Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 31

Nuzulul Qur’an

0

Oleh: Muhammad N. Hassan

Malam ini, kitab suci al-Quran diturunkan
Kepada Baginda Nabi akhir zaman
Sang penerima wahyu berupa kitab mulia
Mukjizat dari Allah untuk umat manusia

Kini fenomena telah berubah
Kitab suci seakan menjelma wujudnya
Banyak orang menghamba pada gawai
Karna merasa lebih dibutuhkan setiap hari

Ke mana kah suara tadarus al-Quran?
Kalamullah ini tak lagi dilantunkan
Sebagai kitab penting bergelar as-syifa’
Entah kita yang malas atau enggan membuka

Hingga kamarku tak ada tilawah yang menghiasi
Hening bergeming bak sepi tersembunyi
Ia kubiarkan bertahun-tahun di atas almari tua
Tak pernah kujamah apalagi kubaca

Adakah nada-nada rindu atas firman-Nya?
Bukankah aku kemarin pernah berjanji
Bulan ini kuingin mengkhatamkannya
Di bulan mulia penuh rahmat dan maghfirah

Yaa Muqollibal qulub…
Ingin rasanya ku bersimpuh dalam peluh
Bermunajat sedalam kalbu
Memohon bimbingan dan petunjuk

Atas nama keberkahan Ramadhan
Kutetapkan pengharapan
Mohon segala ampunan
Di malam diturunkannya al-Quran

Bangkok, 16 Ramadhan 1441 H

Klothek-Klothek Tarawih

0

Dua hari kemarin, karena tidak ada jadwal imam, saya Tarawih di tempat lain. Saya hadir di tempat sholat darurat untuk antisipasi Covid 19. Karena dalam 3 RT hanya ada satu masjid dan tidak ada tempat sholat lain, jama’ah dipisah menjadi dua, terpaksa jamaah satunya menempati gedung Paud. Di situlah saya hadir.

Walaupun tempatnya darurat tapi pelaksanaan ibadah berjalan lancar. Namun, ada satu “kearifan lokal unik” yang saya temui. Di sela-sela Tarawih, saat Bilal membaca sholawat penghubung rokaat, selalu saya dengar suara “klothek-klothek”. Pelan sekali suaranya, nyaris tidak terdengar. Saya penasaran dan berusaha mencari tahu, ada apa gerangan? Akhirnya ketemu… Sang Bilal yang berada dekat samping kanan imam memindahkan biji kopi ke dalam potongan botol Aqua. Ternyata biji kopi itu sebagai skor hitungan rokaat sholat Tarawih. Dia memastikan skor itu untuk kehati-hatian supaya jumlah rokaat tidak kurang, lebih atau sempurna. Unik sekali. Baru kali ini saya mendapati hal tersebut.

Dengan peristiwa itu saya jadi teringat masa kanak-kanak dulu. Ketika pergantian rokaat Tarawih, saya juga sering membuat skor. Walaupun kadang tidak ikut sholat secara lengkap, beberapa rokaat hanya duduk dan diam, tapi saya tetap membuat skor itu.Tujuannya waktu itu agar tahu sudah dapat berapa rokaat. Cuma, cara yang dipakai “nyekor” berbeda. Penyekoran yang paling saya ingat ada tiga, yaitu, memakai kapur tulis, hiasan sajadah dan jari tangan.

Waktu kecil saya, masjid di tempat saya masih sangat sederhana. Tembok hanya sebatas pusar orang dewasa dan atasnya berupa anyaman bambu. Lantai bukan keramik tapi masih bentuk “plester” (lapisan semen yang dihaluskan). Adapun alas lantai masih berupa tikar “klasa” (anyaman tanaman mendong) dan itupun belum tentu lengkap.

Penyekoran waktu itu saya memakai kapur tulis di lantai samping kanan di sela-sela tikar. Biasanya skor memakai bentuk pagar lima-lima. Jika kapur tulis habis, mencari reruntuhan cat kapur putih di dinding bambu yang mengelupas. Sekali salam diskor satu.

Ketika sudah ada perkembangan alas lantai berupa sajadah, penyekoran berubah. Ujung atas bawah sajadah biasanya ada hiasan benang. Diujung atas itulah saya pakai nyekor dengan cara, benang dikumpulkan dan dilekatkan sampai hitungan sepuluh.

Kadang saya juga memakai jari tangan. Satu salam diskor satu jari di lipat sampai lima. Salam keenam mulai lagi lipat jari pertama. Cara ini ada kelemahannya. Ketika jari dilipat otomatis saat besedekap, saat takbir, rukuk dan sujud cari tetap terlipat. Seperti orang “kuthung” (cacat tidak punya jari tangan).

Itulah caranya penyekoran bilangan Tarawih saya masa kanak-kanak dulu. Dengan skor itu, saya jadi tahu sudah berapa kali salam yang terselesaikan. Ketika sudah dapat 8/9 salam maka perasaan senang muncul karena sholat akan segera selesai.

Terkait dengan media pen-skoran ibadah, sebenarnya juga pernah didapati di masa Rosululloh SAW. Pernah suatu ketika Sa’ad bin Abi Waqosh bersama Rasulullah mendatangi seorang wanita yang di depannya ada kerikil atau batu kecil yang ia gunakan untuk membaca Tasbih. Lalu Rosul menganjurkan wanita itu untuk berdzikir sebanyak-banyaknya (HR. At-Tirmidzi).

Pernah pula Nabi memerintahkan wanita-wanita untuk menjaga dzikir dengan Takbir, Taqdis, dan Tahlil dengan menggunakan jari-jari. Sebab jari-jari tersebut akan ditanya dan diajak bicara di akherat (HR. Abu Dawud). Abdulloh bin Amr bin Ash pernah melihat Rosululloh membaca Tasbih dengan tangan kanannya (HR. Abu Dawud). Dalam riwayat Abu Nuaim juga dijelaskan bahwa Abu Huroiroh memiliki benang dengan 1000 ikatan. Beliau tidak tidur sebelum selesai membaca tasbihnya.

Dari beberapa keterangan hadits di atas jelas bahwa penggunaan skor dalam ibadah, termasuk dzikir sudah pernah terjadi di masa Rosululloh. Kerikil, jari tangan dan benang pernah dipakai masa itu. Hikmahnya, alat skor tadi akan menjadi saksi ibadah nanti di akherat. Dengan demikian, mudah-mudahan, jari tangan, benang hiasan sajadah, kapur tulis dan biji kopi yang digunakan skor Tarawih juga menjadi saksi kelak di akherat. Aamiiiin. Walloohu a’lam bish-showaab.

