Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 36

Proyek Nulis Buku Bareng Diaspora Muda Lamongan

0

Diaspora Muda Lamongan (DIASDA Lamongan), sebuah organisasi pemuda-pemudi perantauan yang didirikan oleh Muhammad N. Hassan dan Abdul Jalil ini pernah bekerjasama dengan Kampus Desa Indonesia untuk mengadakan seminar online tentang beasiswa. Selain itu organisasi yang baru berdiri dua tahun ini rupanya telah menelorkan empat buku.

Tahun ini DIASDA Lamongan menerbitkan dua buku barunya. Buku bertajuk “Lamongan Discovery” (Penerbit Progresif, 2020) berisi kumpulan esai dengan tebal xii + 301 halaman; 14,5 cm x 21 cm dan buku antologi puisi & prosa dengan judul “Apa Kabar Lamongan?” (Pustaka Ilalang, 2020) dengan tebal xiv + 162 halaman; 14,5 cm x 21 cm.

Foto kiriman: Sugiono (Bendahara Umum DIASDA Lamongan)

Mengingat banyak pemuda/i Lamongan yang tersebar di seluruh penjuru dunia dengan berbagai profesi, semoga buku ini dapat berfungsi sebagai media aspirasi dan berkarya mereka melalui dunia literasi. Sehingga harapannya karya ini bermanfaat bagi khalayak pembaca.

Kedua buku tersebut dibuka Pre-Order sampai akhir bulan ini. Jika berminat meminang, silakan hubungi co. Divisi Kewirausahaan (mbak Yeni Retno Sari/+62 857-3328-4384) atau DM instagram @diasporamuda.lamongan. Untuk mengetahui informasi selengkapnya kalian bisa langsung klik di sini: Pesan Buku Kumpulan Esai dan Pesan Buku Antologi Puisi.
Terimakasih ^_^

Salam hangat!

Muhammad N. Hassan
(Founder & Chairman of Diaspora Muda Lamongan)

Salah Kaprah Hari Bumi

0

Semoga kita mulai sadar, kita ini hidup di bumi seharusnya kita juga tetap membumi. Bukan malah manfaat bumi seenaknya dan serakah. Tanpa ingat bahwa bumi adalah satu-satunya rumah kita yang harus kita rawat dan jaga, untuk generasi saat ini dan keberlangsungan kehidupan yang kita wariskan kepada anak cucu di masa mendatang.

Kampusdesa.or.id–Hari Bumi, apakah hari ini hari ulang tahun bumi? Tentu saja tidak. Berdasarkan situs National Geographic Indonesia, peringatan Hari Bumi berawal di Amerika Serikat pada tahun 1970 ketika kota-kota besar di hampir seluruh negara bagian Amerika Serikat sedang dilingkupi asap tebal yang menyesakkan dan air sungai banyak dicemari limbah beracun. Perayaan awal ini memusatkan perhatian pada isu lingkungan hidup yang mengusik kelestarian planet serta berimbas pada kesehatan manusia. Menurut Kathleen Rogers dari Earth Day Network, 22 April 1970 ditetapkan menjadi Hari Bumi karena alasan waktu yang ideal. Musim semi jatuh di bulan April itu, hingga cocok bagi pelajar untuk mendapatkan pendidikan tentang lingkungan.

Begitu halnya yang dilakukan oleh berbagai ormas, lembaga pemerintah, sekolah, maupun kampus-kampus saat memperingati Hari Bumi (Earth Day) ini. Mayoritas melakukan edukasi dan kampanye pentingnya menjaga lingkungan, hari tanpa asap kendaran dan asap rokok, aksi demontrasi terhadap kebijakan yang tidak pro lingkungan, memasang atau menyebarkan selebaran larangan membuang sampah sembarangan, illegal logging, dan penggunaan kantong plastik single use, dan lain sebagainya.

Saat dulu masih mahasiswa, saya cukup aktif di kegiatan serupa. Namun belakangan ini saya menilai peringatan Hari Bumi tampak menjadi “salah kaprah”. Di mana setelah Hari Bumi lewat, semua manusia di bumi melakukan rutinitas seperti sedia kala. Tanpa berpikir efek baik buruknya terhadap bumi yang kita huni ini. Malah cenderung tidak memperhatikan dampak negatifnya bagi lingkungan. Baik itu tanah yang kita pijak, air sebagai sumber kehidupan, dan udara tempat oksigen untuk bernafas.

Namun berapa sampah yang telah kita buang, ekploitasi sumber daya alam secara berlebihan, mengeruk bumi demi mencari minyak dan barang tambang, pohon-pohon tumbang ditebang sembarangan, kebakaran hutan, kekeringan, perburuan satwa liar untuk diperdagangkan, air tercemar dari limbah industri dan sampah rumah tangga mengambang, serta asap mengepul menambah kotor udara menjadikan lapisan ozon berlubang.

Kenapa manusia lalai dan seperti tidak peduli. Kebanyakan dari kita cenderung memperbaiki atau mengobati daripada melakukan pencegahan dini. Andai program peremajaan lingkungan tidak hanya dilakukan pada saat peringatan hari bumi, tapi seyogyanya diterapkan setiap hari. Pasti tidak ada lagi yang namanya bencana longsor, banjir, kekurangan air bersih, udara kotor akibat polusi.

