Mudik dan Perjumpaan Kota-Desa

0
171
Keluarga Mudik di Lalu Lalang Jalan Kertosono - Surabaya

Mudik dan terhubung dengan saudara dari ayah ibu kita boleh jadi adalah isyarat masa depan. Ini awal dari titik masa depan yang mungkin tidak pernah terbayangkan. Ada pengalaman yang mendukung itu setelah sekian tahun besar tumbuh dewasa. Ternyata dukungan dari seorang saudara telah dia temukan maknanya sebagai awal kebangkitan suksesnya.

Selain ikatan kekerabatan dan ritus tahunan, keberadaan daerah pedesaan, baik karena kuliner maupun indahnya pemandangan yang hijau dan air yang masih berlimpah jumlahnya, adalah basis bagi daya tarik orang-orang yang mudik. Ada yang bilang “mudik” berasal dari kada “udik” yang berarti “desa” atau “kampong.” Desa yang sebenarnya adalah asal-usul mereka. Tanah air mereka. Di mana tanah dan air adalah syarat bagi kehidupan.

Di kota tanah-tanah menyempit karena berbagai macam bangunan, termasuk kantor-kantor pemerintahan dan swasta. Air juga suatu yang mahal harganya. Selebihnya adalah relasi-relasi sosial yang terbatasi oleh kondisi ruang dan pekerjaan. Di hari-hari biasa, kota adalah tempat orang terobotisasi dalam “ritus” ekonomi. Kota dipenuhi dengan orang-orang yang sepertinya hanya sibuk menjalani kegiatan yang seakan sudah dijalankan oleh sistem kehidupan yang dibingkai dalam penjara kapitalisme.

Tapi pada hari lebaran, Ibu Kota lengang seperti tak ada kehidupan. Semua orang mudik ke kampung halaman. Sebagai peristiwa budaya mudik bisa dilihat sebagai sebuah pergerakan manusia dalam jumlah yang cukup besar untuk mengikuti suatu ritualitas tahunan. Manusia-manusia itu mencari makna dari suatu ritus yang harus dijalani.

Mobilitas sosial ke kampung halaman ini menghasilkan suatu relasi sosial yang bisa melahirkan makna-makna baru, tujuan baru, dan mempengaruhi dinamika sosial.

Dari sisi sosiologis, mobilitas sosial ke kampung halaman ini menghasilkan suatu relasi sosial yang bisa melahirkan makna-makna baru, tujuan baru, dan mempengaruhi dinamika sosial. Yang tentu saja punya dimensi ekonomi dan politik juga (apalagi musim perhelatan elektoral bernama Pilkada).

Sedangkan aspek ekonomi cukup kentara karena ekonomi adalah relasi yang mengatur hal-hal yang sifatnyya nyata dan material. Penjual jasa transportasi yang kewalahan melayani pelanggan, karena mobilisasi massa dari kota ke desa membutuhan jasa untuk memindahkan orang dan barang yang dibawanya. Mereka juga membawa duit yang sepanjang perjalanan juga digunakan untuk mengonsumsi sesuatu yang dibutuhkan. Nyatanya mereka juga datang bukan hanya membawa duit, tapi juga oleh-oleh yang tak jarang dibeli dalam perjalanan.

Dinamika ekonomi suatu masyarakat itu sangat ditentukan oleh jumlah manusia dan perpindahannya.

Meskipun, peristiwa ekonomi ini hanya berlangsung beberap hari. Setidaknya kita menjadi yakin bahwa dinamika ekonomi suatu masyarakat itu sangat ditentukan oleh jumlah manusia dan perpindahannya. Kota-kota dihuni mall-mall yang lengang, sebuah kejadian yang bisa dirasakan. Jalan raya di pedesaan menjadi ramai. Setelah menjalankan ritus berlebaran di hari pertama dan kebiasaan yang paling utama yaitu sholat Idul Fitri dan tradisi bermaaf-maafan dengan berkunjung ke handai taulan, para pemudik yang tak akan tinggal lama atau kembali ke kota ini akan melakukan kegiatan-kegiatan yang mengghidupkan ekonomi di desa.

Berkunjung ke tempat wisata, menikmati kuliner pedesaan, reuni dengan pengadaan acara yang membuat para penjual jasa sewa ‘soud system’, terop, dan jasa cathering menjadi hidup. Bahkan beberapa kegiatan reuni juga membutuhkan jasa pemandu acara (MC) dan musisi untuk menghiasi acara reuni yang diadakan.

