Minggu, Agustus 30, 2026
Beranda blog Halaman 26

Kelahiran Sekolah Rumah Sebelah

0

Imajinasi menjadi pilihan masa depan. Kelahiran Sekolah Rumah Sebelah merupakan masa depan pendidikan Indonesia yang tersandung PPDB zonasi. Keadilan akses pendidikan adalah pekerjaan rumah ketika zonasi dimaksudkan sebagai sekolah yang berkeadilan untuk semua tetapi selalu ada yang tidak terpikirkan, ternyata sekolah yang ada masih ditemukan ada di pusat keramaian yang belum menjangkau kelompok masyarakat terjauh dari sekolah.

Kampusdesa.or.id–Saya sendiri tidak menyangka, tiba-tiba dibuka pendaftaran sekolah dengan jarak yang cukup dekat dengan rumah. Anak-anak berangkatnya tidak perlu diantar. Pelataran sekolah pun longgar dan penuh dengan pepohonan nan rimbun. Tidak ada lalu lalang orang parkir. Tidak ada jubelan mobil mewah dan sepeda motor sport dan feminin yang berjubel antri masuk gerbang utama. Bahkan, saking sepinya, jalanan di depan sekolah itu dibuat bermain anak-anak yang sedang menunggu bel sekolah.

Kedatangan mereka penuh kegembiraan seolah-olah tidak ada pekerjaan rumah yang belum tuntas karena memang tidak ada PR. Tidak seperti biasanya. Anak-anak berebut segera masuk kelas, sembari menunggu bel masuk, mereka bergerombol di bangku kelas untuk mencari tahu jawaban PR yang tidak bisa dikerjakan. Bahkan PR anak yang lumayan kurang serius di kelas menjadi rebutan karena dia berhasil menyontek dengan cepat PR temannya yang terkenal sangat rajin di kelas. Di sekolah ini, tradisi tersebut nyaris tidak ditemui. Anak-anak datang langsung berlari menaruh tas dan berhamburan bermain hingga di jalanan depan sekolah. Riuh banget. Tetapi mereka sungguh amat ceria.

Tidak ada pemandangan berjabat tangan tanda akan masuk halaman sekolah setelah anak=anak turun dari mobil atau sepeda motor. Mereka memang tidak diantar dan jabat tangan dengan orang tua sudah selesai dilakukan sebelum mereka keluar dari halaman rumah. Mereka dilepas orang tuanya cukup dari pintu keluar rumah. Anak-anak berjalan, ada yang sedikit berlari, dan seketika itu langsung bertemu dengan teman-teman tetangganya untuk jalan bersama berangkat sekolah. Riang gembira betul mereka.

Sekolah ini memang muncul dari kesadaran gotong royong masyarakat. Ada seorang yang dermawan. Mereka ditinggali warisan rumah limas (rumah joglo ala adat Jawa) dengan luas hampir 1000m2 plus halamannya. Rumah itu mau dibongkar dan dijual kayunya, tetapi karena selalu tidak cocok dengan pembeli, akhirnya dibiarkan mangkrak tidak terurus dengan baik. Entah apa yang menjadikan pewaris rumah limas ini berbaik hati mau meminjamkan rumahnya sebagai sekolah yang menampung anak-anak di sekitar rumah. Konon, ada bocoran yang nyeletuk, si pemilik rumah itu gemes melihat berita dari mulut ke mulut jika anak-anak tidak lagi sekolah gara-gara ada zonasi yang diterapkan pemerintah.

Pewaris rumah limas tersebut sebenarnya seorang pendiam di kampungnya, tetapi dia orang yang peka terhadap masalah di sekitar. Dia juga sering cangkrukan dengan beberapa perangkat desa dan orang-orang keren yang ada di kampung itu. Al-kisah, sebut saja Pak De Shony. Belum lama ini, Pak De Shony bergiat menjadi Satgas Covid-19 di kampungnya. Di kampung ini nyaris mereka tidak ada berita terpapar Covid-19. Ya, mereka telah terbiasa hidup dengan siklus ekonomi pendek dan organisme kampungnya mampu meningkatkan perputaran ekosistem hidup ke dalam, tanpa banyak mengandalkan ekonomi eksternal jalur panjang. Dan herannya, mereka juga bisa hidup layak. Saat pandemi Covid-19, kampung ini tidak gaya-gayaan, “walah, covid-19 itu konspirasi.” Tidak. Mereka tetap waspada dan bergotong royong melakukan sosialisasi hidup sehat, bahkan buah, sayur, dan protein dari kebun dan produksi rumahan disebar merata ke warga. Satgas kampung ini lebih suka menyosialisasikan makanan sehat yang harus dikonsumsi agar wabah Covid-19 tidak mampir di kampungnya. Kesibukan satgas lebih ke arah sehat ketimbang sakit. Aneh memang, tetapi ya begitulah kampung Pak De Shony.

Sekolah rumah sebelah. Imajinasi sekolah yang digagas oleh Rukun Tetangga menjadi ruang potensial di saat pandemi. Kerja volunteerisme pertetanggaan menjadi modal sosial pengembangan layanan belajar ramah anak.

Pak De Shony, mendadak nyletuk, “sudahlah, kalau pandemi ini bisa diatasi dengan gotong royong, dan pemerintah itu senangnya bukan main melihat gotong royong berjalan di kampung-kampung, tidak perlu ribut mengenai zonasi. Barangkali pemerintah dananya masih fokus ke penanganan pandemi sehingga pembangunan sekolah belum sempat di tambah agar zonasi menjamin keadilan tidak saja bagi anak yang bertetangga dengan sekolah, tetapi anak yang bukan tetangga sekolah negeri juga bisa sekolah dengan murah. Mari kita gotong royong.”

Sebagian orang kaget. Mendadak cangkrukan di poskampling hening. Tertawa berhenti mendadak. Mereka saling pandang dan kedap-kedip mata mengisyaratkan gestur efek aha dan saling sapa tapi dalam hati. Seperti biasa, Pak De Shony memang pendiam, tetapi kalau pas cangkrukan, kadang kata-katanya penuh gairah.

Baca juga:

Tanpa The New Normally Lifestyle In Learning, Sekolah Akan Menjadi Killing Field Anak-Anak Kita
Merumahkan Sekolah atau Sekolah Telah Mati
Membangun Solidaritas Sosial di Tengah Situasi Pandemi COVID-19

“Begini lo, mosok kamu tidak melihat update status facebook tempo hari dan melahirkan komentar yang cerdas. Beberapa orang di sini kan juga ikut berdiskusi di komentar itu, pungkas Pak De Shony.

Di status facebook itu seperti nada eufimis (bahasa singgungan). Pak Moh itu bilang, “zonasi sekolah cuma menampung anak yang tinggal di radius maksimal 1,8 km. Padahal sudah dijatah sekolah itu 90% yang diperkirakan menampung sampai dengan radius anak yang tinggal 5 km. Nah, kebetulan sekolah ada di tengah kota, sementara hunian yang padat di sekitar sekolah tak lagi diminati dan orang-orang kurang mampu cenderung tinggal menjauhi kota. Dia tawarkan solusi ketjeh. Pindah KK saja dekat sekolah, atau para pengembang buat lelang rumah dekat sekolah. Tukar guling penataan lokasi sekolah yang netangga dengan masyarakat terjauh, tertinggal, terpinggir, dan ter-ter lainnya. Pemilu saja TPS-nya merata, masak kalau pendidikan itu adalah hak setiap warga tidak diupayakan demikian.” Lagi-lagi, orang yang nyangkruk itu dehem-dehem, sembari ada yang menambah gestur seolah mengatakan, “lihat tuh, Pak De Shony sudah berceramah.”

Pak De Shony seolah tidak peduli dan melanjutkan ceritanya. “Menarik  status facebook pak Moh, bikin sekolah kampung, semacam PKBM. Apalagi dana desa sekarang ini kan berlimpah, daripada hanya berpikir desa wisata terus untuk dana desa?”

