Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 26

Pilkada 2020 Bukan Sekedar Pesta Demokrasi, Tetapi Harus Partisipatif

0

Momentum demokrasi elektoral, baik pemilihan anggota legislatif maupun pemilihan pemimpinan lembaga eksekutif seperti kepala daerah, akan selalu mendapatkan sorotan bahkan mungkin juga penolakan. Setidaknya ada dua sorotan yang akan selalu muncul. Pertama, soal proses. Kedua, soal hasil.

Kampusdesa.or.id-Dalam hal proses, pemilihan diharapkan berkualitas dalam tiap tahapan. Mulai dari kualitas perencanaan kegiatan  dan pelaksanaannya seperti pembentukan panitia penyelenggara (terutama badan ad hoc), pencalonan, hingga proses pelaksanaan seperti pemutakhiran data pemilih, kampanye, hingga jaminan bahwa tiap warga bisa terfasilitasi dengan baik dalam pemungutan suara. Terlebih penting lagi adalah partisipasi masyarakat dalam setiap tahapan pemilihan.

Sedangkan halam hal hasil, pemilihan dianggap kurang menghasilkan kedudukan dan posisi politik yang kurang mencerminkan keinginan masyarakat. Para pejabat yang telah terpilih dianggap menyimpang dari kekuasaan dan tidak memuaskan harapan masyarakat yang  tadinya memilih mereka pada Pemilihan. Kekecewaan tak jarang muncul, dan pada titik yang ekstrim melahirkan gerakan Golput, bahkan menyulut gerakan ideologis yang menolak konsep demokrasi elektoral.

Varian lainnya dari sikap penolakan terhadap demokrasi elektoral di Pemilihan Kepala Daerah, misalnya, adalah keinginan untuk kembali pada model pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPR daerah. Pemilihan langsung dianggap hanya menghambur-hamburkan uang, dan masyarakat (pemilih) dianggap semakin rusak karena tradisi “politik uang” yang membuat mereka kian oportunis, apatis, dan rusak mentalnya.

Sebagai sebuah sistem untuk menata masyarakat dan melembagakan dinamika politik, demokrasi secara umum tidak memisahkan antara proses dan hasil.  Substansi demokrasi adalah kualitas dari proses-proses yang terjadi, yang menghubungkan antara unsur-unsur masyarakat dalam relasinya sebagai pembentuk sistem demokrasi. Jika demokrasi dilihat dari sisi prosedural, maka demokrasi elektoral (pemilihan) tetap akan menjadi proses interaksi yang tak akan mengingkari hasilnya.

Substansi demokrasi adalah kualitas dari proses-proses yang terjadi, yang menghubungkan antara unsur-unsur masyarakat dalam relasinya sebagai pembentuk sistem demokrasi.

Artinya, hasil dari proses demokrasi elektoral (tahapan Pilkada) tetaplah akan menunjukkan interaksi antar unsur-unsur pemilihan itu sendiri. Setidaknya ada tiga unsur Pemilihan yang bersifat tetap: pemilih, calon yang akan dipilih, dan penyelenggara. Penyelenggara hanya akan (harus) menjalankan kegiatan sesuai aturan, tidak boleh berpihak (netral, independen, imparsial). Menjaga profesionalitas, independensi, dan integritas adalah kunci utama bagi penyelenggara.

Sementara itu hubungan antara pemilih (masyarakat) dengan calon (peserta pemilihan) adalah dinamika paling pokok yang harus dilihat apakah suatu demokrasi elektoral itu berkualitas atau tidak baik dari segi proses maupun hasil. Sehingga, kualitas hubungan antara pemilih dan kualitas calon adalah yang paling menentukan bagi kualitas demokrasi itu sendiri.

Keberadan pemilih dan calon serta hubungan antara keduanya setidaknya bisa kita lihat dari dua perspektif. Pertama-tama adalah dari sisi tujuan dan kepentingan. Pertanyaannya, apakah pemilih mengetahui kepentingannya? Apakah kepentingan pemilih itu? Apakah mereka memandang bahwa pemilihan itu sendiri penting dan punya arti untuk nasibnya? Ataukah apa yang membuat pemilih punya kepentingan terlibat dalam pemilihan? Bagaimana keterlibatan mereka? Apa hanya terlibat dalam pemungutan suara atau nyoblos saja atau terlibat di tahapan sebelumnya dan proses politik-demokrasi sesudahnya?

Sedangkan untuk calon, tujuannya berkompetisi dan berniat untuk ditetapkan olek KPU sebagai calon tentunya adalah untuk menang. Lalu apa tujuan memenangkan pemilihan dan mendapatkan jabatan tersebut? Apakah hanya sekedar supaya dapat jabatan dan menikmati kedudukan sebagai orang yang punya kekuasaan dan wewenang sehingga kepentingan pribadinya lebih banyak bisa dipuaskan? Ataukah punya tujuan untuk membuat kebijakan yang membuat pemerintahan bisa membantu rakyat dalam meningkatkan taraf hidupnya  melalui apa yang bisa dilakukan (wewenang) pemerintah dan seorang pemimpin pemerintahan?

Pendidikan Politik

Dalam suatu proses pemilihan sejak calon muncul dan ditetapkan, kedua pihak (baik calon pemilih maupun calon yang akan dipilih) juga tetap berada dalam sebuah dinamika sosial yang  bisa kita lihat kualitas proses dari sisi hubungan (relasi) antara keduanya. Dalam kampanye, misalnya, apakah benar-benar terjadi kampanye yang menunjukkan kualitas demokrasi atau tidak.

Kampanye diartikan oleh undang-undang dan peraturan sebagai penyampaian visi-misi, program, dan citra diri calon. Dan di peraturan juga ditegaskan bahwa kampanye harus menjadi sarana pendidikan politik. Dalam Pasal 63 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tertulis: “Kampanye dilaksanakan sebagai wujud dari pendidikan politik masyarakat yang dilaksanakan secara bertanggung jawab”.

Tentu saja, idealnya bukan hanya masa kampanye (yang dijadwalkan KPU) saja yang bisa menjadi masa-masa pendidikan politik. Setiap tahapan dan waktu selama demokrasi elektoral tiba, seharusnya terus menjadikan masyarakat terdidik secara politik. Bahkan ketika tahapan demokrasi elektoral (Pilkada) belum masuk jadwal atau bahkan pemungutan suara sudah selesai, pendidikan politik adalah bagian penting dari proses demokrasi politik di masyarakat.

Dari sisi konseptual, pendidikan politik adalah istilah ideal yang diharapkan terjadi dalam masyarakat politik apalagi pada masa kampanye di mana undang-undang menegaskannya. Pada praktiknya, pendidikan politik terjadi karena interaksi sosial dan ia adalah proses komunikasi atau penyampaian dan pertukaran pesan. Dari konsep komunikasi sebagai pertukaran pesan inilah kita bisa menelisik lebih jauh bagaimana keberadaan pemilih dan calon menjadikan dirinya sebagai unsur-unsur demokrasi yang berkontribusi bagi peningkatan kualitas demokrasi ataukah sebaliknya!

Kata “pendidikan” itu sendiri adalah hal yang agung. Karena ia berarti suatu proses di mana ada upaya mendidik. Dan mendidik adalah mengandung arti suatu proses memberikan pengetahuan dan wawasan, memberdayakan, mencerahkan, dan merubah tingkahlaku. Karena pendidikan mengandung upaya merubah aspek kognitif (pengetahuan), aspek afektif (perasaan), dan aspek psikomotorik (perilaku).

Maka, pendidikan politik merupakan upaya membuat orang memahami, merespon, dan menyikapi dengan tindakan suatu gejala kekuasaan agar kekuasaan membuatnya berdaya atau setidaknya ia mampu menyikapi proses-proses mendapatkan kekuasaan dan pengaruh dengan memanfaatkan dirinya sebagai pribadi yang tahu, paham, dan menjadikan dirinya sebagai bagian dari politik yang lebih baik dan membangkitkan kekuatan bagi semuanya.

Pendidikan politik merupakan upaya membuat orang memahami, merespon, dan menyikapi dengan tindakan suatu gejala kekuasaan

Dari pandangan ideal itu, apakah pendidikan politik sudah terjadi? Bagaimana masyarakat (calon) pemilihnya? Apakah menyadari bahwa mereka sebagai elemen demokrasi yang penting? Apakah mereka hanya memahami  demokrasi adalah prosedur yang dipandang secara sederhana dan momentum ritual lima tahunan di mana calon yang akan dipilih akan dicoblos jika memberi keuntungan sesaat?