Hotel juga kewalahan melayani para pendatang yang menginap. Dan memang, dunia wisata adalah yang paling mendapatkan dampak nyata akibat mobilisasi orang-orang dari kota ke desa. Di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, misalnya, saat lebaran tempat-tempat wisata akan dipenuhi dengan pengunjung. Di salah satu spot wisata seperti Pasir Putih, misalnya, terjadi kesulitan dalam memarkir kendaraan.

Pada lebatan tahun ini, warung-warung juga penuh pengunjung. Penuhnya warung-warung di Trenggalek, sudah berlangsung sejak dua hari sebelum lebaran. Hal itu terjadi karena sudah banyak yang mudik. Mereka yang selama setahun jauh dari desa, tinggal di kota-kota besar, ingin merasakan kuliner di desanya yang tentu saja lebih lezat dan enak dibanding kuliner yang dinikmati di daerah perkotaan.

Seorang anak di desa yang biasanya kesulitan mendapatkan uang, tiba-tiba mendapatkan “sangu” dari Pakde, Paklik, Tante, Mbah, yang sukses bekerja di kota. Jumlahnya cukup banyak.

Sementara itu, tradisi memberi “sangu” pada anak-anak juga membawa dampak yang baik bagi kehidupan di desa. Seorang anak di desa yang biasanya kesulitan mendapatkan uang, tiba-tiba mendapatkan “sangu” dari Pakde, Paklik, Tante, Mbah, yang sukses bekerja di kota. Jumlahnya cukup banyak. Bahkan ada anak yang bisa mendapatkan sangu secara akumulatif sejumlah 2 juta.

Ibunya berkata, “Alhamdulillah, Le, duitnya ditabung untuk daftar sekolah SMP nanti.” Anak tersebut termotivasi untuk sekolah karena punya biaya. Motivasi juga datang dari Pakde yang sukses bekerja di kota. Pakde yang dulu juga masa kecilnya kesulitan cari biaya sekolah, ternyata bisa berhasil dan justru lebih sukses dibanding tetangga yang anak orang-orang kaya.

Pakde yang memberi sangu dan sukses ini tak jarang adalah sosok yang menginspirasi anak-anak desa. Momen-momen inspirtif saat lebaran ini sering terjadi. Karena ada perjumpaan, ada cerita, ada hal yang dipelajari tiap kisah dari orang-orang yang kadang jarang kita jumpai dan baru kita temui pada saat lebaran. Ada kalanya, saudara yang jarang pulang di tahun-tahun sebelumnya, tiba-tiba lebaran ini datang. Dan ia punya segudang kisah hidup inspiratif pada anak-anak dan remaja di kampungnya. Yang bisa jadi satu atau dua anak yang meresapi kisahnya bisa menemukan kebangkitan.

Ada kalanya, saudara yang jarang pulang di tahun-tahun sebelumnya, tiba-tiba lebaran ini datang. Dan ia punya segudang kisah hidup inspiratif pada anak-anak dan remaja di kampungnya. Yang bisa jadi satu atau dua anak yang meresapi kisahnya bisa menemukan kebangkitan.

Saya punya cerita seperti ini. Beberapa tahun lalu, seorang laki-laki datang saat lebaran. Saya bahkan belum pernah melihat lelaki itu. Atau saya tidak ingat karena saat laki-laki itu masih hidup di kampung halaman, saya masih kecil sekali dan masa itu tak bisa diingat di usia saya berikutnya. Lelaki itu adalah adhik kandung ibu saya, datang bersama istri dan anaknya. Ia sukses di perantauan. Dari kisah hidup orang yang tak saya duga hadir di dan menginap di keluarga kami selama seminggu itu, saya mengalami kebangkitan. Salah satu kata-kata yang saya ingat adalah: “Pokoknya kamu harus sekolah terus, Ni. Nanti kalau ada apa-apa, Paklik siap membantu”.

Dari kisah hidup orang yang tak saya duga hadir di dan menginap di keluarga kami selama seminggu itu, saya mengalami kebangkitan.

Lelaki yang pernah sekolah di Solo dan bisa ndalang itu memberi kabar dan duit pada keluarga kami. Dan yang terlebih penting adalah memberi harapan. Saat itulah, hidup saya tak lagi putus asa di masa kanak-kanak. Saya lupa itu lebaran tahun berapa. Sebuah perjumpaan dari kegiatan mudik yang tampaknya mengubah hidup saya selanjutnya. Yang membuat saya giat belajar sejak masuk sekolah menengah. Yang membuat saya suka membaca dan berpikir di masa-masa selanjutnya.

(Subuh hari, lebaran keempat, Kaki Gunung Jabung, 18/06/2018)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here