Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 27

Guru Baru Pasca Pandemi

0

Masa pandemi ini merupakan kesempatan yang baik, untuk meningkatkan kompetensi teknis guru di bidang IT, sehingga para guru dapat mengikuti perkembangan zaman dan tuntutan modernisasi pendidikan. Pada saatnya, ketika pandemi ini berakhir, para guru seperti memiliki power yang baru, sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan lebih baik. Selamat datang “guru baru pasca pandemi.”

Kampusdesa.or.id-Pandemi COVID-19 yang melanda dunia memaksa para guru meng-upgrade kemampuan dan mengadaptasi sistem pembelajaran yang dilakukan. Anjuran pemerintah untuk work from home dan learn from home membutuhkan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang lebih rumit. Pada saat kebijakan belajar dari rumah ditetapkan, tidak semua guru siap dengan kompetensi ideal untuk meng-handle pelajaran daring. Oleh karena itu, kebijakan itu dilaksanakan dengan seadanya dan semampunya. Untungnya, semua pihak menyadari kondisi kedaruratan itu sehingga tidak memunculkan persoalan yang berarti.

Di sekolah-sekolah dasar, umumnya guru mulai melaksanakan tugasnya dengan membentuk WA group wali murid. Semula tidak semua wali murid siap dengan perangkat handphone dengan fasilitas whatsapp. Untungnya sebagian besar wali murid telah akrab dengan hal itu, sehingga dapat membantu wali murid yang belum memiliki kesiapan. Melalui kelompok wali murid ini, guru berkomunikasi, memberikan arahan, memberikan tugas, dan mendeskripsikan materi sesuai dengan jadwal pelajaran. Anak-anak mengikutinya dengan pendampingan orang tua sehingga mereka tetap berada di rumah.

Setelah waktu berjalan, persoalan-persoalan baru mulai muncul. Bagi anak yang aktif yang biasa memiliki dan bermain dengan puluhan teman, belajar di rumah memunculkan kebosanan. Apalagi, orang tua dengan alasan pekerjaan dan kesibukan lainnya tidak bisa selalu mendampingi anak dalam belajar. Sehingga, terpaksa anak mengerjakan tugas-tugasnya sendiri dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Tidak adanya kesempatan untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap, bertanya pada guru, dan berdiskusi dengan teman, semakin memperburuk situasi.

“Guru harus bisa meningkatkan kompetensi dirinya, khususnya dalam bidang teknologi informasi, sehingga ia dapat mengatasi persoalan kebosanan belajar di rumah yang dialami oleh anak”

Persoalan-persoalan di atas, umumnya kita temukan di masa-masa ini. Tentu bagi guru yang responsive, situasi ini akan membangkitkan semangat perubahan. Dalam hal ini, guru harus bisa meningkatkan kompetensi dirinya, khususnya dalam bidang teknologi informasi, sehingga ia dapat mengatasi persoalan kebosanan belajar di rumah yang dialami oleh anak. Beberapa inovasi yang dapat dilakukan guru, antara lain:

Video Pembelajaran

Salah satu inovasi yang dapat dilakukan guru adalah membuat video pembelajaran. Menggunakan smartphone, video-video menarik dapat dibuat oleh guru untuk kemudian dikirimkan ke anak sebagai mendia pembelajaran. Melalui video pembelajaran ini, paling tidak mereka memperoleh penjelasan materi oleh guru mereka sendiri, mengobati kekangenan pada guru mereka, dan membuat rumah seolah-olah seperti ruang kelas, karena mereka sedang belajar dengan guru mereka sendiri.

Portal Rumah Belajar

Portal rumah belajar merupakan salah satu inovasi yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Rumah belajar dapat dimanfaatkan oleh para guru dan siswa, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA/SMK sederajat. Portal ini menyediakan ruang kelas maya, sumber belajar, bank soal, dan laboratorium maya, yang semuanya dapat di akses secara gratis, darimana saja, dan kapan saja. Para guru hanya perlu menyesuaikan sumber belajar dan media pembelajaran yang ada, denga materi yang diajarkan kepada anak didiknya.

Baca Juga:

Menyambut New Normal, Perlukah Rekayasa Perilaku Humanis Tan-Mekanis bagi Siswa?
Menuju New Normal: Siapkah Anak ke Sekolah?
Guru Youtuber

Youtuber adalah sebutan yang diberikan kepada orang-orang yang ahli membuat konten youtube. Pembuatan konten youtube ini tidak saja menghadirkan pengalaman membuat media pembelajaran atau presentasi yang menarik, tapi juga memberikan pengalaman untuk menjadi content creator. Pada suatu saat, ketika subscriber dan views nya mencukupi, video kreasi para guru yang diunggah di youtube dapat di monetisasi dan tentunya menjanjikan feedback finansial.

Guru Blogger

Tidak semua inovasi harus berbentuk video. Guru juga dapat menggunakan kemampuan menulisnya, untuk memberikan penjelasan dan materi yang lebih sederhana kepada siswa. Dalam hal ini, guru dapat memanfaat blogspot dan wordpress yang tidak berbayar, untuk menuliskan ringkasan materi ala guru sehingga bisa lebih mudah dipahami siswa.

Pemanfaatan google form untuk quiz

Salah satu pembelajaran yang cukup menarik adalah penggunaan google form. Dengan google form ini guru dapat membuat quiz yang baik dengan pilihan maupun jawaban pendek dari siswa. Dengan fasilitas multiple choice, bahkan siswa dapat langsung mengetahui benar atau tidaknya jawaban mereka, dan berapa nilai yang mereka dapatkan dari quiz yang diberikan guru.

Baca Juga:

Moving Class dan Outing Class: Alternatif Efektif Pembelajaran Aman Saat Belajar Bersama COVID-19
Tanpa The New Normally Lifestyle In Learning, Sekolah Akan Menjadi Killing Field Anak-Anak Kita
Penggunaan aplikasi video conference

Untuk para siswa SMP dan SMA, guru dapat menggelar pembelajaran melalui aplikasi video conference seperti zoom cloud, google meet, lark, dan lain-lain. Hanya saja, penggunaan fasilitas ini perlu sangat dipertimbangkan karena membutuhkan dukungan fasilitas yang lebih, seperti kuota internet yang banyak atau menggunakan wifi.

“Para guru harus siap dengan keunggulan baru, karena mau tidak mau hal itu merupakan tuntuan masa depan”

Melaksanakan berbagai inovasi di atas, tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang lebih baik. Para guru harus siap dengan keunggulan baru, karena mau tidak mau hal itu merupakan tuntuan masa depan. Masa pandemi ini merupakan kesempatan yang baik, untuk meningkatkan kompetensi teknis guru di bidang IT, sehingga para guru dapat mengikuti perkembangan zaman dan tuntutan modernisasi pendidikan. Pada saatnya, ketika pandemi ini berakhir, para guru seperti memiliki power yang baru, sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan lebih baik. Selamat datang “guru baru pasca pandemi”.

Mohamad Ansori (Kepala Sekolah, tinggal di Dusun Pati, RT 1/RW 1 Desa Purworejo Kec. Ngunut, Kab. Tulungagung. Penulis dapat dihubungi via WA: 081217764271, email: ansorie.abdurrahman@gmail.com, FB: Moh.Ansorie, Instagram: moh.ansorie, dan kangansorie.blogspot.com)

Suhartono Taat Putra: Begawan Psikoneuroimunologi Berjuta Prestasi dan Rendah Hati (2)

0

Suhartono Taat Putra tidak hanya sukses di segala bidang dengan berjuta prestasi. Ia rupanya memegang pondasi kehidupan secara islami dan menyadari arti penting suatu negara dan bangsa Indonesia. Dalam hidup harus bekerja dengan keras, cerdas dan ikhlas, memaksimalkan potensi pikiran dan hati, di bidang profesi masing-masing, demi mewujudkan Indonesia yang mandiri, bermartabat, unggul, berbudaya, produktif dan berdaya saing tinggi. Hal ini yang dapat dijadikan keteladanan, terutama bagi generasi muda.

Kampusdesa.or.id–Taat berhasil memulihkan citra sebagai insan berprestasi melalui proses pendidikan Pascasarjana [S-2 dan S-3] usai lulus dokter. Saat SD, SMP, dan SMA di Bojonegoro, ia berhasil menjadi “matahari yang bersinar terang”. S-1 ibarat mentari yang nyaris terbenam.  Setelah itu, matahari kembali cemerlang. Atau “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saat menjalani proses penyelesaian S-3, pengidola Albert Einstein ini mendalami Cancer Immunology di Dundee, Scotlandia, UK. Ia berhasil menjadi peserta didik tercepat S2 dan menjadi lulusan terbaik seangkatannya.

Taat memang tidak mengambil jalur spesialisasi, meskipun banyak tawaran datang kepadanya. Sebabnya sederhana. Ia hobi meneliti. Buktinya, ia berhasil merintis dan mengembangkan Patobiologi dan Psikoneuroimunologi, hingga capaian Guru Besar dititi melalui ilmu yang dikembangkan tersebut (Patobiologi). Tak hanya di bidang itu, Taat juga ikut merintis dan mengembangkan riset neurosains [tentang otak sehat] dan sel punca [stem cells]. Saat ini Taat sedang merintis pembentukan prodi S2 Neurosain yang sedang berproses.

