Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 33

Penanganan Covid-19 di Mata Masyarakat Jawa Lama

0

Jangan memandang remeh terhadap ilmu titen yang tumbuh sejak lama di masyarakat Jawa hanya karena menganggap bahwa saat ini zaman sudah maju. Bersinergi nyatanya mampu mewujudkan sebuah gerakan yang efisien dalam membendung laju penyebaran wabah. Jadilah manusia yang mampu menghidupkan kembali tradisi lama dengan memiliki kepekaan tinggi terhadap fenomena alam yang terjadi. Harapannya peninggalan ilmu dan budaya dari sesepuh masyarakat Jawa ini akan membantu manusia terhindar dari wabah Covid-19 atau bala musibah lainnya.

Kampusdesa.or.id–Sejak kasus Covid-19 di Indonesia diumumkan pertama kalinya oleh presiden Jokowi pada tanggal 2 Maret 2020 jumlah pasien positif Covid-19 terus bertambah. Berita terakhir menyebutkan data pasien sudah menembus 5000 jiwa lebih. Beberapa kebijakan dilakukan oleh pemerintah untuk meminimalisasi dan menghentikan penyebaran virus tersebut. Mulai dari social distancing hingga karantina lokal.

Masyarakat juga dihimbau untuk selalu menjaga kebersihan seperti mencuci tangan dan membersihkan area yang sering diakses menggunakan cairan desinfektan. Peningkatan sistem imun juga benar-benar diperhatikan seperti berjemur di pagi hari, olahraga ringan sampai konsumsi vitamin.

Dalam ilmu titen, yaitu mengamati anomali atau kejadian di luar kebiasaan alam atau lingkungan yang dianggap sebagai pertanda akan suatu kejadian pada masyarakat Jawa lama, para leluhur sebenarnya sudah memberikan tinggalan berupa ilmu mengenai apa yang harus dilakukan ketika ada pagebluk atau sawan yang muncul di sekitar.

Menilik apa yang terjadi saat ini berkaitan dengan bagaimana respon masyarakat menanggapi wabah yang sedang melanda Indonesia, mau tak mau seperti menampar diri sendiri. Dalam ilmu titen, yaitu mengamati anomali atau kejadian di luar kebiasaan alam atau lingkungan yang dianggap sebagai pertanda akan suatu kejadian pada masyarakat Jawa lama, para leluhur sebenarnya sudah memberikan tinggalan berupa ilmu mengenai apa yang harus dilakukan ketika ada pagebluk atau sawan yang muncul di sekitar.

Ilmu ini mereka dapatkan dari mempelajari segala kejadian di alam dan menghubungkan dengan berbagai peristiwa untuk mendapatkan jalan keluar dari permasalahan yang muncul. Misalnya saja munculnya lintang kemukus yang sering dikaitkan dengan akan terjadinya pagebluk atau wabah yang menyerang. Dalam kaitannya dengan terjadinya pandemi virus corona saat ini, masyarakat Jogjakarta harusnya lebih dini aware akan apa yang akan terjadi. Karena sebelum gempar wabah corona yang menyerang berbagai negara di dunia mereka sudah meramalkan akan terjadinya pagebluk itu saat melihat lintang kemukus yang muncul sebelum wabah corona terjadi di atas langit Jogja.

Dari segi kebersihan diri, orang-orang Jawa lama sudah terbiasa menempatkan kendi dan padasan di depan rumah. Kendi berfungsi untuk menyediakan minum bagi mereka yang lewat agar tenggorokan tidak kering dan padasan digunakan untuk membasuh kaki dan tangan sebelum masuk ke dalam rumah. Hal ini sejalan dengan himbauan untuk membersihkan diri sebelum memasuki rumah agar tidak membawa virus ke dalam rumah dan menulari keluarga.

Baca Juga: Hipokrisi dalam Penanganan Covid-19

Lalu dalam hal meningkatkan imunitas tubuh masyarakat Jawa terbiasa menanam kelor dan daun sirih di pekarangan rumah untuk nantinya dibuat masakan atau direbus sebagai jamu. Sampai saat ini khasiat daun kelor untuk kesehatan sangat diakui dunia. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim Drajat Irawan dalam detikNews menyatakan sampai akhir Maret 2020 kemarin Jatim mampu mengekspor 13 kali daun kelor ke Korea Selatan dengan total ekspor 55,8 ton atau setara dengan USD 155.247,90. Bukan hanya berhenti sampai disana, masyarakat Jawa terkenal sangat suka mengkonsumsi jamu yang terbuat dari aneka rempah yang kaya nutrisi baik untuk imunitas maupun juga untuk menyembuhkan penyakit.

Mengenai adanya himbauan social distancing yang digembar-gemborkan pemerintah, orang Jawa juga memiliki tradisi terkait dengan itu. Di mana untuk memberikan salam tidak dengan berjabat tangan tetapi cukup dengan menangkupkan tangan di depan dada seperti ritual namaste. Hal ini akan menghindarkan masyarakat dari penularan virus melalui sentuhan.

Selain beberapa hal di atas, isu bahwa berjemur dapat membunuh virus corona yang notabene salah kaprah dan terlanjur dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia tanpa pemahaman tentang itu, sebenarnya pun telah dilakukan secara biasa oleh masyarakat Jawa lama ataupun mereka yang hidup di pedesaan. Berjemur bukan membunuh virus corona, tetapi dinilai mampu meningkatkan imunitas tubuh. Sinar matahari pagi mampu menstimulus tubuh untuk memproduksi sendiri kebutuhan vitamin D, di mana mampu mendukung kinerja sel T yang berfungsi sebagai garis depan pertahanan melawan penyakit yang diakibatkan oleh virus.

Semenjak wabah corona menjadi pandemi yang ditakutkan masyarakat dunia. Anjuran berjemur di pagi hari mulai digalakkan bagi masyarakat agar tubuh mampu memproduksi imunitas untuk menghindari terpapar virus tersebut. Orang Jawa khususnya yang tinggal di pedesaan tidak perlu menunggu adanya anjuran tersebut. Setiap hari mereka sudah berjemur secara otomatis saat menggarap sawah atau ladang. Seperti sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sambil bekerja sambil melatih fisik dan mendapatkan manfaat sinar matahari pagi. Dengan begitu rata-rata masyarakat desa cenderung memiliki imunitas yang tinggi dibanding masyarakat kota yang jarang terpapar matahari pagi dan melatih fisik.

