Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog Halaman 28

Menuju Guru Profesional

0

Suatu kali, dalam sebuah perlombaan gajah di Thailand, tidak ada yang bisa menundukkan tantangan menangiskan gajah. Sesuatu yang mustahil kan, tetapi semustahil apapun, ternyata di antara pawang gajah negara-negara Asean, hanya pawang gajah Indonesialah yang mampu menembus kemustahilan tersebut. Pawang ini mampu membikin gajah menangis bukan kepalang. Apa yang kemudian dilakukan oleh pawang Indonesia tersebut? Sederhana kata pawang Indonesia tersebut, “saya membisikkan, jah-gajah, kamu dengarkan ya, guru kita di Indonesia itu, gajinya guru itu hanya cukup sepekan lo gajah, dan tidak cukup bisa digunakan bertahan tiga pekan kemudian.” Mengapa begitu?

Kampusdesa.or.id — KATA menuju dalam KBBI mempunyai ragam arti tergantung kalimat pengiringnya. Sehingga pemaknaan kata ini dikatagorikan dalam kelompok (kelas) verba. Atau kata kerja yang dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya.

Merujuk pemaknaan kata tersebut maka judul tulisan menuju guru profesional bisa diartikan sedang atau berproses untuk menjadi (guru profesional) atau lebih tepatnya jalan untuk meraih gelar guru profesional. Karena berproses menuju (tingkatan) yang lebih baik itu, maka perlu ada sarana dan prasarana pendukung yang tepat. Sehingga mampu menjadi sosok yang benar dan amanah dalam menjalankan tugas mulia itu.

Penyadaran diri yang sampai pada titik kesadaran, bahwa diri guru merupakan sosok pemeran utama sekaligus ‘the living curriculum’.

Menjadi sosok yang benar dan amanah inilah sebenarnya kunci membuka ‘kotak pandora’ dari lembaran menuju titik kesadaran diri. Titik kinerja yang membutuhkan proses penyadaran panjang dan harus dilakukan oleh guru itu sendiri. Penyadaran diri yang sampai pada titik kesadaran, bahwa dirinya merupakan sosok pemeran utama sekaligus ‘the living curriculum’.

Berat, penuh rintangan dan jalan berliku pasti. Berharap ‘spiritual meaning’ dari sosok panutan dalam melakoni profesinya. Apalagi kalau sudah dikaitkan dengan faktor ekonomi, khususnya untuk sejawat guru yang mengajar di sekolah swasta dan masih menjadi GTT di sekolah negeri.

Mendapat tunjangan profesi (TPP) pun masih harus mengencangkan ikat pinggang. Fenomena masih terpuruknya gaji sejawat guru ini mengingatkan penulis pada kisah lomba gajah yang di paksa menangis.

Kisah dan Ihwal air mata gajah ini sebenarnya anekdot belaka. Konon sekitar tahun 70-an atau 80-an, ada festival gajah di Negeri Gajah Putih (Thailand). Salah satu nomor yang dilombakan adalah uji kemampuan (nyali) para pawang gajah dari negara-negara Asean. Jenis perlombaannya unik, para pawang itu harus mempengaruhi gajah agar bisa menangis. Bukan sekedar tangis biasa, namun sebisa mungkin tangis haru. Semua pawang dari negara-negara Asean gagal meskipun diantara mereka ada yang melakukan dengan cara kekerasan, sampai kemudian muncul pawang yang berasal dari Indonesia.

Pawang dari Indonesia inipun mendekati gajah dengan tenang, lalu membisikkan sesuatu. Ajaib! Tidak lama kemudian, gajah menangis dengan penuh keharuan dalam tempo yang cukup lama. Semua yang hadir terkejut. Kata apa yang telah dibisikkan oleh sang pawang kepada gajah itu sehingga meluluhkan keteguhan hatinya.

‘Saya coba membisikkan nasib guru di Indonesia yang hidupnya masih jauh dari sejahtera. Jangankan satu bulan, bahkan belum sampai sepekan gajinya mulai menipis yang tidak menyukupi untuk menopang kehidupannya tiga pekan kemudian’, jelas pawang gajah dari Indonesia itu.

Kisah fiktif inspiratif sekaligus ‘mengenaskan’ di atas setidaknya membuka mata kita lebar-lebar bahwa menggugah kesadaran pemangku kebijakan dengan ‘guyon pari keno’ ini, hingga kini harus terus dikobarkan. Dilakukan dan diupayakan agar profesi guru mempunyai daya tawar tinggi di hadapan semua pihak.

Langkah menuju guru profesional

Tanpa didukung kekuatan finansial yang memadai dan adanya kemauan untuk terus maju mustahil langkah menjadi guru profesional terwujud.

Menuju sehingga menjadi guru yang profesional mudah diucap tetapi bukan perkara mudah. Terlebih dengan perkembangan jaman yang demikian pesat. Tanpa didukung kekuatan finansial yang memadai dan adanya kemauan untuk terus maju mustahil langkah menjadi guru profesional terwujud. Perlu kesabaran dan keikhlasan agar kita bisa menjadi seorang guru yang profesional.

Berikut sepuluh cara yang dapat ditempuh agar langkah menuju guru profesional bisa terwujud. Pertama, mau mengerti tuntutan perubahan yang diharapkan masyarakat, memahami gaya hidup dan perilaku siswa, mengembangkan wawasan dan kompetensi keilmuan, serta mengeliminasi kendala dan hambatan yang ada dalam diri maupun lingkungan sekitar.

Kedua, memiliki semangat untuk memberi dan menerima (take and give) inspirasi rekan kerja (sesama pendidik) maupun siswa demi tumbuh kembangnya mutu dan meningkatnya daya saing, mengenali ‘resources’ dan memanfaatkan sebagai sumber dan media pembelajaran yang dapat meningkatkan daya kreativitas siswa.

Ketiga, memanfaatkan sebaik-baiknya kebutuhan dan harapan dari masyarakat akan peran besar pendidikan sebagai pedoman dasar dalam menjalankan kehidupan profesional sebagai seorang guru/pendidik.

Keempat, selalu ingin mengembangkan konsep pembelajaran yang relevan terkait dengan karakter dan kompetensi yang dibutuhkan oleh siswa dalam meraih cita-cita demi masa depan lebih baik.

Kelima, membangun citra positif sebagai seorang pendidik yang menjadi suri teladan, mampu menumbuhkan motivasi dan inspirasi peserta didik serta memiliki etos, kredibilitas dan integritas sebagai seorang pendidik.

Keenam, mengembangkan inovasi dan strategi pembelajaran dengan menggali sumber dan media belajar serta memanfaatkan teknologi informasi komunikasi dengan cara yang luar biasa dan kreatif.

Ketujuh, memiliki interpersonal skill sebagai wujud dari implementasi kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial seorang pendidik guna membangun semangat berprestasi dalam diri peserta didik.

Kedelapan, meningkatkan pelayanan prima pendidikan melalui upaya peningkatan potensi dan karakter siswa secara individual, memiliki kecakapan empati serta memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna kepada peserta didik.

Kesembilan, evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran secara berkesinambungan dengan pengukuran efektivitas kegiatan pembelajaran lebih nyata dan akurat, serta berani menerima kritikan dan bersedia melakukan perbaikan mutu kegiatan belajar dan mengajar.

Kesepuluh, mampu dan dapat membuktikan efektivitas dan kebermanfaatannya dari proses pembelajaran yang diberikan dalam bentuk kompetensi dan karakter yang integratif bagi siswa serta ada rasa bangga dalam dirinya.

Dengan kemampuan yang dimiliki ditunjang kemauan untuk terus berbenah maka realitas the living curriculum pasti terwujud. Kegiatan pengembangan diri yang dilakukan dengan kesadaran penuh seperti mengikuti beraneka ragam workshop, training, seminar sebuah keniscayaan. Gerakan semacam ini pasti mengalir dan tidak harus dijalankan dalam bentuk formal. Yang dibutuhkan kemauan untuk terus belajar tanpa henti dan kemudian diaplikasikan dalam praktik pengajaran dan pendidikan. Atau dengan melakukan CPD (Continues Personal Development) secara mandiri pun bisa dilakukan.

