Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 37

Jangan Mudah Tertipu Aksesoris Keagamaan

0

Kita tidak boleh serta merta menganggap orang yang memakai sorban, jubah, tasbih, dan aksesoris keagamaan lainnya sebagai ulama. Perlu diadakan uji kelayakan dan kualifikasi keilmuan dalam dirinya.

Kampusdesa.or.id–Beberapa tahun yang lalu waktu penulis menimba ilmu di pesantren al-Utsmani, ada seorang yang mengaku keturunan KH. Kholil Bangkalan Madura datang dan berkunjung ke rumah nenek (Mbah) di Desa Jambeanom.

Mendengar pengakuan tersebut, sontak saja keluarga besar semua merasa tersanjung dan terhormat kedatangan seorang keturan kekasih Allah yang sangat populer di keluarga kami. Keluarga kami memang sangat ta’dzim (hormat) terhadap semua keturunan orang ‘aliim, karena kakek saya salah seorang yang menjadi santri pertama KH. Utsman Beddian. Tak ayal jika mereka sangat hormat dengan kedatangannya.

Sehari-harinya, ia hanya pegang tasbih di tangannya sambil mulutnya komat-kamit basah dengan untaian dzikir sehingga keluarga kami sangat percaya sekali dan tidak pernah terlintas kecurigaan sama sekali dalam benaknya. Selama lima belas hari lama, semua kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh keluarga kami mulai dari kebutuhan makan sehari-hari, kopi, rokok, dan kebutuhan sekunder lainya.

Namun, semakin hari ia menunjukkan gelagat yang mencurigakan, ia kadang minta yang aneh-aneh dan tidak pernah shalat subuh. Akhirnya, penulis sebagai cucu yang sedikit diberi ilmu oleh Allah mulai mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dengan beberapa opsi.

Kekewatiran penulis selama ini terbukti, nenek menghampiri penulis sembari berkata:

“Cong, mon can beknah beremmah, sapenah se e kandheng rowah e yenchemah lora se dheri Madhureh?/ Nak, menurutmu bagaimana, sapi yang dikandang itu mau dipinjam oleh lora yang dari Madura?” Tanyanya dengan penuh keyakinan. “Empon, mon lora ongghuen tak kerah entar ka sapeh-sapeh/ Jangan, kalau memang dia betul-betul lora, tidak mungkin akan membicarakan mengenai sapi.” Jawabku spontan.

Dengan kejadian itu, penulis mengorek biografi dan biodatanya secara mendalam, ternyata ia kebingungan untuk menjawabnya. Dengan halus dan dengan suara lembut penulis meminta saat itu juga, untuk berkemas dan angkat kaki dari rumah nenek.

Seminggu kemudian dari kejadian itu, ada kabar bahwa orang itu sudah ditangkap polisi karena berhasil mengelabui orang lain dengan tindak penipuan uang.

Dengan kejadian tersebut, penulis ingat nasehat Imam Syafi’i dalam kitab Diwan al–Syafi’ie karya Dr. Yusuf Syaikh Muhammad al-Baqi, hlm 138:

“Wa da’i alladziina idzaa atauka tanassakuu, wa Idza kholau fahum dziaabu khiraafi.”

Janganlah Anda pedulikan (mudah terpedaya dan tertipu) orang-orang yang datang bergaya sebagai ahli ibadah (memakai aksesoris keagamaan). Dan apabila mereka pulang, anggaplah sebagai orang yang sakit ingatan.

Artinya: “Janganlah Anda pedulikan (mudah terpedaya dan tertipu) orang-orang yang datang bergaya sebagai ahli ibadah (memakai aksesoris keagamaan). Dan apabila mereka pulang, anggaplah sebagai orang yang sakit ingatan.”

Karena sejatinya ulama itu sebagai mana yang difirmankan oleh Allah dalam al-Quran al-karim:

“Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah SWT dari hamba-Nya adalah yang disebut sebagai ULAMA.” (QS. Fathir: 28)

Oleh sebab itu, kita tidak boleh serta merta menganggap orang yang memakai sorban, jubah, tasbih, dan aksesoris keagamaan lainnya sebagai ulama. Perlu diadakan uji kelayakan dan kualifikasi keilmuan dalam dirinya.

Resiko Kebocoran Data Pembelajar Daring

0

Diharapkan para pembelajar daring bisa belajar dari kasus penyalahgunaan data yang sudah ada.  Dengan demikian, proses pembelajaran bisa berlangsung tanpa rasa kuatir akan keamanan, terlebih keamanan data yang sekarang menjadi sasaran utama komunitas teknologi.

Kampusdesa.or.id–Virus Corona muncul dan seketika menghentak segala lini kehidupan manusia. Betapa tidak, bukan hanya kesehatan manusia yang terdampak; sosial ekonomi, pendidikan dan segala sangkut paut perihal hajat hidup manusia seluruh dunia tak luput dari serangannya. Kehidupan dunia terhenti sementara, kalau tak mau dikatakan lumpuh.

Saking dahsyatnya, manusia mencoba berusaha menjauhi virus tersebut. Salah satunya lewat penerapan interaksi manusia satu dengan lainnya. Istilah yang dipakai adalah physical distancing (pembatasan interaksi fisik).

Terjadinya physical distancing membuat banyak pekerjaan mesti dilakukan dari rumah (work from home). Banyak kantor sepi dari lalu lalang pegawai dan atasannya. Restoran, warung makan hingga kedai kopi banyak menerapkan model take away dan tidak menerima layanan makan di tempat. Untuk sektor pendidikan, penerapan pembelajaran daring (online) menjadi pilihan utama, selain mengosongkan segala kegiatan akademik dan non akademik kampus, kecuali ada keperluan yang sangat mendesak.

Pembelajaran daring sudah dilakukan kurang lebih satu minggu ini. Selama kurun waktu tersebut, banyak pilihan platform yang digunakan sebagai sarana pembelajaran daring. Sebut saja Whatsapp, Google Hangout, Google Classroom, Skype, hingga Zoom.

Terkait nama yang terakhir, ternyata ada kabar kurang sedap. Zoom, yang belakangan sering dipakai untuk pembelajaran online, disinyalir membocorkan data pengguna secara diam-diam dan tanpa sepengatahuan pengguna ke Facebook.

Hal ini tentu melanggar privasi pengguna. Apalagi banyak laporan menyebutkan Zoom juga berbagi data pengguna dengan pihak ketiga yang tidak disebutkan. Dengan demikian, keamanan data pengguna menjadi taruhannya.

Seperti banyak pemberitaan di media online atau offline, banyak penyalahgunaan data kerap terjadi. Penyalahgunaan itu sering dipakai untuk tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Misalnya untuk pengajuan pinjaman online. Peminjam menggunakan data orang lain sehingga kewajiban pinjaman tersebut dibebankan kepada data pengguna yang dipakai oleh peminjam.

