Minggu, Agustus 30, 2026
Beranda blog Halaman 28

Buya Syafii: Sosok Negarawan Kosmopolitan

0

Buya Syafii merupakan sosok negarawan yang otentik, produktif, dan langka. Buya menjadi contoh bagi generasi muda bagaimana menjaga pandangan kosmopolitan dan konsistensi antara ucapan dan tindakan. Kritiknya yang blak-blakan, pedas, dan tajam kerap membuat telinga pihak yang tersinggung kepanasan. Meski begitu, ia tetap kukuh di jalan kebenaran yang ia yakini. Di usianya yang ke-85 tahun ini, Buya tetap konsisten kritis dan produktif melahirkan gagasan-gagasan jernih. Sikap inilah yang harus diteledani generasi masa kini.

Kampusdesa.or.id-Nama Ahmad Syafii Maarif tentu tidak asing di telinga bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, terutama warga persyarikatan Muhammadiyah. Mantan ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah periode 1998-2005 ini merupakan sosok negarawan yang selalu ditunggu buah pikirannya. Sosoknya yang sederhana, namun begitu lugas saat melancarkan kritik terhadap fenomena sosial kebangsaan, mencerminkan kedalaman sekaligus keluasan pengetahuannya. Bahkan tak jarang kelugasan kritiknya yang seolah tanpa beban, kerap membuat panas telinga beberapa kalangan. Meski begitu, Buya Syafii─begitu sapaan karibnya─tetap konsisten dengan sikap kritisnya.

“Konsistensinya dalam bersikap kritis itulah yang justru menempatkan Buya Syafi’i di atas menara mercusuar, sehingga bisa mengamati berbagai persoalan dengan utuh, kemudian merenungkannya untuk mencari solusi pemecahannya.”

Konsistensinya dalam bersikap kritis itulah yang justru menempatkan Buya Syafii di atas menara mercusuar, sehingga bisa memandang berbagai persoalan dengan utuh, kemudian merenungkannya untuk mencari solusi pemecahannya. Buya sering juga tidak ragu mengambil sikap yang tidak populer. Bahkan, cenderung kontroversial. Misalnya pada 2016 silam saat ia menyatakan pembelaannya kepada Ahok yang kala itu divonis menistakan agama Islam berdasarkan fatwa MUI. Berikut pernyataannya:

“Sekiranya saya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu yang menghebohkan itu, dalam fatwa itu jelas dituduhkan bahwa Ahok telah menghina al-Qur’an dan menghina ulama sehingga harus diproses hukum, semua berdasarkan Fatwa MUI yang tidak teliti itu, semestinya MUI sebagai lembaga menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggungjawab, fatwa atau pandangan agama itu benar, shahih, jelas atau sama seperti apa yang disampaikan ahli agama, jadi jangan percaya sama orang.”

Ia lalu mengutip penggalan pidato Ahok, “Kan bisa aja dalam hati kecil Bapak dan Ibu ga bisa milih saya, karena dibohongin pakai Surat al-Maidah aat 51 macem-macem itu. Itu hak Bapak/Ibu ya.” Menurut Buya Syafi’i, hanya otak sakit saja yang berkesimpulan bahwa pernyataan ini mengandung penghinaan terhadap al-Qur’an. Menurutnya, yang dikritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya.

Baca Juga:

Salafi Merajalela, Di Mana NU dan Muhammadiyah?

Akibat kritik pedasnya ini, beragam kritik bahkan hujatan pun ia tuai dari berbagai kalangan, bahkan tokoh-tokoh Islam sendiri. Meski demikian, Buya bergeming, ia tetap konsisten dengan sikapnya. Misalnya lagi, kritik pedasnya terhadap puisi Neno Warisma di awal 2019 lalu yang disebutnya biadab, kritik terhadap mekanisme perubahan UU KPK, dan juga kritik terhadap MUI Jawa Timur yang mengimbau masyarakat supaya tidak mengucapkan salam pembuka agama lain dalam forum resmi.

Dari konsistensi atas sikapnya yang kritis dan tanpa tedeng aling-aling itu, kita bisa melihat bahwa Buya Syafii telah menanam dalam-dalam ego sektoralnya. Ia tak lagi takut dihujat atua tidak populer. Baginya urusan dirinya telah selesai, yang terpenting adalah bangsa dan negara. Menurutnya hal demikian ini belum banyak dimiliki oleh politisi tanah air. Kebanyakan dari mereka, menurut Buya, belum lulus menjadi negarawan. Sehingga, yang dipentingkan hanya urusan diri dan kelompok mereka sendiri.

“Gagasan-gagasannya tak lagi terbelenggu pada sekat-sekat identitas agama, suku, ras, dan golongan. Memang demikianlah seharusnya cara pandang dan cara berpikir seorang negarawan.”

Kritik-kritik Buya tak lahir dari ruang hampa, tapi dari hasil analisis dan sintesis serta perenungan mendalam berlandaskan pengetahuannya yang dalam dan luas. Pengalamannya yang panjang telah mengantarkan ia pada sikap beragama, berbangsa, dan bernegara yang kosmopolitan. Gagasan-gagasannya tak lagi terbelenggu pada sekat-sekat identitas agama, suku, ras, dan golongan. Memang demikianlah seharusnya cara pandang dan cara berpikir seorang negarawan.

Keutuhan bangsa dan negara ini akan tetap lestari manakala semua anak bangsa memiliki pengetahuan yang luas dan mampu berpandangan kosmopolitan. Pandangan ini tak lagi mendiskriminasi dan mengkotak-kotakkan manusia atau dalam hal ini warga negara berdasarkan identitas kulturalnya. Ia memposisikan semua warga negara sama terlepas apapun suku, agama, ras, dan golongannya. Orang dengan pandangan demikian ini, tak ragu untuk membela kaum minoritas, sekalipun ia akan menuai kecaman dari kaum minoritas.

Gus Dur dapat kita jadikan contoh yang baik dalam hal ini. Gus Dur dalam catatan sejarah perjuangannya telah berhasil memandang manusia sebagai manusia. Ia tidak ragu membela siapa saja yang menjadi korban ketidakadilan, sekalipun itu kelompok minoritas, bahkan orang yang memusuhinya. Lihat saja bagaimana Gus Dur membela etnis Tionghoa ketika mendaptkan persekusi, Inul Daratista ketika wal kemunculannya dikritik tajam oleh banyak kalangan. Pembelaan Gus Dur terhadap mereka melitasi sekat-sekat sosial kultural yang kerap membelenggu kita.

Kini, Buya telah menginjak usia 85 tahun. Sebuah usia yang tentu tak lagi muda. Namun demikian, gagasan-gagasan segar lagi jernih masih produktif keluar darinya. Generasi muda bangsa ini harus belajar banyak kepadanya. Terutama dalam hal produktivitas berkarya dan membangun cara pandang serta berpikir yang kosmopolitan. Generasi muda harus tumbuh menjadi manusia yang berpengatahuan luas, tidak kagetan, dan mampu berpikir jernih di tengah situasi yang karut marut sekalipun.

Sanah hilwah Buya, semoga panjang umur, sehat, dan tetap istikamah momong bangsa kita ini.