*Catatan mengenang indahnya Ramadhan di masa kanak-kanak.

Pengembangan Desa Tematik Sebagai Wujud Desa Maju dan Mandiri

0

Pengembangan desa tematik mampu memberi manfaat diantaranya peningkatan sarana prasarana lingkungan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, sebagai trandmark wilayah yang ikonik, perubahan mindset dan perilaku masyarakat, serta perubahan lingkungan yang semakin bersih. Dengan demikian, pengembangan desa tematik memberi peluang besar terhadap kemajuan dan kemandirian desa.

Kampusdesa.or.id–Berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 2014, desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa bukan sekadar kampung halaman, pemukiman penduduk, perkumpulan komunitas, pemerintahan terendah dan wilayah administratif semata. Desa laksana “Negara Kecil” yang mempunyai wilayah, kekuasaan, pemerintahan, institusi lokal penduduk, rakyat, warga, masyarakat, tanah dan sumberdaya ekonomi. Setiap orang terikat secara sosiometrik dengan masyarakat, institusi lokal, dan pemerintahan desa. Tidak ada satupun elemen desa yang luput dari ikatan dan kontrol desa (Eko, dkk. 2014).

Desa memiliki potensi yang besar. Potensi desa meliputi potensi fisik dan non fisik. Potensi fisik meliputi sumberdaya manusia, air, tanah (pertanian/perkebunan), iklim, binatang ternak, dan lingkungan geografis. Sedangkan potensi non fisik meliputi budaya atau kearifan lokal, lembaga-lembaga sosial, dan organisasi sosial desa. Identifikasi potensi desa harus dilakukan oleh perangkat desa dan masyarakat dalam perencanaan pembangunan. Informasi potensi desa dapat dijadikan sebagai kekuatan untuk mengembangkan desa agar menjadi desa yang mandiri. Meskipun desa memiliki potensi yang besar, permasalahan desa masih banyak diantaranya tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat di pedesaan yang masih rendah, rendahnya produktivitas masyarakat di desa, ketersediaan sarana prasarana yang belum memadai, urbanisasi, kualitas lingkungan hidup yang menurun, sumber pangan yang terancam berkurang, kurangnya aksesibilitas daerah tertinggal terhadap pusat pertumbuhan wilayah, dan pengembangan potensi ekonomi lokal desa yang belum optimal. Permasalahan-permasalahan ini tidak semuanya terjadi di semua desa karena desa memiliki karakteristik atau ciri khas masing-masing.

Berdasarkan masalah di atas, perlu dilakukan pengembangan desa berdasarkan potensi desa masing-masing. Sejalan dengan hal tersebut, pengembangan desa tematik bisa menjadi salah satu solusi karena mendasarkan pada potensi desa yang dominan dan ciri khas desa. Pengembangan desa tematik merupakan model pengembangan yang mendasarkan pada potensi dan ciri khas utama desa dengan memilih satu tema sebagai salah satu fokus utama pembangunan. Pengembangan desa tematik memiliki peranan penting dalam pengembangan desa, diantaranya sebagai program prioritas utama pembangunan karena memfokuskan pada satu tema pembangunan, menjadi program keberlanjutan untuk pemerintahan selanjutnya, sebagai penggerak ekonomi desa dalam memanfaatkan potensi yang ada. Menurut Eko dkk. (2014) hadirnya UU Desa memperoleh respons yang besar, antara lain mendorong hasrat banyak orang untuk memunculkan konsep tematik yang menarik. Konsep pengembangan desa berbasis tematik membantu masyarakat menemukan potensi prioritas desa yang dapat dikembangkan menjadi desa mandiri.

Baca juga: Gerakan Menaman Menjadi Warga Desa Sesungguhnya

Pengembangan desa tematik didesain sebagai model pengembangan berbasis tema potensi utama. Sebagai contoh, beberapa desa yang mengembangkan desa berdasarkan tema yang sesuai dengan potensinya, diantaranya Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten yang memiliki sumber air berlimpah dan jernih. Potensi ini mampu dikenali oleh kepala desa sehingga dijadikan sebagai objek wisata selam air dangkal (snorkeling) atau biasa dikenal dengan Wisata Umbul Ponggok. Objek wisata selam air dangkal ini ramai dikunjungi banyak orang dari berbagai wilayah karena daya tarik wisata yang sangat indah. Kolam selam didesain warga sangat menarik dengan menambahkan berbagai jenis ikan hias dan berbagai benda unik seperti motor, laptop, sepeda, tenda, yang dimasukan dalam kolam sebagai spot foto. Melalui media sosial objek wisata ini semakin dikenal masyarakat luas sehingga Desa Ponggok mampu mencatat keuntungan pada tahun 2017 sebesar 12 Miliar.

Pengembangan desa tematik bisa diterapkan pada sektor-sektor lainnya. Seperti halnya pengembangan desa tematik berbasis kerajinan. Salah satunya di Desa Kasongan, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY yang mengembangkan sektor kerajinan gerabah dan benda seni berbahan keramik. Produk-produk kerajinan ini memiliki kualitas yang sangat baik sehingga mampu menembus pasar internasional, seperti Amerika, Eropa, negara-negara Asia seperti Malaysia, Singapura, Jepang, dan Korea. Contoh lainnya, ialah desa wisata kerajinan bambu atau Desa Wisata Brajan merupakan salah satu bentuk desa tematik yang dikembangkan oleh masyarakat Desa Brajan. Masyarakat setempat mengembangkan berbagai kerajinan bambu seperti besek, ceting atau tempat nasi, hiasan dinding, tas, tempat lampu, keranjang, dan lain-lain. Keberhasilan pengembangan Desa Wisata Brajan tidak lepas dari kemampuan warga dalam mengenali potensi desa, baik meliputi aspek budaya, ekonomi, dan sumberdaya manusia.