Data adalah harta. Begitu peribahasa terkini, akibat pesatnya perkembangan teknologi. Data dalam bentuk apapun bernilai sangat tinggi dihadapan komunitas teknologi. Lalu, apa yang harus dilakukan untuk minimal, mengurangi kemungkinan kebocoran hingga penyalahgunaan data?

Data adalah harta. Begitu peribahasa terkini, akibat pesatnya perkembangan teknologi. Data dalam bentuk apapun bernilai sangat tinggi dihadapan komunitas teknologi. Lalu, apa yang harus dilakukan untuk minimal, mengurangi kemungkinan kebocoran hingga penyalahgunaan data?

Beberapa langkah yang bisa diambil, diantaranya pastikan mengunduh aplikasi dari tempat yang resmi, seperti Play Store untuk pengguna Android dan App Store untuk pengguna iOS. Kemudian, perhatikan akses aplikasi yang kita unduh, ia meminta akses yang masuk akal atau tidak. Misalnya, apakah aplikasi seperti kalkulator memerlukan akses terhadap kontak telepon kita. Selanjutnya, pantau pembaruan aplikasi dan segera lakukan pembaruan aplikasi saat sudah tersedia.

Kedepannya, diharapkan para pembelajar daring bisa belajar dari kasus penyalahgunaan data yang sudah ada.  Dengan demikian, proses pembelajaran bisa berlangsung tanpa rasa kuatir akan keamanan, terlebih keamanan data yang sekarang menjadi sasaran utama komunitas teknologi. Wallahu a’lam.

Tak Ada Rumus Tunggal dalam Mendidik Anak

0

Semua anak dilahirkan dengan keunikan masing-masing. Justru disitulah peran pendidikan dari orang tua amat menentukan. Punya anak 5 orang berarti punya 5 kepribadian. Dan 5 cara mengasuh dan mendidik. Tak ada rumus tunggal mendidik anak.

Kampusdesa.or.id–Mata ibu itu berkaca-kaca saat menceritakan anak lanangnya memberi uang dari gaji pertamanya saat mulai kerja setahun lalu. Kebiasaan anak lanang menyisihkan sebagian gajinya tiap bulan untuk diberikan kepada ibunya itu, katanya, terus berlangsung sampai sekarang. “Selain uang, dia kerap membelikan makanan atau cemilan kesukaan adiknya sepulang kerja. Tak lupa menawari ayahnya; sudah makan apa belum”, tambahnya. Sikapnya itu berbeda dengan penampilannya yang terkesan cuek, pendiam, dan tak banyak omong.

Berbeda dengan adik perempuannya yang terkesan supel, rame, bicaranya banyak, pandai berkawan. Anak lanang ini tak memiliki sifat ekspresif. Bila orang tuanya membelikan oleh-oleh dari luar kota atau luar negeri, atau membelikan pakaian sekalipun kesukaannya, wajahnya datar-datar saja. Tak tampak senang, juga tak menolak. “Beda dengan anak perempuan, kalau dibawakan oleh-oleh, apalagi pakaian atau suvenir, langsung nyamber; membuka sendiri koper atau tas, isinya diaduk-aduk dan disisihkan mana yang untuk dirinya, langsung dicoba, dan ekspresinya meledak-ledak, tampak senang sekali. Tak lupa mengucapkan terima kasih dan kecupan kepada ortu yang membelikan oleh-oleh”, cerita ibu itu panjang lebar.

Membaca watak anak milenial memang kerap mengejutkan dan berhubungan dengan mereka amat mengasyikkan. Selama #stayathome dan #WFH, banyak sisi positif yang bisa diperoleh dari kontak dan komunikasi langsung dengan anak-anak. Satu hal yang pasti: tiap anak itu unik. Keluar dari rahim yang sama tapi watak, sikap, prilaku, dan kepribadiannya bisa amat berbeda. Ada yang satu rajin belajar, kutu buku. Anak lain sukanya bermain dan bergaul sama temannya. Yang satu pendiem, eh kakak atau adiknya rameeee. Kalo punya anak yang jujur dan baiiik plus shalih/ah, ucapkan syukur 100x. Tapi jangan abaikan anak yang suka berkata kasar dan pemarah, apalagi dikucilkan. Jangan.

Mereka semua berproses untuk ‘menjadi’ (becoming). Menjadi dirinya sendiri butuh waktu dan proses.

Mereka semua berproses untuk ‘menjadi’ (becoming). Menjadi dirinya sendiri butuh waktu dan proses. Tak selamanya anak menjadi bawel dan rewel seterusnya. Seperti halnya anak yang suka bohong, bukan berarti ia tak bisa diubah menjadi baik. Saat kecil bisa jadi tak tampak kelebihannya, jangan kaget setelah sekolah atau kuliah ia memperoleh ranking yang tinggi. Tak usah risau dengan nilai anak jelek, karena ia pasti memiliki kelebihan di bidang lain. Misal nilai IPA-nya jeblok, tapi ia pandai bersosialisasi. Olahraga tak minat, tapi fisikanya jago. Matematika emoh namun diajak berbahasa Inggris mahir banget. Jangan kuatir anaknya tak masuk 10 besar di sekolah/madrasah. Bisa jadi nanti ia sukses saat kuliah atau mendapat pekerjaan yang tepat dengan bakat alamiahnya. Tapi sebaliknya, jangan dulu girang anaknya pandai saat fase sekolah, karena bisa jadi ia gagal dalam kuliahnya kelak.

Santuy aja. Sekali lagi, semua anak dilahirkan dengan keunikan masing-masing. Justru disitulah peran pendidikan dari orang tua amat menentukan. Punya anak 5 orang berarti 5 kepribadian. Dan 5 cara mengasuh dan mendidik. Tak ada rumus tunggal mendidik anak.

Lihatlah misalnya anak yang tiba-tiba datang ke kamar orang tuanya, lantas ngithik-ngithik kaki (menggelitik, Jawa) atau memukul pantat, lalu keluar lagi. Mungkin dia ingin mengungkapkan perhatian dan kangennya pada mama atau ayahnya. Ia gunakan bahasa tubuh, bukan ucapan sebagai ekspresi perhatiannya. Atau anak cewek tiba-tiba bikin kue atau es buah, sekelebat kemudian menyuapin mamanya, bermanja, datang ke kamar meluk cium mamanya. Barangkali dalam pikirannya dia ingin menyenangkan ortunya. Atau mungkin juga sedang ada maunya.

Sejumput “kebaikan ekspresif” itu layak dapat penghargaan. Apalagi, mungkin selama ia mondok atau sekolah dan kuliah dulu tak bisa mengekspresikan cinta itu pada ortunya. Nah, kini mumpung berkumpul dalam jangka waktu lama #stayathome, benih-benih kebaikan itu terekspresikan secara vulgar.