Kenapa manusia lalai dan seperti tidak peduli. Kebanyakan dari kita cenderung memperbaiki atau mengobati daripada melakukan pencegahan dini. Andai program peremajaan lingkungan tidak hanya dilakukan pada saat peringatan hari bumi, tapi seyogyanya diterapkan setiap hari. Pasti tidak ada lagi yang namanya bencana longsor, banjir, kekurangan air bersih, udara kotor akibat polusi.

Bumi kita sudah semakin tua dan rapuh. Tanpa kepedulian kita semua, maka umur bumi ini akan semakin pendek. Kerusakan lingkungan banyak terjadi di sana-sini. Hal ini tidak terlepas dari akibat ulah manusia sehingga bumi semakin hari semain rusak. Apakah kondisi ini memang sudah menjadi tabiat manusia yang sudah di-nash (tercantum) dalam QS. ar-Rum ayat 42, yang artinya “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia sehingga akibatnya Allah mencicipkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali.”

Lebih ekstrimnya lagi terjadi pemanasan global dan pergeseran musim yang melanda dunia serta bencana besar lainnya merupakan efek dari kecerobohan manusia dalam mengelola lingkungannya. Semoga kita mulai sadar, kita ini hidup di bumi seharusnya kita juga tetap membumi. Bukan malah manfaat bumi seenaknya dan serakah. Tanpa ingat bahwa bumi adalah satu-satunya rumah kita yang harus kita rawat dan jaga, untuk generasi saat ini dan keberlangsungan kehidupan yang kita wariskan kepada anak cucu di masa mendatang.

Mundurnya Belva dan Potensi Politik Milenial

0

Mundurnya Belva Devara ini membuat pertanyaan baru. Bisakah milenial yang ditulis oleh Raka Ibrahim sebagai generasi yang kelewat serius memandang diri sendiri, optimistik, dan berjarak dari kenyataan sehari-hari masyarakat itu bisa memberi kontribusi positif dan signifikan dalam pemerintahan. Belva bisa dikatakan mewakili generasi ini.

Kampusdesa.or.id–Untuk kesekian kali, Istana mendapat perhatian publik. Belva Devara, salah satu Staf Khusus Presiden resmi mengundurkan diri. Hal itu bisa dilihat dari unggahan akun Instagramnya yang menyatakan dirinya mengajukan pengunduran diri dalam bentuk surat kepada Presiden tanggal 15 April lalu.

Mundurnya Belva Devara ini membuat pertanyaan baru. Bisakah milenial yang ditulis oleh Raka Ibrahim sebagai generasi yang kelewat serius memandang diri sendiri, optimistik, dan berjarak dari kenyataan sehari-hari masyarakat itu bisa memberi kontribusi positif dan signifikan dalam pemerintahan. Belva bisa dikatakan mewakili generasi ini.

Pengakuan Belva yang tidak diajak dalam proses penunjukan Mitra Pelatihan program Prakerja memantik kegaduhan. Hal ini yang membuat publik kuatir adanya konflik kepentingan. Seperti diketahui, Belva Devara masih menjabat CEO Ruangguru, salah satu Mitra Pelatihan yang ditunjuk pemerintah dalam program kartu Prakerja. Dua jabatan itu masih dijabat Belva dalam waktu yang sama. Publik beranggapan ada peluang agar perusahaan yang dimilikinya mendapat keuntungan dari penunjukan langsung tersebut.

Banyak tulisan berseliweran di media daring maupun luring tentang milenial dan politik. Evio Tanti Nanita pernah membahas tentang pergumulan generasi baby boomers dan generasi milenial dalam bidang politik. Saat ini, bisa dikatakan secara umur memang sudah saatnya generasi milenial memegang posisi strategis dalam sebuah organisasi, dan tinggal menunggu waktu bagi mereka untuk mencapai posisi teratas.

Pergumulan dua generasi diatas menarik untuk diselami lebih dalam lagi. Selama ini generasi boomers dianggap lamban atau tidak responsif, cenderung tertutup, tidak menyukai perubahan mendadak meski kadang matang dalam mengambil keputusan. Generasi itu berhadapan dengan milenial yang suka perubahan, cepat beradaptasi, ekspresif meski terkesan indivisualistis.

Saat kaum milenial itu mencoba masuk dalam posisi strategis bahkan teratas, mereka akan menghadapi tantangan dari generasi boomers. Generasi yang mempunyai gaya kepemimpinan dan cara penyelesaian solusi yang sangat berbeda dengan kaum milenial. Pada titik ini kemampuan milenial mendapat ujian serius.

Bila boomers harus dibilang legowo agar memberi peluang kepada milenial untuk menduduki posisi strategis, maka hal itu perlu mendapat koreksi. Kasus Andi Taufan Garuda Putra, salah satu Staf Khusus Presiden yang sempat berkirim surat berkop Sekretariat Kabinet (Setkab) Republik Indonesia kepada camat di Indonesia bisa dijadikan bahan pertimbangan. Surat tersebut menimbulkan kontroversi karena dianggap maladministrasi. Selain itu, teknis penulisan dalam surat itu mendapat kritikan tajam dari warganet.