Apakah dengan mengunggah jargon menuju guru profesional bisa mentransformasikan dirinya sebagai the living curriculum? Jawabannya pasti. Semoga

Pemuda Adalah Pemegang Tongkat Estafet Pembangunan Desa

0

Ada yang cukup menarik dari diskusi via live instagram bersama Pak Nur Rozuqi (Ketua Forum Sekretaris Desa Se-Indonesia) yang mana beliau juga penggagas Gerakan Desa Merdeka, Lembaga Kajian Desa, dan Padepokan Desa. Di dalam akhir diskusi yang kami namakan tadarus online ini selain bahas seputar BLT Dana Desa, rupanya Pak Nur -sapaan beliau menyinggung mengenai peran kalangan pemuda sebagai penggerak utama dalam pemberdayaan desa, terlebih lagi ikut serta aktif berpartisipasi dalam Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD).

Kampusdesa.or.id–Generasi lama kadang sulit menerima informasi baru untuk menunjang ekonomi desa melalui BUMDES agar tidak hanya mengandalkan anggaran desa. Sebenarnya salah satu dalam pedoman penganggaran itu sudah diarahkan oleh pemerintah. Ada lima pos anggaran. Dalam kondisi normal hanya ada empat pos. Namun dalam kasus pandemi atau bencana lain ada pos lain berupa program kondisi darurat.

Jadi dalam nomenklatur APBDes itu udah ada pos-pos nya. Pertama, pos bidang penyelenggaran pemerintahan (urusan insentif, gaji, pelayanan, ATK, sarana prasarana). Kedua, bidang pembangunan baik fisik maupun non fisik, seperti pembangunan di bidang kesehatan, pendidikan, infrastruktur include bidang pemukiman dan bidang telekomunikasi. Ketiga, bidang pembinanan masyarakat. Sosialisasi terkait program-program pemerintah dan regulasi-regulasi pemerintah. Keempat, bidang pemberdayaan. Pada bidang ini lebih kepada ekonomi produktif, keteampilan. Misalnya meningkatkan kapasitas kapasitas pemuda di bidang olahraga, keterampilan, pelatihan kerja. Juga untuk perempuan ada home industri dan BUMDes. Kelima, bidang darurat. Kalau dulu memakai anggaran cadangan. Sekarang sudah dianggarkan sendiri buat jaga-jaga saat kondisi insendental.

Pentingnya Melibatkan Generasi Muda dalam Penganggaran

Anggaran dana desa itu salah satu prioritasnya adalah untuk meningkatkan kualitas masyarakat terutama pemuda desa. Selama ini fokus desa mayoritas orentasinya menganggarkan masih berpikir tentang pembangunan fisik saja. Banyak desa yang justru pos untuk pembinaan masyarakat tidak dianggarkan. Itu berarti membuktikan pemerintah desa tersebut tidak peduli terhadap peningkatan kapasitas masyarakatnya. Mereka tidak berusaha hadir di tengah masyarakatnya untuk memberikan pencerahan dan informasi tertentu.

Kemudian pemberdayaan masyarakat juga begitu. Jika sangat kecil prosentasenya, maka itu berarti pemerintah desa tidak menghendaki masyarakatnya berkembang perekonomiannya, kesejahteraannya, dan kualitas hidupnya. Hal ini bisa dilihat dari data APBDes desa tersebut, hanya menganggarakan dua pos yakni untuk penyelenggaran pemerintahan dan pembangunan fisik. pemberdyaan dan apalagi pembinaannya tidak ada. Berarti kan pemerintah desa tidak pernah hadir.

Kebanyakan beralasan jika anggaran hanya dilarikan ke pembangunan fisik lebih mudah pelaporannya, mudah ini itunya. Nanti semisal untuk pembinaan laporannya lebih rumit. Semisal pembinaan harus mengundang orang, butuh surat undang, konsumsi butuh stempel dari warung, jadi ribet, dan ujung-ujungnya berpikir tidak dapat cipratan apa-apa dari situ.

Diterima atau tidak oleh para pemangku desa, sampai hari ini pemerintah desa banyak yang enggan hadir di tengah masyarakatanya. Itu dapat dibuktikan di nomenklatur APBDes nya. untuk program pembinaan masyarakat sangat rendah bahkan ada yang tidak memrogramkan sama sekali. Pemberdayaan yang sangat kecil anggarannya. Bahkan di bidang pembangunan sendiri lebih banyak difokusnya pada fisik, untuk bidang pendidikan dan kesehatan ini rendah. Bagaimana sekarang nasib guru PAUD, disabilitas, dan Posyandu tidak terurus. Padahal ada anggarannya dan harus dipakai.

Baca Juga:

Bantuan Langsung Tunai Dana Desa Menurut Ketua FORSEKDESI
Pemuda sebagai Informal Leader: Penggerak Masyarakat Menuju Desa Lebih Baik
Desa dan Komunikasi

Jika tidak dianggarkan, masyarakat sangat bisa mengajukan terkait peningkatan SDM. Namun secara normal jika pemerintah desa itu peka dan cermat terhadap kebutuhan dan pro rakyat, pasti tetap dianggarkan pun tanpa adanya pengajuan dari warganya. Selebihnya masyrakat bisa terbuka dan mengusulkan lewat Musrembang yang diadakan oleh Pemerintah Desa.

“Di Musrembang nanti akan diundang dari perwakilan Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD). Ada karangtaruna, PKK, ada Linmas, RT, RW, ada dari Posyandu, dan macam-macem,” terang Pak Nur Rozuqi.

Di sinilah momen tepat merumuskan angaran-anggaran dan rencana kebutuhan selama setahun dan dalam Musrembang ini hasilnya akan diusulkan oleh pemerintah desa dan bisa dipakai untuk merumuskan penyususnan RKP oleh yang namanya tim sebelas. Lalu hasilnya diajukankan lagi oleh Kepala desa kepada BPD untuk membuat rancangan RKPDes dalam Musrembangdes.

Di dalam pelaksanaan Musrembangdes, BPD juga mengundang tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh pendidikan, dari institusi di desa (ormas) atau tokoh-tokoh personal karena kemampuannya, atau bisa dikatakan stake holder-nya. Dan di musyawarah inilah kesempatan mendorong masyarakat yang diwakili para tokoh untuk berpartisipasi aktif. Karena cara melaksanakan pembangunan desa yang benar adalah berbasis partisipatif.

Tapi faktanya masih banyak desa yang tidak melaksanakan atau melalui langkah ini. Kebanyakan yang menentukan anggaran dan perencanaan hanya kalangan elitis-elitis saja tanpa melibatkan warganya. Akibatnya program yang diterima tidak partisipatif, masyarakat hanya menjadi penonton, tidak dijadikan subyek sehingga menjadi tidak merasa memiliki (tidak ada sense of belonging).

Seandainya masyarakat terutama pemudanya dilibatkan, maka tidak akan ada pengajuan proposal setiap kegiatan yang ada di desa. Tidak perlu mengemis minta sumbangan swadaya dan mencari donatur ke sana sini. Jika dilibatkan dalam mustrembang, pasti dengan sendirinya akan masuk otomatis sudah dianggarkan di awal.

“Sebagai contoh saat musrembang bisa bilang: Ini pak, ada tawaran dari karangtaruna program butuh dana sekian…” kata Pak Nur Rozuqi mencontohkan.

Akan tetapi jika mereka tidak pernah diundang ya tidak terkover di anggaran. Dan ini masih terjadi dan banyak yang tidak tahu. Padahal dalam penyusunan RKPDes dan APBDes ada tim penyusun harus terdiri dari perangkat; kaur perencanan, sekdes, LPM, pemuda desa, dan unsur perempuan (PMK). Mereka harus terlibat semuanya. Namun, apabila masih muncul kegiatan kok mengajukan proposal ke Kades, ini jelas ada yang salah dalam suatu mekanismenya.

Tidak bisa dipungkiri jika terjadi demikian, beragumen seperti apapun pemerintah desa tetap bisa disalahkan. Karena faktanya unsur-unsur tadi tidak dilibatkan. Ada fase atau tahapan yang tidak dilalui. Pemerintah desa tidak menerapkan pembangunan parsipatif tapi elitis.

Pemuda adalah Generasi Masa Depan

Karangtaruna sekarang juga sering diabaikan oleh para sesepuh atau elitis yang punya jabatan, karena dianggap belum punya andil atau jasa terhadap desa. Maka ini sungguh keliru. Karena di dalam pelaksanakan kegiatan di desa, karangtaruna harus dilibatkan karena menurut peraturan sekarang ini, karangtaruna termasuk dalam salah satu struktur Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD). Berdasarkan peraturan Menteri Dalam Negeri No 18 Tahun 2018 yang mengatur unsur LKD ada PKK, LPM, Posyandu, termasuk karangtaruna masuk di dalamnya.

