memiliki aktifitas fisik yang berat namun tidak diimbangi dengan pola makan yang cukup. Ketidakseimbangan energi yang keluar dan masuk menyebabkan anak bertubuh kurus.

Kelemahan fisik akan berpengaruh terhadap reproduktifitas kerja. Dalam konteks pendidikan, anak yang fisiknya memiliki gangguan cenderung memunculkan performance akademik yang buruk disebabkan kurangnya daya konsentrasi siswa. Dalam literature, ada korelasi antara pikiran dan tubuh, yaitu kekuatan fisik berkaitan erat dengan kesehatan mental. Kebugaran jasmani berkaitan dengan hasil belajar yang lebih tinggi. Kesehatan fisik melalui kegiatan extrakulikuler sekolah akan mendorong siswa untuk berprestasi tinggi, mendorong untuk bersaing dan beradaptasi dengan kedisplinan.

Kesehatan fisik melalui kegiatan extrakulikuler sekolah akan mendorong siswa untuk berprestasi tinggi, mendorong untuk bersaing dan beradaptasi dengan kedisplinan.

Bagian tubuh yang paling mudah diamati adalah tampilan fisik. Rupa tubuh bagian luar mencerminkan kesehatan organ dalam dan kebugaran tubuh. Malnutrisi dan obesitas merupakan hal buruk pada perkembangan anak, hal ini dapat dideteksi melalui bentuk tubuh anak. Upaya yang bisa dilakukan  oleh orangtua ialah mencukupi kebutuhan nutrisi anak. Ibu dan ayah dapat memonitoring aktifitas fisik yang seimbang antara energi yang dikeluarkan dengan asupan gizi anak. Gaya hidup online jangan sampai membuat anak kurang beraktifitas fisik. Kekuatan fisik manusia merupakan modal awal dalam beradaptasi di lingkungan. Bukan dihibernasi atau bahkan disia siakan mengikuti trend zaman yang tidak karuan.

Mengapa Takut Salafi?

0

Bukan tentang eksklusivisme beragama jika tulisan ini terkesan memberi warning. Kita justru perlu tahu ideologi dan karakter gerakan Kaum Salafi-Wahabi karena hal ini menyangkut tentang kehidupan kita bersama sebagai bangsa yang berbhinneka. Jika saya memanggil NU dan Muhammadiyah yang selama ini menjadi pilar Islam moderat untuk membendungnya, karena kita tahu bahwa di dalam gerakan Salafi-Wahabi mengeran ideologi kekerasan.

Kampusdesa.or.id–Ketika membaca tulisan saya yang mempertanyakan kemana saja NU dan Muhammadiyah saat Salafi merajalela, seorang kolega bertanya “mengapa takut Salafi?”. Jika yang dipertanyakan adalah sikap keterbukaan saya, maka saya katakan, saya sepenuhnya sadar bahwa eksklusivisme adalah cara beragama yang tidak sehat dan dewasa. Emas yang keluar dari mulut anjing tetaplah emas. Bahkan jika berbicara tentang pluralisme, yang sering dihujat kalangan salafi pun, mensyaratkan adanya keberanian untuk saling belajar dengan kelompok lain yang berbeda. Fokus saya terletak pada potensi kekerasan yang mengeram dalam aliran Salafi-Wahabi.

Puritanisme adalah salah satu ciri penting gerakan Salafi-Wahabi. Tapi, apakah puritanisme selalu melahirkan kekerasan? Jelas tidak. Puritanisme Muhammadiyah yang dibawa KH. Ahmad Dahlan sama sekali tidak melahirkan kekerasan. Tidak ada catatan sejarah KH. Ahmad Dahlan menganjurkan kekerasan dalam berdakwah, sekalipun beliau menganjurkan mengamalkan Islam murni. Itulah mengapa hingga kini Muhammadiyah adalah salah satu pilar penting Islam moderat di Indonesia. Bahkan ketika HTI sangat getol menjual ide khilafah, Muhammadiyah dengan tegas mendeklarasikan Indonesia ber-Pancasila sebagai dar al-ahdi wa al-syahadah (negara yang dilahirkan dari konsensus dan persaksian proses perjuangan menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur [negeri sejahtera di bawah ampunan Tuhan]).

Akan tetapi, puritanisme yang dibawa kelompok Salafi-Wahabi sejak awal telah mengguratkan sejarah dakwahnya dengan tinta kekerasan, bahkan darah. Setidaknya, inilah yang bisa dilihat pada sejarah kaum Paderi di Minangkabau, gelombang pertama gerakan Salafi-Wahabi di Indonesia.

