Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 32

Psikologi Tawakal di Tengah Pandemi

0

Tawakal merupakan skap yang tepat dikedepankan saat situasi krisis seperti sekarang ini. Melalui tawakal, kita dapat memperkuat imunitas jiwa kita karena kita meyadari sepenuhnya bahwa segala sesuatu dalam hidup ini merupakan milik Allah SWT. Dengan tawakal, kita bisa tetap tenang menghadapi pandemi ini.


Kampusdesa.or.id-Kompas TV mengadakan program tausiah jelang sahur yang dihadiri oleh sekjen PBNU Jakarta mengetengahkan sebuah tema “Tawakkal ditengah Pandemi Covid-19. Program tersebut disiarkan secara langsung (live) tadi (01/05) waktu dini hari.

Penulis ngin mencoba melakukan pendekatan melalui perspektif ilmu Psikologi terhadap istilah Tawakkal. Mendefinisikan psikologi bukan merupakan hal yang mudah, karena cakupannya sangat luas sekali serta perbedaan pemikiran atau filosofi mendasar dari para ahli psikologi.

Baca Juga: Ramadhan di Rumah Aja: Jaga Iman dan Imun!

Kata psikologi muncul sekitar abad 16 yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata “psyche” yang berarti jiwa dan “Logos” yang berarti ilmu. Jika diartikan secara etemologi, psikologi adalah ilmu jiwa yang mempelajari gejala kejiwaan.

Tawakkal secara etimologi diambil dari bahasa Arab “wakkala” yang berarti lemah. Sementara secara terminologi tawakal adalah sikap yang bersandar dan menyerahkan diri segala urusan yang telah diusahakan secara totalitas hanya kepada Allah SWT untuk mendapatkan kemaslahatan (kebaikan) serta mencegah kemudaratan baik itu menyangkut urusan dunia maupun urusan akhirat.

Ada beragam pendapat di kalangan para ulama, diantaranya: Pertama, Ibnu Rajab al-Hambali mengemukakan, tawakal adalah bersandarnya hati dengan sebenarnya kepada Allah SWT dalam memperoleh kemaslahatan dan menolak kemudaratan dunia dan akhirat.

Kedua, Dr. Yusuf al-Qaradhawi berkata, tawakal adalah bagian dari ibadah hati yang paling mendalam, ia merupakan akhlak yang paling agung dari sekian akhlak keimanan lainnya. Tawakkal adalah memohon pertolongan sedangkan penyerahan secara totalitas adalah salah satu bentuk ibadah.

“Tidak sedikit dari kita merasa resah, risau, dan ketakutan berlebihan karena implikasi dari informasi yang tersebar di media sosial. Akibatnya, antibody kita menurun dan rentan terjangkit virus Corona.”

Artinya, Psikologi Tawakal merupakan kajian tentang hal kejiwaan, sikap dan tingkah laku manusia dalam penyelesaian suatu urusan kepada Allah SWT. Sikap tawakal dalam menghadapi Pandemi Covid-19 sangat penting sekali. Pasalnya, tidak sedikit dari kita merasa resah, risau, dan ketakutan berlebihan karena implikasi dari informasi yang tersebar di media sosial. Akibatnya, antibody kita menurun dan rentan terjangkit virus Corona.

Baca Juga: Rumahku Gua Hira-ku, Latihan Mindfullnes Di Rumah Saja

Penulis mengapresiasi wacana PBNU untuk mengajak warga Nahdhiyyin khususnya dan umat Islam pada umumnya untuk merefleksikan sikap tawakal (back to Allah) untuk memperkuat imunitas kekebalan tubuh kita dalam menghadapi virus Corona yang akhir-akhir ini sudah mulai mereda. Tentunya harus melalui regulasi sebelumnya yaitu usaha maksimal berupa diam di rumah, jaga jarak, cuci tangan, dan menjaga kesehatan secara berkala, dilanjutkan kemudian memohon kepada Allah agar kita semua terhindar dari covid-19.

Ramadhan di Rumah Aja: Jaga Iman dan Imun!

0

Kondisi di tengah wabah virus corona ini dengan adanya anjuran #DiRumahAja atau #StayAtHome dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PBSB) saya rasa sudah tepat untuk memutus rantai penyebaran virus. Bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun ini tidak perlu merasa susah, mari tingkatkan kelas dengan mengokohkan iman dengan banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan ibadah sekusyuk mungkin serta tetap ikhtiar menjauhi wabah penyakit. Semoga puasa kita diterima oleh Allah Swt, dapat menguatkan imun kita, dan membersihkan dari segala macam penyakit di dalam diri maupun hati.

Kampusdesa.or.id–Jika dulu ngaji di pesantren bab Risalatus Shiyam, umat muslim diberi ketentuan berupa amalan yang dianjurkan dan beserta larangan-larangannya. Banyak sekali sunnah dan anjuran dalam ibadah puasa. Seperti sahur, berbuka, tarawih, bersedekah, dan membaca al-Quran. Mengenai larangan di dalam bulan Ramadhan di antaranya tentu makan dan jima’ istri di siang hari, ghibah, boros, malas-malasan, melakukan maksiat, dan lain sebagainya.

Namun tahun ini kementerian agama menambah larangan berupa shalat tarawih jamaah di masjid, acara buka puasa bersama, dan kegiatan di luar lainnya. Anjuran di rumah saja dari pemerintah selama bulan Ramadhan karena pandemi virus corona ini dikeluarkan melalui surat edaran (SE) Menteri Agama No.6 Tahun 2020 tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 H.

Semua aktivitas peribadatan dialihkan di rumah masing-masing dan hanya dibolehkan kumpul dengan keluarga. Tidak menerima orang luar masuk rumah dan keluar membuat kerumunan. Sehingga Ramadhan tahun ini menjadi sepi berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Heuhu

Sampai-sampai saya sempat baca berita, ada kaum-kaum sotoy mengusulkan di tengah wabah virus corona ini sebaiknya MUI memfatwakan puasa ditunda atau diganti dengan bayar fidyah. Tentu usulan ini tidak berdasar sama sekali jika ruksoh (keringanan) puasa dipukul rata untuk semuanya. Karena seharusnya hanya berlaku bagi yang orang sakit dan musafir (Al-Baqarah ayat 184-185), bekerja berat, orang sudah tua, wanita haid, ibu hamil dan/atau menyusi. Orang-orang demikanlah yang boleh menunda kewajiban puasa dikarenakan udzhur syar’i dan diganti dengan membayar fidyah dan/atau melakukan qadha di lain hari sesuai dengan ketentuan fiqih.

Baca juga: Peluang Ramadan di Saat Corona

Menjaga Iman dan Imun

Masuknya bulan Ramadhan selain dianjurkan bergembira, kamaaqola ada hadits yang menyebutkan tentang bergembira menyambut Ramadhan.

ﻣَﻦْ ﻓَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﺧُﻮﻝِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨِّﻴْﺮَﺍﻥِ

“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin, meskipun haditsnya oleh sebagian ulama dinilai dhaif bahkan maudhu’).

Selain itu tugas kita sebagai manusia memang selain diminta menjaga jasmani juga rohani. Apalagi di saat dilanda wabah pandemi seperti sekarang ini. Kita dapat ambil pelajaran, beribadah di bulan Ramadhan sekaligus menghadapi pandemi menjadikan kita sadar diri akan pentingnya menjaga iman dan menjaga imun. Lebih peduli dengan kesehatan terutama saling menjaga keluarga.