Jika di desa ada pembangunan, pasti memerlukan tim namanya TPK (Tim Pelaksana Kegiatan). Membangun lapangan pasti karangtaruna yang terlibat di sit, contoh pelatihan keteramilan perempuan, maka PKK yang dilibatkan (kasarannya dimasukan sebagai panitianya). Karena mereka yag lebih tahu kebutuhan dan agar tepat sasaran. Jadi jika menyangkut persoalan pemuda, dari kalangan mereka dipercaya atau dipasrahi pasti lebih ngerti karena generasinya beda.

Kalau di desa sampai tidak melibatkan generasi mudanya berarti para pemangku desa tidak peduli terhadap masa depan. Berarti tidak paham bahwa generasi ke depan adalah milik pemuda buka generasi tua. Ini yang harus dipahami.

Kalau di desa sampai tidak melibatkan generasi mudanya berarti para pemangku desa tidak peduli terhadap masa depan. Berarti tidak paham bahwa generasi ke depan adalah milik pemuda buka generasi tua. Ini yang harus dipahami.

“Pemerintah di tingkat manapun kalau peduli terhadap bangsa ini maka pasti peduli terhadap pemuda. Karena di pemuda inilah masa depan kita,” kata Pak Nur Rozuqi sedikit keras.

Bagiamana ikut andil meramut desa dengan baik jika sejak muda tidak diajari, di-training. Maka yang terjadi nanti adalah beralih generasi, berubah total pasti generasi muda mengabaikan apa yang sudah dibangun atau ditinggalkan para generasi tua, akhirnya jadi terbengkalai. Sehingga estafet ini harus disiapkan dengan baik, maka yang terjadi adalah adanya regenerasi dan pembangunan berkelanjutan. Maka adanya pengkaderan, pemberian tanggung jawab dan kepercayaan buat estafet program di desa sangatlah penting.

Muncul juga sikap apatis dari generasi muda yang dapat dilihat dari banyaknya anak muda di desa yang lebih memilih di luar, setelah sekolah atau kulah tidak pulang ke desa, dan merantau atau berkarir mencari pekerjaan di luar dengan alasan di desa tidak ada lapangan pekerjaan.

Di sisi lain, muncul juga sikap apatis dari generasi muda yang dapat dilihat dari banyaknya anak muda di desa yang lebih memilih di luar, setelah sekolah atau kulah tidak pulang ke desa, dan merantau atau berkarir mencari pekerjaan di luar dengan alasan di desa tidak ada lapangan pekerjaan.

Maka ini sebetulnya juga PR pemerintah desa, jika momen anggran dana desa lebih dititik beratkan untuk pemberdayaan keterampilan. Salah satunya potensinya dapat membuka lapangan pekerjaan sendri tidak perlu keluyuran (urban) ke kota. Bisa diajak mengelola BUMDes untuk kas desa, Pasar Desa, berwirausaha melalui UMKM, mendirikan Lembaga Keuangan Mikro (LKM), koperasi, dan lain-lain. Dari sini akan menyerap tenaga kerja. Belum lagi yang ikut andil bergerak di sektor pendidikan, pertanian, peternakan, dan perekonomian lainnya.

Ini sebenarnya yang masuk dalam nawacita presiden, yakni membangun desa dari pinggiran. Bangun dulu kualitas hidup manusianya nanti manusia secara otomatis akan membangun kualitas fisik desa. Maka dibutuhkan orang-orang yang memiliki pemikiran dan mampu mengubah suatu mindset.

“Ayolah kita bangun desa ini dari manusianya bukan fisiknya dulu,” ajak Pak Nur Rozuqi.

Mindset generasi tua dan muda ada gap dan tidak jarang jika generasi muda turut bersuara malah bilang sok pinter dan belum pengalaman. Padahal menyampaikan kebutuhan sesuai kebutuhan generasi sekarang dan perkembangan terkini. Seharusnya aspirasi ini ditampung tidak malah terpaku pada pemikiran secara konvensional.

Peran Pemuda melalui Karang Taruna

Yang menjadi kewenangan oraganisasi pemuda di desa itu adalah karangtaruna, yang mana sudah diatur berdasarkan peraturan menteri dalam negeri No 18 Tahun 2018 tentang Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) dan Lembaga Adat. Kemudian program dan detil tentang karangtaruna diatur sendiri oleh Kementerian Sosial No 25 Tahun 2019. Habis itu ada PDPRT nya berdasarkan peraturan menteri. Jadi keliru jika ada karang taruna rapat mau membikin ADRT sendiri.

Karangtaruna harus punya SK, sama seperti RT/RW, PKK. SK nya dari kepala desa dan ada periodesasinya. Karangtunadesa mati atau dimatikan itu pertanda masyarakat di desa tersebut tidak peduli dengan masa depannya sendiri. Jika di desa kok tampak belum pernah disentuh sama sekali, maka harus ada keberanian untuk melibatkan diri.

“Berperan aktiflah para pemuda, karena Anda lah pemilik masa depan desa ini. Kalau tidak dilibatkan, pro aktif. Karena di situ ada banyak anggaran yang bisa digunakan untuk pemuda. Karena apa? Yang dimaksud dengan pemuda di sini jangan sampai menjadi obyek. Saya lebih suka jika pemuda menjadi subyek daripada pembangunan,” kata Pak Nur Rozuqi menghimbau.

Sejarah negara kita ini sudah membuktikan berualang kali. Revolusi Indonesia identik dengan gerakan pemuda. Mulai dari Budi Utomo, Sumpah Pemuda, proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, berdirinya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), serta adanya Reformasi yang juga digawangi oleh anak-anak muda.

Sejarah negara kita ini sudah membuktikan berualang kali. Revolusi Indonesia identik dengan gerakan pemuda. Budi Utomo tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, 17 Agustus juga pemuda. Seandainya para pemuda tidak menculik Ir. Soekarno ke Rengasdenglok, maka tidak akan terjadi proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ada lagi tahun 1966 para generasi muda melopori berdirinya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), serta pada tahun 1998 adanya Reformasi yang digawangi oleh anak-anak muda.

Itu bukti riil, bahwa perubahan yang mendasar pada kondisi jalannya pemerintahan di negara ini adalah tidak luput dari peran pemuda. Maka, di desa pun harus memakai analogi itu. Jika anda diam atau cukup legowo dengan menjadi penonton, maka Anda tidak punya masa depan. Desa anada akan stagnan.

Termasuk dalam penanganan kondisi darurat Covid-19 ini. Teman-teman muda seyogyanya ikut terlibat aktif dalam menangani. Tidak hanya ikut terlibat di lapangan, tapi juga terlibat dalam perencenaan. Sehingga tahu persis dan dapat berlatih bagaimana me-manage sebuah penganggaran kegiatan.

“Tidak perlu bingung dengan banyaknya regulasi akhir-akhir ini untuk mengkover. Kita kalau berprasangka baik (khusnudzon) bahwa regulasi yang diperuntukan untuk desa sebelum ada Covid-19 sebenarnya sudah cukup mewadahi,” tegas Pak Nur Rozuqi.

Pemuda harus berpartisipasi dan tidak apatis terhadap pembanguan di desa. Karena kontribusi melalui inovasi dan gagasan dari generasi muda sangat diperlukan dalam kemajuan desa. Pemuda juga harus ikut mengawal dana desa dan menyelamatkan desa dari penyamun-penyamun uang rakyat. Pada akhirnya, pemuda adalah pemegang tongkat estafet pembangunan di desa.

Terimakasih.

Seri Millenial Parenting: Seni Menciptakan Peluang di Masa Luang bagi Bujang

0

Dalam tulisan ini mengurai beberapa seni dan strategi menciptakan peluang bagi bujang, terutama di masa pandemi Covid-19. Bagi, orangtua hendaklah memahami bahwa ananda tercinta yang masih bujang pastilah perlu arahan, dukungan, bimbingan, perhatian, dan pasangan, namun di masa Pandemi Covid-19 seperti ini, unsur kreativitas tetap diperlukan untuk mengefektifkan penggunaan waktu luang. Meskipun pandemi, mari kita bersama membangun negeri.

Kampusdesa.or.id–Di masa pandemi Covid-19 ini, ada sementara orangtua yang sibuk Work from Home (WFH), sehingga boleh jadi lupa berbagi strategi untuk putra atau putrinya yang masih lajang dan punya banyak waktu luang. Padahal banyak sekali kegiatan positif, produktif, dan inovatif yang dapat dilakukan Ananda yang masih bujang, di masa luang.