Perjalanan menuju puncak kesuksesan memang tidak bertaburan bunga. Taat seringkali mendapat komentar bernada negatif dan ujian berupa mental blocking dari rekan sejawat saat pertama kali merintis bidang Psikoneuroimunologi. Bahkan, tesis karyanya pernah dicampakkan oleh pengujinya. Namun semua itu dihadapi Taat dengan sabar. Semua kendala yang dihadapi dipersepsi sebagai peluang dan tantangan untuk dikembangkan. Hal ini berhasil dilakukannya, berkat hasil pelajaran hidup yang menempanya semasa menempuh pendidikan S-1.

Sukses di Segala Bidang

Tak banyak dokter yang akhirnya menekuni riset dan akhirnya menjadi Profesor. Taat termasuk perkecualian. Sebagai dokter umum, praktiknya laku keras. Rupanya banyak pasien yang sembuh berkat ridha Allah SWT melalui tangan dinginnya. Dari hasil praktik, Taat berhasil membangun tiga rumah, meskipun secara bertahap. Satu rumah digunakan sebagai tempat tinggal. Dua rumah dikontrakkan. Hasilnya untuk membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga saat Taat studi ke luar negeri.

Sepulang Taat dari studi postdoctoral di Amerika Serikat di bidang Genetic Engineering in XP Gene, tahun 1992, minat praktiknya menurun. Entah mengapa Taat menjadi hobi riset dan menyukai kegiatan mendidik. Ia menjadi pendidik D3, D4, S1, S2, PPDS, dan S3. Mahasiswa bimbingan S1 dan S2 berjumlah amat  banyak, sedangkan peserta didik S3 yang dipromotori tercatat lebih dari 118 mahasiswa, yang tersebar di seluruh Indonesia.

Di bidang penulisan, Taat juga terbilang mumpuni. Terdapat dua belas buku, 246 kajian serta laporan penelitian yang telah diselesaikannya. Satu buku masih dalam tahap penyempurnaan, yakni Patobiologi Kedokteran Indonesia. Sebenarnya konsep buku tersebut sudah pernah siap cetak di tahun 1993, sayangnya terkendala serangan virus Michael Angelo.

Islam Pondasi Kehidupan

Di dalam menjalani kehidupan keseharian, Taat selalu berpedoman pada agama Islam yang diimani. Berbagai nilai Islami selalu diaktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Taat aktif di RW tempat tinggalnya dan sekaligus sebagai Ketua Dewan Pembina, Penasehat dan Pengawas (DP3) di masjid Al Wahyu di kompleks rumahnya. Saat itu, ketika  ia diamanahi mengelola Seksi Sosial Agama di Kepengurusan RW (tahun 1984), Taat berhasil mendirikan PKSM  (Perkumpulan Kesejahteraan Sosial Muslim) RW04 Rungkut Menanggal Harapan (RMH).

PKSM-RMH kian lama kian berkembang pesat. Kekompakan Pengurus dan Jamaah muslim di RW 04 mampu mendirikan masjid dan KBTK (Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak), membeli tanah makam, membantu pemulasaraan jenazah, termasuk kegiatan memandikan, menyolati, hingga memakamkan.

Beragam aktivitas di RW dan PKSM ini memberikan pelajaran kehidupan baru yang semakin mematangkan mental. Contohnya saat memediasi berbagai persoalan sensitif di dalam keragaman persepsi agama Islam dari masyarakat yang heterogen. Pelajaran demikian sangat tidak mungkin didapatkan dari bangku perkuliahan.

Otak Sehat

Berbagai pengalaman hidup ini membuat Taat berpendapat bahwa untuk sukses hidup tidak ditentukan oleh prestasi intelektual semata namun lebih dari itu, sukses hidup sangat memerlukan kecerdasan emosi dan spiritual seseorang. Taat berpendapat bahwa ada beda menyolok antara Otak Normal (era Neuroanatomi) dan Otak Sehat (era Neurobehavior). Menurut Taat, Otak Normal memerlukan asupan gizi seimbang, sedang Otak Sehat memerlukan pendidikan, baik di pendidikan keluarga yang penuh kasih sayang.

Pendidikan di keluarga sangat dibutuhkan untuk membina dasar akhlak mulia anak, di institusi pendidikan untuk memantabkan akhlak dan membina kecerdasan intelektual, serta pendidikan di kehidupan diperlukan untuk mematangkan nalar dan “hati” dalam menyelesaikan masalah hidup. Pendidikan terakhir inilah sejatinya pendidikan yang sesungguhnya untuk meraih sukses hidup. Suatu bentuk pendidikan, baik silabus maupun dosennya adalah Allah SWT sendiri. Bukankah setiap kejadian hidup atas kehendak Allah SWT adalah pelajaran bagi yang mau berpikir?

Memberikan Keteladanan

Taat menaruh perhatian besar di dalam mengimplementasikan pendidikan Islami di lingkungan keluarga. Ia melakukannya dengan memberikan contoh nyata dan mendidik dengan memberikan keteladanan. Dengan demikian, istri dan kedua anaknya dapat dengan mudah melihat yang dilakukannya, lalu mengikutinya. Inilah hal fundamental yang dilakukan Taat di dalam membina keluarga sakinah, mawadah, warohmah. Berada dalam kondisi keluarga seperti ini, Taat sangat bersyukur, sebab serasa menikmati surga dunia. Meskipun demikian, Taat mengakui kalau momentum kebersamaan, saat hidup bersama istri dan ke dua anaknya di rumah sendiri yang sangat sederhana tetap merupakan kenangan terindah sepanjang masa.

Taat mempunyai dua orang anak. Arief Budiarto Asnar Suhartono, dr, SpA, anak pertama, tinggal di Banjarbaru, bekerja di RS Ulin Banjarmasin. Bayu Budinugroho Asnar Suhartono, SPsi, MM adalah anak ke dua, yang bekerja di salah satu Fakultas Kedokteran di Universitas yang berbasis Islam di Surabaya, bersama istri dan kedua anaknya diminta Taat untuk hidup bersamanya. Saat ini istri Bayu yang bekerja di Balai Monitor Kelas II Surabaya sedang hamil anak ketiga. Bayu  dan keluarganya menempati lantai dua. Rumah Bayu sendiri dikontrakkan dan hasilnya digunakan sebagai tambahan biaya hidupnya. Tampaknya Taat ingin mengajari ke dua putranya untuk hidup dengan berbagai sumber pendanaan.

Indonesia Jaya

Berbicara tentang Indonesia, pria penggemar gendhing Jawa ini memiliki blue prints dan grand strategy untuk mewujudkan Indonesia Jaya, yakni Indonesia mandiri unggul bermartabat yang senantiasa dalam ridho Allah SWT.

Indonesia merupakan negara yang dirahmati Allah SWT, kaya akan sumber daya alam, memiliki lokasi geografis nan strategis. Sayangnya,  kualitas SDMnya masih belum memadai. Saat ini, Indonesia sedang mengalami dampak “proxy war”. Berbagai cermin kekuatan tertentu di luar sana yang ingin menguasai SDA Indonesia, dengan sengaja menjauhkan SDM Indonesia dari berbagai nilai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Wajar saja bila banyak generasi muda saat ini galau, yang kehilangan karakter, integritas, dan wawasan kebangsaan dalam menerima informasi global. Bangsa kita mengalami krisis multidimensi, ditandai dari dekadensi moral, pornografi, seks bebas, narkoba, korupsi, berita hoax, dan lain sebagainya.

Dampak dari semua ini, insyaAllah dapat dipulihkan melalui pendidikan yang berbasis karakter unggul di tiga lini, baik pendidikan di keluarga, di institusi pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat. Prosesnya bertahap, boleh jadi memerlukan proses yang relatif lama. Taat merasa optimis. Memang sangat sulit, namun insya Allah bisa dilakukan. Saat ini Taat sangat disegani mahasiswanya, terutama yang tidak memperhatikan berperilaku dan berpakaian santun, seperti yang diatur dalam peraturan Rektor tentang Berperilaku dan Berpakaian di Kampus. Taat berprinsip bahwa kampus merupakan tempat pendidikan intelektual (benar-salah), etika (layak-tidak layak dilakukan), dan estetika (indah-jelek) agar lulusan unggul bermoral. Pendidikan etika berbasis karakter bangsa harus ditanamkan kepada mahasiswa.

“Berbagai elemen bangsa yang masih menyadari arti penting suatu negara dan bangsa Indonesia, harus bekerja dengan keras, cerdas dan ikhlas, memaksimalkan potensi pikiran dan hati, di bidang profesi masing-masing, demi mewujudkan Indonesia yang mandiri, bermartabat, unggul, berbudaya, produktif dan berdaya saing tinggi. Kita harus bersinergi memberantas kemiskinan dan kebodohan. Keduanya membuat elemen bangsa mudah diombang-ambingkan oleh berbagai isu yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.”