Menjaga iman di sini berarti meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, tidak hanya mengerjakan ibadah wajib tapi juga menambah amalan sunna, dan meyakini bahwa di bulan Ramadhan ini pahala dilipatgandakan. Sedangkan menjaga imun maksudnya kesehatan seorang muslim sangatlah penting. Karena pola hidup sehat juga dianjurkan dalam agama Islam. Karena jika kita tidak sakit maka semangat dalam menjalankan aktivitas, terutama beribadah.

Baca juga: Benarkah Puasa Menjadkan Kita Lebih Sehat?

Berpuasa selama 30 hari bisa merangsang tubuh untuk memproduksi sel darah putih baru. Ini artinya, puasa bisa meregenerasi seluruh sistem kekebalan (immunitas) tubuh. Sistem kekebalan tubuh yang diperbarui akan semakin menguatkan tubuh untuk menangkal berbagai infeksi bakteri dan virus serta penyakit lainnya.

Apalagi menurut riset, puasa itu menyehatkan bagi tubuh dan mampu meningkatkan imunitas serta sistem kekebalan. Mengutip pendapat Ahli Gizi UGM (Universitas Gajah Mada) R. Dwi Budiningsari, SP., M.Kes., Ph.D. bahwa puasa bisa memperbaiki jaringan sel yang rusak. Berpuasa selama 30 hari bisa merangsang tubuh untuk memproduksi sel darah putih baru. Ini artinya, puasa bisa meregenerasi seluruh sistem kekebalan (immunitas) tubuh. Sistem kekebalan tubuh yang diperbarui akan semakin menguatkan tubuh untuk menangkal berbagai infeksi bakteri dan virus serta penyakit lainnya. Begitu juga banyak artikel yang menyebutkan hasil penelitian terkait manfaat puasa bagi kesehatan tubuh lainnya.

Adapun kondisi di tengah wabah virus corona ini dengan adanya anjuran #DiRumahAja atau #StayAtHome dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PBSB) saya rasa sudah tepat untuk memutus rantai penyebaran virus. Bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun ini tidak perlu merasa susah, mari tingkatkan kelas dengan mengokohkan iman dengan banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan ibadah sekusyuk mungkin serta tetap ikhtiar menjauhi wabah penyakit. Semoga puasa kita diterima oleh Allah Swt, dapat menguatkan imun kita, dan membersihkan dari segala macam penyakit di dalam diri maupun hati.

Hari Pendidikan Nasional, Tantangan dan Potensi Pendidikan di Indonesia Pasca COVID-19

Hari pendidikan nasional seyogyanya menjadi ajang instropeksi seluruh warga negara yang menginginkan kemajuan sebuah bangsa. Kunjungan COVID-19 ke tanah air telah menyingkap dua hal, menyibak tabir lusuh praktek pembelajaran dan membisikkan harapan di masa mendatang. Analisa tantangan dan Potensi pendidikan merupakan strategi awal pembenahan kualitas individu masyrakat. Pendidikan nasional kunci penting membangun negara super power bernama “Indonesia”.

Kampusdesa.or.id-Hari pendidikan nasional selalu diperingati setiap tanggal 2 Mei. Tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengusung tema “ Belajar dari Covid-19 ”. Agenda yang dihimbau ialah menonton acara HARDIKNAS di TVRI tepat tanggal 2 Mei 2020. Upacara bendera yang telah menjadi tradisi sebagaimana tahun tahun sebelumnya untuk sementara waktu ditiadakan demi mematuhi protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19. Fenomena ini juga memberi hikmah bahwa semangat HARDIKNAS tidak melulu sekedar upacara bendera, baliho, poster dan segala formalitasnya, lebih baik jika ada inovasi dan langkah praktis untuk berbenah di sektor pendidikan.

Semangat hardiknas tidak melulu sekedar upacara bendera, baliho, poster dan segala formalitasnya, lebih baik jika ada inovasi dan langkah praktis untuk berbenah di sektor pendidikan.

Di awal pemerintahan Joko Widodo jilid 2, praktisi pendidikan dengan suka cita menyambut semangat baru merumuskan konsep guru penggerak dan merdeka belajar. Tranformasi gaya belajar perlu dilakukan untuk mendongkrak prestasi dan kemandirian siswa. Belum genap setengah perjalanan, Covid-19 menekuk konsep merdeka belajar menjadi study from home via daring, bisa dikatakan pendidikan jarak jauh sangat jauh dari kata ideal. Fungsi kontrol sulit dilakukan karena tingkat keterlibatan orangtua dalam proses belajar anak yang rendah.

Pendidikan jarak jauh sangat jauh dari kata ideal. Fungsi kontrol sulit dilakukan karena tingkat keterlibatan orangtua dalam proses belajar anak yang rendah.

Keluhan wali murid dan guru terkait sistem belajar online semenjak diberlakukannya study from home membuka mata kita tentang persoalan-persoalan sekolah yang selama ini mangkir dari sorotan. Kualitas guru, keterlibatan orangtua dan implementasi kurikulum adalah tantangan yang sebenarnya sudah lama menjadi polemik sebelum datangnya Covid-19. Masa recovery pasca pandemi juga harus dipersiapkan dari sekarang.

1. Kualitas Guru

Munif Chatib penulis buku “ Sekolahnya Manusia ” menjelaskan bahwa pabrik guru di Indonesia masih bermasalah. Kampus kurang melakukan filtering terhadap calon guru, terutama pada bidang kedisiplinan dan attitude. Banyak mahasiswa yang menjadikan jurusan keguruan sebagai pilihan terakhir, mengganggap guru adalah pekerjaan yang mudah. Salah besar! Menjadi guru tak sekedar pintar, butuh kreatifitas, passion dan seni.

Teaching is Art and Science! untuk memunculkan potensi seorang siswa, seorang guru harus melakukan observasi, menganilisa, membaca, melatih, melakukan experiment strategi belajar dan mengukur academic performance siswa. Untuk melakukan itu semua apa iya guru itu orang yang gak bisa apa apa?

Upgrading skill keguruan masih kurang, banyak guru yang berhenti belajar setelah mendapat SK atau jabatan tetap. Need of Achievement guru belum terasah, kecakapan dan kesiapan teknologi masih terfokus pada guru IT. Padahal penguasaan teknologi akan sangat membantu guru menciptakan pembelajaran yang interaktif dan inovatif. Selain itu manajemen regulasi diri dan communication skill jarang dibekalkan terhadap guru. Info tahun 2016 berdasarkan Global Education Monitoring (GEM) 2016, kualitas guru Indonesia menempati urutan ke 14 dari 14 negara berkembang di Asia.

2.  Keterlibatan orangtua.

Telinga kita pasti hafal dengan istilah “keluarga adalah sekolah yang utama bagi anak”, sayangnya apa yang didengar hanya sebatas memory audiovisual tanpa diikuti internalisasi perubahan perilaku. Padahal Siswa yang mendapat dukungan emosional orangtua, akan lebih bertahan dibidang akademik serta menunjukkan prestasi yang baik (Nugrahani, & Widayarti, 2013; Rahmi, 2011).