Dari paparan di atas masihkah kita men-judge bahwa mengikuti tradisi lama itu kuno dan tidak up to date. Padahal hal-hal yang kita lakukan saat pandemi saat ini tak lain tak bukan adalah ilmu yang lama diberikan oleh para sesepuh kita. Mereka lebih aware dan mampu mempelajari gejala alam lebih baik daripada kita meski tidak dibantu dengan teknologi yang canggih. Masihkah kita kesampingkan hal-hal yang terbukti baik bagi kita hanya karena itu tradisi lama dan ketinggalan jaman?

Jadi jangan memandang remeh terhadap ilmu titen yang tumbuh sejak lama di masyarakat Jawa hanya karena menganggap bahwa saat ini zaman sudah maju. Bersinergi nyatanya mampu mewujudkan sebuah gerakan yang efisien dalam membendung laju penyebaran wabah. Jadilah manusia yang mampu menghidupkan kembali tradisi lama dengan memiliki kepekaan tinggi terhadap fenomena alam yang terjadi. Harapannya peninggalan ilmu dan budaya dari sesepuh masyarakat Jawa ini akan membantu manusia terhindar dari wabah Covid-19 atau bala musibah lainnya.[]

Marwita Oktaviana. Adalah lulusan Teknik Mesin Universitas Udayana ini sekarang menjadi pengajar di SMKN 1 Kalitengah Lamongan di sela keaibukannya sebagai ibu dua orang anak. Cerpen dan puisinya pernah dimuat di Harian Solopos dan pernah menjuarai beberapa event kepenulisan. Saat ini aktif di komunitas menulis “One Day One Post”.

Hari Buruh atau Hari Buruk?

0

Hari buruh tahun ini menjadi hari yang buruk bagi para buruh. Pandemi virus corona tahun ini berpotensi mengakibatkan triliunan rupiah devisa lenyap. Banyak buruh dipulangkan akibat mereka kehilangan pekerjaan. Perusahan pun jadi pasif dan tidak produktif. Selamat Hari Buruh Internasional 2020! Semoga pandemi ini lekas usai serta para pekerja di Indonesia semakin produktif, inovatif, kompetitif, dan sejahtera. Aamiin.

Kampusdesa.or.id–Tagar #MayDay selalu menjejali media sosial setiap tanggal 1 Mei. Karena Di sinilah awal mula perayaan 1 Mei sebagai hari pekerja yang juga disebut sebagai May Day yang diperingati oleh seluruh kaum pekerja di dunia atau ada yang menyebut dalam bahasa inggris sebagai “International Labor Day”.

Menelisik sejarah Hari Buruh Internasional, sebuah media Bumi Rakyat memuat artikel tentang rentetan peristiwa berkenaan dengan perjuangan hak kaum buruh hingga pada tanggal 1 Mei 1886 menandai puncaknya. Sebanyak 350 ribu buruh yang dinaungi Federasi Buruh Amerika, melakukan pemogokan di banyak tempat. Semua buruh turun ke jalan. Baik laki-laki maupun perempuan. Baik buruh tua maupun buruh muda. Baik penetap maupun migran. Baik kulit putih maupun kulit hitam. Bahkan istri dan anak-anak dari kaum buruh turut serta. Semua bersatu meneriakkan tuntutan universal ‘8 jam sehari.’

Alih-alih memakai frasa May Day, banyak dari kita yang masih keliru menggunakan kata Mayday ketika menyebut perayaan Hari Buruh. Dikutip dari berbagai sumber, Mayday sendiri merupakan sinyal atau tanda bahaya yang digunakan dalam komunikasi radio. Sinyal Mayday ini sudah dipakai dan diakui secara internasional. Kata Mayday berakar dari bahasa Perancis m’aidez, yang artinya tolong aku. Kata ini umum dipakai oleh beragam profesi yang membutuhkan koordinasi dengan pihak lain dengan jarak yang tidak dekat, seperti pilot, polisi, pemadam kebakaran, dan beberapa profesi lain untuk menginformasikan adanya keadaan bahaya atau darurat.

Sebagai mantan buruh pabrik, saya pernah merasakan upah minimum regional (UMR) yang jika dibandingan dengan Malaysia dan Thailand masih tergolong kecil. Thailand saja gaji minimum buruh 325 THB/hari atau 4.500.000 – 6.000.000 rupiah/bulan. Menurut Bappenas yang dikutip oleh CNBC Indonesia, produktivitas tenaga kerja RI relatif rendah dibanding negara tetangga. Dihitung dari nilai tambah, kita jauh di bawah Malaysia, Thailand, Filipina. Tidak heran jika nilai Pendapatan Domestik Bruto (PDB) per kapita di Indonesia juga kalah efisien dengan negara tetangga.

Hal ini menjadi salah satu faktor tergiurnya WNI menjadi TKI ataupun TKW di luar negeri seperti dilansir oleh lifepal.co.id. Padahal menurut saya, dilihat dari potensi sumber daya alam Indonesia, seharusnya mampu menciptakan dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya, menawarkan bagi pekerja dalam negeri dan memberi UMR lebih tinggi.

Apa Kabar Omnibus Law?

Sejak Rancangan Undang-Undang (UU) Omnibus Law ditetapkan oleh DPR masuk ke dalam program legislasi nasional (Prolegnas) 2020. pada tanggal 17 Desember 2019 lalu, Presiden selalu membahasanya di setiap kesempatan dan menjanjikan akan rampung kurang lebih tiga bulan setelahnya. Namun di tengah jalan banyak kalangan menilai cacat dan merugikan para pekerja khususnya buruh. Sehigga beberapa kelompok atau federasi pekerja menolak Omnibus Law – RUU Cipta Kerja. Tidak sedikit para aktivis mahasiswa juga turut serta menyuarakan, terutama di awal-awal Maret kemarin.