“Ada pak Kentar yang bilang di komentar atasmu itu Ril, pak Kentar itu mendirikan sekolah dimulai dari sekolah garasi.  Terus komentarmu Ril, sekolah kampung menurutmu sangat idealis.   Ada lagi komentarmu Kik, pilih calon kepala daerah yang mau kontrak politik buat sekolah dekat rumah.  Tok, Io, Ano, kamu juga nyerocos gitu di statusnya pak Moh, berangkat, nunggu dipanggil ngopi segala.  Sudah, apa yang bisa kita lakukan.” Pak De Shony mengakhiri kata-kata dicangkrukan tersebut.

Cangkrukan itu membahas ulang status facebook dan  pecah keramaian berdiskusi. Di cangkrukan itu kemudian lahir kesepakatan, rumah warisan pak De Shony menjadi tempat sementara bagi pendidikan anak-anak yang terpapar efek zonasi.

Sekolah itu menggunakan metode berfokus pada pembelajaran otentik ala orang desa. Bermainnya terjamin. Anak-anak memiliki kreasi permainan yang dijadikan mata pelajaran. Sekolah ini tidak mengenal PR karena kegiatan di kelas dan di luar kelas tidak ada bedanya. Semua anak dianggap berprestasi karena mereka menekuni minatnya masing-masing. Meskipun mereka tidak menang kompetisi, tetapi mereka selalu tuntas mengerjakan apa yang diminati. Ketika mereka mengerjakan secara tuntas, mereka selalu membikin pameran karya. Gurunya selalu menganggap karya setiap anak dan rombongan belajar itu sebagai prestasi.

Mereka jarang yang ikut kompetisi. Tetapi beberapa karya sekolah mereka kadang ada yang digunakan di sekolah, di rumah, dan kebutuhan bersama di kampung tersebut. Seringkali mereka bikin webinar untuk uji publik karya rombongan belajar yang dikembangkan. Meski mereka ogah-ogahan ikut kompetisi, tetapi karya mereka biasanya diuji publik oleh orang lokal yang ahli, atau kalau tidak ada mereka biasanya difasilitasi oleh gurunya agar karnya mereka direview oleh kenalan gurunya dari luar daerah untuk direview lewat webinar. Mereka lalu mendapat masukan untuk perbaikan karya. Murid-muridnya sudah terbiasa direview karya akhirnya dari orang lokal atau kadang ada dari luar negeri. Tetapi mereka suka banget kalau karyanya direview pak De Shony yang autis tapi suka teknologi jaringan, otak atik teknologi informasi. Senangnya, anak-anak boleh memetik buah ciplukan di ladangnya setelah mereka direview karyanya. Sekolah rumah sebelah telah menjadi solusi alternatif di tengah ketimpangan zonasi.

Sekolah rumah sebelah. Sekolah rumah sebelah. Beberapa orang yang ingin studi banding ke sekolah itu selalu bertanya, sekolah rumah sebelah itu di mana di kampung ini?

Literasi dan Kemajuan Bangsa

0

Pernahkah kita berfikir ulang mengenai perintah pertama yang Tuhan berikan pada Nabi kita Muhammad SAW?, bukan syahadat, sholat, atau puasa melainkan membaca. Bahkan perintah membaca diulang sampai tiga kali. Dan perintah Tuhan yang paling banyak ditinggalkan saat ini adalah membaca. Padahal membaca merupakan fungsi paling penting dalam kehidupan seseorang. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak, tingkat keberhasilan baik di sekolah ataupun di kehidupan masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik. Kampusdesa.or.id–Keterampilan membaca adalah komponen paling penting dalam berbahasa. Semakin tinggi keterampilan siswa dalam membaca, semakin besar kemampuannya untuk berkembang ke bidang-bidang lain. Bahasa adalah thingking skill yang paling utama. Artinya jika kemampuan berbahasa kurang maka bidang lainnya pun akan tertinggal. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menguasai dan mengembangkan kemampuan bahasanya ke tingkat bahasa ilmu pengetahuan. Jika tidak mampu meningkatkan kemampuan berbahasa anak-anak, maka mimpi untuk bisa menjadi bangsa yang besar tidak akan terwujud.

Namun jika kita telaah ke belakang, data dari United Nations Development Programme (UNDP) menyatakan bahwa hingga akhir tahun 2008 terdapat 9.763.256 orang penduduk Indonesia atau 5,97%, penduduk usia 15 tahun ke atas yang masih buta aksara, sebagian besar 6.248.484 orang atau 7,51% adalah perempuan dan laki-laki 3.514.772 orang atau 4,27%. Hal ini yang menjadikan bangsa kita kalah bersaing dengan bangsa lain, bahkan Indonesia menduduki peringkat di bawah Vietnam dalam hal literasi. Saat ini kita ketahui bersama bahwa menteri pendidikan mewajibkan kembali gerakan literasi di sekolah-sekolah. Hal ini disebabkan rendahnya kemampuan baca rakyat Indonesia selama beberapa dekade ke belakang. Saat ini kita ketahui bersama bahwa menteri pendidikan mewajibkan kembali gerakan literasi di sekolah-sekolah. Hal ini disebabkan rendahnya kemampuan baca rakyat Indonesia selama beberapa dekade ke belakang. Jika kita memutar ulang sejarah, akan kita dapatkan bahwa masa pada saat Negara kita dalam penjajahan bangsa Belanda, setiap murid di sekolah-sekolah masih diwajibkan untuk menamatkan minimal 25 buah buku sastra dan menulisnya kembali dalam bentuk resensi. Pada saat itu jumlah buku sastra yang disediakan berlimpah. Sehingga tokoh-tokoh besar bangsa kita pada masa itu tidak asing dengan nama Shakspeare, Leo Tolstoy, Mh. Roesli, Amir Hamzah, dan lain-lain.

Dengan kewajiban menamatkan berbagai karya sastra tersebut kemudian menuliskan kembali resensi dari kisah yang dibaca, membantu mengembangakan kemampuan berbahasa dan menulis secara serempak. Di mana kita tahu bahwa kemampuan berbahasa sangat dibutuhkan dalam bermasyarakat. Dan kemampuan menulis sangat dibutuhkan dalam akademik. Di beberapa Negara lain, minat baca masyarakat terbilang tinggi, seperti di beberapa Negara di Eropa, siswa masih diwajibkan untuk menamatkan beberapa buku sastra per tahun, menelaah dan menuiskan kembali resensinya. Dari latihan tersebut, kemampuan membaca, berbahasa dan menulis meningkat pesat. Hal ini berdampak pada bidang akademik, ketika tugas membuat jurnal menjadi sangat mudah diselesaikan oleh para siswa. Sementara di Indonesia, Chairil Anwar pernah menuliskan sebuah puisi yang menyindir kondisi negara kita yang nol buku. Maksudnya siswa di sekolah-sekolah di Indonesia sama sekali tidak diwajibkan untuk membaca sama sekali baik buku biasa apalagi buku sastra. Keadaan ini mengakibatkan rendahnya kemampuan baca tulis siswa kita. Baca Juga: Berkawan dengan Literasi Hari Buku dan Minat Baca Pemuda Hari Ini Hari Buku Sedunia 2020, Apa Kabar Industri Perbukuan Nasional? Menulis Saja Meskipun Tak Ada yang Baca Menulis Layaknya Naik Sepeda Dari sejarah yang ada, bisa kita ketahui bahwa kewajiban membaca dihilangkan sejak tahun 1950 dimana pemerintah lebih mementingkan untuk meningkatkan infrastruktur daripada membeli buku untuk masyarakat. Dengan dalih karena Negara baru saja merdeka, maka dibutuhkan dana sangat besar untuk memperbaiki infrastruktur. Karenanya dana untuk buku dipangkas habis. Ini jelas kesalahan besar yang dilakukan pemerintah. Seandainya pemerintah kita memahami pentingnya kemampuan baca dan tulis masyarakat berbanding lurus dengan kemajuan bangsa tentu kebijakan tersebut tidak akan dilakukan. Seandainya pemerintah kita memahami pentingnya kemampuan baca dan tulis masyarakat berbanding lurus dengan kemajuan bangsa tentu kebijakan tersebut tidak akan dilakukan. Bahkan Nabi Muhammad SAW ketika perang Badar dimenangkan oleh kaum muslim kala itu, sebagai tebusan untuk para tahanan perang, Nabi tidak meminta tebusan uang yang bisa mencapai 1000 dinar, tetapi mewajibkan para tahanan untuk mengajari minimal 10 orang masyarakat muslim baca tulis untuk membayar kemerdekaan mereka. Jadi bisa kita simpulkan bahwa harga orang yang mampu baca tulis sama dengan 1000 dinar emas. Karena kebijakan beliau, maka lahirlah para cendekiawan muslim yang mendunia dan karya-karyanya diakui dan dipakai sebagai panduan dalam berbagai disiplin ilmu. Seperti Ibnu Sina, Al- Khawarizm, Jabir Bin Hayyan, dan lain-lain.