Akhirnya Andi Taufan Garuda Putra meminta maaf serta mencabut surat diatas. Namun ia mencabut surat resmi berkop Sekretariat Kabinet (Setkab) Republik Indonesia dengan surat biasa, tanpa menggunakan kop apapun, alih-alih kop resmi milik negara. Hal ini menyisakan kegaduhan baru di masyarakat bahkan pejabat publik lainnya pasca keributan yang telah dia buat sebelumnya. Soal sanksi dan program yang ia buat pun belum ada kejelasan hingga saat ini.

Publik sempat memberi perhatian pada optimisme milenial. Optimisme itu seakan jadi ciri khas milenial saat ini. Namun rasa optimis itu sering dibarengi dengan perasaan merasa terpanggil untuk berkontribusi bagi bangsa dan menginspirasi kawula muda. Rasanya, itu sebuah ungkapan klise seperti janji calon wakil rakyat yang terpasang di banner atau baliho pada masa kampanye pesta demokrasi.

Profil Generasi Milenial Indonesia terbitan Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak membagi pola pikir kelompok milenial dalam tiga tipe, yaitu tipe apatis bagi mereka yang alergi terhadap politik, bahkan menarik diri dari proses politik yang ada; tipe spektator, bagi mereka yang kurang tertarik dengan politik, tetapi masih kerap menggunakan hak pilihnya; dan tipe gladiator, yakni yang sangat aktif dalam politik (seperti aktivis partai, pekerja kampanye, dan aktivis organisasi).

Dari laporan diatas, kecenderungan kaum milenial Indonesia saat ini apatis namun kritis. Mereka berusaha berjarak dari politik namun tetap berupaya memberi partisipasi. Bentuk partisipasi mereka banyak berupa perbincangan di media sosial atau ikut mengisi petisi dalam isu-isu politik terkini. Hal ini menunjukkan bahwa milenial Indonesia berupaya mempengaruhi suatu kebijakan lewat penggunaan media sosial.

Melihat fenomena Belva dan Andi diatas dan laporan Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak agaknya perlu dikaji ulang. Utamanya tentang potensi milenial dalam dunia politik saat ini. Satu sisi milenial punya peluang merubah wajah politik saat ini, sisi lainnya milenial perlu belajar banyak tentang bagaimana merumuskan kebijakan yang berdampak positif bagi khalayak umum.

Baik boomers maupun milenial punya keunggulan masing-masing. Satu sama lain bisa menjalankan fungsi mereka dalam level teratas kepemimpinan. Bila berjalan beriringan, diharapkan muncul kebijakan-kebijakan yang lebih inklusif sesuai kecakapan masing-masing.

Jalan Panjang dan Berliku Emansipasi Kita

0

Sekilas, emansipasi perempuan yang diperjuangkan R.A. Kartini sudah tampak menggembirakan. Perempuan Indonesia kini setara dengan laki-laki di berbagai bidang. Banyak posisi strategis yang kini dapat diduduki perempuan tanpa rasa takut. Namun, pada saat yang sama, kita juga masih dihadapkan dengan maraknya kekerasan terhadap perempuan, human trafficking, pelecehan seksual, subordinasi, dan sederet ketidakadilan lainnya terhadap perempuan. Karenanya, perlu disadari bersama, bahwa agenda emansipasi kita masih belum usai. Masih terbentang jalan panjang nan berliku.

Kampusdesa.or.id-Sampai hari ini, nama Kartini masih dijadikan sebagai simbol emansipasi kaum perempuan di Indonesia. Perjuangan Kartini semasa hidupnya menjadi teladan bagi bangsa Indonesia untuk tidak lagi menganggap kaum perempuanSekilas, emansipasi perempuan yang diperjuangkan R.A. Kartini sudah tampak menggembirakan. Perempuan Indonesia kini setara dengan laki-laki di berbagai bidang. Banyak posisi strategis yang kini dapat diduduki perempuan tanpa rasa takut. Namun, pada saat yang sama, kita juga masih dihadapkan dengan maraknya kekerasan terhadap perempuan, human trafficking, pelecehan seksual, subordinasi, dan sederet ketidakadilan lainnya terhadap perempuan. Karenanya, perlu disadari bersama, bahwa agenda emansipasi kita masih belum usai. Masih terbentang jalan panjang nan berliku. sebagai makhluk kelas dua. Tidak boleh lagi ada penindasan dan perbudakan terhadap perempuan. Dengan demikian, perempuan tidak boleh diamputasi hak-hak dan kewajibannya, baik di level kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa, dan bernegara.

Pada hakikatnya, memang kedudukan kaum perempuan tidak ada beda dengan kaum laki-laki. Konsepsi ideal ini dalam Islam pun ditegaskan sedemikian rupa. Misalnya dalam Surat An-Nisa’ ayat 124, “Barang siapa mengerjakan mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia orang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

Makna senada juga dapat kita lihat dalam ayat 195 Surat Ali Imran, “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu,baik laki-laki atau perempuan,(karena) sebahagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.” Masih banyak lagi ayat lain yang menjelaskan betapa Islam tak membedakan kedudukan laki-laki dan perempuan.