Pertama, membuat video edukatif atau informatif, berdurasi singkat, lalu memviralkannya di You Tube atau media sosial. Sekarang ini mayoritas orang menyukai hal-hal praktis, kurang suka membaca, lebih menyukai video yang ada unsur humornya. Maka video yang berunsur edutainment (ada unsur edukasi dan infotainment alias hiburan) pastilah dapat memikat banyak netizen. Tren di bulan Ramadan ini menunjukkan bahwa tayangan Islami atau video religi mengalami peningkatan jumlah penonton, like, share, dan subscribe.

Kedua, belajar singkat dari berbagai sumber terpercaya di internet. Beragam platform pembelajaran elektronik, mulai dari yang gratis hingga berbayar, dari yang bersertifikat, lisensi diploma,  hingga tanpa sertifikat tersedia di internet. Materinya pun beragam, ada tingkat pemula (basic), menengah (intermediate), hingga mahir (expert). Bidang kajiannya pun beragam, mulai dari bidang ilmu sosial, eksakta, humaniora, serta bahasa asing.

Di era pandemi Covid-19 ini, orangtua dapat mengarahkan ananda tercinta untuk mengikuti beberapa webinar, pelatihan daring, workshop digital, atau seminar virtual. Sebagian di antaranya ada yang berbayar murah, berbayar mahal, dan sebagian lagi ada yang gratis. Sarankanlah ananda untuk mengikuti yang sesuai dengan passion dan minatnya. Hendaklah orangtua juga secara bijaksana menyarankan agar ananda tercinta tidak mengikuti webinar semata karena “haus-sertifikat”.

Ketiga, mengembangkan dan mengasah bakat, minat, kreativitas, dan passion di bidang seni dan budaya. Misalnya menulis lagu, menciptakan tarian modern, menginventarisasi pakaian-tarian adat-tradisional di daerah tertentu, belajar peribahasa lokal, berlatih olah vokal, belajar tembang Macapat, merevitalisasi permainan tradisional melalui platform game edukatif berbasis Android, softwares, atau websites.

Keempat, bagi yang suka dan jago melukis, menggambar, utak-atik program atau websites, berkreasi dengan video, atau menekuni dunia desain dan komunikasi visual, maka sekaranglah saatnya yang tepat untuk menawarkan diri menjadi pengajar virtual berbasis Corel Draw, Adobe Photoshop, Camtasia, atau program lain yang relevan.

Kelima, sementara ananda yang menyukai dan berbakat menulis, orangtua dapat mengarahkan untuk membuat ebook, inspiring quotes, puisi, opini, esai, cerpen religi, hingga novel Islami. Tulisan tersebut dapat dikirimkan ke media massa cetak atau media online. Bila naskah laik terbit, maka bolehlah orangtua menyarankan agar ananda memberanikan diri untuk mengirimkannya ke penerbit mayor, seperti: Gramedia, Pustaka Pelajar Yogyakarta, PT Elex Media Komputindo, Grasindo, Penerbit Andi Yogyakarta, dsb. Alangkah lebih baik lagi bila ananda dapat menyajikan data dan fakta singkat yang dipadupadankan dengan gambar, sehingga berbentuk infografis.

Demikian telah diuraikan singkat beberapa seni dan strategi menciptakan peluang bagi bujang, terutama di masa pandemi Covid-19. Orangtua hendaklah memahami bahwa ananda tercinta yang masih bujang pastilah perlu arahan, dukungan, bimbingan, perhatian, dan pasangan, namun di masa Pandemi Covid-19 seperti ini, unsur kreativitas tetap diperlukan untuk mengefektifkan penggunaan waktu luang. Meskipun pandemi, dulo ito momongu lipu. Mari kita bersama membangun negeri. Demikian peribahasa Gorontalo.

Ruang Hidup Baru

0

Kapitalisme sejatinya merupakan proses pengumpulan modal yang bersifat kolektif. Tetapi ketika penguasaan modal itu berujung eksploitasi yang mengejar kepuasan, kapitalisme bergerak mengeksploitasi alam sehingga kerusakan alama menjadi ancaman baru. Monopoli lahan menjadikan alam rusak dan sebagian telah mengancam kelangsungan hidup manusia.

Kampusdesa.or.id–Setiap makhluk hidup pasti memiliki ruang hidup. Setiap makhluk hidup pasti memiliki ruang berkembang biak. Setiap makhluk hidup pasti memiliki ruang gerak. Tumbuhan, hewan dan manusia memiliki ruang hidupnya masing-masing, dan semua ruang hidup tersebut saling berkaitan satu sama lain. Saling produksi, saling mereproduksi dan saling merepresentasi, ruang bersifat dialektik dan hidup layaknya manusia serta makhluk lain yang bernyawa.

Bicara soal ruang, bukan hanya ruang fisik saja. Ada ruang sosial, ruang budaya, ruang privat, ruang kehidupan dan bahkan seluruh masyarakat dan semua ruang produksi menghasilkan ruang tertentu.

Menurut Henry Lefebvre (1991) ruang selalu dinamis seirama. Seirama dengan kehidupan, seirama dengan alam, seirama dengan semesta, dengan tumbuhan, dengan batuan dengan hewan dan dengan kemanusiaaan, mereka saling mengkonstruksi dan saling merekonstruksi. Namun irama dan dinamisasi ruang-ruang tersebut goyah sejak munculnya ruang-ruang produksi kapital.

Kapitalisme merasa memiliki kontrol penuh atas ruang-ruang tersebut, dan akhirnya ruang-ruang tersebut terrepresentasikan dan terreproduksikan oleh kapitalisme itu sendiri, pada akhirnya dinamisasi ruang-ruang tersebut tidak seirama dengan alam namun seirama dengan kapital. Dan kita tahu narasi besar, cita-cita besar dari kapitalisasi adalah akumulasi, akumulasi modal, akumulasi kekayaan, kepemilikan sebanyak-banyaknya.

Dulu sebelum era kapitalisme berjalan. Hubungan manusia dengan alam tidak saling meniadakan. Manusia adalah bagian dari alam dan berjalan beriringan dengan alam, namun hal tersebut berubah setelah kapitalisme dilahirkan, manusia tidak lagi ada untuk alam, namun manusia ada untuk memiliki alam, mengkomoditaskan dan mengkapitalisasi alam. Karena manusia adalah makhluk yang tidak akan pernah terpuaskan, lagi dan lagi merupakan sifat dasar manusia, itulah kenapa di tangan manusia modal/kapital menerjang tanpa batas, ekspansif menerjang hukum alam, menerjang ruang kehidupan serta menerjang ruang-ruang yang lain.

Mereka melihat alam, melihat dunia hanya menggunakan pisau analisa kapital, tanpa menggunakan pisau analisa ekologi, budaya, sosial dan lain sebagainya. Akhirnya narasi-narasi dan aksinya hanya seputar kekayaan, bagaimana mengeksploitasi alam dan menguras sebanyak-banyaknya tenaga manusia (kaum proletar).

Ketika alam tereksploitasi lama kelamaan alam tersebut akan rusak. hutan yang awalnya heterogen (berisi banyak jenis pohon), dihomogenisasi diganti satu jenis pohon, sawit saja, jagung saja, pinus saja dan lain sebagainya.

Kapitalisasi berujung akumulasi. Akumulasi berujung pada eksploitasi. Ketika alam tereksploitasi lama kelamaan alam tersebut akan rusak. hutan yang awalnya heterogen (berisi banyak jenis pohon), dihomogenisasi diganti satu jenis pohon, sawit saja, jagung saja, pinus saja dan lain sebagainya. Hewan-hewan yang awalnya nyaman bertempat tinggal di hutan yang heterogen, karena homogenisasi, hewan-hewan tersebut lama-kelamaan akan tersingkirkan, kehilangan makanan serta kehilangan ruang kehidupannya.

Begitupun dengan parasit, mikroba, dan virus yang awalnya hanya menginfeksi hewan ataupun hanya menginfeksi tumbuhan, yang awalnya hanya memiliki ruang hidup di tumbuhan ataupun hewan, karena hewan dan tumbuhan telah hilang, hilang pula ruang hidup mereka, hilang pula ruang berkembang biak mereka.