Fakta yang akhir akhir ini banyak diseminarkan adalah fatherless in indonesia. Fatherless adalah kondisi dimana tidak ada peran ayah secara psikologis dalam sebuah keluarga. Ayah tidak tanggap dan tidak turut campur dalam mendidik, sehingga anak kehilangan figur pemimpin sebagai panutan. Ayah memiliki peran penting dalam membentuk sikap emosional anak ketika dewasa kelak, membentuk kedisipilinan dan role model (Ashari, 2018). Dilansir dari wartaekkonomi.co.id tahun 2017, Indonesia menampati ranking ke tiga kasus fatherless di dunia.

Dukungan orangtua akan sangat membantu siswa untuk suskes, orangtua diharap membimbing anak untuk menyelesaikan tugas serta menggait anak untuk terus mengasah diri sehingga senantiasa menjadi insan yang pembelajar. Pengetahuan ilmu parenting perlu terus menerus gencar dilakukan. Tidak heran jika study frome home malah menimbulkan masalah, karena fungsi orangtua dalam mendidik anak selama ini hanya dipasrahkan kepada guru.

3. Implementasi Kurikulum

Analoginya sebagai berikut, kurikulum tak ubahnya seperti mobil balap, pengemudinya adalah guru, dan solarnya adalah kesejahteraan guru. Indonesia selalu berganti-ganti mobil, padahal sopirnya adalah orang yang sama namun belum mahir mengemudi. Solarnya pun sering telat, apa yang terjadi? Bingung, panik dan nelongso itu yang dialami sopir.

Kurikulum KTSP dan K13 semuanya disusun oleh para ahli, pasti baik dan bermutu. KTSP memberi peluang bagi sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran sesuai potensi setempat, sementara K13 memungkinkan siswa untuk lebih aktif dan inovatif. Jika kurikulum yang disusun tidak sesuai target maka pengemudinya perlu dibina dan dicerdaskan. Namun jangan menutup mata, mobil pun tak akan bisa berjalan di atas air, artinya tidak semua wilayah di Indonesia cocok dengan kurikulum yang sudah ada. Papua dan daerah 3T misalnya, selain kurangnya tenaga pengajar, model pembelajaran di daerah tersebut masih fokus pada calistung. Sangat jauh dari metode belajar Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang digadang-gadang dapat menaikkan peringkat PISA Indonesia.

PISA Indonesia
PISA Indonesia 2016

PISA adalah survei evaluasi sistem pendidikan yang berlaku di sebuah negara yang mengukur performance siswa. Dari grafik di atas dapat dibandingkan keberhasilan pendidikan Indonesia dengan negara yang lain. Dari tahun 2000 hingga 2018, PISA Indonesia naik turun tidak signifikan.

Hingga saat ini, negara-negara Adidaya di dunia tengah berusaha memerangi Covid-19. Pandemi ini belum benar benar usai. Namun bukan berarti Covid-19 adalah sad ending dunia, ada chapter baru yang belum kita baca. Ketika tidak berdaya, manusia memiliki kekuatan yang bernama “hope“ ,  harapan merupakan senjata pamungkas manusia untuk terus berjuang karena percaya ada Tuhan yang maha kuasa bersiap membantu dari atas singgasana. Masih ada harapan!

Ketika tidak berdaya, manusia memiliki kekuatan yang bernama “ hope “.

1.Budaya Kolektivisme

Bangsa kita dikenal juga sebagai penganut budaya timur, ciri khas yang menjadi potensinya adalah sikap kolektivis. Kolektivisme adalah suatu pendirian moral yang fokus pada masyarakat bersama untuk kepentingan nasional. Itulah modal kita sebagai bangsa dan bernegara dalam konteks budaya timur.

Bangsa barat yang notabenenya berbudaya individualis, kini sedikit bergeser kepada paham kolektivis karena manfaatnya yang efektif dalam permasalahan sosial. Artikel yang berjudul Our United Response to Coronavirus Show the Power of Colectivism dalam morningstaronline.co.uk (5/2/2020). Menceritakan bahwa semangat kolektivism membantu para pekerja untuk saling berkontribusi menjaga keamanan setiap orang. Ciri kolektivisme timur ialah kreatifitas, spiritualitas dan kecakapan individu ditekankan untuk kontribusi sosial dalam masyrakat. (Shao, et al. 2019)

Tradisi timur, agama, kepercayaan dan  produk budaya itulah yang membentuk sikap kolektivis tumbuh. Inilah modal kita, sikap altruisme, sikap gotong royong semua terangkum dalam kolektivisme. Bentuk moderen nya adalah startup yang bergerak di layanan sosial, seperti kitabisa.com, kampusdesa.or.id, diaspora pemuda dan lain sebagainya. Semua bergerak atas dasar menggaungkan sosial impact, itulah budaya kolektivisme.

2. Influencer millenial.

Indonesia telah banyak melahirkan influencer pada sepuluh tahun terakhir. Influencer adalah individu yang memiliki banya followers dan ada hubungan emosional antara keduanya. Media masa seperti youtube, instagram dan tiktok saat ini dikuasai oleh berbagai macam influencer. Sybil grieb et al. (2019) dalam artikel the power of influencer menjelaskan bahwa jasa influencer sangat signifikan untuk menawarkan produk dan meningkatkan minat beli konsumen. Konsumen lebih percaya terhadap influencer daripada brand itu sendiri, sebab Influencer dipandang sebagai sosok yang menginspirasi, menghibur dan menarik.

Kita memiliki banyak influencer seperti Najwa Shihab, Deddy Corbuzier, Pandji Pragiwaksono dan lainnya. Silahkan pilih di www.sociabuzz.com, ada banyak infleuncer disitu, gunakan jasanya untuk mengkampanyekan pendidikan. Hal ini lebih bermanfaat daripada konten creator semu yang tidak ada nilai edukasinya.

3. Tri dharma perguruan tinggi

Indonesia sebenarnya memiliki pasukan yang siap bergerak dibidang pendidikan, pasukan itu adalah mahasiswa, dosen dan peneliti. Program pemerataan mutu pendidikan di daerah terpencil setiap tahun selalu dilakukan. Seperti progam guru penggerak daerah terpencil (GPDT) UGM, SCOLAH Unair mengajar di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).

Hal ini selaras dengan kebijakan mas menteri nadiem makarim, bahwa syarat kelulusan mahasiswa bisa diperoleh melalui praktek kerja lapangan. Selain itu, peluang tiga semester mahasiswa untuk magang sangat potensial jika diarahkan untuk sektor pendidikan. Hal ini juga menjadi challenge bagi mahasiswa supaya menguras otak menciptakan inovasi kegiatan belajar mengajar.

Masa recovery pasca pandemi.

Semoga hikmah Covid 19 mampu meningkatkan kesadaran masyrakat menjadi lebih kritis. Meminjam konsep kesadaran pendidikan ala Paulo friere, critical consciousness merupakan keberhasilan individu dalam memetakan sebab akibat kejadian berikut juga problem solving yang tepat. Masyarakat sudah bisa mengaitkan faktor sosial, budaya, pendidikan dan politik, mengkaji secara komprehensif permasalahan yang sedang terjadi.

Oragtua sudah paham selama study form home bagaimana susahnya menjadi guru. Guru juga paham selama online learning, kapasitas mereka untuk melek teknologi perlu ditingkatkan. Anak anak juga belajar mengerti, bahwa  bersekolah merupakan sebuah kenikmatan yang tak boleh disia siakan.