Dalam hadits Nabi pun juga akan kita jumpai hal serupa. Misal sebuah hadits yang dimuat dalam Musnad Imam Ibn Hanbal, “Barangsiapa memiliki anak perempuan dan dia tidak menguburnya hidup-hidup, tidak pula dia hinakan, dan tidak lebih mengutamakan anak laki-laki darinya, maka Allâh akan memasukkannya kedalam surga.” Tentu kita semua juga akrab dengan perintah Nabi untuk memuliakan Ibu tiga kali lebih banyak dibandingkan Bapak.

Adapun, dalam konteks kehidupan bernegara, baik perempuan maupun laki-laki juga memiliki status kewarganegaraan yang sama. Dengan demikian, hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara,  juga melekat kepada keduanya. Di mata hukum, keduanya juga memiliki kedudukan yang setara. Tidak diperbolehkan adanya diskriminasi terhadap salah satunya.

“Perempuan milenial hari ini telah banyak yang berprestasi melebihi laki-laki. Berbagai posisi strategis juga mampu mereka tempati”

Lalu, apakah cita-cita emansipasi Kartini telah terwujud sebagaimana konsep-konsep ideal di atas? Dilihat dari permukaan memang sudah cukup menggembirakan. Perempuan milenial hari ini telah banyak yang berprestasi melebihi laki-laki. Berbagai posisi strategis juga mampu mereka tempati. Bukan hal yang aneh di era sekarang ini perempuan berada di puncak tangga pengambil kebijakan.

Namun, bila diselami lebih dalam lagi, prestasi emansipasi kita sampai dengan hari ini, sebenarnya masih menampakkan wajah bopeng di sana-sini. Hal ini dibuktikan dengan masih maraknya kekerasan terhadap perempuan, pelecehan seksual, pemerkosaan, subordinasi, stereotype, beban ganda, dan marjinalisasi. Tak ketinggalan, human trafficking juga masih kerap dialami perempuan.

“Sekitar 1 dari 9 perempuan usia 20-24 tahun menikah saat usia anak. Jumlah ini berbanding kontras dengan laki-laki dimana 1 dari 100 laki-laki berumur 20–24 tahun menikah saat usia anak”

Wajah bopeng lain dari emansipasi juga akan kita jumpai, mana kala melihat masih tingginya kasus perkawinan anak di bawah umur. Menurut Badan Pencatatan Statistik (BPS) berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2018, angka perkawinan anak mencapai 1,2 juta. Dari jumlah tersebut proporsi perempuan umur 20-24 tahun yang berstatus kawin sebelum umur 18 tahun adalah 11,21% dari total jumlah anak. Artinya sekitar 1 dari 9 perempuan usia 20-24 tahun menikah saat usia anak. Jumlah ini berbanding kontras dengan laki-laki dimana 1 dari 100 laki-laki berumur 20–24 tahun menikah saat usia anak.

“Beratnya agenda ini disebabkan oleh masih mengakarnya budaya patriarki di kehidupan kita, yang menyebabkan perempuan sulit untuk menyuarakan kata hatinya”

Dari sini makin terlihat bahwa agenda emansipasi yang diperjuangkan R. A. Kartini belumlah usai. Bahkan, bisa dikatakan masih dalam proses merangkak. Sehingga, belum beranjak jauh dari titik mulainya. Beratnya agenda ini disebabkan oleh masih mengakarnya budaya patriarki di kehidupan kita, yang menyebabkan perempuan sulit untuk menyuarakan kata hatinya.

Seperti yang pernah diungkapkan Musdah Mulia, “Anak perempuan seringkali diperlakukan sebagai manusia yang kedudukannya lebih rendah dalam pergaulan. Mereka dididik untuk menempatkan diri pada urutan akhir, sehingga harga diri mereka berkurang. Diskriminasi dan pengabaian pada masa kanak-kanak dapat mengakibatkan pengucilan anak perempuan sepanjang hidup.” Lebih miris lagi, perilaku diskrimiatif ini seringkali dilegitimasi oleh penafsiran misoginis terhadap teks-teks suci, yang justru dilakukan oleh pemuka agama.

Sebab itu, momentum Hari Kartini sekarang ini, hendaknya dijadikan sebagai sarana evaluasi bersama terhadap agenda emansipasi kita. Bukan hanya dirayakan secara seremonial belaka dengan melakukan kirab dan membuat meme ucapan lalu diunggah di media sosial. Jalan kita masih panjang untuk mewujudkan cia-cita luhur Kartini.[]

Makna Emansipasi dan Kartini di Era Millenial

0

Selamat Hari Kartini 2020. Semoga para perempuan jaman sekarang bisa berperan sebagaimana mestinya seorang perempuan. Menjadi calon generasi ibu dan pemimpian perempuan yang hebat di masa yang akan datang. Karena perempuan ibarat tiang keluarga, negara, bahkan agama. Ketiganya dapat kokoh dan kuat diakibatkan oleh perempuan yang baik. Pun jika sebaliknya, maka baik itu sebuah tatanan keluarga, peradaban negara, maupun ajaran agama akan hancur seketika.

