Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 38

Belajar Bisnis Digital di Tengah Wabah Virus Corona

0

Kampusdesa.or.od–Lamongan (11/04), akhir tahun 2019 adalah awal di mana dunia dilanda krisis. Setelah muncul sebuah virus yang sangat mematikan yakni Coronavirus Disease (COVID-19) yang sudah menelan banyak korban. Hal ini mendorong World Health Organization (WHO) sebagai badan kesehatan tertinggi di dunia menetapkan wabah ini sebagai pandemi yang berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup di seluruh dunia.

Adanya wabah ini telah menurunkan pertumbuhan ekonomi dunia, baik bagi negara maupun pelaku usaha swasta, sehingga menyebabkan keresahan yang tidak berujung. Berawal dari keresahan wabah pandemi ini, kami Diaspora Muda Lamongan hadir sebagai pemuda-pemudi yang ingin ikut andil dan berkontribusi untuk membantu percepatan perekonomian yang telah terpuruk.

Melalui kegiatan Seminar Online (Webinar) Vol. 08 yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 11 April 2020 dengan tema “Strategi Tantangan dan Peluang Usaha ditengah Wabah Corona Berbasis Digital Bussiness“menjadi salah satunya. Belajar bisnis digital di tengah wabah virus corona ini rupanya banyak sekali peminatnya, sekitar seratusan lebih peserta yang ikut. Apalagi materi dibawakan oleh seorang narasumber yang sangat berkompeten di bidangnya, siapa lagi kalau bukan Agung Firdamansyah, S.Kom. Beliau adalah founder dan CEO YES Institute Indonesia. Sebuah lembaga mentoringr wirausaha muda dan pelatihan proposal business plan maupun karya ilmiah.

Dengan berbagai pengalaman yang ia miliki serta menyandang segudang prestasi di bidang kewirausahaan dan bisnis digital skala nasional, pemateri memulai memantik diskusi dengan diawali penyampaian latar belakang berupa dampak virus corona saat ini sudah mempengaruhi ke segala aspek kehidupan kita. Aktivitas yang biasanya sering dilakukan di luar sekarang dibatasi hanya di rumah saja (work from home). Sekolah diliburkan cukup lama dan mempengaruhi proses pendidikan yang sedang berjalan. Banyak toko dan warung yang dipaksa tutup demi menghindari orang berkumpul. Tempat yang masih buka pun cenderung sepi karena orang jarang keluar rumah sehingga membuat pendapatan menurun. Hal demikian perlu dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona agar bisa segera berhenti.

Oleh karenanya, Mas Agung yang juga peraih gelar Juara 1 Pemuda Pelopor di Kabupaten Lamongan ini mengingatkan bahwa sebagai generasi muda kita dituntut untuk aktif dan kreatif dalam mencari solusi dari permasalahan yang ada. Di era zaman digital sekarang ini sangat memungkinkan untuk melakukan apa saja dari rumah termasuk mencari peluang usaha. Tinggal bagaimana kita mengambil sikap, apakah mau atau tidak melakukan hal tersebut, atau malah hanya memilih berdiam diri di rumah saja. Mager dan berteman dengan kemalasan. Tidak mau mengambil peluang usaha karena takut akan kegagalan.

Di sini pemateri juga menyampaikan tingkatan mengenai peluang bisnis yang bisa kita lakukan di rumah berdasarkan tingkat kesulitan yang ada, di antaranya beginner, professional, dan expert. Sebagai penutup Mas Agung menyampaikan tips dan trik sukses bisnis #dirumahaja yang meliputi fokus, berani memulai, buat rencana kerja, mengatur dan menjaga jam kerja, disiplin dan komitmen, upgrade kemampuan diri, jangan takut mencoba serta jangan takut

gagal. Karena sejatinya dalam sebuah bisnis apapun itu kalau gagal harus dievaluasi, lalu coba lagi. Jika kok gagal lagi, evaluasi kembali, atur stategi dan coba kembali. Prinsipnya berani mencoba, tetap semangat, dan sukses dapat diraih karena selalu belajar dari kegagalan.“Kapan untuk berhenti? Jika kita tahu produk tersebut sudah tidak potensial lagi dan sulit dijual dengan catatan sudah melakukan berbagai upaya sebaik mungkin. Tapi selanjutnya yaa cari ide lagi yang lebih potensial dan kalian senang untuk menjalaninya. Selama tidak menyerah, berarti belum kalah,” pungkasnya.

Tidak kalah seru saat memasuki sesi diskusi atau tanya jawab. Kegiatan yang dipandu oleh Fahmi Mubarok Asmorokondi salah satu pengurus Divisi Kewirausahaan Diaspora Muda Lamongan ini pesertanya cukup antusias. Banyak peserta webinar yang mengajukan pertanyaan namun karena dibatasi oleh waktu, maka disaring oleh moderator hanya dipilih tiga pertanyaan tercepat setiap termin.

Di sesi ini, ada yang bertanya tentang peluang bisnis dropship, jasa delivery, dan berbagi pengalaman menangani customer. Pemateri menyampakain bahwa dalam dunia bisnis, terutama yang berbasis online –yang mana pangsa pasarnya sangat luas alias tidak terbatas, itu lebih baik jika bisnis yang dijalankan harus sesuai dengan hati nurani (passion). Sehingga ketika bisnis tersebut memang yang diminati, maka akan cenderung lebih percaya diri dan maju saja.

Selain itu keunikan dan keunggulan lain dari kompetitor sangat perlu diperhatikan, misalnya harga bersaing, layanan lebih cepat, ada garansi, atau lain sebagainya. Dalam menjalankan sebuah bisnis harus terus melakukan inovasi dan menawarkan hal baru, namun harus tetap bertahap. Contohnya seperti Gojek, dulu perusahaan ini juga tidak mengeluarkan semua layanannya secara barengan. Tapi dilakukan secara bertahap setelah layanan yang utama stabil di pasar (market place). Begitu pula bisnis yang lainnya.

Pesan terakhir dari pemateri menanggapi pertanyaan dari peserta webinar ini yaitu dalam memilih menjalani usaha bukan hanya membayangkan keuntungan yang banyak, akan tetapi juga harus sadar akan ada risiko yang mesti diterima. Lakukan riset terlebih dahulu, bandingankan harga ke beberapa pelaku bisnis serupa, terus dihitung nanti kira-kira untungnya berapa.

“Kalau di YES Institute kita ajarin buat bikin business plan dulu, bikin rencana produknya, konsepnya, kemudian presentasi lomba itu juga termasuk riset pasar kira-kira diterima atau nggak produk kita,” tambah pendiri YES Institute ini.

Kami berharap kegiatan seminar daring di grup Whatsapp yang sangat menarik ini dapat menambah wawasan dan semangat berwirausaha sejak muda. Setidaknya ada upaya memulai bisnis untuk memupuk kemandirian, meningkatkan rasa optimisme, tidak takut gagal, dan menjadi pemuda yang mau belajar bagaimana cara mengambil peluang bisnis digital. Akhir kata, semoga wabah virus corona lekas usai dan kita bisa beraktifitas seperti sedia kala. Aamiin (Fahmi/Hsn)

*Berita ini dimuat juga di fanspage Diaspora Muda Lamongan.

Kualitas, Keterpercayaan, dan Kekuasaan

0

Semakin besar kepercayaan para pengikut atau bawahan maka akan meningkatkan kekuasaan pemimpin dalam organisasi. Gambaran terhadap organisasi ini juga memiliki banyak kesamaan dengan kehidupan secara individual. Oleh karenanya jika seseorang ingin menjadi pemimpin dengan reputasi yang baik maka mulailah dari mempertinggi selera terhadap kualitas.

