Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 35

Tiga Tingkatan Orang Berpuasa Menurut Imam Ghazali

0

Alangkah ruginya orang yang puasa jika dari puasanya itu ia hanya mendapatkan lapar saja, hanya gara-gara kita tidak disiplin dalam mengimplimentasikan puasa itu sendiri. Kita berpuasa, tadarus, tarawih, dan ibadah sunnah lain di bulan suci Ramadhan. Namun mulut kita sering mengecewakan orang lain, tulisan tangan kita di media sosial acapkali guyonan saja tanpa nutrisi ilmu yang menggores hati para pembaca.

Kampusdesa.or.id–Jumat pagi (24/04) kemarin penulis ditelfon oleh pihak takmir masjid al-Hidayah untuk menjadi Khotib Jum’at. Karena pihak yang berkewajiban berhalangan hadir, akhirnya penulis diminta menjadi badal (pengganti) nya.

Karena hari ini, hari perdana umat Islam mengawali ibadah bulan suci Ramadhan, penulis mengutip sebuah firman Allah SWT.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS.al-Baqarah:183)

Mari kita cermati ayat di atas. Dalam ayat tersebut Allah menyeru orang beriman saja, bukan seluruh manusia. Jadi siapapun yang merasa dirinya beriman maka ia wajib memperhatikan seruan tersebut.

Sungguh aneh, manakala ada oknum politisi tertentu meminta kepada MUI dan organisasi keagamaan untuk mengeluarkan fatwa agar tidak usah berpuasa di tengah merebaknya wabah Covid-19.

Sungguh aneh, manakala ada oknum politisi tertentu meminta kepada MUI dan organisasi keagamaan untuk mengeluarkan fatwa agar tidak usah berpuasa di tengah merebaknya wabah Covid-19.

Ada tiga tingkatan puasa menurut Hujjatul Islam al-Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin nya,

Pertama, puasanya orang kebanyakan yaitu hanya menahan dari makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar shadiq hingga tenggelamnya matahari.

Tingkatan kedua adalah puasanya orang khusus. Dalam konteks ini, yang puasa tidak hanya mulut an sich namun juga seluruh anggota badan mulai dari mata berpuasa dengan melihat sesuatu yang diharamkan, telinga berpuasa dari mendengar gosip yang tidak jelas, mata berpuasa dari pandangan yang dilarang, tangan berpuasa dari tulisan status yang membuat resah orang lain.

Dan tingkatan ketiga adalah puasanya orang yang paling khusus (VVIP). Inilah puasanya para Nabi dan para Shiddiqin. Mereka bukan hanya mulut dan tubuhnya yang berpuasa, namun hatinya juga berpuasa dari sifat dengki, iri hati, takabbur, dan lain sebagainya.

Dari paparan di atas kita bisa memberikan asessment kepada kualitas puasa kita selama ini, apakah puasa kita termasuk kategori puasanya orang awam, puasanya VIP, atau puasanya kelas VVIP.

Ada satu penggalan hadits yang perlu kita renungkan,

“Berapa banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan dari puasanya melainkan rasa lapar….”(HR. Ahmad)

Alangkah ruginya orang yang puasa jika dari puasanya itu ia hanya mendapatkan lapar saja, hanya gara-gara kita tidak disiplin dalam mengimplimentasikan puasa itu sendiri. Kita berpuasa, tadarus, tarawih, dan ibadah sunnah lain di bulan suci Ramadhan. Namun mulut kita sering mengecewakan orang lain, tulisan tangan kita di media sosial acapkali guyonan saja tanpa nutrisi ilmu yang menggores hati para pembaca.

Catatan Seorang Santri

0

Karya: Muhammad N. Hassan (Mohd Enha)

Selepas Subuh, di pesantrenku
Tak lagi terdengar nyaring suara toa surau
Kini pesantren tiba-tiba sepi tak berpenghuni
Ke mana mbakyu dan kang-kang santri pergi
Tak ada senandung bacaan tasrifan
Yang biasa serentak diiringi tepuk dan ketukan
Tak ada mendayu-dayu shalawat burdah
Hanya bunyi kicau burung gereja di musholah
Kurindu baris antrian mandi menjelang maghrib
Kurindu Pak Kyai mengajar ngaji fathul qorib
Kurindu asyiknya makan bareng tradisi talaman
Kurindu selepas jamaah shalat masih boleh salaman

Semua berubah karna wabah corona
Menjadikan para santri di rumah saja
Yaa Allah, semoga virus ini lekas lenyap
Agar Ramadhan tahun ini tak berasa senyap

Bangkok, 02 Ramadhan 1441 H

Bakti Kepada Orangtua, Perjalanan Cinta yang Tidak Akan Pernah Usai

0

“Nggene mbah utine ki lak macak sing apik, ganti klambi kono (ke tempat nenek itu dandan yang bagus, ganti baju sana)” , kata ibu. Tapi kan beliau sudah ndak bisa liat kita lagi, batinku, kala itu. Tanpa banyak bicara, aku hanya mengiyakan dan langsung mengganti baju dan bersiap untuk berangkat. Kami berangkat bersama, hanya berjalan kaki, karena tempat beliau tidak jauh. Pun jua, hati kami akan selalu dekat. Tiba-tiba saja…

Kampusdesa.or.id–Ramadhan telah kembali menyapa kita tahun ini. Waktu begitu cepat berlalu. Setiap tahunnya, pasti ada kesan yang melekat, begitu pula tahun ini yang masih saja erat kaitannya dengan COVID-19. Bagaimanapun, Tuhan selalu memberikan kita pelajaran di setiap keadaan, andai kita pandai menelaahnya.