Mengenal Filosofi Ketupat Lebaran dari Si Mbah

0

Selain cerita dari Si Mbah, banyak referensi yang menyatakan filosofi dari “Ketupat”. Ada yang membeberkan ajaran-ajaran para wali, pesan moral dari masyarakat jawa, maupun menafsirkan simbol-simbol ini dari segi pendidikan. Apapun itu, yang terpenting di balik lezatnya sepotong ketupat ternyata tersimpan filosofi yang begitu indah yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan manusia, terutamanya umat muslim. Silakan disimak ulasan dalam tulisan berikut ini.

Kampusdesa.or.id–Lebaran selalu jadi momen istimewa. Setiap lebaran selain momen kumpul keluarga, ada salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu adalah makan opor ayam. Tidak lengkap rasanya jika opor ayam tanpa ketupat. Berkumpul bersama keluarga besar sambil menikmati hidangan yang hanya ada satu kali dalam setahun ini rasanya memang berbeda. Bisa jadi makan ketupat saat momen lebaran sudah jadi tradisi turun-temurun di Indonesia. Maka tidak heran sebagian menyebut hari raya idul fitri dengan istilah lebaran ketupat (Jawa: rioyoyo kupat/kupatan). Sampai dengan memasuki bulan syawal tradisi makan ketupat ini masih menjadi semarak di Indonesia.

Sebagai anak rantau di negeri orang, tentu saya juga tidak mau ketinggalan. Seperti menjadi hal yang wajib bisa mencicipi makan ketupat di hari lebaran, karena sudah terpatri dalam budaya Indonesia bahwa ketupat adalah bukan makanan biasa. Pokoknya harus ada di antara hidangan lainnya. Untung di sini setiap hari raya idul fitri bisa makan ketupat di Kedutaan saat acara open house di wisma nusantara. Sayangnya di masa pandemi sekarang ini momen tersebut tidak dapat saya rasakan kembali. Tentu sedih karena kangen suasana kumpul-kumpul sembari makan ketupat sebagai “tombo kangen” keluarga di rumah.

Ada hal lain yang saya kangeni jika mengingat tentang “ketupat”, yaitu almarhum kakek. Dulu sewaktu kecil, kakek saya si mbah Marzuki pernah mengajari cara membuat ketupat, dengan janur kelapa yang biasa kami beli di pasar. Saat belajar membuat ketupat, beliau juga menceritakan sejarah ketupat dan filosofi di balik ketupat ini. Setelah saya baca-baca ulasan di berbagai artikel, ternyata kurang lebih sama meski ada sedikit perbedaan atau tambahan.

Ketupat itu berasal dari masa hidup Sunan Kalijaga (ada sumber lain yang mengatakan sejak pemerintahan Demak), tepatnya di masa syiar Islam di Indonesia pada abad ke-15 hingga 16. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman. Alkulturasi budaya jawa yang dibumbuhi ajaran Islam ini sebagai bentuk media dakwah bagi Sunan Drajat. Sehingga mudah dalam menyampaikan dan mengena, buktinya masih tetap dilestarikan hingga sekarang.

Sebelum saya paparkan mengenai filosofi ketupat bagi yang belum tahu, ketupat itu berasal dari masa hidup Sunan Kalijaga (ada sumber lain yang mengatakan sejak pemerintahan Demak), tepatnya di masa syiar Islam di Indonesia pada abad ke-15 hingga 16. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman. Alkulturasi budaya jawa yang dibumbuhi ajaran Islam ini sebagai bentuk media dakwah bagi Sunan Drajat. Sehingga mudah dalam menyampaikan dan mengena, buktinya masih tetap dilestarikan hingga sekarang. Walaupun saya yakin tidak banyak yang tahu apa makna di balik ketupat ini.

Banyak yang beranggapan kata “Kupat” juga berasal dari “Ngaku Lepat”. Kata yang berasal dari bahasa Jawa ini memiliki arti “mengaku bersalah”. Jadi ketka hari raya Idul Fitri biasanya dijadikan ajang mengakui kesalahan masing-masing dan saling bermaaf-maafan.

Si mbah saya mengatakan kalau karena umumnya ketupat disajikan beserta opor ayam yang bersantan, di mana dalam pantun Jawa dikatakan “kupat santen” artinya “kulo lepat nyuwun ngapunten”. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya “saya salah, saya minta maaf”. Banyak yang beranggapan kata “Kupat” juga berasal dari “Ngaku Lepat”. Kata yang berasal dari bahasa Jawa ini memiliki arti “mengaku bersalah”. Jadi ketka hari raya Idul Fitri biasanya dijadikan ajang mengakui kesalahan masing-masing dan saling bermaaf-maafan.

Ketupat dibungkus dengan janur (daun muda krambil atau kelapa) ini juga mengandung makna yang bagus. Dulu para wali berdakwah tidak hanya menyerap bahasa masyarakat setempat, tetapi juga mengenalkan bahasa arab sebagai bahasa leluhurnya. Janur diambil dari kata “jatining nur” yang dijadikan lambang cahaya hati nurani.

Bentuk ketupat yang balok segiempat ini juga mengandung pesan. Pada masa Islam, Sunan Kalijaga memberikan sentuhan makna lain. Empat sisi ketupat direpresentasikan dengan Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan. Semua ini berhubungan dengan sikap manusia. Lebaran berarti pintu ampun yang dibuka lebar terhadap kesalahan orang lain. Luberan berarti melimpahi, memberi sedekah pada orang yang membutuhkan. Leburan berarti melebur dosa yang dilalui selama satu tahun. Adapun, Laburan yakni menyucikan diri, bersih kembali layaknya bayi tanpa dosa.

Adapun versi lain menafsirkan bahwa anyaman janur melambangkan tali silaturahmi. Pola anyaman yang rapi melambangkan kesempurnaan. Beras menggambarkan nafsu duniawi dan yang terakhir isi ketupat berwarna putih mencerminkan kesucian hati. Rupanya selain lezat, di balik sepotong ketupat tersimpan filosofi yang begitu indah yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan manusia, terutamanya umat muslim.

Beda halnya menurut Idirs Apandi (2017), ketupat bukan hanya sekedar menu wajib lebaran, tetapi jika ditelaah dari konteks pendidikan, ada tujuh pesan moral  yang dapat dijadikan pelajaran di antaranya kebersihan, kebaikan, penuh perhitungan, proporsionalitas, persatuan, keindahan, dan sinergi. Berdasarkan kepada uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ketupat bukan hanya makanan yang enak dinikmati pada saat lebaran, tetapi memberikan sejumlah pesan moral untuk meningkatkan kualitas diri bagi manusia yang berpikir.

Apa daya saya yang jauh dari rumah, tidak bisa menikmati hidangan spesial ini. Hanya bisa memasang muka pengen sambil menyanyikan lagu “Ketupat Lebaran” sebagai berikut:

Nana nanan nana
Ketupat lebaran
Nana nanan nana
Ketupat lebaran
Ketupat lebaran dengan sayap opor ayam
Disantap sepulang dari shalat idul fitri
Untuk kakek dan nenek tetangga sahabat
Senangnya…
(Tasya, 2000)

Wallahua’lam.

