Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 43

Komunitas Suket Indonesia (KSI); sebuah catatan kecil dari seorang warga belajar di KSI

0

Upaya yang dilakukan Komunitas Suket Indonesia ini adalah sebuah bentuk upaya untuk memanusiakan manusia, upaya dalam menempatkan pihak lain diposisi yang bermartabat. Kemudian tidak berlebihan rasanya jika saya menyebutnya sebagai sebuah upaya yang bermartabat pula.

Kampusdesa.or.id–Tidak ada yang menarik dari Komunitas Suket Indonesia(KSI), selain karena mereka bersifat sangat cair, terbuka dan selalu komunal; mungkin karena mereka adalah sebuah komunitas. Saya mengenal KSI di akhir tahun belajar saya di sebuah perguruan tinggi swasta di Tuban, 2001. Sepintas saja dan sangat tidak intens, karena setelah itu saya mulai disibukkan dengan aktifitas baru saya di Yogyakarta. Mungkin takdir, yang kemudian justru malah mendekatkan saya pada KSI. Setahu saya, kebetulan banyak personil-nya yang berdomisili di Jombang, karena itu kegiatan mereka banyak berpusat di Jombang-Jawa Timur.

Tahun 2003 sebuah garapan keliling KSI yang kedua mungkin, membuka mata saya. Beberapa pertanyaan sepele mengganggu ruang pikir saya. Pilihan-pilihan bentuk pementasan, pilihan tempat pertunjukan, sasaran penonton dan juga side-events yang mereka desain sangat diluar bayangan saya. Alih-alih membuat pertunjukan di gedung pertunjukan, mereka memilih balai desa, lapangan/aloon-aloon, halaman parkir dan beberapa tempat lain yang tidak lazim bagi sebuah pertunjukan teater. Disaat banyak seniman mencari ruang untuk unjuk karya, KSI mencipta ruang mereka sendiri bukan hanya secara fisik, tetapi juga ruang yang tak kasat mata, di hati penikmat. Dalam peristiwa pemanggungan itu, KSI tidak melulu mengajak kita bersintesa dalam issue yang dibawa pada naskah (yang hingga saat catatan ini saya release-pun, naskah yang mereka bawakan selalu karya mereka, bukan karya teaterawan lain yang terkenal) melainkan mereka juga mengadakan beberapa workshop. Mungkin akan jadi biasa jika workshop mereka adalah workshop tentang penulisan naskah, keaktoran, penyutradaraan atau hal-hal lain yang tidak jauh dari teater dan pemanggungan. Tapi saat itu, workshop yang mereka inisiasi adalah workshop kerajinan bersama anak-anak warga desa setempat. Saat itu saya pikir, teman-teman ini iseng atau kurang kerjaan.

Saya datang seorang diri berkereta dari Yogya menuju sebuah desa yang agak terpencil di kabupaten Nganjuk-Jawa Timur. Dari stasiun kereta, harus berjalan kaki sedikit kearah timur untuk kemudian bisa naik angkutan pedesaan yang lumayan jaraknya menuju ke sebuah terminal kecil. Tidak berhenti disitu, karena saya masih harus naik becak menuju ke balai desa tersebut. Malam itu juga saya diajak ngleset di balai pertemuan warga menyaksikan sebuah pertunjukan teater diantara ratusan warga desa yang mungkin, belum pernah menyaksikan sebuah pertunjukan teater. Blits menyala, tulat-tulit suara dering HP, tertawa cekikikan, saling celetuk dan banyak lagi sikap penonton yang membuat saya benar-benar yakin bahwa mereka publik yang belum pernah melihat pertunjukan teater.

Selepas pertunjukan, karena memang sudah sulit mencari transportasi umum untuk kembali ke pusat kota, saya putuskan menginap bersama puluhan teman KSI lain di balai pertemuan warga tersebut. Esok paginya, saya dikejutkan dengan teriakan beberapa anak belia seusia 8-10 tahun. Mereka berkumpul di ruang yang sama dengan membawa beberapa bahan bekas seperti kardus sedotan dan tali rafia, serta beberapa tangkai/batang daun singkong. Saya terkaget-kaget, karena teman-teman KSI tidak mengajak anak-anak itu melakukan aktifitas teater tetapi malah mengajarkan beberapa anak itu membuat beberapa jenis kerajinan dan mainan dari bahan-bahan yang mereka bawa. Sepanjang perjalanan saya kembali ke Yogyakarta, saya sibuk mencari penjelasan yang logis tentang korelasi antara teater dan workshop kurang kerjaan itu.

Mungkin agak lambat saya pahami itu sebagai sebuah idealisme komunitas. Pilihan laku. Naskah-naskah mereka saya pahami sebagai sebuah antena yang memancar-teruskan beragam peristiwa di negri ini. Mulai dari konflik personal hingga konflik politik bangsa kita. Tempat pertunjukan, menjadi tidak penting ketika KSI lebih memilih untuk membeber karya mereka agar bisa dinikmati dan diakrabi oleh masyarakat awam. Bagi KSI, semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali, berhak mendapatkan sebuah tontonan atau sajian pertunjukan alternatif yang tidak bersifat instan seperti yang banyak didapatkan di sinetron atau tayangan-tayangan TV yang lain. Tidak hanya konsumen ruang pertunjukan yang bisa meng-apresiasi sebuah peristiwa pemanggungan. Menurut saya, ini adalah sebuah bentuk upaya untuk memanusiakan manusia. Upaya menempatkan pihak lain diposisi yang bermartabat. Dan kemudian tidak berlebihan rasanya jika saya menyebutnya sebagai sebuah upaya yang bermartabat pula.

Suket, Semangat dan Pilihan.

Komunitas Suket Indonesia, yang kemudian akrab dengan sebutan KSI, menurut beberapa pelaku didalamnya adalah kependekan dari beberapa hal yang mereka alami; Sukar/Sulit untuk Ketemu sampai dengan Sukur bisa Ketemu. Karena memang personilnya menyebar di beberapa kota di wilayah Jawa Timur. Proses mereka diawali dari sebuah keinginan atau semangat untuk sebuah reuni dari beberapa personil yang dulunya sempat bergiat di almamater yang sama di Universitas Muhammadiyah Malang. Mereka mencoba menggagas sebuah pertemuan yang bukan hanya “sekedar” acara temu kangen, namun lebih kepada sesuatu yang bisa memberi manfaat bagi banyak pihak. Angan-angan untuk tetap berkarya dalam teater tanpa harus meninggalkan aktifitas ekonomi yang saat itu sedang mereka jalani.

Kesepakatan untuk berproses pada sebuah naskah-pun diambil. Pada akhirnya komunikasi dan diskusi tentang naskah dijalin hanya melalui e-mail, sms maupun telepon. Kualitas keaktoran menjadi tanggung jawab masing-masing pihak untuk tetap menjaga dan mengembangkannya. Pada suatu waktu dan tempat yang telah disepakati bersama, mereka berkumpul untuk kemudian menjajal ide pemanggungan. Biaya produksi menjadi tanggung jawab bersama, atau istilah mereka ‘bantingan’, tanpa harus mengandalkan hasil “penjualan” proposal ke beberapa pihak donatur.