Generasi muda perlu kita disadarkan kembali bahwa “dunia yang memerlukan Indonesia, dan bukan sebaliknya!” Hal ini dapat tercapai melalui pendidikan yang mampu menyehatkan otak normal [maksudnya, otak yang secara neuroanatomi tidak ditemukan kelainan] menjadi otak sehat (otak normal yang mampu berkinerja menjadikan dirinya bermanfaat bagi yang lain dan rahmat bagi semesta alam). Taat berkomitmen secara profesional, menjadikan diri sendiri sebagai salah satu insan yang berada dalam proses tersebut.

Nasihat Bagi Generasi Muda

Harapan narasi ini dapat dijadikan teladan untuk masyarakat umum, khusunya satu profesi dokter. Namun lika-liku kehidupan dan perjuangan pendidikan dapat dipetik oleh para generasi muda. Nasihat bagai generasi sekarang, banggalah sebagai bangsa Indonesia. Syukurilah semua yang telah disiapkan Allah SWT untuk bangsa Indonesia melalui manifestasi syukur yang benar, baik, dan indah, yaitu dengan cerdas memaksimalkan waktu yang tersedia untuk belajar.

Belajar dalam arti luas, baik di rumah, di institusi pendidikan, dan di kehidupan, agar menjadi manusia unggul yang berakhlak mulia sehingga produktif dan berdaya saing tinggi. Syukurilah setiap peristiwa yang Anda alami sebagai suatu pelajaran hidup yang pasti akan bermanfaat Anda di kemudian hari. []

Suhartono Taat Putra: Begawan Psikoneuroimunologi Berjuta Prestasi dan Rendah Hati (1)

0

Beragam prestasi dan mahakarya yang ditorehkannya di lembaran kehidupan berupa “prasasti kedokteran” benar-benar tercatat oleh tinta emas oleh sejarah. Indonesia pantas berbangga memiliki sosok yang sangat inspiratif namun tetap bersahaja nan rendah hati. Mari kita teladani perjuangan hidup Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr, MS sang begawan Psikoneuroimunologi berjuta prestasi dan rendah hati ini dengan menghayati kisah kehidupan yang dinarasikan kembali oleh kontributor Kampus Desa, dr. Dito Anurogo MSc sebagai berikut.

Kampusdesa.or.id–Kehidupan ini memang penuh problematika. Meskipun demikian, bagi Suhartono Taat Putra menjalaninya dengan ikhlas dan mengalir saja. Pelajaran kehidupan berupa kemandirian diperolehnya saat menjadi mahasiswa FK UNAIR. Hal itu memudahkan Taat melalui lika-liku jalan kehidupan selanjutnya. Dalam melakoni dinamika kehidupan, ia menilai hidup itu untuk mencari rida Allah SWT.

Cendekiawan muslim ini benar-benar multitalenta. Beliau seorang dokter pemrakarsa patobiologi, perintis dan pakar psikoneuroimunologi, neurosains, dan stem cells [sel punca]. Suhartono Taat Putra berkarir sebagai dosen di Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sejak tahun 1981.

Dua tahun kemudian, beliau merintis pengembangan ilmu baru di Indonesia, yaitu Patobiologi (ilmu yang mempelajari perubahan biologis yang imbalance dalam merespon patogen). Tahun 1992, beliau  merintis pengembangan Psikoneuroimunologi (ilmu yang mempelajari interaksi antara Psikologi, Neurologi, dan Imunologi, yang disingkat PNI) di Indonesia. Patobiologi menjadi trend di Indonesia tahun 2000, setelah berproses selama 17 tahun. PNI menjadi topik diskusi yang seksi sejak tahun 2019, usai berdinamika selama 26 tahun.

Romantika hidup dan kehidupannya penuh problematika dan dinamika. Lika-liku hidupnya begitu menegangkan sekaligus mencengangkan, mengingat pintu-pintu keajaiban bisa datang tiba-tiba dari Allah SWT.

Dinamika Masa Muda

Kehidupan Taat kecil begitu penuh perjuangan. Di saat orang bersenang-senang di hari libur, ia pergunakan momentum itu untuk membantu Ibu berbelanja kain ke Surabaya. Demi memenuhi pesanan pelanggan.

Di keluarganya, pria kelahiran Bojonegoro, 2 Juni 1948 ini sering dipanggil Mumuk. Ia putra sulung dari sembilan bersaudara. Ayahnya bernama Achmad. Seorang PNS di Dinas Pengairan Bojonegoro. Ibunya bernama Suismi. Ia putri semata wayang. Tidak seperti putri tunggal pada umumnya, Suismi menjadi seorang wirausaha yang ulet, tekun, dan pantang menyerah. Kerja keras dan ketekunan ibunda di dalam membantu ayahanda untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari pantas diapresiasi.

Kakeknya seorang guru dan petani sukses yang hidup berkecukupan. Neneknya ibu rumah tangga, gemar menolong tetangga yang hidup susah. Di halaman rumahnya yang luas, kakek membangun rumah. Hidup sehalaman dengan kakek, kehidupan keluarga menjadi lebih baik.

Perjalanan hidup pria penyuka film detektif ini dihiasi empat karakter mulia. Kejujuran tanpa kompromi dari ayah. Keuletan berjuang tanpa kenal menyerah dalam mengatasi kesulitan hidup dari ibu. Sifat suka menolong dan mendorong orangtua untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin dari kakek. Pemaknaan kasih-sayang dalam kehidupan berkarakter dari nenek. Keempat nilai-nilai itu turut membentuk dan mewarnai perkembangan kepribadian Taat menjadi muslim tangguh.

Menjadi Bintang Kehidupan

Taat menikmati masa remaja sebagaimana remaja lainnya. Pembawaannya yang ceria, supel, mudah bergaul dan bersahabat, tidak suka membeda-bedakan orang, membuat Taat memiliki banyak teman dan disukai banyak orang.

Kehidupan pemuda penggemar pecel ini berubah semenjak tinggal berdekatan dengan kakek dan nenek. Ia menjadi mampu berfokus dan berkonsentrasi untuk belajar lebih giat dan mendalami pelajarannya. Hasilnya, hobiis fotografi ini selalu menjadi juara dalam hasil ujian sejak SD, SMP dan SMA selama di Bojonegoro. Sebagai sang Juara, Taat menerima hadiah dari toko buku di Bojonegoro berupa paket buku-buku SD, SMP, dan SMA. Prestasi dan pencapaian Taat selama menempuh pendidikan di Bojonegoro menjadi kebanggaan serta membahagiakan kedua orangtua, kakek, dan nenek.

Menempuh Jalan Berliku

Selepas lulus dari SMA di tahun 1967, pria yang menjadikan pantai sebagai destinasi wisata favorit ini mendaftar di Sekolah Tinggi Kedokteran Malang (STKM) dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga [FK Unair]. STKM ini di kemudian hari menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Saat itu, Fakultas Kedokteran di STKM masih berstatus swasta.

Di tengah-tengah ujian seleksi FK Unair, tepatnya di hari kedua, Taat mendapat panggilan untuk segera mendaftar ulang di STKM. Bila hari itu tidak segera mendaftar ulang, maka posisinya sebagai mahasiswa kedokteran bakal digantikan oleh pendaftar lainnya. Keterbatasan pengetahuan tentang dunia perkuliahan di kedokteran, membuat Taat mendaftar di STKM dan meninggalkan ujian seleksi di FK Unair. Setelah menjalani masa kuliah selama satu semester, Taat mulai tahu serta merasakan beratnya biaya untuk bersekolah di STKM. Tepat setahun berkuliah di STKM, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti ujian seleksi lagi di FK Unair. Alhamdulillah, berkat rahmat Allah, lelaki penyuka warna merah-putih ini berhasil diterima.

Hidup Meletup Meredup

Taat merasakan dinamika kehidupan yang sesungguhnya di Surabaya. Lembaran kehidupan begitu kelabu, sangat jauh berbeda dengan kehidupan di Malang dan Bojonegoro. Begitu diterima di FK Unair, pria bergolongan darah AB ini menjual mobil. Uangnya dipergunakan untuk membeli rumah di dekat kampus.

Taat berjanji kepada diri sendiri untuk hidup mandiri selama berada di Surabaya, tanpa pernah sekalipun merepotkan orangtua. Kondisi itulah yang membuat hidupnya terasa amat berat. Terlebih lagi, Taat pindah ke Surabaya bersama ketiga adiknya. Mereka harus hidup dari pemberdayaan rumah di dekat kampus yang ditinggalinya.

Taat memang cerdas finansial. Rumah itu dikelola menjadi dwifungsi, sebagai tempat tinggal sekaligus kos. Kos itulah yang menjadi sumber pundi-pundi pendapatan.