Kampusdesa.or.id–Apa yang Anda pikirkan jika mendengar nama Raden Adjeng (RA) Kartini??? Seorang pejuang emansipasi wanita, salah satu pahlawan nasional Indonesia, atau langsung teringat dengan lagu “Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia, sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia…”

Mungkin kita masih ingat saat Sekolah Dasar dulu mempelajari sejarah RA. Kartini dan menyanyikan lagu “Ibu Kita Kartini” karya WR. Supratman yang dipersembahkan untuk kemuliaan dan perjuangannya demi emansipasi wanita. Mengingat RA. Kartini dikenal sebagai pelopor lahirnya kebangkitan kaum hawa dengan prinsipnya memperjuangkan emansipasi semasa hidupnya.

Buah pemikiran RA. Kartini dapat dilihat pula seperti termaktub di dalam surat-surat yang dibukukan oleh J.H. Abendanon berjudul Door Duisternis tot Licht atau lebih dikenal dengan versi bahasa Melayu “Habis Gelap Terbitlah Terang”, berkat diterjemah oleh tokoh sastra pujangga baru bernama Armijn Pane.

Berbicara soal Hari Kartini, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu kenapa selalu diperingati pada tanggal 21 April setiap tahunnya. Mengutip sumber dari Tribunnews, Hari Kartini ditetapkan pertama kali saat Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini karena bertepatan dengan tanggal lahir RA. Kartini.

Lantas di era sekarang ini, apa makna emansipasi para Hari Kartini bagi para perempuan generasi millenial? Apakah peringatan hari Kartini saat ini masih seperti dulu. Sebatas memakai busana tradisional jawa ala-ala ibu Kartini?

Lantas di era sekarang ini, apa makna emansipasi para Hari Kartini bagi para perempuan generasi millenial? Apakah peringatan hari Kartini saat ini masih seperti dulu. Sebatas memakai busana tradisional jawa ala-ala ibu Kartini? Mungkin dengan kemudahan akses internet dan teknologi, perempuan di era generasi millenial seharusnya bisa semakin bebas berkarya. Jika ingin meneladani RA. Kartini hanya sekedar mengikuti tampilan fisiknya saja tanpa diberikan edukasi tentang sejarah siapa RA. Kartini dan bagaimana implementasinya dalam kehidupan, menurut pendapat saya sih sangat sayang jika sebatas itu saja.

Sesungguhnya makna emansipasi yang pernah diperjuangkan oleh RA. Kartini tidak sekedar sesederhana itu. Perempuan millenial mampu mengaplikasikan dengan cara menerapkan nilai-nilai emansipasi di era modern ini secara luas. Mereka bisa ikut serta memerangi kebodohan lewat pendidikan tinggi, bergerak di bidang sosial – perekonomian melalui, lebih-lebih bisa menjadi pemimpin atau menempati posisi strategis sebuah lembaga sehingga berperan dalam pengambil keputusan atau kebijakan yang berkenaan dengan nilai-nilai pemikiran RA. Kartini.

Di lain sisi hasil pengamatan saya belakangan ini. Khususnya bagi para perempuan pegiat media sosial, di era digital menjadikan perempuan millenial bisa lantang meminta keadilan salah satunya adalah menentang praktik poligami, menjadi aktivis gender dan gencar menuntut kesetaraan melalui dukungan gerakan yang berbau feminimisme. Mereka mengambil alih peran dengan mengisi konten mengenai isu-isu tersebut.

Bila diperlukan saya boleh usul kepada perempuan millenial untuk mengundang para pakar di Indonesia seperti Prof. Mufidah Ch., Prof. Musdah Mulia, Dr. Nur Rofi’ah, atau tokoh-tokoh gender lainnya. Forum kajian dan diskusi ini nantinya bertujuan agar dapat dijadikan sebagai wawasan dan tentu arahan sebenarnya apa makna emansipasi yang dulu digaungkan oleh RA. Kartini, serta mendorong semangat para perempuan millenial dalam memperjuangkan hak-hak perempuan serta mendapat kesetaraan terhadap laki-laki (kaum maskulin).

Sebagaimana dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 35 dan QS. An-Nahl ayat 97, diketahui bahwa Agama Islam juga memiliki pandangan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Bahkan sebagaian ayat maupun hadits sangat meninggikan derajat perempuan. Karena banyak hal yang dimiliki perempuan secara sunnatullah tidak bisa dilakukan oleh seorang laki-laki. Seperti menstruasi, hamil, menyusui, dan keistemewaan perempuan lainya.

Melalui tulisan ini, penulis ingin mengucapkan Selamat Hari Kartini 2020. Semoga para perempuan jaman sekarang bisa berperan sebagaimana mestinya seorang perempuan. Menjadi calon generasi ibu dan pemimpian perempuan yang hebat di masa yang akan datang. Karena perempuan ibarat tiang keluarga, negara, bahkan agama. Ketiganya dapat kokoh dan kuat diakibatkan oleh perempuan yang baik. Pun jika sebaliknya, maka baik itu sebuah tatanan keluarga, peradaban negara, maupun ajaran agama akan hancur seketika.