Bagaimana pula para calonnya? Apakah mereka hanya memandang bahwa kompetisi dalam Pilkada hanyalah upaya untuk mendapatkan kedudukan agar kepentingan pribadinya terwujud?

Pendidikan Pemilih (Voters Education)

Sementara itu, pandangan dominan dan yang dapat dikatakan tidak menunjukkan kualitas dari pemilih dan masyarakat  selama ini  setidaknya ada beberapa hal. Pertama, pandangan apatis, yaitu memandang bahwa demokrasi elektoral bukanlah solusi bagi kehidupan mereka untuk merubah nasib mereka melalui pemanfaatan kebijakan politik yang dilakukan kepala daerah yang memenangkan pemilihan. Tak ada hubungan antara politik dengan nasib mereka. Ada atau tidak ada pemilihan dianggap sama saja. Mereka memandang bahwa potensi individu mereka tidak ada. Apalagi mereka hanya tahu bahwa peran warga dalam pemilihan itu hanyalah “nyoblos”.

Berikutnya, muncul pandangan dan sikap oportunis. Bagi warga, karena manfaat besarnya dianggap tidak ada, maka setidaknya mereka tahu bahwa jika ada Pilkada itu mereka masih bisa mendapatkan keuntungan kecil-kecil, entah itu dapat bingkisan berupa barang, atau uang dari calon atau tim sukses. Bahkan sebagian warga juga tidak tahu bahwa hal itu dilarang undang-undang. Sikap apatis dan oportunis memang berakar dari sempitnya otak dan minimnya pengetahuan dan wawasan. Selebihnya juga  karena tidak memahami suatu fenomena secara komprehensif. Demokrasi elektoral dianggap urusan negara, penyelenggara, dan calon yang akan berebut kemenangan atau partai politik yang mencalonkan. Mereka tidak tahu bahwa diri mereka bisa juga mempengaruhi keadaan, baik kecil atau besar. Mereka merasa perlu ikut-ikutan (hanya nyoblos), tetapi jika mereka mendapatkan hal yang menguntungkan mereka.

Iringan dari watak oportunis adalah pikiran jangka pendek. Mereka melihat bahwa proses politik itu hanya nyoblos dan akan berhenti di situ saja. Sehingga jika mereka merasa tidak mendapatkan keuntungan pada tindakan nyoblos, mereka seperti kehilangan eksistensi diri. Pada hal proses politik yang bisa diperankan warga tidak berhenti di situ. Warga seperti ini memang jauh dari cara berpikir jangka panjang dan dialektis. Bahwa apa yang mereka lakukan dan mereka pilih tidak mengandung konskuensi. Bahwa cara berpikir dan bersikap kita tidak mengandung konsekuensi. Intinya, mereka merasa bahwa unsur-unsur demokrasi (pemilih dan calon) tidak punya hubungan. Pilihan dan tindakan politik dianggap tidak punya konsekuensi!!!

Makanya, sejak mereka sudah keluar dari bilik pencoblosan, politik dianggap habis. Dan sebelum pencoblosan, merekapun tidak mau berpartisipasi secara aktif. Tahapan-tahapan Pemilihan mulai dari pembentukan panitia pemilihan, pemutakhiran data pemilih, masa kampanye, semuanya mereka abaikan. Bahkan ketika tahunya bahwa Pemilihan itu hanya nyoblos, merekapun menyikapinya dengan kesadaran yang sempit dan oportunis.

Fakta itu menunjukkan bahwa melakukan peningkatan kualitas pemilih dan kesadaran warga masyarakat merupakan suatu hal yang urgen. Bukan hanya calon dan peserta Pemilihan (partai politik) yang dituntut melakukan pendidikan politik. Tapi penyelenggara Pemilu sebagai lembaga yang ditugasi untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan Pemilihan juga harus memberi perhatian besar pada pendidikan dan peningkatan kesadaran pemilih (voters education).

Di sinilah, penyelenggara seperti KPU dan Bawaslu beserta jajarannya punya tugas suci dan mulia untuk melakukan model-model komunikasi yang berpilar pada penyadaran. Bukan hanya sekedar memberikan informasi, tapi juga memasuki ruang-ruang kesadaran dan bahkan jika memungkinkan ruang bawah sadar masyarakat sebagai calon pemilih.

KPU, misalnya, bukan hanya harus menginformasikan “W5H1” atau kapan nyoblosnya, di mana, siapa saja calonnya, apa yang digunakan untuk mencoblos, dan bagaiman acara menyoblosnya. KPU juga harus melakukan upaya persuasi dan “brainwash” pada sasaran komunikasi agar konsepsi diri individu-individu warga Negara berubah menjadi lebih baik, agar watak dan mentalitasnya juga berubah: dari yang oportunis menjadi bermartabat, dari yang berpikir jangka pendek menuju pikiran jangka panjang, dari pikiran sempit tentang demokrasi menjadi pikiran luas dan dalam, dari pikiran apatis menjadi pikiran optimis. Dan lebih jauh dari itu, dari individu yang hanya menjadi objek politik elektoral, menjadi subjek politik yang aktif dan partisipatif.

Pada akhirnya, pendidikan pemilih (voters education) bukan hanya berpilar pada kemampuan mempersuasi warga  agar mereka punya alasan kuat kenapa harus memilih dan tidak golput, tapi juga menunjukkan jalan partisipasi yang berkualitas. Warga sebagai calon pemilih yang berkualitas akan membuat demokrasi menjadi bermakna, punya viabilitas dan tidak hanya terkesan demokrasi musiman. Pemilihan tidak hanya berupa “pesta” karena kata bang Haji Roma Irama “pesta pasti berakhir”. Upaya peningkatan kualitas demokrasi harus menjadi proses tanpa henti!

Partisipasi demokrasi tak harus berhenti setelah rakyat keluar bilik suara. Partisipasi harus ada dalam setiap tahapan maupun tidak adanya tahapan. Sebelum kandidat mencalonkan diri, rakyat harus ikut bersuara dan bergerak. Setelah nyoblos, rakyat harus mengawal calon yang terpilih hingga mendapat kedudukan. Sebelum dan setelah tahapan Pemilihan KPU juga harus menyiapkan kader-kader demokrasi, misalnya calon-calon penyelenggara yang berkualitas. Kursus-kursus demokrasi dan kepemiluan, pendidikan demokrasi dan pendidikan calon pemilih harus terus dilakukan.*

(Trenggalek, 22/06/2020)

Pereda Demam Anak Tanpa Obat dari Dokter 

1

Anda tidak perlu bingung ketika anak sedang demam. Beberapa cara berikut ini dapat anda lakukan dengan memberikan bahan obat tradisional atau obat yang cukup familier ada di sekitar anda. Tips sederhana ini ampuh sebagai obat demam anak-anak Anda. Selamat mencoba.

Kampusdesa.or.id–Bila anak menderita demam, maka sudah hampir dipastikan orang tua akan merasa panik. Berbagai cara menurunkan demam pada anak tanpa obat pun dilakukan. Beberapa orang tua langsung mengkompres anak, beberapa ada yang masih menggunakan obat tradisional, dan tentu ada yang langsung pergi ke dokter.

Inilah beberapa cara menurunkan demam pada anak tanpa obat:

Pertama, berilah madu. Anak yang rajin minum madu maka akan jarang sekali menderita berbagai penyakit, termasuk demam. Sebab madu mengandung berbagai nutrisi seperti: karbohidrat, vitamin (B, C, E), asam amino, mineral, kalium, natrium, zat besi, dan seabagainya. Namun, bila anak berusia kurang dari satu tahun, hindari memberikan madu. Sebab madu mengandung spora clostridium botulinum. Bakteri ini penyebab munculnya penyakit botulisme pada bayi.

Kedua, pakailah minyak kelapa atau minyak tawon. Bagaimana caranya? Gosoklah perlahan kulit anak atau bayi Anda dengan campuran minyak kelapa dan kunyit. Meskipun terlihat sepele, namun inilah cara menurunkan demam pada anak tanpa obat yang mujarab. Tidak percaya? Buktikan saja!

Ketiga, perbanyaklah minum air kelapa muda, boleh dengan degan yang lembut atau lunak. Air kelapa muda efektif mengatasi demam sebab mengandung banyak mineral antara lain kalium. Namun jangan sekali-kali diberi es atau diberikan dalam kondisi dingin. Juga jangan diberi gula atau sirup karena menyebabkan beberapa anak menjadi batuk.

Keempat, ambillah buah labu atau bligo. Potonglah menjadi dua bagian. Isinya dibuang. Lubang labu itu diisi dengan gula batu hingga mencair menjadi air. Nah, minumkanlah airnya untuk anak.