Menuju Guru Profesional

0

Suatu kali, dalam sebuah perlombaan gajah di Thailand, tidak ada yang bisa menundukkan tantangan menangiskan gajah. Sesuatu yang mustahil kan, tetapi semustahil apapun, ternyata di antara pawang gajah negara-negara Asean, hanya pawang gajah Indonesialah yang mampu menembus kemustahilan tersebut. Pawang ini mampu membikin gajah menangis bukan kepalang. Apa yang kemudian dilakukan oleh pawang Indonesia tersebut? Sederhana kata pawang Indonesia tersebut, “saya membisikkan, jah-gajah, kamu dengarkan ya, guru kita di Indonesia itu, gajinya guru itu hanya cukup sepekan lo gajah, dan tidak cukup bisa digunakan bertahan tiga pekan kemudian.” Mengapa begitu?

Kampusdesa.or.id — KATA menuju dalam KBBI mempunyai ragam arti tergantung kalimat pengiringnya. Sehingga pemaknaan kata ini dikatagorikan dalam kelompok (kelas) verba. Atau kata kerja yang dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya.

Merujuk pemaknaan kata tersebut maka judul tulisan menuju guru profesional bisa diartikan sedang atau berproses untuk menjadi (guru profesional) atau lebih tepatnya jalan untuk meraih gelar guru profesional. Karena berproses menuju (tingkatan) yang lebih baik itu, maka perlu ada sarana dan prasarana pendukung yang tepat. Sehingga mampu menjadi sosok yang benar dan amanah dalam menjalankan tugas mulia itu.

Penyadaran diri yang sampai pada titik kesadaran, bahwa diri guru merupakan sosok pemeran utama sekaligus ‘the living curriculum’.

Menjadi sosok yang benar dan amanah inilah sebenarnya kunci membuka ‘kotak pandora’ dari lembaran menuju titik kesadaran diri. Titik kinerja yang membutuhkan proses penyadaran panjang dan harus dilakukan oleh guru itu sendiri. Penyadaran diri yang sampai pada titik kesadaran, bahwa dirinya merupakan sosok pemeran utama sekaligus ‘the living curriculum’.

Berat, penuh rintangan dan jalan berliku pasti. Berharap ‘spiritual meaning’ dari sosok panutan dalam melakoni profesinya. Apalagi kalau sudah dikaitkan dengan faktor ekonomi, khususnya untuk sejawat guru yang mengajar di sekolah swasta dan masih menjadi GTT di sekolah negeri.

Mendapat tunjangan profesi (TPP) pun masih harus mengencangkan ikat pinggang. Fenomena masih terpuruknya gaji sejawat guru ini mengingatkan penulis pada kisah lomba gajah yang di paksa menangis.

Kisah dan Ihwal air mata gajah ini sebenarnya anekdot belaka. Konon sekitar tahun 70-an atau 80-an, ada festival gajah di Negeri Gajah Putih (Thailand). Salah satu nomor yang dilombakan adalah uji kemampuan (nyali) para pawang gajah dari negara-negara Asean. Jenis perlombaannya unik, para pawang itu harus mempengaruhi gajah agar bisa menangis. Bukan sekedar tangis biasa, namun sebisa mungkin tangis haru. Semua pawang dari negara-negara Asean gagal meskipun diantara mereka ada yang melakukan dengan cara kekerasan, sampai kemudian muncul pawang yang berasal dari Indonesia.

Pawang dari Indonesia inipun mendekati gajah dengan tenang, lalu membisikkan sesuatu. Ajaib! Tidak lama kemudian, gajah menangis dengan penuh keharuan dalam tempo yang cukup lama. Semua yang hadir terkejut. Kata apa yang telah dibisikkan oleh sang pawang kepada gajah itu sehingga meluluhkan keteguhan hatinya.

‘Saya coba membisikkan nasib guru di Indonesia yang hidupnya masih jauh dari sejahtera. Jangankan satu bulan, bahkan belum sampai sepekan gajinya mulai menipis yang tidak menyukupi untuk menopang kehidupannya tiga pekan kemudian’, jelas pawang gajah dari Indonesia itu.

Kisah fiktif inspiratif sekaligus ‘mengenaskan’ di atas setidaknya membuka mata kita lebar-lebar bahwa menggugah kesadaran pemangku kebijakan dengan ‘guyon pari keno’ ini, hingga kini harus terus dikobarkan. Dilakukan dan diupayakan agar profesi guru mempunyai daya tawar tinggi di hadapan semua pihak.

Langkah menuju guru profesional

Tanpa didukung kekuatan finansial yang memadai dan adanya kemauan untuk terus maju mustahil langkah menjadi guru profesional terwujud.

Menuju sehingga menjadi guru yang profesional mudah diucap tetapi bukan perkara mudah. Terlebih dengan perkembangan jaman yang demikian pesat. Tanpa didukung kekuatan finansial yang memadai dan adanya kemauan untuk terus maju mustahil langkah menjadi guru profesional terwujud. Perlu kesabaran dan keikhlasan agar kita bisa menjadi seorang guru yang profesional.

Berikut sepuluh cara yang dapat ditempuh agar langkah menuju guru profesional bisa terwujud. Pertama, mau mengerti tuntutan perubahan yang diharapkan masyarakat, memahami gaya hidup dan perilaku siswa, mengembangkan wawasan dan kompetensi keilmuan, serta mengeliminasi kendala dan hambatan yang ada dalam diri maupun lingkungan sekitar.

Kedua, memiliki semangat untuk memberi dan menerima (take and give) inspirasi rekan kerja (sesama pendidik) maupun siswa demi tumbuh kembangnya mutu dan meningkatnya daya saing, mengenali ‘resources’ dan memanfaatkan sebagai sumber dan media pembelajaran yang dapat meningkatkan daya kreativitas siswa.

Ketiga, memanfaatkan sebaik-baiknya kebutuhan dan harapan dari masyarakat akan peran besar pendidikan sebagai pedoman dasar dalam menjalankan kehidupan profesional sebagai seorang guru/pendidik.

Keempat, selalu ingin mengembangkan konsep pembelajaran yang relevan terkait dengan karakter dan kompetensi yang dibutuhkan oleh siswa dalam meraih cita-cita demi masa depan lebih baik.

Kelima, membangun citra positif sebagai seorang pendidik yang menjadi suri teladan, mampu menumbuhkan motivasi dan inspirasi peserta didik serta memiliki etos, kredibilitas dan integritas sebagai seorang pendidik.

Keenam, mengembangkan inovasi dan strategi pembelajaran dengan menggali sumber dan media belajar serta memanfaatkan teknologi informasi komunikasi dengan cara yang luar biasa dan kreatif.

Ketujuh, memiliki interpersonal skill sebagai wujud dari implementasi kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial seorang pendidik guna membangun semangat berprestasi dalam diri peserta didik.

Kedelapan, meningkatkan pelayanan prima pendidikan melalui upaya peningkatan potensi dan karakter siswa secara individual, memiliki kecakapan empati serta memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna kepada peserta didik.

Kesembilan, evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran secara berkesinambungan dengan pengukuran efektivitas kegiatan pembelajaran lebih nyata dan akurat, serta berani menerima kritikan dan bersedia melakukan perbaikan mutu kegiatan belajar dan mengajar.