Terancam Gagal Mudik, Kapan Pandemi ini Berakhir?

0

Jika nanti diputuskan adanya himbauan pemerintah agar masyarakat tahun ini menunda mudik saat lebaran, pasti membuat masyarakat yang berada di perantuan terancam tidak bisa pulang ke kampung halamannya. Lantaran virus corona yang melanda bangsa Indonesia saat ini mengancam aktifitas mudik masyarakat di perantauan dan program pemerintah berupa mudik gratis seperti tahun-tahun sebelumnya tidak bakal ada lagi.

Kampusdesa.or.id–Wabah virus corona telah mengubah tatanan dan peradaban dunia. Mulai dari ekonomi anjlok, ketahanan pangan menurun, akses pendiddikan berganti daring, fasilitas kesehatan jadi prioritas, dan mobilisasi manusia dibatasi.

Sebentar lagi kita –umat muslim bersuka cita menyambut  bulan Ramadhan. Namun tampaknya Ramadhan tahun ini berbeda. Sejak adanya wabah virus corona, kebijakan larangan ke luar rumah, berkumpul, dan melakukan aktivitas ramai. Sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan di mana ada aktifitas-aktifitas berjamaah. Baik itu tadarusan, terawih, buka bersama, dan kegiatan semarak lainnya.

Jika wabah virus ini grafiknya tidak turun, kecil kemungkinan kegiatan tersebut boleh dilaksanakan. Mengingat masjid juga kebanyakan ditutup. Ibadah beralih di rumah saja. Himbauan ini tentu ada dampak negatif dan positifnya. Di sisi lain bulan Ramadhan menjadi sepi tapi kebaikannya dapat kumpul dengan keluarga dan tidak tertular virus corona di luar sana.

Selain kebijakaan sebelum bulan puasa, baru-baru ini pemerintah Indonesia mengeluarkan “wacana” aturan mengenai larangan mudik (pulang ke kampung halaman). Sebagian menuai pro dan kontra. Gimana tidak, sudah menjadi kebiasan para perantau baik itu sekolah maupun kerja pasti ingin mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri. Karena mudik lebaran sudah menjadi buya masyarakat Indonesia yang dilakukan setiap tahunnya.

Baca juga: Mudik dan Perjumpaan Kota-Desa

Jika pandemi ini belum berakhir. Saya sebagai salah satu orang perantauan jauh dari kampung halaman pasti terancam gagal mudik. Apalagi saya cukup mengikuti perkembangan (update) di desa. Beberapa warga memblokade jalan masuk kampung. Spanduk bertuliskan “kami menolak warga rantau mudik lebaran”, “stop mudik atau bikin sakit orang sekampung”, atau “sayangi keluarga di rumah dengan tidak mudik” ada di berbagai sudut kabupaten.

Saya cukup memahaminya. Reaksi atau sikap ini tentu akibat kepanikan dan rasa takut warga. Kita juga sama-sama tidak tahu ketika pulang nanti membawa virus dan menularkan ke keluarga kita atau tidak. Tentu dalam kekhawatiran ini harusnya ada kebijakan yang lebih tepat baik itu tahap isolasi atau karantina terlebih dahulu. Namun, semua tergantung kembali lagi kepada kebijakan pemerintah. Karena sampai saat ini masih belum diputuskan.

Mengingat sebelumnya, Okezone.com tanggal 14 April 2020 melansir data hasil survei yang dilakaukan Badan Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan, dan Informasi (Balitfo), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) kepada 3.931 kepala desa di 53.808 desa terkait kegiatan mudik lebaran 2020 di tengah pandemi virus corona atau Covid-19. Hasil survei menunjukan sebanyak 89,75% kepala desa menolak kegiatan mudik. Sedangkan sisanya setuju dengan kegiatan tersebut.

Karena itu, mayoritas masyarakat yang stay at home mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan larangan mudik lebaran. Pasalnya, tindakan tegas hanya bisa diberlakukan pemerintah pada masa darurat. Sedangkan perayaan hari raya Idul Fitri sendiri diprediksi akan jatuh pada Mei 2020. Di mana bulan Mei diperkiraan merupakan puncak pandemi Covid-19 di Indonesia. Itu artinya, pemerintah jelas bakal mengambil langkah terbaru terkait kebijakan mudik dan status darurat virus corona menjadi diperpanjang.

Saat ini kebijakan tersebut sedang digodok oleh pemerintah. Masih dalam tahap pembahasan dan didiskusikan apakah mudik akan dilakukan seperti biasa atau ada peninjauan ulang, atau bahkan ekstremnya benar akan adanya pelarangan. Keputusan ini belum ditok palu.

Saat ini kebijakan tersebut sedang digodok oleh pemerintah. Masih dalam tahap pembahasan dan didiskusikan apakah mudik akan dilakukan seperti biasa atau ada peninjauan ulang, atau bahkan ekstremnya benar akan adanya pelarangan. Keputusan ini belum ditok palu.