Kampusdesa.or.id–Sesungguhnya tidak ada satu organisasi pun di dunia ini yang tidak mengarah kepada pencapaian kualitas, atau dengan kata lain semua organisasi selalu berupaya untuk lebih berkualitas dalam kehidupannya pada masa yang akan datang. Demikian pula kehidupan manusia baik secara individu maupun dalam keluarga selalu berupaya agar kehidupannya menjadi lebih baik di kemudian hari. Organisasi selalu menginginkan bahwa akan ada kehidupan yang lebih baik nantinya, organisasi dalam bidang laba akan mentargetkan laba yang lebih besar pada tahun-tahun yang akan datang, sehingga dapat memberikan kesejahteraan yang lebih baik pada karyawannya, dan juga dapat memperbarui dan meningkatkan sumber daya yang ada di organisasi tersebut.

Organisasi-organisasi nir laba berupaya meningkatkan kepercayaan publik untuk menjadi donasi, sehingga lebih banyak orang yang dapat disejahterahkan dan lebih banyak masalah hal yang bisa diselesaikan organisasi. Orang-orang dalam keluarga juga berupaya untuk meningkatkan taraf kehidupannya, mulai dari taraf ekonomi sampai dengan taraf sosial, sehingga kemudian mampu hidup secara mandiri, baik, dan memiliki reputasi di masyarakat. Sebagai individu, seseorang juga berupaya untuk selalu berkembang lebih baik, sehingga kemudian mampu mengikuti perkembangan zaman, karir yang lebih baik, penghasilan yang lebih baik, dan hidup yang lebih berbahagia. Demikianlah semua individu, dan organisasi selalu menginginkan kehidupan yang berkualitas.

Jika menilik dari paparan di atas, kualitas lebih dimaknai sebagai perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Organisasi disebut berkualitas jika organisasi tersebut mampu merubah dirinya menjadi lebih baik dari kondisi pada awalnya, demikian juga pada individu. Namun demikian, untuk berubah menjadi lebih baik tersebut, kemudian diperlukan mampu memenuhi kualitas dalam bentuk-bentuk yang lebih spesifik. Untuk dapat menuju kearah perubahan yang direncanakan maka organisasi perlu menentukan visi dan mampu mengarahkan semua orang menuju visi tersebut.

Untuk dapat berubah menjadi organisasi yang lebih baik, maka organisasi harus mampu memuaskan pelanggan, mampu membuat-produk-produk atau layanan yang memiliki nilai, sehingga apa yang diberikan oleh organisasi dapat bermanfaat bagi pelanggan, dan pelanggan juga akan selalu mencari produk dan layanan dari organisasi tersebut. Disisi lain, untuk mampu menumbuhkan kepuasan pelanggan, maka organisasi harus mampu meberikan layanan atau menghasilkan produk yang terstandar sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan, dengan produk yang terstandar tersebut diharapkan pelanggan memiliki kepastian terhadap produk dan layanan yang didapatnya dengan kompensasi yang telah dikeluarkannya. Bahkan jika perlu pelanggan mendapatkan “kejutan” yang lebih baik dari yang diharapkan oleh pelanggan.

Itulah sebabnya pembahasan tentang kualitas selalu seiring dengan manajemen perubahan, karena kualitas tidak pernah dapat dicapai kalau perubahan tidak dilakukan. Pengembangan tidak akan terjadi jika organisasi selalu berperilaku sama dari tahun ke tahun. Sedangkan perubahan ke arah yang lebih baik hingga terwujudnya kualitas hanya dapat direalisasikan jika pemimpin mampu mendorong kearah perubahan tersebut.

Itulah sebabnya pembahasan tentang kualitas selalu seiring dengan manajemen perubahan, karena kualitas tidak pernah dapat dicapai kalau perubahan tidak dilakukan. Pengembangan tidak akan terjadi jika organisasi selalu berperilaku sama dari tahun ke tahun. Sedangkan perubahan ke arah yang lebih baik hingga terwujudnya kualitas hanya dapat direalisasikan jika pemimpin mampu mendorong kearah perubahan tersebut.

Tetapi melaksanakan perubahan bukanlah pekerjaan mudah bagi semua orang yang ada di organisasi, khususnya pemimpin. Perubahan memiliki resiko yang tidak kecil, baik itu berkaitan dengan resiko ekonomi, sosial, bahkan juga psikologis. Dari sisi psikologis perubahan selalu mengandung unsur paksaan kepada setiap orang yang ada di dalam organisasi. Tentu saja karena mengandung unsur paksaan maka tentu akan ada resistensi atau daya tolak terhadap paksaan tersebut. Jika unsur paksaan untuk berubah lebih kecil dari unsur resistensi maka perubahan dapat mengalami kegagalan, dan hal tersebut tentu akan berdampak pada kepemimpinan.

Demikian pula dari sisi sosial, perubahan dapat berdampak pada gerakan-gerakan masal untuk mendorong terjadinya perubahan di satu sisi, dan gerakan melawan perubahan di sisi yang lain. Perubahan juga akan mempengaruhi iklim organisasi yang juga akan berpengaruh kepada semua pola hubungan antar manusia yang ada di dalam organisasi. Secara ekonomi perubahan juga memerlukan biaya yang seringkali tidak kecil, dan seringkali organisasi tidak memiliki anggaran sebesar yang diperlukan untuk melakukan perubahan tersebut, sehingga memaksa pemimpin untuk berjuang keras memiliki anggaran yang diperlukan untuk proses perubahan tersebut.

Resiko psikologis dapat diatasi jika pemimpin mampu menunjukkan harapan yang lebih baik dengan perubahan yang dilakukannya, itulah sebabnya diperlukan pemimpin yang memiliki kemampuan dalam membuat seseorang mampu melihat harapan dari perubahan yang dilakukannya. Seringkali para pemimpin perubahan membuat perubahan-perubahan kecil yang mengarah kepada perubahan besar untuk dapat menanggulangi permasalahan psikologis dari orang-orang yang ada di organisasi. Kesungguhan dan kepercayaan diri pemimpin juga akan mempengaruhi keyakinan seluruh komponen organisasi bahwa perubahan yang dilakukan akan menuju kearah yang lebih baik.

Apa yang dilakukan pemimpin tersebut pada dasarnya adalah membuat sebanyak mungkin orang memahami perubahan yang diinisiasi oleh pemimpin, sehingga pemimpin mampu mempersuasi sebanyak mungkin orang. Mungkin saja tidak semua orang dapat dipersuasi, tetapi jumlah orang yang mampu dipersuasi oleh pemimpin akan menjadi modal pemimpin untuk melakukan pemaksaan terhadap berbagai komponen yang sulit untuk memahami perubahan.

Apa yang dilakukan pemimpin tersebut pada dasarnya adalah membuat sebanyak mungkin orang memahami perubahan yang diinisiasi oleh pemimpin, sehingga pemimpin mampu mempersuasi sebanyak mungkin orang. Mungkin saja tidak semua orang dapat dipersuasi, tetapi jumlah orang yang mampu dipersuasi oleh pemimpin akan menjadi modal pemimpin untuk melakukan pemaksaan terhadap berbagai komponen yang sulit untuk memahami perubahan.

Disisi lain jumlah orang yang mampu dipahamkan oleh pemimpin terhadap perubahan akan berdampak pada aspek sosial pemimpin. Kelompok-kelompok informal dalam organisasi akan menjadi pendukung dalam perubahan. Iklim organisasi yang sangat dipengaruhi oleh aksi-aksi politik dari kelompok-kelompok informal akan menjadi lebih kondusif. Kondisi iklim yang kondusif ini akan memudahkan pemimpin untuk melaksanakan berbagai skema perubahan yang dilakukannya. Terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik akan memicu harapan dan kepercayaan orang-orang yang ada di dalam organisasi terhadap para pemimpinnya. Perubahan ke arah yang lebih baik tersebut juga mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap organisasi, sehingga memberikan citra dan reputasi positif di masyarakat.