Kehidupan di Surabaya telah menempa Taat menjadi pribadi unggul. Ia menjalani proses pendidikan di FK Unair dan di Fakultas Kehidupan. Sembari belajar di FK Unair, ia juga mencari dana halal untuk hidup bersama ketiga adik. Berprofesi sebagai tukang foto pengantin hingga pengemudi bemo dijalaninya dengan ikhlas. Karena konsentrasi dan fokusnya terpecah, sehingga mudah ditebak, prestasi S-1 Taat di FK Unair tidak begitu menggembirakan. Saat itu, ia belum mampu menunjukkan bahwa dirinya “putra berprestasi” dari Bojonegoro. Hikmah yang didapatkan adalah Taat memperoleh ilmu kehidupan yang nantinya turut membentuk karakternya hingga kini. Beragam pengalaman hidup ini telah menempanya menjadi pribadi bermental baja di dalam menjalani hidup dan kehidupan yang sesungguhnya.

“Hidup dan kehidupan ini adalah karunia Allah yang harus dijalani sesuai petunjukNya agar meraih ridaNya.” [Suhartono Taat Putra]

Harmonisasi Hidup

Perjalanan hidup Taat dijalani dengan harmonis. Seimbang antara karir, keluarga, organisasi, dan umat. Istilah kerennya punya manajemen waktu sekaligus time quality yang tertata rapi. Hal ini tentu berkat peran istri (Dr Elyana Angkasawati Asnar, dr, MS, yang biasa dipanggil Nana) yang sangat pengertian dan begitu memahami pola pikir dan kebersahajaan Taat. Padahal Nana terlahir dari keluarga berada di Surabaya, yakni keluarga dr Oesman Asnar SpPD. Menariknya, istri Taat ini semula tempat ia berbagi cerita alias curhat, sekaligus teman belajar saat di FK Unair. Kedekatan ini semakin menemukan banyak persamaan yang menyemikan rasa cinta kasih di keduanya.

Sesungguhnya “Cinta-kasi” adalah pengorbanan untuk membahagiakan yang dicintakasihi. [Suhartono Taat Putra]

Manajemen Risiko

Manajemen risiko juga telah dipahami sepenuhnya oleh Taat. Betapa tidak? Ia sudah berani menikah meskipun baru saja lulus dari sarjana kedokteran (Dokter Muda atau SKed), yang saat belum menjalani sumpah dokter. Otomatis mengharuskan Taat tetap studi sambil berwirausaha. Beruntung ayah mertua menyarankan agar Taat menetap di rumah beliau. Tujuannya agar Taat dapat lebih berkonsentrasi menyelesaikan pendidikan dokter [koas], sehingga segera dapat bekerja secara profesional. Namun demikian Taat masih ingin tetap menunjukkan tanggung-jawabnya sebagai suami untuk berusaha menyukupi kebutuhan walau terbatas. Justru saat hidup di rumah mertua itulah Taat ijin untuk menjalankan bemonya. Sikap ayah mertua yang sangat dibanggakan, Taat diijinkan bekerja apapun selama halal dan tidak melupakan studinya.

Selama berjuang menyelesaikan koas, pengelolaan rumah kos diserahkan Taat kepada adiknya yang kedua. Begitu sumpah dokter, lelaki yang menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh inspiratornya ini segera memboyong sang pujaan hati dan anak pertama ke rumah hasil kerja kerasnya selama ini.

Istri berperan besar di dalam keberhasilan studi dan perjalanan karir Taat. Ia tidak pernah menuntut fasilitas apapun. Ia rela berkorban demi Taat yang amat dicintainya.

Istri Taat yang lulus lebih dulu, bekerja sebagai dosen di Departemen Ilmu Faal FK UNAIR. Saat itu. Keterlambatan kelulusan Taat ini, antara lain disebabkan selain ada perpanjangan kurikulum juga karena wirausaha yang mengurangi waktu belajarnya. Setahun setelah kelulusan istrinya, Taat lulus dari FK UNAIR dan menjadi dosen di Fakultas Non Gelar Kesehatan (FNGK) yang baru didirikan di UNAIR. Begitu masuk, Taat langsung diamanahi sebagai pengelola Laboratorium (setingkat Departemen) Teknik Patologi FNGK UNAIR.

Begitu gelar dokter diraih dan mulai mendosen, pria penyuka kucing ini langsung melanjutkan kuliah ke jenjang Magister di Minat Patobiologi Prodi Ilmu Kedokteran Dasar (IKD) Fakultas Pascasarjana Unair. Ia berhasil menjadi lulusan terbaik di angkatannya. Nasib mujur sedang berpihak padanya, karena prestasi tersebut Taat diberi kesempatan untuk langsung meneruskan studi S3, dan berhasil lulus dengan predikat Cumlaude.

“Kesuksesan adalah pencapaian semaksimal mungkin dalam menjalani hidup secara ikhlas di jalanNya.” [Suhartono Taat Putra]

Baca juga lanjutannya di part 2.

Peduli Potensi Desa, Dosen Unismuh Paparkan BMC Saat PKM di Bulukumba

0

Desa Caramming terletak di Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kegiatan PKM ini bertujuan menggali dan memberdayakan potensi desa Caramming. Salah satu produk unggulan desa yang berlokasi sekitar 180 Km dari kota Makassar ini adalah buah Naga. Para petani buah naga tampak bersemangat dan antusias membuat BMC didampingi mahasiswa. Pemaparan materi diikuti dengan praktik membuat bisnis BMC (Business Model Canvas). Lalu, apa saja inovasi yang disuguhkan?

Kampusdesa.or.id-Desa Caramming, (2/06/2020) – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Makassar yang diketuai oleh Agusdiwana Suarni SE MSc.Acc berhasil melakukan kegiatan PKM. Kegiatan PKM ini bertajuk edukasi pemulihan ekonomi rumah tangga dari dampak pandemi COVID-19 di Kabupaten Bulukumba.

Kegiatan BMC di Desa Caramming

Asas pengaturan di dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yakni partisipasi dan kemandirian menjadi dasar kegiatan PKM ini. Kegiatan PKM ini bertujuan menggali dan memberdayakan potensi desa Caramming. Salah satu produk unggulan desa yang berlokasi sekitar 180 Km dari kota Makassar ini adalah buah Naga.

Pejabat Desa Caramming, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, Zainuddin, S.Sos. menyatakan ucapan terima kasih atas perhatian Unismuh kepada desanya, melalui kegiatan PKM ini. “Atas nama masyarakat Desa Caramming, saya mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian Unismuh kepada Desa Caramming. Semoga kegiatan ini berkelanjutan ke depannya,” ujarnya saat membuka kegiatan. Sebagai kelanjutan kegiatan, maka telah ditandatangani pula nota kesepahaman (MoU) antara Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar dan Desa Caramming, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba.

Penandatanganan MoU Desa Caramming

Inovasi

Untuk memajukan desa, maka diperlukan inovasi. Perlukah inovasi dalam bertani buah naga dikemukakan dengan sangat bernas oleh Agusdiwana Suarni SE Macc melalui BMC (Business Model Canvas). Ada beberapa langkah untuk membuat BMC ini.

Pertama, segmentasi pelanggan. Maksudnya, hendaklah jelas siapa saja pelanggan buah naga. Apakah semua kalangan, atau terbatas hanya pada wisatawan, anak-anak, remaja, orang tua.

Kedua, proposisi nilai. Petani buah naga dapat memaparkan keunggulan bisnis dan produknya. Misal: harga terjangkau, ada foto booth untuk berswafoto, memetik langsung buah naga langsung di kebunnya.

Ketiga, channel atau jejaring. Petani buah naga hendaklah berjejaring dengan pemerintah setempat, kelompok masyarakat, agensi travel, supermarket, dan jejaring lainnya.

Keempat, relasi pelanggan. Untuk mengikat hubungan batin dengan pelanggan, maka petani buah naga perlu mengadakan diskon dan promo di hari-hari besar, akhir pekan, atau perayaan hari besar nasional lainnya.

Kelima, aliran atau sumber pendapatan. Bahasa kerennya revenue streams. Petani buah naga dapat mengolah buah naga, menjadi beragam produk olahan untuk meningkatkan penghasilan.

Keenam, sumber daya kunci, bisa berupa modal, sumber daya manusia, dan sumber daya alam. Maksudnya, semua orang yang bertanggung-jawab langsung terhadap kebersinambungan bisnis buah naga. Misalnya: tukang kebun, kesuburan tanah, iklim yang kondusif, kejujuran karyawan.

Ketujuh, aktivitas kunci. Maksudnya, beragam aktivitas di perkebunan buah naga meskipun bukan musimnya. Kegiatan tersebut dapat diupload di sosial media yang dimiliki petani buah naga.

Kedelapan, rekan kerja kunci. Jejaring petani buah naga perlu ditingkatkan dan diperluas. Mulai dari toko oleh-oleh, kurir, distributor, beragam toko makanan, dsb.

Kesembilan,  struktur biaya. Komponen ini meliputi: gaji karyawan, pupuk, biaya pemeliharaan, listrik, air, dsb.

Kunjungan dr. Dito ke Pustu

Pemaparan materi diikuti dengan praktik membuat bisnis BMC (Business Model Canvas). Para petani buah naga tampak bersemangat dan antusias membuat BMC didampingi mahasiswa. Gemuruh tepuk-tangan terdengar saat mereka berhasil mempresentasikan BMC kepada hadirin. Ekspresi bahagia tergurat di wajah para petani buah naga usai mengikuti kegiatan.