Beda halnya bulan Maret lalu, kepala BNPB Doni Monardo tegas menyatakan bahwa “Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Mudik membuka peluang penyebaran (virus corona) ke seluruh Indonesia,” (CNN Indonesia, 25/03/2020). Seperti diketahui, mudik dianggap sebagai salah satu kegiatan yang punya potensi besar terhadap penyebaran virus corona.

Di lain sisi, jika nanti diputuskan adanya himbauan pemerintah agar masyarakat tahun ini menunda mudik saat lebaran, pasti membuat masyarakat yang berada di perantuan terancam tidak bisa pulang ke kampung halamannya. Lantaran Pak Presiden Jokowi pernah mengatakan jika sampai hari ini jumlah pasien positif virus corona di Indonesia terus bermunculan, diprediksi wabah pandemi Covid-19 yang melanda bangsa ini akan berakhir di akhir tahun 2020.

Lantas, sudah barang tentu situasi dan kondisi seperti ini akan mengancam aktifitas mudik masyarakat di perantauan dan program pemerintah berupa mudik gratis seperti tahun-tahun sebelumnya tidak bakal ada lagi.

Kenapa Hoax Covid-19 Cepat Viral di Media Sosial?

0

Agar hidup kita tidak dihantui oleh rasa takut dan cemas berlebihan hendaklah kita selektif membaca informasi tentang Covid- 19 pasalnya, banyak yang membuat kontens di medsos bukan orang yang mempunyai kapasitas. Misalnya, orang pendidikan, orang hukum, orang ekonomi, orang ahli agama, petani, pedagang, dan orang-orang yang tidak mempunyai keahlian dan kepakaran tentang itu, turut memperuncing dan menakut-nakuti masyarakat dengan kebohongan dan kebodohannya.

Kampusdesa.or.id–Rakyat Indonesia disuguhi pemberitaan yang tidak jelas sumbernya di media sosial, bagaimana tidak! orang yang tidak mempunyai kapasitas turut memperuncing dan memanas-manasi situasi genting saat ini. Sementara rakyat Indonesia mudah tersulut dan terpancing dengan pemberitaan-pemberitaan yang tidak valid sehingga memperuncing situasi dan kondisi saat ini.

Rakyat Indonesia kurang membudayakan sikap tabayun dan klarifikasi atas apa yang dapatkan dari media sosial. Padahal, hal itu jauh sebelumnya sudah disinyalir oleh al-Qur’an:

“Jika datang kepada kalian orang fasik (orang yang tidak bisa dipegang omongannya) membawa sebuah informasi (hoax) maka hendaklah kalian melakukan klarifikasi (tabayun).” (Al Hujurat: 6)

Ada sebuah cerita lucu datang dari bapak mertua yang bertugas mengajar di Desa Jampit Ijen Bondowoso, jika ada salah seorang ingin menikmati bubur ketan hitam, ia menebar berita hoax kepada masyarakat setempat:

“Samangken e pakon kyaeh salametan tachin ethem, ka angghui e jheualhi derih bheleih/ Sekarang disuruh oleh kyai mengadakan acara selamatan pakai menu bubur ketan hitam, tujuannya untuk terhindar dari bala’ dan musibah.”

Sehingga masyarakat tanpa berfikir panjang dengan serentak meyakini dan melakukannya serta menyebarkan berita hoax tersebut secara cepat dengan cara ketuk tular. Mereka dengan mudahnya share di facebook atau lewat aplikasi kirim pesan whatsapp, tanpa dicek dulu kebenarannya dan kadang sesuatu yang viral lebih mudah dipercaya. Padahal dampaknya menyesatkan orang lain.

Seperti halnya berita penangkapan oleh pihak berwajib kepada oknum profokator yang memprovokasi masyarakat untuk menolak pemakaman jenazah yang positif terinfeksi virus corona, dengan alasan mereka menyebar berita bahwa jenazah yang sudah dikubur masih bisa menyebarkan virus corona. Sehingga membuat masyarakat resah yang pada akhirnya mereka menolak pemakaman korban virus corona untuk dimakamkan di desanya karena takut tertular wabah Covid-19 itu. Padahal, menurut keterang medis jenazah yang terinveksi virus corana yang sudah dimakamkan tidak akan menularkan virusnya kepada orang yang masih hidup.

Memang berita hoax cepat viral di media sosial, sebagaimana yang diungkapkan oleh pepatah Arab yang mengatakan “Al-Khobaru ka al-ghubaari” Artinya, kabar bohong selalu cepat menyebar. Ada sebuah pepatah lain berbunyi “bad news travel fast” yang artinya, berita hoax cepat menjadi viral.

Oleh sebab itu, agar hidup kita tidak dihantui oleh rasa takut dan cemas berlebihan hendaklah kita selektif membaca informasi tentang Covid- 19 pasalnya, banyak yang membuat kontens di medsos bukan orang yang mempunyai kapasitas. Misalnya, orang pendidikan, orang hukum, orang ekonomi, orang ahli agama, petani, pedagang, dan orang-orang yang tidak mempunyai keahlian dan kepakaran tentang itu, turut memperuncing dan menakut-nakuti masyarakat dengan kebohongan dan kebodohannya.