Peningkatan kepercayaan seluruh komponen organisasi terhadap pemimpin akan meningkatkan kekuasaan pemimpin. Kekuasaan (power) merupakan wewenang yang dimiliki oleh pemimpin untuk mengambil keputusan dan melaksanakan keputusan tersebut di organisasi. Kekuasaan juga berkaitan dengan wewenang yang dimiliki oleh pemimpin dalam penggunaan sumber daya organisasi. Secara gampang, kekuasaan dapat dilihat dari tingkat dianutnya pemimpin oleh para pengikutnya atau bawahannya di dalam organisasi dan kecepatan pengambilan keputusan oleh pemimpin. Kekuasaan menguat jika kepercayaan orang-orang yang dipimpinnya juga meningkat, kepercayaan meningkat karena pemimpin mampu membawa para pengikutnya ke arah yang lebih baik. Kemampuan pemimpin membawa kearah yang lebih baik akan terjadi, jika pemimpin mampu mengatasi berbagai kendala ketika melakukan perubahan. Adanya perubahan karena pemimpin berfikir tentang pentingnya kualitas.

Itulah sebabnya para pemimpin yang memiliki selera terhadap kualitas dan memiliki keberanian yang cukup untuk mencapai kualitas tersebut, maka pemimpin tersebut akan berusaha untuk melaksanakan proses perubahan. Semakin fundamental kualitas yang diinginkan oleh pemimpin maka akan semakin fundamental perubahan yang harus dilakukan oleh pemimpin. Semakin fundamental perubahan yang dilakukan oleh pemimpin dan semakin besar hasil dari perubahan yang dilakukannya maka potensial dapat meningkatkan kepercayaan para pengikut atau bawahan. Semakin besar kepercayaan para pengikut atau bawahan maka akan meningkatkan kekuasaan pemimpin dalam organisasi. Gambaran terhadap organisasi ini juga memiliki banyak kesamaan dengan kehidupan secara individual. Oleh karenanya jika seseorang ingin menjadi pemimpin dengan reputasi yang baik maka mulailah dari mempertinggi selera terhadap kualitas.

Artikel ini pernah dimuat di website UIN Malang dengan judul yang sama. Klik di sini.

Membangun Karakter dan Citra

0

Walaupun organisasi memiliki karakter yang bagus, jika citra tidak ada bagian yang merawat dengan baik, organisasi akan mengalami kerepotan menghadapi berbagai isu-isu dan komplain dari dalam dan luar organisasi. Itulah sebabnya membangun karakter adalah hal yang sangat penting, tetapi membangun citra juga hal yang sangat penting, karena citra yang terbangun akan dapat merawat karakter organisasi.

Kampusdesa.or.id–Karakter dan citra merupakan dua hal yang diperlukan dalam kehidupan manusia untuk dapat hidup baik dalam komunitas sosialnya. Namun demikian, organisasi juga sangat memerlukan karakter dan citra dalam menghadapai kehidupan sehari-hari organisasi tersebut, dan juga dalam mengahadapai para kompetitornya. Karakter merupakan tata nilai yang terwujud dalam perilaku individu yang dilakukan oleh seseorang baik ada orang maupun tidak ada orang. Karakter dapat pula dimiliki oleh organisasi, melalui suatu upaya pembentukan yang sistematis, sehingga kemudian nilai-nilai individu yang terimplementasi dalam perilaku tersebut memiliki kesamaan antara satu orang dengan orang lainnya dalam suatu organisasi.

Sedangkan citra merupakan pandangan orang lain atau masyarakat terhadap seseorang secara individual atau terhadap organisasi. Citra seringkali bukan merupakan kondisi sesungguhnya, namun citra mewakili pandangan seseorang atau masyarakat. Oleh karena itu citra  dapat merupakan perilaku yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi ketika didepan orang, tetapi tidak dilakukan ketika tidak ada orang.

Individu dan organisasi sangat penting untuk membangun karakter, karena dari karakter inilah individu atau organisasi memiliki kebersamaan, memiliki ciri khas, menumbuhkan kebahagiaan di tempat kerja, menumbuhkan produktifitas, dan sebagiannya akan secara otomatis menjadi citra. Namun demikian, penumbuhan dan pengembangan citra juga harus terus dilakukan karena hal tersebut penting dalam kaitan dengan kehidupan sosial individu dan kelangsungan organisasi.

Individu dan organisasi sangat penting untuk membangun karakter, karena dari karakter inilah individu atau organisasi memiliki kebersamaan, memiliki ciri khas, menumbuhkan kebahagiaan di tempat kerja, menumbuhkan produktifitas, dan sebagiannya akan secara otomatis menjadi citra. Namun demikian, penumbuhan dan pengembangan citra juga harus terus dilakukan karena hal tersebut penting dalam kaitan dengan kehidupan sosial individu dan kelangsungan organisasi.

Pengembangan karakter, baik dalam individu maupun dalam organisasi merupakan pekerjaan yang sangat penting untuk dilakukan. Karakter dibangun oleh nilai-nilai, kemudian nilai-nilai dikembangkan menjadi sesuatu yang diyakini kebenaran dan kehandalannya, dan kemudian menjadi pijakan dalam setiap perilaku individu. Karakter juga merupakan bagian utama dari soft skill, yaitu suatu jenis kecakapan penting yang harus dimiliki seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-harinya agar dapat sukses dalam menjalani keseluruhan hidupnya. Dalam banyak penelitian tentang perilaku, soft skill hampir mendominasi jenis kecakapan yang dibutuhkan seseorang untuk meraih kesuksesan.

Jika karakter tersebut dengan sengaja ditumbuhkan dalam organisasi, maka kemudian menjadi karakter organisasi, yang tentu saja diarahkan sesuai dengan visi organisasi tersebut. Karakter organisasi merupakan dasar dalam pembentukan budaya organisasi. Dengan adanya karakter organisasi, maka organisasi akan memiliki ke khasan dalam kehidupannya sehari-hari. Orang-orang di dalam organisasi menggunakan tata nilai yang hampir sama, sehingga menimbulkan perilaku organisasi yang khas, yang menjadi pembeda dengan organisasi lain. Sedangkan budaya organisasi akan mempengaruhi keseluruhan kehidupan organisasi, sehingga organisasi dapat beroperasi secara sangat baik dan mampu bertahan lama dalam keunggulan, karena nilai-nilai individu yang ada dalam organisasi, berwujud dalam  perilaku yang mengarah kepada visi organisasi. Oleh karena nilai-nilai individu menjadi bagian dari nilai-nilai organisasi, dan periaku individu-individu yang ada dalam organisasi sudah mengarah kepada visi organisasi, maka kebahagiaan kerja akan menjadi bagian dari kehidupan individu-individu dalam organisasi, tumbuhnya kebahagiaan kerja akan menumbuhkan semangat dan produktifitas kerja. Inilah yang akan membuat organisasi akan bertahan dalam keunggulan dalam waktu yang lama.

Oleh karena peran sentral budaya yang begitu kuat tersebut itu, maka pakar manajemen mengatakan bahwa dekade sekarang ini adalah decade cultural age.  Dekade ini merupakan kelanjutan dari dekade information age, dan industrial age pada dekade jauh sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa organisasi-organisasi tidak lagi mendorong produktifitas dalam mencapai visi atau keunggulan melalui cara-cara lama misalnya dengan sistem reward and punisment tetapi didorong melalui proses penyadaran dan penanaman nilai-nilai sehingga kemudian nilai-nilai individu orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut sesuai dengan nilai-nilai yang diperlukan oleh organisasi untuk mencapai visinya.