Baca juga :
Infeksi Saluran Kemih, Wow Tanpa Operasi?
Perawat; Dari Ancaman Paparan Corona, Pisah Ranjang, hingga Perceraian

Kelima, ambillah lima siung bawang merah. Kupaslah. Setelah itu diparut dan dicampuri minyak kelapa secukupnya. Oleskan ke ubun-ubun anak dan ke semua bagian tubuhnya.

Keenam, ambillah sepuluh gram rimpang temulawak, cuci sampai bersih. Parutlah, lalu tambahkan setengah gelas air panas, aduklah. Setelah bersih, saringlah dan ambil sarinya. Campurlah dengan dua sendok makan madu bunga kapuk, aduklah. Bagilah menjadi tiga campuran antara madu dan temulawak. Berikan 3 x sehari.

Inilah berbagai cara menurunkan demam anak tanpa obat, alias menggunakan obat tradisional yang cepat bisa kita peroleh di sekitar kita. Semoga bermanfaat dan silakan mencoba. Tetap konsultasikan kesehatan buah hati anda, jika demam anak tidak kunjung menurun, barangkali ada hal lain yang tidak diketahui sehingga dialog atau konsultasi pada yang lebih ahli (dokter) tetap dibutuhkan

Empat Pertanyaan Kunci Menulis Artikel Ilmiah

0

Menulis artikel ilmiah, apalagi di jurnal internasional bereputasi masih menjadi permasalahan pelik bagi sebagian besar akademisi. Bisa jadi, hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman bagaimana langkah menulis artikel ilmiah yang baik. Berikut dipaparkan empat pertanyaan kunci yang perlu kita perhatikan dalam menulis artikel ilmiah.

Kampusdesa.or.id-Bagi dosen, menulis artikel ilmiah bukan hanya kewajiban, tapi telah menjadi kebutuhan. Artikel ilmiah menjadi jembatan bagi dosen untuk mendiseminasi hasil riset dan pengetahuannya ke publik, sehingga kemanfaatannya bisa diakses secara luas.

Dalam perkembangannya, artikel ilmiah kini menjadi syarat kenaikan pangkat bagi dosen. Misalnya, untuk bisa mendapatkan gelar profesor, seorang dosen harus menulis artikel di jurnal internasional bereputasi. Khususnya terindeks Scopus. Ironisnya, akibat sistem ini, publikasi artikel ilmiah telah menjadi bisnis kapitalis global. Banyak kritik dilayangkan. Namun, tetap saja sistem yang berjalan sudah mapan dan susah untuk didekonstruksi.

Tulisan ini tidak akan membahas perdebatan panas perihal industrialisasi dan kapitalisasi intelektual di dunia jurnalisme tersebut. Terlalu pelik. Pada kesempatan kali ini, saya hanya ingin berbagi ilmu yang saya dapat setelah mengikuti webinar tadi siang. Webinar ini diselenggarakan oleh Springer Nature, sebuah publisher jurnal internasional bereputasi. Detail tentang apa itu Springer Nature, silakan cari di search engine saja.

Baca Juga:

Menulis Saja Meskipun Tak Ada yang Baca
Menulis Layaknya Naik Sepeda
Menulis itu Berpikir Sepanjang Hari

Salah satu materi menarik yang disampaikan narasumber adalah tips bagaimana menulis artikel ilmiah yang baik dan layak disubmit ke jurnal internasional bereputasi. Menurutnya, pembaca mempunyai 4 pertanyaan kunci saat mereka mengakses artikel kita. Empat pertanyaan kunci ini hendaknya dijadikan pedoman dalam menulis artikel ilmiah, sehingga semuanya terjawab ketika seseorang selesai membaca artikel kita. Berikut 4 pertanyaan tersebut.

Why did you do the study?

Jawaban pertanyaan ini harus kita kupas tuntas di bagian introduction atau latar belakang. Pada bagian ini, kita harus menjelaskan alasan mengapa kita melakukan penelitian dan mengapa itu penting. Menulis introduction termasuk bagian sulit dalam menulis artikel ilmiah, sebab kita harus mampu meyakinkan pembaca bahwa penelitian kita ini mempunyai kontribusi yang siginifikan atau dapat menjawab urgensi bagi permasalahan yang menjadi topiknya.

Introduction biasanya ditulis menggunakan kerangka berpikir “piramida terbalik” atau yang sering disebut deduktif, yaitu dari umum ke khusus. Maksudnya, terlebih dahulu kita harus mendedah permasalahan terkait topik penelitian secara umum, lalu mengerucut pada gagasan atau inti penelitian yang kita lakukan. Bagian ini juga harus menunjukkan gap dengan penelitian sebelumnya, sehingga kebaruan atau novelty pada artikel kita tampak.

What did you do?

Jawaban pertanyaan ini berkaitan dengan metode apa yang kita gunakan untuk menggali data. Apakah kualitatif, kuantitatif, atau mixed. Penulisan metode harus aplikatif, bukan teoritis seperti yang sering dilakukan banyak orang. Cirinya aplikatif adalah tidak banyak mengutip. Gampangnya, bagian metode penelitian ini berisi apa saja yang kita lakukan saat mengumpulkan data. Siapa saja yang terlibat (subjek/sampel), metode menggali data, dan metode analisinya. Jadi, bukan kutipan definisi ini dan itu. Selain itu, metode juga harus reliabel atau bisa diterapkan oleh orang lain dan diperoleh hasil yang sama.

What did you find?

Pertanyaan ini berkaitan dengan bagaimana kita menjabarkan temuan penelitian. Tentu, data yang dijabarkan bukanlah data mentah langsung dari lapangan. Namun, data yang sudah kita olah menggunakan teknik analisis sesuai dengan metode penelitian yang kita gunakan. Temuan penelitian juga harus mengacu pada rumusan masalah penelitian. Jangan malah tidak nyambung sama sekali. Pertimbangkan pula apakah perlu menggunakan tabulasi, diagram, bagan atau tidak. Tidak semua data butuh disajikan dengan cara itu.

How does the study advance the field?

Jawaban bagi pertanyaan ini berkaitan dengan discussion atau pembahasan. Nah, pada bagian ini kita mendiskusikan temuan penelitian kita dengan teori yang kita gunakan sebagai alat analisis. Jika, di introduction tadi kita menggunakan kerangka berpikir “piramida terbalik,” maka pada bagian pembahasan ini kita menggunakan kerangka berpikir piramida. Jadi, dari khusus ke umum atau induktif.

Kita bisa memulai bagian ini dengan menuliskan secara ringkas problem riset, kerangka penelitian, dan temuan kunci penelitian yang sudah kita sajikan di bagian sebelumnya. Setelah itu, kita ikuti dengan hasil analisis berupa diskusi temuan penelitian dengan teori yang kita gunakan. Kita juga bisa menunjukkan seberapa penting penelitian yang kita lakukan bagi subjek di lapangan atau bagi permasalahan yang kita teliti. Bagian ini termasuk pula kesimpulan utama hasil penelitian dan implikasi temuan penelitian.

Itulah 4 pertanyaan kunci yang perlu kita perhatikan dalam menulis artikel ilmiah. Kita cukupkan dulu, biar tidak terlalu panjang. Di tulisan selanjutnya, akan kita ulas bagaimana menulis judul yang menarik dan abstrak yang baik.

Sekian, semoga ada manfaat.

Menulis Layaknya Naik Sepeda

0

Menulis itu bisa diibaratkan seperti orang yang sedang mengendarai sepeda. Saat belajar menulis kita akan menemui berbagai kendala seperti halnya orang yang belajar bersepeda. Namun semua itu bisa diatasi dengan berbagai cara agar tulisan kita semakin bagus dan menarik. Sama persis dengan pembalap yang juga butuh trik agar bisa menjadi juara di arena balap sepeda.

Kampusdesa.or.id-Menulis itu, tak ubahnya naik sepeda. Awal belajar tentu akan mengalami banyak masalah. Menjaga keseimbangan merupakan kesulitan terbesar saat belajar mengendarainya. Sama dengan menulis, di awal mula belajar kita akan kebingungan mencari ide. Setelah mendapat ide, bingung bagaimana mengungkapkannya dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, pilihlah diksi yang tepat agar pembaca mengerti gagasan kita.

Anehnya, ketika lancar menulis pun masih ada hambatan. Yah, kesulitan mengontrol ide agar tidak keluar dari pokok bahasan, hambatan membuat ending, tidak koheren dan lain-lain. Mungkin dalam bersepeda mirip bagaimana cara kita memegang setir biar stabil.