Kesepuluh, mampu dan dapat membuktikan efektivitas dan kebermanfaatannya dari proses pembelajaran yang diberikan dalam bentuk kompetensi dan karakter yang integratif bagi siswa serta ada rasa bangga dalam dirinya.

Dengan kemampuan yang dimiliki ditunjang kemauan untuk terus berbenah maka realitas the living curriculum pasti terwujud. Kegiatan pengembangan diri yang dilakukan dengan kesadaran penuh seperti mengikuti beraneka ragam workshop, training, seminar sebuah keniscayaan. Gerakan semacam ini pasti mengalir dan tidak harus dijalankan dalam bentuk formal. Yang dibutuhkan kemauan untuk terus belajar tanpa henti dan kemudian diaplikasikan dalam praktik pengajaran dan pendidikan. Atau dengan melakukan CPD (Continues Personal Development) secara mandiri pun bisa dilakukan.

Apakah dengan mengunggah jargon menuju guru profesional bisa mentransformasikan dirinya sebagai the living curriculum? Jawabannya pasti. Semoga

Pemuda Adalah Pemegang Tongkat Estafet Pembangunan Desa

0

Ada yang cukup menarik dari diskusi via live instagram bersama Pak Nur Rozuqi (Ketua Forum Sekretaris Desa Se-Indonesia) yang mana beliau juga penggagas Gerakan Desa Merdeka, Lembaga Kajian Desa, dan Padepokan Desa. Di dalam akhir diskusi yang kami namakan tadarus online ini selain bahas seputar BLT Dana Desa, rupanya Pak Nur -sapaan beliau menyinggung mengenai peran kalangan pemuda sebagai penggerak utama dalam pemberdayaan desa, terlebih lagi ikut serta aktif berpartisipasi dalam Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD).

Kampusdesa.or.id–Generasi lama kadang sulit menerima informasi baru untuk menunjang ekonomi desa melalui BUMDES agar tidak hanya mengandalkan anggaran desa. Sebenarnya salah satu dalam pedoman penganggaran itu sudah diarahkan oleh pemerintah. Ada lima pos anggaran. Dalam kondisi normal hanya ada empat pos. Namun dalam kasus pandemi atau bencana lain ada pos lain berupa program kondisi darurat.

Jadi dalam nomenklatur APBDes itu udah ada pos-pos nya. Pertama, pos bidang penyelenggaran pemerintahan (urusan insentif, gaji, pelayanan, ATK, sarana prasarana). Kedua, bidang pembangunan baik fisik maupun non fisik, seperti pembangunan di bidang kesehatan, pendidikan, infrastruktur include bidang pemukiman dan bidang telekomunikasi. Ketiga, bidang pembinanan masyarakat. Sosialisasi terkait program-program pemerintah dan regulasi-regulasi pemerintah. Keempat, bidang pemberdayaan. Pada bidang ini lebih kepada ekonomi produktif, keteampilan. Misalnya meningkatkan kapasitas kapasitas pemuda di bidang olahraga, keterampilan, pelatihan kerja. Juga untuk perempuan ada home industri dan BUMDes. Kelima, bidang darurat. Kalau dulu memakai anggaran cadangan. Sekarang sudah dianggarkan sendiri buat jaga-jaga saat kondisi insendental.

Pentingnya Melibatkan Generasi Muda dalam Penganggaran

Anggaran dana desa itu salah satu prioritasnya adalah untuk meningkatkan kualitas masyarakat terutama pemuda desa. Selama ini fokus desa mayoritas orentasinya menganggarkan masih berpikir tentang pembangunan fisik saja. Banyak desa yang justru pos untuk pembinaan masyarakat tidak dianggarkan. Itu berarti membuktikan pemerintah desa tersebut tidak peduli terhadap peningkatan kapasitas masyarakatnya. Mereka tidak berusaha hadir di tengah masyarakatnya untuk memberikan pencerahan dan informasi tertentu.

Kemudian pemberdayaan masyarakat juga begitu. Jika sangat kecil prosentasenya, maka itu berarti pemerintah desa tidak menghendaki masyarakatnya berkembang perekonomiannya, kesejahteraannya, dan kualitas hidupnya. Hal ini bisa dilihat dari data APBDes desa tersebut, hanya menganggarakan dua pos yakni untuk penyelenggaran pemerintahan dan pembangunan fisik. pemberdyaan dan apalagi pembinaannya tidak ada. Berarti kan pemerintah desa tidak pernah hadir.

Kebanyakan beralasan jika anggaran hanya dilarikan ke pembangunan fisik lebih mudah pelaporannya, mudah ini itunya. Nanti semisal untuk pembinaan laporannya lebih rumit. Semisal pembinaan harus mengundang orang, butuh surat undang, konsumsi butuh stempel dari warung, jadi ribet, dan ujung-ujungnya berpikir tidak dapat cipratan apa-apa dari situ.

Diterima atau tidak oleh para pemangku desa, sampai hari ini pemerintah desa banyak yang enggan hadir di tengah masyarakatanya. Itu dapat dibuktikan di nomenklatur APBDes nya. untuk program pembinaan masyarakat sangat rendah bahkan ada yang tidak memrogramkan sama sekali. Pemberdayaan yang sangat kecil anggarannya. Bahkan di bidang pembangunan sendiri lebih banyak difokusnya pada fisik, untuk bidang pendidikan dan kesehatan ini rendah. Bagaimana sekarang nasib guru PAUD, disabilitas, dan Posyandu tidak terurus. Padahal ada anggarannya dan harus dipakai.

Baca Juga:

Bantuan Langsung Tunai Dana Desa Menurut Ketua FORSEKDESI
Pemuda sebagai Informal Leader: Penggerak Masyarakat Menuju Desa Lebih Baik
Desa dan Komunikasi

Jika tidak dianggarkan, masyarakat sangat bisa mengajukan terkait peningkatan SDM. Namun secara normal jika pemerintah desa itu peka dan cermat terhadap kebutuhan dan pro rakyat, pasti tetap dianggarkan pun tanpa adanya pengajuan dari warganya. Selebihnya masyrakat bisa terbuka dan mengusulkan lewat Musrembang yang diadakan oleh Pemerintah Desa.

“Di Musrembang nanti akan diundang dari perwakilan Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD). Ada karangtaruna, PKK, ada Linmas, RT, RW, ada dari Posyandu, dan macam-macem,” terang Pak Nur Rozuqi.

Di sinilah momen tepat merumuskan angaran-anggaran dan rencana kebutuhan selama setahun dan dalam Musrembang ini hasilnya akan diusulkan oleh pemerintah desa dan bisa dipakai untuk merumuskan penyususnan RKP oleh yang namanya tim sebelas. Lalu hasilnya diajukankan lagi oleh Kepala desa kepada BPD untuk membuat rancangan RKPDes dalam Musrembangdes.

Di dalam pelaksanaan Musrembangdes, BPD juga mengundang tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh pendidikan, dari institusi di desa (ormas) atau tokoh-tokoh personal karena kemampuannya, atau bisa dikatakan stake holder-nya. Dan di musyawarah inilah kesempatan mendorong masyarakat yang diwakili para tokoh untuk berpartisipasi aktif. Karena cara melaksanakan pembangunan desa yang benar adalah berbasis partisipatif.