Dibalik cueknya anak, pasti ada nilai positifnya. Mungkin suatu saat Anda melihat anak nyolot, dan pasti Anda tersinggung, bukan? Tapi apakah Anda pernah menyelami kenapa dia membantah perintah Anda? Dibalik ekspresi mereka, ada sesuatu yang ingin disampaikan. Apa yang ditampakkan keluar tak selalu sama dengan isi hatinya.

Anak itu spesies manusia yang memiliki kompleksitasnya tersendiri. Memahami manusia sama halnya memahami ciptaan Tuhan yang maha dahsyat ini.

Anak itu prinsipnya nurut dan hormat pada ortunya. Mau kok diperbaiki dan diarahkan, dinasehati dan diberikan contoh. Ini lagi-lagi seni mendidik.

Anak itu prinsipnya nurut dan hormat pada ortunya. Mau kok diperbaiki dan diarahkan, dinasehati dan diberikan contoh. Ini lagi-lagi seni mendidik. Selama masa #karantinarumah, ortu dapat melibatkan anak remajanya dalam aktivitas harian bernuansa keagamaan. Apa saja misalnya?

Buat semacam “Pesantren Keluarga”. Membiasakan berjamaah shalat 5 waktu adalah cara paling mudah untuk mengumpulkan anggota kelarga dalam suasana kebatinan yang kondusif; antara keprihatinan dan kekuatiran akan terdampak Corona. Harap-harap cemas. Khauf dan raja’. Sekalian saja manfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu untuk memasukkan nilai-nilai agama yang sejatinya mereka sudah alami dan amalkan sebelumnya. Apa itu? Dzikir ba’da shalat diperpanjang, divariasi dengan shalawat yang disenandungkan (banyak sekali jenis shalawat yang dikenalkan para ulama), ratiban (yang terkenal misalnya ratib al-haddad), istighosah, yasinan, tilawah al-Qur’an, shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah, tambah doa, qunut nazilah, dan sebagainya.

Mumpung bulan Sya’ban, anak diajak puasa sunnah. Shalat-shalat sunnah seperti qiyamul lail dan dhuha diintensifkan. Sedekah diperbanyak dan dirutinkan kepada siapa saja yang membutuhkan. Alhamdulillah, anak milenial mau dan bersedia bergabung bersama ortunya. Suasana yang mencekam di luar rumah, di tengah beredarnya aneka informasi yang laiknya air bah tentang Corona, ritual keagamaan semacam ini akan sedikit mengobati kegelisahan batin anggota keluarga. Menguatkan dan membuatnya tenang adalah tindakan pencegahan dari kemungkinan terkena wabah ini.

Jangan bawa keriuhan soal #Covid-19 di luar sana ke dalam rumah. Ini koentji-nya. Saring informasi dengan konten positif saja yang dibaca. Tinggalkan konten negatif, mengada-ada, atau menakut-nakuti. Masih banyak kanal informasi resmi (pemerintah, swasta) yang layak dijadikan rujukan ketimbang postingan-postingan nggak jelas jluntrungannya. Ini sebuah pilihan cerdas. Kalau tidak, maka hanya akan menambah jumlah orang yang ketakutan dengan virus mematikan ini. Solusi keagamaan, meski sifatnya batin dan spiritual, penting diajarkan ke remaja dan anggota keluarga lainnya. Tanpa meninggalkan usaha lahir seperti jaga jarak, jaga kesehatan dengan olahraga, mengkonsumsi makanan sehat, memperbanyak sirkulasi udara ke dalam rumah, hingga berjemur matahari, dan aktivitas fisik lainnya.

Memahami milenial adalah memahami masa depan mereka. Benarlah kata Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang semangatnya kira-kira begini: “Didik (persiapkan) lah anak-anakmu (sebaik-baiknya). Karena mereka akan mengalami masa yang boleh jadi berbeda dengan zamanmu saat ini”. Jika tak tepat mendidik mereka, jangan salahkan bunda mengandung, eh.. jangan salahkan kalau mereka mengisi zamannya dengan perspektifnya sendiri. Wallahul hadi ila sabilil haq.

Mengalahkan Setan dengan Iman

0

Jika manusia yang hatinya dirasuki rasa gila harta dengan berbagai cara untuk mendapatkan kekayaannya termasuk berkolaborasi dengan kekuatan bangsa Jin dan Setan maka, sebagai implikasi dan tumbal ritualnya salah satunya dengan mengambil keberkahan rizkinya, kendatipun penghasilan besar tapi tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Kampusdesa.or.id–Kemarin waktu tengah malam ada ketua RT dan ketua RW yaitu Bapak Tumo, M.Pd mengetuk rumah, setelah dibuka beliau menyampaikan maksud kedatangan dengan agak tergesa-tergesa:

“Assalamualaikum ust, maaf tengah malam mengganggu istirahatnya!” kilahnya. “Ya, ada apa?” tanya penulis penasaran. “Ada warga kesurupan kena guna-guna pengasihan jaran goyang, minta tolong ust, untuk meruqyahnya.” pintanya penuh harap.

Ternyata betul, sesampainya di rumah itu ramai dengan kerumunan orang karena yang bersangkutan ngamuk dan berteriak histeris. Setelah diruqyah ia pinsan dan alhamdulillah sembuh dari pengaruh kekuatan ghaibnya.

Kemarin lusa Dr. ust. Khoirul Ulum, M.H.I memesan buku saya yang terbaru tanpa sengaja penulis melihat dan membaca tafsir al-Manar karya seorang ulama kontemporer Syaikh Muhammad Rasyid Ridho dan Syaikh Muhammad Abduh, yang mengatakan:

“Kaunu al-syayaathini wa saairi al-jinni al-‘aaqilati takhaafu min al-basyari alladziina kholaqahumullahu arqoo minhum….”

Artinya, ada setan dan jin-jin yang cerdas akan takut (gentar) terhadap manusia yang diciptakan oleh Allah yang senantiasa berdoa minta perlindungan-Nya dari tipu daya mereka.”

“Yang ditakuti oleh bangsa Setan dan Jin itu bukan bacaan yang ia lantunkan, namun kedalaman penghayatannya sehingga mampu mengeluarkan cahaya iman dalam dirinya”

Tafsir ini dengan jelas mengatakan, yang ditakuti oleh bangsa Setan dan Jin itu bukan bacaan yang ia lantunkan, namun kedalaman penghayatannya sehingga mampu mengeluarkan cahaya iman dalam dirinya.

Ada cerita unik, dimana ada seorang ustadz meruqyah salah satu santri kesurupan di pesantren Bondowoso justru bukan sembuh malah jinnya lebih hafal Al-Qur’an dibandingkan ustadz tersebut bahkan ia dikata-katain dengan bahasa kasar oleh jinnya.