Badai pasti berlalu, begitu juga pandemi SARS COV-2 ini, namun perlu diingat setelah badai reda, maka yang tersisa adalah porak poranda puing puing bangunan. Indonesia harus segera menyusun recovery plan untuk membangkitkan segala sektor kehidupan bangsa.

Dalam dunia pendidikan, bisa diprediksi nanti proses pembukaan sekolah di negeri ini akan dilakukan dengan cara berlahan dan bertahap. Bisa jam belajar yang dipersingkat, atau dimulai dari tingkat perguruan tinggi terlebih dahulu. Bisa juga dimasa recovery nanti sekolah memberlakukan sistem belajar semi online. Hal itu harus dilakukan karena butuh evaluasi dan pengecekan kembali, dengan harapan Covid-19 under control oleh tenaga medis.

Dimasa itu, praktisi pendidikan harus berusaha membangun kembali engagement siswa terhadap kelas, terhadap sekolah dan engagement terhdap belajar. Puasa tidak bertemu teman sebaya akan menimbulkan hyper ekspresi remaja sehingga menggeser fungsi sekolah dari tempat belajar menjadi tempat hura hura.

Guru harus segera bangun dan sadar bahwa ada banyak materi pembelajaran yang tertinggal, ada banyak projek sosial yang terbengkalai. Maka diharapkan pada masa recovery semua akses pendidikan via online harus sudah 90% dikuasai guru, orang tua dan siswa. Dengan begitu pendidikan jarak jauh dimasa recovery lebih baik, efektif serta ada outcome pembelajaran yang jelas dibanding pembelajaran daring di masa krisis melawan Covid-19. Berdasarkan hal tersebut, pelatihan multimedia learning untuk guru harus diberikan meskipun dalam keadaan sulit seperti saat ini.

Pada masa recovery semua akses pendidikan via online harus sudah 90% dikuasai guru, orang tua dan siswa. Dengan begitu pendidikan jarak jauh dimasa recovery lebih baik, efektif serta ada outcome pembelajaran yang jelas dibanding pembelajaran daring di masa krisis melawan Covid-19.

Hari Pendidikan Nasional merupakan ajang mengapresiasi pahlawan tanpa tanda jasa. Indonesia negeri para pejuang, tak akan tumbang kecuali pendidikan telah hilang. Kelemahan dan potensi perlu dianalisa lebih mendalam guna menyusun master plan menata pendidikan bangsa. Selamat Hari Pendidikan Nasional!.

PENGUMUMAN TAHAP 2: Peserta Lolos Indonesia Menulis Covid-19 (I’M COVID-19)

0

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam silaturrahim kami sampaikan kepada segenap peserta I’M Covid-19 yang telah sabar menunggu pengumuman hingga hari ini.

Tulisan atas nama-nama yang tertera di bawah akan diterbitkan di edisi kedua.

Adapun bagi naskah yang tidak lolos baik edisi eksklusif maupun kedua, akan kami terbitkan di website atas persetujuan yang bersangkutan.

Demikian pengumuman ini kami sampaikan. Terima kasih atas perhatian dan kerjasama Anda.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ttd.
Redaktur Kampus Desa

Kedaulatan Itu Ada di Desa

0

Pemanfaatan pola pertanian berkelanjutan dengan memanfaatkan bahan-bahan ramah lingkungan selama proses budidaya juga mampu menurunkan angka kerusakan lingkungan serta meningkatkan hasil hasil pertanian untuk ke depannya sehingga dapat memberikan peningkatan nilai ekonomi dalam dunia pertanian itu sendiri. Dengan tujuan akhir agar setiap titik terbangun semangat untuk Berdikari, dan Lestari. Kita Berdaulat, tanpa Tapi!

Kampusdesa.or.id–Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas, hampir 70% wilayahnya adalah perairan, sedangkan 30% sisanya adalah daratan. Sumber daya alam negeri yg ada di garis khatulistiwa ini cukup melimpah, karena dilewati garis matahari sepanjang tahun sehingga suhu dapat terjaga untuk keberlangsungan hidup flora dan fauna wilayah tropis. Hasil dari sumber daya alam di wilayah perairan meliputi perikanan, sektor pariwisata, juga budidaya rumput laut. Sedangkan di daratan, hampir seluruh wilayah indonesia dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan. Oleh karena itu, negeri ini disebut sebagai negeri agraris.

Pertanian di indonesia berfokus pada produksi tanaman pangan seperti padi, jagung dan kedelai (PAJALE) untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat indonesia. Produksi padi di negeri ini pada tahun 2017 adalah sebesar 81,3 juta ton, atau setara dengan 47,29 juta ton beras. Sedangkan jagung sebanyak 26,03 juta ton pada tahun yang sama.Produktivitas pangan nasional meningkat setiap tahunnya sejak tahun 2007-2017, akan tetapi hal ini berbanding terbalik dengan jumlah petani yang terus menurun setiap tahunnya, serta luas lahan yang sudah beralih fungsi dari pertanian ke sektor industri.

Berdasarkan data sejak tahun 2010-2017, prosentase penurunan jumlah petani sebesar 1,1% per tahun. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, karena apabila terjadi penurunan terus menerus, di masa depan indonesia akan mengalami krisis petani. Pada saat ini, jumlah petani hanya berkisar pada angka 25 juta orang petani yang menanam tanaman pangan untuk memenuhi jumlah penduduk indonesia yang sebanyak 250 juta orang. Atau sama halnya, 1 petani menanggung pangan 10 orang yang bukan petani. Penurunan jumlah petani ini diakibatkan banyaknya pemuda yang lebih tertarik untuk bekerja di sektor industri dan buruh sejak lulus SMA karena melihat sektor tersebut lebih menjanjikan daripada dunia pertanian.

Adapun petani yang tetap bertani sampai sekarang ini mayoritas pada umur 45-54 tahun dan lulusan SD, hal inilah yang menyebabkan regenerasi petani sangat lamban. Selain itu, kerusakan lingkungan di dunia pertanian juga meningkat, akibat penggunaan pestisida kimia yang berlebihan sehingga menyebabkan kerusakan ekologis tanah pertanian dan meninggalkan banyak residu pada tanah yang nantinya dapat mempengaruhi produktivitas tanah pertanian itu sendiri. Selain faktor tersebut, juga dipengaruhi oleh nilai tukar petani yang memproduksi tanaman pangan. Penggarapan lahan oleh petani hanya berkisar pada angka 0,5 ha per petani, sehingga apabila dihitung dalam angka pendapatan, nilai yang diperoleh petani khususnya padi hanya berkisar antara 2,5-4 juta per musim tanam, atau setidaknya 625.000 rupiah/bulan. Nilai tersebut cukup rendah bila dibandingkan dengan UMR pekerja diseluruh indonesia yang rata rata di atas 1,2 juta rupiah/bulan.

Kenapa Bertani itu Penting?

Dunia pertanian dewasa ini menjadi trend positif dibeberapa negara maju, seperti Amerika, australia New zealand, dan Jepang. Banyak pemuda di negara-negara tersebut yang mulai aktif untuk bertani dan membentuk komunitas budidaya tanaman pangan, baik dibidang hortikultura maupun buah-buahan. Pertanian di negara maju sudah mengarah ke agro industri, yang difokuskan untuk produksi tanaman pangan untuk memenuhi pangan di wilayahnya sendiri. Selain itu, mereka juga sudah menerapkan sistem pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan untuk menjaga kualitas produk mereka serta hasil paska panen dari pertanian itu sendiri.