Ketika sudah bisa naik sepeda, ketrampilan kita dalam berkendara juga akan semakin bagus seiring intensitas kita menaikinya. Contohnya, bisa bersepeda dengan satu tangan di setir, bisa jumping, atau bahkan tanpa memegang setir pun tidak jatuh. Sama halnya dengan menulis, semakin  lama, kita semakin piawai melihat sesuatu sebagai inspirasi untuk menulis. Melihat mobil jadi punya ide menuliskan perjalanan yang pernah dilakukan, lihat buah jadi ingin menulis tentang ketahanan pangan, bahkan melihat orang gila di jalan pun bisa jadi ide seandainya perempuan gila itu ibunya.

“Seperti halnya naik sepeda, menulis juga menyehatkan. Kita bisa menyalurkan gagasan-gagasan terpendam sehingga tidak membebani pikiran kita. Saat kita suntuk, kita bisa menulis untuk menyampaikan unek-unek kita.”

Seperti halnya naik sepeda, menulis juga menyehatkan. Kita bisa menyalurkan gagasan-gagasan terpendam sehingga tidak membebani pikiran kita. Saat kita suntuk, kita bisa menulis untuk menyampaikan unek-unek kita. Kabarnya, pasca istrinya meninggal, Alm. B.J. Habibie mengalami rasa kehilangan yang sangat sehingga harus ditangani oleh ahli kejiwaan. Dengan menuliskan kisahnya bersama Bu Ainun semasa hidupnya, Pak Habibie bisa bangkit dari keterpurukannya.

Baca Juga:

  • Menulis Saja Meskipun Tak Ada yang Baca
  • Menulis itu Berpikir Sepanjang Hari
  • Perubahan Diri Lebih Mujarab Gunakan Terapi Menulis Saja

Ada juga penulis sukses yang menghasilkan pundi-pundi dari tulisannya. Sebut saja J.K. Rowling. Para penggemar Harry Potter pasti tahu siapa dia. Perempuan yang dilahirkan tanggal 31 Juli 1965 bernama asli Joanne Rowling ini telah menghasilkan lebih dari US$ 19 juta dari karyanya, belum lagi pemasukan dari adaptasi Harry Potter ke dalam film, membuatnya berhasil ada di jajaran orang-orang terkaya.

Namun demikian, bagi penulis pemula janganlah terlalu berorientasi pada uang. Belajar menulis saja dulu. Berlatih sebanyak yang anda bisa dan berlatih sebanyak yang anda bisa, begitu saran seorang trainer menulis. Lance Armstrong, si pembalap legendaris pun awalnya juga berlatih dan berlatih sebelum menjuarai berbagai kejuaraan balap sepeda.

Berlatih itu memerlukan kedisiplinan. Dalam berlatih bersepeda agar mahir dan memiliki power supaya bisa melesat, dibutuhkan keajekan latihan. Tak berbeda dengan bersepeda, berlatih menulis pun butuh istikomah. Banyak penulis pemula yang mengeluh dirinya moody sehingga tidak bisa disiplin menulis. Caranya buatlah jadwal dan tentukan target, lalu buatlah deadline untuk tulisan sendiri.

“Membuat jadwal sangat penting. Jadwal berguna agar kita bisa mengatur waktu dengan baik.”

Membuat jadwal sangat penting. Jadwal berguna agar kita bisa mengatur waktu dengan baik. Sebab, umumnya penulis yang juga bekerja mengeluh sibuk, capek, tidak punya waktu untuk menulis, dan sebagainya. Dengan membuat jadwal, kita akan memiliki waktu khusus untuk menulis. Misal, 30 menit sebelum sholat subuh. Pagi hari merupakan waktu yang baik untuk menulis karena pikiran kita masih fresh. Jadwal yang sudah dibuat harus dilakukan secara kontinyu dan konsisten.

Baca Juga:

  • Terapi Menulis Quantum, Harapan Menjadi Baik Dibalik Bui Itu Terbuka
  • Menulis, Salah Satu Cara Keluar dari Jebakan Psikologis
  • Menulis Itu Mudah, Kata yang Saya Tanamkan di Pikiranku

Untuk target awal, janganlah membuat terget yang tinggi, misal dua paragraf setiap hari. Lalu ditingkatkan dengan menambah jumlah paragraf. Untuk menghindari lupa ide, bisa dibuat kerangka menggunakan mind mapping atau kerangka sederhana dulu. Bisa juga dengan menulis catatan sederhana satu atau dua paragraf, membuat gambar atau foto, dan lain-lain.

“Tak ubahnya pembalap sepeda, penulis juga harus berlatih dan berlatih. Semakin sering berlatih, semakin bagus kualitas tulisannya.”

Tak ubahnya pembalap sepeda, penulis juga harus berlatih dan berlatih. Semakin sering berlatih, semakin bagus kualitas tulisannya. Agar piawai mengolah kata, kamus merupakan barang yang harus ada dalam jangkauan. Tidak harus berupa hard copy, kita bisa memanfaatkan kamus online. Jangan lupa untuk membaca, membaca, dan membaca. Dengan demikian tulisan kita semakin kaya kosa kata dan tidak membosankan.

Semakin banyak tulisan kita, semakin mahir juga kita membuat pembaca tertarik atau bahkan terhipnotis dengan tulisan kita. Ada lho tulisan-tulisan provokatif yang ditujukan untuk mengajak bunuh diri, and it works. Ngeri yaa…

Jangan sampai kita menulis sesuatu yang membuat orang lain punya ide melakukan hal buruk. Lebih baik menulis yang menghibur, menambah pengetahuan, menginspirasi, atau membangkitkan semangat pembaca yang mengalami keterpurukan. Pokoknya, menulislah yang bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain.

Menulis Saja Meskipun Tak Ada yang Baca

0

Banyak orang berminat belajar menulis. Mereka semangat membeli buku-buku panduan menulis, semangat mengikuti semiar dan pelatihan menulis, juga semangat mengkuti berbagai grup dan komunitas. Sayangnya, apa yang mereka dapatkan dari sana tidak segera diiringi dengan penerapannya. Tak sedikit pula yang malah putar balik tidak melanjutkan belajar menulis. Penyebab utamanya adalah ketakutan akan dicibir, ditertawakan, dan dihina orang. Padahal mereka cukup menulis saja, usah peduli apakah ada yang baca.

Kampusdesa.or.id-Awal belajar menulis, ketakutan akan dicibir, ditertawakan, dan dihina orang kerap dialami sebagian orang. Perasaan ini timbul, lantaran menganggap tulisan terlalu jelek dan tidak layak dibaca orang. Apalagi jika ditambah membanding-bandingkan dengan tulisan para penulis top. Akibatnya, banyak orang kemudian mengambil langkah putar balik ketimbang melanjutkan belajar. Mereka behenti di niat saja.

Bagi yang berhasil menaklukkan tantangan awal belajar menulis seperti ini, biasanya relatif dapat bertahan dan konsisten menulis. Mereka akan dengan cepat belajar, disiplin, dan tidak khawatir jika tulisannya mendapat tanggapan negatif dari orang lain. Bahkan tidak khawatir jika tulisannya tidak ada yang membaca. Namun, tentu tidak mudah untuk sampai pada sikap seperti ini. Kita harus bersedia bertebal telinga dan berlapang dada.

Beruntung, sekarang ini ada banyak buku panduan menulis dan juga grup-grup di media sosial yang dapat kita manfaatkan untuk sarana belajar. Banyak ilmu dapat kita petik dari sana. Dari buku panduan menulis, kita bisa tahu strategi, metode, tips, dan trik bagaimana menulis dengan baik dan produktif. Dari grup penulis, kita bisa belanja ide, bertukar ilmu dan pengalaman, membangun jejaring pertemanan, dan update informasi kepenulisan. Permasalahannya kemudian tinggal bagaimana kita mengaplikasikan ilmu dan pengalaman itu dalam proses belajar.

Baca Juga:

Menulis itu Berpikir Sepanjang Hari
Terapi Menulis Quantum, Harapan Menjadi Baik Dibalik Bui Itu Terbuka

“Alhasil, mereka tak beranjak dari titik awal mula melangkah. Sepertinya mereka lupa bahwa menulis itu perihal praktik, bukan teori semata.”

Ada banyak orang yang ingin menekuni dunia kepenulisan. Mereka semangat membeli buku-buku panduan menulis, semangat mengikuti semiar dan pelatihan menulis, juga semangat mengkuti berbagai grup dan komunitas. Sayangnya, apa yang mereka dapatkan dari sana tidak segera diiringi dengan penerapannya. Alhasil, mereka tak beranjak dari titik awal mula melangkah. Sepertinya mereka lupa bahwa menulis itu perihal praktik, bukan teori semata.