Orang-orang didorong untuk berbahagia di tempat kerja melalui penyadaran tentang manfaat dari pekerjaan yang dilakukannya, konsep ini dalam Islam seringkali disebut bahwa “bekerja adalah ibadah”. Melalui konsep ini orang-orang di dalam organisasi disadarkan bahwa bekerja tidak hanya berkaitan dengan upaya untuk mencari uang dan karir saja, tetapi lebih dari itu, bekerja adalah menjalankan perintah agama. Bekerja dengan baik adalah sunnatullah.

Budaya organisasi tersebut tidak dapat berkembang, jika karakter organisasi tidak dibangun dengan baik. Karakter organisasi paling efektif adalah ditumbuhkan melalui keteladanan para pemimpinnya. Istilah keteladanan, juga sering disebut dengan work the talk dan talk the work. Keteladanan pemimpin dijadikan rujukan bagi organisasi untuk dikembangkan menjadi perilaku standar bagi seluruh orang-orang yang ada dalam organisasi. Demikianlah seterusnya sehingga kemudian karakter tersebut tumbuh dalam organisasi.

Namun demikian, budaya organisasi tersebut tidak dapat berkembang, jika karakter organisasi tidak dibangun dengan baik. Karakter organisasi paling efektif adalah ditumbuhkan melalui keteladanan para pemimpinnya. Istilah keteladanan, juga sering disebut dengan work the talk dan talk the work. Keteladanan pemimpin dijadikan rujukan bagi organisasi untuk dikembangkan menjadi perilaku standar bagi seluruh orang-orang yang ada dalam organisasi. Demikianlah seterusnya sehingga kemudian karakter tersebut tumbuh dalam organisasi.

Kemudian, yang hampir mirip dengan karekter adalah citra. Kesamaan keduanya adalah sangat diperlukan oleh individu maupun organisasi dalam kehidupannya, khususnya dalam konteks kehidupan sosial. Namun, citra lebih dilihat dari sisi pandang orang lain. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa citra seringkali tidak menggambarkan kondisi aslinya, namun citra mewakili kita (individu atau organsisasi) di masyarakat. Citra sebagiannya dibangun oleh karakter, namun sebagian yang lain dibangun melalui proses yang disebut dengan pencitraan (image building). Keluasan citra yang tersebar di masyarakat sangat tergantung dari kekuatan karakter tersebut. Semakin kuat dan semakin istimewa karakter akan semakin mampu menimbulkan citra yang luas di masyarakat.

Namun demikian, dalam organisasi diperlukan upaya untuk mendorong agar citra baik bagi organisasi dapat menyebar sangat luas di masyarakat. Karakter baik sangat penting untuk ditumbuh kembangkan, namun citra baik juga sangat penting untuk disebarkan, sehingga perilaku organisasi yang baik, harus juga dimaknai sebagai sesuatu yang baik bagi seluruh komponen yang ada di organisasi dan juga bagi masyarakat luas.

Tidak sebagaimana karakter yang dibibitkan melalui nilai-nilai pada setiap individu dalam organisasi dengan harapan nilai-nilai tersebut kemudian menjadi milik individu, dan muncul dalam perilaku keseharian baik di dalam organisasi maupun dalam kehidupan individu sehari-hari. Citra ditumbuhkan melalui Public Relation dan Marketing Communication yang baik. Baik tersebut dalam artian memiliki organisasi dengan orang-orang yang kompeten, dan memiliki sistem kerja yang termenej dengan baik.

Pada dasarnya tugas Public Relation dan Marketing Communication adalah membuat pandangan baik dari masyarakat dalam dan luar organisasi terhadap organisasi. Tentu saja, untuk membuat pandangan baik bagi masyarakat di dalam dan luar organisasi ini tidak dapat dilakukan jika organisasi berbuat atau berperilaku jelek, utamanya tokoh-tokoh kunci dalam organisasi. Namun tidak juga selalu dilihat baik oleh masyarakat dalam dan luar organisasi apa yang telah dilakukan oleh organisasi dengan baik. Itulah sebabnya kemudian diperlukan Public Relation dan Marketing Communication yang baik.

Public Relation dan Marketing Communication walaupun ada perbedaan segmen kerja, namun pada sebagian besarnya memiliki kesamaan yang esensial, yaitu sebagai organisasi yang memiliki tugas utama membangun citra baik organisasi di masyarakat. Ke dua unit tersebut harus ahli membangun saluran-saluran komunikasi kepada masyarakat, termasuk juga menjawab komplain masyarakat, dan membangun isu-isu yang membangun citra positif organisasi. Oeh karena pada saat ini berkembang teknologi komunikasi yang sedemikan canggih ditambah dengan iklim kebebasan yang sangat terbuka, maka penguasaan terhadap media-media masa dan media-media sosial baik itu berbasis kertas maupun elektronik on line harus dapat dilakukan oleh bagian Public Relation dan Marketing Communication tersebut.

Ketidakmampuan organisasi dalam menanggapi berbagi isu dan membangun isu, baik yang berkembang di organisasi dan diluar organisasi akan sangat merugikan organisasi, apalagi jika isu-isu yang berkembang tersebut bertujuan untuk melemahkan organisasi yang seringkali dimulai dengan isu-isu yang memecah belah komponen-komponen di dalam organisasi. Teknik menyerang citra organisasi biasanya dengan menggunakan kasus-kasus dan kelemahan-kelemahan organisasi. Walaupun organisasi memiliki karakter yang bagus, jika citra tidak ada bagian yang merawat dengan baik, organisasi akan mengalami kerepotan menghadapi berbagai isu-isu dan komplain dari dalam dan luar organisasi. Itulah sebabnya membangun karakter adalah hal yang sangat penting, tetapi membangun citra juga hal yang sangat penting, karena citra yang terbangun akan dapat merawat karakter organisasi.

Artikel ini pernah dimuat di website UIN Malang dengan judul yang sama. Klik di sini.

Menulis itu Berpikir Sepanjang Hari

0

Menulis merupakan suatu pekerjaan untuk membuat runtut gagasan atau konsep yang ada pada pikiran seseorang menjadi sesuatu yang mudah dicerna dan dipahami bukan saja oleh diri sendiri, tetapi juga orang lain yang kemungkinan akan memiliki latar belakang yang berbeda dengan diri kita.

Kampusdesa.or.id–Bagi banyak orang menulis mungkin pekerjaan yang mudah untuk dilakukan, apalagi menulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Tetapi sering kali menulis bukan menjadi pekerjaan sederhana ketika hal-hal yang ditulis merupakan sesuatu yang bersifat gagasan, konsep, tulisan-tulisan yang dapat menggugah atau menggerakkan orang lain, memberi petunjuk orang lain untuk melakukan pekerjaan yang kompleks, atau bahkan tulisan-tulisan yang memberikan inspirasi kepada orang lain.

Menulis merupakan suatu pekerjaan untuk membuat runtut gagasan atau konsep yang ada pada pikiran seseorang menjadi sesuatu yang mudah dicerna dan dipahami bukan saja oleh diri sendiri, tetapi juga orang lain yang kemungkinan akan memiliki latar belakang yang berbeda dengan diri kita. Sehingga menulis tidak sekedar berkaitan membahasakan gagasan dan konsep, tetapi juga menatanya dalam bentuk urutan yang enak dibaca oleh siapapun dan pembaca merasa tertarik untuk membacanya. Ada aspek emosi dari pembaca yang akan terlibat dalam proses pembacaan tulisan tersebut.

Proses menerjemahkan gagasan dan konsep yang ada dalam pikiran seseorang kedalam tulisan merupakan suatu proses psikologis yang kompleks. Itulah sebabnya sebagian besar kecakapan menulis merupakan kecakapan yang termasuk dalam kognitif level tinggi.