Karena setiap yang hidup membutuhkan ruang, mereka pun bergerak, bermutasi dan mencari ruang hidup serta ruang berkembang biak yang lain. Parasit, bakteri, virus, ataupun mikroba yang dulu ruang geraknya, ruang hidupnya, ruang berkembang biaknya di hewan ataupun tumbuhan kini beralih ke manusia. [J-KO]

Lathief Chamdillah (J-Ko). Anak desa kesayangan tuhan yang sedang menempuh studi pendidikan dokter di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Dilahirkan di Desa Siser Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan.

Lebaran Virtual: Sebuah Budaya Baru Unjung-Unjung

0

Budaya unjung-unjung (silaturahmi) melalui komunikasi digital menjadi budaya baru menggantikan unjung-unjung dengan tatap muka langsung. Walaupun hanya bisa bertemu di dunia maya, insyaAllah semua ada hikmahnya. Karena tujuan semua ini adalah baik. Yakni untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19. Tidak kalah terpenting adalah, adanya pandemi jangan sampai memutus tali persaudaran dan mengurangi hangatnya silaturahmi baik dengan keluarga, saudara, kerabat, dan teman.

Kampusdesa.or.id–Jika menjelang bulan puasa Ramadhan ada tradisi megengan yang masih menjadi budaya di kalangan masyarakat Indonesia, momen akhir bulan Ramdhan juga ada yaitu “unjung-unjung”. Budaya ini sangat melekat di saat lebaran tiba. Beberapa kampung melakukan unjung-unjung ke sanak famili, tetangga, saudara, dari rumah ke rumah di saat malam lebaran, ada juga yang melakukannya selepas shalat idul fitri. Kegiatan ini pun biasanya masih akan berlangsung dalam bulan Syawal.

Namun, momen unjung-unjung tahun ini akan menjadi kenangan tersendiri. Ada kebahagian yang bercampur kesedihan menyelimuti lebaran 1441 Hijriyah. Kondisi pandemi virus corona menjadikan pemerintah memberlakukan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan melarang adanya aktivitas mudik. Meski sebagian tidak menghiraukan, tapi banyak yang memilih untuk tidak pulang. Mereka untuk melepas kangen kampung halaman cukup via virtual street view lewat google map dan melakukan lebaran via telepon atau video call.

Situasi pandemi ini memaksa kita memanfaatkan berbagai media untuk tetap bisa sambung silaturahmi ke orang tua, saudara, mertua, suami/istri, anak, rekan kerja, dan teman-teman di luar sana. “Tanpo sowan, tetep seduluran. Tanpo unjung, tetep nyambung. Tanpo salaman, tetep pangapuran”

Situasi pandemi ini memaksa kita memanfaatkan berbagai media untuk tetap bisa sambung silaturahmi ke orang tua, saudara, mertua, suami/istri, anak, rekan kerja, dan teman-teman di luar sana. Sampai-sampai banyak meme dan pamflet bertebaran di media masa yang berisi kata-kata seperti ini “Tanpo sowan, tetep seduluran. Tanpo unjung, tetep nyambung. Tanpo salaman, tetep pangapuran”. Video parodi nerima tamu tidak ada orangnya, jajan lebaran masih utuh, dan lain sebagainya.

Selain mengharuskan kita tidak mudik. Momentum yang hilang saat hari raya pada tahun ini adalah acara kumpul “Bani-Banian”. Muncul istilah Bani sendiri sepertinya mengambil dari bahas Arab yang artinya keluarga. Setiap lebaran idul fitri biasanya digunakan untuk kumpul semua saudara dan kerabat di satu tempat yang sama. Pertemuan keluarga semacam ini dikemas dalm bentuk ramah tamah, makan bareng mulai dari kakek atau nenek atau buyut dan seluruh keluarga yang terkait dengan kakek atau nenek atau buyut tersebut.

Sayang sekali, tradisi unjung-unjung dan bani-banian pun semua berganti melalui media daring. Hadirnya teknologi informasi sesungguhnya cukup membantu masyarakat termasuk saya yang sedang di perantauan tidak bisa mudik lebaran tahun ini. Jadi untuk sementara ini maaf-maafannya dari tempat masing-masing, tidak perlu pulang ke rumah. Kita bisa memnnfaatkan banyak media mulai dari whatsaap, messenger, aplikasi zoom, dan lain-lain.

Maka, secara tidak langsung lebaran tahun ini berganti menjadi lebaran virtual atau riyayan online serentak di seluruh Indonesia. Budaya unjung-unjung (silaturahmi) melalui komunikasi digital menjadi budaya baru menggantikan unjung-unjung dengan tatap muka langsung. Walaupun hanya bisa bertemu di dunia maya, insyaAllah semua ada hikmahnya. Karena tujuan semua ini adalah baik. Yakni untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19.

Tidak kalah terpenting adalah, adanya pandemi jangan sampai memutus tali persaudaran dan mengurangi hangatnya silaturahmi baik dengan keluarga, saudara, kerabat, dan teman. Saya sendiri sejak malam lebaran idul fitri sampai hari ini masih menerima telpon dan melakukan video call bareng mulai dari teman SD sampai kuliah dan dosen-dosen di kampus serta beberapa keluarga jauh. Semoga pandemi ini lekas usai dan kita semua selalu dapat meningkatkan rasa sabar dan syukur dalam menghadapi ujian ini. []

Dana Desa Untuk Desa-Desa Kreatif

0

Pemuda-pemuda kreatif bisa dilatih dan digerakkan. Apalagi sekarang desa ujung Lamteng itu telah manasbihkan diri sebagai kampung dakwah? Lalu apa lagi? Tentu ini adalah project perubahan yang lebih banyak membutuhkan energi kaum muda. Tak perlu malu, takut, sungkan, atau rendah diri kepada golongan tua. Sudah banyak desa-desa kreatif karena kaum mudanya bergerak. Hal penting yang dibutuhkan adalah keberanian.

Kampusdesa.or.id–Akhir-akhir ini banyak desa yang menampilkan informasi penggunaan dana desa. Sekilas nampak baik dan tanggungjawab. Namun jika dicermati lebih dalam, dana desa banyak untuk pembangunan fisik, tapi minim untuk pemberdayaan ekonomi atau pengembangan Bumdes secara signifikan.

Alasan utama karena mengerjalan fisik, oknum kuasa pengguna anggaran bisa dengan mudah mencari ujung dari mark-up anggaran. Selain itu kegiatan pembangunan fisik dapat dilihat hasil setelah pembangunan. Misal saja gapura, maskot desa, gorong-gorong dan lainnya.

Desa seharusnya punya roadmap mau ditampilkan seperti apa 5 tahun yang akan datang. Banyak pilihan, misalnya desa olahraga, desa pertanian dan peternakan, desa wisata dan desa dengan segudang pilihan tema lainnya. Lebih dari itu, jika ada pemimpin progresif di desa tersebut, perubahan akan signifikan terjadi. Semangatnya bukan cari ujung, tapi memang pengabdian masyarakat dan mengurangi pengangguran.

Baca juga:

Rasionalitas dan Harapan Penerapan Dana Desa
Optimalisasi Dana Desa untuk Mewujudkan Desa Mandiri dan Sejahtera

Saya konkritkan kepada Desa Srisawahan Lampung Tengah (Lamteng) yang berada di dekat Dam Raman. Pemudanya pernah datang ke Payungi dan menawarkan saya untuk tarung lurah. Saya menolak dengan halus, tapi saya beri alternatif jika ada pemuda yang mau nyalon di sana saya janji akan carikan uang untuk pemenangan. Jujur saya lebih tertarik tarung lurah jika istri saya mengizinkan.

Desa itu tinggal dipoles sedikit dengan roadmap dan kegiatan tematik. Saya sudah memulai dengan gerakan #ayokedamraman. Tentu menggerakkan menjadi tema desa yang variatif akan lebih mudah. Gerakan september 2017 itu kini sudah banyak menampakkan perubahan dan keramaian. Tentu dengan dana desa yang mencapai 1 miliar dikali 5 tahun jelas lebih signifikan untuk memberi perubahan di sana.

Desa itu tinggal dipoles sedikit dengan roadmap dan kegiatan tematik. Saya sudah memulai dengan gerakan #ayokedamraman. Tentu menggerakkan menjadi tema desa yang variatif akan lebih mudah. Gerakan september 2017 itu kini sudah banyak menampakkan perubahan dan keramaian. Tentu dengan dana desa yang mencapai 1 miliar dikali 5 tahun jelas lebih signifikan untuk memberi perubahan di sana.