Berbicara perihal pelajaran, tiba-tiba saja aku teringat bagaimana cara ibu merawat embah. Tidak banyak bicara, santun, teduh. Ah sejuk.

Ibu selalu mengajarkan kami untuk selalu mendahulukan mbah kung dan mbah uti. Apapun itu. Dan kini, hal itu telah melekat kepada kami, putra putrinya.

“Lak mari masak ki, wong tuone dijupukne disik (kalau setelah masak, orangtua diambilkan duluan)”. Bukan hanya itu, setiap kali ibu selalu mengajarkan kami betapa pentingnya sopan dalam berbicara dan santun dalam bertingkah laku.

Mbah kung yang memang sudah sepuh, pendengarannya tidak lagi sebaik dulu. Ketika ibu berbicara, seringkali harus mengulang beberapa kali. Aku memperhatikan. Tidak ada keluhan sama sekali. Jika aku melihat salah satu adik ibu yang mengeraskan suaranya ketika berbicara dengan embah, maka yang ibu lakukan adalah mendekatkan lisannya ke telinga mbah kung. Ah, sendu.

Belum lagi ketika ibu selalu menjadi pendengar yang baik untuk mbah kung di tengah kesibukan pekerjaannya, juga mengurus kami. Ditambah lagi, kami yang seringkali membuatnya jengkel dan kewalahan.

Aku masih memperhatikan bagaimana cara ibu merawat mbah kung. Seringkali ibu menengok ke kamar mbah kung, membetulkan selimutnya, juga mengganti gelas air putih yang sudah habis dan mengisinya kembali.

Benar saja jika orangtua merupakan role model yang paling tepat bagi putra putrinya. Mengapa demikian? Dahulu, mbah buyut (ibu dari mbah uti), kami biasa memanggil beliau dengan mbah yut, ketika masih ada, mbah uti pun melakukan hal yang sama. Meski rumahnya berbeda, tidak jarang mbah uti membuatkan masakan sesuai dengan keinginan mbah yut.

Bahkan setiap pagi pun, mbah uti sering bertanya kepada mbah yut perihal masakan apa yang diinginkannya nanti. Ah, romantis sekali. Aku masih mengingat bagaimana mbah uti begitu mencintai ibunya, persis bagaimana ibuku berbakti kepada mbah kung dan mbah uti dengan cintanya yang melimpah ruah.

Tiada sedikitpun keluh kesah. Semua dilakukannya hanya untuk mengharap ridlo dari Sang Maha Abadi. Seringkali aku berpikir, bagaimana perempuan bisa setegar itu. Lantas tiba-tiba saja hatiku bertanya, sanggupkah kelak aku berbakti sedemikian cintanya sebagaimana ibuku kepada mbah kung dan mbah uti?

Lagi-lagi teladan memang sangatlah penting. Meski manusia tidak mungkin tanpa cela, tapi aku mengantongi banyak sekali intisari kehidupan dari mbah kung dan mbah uti. Utamanya adalah bagaimana bisa mendidik putra dan putrinya agar bisa menjadi sedemikian cintanya kepada beliau. Lima putri dan satu putra, dan semuanya berhasil. Bahkan salah satu menjadi penghafal al-Quran.

Selain itu, aku juga belajar perihal ibadah yang akan dihisab pertama kali kelak, iya shalat tepat waktu. Seringkali kami lari terbirit-birit ketika mendengar sandal mbah kung berjalan menuju kami. Padahal waktu itu kami masih bermain-main dan menonton televisi. Iya, anak kecil jaman dulu bukankah hanya seperti itu? Belum ada smarthphone, apalagi mobile legend dan tik-tok.

Mbah kung sangat keras jika perihal shalat. Selalu mengajarkan kami fii awaali waqtiha (di awal waktu). Jika mbah kung selesai shalat dan wirid (padahal wiridnya lama sekali) masih ada saja yang belum shalat wajib, ya siap-siap saja mendapatkan teguran keras sepanjang hari.

Belum lagi ketika kami murajaah namun suaranya kurang lantang. Pernah suatu ketika kami saling menyimak satu sama lain (saya bersama adik-adik). Lalu mbah kung menuju ke tempat kami. Langsung saja kami ditegur karena suara kami kurang jelas dan keras.

Secara tidak langsung, apapun yang mbah kung dan mbah uti ajarkan kepada ibu telah mendarah daging dalam diri kami. Dan kini, hal itupun mengalir dalam diri kami. Iya, teringat jelas sedetail apapun itu, kami ingin mencontoh perilaku-perilaku baik beliau.

Hari ini kami hendak berkunjung. “Nggene mbah utine ki lak macak sing apik, ganti klambi kono (ke tempat nenek itu dandan yang bagus, ganti baju sana)” , kata ibu. Tapi kan beliau sudah ndak bisa liat kita lagi, batinku, kala itu. Tanpa banyak bicara, aku hanya mengiyakan dan langsung mengganti baju dan bersiap untuk berangkat. Kami berangkat bersama, hanya berjalan kaki, karena tempat beliau tidak jauh. Pun jua, hati kami akan selalu dekat.