Syahdan, di lain kesempatan paman yang terkena guna-guna itu, kembali silaturrahmi ke rumah namun topiknya berbeda dari sebelumnya. Ia sharing tentang kondisi ekonominya yang carut marut dan berantakan, padahal ia bukan pengangguran tapi seorang tukang bangunan yang gajinya lumayan besar, ia mengeluh:

“Ust, saya ini kesulitan ekonomi, padahal pekerjaan saya cukup mapan dalam memcukupi kebutuhan sehari-hari.” ucapnya sambil meratapi keadaannya. “Maaf, kalau boleh tahu apa pean selama ini pernah pergi ke dukun?” tanya saya agak bersifat introgatif. “Nah, itu dia ust….saya ini banyak sekali ilmu kekebalan dan jimat anti bacok, karena memang saya pernah menjadi ketua preman di Jakarta, bahkan saya sering membunuh orang.” Ceritanya panjang sekali.

“Nah itu mungkin akar masalahnya, sehingga keuangannya tidak barokah.” Jawab penulis sambil memberikan arahan dan wejangan hidup kepadanya. Penulis ingat dalam tafsir Manar disebutkan,

“Wa laa hujjata fi syaiin minhaa Li haaulaai al-Dajjalin alladzinaa ya’kuluuna amwaala juhlati al-‘awaami bi al-basthili.”

Artinya, tidak ada hal yang perlu diperdebatkan mengenai mereka para Dajjal yang memakan (barokah) harta orang umum (biasa) yang bodoh dengan cara yang salah.

Jika manusia yang hatinya dirasuki rasa gila harta dengan berbagai cara untuk mendapatkan kekayaannya termasuk berkolaborasi dengan kekuatan bangsa Jin dan Setan maka, sebagai implikasi dan tumbal ritualnya salah satunya dengan mengambil keberkahan rizkinya, kendatipun penghasilan besar tapi tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Oleh sebab itu, sedikit tapi berkah itu lebih baik daripada banyak tapi mencelakakan.

“Better a bird in hand than ten in the air”

Artinya, sedikit yang kita peroleh lebih baik daripada banyak namun sia-sia (tidak bermanfaat). Hal ini juga dipertegas oleh pepatah Arab:

“Qalilun qarra Khairun min katsirin faraa”

Artinya, sedikit (dengan cara baik) lebih baik daripada banyak namun sia-sia (tidak bermanfaat).”

Kita Stay di Rumah Dulu, Pilkada 2020 Ditunda karena Pandemi Covid-19

0

Demokrasi masih bisa disisakan disaat pandemi. Meski pelaksanaan pemilu kepala daerah serentak ditunda, tak berarti kita kehilangan otentisitas demokrasi, apalagi di masa seluruh komunikasi hampir bisa disalurkan melalui media daring. Mari berdemokrasi dengan hati. Istirahat atau menahan tidak memilih calon wakil pemimpin saat pandemi, mungkin bisa menjadi permenungan otentik, siapa yang memang pantas menjadi pemimpin yang nantinya memang layak dipilih. Pandemi menjadi momen pertapaan politik untuk menguji rasionalitas pemilih.


Kampusdesa.or.id–Akibat situasi di mana ada kemungkinan bahaya dan bencana yang mengancam, yang kita butuhkan hanyalah bertahan hidup dulu. Pencegahan penularan virus Covid-19 hanya bisa dilakukan dengan cara tidak berinteraksi dengan banyak orang. Tinggal di rumah adalah pilihan terbaik, hingga dipastikan suasana benar-benar mendukung. Di rumah bukan berarti diam saja, tapi masih bisa mengerjakan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat.

Jika selama ini kita terbiasa makan di warung-warung karena di rumah malas masak, sebaiknya kita upayakan dulu kita menyediakan makanan kita di rumah. Masak adalah pilihan terbaik. Jika terus-terusan beli tentunya persediaan uang akan cepat habis. Apalagi dalam situasi seperti ini pekerjaan sepi dan pendapatan tersendat, sehingga kita harus irit.

Jika engkau terbiasa keluar bertemu pacar di sebuah kafe atau janjian di suatu tempat lainnya, tahan dulu rasa rindu untuk bertemu. Berkomunikasi lewat kirim pesan dan telefon masih bisa dilakukan. Tenang, pacarmu tak akan dibawa lari orang lain. Lagian mau lari ke mana, mau keluar saja tidak dianjurkan. Tempat wisata juga sepi. Tempat belanja juga sepi.

Kita bertahan dulu untuk tinggal di rumah, tidak usah banyak keluar. Anjuran ini bukan untuk aku dan engkau atau kita saja, tapi juga untuk mereka. Untuk semuanya. Karena semua orang tak boleh banyak bertemu, apalagi membikin pertemuan yang melibatkan banyak orang.

Hindari kumpulan dan pembicaraan yang tak perlu, yang tak berkaitan dengan anjuran-anjuran yang bisa menyelamatkan kita dan diskusi soal bagaimana agar ancaman bahaya ini segera sirna. Terimalah keadaan bahwa kita tidak bisa bebas ke mana-mana.

Bahkan kita tak perlu lagi mendekatkan diri dengan Tuhan secara beramai-ramai. Kalau perlu sembunyi-sembunyi. Bahkan ada juga yang beranggapan itu tak perlu. “Itu bagian dari ritus agama dan agama terbukti gak bisa berkutik untuk menghadapi situasi semacam ini!” Rayu tetangga sebelah yang menyatakan bahwa agama tidak lagi diperlukan.

Dan rayuan itu disampaikan bukan untuk memaksa. Ia adalah suara lain yang beruapa menyimpulkan manfaat ritus-ritus lama yang dianggapnya tak bisa mengatasi situasi darurat. Dan kau bisa mengabaikannya, dan menganggapnya itu adalah anjuran yang aneh. Tentu yang perlu kita patuhi anjurannya adalah, misalnya, polisi yang berteriak-teriak pakai megaphone di jalan-jalan saat mengusir kerumunan orang-orang yang menganggap remeh bahaya yang bisa datang karena adanya kerumunan semacam itu.

Virus Covid-19 itu memang tidak bisa dilihat. Kita tidak tahu apakah orang yang datang atau lewat di “Zona Merah” itu benar-benar terjangkit atau tidak. Kita juga tidak tahu apakah orang-orang yang masih suka berkeliaran di pinggir-pinggir jalan dan tempat-tempat umum itu terjangkiti virus itu atau tidak. Tidak ada alat yang mengujinya, tidak ada fasilitas check kesehatan yang juga bisa mereka akses. Tapi peringatan, bahwa setidaknya kita jangan keluar rumah dulu kecuali menggunakan standar keamanan tertentu, harus kita patuhi.