Contoh pengembangan desa tematik lainnya yang mampu mengubah wajah desa yang dulunya kumuh menjadi bersih dan indah yaitu rainbow Village (desa warna-warni atau pelangi). Lokasi objek wisata ini berada di Kampung Wonosari, Kelurahan Randusari Semarang, Jawa Tengah. Pengembangan desa tematik dengan konsep pewarnaan rumah-rumah warga, jalan, dan sarana prasarana lainnya menjadi awal perubahan lingkungan yang sangat signifikan. Perubahan terjadi dari beberapa aspek seperti halnya lingkungan yang semakin bersih dan sehat, kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan, serta peningkatan ekonomi lokal. Rainbow village di Randusari Semarang sudah dikenal hingga internasional.

Contoh-contoh di atas menggambarkan bahwa model pengembangan desa tematik bisa menjadi solusi masalah yang dihadapi masyarakat desa. Dibutuhkan peran aktif masyarakat desa dalam membangun bersama-sama. Undang-undang No. 6 Tahun 2014 tentang desa memberi payung hukum terhadap eksistensi desa. Desa diatur berdasarkan asas rekognisi, subsidiaritas, kebersamaan, keberagaman, kegotongroyongan, kekeluargaan, musyawarah, demokrasi, pemberdayaan, kemandirian, kesetaraan, dan keberlanjutan. UU No. 6 tahun 2014 menempatkan desa sebagai subjek pembangunan (desa membangun) bukan sebagai objek pembangunan (membangun desa). Menurut Chamber, (1987) desa membangun mempunyai makna bahwa pembangunan desa yang dimulai dari belakang.  Dari pengertian tersebut, desa membangun menempatkan pemerintah di belakang desa sebagai pendukung pembangunan. Desa membangun memiliki makna bahwa desa mempunyai kemandirian dalam membangun dirinya (self development) dan desa bukan menjadi objek dan lokasi proyek pembangunan melainkan desa menjadi basis, subjek dan arena pembangunan (Eko: 2014).

Desa membangun atau pembangunan yang digerakkan oleh desa atau desa menggerakkan pembangunan (Village Driven Development-VDD) mempunyai ciri-ciri diantaranya: 1) kepala desa tidak bertindak sebagai kepanjangan tangan pemerintah, melainkan berdiri dan bertindak sebagai pemimpin masyarakat, 2) kemandirian desa yang ditopang dengan kewenangan, diskresi, dan kapasitas lokal, 3) desa mempunyai pemerintah desa yang kuat dan mampu menjadi penggerak potensi lokal dan memberikan perlindungan secara langsung terhadap warga, termasuk kaum marginal dan perempuan yang lemah, 4) pelembagaan perencanaan dan penganggaran secara inklusif dan partisipatoris serta berbasis pada aset lokal, 5) pembangunan berbasis pada aset penghidupan lokal, 6) kepentingan dan kegiatan dalam pemerintahan dan pembangunan diikat dan dilembagakan secara utuh dan kolektif dalam sistem desa, 7) desa hadir sebagai sebuah kesatuan kolektif antara pemerintah desa dan masyarakat desa.

Berdasarkan undang-undang No. 6 Tahun 2014, desa membangun menjadi pondasi yang kuat dalam membangun desa secara mandiri dan berdasarkan potensi/aset desa yang ada. Pengembangan desa berdasarkan potensi desa perlu memahami kondisi fisik dan kondisi non fisik yang ada di desa, tanpa memahami potensi desa, pengembangan desa akan terhambat. Dalam memahami potensi desa, perlu dilakukan studi keruangan desa atau tata ruang desa. Menurut Yunus (2009) kata keruangan merupakan kata bentukan dari akar kata ruang, awalan ke- dan akhiran -an dalam hal ini memberikan makna sifat keterkaitan. Istilah ruang (space) merujuk pada makna keluasan (ektent) yang dapat diartikan secara absolut dan relatif. Arti absolut dari ruang atau ruang absolut adalah ruang yang bersifat rill, maujud/kasat mata, dan dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung di permukaan bumi. Sebagai contoh adalah daerah permukiman, daerah persawahan, daerah perikanan, daerah terkena banjir bandang, daerah yang mengalami kerusakan parah akibat terkena hempasan tsunami, dan sebagainya. Media peta, foto udara maupun citra satelit dapat dimanfaatkan secara langsung untuk menentukan lokasi maupun luasnya, serta melihat potensi yang ada.

Sementara itu, arti relatif suatu ruang atau ruang relatif merupakan konsep yang diciptakan oleh manusia dan bersifat persepsual semata dan tidak kasat mata. Sebagai contoh adalah istialah ruang ekonomi (economic space), ruang ideologis (ideological space), ruang personal (personal space), ruang publik (public space), ruang sosial (sosial space) yang maknanya sangat relatif dan sangat sulit diamati secara kasat mata dan sangat sulit ditentukan batas-batasnya. Namun, seorang peneliti akan berusaha membuat batasan-batasan tertentu agar pengertian ruang ekonomi, ruang ideologis, ruang personal, ruang publik, ruang sosial, dan lainnya dapat dapat digambarkan dalam peta tematik, karena variabel ruang menjadi basis utama analisis yang akan dibangun. Ditilik dari dimensi praktis, ruang dapat diartikan sebagai bagian tertentu dari permukaan bumi yang mampu mengakomodasikan berbagai bentuk kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan kehidupannya. Dengan demikian, pendekatan keruangan menjadi langkah awal dalam mengenali potensi desa serta pengembangan desa tematik.

Desa Sungai Duren Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muaro Jambi akan dijadikan sebagai objek kajian perencanaan pengembangan desa tematik. Sebelum menentukan tema pengembangan apa yang cocok untuk Desa Sungai Duren, perlu dilakukan beberapa tahapan, yaitu: 1) identifikasi potensi desa dan tata ruang desa, 2) penentuan tema pengembangan desa tematik melalui metode Delphi, 3) optimalisasi Badan Usaha Milik Desa serta kerjasama dengan lembaga-lembaga lainnya.

Baca juga: Peta Jalan Smart untuk Perekonomian Desa

Pertama, identifikasi potensi desa dapat dikenali dari beberapa aspek dasar yaitu penggunaan lahan, letak atau lokasi, pekerjaan/wirausaha dasar masyarakat yang dominan dan menjadi mata pencaharian utama, karakter masyarakat (budaya, tradisi, kearifan lokal), lingkungan fisik, home industri, kerajinan, keunikan/ciri khas desa yang tidak dimiliki oleh desa lain. Identifikasi potensi desa juga dapat dianalisis dengan indeks desa membangun sesuai Permendesa nomor 2 tahun 2016 diantaranya indeks ketahanan sosial, indeks ketahanan ekonomi, dan indeks ketahanan lingkungan.