Terlepas dari itu, spirit suket (=rumput dalam bahasa Jawa) merupakan tanaman yang masuk dalam kategori gulma, bisa tumbuh dimana saja dan tetap tumbuh meskipun dibasmi dengan banyak metode dan pestisida (mulai dari kimia hingga organik). Bertemunya idealisme-idealisme pelaku yang kemudian disatukan dalam sebuah wadah komunitas sama sekali tanpa harus meninggalkan personil/pelaku masing2. Suket, dalam arti sebuah semangat, sebuah idealisme, adalah saat mereka bertemu, berkumpul dan berproses bersama. Diluar itu, mereka tetap pribadi dengan idealisme dan lakon yang mereka bawakan sendiri. Harapan mereka melalui KSI sudah bisa dipastikan bahwa melalui proses yang mereka jalani, akan selalu memberikan provokasi bagi pelaku-pelaku teater, kesenian, atau bahkan pelaku kebudayaan yang dalam hal ini adalah masyarakat itu sendiri, untuk tetap konsisten dan menyadari peran mereka dalam proses penciptaan kebudayaan itu sendiri.

KSI sangatlah sederhana dan bahkan terkesan ora mbejaji, tapi justru disitulah letak kekuatan mereka. Sebuah kekuatan untuk membaur dalam masyarakat, untuk kemudian menjadi bagian dalam masyarakat itu dan bersama-sama membangun kesadaran akan esensi dari laku kabudayan itu sendiri.

Mengingat itu, saya seperti sedang membaca kembali tulisan-tulisan Paolo Freire. Dimana dalam salah satu tulisannya, Freire menempatkan masyarakat sebagai subyek pencipta kebudayaan itu sendiri. Mungkin pada kenyataannya apa yang dilakukan oleh teman-teman di KSI sangatlah sederhana dan bahkan terkesan ora mbejaji, tapi justru disitulah letak kekuatan mereka. Sebuah kekuatan untuk membaur dalam masyarakat, untuk kemudian menjadi bagian dalam masyarakat itu dan bersama-sama membangun kesadaran akan esensi dari laku kabudayan itu sendiri.

Sebuah organisasi yang terkesan tanpa bentuk, sangat cair. Tidak ada kepengurusan yang pasti, siapa ketua, pengurus inti, pengurus harian, atau direktur atau sebutan apa saja yang biasa mewarnai sebuah organisasi. Keanggotaannya sangat tebuka, sehingga ini memungkinkan banyak pihak untuk masuk dan turut serta dalam proses mereka.

Sebuah pilihan yang menurut mereka bukan tanpa alasan. Mengingat mereka sendiri juga punya pertimbangan untuk hal ini. Proses mereka, adalah sebuah proses belajar dan akan sangat berdosa jika kemudian mereka menutup kesempatan belajar yang harusnya menjadi hak semua pihak, tanpa harus berburuk sangka atau memandang latar belakang masing-masing pihak yang bersedia bergabung dalam proses mereka. Hal tersebut diatas saya buktikan dalam beberapa proses yang dijalani KSI yang sempat saya ikuti. Selalu menggandeng personil-personil baru, memberikan kesempatan kepada semua personil yang ingin terlibat atau bahkan mengenal teater lebih dekat, tanpa harus melihat dan memandang kualitas mereka atau apa yang mendasari mereka untuk bergabung dalam setiap proses KSI. Tidak jarang pula malahan KSI meminta teman-teman baru itu untuk sharing atas apa yang mereka miliki. Hal ini menunjukkan bahwa KSI juga sangat terbuka dengan semua hal baru yang mungkin akan menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Sebuah komunitas belajar yang kompleks; tanpa batasan tingkatan atau grade senior-yunior yang biasanya melekat erat pada sebuah komunitas. Sekali lagi, ini adalah pilihan, bukan keterpaksaan.

Riris D. Nugrahini. Warga Belajar Semesta

Menakar Ancaman Eksternal dan Kelemahan Internal PTAI

0

Di era disrupsi sekarang ini PTAI dihadapkan dengan kenyataan bahwa mau tidak mau mereka harus mendayung di tengah derasnya arus perubahan. Kepekaan, kecermatan, dan kelincahan (agility) dibutuhkan tidak hanya untuk membaca peluang, tapi juga memetakan berbagai ancaman dan kelemahan di tubuh PTAI sendiri. Jika tidak demikian, PTAI akan terdisrupsi dan pada akhirnya mengalami obsolet, lalu tergilas oleh akselerasi perubahan yang tak mampu diantisipasinya.

Kampusdesa.or.id-Ancaman eksternal PTAI mengacu pada ekonomi, sosial, budaya, demograsi, lingkungan, politik, hukum, pemerintah, teknologi, serta tren kompetisi dan kejadian yang sangat signifikan dapat membahayakan dan mengancam eksistensi kampus desa di masa yang akan datang.

Saat ini di Bondowoso ada sembilan kampus baru, tentunya ini menambah kompetitor yang bersifat konstruktif bukan destruktif, menambah persaingan dari kampus baru yang didirikan di kabupaten Bondowoso, out put dan out put unggul yang diorbitkan oleh kampus pesaing yang membuat ribuan pasang mata untuk meliriknya sehingga mereka jatuh hati untuk menguliahkan putera-puterinya.

Semakin lemahnya hubungan deplomatik antara pihak kampus dengan pihak pembuat kebijakan sehingga manakala ada peluang pengembangan institusi, informasinya tersumbat tidak sampai kepada kampus tersebut, atau informasinya sampai namun tidak mendapatkan jatah.

“Terkadang otoritas pimpinan tersandera oleh pihak-pihak atau oknum-oknum yang berkepentingan dalam organisasi”

Sementara kelemahan internal PTAI adalah aktifitas kampus yang dikontrol dan dijalankan dengan sangat buruk, yakni terkadang otoritas pimpinan tersandera oleh pihak-pihak atau oknum-oknum yang berkepentingan dalam organisasi tersebut.

Kelemahan internal PTAI muncul dalam aktifitas manajemen, pasaran, keuangan, out put, out come, penelitian, pengembangan, sistem informasi manajemen dari sebuah bisnis pengembangan ekonomi PTAI.

“Seyogyanya pihak PTAI dapat mengukur kepemilikan atas sumber daya manusia atau reputasi historis atas kualitas civitas akademika”

Seyogyanya pihak PTAI dapat mengukur kepemilikan atas sumber daya manusia atau reputasi historis atas kualitas civitas akademika terutama SDM dosennya. Faktor kelemahan internal PTAI bisa ditentukan melalui berbagai cara: menghitung, rasio, mengukur kinerja, membandingkan kuantitas inputnya dengan periode sebelumnya.

“Rasio dosen yang mempunyai titel doktor di perguruan tinggi terutama di perguruan tinggi agama Islam sangat minim sekali”

Salah satu ketua perguruan tinggi menyampaikan dalam sambutannya, bahwa kedepan dosen yang mengajar pada perguruan tinggi harus memenuhi kualifikasi pendidik yang mempunyai ijasah doktor (S3). Sementara rasio dosen yang mempunyai titel doktor di perguruan tinggi terutama di perguruan tinggi agama Islam sangat minim sekali bahkan bisa dikatakan tidak ada sama sekali.