Dalam kegiatan PKM tersebut, anggota tim PKM, dr. Dito Anurogo, M. Sc. juga sempat melakukan kunjungan singkat ke Pustu Desa Caramming, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba. Kepala Pustu, Bidan Rosmala, menerima kunjungan singkat tersebut dengan gembira. Kunjungan ini berhasil mendapatkan data singkat gambaran sepuluh penyakit dan problematika kesehatan terbanyak di tahun 2019, yakni: influenza (287 kasus), gejala umum lainnya (202 kasus), penyakit karena jamur (117 kasus), gastritis (116 kasus), sakit kepala (69 kasus), demam (61 kasus), batuk  (42 kasus), sakit gigi (40 kasus), hipotensi (29 kasus), dan hipertensi (27 kasus). (Liputan oleh: Dito Anurogo, dosen FKIK Unismuh Makassar)

Menuju New Normal: Siapkah Anak ke Sekolah?

0

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Kurang lebih 100 hari lamanya Covid-19 telah memaksakan kita untuk berdiam diri di rumah. Tatanan kehidupan baru atau yang disebut dengan New Normal, yang telah disiapkan pemerintah untuk diberlakukan di awal Juni ini menuai beragam pro dan kontra dari masyarakat. Lalu bagaimana dengan anak-anak? Sudah siapkah mereka untuk kembali ke sekolah?

Kampusdesa.or.id-Melonjaknya kasus yang terkonfirmasi pada anak-anak membuat banyak orang tua khawatir dan lebih waspada terhadap buah hatinya. Anak-anak memang lebih rawan tertular COVID-19 karena daya tahan tubuh yang masih rendah juga belum pahamnya mereka untuk menjaga jarak, menyentuh benda-benda di sekitar maupun menyentuh hidung dan mulut setelah bermain, mengingat kedua tempat tersebut merupakan mudahnya virus berkembang biak.

Sehingga kewaspadaan yang tinggi dari orang tua sangatlah perlu ditingkatkan. Pandemi yang telah menyebar di seluruh provinsi di Indonesia ini memang masih menjadi musuh terbesar kita dan belum ditemukan jalan keluarnya. Selama vaksin dari virus ini belum ditemukan maka resiko penyebarannya akan terus terjadi, dan cara pengantisipasinya hanyalah kedisplinan kita untuk menjaga jarak, memakai masker dan menjaga sistem kekebelan tubuh.

Sebagai masyarakat yang cerdas, kita juga mampu berperan besar dari bagian pengambilan kebijakan penting di masa sulit ini.

Sebagai masyarakat awam yang memang tidak turut langsung dalam pengambilan kebijakan yang dilakukan pemerintah memang hanya harus menurut dan taat. Namun dalam berbagai sisi sebagai masyarakat yang cerdas, kita juga mampu berperan besar dari bagian pengambilan kebijakan penting di masa sulit ini. Tatanan kehidupan baru atau yang disebut dengan New Normal, yang telah disiapkan pemerintah untuk diberlakukan di awal Juni ini menuai beragam pro dan kontra dari masyarakat.

Kesadaran masyarakat dari merebaknya kasus ini membuat sebagian masyarakat mulai meragukan dan takut dengan kebijakan baru ini, khususnya dari kalangan orang tua yang harus melepas anak ke Sekolah tentunya sangan dihantui ketakutan. Jika anak yang sudah remaja saja bahkan kuliah masih sulit menjaga jarak, lalu bagaimana dengan anak Sekolah Dasar ataupun TK? Apakah Guru bisa menjamin kebersihan murid selama di sekolah? Muncul berbagai pertanyaan yang saya yakin tak bisa dijawab dengan yakin oleh semua pihak.

Dari sinilah muncul beberapa petisi untuk menunda dibukanya sekolah tahun ajaran baru yang diberitakan di DKI jakarta akan dimulai 13 Juli. Namun keputusan ini belum diketuk palu. Seperti dilansir di kompas bahwa Mendikbud dalam rapat kerja secara telekonferensi dengan komisi X DPR di Jakarta, Rabu (20/05/2020) menyatakan bahwa “Harus diakui Kemendikbud sudah siap dengan semua skenario. Kami sudah ada berbagai macam. Tapi tentunya keputusan itu ada di dalam Gugus Tugas, bukan Kemendikbud sendiri. Jadi, kami yang akan mengeksekusi dan mengkoordinasikan.”

Sayangnya kecepatan media yang mulai gencar membicarakan pembukaan sekolah dan kurangnya telaah dari masyarakat cukup membuat mereka panik. Padahal kita masih harus menunggu kepastian dari yang berwenang. “Kami tidak pernah mengeluarkan pernyataan kepastian, karena memang kepastiannya bukan di kami. Jadi mohon stakeholders atau media yang menyebut itu, itu tidak benar,” tegas Nadiem.

Akibatnya muncullah beberapa petisi penundaan sekolah karena tingginya resiko anak yang tertular. Petisi ini mendapat banyak dukungan baik dari orang tua, guru maupun masyarakat. Salah satu ide baik ini muncul dari seorang ibu satu anak yang mendedikasikan hidupnya  membuat karya untuk anak-anak, berupa buku cerita anak. Petisi yang dimulai sejak 27 Mei kemarin oleh Watiek Ideo ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat terbukti dengan hingga diliputnya dibeberapa stasiun televisi juga media berita. Hingga 31 Mei kemarin tanda tangan yang terkumpul telah mencapai 92 ribu.

Permintaan masyarakat untuk menunda sekolah sangat besar.

Ini membuktikan jika permintaan masyarakat untuk menunda sekolah sangat besar. Tak hanya satu petisi tersebut ada juga petisi serupa yang bertujuan untuk memberikan pertimbangan pada pemerintah untuk menunda dibukanya sekolah. Jadi, kita sebagai masyarakat awam pun masih memiliki kesempatan untuk menyuarakan keinginan dan kepedulian kita untuk anak-anak, guru, juga seluruh masyarakat Indonesia dengan menandatangani petisi tersebut dan menghentikan kebijakan dibukanya sekolah oleh pemerintah. Mengingat sasaran yang dituju oleh petisi watiek langsung pada Bapak Presiden Jokowi juga Mendikbud Nadiem Makarim.

“Sudah terbayangkah bagaimana protokol kesehatan masuk rumah jika anak-anak pulang sekolah, misalnya baju seragam sekolah harus masuk cucian dan ganti setiap hari, Perlengkapan sekolah harus dibersihkan, langsung mandi? Siapkah guru-guru mengawasi dan mengontrol semuanya? Double tugas selain mengajar? Bagaimana fasilitas sekolahnya memadaikah?” Ungkapnya dalam petisinya.

Berbagai kemungkinan mulai membayangi masyarakat khususnya orang tua, dengan anak yang daya tahan tubuhnya masih rendah, juga kepahaman yang masih kurang sehingga perlu perhatian ekstra dari orang disekitarnya. Hal ini tentu saja akan sulit didapatkan jika anak belajar di sekolah.

Pendidikan memanglah satu hal yang sangat penting, namun dimasa sulit ini pilihan belajar dari rumah merupakan hal yang tepat dan seharusnya dilanjutkan hingga suasana memungkinkan. Pembelajaran bisa dilakukan dimanapun dan dengan kondisi apapun asalkan dengan niat dan keinginan yang kuat. Bimbingan dan kedekatan dari orang tua juga menjadi salah satu pendukungnya.

Proses pembelajaran daringpun bukan hal yang mudah bagi guru.

Jika kebijakannya memang dibuat untuk memudahkan terwujudnya tujuan pendidikan, mudahnya transfer ilmu dari guru ke murid. Saya pun yakin guru juga sebenarnya lebih ingin keadaan kembali ke semula. Mereka pasti merindukan anak-anak dan sebaliknya, anak-anakpun merindukannya. Proses pembelajaran daringpun bukan hal yang mudah bagi guru, bagaimana mengondisikan murid tetap semangat belajar, memberi inovasi dan tugas yang mendidik namun tetap menyenangkan.

Namun kembali ke rutinitas awal dan mudahnya pembelajaran manual tidak diharapkan guru saat ini. Anak-anak masih belum siap untuk pergi ke sekolah. Fasilitas yang ada pun masih belum memadai untuk menjaga anak di sekolah, dan gurupun belum siap menjadi tameng ekstra dan cctv untuk anak-anak. Itulah mengapa kebanyakan dari mereka menyetujui ajakan untuk menunda dibukanya sekolah.

Kesulitan belajar daring akan dapat teratasi dengan kerjasama yang baik antara guru dan orang tua. Pembagian peran mereka untuk mengajari anak menjadi hal yang utama. Anakpun akan tetap nyaman dengan keadaan belajar di rumah jika lingkungannya sepenuhnya mendukung, kreativitas guru memberikan pelajaran dan peran aktif orang tua sebagai pengganti guru untuk memberikan kenyamanan dan keseruan belajar akan tetap menggugah semangat belajar anak.

Putri Aditia Ningrum (tinggal di Desa Keyongan Babat-lamongan, mahasiswa pendidikan matematika di Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan. Akun sosial media yang bisa dilihat yakni Instagram Putriadietya_ dan nomor telepon 085706513049 serta e-mail putriaditya2233@gmail.com.)