Analisis potensi fisik Desa Sungai Duren dapat dianalisis melalui peta. Peta merupakan salah satu alat analisis yang mampu menghadirkan informasi spasial yang dapat digunakan sebagai perencanaan tata ruang desa. Selain itu, peta mampu memberi informasi posisi desa terhadap pusat kota atau pusat perkembangan kawasan lainnya, serta mencegah konflik batas desa. Identifikasi potensi desa dapat menggunakan peta penggunaan lahan. Peta penggunaan lahan menyajikan informasi aktivitas manusia dalam memanfaatkan lahan, seperti lahan permukiman, sawah, perkebunan, semak belukar, hutan lindung, tambak, dan lainnya. Identifikasi melalui peta penggunaan lahan akan didapat informasi dominasi sumberdaya alam yang ada di desa. Peta penggunaan lahan Desa Sungai Duren dapat dilihat pada Gambar 1.1. selain itu, peta-peta tematik yang bisa digunakan untuk analisis kondisi desa diantaranya peta infrastruktur desa, peta aset desa, peta demografi,peta batas desa, dan peta tematik lainnya.

Gambar 1.1: Peta penggunaan lahan Desa Sungai Duren (Sumber: Analisis, 2019)

Berdasarkan Gambar 1.1. Penggunaan lahan Desa Sungai Duren meliputi permukiman, sawah, ladang, keramba ikan, perkebunan tambak ikan, semak belukar, dan lahan kosong. Selain itu, posisi Desa Sungai Duren berdekatan dengan dua kampus besar yaitu UIN STS Jambi dan Universitas Jambi. Posisi ini tentu mempengaruhi percepatan perkembangan desa karena kawasan yang berdekatan dengan kampus memiliki potensi perkembangan yang cepat karena dekat dengan pusat pertumbuhan. Pusat-pusat pertumbuhan akan membawa kawasan sekitarnya) menjadi lebih maju. Hal ini sejalan dengan teori Perrou (1970) menyatakan bahwa pertumbuhan tidak muncul di berbagai daerah pada waktu yang sama. Pertumbuhan hanya terjadi di beberapa tempat yang disebut pusat pertumbuhan (growt pole). Adanya pusat pertumbuhan akan mengakibatkan terjadinya trickling down effects (perembetan pertumbuhan) dan polarization effects.

Desa Sungai Duren memiliki potensi yang cukup beragam jika diamati dan dianalisis dari peta penggunaan lahan diantaranya potensi pengembangan di sektor perikanan, perkebunan, pertanian, dan permukiman. Pada sektor perikanan, bisa dikembangkan mulai dari pembenihan ikan dan budidaya ikan nila. Pengembangan sektor perikanan berpotensi besar karena Desa Sungai Duren berdekatan dengan Sungai Batang Hari. Posisi ini menjadi salah satu berkah bagi Desa Sungai Duren karena masyarakat dapat membudidayakan ikan dengan sistem keramba jaring (Gambar 1.1). Selain itu, wilayah bagian tengah Desa Sungai Duren telah dikembangkan pembibitan ikan nila. Sektor perkebunan dan pertanian juga berpotensi besar untuk dikembangkan di Desa Sungai Duren karena masih banyak lahan yang berupa semak belukar yang belum dimanfaatkan. Selain itu, sektor permukiman (perumahan) menjadi salah satu peluang bagi Desa Sungai Duren karena berdekatan dengan kampus besar yaitu UIN dan UNJA. Di sisi lain, untuk mengenali potensi desa, perlu dianalisis dari aspek sumberdaya manusia. Analisis aspek sumber daya manusia bisa dari tingkat pendidikan, pekerjaan, umur, budaya, kearifan lokal dan pendapatan masyarakat. Analisis kondisi sosial akan mengambarkan kualitas sumber daya manusia dalam mengembangakan desa.

Penataan ruang desa mempunyai peranan penting dalam mendukung pengembangan potensi desa. Sebagai contoh, rumah-rumah warga desa tidak boleh dibangun di area sepadan sungai untuk mengurangi dampak bencana banjir. Lahan pertanian yang sudah ditetapkan sebagai lahan pertanian berkelanjutan, tidak boleh diubah menjadi lahan permukiman. Secara umum, penataan ruang pedesaan diarahkan untuk konservasi sumberdaya alam, pelestarian warisan budaya lokal, petahanan kawasan lahan abadi pertanian sebagai langkah ketahanan pangan menjaga kualitas lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat pedesaan.

Selanjutnya, penataan ruang desa mempunyai peranan penting dalam mendukung pengembangan potensi desa. Sebagai contoh, rumah-rumah warga desa tidak boleh dibangun di area sepadan sungai untuk mengurangi dampak bencana banjir. Lahan pertanian yang sudah ditetapkan sebagai lahan pertanian berkelanjutan, tidak boleh diubah menjadi lahan permukiman. Secara umum, penataan ruang pedesaan diarahkan untuk konservasi sumberdaya alam, pelestarian warisan budaya lokal, petahanan kawasan lahan abadi pertanian sebagai langkah ketahanan pangan menjaga kualitas lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat pedesaan.

Kedua, menentukan tema pengembangan desa tematik melalui metode Delphi. Metode Delphi merupakan metode dimana dalam proses pengambilan keputusan melibatkan beberapa pakar. Adapun para pakar dari masing-masing pakar disembunyikan sehingga setiap pakar tidak mengetahui identitas pakar yang lain. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya dominasi pakar lain dan dapat meminimalkan pendapat yang bias (Marmin, 2004). Pada tahap ini pihak desa perlu melakukan kerjasama dengan pakar atau akademisi profesional dalam proses penentuan alternatif strategi. Sebagai contoh dalam perencanaan pengembangan desa, para pakar yang terlibat telah merumuskan 6 alternatif strategi pengembangan ekonomi lokal khususnya jenis kegiatan ekonomi sesuai dengan potensi desa (tabel 1). Selanjutnya para pengambil kebijakan desa, seperti kepala desa, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, petani dan wirausahawan memberikan penilaian, dengan rentang skor 1-5 tentang prospek alternatif dalam pengembangan desa tematik.