Tapi faktanya masih banyak desa yang tidak melaksanakan atau melalui langkah ini. Kebanyakan yang menentukan anggaran dan perencanaan hanya kalangan elitis-elitis saja tanpa melibatkan warganya. Akibatnya program yang diterima tidak partisipatif, masyarakat hanya menjadi penonton, tidak dijadikan subyek sehingga menjadi tidak merasa memiliki (tidak ada sense of belonging).

Seandainya masyarakat terutama pemudanya dilibatkan, maka tidak akan ada pengajuan proposal setiap kegiatan yang ada di desa. Tidak perlu mengemis minta sumbangan swadaya dan mencari donatur ke sana sini. Jika dilibatkan dalam mustrembang, pasti dengan sendirinya akan masuk otomatis sudah dianggarkan di awal.

“Sebagai contoh saat musrembang bisa bilang: Ini pak, ada tawaran dari karangtaruna program butuh dana sekian…” kata Pak Nur Rozuqi mencontohkan.

Akan tetapi jika mereka tidak pernah diundang ya tidak terkover di anggaran. Dan ini masih terjadi dan banyak yang tidak tahu. Padahal dalam penyusunan RKPDes dan APBDes ada tim penyusun harus terdiri dari perangkat; kaur perencanan, sekdes, LPM, pemuda desa, dan unsur perempuan (PMK). Mereka harus terlibat semuanya. Namun, apabila masih muncul kegiatan kok mengajukan proposal ke Kades, ini jelas ada yang salah dalam suatu mekanismenya.

Tidak bisa dipungkiri jika terjadi demikian, beragumen seperti apapun pemerintah desa tetap bisa disalahkan. Karena faktanya unsur-unsur tadi tidak dilibatkan. Ada fase atau tahapan yang tidak dilalui. Pemerintah desa tidak menerapkan pembangunan parsipatif tapi elitis.

Pemuda adalah Generasi Masa Depan

Karangtaruna sekarang juga sering diabaikan oleh para sesepuh atau elitis yang punya jabatan, karena dianggap belum punya andil atau jasa terhadap desa. Maka ini sungguh keliru. Karena di dalam pelaksanakan kegiatan di desa, karangtaruna harus dilibatkan karena menurut peraturan sekarang ini, karangtaruna termasuk dalam salah satu struktur Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD). Berdasarkan peraturan Menteri Dalam Negeri No 18 Tahun 2018 yang mengatur unsur LKD ada PKK, LPM, Posyandu, termasuk karangtaruna masuk di dalamnya.

Jika di desa ada pembangunan, pasti memerlukan tim namanya TPK (Tim Pelaksana Kegiatan). Membangun lapangan pasti karangtaruna yang terlibat di sit, contoh pelatihan keteramilan perempuan, maka PKK yang dilibatkan (kasarannya dimasukan sebagai panitianya). Karena mereka yag lebih tahu kebutuhan dan agar tepat sasaran. Jadi jika menyangkut persoalan pemuda, dari kalangan mereka dipercaya atau dipasrahi pasti lebih ngerti karena generasinya beda.

Kalau di desa sampai tidak melibatkan generasi mudanya berarti para pemangku desa tidak peduli terhadap masa depan. Berarti tidak paham bahwa generasi ke depan adalah milik pemuda buka generasi tua. Ini yang harus dipahami.

Kalau di desa sampai tidak melibatkan generasi mudanya berarti para pemangku desa tidak peduli terhadap masa depan. Berarti tidak paham bahwa generasi ke depan adalah milik pemuda buka generasi tua. Ini yang harus dipahami.

“Pemerintah di tingkat manapun kalau peduli terhadap bangsa ini maka pasti peduli terhadap pemuda. Karena di pemuda inilah masa depan kita,” kata Pak Nur Rozuqi sedikit keras.

Bagiamana ikut andil meramut desa dengan baik jika sejak muda tidak diajari, di-training. Maka yang terjadi nanti adalah beralih generasi, berubah total pasti generasi muda mengabaikan apa yang sudah dibangun atau ditinggalkan para generasi tua, akhirnya jadi terbengkalai. Sehingga estafet ini harus disiapkan dengan baik, maka yang terjadi adalah adanya regenerasi dan pembangunan berkelanjutan. Maka adanya pengkaderan, pemberian tanggung jawab dan kepercayaan buat estafet program di desa sangatlah penting.

Muncul juga sikap apatis dari generasi muda yang dapat dilihat dari banyaknya anak muda di desa yang lebih memilih di luar, setelah sekolah atau kulah tidak pulang ke desa, dan merantau atau berkarir mencari pekerjaan di luar dengan alasan di desa tidak ada lapangan pekerjaan.

Di sisi lain, muncul juga sikap apatis dari generasi muda yang dapat dilihat dari banyaknya anak muda di desa yang lebih memilih di luar, setelah sekolah atau kulah tidak pulang ke desa, dan merantau atau berkarir mencari pekerjaan di luar dengan alasan di desa tidak ada lapangan pekerjaan.

Maka ini sebetulnya juga PR pemerintah desa, jika momen anggran dana desa lebih dititik beratkan untuk pemberdayaan keterampilan. Salah satunya potensinya dapat membuka lapangan pekerjaan sendri tidak perlu keluyuran (urban) ke kota. Bisa diajak mengelola BUMDes untuk kas desa, Pasar Desa, berwirausaha melalui UMKM, mendirikan Lembaga Keuangan Mikro (LKM), koperasi, dan lain-lain. Dari sini akan menyerap tenaga kerja. Belum lagi yang ikut andil bergerak di sektor pendidikan, pertanian, peternakan, dan perekonomian lainnya.

Ini sebenarnya yang masuk dalam nawacita presiden, yakni membangun desa dari pinggiran. Bangun dulu kualitas hidup manusianya nanti manusia secara otomatis akan membangun kualitas fisik desa. Maka dibutuhkan orang-orang yang memiliki pemikiran dan mampu mengubah suatu mindset.

“Ayolah kita bangun desa ini dari manusianya bukan fisiknya dulu,” ajak Pak Nur Rozuqi.

Mindset generasi tua dan muda ada gap dan tidak jarang jika generasi muda turut bersuara malah bilang sok pinter dan belum pengalaman. Padahal menyampaikan kebutuhan sesuai kebutuhan generasi sekarang dan perkembangan terkini. Seharusnya aspirasi ini ditampung tidak malah terpaku pada pemikiran secara konvensional.

Peran Pemuda melalui Karang Taruna

Yang menjadi kewenangan oraganisasi pemuda di desa itu adalah karangtaruna, yang mana sudah diatur berdasarkan peraturan menteri dalam negeri No 18 Tahun 2018 tentang Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) dan Lembaga Adat. Kemudian program dan detil tentang karangtaruna diatur sendiri oleh Kementerian Sosial No 25 Tahun 2019. Habis itu ada PDPRT nya berdasarkan peraturan menteri. Jadi keliru jika ada karang taruna rapat mau membikin ADRT sendiri.