Pemuda-pemuda kreatif bisa dilatih dan digerakkan. Apalagi sekarang desa ujung Lamteng itu telah manasbihkan diri sebagai kampung dakwah? Lalu apa lagi? Tentu ini adalah project perubahan yang lebih banyak membutuhkan energi kaum muda. Tak perlu malu, takut, sungkan, atau rendah diri kepada golongan tua. Sudah banyak desa-desa kreatif karena kaum mudanya bergerak. Hal penting yang dibutuhkan adalah keberanian.

*Tulisan kiriman dari Dharma Setyawan (Penggerak Pasar Yosomulyo Pelangi Kota Metro, Lampung)

Angpao Lebaran Mendidik Anak atau Tidak?

0

Orang tua harus mampu menjelaskan fungsi uang agar anak dapat memahami nilai pentingnya uang. Sehingga tidak boleh dihambur-hamburkan kecuali membeli barang yang penting. Sebaiknya ditanya apa yang anak inginkan dan sekalian diarahkan oleh orang tua mana yang boleh dibeli dan tidak. Dan yang tidak kalah penting adalah diajak menyisihkan uang untuk shadaqah atau infak. Menanamkan nilai berbagi dan menjadi seorang dermawan pada anak sejak dini juga perlu untuk memahamkan nilai moral yang akan diingatnya ketika dewasa nanti.

Kampusdesa.or.id–Entah dimulai kapan dan oleh siapa, tradisi memberi uang saku (angpao) saat lebaran ini, yang jelas akhirnya momen angpao ini menjadi momen yang ditunggu oleh anak-anak. Tradisi ini rata terjadi pada semua lapisan ekonomi masyarakat, baik yang kaya, berkecukupan maupun pas-pasan, semua ingin memberi angpao, sebagai salah satu bentuk berbagi kebahagiaan.

Indonesia adalah negara yang memegang tradisi memberi angpao saat Lebaran. Setiap tahun budaya ini masih dilakoni sampai lebaran sekarang. Biasanya, anak kecil lah yang paling bersemangat berburu angpao Lebaran dari orangtua, paman, tante, maupun eyang mereka saat Lebaran. Kalau di kampung saya, yang kerap diberi angpao adalah usia SD-SMP, bahkan anak usia balita maupun batita (di bawah tiga tahun) dan bayi pun mendapat angpao. Meskipun mereka belum mengerti tentang uang. Lantas sebenarnya jika anak-anak mendapat angpao Lebaran, itu mendidik atau tidak?

Bagi-bagi angpao lebaran menjadi salah satu tradisi yang selalu menghiasi momen Lebaran. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh orang dewasa yang ingin membagikan sedikit kebahagiaan kepada keponakan, maupun sanak saudara. Maka sebab itulah tidak sedikit juga keponakan saya minta uang saat lebaran.

Baca juga: Ora Poso, Ora Oleh Riyoyo

Seperti yang dilansir oleh Lifestyle.okezone.com (04/06/2019) Psikolog Meity Arianty menjelaskan, kegiatan bagi-bagi angpao lebaran bisa digunakan sebagai salah satu cara untuk mendidik anak dalam menghargai sebuah proses. “Pertama harus dimulai dari niat si pemberi angpao. Sebaiknya berikan angpao dengan maksud memberikan reward atau apresiasi kepada anak karena mereka telah berusaha puasa selama 1 bulan ini,” terang Meity Arianty.

Dengan demikian, maka akan tertanam di pikiran anak-anak bahwa, bila mereka berperilaku baik, maka mereka akan mendapatkan sesuatu. Meity menambahkan, sampaikan pula bahwa angpao tersebut adalah rezeki yang diberikan oleh Allah SWT untuk anak shaleh.

Selain itu, sebaiknya berikan angpao dalam jumlah yang wajar. Lalu masukkanlah uang ke dalam amplop bergambar lucu. Lebih bagus jika pada bagian depan amplop tertulis ucapan “Mohon Maaf Lahir dan Batin. Secara tidak langsung, cara ini akan mengajarkan anak tentang sopan santun.

Karena selama ini yang saya amati adalah bagi-bagi angpao ini menjadikan anak mata duitan. Ketika silaturahmi (kunjung lebaran) tidak menyampaikan maaf malah minta uang. Parahnya beberapa anak (mungkin dulu zaman kecil saya termasuk ke dalam golongan ini), hanya mengunjungi rumah yang “ditandai” oleh anak-anak bakal memberi angpao lebaran.

Pentingnya Peran Orang Tua

Karena sudah menjadi hal yang lumrah dan berniat menyenangkan anak-anak di kala lebaran. Bahkan dulu saat lebaran saya merasakan kebahagian pada momen lebaran ini. Karena pasti mengantongi uang dari pak dhe, budhe, dan kakek nenek dari pihak bapak maupun ibuk. Uang yang diberikan pun bermacam-macam, mulai dari 2000 sampai 50.000. kalau ditotal saya mendapatkan sebanyak plus-minus 500 ribu, yang mana zaman itu sudah besar. Di usia masih anak-anak uang segitu kalau dibuat beli jajan pasti gak ada habisnya dan tentu malah jadi boros, which is itu tidak baik. Lalu bagaimana seharusnya??

Orang tua di sini memiliki peran yang sangat penting terutama Ibu. Mengutip HaiBunda.com psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi menyarankan orang tua memasukkan angpao anak di celengan yang memang sudah disediakan. Jika terpaksa uang anak dipinjam, jangan lupa dikembalikan. Ini sebagai contoh ke anak bahwa kita harus menghargai orang sekaligus menghargai miliki orang lain. Terlebih kalau jumlahnya cukup banyak, orang tua bisa memasukkannya ke reksadana atau dibelikan saham.

Ini dulu juga yang dilakukan oleh orang tua kepada saya dan sekarang adik saya mengalami hal serupa. Namanya naluri anak-anak (apalagi yang sudah mengerti uang) pasti ingin dibelikan jajan dan jika disimpan sendiri maka cepat dihabiskan tanpa adanya kontrol dan dibantu kelola uangnya.

Menerima uang tentu saja memberikan perasaan yang menyenangkan, namun alangkah baiknya untuk memberi tahu anak agar tidak langsung menghabiskan uang yang ia terima. Orang tua dituntut hadir di sini, mengajarkan sifat hemat dan diajari menabung untuk membeli kebutuhan yang lebih utama di kemudian hari.

Menerima uang tentu saja memberikan perasaan yang menyenangkan, namun alangkah baiknya untuk memberi tahu anak agar tidak langsung menghabiskan uang yang ia terima. Orang tua dituntut hadir di sini, mengajarkan sifat hemat dan diajari menabung untuk membeli kebutuhan yang lebih utama di kemudian hari. Seperti halnya beli keperluan pendidikan yaitu buku, sepatu, atau seragam sekolah saat memasuki ajaran tahun baru. Ini yang dinamakan dengan belanja bijak daripada membeli urusan perut. Tentu usia belia belum mampu me-manage hal demikian.

Baca juga: Lebaran Tidak Harus Beli Pakaian Baru

Ajari anak untuk menyimpan uang yang dia terima, melalui kegiatan menabung. Ini dapat membuat anak menahan hasratnya untuk berbelanja karena dorongan sesaat. Dengan begitu, dia akan belajar mengelola uang angpao Lebaran dengan baik. Kebiasaan menabung perlu ditanam sejak dini, oleh karena itu berikan anak tabungan dengan karakter favorit untuk memotivasinya. Kalau saya dulu pakai tabungan ayam, kalau adek saya karena perempuan dan suka sama kartun frozen maka dibelikan tabungan/celengan tabung bergambar karakter fozen.

Selain itu orang tua harus mampu menjelaskan fungsi uang agar anak dapat memahami nilai pentingnya uang. Sehingga tidak boleh dihambur-hamburkan kecuali membeli barang yang penting. Sebaiknya ditanya apa yang anak inginkan dan sekalian diarahkan oleh orang tua mana yang boleh dibeli dan tidak.