Baca juga: Menyongsong Kedaulatan Tani

Penerapan sistem pertanian berkelanjutan ini sangat penting untuk dilakukan, mengingat pangan juga menjadi hal utama dari suatu siklus hidup. Di Jepang, untuk menarik perhatian kaum mudanya, mereka menganut faham FOSHU (Food for Specific Health Used) atau pangan fungsional yang fungsinya lebih dari sekedar pangan, melainkan juga untuk kesehatan. Oleh karenanya, regenerasi petani di jepang cukup berimbang karena mereka bertani berdasarkan hobi serta manfaat dari produk mereka sendiri.

Apabila dibandingkan dengan di Indonesia, pemanfaatan lahan pertanian masih terbatas pada peningkatan produksi saja, sehingga sangat mengesampingkan keamanan pangan (Food Security) itu sendiri karena penggunaan obat-obatan kimia yang bisa memberikan efek buruk bagi kesehatan penggunanya.

Kembali ke Desa, Adalah Solusi

Banyak solusi yang ditawarkan untuk meningkatkan jumlah produksi pangan, salah satunya adalah gerakan kembali ke desa. Gerakan ini mengajak pemuda pemuda untuk kembali ke desa serta menguatkan perekonomian pedesaan bersama-sama dalam sektor pertanian dan peternakan. Solusi ini menjadi perhatian khusus bagi Kurniawan adi, salah satu aktivis desa yang bergerak dipemberdayaandesa beserta komunitasnya. Kurniawan adi merupakan pemuda desa yang berasal dari desa Solokuro, Lamongan yang aktif pemberdayaan desa bersama komunitasnya yang bernama “SRI Organik Nuswantara” dengan slogannya “berdesa mendesa”. Makna dari “Berdesa Mendesa” itu sendiri adalah peran pemuda untuk menjadi bagian dari desa itu sendiri dan menjadi penggerak untuk memberikan perubahan yang positif pada desa-desa.

Aktivitas mereka sudah dimulai sejak 5 tahun terakhir ini dan dilakukan secara mandiri bersama-sama. Beberapa desa yang telah didampingi oleh kurniawan adi beserta komunitasnya tersebut adalah desa panggungharjo (bantul), desa ngompro (ngawi), desa ngadirojo (salatiga), desa bae(kudus), desakutawaringin (kuningan), serta desa-desa yang sedang dalam proses pendampingan seperti banyumas (purwokerto), dan beberapa desa di Majalengka.

Hal pertama yang menjadi perhatian mereka adalah perbaikan di sektor pertanian dari hulu sampai hilir di desa desa. Banyak keluhan petani yang diterima oleh mereka untuk dicari solusi secara bersama sama untuk memperbaikinya, contohnya hama dan penyakit yang sering membuat gagal panen petani akibat penggunaan obat-obat kimia pertanian yang tidak ramah lingkungan. Solusi yang ditawarkan mereka adalah sistem pertanian berkelanjutan serta ramah lingkungan untuk memperbaiki rantai ekologi agar tetap terjaga.
Foto: Keceriaan anak anak SMP, SMA dan SMK di desa Kutawaringin, kec. Selajambe, Kab. Kuningan Jawa Barat dalam proses bertani ramah lingkungan bersama komunitas SRI Organik Nuswantara

Solusi itu Ada di Lahan Kita Sendiri

Selain menjadi penggerak pedesaan, kurniawan adi juga merupakan salah satu pengelola bank benih lokal nusantara yang berada di lamongan. Benih lokal sendiri merupakan benih benih warisan leluhur yang sudah dibudidayakan sejak zaman dahulu kala sebelum kita mengenal bermacam-macam varietas tanaman baru yang dikeluarkan pemerintah, maupun perusahaan. Penggunaan benih yang tepat dengan kondisi lahan dan letak geografis lahan dapat memberikan manfaat seperti penurunan biaya produksi karena benih lokal lebih adaptif dengan kondisi lahan dan tidak memerlukan perlakuan khusus selama dibudidayakan.

Selain itu juga pemanfaatan pola pertanian berkelanjutan dengan memanfaatkan bahan-bahan ramah lingkungan selama proses budidaya juga mampu menurunkan angka kerusakan lingkungan serta meningkatkan hasil hasil pertanian untuk ke depannya sehingga dapat memberikan peningkatan nilai ekonomi dalam dunia pertanian itu sendiri. Dengan tujuan akhir agar setiap titik terbangun semangat untuk Berdikari, dan Lestari. Kita Berdaulat, tanpa Tapi!

Foto: Lahan budidaya petani yang menggunakan benih dari Bank Benih Lokal Lamongan yang berada di desa Banjarmadu, kec. Karanggeneng Kab. Lamongan

*Artikel kiriman dari Kurniawan Adi. Seorang sarjana Biologi bidang Botani di Universitas Islam negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang ini yang juga founder & CEO Sedesa Farm. Sekarang berkiprah di dalam kegiatan pemberdayaan sosial secara mandiri melalui Organisasi PETANI (Persaudaraan Mitra Tani dan Nelayan Indonesia) dan dalam pemberdayaan desa bersama komunitas SRI Organik Nuswantara sejak tahun 2016. Selain itu, ia juga merupakan pelestari dan pemulia benih lokal yang tergabung dalam komunitas Benih Lokal Berdaulat (BLB) sejak tahun 2014. Hingga saat ini, ia tengah mengembangkan lumbung pengelolaan Bank Benih (Seed bank) Lamongan serta melakukan pelestarian benih-benih lokal asli nusantara.

Benarkah Sekolah Mengerdilkan Belajar?

0

Dulu, sebelum belajar dilembagakan oleh sekolah, manusia merdeka mau belajar di mana saja dan kapan saja. Sebelum ada sekolah, belajar dimaknai sesuai dengan makna otentiknya yang luas. Tidak dikerdilkan seperti sekarang yang hanya terbatas pada membaca buku, duduk di ruang kelas, mengerjakan soal, lalu lulus mendapatkan nilai akademik dan legalitas berupa ijazah.

Kampusdesa.or.id-Ada semacam unek-unek dalam benak saya beberapa waktu belakangan ini. Saya merasa makin hari, dunia pendidikan kita bukan makin merdeka, tapi malah sebaliknya. Makin terbelenggu dan terhambakan. Terbelenggu oleh pengerdilan makna dan terhambakan oleh ukuran-ukuran semu kesuksesan. Pembelengguan dan penghambaan itu justru dilakukan oleh lembaga pendidikan yang disebut sekolah.

Saya mengandai, jika sekolah tak pernah ada, apakah kita juga akan berada di titik peradaban yang sama tingginya seperti peradaban kita sekarang ini? Akankah juga lahir berbagai sains dan filsafat serta teknologi? Akankah dunia juga akan menjelma menjadi perkampungan global yang nir sekat seperti sekarang? Akankah bumi pertiwi ini juga dalam kondisi seperti sekarang ini atau sejaya masa lalu?