Dikarenakan Omnibus Law pada bagian RUU Cipta Kerja dinilai merugikan pekerja di antara poin-poinnya adalah memperpanjang jam kerja dan lembur, penetapan upah minimum yang rendah, potensialnya terjadi pelanggaran hak berserikat pekerja, pemangkasan kewenangan serikat pekerja, hilangnya hak-hak pekerja perempuan untuk cuti haid, hamil dan keguguran (Kompas.com, 09 Maret 2020). Selengkapnya bisa dibaca di ulasan Katadata.co.id mengenai 9 Alasan Organisasi Buruh Tolak Omnibus Law Cipta Kerja. Lantas, apa kabar Omnibus Law hari ini?

Baca juga: Memperjuangkan Tuntutan Buruh Melalui Sistem Layanan Dasar

Titik balik hari buruh di Indonesia, setiap tanggal 1 Mei selalu marak diperingati dengan demonstrasi. Tahun 2000, para buruh dan pekerja di Indonesia melakukan protes dan demonstrasi besar-besaran. Buruh menyampaikan berbagai macam tuntutannya saat itu dan salah satu tuntutannya itu adalah untuk membuat 1 Mei kembali dijadikan hari libur nasional. Selain itu, aksi demonstrasi ini juga diikuti dengan aksi mogok kerja selama satu minggu. Tetapi semua tuntutan itu tidak dikabulkan. Karena itu, para pekerja dan buruh seringkali tetap mengadakan demo ataupun mogok kerja terutama saat 1 Mei tersebut. Pada tahun 2013 barulah, Susilo Bambang Yudhoyono selaku presiden saat itu menetapkan bahwa 1 Mei sebagai hari libur nasional.

Namun, sepertinya tidak akan ada demo hari ini. Sebagaimana instruksi dari pemerintah pusat tidak diizinkan menggelar demo yang memicu berkumpulnya masa di tengah masa wabah virus corona. Seperti yang diberitakan Detik News (25/04/2020) sebagian kelompok buruh yang berencana akan menggelar demo pada peringatan hari buruh ditunda.

Meskipun Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), dan Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) sempat mengancam akan menurunkan 50 ribu orang dari Jabodetabek sebagai aksi demonstrasi peringatan hari buruh atau May Day yang jatuh setiap tanggal 1 Mei. Akhirnya ancaman demo pun urung dilakukan karena Presiden Joko Widodo memutuskan menunda pembahasan RUU Cipta Kerja (Ciptaker).

Walau demikian, mereka tetap akan menyuarakan aksi melalui laman facebook, twitter, instagram dan grup WhastApp. Jika tahun lalu tuntutan para buruh adalah salah satunya penghapusan outsourcing yang sejak dulu digaungkan. Kali ini dengan mengangkat tema peringatan May Day “Penggalangan Dana for Solidarity Pangan dan Kesehatan”,  disertai pula penolakan Omnibus Law RUU Cipta Kerja. Mereka meminta klaster ketenagakerjaan dalam Omnibus Law – RUU Cipta Kerja dihapus, meminta kepada Presiden untuk segera mengambil langkah-langkah strategis mengenai bagaimana menghadapi gelombang PHK, dan juga banyaknya gaji ke-13 atau THR yang tidak dibayarkan oleh perusahaan.

Sehari saja kawan / kalau kita mogok kerja / dan menyanyi dalam satu barisan / sehari saja kawan / Kapitalis pasti kelabakan. (kutipan salah satu puisi Widji Tukul berjudul “Sehari Saja Kawan”)

Hari buruh tahun ini menjadi hari yang buruk bagi para buruh. Pandemi virus corona tahun ini berpotensi mengakibatkan triliunan rupiah devisa lenyap. Salah satunya karena banyak buruh dipulangkan. Akibatnya mereka kehilangan pekerjaan, perusahan pun jadi pasif dan tidak produktif. Sehingga income menurun drastis. Tentu pada akhirnya juga hal ini tidak hanya buruk bagi buruh dan buruk bagi negara pula. Menengok data tahun lalu di tingkat ASEAN saja, cadangan devisa Indonesia di bawah Singapura dan Thailand.

Akhir kata, jika flashback dan teringat bagaimana rasanya pernah jadi buruh pabrik, saya pun ingin menutup tulisan ini dengan penggalan sajak Widji Thukul lainnya yang berjudul “Buruh-Buruh” ….Mesin terus berputar, pabrik harus berproduksi, pulang malam, badan loyo, nasi dingin. Selamat Hari Buruh Internasional 2020! Semoga para pekerja di Indonesia semakin produktif, inovatif, kompetitif, dan sejahtera. []

Benarkah Puasa Menjadikan Kita Lebih Sehat? (2)

0

Salah satu anugerah nikmat dari Tuhan yang wajib kita syukuri adalah disyari’atkannya puasa sebagai salah satu rukun Islam. Puasa merupakan ibadah wajib yang dapat berfungsi sebagai salah satu terapi kesehatan yang mampu menyembuhkan penyakit yang bersifat fisik dan psikis. Berbagai penelitian telah mengungkap hal ini. Sebagaimana pesan Nabi, berpuasalah agar kamu sehat.


Kampusdesa.or.id–Acapkali yang tertanam dalam benak kita bahwa sehat itu bersifat fisik an sich, jika saya bertanya kepada anda semua:

“Apa Anda sehat?” maka persepsi yang tertanam dalam pikiran Anda otomatis mengarah kepada kesehatan tubuh. Bahwa Anda tidak linu-linu, sakit perut, tidak panuan, tidak sakit jantung, dan lain sebagainya.

Namun, pertanyaan krusialnya betulkah kesehatan itu hanya bersifat fisik saja? Sepertinya tidak. Sebab, orang yang tubuhnya sehat namun jiwanya tergangu tentu itu tidak bisa dikatakan sehat. Katakanlah, ketika dicek livernya, jantungnya, paru-parunya tidak ada problem maka itu bisa disebut sehat. Akan tetapi, manakala ia dalam keadaan tertekan, misalnya diberi deadline tahun sekarang tugas akhir skripsi, tesis, dan disertasinya wajib selesai. Jika tidak, wajib re-nim atau mengulang dengan kata lain tentunya membayar SPP lagi dan bagi yang ikut program beasiswa wajib mengembalikan sesuai MoU yang sudah disepakati dengan materai. Melihat kondisi seperti itu, mereka mendapat tekanan jiwa yang berlebihan lantas ia linglung dan bersifat ekslusif, tentunya mereka tidak bisa dianggap sehat.