Proses menerjemahkan gagasan dan konsep yang ada dalam pikiran seseorang kedalam tulisan merupakan suatu proses psikologis yang kompleks. Itulah sebabnya sebagian besar kecakapan menulis merupakan kecakapan yang termasuk dalam kognitif level tinggi. Proses dialog yang ada dalam fikiran tersebut kemudian akan melibatkan berbagai emosi antara penulis dengan apa yang ditulisnya. Sebagaimana pekerjaan-pekerjaan yang lain, penulis juga harus tetap menjaga emosinya dengan apa yang ditulisnya. Penulis harus terus menerus menjaga pikiran dan perasaan terhadap apa yang ditulisnya, sehingga penulis harus terus menerus merasa perlu untuk melihat dan “menjenguk” tulisannya untuk diteruskan atau dilanjutkan dengan gagasan dan konsep-konsep yang baru.

Putusnya ikatan emosi antara penulis dengan apa yang ditulisnya akan menyebabkan terhentinya tulisan, dan hal tersebut akan menjadi sesuatu yang berat untuk dimulai kembali. Untuk mengingat gagasan terakhir dan urutan skenario penulisan terakhir saja seringkali harus memaksa pikiran untuk memgurutkan kembali apa yang telah dipikirkan, belum lagi menumbuhkan kembali emosi yang ada dalam diri penulis dengan gagasan, konsep dan apa yang akan ditulisnya.

Itulah sebabnya orang yang menulis pada dasarnya harus bekerja sepanjang hari, bekerja yang dimaksud adalah bekerja dalam pikirannya, yaitu untuk selalu menjaga emosi keterhubungan antara dirinya dengan apa yang ditulisnya.

Itulah sebabnya orang yang menulis pada dasarnya harus bekerja sepanjang hari, bekerja yang dimaksud adalah bekerja dalam pikirannya, yaitu untuk selalu menjaga emosi keterhubungan antara dirinya dengan apa yang ditulisnya. Mahasiswa yang sedang menulis penelitian dalam bentuk skripsi, tesis, atau disertasi seringkali mengalami kendala dalam menjaga “emosi” dengan tulisannya. Mahasiswa tersebut meninggalkan tulisannya dalam waktu yang lama, sehingga untuk melanjutkan tulisannya tersebut, kemudian mengalami kendala ketidak tertarikan atau tidak lagi mampu melacak gagasan-gagasan yang telah ditulis sebelumnya. Jadi kegagalan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir rata-rata bukan disebabkan oleh ketidak mampuan mahasiswa tersebut secara kognitif, tetapi lebih disebabkan oleh ketidak mampuan penulis “menjaga hubungan” dengan tulisannya yang pada akhirnya kemudian menjadikannya kehilangan emosi dengan tulisannya.

Dalam kasus lain ketidak tuntasan dalam kegiatan menulis juga seringkali disebabkan oleh godaan untuk beralih perhatian pada hal lain, yang pada akhirnya juga bermuara pada hilangnya emosi penulis dengan apa yang dituliskannya. Menulis dan juga mengerjakan tugas akhir untuk mahasiswa ibarat orang yang mendapat tugas untuk pekerjaan panjang yang melelahkan, tetapi tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Seringkali penulis mengibaratkan mengerjakan tugas akhir adalah mendapat tugas untuk berjalan jauh.

Misalnya berjalan kaki dari Malang menuju Surabaya. Berjalan dari Malang ke Surabaya tentu tidak terlalu memerlukan pemikiran yang luar biasa sulit, tetapi memerlukan keberanian, ketekunan, ketabahan, keseriusan, dan konsistensi untuk dapat melakukannya. Kita bisa memilih untuk melakukan perjalanan tersebut lewat jalur manapun, dan bisa memilih kecepatan yang kita lakukan untuk dapat mencapai tujuan. Ditengah jalan kemungkinan besar kita akan mendapatkan godaan yang ada kemungkinannya memperlambat atau bahkan merubah arah dan tujuan kita untuk dapat sampai di Surabaya. Jika kita tidak menjaga emosi kita dengan perjalanan dan pandai-pandai menghindari godaan maka akan ada kemungkinan besar bahwa kita tidak akan mencapai tujuan. Itu artinya bahwa kemudian tugas akhir kita apakah itu skripsi, tesis atau disertasi kita tidak selesai dan kemudian mahasiswa tersebut tidak lulus kuliah, dan dianggap gagal. Kegagalan dalam studi seringkali diartikan dengan bodoh, dan itu berpangkal pada kegagalan dalam menjaga emosi dan hubungan dengan apa yang ditulisnya.

Demikian pula pada menulis gagasan-gagasan orisinal, dan refleksi-refleksi dari fenomena yang terjadi, juga memerlukan proses berfikir yang terus menerus. Gagasan jarang sekali ada jika seseorang tersebut tidak terlibat aktif dalam pemikiran tentang hal itu. Gagasan tentang perbaikan kualitas pendidikan misalnya tidak akan timbul dari orang yang sehari-hari berfikir tentang gunung merapi, juga tidak akan timbul dari orang yang tidak pernah memikirkan tentang pendidikan ataupun perguruan tinggi. Gagasan akan muncul setelah terjadinya berbagai proses pergulatan pemikiran yang matang dan panjang. Refleksi-refleksi cerdas dan kreatif juga jarang dapat dilakukan jika seseorang tersebut tidak aktif melakukan berbagai kegiatan berfikir tentang hal yang direfleksi itu.

Fenomena atau kejadian akan ada sepanjang hari, namun jika kita tidak memikirkannya maka tidak akan menjadi suatu makna apapun, juga tidak akan menimbulkan gagasan apapun, dan itu berarti juga tidak akan menjadi tulisan. Itulah sebabnya mungkin saja seseorang menulis hanya satu atau dua jam dalam sehari tetapi untuk dapat ditulis dalam waktu satu sampai dua jam tersebut, penulis tersebut telah melakukan proses berfikirnya sepanjang hari, apakah itu untuk menjaga emosinya dengan apa yang dituliskannya, atau itu untuk dapat membuat refleksi dari berbagai kejadian atau peristiwa yang terjadi sepanjang hari itu. Semoga akan selalu tumbuh penulis-penulis produktif, karena dari penulislah dunia ini menjadi penuh warna.

**Artikel ini pernah dimuat di website UIN Malang dengan judul yang sama. Klik di sini.

Dampak Corona, Driver Ojol Kecipratan Bantuan Langsung Tunai Pemerintah

0

Di sini dapat dipetik pelajaran bahwa dahulukan ikhtiar dan doa sebelum tawakal (berserah diri) kepada Allah SWT.

Kampusdesa.or.id–Sejak awal Badan Kesehatan Dunia (WHO) dari PBB juga sempat menyangsikan kejemawaan Indonesia. Di saat semua negara mempersiapkan diri mulai dari deteksi dini, manajemen kasus, hingga pencegahan. Indonesia masih tampak leha-leha dan kikuk. Dalam menghadapi isu wabah Covid-19. Kalau kita mau baca-baca lagi berita sampai akhir Februari kemarin. Berbagai media mengutip pernyataan presiden RI, bahwa fokus pemerintah terkait virus corona tampak hanya berorientasi pada dampak ekonomi saja.

Seperti berita yang dimuat oleh Tirto (11/03) bahwa Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas sehari setelah WHO, memberikan statement hanya fokus pada dampak ekonomi daripada mitigasi kesehatan. “Siapkan seluruh instrumen, baik moneter maupun fiskal untuk digunakan dalam rangka memperkuat daya tahan dan daya saing ekonomi negara kita,” demikian salah satu poin arahan Jokowi kepada para pembantunya soal virus corona ini.