Lima menit kemudian kami tiba. Teduh nan damai. Seperti inikah yang disebut tempat istirahat? Sebelum masuk, kami mengucapkan salam kepada para leluhur kami, juga kepada mbah uti. Tampaknya beliau senang karena hari ini kami berkunjung. Kami membawa bunga sedap malam untuk tempat istirahat mbah uti.

Ternyata aku salah, mbah uti bahkan lebih dari sekedar bisa melihat kami. Tentu ruhnya bahagia melihat kami berkunjung untuk sekedar menyampaikan rindu. Kini, hanya tersisa mbah kung yang menjadi penyejuk hati kami, dan kami berharap beliau sehat selalu dan panjang umur.

Mbah uti telah lama bertemu dengan Sang Maha Cinta, lima tahun yang lalu. Iya, saat tiba-tiba aku mendapatkan kabar bahwa beliau telah tiada. Sangat tiba-tiba, karena sedari pagi beliau baik-baik saja. Begitulah ketika maut menjemput, tidak ada yang bisa menawar, juga tidak akan pernah mungkin bisa diprediksi.

Lagi-lagi aku teringat bagaimana beliau mengepang rambut panjangku sembari bercerita tentang banyak hal. Mengganggu beliau ketika memasak, serta mengadu padanya ketika aku dimarahi ibu. Ah, bagaimana rindu bisa semenyakitkan ini.

Bagaimanapun, rindu yang paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada, karena kita tak lagi bisa menggapainya, melainkan hanya dengan dekapan do’a yang mulia sebagai wujud bakti kita.

Hari Buku Sedunia 2020, Apa Kabar Industri Perbukuan Nasional?

0

Di Hari Buku Sedunia 2020 ini, ternyata belum ada kabar menggembirakan dari industri perbukuan nasional. Fluktuasi masih kerap terjadi selaras dengan minat baca masyarakat yang kadang naik-turun dan cenderung masih rendah. Sungguhpun pemerintah telah berinisiatif mendorong melalui penerbitan UU Sistem Perbukuan, dampak signifikan belum kunjung terlihat. Industri perbukuan nasional masih lesu.

Kampusdesa.or.i–Di hari buku sedunia 2020 ini, sepertinya menarik jika kita berbincang mengenai geliat industri perbukuan nasional. Apalagi jika kita hubungkan dengan prestasi minat baca kita yang masih saja terseok-seok di peringkat buncit. Juga, jika kita kaitkan dengan disrupsi yang terjadi di dunia insdustri akibat masifnya digitalisasi di segala bidang kehidupan. Belum jika dikaitkan dengan dunia ekonomi, agama, sosial, dan seterusnya. Intinya, membincang ‘kabar terkini’ industri perbukuan tanah air, menarik karena bisa dipotret dari banyak sisi. Jelas tidak akan cukup untuk kita ulas di sini.

Kita awali dari angin segar yang diembuskan Kemendikbud dengan menerbitkan Undang-Undang Nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 24 Mei 2017 lalu. Regulasi ini terdiri atas 13 BAB dan 72 Pasal yang menuntut 17 Ketentuan Pelaksanaan dengan Peraturan Pemerintah dan 5 Peraturan Menteri. Jika dilihat, UU Sistem Perbukuan ini cukup komprehensif mengatur industri perbukuan dari hulu ke hilir. Ia juga mengatur indusri buku elektronik (ebook) yang hari ini terus bertumbuh.

Baca Juga: Hari Buku dan Minat Baca Pemuda Hari Ini

Sebagai langkah praktis dari UU tersebut, pada tahun 2019, Kemendikbud menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan yang disahkan pada 15 Oktober 2019 dan mulai berlaku dua hari setelahnya. Dalam PP ini pun yang diatur bukan hanya sistem penerbitan, distribusi, dan konsumsi buku, tapi juga mengatur tata laksana pembudayaan literasi melalui pelbagai cara untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap buku.

Lalu bagaimana dampak regulasi ini pada industri perbukuan nasional? Belum ada laporan resmi dari Kemendikbud maupun IKAPI terkait hal ini. Namun, kabar baik dirilis oleh Picodi.com yang menyatakan bahwa sepanjang 2018, angka permintaan buku di Indonesia masih cukup tinggi terutama menjelang akhir tahun. Di bulan Desember, jumlah penjualan bisa mencapai dua kali lipat dari angka penjualan di awal tahun. Hal ini seiring dengan adanya gebyar promo seperti Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) yang digelar oleh para pengelola marketplace.

Kabar baik lainnya juga datang dari para pengelola pameran-pameran buku (book fair) yang mengungkapkan adanya kenaikan hasil penjualan. Seperti yang dituturkan Syahruddin El-Fikri kepada Republika, Ketua Panitia Islamic Book Fair 2020, bahwa jumlah transaksi meningkat 50 persen.

Sementara itu, fenomena cukup menarik diungkapkan oleh Supervisor  Gramedia Expo Surabaya, Sari Widjayanti sebagaimana dimuat beritajatim.com. selama wabah Covid-19 ini terjadi lonjakan penjualan yang signifikan, mencapai 300 persen. Hal ini dipicu oleh banyaknya waktu yang tersedia di rumah membuat masyarakat menjadikan buku sebagai media untuk mengisi waktu tersebut.