Turning Dream to Reality: Merealisasikan Mimpi dan Obsesi Masa Depan

0

Untuk merubah dream into reality, orang harus siap berpindah dari zona nyaman kepada zona yang tidak nyaman. Jangan self defence terhadap perubahan, jangan membuat pertahanan diri terhadap perubahan dimasa depan.

Kampusdesa.or.id–Sebelum membahas “Turning Dreams Into Reality” yaitu bagaimana kita berjuang untuk meraih mimpi-mimpi besar di masa depan. Saya ingin sedikit sharing usai menyelesaikan ujian tesis di pascasarjana UNIB. Saya dipanggil oleh penguji sekaligus pembimbing kedua yaitu Prof. Dr. H. Abu Yazid, LLM, MA di ruang dosen sambil ngobrol renyah tapi serius.

“Mas, setelah ini apa agenda utamanya?”, tanya beliau. “Saya ingin menyusul Anda untuk bergelar doktor dan profesor”, jawab penulis dengan spontan.”Bagus itu, keywordnya dua mas, himmatul ‘aliyah (obsesi tinggi) dan al-jaddu (antusias dan fokus)”, jawab beliau sambil memberikan spirit motivasi. Berbekal itu, penulis seolah-olah mempunyai mesin penggerak kehidupan untuk meraih mimpi.

Untuk merealisasikan frasa ‘impossible’ menjadi ‘possible’ ada empat langkah utama yang harus kita jalani. Saya singkat dengan istilah FAMES. Ada lima huruf: F, A, M, E, dan S.

Pertama, huruf F, singkatan dari fear to failure, merasa takut gagal. Artinya, ia sudah memvonis dirinya terlebih dahulu menjadi orang gagal. Kemarin ada seorang teman bertanya kepada saya tentang studi doktor yang ditempuh dalam waktu empat tahun dengan biaya mandiri, ia berkilah:

“Wah, kalau saya sepertinya tidak mampu untuk mengikuti jejak dirimu” ketusnya pesimis.

Kedua, huruf A, singkatan dari againts to the possibility, artinya melawan terhadap segala kemungkinan. Ketika saya mendaftar program doktor dan diterima menjadi doctor candidate, saya sudah menyiapkan beberapa opsi kemungkinan terburuk yang akan terjadi sehingga psikis dan fisik kita sudah mempunyai anti body dan imunitas yang sudah siap.

Ketiga, huruf M singkatan dari mediocrity, artinya bersikap hidup seperti orang biasa-biasa saja. Mediocure itu adalah sesuai dengan namanya, medik itu medium. Kita terpasung dengan pola hidup yang biasa saja dan tidak berani melangkah untuk menjadi orang yang luar biasa. Hal ini, sudah pernah disinyalir oleh Ibnu Athoillah dalam kitab Hikam,

“Jangan pernah bermimpi menjadi orang luar biasa, jika perilaku hidup kalian saat ini biasa-biasa saja.”

Prinsip saya adalah akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh orang lain, termasuk keluar dari zona nyaman untuk meraih mimpi masa depan, sementara mereka terlelap dengan mimpi-mimpi indahnya tanpa ada usaha untuk mewujudnya realitanya.

Makanya, prinsip saya adalah akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh orang lain, termasuk keluar dari zona nyaman untuk meraih mimpi masa depan, sementara mereka terlelap dengan mimpi-mimpi indahnya tanpa ada usaha untuk mewujudnya realitanya.

Keempat, huruf E singkatan dari lack of enthusiasm, artinya kekurangan antusiasme dalam menjalani kehidupan. Misalnya kekurangan bahkan mulai hilangnya antuasiasme dalam menyelesaikan tugas akhir (skripsi, tesis atau disertasi).

Saya punya teman program doktoral dan berada dalam bimbingan Prof. Dr. H. Imam Suprayogo. Begitu ia mendapat penolakan, didamprat dan dimarahin satu kali, ia langsung down dan keok sampai sekarang.

Kelima, huruf S singkatan dari self defence to the change, artinya melakukan upaya protektif terhadap perubahan. Everybody reject change, setiap orang cenderung untuk menolak perubahan. Padahal, perubahan harus dilakukan bila ingin menjadi hebat dan sukses.

Saya punya cerita unik, ketika selesai mengisi kuliah tiba-tiba ada mahasiswa menghampiri dan berkata:

“Ajunan Mak pas aube nyalep ngacer, abdinah kapdar e pondhuk al-Utsmani Bheddien/ Anda kok berubah drastis, saya adalah pernah menjabat kepala daerah di pondok pesantren al-Utsmani”, bilangnya dengan agak grogi.

“Engghi, khotuh aobe odik klaben pendidikan, jhe’ sampe’ poas klaben elmuh se ekaandi samangken/tentu, hidup ini harus berubah dengan pendidikan, jangan cepat merasa puas dengan ilmu yang kita miliki saat ini”, jawab saya.

Untuk merubah dream into reality, orang harus siap berpindah dari zona nyaman kepada zona yang tidak nyaman. Jangan self defence terhadap perubahan, jangan membuat pertahanan diri terhadap perubahan dimasa depan.