Di pinggir-pinggir jalan memang sudah terpasang baliho-baliho. Kita sudah tahu itu sebelum isu tentang wabah penyakit menular ini datang begitu hebohnya. Dan bahkan hingga baliho-baliho itu masih tertancap di sisi perempatan jalan dan di bergai tempat—saat ini kita masih bisa melihatnya ketika tengah mencuri waktu untuk keluar rumah karena terpaksa, tentu dengan alat perlindungan diri yang lengkap.

Kita tahu orang yang wajah dan tubuhnya terpampang itu berharap akan bisa menjadi calon yang berkontestasi dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)—dan tentunya berharap akan memenangkan pemilihan. Meskipun mereka belum diusung oleh partai politik, setidaknya mereka berniat memperkenalkan diri. Tepatnya memperlihatkan wajah, juga nama yang bisa kita baca.

Bahkan sejak diumumkan oleh penyelenggara Pilkada bahwa pemilihan itu ditunda yang kemungkinan belum terlaksana tahun ini, baliho-baliho itu juga masih tertancap. Bahkan kita lihat foto-foto sebagian dari orang yang gambarnya terpasang itu di media sosial sedang membagikan masker gratis pada masyarakat. Bahkan di laman-laman, kegiatan mereka juga diberitakan. Bukan hanya berbagi masker, tapi juga melakukan penyemprotan disinfektan. Hal yang juga dilakukan oleh dinas-dinas dan ormas, atau para pemuda kampung sekalipun.

Orang-orang yang pasang gambar itu memang tahu bahwa Pilkada ditunda. Tapi tidak dibatalkan. Kita semua juga berharap, wabah ini berakhir dan Pilkada lalu diselenggarakan lagi. Entah tahun depan, atau tahun depannya lagi. Tapi harapannya, dan dugaannya, baru tahun depan kemungkinan Pilkada bisa dilaksanakan. Orang-orang yang berharap jadi calon itu juga menduga demikian, sehingga masa sekarang adalah masa yang dekat dengan tahun depan dan tidak memberikan sebagian kecil hartanya untuk membelikan masker dan disinfektan sama saja dengan kehilangan momentum menarik simpati rakyat. Tapi harapan kita, mereka semua tulus. Berbuat karena memang demi kemanusiaan di masa darurat.

Pilkada memang harus ditunda karena ia adalah pesta yang tak harus terjadi di tengah situasi di tengah ancaman. Pesta pernikahan saja ditunda, apalagi pesta demokrasi.
Pilkada memang harus ditunda karena ia adalah pesta yang tak harus terjadi di tengah situasi di tengah ancaman. Pesta pernikahan saja ditunda, apalagi pesta demokrasi. Bayangkan dalam pesta ini nanti pasti seperti ini: Interaksi antara penyelenggara dengan calon dan timnya, sebelumnya juga dengan para pengusung calon. Untuk menyampaikan tata aturan pencalonan, lalu tata aturan kampanye, juga tata aturan bagi calon dan para pendukungnya.

Ada juga interaksi antara penyelenggara dengan masyarakat dalam rangka memberikan informasi dan sosialisasi, yang biasanya juga dikemas dalam acara pengumpulan massa mulai dari yang jumlahnya kecil hingga besar, mulai dari puluhan, ratusan, hingga ribuan. Penyelenggara juga harus berpindah-pindah tempat untuk berkeliling mengabarkan tentang adanya Pilkada dan peraturannya, serta ajakan-ajakan bagimana caranya menjadi masyarakat yang cerdas dalam menyikapi momentum Pemilihan.

Penyelenggara juga akan membentuk relawan demokrasi yang akan berkeliling ke berbagai tempat mendekat pada massa rakyat. Coba, bagaimana jika orang yang ditugasi berkeliling ini membawa virus dan menyebar ke orang-orang yang diajaknya berkumpul. Atau bahkan bagaimana kalau justru relawan ini yang tertular dan mati karena virus.

Juga akan konyol sekali jika waktu nyoblos belum tiba, tapi orang-orang sudah pada mati karena kena virus. Partisipasi pemilih hadir di TPS—yang sudah terdaftar di daftar pemilih—bukan berkurang bukan karena banyak yang golput, tapi karena banyak yang mati karena makhluk bersel satu yang mematikan.

Dan kita juga tahu bahwa pendataan pemilih itu juga dilakukan oleh petugas yang akan masuk dari rumah ke rumah. Mereka melakukan wawancara pada penghuni rumah. Mereka tak boleh mendata dan membarukan data pemilih hanya dengan “menyorot” dari belakang meja atau dari kejauhan. Karena peraturan tegas mengatakan bahwa kegiatan pemutakhiran data pemilih dilakukan dengan metode coklit (pencocokan dan penelitian) dengan bertemu langsung dengan penghuni rumah. Sebab mereka harus mencocokkan data dalam elemen-elemen kependudukan (nama, NIK, jenis kelamin, status, dan lain-lain).

Ada juga interaksi antara calon dan timnya dengan masyarakat, terutama para calon pemilih. Pada masa kampanye akan ada pertemuan tatap muka dan mungkin akan ada pengerahan massa juga. Hal ini pasti akan tidak mungkin dilakukan jika wabah virus ini masih hinggap di tubuh manusia dan interaksi antara manusia yang terjangkit virus dengan orang lainnya akan mengakibatkan penularan yang luar biasa.

Interaksi di internal penyelenggara yang jumlahnya juga tak main-main—dan konon anggaran Pilkada juga tesrerap paling banyak untuk honor panitia ini, saking banyaknya. Mulai KPU daerah yang jumlahnya puluhan, hingga panitia tingkat kecamatan (PPK) yang jumlahnya puluhan hingga seratus lebih, panitia tingkat desa (Panitia Pemungutan Suara/PPS) yang jumlahnya ratusan, dan panitia tingkat TPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara/KPPS) yang jumlahnya ribuan. Tentunya akan terjadi kontak sosial yang tidak memungkinkan terjadi di era wabah Covid-19.

Penyelenggara (KPU dan Bawaslu beserta jajarannya ke bawah, calon dan pendukungnya, dan masyarakat (calon pemilih)), serta para stakeholder yang terlbat, adalah komponen-komponen dan pelaku dari pesta demokrasi yang akan melahirkan komunikasi dan interaksi. Belum lagi dalam penggunaan dan distribusi logistik, ratusan ribu bahkan jutaan kertas untuk surat-suara dan formulir-formulir. Bagaimana jika logistik dan perlengkapan pemilihan itu terkena virus, pada hal kertas-kertas itu nanti yang juga akan dipegang oleh masyarakat pemilih dan panitia.

Akan lebih baik jika semua orang memfokuskan penggunaan energi dari tiap individu maupun kelompok sosial maupun organisasi-organisasi formal dan informal dalam rangka menghadapi wabah Corona ini—daripada disibukkan dengan Pilkada.
Dengan demikian, peniadaan pesta demokrasi di era wabah Covid-19 merupakan pilihan terbaik untuk mencegah virus itu menyebar. Juga akan lebih baik jika semua orang memfokuskan penggunaan energi dari tiap individu maupun kelompok sosial maupun organisasi-organisasi formal dan informal dalam rangka menghadapi wabah Corona ini—daripada disibukkan dengan Pilkada.