“Fluktuasi penjualan buku amat dipengaruhi oleh gaya hidup dan minat baca masyarakat. Di era online shoping sekarang ini, pola pembelian buku masyarakat sudah mulai bergeser ke arah digital”

Fluktuasi penjualan buku amat dipengaruhi oleh gaya hidup dan minat baca masyarakat. Di era online shoping sekarang ini, pola pembelian buku masyarakat sudah mulai bergeser ke arah digital. Selain lebih praktis, biasanya diskon yang tersedia di toko online jauh lebih banyak. Di samping itu, di toko online juga tersedia menu ulasan tentang buku yang sedikit banyak meembrikan informasi mengenai buku sebelum dibeli. Sehingga makin membuat masyarakat lebih nyaman belanja online.

Selain perilaku pembelian yang bergeser ke arah digital, minat masyarakat terhadap buku juga mengalami hal yang sama. Mereka mulai menaruh minat pada buku digital atau e-book. Membaca e-book jauh lebih praktis daripada buku cetak atau fisik. Hanya berbekal perangkat seperti smartphone, tablet, atau perangkat khusus untuk e-book seperti Kindle dan Kobo Touch, mereka bisa membawa berbagai buku dalam satu genggaman. Apalagi banyak tersedia e-book gratis di internet. Meski begitu, jumlah peminat e-book di Indonesia masih sangat sedikit.

“Pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).”

Tantangan lain yang juga tak bisa diabaikan adalah minat baca masyarakat Indonesia yang memang masih memprihatinkan. Menurut temuan UNESCO yang dikutip laman Kemenkominfo, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Riset lain bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

Rendahnya minat baca ini membuat masyarakat kurang berminat membeli buku. Dalam pandangan sebagian besar dari mereka, buku merupakan barang mahal dan kurang begitu penting. Meski harganya jauh lebih murah dibandingkan baju dan makanan serta minuman yang mereka nikmati saat kongkow. Lagipula di era big data sekarang ini, akses informasi jauh lebih mudah dan cepat melalui smart phone. Alhasil, daripada membeli buku, mending uang digunakan untuk membeli paket data.

Anggapan masyarakat ini kadang makin didukung dengan peningkatan harga akibat rantai penyaluran buku dari penerbit ke toko buku harus terlebih dahulu melalui distributor. Hal ini sebagai langkah antisipasi gerai toko buku terhadap penerbit yang tidak konsisten produknya., karena dianggap sangat mengganggu dalam manajemen toko modern semacam Gramedia. Pola ini yang masih berlaku hingga sekarang, dan kerap menjadi faktor penghambat tumbuhkembang industri perbukuan nasional.

Peran Gender di Tengah COVID-19, Sudahkah Keduanya Saling Melengkapi

0

Sesungguhnya dalam konsep gender bukan lagi persoalan laki-laki ataupun wanita, namun dapat terjadi atau dilakukan oleh kedua belah pihak yang saling memiliki kepedulian terhadap feminis. Tidak ada pembedaan dari segi tanggung jawab, semua harus mengedepankan sikap saling melengkapi diantara keduanya. Bahkan sejatinya, peran wanita jauh lebih berat dan lebih banyak jika dibandingkan dengan lelaki.

Kampusdesa.or.id–Peran gender pada masa pandemi Covid-19 dapat terbilang begitu urgent posisinya. Sekalipun pada masa sebelumnya bukanlah suatu hal yang asing. Meskipun sejak zaman pasca nomaden wanita memiliki peran di luar maupun di dalam, sesungguhnya di dalam konsep Islam kedua hal tersebut bukanlah menjadi sebuah pembeda. Dalam arti konsep yang menjurus bahwa wanita harus di dalam (di rumah) secara utuh tidak sepenuhnya demikian.

Konsep mubadalah yang bermakna sebagai keseimbangan membuktikan bahwasanya peran gender tidak lagi terfokus pada satu sisi yang mengharuskan hanya mengurus urusan rumah, namun bisa jadi wanita melakukan hal-hal yang menunjang karirnya di luar. Hal ini bukan berarti untuk bersaing dalam mengunggulkan posisi wanita dengan lelaki. Sesungguhnya dalam konsep gender bukan lagi persoalan laki-laki ataupun wanita, namun dapat terjadi atau dilakukan oleh kedua belah pihak yang saling memiliki kepedulian terhadap feminis.

Akibat dari Covid-19 dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Pemerintah sebagai langkah mencegah penyebaran virus tersebut.

Melihat fenomena yang sedang melanda baik negara maju, berkembang, maupun miskin bisa saja terserang oleh Covid-19. Dari hari ke hari berbagai lini informasi menyampaikan jumlah kasus, korban positif, korban meninggal disebabkan Covid-19. Kita mengetahui dan merasakan sendiri bahwasanya dampak dari pandemic Covid-19 pun tidak hanya tertuju pada bidang kesehatan namun diikuti juga berbagai persoalan seperti ekonomi, pendidikan, sosial, dan lain sebagainya. Yang sedang dirasakan oleh masyarakat kita saat ini munculnya perasaan takut yang berlebihan, ketakutan akan kelaparan, ketakutan akan kematian, ketakutan akan tertimpa kemiskinan.

Akibat dari Covid-19 dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Pemerintah sebagai langkah mencegah penyebaran virus tersebut. Dengan begitu maka muncullah kepedulian-kepedulian dari berbagai golongan,solidaritas untuk saling bahu membahu dalam membantu orang-orang yang dirasa membutuhkan. Pada awal-awal mungkin banyak yang membantu dari segi kelengkapan medis. Namun semakin ke sini banyak berbagai solidaritas yang mulai mempedulikan kepada para pekerja yang memang benar-benar saat ini sulit untuk mendapatkan pekerjaannya. Tentunya melalui berbagai hal seperti dalam pemberian sembako, makanan, atau bahkan kelengkapan kesehatan seperti masker dan sanitizer.