Oleh sebab itu, setelah selesai masa euforianya, maka selanjutnya perlu mengadakan survei untuk mengukur faktor ancaman eksternal dan kelemahan internal PTAI dengan cara moral karyawan, input, out put, out come, kesetian orang tua mahasiswa, kebanggaan mahasiswa terhadap almamaternya, kualitas skripsinya yang bebas dari plagiat dan pelacur akademik.

Ragam Reaksi Orang Tua terhadap Indikasi Gangguan Tumbuhkembang Anak

0

Deteksi dini terhadap gangguan tumbuhkembang anak amat diperlukan orangtua. Seringkali orangtua tidak mengetahui anaknya mengalami gangguan tumbuhkembang hingga menyebabkan keterlambatan penanganan. Namun ternyata ada juga orangtua yang tidak proaktif dan bersyukur saat diberi tahu bahwa anaknya mengalami gangguan tumbuhkembang. Bahkan, tak jarang mereka marah dan mengingkari kenyataan tersebut. Reaksi demikian inilah yang justru menyengsarakan anak mereka sendiri.

Kampusdesa.or.id-Mempunyai pengalaman sebagai orang tua dari putra autis membuatku lebih peduli dengan perkembangan anak-anak yang kutemui. Meski putra pertama terdeteksi autis dan mendapatkan penanganan di usia yang cukup telambat yakni hampir 5 tahun, alhamdulillah perkembangannya cukup bagus. Berbekal pengalaman tersebut saya pun mensosialisasikan deteksi dini gangguan perkembangan pada anak-anak.

Upaya saya untuk mensosialisasikan dan menangani anak yang terindikasi mengalami gangguan perkembangan ternyata mendapatkan berbagai macam reaksi dari orang tua. Setidaknya ada 5 reaksi yang sering saya  terima saat saya sarankan orang tuanya untuk mengonsultasikan anaknya ke ahli tumbuh kembang anak saat ku ketahui ada gejala-gejala gangguan.

Reaksi pertama adalah berterima kasih dan bertanya ke mana mereka sebaiknya mengonsultasikan anaknya. Biasanya saya akan menyarankan untuk membawanya ke psikolog atau psikiater anak terdekat. Bila memungkinkan bisa dikonsultasikan ke ahli yang lebih banyak makan asam garam pertumbuhkembangan anak di Surabaya. Tentu senang bila mendapat reaksi positif dari orang tua.

Reaksi kedua adalah reaksi yang berkebalikan dengan yang pertama yaitu tersinggung dan mengira saya menghinanya. Meski ketersinggungan itu tak selalu diungkapkan dalam bentuk  marah, reaksi ini sering kali memunculkan kata-kata menohok dan menyakitkan dalam bentuk sindiran atau kata-kata pedas. Untuk menghindari hal ini terjadi biasanya saya tidak langsung memberitahu orang tua tentang kecurigaan saya perihal adanya gangguan perkembangan pada putranya. Saya akan amati terlebih dulu karakter orang tua tersebut. Bila memungkinkan diberi tahu sendiri ya diberi tahu sendiri, namun bila tidak memungkinkan saya akan mencari orang terdekatnya atau orang yang disungkaninya untuk memberi tahu.

Jenis reaksi yang ketiga yaitu marah atau gengsi dan menganggap saya mengada-ada. Type orang yang bereaksi seperti ini biasanya bukan tidak mengetahui akan adanya gangguan pada putranya. Reaksi ini justru sering terjadi pada orang-orang yang secara ekonomi cukup mapan dan orang yang berpendidikan cukup tinggi. Orang tua seperti ini biasanya lebih sulit didekati dan diberi masukan. Rasa gengsi yang tinggi seringkali mengorbankan kesempatan anak untuk mendapatkan intervensi dini dan mendapatkan haknya untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai.

Selain ketiga jenis reaksi di atas, reaksi berikutnya adalah melakukan pengingkaran. Reaksi ini biasanya lebih dipengaruhi karena faktor ketidaktahuan, pengaruh lingkungan, keluarga yang juga mendukung pengingkaran tersebut. Anak yang hiperaktif dianggap sebagai anak sehat karena banyak bergerak, anak yang hiposensitif terhadap rasa sakit dianggap sebagai anak bandhel (istilah Jawa untuk anak yang tahan terhadap rasa sakit), anak nonverbal dikira terlambat bicara dan lain-lain. Umumnya mereka baru menyadari setelah anaknya tidak seperti teman-temannya dan tidak mampu  mengikuti pembelajaran di sekolah dasar.

Reaksi tarakhir adalah diam, tak bereaksi. Saya sering bingung bila menemui orang tua model begini karena tidak tahu apakah yang saya sampaikan sudah dimengerti atau belum. Biasanya saya akan menunggu dan mengamati bagaimana tindakan selanjutnya, apakah kemudian orang tua tersebut mencari bantuan atau tidak. Bila mencari bantuan kemana mereka mencari bantuan, jangan-jangan ke orang pintar/dukun.

Dari kelima reaksi tersebut agaknya cuma reaksi nomor satu yang menyenangakan. Keempat lainnya butuh kesabaran demi menolong anak yang terindikasi mengalami gangguan perkembangan. Terus terang kadang saya kecewa bila menerima reaksi kedua sampai kelima. Maka niat baik dan mental harus selalu disiapkan sebelumnya memberi tahu. Selain itu juga harus belajar berkomunikasi yang efektif  agar tujuan tercapai. Selebihnya kembalikan semuanya kepada Allah sebagai dzat yang bisa membuka hati dan kesadaran orang tua.

Ingatlah Allah; Jangan Menuhankan Virus Corona!

0

Belakangan ini dunia digemparkan oleh wabah virus yang mengakibatkan infeksi pernapasan serupa SARS dan MERS atau organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebutnya dengan nama Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Menurut situs resmi WHO virus yang sebelumnya bernama novel coronavirus (2019-nCoV) ini pertama kali dideteksi di pusat Kota Wuhan, Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019.

Kampusdesa.or.id–Tercatat jumlah penderita yang terbaru dari web https://www.worldometers.info/coronavirus/ (per tanggal 07 Maret 2020 pukul 22.00 WIB) dengan total 104.144 kasus, kematian 3.526 orang, dan pulih atau sembuh sebanyak 58.559 orang. Sampai sekarang pandemi virus ini tercatat telah menyebar di 98 negara dan teritori di seluruh dunia serta satu alat angkut internasional berupa kapal pesiar Diamond Princess di Yokohama, Jepang.

Dalam kasus ini, kita secara tidak langsung menyadari bahwa sungguh betapa lemahnya manusia sebagai salah satu makhluk Tuhan Yang Maha Perkasa. Tidaklah sangat jelas jika manusia itu dilarang sombong. Karena Allah SWT juga sudah berfirman:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” [QS. An-Nisa: 2]

Pertanyaannya sekarang, belajar dari setiap musibah baik bencana maupun penyakit itu apakah di sini umat manusia sedang diuji atau Allah sedang menurunkan adzab-Nya kepada manusia yang dzalim? Tentu kita sebagai hamba harus bersikap sabar dan selalu interopeksi disertai khusnudzon terhadap setiap ketentuan dari Allah SWT.