Baca Juga: Peluang Ramadan di Saat Corona Melanda

Penulis tadi malam dijemput untuk meruqyah salah satu mahasiswa di kampus negeri Jember yang oleh keluarganya divonis mengidap kelainan seksual yang populer dengan sebutan Gay (laki-laki suka sama laki-laki), padahal kondisi tubuhnya dalam keadaan sehat wal afiat.

Ternyata, setelah diruqyah mahasiswa tersebut kemasukan jin perempuan yang suka kepadanya bernama Siti, dan sudah lama berdiam dalam tubuhnya sebelum bangun rumahnya. Jin tersebut sangat mencintai mahasiswa itu, sehingga ketika ia berniat untuk menikah dengan seorang pujaan hatinya, jin tersebut yang menghalang-halanginya. Alhamdulillah, setelah dilakukan ruqyah dan dialogis yang cukup dramatis akhirnya jinnya (si Siti) bersedia untuk keluar. Oleh sebab itu, konsep sehat itu bukan hanya menyangkut kesehatan fisik saja namun juga berkaitan kesehatan psikis juga.

“Bahwa tubuh dan jiwa pada diri kita, ibarat dua sisi yang berbeda dalam satu keping mata uang. Keduanya ada bersamaan dan saling interaksi serta sama-sama memiliki pengaruh yang cukup signifikan”

Lebih jauh lagi, bahwa tubuh dan jiwa pada diri kita, ibarat dua sisi yang berbeda dalam satu keping mata uang. Keduanya ada bersamaan dan saling interaksi serta sama-sama memiliki pengaruh yang cukup signifikan. Badan kita yang sehat memiliki kontribusi untuk memperoleh jiwa yang sehat. Namun sebaliknya, jiwa yang sehat juga mempunyai kontribusi besar untuk menjadikan tubuh yang sehat.

Sahdan, jargon bahwa “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat” tidak sepenuhnya benar. Karena dilingkungan kita yang menunjukkan bahwa dalam tubuhnya sehat sekali tidak selalu terdapat jiwa yang sehat.

Baca Juga: Tiga Tingkatan Orang Berpuasa Menurut Imam Ghazali

Hal yang cukup sederhana saja, sesungguhnya badan kita ini tunduk kepada jiwa. Misalnya, kita menggerakkan tubuh kita untuk mengerjakan tugas akhir dan menyelesaikan skripsi, tesis, dan disertasinya, itu berarti otot tangan kita yang mengambil laptop, tunduk pada kehendak jiwa.

Terakhir, jika kita berbicara tentang kesehatan yang paripurna, kita tidak bisa meninggalkan korelasi dan keterkaitan jiwa dan badan. Puasa adalah salah satu terapi kesehatan yang mampu menyembuhkan penyakit yang bersifat fisik dan psikis, pasalnya orang yang berpuasa itu, selalu happy dan bahagia seperti yang pernah di sabdakan oleh Rasulullah Saw, “Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kebahagian. Pertama bahagia ketika detik-detik mau buka puasa. Kedua bahagia saat detik-detik mau menghadap Tuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Agar sehat, seyogyanya kita berusaha optimal menyehatkan jiwa dan badan. Keseimbangan antara keduanya menjadi kunci utama kesehatan yang sesungguhnya. Salah satu cara untuk menjaga keseimbangan tersebut adalah dengan puasa.

Baca Juga: Benarkah Puasa Menjadikan Kita Lebih Sehat (1)

PENGUMUMAN TAHAP 1: Peserta Lolos Indonesia Menulis Covid-19 (I’M COVID-19)

0

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam silaturrahim kami sampaikan kepada segenap peserta I’M Covid-19 yang telah sabar menunggu pengumuman hari ini.

Tulisan atas nama-nama yang tertera di bawah akan diterbitkan di edisi eksklusif bersama dengan tulisan para pakar.

Adapun yang tidak lolos seleksi tahap pertama. Kami terbitkan di buku edisi kedua.

Bagi naskah yang tidak lolos baik edisi eksklusif maupun kedua, akan kami terbitkan di website atas persetujuan yang bersangkutan.

Demikian pengumuman ini kami sampaikan. Terima kasih atas perhatian dan kerjasama Anda.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ttd.
Redaktur Kampus Desa

*Pengumuman Tahap 2 bisa dilihat di sini.

Telekonseling: Gangguan Psikosomatis di Tengah Pandemi

0

Gangguan psikosomatis merupakan bentuk gangguan fikiran yang mempengaruhi munculnya keluhan fisik. Dalam hal pandemi Covid-19 tidak sedikit masyarakat yang pada akhirnya merasakan reaksi gejala yang hampir sama dengan gejala infeksi virus corona. Hal tersebut menjadikan kebingungan di kalangan masyarakat. Tips menghadapi gangguan psikosomatis akibat dampak wabah Covid-19, di antaranya berfikir positif (positive thinking), lakukan terapi SEFT (spiritual emotional freedom technique), psikoterapi (CBT, hipnoterapi dan lain-lain), relaksasi (pernapasan, meditasi dan yoga), konsultasi dengan professional atau ahlinya, cari informasi yang tepat, dan yang terakhir tentu berdo’a dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kampusdesa.or.id–Covid-19 menjadi wabah pertama di kota Wuhan, China. Setalah penyebarannya yang sangat cepat hingga mencapai 114 negara di dunia, WHO pun menetapkan menjadi pandemi covid-19 (Covid-19 outbreak). Data update terakhir per 30 April 2020, Indonesia merupakan salah satu negara terdampak dengan kasus terkonfirmasi sebanyak 10.118 jiwa dan meninggal sebanyak 792 jiwa, (BNPB, 2020). Keseriusan pemerintah dalam menanggulangi pandemi ini ditunjukkan dengan memberlakukan kebijakan kebijakan baru dalam hal untuk menurunkan grafik penyebaran pandemi ini.