Selain itu, ia juga meminta agar meningkatkan promosi untuk menyasar ceruk pasar wisman yang mencari alternatif destinasi wisata karena batal mengunjungi Cina, Korea, dan Jepang yang mana ketiga negara itu memang tercatat sebagai negara dengan wabah Covid-19 cukup akut. Negara lain juga ketar-ketir menangani virus corona dan mulai memberlakuan travel banned di sana sini, Indonesia justru melakukan sebaliknya: pemerintah menganggarkan Rp72 miliar untuk mendanai pengguna media sosial atau influencer dalam paket insentif pariwisata guna menangkal efek negatif penyebaran virus corona. Anggaran senilai Rp72 miliar ini diklaim dapat meningkatkan promosi pariwisata, sehingga lebih banyak orang mau bepergian ke destinasi di Indonesia.

Sehingga tidak heran jika sekarang saat kasus Covid-19 di Indonesia meningkat, pemerintah agak kelimpangan karena lamban dalam penanganan dan siaga sedari awal. Berbagai upaya termungkin akan dilakukan termasuk pembatasaan kontak fisik (physical distancing) jadi lebih diperketat. Semua Polri, TNI dan petugas keamanan mulai provinsi hingga desa dikerahkan. Tidak boleh keluar rumah jika tidak ada perlu atau benar-benar penting.

Kebijakan ini juga sebagian kalangan menentang. Terutama yang ekonominya menengah ke bawah dengan menjalankan kerja (berprofesi) sebagai petani, nelayan, pedagang, tukang ojek, dan pekerjaan yang harus ke lapangan atau turun ke jalan. Mereka mengatakan, “kalau tidak kerja ya tidak makan.”

Namun kebijakan ini juga sebagian kalangan menentang. Terutama yang ekonominya menengah ke bawah dengan menjalankan kerja (berprofesi) sebagai petani, nelayan, pedagang, tukang ojek, dan pekerjaan yang harus ke lapangan atau turun ke jalan. Mereka mengatakan, “kalau tidak kerja ya tidak makan”. Memang ini sedikit polemik. Jika memang pemerintah menyarankan stay home atau work from home maka bagi pekerja yang saya sebutkan tadi tidak ada penghasilan, dapat gajinya dari mana kalau tidak disubsidi dari pemerintah.

Andai kata pemerintah Indonesia mengover biaya hidup mereka yang tinggal di wilayah yang melakukan local lockdown, seperti negara-negara lain yakni Australia, Canada, Belanda, Amerika, dan lainnya. Beda halnya dengan aparatur sipil negara (ASN) setiap bulan masih mendapat gaji, tapi bagaimana dengan pekerja kalangan ke bawah.

Akhirnya diskusi panjang kami terkait hal ini terjawab saat mendengar pemerintah pusat akan menggelontorkan dana bantuan langsung tunai (BLT) ke kepada masyarakat miskin dan pekerja di sektor informal termasuk para pengemudi (driver) ojek daring yang dianggap paling terdampak wabah virus corona baru ini sebesar Rp 1 juta per orang ditambah insentif Rp 1 juta setiap empat bulan. Adapun pula soal skema penyalurannya, menurut Menkeu Sri Mulyani sebagaimana yang dikutip Indonesia Tax News Portal (25/03) antara dibuat serupa dengan Program Keluarga Harapan (PKH) atau disiapkan model yang berbeda, ini masih dalam penggodokan. Langkah dari pemerintah sudah sangat tepat, agar bantuan tidak hanya didapatkan melalui dermawan atau lembaga sosial dan pilantropi saja. Tentu pemerintah harus menjadi penjamin warganya agar tetap tercukupi dalam bentuk mensuport warga yang wilayahnya terdampak.

Karena selain ketersedian bahan pokok, kebutuhan warga lain juga perlu dicukupi berupa dana untuk pembayaran listrik, air dan rumah bagi yang menyeawa atau kontrak, dan kebutuhan primer yang lain. Dana subsidi dari pemerintah bisa diambilkan dari pemangkasan rencana belanja atau anggaran yang belum prioritas di APBD maupun APBN. Contoh yang bisa diusulkan anggaran rencana pembangunan ibu kota baru. Sehingga dapat direalokasi dan refocusing untuk menutup kebutuhan masyarakat di kawasan zona merah yang terpaksa harus diam di rumah.

Terimaksih juga kepada para pahlawan tenaga medis, kurir, babang ojek online, kurir delivery order, dan lain-lain yang juga memberikan bantuan di lapangan untuk membantu masyarakat yang tidak bisa keluar. TNI dan polisi juga bahu-membahu membantu keamanan dan mengatur proses kebijakan physical distancing warganya. Beberapa instansi diliburkan kecuali rumah sakit, pertahanan, air dan listrik. Sehingga kebutuhan sehari-hari masih bisa tercukupi dan lebih mudah. Dalam kondisi seperti sekarang ini, sesungguhnya mereka yang diamanahi berada di garda terdepan adalah pahlawan kita.

Pernah juga dikisahkan dalam sejarah Islam, saat masa kepemimpinan Sayyidina Umar bin Khattab pernah dilanda kekeringan, kelaparan, dan wabah penyakit (tha’un). Lalu apa yang dilakukan Umar sebagai pemimpin (amirul mukminin) dalam menghadapi ujian besar ini? Untuk mengatasinya, Sayyidina Umar memberikan beberapa keputusan strategis, di antaranya, mendistribusikan berbagai kebutuhan pokok ke berbagai wilayah terdampak, dan melarang keras penimbunan bahan kebutuhan. Sedangkan untuk menangani wabah penyakit yang terjadi di negeri Damaskus, Umar ra. menempuh langkah-langkah berupa memastikan supply ketersediaan kebutuhan masyarakat di masa lockdown dan isolasi. Lantas mengajak masyarakat untuk melakukan shalat dan berdoa memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga di sini dapat dipetik juga pelajaran bahwa dahulukan ikhtiar dan doa sebelum tawakal (berserah diri) kepada Allah SWT. Wallahua’lam.

Bang Ojol Menulis

0

Satu teknologi, jutaan kisah. Grab berambisi untuk dapat menghadirkan teknologi yang mempersatukan serta menghubungkan jutaan talenta dan kesempatan. Misi kami adalah untuk terus memastikan setiap orang bisa menikmati manfaat dari ekonomi digital.

Hadir di 234 kota di Indonesia, termasuk Malang, kami bersyukur dapat melaju bersama para pahlawan transportasi, termasuk Hanif Nanda Zakaria. Buku “Bang Ojol Menulis” ini menjadi saksi bahwa setiap orang dapat terus mengikuti passion mereka, namun tetap bekerja dan berkarya. Kami bahagia bisa menjadi bagian dari perjalanan Hanif dan berharap buku ini dapat menjadi sumber inspirasi para pembaca.

Grab mengajak setiap orang untuk terus melaju maju. Melaju bergerak ke depan, menuju kehidupan yang lebih baik, mengejar peluang walau aral melintang, juga membantu dan memberi dampak baik bagi sekitar.

Selamat membaca!

Salam GrabforGood!