Kasus Virus Corona di Indonesia

Kembali kepada kasus corona ini. Saya memiliki beberapa kawan yang sedang studi di Wuhan, terutama tiga di antaranya berasal dari tempat asal saya, yakni Lamongan. Melalui media sosial dan berita daring saya beberapa kali komunikasi dengan mereka dan cukup mengikuti perkembangan pemerintah Indonesia dalam menanggapi peristiwa ini. Terutama saat berhasil mengevakuasi 238 WNI dari Wuhan kembali ke Tanah Air sampai masa observasi selama 14 hari di Natuna.

Meskipun kebijakan tersebut banyak kalangan yang menentang karena tidak sesuai dengan metode isolasi dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang telah diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf RA. Rasulullah bersabda, “Bila kalian mendengar wabah tengah mendera suatu daerah, maka janganlah kalian memasukinya, dan jika menyerang wilayah kalian, maka janganlah engkau melarikan diri.” [HR. Bukhari].

Bahkan sejumlah warga Natuna melakukan aksi unjuk rasa di depan gerbang pangkalan TNI Angkatan Udara Raden Sadjad, Ranai, Natuna, Kepulauan Riau, seperti yang dilansir Berita Antara pada Sabtu (1/2/2020).

Mengutip dari Tirto.id (4/2/2020), polemik dan kekhawatiran ini sudah ditanggapi oleh pemerintah melalui Menko Polhukam, Mahfud MD. Beliau mengatakan bahwa pemerintah menjamin bahwa penyelesaian pemulangan warga negara Indonesia di sana, itu dilakukan dengan akurat dan tidak membahayakan masyarakat Natuna.

Selain itu Mahfud juga berjanji pemerintah akan menangani dengan secermat-cermatnya masalah yang sedang berlangsung dan menjamin komunikasi akan terus dilakukan dengan masyarakat Natuna. Semua WNI yang baru saja dievakuasi dari Tiongkok dalam keadaan sehat dan telah melaksanakan standar internasional usai berada di daerah yang terjangkit virus corona. Akan tetapi perlu menjalani karantina selama 14 hari sebelum boleh pulang ke kampung masing-masing.

Saat data WHO menunjukkan Indonesia termasuk negara yang tidak terdampak (zero cases) virus corona, Indonesia menjadi bahan sorotan dunia dan muncul banyak pertanyaan serta berbagai spekulasi mulai dari dianggap memang sengaja ditutupi, lemahnya proses skrining, atau tidak memiliki alat yang cukup memadahi sehingga hasilnya false negative, dan lain sebagainya.

Namun ketika pemerintah Indonesia kali pertama –tanggal 02 Maret 2020 mengumumkan 2 orang yang positif terdeteksi virus corona. Hal ini memicu ketegangan publik saat banyak media rame-rame mengonfirmasi dan ternyata benar bahwa Indonesia positif terdeteksi virus corona. Sehingga mulai saat itu resmilah Indonesia masuk ke dalam peta sebaran virus corona global. Dan pemerintah Indonesia melalui Juru Bicara Penanganan Corona, Achmad Yurianto baru-baru ini mengumumkan pasien positif COVID-19 di Indonesia bertambah 2 orang lagi pada Jumat (6/3/2020). Itu artinya total orang positif kena virus corona di Indonesia sebanyak 4 orang.

Dengan adanya informasi dari pemerintah tersebut, tentunya diharapkan masyarakat Indonesia bisa lebih mengantisipasi, saling waspada, dan dapat melakukan langkah-langkah preventif yang dianjurkan oleh Kemenkes ataupun World Health Organization (WHO) sehingga virus ini tidak menyebar ke mana-mana. Tentu tidak diobati ataupun memakai jamu bikinan sendiri, tanpa diketahui khasiatnya (belum terbukti secara klinis).

Sikap Media dan Kepanikan Masyarakat Indonesia

Sangat disayangkan beberapa media dan bahkan beberapa lembaga kesehatan sendiri malah merilis identitas mereka. Tindakan semacam ini justru kurang elok. Mari belajar dari masyarakat Tiongkok, mereka lebih memilih saling menyebarkan informasi positif ketimbang informasi provokatif yang menimbulkan parno berlebihan. Di samping itu, watak sebagian besar masyarakat Indonesia suka menjadikan hal-hal demikian sebagai bahan candaan bahkan bully-an.

Tidak kalah penting di sini, statement yang keluar dari beberapa pejabat publik maupun publik figur juga harus hati-hati dan dijaga. Agar tidak membuat masyarakat bingung dan gaduh. Begitu pula terhadap beberapa media baik cetak dan elektronik tidak seharusnya mem-blow up berita yang cenderung menakut-nakuti masyarakat. Karena efek panik sejatinya lebih berbahaya terhadap cirus atau penyakit itu sendiri.

Sebagaimana analogi yang dikisahkan novelis Anthony de Mello: Wabah sedang menuju ke Damaskus dan melewati suatu kafilah di padang gurun. “Mau ke mana, begitu tergesa-gesa?” tanya kepala Kafilah. “Ke Damaskus. Saya mau merenggut seribu nyawa,” jawab Wabah. Sekembalinya dari Damaskus. Wabah itu bertemu lagi dengan Kafilah itu. Kepala Kafilah berkata, “Engkau merenggut 50.000 nyawa, bukan hanya 1000.” Kata Wabah, “Tidak, saya hanya mengambil seribu. Yang lain disebabkan oleh ketakutan.”

Dalam peristiwa serupa, orang bijak Arab pernah bertutur demikian:

‏خوفك من المرض .. هو مرض

خوفك من الفقر .. هو فقر

خوفك من المصائب ،، مصيبة أكبر منها

اترك الخوف وتحلى باليقين والرضا

الخوف طريق الوهم

واليقين طريقك إلى الله

Khawatirmu terhadap penyakit.. itulah penyakit.

Khawatirmu terhadap kefakiran.. itulah kefakiran.

Khawatirmu terhadap musibah.. itulah musibah yang lebih besar.

Tinggalkan kekhawatiran, dan hiasilah diri dengan keyakinan serta keridhoan.

Kekhawatiran adalah jalannya ilusi dan khayalan.

Sedangkan keyakinan adalah jalanmu menuju Allah Yang Maha Rahman.

Mengingat akan hal itu, sebagai umat Islam jangan sampai tergoda oleh setan dengan kepanikan dan ketakutan yang berlebihan. Momen seperti ini pasti dimanfaatkan oleh mereka agar kita salah langkah dan naudzubillah sampai-sampai menuhankan virus corona itu sendiri. Setiap hari yang diingat adalah virus corona disertai ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. Jangan biarkan corona “masuk” ke dalam hati kita.

Penyakit hati sesungguhnya lebih berbahaya karena menyebabkan hati kita mati tidak kenal dan lupa kepada Allah. Kita akan celaka dunia akhirat. Ingat, virus corona bukan Tuhan dan tidak ada apa-apanya sama Allah SWT sang pemilik dan pencipta segala macam di dunia ini termasuk virus corona itu. Umat Islam tidak boleh takut dan ragu menghadapi penyakit. Semua perintah-Nya kita lakukan dan bermunajat meminta perlindungan kepada Allah setiap malam. Kita harus yakin bahwa yang mengangkat dan mengindarkan semua ini hanya Allah SWT. Maka, hanya takutlah terhadap Allah.