Sejalan dengan semangat pemerintah, banyak juga kasus berita hoax mengenai perkembangan perjalanan pandemi Covid-19 di Indonesia yang bermunculan di jagad dunia maya yang dapat dengan mudah di akses oleh masyarakat luas di Indonesia serta pemberitaan yang massif menjadi pendorong munculnya gangguan kekhawatiran yang berlebih hingga perasaan tertekan di lingkungan masyarakat. Kondisi ini diperparah dengan adanya kemunculan gangguan kesehatan mental berupa psychosomatic disorder atau gangguan psikosomatis (Emeldah, 2020).

Oleh sebab itu, Kamis (30/04) Divisi Riset dan Kelembagaan (Risteg) DiasporaMuda Lamongan bekerjasama dengan Citajiwa.id tergerak untuk menginisiasi kegiatan seminar online (webinar) bertajuk “Covid-19: Are you sure?” dengan pembahasan lebih dalam mengenai apa itu Psikosomatis, ciri-cirinya, dan bagaimana menghindarinya. Materi seminar via aplikasi zoom meting selama satu jam setengah ini dipaparkan oleh Kak Ruslan,S.Psi (founder Citajiwa.id) sembari ngabuburit.

Sebagai pembuka di awal materi, ia memberikan pemahaman terkait kesehatan mental. Menurut WHO (2011), kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan di mana individu mampu menyadari potensinya, menyelesaikan tekanan hidup, produktif dan menghasilkan serta berkontribusi pada masyarakat dengan ciri-ciri tidak adanya perasaan bersalah pada diri sendiri, memiliki estimasi yang realistis terhadap dirinya sendiri, dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, mampu menghadapi masalah-masalah, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya dan memiliki kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam hal ini seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan mental dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.

Baca juga: Hipokrisi dalam Penanganan Covid-19

Selanjutnya pemateri memaparkan kaitannya dengan Covid-19 adalah akibat informasi yang masif dan fakta-fakta terkait Covid-19 mampu membuat stress, sehingga memicu serangkaian reaksi pada otak. Stress menstimulasi hormon yang diatur oleh hipotalamus (bagian otak yang berfungsi menyampaikan informasi sensorik dan pusat persepsi nyeri) dan stress juga dapat merubah fungsi sistem imun melalui ujung saraf bagian yang melibatkan sistem seperti kalenjar getah bening (di leher dan ketiak), timus dan limpa. Maka, hormon dompamin dan serotonin menurun dan hormon adrenalin dan kortisol meningkat.

Oleh karena itu, efeknya dapat menimbulkan gejala stress atau kecemasan. Ditandai dengan a) Fisik: jantung berdebar, sesak nafas, pusing, berkeringat, mati rasa, kesemutan, mulut kering, mual atau muntah, gelisah dan gemetar. b) Psikologis: rasa takut dan khawatir berlebihan, konsentrasi berkurang, ragu, mudah tersinggung, mudah marah, terlihat bingung dan mengalami gangguan tidur. c) Perilaku: menghindari situasi, perilaku obsesif atau kompulsif, tertekan dalam situasi osial dan perilaku fobia.

Adapun pengertian gangguan psikomatis menurut klinis berarti permasalahan Psikologis yang berpengaruh pada medis/fisik. Jadi ada masalah psikis, memunculkan/meningkatkan masalah fisik. Dr. Allert Benedicto Ieuan Noya menyebutkan gangguan psikosomatis merupakan bentuk gangguan fikiran yang mempengaruhi munculnya keluhan fisik (Allodokter, 2018). Dalam hal pandemi Covid-19 tidak sedikit masyarakat yang pada akhirnya merasakan reaksi gejala yang hampir sama dengan gejala infeksi virus corona. Hal tersebut menjadikan kebingungan di kalangan masyarakat.

Karena jika kita mengalami gangguan ini, dampaknya adalah merasakan efek cemas jangka panjang. Itu artinya akan menganggu aspek kehidupan seperti hubungan dalam berkeluarga, rekan kerja, pekerjaan, produktifitas menurun, depresi, sistem saraf pusat secara teratur melepas hormon stres dalam jangka panjang (contohnya sakit kelapa, dada berdebar, pusing, dan lain-lain.

Maka dari itu, poin terakhir dari seminar ini yang paling penting yaitu tips-trik menghadapi gangguan psikosomatis akibat dampak wabah Covid-19, di antaranya berfikir positif (positive thinking). Jika kesulitan berfikir positif bisa dicoba melakukan relaksasi pernapasan dengan rumus 4-7-8, yang artinya menarik napas selama 4 detik, kemudian menahan selama 7 detik dan dihembuskan selama 8 detik, dilakukan terapi SEFT (spiritual emotional freedom technique), psikoterapi (CBT, hipnoterapi dan lain-lain), relaksasi (pernapasan, meditasi dan yoga), konsultasi dengan professional atau ahlinya, cari informasi yang tepat atau bisa juga konsultasi gratis di nomor 119 lalu klik angka 8, dan yang terakhir tentu berdo’a dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Untuk mengurangi kecemasan dapat dilakukan pencegahan melalui disiplin mengikuti protokol otoritas kesehatan setempat, mencari informasi dengan sumber terpercaya, membatasi diri dalam memeriksa informasi terupdate terkait COVID-19, meminta bantuan orang yang dipercaya seperti call center Covid-19 yang telah disediakan, dan hati-hati dalam share sesuatu untuk menghindari hoax.

Sedangkan untuk mengurangi kecemasan dapat dilakukan pencegahan melalui disiplin mengikuti protokol otoritas kesehatan setempat, mencari informasi dengan sumber terpercaya, membatasi diri dalam memeriksa informasi terupdate terkait COVID-19, meminta bantuan orang yang dipercaya seperti call center Covid-19 yang telah disediakan, dan hati-hati dalam share sesuatu untuk menghindari hoax.