Beberapa kali membaca buku panduan menulis dan mengamati serta berinteraksi di grup kepenulisan, saya menemukan prinsip-prinsip menarik untuk mengatasi ketakutan yang tadi kita bahas di awal. Prinsip tersebut adalah “menulis saja meskipun tak ada yang baca.” Sekilas prinsip ini seperti berkebalikan dengan aktivitas menulis. Bukankah kita menulis untuk dibaca orang?

Maksud prinsip ini adalah kita sebaiknya fokus saja belajar menulis. Usah peduli tulisan yang kita hasilkan mendapat apresiasi dari orang atau tidak. Sebab, fokus utama kita bukan apresiasi itu, tapi belajarnya. Lambat laun, jika kualitas tulisan kita makin baik dan menarik, orang pasti akan tertarik untuk membacanya. Terutama jika kita istikamah dan rajin menulis, misalnya lalu diunggah di media sosial, orang dengan sendirinya akan penasaran.

“Sembari berlatih, hendaknya ditunjang dengan membaca karya-karya orang lain yang setipe atau segenre dengan tulisan yang kita minati.”

Meningkatkan kualitas tulisan banyak caranya. Namun, yang utama tentu saja berlatih, berlatih, dan berlatih. Sembari berlatih, hendaknya ditunjang dengan membaca karya-karya orang lain yang setipe atau segenre dengan tulisan yang kita minati. Jika minat menulis cerpen, sambil berlatih menulis cerpen, perbanyaklah membaca cerpen. Jika tidak ada uang untuk membeli buku antologi cerpen, bisa mengakses portal cerpen Jawa Pos atau Kompas. Ada banyak cerpen bagus yang bisa kita jadika rujukan di sana. Begitu pula jika minat menulis opini atau esai, cari saja portal daring yang menyediakan tulisan genre tersebut. Di era digital ini, kita sudah begitu dimanjakan dengan banyaknya informasi.

Baca Juga:

Jadi Penulis itu Mudah, Tips Jitu Dr. Ngainun Naim
Menulis, Salah Satu Cara Keluar dari Jebakan Psikologis
Menulis Itu Mudah, Kata yang Saya Tanamkan di Pikiranku

Setali tiga uang dengan prinsip ini, ada prinsip “setiap tulisan pasti menemukan pembacanya.” Tak perlu buru-buru menghakimi tulisan sendiri. Apalagi melabelinya jelek atau buruk. Tulisan ketika sudah selesai, menjadi hak pembaca untuk menilainya. Maka, biarkan saja tulisan itu menemukan penilainya (pembacanya). Bila ternyata belum menemukan pembaca, tak perlu risau, kita kembali ke prinsip pertama tadi. Namun, bila bersikeras ingin mengetahui kualitas tulisan, kita bisa meminta teman untuk membaca dan memberikan penilaian.

Juga yang penting lagi, “jangan membandingkan tulisan kita dengan tulisan para penulis top.” Ini sama saja kita membandingkan anak yang sedang belajar sepak bola di SSB (Sekolah Sepak Bola) dengan pemain profesional macam Ronaldo dan Messi. Jelas beda kualitasnya. Mereka sudah punya jam terbang tinggi. Baiknya, yang kita pegang dan yakini adalah mereka juga berangkat dari garis start yang sama dengan kita; sama-sama belum bisa menulis.

Psikologi AIR, Kiat Beradaptasi Untuk Berinovasi

0

Apapun yang manusia kerjakan di dunia ini, pasti membutuhkan ilmu psikologi. Sebab, manusia secara personal merupkan objek study dari ilmu psikologi, selama ada interaksi antar individu disitulah ilmu ini dibutuhkan. Science yang dahulu disebut sebagai ilmu jiwa ini mampu meningkatkan kualitas manusia di segala bidang, seperti aktivitas belajar, hubungan persahabatan dan performa kerja. Kualitas yang menjadikan manusia lebih bernilai dalam hidupnya bermuara pada satu semboyan psikologi yaitu “ Kesehatan Mental.”

Kampusdesa.or.id-Pernahkah teman-teman mendengar ungkapan “Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah” atau “Air selalu mengikuti bentuk wadahnya ? “. Bagiku psikologi mirip seperti air, alirannya membawa kebaikan, sifatnya yang tenang mampu menyelaras dalam setiap perubahan. Sebagai akademisi di bidang keilmuan psikologi, sudah sepatutnya kita memiliki karakter seperti air. Air versi tulisan ini memiliki tiga singkatan makna yaitu Adaptation, Innovation, Reward (AIR). Mari kita bahas apa itu AIR, siapkan secangkir kopi, seduh dan lanjutkan membaca!

Makna yang pertama adalah adaptation, pernah tidak teman-teman berada dalam suasana ingin tampil tapi merasa malu, ingin mundur karena merasa rugi, ingin mengobrol namun merasa canggung, ingin belajar tapi males hingga akhirnya teman-teman hanya ingin keluar dari zona tersebut. Artinya teman-teman belum bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ada disekitar. Bisa saja teman-teman mencari lingkungan baru yang sesuai dengan karakter teman-teman, tetapi dengan keilmuan psikologi, teman-teman tidak harus mengambil jalan itu. Saat teman-teman menginginkan lingkungan baru, maka akan ada banyak faktor yang harus dipahami. Lingkungan yang baru akan mempertemukan kita dengan banyak orang, mengeluarkan banyak pikiran, mengorbankan banyak perasaan, dan aneka ragam perilaku lainnya yang tentunya tidak asing di dunia Psikologi.

Lingkungan yang baru akan mempertemukan kita dengan banyak orang, mengeluarkan banyak pikiran, mengorbankan banyak perasaan, dan aneka ragam perilaku lainnya.

Daripada mencari lingkungan baru, alangkah lebih baik bila teman teman sedikit lebih keras mencoba beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Dalam KBBI, adaptasi adalah penyesuaian terhadap lingkungan, pekerjaan dan pelajaran. Beradaptasi berarti teman-teman memiliki kemampuan untuk berdamai, menerima, rela, bersyukur, berusaha dan lebih positif dengan lingkungan. Adaptasi artinya teman-teman sudah menyelesaikan level pertama untuk meneladani karakter AIR.

Mari kita sedikit menyinggung konsep air dari sudut pandang Islam. Dalam kehidupan sosial, Islam tidak serta merta mengabaikan kondisi sosial seperti budaya atau tradisi. Karena Islam sesungguhnya hadir bertujuan untuk menuntun kehidupan seluruh makhluk di bumi. Ketika Islam hendak mengatur kehidupan manusia dengan ayat dan sunahnya, maka Islam pasti mempertimbangkan kondisi dan situasi kehidupan manusia. Seperti halnya Wali Songo saat menyebarkan agama Islam di Nusantara, para waliyullah tersebut menggunakan atribut budaya yang kental akan tradisi keberagaman suku, adat serta agama, khusunya agama Hindu. Inilah strategi adaptasi yang dicontohkan oleh Wali Songo.

Makna yang kedua adalah innovation, untuk menjadi lebih inovatif, hal yang harus dilakukan adalah mengenal lebih dekat dengan lingkungan disekitar. Artinya, sebelum berinovasi, usahakan sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan. Jika kreatif adalah kemampuan untuk mencanangkan suatu hal yang berbeda dan orisinil, maka inovasi adalah proses penerapan atau penciptaan suatu hal baru yang memiliki nilai lebih dihadapan orang lain. Inovasi adalah hal yang dapat diukur karena nilainya dapat dirasakan oleh lingkungan.

Menurut Pervaiz K. Ahmed dan Charles D. Shepherd, inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang, tetapi juga mencakup sikap hidup, perilaku, atau gerakan-gerakan menuju proses perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat. Psikologi menjadi “penolong” terbentuknya akal yang kreatif dan inovatif agar setiap orang memiliki nilai dalam hidupnya. Sebagai contoh, lampu, telepon, mobil, AC, laptop, dan handphone adalah hal yang tercipta dari proses inovasi. Pertanyaannya adalah, apa inovasi teman-teman psikologi untuk saat ini dan nanti ?.

Inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang, tetapi juga mencakup sikap hidup, perilaku, atau gerakan-gerakan menuju proses perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat.

Dalam Islam, ada beberapa teladan dari para Nabi dalam berinovasi. Salah satunya adalah kisah Nabi Nuh AS yang diperintahkan untuk membuat perahu raksasa. Perahu itu dipersiapkan untuk menghadapi air bah yang diramalkan akan menenggelamkan seluruh isi bumi kecuali orang yang beriman. Tahu kah anda bahwa di zaman itu belum ada prototipe perahu yang sanggup menampung ratusan orang, inilah inovasi Nabi Nuh AS.

