Orang Tua sebagai Mursyid bagi Anak-anaknya di Dunia Maya

0
157
Dari kiri : Gisman Priayuda Assydiq (Enterpreneur IT), Mohammad Mahpur (Founder Kampus Desa), Dedi Kusbianto (Dosen dan Ahli Pemrograman dari Polinema), dan sejumlah Pengurus NU Kota Malang. Paling Kanan Prof. Kasuwi Saiban

Beberapa media memuat bahaya kecanduan gawai pada anak-anak. Memang, dampak gawai (smartphone) sampai ke kecanduan. Seharian penuh main handphone tanpa makan dan minum. Saat diingatkan, anak marah-marah dan seolah tidak bisa tenang ketika meninggalkan gawainya. Ini seperti gejala kecanduan gawai ketika anak-anak mengalami problem diri saat jauh dari gawainya atau tidak bisa lepas saat bermain gadget. Namun demikian menghindari sama sekali gawai juga tidak memberikan jawaban karena sebagian besar informasi ilmu pengetahuan juga banyak yang tersimpan didalam data besar online (bigdata). 

Menyikapi dampak yang serius dan negatif pada anak, cangkrukan 4.0 yang berkolaborasi antara Kampus Desa Indonesia, Pondok Pesantren Waqiah Indonesia, MWC NU Lowokwaru mengangkat diskusi seputar gawai, antara ancaman dan peluang.  Mahpur dari Kampus Desa menyatakan bahwa perkembangan anak hari ini semakin kompleks. Anak-anak boleh jadi dilarang menggunakan telepon pinta, tetapi mereka jelas akan mencari berbagai fasilitas agar bisa menggunakan telepon pinta di luar rumah. Kalau tidak begitu, mereka akan mencari tempat tertentu untuk mengakses internet seperti di warnet.

Oleh karena itu, Mahpur menegaskan bahwa separuh perkembangan anak perlu dilihat tidak saja dari sisi badan wadaqnya tetapi badan maya-nya juga perlu dilihat. Bagaimana akun anak-anak juga bisa dipantau untuk mendapatkan profil asli anak. Disini orang tua wajib melek teknologi. Pertumbuhan teknologi informasi menjadikan anak perkembang dalam dua alam. Sebagai orang tua niscaya perlu memasuki dunia tersebut meskipun tidak seratus persen. Hal ini juga untuk menjadikan orang tua melek teknologi dan mampu melakukan kontrol dan pengawasan terhadap anak, bahkan mampu mengatur dengan bijaksana kapan anak waktunya boleh menggunakan telepon pintar dan kapan tidak boleh menggunakannya. Pemahaman terhadap teknologi ini, orang tua diharapkan bisa mencegah agar anak-anaknya tidak kecanduan tekonologi yang berdampak pada hilangnya tugas hidup yang utama, seperti belajar dan/atau bersosialisasi.

Menurut Mahpur, kesehatan menggunakan gawai ditentukan oleh kualitas hubungan orang tua dan anak di rumah. Hubungan yang baik dan penuh kedekatan akan mampu saling mengondisikan bagaimana anak menggunakan gawai secara positif. Hubungan ini akan memudahkan komunikasi sehingga anak dan orang tua mampu menciptakan nilai komunikasi yang terbuka. Ketika komunikasi terbuka, anak bisa dikendalikan dengan lebih pro-aktif. Hal penting lainnya, gawai pada saatnya nanti akan menjadi salah satu media kreatif dan jalan menuju sukses. Hal ini dibuktikan bahwa internet telah menjadi sarana dagang yang menghasilkan 1000 trilyun pertahuan untuk bidang kuliner dan fashion.

Dedi Kusbianto, Ahli pemograman dari Polinema Malang mempunyai sudut pandang yang lebih teknis tetapi dijelaskan menggunakan logika agama. Dedi memaparkan, internet itu dapat dianalogikan dengan kehidupan agama. Ibaratnya, anak-anak itu akan mencapai makrifat pada tuhan, maka dia butuh mursyid untuk sampai pada tujuan tersebut. Orang tua harus menjadi mursyidnya. Ketika anak berada di belantara dunia maya, yang sebenarnya nyata, anak-anak bisa menyikapi jin-syaitan dan berbagai keburukannya. Ketika dia bisa melampauinya, maka anak-anak akan mencapai makrifatnya (mengetahui kegunaannya/manfaatnya).

Jikalau anak memiliki akun yang terkendali, bebas dari akun xxx, maka syahadat anak sudah benar dan ditingkatkan menuju rukun kedua, yakni sholat. Maksudnya, anak butuh dipandu memanfaatkan fungsi internet sesuai dengan kebutuhannya. Jika sholatnya benar maka anak akan terbiasa tertib dalam berselancar di dunia maya.