Selain itu, rencanakan yang bisa direncanakan seperti misalnya ada keluarga yang terkena Covid-19 apa yang kamu rencanakan, membuat jadwal school/work from home, tetap terkoneksi seperti menjaga hubungan dengan keluarga dan teman lewat HP, sosial media dan lain-lain. Karena hal ini dapat menjadi vitamin kesehatan mental. Kemudian kita harus pedulikan tubuh dengan melakukan hal-hal baik untuk tubuh semisal meluangkan waktu pada kegiatan yang kita suka (hobi), serta yang tidak kalah penting adalah saling menjaga dan membantu orang yang membutuhkan.

Demikian sesi materi yang telah disampaikan oleh Psikolog alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini. Acara dilanjut dengan sesi diskusi, namun mengingat waktu sudah mau mendekati buka puasa. Maka Nadhirul Mundhiro, moderator seminar online ini hanya membuka satu kesempatan penanya saja.

“Jika teori herd immunity diterapkan di Indonesia, terkait psikomatisnya bagaimana? Kemudian penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menurut pemerintah dalam masa darurat Covid-19 ini kan sampai 29 Mei atau bisa jadi lebih lama. Apakah akan mengalami gangguan kecemasan dan bagaimana cara mengobatinya?” pertanyaan dari Iin Nur Zulaili.

Jawaban dari narasumber mengenai herd immunity sebenarnya setiap negara memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Kalau misalkan dibiarkan tanpa PSBB itu malah bisa makin melonjak kasus COVID-19 ini. Kalau dia yang kekebalan tubuhnya baik –dia yang akan bertahan itu akan berdampak kepada orang-orang yang tidak mengetahui kekebalan tubuhnya. Apakah memiliki kondisi imun yang cukup baik untuk mempertahankan diri atau tidak. Lalu bagaimana dengan kecemannya, maka akan juga bisa membuat kecemasan banyak orang.

Kemudian soal PSBB, nah kalau ditanya lebih ke kecemasan terkait sosial kita, sosial kita dengan pekerjaan itu bagaimana, bagaimana dengan yang diperantauan mereka gak bisa pulang, ada yang setiap harinya juga harus mobile. Dalam kondisi seperti ini sebenarnya kita kan gak tahu sampai kapan kepastiannya. Jelas kalau PSBB ini sangat berpengaruh juga kepada kecemasan. Kita mau keluar kota kita harus melewati serangkaian protokol COVID-19 dan ini sebenarnya bisa menganggu. Jika kita dalam situasi tidak enak atau menekan yang bisa kita lakukan yang pertama berfikir positif dan yang selanjutnya mengikuti berbagai aturan dari protokol kesehatan karena apa yang bisa kita kontrol itu yang bisa kita lakukan, selebihnya pasrahkan saja. Selama ini pemerintah juga kan sudah berjanji dengan pemenuhan kebutuhan pokok.

Pada sesi akhir kegiatan, pemateri memberikan closing statement dan himbauan kepada peserta seminar. “Ayo kita bekerja sama dengan Covid-19 ini, gak ada yang tidak bisa dan tidak mungkin untuk mencegah dan melawan Coid-19 ini. Saya yang bekerja di bidang kesehatan, sangat banyak yang mengalami cemas ataupun panik, dan harus dikonsultasikan. Mereka juga merasakan apa yang kalian rasakan. Mereka juga manusiawi, jadi mari bantu mereka dengan melakukan arahan-arahan dari protokol kesehatan. Kita tidak hanya peduli pada diri sendiri, kita juga harus peduli pada orang lain. Semoga Ramadhan ini kita bisa mendapatkan berkah untuk membantu orang lain, membantu untuk tidak menularkan orang lain, membantu untuk mencegah virus ini, terutama situasi ini bisa cepat kembali pulih. Tetap semangat Diaspora Muda Lamongan saya sangat salut dengan adanya organisasi ini, harapannya ke depan kita bisa tetap bekerja sama,” pungkas pemateri yang juga tenaga Psikologi, Dinas Kesehatan Kota Surabaya ini. []

*Berita ini juga dimuat di fanspage Diaspora Muda Lamongan dengan judul “Ngabuburit Sambil Seminar Online: Gangguan Psikosomatis di Tengah Pandemi Covid-19”

Benarkah Puasa Menjadikan Kita Lebih Sehat? (1)

0

Ibadah puasa mengandung segudang hikmah. Salah satunya adalah menjadi sarana meningkatkan kesehatan kita. Bahkan, bukan hanya kesehatan fisik atau jasmani, tapi juga kesehatan ruhani. Kedua kesehatan dimensi diri ini memang harus seimbang. Percuma fisik sehat, tapi ruhaninya sakit. Begitu pun sebaliknya.


Kampusdesa.or.id–Kebanyakan orang berasumsi bahwa puasa itu membebani baik secara fisik atau psikis. Kesalahpahaman ini terjadi karena faktor ketidaktahuan dan kemiskinan literasi kita bahwa semua ibadah termasuk ibadah puasa sangat bermanfaat untuk menyeimbangkan kembali kondisi kehidupan kita. Dalam kata lain, ibadah puasa itu diibaratkan sebagai perawatan terhadap mobil kita.

Kebetulan penulis punya mobil Sigra jenis Daihatsu warna putih tahun 2016. Secara berkala mobil itu mesti dicek minyak remnya, radiator, minyak power steering, ganti oli, timing belt dan onderdil lainya di Bengkel Resmi Daihatsu Jember. Hal ini penulis lakukan karena mobil sering beroperasi keluar kota mulai dari Surabaya, Yogyakarta, Magelang, Semarang, dan Purwoketo. Jika tidak, mobil bisa dipastikan akan cepat rusak sebelum waktunya. Hal ini, bukan sesuatu yang membebani. Bukan sesuatu yang luar biasa. Ini adalah sebuah kewajiban kita sebagai pemilik mobil, akan tetapi bukan sebuah keterpaksaan.

Baca Juga: Tiga Tingkatan Orang Berpuasa Menurut Imam Ghazali

Nah, begitu juga dengan puasa kita saat ini adalah kewajiban bukan keterpaksaan. Fungsinya persis seperti perawatan mobil kita. Jika kita belum pernah melakukan puasa selama hidup, otomatis akan mengalami problem dalam kesehatan baik yang bersifat fisik ataupun psikis.