Penyelenggaraan Pemilihan kepala daerah sebagai sarana kedaulatan rakyat memang merupakan kesempatan untuk memberikan hak rakyat dalam memilih pemimpinnya. Kebebebasan menentukan masa depan melalui kebebasan memilih dapat ditunda dulu. Sarana melakukan pemilihan secara demokratis menentukan pimpinan daerah juga ditunda dulu. Sarana menyampaikan visi-misi, program, dan citra diri juga tidak difasilitasi, meskipun tiap warga yang ingin maju dan menjadi calon tetap bisa melakukan penyampaian citra diri melalui media sosial sambil menunggu jadwal Pilkada dan masa kampanye ditetapkan lagi.

Pilkada ditunda, tapi demokrasi tidak. Demokrasi dalam bentuk menyampaikan pendapat masih bisa diakomodasi. Demokrasi adalah nilai-nilai yang harus ada dalam kehidupan sehari-hari.
Memang bagi masyarakat atau warga sipil, tiadanya Pilkada 2020 ini berarti bahwa hak memilih masih belum diberikan. Tapi suara tak bisa dibungkam. Kita belum dikasih “choice”, tapi kita masih tetap punya “voice”. Pilkada ditunda, tapi demokrasi tidak. Demokrasi dalam bentuk menyampaikan pendapat masih bisa diakomodasi. Demokrasi adalah nilai-nilai yang harus ada dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai sarana bersuara, media sosial telah menjadi ajang komunikasi yang bisa mempertemukan setiap orang secara online. Hanya saja, tampaknya topik pembicaraan yang ada saat ini (yang dominan) adalah soal bencana berupa wabah penyakit saja. Nyatanya seperti tak ada tema lain selain fenomena Covid-19 di semua media dan media sosial. Dan itu tidak mengapa karena nyatanya memang inilah yang harus dihadapi dan harus diselesaikan. Dibutuhkan suara-suara untuk membuat situasi kondusif agar masyarakat dan tiap orang punya sumbangan positif bagi upaya untuk mengakhiri persebaran virus ini—bahkan mengusir virus ini dari tubuh manusia yang ada di muka bumi.***

Apa Kabar “Belajar dari Rumah” Setelah Tiga Pekan Berlangsung?

0

Tak terasa, sudah lebih dari tiga pekan sejak instruksi Belajar dari Rumah diterbitkan. Sebagai solusi sementara akibat siatuasi darurat, belum banyak yang bisa diharapkan dari skema pembelajaran daring ini. Berbagai keluhan masih kerap muncul di sana-sini. Mulai dari hal-hal yang bersifat teknis seperti kecepatan akses internet dan krisis kuota, hingga yang substansial seperti minimnya kreativitas guru dalam meracik metode pembelajaran dan kejenuhan peserta didik. Belum bisakah kita beradaptasi dengan situasi dan kondisi sekarang ini? Kampusdesa.or.id-Prediksi saya, ketika permulaan guru dan siswa harus melaksanakan amanah Belajar dari/di Rumah dengan berbagai persiapan yang mungkin juga kacau karena tiba-tiba, atau baru kenal belajar dan mengajar daring, atau belum terbiasa belajar dan mengajar dalam metode daring dapat kita maklumi. Dalam benak saya, kalau terbiasa nanti pastilah terasah dengan baik. Mengajar akan lebih bermakna (sesuai amanah SE MENDIKBUD No 4 tahun 2020) karena tiap hari menjumpai kawan guru atau request siswa yang menyajikan metode belajar mengajar yang beragam dalam jaringan internet.

Lalu apakah demikian kenyataannya setelah program Belajar dari/di Rumah ini setelah berlangsung kurang lebih tiga pekan ini? Agaknya meleset. Maklum program Belajar dari/di Rumah ini adalah solusi di tengah permasalahan yang kompleks. Bukan program yang terencana dengan pertimbangan dan persiapan matang dari segi konten materi, maupun sarana prasarana yang cukup apalagi melimpah.

Dari segi mental guru dan siswa, kebutuhan pulsa internet sudah menjadi kebutuhan primer untuk mengajar dan belajar. Tingkat kebutuhan ini mau tidak mau mengusik konsentrasi belajar dan mengajar. Mengapa demikian? Di tengah kondisi serba dibatasi agar tidak beraktivitas di luar rumah, ada sebagian guru dan orang tua murid yang terdampak dari segi pendapatan atau income keluarga. Bayangkan, kebutuhan bertambah, tapi income tetap atau bahkan berkurang. “Guru akan mengajar ala kadarnya, siswapun menerima pelajaran dan merespon pelajaran semampunya, baik kemampuan pikiran maupun kemampuan pulsa androidnya” Apa yang terjadi? Guru akan mengajar ala kadarnya, siswapun menerima pelajaran dan merespon pelajaran semampunya, baik kemampuan pikiran maupun kemampuan pulsa androidnya. Ada saja ditemukan siswa yang setor tugas telat karena paketan data sudah menipis, android yang dipakai juga berstatus android milik bersama (dipakai orang tua dan anak atau dipakai antar saudara). “Belajar yang monotan, terpisah dari teman sekelas, tugas sekolah daringpun bejibun tiap hari, uang saku juga kena lockdown orang tuanya” Meleset pula, lantaran Belajar dari Rumah ini akhirnya memunculkan kebosanan bagi para siswa. Belajar yang monotan, terpisah dari teman sekelas, tugas sekolah daringpun bejibun tiap hari, uang saku juga kena lockdown orang tuanya. Kalau kelas tatap muka langsung masih bisa guyon dengan temannya, kini untuk guyon saja butuh modal pulsa.

Belum lagi jaringan internet yang tidak selancar sebelum ada social distancing dan/atau karantina wilayah. Belajar dari Rumah dan Bekerja dari Rumah semua melibatkan jaringan internet. Jadi, serasa ada saja tantangan untuk melaksanakan program Belajar dari Rumah dengan bahagia.