Tabel 1. Hasil perhitungan metode Delphi oleh pengambil keputusan

Alternatif strategi Pengambil Keputusan/informan    
A B C D E F Rata-rata Prioritas
Budidaya ikan nila (mulai dari pembenihan) 3 4 4 3 4 4 3.67 1
Perkebunan sawit 2 3 4 1 2 1 2.17 5
Kerajinan kayu 2 1 1 2 2 3 1.83 6
Sengonisasi 3 4 2 2 3 3 2.83 3
Penanaman cabe 4 2 2 4 3 3 3.00 2
Kos-kosan mahasiswa 3 3 2 2 2 4 2.67 4

Berdasarkan hasil penilaian Tabel 1, alternatif yang menjadi prioritas pengembangan desa tematik adalah budidaya ikan nila (mulai dari pembenihan hingga pembesaran).

Ketiga, optimalisasi Badan Usaha Milik Desa serta kerjasama dengan lembaga-lembaga lainnya seperti GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani). Lembaga-lembaga desa menjadi pelopor dalam menggerakkan warga untuk mengembangkan desa tematik. Pengembangan desa tematik harus didukung berbagai lembaga desa untuk mewujudkan kemandirian desa. Pengembangan desa tematik harus disepakati bersama oleh masyarakat desa dan perangkat desa serta lembaga desa lainnya. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi konflik di kemudian hari. Keterlibatan semua pihak membangun desa tematik dapat dilakukan secara gotong royong dan sesuai pembagian tugas yang ada. Gagasan-gagasan pengembangan desa tematik yang sudah disampaikan dalam forum harus dibahas secara detail dan memperhatikan aspek kekuatan, peluang, kelemahan, dan ancaman yang ada di desa. Aspek-aspek tersebut menjadi dasar apakah gagasan itu menjadi prioritas pembangunan atau tidak. Apabila tema pengembangan sudah ditentukan, langkah selanjutnya yakni memperhatikan kualitas masing-masing pengelola, baik yang meliputi aspek pengetahuan, skill, dan pengalaman. Untuk meningkatkan aspek-aspek tersebut, perlu dilakukan pelatihan terhadap masyarakat secara bertahap dalam rangka peningkatan SDM yang berkualitas. Kualitas SDM yang bagus mempunyai andil yang besar dalam kesuksesan pengembangan desa tematik karena sebagai pelaksana pembangunan.

Baca juga: Kedaulatan Itu Ada di Desa

Menurut Eko (2014) pembangunan yang digerakkan oleh desa memiliki beberapa tahapan: Pertama, pemerintah desa, khususnya kepala desa mengambil prakarsa dan melakukan konsolidasi gerakan desa membangun ekonomi. Kedua, pemerintah desa bersama masyarakat melakukan aksi kolektif (kebersamaan) membangun ekonomi lokal. Ketiga, kolektivitas yaitu memanfaatkan dan mengoptimalkan potensi aset lokal yang tersedia dan tentu layak jual. Keempat, pengambilan keputusan tentang komoditas, modal, mekanisme, gerakan, dan bagi hasil dilakukan melalui musyawarah desa. Selain program peningkatan kualitas SDM, pemanfaatan teknologi informasi sebagai kunci keberhasilan karena teknologi informasi mampu menghadirkan keterbukaan akses informasi terhadap dunia luar, serta sebagai informasi program-program desa dan potensi desa.

Pengembangan desa tematik mampu memberi manfaat diantaranya peningkatan sarana prasarana lingkungan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, sebagai trandmark wilayah yang ikonik, perubahan mindset dan perilaku masyarakat, serta perubahan lingkungan yang semakin bersih. Dengan demikian, pengembangan desa tematik memberi peluang besar terhadap kemajuan dan kemandirian desa.

Daftar Pustaka

EKO, SUTORO. 2014. DESA MEMBANGUN INDONESIA. YOGYAKARTA: FORUM PENGEMBANG PEMBAHARUAN DESA (FPPD)

Marmin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Jakarta. Penerbit Grasindo.

Permendesa nomor 2 tahun 2016, tentang desa membangun.

Perrou, F. 1970. Economic Space: Theory and Applications. Quarterly journal of economics 64: 89-104

UU Nomor 14 Tahun 2014

Profil Penulis:

Imam Arifa’illah Syaiful Huda (tengah), adalah founder Gerakan Perpustakan Anak Nusantara (GPAN) yang saat ini memiliki cabang hampir seluruh kota/kabupaten yang ada di Indonesia. Sarjana Geografi (S1) Universitas Negeri Malang dan Universitas Gajah Mada (S2) ini sekarang menjadi salah satu ASN sebagai staff pengajar di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Di tengah kesibukannya sebagai dosen, ia juga mengelola akun instagram @geoscience.id dan @greenscience.id

Didi Kempot dan Fenomena Ambyar

0

Didi Kempot, Bapak Sobat Ambyar itu kini telah berpulang. Begitu banyak pesan positif yang ia tinggalkan sebelum kepergiannya. Di masa terakhirnya, ia tetap produktif sebagai seniman dengan menggubah lagu “Ojo Mudik” yang ia dedikasikan untuk mengedukasi masyarakat Indonesia di tengah pandemi Corona. Tak hanya itu, ia juga melakukan konser amal untuk membantu masyarakat terdampak Corona. Selamat jalan Lord Didi, semoga mendapat tempat terindah di sisi-Nya.

Kampusdesa.or.id-Jagad maya kembali dihebohkan dengan berpulangnya Didik Prasetyo atau yang karib kita kenal dengan nama Didi Kempot. Penyanyi campursari legendaris ini meninggal kemarin pagi di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, Jawa Tengah, Selasa (5/5/2020) pukul 07.30 WIB, akibat serangan jantung.

Nama Didi Kempot kembali viral lantaran lagu-lagunya kembali menghiasai urutan teratas tangga lagu Indonesia. Meski lagu-lagunya menggunakan bahasa Jawa, tapi yang mendengarkan bukan saja masyarakat Jawa. Melainkan sudah seluruh Indonesia. Bahkan, masyarakat etnis Jawa yang menjadi warga negara Suriname juga merupakan penggemar beratnya.

Kembali viralnya lagu-lagu penyanyi kelahiran Surakarta ini karena dianggap mewakili perasaan kawula muda saat ini yang memang gampang “ambyar” seperti judul salah satu lagunya, yaitu Ambyar.