Untuk mengurangi kepanikan berlebihan, kita sebagai kaum muslim terpelajar juga harus bisa bersikap dewasa dan bijak dalam bermedia sosial. Lebih pandai lagi dalam memilah dan memilih mana konten negatif dan mana konten positif. Kita berikrar untuk tidak ikut menyebar informasi-informasi yang malah menimbulkan ketakutan apalagi berita-berita bohong (hoaks). Sebaiknya juga kita mengajak bersama-sama melawan virus corona dengan melakukan langkah-langkah baik dhohir maupun batin.

Tips Menghadapi Virus Corona

Sebagai umat Islam, kepanikan yang berlebihan tentu tidaklah perlu. Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan menganjurkan membaca ayat kursi sebanyak 313 kali. Dibaca setelah wirid shalat maghrib sebagai benteng (proteksi) diri terhadap segala bala penyakit diniati minta kepada Allah untuk menolak penyakit termasuk virus corona.

Habib Novel Alaydrus juga memberikan ijazah doa yaitu membaca Shalawat Tibbil Qulub. Dengan demikian, insyaallah kita dapat dilindungi oleh Allah dari segala macam penyakit. Saya yakin banyak umat Islam terutama kalangan Nahdliyin (NU) pasti familiar dengan shalawat ini.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا. وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا. وَنُوْرِ اْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Artinya: “Ya Allah curahkanlah rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sebagai obat hati dan penyembuhnya, penyehat badan dan kesembuhannya dan sebagai penyinar penglihatan mata beserta cahayanya. Semoga sholawat dan salam tercurahkan pula kepada keluarga serta para shahabat-shahabatnya.”

Penulis juga mengutip ceramah dari Habib Syech Assegaf yang diunggah di kanal Youtube Mohammad iSyeikh (channel milik Mohammad Bagir bin Syekh Assegaf, putra Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf) pada tanggal 05 Maret 2020 –yang kemudian di-reupload di berbagai akun Syeikhermania dan Asbabul Mustofa. Habib Syech memberikan nasehat di situasi genting seperti ini kita tentu harus lebih meningkatkan keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan percaya dengan orang-orang yang menakut-nakuti. Perbanyak saja shalawat, istighfar, dan beliau mengamanahkan untuk membaca dzikir rotibul hadad atau rotibul athos.

Beda halnya dengan Majelis Ulama Indonesia dan PBNU menganjurkan umat Islam untuk menjaga wudlu dan melalui selebaran resmi mengajak untuk membaca doa qunut nazillah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasullullah tatkala menghadapi petaka dan tragedi pelik.

Senada dengan anjuran wudlu, Rasulullah SAW berabad-abad silam sudah “weruh sedurunge winarah (dalam bahasa Jawa artinya mengetahui kejadian sebelum terjadi). Nabi Muhammad SAW bersabda “Di akhir zaman nanti aka nada banyak wabah dan penyakit melanda manusia di dunia, hanya umatku yang terhindar karena memelihara wudlunya.” [Hadist Riwayat At-Thabrani]

Selain doa-doa di atas, Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan satu doa untuk kesembuhan dari penyakit yang ada pada diri sendiri. Doa ini terdapat dalam hadits riwayat Imam Muslim atau juga bisa memakai doa yang dibacakan Nabi Ayub saat Nabiullah ini diuji Allah dengan mendapat penyakit. Seperti yang diabadikan dalam QS. Al-Anbiyaa ayat 83.

Di samping tawakal, tentu kita harus mengimbangi dengan upaya ikhtiar, salah satunya dengan bershadaqah diniatkan untuk menolak balak (assodaqotu lidaf’il bala’). Dikarenakan vaksin virus ini belum ditemukan, tentu kita juga harus belajar mengetahui bagaimana gejala klinis serta penanganannya yang tepat, dan mematuhi anjuran dari Kemenkes RI untuk mengikuti pedoman dari WHO tentang kesiapsiagaan menghadapi infeksi novel coronavirus.

Pada poin terakhir ini pemerintah seyogyanya harus hadir di sini menyediakan fasilitas medis seperti masker, hand sanitizer, dan melakukan kampanye pola hidup sehat secara gratis. Sehingga tidak dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang egois dan tidak manusia dengan memborong sembako dan menjual masker dengan harga selangit.

Akhir kata, apapun wabah yang melanda, kita harus menghadapinya dengan selalu menjadi hamba yang pandai bersyukur dan bersabar dalam ridha Allah dan selalu berdoa agar ditetapkan hati kita di atas agama Allah SWT. Sehingga tatkala ajal menjemput kita mati dalam keadaan beriman, dijamin meninggal khusnul khotimah. Setiap manusia pasti akan mati. Kita tidak bisa lari terhadap kematian baik ditakdirkan karena virus ataupun dalam kondisi apapun.

Mulai sekarang mari kita menghadapi virus dan penyakit dengan terus menggalakkan pola hidup sehat, berpikir positif, dan terus berdoa kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan pertolongan, kemudahan, dan keselamatan di manapun kita berada. Allahumma aamiin.

Ragam Reaksi Warga Indonesia perihal Virus Corona

0

Selasa (02/03), presiden Jokowi mengumumkan bahwa ada 2 orang Indonesia yang positif terjangkit virus Corona. Hal ini membuat netizen +62 mengeluarkan banyak komentar. Bukan hanya itu, reaksi negara berflower ini juga bermacam-macam. Lalu, apa sajakah reaksi orang Indonesia terkait berita virus Corona yang semakin marak diperbincangkan?

Kampusdesa.or.id-Sejak akhir bulan Februari kemarin, berita jamaah umroh yang dipulangkan ke Indonesia mulai menyebar, ditambah keesokan harinya muncul surat edaran dari kedutaan Arab Saudi yang menghentikan sementara lalu lalang di wilayah kerajaannya, baik yang sedang berwisata, menunaikan ibadah, atau urusan lainnya. Semua itu dilakukan dalam rangka melakukan perlindungan, pengamanan, pencegahan, pengendalian, dan pemusnahan virus Corona.

Sebab, sebelum memasuki kota Mekkah, para jamaah melakukan pemeriksaan kesehatan sehingga ditemukan jamaah yang mengalami tanda gejala pengidap virus Corona. Meskipun belum dinyatakan positif, namun kedutaan Arab Saudi langsung mengambil keputusan untuk memulangkan seluruh jamaah umroh ke negaranya masing-masing. Untuk lebih tertib dan terhormat, akhirnya Raja Arab Saudi menyebarkan surat edaran tersebut. Hal ini tentu menyebabkan kerugian besar bagi penyedia jasa travel haji dan umroh, khususnya dari Indonesia.

Mau tidak mau, terpaksa atau tidak, beberapa pihak travel mengembalikan sebagian uang yang sudah masuk kepada jamaah yang sudah siap berangkat umroh.

Setelah keputusan dan surat edaran keluar, ternyata negara lain seperti Turki pun melakukan tindakan yang sama. Sementara, banyak sekali paket umroh plus (bonus singgah ke negara Turki). Mau tidak mau, terpaksa atau tidak, beberapa pihak travel mengembalikan sebagian uang yang sudah masuk kepada jamaah yang sudah siap berangkat umroh. Tetapi, lain halnya dengan jamaah umroh yang telah tiba di Jeddah atau Madinah atau jamaah umroh yang mengalami penjadwalan ulang (reschedule) keberangkatan umroh.