Karangtaruna harus punya SK, sama seperti RT/RW, PKK. SK nya dari kepala desa dan ada periodesasinya. Karangtunadesa mati atau dimatikan itu pertanda masyarakat di desa tersebut tidak peduli dengan masa depannya sendiri. Jika di desa kok tampak belum pernah disentuh sama sekali, maka harus ada keberanian untuk melibatkan diri.

“Berperan aktiflah para pemuda, karena Anda lah pemilik masa depan desa ini. Kalau tidak dilibatkan, pro aktif. Karena di situ ada banyak anggaran yang bisa digunakan untuk pemuda. Karena apa? Yang dimaksud dengan pemuda di sini jangan sampai menjadi obyek. Saya lebih suka jika pemuda menjadi subyek daripada pembangunan,” kata Pak Nur Rozuqi menghimbau.

Sejarah negara kita ini sudah membuktikan berualang kali. Revolusi Indonesia identik dengan gerakan pemuda. Mulai dari Budi Utomo, Sumpah Pemuda, proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, berdirinya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), serta adanya Reformasi yang juga digawangi oleh anak-anak muda.

Sejarah negara kita ini sudah membuktikan berualang kali. Revolusi Indonesia identik dengan gerakan pemuda. Budi Utomo tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, 17 Agustus juga pemuda. Seandainya para pemuda tidak menculik Ir. Soekarno ke Rengasdenglok, maka tidak akan terjadi proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ada lagi tahun 1966 para generasi muda melopori berdirinya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), serta pada tahun 1998 adanya Reformasi yang digawangi oleh anak-anak muda.

Itu bukti riil, bahwa perubahan yang mendasar pada kondisi jalannya pemerintahan di negara ini adalah tidak luput dari peran pemuda. Maka, di desa pun harus memakai analogi itu. Jika anda diam atau cukup legowo dengan menjadi penonton, maka Anda tidak punya masa depan. Desa anada akan stagnan.

Termasuk dalam penanganan kondisi darurat Covid-19 ini. Teman-teman muda seyogyanya ikut terlibat aktif dalam menangani. Tidak hanya ikut terlibat di lapangan, tapi juga terlibat dalam perencenaan. Sehingga tahu persis dan dapat berlatih bagaimana me-manage sebuah penganggaran kegiatan.

“Tidak perlu bingung dengan banyaknya regulasi akhir-akhir ini untuk mengkover. Kita kalau berprasangka baik (khusnudzon) bahwa regulasi yang diperuntukan untuk desa sebelum ada Covid-19 sebenarnya sudah cukup mewadahi,” tegas Pak Nur Rozuqi.

Pemuda harus berpartisipasi dan tidak apatis terhadap pembanguan di desa. Karena kontribusi melalui inovasi dan gagasan dari generasi muda sangat diperlukan dalam kemajuan desa. Pemuda juga harus ikut mengawal dana desa dan menyelamatkan desa dari penyamun-penyamun uang rakyat. Pada akhirnya, pemuda adalah pemegang tongkat estafet pembangunan di desa.

Terimakasih.

Seri Millenial Parenting: Seni Menciptakan Peluang di Masa Luang bagi Bujang

0

Dalam tulisan ini mengurai beberapa seni dan strategi menciptakan peluang bagi bujang, terutama di masa pandemi Covid-19. Bagi, orangtua hendaklah memahami bahwa ananda tercinta yang masih bujang pastilah perlu arahan, dukungan, bimbingan, perhatian, dan pasangan, namun di masa Pandemi Covid-19 seperti ini, unsur kreativitas tetap diperlukan untuk mengefektifkan penggunaan waktu luang. Meskipun pandemi, mari kita bersama membangun negeri.

Kampusdesa.or.id–Di masa pandemi Covid-19 ini, ada sementara orangtua yang sibuk Work from Home (WFH), sehingga boleh jadi lupa berbagi strategi untuk putra atau putrinya yang masih lajang dan punya banyak waktu luang. Padahal banyak sekali kegiatan positif, produktif, dan inovatif yang dapat dilakukan Ananda yang masih bujang, di masa luang.

Pertama, membuat video edukatif atau informatif, berdurasi singkat, lalu memviralkannya di You Tube atau media sosial. Sekarang ini mayoritas orang menyukai hal-hal praktis, kurang suka membaca, lebih menyukai video yang ada unsur humornya. Maka video yang berunsur edutainment (ada unsur edukasi dan infotainment alias hiburan) pastilah dapat memikat banyak netizen. Tren di bulan Ramadan ini menunjukkan bahwa tayangan Islami atau video religi mengalami peningkatan jumlah penonton, like, share, dan subscribe.

Kedua, belajar singkat dari berbagai sumber terpercaya di internet. Beragam platform pembelajaran elektronik, mulai dari yang gratis hingga berbayar, dari yang bersertifikat, lisensi diploma,  hingga tanpa sertifikat tersedia di internet. Materinya pun beragam, ada tingkat pemula (basic), menengah (intermediate), hingga mahir (expert). Bidang kajiannya pun beragam, mulai dari bidang ilmu sosial, eksakta, humaniora, serta bahasa asing.

Di era pandemi Covid-19 ini, orangtua dapat mengarahkan ananda tercinta untuk mengikuti beberapa webinar, pelatihan daring, workshop digital, atau seminar virtual. Sebagian di antaranya ada yang berbayar murah, berbayar mahal, dan sebagian lagi ada yang gratis. Sarankanlah ananda untuk mengikuti yang sesuai dengan passion dan minatnya. Hendaklah orangtua juga secara bijaksana menyarankan agar ananda tercinta tidak mengikuti webinar semata karena “haus-sertifikat”.

Ketiga, mengembangkan dan mengasah bakat, minat, kreativitas, dan passion di bidang seni dan budaya. Misalnya menulis lagu, menciptakan tarian modern, menginventarisasi pakaian-tarian adat-tradisional di daerah tertentu, belajar peribahasa lokal, berlatih olah vokal, belajar tembang Macapat, merevitalisasi permainan tradisional melalui platform game edukatif berbasis Android, softwares, atau websites.

Keempat, bagi yang suka dan jago melukis, menggambar, utak-atik program atau websites, berkreasi dengan video, atau menekuni dunia desain dan komunikasi visual, maka sekaranglah saatnya yang tepat untuk menawarkan diri menjadi pengajar virtual berbasis Corel Draw, Adobe Photoshop, Camtasia, atau program lain yang relevan.

Kelima, sementara ananda yang menyukai dan berbakat menulis, orangtua dapat mengarahkan untuk membuat ebook, inspiring quotes, puisi, opini, esai, cerpen religi, hingga novel Islami. Tulisan tersebut dapat dikirimkan ke media massa cetak atau media online. Bila naskah laik terbit, maka bolehlah orangtua menyarankan agar ananda memberanikan diri untuk mengirimkannya ke penerbit mayor, seperti: Gramedia, Pustaka Pelajar Yogyakarta, PT Elex Media Komputindo, Grasindo, Penerbit Andi Yogyakarta, dsb. Alangkah lebih baik lagi bila ananda dapat menyajikan data dan fakta singkat yang dipadupadankan dengan gambar, sehingga berbentuk infografis.