Sejak itulah, muncul tagar #SobatAmbyar di media sosial. Rata-rata yang menghadiri konser Didi Kempot bukan lagi generasi 80an, tapi anak-anak generasi akhir 90an dan awal 2000an yang usianya belasan dan awal duapuluhan tahun. Para penggemar itu menyebut diri mereka Sad boy untuk yang laki-laki dan Sad girl untuk yang perempuan.

Tak berhenti di situ, Didi Kempot kemudian mendapatkan predikat sebagai Godfather of Broken Heart. Hal ini bukan tanpa sebab, lihat saja lirik lagu-lagu Didi Kempot memang kebanyakan tentang patah hati. Yang, lagi-lagi, khas anak muda.

Sebagaimana dikutip Kompas, ia pernah menyatakan,“Kayaknya kalau ngambil lagu tema-tema semacam gitu, itu untuk booming-nya lebih cepat karena banyak yang mengalami patah hati daripada yang tidak.”

Memang benar apa yang dinyatakan Didi Kempot tersebut. Lagu-lagu dengan lirik yang menyayat nyatanya memang cepat viral di kalangan penikmat musik Indonesia. Terutama kawula muda. Bisa jadi hal ini disebabkan oleh makin rentannya para pemuda zaman sekarang mengalami guncangan kejiwaan. Terutama kesedihan akibat patah hati.

Tentu ada banyak hal yang menjadi penyebabnya. Seperti perundungan, narkoba, gaya hidup, pergaulan, percintaan, dan banjir informasi di media sosial. Tak jarang kita dengan berita remaja bunuh diri akibat putus cinta dengan pacar. Ada pula yang nekat membunuh orangtuanya sendiri lantaran tidak dibelikan motor.

Menurut para psikolog, remaja zaman sekarang memang kurang memiliki ketangguhan dalam menghadapi kemalangan. Hal ini berdampak ketika mereka dihadapkan dengan persoalan hidup yang agak rumit dan menyedihkan, mereka rentan putus asa dan depresi berlebihan. Pendidikan dan pola asuh tentu amat berperan di sini.

“Berkat kehadiran kembali Didi Kempot di pentas permusikan tanah air, lagu-lagu campursari yang kental nuansa Jawanya itu kembali mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia”

Berkat kehadiran kembali Didi Kempot di pentas permusikan tanah air, lagu-lagu campursari yang kental nuansa Jawanya itu kembali mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia. Genre campursari yang sudah lama tenggelam, kembali bertengger di tangga lagu favorit. Lagu-lagu Didi Kempot juga banyak di-cover para Youtuber generasi milenial. Kemudian muncul banyak penyanyi campursari milenial yang sering kita dengar sekarang.

Tentu hal ini merupakan fenomena positif yang patut dipertahankan dan dilestarikan. Perjuangan Didi Kempot melestarikan salah satu budaya Jawa ini perlu untuk disikapi serius untuk dikembangkan lebih lanjut. Sudah saatnya generasi muda mengambil peran dan tidak larut menggemari budaya luar, tapi abai terhadap budaya sendiri. Globalisasi dan digitalisasi sekarang ini, merupakan peluang sekaligus tantangan yang harus dimanfaat untuk terus menggenjot promosi budaya adiluhung negeri.

Berpulangnya Sang Maestro ini tentu menimbulkan duka mendalam tidak hanya bagi keluarganya. Tapi juga masyarakat Indonesia secara umum. Khususnya para penggemar karya-karyanya. Sosoknya akan terus tinggal di tengah-tengah kita, tapi lalu siapa kira-kira penggantinya? Siapa seniman Jawa yang tidak hanya berkarya menghibur para penikmat musik, tapi juga mau mendedikasikan dirinya melestarikan budaya?

Selamat jalan Didi Kempot, selamat berjmpa dengan Tuhan. Semoga mendapt tempat terindah di sisi-Nya. Semoga kami bisa melanjutkan perjuanganmu melestarikan budaya.

Tak Kudengar Lagi

0

Oleh: Fitri Fatma Dewi

Tak kudengar lagi
Suara orang membangunkan sahur keliling dengan gendangnya
Teriakan anak kecil yang menyanyikan sahur dengan nada-nada yang mereka bisa
Sorak ramainya membangunkan orang tidur pulas

Tak kudengar lagi
Gema tadarus di masjid sampai larut malam
Lantunan ayat suci yang menyayat hati
Tak kudengar lagi
Langkah kaki orang berbondong ke masjid berjamaah shalat tarawih
Sahutan aamiin antara imam dan makmum yang syahdu membuatku rindu semua itu

Kini semuanya berdiam diri
Semua terkurung di rumahnya
Menjalani ibadah dengan niat dan hati yang tulus kepada Sang Illahi

Surabaya, 05 Mei 2020

*Puisi kiriman dari “Fitri Fatma Dewi”. Gadis kelahiran Madiun tahun 2001 ini sekarang bekerja di salah satu toko camilan Surabaya. Di setiap waktu senggang dia manfaatkan untuk berkarya, menulis puisi salah satunya. Dia mulai suka puisi sejak SMA. Karena pernah mendeklamasikan puisi fenomenal berjudul “Ibu” karya KH. Dzawawi Imron di acara pentas seni. Mulai saat itu dia sering menulis puisi dan suka membaca buku-buku antologi puisi khususnya karya Sapardi Djoko Darmono. Dia juga merupakan salah satu kontributor Dialektika.ID

Form Pengisian Data Diri Peserta Lolos Seleksi I’M COVID-19

0

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang naskahnya lolos untuk diterbitkan dalam buku, baik edisi eksklusif maupun edisi kedua.

Demi memperlancar proses pengolahan naskah hingga siap dikirim ke penerbit, mohon kesediaan para peserta yang lolos untuk mengisi form data diri yang sudah kami sediakan.

Form tersebut bisa diakses melalui link berikut ini:

https://s.id/FormDataDiriPesertaLolosSeleksi

Demikian, atas partisipasi dan kerjasama Anda, kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ttd
Redaksi Kampus Desa Indonesia

Kembang Api dan Hawa Nafsu

0

Seperti kembang api yang membahayakan diri dan orang lain, begitulah hawa nafsu yang ada dalam diri kita. Hawa nafsu selalu mengajak kita untuk berbuat yang tidak baik yang melanggar ketentuan Allah SWT. Ajakan hawa nafsu umumnya adalah sesuatu yang kita senangi atau mendatangkan kesenangan. Walaupun sesuatu itu bisa merugikan atau membahayakan.