وٱصْنَعِ ٱلْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَٰطِبْنِى فِى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ ۚ إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ

“ Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan “ (Q.S. Hud: 37)

Ada banyak surah di dalam Al Quran dimana Allah SWT mendorong manusia untuk berpikir agar dapat menghasilkan sesuatu yang baru dan inovatif dalam hal apapun.

Terakhir adalah reward atau hadiah, hal ini penting sebagai bentuk penghargaan dari sebuah proses berperilaku baik, lebih unggul, berprestasi dan bersumbangsih. Hadiah adalah suatu hal yang harus ada sebagai upaya menguatkan motivasi individu. Penghargaan dalam bentuk apapun dibutuhkan oleh setiap orang. Menghargai diri sendiri maupun orang lain dapat dilakukan dengan pemberian reward. Menurut Skinner, tokoh aliran psikologi behavioristik, reward adalah salah satu bentuk penguatan konsekuensi perilaku. Penguatan dibutuhkan untuk memperkuat perilaku positif yang diinginkan sehingga perilaku tersebut dapat diulangi pada masa mendatang.

Contoh hadiah bisa berupa pemberian waktu istirahat, pemenuhan kebutuhan pokok, pujian, hadiah spesial, atau dukungan sesama sahabat untuk saling menguatkan. Setelah teman-teman berinovasi dengan menyita banyak tenaga, harta, pikiran dan perasaan, sepatutnya teman teman mendapatkan reward dari orang lain atau penghargaan dari diri sendiri. Reward sangat ampuh untuk me refresh kembali energi yang terkuras saat berinovasi.

Dalam bahasa Arab, reward atau ganjaran diistilahkan dengan kata tsawab. Kata ini banyak ditemukan dalam Al-Quran, terutama penjelasan mengenai apa yang akan diterima oleh seorang hamba di dunia maupun akhirat dari amal perbuatan. Kata tsawab selalu diterjemahkan dengan arti “ balasan yang baik”. Al-Quran Surat Ali Imron ayat 148, Allah SWT telah menjanjikan ganjaran atau reward kepada umat manusia yang telah berbuat kebaikan.

فَـَٔاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ ثَوَابَ ٱلدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ ٱلْءَاخِرَةِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“ Karena itu Allah memberikan mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan “ (Q.S. Ali Imran: 148)

Teruntuk mereka yang sulit untuk bekerja, para mahasiswa yang tertunda tugas akhirnya, kawan kawan yang kebingungan mencari tempat magang, orang-orang yang sebagian hidupnya mengalami perubahan drastis, dan khusus untuk teman-teman psikologi yang harus memahami dinamika tingkah laku manusia. Mulailah mencoba menerima keadaan dan berbaur dengan lingkungan sekitar. Percayalah hidup ini terlalu indah untuk disesali.

Adaptation, Innovation, Reward (AIR) merupakan rangkaian cara untuk membentuk pribadi yang sadar akan problematika sosial. Ketika sadar bahwa Indonesia sedang tidak baik baik saja, maka saatnya bagi kita pejuang psikologi untuk hadir menawarkan sepaket kontribusi, inspirasi dan solusi. Seperti air yang selalu menyesuaikan dengan wadahnya, memahami dan lebih banyak mendengar adalah kunci memanusiakan manusia.

Tentang penulis:

Yansa Alif Mulya (yansaalif18@gmail.com) Kelahiran 15 juli 1998, di Kota Lumajang, sedang menempuh pendidikan S1 di Psikologi UIN Malang. Mantan Senat Mahasiswa Psikologi UIN Malang. Founder ActPsy Team UIN Malang. Founder Sekolah ALAM ORZIE.CO. Aktif menulis di blog pribadi ganeshahandayani.wordpress.com

Tiba-Tiba Rindu Kumpul Massa

0

Kumpulan massa sebagaimana tercatat dalam sejarah memainkan peran penting dalam denyut perubahan. Sulit dibayangkan terjadi revolusi di era modern ini tanpa disertai gelora suara kumpulan massa. Era COVID-19 memaksa kita sementara waktu menahan diri untuk tidak terlibat dan juga melihat kumpulan massa dalam jumlah besar. Bagi mereka yang terbiasa turun ke jalan meneriakkan perubahan, tak pelak kerinduan pada kumpulan massa akan membuncah tak tertahankan.

Kampusdesa.or.id-Era COVID, sebuah masa yang membuat kita tak bisa terlibat dan melihat kumpulan massa dalam jumlah besar. Bagi sebagian dari kita tentu sangat rindu dengan situasi megahnya kumpulan massa. Mungkin untuk mengobati kerinduan itu bisa dengan melihat foto-foto atau video kumpulan massa atau mengingat-ngingat kapan dalam hidup kita terlibat dan berada dalam kumpulan massa. Atau membayangkannya, membayangkan masa lalu: Ketika masuk kuliah pertama, melihat ratusan mahasiswa teriak reformasi total.

Salah satu yang saya ingat adalah wajah seorang mahasiswa senior berambut gondrong panjang dan keriting berorasi di “double way” (pintu masuk utama) kampus. Baru masuk kampus belum sebulan, saya sudah disuguhi situasi heroik yang membakar semangat, dan berikutnya adalah diskusi-diskusi lesehan dimana hampir semua senior mahasiswa mengatakan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan. Lalu kami diperkenalkan pada sejarah pergerakan masa lalu, kisah tentang organisasi rakyat yang besar dan kami dibawa pada kekaguman pada tokoh-tokoh muda radikal.

Seperti kisah tentang Pak Tjokro (H.O.S. Tjokro Aminoto) yang pidato tanpa mikrofon di hadapan ribuan massa dengan nada (yang katanya) Sopran. Konsep “vergardering” menjadi hal yang jamak terdengar. Bahwa bagaimana sejarah bisa membuat ribuan, ratusan ribu, hingga jutaan orang berkumpul pada tempat yang sama dimana di dalamnya ada tokoh yang berorasi dan mengarahkan massa,  itu adalah hal yang mengaggumkan.

Kisah-kisah itu sungguh dicatat sejarah, seperti rapat akbar Lapangan Ikada 19 September 1945, meski dipandang sebagai rapat yang materi pidatonya kurang progresif. Tapi, sekali lagi, itu adalah peristiwa bersejarah bangsa ini.

Sebelum mengenal sejarah, saya hanya tahu bahwa kumpulan massa itu adalah pentas musik dangdut dimana di atas panggung para musisi yang salah satunya pemukul gendang tampil. Fokus utama penonton yang jumlahnya ribuan adalah pada penyanyi perempuan. Para penonton ini kadang “jotos-jotosan.” Dalam jumlah massa yang bermacam-macam, dengan berbagai dinamika interaksi di dalamnya, ada kalanya perkelahian diwarnai dengan kematian. Salah seorang penonton mabuk dan pemarah menusukkan pisau pada penonton lain yang konon adalah bukan satu gank.

Memang musik adalah soal rasa, termasuk ketika dipentaskan. Ada tarian, joget, teriakan, raut muka, bahkan tangisan. Itulah yang disebut ekspresi. Di awal-awal kuliah, dalam kelas Pengantar Sosiologi dosen juga sudah mencontohkan bagaimana dinamika interaksi sosial di masyarakat. Interaksi penonton pentas musik adalah salah satu fakta sosial yang akan membawa dinamika perasaan yang sifat perubahannya bisa cepat. Emosi bisa diaduk-aduk oleh apa yang dilihatnya.

Tapi di kampung kami, penonton satu juga diaduk-aduk perasaannya oleh penonton lain. Penonton lain yang beda geng juga menjadi salah satu pengubah emosi. Awalnya mereka akan berebut untuk bisa dekat dengan sisi depan panggung di mana penyanyi perempuan yang seksi kadang melambaikan tangan atau bahkan memberikan telapak tanggannya dipegang. Atau bahkan berebut untuk naik panggung agar bisa berjoget. Lalu perkelahian terjadi. Bahkan, kejadian ketika berinteraksi di bawah atau di atas panggung musik ini, bisa menimbulkan perasaan berkelanjutan setelah pentas musik selesai. Apalagi jika korp perguruan pencaksilat sudah dibawa-bawa dalam perasaan, bisa lebih panjang lagi efeknya.