Sebagaimana yang ditulis Suryadi, seorang dosen dan peneliti pada Talen en Culturen van Zuidoost-Azië en Oceanië, Universiteit Leiden, Belanda, puritanisme Salaf-Wahabi yang dibawa gerakan Paderi melahirkan berbagai tindakan kekerasan yang tak terbayangkan. Kisah Tuanku Nan Renceh, panglima perang Paderi, yang membunuh bibinya sendiri dan membuang mayatnya ke hutan karena dianggap kafir, hanya karena sang bibi bersirih (Jawa: nginang), membuktikan hal ini.

Menurut Suryadi, Tuanku Nan Renceh bersama pengikutnya memilih jalan kekerasan dalam berdakwah. Pilihan ini telah melahirkan pertumpahan darah antarsesama orang Minangkabau. Dari manakah sumber radikalisasi yang melahirkan orang seperti Tuanku Nan Renceh ini?

Di masa remajanya, dia belajar Islam pada Tuanku Nan Tuo, seorang ulama moderat kharismatik di Koto Tuo, Ampat Angkat. Dari didikan Tuanku Nan Tuo, Tuanku Nan Renceh menjadi pendakwah militan yang mendedikasikan dirinya untuk mengentaskan masyarakat Minangkabau dari dekadensi moral. Semilitan apapun, tak ada catatan kekerasan yang dilakukan Tuanku Nan Renceh sampai saat ketika ia bertemu tiga orang haji pendakwah ajaran Salafi-Wahabi yang baru datang dari Mekah: Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang.

Di bawah polesan ketiga haji itu, Tuanku Nan Renceh mengalami proses radikalisasi. Dari pendakwah, dia berubah menjadi seorang komandan perang. Ia dan pasukannya adalah momok bagi lawan-lawannya. Serangan-serangannya ke suatu daerah berarti penderitaan: pembakaran lumbung padi, pembunuhan, hingga perbudakan perempuan. Tidak heran jika banyak orang yang menjulukinya sebagai kerbau karena perilakunya sama dengan binatang.

Radikalisasi yang dialami Tuanku Nan Renceh telah membawanya pada sikap takfiri ekstrem. Dia merasa berhak membunuh siapa saja yang berbeda dengannya. Fakih Saghir, sahabat dan bekas teman ngajinya, menyatakan bahwa Tuanku Nan Renceh pun akhirnya memusuhi gurunya sendiri, Tuanku Nan Tuo, yang tetap memegang sikap moderat. Tuanku Nan Tuo tak segan-segan mengecam cara-cara kekerasan yang dilakukan oleh Tuanku Nan Renceh dan para pengikutnya. Tuanku Nan Renceh menghina gurunya itu sebagai “kiai tua”. Bahkan, Tuanku Nan Renceh dan pengikutnya beberapa kali berusaha membunuh gurunya itu, sekalipun gagal.

Dinyatakan Suryadi, kelompok ini membuat peraturan yang pelanggaran terhadap aturan itu bisa berakibat denda uang hingga hukuman mati. Misalnya, mereka mewajibkan kaum lelaki memelihara jenggot, yang jika mencukurnya akan didenda 2 suku [1 suku = 0,5 Gulden). Orang yang memotong gigi (Jaw: mangur) akan didenda seekor kerbau. Orang yang membiarkan lututnya terbuka, akan didenda 2 suku. Wanita yang tidak memakai burka, akan didenda 3 suku. Memukul anak akan didenda 2 suku. Orang yang menjual atau mengonsumsi tembakau akan didenda 5 suku. Orang yang memanjangkan kuku, jarinya akan dipotong. Orang yang merentekan uang, akan didenda 5 shilling. Bagi mereka yang meninggalkan shalat pertama kali didenda 5 suku, jika mengulanginya, akan dihukum mati.

Bukan tentang eksklusivisme beragama jika tulisan ini terkesan memberi warning. Kita justru perlu tahu ideologi dan karakter gerakan Kaum Salafi-Wahabi karena hal ini menyangkut tentang kehidupan kita bersama sebagai bangsa yang berbhinneka. Jika saya memanggil NU dan Muhammadiyah yang selama ini menjadi pilar Islam moderat untuk membendungnya, karena kita tahu bahwa di dalam gerakan Salafi-Wahabi mengeran ideologi kekerasan.

Menurut Fazlur Rahman, salah satu ciri dari gerakan Wahabisme adalah sikapnya yang fanatik dan intoleran. Fanatisme dan intoleransi ini membuat kelompok ini terbiasa menggunakan kekerasan dalam berdakwah. Dalam melakukan dakwahnya, kelompok Wahabi nyaris tidak memberi tempat kepada jenis Islam yang berbeda darinya.

*Tulisan ini pernah dimuat di duta.co