Kampusdesa.or.id-Kemarin, anak saya yang kecil, usia 3 tahun, merengek-rengek minta dibelikan petasan kembang api. Karena Maghrib kurang 10 menit, saya merasa enggan untuk membelikannya. Saya “semayani” (janji) belikan sesudah buka puasa. Tapi dia tetap tidak mau. Karena anak saya terus merengek, bahkan hampir menangis, lagian dia kurang enak badan, terpaksa penulis turuti beli ke toko yang agak jauh.

Selesai membeli dan sesampai di rumah, anak saya meminta saya “nyumet” (menyulut dengan api) kembang api itu. Saya “semayani” lagi kalau suasana sudah gelap agar tampak indah. Eh… Tetap ngotot karena katanya sudah gelap. Akhirnya, saya turuti juga keinginan anak saya. Kalah dengan anak kecil…

Setelah kejadian itu saya jadi ingat dulu masa kanak-kanak. Ternyata dulu juga senang mainan kembang api. Kawat yang panjangnya kisaran 25 cm, separuhnya dibalut dengan bahan kembang api bulat melingkar. Jika disulut, maka akan terbakar dan memercikkan api kecil-kecil.

Seingat saya, dulu kembang api tidak seperti saat ini. Sekarang yang panjang-panjang dan besar. Kalau disulut terbang keatas lalu memancarkan percikan api seperti bunga dan meletus. Kalau dulu, bentuknya hanya seperti yang kemarin dibeli anak saya. Setelah disulut dipegang sambil dibawa lari-lari. Saya masih ingat, dulu berlari-lari di halaman atau berangkat tarawih menyulut kembang api. Agar lebih indah lagi, pangkalnya di bengkokkan lalu dilempar ke atas pohon sehingga tersangkut di ranting pohon. Saya juga ingat di depan rumah ada pohon jeruk “keprok” yang sering saya gunakan tempat melempar kembang api itu.

Adapun yang paling saya ingat adalah setelah kawat disulut, percikan api berhenti, ujung kawat saya pegang. Aduhhhh… ternyata masih panas… Yaa Allah… Dasar anak kecil, mungkin karena tidak tahu, sesuatu yang membahayakan malah dibuat mainan. Akhirnya telapak tangan saya melepuh…

Baca Juga: Ora Poso, Ora Oleh Riyoyo

Dari sekilas kisah ini, terkait dengan puasa, ada satu pelajaran yang bisa kita petik. Anak kecil itu kalau meminta sesuatu pasti getol sekali dan inginnya dituruti terus. Kalau tidak dituruti dia punya senjata, menangis, ngambek, “golong-golong” dan sebagainya. Anak kecil kadang juga “sembrono” (gegabah), tidak mempertimbangkan akibat dari keinginannya. Walaupun itu merugikan bahkan membahayakan, maunya semuanya dituruti dan dia merasa senang.

“Ajakan hawa nafsu umumnya adalah sesuatu yang kita senangi atau mendatangkan kesenangan. Walaupun sesuatu itu bisa merugikan atau membahayakan”

Manusia, termasuk kita, punya musuh dalam diri kita yaitu hawa nafsu. Hawa nafsu selalu mengajak kita untuk berbuat yang tidak baik yang melanggar ketentuan Allah SWT. Ajakan hawa nafsu umumnya adalah sesuatu yang kita senangi atau mendatangkan kesenangan. Walaupun sesuatu itu bisa merugikan atau membahayakan. Seperti kembang api yang membahayakan diri dan orang lain.

Terhadap ajakan hawa nafsu ini, Imam Ghozali menganjurkan kita untuk berhati-hati. Caranya adalah “tidak menuruti” keinginan hawa nafsu. Sebab jika hawa nafsu dituruti, maka ia akan terus menjerumuskan kita kepada hal yang lebih buruk. Al-Imam mengibaratkan hawa nafsu itu seperti anak kecil (bayi). Anak kecil diajak masuk toko, apalagi toko mainan, pasti semua keinginannya diminta. Kalau permintaannya selalu dituruti, maka dia tidak akan ada puasnya. Seperti anak saya, beli kembang api dituruti, menyulutnya dituruti, dia akan terus minta yang lain.

Baca Juga: Tiga Tingkatan Orang Berpuasa Menurut Imam Ghazali

Termasuk bayi itu kalau dituruti menetek ibunya, sampai besar akan terus menetek. Namun ketika oleh orang tuanya disapih, maka bayi akan berhenti. Menyapihpun biasanya tidak mudah, butuh perjuangan berat. Dalam Sholawat Burdah disyairkan :

وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞ حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

“Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan akan tetap suka menyusu.
Namun bila kau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri”,

فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ  ۞  إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ

“Maka palingkanlah nafsumu, takutlah jangan sampai ia menguasai-nya
Sesungguhnya nafsu, jikalau berkuasa maka akan membunuhmu dan membuatmu tercela”.

Puasa adalah salah satu metode “Training” dari Allah untuk mengendalikan hawa nafsu itu. Dalam keadaan puasa kita berlatih mengendalikan segala keinginan hawa nafsu. Nafsu makan dan minum, nafsu syahwat dan sebagainya. Dengan Training ini harapannya selepas Ramadan hawa nafsu kita sudah terkendali sehingga kita bisa sesuai dengan kehendak Allah SWT dalam setiap langkah dan perbuatan kita. Wallahu a’lam bish-showaab.

Mudah-mudahan kisah kenangan pada kembang api ini membawa hikmah dan manfaat. Semoga kita mampu mengendalikan hawa nafsu kita selamanya. Aamiiiin.

Jago Public Speaking: 5 Tips Jitu MC OKTA

0

Public speaking merupakan keterampilan yang banyak dibutuhkan di berbagai bidang. Entah bekerja dalam bidang apapun, kita dituntut untuk dapat berkomunikasi dengan baik. Sebab, sebaik apapun ide dan gagasan yang kita miliki, tentu tidak akan berkesan jika kita tidak dapat menyampaikannya dengan baik. Terlebih, ketika berbicara di depan banyak orang, kemampuan public speaking tentu sangat dibutuhkan.