Jika Nabi Muhammad SAW saja sangat mementingkan kemampuan baca tulis padahal beliau adalah seorang ummi, maka seharusnya kita sebagai umat dapat mencontoh tauladan beliau untuk meningkatkan kualitas diri dengan kemampuan membaca dan menulis.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan, bahwa apabila kita ingin berjuang menjadi bangsa yang besar, maka kita perlu meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Untuk itu hal mendasar yang saat ini perlu dan harus dilakukan di antaranya menanamkan baca buku sejak balita, mewajibkan pembuatan satu karangan per minggu untuk siswa, menyelesaikan membaca buku sastra 10 buah per tahun kemudian membuat resensi buku tersebut, mewajibkan membaca ±840.000 kata per minggu, dan melengkapi koleksi buku sastra di perpustakaan.

Selanjutnya tergantung dari kita sendiri, apakah kita mau dan mampu untuk memupuk kembali minat baca kita, untuk dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis kita agar nantinya dapat dihasilkan generasi yang melek baca tulis dan membawa bangsa kita menjadi bangsa yang besar. Semoga saja!

Pilkada 2020 Bukan Sekedar Pesta Demokrasi, Tetapi Harus Partisipatif

0

Momentum demokrasi elektoral, baik pemilihan anggota legislatif maupun pemilihan pemimpinan lembaga eksekutif seperti kepala daerah, akan selalu mendapatkan sorotan bahkan mungkin juga penolakan. Setidaknya ada dua sorotan yang akan selalu muncul. Pertama, soal proses. Kedua, soal hasil.

Kampusdesa.or.id-Dalam hal proses, pemilihan diharapkan berkualitas dalam tiap tahapan. Mulai dari kualitas perencanaan kegiatan  dan pelaksanaannya seperti pembentukan panitia penyelenggara (terutama badan ad hoc), pencalonan, hingga proses pelaksanaan seperti pemutakhiran data pemilih, kampanye, hingga jaminan bahwa tiap warga bisa terfasilitasi dengan baik dalam pemungutan suara. Terlebih penting lagi adalah partisipasi masyarakat dalam setiap tahapan pemilihan.

Sedangkan halam hal hasil, pemilihan dianggap kurang menghasilkan kedudukan dan posisi politik yang kurang mencerminkan keinginan masyarakat. Para pejabat yang telah terpilih dianggap menyimpang dari kekuasaan dan tidak memuaskan harapan masyarakat yang  tadinya memilih mereka pada Pemilihan. Kekecewaan tak jarang muncul, dan pada titik yang ekstrim melahirkan gerakan Golput, bahkan menyulut gerakan ideologis yang menolak konsep demokrasi elektoral.

Varian lainnya dari sikap penolakan terhadap demokrasi elektoral di Pemilihan Kepala Daerah, misalnya, adalah keinginan untuk kembali pada model pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPR daerah. Pemilihan langsung dianggap hanya menghambur-hamburkan uang, dan masyarakat (pemilih) dianggap semakin rusak karena tradisi “politik uang” yang membuat mereka kian oportunis, apatis, dan rusak mentalnya.

Sebagai sebuah sistem untuk menata masyarakat dan melembagakan dinamika politik, demokrasi secara umum tidak memisahkan antara proses dan hasil.  Substansi demokrasi adalah kualitas dari proses-proses yang terjadi, yang menghubungkan antara unsur-unsur masyarakat dalam relasinya sebagai pembentuk sistem demokrasi. Jika demokrasi dilihat dari sisi prosedural, maka demokrasi elektoral (pemilihan) tetap akan menjadi proses interaksi yang tak akan mengingkari hasilnya.

Substansi demokrasi adalah kualitas dari proses-proses yang terjadi, yang menghubungkan antara unsur-unsur masyarakat dalam relasinya sebagai pembentuk sistem demokrasi.

Artinya, hasil dari proses demokrasi elektoral (tahapan Pilkada) tetaplah akan menunjukkan interaksi antar unsur-unsur pemilihan itu sendiri. Setidaknya ada tiga unsur Pemilihan yang bersifat tetap: pemilih, calon yang akan dipilih, dan penyelenggara. Penyelenggara hanya akan (harus) menjalankan kegiatan sesuai aturan, tidak boleh berpihak (netral, independen, imparsial). Menjaga profesionalitas, independensi, dan integritas adalah kunci utama bagi penyelenggara.

Sementara itu hubungan antara pemilih (masyarakat) dengan calon (peserta pemilihan) adalah dinamika paling pokok yang harus dilihat apakah suatu demokrasi elektoral itu berkualitas atau tidak baik dari segi proses maupun hasil. Sehingga, kualitas hubungan antara pemilih dan kualitas calon adalah yang paling menentukan bagi kualitas demokrasi itu sendiri.

Keberadan pemilih dan calon serta hubungan antara keduanya setidaknya bisa kita lihat dari dua perspektif. Pertama-tama adalah dari sisi tujuan dan kepentingan. Pertanyaannya, apakah pemilih mengetahui kepentingannya? Apakah kepentingan pemilih itu? Apakah mereka memandang bahwa pemilihan itu sendiri penting dan punya arti untuk nasibnya? Ataukah apa yang membuat pemilih punya kepentingan terlibat dalam pemilihan? Bagaimana keterlibatan mereka? Apa hanya terlibat dalam pemungutan suara atau nyoblos saja atau terlibat di tahapan sebelumnya dan proses politik-demokrasi sesudahnya?

Sedangkan untuk calon, tujuannya berkompetisi dan berniat untuk ditetapkan olek KPU sebagai calon tentunya adalah untuk menang. Lalu apa tujuan memenangkan pemilihan dan mendapatkan jabatan tersebut? Apakah hanya sekedar supaya dapat jabatan dan menikmati kedudukan sebagai orang yang punya kekuasaan dan wewenang sehingga kepentingan pribadinya lebih banyak bisa dipuaskan? Ataukah punya tujuan untuk membuat kebijakan yang membuat pemerintahan bisa membantu rakyat dalam meningkatkan taraf hidupnya  melalui apa yang bisa dilakukan (wewenang) pemerintah dan seorang pemimpin pemerintahan?

Pendidikan Politik

Dalam suatu proses pemilihan sejak calon muncul dan ditetapkan, kedua pihak (baik calon pemilih maupun calon yang akan dipilih) juga tetap berada dalam sebuah dinamika sosial yang  bisa kita lihat kualitas proses dari sisi hubungan (relasi) antara keduanya. Dalam kampanye, misalnya, apakah benar-benar terjadi kampanye yang menunjukkan kualitas demokrasi atau tidak.

Kampanye diartikan oleh undang-undang dan peraturan sebagai penyampaian visi-misi, program, dan citra diri calon. Dan di peraturan juga ditegaskan bahwa kampanye harus menjadi sarana pendidikan politik. Dalam Pasal 63 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tertulis: “Kampanye dilaksanakan sebagai wujud dari pendidikan politik masyarakat yang dilaksanakan secara bertanggung jawab”.

Tentu saja, idealnya bukan hanya masa kampanye (yang dijadwalkan KPU) saja yang bisa menjadi masa-masa pendidikan politik. Setiap tahapan dan waktu selama demokrasi elektoral tiba, seharusnya terus menjadikan masyarakat terdidik secara politik. Bahkan ketika tahapan demokrasi elektoral (Pilkada) belum masuk jadwal atau bahkan pemungutan suara sudah selesai, pendidikan politik adalah bagian penting dari proses demokrasi politik di masyarakat.