Catatan ini tidak bermaksud memberikan advokasi dan keberpihakan pada sikap yang enggan berubah dengan perubahan jaman yang serba digital. Sesungguhnya, tetap ada saja cela agar kita tidak terjebak dalam situasi ini. Pemakaian internet hendaklah lebih bijaksana, selain bijaksana untuk kebutuhan kita, juga memperhatikan kebutuhan jaringan internet untuk kebutuhan semua orang. Kabarnya karena semua menggunakan jaringan internet, ada negara yang merasakan dampaknya berupa peningkatan pemakaian bandwidth. Hal ini dibutuhkan prilaku digital kita seyogyanya dapat mengurangi beban jaringan agar tidak terjadi mati network atau bandwidth jebol. Berikut ini saya cuplikan tips dari tutor Paket C PKBM BESTARI (Ria Oktriana N., MBA) yang bisa dipakai bagi guru dan siswa:

  1. Kurangi forward video, kecuali hanya link Youtube.
  2. Kurangi download video atau kirim video message. Daripada kirim video message, kita umumnya lebih sering forward video.
  3. Kurangi download video-video WA yang isinya kurang penting disimak, atau hanya lucu-lucuan saja. Selain memenuhi storage handphone kita, hal ini juga memakan kuota dan terutama membebani network. Meskipun misalnya kita anggap murah pulsa, rasanya boros tetap kurang bijak.
  4. Layanan streaming kita pakai karena mereka punya metode bagus memperkecil pemakaian bandwidth. Meski begitu tetap streaming jadi bijaksanalah.

Ya, pada banyak hal dalam situasi sedang prihatin sedunia karena pandemi Covid-19 ini kita tetap harus survive untuk terus beraktivitas cerdas, berkualitas, dan bermanfaat. Tidak menjadikan situasi seperti ini sebagai alasan tidak produktif bahkan mati gaya.

Anggrek di Pojok dan Paskah yang Sunyi

0

Kampusdesa.or.id–Setelah mencari tempat, maka ketemulah di sebuah pojok. Di tempat itulah, beberapa bulan lalu, saya menempatkan anggrek dendrobium. Tempat di sudut di atas pagar itu, sepertinya cocok. Terlindung dari sinar matahari langsung, namun masih terbuka ruang mendapatkan sinar mentari.

Anggrek itu, pemberian seorang teman. Saat rumahnya direnovasi, semen cor-coran jatuh dalam pot menimpa pakis media tanamnya. Maka, merana-layulah dia. Setelah dirawat, berbulan-tahun, berbungalah dia. Ungu bergaris putih. Indah.

Pagi yang cerah, ketika pandemi wabah, serta kena jadwal ngantor di rumah, keindahan di pojok rumah dekat pagar itu ditemukan. Iya, sebatang menjulang mekar kembangnya. Begitu cerah.

Belum tuntas menikmati anggrek di pojok rumah, terbetik kabar. Seorang teman yang tinggal di Jember. Rumahnya berada persis di dalam lingkungan pasar krempyeng. Pagi buta ramai, beranjak tengah hari bubar.

Pandemi Covid-19, menghajar kehidupan pasar. Pasar lesu. Sebagian besar orang, memilih aman dengan berlindung di dalam rumah. Teman itu, tahu betul, beberapa tetangganya, bergantung hidup pada keramaian pasar. Selain berjualan, beberapa bergantung sebagai buruh pasar. Menyediakan bawah putih-bawah merah kupas, kelapa kupas, atau menjadi buruh gendong. Bertarung demi hidup, sebagai buruh harian.

Di saat pasar lengang, teman itu tahu, ada beberapa tetangganya, mengalami kesulitan. Termasuk mendapatkan sesuap nasi. Bersama dengan ibunya, ia memasak nasi dengan lauk seadanya. Membungkus dan membagikannya.

“Tidak banyak, hanya untuk 55 KK. Karena hanya itu yang kami mampu,” pesannya singkat. Iya, tidak banyak dari segi jumlah. Namun cukup berarti tentu saja.

Teman itu, saban harinya, membantu orangtuanya membuat dan menjual kue pastel. Usaha kelas rumahan. Kue pastelnya enak. Setiap hari juga dijual di pasar krempyeng, depan rumahnya. Dalam senyap, ia gegas berbagi hidup.

Selalu saja, ada pribadi yang memilih bekerja dalam senyap. Gelap malam, tidak pernah kehilangan kerlip bintang.

Pada siang yang telah menyembunyikan matahari di balik awan mendung, seorang sahabat berkisah. Setengah berbisik.

“Juragan, kemarin ke rumah. Tetiba dia minta dibuatkan abah sebuah salib. Dari kayu jati tua,” kisahnya.

Juraganya seorang Katolik taat. Beberapa waktu, jauh sebelum pandemi Korona, dia sempat ikut wisata rohani. “Entah bagaimana ceritanya, rombongannya terpilih untuk masuk di sebuah ruang sakral,” lanjut teman sambil menyeruput segelas kopi hangatnya, di bawah rindang pohon ceres yang sedang meranggas daunnya.

Anehnya, terusnya melanjutkan, suatu hari ia didatangi serombongan dari pondok pesantren. Seseorang pemimpin rombongan, adalah orang yang dihormati. Lewat penerjemahnya, karena ( nuwun sewu ) sang Kyai adalah seorang tunawicara. Namun ketika mengaji ayat suci Alquran, begitu fasih-merdunya beliau.

Juragan teman saya kaget, sang Kyai tahu bahwa dia baru pulang dari ziarah. Bahkan, beliau pun tahu, bahwa dia sempat memasuki sebuah tempat yang tidak sembarang orang, punya kesempatan itu. Bahkan, waktu dan tempatnya, disebutkan secara presisi.

Belum surut herannya, sejurus kemudian, telunjuk Kyai itu menuding arah pada salib yang menempel di dinding.

Sebuah benda yang menjadi simbol keteladanan akan kehidupan di balik pengorbanan yang tuntas-agung. Puncak spiritualitas keimanan umat kristiani.

“Salib di dinding itu, kalau bisa diganti. Namun ada syaratnya. Pertama, salib harus dari kayu jati yang tua. Kedua, salib itu harus dibuat oleh tangan orang yang telah katam Alquran.”

“Salib di dinding itu, kalau bisa diganti. Namun ada syaratnya. Pertama, salib harus dari kayu jati yang tua. Kedua, salib itu harus dibuat oleh tangan orang yang telah katam Alquran. Nah, kalau sudah jadi, saya yang akan memasangya,” lewat santri penerjemahnya, dawuh Kyai yang juga sempat menjadi penasehat seorang Kyai besar, pemimpin negeri ini.

Dengan takzim, juragan teman saya, mendengarnya. Sempat termangu sejenak. Perhatiannya, tertuju pada kata katam. Baginya, tentulah, pribadi yang dimaksud, bukan sekadar mampu membaca semua teks ayat suci Alquran. Namun pribadi yang merindu berupaya menjadi rahmat bagi semesta raya.

Tidak butuh waktu lama, dia teringat sahabatnya sejak muda. Sahabatnya itu, pensiunan dari kantor KUA. Keilmuan agamanya, tak diragukan. Mumpuni. Tak heran, ia sering diundang memberikan tausiyah. Tidak neka neka saat aktif berdinas dulu. Ketika pensiun, memilih hidup bersahaja menjadi Kyai kampung. Menerima ikhlas hidup dengan gaji pensiunan. Kadang membuat meubeler, sekadar mengisi waktu menyukakan hati.