Anak butuh syahadat dulu ketika memasuki dunia teknologi informasi. Syahadat itu diibaratkan akun. Jikalau anak memiliki akun yang terkendali, bebas dari akun xxx, maka syahadat anak sudah benar dan ditingkatkan menuju rukun kedua, yakni sholat. Maksudnya, anak butuh dipandu memanfaatkan fungsi internet sesuai dengan kebutuhannya. Jika sholatnya benar maka anak akan terbiasa tertib dalam berselancar di dunia maya. Baru anak diajari ibadah-ibadah sunnah, seperti membagi konten yang positif ke teman atau ke dunia maya. Jika analogi ini kita lakukan di keluarga, utamanya orang tua sebagai mursyidnya, maka akan-anak akan mencapai tuhannya. Jika demikian, internet itu tidak lagi dianggap maya, dia menjadi nyata, dan akhiratlah yang tetap maya, begitu guyonan analog yang disampaikan oleh seorang dosen polinema ahli pemograman tersebut.

Cangkrukan 4.0 sebuah nama yang mengekor trend masalah transformasi kehidupan ke teknologi informasi ini dihadiri oleh pelaku youtuber Gisman Priayuda Assydiq. Dia sukses menekuni bisnis digital sebagai Komentator Kompetisi Game Online dan sudah memiliki follower 30.000. Yuda sangat akrab dengan teknologi bahkan sejak SMA dan menggeluti dunia gamer. Dia menuturkan berdasarkan pengalamannya, dia selalu mengalami pertentangan dengan orang tuanya. Yah, baginya, orang tua tidak selalu tahu dunia anak-anak. Ketidaktahuannya ini sering melahirkan konflik kebutuhan.

Posisi orang tua itu seperti tulisan di belakang angkot, jaga jarak, sehingga bisa mengawasinya dari jarak dekat tanpa mencapuri terlalu dalam. Jarak dekat ini tetap akan bisa mengambil peran positif dalam mengawasi dan menjaga anak-anak mereka.

Bagi Yuda, di era ini, sebaiknya orang tua tidak terlalu membuat batas tembok yang tinggi-tinggi pada anaknya. Boleh mengasih tembok, tetapi jangan tinggi-tinggi sehingga orang tua juga bisa melompat untuk mengawal anak-anaknya. Toh bagaimanapun, anak masih membutuhkan orang tuanya disaat mereka di suatu masanya terpuruk. Sejalan dengan pikiran nara sumber lainnya, orang tua sebaiknya juga memahami dunia teknologi informasi (internet) agar mampu menyelami hiruk pikuk di dunia maya. Orang tua bukan sebagai satpam yang mengawasi secara ketat, atau justru dilepas begitu saja. Menurut Yuda, posisi orang tua itu seperti tulisan di belakang angkot, jaga jarak, sehingga bisa mengawasinya dari jarak dekat tanpa mencapuri terlalu dalam. Jarak dekat ini tetap akan bisa mengambil peran positif dalam mengawasi dan menjaga anak-anak mereka.

Dia yang sudah melanglang buana ke luar negeri, pun mengatakan, agar orang tua memberi kebebasan kepada anak-anaknya atas apa yang dipilihnya. Tentu pilihan yang positif. Anak biar memcoba dan merasakan dulu atas pilihannya. Jikalau anak mulai dirasa kehilangan orientasi atau kesasar, maka orang tuanyalah yang akan menjadi penyelamat. Orang tua juga bisa mencari jejak-jejak akses internet anaknya asalkan orang tua juga melek teknologi. Jelas Yuda yang pernah mendapatkan suntikan dana USD 15.000 dari Korea untuk pengembangan proyek concepting kompetisi game online.

Di akhir kegiatan ditutup dengan sudut pandang agama. Kasuwi Saiban, profesor yang juga pengurus NU Kota Malang menandaskan, percepatan teknologi hari ini sudah diisyaratkan Al-Quran pada kisah nabi Sulaiman. Bagaimana Nabi mampu memindah istana Balqis dalam waktu sekejap. Ini seperti teknologi informasi hari ini, dalam waktu sekejap saja kita bisa mendapatkan barang yang kita inginkan tanpa kita mendatangi secara fisik untuk membeli barang tersebut, meskipun jaraknya jauh. Isyarat ini menjadi tuntutan kita bagaimana mengembangkan berbagai perubahan menyangkut pengembangan teori-teori materi dan energi. Selain itu, Al Quran juga memberikan isyarat bahwa hal-hal yang kita anggap ghoib, nyatanya sekarang sudah mulai bisa diindera sehingga kita tidak asing dengannya. Sebagaimana mengutip Muhammad Abduh, bahwa seluruh informasi yang ada dalam al-Quran perlahan-lahan akan terOleh karena itu, para penafsir kitab sudah sewaktunya mensyarati dirinya tidak hanya ahli di agama, tetapi juga disyarati ahli teknologi.

Apalagi hari ini lagi marak perdebatan Islam Nusantara di berbagai media sosial. Jika kita tidak mengetahui secara benar ilmu-ilmu agama, maka kita akan tersesat pada pemahaman yang salah kaprah. Oleh karena itu kemampun untuk mewarnai IT akan melahirkan kemampuan memahami dunia agama yang lagi hiruk pikuk dan mampu mengambil jalan terang terhadap perdebatan yang muncul di dunia maya sehingga tetap bisa berada dalam pemahaman agama yang benar, jelas profesor bidang agama tersebut yang sekaligu pengurus Cabang NU Kota Malang dan Dosen Universitas Merdeka Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here