Dari sisi konseptual, pendidikan politik adalah istilah ideal yang diharapkan terjadi dalam masyarakat politik apalagi pada masa kampanye di mana undang-undang menegaskannya. Pada praktiknya, pendidikan politik terjadi karena interaksi sosial dan ia adalah proses komunikasi atau penyampaian dan pertukaran pesan. Dari konsep komunikasi sebagai pertukaran pesan inilah kita bisa menelisik lebih jauh bagaimana keberadaan pemilih dan calon menjadikan dirinya sebagai unsur-unsur demokrasi yang berkontribusi bagi peningkatan kualitas demokrasi ataukah sebaliknya!

Kata “pendidikan” itu sendiri adalah hal yang agung. Karena ia berarti suatu proses di mana ada upaya mendidik. Dan mendidik adalah mengandung arti suatu proses memberikan pengetahuan dan wawasan, memberdayakan, mencerahkan, dan merubah tingkahlaku. Karena pendidikan mengandung upaya merubah aspek kognitif (pengetahuan), aspek afektif (perasaan), dan aspek psikomotorik (perilaku).

Maka, pendidikan politik merupakan upaya membuat orang memahami, merespon, dan menyikapi dengan tindakan suatu gejala kekuasaan agar kekuasaan membuatnya berdaya atau setidaknya ia mampu menyikapi proses-proses mendapatkan kekuasaan dan pengaruh dengan memanfaatkan dirinya sebagai pribadi yang tahu, paham, dan menjadikan dirinya sebagai bagian dari politik yang lebih baik dan membangkitkan kekuatan bagi semuanya.

Pendidikan politik merupakan upaya membuat orang memahami, merespon, dan menyikapi dengan tindakan suatu gejala kekuasaan

Dari pandangan ideal itu, apakah pendidikan politik sudah terjadi? Bagaimana masyarakat (calon) pemilihnya? Apakah menyadari bahwa mereka sebagai elemen demokrasi yang penting? Apakah mereka hanya memahami  demokrasi adalah prosedur yang dipandang secara sederhana dan momentum ritual lima tahunan di mana calon yang akan dipilih akan dicoblos jika memberi keuntungan sesaat?

Bagaimana pula para calonnya? Apakah mereka hanya memandang bahwa kompetisi dalam Pilkada hanyalah upaya untuk mendapatkan kedudukan agar kepentingan pribadinya terwujud?

Pendidikan Pemilih (Voters Education)

Sementara itu, pandangan dominan dan yang dapat dikatakan tidak menunjukkan kualitas dari pemilih dan masyarakat  selama ini  setidaknya ada beberapa hal. Pertama, pandangan apatis, yaitu memandang bahwa demokrasi elektoral bukanlah solusi bagi kehidupan mereka untuk merubah nasib mereka melalui pemanfaatan kebijakan politik yang dilakukan kepala daerah yang memenangkan pemilihan. Tak ada hubungan antara politik dengan nasib mereka. Ada atau tidak ada pemilihan dianggap sama saja. Mereka memandang bahwa potensi individu mereka tidak ada. Apalagi mereka hanya tahu bahwa peran warga dalam pemilihan itu hanyalah “nyoblos”.

Berikutnya, muncul pandangan dan sikap oportunis. Bagi warga, karena manfaat besarnya dianggap tidak ada, maka setidaknya mereka tahu bahwa jika ada Pilkada itu mereka masih bisa mendapatkan keuntungan kecil-kecil, entah itu dapat bingkisan berupa barang, atau uang dari calon atau tim sukses. Bahkan sebagian warga juga tidak tahu bahwa hal itu dilarang undang-undang. Sikap apatis dan oportunis memang berakar dari sempitnya otak dan minimnya pengetahuan dan wawasan. Selebihnya juga  karena tidak memahami suatu fenomena secara komprehensif. Demokrasi elektoral dianggap urusan negara, penyelenggara, dan calon yang akan berebut kemenangan atau partai politik yang mencalonkan. Mereka tidak tahu bahwa diri mereka bisa juga mempengaruhi keadaan, baik kecil atau besar. Mereka merasa perlu ikut-ikutan (hanya nyoblos), tetapi jika mereka mendapatkan hal yang menguntungkan mereka.

Iringan dari watak oportunis adalah pikiran jangka pendek. Mereka melihat bahwa proses politik itu hanya nyoblos dan akan berhenti di situ saja. Sehingga jika mereka merasa tidak mendapatkan keuntungan pada tindakan nyoblos, mereka seperti kehilangan eksistensi diri. Pada hal proses politik yang bisa diperankan warga tidak berhenti di situ. Warga seperti ini memang jauh dari cara berpikir jangka panjang dan dialektis. Bahwa apa yang mereka lakukan dan mereka pilih tidak mengandung konskuensi. Bahwa cara berpikir dan bersikap kita tidak mengandung konsekuensi. Intinya, mereka merasa bahwa unsur-unsur demokrasi (pemilih dan calon) tidak punya hubungan. Pilihan dan tindakan politik dianggap tidak punya konsekuensi!!!

Makanya, sejak mereka sudah keluar dari bilik pencoblosan, politik dianggap habis. Dan sebelum pencoblosan, merekapun tidak mau berpartisipasi secara aktif. Tahapan-tahapan Pemilihan mulai dari pembentukan panitia pemilihan, pemutakhiran data pemilih, masa kampanye, semuanya mereka abaikan. Bahkan ketika tahunya bahwa Pemilihan itu hanya nyoblos, merekapun menyikapinya dengan kesadaran yang sempit dan oportunis.

Fakta itu menunjukkan bahwa melakukan peningkatan kualitas pemilih dan kesadaran warga masyarakat merupakan suatu hal yang urgen. Bukan hanya calon dan peserta Pemilihan (partai politik) yang dituntut melakukan pendidikan politik. Tapi penyelenggara Pemilu sebagai lembaga yang ditugasi untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan Pemilihan juga harus memberi perhatian besar pada pendidikan dan peningkatan kesadaran pemilih (voters education).

Di sinilah, penyelenggara seperti KPU dan Bawaslu beserta jajarannya punya tugas suci dan mulia untuk melakukan model-model komunikasi yang berpilar pada penyadaran. Bukan hanya sekedar memberikan informasi, tapi juga memasuki ruang-ruang kesadaran dan bahkan jika memungkinkan ruang bawah sadar masyarakat sebagai calon pemilih.

KPU, misalnya, bukan hanya harus menginformasikan “W5H1” atau kapan nyoblosnya, di mana, siapa saja calonnya, apa yang digunakan untuk mencoblos, dan bagaiman acara menyoblosnya. KPU juga harus melakukan upaya persuasi dan “brainwash” pada sasaran komunikasi agar konsepsi diri individu-individu warga Negara berubah menjadi lebih baik, agar watak dan mentalitasnya juga berubah: dari yang oportunis menjadi bermartabat, dari yang berpikir jangka pendek menuju pikiran jangka panjang, dari pikiran sempit tentang demokrasi menjadi pikiran luas dan dalam, dari pikiran apatis menjadi pikiran optimis. Dan lebih jauh dari itu, dari individu yang hanya menjadi objek politik elektoral, menjadi subjek politik yang aktif dan partisipatif.

Pada akhirnya, pendidikan pemilih (voters education) bukan hanya berpilar pada kemampuan mempersuasi warga  agar mereka punya alasan kuat kenapa harus memilih dan tidak golput, tapi juga menunjukkan jalan partisipasi yang berkualitas. Warga sebagai calon pemilih yang berkualitas akan membuat demokrasi menjadi bermakna, punya viabilitas dan tidak hanya terkesan demokrasi musiman. Pemilihan tidak hanya berupa “pesta” karena kata bang Haji Roma Irama “pesta pasti berakhir”. Upaya peningkatan kualitas demokrasi harus menjadi proses tanpa henti!