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Menyambut New Normal, Perlukah Rekayasa Perilaku Humanis Tan-Mekanis bagi Siswa?

0

Terlepas kapan New Normal sektor pendidikan diberlakukan, ada banyak hal yang perlu kita takar. Utamanya perihal kesiapan lembaga pendidikan kita. Kesiapan ini meliputi tidak hanya sarana dan prasaran, tapi juga sumber daya manusianya. Misalnya, siapkah penyelenggara sekolah membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat kepada peserta didik secara efektif. Juga, mampukah mereka menemukan pendekatan rekayasa perilaku yang humanis tan-mekanis, yang lebih fokus kepada transformasi nilai menjaga kebersihan dan kesehatan, bukan fokus diperilaku mekanistik anak

Kampusdesa.or.id-Normalitas baru (new normal) di sekolah pasti akan berlaku pasca Covid-19, entah di tahun ajaran baru (Juli), atau di bulan Desember. Keputusan diberlakukannya belum pasti kapan, sebab hal tersebut adalah permasalahan kesehatan. Maka, keputusan membuka kembali sekolah harus mendapatkan kesepatakan dari Satgas Gugus Covid-19 dan Menteri Kesehatan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sebagaimana dilansir Tempo.co pada 27 Mei 2020, menyatakan bahwa keputusan dibukanya kembali sekolah-sekolah apakah bulan Juli atau Desember bergantung pada selesainya kondisi pandemi Covid-19.

Perubahan perilaku dan merubah perilaku manusia bukan hal yang gampang.

Kapanpun keputusan Kemendikbud terkait dibukanya kembali sekolah-sekolah dengan tatanan baru atau normalitas baru, para pengelola sekolah dan orangtua harus mempersiapkan jauh-jauh hari. Sebab, perubahan perilaku dan merubah perilaku manusia bukan hal yang gampang. Meskipun bagi seseorang perilaku tersebut sederhana, misalnya perilaku rajin cuci tangan, tertib menggunakan masker, dan disiplin jaga jarak, bisa saja, perilaku tersebut kompleks bagi orang lain. Menyadari hal itu, kami sebagai pengelola Sekolah Alam Ramadhani melakukan persiapan-persiapan menghadapi normalitas baru tersebut.

Sebagai pengelola, kami mempersiapkan beberapa titik tempat cuci tangan dengan membeli beberapa gentong padasan terbuat dari tanah liat, memproduksi masker sendiri sebagai persediaan bagi anak-anak dan para guru, juga rencana setting ruang belajar yang berjarak. Persiapan lain adalah kami melakukan jajak pendapat sederhana kepada para orangtua siswa terkait kesiapan orangtua dan anak apabila normalitas baru diberlakukan di sekolah. Jajak pendapat ini bisa kami lakukan lantaran sejak awal pendaftaran, kami sampaikan kepada orangtua untuk mengasuh dan mendidik anak secara bersama. Sebab, pada dasarnya yang memiliki kewajiban mendidik anak adalah orangtua. Anak di sekolah hanya 2 jam, 22 jam bersama orangtua di rumah. Artinya, porsi orangtua untuk mendidik anak jauh lebih besar dan lama dibandingkan di sekolah.

Hasil jajak pendapat sederhana yang kami lakukan adalah pertama, orangtua merasakan siap apabila sekolah kembali dibuka dengan new normal sebesar 16,5%, ragu-ragu sebanyak 16,6%, dan tidak siap sebesar 67%. Kedua, alasan mengapa para orangtua siap, ragu dan tidak siap dapat kami ketahui sebagai berikut; orangtua merasa siap diberlakukan new normal dengan alasan melihat perilaku anak sudah mengerti dalam melakukan protokol kesehatan selama di rumah. Orangtua ragu-ragu apabila diberlakukan new normal di sekolah,  dikarenakan meskipun anak-anak di rumah mau melaksananakan protokol kesehatan seperti mencuci tangan dan memakai masker, tetapi dalam hal menjaga jarak masih sulit dilakukan, apalagi ketika bermain dengan temannya dan bertemu dengan para guru di sekolah.

Sedangkan orangtua yang merasa tidak siap, dikarenakan kesadaran anak dalam menjaga kebersihan diri masih belum konsisten, apalagi dalam hal menjaga jarak. Jiwa anak-anak yang suka bermain bersama-sama, serta kondisi fisik anak dalam tingkatan PAUD/TK dan SD masih rentan atas sebaran virus apalagi saat ini Kediri masih dalam zona merah. Hasil ketiga, adalah terkait pilihan anak-anak antara memilih kondisi normal seperti sebelum ada pandemi Covid-19 yang bebas tanpa protokol kesehatan atau memilih ke sekolah dengan protokol kesehatan. Sebanyak 67% anak memilih sekolah dalam kondisi normal karena berkaitan interaksi dengan para teman. Anak-anak bermain tidak bisa dengan jarak jauh serta belum terbiasa akan kebiasaan-kebiasaan yang baru. Selanjutnya, 33% anak memilih bersekolah dengan kondisi new normal karena mereka sudah tahu akan melakukan protokol kesehatan ketika bersekolah.

Dengan landasan bahwa keluarga sebagai pusat pendidikan yang sempurna, anak akan tumbuh sebagai individual dan sosial dengan sempurna melalui pendidikan di keluarga.

Hasil jajak pendapat pertama dan kedua menjadi bahan pemikiran kami untuk mengolah konsep dan penerapan pendidikan anak PAUD/TK di masa new normal. Ragu-ragu 16,5 % dan tidak siap sebesar 67% bagi kami angka yang tinggi, untuk memikirkan ulang konsep dan pelaksanaannya. Dengan landasan bahwa keluarga sebagai pusat pendidikan yang sempurna, anak akan tumbuh sebagai individual dan sosial dengan sempurna melalui pendidikan di keluarga. Bahkan, kepatuhan anak-anak terhadap perilaku protokol kesehatan juga bergantung kepada pendidikan di keluarga. Keluarga, sebagai pusat pendidikan untuk mengembangkan kecerdasan-kecerdasan individual anak sekaligus menumbuhkan rasa hidup kemasyarakatan pada anak. Inilah mengapa jajak pendapat ini kami lakukan, sebagai upaya pengingat dan penumbuhan kembali pentingnya pendidikan dalam keluarga, dan mendidik secara bersama.

Hasil ketiga, memperteguh kami mengenai kodrat perkembangan anak. 67% anak-anak memilih sekolah dalam kondisi normal (sebagaimana sebelum ada pandemi COVID-19), terutama terkait bermain bersama dengan teman-teman menunjukkan bahwa bermain bersama teman-teman adalah pedidikan itu sendiri. Menurut Piaget tokoh psikologi kognitif, stimulasi sistem persyarafan anak usia dini (salah satunya) melalui permainan, menjadi fondasi perkembangan aspek kognitif anak. Frobel, seorang tokoh pendidikan anak-anak dari Jerman juga meneguhkan bahwa pendidikan anak-anak itu diutamakan melalui permainan dan kegembiraan. Sementara, tokoh pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa hidup anak itu adalah permainan, permainan sepenuhnya mengisi hidup anak. Itulah mengapa Ki Hadjar Dewantara mengkategorisasikan perkembangan anak di windu pertama (0-8 tahun) sebagai usia perkembangan wiraga, usia perkembangan kematangan ragawi yang ditandai dengan banyak gerak dan bermain.

Apa yang perlu dipersiapkan?

Pengelola sekolah PAUD dan TK, paling tidak harus mempersiapkan beberapa hal berikut untuk menghadapi normalitas baru di sekolah. Pertama, adalah kesiapan dan ketangguhan sumber daya manusia yang meliputi pengelola, para guru, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kedua, pengelola mendesain ulang lingkungan sekolah. Mulai dari ruang (space) kelas, ruang bermain, kantin, dan ruang-ruang untuk cuci tangan. Pengelola sekolah tidak hanya memikirkan lingkungan sekolah yang menyehatkan mental, namun kini memiliki tanggungjawab menghadirkan lingkungan sekolah yang menyehatkan fisik (pencegah penularan COVID-19).

Lingkungan yang sehat bagi anak-anak usia PAUD dan TK adalah sebuah lingkungan yang mengakomodir kodrat alamiah bermainnya, pun bermain bersama teman-teman sebayanya.

Hal itu menjadi tanggungjawab yang tidak ringan di masa new normal, sebab sekolah harus menyediakan lingkungan sehat mental dan fisik. Sementara, pada hal-hal tertentu diantara keduanya bisa saja tabrakan. Misalnya, lingkungan yang sehat bagi anak-anak usia PAUD dan TK adalah sebuah lingkungan yang mengakomodir kodrat alamiah bermainnya, pun bermain bersama teman-teman sebayanya. Namun, pemenuhan kesehatan mental berupa kemerdekaan bermain tersebut harus terbatasi oleh protokol jaga jarak. Ketiga, pengelola sekolah, para guru dan orang-orang yang terlibat didalamnya, juga orangtua harus bergotongroyong melakukan rekayasa perilaku kepada anak. Sebuah rekayasa perilaku baru yang dibutuhkan di masa new normal, yaitu kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Sisi lain, yang perlu dipikirkan adalah menemukan sebuah pendekatan rekayasa perilaku yang humanis tan mekanis, yang lebih fokus kepada transformasi nilai menjaga kebersihan dan kesehatan, bukan fokus diperilaku mekanistik anak.

