Peduli Potensi Desa, Dosen Unismuh Paparkan BMC Saat PKM di Bulukumba

1
234

0Shares
0

Desa Caramming terletak di Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kegiatan PKM ini bertujuan menggali dan memberdayakan potensi desa Caramming. Salah satu produk unggulan desa yang berlokasi sekitar 180 Km dari kota Makassar ini adalah buah Naga. Para petani buah naga tampak bersemangat dan antusias membuat BMC didampingi mahasiswa. Pemaparan materi diikuti dengan praktik membuat bisnis BMC (Business Model Canvas). Lalu, apa saja inovasi yang disuguhkan?

 

Kampusdesa.or.id-Desa Caramming, (2/06/2020) – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Makassar yang diketuai oleh Agusdiwana Suarni SE MSc.Acc berhasil melakukan kegiatan PKM. Kegiatan PKM ini bertajuk edukasi pemulihan ekonomi rumah tangga dari dampak pandemi COVID-19 di Kabupaten Bulukumba.

Kegiatan BMC di Desa Caramming

Asas pengaturan di dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yakni partisipasi dan kemandirian menjadi dasar kegiatan PKM ini. Kegiatan PKM ini bertujuan menggali dan memberdayakan potensi desa Caramming. Salah satu produk unggulan desa yang berlokasi sekitar 180 Km dari kota Makassar ini adalah buah Naga.

Pejabat Desa Caramming, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, Zainuddin, S.Sos. menyatakan ucapan terima kasih atas perhatian Unismuh kepada desanya, melalui kegiatan PKM ini. “Atas nama masyarakat Desa Caramming, saya mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian Unismuh kepada Desa Caramming. Semoga kegiatan ini berkelanjutan ke depannya,” ujarnya saat membuka kegiatan. Sebagai kelanjutan kegiatan, maka telah ditandatangani pula nota kesepahaman (MoU) antara Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar dan Desa Caramming, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba.

Penandatanganan MoU Desa Caramming

Inovasi

Untuk memajukan desa, maka diperlukan inovasi. Perlukah inovasi dalam bertani buah naga dikemukakan dengan sangat bernas oleh Agusdiwana Suarni SE Macc melalui BMC (Business Model Canvas). Ada beberapa langkah untuk membuat BMC ini.

Pertama, segmentasi pelanggan. Maksudnya, hendaklah jelas siapa saja pelanggan buah naga. Apakah semua kalangan, atau terbatas hanya pada wisatawan, anak-anak, remaja, orang tua.

Kedua, proposisi nilai. Petani buah naga dapat memaparkan keunggulan bisnis dan produknya. Misal: harga terjangkau, ada foto booth untuk berswafoto, memetik langsung buah naga langsung di kebunnya.

Ketiga, channel atau jejaring. Petani buah naga hendaklah berjejaring dengan pemerintah setempat, kelompok masyarakat, agensi travel, supermarket, dan jejaring lainnya.

Keempat, relasi pelanggan. Untuk mengikat hubungan batin dengan pelanggan, maka petani buah naga perlu mengadakan diskon dan promo di hari-hari besar, akhir pekan, atau perayaan hari besar nasional lainnya.

Kelima, aliran atau sumber pendapatan. Bahasa kerennya revenue streams. Petani buah naga dapat mengolah buah naga, menjadi beragam produk olahan untuk meningkatkan penghasilan.

Keenam, sumber daya kunci, bisa berupa modal, sumber daya manusia, dan sumber daya alam. Maksudnya, semua orang yang bertanggung-jawab langsung terhadap kebersinambungan bisnis buah naga. Misalnya: tukang kebun, kesuburan tanah, iklim yang kondusif, kejujuran karyawan.

Ketujuh, aktivitas kunci. Maksudnya, beragam aktivitas di perkebunan buah naga meskipun bukan musimnya. Kegiatan tersebut dapat diupload di sosial media yang dimiliki petani buah naga.

Kedelapan, rekan kerja kunci. Jejaring petani buah naga perlu ditingkatkan dan diperluas. Mulai dari toko oleh-oleh, kurir, distributor, beragam toko makanan, dsb.

Kesembilan,  struktur biaya. Komponen ini meliputi: gaji karyawan, pupuk, biaya pemeliharaan, listrik, air, dsb.

Kunjungan dr. Dito ke Pustu

Pemaparan materi diikuti dengan praktik membuat bisnis BMC (Business Model Canvas). Para petani buah naga tampak bersemangat dan antusias membuat BMC didampingi mahasiswa. Gemuruh tepuk-tangan terdengar saat mereka berhasil mempresentasikan BMC kepada hadirin. Ekspresi bahagia tergurat di wajah para petani buah naga usai mengikuti kegiatan.

Dalam kegiatan PKM tersebut, anggota tim PKM, dr. Dito Anurogo, M. Sc. juga sempat melakukan kunjungan singkat ke Pustu Desa Caramming, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba. Kepala Pustu, Bidan Rosmala, menerima kunjungan singkat tersebut dengan gembira. Kunjungan ini berhasil mendapatkan data singkat gambaran sepuluh penyakit dan problematika kesehatan terbanyak di tahun 2019, yakni: influenza (287 kasus), gejala umum lainnya (202 kasus), penyakit karena jamur (117 kasus), gastritis (116 kasus), sakit kepala (69 kasus), demam (61 kasus), batuk  (42 kasus), sakit gigi (40 kasus), hipotensi (29 kasus), dan hipertensi (27 kasus). (Liputan oleh: Dito Anurogo, dosen FKIK Unismuh Makassar)

1 KOMENTAR

Comments are closed.