Partisipasi demokrasi tak harus berhenti setelah rakyat keluar bilik suara. Partisipasi harus ada dalam setiap tahapan maupun tidak adanya tahapan. Sebelum kandidat mencalonkan diri, rakyat harus ikut bersuara dan bergerak. Setelah nyoblos, rakyat harus mengawal calon yang terpilih hingga mendapat kedudukan. Sebelum dan setelah tahapan Pemilihan KPU juga harus menyiapkan kader-kader demokrasi, misalnya calon-calon penyelenggara yang berkualitas. Kursus-kursus demokrasi dan kepemiluan, pendidikan demokrasi dan pendidikan calon pemilih harus terus dilakukan.*

(Trenggalek, 22/06/2020)

Pereda Demam Anak Tanpa Obat dari Dokter 

1

Anda tidak perlu bingung ketika anak sedang demam. Beberapa cara berikut ini dapat anda lakukan dengan memberikan bahan obat tradisional atau obat yang cukup familier ada di sekitar anda. Tips sederhana ini ampuh sebagai obat demam anak-anak Anda. Selamat mencoba.

Kampusdesa.or.id–Bila anak menderita demam, maka sudah hampir dipastikan orang tua akan merasa panik. Berbagai cara menurunkan demam pada anak tanpa obat pun dilakukan. Beberapa orang tua langsung mengkompres anak, beberapa ada yang masih menggunakan obat tradisional, dan tentu ada yang langsung pergi ke dokter.

Inilah beberapa cara menurunkan demam pada anak tanpa obat:

Pertama, berilah madu. Anak yang rajin minum madu maka akan jarang sekali menderita berbagai penyakit, termasuk demam. Sebab madu mengandung berbagai nutrisi seperti: karbohidrat, vitamin (B, C, E), asam amino, mineral, kalium, natrium, zat besi, dan seabagainya. Namun, bila anak berusia kurang dari satu tahun, hindari memberikan madu. Sebab madu mengandung spora clostridium botulinum. Bakteri ini penyebab munculnya penyakit botulisme pada bayi.

Kedua, pakailah minyak kelapa atau minyak tawon. Bagaimana caranya? Gosoklah perlahan kulit anak atau bayi Anda dengan campuran minyak kelapa dan kunyit. Meskipun terlihat sepele, namun inilah cara menurunkan demam pada anak tanpa obat yang mujarab. Tidak percaya? Buktikan saja!

Ketiga, perbanyaklah minum air kelapa muda, boleh dengan degan yang lembut atau lunak. Air kelapa muda efektif mengatasi demam sebab mengandung banyak mineral antara lain kalium. Namun jangan sekali-kali diberi es atau diberikan dalam kondisi dingin. Juga jangan diberi gula atau sirup karena menyebabkan beberapa anak menjadi batuk.

Keempat, ambillah buah labu atau bligo. Potonglah menjadi dua bagian. Isinya dibuang. Lubang labu itu diisi dengan gula batu hingga mencair menjadi air. Nah, minumkanlah airnya untuk anak.

Baca juga :
Infeksi Saluran Kemih, Wow Tanpa Operasi?
Perawat; Dari Ancaman Paparan Corona, Pisah Ranjang, hingga Perceraian

Kelima, ambillah lima siung bawang merah. Kupaslah. Setelah itu diparut dan dicampuri minyak kelapa secukupnya. Oleskan ke ubun-ubun anak dan ke semua bagian tubuhnya.

Keenam, ambillah sepuluh gram rimpang temulawak, cuci sampai bersih. Parutlah, lalu tambahkan setengah gelas air panas, aduklah. Setelah bersih, saringlah dan ambil sarinya. Campurlah dengan dua sendok makan madu bunga kapuk, aduklah. Bagilah menjadi tiga campuran antara madu dan temulawak. Berikan 3 x sehari.

Inilah berbagai cara menurunkan demam anak tanpa obat, alias menggunakan obat tradisional yang cepat bisa kita peroleh di sekitar kita. Semoga bermanfaat dan silakan mencoba. Tetap konsultasikan kesehatan buah hati anda, jika demam anak tidak kunjung menurun, barangkali ada hal lain yang tidak diketahui sehingga dialog atau konsultasi pada yang lebih ahli (dokter) tetap dibutuhkan

Empat Pertanyaan Kunci Menulis Artikel Ilmiah

0

Menulis artikel ilmiah, apalagi di jurnal internasional bereputasi masih menjadi permasalahan pelik bagi sebagian besar akademisi. Bisa jadi, hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman bagaimana langkah menulis artikel ilmiah yang baik. Berikut dipaparkan empat pertanyaan kunci yang perlu kita perhatikan dalam menulis artikel ilmiah.

Kampusdesa.or.id-Bagi dosen, menulis artikel ilmiah bukan hanya kewajiban, tapi telah menjadi kebutuhan. Artikel ilmiah menjadi jembatan bagi dosen untuk mendiseminasi hasil riset dan pengetahuannya ke publik, sehingga kemanfaatannya bisa diakses secara luas.

Dalam perkembangannya, artikel ilmiah kini menjadi syarat kenaikan pangkat bagi dosen. Misalnya, untuk bisa mendapatkan gelar profesor, seorang dosen harus menulis artikel di jurnal internasional bereputasi. Khususnya terindeks Scopus. Ironisnya, akibat sistem ini, publikasi artikel ilmiah telah menjadi bisnis kapitalis global. Banyak kritik dilayangkan. Namun, tetap saja sistem yang berjalan sudah mapan dan susah untuk didekonstruksi.

Tulisan ini tidak akan membahas perdebatan panas perihal industrialisasi dan kapitalisasi intelektual di dunia jurnalisme tersebut. Terlalu pelik. Pada kesempatan kali ini, saya hanya ingin berbagi ilmu yang saya dapat setelah mengikuti webinar tadi siang. Webinar ini diselenggarakan oleh Springer Nature, sebuah publisher jurnal internasional bereputasi. Detail tentang apa itu Springer Nature, silakan cari di search engine saja.

Baca Juga:

Menulis Saja Meskipun Tak Ada yang Baca
Menulis Layaknya Naik Sepeda
Menulis itu Berpikir Sepanjang Hari

Salah satu materi menarik yang disampaikan narasumber adalah tips bagaimana menulis artikel ilmiah yang baik dan layak disubmit ke jurnal internasional bereputasi. Menurutnya, pembaca mempunyai 4 pertanyaan kunci saat mereka mengakses artikel kita. Empat pertanyaan kunci ini hendaknya dijadikan pedoman dalam menulis artikel ilmiah, sehingga semuanya terjawab ketika seseorang selesai membaca artikel kita. Berikut 4 pertanyaan tersebut.

Why did you do the study?

Jawaban pertanyaan ini harus kita kupas tuntas di bagian introduction atau latar belakang. Pada bagian ini, kita harus menjelaskan alasan mengapa kita melakukan penelitian dan mengapa itu penting. Menulis introduction termasuk bagian sulit dalam menulis artikel ilmiah, sebab kita harus mampu meyakinkan pembaca bahwa penelitian kita ini mempunyai kontribusi yang siginifikan atau dapat menjawab urgensi bagi permasalahan yang menjadi topiknya.

Introduction biasanya ditulis menggunakan kerangka berpikir “piramida terbalik” atau yang sering disebut deduktif, yaitu dari umum ke khusus. Maksudnya, terlebih dahulu kita harus mendedah permasalahan terkait topik penelitian secara umum, lalu mengerucut pada gagasan atau inti penelitian yang kita lakukan. Bagian ini juga harus menunjukkan gap dengan penelitian sebelumnya, sehingga kebaruan atau novelty pada artikel kita tampak.

What did you do?

Jawaban pertanyaan ini berkaitan dengan metode apa yang kita gunakan untuk menggali data. Apakah kualitatif, kuantitatif, atau mixed. Penulisan metode harus aplikatif, bukan teoritis seperti yang sering dilakukan banyak orang. Cirinya aplikatif adalah tidak banyak mengutip. Gampangnya, bagian metode penelitian ini berisi apa saja yang kita lakukan saat mengumpulkan data. Siapa saja yang terlibat (subjek/sampel), metode menggali data, dan metode analisinya. Jadi, bukan kutipan definisi ini dan itu. Selain itu, metode juga harus reliabel atau bisa diterapkan oleh orang lain dan diperoleh hasil yang sama.