“Dulu sebelum belajar dilembagakan oleh sekolah, umat manusia juga mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang mumpuni”

Pengandaian itu tentu bukan asal. Coba saja baca sejarah. Dulu sebelum belajar dilembagakan oleh sekolah, umat manusia juga mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang mumpuni. Bahkan, karya-karya mereka masih dijadikan rujukan babon hingga sekarang. Sebelum ada sekolah militer dan institut kepamongprajaan, manusia juga mampu membangun imperium-imperium besar yang mampu melahirkan peradaban tinggi dan kosmopolit. Tentu saja, mereka paham sepenuhnya urusan tata administrasi.

Baca Juga: Merumahkan Sekolah atau Sekolah Telah Mati

Di negeri kita misalnya, ada imperium Sriwijaya dan Majapahit yang dikenal luas mampu menaklukkan bangsa-bangsa lain. Dua imperium ini juga mampu membangun peradaban tinggi. Buktinya karya-karya sastra, arsitektur, teknologi, bahkan filsafat berkembang dengan pesat di zaman mereka.

Di dunia Islam nusantara, meski tidak ada sekolah, juga mampu melahirkan ulama-ulama besar yang namanya harum di pentas internasional. Sebut saja Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani, Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, dan Syaikh Mahfudz at-Tarmasi. Rata-rata mereka berlatarbelakang pendidikan pesantren yang memang memiliki tradisi kemerdekaan belajar bagi santrinya.

“Sebelum ada sekolah, ternyata manusia lebih merdeka belajar. Mereka bisa belajar langsung dari sumber belajar”

Sebelum ada sekolah, ternyata manusia lebih merdeka belajar. Mereka bisa belajar langsung dari sumber belajar. Mau bisa mengemudikan kapal, ya langsung belajar kepada pengemudi dan anak buah kapal. Mau bisa bertani, ya langsung belajar kepada petani. Mau belajar ekonomi, ya belajar di pasar sambil praktik jual beli. Intinya, mereka tidak hanya mempelajari tumpukan teori dalam buku atau diktat dan tidak hanya mendengar dongengan-dongengan guru di ruangan yang disebut kelas.

Hasil dari interaksi langsung dengan sumber belajar itu membuat mereka bahkan mampu mencapai derajat pakar. Pengalaman hasil interaksi itu menjadi pengetahuan-pengetahuan baru. Tak perlu menghapal teori dan sibuk di laboratorium. Juga, tak perlu ada ujian akhir. Apalagi ijazah. Mereka merdeka belajar dan merdeka kapan proses belajar itu dicukupkan.

Baca Juga: Pendidikan yang Membebaskan Ternyata Ada di Indonesia

“Sekarang ini, belajar telah dikerdilkan oleh kita sendiri. Bahkan, kecukupun belajar ditandai dengan selembar kertas yang disebut ijazah.”

Ternyata, sebelum ada sekolah, belajar memiliki makna otentik sebagaimana ia aslinya. Tapi, semenjak ada sekolah, belajar kian menyempit. Belajar hanya dimaknai sebagai aktivitas mempelajari buku di dalam kelas. Aktivitas di pasar, di sawah, di laut, di sungai, di masyarakat, sudah tidak dianggap lagi sebagai aktivitas belajar. Sekarang ini, belajar telah dikerdilkan oleh kita sendiri. Bahkan, kecukupun belajar ditandai dengan selembar kertas yang disebut ijazah.

Tak berhenti di situ, sekolah juga membuat aturan penyeragaman dan standarisasi. Menurutnya, anak yang pintar itu ya anak yang nilai akademiknya bagus, yang langganan ranking satu. Anak bodoh ya sebaliknya, nilainya buruk, tidak memenuhi standar. Standar itu ditentukan oleh nilai kognitif pada sejumlah mata pelajaran.

Oh iya, sekarang bahkan belajar makin dikerdilkan lagi. Belajar dibatasi harus sesuai dengan kebutuhan industri yang katanya sudah memasuki revolusi ke-4 itu. Lulusan belajar, harus kompatibel dan mampu mengisi lubang-lubang kebutuhan industri. Adanya pengangguran, menjadi indikator gagalnya proses belajar. Ada yang bilang, pendidikan hari ini disuruh menghamba pada industri.

Orangtua pun berlomba-lomba menyuruh anaknya giat belajar. Mereka takut anaknya nanti tidak cocok dengan industri, lalu jadi pengangguran. Pagi hingga siang anak-anak itu belajar di sekolah, sore di musala atau masjid, malamnya di tempat bimbingan belajar. Pokoknya anak-anak sekarang jadi super sibuk. Waktu bermain mereka hilang, diganti belajar. Bermain hanya bikin bodoh saja. Begitu kata orangtua mereka.

Pertanyaan menggelitik kemudian muncul di benak saya, benarkah konsep merdeka belajar yang gaduh diperbincangkan itu, sungguh-sungguh akan memerdekakan? Benarkah nantinya sekolah tidak lagi mengerdilkan belajar?

Memanusiakan Buruh: Tinjauan Hak Buruh Perspektif Islam

0

Hak buruh sampai hari ini masih menjadi diskursus yang banyak diperbincangkan. Apalagi, dalam kenyataan memang hak mereka kerap kali teramputasi oleh kepentingan para pemilik modal. Perlakuan terhadap buruh yang kurang manusiawi masih kerap ditemukan. Beban kerja berlebih, namun tak diimbangi dengan apresiasi yang layak. Buruh juga masih menjadi kelompok rentan di era revolusi industri 4.0 ini. Bagaimana Islam melihat hal ini? Mari sejenak kita renungkan di Hari Buruh ini!

Kampusdesa.or.id-Sebagai agama yang membawa misi menebar cinta (rahmat) ke seluruh alam, Islam mempunyai ajaran yang berkarakter syumuliyah (komprehensif). Berbagai dimensi kehidupan manusia, oleh Islam disediakan prinsip-prinsip dasarnya. Sehingga, jika manusia mau berpegang pada prinsip-prinsip itu, mereka tidak akan tergelincir pada kerusakan dan mampu membangun kehidupan sesuai dengan syariat Allah SWT. Salah satu ajaran dalam Islam yang merepresentasikan rahmat ini adalah kemanusiaan.

Prinsip kemanusiaan ini harus dijadikan sebagai landasan bagi pelaksanaan berbagai aktivitas kehidupan umat Islam. Baik itu dalam bidang pendidikan, hukum, ekonomi, budaya, dan tak terkecuali ketenagakerjaan yang akan kita perbincangkan kali ini. Terutama menyangkut hak-hak buruh yang seringkali teramputasi oleh kepentingan-kepentingan kapitalis para pemodal.

“Kemanusiaan dapat menjadi kontrol dan evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang dikeluarkan terhadap para buruh.”

Hal demikian itu tidak akan terjadi, manakala prinsip kemanusiaan dijadikan sebagai dasar pijakan dan ruh manajerial buruh. Kemanusiaan dapat menjadi kontrol dan evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang dikeluarkan terhadap para buruh. Apakah tata kebijakan itu membebani mencapai batas kewajaran, apakah sudah adil, dan apakah sudah memberikan kesejahteraan bagi mereka.

“Semua manusia memiliki kedudukan yang sama. Tidak peduli itu buruh atau majikan. Satu-satunya yang membedakan adalah derajat ketakwaan.”