Selasa (02/03), presiden Jokowi mengumumkan bahwa ada 2 orang Indonesia yang positif terjangkit virus Corona. Kejujuran dan kenyataan pahit ini membuat para Tenaga Kerja Kesehatan (TENAKES) risau, apalagi ada yang melakukan kontak dengan 2 orang terjangkit virus tersebut dalam 24 jam terakhir diantara 72 orang dalam tempat karantina, salah satunya seorang dokter. Hal ini membuat tugas dan kewajibannya menangani pasien, mengalami kesulitan hingga harus medelegasikan tugasnya kepada sesama rekan sejawat. Lalu, apa sajakah reaksi orang Indonesia terkait berita virus Corona yang semakin marak diperbincangkan? Langsung saja, cekidot.

Memborong masker

Sudah terlalu banyak pemaparan informasi penyakit dari virus Corona sehingga banyak yang berusaha mencegahnya dengan memakai masker. Hal ini menyebabkan harga Masker melonjak drastis. Dari 20 ribu/box menjadi 400 ribu/box. Luar biasa, bukan? Parahnya, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyatakan masker sebenarnya dipakai untuk orang sakit. Orang yang sehat tidak perlu ikut-ikutan memborong masker. WHO sendiri menyatakan masker tidak ada gunanya untuk mencegah penularan virus Corona. “Masker itu dipakai orang sakit agar tidak menulari orang sehat,” katanya kepada wartawan, Sabtu (15/2/2020).

Menyetok sembako berlebihan

Ternyata, sebagian besar ibu rumah tangga yang memang jarang keluar rumah memutuskan untuk membeli persediaan sembako lebih banyak dari biasanya, agar tidak keluar rumah lagi. Munculnya kejadian ini semakin menyulitkan perbedaan antara sikap malas dan pinter alasan.

Membeli hand sanitizer

Salah satu upaya pencegahan berikutnya adalah cuci tangan. Ada yang merasa khawatir bila sedang bepergian, lalu jauh dari tempat air mengalir, sehingga memilih sedia hand sanitizer untuk dibawa kemana-mana. Tidak menjadi masalah memakai hand sanitizer, asalkan tidak dipakai terus menerus. Sebab, mencuci tangan dengan air mengalir sangat dianjurkan dan ampun membunuh virus Corona.

Sibuk dengan urusannya sendiri

Ternyata, tidak semuanya memiliki respon yang sama terkait virus Corona. Ada yang masih terus jualan online, berbisnis, atau mengisi seminar dan kajian. Kaya enggak terjadi apa-apa, padahal Indonesia sedang geger karena virus Corona. Tapi, tidak menutup kemungkinan kalau orang yang tipe ini adalah orang yang berpikir jauh. Mengapa? Tentu dengan adanya kenaikan harga masker, bisa saja orang tipe ini sudah berpikir bahwa selanjutnya barang sembako mulai kehabisan stok, akibatnya permintaan meningkat dan harga ikutan meningkat.

Berserah

Ada loh yang justru semakin meningkatkan ibadahnya, wudhunya, do’anya, dan sedekahnya. Lebih kece lagi menjaga banget kesucian wudhunya, taqwanya dan tawakalnya hingga mencapai level tak tertandingi. Semuanya diserahkan kepada Allah SWT, bahkan kejadian virus Corona ini dijadikan wasilah untuk terus bedekatan dengan Sang Pencipta. Sungguh, tak ada suatu penyakit tanpa ada obatnya.

Stress berat

Orang tipe ini, hanya bisa berkata negatif dan terus menerus bertanya, “Duh, gimana ya? Nanti gimana ni. Ah, lagian Indonesia gimana sih, kurang ketat keamanannya.”

Bisa dibilang hanya memperkeruh suasana hati dan pikiran. Seolah menjadi orang yang paling stress dan depresi menghadapi virus Corona. Enaknya diabaikan aja atau iyain aja biar cepet.

Menggadaikan barang menjadi emas logam mulia.

Ini orang yang pikirannya bener-bener jauh. Katanya, “Setelah semua harga melonjak tinggi naik drastis, kemungkinan nilai rupiah semakin menurun. Akibatnya terjadi revolusi seperti tahun 1998, yang bernilai hanyalah dinar dan dirham / emas dan logam mulia.”

Belum sampai otak ini mencerna apa yang dipikirkannya.

Membagikan setiap pesan masuk dari WhatsApp

Padahal ia sendiri belum membaca pesan tersebut, tapi langsung membagikan ke orang lain. Ketika ada yang minta klarifikasinya, orang tersebut malah kebingungan. Entah sebuah hobby atau memang pribadinya seperti itu. Mungkinkah mencari sensasi?

Meratapi nasib BCL

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwasannya, suami dari Bunga Citra Lestari meninggal dunia pada tanggal 18 Februari 2020. Kini, status ibu beranak satu itu menjadi janda. Tentu saja para BCLicious saat ini kembali dihebohkan oleh kehadiran BCL di atas panggung Indonesian Idol tadi malam (02/02/20). Menjadi kebanggan tersendiri bagi mereka karena BCL telah bangkit dari keterpurukannya. Namun, kembali terisak saat Judika menyanyikan lagu single terbarunya.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Membaca Tantangan dan Peluang PTAI Baru

0

Banyaknya PTAI baru yang tumbuh dari rahim pesantren menjadi prestasi yang membanggakan bagi pendidikan Islam. Hal ini menunjukkan adanya geliat pertumbuhan intelektualisme di dunia pesantren. Namun, perlu pula dipertimbangkan tantangan dan peluang new comers itu di era 4.0 ini dan 5.0 mendatang. Analisis mendalam diperlukan untuk membaca masa depan mereka agar mampu tumbuh dan berkembang serta mampu bersaing di kancah internasional.

Kampusdesa.or.id-Pelopor berdirinya PTAI pertama di Indonesia yaitu Dr. Satiman Wirjosandjojo. Beliau mengatakan bahwa didirikannya PTAI tersebut karena empat hal; pertama kesadaran diri bahwa umat Islam sangat tertinggal. Kedua, non muslim berkembang karena mengadopsi sistem pendidikan barat. Ketiga, urgensitas perlunya korelasi pendidikan dengan dunia Internasional. Keempat, dalam pendidikan Islam unsur lokal sangat penting untuk diperhatikan.

Di Bondowoso sedang menjamur PTAI baru yang bermula dari pesantren, mulai dari STIS, STITA, STAIAU dll. Berdasarkan fakta itu, penulis mencoba untuk menganalis dari ilmu manajemen pengembangan PTAI Bondowoso perspektif SWOT sebagai berikut:

Pertama, di era 4.0 dan 5.0 akan menimbulkan 5 kecenderungan, integrasi ekonomi, fragmentasi politik, IT, ketergantungan, dan penjajahan baru bidang budaya (new colonization in culture). 5 hal ini menjadi tantangan PTAI baru kedepan.

Kedua, munculnya tantangan baru bagi lulusannya. Artinya, PTAI tersebut agar dilirik masyarakat supaya mengorbitkan output dan outcome yang berkualitas.