What did you find?

Pertanyaan ini berkaitan dengan bagaimana kita menjabarkan temuan penelitian. Tentu, data yang dijabarkan bukanlah data mentah langsung dari lapangan. Namun, data yang sudah kita olah menggunakan teknik analisis sesuai dengan metode penelitian yang kita gunakan. Temuan penelitian juga harus mengacu pada rumusan masalah penelitian. Jangan malah tidak nyambung sama sekali. Pertimbangkan pula apakah perlu menggunakan tabulasi, diagram, bagan atau tidak. Tidak semua data butuh disajikan dengan cara itu.

How does the study advance the field?

Jawaban bagi pertanyaan ini berkaitan dengan discussion atau pembahasan. Nah, pada bagian ini kita mendiskusikan temuan penelitian kita dengan teori yang kita gunakan sebagai alat analisis. Jika, di introduction tadi kita menggunakan kerangka berpikir “piramida terbalik,” maka pada bagian pembahasan ini kita menggunakan kerangka berpikir piramida. Jadi, dari khusus ke umum atau induktif.

Kita bisa memulai bagian ini dengan menuliskan secara ringkas problem riset, kerangka penelitian, dan temuan kunci penelitian yang sudah kita sajikan di bagian sebelumnya. Setelah itu, kita ikuti dengan hasil analisis berupa diskusi temuan penelitian dengan teori yang kita gunakan. Kita juga bisa menunjukkan seberapa penting penelitian yang kita lakukan bagi subjek di lapangan atau bagi permasalahan yang kita teliti. Bagian ini termasuk pula kesimpulan utama hasil penelitian dan implikasi temuan penelitian.

Itulah 4 pertanyaan kunci yang perlu kita perhatikan dalam menulis artikel ilmiah. Kita cukupkan dulu, biar tidak terlalu panjang. Di tulisan selanjutnya, akan kita ulas bagaimana menulis judul yang menarik dan abstrak yang baik.

Sekian, semoga ada manfaat.

Menulis Layaknya Naik Sepeda

0

Menulis itu bisa diibaratkan seperti orang yang sedang mengendarai sepeda. Saat belajar menulis kita akan menemui berbagai kendala seperti halnya orang yang belajar bersepeda. Namun semua itu bisa diatasi dengan berbagai cara agar tulisan kita semakin bagus dan menarik. Sama persis dengan pembalap yang juga butuh trik agar bisa menjadi juara di arena balap sepeda.

Kampusdesa.or.id-Menulis itu, tak ubahnya naik sepeda. Awal belajar tentu akan mengalami banyak masalah. Menjaga keseimbangan merupakan kesulitan terbesar saat belajar mengendarainya. Sama dengan menulis, di awal mula belajar kita akan kebingungan mencari ide. Setelah mendapat ide, bingung bagaimana mengungkapkannya dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, pilihlah diksi yang tepat agar pembaca mengerti gagasan kita.

Anehnya, ketika lancar menulis pun masih ada hambatan. Yah, kesulitan mengontrol ide agar tidak keluar dari pokok bahasan, hambatan membuat ending, tidak koheren dan lain-lain. Mungkin dalam bersepeda mirip bagaimana cara kita memegang setir biar stabil.

Ketika sudah bisa naik sepeda, ketrampilan kita dalam berkendara juga akan semakin bagus seiring intensitas kita menaikinya. Contohnya, bisa bersepeda dengan satu tangan di setir, bisa jumping, atau bahkan tanpa memegang setir pun tidak jatuh. Sama halnya dengan menulis, semakin  lama, kita semakin piawai melihat sesuatu sebagai inspirasi untuk menulis. Melihat mobil jadi punya ide menuliskan perjalanan yang pernah dilakukan, lihat buah jadi ingin menulis tentang ketahanan pangan, bahkan melihat orang gila di jalan pun bisa jadi ide seandainya perempuan gila itu ibunya.

“Seperti halnya naik sepeda, menulis juga menyehatkan. Kita bisa menyalurkan gagasan-gagasan terpendam sehingga tidak membebani pikiran kita. Saat kita suntuk, kita bisa menulis untuk menyampaikan unek-unek kita.”

Seperti halnya naik sepeda, menulis juga menyehatkan. Kita bisa menyalurkan gagasan-gagasan terpendam sehingga tidak membebani pikiran kita. Saat kita suntuk, kita bisa menulis untuk menyampaikan unek-unek kita. Kabarnya, pasca istrinya meninggal, Alm. B.J. Habibie mengalami rasa kehilangan yang sangat sehingga harus ditangani oleh ahli kejiwaan. Dengan menuliskan kisahnya bersama Bu Ainun semasa hidupnya, Pak Habibie bisa bangkit dari keterpurukannya.

Baca Juga:

  • Menulis Saja Meskipun Tak Ada yang Baca
  • Menulis itu Berpikir Sepanjang Hari
  • Perubahan Diri Lebih Mujarab Gunakan Terapi Menulis Saja

Ada juga penulis sukses yang menghasilkan pundi-pundi dari tulisannya. Sebut saja J.K. Rowling. Para penggemar Harry Potter pasti tahu siapa dia. Perempuan yang dilahirkan tanggal 31 Juli 1965 bernama asli Joanne Rowling ini telah menghasilkan lebih dari US$ 19 juta dari karyanya, belum lagi pemasukan dari adaptasi Harry Potter ke dalam film, membuatnya berhasil ada di jajaran orang-orang terkaya.

Namun demikian, bagi penulis pemula janganlah terlalu berorientasi pada uang. Belajar menulis saja dulu. Berlatih sebanyak yang anda bisa dan berlatih sebanyak yang anda bisa, begitu saran seorang trainer menulis. Lance Armstrong, si pembalap legendaris pun awalnya juga berlatih dan berlatih sebelum menjuarai berbagai kejuaraan balap sepeda.

Berlatih itu memerlukan kedisiplinan. Dalam berlatih bersepeda agar mahir dan memiliki power supaya bisa melesat, dibutuhkan keajekan latihan. Tak berbeda dengan bersepeda, berlatih menulis pun butuh istikomah. Banyak penulis pemula yang mengeluh dirinya moody sehingga tidak bisa disiplin menulis. Caranya buatlah jadwal dan tentukan target, lalu buatlah deadline untuk tulisan sendiri.

“Membuat jadwal sangat penting. Jadwal berguna agar kita bisa mengatur waktu dengan baik.”

Membuat jadwal sangat penting. Jadwal berguna agar kita bisa mengatur waktu dengan baik. Sebab, umumnya penulis yang juga bekerja mengeluh sibuk, capek, tidak punya waktu untuk menulis, dan sebagainya. Dengan membuat jadwal, kita akan memiliki waktu khusus untuk menulis. Misal, 30 menit sebelum sholat subuh. Pagi hari merupakan waktu yang baik untuk menulis karena pikiran kita masih fresh. Jadwal yang sudah dibuat harus dilakukan secara kontinyu dan konsisten.

Baca Juga:

  • Terapi Menulis Quantum, Harapan Menjadi Baik Dibalik Bui Itu Terbuka
  • Menulis, Salah Satu Cara Keluar dari Jebakan Psikologis
  • Menulis Itu Mudah, Kata yang Saya Tanamkan di Pikiranku

Untuk target awal, janganlah membuat terget yang tinggi, misal dua paragraf setiap hari. Lalu ditingkatkan dengan menambah jumlah paragraf. Untuk menghindari lupa ide, bisa dibuat kerangka menggunakan mind mapping atau kerangka sederhana dulu. Bisa juga dengan menulis catatan sederhana satu atau dua paragraf, membuat gambar atau foto, dan lain-lain.

“Tak ubahnya pembalap sepeda, penulis juga harus berlatih dan berlatih. Semakin sering berlatih, semakin bagus kualitas tulisannya.”

Tak ubahnya pembalap sepeda, penulis juga harus berlatih dan berlatih. Semakin sering berlatih, semakin bagus kualitas tulisannya. Agar piawai mengolah kata, kamus merupakan barang yang harus ada dalam jangkauan. Tidak harus berupa hard copy, kita bisa memanfaatkan kamus online. Jangan lupa untuk membaca, membaca, dan membaca. Dengan demikian tulisan kita semakin kaya kosa kata dan tidak membosankan.