Baik melalui al-Qur’an maupun hadis, Islam mengajarkan kepada manusia bagaimana seharusnya berperilaku dengan sesamanya. Termasuk dalam konteks relasi buruh dan pihak pemilik kapital. Firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 13 kiranya dengan jelas menyatakan bahwa di mata Tuhan, semua manusia memiliki kedudukan yang sama. Tidak peduli itu buruh atau majikan. Satu-satunya yang membedakan adalah derajat ketakwaan. Prinsip ini selaras dengan hadis Nabi yang menyatakan bahwa “Saudara kalian adalah budak kalian. Allah jadikan mereka dibawah kekuasaan kalian” (HR. Bukhari no. 30). Jika budak saja merupakan saudara, maka buruh yang jelas-jelas bukanlah budak juga harusnya diperlakukan demikian.

Prinsip persamaan derajat ini juga terkandung dalam kalimat tauhid. Kalimat tauhid menurut Sastrawan dan Filosof Muhammad Iqbal dengan jelas menafikan penghambaan kecuali kepada Allah semata. Dengan demikian, segala bentuk penjajahan, lebih-lebih perbudakan yang nir kemanusiaan bertentangan secara diametral dengan ajaran fundamental Islam. Begitu pula perbudakan terhadap buruh yang termanifestasi dalam pengebirian hak-hak mereka secara sistematis.

Baca Juga: Hari Buruh atau Hari Buruk?

Selain persamaan derajat, prinsip berikutnya adalah keadilan. Islam mendorong para pemeluknya untuk berlaku adil dalam semua bidang kehidupan mereka. Keadillan juga ditempatkan sebagai salah satu indikator ketakwaan sebagaimana difirmankan Allah dalam surat al-Maidah ayat 8.

“Dalam konteks hak buruh, adil dapat dimaknai sebagai adanya kesimbangan antara hak dan kewajiban. Serta, memposisikan buruh sebagai manusia, bukan sebagai budak.”

Secara sederhana, adil bermakna menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dalam konteks hak buruh, adil dapat dimaknai sebagai adanya kesimbangan antara hak dan kewajiban. Serta, memposisikan buruh sebagai manusia, bukan sebagai budak. Sebagaimana disabdakan Nabi, “Ada tiga orang, yang akan menjadi musuh-Ku pada hari kiamat: … orang yang mempekerjakan seorang buruh, si buruh memenuhi tugasnya, namun dia tidak memberikan upahnya (yang sesuai).” (HR. Bukhari 2227 dan Ibn Majah 2442).

Umar Ibn Khattab pernah memberikan teladan berkaitan dengan hal ini. Suatu waktu, pembantu Hatib bin Abi Balta’ah ketahuan mencuri seekor unta milik orang dari Muzainah. Kusayyir bin As-Salt kemudian meminta Khalifah Umar untuk menjatuhkan hukuman potong tangan pada pencuri tersebut.

Singkat cerita, Khalifah Umar melepaskan beberapa pembantu Hatib tersebut dari tuduhan pencurian setelah mengetahui kalau mereka melakukan itu untuk sekadar mencari hidup. Ia bahkan meminta Abdurrahman, anak Hatib, untuk membayar dua kali lipat harga unta orang Muzainah yang dicuri beberapa pembantu Hatib tersebut. Ia berkata, “Pergilah Abdurrahman dan berikan kepadanya (orang Muzainah pemilik unta) delapan ratus, dan bebaskan anak-anak muda itu pencuri itu dari tuduhan pencurian, sebab Hatib yang telah memaksa mereka mencuri: mereka dalam kelaparan dan dan sekadar mencari hidup.”

Baca Juga: Memperjuangkan Tuntutan Buruh Melalui Sistem Layanan Dasar

Prinsip lainnya adalah larangan Islam kepada pemeluknya bersikap berebihan dan melampau batas. Allah berfirman dalam surat al-A’raf ayat 31, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan & minumlah, & janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Juga dalam berbagai ayat lain, Allah melarang manusia berbuat kerusakan dan berbuat zalim.

Larangan demi larangan tersebut jika ditarik ke dalam konteks hak buruh dapat dimaknai sebagai larangan pemberian beban kerja berlebih kepada buruh. Atau dengan kata lain, larangan terhadap monopoli dan eksploitasi. Sebab, dua tindakan ini dekat dengan kezaliman, yang dibenci oleh Allah SWT.

Konsep memanusiakan buruh dengan memenuhi hak-haknya juga dapat kita lihat dalam teori maqashid syari’ah. Dalam teori ini, terdapat hierarki kebutuhan manusia dari yang bersifat primer (dharuriyat), sekunder (hajiyat), dan tersier (tahsiniat). Kebutuhan dasar tersebut meliputi hak memperoleh perlindungan terhadap kebabasan beragama, jiwa, keturunan, akal, harta dan kehormatan. Jelas hak buruh termasuk di dalamnya. Dari sini, dapat dikatakan bahwa memanusiakan buruh dalam Islam merupakan kewajiban.

Rumahku Gua Hira-ku, Latihan Mindfulness di Rumah Saja

0

Masih banyak yang menolak keputusan pemerintah, meskipun secara hukum fiqh, ibadah wajib tanpa ke masjid dibolehkan akibat halangan tertentu (termasuk wabah Covid-19). Nampaknya ibadah di rumah tidak kunjung menjadi jawaban atas kesadaran spiritual (mindfulness) masyarakat beragama. Apakah rumah telah gagal dijadikan basis spiritual kalangan beragama sehingga ketergantungan terhadap masjid tidak jua menjadikan rumah sebagai Gua Hira (dzikir dan muhasabah dalam kesepian) menajamkan ketuhanan?

Kampusdesa.or.id–Bagi saya, pengalaman pandemi Covid-19 menjadi titik balik. Apalagi yang terbiasa aktif, pasti rumah menjadi penjara. Pun, saya. Untung saja teknologi informasi menjadi pelipur lara. Ketersediaan jaringan wifi menjadi mainan lebih serius ketika di rumah saja.

Aktifitas mengolah ketrampilan menulis dihabiskan untuk mengoptimalkan website Kampus Desa. Latihan content creator menjadi terasah. Mencoba dari berbagai kesalahan. Berlatih mengedit video menggunakan Adobe Premier semakin sering saya lakukan. CorelDraw, Photoshop, Canva, menjadi lahapan sehari-hari. Ternyata kegiatan begini menghipnosis, sampai harus berebut ruang pikiran ketika mengharuskan work from home.

Mainan meeting online menjadi debut baru dan terpadu kedalam content creator. Padahal biasa bergerak, jika tanpa kegiatan content creator, maka di rumah bisa-bisa mati gaya. Meeting online bertumbuh menjadi bahan untuk unggahan youtube. Penyelenggaraan seminar lebih mudah karena tanpa biaya, tanpa usung-usung peralatan, tidak perlu sewa ini itu, cukup dengan wifi dan paketan data, semua bisa disulap dengan jari ini.

Aneka produk seminar online, wawancara dengan orang-orang penting menjadi begitu murah. Suer, ora mbayar. Keajaiban ini laksana merebut profesi saya yang harus mengajar online, dengan pakem yang begitu-begitu saja seperti seolah justru kampus tempat belajar menjadi lebih senyap disibukkan oleh rutinitas yang hanya beralih dari kelas tatap muka menjadi kelas virtual. Tidak lebih dari itu. Bahkan tambah capek pol. Jika tatap muka bisa borongan, tapi ketika daring, layanannya menjadi lebih lama. Tapi ya sudahlah, dilakukan saja dengan ceria.

