Mengapa Belajar di Rumah Malah Menimbulkan Masalah?

0
1477
Belajar dari rumah

0Shares
0

Heboh pandemi Corona memaksa dunia pendidikan kita untuk ‘melompat.’ Jika sebelumnya pembelajaran daring masih asing di telinga, kini dunia pendidikan kita tidak hanya dipaksa untuk mengenal dan memahami, tapi langsung menerapkannya. Kegagapanpun marak terjadi di sana-sini. Banyak keluhan muncul dari berbagai elemen, mulai dari guru, peserta didik, hingga orangtua. Akhirnya, belajar di rumah bukannya lebih mudah, tapi justru menimbulkan berbagai masalah.

kampusdesa.or.id-Sejak instruksi WFH (Work From Home) diterbitkan, mayoritas instansi dan juga lembaga swasta menginstruksikan pegawai dan karyawannya untuk bekerja dari rumah. Pekerjaan yang semula harus dikerjakan di kantor, kini harus dikerjakan di rumah. Tak terkecuali lembaga pendidikan, baik itu sekolah maupun perguruan tinggi (PT). Sudah hampir dua pekan ini para pendidik bekerja dari rumah. Mereka memberikan pembelajaran melalui situs daring (online). Di kampus saya, rekan-rekan menggunakan berbagai platform belajar online, mulai dari elearning yang dikebangkan kampus sendiri, Edmodo, Webex, Google Classroom, hingga Zoom. Mendadak serasa terjadi lompatan dalam sistem pembelajaran kita.

“Tak heran jika terjadi semacam shock habit di dunia pendidikan kita. Terjadi kesalahpahaman massif terkait bagaimana melaksanakan pembelajaran daring”

Jika sebelum ada kehebohan pandemi Corona, belajar daring masih jarang dilakukan, kini hampir dua pekan telah dijalankan serempak, mulai dari tingkat MI/SD hingga PT. Tak heran jika terjadi semacam shock habit di dunia pendidikan kita. Termasuk terjadi kesalahpahaman massif terkait bagaimana melaksanakan pembelajaran daring. Akibatnya, muncul berbagai keluhan di sana-sini. Keluhan itu tidak hanya datang dari pendidik, tapi juga peserta didik dan juga orangtuanya. Mengapa begitu?

“Sebagian besar pendidik masih memahami bahwa pembelajaran daring sebatas pada pemberian tugas melalui jaringan internet saja. Pokoknya online”

Pertama, kurangnya pemahaman tentang pembelajaran daring. Sebagian besar pendidik masih memahami bahwa pembelajaran daring sebatas pada pemberian tugas melalui jaringan internet saja. Pokoknya online. Dampaknya seperti dilansir www.republika.co.id, banyak guru memberikan tugas melalui Whatsapp (WA). Siswa disuruh mengerjakan lalu hasilnya difoto atau discan, kemudian dikirim kembali ke guru. Jika gurunya lebih melek IT, pemberian tugas dilakukan melalui platform pembelajaran daring semacam Edmodo, Webex, dan Google Classroom. Tapi tetap saja basisya tugas.

Pola pembelajaran daring demikian ini yang menimbulkan banyak keluhan, baik dari peserta didik sendiri maupun orangtua. Padahal orangtua juga harus tetap bekerja dari rumah, tapi diharuskan mendampingi anak mereka mengerjakan tugas yang kian menggunung. Bayangkan jika dalam sehari ada 3 atau 4 mata pelajaran (mapel) berbeda, dan tiap mapel tersebut ada tugas yang harus dikumpulkan hari itu juga. Keluhan ini saya temukan juga di kalangan mahasiswa yang kewalahan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen mereka.

Pembelajaran daring pada hakikatnya hampir sama dengan pembelajaran tatap muka, hanya saja tatap mukanya dilakukan via internet dengan memanfaatkan platform-platform pembelajaran daring tertentu. Jika memang tidak memungkinkan tatap muka daring, guru dapat menggunakan video. Lalu memberikan pertanyaan yang diatur setiap selesai menjawab, peserta didik tidak dapat mengulanginya lagi. Sehingga mereka menaruh perhatian penuh pada pemaparan materi dalam video.

“spirit pedagogi digital sesungguhnya tidaklah content oriented. Bukan membelajarkan “apa” karena sudah dengan mudah diakses sendiri oleh peserta didik via search engine

Selain itu, spirit pedagogi digital sesungguhnya tidaklah content oriented. Bukan membelajarkan “apa” karena sudah dengan mudah diakses sendiri oleh peserta didik via search engine. Namun, yang perlu dimaksimalkan adalah “bagaimana dan mengapa.” Jadi, dalam pembelajaran daring, guru dan orangtua bekerja sama membuat anak produktif dan kreatif, dengan cara merangsang pikirian kritis mereka, bukan mematikan gerak melaui tumpukan tugas.

Kedua, keterbatasan sarana dan prasarana. Pembelajaran daring akan efektif jika didukung jaringan internet yang kuat dan gawai yang memadai. Lha, apa kabar dengan sekolah yang ada di pelosok desa, yang guru, peserta didik, dan orangtuanya belum akrab dengan internet dan gawai? Tentu akan sangat berbeda dengan sekolah yang berlokasi di kota besar. Sungguh pun jika mereka sehari-hari sudah akrab dengan internet dan gawai, tapi mereka juga tetap harus membeli paket data. Silakan dibayangkan berapa giga byte kuota yang dibutuhkan untuk belajar daring selama dua pekan ini.

Ketiga, kurangnya sinergi dan komunikasi. Kurang efektifnya pembelajaran daring akibat Corona ini disebabkan oleh terjadinya miskomunikasi antara guru dan orangtua. Sinergi keduanya belum sampai pada taraf kolaboratif. Padahal, selaras dengan spirit pedagogi digital di atas, pembelajaran daring semestinya dilaksanakan dengan dukungan sinergi dan komunikasi yang kuat antara guru dan orangtua. Keduanya dalam pembelajaran era 4.0 lebih berperan sebagai pendamping.

“Tatap muka cukup beberapa menit saja, lalu disambung tugas atau pertanyaan menggelitik yang mendorong peserta didik menelusuri sendiri jawabannya”

Guru dan orangtua dapat mengatur jam pembelajaran lebih fleksibel menyesuaikan kesibukan orangtua. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran daring tidak harus saklek sama persis dengan jam pelajaran di sekolah. Tatap muka cukup beberapa menit saja, lalu disambung tugas atau pertanyaan menggelitik yang mendorong peserta didik menelusuri sendiri jawabannya. Orangtua mengontrol dan mendampingi lalu melaporkan perkembangan anaknya kepada guru.

Sinergi dan komunikasi juga harus ada di antara guru atau dosen. Sehingga pemberian tugas bisa diatur supaya tidak menumpuk. Bila memungkinkan pemberian tugas diintegrasikan. Sehingga satu tugas bisa digunakan sebagai instrument penilaian dua mata pelajaran atau mata kuliah. Dengan demikian anggaran untuk membeli paket data juga tidak membuat dompet jebol. Bukankah pembelajaran online harusnya bisa lebih fleksibel dan paktis daripada pembelajaran offline?