Neneng Goenadi
Managing Director Grab Indonesia

Tertarik mendapatkan buku diatas? Kunjungi link dibawah ini:

https://www.tokopedia.com/hanzbook/bang-ojol-menulis

atau

https://shopee.co.id/product/209300361/5518421330/

IMPLIKASI COVID-19: Antara Metode Pembelajaran Online, Onlaon, dan Enlaen

0

Selama masa “belajar dari rumah” akibat pandemi Covid-19 berlangsung, kreatifitas pendidik benar-benar dibutuhkan. Pendidik harus memeras otak untuk menemukan metode pembelajaran yang pas dan tidak membebani peserta didik, tapi tetap efektif mencapai tujuan pembelajaran. Beragam metode pembelajaran kreatif pun bermunculan, ada Online, Onlaon, dan Enlaen.

kampusdesa.or.id-Implikasi Covid-19 yang menimpa China dan berimbas keseluruh dunia termasuk Indonesia merambah ke dunia pendidikan. Pasalnya dengan diberkukan karantina wilayah maka semua institusi pendidikan mulai dari pendidikan terendah hingga pendidikan tinggi diliburkan, sehingga metode pembelajaran dari off line berubah menjadi on line.

Mengutip buku Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki yang berjudul “Prinsip-prinsip Pendidikan Rasulullah” beliua mengatakan:

“Metode pembelajaran yang di lakukan Rasulullah beragam, adakalanya memakai metode bil-hikmah, jidal (debat), tanya jawab, peragaan,gradual, konkrit (offline), diskusi, dan metode-metode pembelajaran lainnya.” Hal ini sesuai dengan metode yang telah digariskan oleh al-Quran. Allah berfirman,

“Serulah manusia kepada jalan Allah dengan hikmah, (metode) pelajaran baik, dan bantahlah (dialoglah, diskusilah dan debatlah,) dengan cara baik.”(al-Nahl:125)

Ayat di atas merupakan gambaran yang lengkap tentang metode pembelajaran yang bervarian dalam mengekspresikan kebolehannya dalam menyampaikan konten pelajaran kepada siswa dan mahasiswa.

“Rasulullah dalam menyampaikan pelajaran selalu menilai lebih dulu tingkat kemampuan setiap (mahasiswa) sahabatnya”

Menghadapi mahasiswa yang beragam latar-belakang tentunya perlu diterapkan metode yang sesuai dan tepat guna. Karena Rasulullah dalam menyampaikan pelajaran selalu menilai lebih dulu tingkat kemampuan setiap (mahasiswa) sahabatnya. Qadhi Iyadh berkata, “Allah telah menyelubungi segala yang diucapkan Rasulullah dengan rasa cinta dan mudah diterima, indah, dan sedap didengar telinga.”

Kemarin ada pertemuan dosen di kampus yang agenda utamanya membahas metode pembelajaran sebagai respon dari diperpanjangnya kebijakan karantina wilayah oleh pemerintah untuk menghambat laju penyebaran Covid-19 yang akhir-akhir ini sudah mulai menurun.

Dalam diskusi tersebut ada beragam argumentasi yang disampaikan oleh para dosen diantaranya; Pertama, ada dosen yang bersikukuh untuk melakukan metode pembelajaran dengan tatap muka. Kedua, dosen yang bersikukuh melakukan metode pembelajaran dengan cara online seperti, metode zoom meeting, class room, edmodo dan lain sebagainya karena mengantisipasi penyebaran Covid-19

Ketiga, ada dosen termasuk penulis yang mempunyai statemen jalan tengah, yaitu mengakomodir semua metode pembelajaran online dan offline mengingat keterbatasan mahasiswa dalam membeli paket data dan minimnya signal mereka. Kami mengusulkan supaya diadakan forum asosiasi ketua kelas agar lebih memudahkan dalam memberikan sosialisasi tema mata kuliah dan RPS.

Alhamdulillah, semua argumentasi itu diakomodir oleh ketua sembari mengatakan, “Metode pembelajaran saya serahkan sepenuhnya kepada bapak ibu dosen sesuai keyakinan masing-masing, antum a’lamu bi umuuri dunyakum.” kilahnya sambil disambut gelak tawa para audien.

Dalam pertemuan tersebut ada tiga metode yang disepakati. Pertama, metode pembelajaran Online dimana dosen melakukan kontrak perkuliahan dengan mahasiswa via online baik melalui metode Google Class Room, Zoom Meeting, dan lain sebagainya.

Kedua, metode pembelajaran Onlaon (alon-alon asal kelakon) maksudnya dosen tidak memforsir mahasiswa dengan memberikan seabrek tugas kuliah, karena memang mereka sudah mabuk dengan banyak tugas sehingga sebagian dosen ada yang tidak memberikan tugas membuat makalah namun diberikan tugas lain.

Ketiga, metode pembelajaran Enlaen (beragam cara) maksudnya dosen memberikan tugas kepada mahasiswa dengan beragam cara, adakalanya mengadakan asosiasi ketua kelas dimana mereka diberikan kontrak perkuliahan secara komprehenshif yang nantinya bisa ketuk tular bagi mahasiswa lainnya, adakalanya dosen mengadakan kontrak perkuliahan via WA, Email, telegram, dan lain sebagainya.

Ada lagi dosen menggunakan model pembelajaran educative e-learning yang kompleks yakni learning management syistem (LSM4) yaitu: Pertama, login. Fasilitas ini digunakan untuk membatasi pengguna hanya pada sasaran yang sesuai dengan aplikasi ini.

Kedua, User Login. Fasilitas ini dapat digunakan untuk membuat profil pribadi termasuk portofolio yang digunakan untuk menunjang profesionalitasnya. Ketiga, Discussion Forum. Fasilitas ini digunakan untuk mendiskusikan berbagai hal dalam proses pembelajaran. Keempat, Email. Fasilitas ini digunakan untuk sharing data, sebagai penunjang di wall atau menu.

Kelima, Mailinglist. Fasilitas ini digunakan untuk menyampaikan pesan berantai diantara dosen dan mahasiswanya untuk berkonsultasi mengenai kontens kuliah. Keenam, Assessment online. Fasilitas ini untuk memberikan informasi terhadap penguasaan materi kuliah yang dilakukan secara serentak.

Pendidikan sejati tidak diperkenankan memberikan metode dan materi di luar kemampuan anak didik. Prinsip yang terpenting esensinya sudah tersampaikan dan bisa diserap oleh mereka.

Petani Pinggiran yang Paling Mudah Bertahan dalam Pandemi Virus Corona

0

Pandemi Virus Corona jelas menggilas perekonomian warga. Berbagai tempat kerja libur dan sejumlah aktifitas ekonomi mandek. Gerak orang dibatasi demi memutus laju Covid-19. Siapa yang paling mudah bertahan? Saat persediaan pangan semakin menipis, petani pinggiranlah yang masih bisa memetik aneka tanam yang dapat langsung dijadikan bahan makan sehari-hari sebagaimana keseharian mereka juga bertahan dengan hasil tanamnya.


Kampusdesa.or.id–Kedatangan orang-orang dari daerah perkotaan, terutama kota-kota yang dinyatakan Zona Merah dalam hal sebaran virus Corona (Covid-19), mendapatkan reaksi dari wilayah-wilayah pinggiran. Di Kabupaten Trenggalek, misalnya, tempat-tempat wisata yang selalu banyak didatangi orang-orang dari wilayah perkotaan ditutup.

Berikutnya, setelah penutupan tempat wisata adalah larangan bagi acara yang melibatkan kerumuman massa. Dan yang baru saja dilakukan oleh pemerintah daerah Trenggalek adalah memblokir jalan-jalan untuk mencegah orang-orang dari kota yang masuk. Tentu saja setelah berbagai kota melakukan instruksi untuk tidak keluar rumah bagi warganya, yang tersisa adalah orang-orang dari kota yang datang ke Trenggalek untuk pulang kampung.

Rerata mereka adalah yang bekerja di kota dan luar daerah (baik luar pulau atau luar negara) yang pulang kampung karena tempat pekerjaannya ditutup. Awalnya migrasi adalah ikhtiar ekonomi, dan pulang kampung kali ini adalah untuk kembali ketika usaha mencari penghidupan di luar kampung halaman mengalami kebuntuan akibat ekonomi lesu. Tambahan lagi, mereka juga akan ikut hidup lagi di kampung halaman.