Perlu disadari bahwa semua memiliki peran androgini atau setiap orang memiliki karakter maskulin dan feminis.

Berbagai masalah pun mulai muncul sesungguhnya banyak sekali kerugian-kerugian yang dialami oleh negara karena Covid-19. Terlepas dari itu semua peran gender di dalam rumah tangga harus dibangun dengan mengusung konsep keseimbangan. Baik dari kaum laki-laki maupun perempuan harus berpondasi atau harus menyadari bahwasanya Covid-19 ini adalah pandemic, bencana yang dialami oleh kita semua.

Perlu disadari bahwa semua memiliki peran androgini atau setiap orang memiliki karakter maskulin dan feminis. Tidak ada pembedaan dari segi tanggung jawab, semua harus mengedepankan sikap saling melengkapi diantara keduanya. Pada situasi saat ini yang dibutuhkan adalah sikap saling mengerti dan saling membantu dalam penyelesaian tugas.

Sesungguhnya peran wanita jauh lebih berat dan lebih banyak jika dibandingkan dengan lelaki. Dalam urusan rumah tangga khususnya, mulai dari urusan dapur, mengurus anak, mengurus rumah, belum lagi bagi mereka yang berkarir harus mengurus pekerjaannya. Sementara kebanyakan dari kaum lelaki yang dikerjakan adalah tanggung jawab dalam urusan menafkahi. Saat ini dunia sedang menunjukkan dan menyadarkan peran yang sesungguhnya baik dari kaum laki-laki maupun perempuan.

Dari sinilah perlu kesadaran yang tinggi bagaimana saling bergotong royong mengurus apa-apa yang dikerjakan dari rumah. Contoh kecil yang dapat dilakukan di rumah seorang wanita harus berurusan dapur maka setidaknya untuk meringankan bebannya membantu dalam hal menyiapkan dalam membimbing anak untuk belajar secara daring/online. Dengan adanya instruksi untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah perlu sebuah manajemen yang mana di dalamnya bagaimana seorang wanita dan lelaki berbagi tugas dalam rumah tangga.

Dari kejadian yang menimpa saat ini, maka dapat disimpulkan menjadi 3 typologi : pertama, relasi gender yang timpang, kedua, relasi yang memahami dengan kondisi, dan yang ketiga kebiasaan. Memahami typology yang pertama bahwa relasi gender yang timpang ketika hubungan antara wanita dengan lelaki dalam rumah tangga terjadi karena berat beban lebih pada wanita. Kemudian pada typology kedua relasi yang memahami kondisi bahwasanya dalam situasi seperti ini beberapa dari pasangan rumah tangga saling memahami terhadap pandemi Covid-19. Typology yang ketiga kebiasaan, peran wanita yang memang sejak dahulu sudah lebih banyak maka dengan situasi seperti ini bukan suatu hal yang perlu dihadapi dengan gegabah.

Melalui konsep mubadalah bahwasanya keberadilan sangat dibutuhkan dalam rumah tangga, melihat situasi saat ini sesungguhnya harus sangat berhati-hati. Mengapa hal demikian harus diperhatikan, ketika semua dilakukan dari rumah maka seharusnya yang lebih dibangun adalah hubungan yang harmonis, yang saling memahami, mengasihi dan menyayangi. Jika konsep keberadilan ini tidak dipahami kemungkinan yang akan terjadi adalah munculnya kekerasan dalam rumah tangga. Dengan konsep tersebut mengajarkan seseorang untuk bagaimana memandang orang lain seperti dirinya sendiri. Maka dari itu inti dari pada pandemic Covid-19 ini mengajarkan kepada kita bahwa semuanya harus memiliki kesadaran, solidaritas, dan juga empati antar sesama.

Open PO Buku Kumpulan Cerpen “Bukan Kehilangan” Buruan Sebelum Kehabisan!

0

Kampusdesa.or.id-Kadang apa yang kita sangka sebagai kehilangan, ternyata tak sepenuhnya benar. Kita hanya sedang beranjak dari masa lalu, untuk menemukan masa depan.

Buku kumpulan cerpen karya anggota komunitas KBM Bojonegoro ini mengajarkan kita bagaimana melangkah dari masa lalu untuk menemukan masa depan itu. Dibungkus dengan kisah para tokoh utamanya yang mengharu-biru, membuat kisah-kisah dalam buku ini sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Segera hubungi kontak yang tersedia untuk PO, persediaan terbatas.

Hari Buku dan Minat Baca Pemuda Hari Ini

0

Melalui tulisan ini dihimbau kepada masyarakat khususnya para pemuda hari ini termasuk saya pribadi harus mulai sadar betapa pentingnya membaca buku dan berjanji kepada diri sendiri untuk membaca buku miminal satu jam (kurang lebih 100 halaman). Syukur-syukur diinisiasi adanya gerakan “one day one book” pasti keren plus mantab sekali.

Kampusdesa.or.id–Ada pepatah mengatakan bahawa “buku adalah jendela dunia”. Oleh karena itu buku merupakan suatu alat yang penting sebagai sumber ilmu yang tak pernah kering sepanjang masa. Dengan membaca buku kita akan menambah pengetahuan tentang apa yang ada dan sedang terjadi di dunia ini, sehingga banyak informasi yang akan kita dapatkan dari membaca buku. Dengan demikian United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) ingin mengkampanyekan pentingnya membaca buku melalui Hari Buku Sedunia yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 23 April yang jatuh tepat pada hari ini.