Soal kumpulan massa dalam pentas musik, baru saya tahu bahwa yang terjadi di Indonesia khususnya yang saya lihat langsung di panggung musik kampung atau saya lihat di TV, tidak ada apa-apanya dengan betapa meraksasanya massa penonton pentas musik di Barat. Jujur saya kaget dan kagum dengan jumlah penonton dalam pentas musik yang disebut Woodstock. Sejarah musik, sebagai bagian dari sejarah kebudayaan, tak mungkin tak mencatat pentas musik ini. Ia adalah pentas musik berhari-hari, sejak pentas tahun 1969 selama empat hari, akhirnya ia menjadi acara 10 tahunan yang dihadiri jutaan penonton. Nonton videonya di Youtube, ngeri, dada saya bergetar. Terutama tampilan Allanis Morisette dengan lagu “Thank You” atau Metallica dengan lagu “Nothing Else Matter”. Panjang dan lebar penonton ke depan dilihat dari atas panggung tampaknya tak ada putusnya.

Sungguh massa raksasa!

Tentu gambaran pentas musik dengan penonton meraksasa bukan hanya Woodstock yang digelar tiap sepuluh tahun. Di berbagai negara Barat, pentas musik dihadiri massa dengan jumlah besar yang tak bisa ditandingi oleh pentas musik di sini. Apakah ini mencerminkan betapa majunya musik di sana dibanding di sini? tentu masih bisa didiskusikan lebih jauh!

Apalagi sejak panggung-panggung musik Indonesia seperti Festival Rock berhenti digelar di akhir 2007-an, yang mengakhiri sejarah Festival Rock sejak 1984 yang sejak saat itu digelar hampir tiap tahun. Musik rock jadi hilang diserang musik-musik cengeng dengan lagu yang homogen tema cinta-cintaan, hingga sejarah musik Indonesia terpuruk pada comberan kebudayaan hingga menjadi corong kekuasaan budaya kapitalistik yang melemahkan mental generasi muda dan remaja.

“Saya kehilangan kejayaan panggung-panggung budaya yang tidak pernah saya lihat. Saya rindu pada masa yang hanya saya tahu dari sejarah. Meskipun saya waktu kecil hanya merasakan fenomenanya, lagu-lagu rock yang terdengar di radio”

Ya, saya kehilangan kejayaan panggung-panggung budaya yang tidak pernah saya lihat. Saya rindu pada masa yang hanya saya tahu dari sejarah. Meskipun saya waktu kecil hanya merasakan fenomenanya, lagu-lagu rock yang terdengar di radio. Atau dari poster di tembok kamar kakak-kakak, poster Metallica, Helloween, Deep Purple, Megadeath, dll. Radio dan tape recorder juga masih ada yang memutar suara Ahmad Albar, lagu Power Metal, dll.

Sisa-sisanya mungkin sekarang hanya gambar di kaos yang dijual di belakang alun-alun Trenggalek—atau di distro-distro yang ada. Dan mungkin dengan adanya Youtube kita masih bisa menonton pentas-pentas musik meraksasa, sebagian juga Pentas Woodstock. Youtube secara visual telah bisa membawa kita pada pentas-pentas sejarah musik raksasa. Mendengar raungan melodis gitar, dan vokal semacam James Hetfield. Melihat gaya Alanis yang asik di pentas musik bukan hal yang mustahil. Terimakasih Youtube!

Puji syukur, gambaran tentang sejarah kumpulan massa akhirnya bisa bervariasi. Akhirnya kenangan saya tentang kumpulan massa bukan hanya tentang situasi ketika nonton film layar tancap waktu kecil di lapangan kecamatan. Saya juga akan terus ingat hal itu, juga hal lain-lain. Saya akan terus ingat lapangan Durenan, yang penuh sesak hingga untuk berjalan saja sulit. Waktu SMA, ketika di Lapangan Durenan ada eksposisi Agustusan, saat ramai-ramainya untuk berjalan saja sulit. Tentu teman-teman saya sekolah saya juga masih ingat, karena menyaksikan sendiri bagaimana kerumuman massa dan debu jadi satu karena acara eksposisi dilakukan di musim kemarau panjang.

Tapi cerita tentang kumpulan massa bersejarah yang akhirnya harus dicatat sejarah hanya saya dapatkan dari cerita para senior mahasiswa, yang di antaranya adalah mahasiswa sastra sejarah. Kebetulan teman kos saya adalah para senior mahasiswa sastra, yang dalam waktu melebihi batas mereka baru lulus karena saking sukanya pada kampus mungkin!

Merekalah, diakui atau tidak, yang memperkenalkan saya pada sejarah umat manusia dengan interaksinya. Kisah tentang kumpulan massa, rapat akbar, adalah kenangan agung saat kita hidup di dunia yang akan dikenang hingga kita sudah mungkin sudah punya anak dan cucu. Mungkin juga akan berulang dalam sejarah-sejarah yang akan datang. Tapi entahlah juga ketika interaksi sudah dibingkai dalam media sosial dan komunikasi disalurkan dengan akun-akun. Nyatanya, jumlah anggota grup FB dan WA belum ada yang mengalahkan jumlah penonton Woodstck! Apalagi anggota group yang aktif saja tak sebanyak pentas musik elekton di acara sunatan anaknya Pak Bambang!

Mengulik Gagasan Bisnis Online dan Geopolitik Bossman Sontoloyo

0

Siapa sangka perang komentar dan saling serang antara buzzer pemerintah dan para tokoh pengritik pemerintah menuai kubu-kubu yang sama militan. Belakangan ini efek stay at home mengakibatkan penggunaan media sosial dan internet semakin meningkat.Tak ayal, muncul satu sosok yang saya pribadi setelah menyimak gaya komunkasi dan pemaparan terhadap suatu topik sangatlah menarik. Seperti langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kampusdesa.or.id–Adalah Mardigu Wowiek Prasantyo. Seorang yang dulunya kerap diundang sebagai pakar terorisme, belakangan ini mendadak menjadi ramai diperbincangkan publik. Videonya selalu viral baik di akun instagram TV maupun kanal youtube miliknya. Selain percaya teori konspirasi pandemi virus corona, ia sering mengangkat pembahasan cenderung menyentil kebjakan-kebijakan pemerintah yang dirasa kurang tepat sasaran. Namun ia tidak hanya mengkritik, tawaran dan gagasan-gagasan segar juga selalu ditawarkan sebagai wujud cinta dan rasa bela negara yang ia miliki. Bagusnya, ia tidak pernah serampangan mengutip dari situs-situs konspirasi. Landasan datanya dapat dipertanggungjawabkan karena diambil dari hasil penelitian koleganya baik di dalam maupun luar negeri.

Bisnis Online Tidak Ada Matinya

Dalam satu video pembisnis kelahiran Malang ini pernah menyatakan bahwa bisnis yang tidak ada matinya dan peluangnya besar ke depan nanti adalah melalui platform online. Dalam dunia bisnis di dunia virtual, Mardigu memang juga dikenal sebagai orang pertama yang berani mendirikan trading bitcoin di Indonesia. Meski sempat ditentang atau dapat semprit oleh BI (Bank Indonesia) dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) selaku regulator, ia tetap menggebu dan memperjuangkan apa yang telah diyakini. Akhirnya sejak awal September 2019, uang digital atau cryptocurrency dengan nama Cyronium telah mendapatkan izin beroperasi dan resmi diawasi oleh OJK.

Melalui PT Santara Daya Inspiratama, bisnis yang juga dikenal dengan blockchain ini membuka sayap untuk menggait para pelaku bisnis UKM di Indonesia. Program urun dana investasi (Equity Crowdfunding) ia tawarkan. Banyak yang gabung terutama di kalangan anak muda dan pembisnis pemula. Sampai saat ini Santara diklaim sebagai Equity Crowdfunding terbesar pertama di Indonesia.

Tidak sampai di situ saja, pemrakarsa Modern Monetary Theory (MMT) ini pernah mengatakan “negara-negara di dunia, utamanya negara Muslim, memang sedang berupaya melakukan dedolarisasi atau membuang dolar. Mereka mempertimbangkan untuk menjadikan dinar emas sebagai alat pembayaran Internasional.”

Ini ide gila dan konkrit. Dulu saya pernah menyimak pidatonya former prime minister Malaysia Tun Mahatir yang memiliki cita-cita yang sama. Ketika negara muslim di luar sana berkowar-kowar alias “mewacanakan”, di Indonesia ternyata sudah mulai digerakkan. Itu artinya dunia siap menunggu Dinar emas menjadi mata uang Global. Ke dapan akan tiba di mana era mata uang emas kembali bersinar lagi menggantikan Dollar.