Mainan baru itu mendapat ruang, dan saya menyukainya. Bersama tim admin kampusdesa.or.id, telah berhasil meracik buku Covid-19, dan sejumlah content creator youtube sebagai modal kreatifitas yang terupdate dengan semangat belajar baru dan mencoba sembari mengakrabi kesalahan untuk kesempurnaan karya. Tapi dengan mahasiswa S1 dan S2, ya ampun, begitu lamanya mbarengi mereka berproduk. Entahlah. Mungkin mereka lagi overload beban karena semua pengajar berebut ruang personal mahasiswa sehingga fokus mereka terbelah-belah.

Saya merenung, kecamuk di rumah saja yang juga padet, namun dapat bercengkerama dengan keluarga, menjadi sumbu baru. Saya seperti berada dalam humanitas yang otentik bukan dengan kesayaan, tetapi dengan kekamian dalam rumah. Ibadah di rumah. Ketika terpaksa, lebih banyak pergi bersama anak-anak untuk mendatangi posko bantuan Covid-19.

Meski jenuh, dan juga ada konflik sebagai riak perbedaan, rasanya tetap saja memberikan kehangatan di antara kejenuhan yang juga mendera anggota keluarga saya. Kecuali istri sepertinya, yang memang terbiasa at-home oleh karena efek peran gender yang selalu akrab dengan sudut-sudut rumah. Dia terbiasa produksi kerjanya dari dapur rumah sendiri seperti membuat sambel bledeg,

Sementara saya juga mulai belajar semakin menggeluti sudut rumah. Menyadari sudut rumah, dapur, sumur, kasur, dan dinding yang semuanya bisa saya hidupi kedalam manifestasi karya. Bikin vlog di dapur, produksi daput dipotret dengan latar sudut-sudut rumah, bahkan membikin tik-tok sebagai cara menembus ruang kecil agar tetap terhubung dengan dunia luar sehingga kesan sosial pun masih terproduksi dari sudut-sudut rumah. Semua isi rumah mulai dimaknai dan direproduksi menjadi pesan-pesan sosial. Nampaknya, media sosial menjadikan alat bantu untuk menjembatani hubungan sosial fisik yang terperangkap pandemi virus corona.

Seperti Apa Gua Hira Itu

Gua Hira adalah tempat menyepi Muhammad ketika dirundung kegalauan. Situasi tersebut mendorong Muhammad untuk menepi dari kegaduhan pikiran dan situasi sekitarnya. Beliau kemudian mengambil tempat untuk menetralisir kegaduhan tersebut dengan situasi tenang. Meluruhkan pikiran dan tubuh serta batinnya menyonsong pencerahan.

Dalam situasi sepi dan hening, bebas dari keramaian yang sulit disiasati, jalur rumah menuju Gua Hira Nabi Muhammad bisa dikata sebagai jalur mindfulness (kesadaran asli) sampai beliau mendapat pencerahan utama yakni, iqra’ bismi rabbika al-ladzi khalaq. Bahkan setelah mendapatkan pencerahan (wahyu pertama) Nabi Muhammad diselimuti Khodijah untuk menyemai kesejukan batin agar efek kejut yang luar biasa setelah mendapat bisikan Jibril mampu diterima dengan kesadaran penuh (mindfulness). Rumah Khodijah kemudian menjadi tata sadar Nabi Muhammad untuk mulai menerima dan menyerna wahyu pertama. Rumah Khodijah terhubung dan mampu menerima “bisikan Allah” dan membantu Nabi Muhammad menjadi optimis menerima dan kemudian menjadi titik balik perjuangan baru misi kenabiannya.

Hikmah peristiwa itu bagi kita yang bertahan di rumah dan beribadah pun di rumah semestinya ditumbuhkan sebagaimana semangat kesunyian. Justru dalam semangat kesunyian, kita mempunyai kesempatan suluk (mendaki jalan spiritual) mendapatkan pencerahan Tuhan. Bahkan ibadah di rumah, tidak meninggalkan keluarga. Bahkan kita bisa mengakrabinya dalam situasi batin yang jernih. Rumah tempat suluk. Kita tidak terjebak dalam keramaian, dan lebih bersih dari pergunjingan. Persemaian ketuhanan kita dapat dikelola bersama menjadi kelekatan yang positif dengan anak-anak dan pasangan. Bukankah kita akan kembali ke jalan tuhan nantinya, juga diberangkatkan dari rumah? Tentu saat ini waktunya kita menyiapkan diri untuk membangun mental ketuhanan yang tangguh dari dalam rumah.

Lah, tidakkah kita terbiasa mengabaikan yang dekat dan memuja yang jauh. Saatnya saya dan Anda mencoba bertasbih, mengenal sifat-sifat kemanusiaan dari dalam kehidupan rumah. Saya sendiri menjadi tahu ukurannya, relasi dengan istri yang total 24 jam, anak saya, sudut-sudut rumah saya. Selama itu, realitas itu hanya saya sadari separuh hari, bahkan bisa kurang oleh karena tugas publik dan kantor. Ada lebih banyak kesempatan bepergian bersama. Saya mengenali situasi dapur, kebingungan memilih menu masakan yang biasa dihadapi oleh istri, saya menjadi tahu. Dinamika anak saya lebih tajam saya kenali. Satu persatu mulai saya kenali, bahkan sepertinya saya sendiri masih banyak alpa (abai) di beberapa sudut rumah ini.

Ketika kita mampu mengenali sudut rumah, pusat dzikir di rumah akan bertambah detil. Sebuah perumpaan uzlah (menyepi) laksana di Gua Hira yang bangunannya berupa rumah. Ketika ruang kecil di rumah kita bisa kita jadikan sebagai bahan dialog, dan kemudian kita menjadi tahu sehingga memberikan kita kebermaknaan, itulah awal dari mindfulness di rumah saja.

Jika seluruh ruang kecil di rumah kita kenali justru sebenarnya menjadi peluang untuk melihat kebersyukuran kita karena ternyata nikmat di rumah ini seperti segala-galanya. Ketika kita mampu mengenali sudut rumah, pusat dzikir di rumah akan bertambah detil. Sebuah perumpaan uzlah (menyepi) laksana di Gua Hira yang bangunannya berupa rumah. Ketika ruang kecil di rumah kita bisa kita jadikan sebagai bahan dialog, dan kemudian kita menjadi tahu sehingga memberikan kita kebermaknaan, itulah awal dari mindfulness di rumah saja. Rumahku Gua Hiraku tidak lain adalah basis kontemplasi dengan meningkatkan kegiatan berdialog memaknai sudut rumah dan mengakrabi hubungan kekeluargaan dari dalam rumah.

Jika rumah kita mampu membersihkan diri ini, niscaya tugas publik, suatu waktu akan mendapatkan sinar kewibawaan. Dandanan spiritualitas kita mampu disolek dari dalam rumah, laksana Khodijah yang mampu menyolek batin Nabi Muhammad untuk siap menjadi juru kebaikan bagi ummat manusia sebagai titik balik baru menjalani tugas-tugas kenabian.

Mari sejauh wabah Covid-19 masih mendera, kita punya kesempatan hening bersama keluarga, untuk menyiapkan jalan baru bagi perubahan yang lebih baik paska pandemi ini.