Mengutip keterangan dalam Okezone.com, Hari Buku Sedunia atau kadang juga disebut sebagai Hari Hak Cipta ini dipilih tanggal 23 April oleh UNESCO untuk memberi penghormatan kepada tiga penulis (tokoh sastra) besar William Shakespeare, Miguel Cervantes dan Inca Garcilaso de la Vega yang meninggal pada hari ini. Tanggal ini ditetapkan untuk pertama kalinya pada tahun 1995 di UNESCO General Conference, yang diadakan di Paris, untuk menghormati penulis buku dan meningkatkan minat membaca serta kecintaan terhadap buku di seluruh dunia.

Meski telah ditetapkan UNESCO sejak tahun 1955, seperti yang dilansir oleh beritabaik.id peringatan Hari Buku Sedunia ini baru dimulai di Indonesia pada tahun 2006 yang diprakarsai oleh Forum Indonesia Membaca. Peringatan Hari Buku Sedunia ini dibuat dengan harapan dapat meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

Tidak lama ini, Jumat (03/04/2020) lalu saya dihubungi wartawan Radar Lamongan -Jawa Pos Group untuk bercerita mengenai pengalaman di dunia tulis menulis (jurnalistik) dan sedikit pandangan terkait minat menulis dan membaca anak muda jaman sekarang. Khususnya pemuda-pemudi di Kabupaten Lamongan.

Dalam topik serupa sesungguhnya pernah saya ulas dalam sebuah tulisan panjang di website Gerakan Perpustakan Anak Nusantara (GPAN), sebuah komunitas peduli pendidikan dan literasi yang didirikan oleh kawan saya Imam Arifa’illah Saiful Huda. Di sana saya berbagi kisah terkait tingkat minat baca penduduk negara di ASEAN, peran perpustakaan, dan beberapa tawaran solusi alternatif menghadapi masalah kurangnya minat baca di Indonesia.

Berdasarkan data Most Littered Nation In the World yang dikutip oleh blog Ruang Guru, studi untuk mencari tahu seberapa tinggi minat baca negara-negara di dunia pernah dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) pada Maret 2016 lalu, memang negara Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Data ini bertolak belakang dengan peringkat negara yang memiliki jumlah perpustakan terbanyak di dunia. Indonesia ternyata menduduki urutan ke-2 setelah India disusul Rusia dan Tiongkok.

Terdengar miris sih memang. Kalau mau curhat, beberapa kawan saya baik di Malang, Jogja, dan Lamongan punya gerakan literasi atau rumah baca, baik yang di jalan maupun di perpustakaan mandiri pun mengeluhkan hal yang sama. Rupanya tidak banyak dan seramai lapak lain. Pun kalau ada pengunjung, buku yang diminati rata-rata yang bergambar. Itu juga hanya dilihat gambar-gambarnya saja. Ketika saya ke Perpustakaan kota, barangkali hanya bisa dihitung jari orang yang datang membaca di sana. Kecuali pas ada acara pasti terlihat lebih ramai dan rata-rata juga usia anak sekolah SD-SMA.

Tentu ini menjadi PR kita bersama. Apalagi hadirnya teknologi informasi cukup berpengaruh. Melek literasi telah terhambat oleh internet dan media sosial. Aktifitas membaca buku secara tidak langsung juga berkurang karena munculnya literasi digital sekarang ini. Dan dengan beralihnya literasi digital beranggapan menjadikan orang lebih memilih praktis dan mudah dibanding buku asli. Kemampuan menulis gagasan sendiri juga menurun. Karena kebanyakan orang sudah malas, lebih suka yang instan, googling, copy-paste, trus share. Itulah salah satu alasan saya menulis buku di wattpad berjudul “Literasi Digital: Kesadaran dan Analisa Literasi Masa Kini” berisi 38 Bab (tapi belum tuntas).

Mau tidak mau harus diakui, pelajar atau mahasiswa saat ini lebih mengandalkan gadget mereka dan memanfaatkan internet sebagai sumber dari tugas mereka daripada mencari berbagai sumber buku yang tersedia di perpustakaan. Uang jajan yang disisihkan lebih sayang jika dibelikan buku daripada untuk beli kuota agar bisa main game online.

Munculnya hiburan berupa permainan yang menyita waktu ini juga menyebabkan turunnya minat baca seseorang dan menjauhkannya dari buku. Sehingga saya tidak menganjurkan orang tua membelikan gadget kepada anak sejak usia dini. Mending dikenalkan dengan buku-buku yang bermanfaat dan dibacakan dongeng. Maka secara tidak langsung akan mulai familiar dengan dunia baca buku. Sehingga nanti ketika tumbuh dewasa harapannya memiliki minat baca yang tinggi.

Munculnya hiburan berupa permainan yang menyita waktu ini juga menyebabkan turunnya minat baca seseorang dan menjauhkannya dari buku. Sehingga saya tidak menganjurkan orang tua membelikan gadget kepada anak sejak usia dini. Mending dikenalkan dengan buku-buku yang bermanfaat dan dibacakan dongeng. Maka secara tidak langsung akan mulai familiar dengan dunia baca buku. Sehingga nanti ketika tumbuh dewasa harapannya memiliki minat baca yang tinggi.