Rekayasa perilaku anak yang humanis tan mekanis membutuhkan gerakan bersama antara pengelola sekolah, para guru dan orang-orang yang ada di dalamnya, serta para orangtua yang berpihak terhadap pentingnya nilai dan utamanya pengertian anak atas mengapa melakukan perilaku tertentu. Anak juga membutuhkan modeling dari orang dewasa, khususnya dari orang-orang terdekat, yaitu orangtua dan para guru. Dengan demikian, orangtua dan guru harus memiliki keterpaduan dalam perilaku demi keberhasilan rekayasa perilaku kepada anak.

Perlunya mengembangkan sekolah berbasis komunitas

Sekolah berbasis komunitas bukan berarti mempermasalahkan formal dan informal. Ia melampui formal-informal. Berbicara komunitas berarti berbicara sense, rasa, yaitu rasa (merasa) satu kelompok (sekolah), terlepas formal ataupun informal. Sesiapa yang memiliki rasa satu kelompok terhadap sekolah tertentu, inilah yang disebut sebagai sense of belonging. Rasa kebermilikan terhadap sekolah yang dimiliki oleh semua elemen (pengelola sekolah, para guru, orangtua, dan semua orang-orang yang terlibat didalamnya) menjadi modal terwujudnya satu kondisi kohesi sosial. Kohesi sosial adalah sebuah kondisi yang guyub rukun dan bersatu untuk mencapai tujuan bersama sehingga semua sangkul si sinangkul (tolong menolong) dan bergotongroyong untuk berdaya bersama, untuk menyelesaikan permasalahan bersama. Sense of community, merasa sebagai satu kelompok yang didasari atas rasa memiliki adalah modal kelompok yang perlu ditumbuhkan di masing-masing lembaga sekolah.

Sejak bulan Maret, pada saat Kemendikbud menetepkan belajar jarak jauh dan menutup sekolah, adalah kesempatan untuk menumbuhkan sense of belonging dari semua elemen yang terlibat. Bagaimana tidak? Dulu, pola komunikasi pengelola sekolah terhadap orangtua hanya dilakukan beberapa kali dalam satu semester. Kini, orangtua terjaring didalam group-group komunikasi bersama (whatsapp, minimalnya), komunikasi antara pihak sekolah melalui guru dengan orangtua bisa dilakukan 24 jam. Seringnya komunikasi ini patut diteruskan sampai dengan masa pasca COVID-19 sehingga muncul kesadaran bersama rasa memiliki terhadap sekolah, yang puncaknya adalah memikirkan secara bersama proses pendidikan dan masa depan anak-anaknya.

Apabila rasa memiliki terhadap sekolah ini ada pada semua elemen, maka perlahan cita-cita pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang digambarkan dengan Tri Pusat Pendidikan bahwa tanggungjawab pendidikan ada pada keluarga, sekolah dan masyarakat tidak mustahil bisa diwujudkan. Pemikiran Tri Pusat Pendidikan seharusnya menjadi pendorong utama bagi semua elemen untuk bersinergi, berdaya bersama melahirkan komunitas (sekolah) yang peduli terhadap pendidikan anak. Karena, untuk mendidik anak dibutuhkan kesadaran komunal, tidak cukup individual pengelola ataupun orangtua.

Sunarno, M.A (Dosen di Prodi Psikologi Islam IAIN Kediri Pengelola Sekolah Alam Ramadhani Kediri dan Direktur ICPL-Kediri. Tinggal di Jl. Supiturang Utara 13, Mojoroto, Kota Kediri. Penulis bisa dihubungi via 085735139201, sunarno@iainkediri.ac.id, fb: Sunarno, ig: @bapake_madjid)

Buya Syafii: Sosok Negarawan Kosmopolitan

0

Buya Syafii merupakan sosok negarawan yang otentik, produktif, dan langka. Buya menjadi contoh bagi generasi muda bagaimana menjaga pandangan kosmopolitan dan konsistensi antara ucapan dan tindakan. Kritiknya yang blak-blakan, pedas, dan tajam kerap membuat telinga pihak yang tersinggung kepanasan. Meski begitu, ia tetap kukuh di jalan kebenaran yang ia yakini. Di usianya yang ke-85 tahun ini, Buya tetap konsisten kritis dan produktif melahirkan gagasan-gagasan jernih. Sikap inilah yang harus diteledani generasi masa kini.

Kampusdesa.or.id-Nama Ahmad Syafii Maarif tentu tidak asing di telinga bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, terutama warga persyarikatan Muhammadiyah. Mantan ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah periode 1998-2005 ini merupakan sosok negarawan yang selalu ditunggu buah pikirannya. Sosoknya yang sederhana, namun begitu lugas saat melancarkan kritik terhadap fenomena sosial kebangsaan, mencerminkan kedalaman sekaligus keluasan pengetahuannya. Bahkan tak jarang kelugasan kritiknya yang seolah tanpa beban, kerap membuat panas telinga beberapa kalangan. Meski begitu, Buya Syafii─begitu sapaan karibnya─tetap konsisten dengan sikap kritisnya.

“Konsistensinya dalam bersikap kritis itulah yang justru menempatkan Buya Syafi’i di atas menara mercusuar, sehingga bisa mengamati berbagai persoalan dengan utuh, kemudian merenungkannya untuk mencari solusi pemecahannya.”

Konsistensinya dalam bersikap kritis itulah yang justru menempatkan Buya Syafii di atas menara mercusuar, sehingga bisa memandang berbagai persoalan dengan utuh, kemudian merenungkannya untuk mencari solusi pemecahannya. Buya sering juga tidak ragu mengambil sikap yang tidak populer. Bahkan, cenderung kontroversial. Misalnya pada 2016 silam saat ia menyatakan pembelaannya kepada Ahok yang kala itu divonis menistakan agama Islam berdasarkan fatwa MUI. Berikut pernyataannya:

“Sekiranya saya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu yang menghebohkan itu, dalam fatwa itu jelas dituduhkan bahwa Ahok telah menghina al-Qur’an dan menghina ulama sehingga harus diproses hukum, semua berdasarkan Fatwa MUI yang tidak teliti itu, semestinya MUI sebagai lembaga menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggungjawab, fatwa atau pandangan agama itu benar, shahih, jelas atau sama seperti apa yang disampaikan ahli agama, jadi jangan percaya sama orang.”

Ia lalu mengutip penggalan pidato Ahok, “Kan bisa aja dalam hati kecil Bapak dan Ibu ga bisa milih saya, karena dibohongin pakai Surat al-Maidah aat 51 macem-macem itu. Itu hak Bapak/Ibu ya.” Menurut Buya Syafi’i, hanya otak sakit saja yang berkesimpulan bahwa pernyataan ini mengandung penghinaan terhadap al-Qur’an. Menurutnya, yang dikritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya.

Baca Juga:

Salafi Merajalela, Di Mana NU dan Muhammadiyah?

Akibat kritik pedasnya ini, beragam kritik bahkan hujatan pun ia tuai dari berbagai kalangan, bahkan tokoh-tokoh Islam sendiri. Meski demikian, Buya bergeming, ia tetap konsisten dengan sikapnya. Misalnya lagi, kritik pedasnya terhadap puisi Neno Warisma di awal 2019 lalu yang disebutnya biadab, kritik terhadap mekanisme perubahan UU KPK, dan juga kritik terhadap MUI Jawa Timur yang mengimbau masyarakat supaya tidak mengucapkan salam pembuka agama lain dalam forum resmi.

Dari konsistensi atas sikapnya yang kritis dan tanpa tedeng aling-aling itu, kita bisa melihat bahwa Buya Syafii telah menanam dalam-dalam ego sektoralnya. Ia tak lagi takut dihujat atua tidak populer. Baginya urusan dirinya telah selesai, yang terpenting adalah bangsa dan negara. Menurutnya hal demikian ini belum banyak dimiliki oleh politisi tanah air. Kebanyakan dari mereka, menurut Buya, belum lulus menjadi negarawan. Sehingga, yang dipentingkan hanya urusan diri dan kelompok mereka sendiri.

“Gagasan-gagasannya tak lagi terbelenggu pada sekat-sekat identitas agama, suku, ras, dan golongan. Memang demikianlah seharusnya cara pandang dan cara berpikir seorang negarawan.”

Kritik-kritik Buya tak lahir dari ruang hampa, tapi dari hasil analisis dan sintesis serta perenungan mendalam berlandaskan pengetahuannya yang dalam dan luas. Pengalamannya yang panjang telah mengantarkan ia pada sikap beragama, berbangsa, dan bernegara yang kosmopolitan. Gagasan-gagasannya tak lagi terbelenggu pada sekat-sekat identitas agama, suku, ras, dan golongan. Memang demikianlah seharusnya cara pandang dan cara berpikir seorang negarawan.