Dan yang tidak kalah penting adalah diajak menyisihkan uang untuk shadaqah atau infak. Menanamkan nilai berbagi dan menjadi seorang dermawan pada anak sejak dini juga perlu untuk memahamkan nilai moral yang akan diingatnya ketika dewasa nanti. Lebih-lebih hal semacam ini dijadikan kebiasan agar mengakar dan melekan menjadi habit si anak. []

Strategi Ketahanan Pangan di Masa Pandemi dan Menjelang Hari Raya Idul Fitri

0

Jika poin-poin ketahanan pangan tidak terpenuhi, maka jangan heran jika di situasi pandemi bebarengan dengan hari raya idul fitri kebutuhan pokok melonjak tajam. Hal ini harus diimbangi dengan meningkatnya produktivitas. Sehingga ketahanan pangan tidak melemah di saat terjadi kekurangan. Situasi pelik seperti ini, sebetulnya bisa ditempuh dengan menggalakkan dua hal sederhana. Dari lini desa dan kota saling bahu membahu mencukupi kebutuhan pangan serta petani kota (farming urban) ikut andil mencukupi kebutuhan secara mandiri.

Kampusdesa.or.id–Ketahanan pangan merupakan isu yang selalu seksi untuk dibahas. Karena selain sandang, pangan adalah menjadi kebutuhan primer manusia bahkan seluruh makhluk hidup yang ada di permukaan bumi ini. Pangan merupakan komoditas penting dan strategis bagi bangsa Indonesia mengingat pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi oleh pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama seperti diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang pangan.

Di Indonesia aspek ketahanan pangan (food security) telah menjadi isu sentral dalam pembangunan pertanian dan pembangunan nasional. Masalah pangan dan ketahanan pangan tidak dapat dilepaskan dari konteks komoditas beras. Hal ini mengingat beras merupakan bahan pangan pokok (staple food) yang dikonsumsi oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Selain makanan pokok, masyarakat juga harus memenuhi kebutuhan sumber pangan lainnya baik itu sayur mayur maupun ikan.

Dua minggu lalu Kampus Desa Indonesia mengadakan kajian online seputar ketahanan pangan ala rakyat bersama Kiai Abdullah SAM -pengasuh Pesantren Rakyat Sumberpucung Malang. Hal ini mengingatkan saya enam tahun lalu saat ditugaskan oleh LPPM menjadi relawan mendampingi mahasiswa KKM pemberdayaan masyarakat di Sumberpucung. Pesantren Rakyat adalah satu-satunya tempat binaan yang sudah mandiri secara ekonomi, ekologi, dan agraria.

Semua kebutuhan pokok dan penunjang lainnya baik itu bumbu dapur, sayur, buah-buahan, dan ikan dapat tercukupi karena para santri dan masyarakat sekitar dibudayakan menanam dan budidaya sendiri. Anjuran ini sebenarnya sudah tercantum di dalam al-Quran dan hadits Nabi Muhammad SAW. Tinggal kita mau mempraktikan atau tidak. Karena sesungguhnya di dalam bercocok tanam itu juga menerapkan nilai-nilai Islam dan mengandung ibadah. Bukan hanya wiridan dan shalat saja.

Di lain waktu, seminggu yang lalu saya menonton sebuah video dokumenter terbaru di kanal Youtube Watchdoc Documentary yang senada dengan topik ini bahkan lebih sarkasme. Di sana ada beberapa bagian mengulas khusus antara ganasnya rezim kapitalisme dan tidak sejahteranya para petani desa. Banyak lahan petani digantikan industri, lahan yang tidak cocok menanam padi dipaksakan sehingga gagal, dan pemerintah lebih membeli hasil produksi perusahaan swasta daripada hasil para petani desa.

Di samping itu, kebetulan hari ini (23/05) saya melakukan diskusi online via live instagram dengan Mas Benu Nuharto, ketua Lembaga Pengembangan dan Pertanian Nahdlatul Ulama’ (LPPNU) dan salah satu penggerak petani muda di Kabupaten Lamongan. Diskusi yang berlangsung satu jam 15 menit ini cukup menarik. Ternyata dalam kaca mata beliau, pertanian di Indonesia ini masih sangat perlu diperhatikan oleh pemerintah. Kalau bisa masuk dalam skala prioritas. Karena sebagai negara yang dilabeli negara agraris, masak tidak semua petani di Indonesia bisa sejahtera.

Hal-hal yang dijanjikan oleh pemerintah mengenai subsidi atau sumbangan berupa bibit dan pupuk sampai saat ini juga belum tersentuh ke petani desa. Para petani tampak mandiri, seperti ada atau tidak ada pemerintah sama saja. Pemerintah seakan-akan belum hadir. Hanya mau datang berkunjung ketika panen melimpah lantas foto-foto, masuk media. Selesai sampai di situ saja.

Hal-hal yang dijanjikan oleh pemerintah mengenai subsidi atau sumbangan berupa bibit dan pupuk sampai saat ini juga belum tersentuh ke petani desa. Para petani tampak mandiri, seperti ada atau tidak ada pemerintah sama saja. Pemerintah seakan-akan belum hadir. Hanya mau datang berkunjung ketika panen melimpah lantas foto-foto, masuk media. Selesai sampai di situ saja. Klaim sebagai petani binaan dan membuat kebijakan pro petani inilah yang tidak terbukti samapai sekarang ganti menteri.

Di Lamongan sendiri alhamdulillah panen raya selalu surplus tidak ada kekurangan, malah sering mengirim hasil panen ke daerah-daerah lain. Namun meskipun seperti itu, para petani masih mengalami kendala terkait banyaknya hama tikus. Petani belum menemukan cara efektif selain memakai jebakan setrum. Padahal, langkah ini selain membahayakan orang lain juga pemilik sawah itu sendiri. Sudah tercatat sekitar 10 orang meninggal karena jebakan ini. Problem hama tikus harus diselesaikan bersama-sama termasuk kesadaran agar tidak memburu ular dan burung hantu sebagai predator alami dalam siklus rantai makanan. Jika keduanya punah, maka tikus akan beranak pinak melimpah tanpa ada pemakannya.

Tidak hanya petani padi maupun jagung, begitu juga para petani tambak masih ada kendala dengan menurunnya harga jual ketika panen melimpah. Padahal Bu Gubernur pernah datang ke pasar ikan Lamongan dan setelah mendengar keluhan masyarakat, ia menjanjikan berupa iming-iming akan dilakukan ekspor besar-besaran dan memberikan pelatihan pengolahan menjadi sebuah produk. Namun sampai saat ini pun belum kelihatan eksekusinya.

Entah bagaimana, petani harus pintar-pintar berpikir tidak sampai rugi dan ada hasilnya. Beberapa membuat BUMDes sebagai wadah pemasaran melalui gabungan kelompok tani (GAPOKTAN) untuk memangkas banyak pintu agar petani desa tidak rugi. Ini masih belum ada regulasi yang jelas. Atau memang sengaja dibuat bisnis oleh para tengkulak. Tentu hal-hal demikian harus atas dukungan pemerintah.

Terkendala Persoalan Lahan

Indonesia seharusnya diuntungkan dengan masih memiliki banyak desa yang penduduknya mayoritas masih menjadi petani bercocok tanam dan peternak.  Meskipun menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi penurunan luas baku lahan pertanian di Indonesia menjadi 7,1 juta hektar pada 2018 dibanding data sensus 2013 seluas 7,75 juta hektar.

Sementara itu, target swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah sulit untuk dicapai. Salah satu penyebabnya adalah luas lahan pertanian yang tidak memadai. Hal ini dibuktikan dari data Bank Dunia pada 2017 yang menyebutkan hanya 31,5% atau 570.000 kilometer persegi lahan di Indonesia yang digunakan untuk pertanian.

Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hizkia Respatiadi menjelaskan, sebagai perbandingan, Thailand memiliki lahan pertanian seluas 221.000 kilometer persegi atau 43,3% dari total lahannya. Sementara itu Australia menggunakan 52,9% lahannya untuk pertanian atau seluas 4 juta kilometer persegi. Negara dengan penduduk terbanyak di dunia yaitu China memiliki lahan pertanian seluas 5 juta kilometer persegi atau 54,8% dari total luas lahannya. Perbandingan rasio penduduk dengan lahan di Indonesia adalah 1 orang : 0,22 hektar, Thailand 1 : 0,32 hektar, Australia 1 : 16,67 hektar dan China Tiongkok 1 : 0,35 hektar.

Beberapa aspek dapat dijadikan indikator terjadinya perubahan lebih baik di sektor pertanian di antaranya dapat dilihat dari seberapa besar terjadinya peningkatan produksi pertanian di semua komoditas, membaiknya kesejahteraan petani, berkurangnya kesenjangan pendapatan masyarakat pedesaan dan melonjaknya ekspor.