Kepadanyalah juragan teman saya datang. Setelah mendengar tuturan sahabatnya, tidak berpikir panjang Kyai kampung itu. Sambil tersenyum ramah, ia terima permintaan sahabatnya itu. Mereka adalah karib semenjak mudakala.

Pak Kyai kampung itu, cukup tahu pasang-surut sahabatnya. Dia anak keluarga kaya. Setelah menikah, hidup mandiri. Pernah jatuh miskin. “Istrinya membuat jajanan. Dia yang keliling menjualnya. Dia seperti merintis hidup dari nol. Ketika usaha sound system-nya berkembang, dia turut menyumbang bahan material untuk pembangunan masjid di kampung.” Begitu kisah pak Kyai kampung pada teman saya, menantunya itu.

Pak Kyai kampung telah merampungkan pesanan karibnya. Diletakkannya salib dari kayu jati tua itu, di meja.

Ketika tengah hari, bergeser menuju sore, berkumandang adzan azhar. Pak Kyai kampung telah merampungkan pesanan karibnya. Diletakkannya salib dari kayu jati tua itu, di meja. Di saat yang sama, isteri teman saya, usai ambil wudlu. Betapa terkejutnya dia.

Nampak seseorang, sedang memandang salib kayu jati itu. Tak lama. Sekedipan mata, lenyaplah dia. Setarikan nafas, dia menenangkan diri, kemudian melanjutkan diri sholat.

Pandemi wabah Covid-19, telah membuat murung. Was was serba kuatir. Dalam senyap, tak kekurangan pribadi luhur yang berkeringat demi kemanusiaan. Anggrek (dendrobium) ungu bergaris putih, di pojok tetap mekar-indah. Segar membasah tertimpa gerimis sore.

Selamat menyongsong Paskah,
dalam sunyi yang riang.

Merumahkan Sekolah atau Sekolah Telah Mati

0

Pandemi adalah peluang berefleksi tentang sekolah. Perbedaan budaya rumah dan sekolah semestinya menjadikan sekolah mawas diri. Apalagi situasi mental kita dibayang-bayangi efek Covid-19. Ketika sekolah tetap ngotot mengendalikan budaya belajar ala sekolah, apa tidak berarti sekolah telah mengimperialisasi budaya rumah kedalam logos sekolah?

Kampusdesa.or.id–Saya pikir, work from home, dipahami berbeda dengan sekolah. Jika saya menyebut sekolah adalah belajar ilmu pengetahuan basisnya teks, maka semestinya sekolah sudah mati.

Bagaimana tidak, wong pekerjaan latihan tes dikerjakan secara online antar siswa, sehingga mereka bisa leluasa bekerja sama menjawab soal-soal dengan teman-temannya secara online juga. So, hasil latihan tes bersifat diskusi (nyontek berjamaah). Bukan asli kemampuan otonom siswa. Guru sebaiknya menilai latihan tes hanya stimulus diskusi, bukan tes asli kemampuam siswa secara otonom.

Jika sekolah tetap bersikukuh, ya kita sebagai pendidik perlu inatrospeksi. Sekolah sebenarnya telah mati dengan work from home. Tapi apakah sekolah tetap bersikukuh mempertahankan hegemoninya? Cara belajar anak sudah canggih, maka sudah tidak laku lagi jika sekolah tetap ngotot tidak berubah.

Ya, Sekolah Telah Mati

Anak-anak saya yang akhirnya jadi subyek observasi saya, merangsan kegundahan saya tentang sekolah. Dia ternyata mulai bermain dunia memasak. Syukurlah, ibunya juga menunjukkan aktifitas talenta memasak, meski lulusan Pendidikan Guru. Ibunya pensiun tidak mengajar di sekolah. Tapi justru saat ini dia menjadi guru di rumah. Bahkan tidak lagi guru konvensional. Dia telah menjadi fasilitator cooking, sekali lagi bukan guru.

Dalgona mixes Boba adalah belajar yang memberi dia ketrampilan hidup melampaui stres latihan soal dan mengisi ruang kosong masa pandemi menjadi kesempatan baru belajar memasak.

Ibunya hanya menjadi teman dalam sebuah inisiatif kuat anak-anak. Mereka mencari sumber belajar dengan daring. Tak ada penilaian, kecuali apresiasi dan perayaan kegembiraan karena berhasil menemukan racikan

Jelas tidak ada kurikulum, bahkan guru pun tiada. Ibunya hanya menjadi teman dalam sebuah inisiatif kuat anak-anak. Mereka mencari sumber belajar dengan daring. Tak ada penilaian, kecuali apresiasi dan perayaan kegembiraan karena berhasil menemukan racikan Dalgona dan Boba yang lagi hits. Saya bilang, “yes, karya otentikmu mampu menyaingi kafe, baik rasa dan performen Dalgona mixed Bobamu.” Justru masukan saya menjadi inspirasi tambahan menu kafe lo. Heee.

So, seandanya ini menjadi paket sekolah, alangkah ajaibnya bahwa di rumah dengan belajar memasak yang sesuai dengan minat besar anak, telah melahirkam karya sophisticated. Lebih fungsional kan. Jika eksplorasi ini menjadi latihan memperkaya ilmu pengetahuan, maka anak-anak diinstruksikan dari jauh oleh guru untuk membikin cerita secara bebas sebagai tugas. Jadi bukan dites dengan soal-soal. Lah wong mengerjakannya dengan kolaborasi. Jelas saling bertukar wawasan dan membangun sintesis, lalu menuangkan dalam karya.

Anak-anak akan mengalami momentum besar dalam sejarah hidupnya kini. Sejarah tentang sekolah di rumah. Work from home menjadi revolusi emas anak-anak.

Saya membayangkan jika hal ini menjadi laporan sekolah, maka anak-anak akan mengalami momentum besar dalam sejarah hidupnya kini. Sejarah tentang sekolah di rumah. Work from home menjadi revolusi emas anak-anak.

Saya akhirnya berpendapat, ok, sekolah harus dirumahkan (merumahkan sekolah). Kita bisa memberi kesempatan anak dan keluarga membikin kesepakatan belajar. Kurikulumnya melekat di keluarga, bukan dihujamkan dari sekolah yang menjadikan anak tetap buta dan bisu dengan budaya rumah.

Budaya rumah tidaklah sama dengan budaya sekolah. Dan saya berpikir, sekolah tidak lagi peka dengan budaya asli di rumah. Jika sekolah tak bergeming, maka kesempatan pandemi ini tak menjadi inspirasi apapun, kecuali sekolah egois memaksakan kepalsuannya dalam kebutuhan hidup otentik anak-anak. Dan anak lebih stres. Dunia asik dirumah yang tetap direnggut oelh sekolah.

Mari, pendapat Anda lebih baik dikirim ke kampusdesa saja daripada tercecer dalam komentar.