Demikian telah diuraikan singkat beberapa seni dan strategi menciptakan peluang bagi bujang, terutama di masa pandemi Covid-19. Orangtua hendaklah memahami bahwa ananda tercinta yang masih bujang pastilah perlu arahan, dukungan, bimbingan, perhatian, dan pasangan, namun di masa Pandemi Covid-19 seperti ini, unsur kreativitas tetap diperlukan untuk mengefektifkan penggunaan waktu luang. Meskipun pandemi, dulo ito momongu lipu. Mari kita bersama membangun negeri. Demikian peribahasa Gorontalo.

Ruang Hidup Baru

0

Kapitalisme sejatinya merupakan proses pengumpulan modal yang bersifat kolektif. Tetapi ketika penguasaan modal itu berujung eksploitasi yang mengejar kepuasan, kapitalisme bergerak mengeksploitasi alam sehingga kerusakan alama menjadi ancaman baru. Monopoli lahan menjadikan alam rusak dan sebagian telah mengancam kelangsungan hidup manusia.

Kampusdesa.or.id–Setiap makhluk hidup pasti memiliki ruang hidup. Setiap makhluk hidup pasti memiliki ruang berkembang biak. Setiap makhluk hidup pasti memiliki ruang gerak. Tumbuhan, hewan dan manusia memiliki ruang hidupnya masing-masing, dan semua ruang hidup tersebut saling berkaitan satu sama lain. Saling produksi, saling mereproduksi dan saling merepresentasi, ruang bersifat dialektik dan hidup layaknya manusia serta makhluk lain yang bernyawa.

Bicara soal ruang, bukan hanya ruang fisik saja. Ada ruang sosial, ruang budaya, ruang privat, ruang kehidupan dan bahkan seluruh masyarakat dan semua ruang produksi menghasilkan ruang tertentu.

Menurut Henry Lefebvre (1991) ruang selalu dinamis seirama. Seirama dengan kehidupan, seirama dengan alam, seirama dengan semesta, dengan tumbuhan, dengan batuan dengan hewan dan dengan kemanusiaaan, mereka saling mengkonstruksi dan saling merekonstruksi. Namun irama dan dinamisasi ruang-ruang tersebut goyah sejak munculnya ruang-ruang produksi kapital.

Kapitalisme merasa memiliki kontrol penuh atas ruang-ruang tersebut, dan akhirnya ruang-ruang tersebut terrepresentasikan dan terreproduksikan oleh kapitalisme itu sendiri, pada akhirnya dinamisasi ruang-ruang tersebut tidak seirama dengan alam namun seirama dengan kapital. Dan kita tahu narasi besar, cita-cita besar dari kapitalisasi adalah akumulasi, akumulasi modal, akumulasi kekayaan, kepemilikan sebanyak-banyaknya.

Dulu sebelum era kapitalisme berjalan. Hubungan manusia dengan alam tidak saling meniadakan. Manusia adalah bagian dari alam dan berjalan beriringan dengan alam, namun hal tersebut berubah setelah kapitalisme dilahirkan, manusia tidak lagi ada untuk alam, namun manusia ada untuk memiliki alam, mengkomoditaskan dan mengkapitalisasi alam. Karena manusia adalah makhluk yang tidak akan pernah terpuaskan, lagi dan lagi merupakan sifat dasar manusia, itulah kenapa di tangan manusia modal/kapital menerjang tanpa batas, ekspansif menerjang hukum alam, menerjang ruang kehidupan serta menerjang ruang-ruang yang lain.

Mereka melihat alam, melihat dunia hanya menggunakan pisau analisa kapital, tanpa menggunakan pisau analisa ekologi, budaya, sosial dan lain sebagainya. Akhirnya narasi-narasi dan aksinya hanya seputar kekayaan, bagaimana mengeksploitasi alam dan menguras sebanyak-banyaknya tenaga manusia (kaum proletar).

Ketika alam tereksploitasi lama kelamaan alam tersebut akan rusak. hutan yang awalnya heterogen (berisi banyak jenis pohon), dihomogenisasi diganti satu jenis pohon, sawit saja, jagung saja, pinus saja dan lain sebagainya.

Kapitalisasi berujung akumulasi. Akumulasi berujung pada eksploitasi. Ketika alam tereksploitasi lama kelamaan alam tersebut akan rusak. hutan yang awalnya heterogen (berisi banyak jenis pohon), dihomogenisasi diganti satu jenis pohon, sawit saja, jagung saja, pinus saja dan lain sebagainya. Hewan-hewan yang awalnya nyaman bertempat tinggal di hutan yang heterogen, karena homogenisasi, hewan-hewan tersebut lama-kelamaan akan tersingkirkan, kehilangan makanan serta kehilangan ruang kehidupannya.

Begitupun dengan parasit, mikroba, dan virus yang awalnya hanya menginfeksi hewan ataupun hanya menginfeksi tumbuhan, yang awalnya hanya memiliki ruang hidup di tumbuhan ataupun hewan, karena hewan dan tumbuhan telah hilang, hilang pula ruang hidup mereka, hilang pula ruang berkembang biak mereka.

Karena setiap yang hidup membutuhkan ruang, mereka pun bergerak, bermutasi dan mencari ruang hidup serta ruang berkembang biak yang lain. Parasit, bakteri, virus, ataupun mikroba yang dulu ruang geraknya, ruang hidupnya, ruang berkembang biaknya di hewan ataupun tumbuhan kini beralih ke manusia. [J-KO]

Lathief Chamdillah (J-Ko). Anak desa kesayangan tuhan yang sedang menempuh studi pendidikan dokter di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Dilahirkan di Desa Siser Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan.

Lebaran Virtual: Sebuah Budaya Baru Unjung-Unjung

0

Budaya unjung-unjung (silaturahmi) melalui komunikasi digital menjadi budaya baru menggantikan unjung-unjung dengan tatap muka langsung. Walaupun hanya bisa bertemu di dunia maya, insyaAllah semua ada hikmahnya. Karena tujuan semua ini adalah baik. Yakni untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19. Tidak kalah terpenting adalah, adanya pandemi jangan sampai memutus tali persaudaran dan mengurangi hangatnya silaturahmi baik dengan keluarga, saudara, kerabat, dan teman.

Kampusdesa.or.id–Jika menjelang bulan puasa Ramadhan ada tradisi megengan yang masih menjadi budaya di kalangan masyarakat Indonesia, momen akhir bulan Ramdhan juga ada yaitu “unjung-unjung”. Budaya ini sangat melekat di saat lebaran tiba. Beberapa kampung melakukan unjung-unjung ke sanak famili, tetangga, saudara, dari rumah ke rumah di saat malam lebaran, ada juga yang melakukannya selepas shalat idul fitri. Kegiatan ini pun biasanya masih akan berlangsung dalam bulan Syawal.

Namun, momen unjung-unjung tahun ini akan menjadi kenangan tersendiri. Ada kebahagian yang bercampur kesedihan menyelimuti lebaran 1441 Hijriyah. Kondisi pandemi virus corona menjadikan pemerintah memberlakukan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan melarang adanya aktivitas mudik. Meski sebagian tidak menghiraukan, tapi banyak yang memilih untuk tidak pulang. Mereka untuk melepas kangen kampung halaman cukup via virtual street view lewat google map dan melakukan lebaran via telepon atau video call.