Saat ini tuntutan pemerintah untuk bisa daulat pangan akan nihil jika tidak diimbangi oleh perhatian pemerintah di sektor pertanian, yang mana itu tentu saja sesuai dengan Nawacita butir ketujuh yang diusung Presiden Joko Widodo tentang peningkatan kedaulatan pangan Indonesia. Beberapa aspek dapat dijadikan indikator terjadinya perubahan lebih baik di sektor pertanian di antaranya dapat dilihat dari seberapa besar terjadinya peningkatan produksi pertanian di semua komoditas, membaiknya kesejahteraan petani, berkurangnya kesenjangan pendapatan masyarakat pedesaan dan melonjaknya ekspor.

Jadi, upaya peningkatan produksi pangan, pada beras, tak sebanding dengan lahan pertanian yang menyusut di beberapa daerah. Menurut Mas Benu, andai saja sudah ada Peraturan Daerah (PERDA) berkaitan tentang larangan alih fungsi dari lahan produktif dari pertanian pangan yang ada menjadi lahan pendirian perusahan (pabrik) atau bangunan dalam hal ini perumahan. Mungkin ini bisa meredam berkurangnya lahan pertanian.

Pembebasan lahan pangan dan produksi dan pembebasan kepemilikan hak atas tanah ini yang masih menjadi persoalan sampai sekarang. Ada dua faktor selain memang belum turunnya Perda, yakni para petani merasa penghasilannya kurang jika masih mengolah lahan. Mereka mulai merasa profesi petani belum menjadi sektor yang menjanjikan. Sedangkan ketika dijual dan dibeli oleh pengembang property lebih cepat jadi uang. Ini juga yang sudah mulai terjadi di Lamongan karena adanya revolusi industri besar-besaran, dengan dalih akan menyerap banyak lapangan pekerjaan bagi warga.

Tawaran Solusi dan Strategi Ketahanan Pangan

Jika poin-poin tersebut tidak terpenuhi, maka jangan heran jika di situasi pandemi bebarengan dengan hari raya idul fitri kebutuhan pokok melonjak tajam namun tidak diimbangi dengan meningkatnya produktivitas. Sehingga ketahanan pangan melemah karena terjadi kekurangan. Situasi pelik seperti ini, sebetulnya bisa ditempuh dengan menggalakkan dua hal sederhana. Dari lini desa dan kota saling bahu membahu mencukupi kebutuhan pangan.

Petani desa tetep bercocok tanam, meningkatkan produktivitas hasil panen. Semestinya pemerintah harus siap hadir di sini, petani desa lebih diperhatikan dan disejahterakan. Bibit dan pupuk disubsidi hingga murah sehingga terjangkau dan tercukupi. Tidak ada monopoli dagang antar tengkulak yang mana justru mereka yang bermain di sektor ini bukanlah petani. Hanya bisnisman yang pandai memainkan pasar.

Di masa pandemi ini justru petani di desa seharusnya lebih menjadi salah satu prioritas dan digenjot lagi produktifitasnya. Sehingga mampu membantu pemerintah menopang kebutuhan di kota dan pusat. Tidah hanya impor dan impor kebutuhan pokok yang mengakibatkan harga jual hasil panen petani lokal sendiri malah jatuh.

Di masa pandemi ini justru petani di desa seharusnya lebih menjadi salah satu prioritas dan digenjot lagi produktifitasnya. Sehingga mampu membantu pemerintah menopang kebutuhan di kota dan pusat. Tidah hanya impor dan impor kebutuhan pokok yang mengakibatkan harga jual hasil panen petani lokal sendiri malah jatuh.

Maka, dalam hal ini perlu meningkatkan peran kelompok tani untuk mencapai ketahanan pangan. Memastikan ketersediaan pangan rumah tangga sudah cukup memadai atau stabil terutama tatkala musim menghadapi gagal panen, kekeringan, dan serangan hama penyakit. Terlebih menggait generasi muda agar mau terjun di dunia pertanian.

Baca Juga: Kedaulatan Itu Ada di Desa

Inovasi-inovasi dari generasi muda biasanya lebih uptodate dan fresh, apalagi di era digital ini generasi muda dapat membantu membikinkan start-up semisal ambil peran dalam pemasaran hasil pertanian. Generasi muda di sini dapat berperan dalam pemutusan rantai pemasaran yang panjang. Generasi muda dapat mengumpulkan hasil pertanian suatu desa dan memasarkannya secara langsung pada konsumen akhir. Konsumen akhir yang dimaksud adalah suatu organisasi atau badan yang membutuhkan bahan pangan dalam jumlah banyak.

Namun terkadang inovasi yang diberikan petani tidak dapat langsung diterima oleh petani. Umumnya petani memerlukan bukti kesuksesan dalam penerapan inovasi tersebut. karena itu, generasi muda diharapkan dapat melakukan pendekatan yang baru agar petani berkenan mengimplementasikan inovasi teresbut. Salah satunya adalah dengan mengajak petani turun langung ke dalam pasar. Generasi muda dapat menunjukkan secara langsung dampak dari panjangnya rantai pemasaran.

Petani kota (urban farming) jika tidak memiliki lahan bisa menggunakan teknologi hortikultura. Berbagai sistem penanaman urban farming contohnya seperti vertikultur, hidroponik, dan akuaponik dapat dengan mudah diterapkan di area terbatas. Para penggiat urban farming dapat menyulap atap rumah menjadi kebun atap, pagar rumah menjadi taman vertikal, dan memanfaatkan plastik, pot bekas dan sebongkah pipa menjadi kebun tanaman hidroponik yang subur.

Sedangkan, petani kota (urban farming) jika tidak memiliki lahan bisa menggunakan teknologi hortikultura. Berbagai sistem penanaman urban farming contohnya seperti vertikultur, hidroponik, dan akuaponik dapat dengan mudah diterapkan di area terbatas. Para penggiat urban farming dapat menyulap atap rumah menjadi kebun atap, pagar rumah menjadi taman vertikal, dan memanfaatkan plastik, pot bekas dan sebongkah pipa menjadi kebun tanaman hidroponik yang subur.

Kesadaran ini sungguh sangat berkontribusi dalam ketahanan pangan di kota yang jika mengikuti arus urbanisasi pasti tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri dan hanya mengandalkan petani desa. Akibatnya permintaan akan bahan makanan yang tidak tercukupi akan menyebabkan inflasi harga. Dan sebenarnya praktik urban farming ini juga menjadi peluang tersendiri, bida dijadikan bisnis di perkotaan.

Jika cara ini sudah menjadi budaya atau gaya hidup masyarakat perkotaan dan terus dikembangkan, urban farming dapat diproyeksikan untuk mencukupi ketersediaan bahan makanan dan memperkuat ketahanan pangan kota itu sendiri. Tentunya pemerintah kota juga mempunyai andil yang penting dalam menyediakan regulasi khusus untuk mendukung penerapan urban farming, termasuk soal kebijakan hal guna lahan. Dengan demikian petani dapat menjawab tantangan dalam mewujudkan salah satu tujuan SGDs (Sustainable Development Goals) yaitu mengakhiri/tanpa kelaparan (zero hunger).

Kita coba ingat kembali pesan bapak pendiri bangsa, Presiden pertama Repubik Indonesia. Ir. Soekarno pernah menyampaikan “Pangan adalah jatidiri sebuah bangsa”. Begitu juga Mbah Yai Hasyim Asy’ari, “petani adalah penyelamat negeri”. Dari sini Mas Benu menyimpulkan dengan sebuah tagline yang bagus “No Farm, No Food, No Future, No Nation”. Arti sederhananya adalah “kalau tidak ada pangan yaa kukot (bubar)”. Jadi selain penguasaan energi dan ketahanan militer, pangan adalah masa depan bangsa dan negara.

Jika flashbak ke belakang saat jaya-jayanya pertanian di Indonesia negara tetangga semisal Vietnam mau menukar dengan pesawat terbang dan negara lain seperti Thailand yang saat ini pertaniannya mengungguli Indonesia. Padahal dulu dalam sejarah negara tersebut belajar dari Indonesia. Sampai di titik iini mungkin ada yang salah. Maka harapan besar kepada para teman-teman muda mau ikut serta membantu pengembangan di sektor pertanian. Perhatian pemerintah pusat maupun daerah terhadap para petani muda juga sangatlah diperlukan, karena masih terasa sangatlah kurang. Padahal petani adalah tulangpunggung yang harus di support oleh pemerintah. Sehingga, ketika pangan Indonesia maju negara akan menjadi berdaulat, adil, dan makmur. []