Keutuhan bangsa dan negara ini akan tetap lestari manakala semua anak bangsa memiliki pengetahuan yang luas dan mampu berpandangan kosmopolitan. Pandangan ini tak lagi mendiskriminasi dan mengkotak-kotakkan manusia atau dalam hal ini warga negara berdasarkan identitas kulturalnya. Ia memposisikan semua warga negara sama terlepas apapun suku, agama, ras, dan golongannya. Orang dengan pandangan demikian ini, tak ragu untuk membela kaum minoritas, sekalipun ia akan menuai kecaman dari kaum minoritas.

Gus Dur dapat kita jadikan contoh yang baik dalam hal ini. Gus Dur dalam catatan sejarah perjuangannya telah berhasil memandang manusia sebagai manusia. Ia tidak ragu membela siapa saja yang menjadi korban ketidakadilan, sekalipun itu kelompok minoritas, bahkan orang yang memusuhinya. Lihat saja bagaimana Gus Dur membela etnis Tionghoa ketika mendaptkan persekusi, Inul Daratista ketika wal kemunculannya dikritik tajam oleh banyak kalangan. Pembelaan Gus Dur terhadap mereka melitasi sekat-sekat sosial kultural yang kerap membelenggu kita.

Kini, Buya telah menginjak usia 85 tahun. Sebuah usia yang tentu tak lagi muda. Namun demikian, gagasan-gagasan segar lagi jernih masih produktif keluar darinya. Generasi muda bangsa ini harus belajar banyak kepadanya. Terutama dalam hal produktivitas berkarya dan membangun cara pandang serta berpikir yang kosmopolitan. Generasi muda harus tumbuh menjadi manusia yang berpengatahuan luas, tidak kagetan, dan mampu berpikir jernih di tengah situasi yang karut marut sekalipun.

Sanah hilwah Buya, semoga panjang umur, sehat, dan tetap istikamah momong bangsa kita ini.

Mengenal Filosofi Ketupat Lebaran dari Si Mbah

0

Selain cerita dari Si Mbah, banyak referensi yang menyatakan filosofi dari “Ketupat”. Ada yang membeberkan ajaran-ajaran para wali, pesan moral dari masyarakat jawa, maupun menafsirkan simbol-simbol ini dari segi pendidikan. Apapun itu, yang terpenting di balik lezatnya sepotong ketupat ternyata tersimpan filosofi yang begitu indah yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan manusia, terutamanya umat muslim. Silakan disimak ulasan dalam tulisan berikut ini.

Kampusdesa.or.id–Lebaran selalu jadi momen istimewa. Setiap lebaran selain momen kumpul keluarga, ada salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu adalah makan opor ayam. Tidak lengkap rasanya jika opor ayam tanpa ketupat. Berkumpul bersama keluarga besar sambil menikmati hidangan yang hanya ada satu kali dalam setahun ini rasanya memang berbeda. Bisa jadi makan ketupat saat momen lebaran sudah jadi tradisi turun-temurun di Indonesia. Maka tidak heran sebagian menyebut hari raya idul fitri dengan istilah lebaran ketupat (Jawa: rioyoyo kupat/kupatan). Sampai dengan memasuki bulan syawal tradisi makan ketupat ini masih menjadi semarak di Indonesia.

Sebagai anak rantau di negeri orang, tentu saya juga tidak mau ketinggalan. Seperti menjadi hal yang wajib bisa mencicipi makan ketupat di hari lebaran, karena sudah terpatri dalam budaya Indonesia bahwa ketupat adalah bukan makanan biasa. Pokoknya harus ada di antara hidangan lainnya. Untung di sini setiap hari raya idul fitri bisa makan ketupat di Kedutaan saat acara open house di wisma nusantara. Sayangnya di masa pandemi sekarang ini momen tersebut tidak dapat saya rasakan kembali. Tentu sedih karena kangen suasana kumpul-kumpul sembari makan ketupat sebagai “tombo kangen” keluarga di rumah.

Ada hal lain yang saya kangeni jika mengingat tentang “ketupat”, yaitu almarhum kakek. Dulu sewaktu kecil, kakek saya si mbah Marzuki pernah mengajari cara membuat ketupat, dengan janur kelapa yang biasa kami beli di pasar. Saat belajar membuat ketupat, beliau juga menceritakan sejarah ketupat dan filosofi di balik ketupat ini. Setelah saya baca-baca ulasan di berbagai artikel, ternyata kurang lebih sama meski ada sedikit perbedaan atau tambahan.

Ketupat itu berasal dari masa hidup Sunan Kalijaga (ada sumber lain yang mengatakan sejak pemerintahan Demak), tepatnya di masa syiar Islam di Indonesia pada abad ke-15 hingga 16. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman. Alkulturasi budaya jawa yang dibumbuhi ajaran Islam ini sebagai bentuk media dakwah bagi Sunan Drajat. Sehingga mudah dalam menyampaikan dan mengena, buktinya masih tetap dilestarikan hingga sekarang.

Sebelum saya paparkan mengenai filosofi ketupat bagi yang belum tahu, ketupat itu berasal dari masa hidup Sunan Kalijaga (ada sumber lain yang mengatakan sejak pemerintahan Demak), tepatnya di masa syiar Islam di Indonesia pada abad ke-15 hingga 16. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman. Alkulturasi budaya jawa yang dibumbuhi ajaran Islam ini sebagai bentuk media dakwah bagi Sunan Drajat. Sehingga mudah dalam menyampaikan dan mengena, buktinya masih tetap dilestarikan hingga sekarang. Walaupun saya yakin tidak banyak yang tahu apa makna di balik ketupat ini.

Banyak yang beranggapan kata “Kupat” juga berasal dari “Ngaku Lepat”. Kata yang berasal dari bahasa Jawa ini memiliki arti “mengaku bersalah”. Jadi ketka hari raya Idul Fitri biasanya dijadikan ajang mengakui kesalahan masing-masing dan saling bermaaf-maafan.

Si mbah saya mengatakan kalau karena umumnya ketupat disajikan beserta opor ayam yang bersantan, di mana dalam pantun Jawa dikatakan “kupat santen” artinya “kulo lepat nyuwun ngapunten”. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya “saya salah, saya minta maaf”. Banyak yang beranggapan kata “Kupat” juga berasal dari “Ngaku Lepat”. Kata yang berasal dari bahasa Jawa ini memiliki arti “mengaku bersalah”. Jadi ketka hari raya Idul Fitri biasanya dijadikan ajang mengakui kesalahan masing-masing dan saling bermaaf-maafan.

Ketupat dibungkus dengan janur (daun muda krambil atau kelapa) ini juga mengandung makna yang bagus. Dulu para wali berdakwah tidak hanya menyerap bahasa masyarakat setempat, tetapi juga mengenalkan bahasa arab sebagai bahasa leluhurnya. Janur diambil dari kata “jatining nur” yang dijadikan lambang cahaya hati nurani.

Bentuk ketupat yang balok segiempat ini juga mengandung pesan. Pada masa Islam, Sunan Kalijaga memberikan sentuhan makna lain. Empat sisi ketupat direpresentasikan dengan Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan. Semua ini berhubungan dengan sikap manusia. Lebaran berarti pintu ampun yang dibuka lebar terhadap kesalahan orang lain. Luberan berarti melimpahi, memberi sedekah pada orang yang membutuhkan. Leburan berarti melebur dosa yang dilalui selama satu tahun. Adapun, Laburan yakni menyucikan diri, bersih kembali layaknya bayi tanpa dosa.

Adapun versi lain menafsirkan bahwa anyaman janur melambangkan tali silaturahmi. Pola anyaman yang rapi melambangkan kesempurnaan. Beras menggambarkan nafsu duniawi dan yang terakhir isi ketupat berwarna putih mencerminkan kesucian hati. Rupanya selain lezat, di balik sepotong ketupat tersimpan filosofi yang begitu indah yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan manusia, terutamanya umat muslim.

Beda halnya menurut Idirs Apandi (2017), ketupat bukan hanya sekedar menu wajib lebaran, tetapi jika ditelaah dari konteks pendidikan, ada tujuh pesan moral  yang dapat dijadikan pelajaran di antaranya kebersihan, kebaikan, penuh perhitungan, proporsionalitas, persatuan, keindahan, dan sinergi. Berdasarkan kepada uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ketupat bukan hanya makanan yang enak dinikmati pada saat lebaran, tetapi memberikan sejumlah pesan moral untuk meningkatkan kualitas diri bagi manusia yang berpikir.

Apa daya saya yang jauh dari rumah, tidak bisa menikmati hidangan spesial ini. Hanya bisa memasang muka pengen sambil menyanyikan lagu “Ketupat Lebaran” sebagai berikut:

Nana nanan nana
Ketupat lebaran
Nana nanan nana
Ketupat lebaran
Ketupat lebaran dengan sayap opor ayam
Disantap sepulang dari shalat idul fitri
Untuk kakek dan nenek tetangga sahabat
Senangnya…
(Tasya, 2000)

Wallahua’lam.