Situasi pandemi ini memaksa kita memanfaatkan berbagai media untuk tetap bisa sambung silaturahmi ke orang tua, saudara, mertua, suami/istri, anak, rekan kerja, dan teman-teman di luar sana. “Tanpo sowan, tetep seduluran. Tanpo unjung, tetep nyambung. Tanpo salaman, tetep pangapuran”

Situasi pandemi ini memaksa kita memanfaatkan berbagai media untuk tetap bisa sambung silaturahmi ke orang tua, saudara, mertua, suami/istri, anak, rekan kerja, dan teman-teman di luar sana. Sampai-sampai banyak meme dan pamflet bertebaran di media masa yang berisi kata-kata seperti ini “Tanpo sowan, tetep seduluran. Tanpo unjung, tetep nyambung. Tanpo salaman, tetep pangapuran”. Video parodi nerima tamu tidak ada orangnya, jajan lebaran masih utuh, dan lain sebagainya.

Selain mengharuskan kita tidak mudik. Momentum yang hilang saat hari raya pada tahun ini adalah acara kumpul “Bani-Banian”. Muncul istilah Bani sendiri sepertinya mengambil dari bahas Arab yang artinya keluarga. Setiap lebaran idul fitri biasanya digunakan untuk kumpul semua saudara dan kerabat di satu tempat yang sama. Pertemuan keluarga semacam ini dikemas dalm bentuk ramah tamah, makan bareng mulai dari kakek atau nenek atau buyut dan seluruh keluarga yang terkait dengan kakek atau nenek atau buyut tersebut.

Sayang sekali, tradisi unjung-unjung dan bani-banian pun semua berganti melalui media daring. Hadirnya teknologi informasi sesungguhnya cukup membantu masyarakat termasuk saya yang sedang di perantauan tidak bisa mudik lebaran tahun ini. Jadi untuk sementara ini maaf-maafannya dari tempat masing-masing, tidak perlu pulang ke rumah. Kita bisa memnnfaatkan banyak media mulai dari whatsaap, messenger, aplikasi zoom, dan lain-lain.

Maka, secara tidak langsung lebaran tahun ini berganti menjadi lebaran virtual atau riyayan online serentak di seluruh Indonesia. Budaya unjung-unjung (silaturahmi) melalui komunikasi digital menjadi budaya baru menggantikan unjung-unjung dengan tatap muka langsung. Walaupun hanya bisa bertemu di dunia maya, insyaAllah semua ada hikmahnya. Karena tujuan semua ini adalah baik. Yakni untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19.

Tidak kalah terpenting adalah, adanya pandemi jangan sampai memutus tali persaudaran dan mengurangi hangatnya silaturahmi baik dengan keluarga, saudara, kerabat, dan teman. Saya sendiri sejak malam lebaran idul fitri sampai hari ini masih menerima telpon dan melakukan video call bareng mulai dari teman SD sampai kuliah dan dosen-dosen di kampus serta beberapa keluarga jauh. Semoga pandemi ini lekas usai dan kita semua selalu dapat meningkatkan rasa sabar dan syukur dalam menghadapi ujian ini. []

Dana Desa Untuk Desa-Desa Kreatif

0

Pemuda-pemuda kreatif bisa dilatih dan digerakkan. Apalagi sekarang desa ujung Lamteng itu telah manasbihkan diri sebagai kampung dakwah? Lalu apa lagi? Tentu ini adalah project perubahan yang lebih banyak membutuhkan energi kaum muda. Tak perlu malu, takut, sungkan, atau rendah diri kepada golongan tua. Sudah banyak desa-desa kreatif karena kaum mudanya bergerak. Hal penting yang dibutuhkan adalah keberanian.

Kampusdesa.or.id–Akhir-akhir ini banyak desa yang menampilkan informasi penggunaan dana desa. Sekilas nampak baik dan tanggungjawab. Namun jika dicermati lebih dalam, dana desa banyak untuk pembangunan fisik, tapi minim untuk pemberdayaan ekonomi atau pengembangan Bumdes secara signifikan.

Alasan utama karena mengerjalan fisik, oknum kuasa pengguna anggaran bisa dengan mudah mencari ujung dari mark-up anggaran. Selain itu kegiatan pembangunan fisik dapat dilihat hasil setelah pembangunan. Misal saja gapura, maskot desa, gorong-gorong dan lainnya.

Desa seharusnya punya roadmap mau ditampilkan seperti apa 5 tahun yang akan datang. Banyak pilihan, misalnya desa olahraga, desa pertanian dan peternakan, desa wisata dan desa dengan segudang pilihan tema lainnya. Lebih dari itu, jika ada pemimpin progresif di desa tersebut, perubahan akan signifikan terjadi. Semangatnya bukan cari ujung, tapi memang pengabdian masyarakat dan mengurangi pengangguran.

Baca juga:

Rasionalitas dan Harapan Penerapan Dana Desa
Optimalisasi Dana Desa untuk Mewujudkan Desa Mandiri dan Sejahtera

Saya konkritkan kepada Desa Srisawahan Lampung Tengah (Lamteng) yang berada di dekat Dam Raman. Pemudanya pernah datang ke Payungi dan menawarkan saya untuk tarung lurah. Saya menolak dengan halus, tapi saya beri alternatif jika ada pemuda yang mau nyalon di sana saya janji akan carikan uang untuk pemenangan. Jujur saya lebih tertarik tarung lurah jika istri saya mengizinkan.

Desa itu tinggal dipoles sedikit dengan roadmap dan kegiatan tematik. Saya sudah memulai dengan gerakan #ayokedamraman. Tentu menggerakkan menjadi tema desa yang variatif akan lebih mudah. Gerakan september 2017 itu kini sudah banyak menampakkan perubahan dan keramaian. Tentu dengan dana desa yang mencapai 1 miliar dikali 5 tahun jelas lebih signifikan untuk memberi perubahan di sana.

Desa itu tinggal dipoles sedikit dengan roadmap dan kegiatan tematik. Saya sudah memulai dengan gerakan #ayokedamraman. Tentu menggerakkan menjadi tema desa yang variatif akan lebih mudah. Gerakan september 2017 itu kini sudah banyak menampakkan perubahan dan keramaian. Tentu dengan dana desa yang mencapai 1 miliar dikali 5 tahun jelas lebih signifikan untuk memberi perubahan di sana.

Pemuda-pemuda kreatif bisa dilatih dan digerakkan. Apalagi sekarang desa ujung Lamteng itu telah manasbihkan diri sebagai kampung dakwah? Lalu apa lagi? Tentu ini adalah project perubahan yang lebih banyak membutuhkan energi kaum muda. Tak perlu malu, takut, sungkan, atau rendah diri kepada golongan tua. Sudah banyak desa-desa kreatif karena kaum mudanya bergerak. Hal penting yang dibutuhkan adalah keberanian.

*Tulisan kiriman dari Dharma Setyawan (Penggerak Pasar Yosomulyo Pelangi Kota Metro, Lampung)