Kampusdesa.or.id-Mungkin bagi Anda yang belum bekerja, atau yang saat ini masih berstatus sebagai pelajar sekalipun, akan dihadapkan dengan tugas yang menuntut Anda untuk menyampaikan gagasan di depan kelas, misalnya presentasi, memimpin rapat organisasi, atau bahkan memberikan pelatihan dan masih banyak lainnya.

Dulu, saya bukanlah orang yang berani berbicara di depan banyak orang, apalagi mengatur jalannya acara hingga melakukan negosiasi dengan beberapa pihak. Dengan ditulisnya artikel ini, saya ingin berbagi beberapa tips instan untuk menjadikan Anda menguasai ilmu public speaking. Berikut saya rangkum menjadi lima (5) tips, yuk dibaca tipsnya ..

Baca Juga: Memahami Medan Aura: Menuju Komunikasi Efektif

  1. Kuasai Materi dengan Tulisan dan Gambar

Menguasai materi, dengan cukup membaca dan langsung menyampaikan di depan banyak orang tentu bukanlah hal yang mudah. Untuk itu buatlah tulisan yang berisi poin-poin pesan yang ingin Anda sampaikan. Tentu, masing-masing orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Saya lebih suka merangkum poin-poin tersebut dengan gambar yang lucu dan menarik, tujuannya adalah agar kita dapat melakukan improvisasi dalam penyampaiannya.

  1. Berpenampilan Rapi dan Bersih

“Buatlah lawan bicara ataupun audience merasa nyaman, jangan sampai terganggu dengan aroma yang kurang sedap atau baju yang berkerut dan kotor.”

Beberapa orang mungkin akan mengganggap bahwa hal ini bukanlah hal yang terlalu penting. Namun, percayalah bahwa untuk menjadi seorang  public speaking kita dituntut untuk berbicara di depan banyak orang. Sehingga, buatlah lawan bicara ataupun audience merasa nyaman, jangan sampai terganggu dengan aroma yang kurang sedap atau baju yang berkerut dan kotor. Selain itu, dengan berpakaian rapi dan bersih tentunya akan dapat meningatkan rasa percaya diri ketika berada di depan orang banyak.

  1. Mengenal Audience

Ada istilah “tak kenal maka tak sayang”, maka hal inilah yang juga berpengaruh pada kemampuan public speaking seseorang. Dari beberapa tips sebelumnya tentu juga dipengaruhi hal ini, ya “siapa Audience yang akan kita hadapi?”.  Kita harus mengenal apa latar belakang audience, kesukaan, hingga informasi apa yang mereka butuhkan. Dari hal ini kita akan mengetahui cara penyampaian yang menarik untuk disajikan kepada audience. Tidak cukup mengenal, kita juga harus mampu memahami, sehingga kata-kata yang kita sampaikan pun tidak sampai menyinggung perasaan audience.

  1. Berbicara untuk Memberi

Hal yang saya terapkan ketika berbicara di depan banyak orang adalah bukan menggurui, tapi memberi. Nah, ini dia mindset yang harus tertanam ketika kita berbicara di depan orang adalah memberi, menyampaikan sesuatu hal yang baru, sehingga akan banyak diminati oleh audience. Dalam memberi dalam berbicara, tidaklah hanya sekedar memberi informasi atau ilmu pengetahuan, namun pakailah “hati”, dalami setiap pembicaraan dengan pendalaman. Percayalah, memberi dengan hati tentunya akan lebih menarik, begitu juga dengan berbicara.

  1. Seni dalam Penyampaian

Nah, setelah memberi dengan hati, tentunya hal yang paling penting adalah seni dalam penyampaian. Seperti yang kita ketahui, ya, seni bukan hanya seni musik, seni tari, ataupun  seni lukis saja, melainkan juga ada seni dalam berbicara. Tanpa adanya seni dalam berbicara ini, dikhawatirkan informasi yang kita sampaikan akan terkesan membosankan.

“Bagaimana seni dalam berbicara? “

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu akan ada banyak hal yang harus diperhatikan. Pertama adalah gunakan intonasi yang tepat dalam penyampaian. Hal ini penting, tentunya agar audience tidak bosan saat mendengarkan informasi yang kita sampaikan. Bayangkan ketika dalam suatu forum, pemateri menyampaikan informasi tanpa intonasi yang tepat, tentu audience akan cepat diserang rasa kantuk dan bosan. Selain intonasi yang tepat, pastikan juga artikulasi Anda jelas dan tidak terdengar menggumam. Intonasi ini tentu juga akan membantu audience untuk memahami maksud dan emosi yang Anda sampaikan.

Baca Juga: Pengalaman dan Pengetahuan (Being and Knowing)

Kedua, gunakan bahasa tubuh. Ya, dalam berbicara tidak sekadar berkata lho, coba gunakan gerakan tubuh dan juga ekspresi mimik wajah. Nah, dalam menggunakan gerakan tubuh ini tidak boleh berlebihan ya, harus tetap sejalan dengan apa yang akan kita sampaikan, dan hindari gerakan tubuh yang menunjukkan bahwa Anda sedang nervous. Dengan menggunakan gerakan tubuh ini tentunya juga membantu Anda untuk merasa rileks, dan tidak kaku saat berbicara.

“Dalam public speaking, audience merupakan bagian penting, sehingga Anda juga harus memberikan apresiasi dengan memberi pertanyaan-pertanyaan ringan”

Ketiga, adalah interaksi dengan audience. Ingat, ketika kita berbicara di depan banyak orang, kita tidak sedang berbicara sendiri. Gunakanlah kontak mata, ajak mereka berbicara dan menanggapi apa yang Anda sampaikan. Perlu kita ketahui, dalam public speaking, audience merupakan bagian penting, sehingga Anda juga harus memberikan apresiasi dengan memberi pertanyaan-pertanyaan ringan, tentunya pertanyaan yang dapat membangun ketertarikan audience kepada kita dan informasi yang akan kita sampaikan.

Nah, demikian beberapa tips seputar public speaking yang dapat saya bagikan, semoga bermanfaat. Selamat mencoba!

Penulis: Oktaria Ardika Putri, S.Si.,M.M (Dosen FEBI IAIN Kediri, MC (Master of Ceremony) , dan Pembicara)