Ketika sektor industri baik manufaktur maupun sektor informal di perkotaan lesu dan bahkan mati, maka orang-orang ini kembali ke kampung halaman yang masih punya bahan pangan untuk hidup. Tentunya mereka yang pulang kampung ini masih harus dicurigai, jangan-jangan membawa virus dari kota. Mereka otomatis bahkan ditetapkan sebagai orang dalam pengawasan (ODP).

Dengan kedatangan orang-orang dari kota dan pusat-pusat wilayah yang selama ini ramai dan sudah menjadi kota yang mati, daerah pingiran yang bercorak pertanian dan perladangan dianggap masih bisa menampung mereka yang kembali secara ekonomi. Setidaknya, di era matinya interaksi antar umat manusia, kembali ke desa setidaknya masih bisa “nunut makan” dengan orang-orang yang di rumah.

Sebenarnya sejauh mana daya tahan orang-orang pinggiran terutama yang corak produksinya berbasis tanah itu dibanding sektor-sektor masyarakat yang lain?

Mereka yang selama ini hidup dengan menyandarkan dari tanah, yang menanam dan mengambil hasil dari tanah itu, merekalah yang tetap bisa bertahan.


Ada yang beranggapan bahwa selain Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau pekerjaan yang tiap bulan dapat gaji dari negara, yang paling aman adalah Petani atau mereka yang punya tanah. Ini bisa kita lihat saat ini misalnya di masyarakat yang tinggal di dekat sawah dan gunung atau bukit. Mereka yang selama ini hidup dengan menyandarkan dari tanah, yang menanam dan mengambil hasil dari tanah itu, merekalah yang tetap bisa bertahan. Merekalah yang juga merupakan kalangan yang punya kekawatiran amat kecil terhadap isu Corona.

Tanah, apalagi di musim ini, benar-benar mampu menumbuhkan tanaman sebagai sumber makanan dengan baik. Di beberapa wilayah pinggiran Trenggalek, misalnya, jagung saat ini menghasilkan panen yang baik. Sawah sebentar lagi juga panen dan juga akan ditanami lagi, dan nantinya akan membuahkan hasil lagi. Bagi penduduk pinggir hutan dan tepi sawah, mereka juga masih punya sapi dan kambing, serta persediaan rumput yang tumbuh di atas tanah yang siap potong sebagai makanan ternak berkaki empat itu. Demikian juga ayam juga masih terpelihara dengan baik.

Bagi yang punya sawah memang lebih aman lagi. Saat persediaan gabah masih tersimpan dalam beberapa atau banyak karung yang bertumpuk di salah satu ruangan dalam rumah, selain untuk makan kelebihannya juga masih bisa dijual. Apalagi setelah panen yang akan datang ini. Bagi yang punya sawah untuk tanam padi, ladang untuk tanam jagung dan ketela, dan masih punya dua ekor sapi, beberapa ekor kambing atau belasan ayam kampung, memang masih ada yang diharapkan untuk ke depannya.

Sayur daun ketela. Sayur seperti ini tidak harus membeli. Cukup memetik dari ladang akan cukup untuk makan sehari-hari.
Desa selama ini memang menjadi basis produksi pangan, meskipun tak selalu produksi pangan sebagai bahan industri di perkotaan. Meskipun kegiatan bertani belum bisa mengangkat mereka ke arah perbaikan hidup yang lebih baik dibanding sektor lainnya, setidaknya kegiatan bertani di desa bisa menjadi cara bertahan hidup.

Selama ini penghasilan dari bertani hanya untuk makan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok belum tentu mampu. Para petani kecil ini tidak bisa memenuhi kebutuhan papan dari bertani. Buktinya, rerata orang desa bisa membangun rumah setelah mereka juga mencari uang ke kota atau ke luar daerah ketika sawah dan ladang bisa ditinggal. Untuk memenuhi kebutuhan yang membutuhkan uang yang cukup banyak, mereka tidak bisa mengandalkan hasil dari bertani.

Mereka amat mimim uang (cash money). Berbeda dengan para pegawai negeri, pedagang, buruh di pabrik, dan sektor informal lainnya (sebelum isu Virus Corona). Bisa dilihat ketika mereka mau membuat acara pesta pernikahan anak, misalnya. Ada yang menjual sapi peliharaannya dulu. Bahkan ada yang kebutuhan pesta (“nduwe gawe”) didapat dari hutangan dulu dan akan dibayar setelah acara selesai, dari uang arisan dari acara “nduwe gawe” atau “becekan”.

Kebiasaan tidak memegang uang atau kebiasaan punya uang minim tapi punya bahan makanan yang mudah didapat dari tanah yang dimiliki inilah yang membuat mereka tidak berada pada mata rantai paling beresiko dalam situasi krisis dan kelesuan ekonomi.

Kebiasaan tidak memegang uang atau kebiasaan punya uang minim tapi punya bahan makanan yang mudah didapat dari tanah yang dimiliki inilah yang membuat mereka tidak berada pada mata rantai paling beresiko dalam situasi krisis dan kelesuan ekonomi. Mereka sudah terbiasa beradaptasi dengan keadaan tanpa memegang uang.

Hal ini berbeda dengan kalangan masyarakat yang selama ini terikat dengan hubungan kerja dengan majikan sementara unit usaha di mana mereka bekerja dibubarkan karena isu Corona. Tidak sama pula dengan orang yang tiap hari harus menggunakan uang untuk bisa makan, seperti kalangan masyarakat di perkotaan. Alangkah sengsaranya buruh pabrik yang pabriknya tutup dan tak lagi mendapatkan upah untuk membiayai hidupnya.

Lebih parah lagi adalah sektor informal. Pedagang makanan yang warungnya tutup. Pekerja seni seperti penyanyi dan MC yang terbiasa hadir menghibur pada acara-acara pernikahan atau di kegiatan-kegiatan yang melibatkan kerumunan massa, sementara kerumunan massa dilarang. Pembubaran acara nikahan yang sedang diisi hiburan musik elekton terjadi beberapa hari lalu di Trenggalek. Nasib buruk dialami oleh orang-orang yang selama ini mendapatkan penghasilan dari keberadaan kerumuman massa dan keramaian interaksi antar manusia di luar rumah.

Memang harus kita pahami pula bahwa para petani dan peladang yang kebanyakan tingal di daerah pinggiran memang tidak berarti punya dampak dari kelesuan ekonomi di perkotaan. Buktinya anak-anak, saudara, orangtua, atau siapapun yang masih belum punya rumah di perkotaan pada pulang kampung di desa. Anggota keluarga bertambah dan tanggungan ekonomi juga meningkat.

Belum lagi kalau nantinya terjadi dinamika ekonomi di mana harga-harga barang meningkat lebih tajam daripada bahan-bahan pangan. Jika harga beras, sayur, lombok, bumbu, dan produksi pertanian naik barangkali petani yang selama ini masih bisa menanam tidak akan begitu terkena dampak yang paling parah. Tapi kalau sudah harga sabun, rokok, bahan bakar dan energi, dan produk industri dari luar desa meningkat pesat, maka siapapun juga akan susah—termasuk kaum tani dan orang-orang pinggiran yang masih punya sawah dan ladang.

Sebab kebutuhan sehari-hari itu bukan hanya dari apa yang bisa dihasilkan dari menanam saja, tapi juga banyak hal. Katakanlah ada beras dan lauk, tapi bagaimana misal harga bensin dan gas meningkat pesat sementara meskipun hidup di pinggir gunung dan sawah, masak sudah tak pakai kayu bakar. Ketergantungan pada produk yang tidak bisa diproduksi sendiri menjadi potensi masalah dalam hal ini.***