Merajut Asa Di Tanah Cendrawasih (Part 1)

0
211
Wahidudin bersama putra putri SD Inpres Memes

Semula, aku tidak terlalu yakin masih ada manusia berhati malaikat seperti sosok pahlawan yang satu ini. Niatnya yang mulia tentu tidak berjalan mulus. Jauh dari keluarga, beradaptasi dengan tempat yang tidak pernah dijajaki sebelumnya hingga merasakan pahit manis di tempat pengabdian merupakan konsekuensi yang harus diterima oleh Wahidudin, manusia berhati malaikat yang berasal dari Makassar.

KampusDesa–Di tengah terjalnya persaingan karir dikalangan pemuda, sang pahlawan ini rela mengabdikan diri di daerah Indonesia Timur. Postur tubuh rampingnya tidak menyurutkan semangatnya untuk menjadi guru di sebuah sekolah rintisan, yakni SD Inpres Memes, Distrik Venaha, Kab Mappi, Provinsi Papua. Sosok itu bernama Wahidudin, seorang pahlawan asal Makassar. Sudah setahun ini Wahidudin menjalani rutinitasnya sebagai tenaga pengajar di tanah Cendrawasih. Baginya, menjadi guru di daerah terpencil haruslah bermental baja, karena ia harus beradaptasi dengan keadaan lingkungan yang mirip di era 60-an saat Pak Soeharto pertama kali menjadi presiden.

“Saya tinggal di sana serasa hidup di zaman Soeharto pada periode pertamanya, karena tidak ada sinyal, tidak ada listrik, jadi kita hanya menggunakan pelita ketika malam.” Cerita Wahidudin ditemani dengan tawa renyahnya.

Apa yang diungkapan Wahidudin tidaklah berlebihan, sebab Distrik Venaha merupakan kampung terakhir di Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Jalan ber-aspal, lampu-lampu desa, kendaraan bermotor, bahkan minimarket yang sederhana pun tidak akan ditemui. Sebenarnya kampung tersebut memilik diesel yang bisa digunakan untuk bahan penerang. Akan tetapi hal itu hanya bisa beroperasi jika kucuran dana desa untuk kampung telah cair, itu pun listrik hanya berdurasi dari pukul 06.00 hingga pukul 10.00 WIT.

Minimnya sarana dan prasana juga dirasakan tenaga pengajar di daerah. Perjuangan yang berat dan beresiko merupakan tugas tambahan yang wajib dihadapi oleh para pahlawan tanda jasa di sana.

“ Guru-guru siap-siap saja jalan kaki ke sana, karena di sana kita tidak punya kendaraan, akses dari kota ke kampung itu hanya bisa dilalui menggunakan ketinting (perahu motor) karena yang ada hanya  jalur sungai, dan lokasi saya dengan sekolah itu bisa sampai 8 hingga 10 jam. ” Ungkapnya saat berbagi cerita kepada saya di Pare, Kediri (28/1/19).

Penduduk Distrik Venaha dikenal sangat ramah terhadap guru dan orang pendatang, itulah mengapa dalam keadaan yang serba terbatas Wahidudin mudah dalam menata hati, Ia dan kawan-kawan guru lainnya merasa nyaman dan  akrab berinteraksi dengan penduduk setempat.

Untuk memenuhi sandang pangan, warga Distrik Venaha masih sangat bergantung dengan alam. Tidak ada pasar di kampung, mereka mencari bahan sagu ke dalam hutan, menangkap ikan dan berburu, begitulah cara mereka bertahan hidup. Tidak jarang Wahidudin menerima sagu serta ikan segar dari wali murid anak didiknya. Maklum, sagu adalah makanan pokok warga setempat. Penduduk Distrik Venaha dikenal sangat ramah terhadap guru dan orang pendatang, itulah mengapa dalam keadaan yang serba terbatas Wahidudin mudah dalam menata hati, Ia dan kawan-kawan guru lainnya merasa nyaman dan  akrab berinteraksi dengan penduduk setempat.

Lain ladang lain belalang, tetap saja Wahidudin merindukan suasana yang familiar dengan tempat tinggal kelahirannya. Ia dan keempat anggota team-nya berkesempatan sebulan sekali pergi ke kota terdekat untuk menyetok kebutuhan mereka. Beras merupakan sembako yang mereka cukup-cukupkan atau dalam bahasa jawa di eman-eman. Layanan internet masih belum mampu menembus sudut-sudut ranting dibalik hijaunya alam Merauke. Sekali dalam 30 hari itulah Wahidudin bisa mengaktifkan kembali smartphone miliknya, berbagi kabar dengan keluarga dan kerabatnya. Meskipun berita yang ia dapat selalu out of date setidaknya ia tetap terhubung sebagai bagian dari warga Negara Republik Indonesia.

Hanya ada satu sekolah dasar di kampung Venaha, sedangkan untuk sekolah lanjutan hanya ada di salah satu kampung terdekat dan sisanya berada di kota.

Menurut Wahidudin, penghasilan orangtua siswa tidak bisa diprediksi. Mereka mendapatkan upah ketika ada proyek yang diselenggrakan oleh kampung melalui pembiayaan dana-dana desa. Ketika proyek sepi, maka sagu dan hasil bumi yang mereka kirimkan untuk anak-anak yang melanjutkan sekolah SMP atau SMA di kampung terdekat. Mau tidak mau murid-murid harus pandai pandai bercocok tanam di lahan sekitar. Perlu diketahui, hanya ada satu sekolah dasar di kampung Venaha, sedangkan untuk sekolah lanjutan hanya ada di salah satu kampung terdekat dan sisanya berada di kota.

“Jadi karena tidak selamanya sagu itu ada, kiriman itu ada, jadi pintar-pintarlah bercocok tanam di kota, entah pisang atau jadi kuli di pasar.” Imbuh pria berkulit sawo matang ini.

Kepala Sekolah SD Inpres Memes kebetulan bertempat tinggal di kota. Kadangkala dengan sukarela beliau menyampaikan titipan uang dari wali murid untuk anak-anaknya yang melanjutkan sekolah di kota. Bagaimanapun, hanya surat kertas serta kiriman hasil bumi yang sanggup menyampaikan pesan rindu antara mereka.

Program guru penggerak daerah terpencil diinisiasi oleh FISIPOL PPKK UGM bekerjasama dengan pemerintah Provinsi Papua, Wahidudin termasuk dari sekitar 200 guru berbakat yang bertugas di sana. Melalui apa yang dirasakan muwahidin dan rekan rekannya di wilayah Pedalaman Distrik Venaha, Papua. Kita semakin tahu bahwa ghirah (semangat) untuk mencerdaskan putra-putri bangsa memerlukan ikhtiar yang lebih kuat. (bersambung ke part 2) >>>

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here