Semakin banyak tulisan kita, semakin mahir juga kita membuat pembaca tertarik atau bahkan terhipnotis dengan tulisan kita. Ada lho tulisan-tulisan provokatif yang ditujukan untuk mengajak bunuh diri, and it works. Ngeri yaa…

Jangan sampai kita menulis sesuatu yang membuat orang lain punya ide melakukan hal buruk. Lebih baik menulis yang menghibur, menambah pengetahuan, menginspirasi, atau membangkitkan semangat pembaca yang mengalami keterpurukan. Pokoknya, menulislah yang bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain.

Menulis Saja Meskipun Tak Ada yang Baca

0

Banyak orang berminat belajar menulis. Mereka semangat membeli buku-buku panduan menulis, semangat mengikuti semiar dan pelatihan menulis, juga semangat mengkuti berbagai grup dan komunitas. Sayangnya, apa yang mereka dapatkan dari sana tidak segera diiringi dengan penerapannya. Tak sedikit pula yang malah putar balik tidak melanjutkan belajar menulis. Penyebab utamanya adalah ketakutan akan dicibir, ditertawakan, dan dihina orang. Padahal mereka cukup menulis saja, usah peduli apakah ada yang baca.

Kampusdesa.or.id-Awal belajar menulis, ketakutan akan dicibir, ditertawakan, dan dihina orang kerap dialami sebagian orang. Perasaan ini timbul, lantaran menganggap tulisan terlalu jelek dan tidak layak dibaca orang. Apalagi jika ditambah membanding-bandingkan dengan tulisan para penulis top. Akibatnya, banyak orang kemudian mengambil langkah putar balik ketimbang melanjutkan belajar. Mereka behenti di niat saja.

Bagi yang berhasil menaklukkan tantangan awal belajar menulis seperti ini, biasanya relatif dapat bertahan dan konsisten menulis. Mereka akan dengan cepat belajar, disiplin, dan tidak khawatir jika tulisannya mendapat tanggapan negatif dari orang lain. Bahkan tidak khawatir jika tulisannya tidak ada yang membaca. Namun, tentu tidak mudah untuk sampai pada sikap seperti ini. Kita harus bersedia bertebal telinga dan berlapang dada.

Beruntung, sekarang ini ada banyak buku panduan menulis dan juga grup-grup di media sosial yang dapat kita manfaatkan untuk sarana belajar. Banyak ilmu dapat kita petik dari sana. Dari buku panduan menulis, kita bisa tahu strategi, metode, tips, dan trik bagaimana menulis dengan baik dan produktif. Dari grup penulis, kita bisa belanja ide, bertukar ilmu dan pengalaman, membangun jejaring pertemanan, dan update informasi kepenulisan. Permasalahannya kemudian tinggal bagaimana kita mengaplikasikan ilmu dan pengalaman itu dalam proses belajar.

Baca Juga:

Menulis itu Berpikir Sepanjang Hari
Terapi Menulis Quantum, Harapan Menjadi Baik Dibalik Bui Itu Terbuka

“Alhasil, mereka tak beranjak dari titik awal mula melangkah. Sepertinya mereka lupa bahwa menulis itu perihal praktik, bukan teori semata.”

Ada banyak orang yang ingin menekuni dunia kepenulisan. Mereka semangat membeli buku-buku panduan menulis, semangat mengikuti semiar dan pelatihan menulis, juga semangat mengkuti berbagai grup dan komunitas. Sayangnya, apa yang mereka dapatkan dari sana tidak segera diiringi dengan penerapannya. Alhasil, mereka tak beranjak dari titik awal mula melangkah. Sepertinya mereka lupa bahwa menulis itu perihal praktik, bukan teori semata.

Beberapa kali membaca buku panduan menulis dan mengamati serta berinteraksi di grup kepenulisan, saya menemukan prinsip-prinsip menarik untuk mengatasi ketakutan yang tadi kita bahas di awal. Prinsip tersebut adalah “menulis saja meskipun tak ada yang baca.” Sekilas prinsip ini seperti berkebalikan dengan aktivitas menulis. Bukankah kita menulis untuk dibaca orang?

Maksud prinsip ini adalah kita sebaiknya fokus saja belajar menulis. Usah peduli tulisan yang kita hasilkan mendapat apresiasi dari orang atau tidak. Sebab, fokus utama kita bukan apresiasi itu, tapi belajarnya. Lambat laun, jika kualitas tulisan kita makin baik dan menarik, orang pasti akan tertarik untuk membacanya. Terutama jika kita istikamah dan rajin menulis, misalnya lalu diunggah di media sosial, orang dengan sendirinya akan penasaran.

“Sembari berlatih, hendaknya ditunjang dengan membaca karya-karya orang lain yang setipe atau segenre dengan tulisan yang kita minati.”

Meningkatkan kualitas tulisan banyak caranya. Namun, yang utama tentu saja berlatih, berlatih, dan berlatih. Sembari berlatih, hendaknya ditunjang dengan membaca karya-karya orang lain yang setipe atau segenre dengan tulisan yang kita minati. Jika minat menulis cerpen, sambil berlatih menulis cerpen, perbanyaklah membaca cerpen. Jika tidak ada uang untuk membeli buku antologi cerpen, bisa mengakses portal cerpen Jawa Pos atau Kompas. Ada banyak cerpen bagus yang bisa kita jadika rujukan di sana. Begitu pula jika minat menulis opini atau esai, cari saja portal daring yang menyediakan tulisan genre tersebut. Di era digital ini, kita sudah begitu dimanjakan dengan banyaknya informasi.

Baca Juga:

Jadi Penulis itu Mudah, Tips Jitu Dr. Ngainun Naim
Menulis, Salah Satu Cara Keluar dari Jebakan Psikologis
Menulis Itu Mudah, Kata yang Saya Tanamkan di Pikiranku

Setali tiga uang dengan prinsip ini, ada prinsip “setiap tulisan pasti menemukan pembacanya.” Tak perlu buru-buru menghakimi tulisan sendiri. Apalagi melabelinya jelek atau buruk. Tulisan ketika sudah selesai, menjadi hak pembaca untuk menilainya. Maka, biarkan saja tulisan itu menemukan penilainya (pembacanya). Bila ternyata belum menemukan pembaca, tak perlu risau, kita kembali ke prinsip pertama tadi. Namun, bila bersikeras ingin mengetahui kualitas tulisan, kita bisa meminta teman untuk membaca dan memberikan penilaian.

Juga yang penting lagi, “jangan membandingkan tulisan kita dengan tulisan para penulis top.” Ini sama saja kita membandingkan anak yang sedang belajar sepak bola di SSB (Sekolah Sepak Bola) dengan pemain profesional macam Ronaldo dan Messi. Jelas beda kualitasnya. Mereka sudah punya jam terbang tinggi. Baiknya, yang kita pegang dan yakini adalah mereka juga berangkat dari garis start yang sama dengan kita; sama-sama belum bisa menulis.

Psikologi AIR, Kiat Beradaptasi Untuk Berinovasi

0

Apapun yang manusia kerjakan di dunia ini, pasti membutuhkan ilmu psikologi. Sebab, manusia secara personal merupkan objek study dari ilmu psikologi, selama ada interaksi antar individu disitulah ilmu ini dibutuhkan. Science yang dahulu disebut sebagai ilmu jiwa ini mampu meningkatkan kualitas manusia di segala bidang, seperti aktivitas belajar, hubungan persahabatan dan performa kerja. Kualitas yang menjadikan manusia lebih bernilai dalam hidupnya bermuara pada satu semboyan psikologi yaitu “ Kesehatan Mental.”