Dr. Paavo Airola, pakar Nutrisi Biokimiawi dari Finlandia mengadakan penelitian bahwa stres yang terjadi kepada kita secara berkepanjangan bisa menyebabkan antibody kita lemah dan sulit mempunyai keturunan. Kesimpulan dari penelitian ini, orang yang gila kerja tanpa jedah selama beberapa bulan, dan tahun akan berimplikasi kepada tekanan psikis yang over. Jika kita tidak segera menyeimbangkan diri dari tekanan itu, bisa dipastikan akan menimbulkan problem kesehatan.

Tahun kemarin, penulis didatangi pasangan muda yang sudah lama menikah namun bertahun-tahun belum dikarunia seorang anak. Keduanya konsultasi kepada penulis berbasis kitab Abu Ma’syar al-Falaki,

“Kalian insyaallah berdasarkan rumus dalam kitab ini masih berpotensi punya keturunan namun yang perlu diperhatikan oleh kalian jangan sampai gila kerja sehingga lupa untuk istirahat.”nasehat penulis. “Wah, betul sekali ust, suami saya ini berangkat pagi pulang malam waktu untuk keluarga hanya sebentar sekali”respon sang isteri.”Begitu juga, dengan ibu jangan terlalu protektif dan cerewet agar suami betah dirumah”lanjut penulis. “Betul ust, ia seperti maklampir, nyerocos terus sehingga saya tidak betah dirumah.”kata sang suami.

Baca Juga: Puasa Itu Melatih Kejujuran

“Bapak kan kuliah doktor di Malang setiap Minggu, tolong isterinya dibawa dan nginep di hotel atau sewa Villa satu atau dua hari di sana, buat suasana romantis seperti bulan madu lagi dan produksi anak disana.”kelakar penulis disambut senyum yang tersungging di bibir keduanya. Alhamdulillah, satu bulan dari itu penulis mendapat kabar kalau isterinya sudah hamil.

Oleh sebab itu, berpuasalah karena dengan puasa itu kita akan sehat jasmani dan rohani seperti halnya yang sudah pernah disabdakan oleh Rasulullah Saw:

“Berpuasalah maka kalian akan sehat.”

Lanjut ke Bagian 2 – Benarkah Puasa Menjadikan Kita Sehat

Ora Poso, Ora Oleh Riyoyo

0

Ketika penulis masih kanak-kanak, sering dikata-katai/dinasehati orang tua dengan ungkapan diatas. Arti ungkapan ini adalah jika tidak berpuasa maka tidak punya hari raya.

Salah satu hal yang menggembirakan anak setelah puasa Ramadhan adalah menikmati suasana hari raya Idul Fitri atau lebaran. Diantara nuansa lebaran yang menyenangkan anak adalah “nglencer”, yaitu saling berkunjung ke rumah saudara, tetangga dan teman atau silaturrahmi.

Dulu, ungkapan diatas biasanya digunakan oleh orang tua untuk menakut-nakuti anaknya yang tidak mau berpuasa agar mau berpuasa. Termasuk orang tua penulis. Sering pula diungkapkan “lek sampeyan ora poso, ora oleh riyayan”, artinya jika kamu tidak berpuasa maka tidak boleh berhari-raya. Seringkali ungkapan ini dibumbui tidak akan dibelikan baju baru, tidak diajak nglencer dan menikmati aneka hidangan yang lezat.

Dengan ungkapan itu, penulis waktu itu menjadi takut juga. Akhirnya penulis mau berpuasa walaupun sesuai dengan kemampuan. Harapannya nanti berhak pula menikmati lebaran.

Lebaran biasanya identik dengan kesenangan dan kebahagiaan. Pakaian lengkap serba baru, aneka jenis makanan dan minuman lezat dan rasa suka cita mengiringi suasana lebaran. Walaupun sebenarnya bukan itu hakikat lebaran, namun sudah menjadi pemahaman umum di masyarakat.

Jika kita mau menelusuri makna yang agak mendalam dari ungkapan diatas, mungkin, merupakan penyederhanaan dari sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya “Bagi orang yang berpuasa akan mendapat dua kegembiraan, yaitu kegembiraan saat berbuka dan saat bertemu dengan Tuhannya”.

Hadits ini memberikan kabar gembira kepada kita yang mau istiqomah berpuasa Ramadhan, akan mendapatkan dua kegembiraan. Kegembiraan pertama saat berbuka puasa.

Sangat jelas sekali, setelah sehari penuh kita menahan lapar dan dahaga, ketika adzan maghrib berkumandang, alangkah gembiranya kita. Hidangan yang sudah disiapkan segera bebas untuk kita nikmati. Hidangan apapun, karena sudah sangat lapar dan dahaga, maka akan terasa nikmat sekali. Pendapat lain, kegembiraan saat berbuka diartikan kegembiraan saat hari raya Idul Fitri. Gembira karena telah mampu mencapai kemenangan mengendalikan hawa nafsu selama sebulan penuh. Gembira karena telah diterima taubatnya, terhapus semua dosanya, dikabulkan doanya dan diterima seluruh amal ibadahnya. Kemenangan itu diwujudkan dalam bentuk berhari-raya. Gembiranya luar biasa.

Dari kegembiraan pertama inilah kemungkinan munculnya ungkapan diatas. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan kegembiraan, baik saat berbuka maupun hari raya. Sebaliknya, bagi orang yang tidak berpuasa tidak akan mendapat kegembiraan ini. Ketika adzan maghrib tiba, bagi orang yang tidak berpuasa suasananya akan sama saja dengan hari biasa. “Kagak ngefek”. Termasuk saat lebaran, tentunya dalam hatinya yang terdalam, tidak akan merasakan kegembiraan sejati. Walaupun sama-sama berhari-raya, sama-sama nglencer, namun akan jauh berbeda rasa suka citanya. Bagi yang berpuasa sebelum berhari-raya ditempuh dengan perjuangan berat, sementara yang tidak berpuasa tidak ada perjuangan sama sekali. Jelas akan berbeda. Hari raya bagi ahli puasa menjadi hari yang sangat istimewa.