Upaya ini sangat penting sekali, dikarenakan tinggi-rendahnya minat baca dalam sebuah negara akan sangat mempengaruhi kualitas pendidikan di negara tersebut. Semakin tinggi minat baca masyarakat di sebuah negara maka akan semakin tinggi pula kualitas pendidikan yang dimiliki negara tersebut, begitu pula sebaliknya.

Adanya Hari Buku Sedunia (World Book Day) harus dijadikan sebagai interopeksi bersama dan mengubah habit. Tidak hanya diperingati dengan mengadakan kegiatan membaca buku serentak pada tanggal 23 April itu saja atau cuma melaksanakan Bazar Buku dengan menawarkan beragam diskon. Kegiatan tersebut bagus, namun seperti hanya seremonial belaka. Melalui tulisan ini dihimbau kepada masyarakat khususnya para pemuda hari ini termasuk saya pribadi harus mulai sadar betapa pentingnya membaca buku dan berjanji kepada diri sendiri untuk membaca buku miminal satu jam (kurang lebih 100 halaman). Syukur-syukur diinisiasi adanya gerakan “one day one book” pasti keren plus mantab sekali.

Merdeka Belajar di Tengah COVID-19, Benarkah Anak Hanya Sebatas Burung Dalam Sangkar?

0

Merdeka belajar merupakan semangat baru di dunia pendidikan. Guru diharapkan mampu menjaga ghiroh tersebut meskipun musibah COVID-19 telah merubah tatanan pendidikan. Sekolah yang secara infrastruktur menjadi tempat interaksi guru dan murid, kini teralihkan menggunakan jejaring virtual. Study from home merupakan garis besar model pembelajaran saat ini. Pemberian tugas secara online membuat siswa terjebak dalam passive learning.

Kampusdesa.or.id– Implementasi merdeka belajar juga membutuhkan bantuan teknologi komunikasi. Saat ini, Komputer, smartphone dan Televisi merupakan media pembelajaran yang paten untuk mensukseskan study from home. Seluruh jenjang pendidikan dari SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi menggunakan ketiga alat elektronik tersebut. Pola transfering knowledge tidak terlalu bervariasi, guru membagikan tugas kepada siswa dengan membatasi durasi waktu pengumpulannya. Sebagian guru ada yang hanya memberikan soal saja sementara yang lainnya memberikan pembahasan berbentuk video tutorial atau kelas online melalui Whatsapp. Metode pengajaran menjadi sangat simple dan praktis. Pertanyaannya apakah mencerdaskan anak manusia mejadi semudah itu?

Merdeka belajar yang digagas oleh Mas Menteri Nadiem Makariem merupakan wujud dari pendidikan kontruktivisme sehingga pola pengajaran berpusat pada siswa. Siswa dituntut aktif sementara guru bertindak sebagai fasilitator. Model seperti ini cocok jika diterapkan dalam kondisi normal, tidak tepat jika student centered diunggulkan ketika physical distancing masih menjadi fokus negara berperang melawan wabah COVID-19.

“ Penekanan proses belajar di rumah bukan terletak pada tugas online harian  akan tetapi lebih kepada kualitas dan akses antara guru dan murid ketika berinteraksi jarak jauh “

Merdeka belajar versi mas menteri sangat erat kaitannya dengan active learning, bahkan active learning secara definitif merupakan merdeka belajar itu sendiri. Karakteristik active learning ditunjukkan dengan ketertarikan siswa dalam proses belajar, siswa mengerjakan apa yang bermakna bagi mereka. Kata kuncinya adalah kegairahan siswa untuk belajar dan keterikatan siswa dalam proses belajar mengajar. Ketika siswa sudah dapat mengarahkan dirinya untuk senantiasa belajar, maka tempat tanpa atap atau gedung bertingkat bukan lagi hambatan untuk mengembangkan kreativitas siswa. Umumnya, kemampaun self directed learning mulai berkembang pada usia pendidikan tinggi atau SMA. Sehingga study from home akan menjadi kendala bagi anak yang usianya di bawah mereka.

Berbicara study from home maka otomatis kita berbicara teknologi. Ketersediaan dan pemahaman penggunaan teknologi menjadi pintu utama pembelajaran online. Technology Readiness harus dimiliki juga oleh orangtua, kenapa harus orangtua? sebab tidak semua siswa siap akan hal itu, pelajar jenjang SD dan SMP sejauh ini lebih mahir menggunakan smartphone untuk gaming dan chating daripada media belajar. Jika orangtua buta teknologi maka study from home menjadi pincang, terlebih lagi bagi keluarga yang tidak memiliki media elektronik maka study from home di tengah karantina wilayah akan menjadi sangkar burung bagi anak anaknya.

Technology Readiness merupakan kecenderungan individu untuk menangkap hal hal baru mengenai teknologi yang bertujuan untuk pemenuhan target belajar. Moftakhari (2013) dan Piskurich (2003) menemukan bahwa kesiapan siswa dalam menggunakan teknologi akan meningkatkan potensi sukses siswa dalam E-learning. Dengan begitu ada kemungkinan merdeka belajar dapat efektif melalui daring.

Mayer (2004) mendukung  pendidikan kontruktivisme, dengan catatan bahwa merdeka belajar hanya bisa diimplementasikan dengan active teaching. Berbeda dengan konsep awal, guru tidak hanya sebagai fasilitator, tetapi guru perlu peka bagaimana melibatkan siswanya dalam belajar. Inilah hal yang luput dari pandangan tenaga pengajar, yaitu efektifitas pengunaan multimedia dalam pendidikan jarak jauh.