Ketiga, tantangan lain perlunya menyesuaikan seluruh komponen pendidikan: visi, misi, tujuan, kurikulum, SDM dosen, mahasiswa, dan lain sebagainya.

Keempat, bagi mahasiswa yang menjadi tantangan adalah perlunya peningkatan penguasaan ilmu tertentu agar menjadi kepakaran yang layak dijual kepada masyarakat.

Kelima, lulusan PTAI berpeluang untuk bersaing dikancah global, sehingga perlu dilakukan usaha dan kerja keras yang lebih massif dan sistemik.

“Perlu adanya konsep entrepreneur university, yakni PTAI harus membangun wirausaha dalam mengembangkan dirinya”

Keenam, perlu adanya konsep entrepreneur university, yakni PTAI harus membangun wirausaha dalam mengembangkan dirinya agar dalam hal pembiayaan akademiknya tidak hanya mengandalkan SPP mahasiswa.

Terakhir, era 4.0 telah menimbulkan tantangan dan peluang bagi PTAI baru, oleh sebab itu tidak boleh terjebak sepenuhnya untuk mengikuti kecenderungan globalisasi yang berbasis pada ideologi kapitalisme dan materialisme.

Memang mendirikan lebih mudah daripada mempertahankan, karena regulasinya bersifat fluktuatif. Semoga PTAI baru di Bondowoso tidak hanya marak dan berbondong-bondong mendirikan namun yang paling penting mempertahankan dan mengembangkan kualitas pendidikannya kedepan. Semoga diberikan kemampuan oleh Allah. Amin

Pesan Filosofis Capung untuk Generasi Muda

0

Capung itu makhluk yang kecil dan dianggap kecil oleh banyak orang. Namun kita bisa belajar banyak darinya. Capung memiliki kehidupan yang singkat, namun melalui banyak hal di hidupnya yang singkat tersebut., Capung tidak pernah berhenti terbang dan berusaha sekuat tenaga untuk mencari penghidupan. Sudahkah kita belajar pada Capung tentang sebuah perjalanan hidup?

Kampusdesa.or.id-Capung. Makhluk kecil yang dahulu sewaktu kita kecil, kita sering diam-diam di belakangnya dengan membawa sebatang lidi yang ujungnya dikasih getah pohon nangka atau getah pohon waru, kemudian kita dengan mengendap-ngendap menempelkan ujung lidi itu ke sayap capung. Dan menempellah capung tersebut, kita tangkap. Untuk apa? Untuk umpan mancing ikan mujahir atau bethik di jumblang belakang rumah.

Capung itu makhluk yang kecil dan dianggap kecil oleh banyak orang. Namun kita bisa belajar banyak darinya. Meskipun dia kecil, namun ternyata banyak filosofi yang dapat kita ambil darinya. Sebagaimana dilansir dalam www.amazine.com, terdapat makna simbolisme capung dalam berbagai budaya bangsa.

Dari berbagai makna simbolisme yang disampaikan terdapat beberapa hal yang dapat kita terapkan dalam diri seorang pemuda. Beberapa hal itu antara lain:

Pertama, Jalani hidup sepenuhnya.

“Berbuat baik tidak harus menunggu tua. Pemuda yang baik akan memulai berbuat baik sedini mungkin”

Capung memiliki kehidupan yang singkat, namun melalui banyak hal di hidupnya yang singkat tersebut. Capung memberikan pelajaran bahwa kita harus selalu berperan baik dalam hidup meski dalam keadaan sempit. Seberapa lama to menjadi pemuda atau seberapa lama kita hidup di dunia ini? Berbuat baik tidak harus menunggu tua. Pemuda yang baik akan memulai berbuat baik sedini mungkin.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi Muhammad Saw. menyebutkan tujuh golongan yang pada hari kiamat akan mendapat naungan Allah Swt. Satu diantaranya adalah pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Allah Swt.

Jika orang tua sering ke masjid dan berlama-lama beribadah di masjid itu biasa saja. Karena mereka sadar bahwa kesempatan untuknya berbuat baik tinggal sedikit saja. Namun seorang pemuda, yang masih kuat nafsunya, banyak sekali godaan untuk beraktivitas lainnya, bisa bersenang-senang dan berfoya-foya, namun dia bisa selalu rutin beribadah di masjid. Sungguh pemuda yang dirahmati oleh Allah Swt.

Kedua, Memiliki tujuan hidup yang jelas.

Capung tidak pernah berhenti terbang dan berusaha sekuat tenaga untuk mencari penghidupan. Tujuanya adalah agar dia bisa melanjutkan hidup dengan baik dan dengan usaha yang nyata. Tak pernah kita melihat capung yang hanya nongkrong-nongkrong di teras rumah menunggu makanan datang. Kalau kita menunggu pesanan grabfood mungkin iya.

“Pemuda harus mempunyai target dan tujuan hidup. Jangan sampai hidup itu hanya mengalir seperti air di sungai”

Pemuda harus mempunyai target dan tujuan hidup. Jangan sampai hidup itu hanya mengalir seperti air di sungai. Jika alirannya seperti paralon mudah saja. Jika mengalirnya itu seperti turun dari puncak gunung, maka akan ada jurang, ada batuan cadas, akan ada kayu-kayu yang besar menghalangi air tersebut sampai bawah. Dan itu akan sangat susah tentunya.

Jangan sampai sejak bangun tidur kita tidak memiliki tujuan apapun hingga akhirnya kita tidur lagi. Langkah-langkah apa yang harus kita buat, hal apa saja yang harus kita kerjakan, mana hal yang prioritas untuk dilakukan, mana hal yang perlu usaha khusus untuk dikerjakan, mana hal yang berpengaruh kepada banyak orang, dan sebagainya. Semuanya itu harus dipersiapkan secara matang dalam rangka mencapai target hidup.

Kita bisa membayangkan jika orang tidak memiliki target hidup. Hidupnya akan hampa tanpa rasa. Tak ada usaha, tak ada semangat, tak ada penyesalan, tak ada kebahagiaan, dan tak ada kesedihan.

“Pemuda harus memiliki semangat dan keyakinan bahwa dia harus lebih baik dari orang tua dan generasi sebelumnya”

Pemuda harus memiliki semangat dan keyakinan bahwa dia harus lebih baik dari orang tua dan generasi sebelumnya. Jika orang tua kita sekarang hidupnya susah, maka pemuda atau sang anak harus semangat dan yakin bahwa dia harus bisa kaya dan bisa membahagiakan kedua orang tuanya.

Jangan sampai hanya dengan doa saja kita membalas budi baik kedua orang tua. Meskipun doa anak sholeh adalah jariyah bagi kedua orang tua. Ya kalau doanya dikabulkan, jika tidak? Maka akan menjadi angin lalu saja. Namun jika sang anak bisa melakukan sedekah dan membantu sesama, memberikan sumbangsih pemikirannya bagi kemajuan agama dan bangsanya, tentunya akan lebih besar lagi jariyah dan doa banyak orang yang akan sampai kepada kedua orang tuanya.

Pemuda harus semangat dan membuang jauh-jauh rasa malas dalam dirinya jika ingin hidupnya menjadi baik. Telah masyhur sebuah doa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. agar terhindar dari rasa malas.

Anas bin malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membaca do’a: “Allahummma inni a’udzubika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhli. Wa ‘adzubika nin ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamati.”