Sampai saat ini, penulis juga masih sering mendengar ungkapan ini dari para orang tua untuk anak-anaknya. Tujuannya tiada lain kecuali dalam rangka memotivasi anak untuk mau berpuasa. Ternyata ungkapan ini sangat positif. Oleh karena itu tidak ada salahnya jika ungkapan ini juga digunakan sebagai penyemangat seluruh umat Islam untuk berpuasa, termasuk kita.

Semoga dengan ungkapan sederhana ini kitapun juga tergugah untuk berusaha maksimal menyempurnakan ibadah di bulan Ramadhan agar kitapun bisa “Riyayan”. Aamiiiin.

*Cerita pendek ini adalah sebuah catatan saya yang mengisahkan betapa indahnya Ramadhan di masa kanak-kanak.

Homeostasis Keseimbangan Holistik

0

Homeostasis dalam dunia medis menempati posisi penting. Ia merupakan faktor penentu keseimbangan diri. Kesehatan kita sangat ditentukan oleh kualitas keseimbangan diri ini. Stres, sedih, dan goncangan psikologis lainnya kerap menjadi pemicu munculnya penyakit-penyakit fisik. Sebab itu, menemukan titik homeostasis ini penting bagi upaya penyembuhan.


Kampusdesa.or.id-Konsep kesehatan Eropa dan Asia pada ujungnya bertemu pada ending yang sama yaitu konsep Homeostasis, artinya kesehatan tubuh kita sangat tergantung kepada keseimbangan pada diri.

Kita akan keheranan lagi manakala mengetahui, bahwa keseimbangan itu tidak pernah berhenti pada sistem organik an sich, akan tetapi ada korelasi yang sangat erat sekali dengan sistem psikis kita.

Ada beberapa hal yang sangat tidak mungkin bisa dimengerti secara sistem organik. Antara lain penyakit psikosomatik, yaitu penyakit yang diakibatkan stress, depresi, kekecewaan, kekuatiran, dan ketakutan yang berlebihan.

Ada seorang mahasiswa dari Wringin Arak-arak menelpon penulis,

“Assalamualaikum ust, saya dan ibu saat ini ada diruang ICU di RSUD Bondowoso untuk menjalani operasi penyakit batu empedu yang diderita oleh ibu kandung saya, oleh dokter disarankan pulang terlebih dahulu untuk puasa pra operasi. Namun sebelumnya, saya bertanya kepada salah seorang ibu Nyai di pesantren, beliau menyarankan tidak operasi karena itu terkena sihir atau guna-guna. Rencana ibu dibawa ke Prajekan mau diruqyah ust?”katanya dengan nada kebingungan. “Monggo” jawab penulis.

Baca Juga: Rahasia Menghadapi Sesuatu Di luar Dugaan

Akhirnya, beberapa jam kemudian mereka sekeluarga datang, ibunya langsung diruqyah namun hanya ada sedikit reaksi panas dalam tubuhnya, penulis mengambil keputusan bahwa ibu itu murni penyakit medis justru mantunya yang reaksi hebat sampai muntah, pingsan, dan menjerit histeris.

Dalam kondisi demikian, penulis menyarankan kepada ibu tersebut agar kontak langsung dengan Allah SWT untuk mohon kesembuhan, melalui shalat tahajud, selalu ingat kepada-Nya (dzikrullah). Karena memang itu menjadi solusi dan alternatif terakhir setelah menjalani ikhtiyar maksimal.

Di samping itu, penulis menyarankan juga agar menjalani pengobatan air hujan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dalam hadits riwayat Umar Ibnu al-Khattab dalam kitab Khazinatu al-Asrari karya Syaikh Haqqi al-Naziliy,

“Barang siapa yang minum air hujan yang langsung dari langit, dan dibacakan al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falak, al-Nas, dan sholawat Nariyah masing-masing dibaca 70 kali lalu kemudian ditiupkan pada air hujan tersebut selama tujuh hari berturut-turut. Rasulullah Saw bersumpah, “Demi jiwaku yang ada dalam genggamannya, sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan memberitahukanku bahwa barang siapa yang minum air hujan yang sudah dibacakan surat-surat di atas, maka ia akan disembuhkan dari segala macam penyakit baik penyakit medis ataupun non medis.”

Ibu itu, benar-benar melakukan dengan sepenuh hati agar diijinkan-Nya untuk sembuh dari penyakit batu empedunya. Tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya bahwa doanya akan diijabah oleh-Nya.

Baca Juga: Rahasia Air Hujan, Bisa Diminum untuk Kesehatan

“Ketulusan dan kepasrahan dalam menyongsong detik-detik operasi penyakitnya membuahkan hasil. Semakin dekat dengan garis kematian justru kondisi fisiknya menjadi semakin membaik.”


Maka, sungguh luar biasa sekali, ketulusan dan kepasrahan dalam menyongsong detik-detik operasi penyakitnya membuahkan hasil. Semakin dekat dengan garis kematian justru kondisi fisiknya menjadi semakin membaik.

Yang tadinya kejang-kejang karena menahan sakit perut dengan frekuensi sering, kini frekuensinya menjadi semakin jarang. Dan semakin hari, semakin jarang.

Hingga pada waktu hendak berlangsungnya operasi dan sudah mau masuk ke ruangan, tiba-tiba puterinya itu menelpon penulis,

“Assalamualaikum ust, Alhamdulillah ibu tidak jadi dioperasi” katanya dengan nada bahagia. “Loh, kenapa?” Jawab saya penuh tanda tanya.”Penyakit batu empedu yang diderita ibu oleh dokter dinyatakan negatif ust.” Lanjutnya.

Dalam kasus ini, penulis hanya ingin mengatakan betapa prediksi dokter yang ingin melakukan kalkulasi melalui pendekatan sistem organik tidak akurat. Secara medis, sangat jelas tubuhnya mengalami penurunan kondisi yang cukup signifikan. Namun, ternyata kekuatan (power) psikologisnya yang kuat mampu mendorong terbentuknya homeostasis dan mendongkrak kembali kondisi yang semakin parah itu, berbalik arah menjadi membaik.[]