Black dalam Desmon (2005) menuturkan bahwa kesuksesan pembelajaran jarak jauh dapat dilihat dari  kualitas transaksi pendidikan antara guru dengan murid. Ada komunikasi dua arah dalam proses tersebut. Maka paradigmanya bukan student centered atau teacher centered lagi, akan tetapi kolaborasi antara keduanya. Pandemi COVID-19 sedang menguji hubungan mutualisme guru dan murid, keinginan untuk belajar dan mengajar harus terbit dari kedua pihak.

“Pandemi COVID 19 sedang menguji hubungan mutualisme guru dan murid, keinginan untuk belajar dan mengajar harus terbit dari kedua pihak.”

Lantas bagaimana caranya mengoptimalkan pendidikan jarak jauh  dengan memanfaatkan multimedia?

Cognitive Theory of Multimedia Learning (CTML) merupakan buah pemikiran Ricahrd E. Mayer (2005). Teori ini menjelaskan bahwa sebenarnya multimedia akan membantu individu lebih efisien dalam belajar. Siswa akan lebih mudah mengingat kombinasi kata dan gambar daripada hanya tulisan guru di papan tulis. Hal itu terjadi sebab sensory memory manusia akan menyeleksi tumpukan informasi dan mengolahnya menjadi gambar viual dan gambar suara, kemudian diteruskan menjadi sebuah pengetahuan baru di long term memory.

Framework CTML
Framework CTML

Justru yang terjadi di lapangan hanya sekedar tanya jawab yang diudarakan melalui sistem online, tidak menyinggung prinsip mulitmedia yang seharusnya membantu siswa. Dari dua belas prinsip, Mayer (2009) meringkasnya menjadi tiga jenis framework, yaitu:

  1. Mengurangi hal hal yang tidak berkaitan dengan materi.
  2. Fokus pada materi yang penting saja.
  3. Memaksimalkan pada hal yang menarik bagi siswa.

Begini contoh praktisnya, anggap saja guru akan mengajarkan pelajaran sejarah “R.A Kartini” via Whatsapp. Maka guru bisa membuat infografis tentang R.A Kartini, dalam infografis tersebut porsi foto R.A Kartini harus lebih besar, karena itulah mind idea pembelajaranya. Kemudian sisipi foto dengan ukuran lebih kecil peninggalan beliau seperti foto rumah, foto perserikatan dan foto surat habis gelap terbitlah terang. Dibawah foto tersebut ketik maksimal tiga kalimat untuk mendeskripsikan gambar tersebut. Pasti siswa akan mudah menghafal serta memahami sejarah singkat R.A Kartini. Apakah hanya itu? tentu saja tidak.

Dalam The Cambridge Handbook of Multimedia Learning (2005), Mayer menjelaskan beberapa prinsip yang lain, yaitu:

  1. Prinsip animasi dan interaktif
  2. Prinsip usia kognitif
  3. Kolaborasi
  4. Navigasi
  5. Bimbingan discovery
  6. Self explanation & site map

Singkatnya, konsep pendidikan jarak jauh harus melakukan follow up terhadap tugas atau pelajaran yang diberikan. Interaksi yang berkelanjutan berfungsi sebagai kontrol guru dan siswa untuk menghindari fallacy terhadap materi. Bisa dilihat prinsip diatas, ada kolaborasi, navigasi serta bimbingan oleh guru meskipun terpisah layar digital.

Seperti contoh tadi, mau diapakan infografis R.A Kartini tersebut, apa hanya berhenti di soal tanya jawab saja? Jika iya, maka siswa sudah terjebak dalam banking concept. Selain itu site map adalah unsur dari keberhasilan multimedia, ketika siswa tidak bisa memahami apa, mengapa dan bagaimana implementasi pelajaran sejarah R.A Kartini, maka passive learning kembali terjadi, suatu penjajahan dalam pendidikan yang sejak abad delapan belas digugat oleh Paulo Friere.

Jika direnungkan, menyiapkan pembelajaran jarak jauh berbasis multimedia sangat sangat butuh keterampilan dan kegigihan. Merdeka belajar tidak sekedar membagi tugas layaknya forward pesan di Whatsapp, mengganti bungkus buku cetak dengan link e-book atau malah mengganti penjelasan guru dengan men-download tutorial di youtube. Ingat siswa siswi anda bukan mahasiswa Magister!

Merdeka belajar yang saat ini bertahan merupakan perjuangan guru yang perlu diapresiasi. Karena jerih payah mereka pendidikan di Indonesia tidak mati suri, di tangan mereka merdeka belajar masih bisa survive. Namun demikian, tidak ada gading yang tak retak, harus ada evaluasi dan pembekalan mengenai praktik pendidikan jarak jauh yang menyentuh ruh siswa. Mengingat study from home masih akan terus diselenggarakan dalam waktu yang tak dapat ditentukan, sangat disarankan guru dan orangtua meng-upgrade skillnya di bidang teknologi. Inilah kita, digital native yang tak boleh berhenti belajar, karena zaman tak pernah ragu untuk berputar. Pun jua anak cucu kita berhak untuk mendapatkan bekal yang mumpuni di masa depannya kelak.

Editor:Faatihatul Ghaybiyyah