Oleh karenanya, pada tanggal 20 Mei 2020 bertepatan dengan hari kebangkitan nasional, Mardigu Wowik meluncurkan aplikasi dengan dengan nama Dinaran. Sebuah platform untuk menabung atau investasi emas dan bisa dicairkan sewaktu-waktu. Platform anti inflasi ini membuat Rupiah semakin kuat dengan mengoptimalkan transaksi Rupiah bernilai emas. Jika emasnya naik maka nilai rupiah akan ikut naik. Setiap hari aset emas yang disimpan akan mengalami naik turun sesuai dengan naik turunnya harga emas dunia. Dalam arti Dinaran memiliki fungsi bahwa Rupiah yang ditabung memiliki underlying emas.

Ada satu lagi konsep yang tidak kalah keren, yaitu Viralmu.id. Sebuah brand tool online yang membantu para penjual online saling mempromosikan jaulannya secara gratis. Sistem e-Commerce ini memanfatkan gerakan sosial dengan cara teman mengendorse teman. Tanpa disadari mikro dan nano influencer yang biasa share dengan suka-suka ber[pensi sebagai promoter bisnis.

Baca Juga:

Belajar Bisnis Digital di Tengah Wabah Virus Corona
Kenapa Anak Muda atau Mahasiswa Perlu Berinvestasi?
Jangan Malu Unggah Foto Produk Bisnis Anda ke Internet, Siapa Tahu Nasib Anda Melebih Bayangan Anda

Maka, Viralmu.id selain bergaransi viral dan juga gratis ini mempunyai keunggulan di antaraya promoter dapat dipercaya, brand yang ditawarkan relevant, massa di media sosial yang jumlahlahnya sangat besar dan loyal tanpa dibayar, mereka akan merekomendasikan atau mendukung brand dan produk secara publik sehingga dapat mengarahkan teman dan follower untuk membeli.

Itu beberapa platform online dengan berangkat dari keresahan dan ingin hadir di tengah-tengah masyarakat menawarkan solusi dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui strategi bisnis yang lebih cerdas. Melalui gebrakan-gebrakan tersebut, pengusaha real-estate yang yang juga dijuluki Presiden Sontoloyo ini sekarang memiliki massa yang cukup militan. Follower di media sosial (telegram, fanspage, dan instagram) dan subscriber youtubenya meroket drastis.

Menjadi sosok Maestro Bisnis Indonesia, ia tidak pernah pelit ilmu. Selain via online, tips-trik menjadi konglomerat ia share di berbagai kesempatan offline. Seperti Kopdar Saudagar Nusantara, Mentoring Bisnis Pekanan, dan lain-lain. Beberapa yang mengikuti kelas bisnis Mardigu ini sudah berhasil dan mandiri. Bahkan membuka pelatihan bisnis untuk para pembisnis pemula juga. Selain bangga melahirkan banyak mentee yang sukses, ujungnya jadi sebuah amal jariyah tersendiri.

Ide Memajaki Kapal Asing di Laut Indonesia

Topik lain yang ingin saya ulas adalah terkait paradigma kekuatan nasional dalam geopolitik dunia. Pada suatu kesempatan lain, mantan pegiat di dunia intelijen dan shadow ini kerap menyinggung tentang geopolitik dan ketahanan nasional. Kritikan keras dan pedas bahkan sedikit radikal terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang lemah dalam geopolitik dan tidak mampu membayar hutang negara sering diterjemahkan negatif berbagai kalangan (terutama kubu pro penguasa). Hal ini juga yang menjadikan ketir-ketir sendiri oleh para barisan di belakang Mardigu saat ia diserang oleh buzzer politik untuk melemahkan dan mengkounter pernyataan-pernyataannya.

Ada satu video menarik yang saat itu saya tonton di instagramnya bossman, mengupas tuntas startegi pelunasan hutang negara dengan cara memajaki kapal asing yang lalu lalang melewati perairan/laut Indonesia. Negara-negara semisal Australia mau ke Tiongkok pasti melewati selat-selat yang menjadi jalur pelayaran dan perdagangan internasional sejak jaman Kerajaan Samudra Pasai. Naasnya, ia menyayangkan peluang ini tidak diambil oleh pemerintah.

Ketika dipajaki dengan satu dollar pun sudah dapat dipastikan akan membantu meningkatkan devisa negara dan Indonesia akan berdaulat. Namun selama ini gratis dengan alasan normatif yaitu hubungan diplomasi baik antar negara. Kalau bahasanya bossman, “Presiden nya kita saat ini orang baik sih”. Padahal jika negara-negara tersebut disuruh memilih daripada putar balik mau ke Utara melalui perairan Papua Newguinea pasti ongkosnya lebih mahal dan rugi triliuan dollar. Poinnya adalah dikarenakan kurang tegas dan tidak beraninya pemerintah Indonesia dalam mengambil sikap terhadap dunia internasional.

Sebagai salah satu yang suka mengikuti diskusi tergait geopolitik, salah satunya konflik batas perairan, dan sengketa pulau. Saya jadi teringat pernah menghadiri seminar di KBRI Bangkok mengundang pakar geopolitik dan batas maritim internasional Dr. I Made Andi Arsana yang juga dosen Geodesi UGM. Akhirnya saya mention di kolom komentar @madeandi. Tidak dibalas sih, tapi beberapa hari kemudian saya baru tahu kalau Pak Andi membuat satu video yang berjudul “Memajaki Kapal Asing di Laut Indonesia?”.

Dari video ini saya jadi tahu jika selat Malaka diportalin dan negara lain yang masuk dimintai pajak ternyata tidak diperkenankan. Menurut United Nations Convention for the Law of the Sea (UNCLOS) menjelaskan bahwa kapal asing yang masuk peraian negara lain diperbolehkan asal tidak melanggar aturan.

Dengan topik yang sama, penulis buku “Jangan Pernah Berkata Saya Tidak Pernah Memperingatkan Anda” ini sempat menghadiri kajian jamaah Maiyah Cak Nun lalu mengisi kuliah geopolitik di sana—hingga yang paling fenomenal ketika berbicara dalam podcast Deddy Corbuzier. Ia bertanya tentang “nation interest” pada studi kasus Indonesia mengambil Freeport dan dicaploknya nickel Morowali. Ia menyatakan bahwa ini adalah political gambit atau economic gambit yang blunder.

Menurutnya, para insan Indonesia kebanyakan pusing baca pelajaran geopolitik dan geostrategi. Ia bilang pelajaran seperti ini peminatnya sedikit sekali. Bahkan jauh lebih sedikit dari pembahsan tentang ekonomi. “Apa masih perlu di teruskan atau ganti topik yang popular saja?” kelakarnya.

Begitulah sosok dan pemikiran seorang Mardigu Wowiek Prasantyo, Bossman dan Presiden Sontoloyo dengan berbagai pro-kontra nya. Teman saya pernah bilang “Mardigu pasti ada niat di balik speak-up nya. Yang pada akhirnya untuk kepentingan bisnisnya.” Terlepas dari itu, saya pikir setiap orang sah-sah saja menilai. Karena Mardigu sendiri tidak pernah memaksa orang untuk mengikuti dan mengamini setiap apapun yang ia lontarkan. Mungkin dugaan saya, gaya komunikasi yang enak. Bahasa-bahasa yang lugas dan berbobot serta celetukan-celetukan guyon yang ia suguhkan menjadi pendengar maupun penonton suka. Kalau tidak salah, ia memang jago skill komunikasi dan micro expression.

Tidak heran semua videonya membius jutaan pasang mata dan selalu masuk trending. Bidikan strategis ekonomi untuk Indonesia yang selalu ia perjuangkan dengan dalih “jika saya diberi mandat” memunculkan spekulasi banyak kalangan kalau ini adalah bagian dari salah satu manuver untuk maju di pilpres 2024 nanti. Akan tetapi, apapun itu saya sebagai akademisi yang tentu suka ilmu-ilmu baru dan topik-topik menarik untuk diangkat dalam forum diskusi berniat selalu ambil manfaat dari apa yang Bossman sampaikan.

Jikalaupun nanti ia benar-benar maju itu adalah hak konstitusi sebagai warga negara. Kalau terjadi pasti seru juga. Pesaing beratnya Sandiaga Uno yang sama-sama getol di bidang bisnis dan strategi ekonomi. Namun jika tidak, saya pribadi ingin mencontoh kedermawanannya melalui Rumah Yatim Indonesia dengan kurang lebih 10.000 anak asuh. Pantas saja, Mardigu yang juga mengidolakan Bill Gate dalam soal filantropi rupanya adalah masih keturunan ndalem Ponpes Sidogiri Pasuruan. []