Kampusdesa.or.id-Pernahkah teman-teman mendengar ungkapan “Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah” atau “Air selalu mengikuti bentuk wadahnya ? “. Bagiku psikologi mirip seperti air, alirannya membawa kebaikan, sifatnya yang tenang mampu menyelaras dalam setiap perubahan. Sebagai akademisi di bidang keilmuan psikologi, sudah sepatutnya kita memiliki karakter seperti air. Air versi tulisan ini memiliki tiga singkatan makna yaitu Adaptation, Innovation, Reward (AIR). Mari kita bahas apa itu AIR, siapkan secangkir kopi, seduh dan lanjutkan membaca!

Makna yang pertama adalah adaptation, pernah tidak teman-teman berada dalam suasana ingin tampil tapi merasa malu, ingin mundur karena merasa rugi, ingin mengobrol namun merasa canggung, ingin belajar tapi males hingga akhirnya teman-teman hanya ingin keluar dari zona tersebut. Artinya teman-teman belum bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ada disekitar. Bisa saja teman-teman mencari lingkungan baru yang sesuai dengan karakter teman-teman, tetapi dengan keilmuan psikologi, teman-teman tidak harus mengambil jalan itu. Saat teman-teman menginginkan lingkungan baru, maka akan ada banyak faktor yang harus dipahami. Lingkungan yang baru akan mempertemukan kita dengan banyak orang, mengeluarkan banyak pikiran, mengorbankan banyak perasaan, dan aneka ragam perilaku lainnya yang tentunya tidak asing di dunia Psikologi.

Lingkungan yang baru akan mempertemukan kita dengan banyak orang, mengeluarkan banyak pikiran, mengorbankan banyak perasaan, dan aneka ragam perilaku lainnya.

Daripada mencari lingkungan baru, alangkah lebih baik bila teman teman sedikit lebih keras mencoba beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Dalam KBBI, adaptasi adalah penyesuaian terhadap lingkungan, pekerjaan dan pelajaran. Beradaptasi berarti teman-teman memiliki kemampuan untuk berdamai, menerima, rela, bersyukur, berusaha dan lebih positif dengan lingkungan. Adaptasi artinya teman-teman sudah menyelesaikan level pertama untuk meneladani karakter AIR.

Mari kita sedikit menyinggung konsep air dari sudut pandang Islam. Dalam kehidupan sosial, Islam tidak serta merta mengabaikan kondisi sosial seperti budaya atau tradisi. Karena Islam sesungguhnya hadir bertujuan untuk menuntun kehidupan seluruh makhluk di bumi. Ketika Islam hendak mengatur kehidupan manusia dengan ayat dan sunahnya, maka Islam pasti mempertimbangkan kondisi dan situasi kehidupan manusia. Seperti halnya Wali Songo saat menyebarkan agama Islam di Nusantara, para waliyullah tersebut menggunakan atribut budaya yang kental akan tradisi keberagaman suku, adat serta agama, khusunya agama Hindu. Inilah strategi adaptasi yang dicontohkan oleh Wali Songo.

Makna yang kedua adalah innovation, untuk menjadi lebih inovatif, hal yang harus dilakukan adalah mengenal lebih dekat dengan lingkungan disekitar. Artinya, sebelum berinovasi, usahakan sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan. Jika kreatif adalah kemampuan untuk mencanangkan suatu hal yang berbeda dan orisinil, maka inovasi adalah proses penerapan atau penciptaan suatu hal baru yang memiliki nilai lebih dihadapan orang lain. Inovasi adalah hal yang dapat diukur karena nilainya dapat dirasakan oleh lingkungan.

Menurut Pervaiz K. Ahmed dan Charles D. Shepherd, inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang, tetapi juga mencakup sikap hidup, perilaku, atau gerakan-gerakan menuju proses perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat. Psikologi menjadi “penolong” terbentuknya akal yang kreatif dan inovatif agar setiap orang memiliki nilai dalam hidupnya. Sebagai contoh, lampu, telepon, mobil, AC, laptop, dan handphone adalah hal yang tercipta dari proses inovasi. Pertanyaannya adalah, apa inovasi teman-teman psikologi untuk saat ini dan nanti ?.

Inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang, tetapi juga mencakup sikap hidup, perilaku, atau gerakan-gerakan menuju proses perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat.

Dalam Islam, ada beberapa teladan dari para Nabi dalam berinovasi. Salah satunya adalah kisah Nabi Nuh AS yang diperintahkan untuk membuat perahu raksasa. Perahu itu dipersiapkan untuk menghadapi air bah yang diramalkan akan menenggelamkan seluruh isi bumi kecuali orang yang beriman. Tahu kah anda bahwa di zaman itu belum ada prototipe perahu yang sanggup menampung ratusan orang, inilah inovasi Nabi Nuh AS.

وٱصْنَعِ ٱلْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَٰطِبْنِى فِى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ ۚ إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ

“ Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan “ (Q.S. Hud: 37)

Ada banyak surah di dalam Al Quran dimana Allah SWT mendorong manusia untuk berpikir agar dapat menghasilkan sesuatu yang baru dan inovatif dalam hal apapun.

Terakhir adalah reward atau hadiah, hal ini penting sebagai bentuk penghargaan dari sebuah proses berperilaku baik, lebih unggul, berprestasi dan bersumbangsih. Hadiah adalah suatu hal yang harus ada sebagai upaya menguatkan motivasi individu. Penghargaan dalam bentuk apapun dibutuhkan oleh setiap orang. Menghargai diri sendiri maupun orang lain dapat dilakukan dengan pemberian reward. Menurut Skinner, tokoh aliran psikologi behavioristik, reward adalah salah satu bentuk penguatan konsekuensi perilaku. Penguatan dibutuhkan untuk memperkuat perilaku positif yang diinginkan sehingga perilaku tersebut dapat diulangi pada masa mendatang.

Contoh hadiah bisa berupa pemberian waktu istirahat, pemenuhan kebutuhan pokok, pujian, hadiah spesial, atau dukungan sesama sahabat untuk saling menguatkan. Setelah teman-teman berinovasi dengan menyita banyak tenaga, harta, pikiran dan perasaan, sepatutnya teman teman mendapatkan reward dari orang lain atau penghargaan dari diri sendiri. Reward sangat ampuh untuk me refresh kembali energi yang terkuras saat berinovasi.

Dalam bahasa Arab, reward atau ganjaran diistilahkan dengan kata tsawab. Kata ini banyak ditemukan dalam Al-Quran, terutama penjelasan mengenai apa yang akan diterima oleh seorang hamba di dunia maupun akhirat dari amal perbuatan. Kata tsawab selalu diterjemahkan dengan arti “ balasan yang baik”. Al-Quran Surat Ali Imron ayat 148, Allah SWT telah menjanjikan ganjaran atau reward kepada umat manusia yang telah berbuat kebaikan.

فَـَٔاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ ثَوَابَ ٱلدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ ٱلْءَاخِرَةِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“ Karena itu Allah memberikan mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan “ (Q.S. Ali Imran: 148)

Teruntuk mereka yang sulit untuk bekerja, para mahasiswa yang tertunda tugas akhirnya, kawan kawan yang kebingungan mencari tempat magang, orang-orang yang sebagian hidupnya mengalami perubahan drastis, dan khusus untuk teman-teman psikologi yang harus memahami dinamika tingkah laku manusia. Mulailah mencoba menerima keadaan dan berbaur dengan lingkungan sekitar. Percayalah hidup ini terlalu indah untuk disesali.

Adaptation, Innovation, Reward (AIR) merupakan rangkaian cara untuk membentuk pribadi yang sadar akan problematika sosial. Ketika sadar bahwa Indonesia sedang tidak baik baik saja, maka saatnya bagi kita pejuang psikologi untuk hadir menawarkan sepaket kontribusi, inspirasi dan solusi. Seperti air yang selalu menyesuaikan dengan wadahnya, memahami dan lebih banyak mendengar adalah kunci memanusiakan manusia.

Tentang penulis:

Yansa Alif Mulya (yansaalif18@gmail.com) Kelahiran 15 juli 1998, di Kota Lumajang, sedang menempuh pendidikan S1 di Psikologi UIN Malang. Mantan Senat Mahasiswa Psikologi UIN Malang. Founder ActPsy Team UIN Malang. Founder Sekolah ALAM ORZIE.CO. Aktif menulis di blog pribadi ganeshahandayani.wordpress.com