Yang artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.”

“Dengan siapa kau berteman dan sering berkumpul, maka itu akan berpengaruh pada keadaanmu 20-25 tahun yang akan datang”

Sebagai penutup kata, saya pernah menyampaikan kepada peserta didik. “Kehidupanmu 20-25 tahun yang akan datang dapat dilihat saat ini atau saat kau telah lulus SMA. Dengan siapa kau berteman dan sering berkumpul, maka itu akan berpengaruh pada keadaanmu 20-25 tahun yang akan datang.”

Pemuda adalah penentu maju mundurnya sebuah bangsa di masa mendatang. Dia bisa sebagai aset emas yang menyilaukan, pun bisa menjadi bom waktu yang menghancurkan.

Moh. Alim (Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Kepohbaru, Anggota Aktif Komunitas Menulis Kita Belajar Menulis (KBM) Bojonegoro, Penulis Buku Kumpulan Puisi Jejak Sakinah, Sastra Dalam Sanubari, dan Catatan di Kota Malam).

Kampus Merdeka untuk Desa

0

Kampus Merdeka mejadi semacam oase yang hadir di tengah gersangnya sinergitas kampus dengan desa. Diharapkan, melalui kebijakan ini, pola relasi hierarkhis yang menempatkan desa pada posisi inferior di bawah kampus dapat direduksi. Sebab pada hakikatnya, antara kampus dan desa berada pada posisi yang setara. Kampus dan desa adalah mitra belajar, mitra membangun, dan mitra memerdekakan.

Kamusdesa.or.id-Pembicaraan mengenai kebijakan Mendikbud tahap ke-2 mengenai kampus merdeka seakan tidak ada habisnya. Diskusi yang membincang bagaimana formulasi kebijakan kampus merdeka dalam perguruan tinggi menimbulkan berbagai macam tafsir yang masih saja membuat bingung pengelola perguruan tinggi. Bahkan, pembicaraan mengenai konsep kampus merdeka tersebut dibahas dalam pertemuan forum perguruan tinggi untuk desa (Pertides) Kementrian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal, dan Transmigrasi pada 29 Januari 2020 yang lalu.

Dalam pertemuan tersebut hadir pula, Plt Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Prof. Nizam dan mempresentasikan sebuah makalah yang berjudul Kampus Merdeka untuk Desa. Judul dari makalah yang disampaikan memang menarik, akan tetapi terdapat beberapa konsep yang menurut penulis perlu untuk dikritisi mengenai cara pandang perguruan tinggi dalam melihat desa dari makalah Dirjen tersebut.

Sebagai pengantar Prof. Nizam menukil pesan Mendikbud Nadiem Makarim yang berisi tentang komitmen kepemimpinannya untuk berjuang membangun sistem pendidikan tinggi yang mengutamakan kemerdekaan belajar dengan menggerakkan dosen dalam perkuliahan. Membaca pengantar makalah tersebut penulis memiliki pandangan yang sama dengan mendikbud, akan tetapi pada penjelasan berikutnya hingga akhir, penulis melihat Prof. Nizam kurang tepat dalam memaknai pola serta filosofi relasi perguruan tinggi dan desa yang cenderung mengabaikan karakteristik desa dalam paradigma kemerdekaan belajar.

“Antara perguruan tinggi dan desa harus berdiri secara sejajar dan desa harus diberikan kepercayaan untuk memiliki peran lebih dari sekedar objek kebijakan”

Desa dalam pemaparan Prof. Nizam masih saja dilihat dengan menggunakan paradigma lama, yaitu desa diposisikan pasif serta menjadi objek dari implementasi program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh perguruan tinggi. Mestinya dengan menggunakan paradigma kemerdekaan belajar cara melihatnya tidak demikian, antara perguruan tinggi dan desa harus berdiri secara sejajar dan desa harus diberikan kepercayaan untuk memiliki peran lebih dari sekedar objek kebijakan, bahkan kalau dibutuhkan misalnya seorang petani desa yang memiliki pengalaman tertentu bisa mengajar mahasiswa mulai jenjang sarjana hingga doktoral.

Desa sebagai Resource Learning

Berdasarkan data forlap dikti jumlah perguruan tinggi di Indonesia sebanyak 4539 dengan berbagai macam bentuknya. Dari sekian banyak perguruan tinggi tersebut kira-kira ada berapa perguruan tinggi yang memiliki visi untuk mencapai reputasi internasional?. Dan pada kenyataannya berapa jumlah yang bisa mencapai reputasi internasional, paling-paling hanya 3 perguruan tinggi saja yaitu Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung. Lalu kemanakah 4500 perguruan tinggi lainnya?

Capaian lain yang sering kali dijadikan parameter sebuah kinerja perguruan tinggi adalah peningkatan jumlah publikasi dosen pada jurnal internasional yang bereputasi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Akan tetapi sudahkah masyarakat merasakan impact dari capaian-capaian tersebut terutama masyarakat desa?.

“Alangkah dahsyatnya apabila arah pendidikan tinggi memperhatikan potensi-potensi yang ada di desa”

Data Kementrian Dalam Negeri menyebutkan, Indonesia memiliki desa sebanyak 83184 dan mayoritas penduduk Indonesia bertempat tinggal disana. Mengingat banyaknya jumlah desa tersebut sangatlah memungkinkan bahwa masing-masing desa tersebut memiliki keunikan, kearifan dan hamparan pengetahuan. Alangkah dahsyatnya apabila arah pendidikan tinggi memperhatikan potensi-potensi yang ada di desa.

Sebagai contoh misalnya, Desa Dungkek yang berada di Pulau Giliyang Kabupaten Sumenep. Desa tersebut tercatat sebagai desa yang memiliki kualitas oksigen terbaik di dunia. Dengan potensi yang dimiliki desa tersebut, perguruan tinggi wajib untuk melakukan studi mendalam dari berbagai macam disiplin ilmu untuk mendapatkan pengetahuan baru tentang sustainability of life.

“Mahasiswa jurusan pertanian atau peternakan bisa belajar langsung di sana dan yang mengajar adalah para petani dan peternak dari desa tersebut”

Potensi lain misalnya yang ada di desa Gandri Kecamatan Penengahan yang memiliki potensi pada sektor peternakan dan pertanian. Dengan adanya kebijakan kampus merdeka dari Kemendikbud, mahasiswa jurusan pertanian atau peternakan bisa belajar langsung di sana dan yang mengajar adalah para petani dan peternak dari desa tersebut. Masih banyak lagi potensi lainnya yang bisa kita temui dengan mudah pada desa di Indonesia.

“Perguruan tinggi bisa belajar ke desa, dan sebaliknya warga desa juga bisa belajar ke perguruan tinggi”

Konsep kampus merdeka untuk desa, wajib memposisikan perguruan tinggi dan desa dalam posisi yang sejajar. Perguruan tinggi bisa belajar ke desa, dan sebaliknya warga desa juga bisa belajar ke perguruan tinggi. Dengan adanya positioning yang sejajar tersebut maka alur informasi pengetahuan akan terbuka. Perguruan tinggi dan Desa menjadi mitra belajar yang aktif, dengan begitu Indonesia akan menjadi negara mandiri, maju, bermartabat dan merdeka 100%. Wallahua’alam