Sarjana Kembali ke Desa

0
103
Ilustrasi gambar, sumber: geotimes.co.id

0Shares
0

Huruf s png 5 » PNG Imageetelah hampir sepuluh bulan begitu hangatnya menyelimuti bumi, sejak beberapa hari ini matahari terlihat malu-malu mengintip dari balik mendung kelabu yang berduyun-duyun mengantri untuk menumpahkan tetes-tetes hujan di seluruh penjuru bumi. Jika kerontang sebelumnya menguasai tanah-tanah yang pecah-pecah kini tanah-tanah itu bergelung dalam dingin hujan yang menggemburkan. Tak lagi keras, hujan melembutkan semua.

Para petani bergembira musim tanah tiba meski sempat tertunda. Lahan-lahan kerontang mulai digarap bersamaan. Bibit-bibit padi ditanam menggunakan mesin penanam benih padi bantuan pemerintah yang masuk ke desa-desa. Memusnahkan lapangan kerja para buruh tani yang lesu memikirkan bagaimana mendapatkan sedikit uang untuk bertahan hidup bersama keluarga. Beruntunglah mereka yang memiliki skill dan memanfaatkannya untuk mencari nafkah. Mereka yang hanya bergantung pada lahan sawah sebagai lapangan pekerjaan terpaksa gigit jari.

Pohon-pohon jati mulai menggeliat menumbuhkan tunas-tunas baru menyambut musim penghujan yang mencumbu. Hijau sepanjang persawahan membuat indah dipandang. Tapi terjadi tak lebih hanya sepekan. Daun-daun jati itu seketika habis tinggal urat-urat daun yang berusaha tetap bertahan diserang gempuran ulat jati yang berpesta pora menyambut panen makanan musim kali ini.

Hujan ternyata tak mau memulai dengan rintik-rintik. Deras menghujam seluruh penghujung negeri. Banjir dimana-mana termasuk di ibukota yang dilanda banjir besar tepat di awal tahun yang seharusnya dipenuhi euforia selepas perayaan malam tahun baru. Mungkin Tuhan murka karena manusia begitu pongah dan tak tahu malu. Diantara meluapnya air itu ditemukan banyak kondom bekas pakai mengapung mengalir seiring banjir. Mempertontonkan dosa manusia yang semakin lama semakin tak nampak bercela.

Kami di desa tak luput dari bencana. Meski banjir tak bertandang di wilayah kami karena masih banyaknya pepohonan dan lahan terbuka untuk menyerap air hujan agar tak meluap, atau angin kencang yang berhasil ditahan oleh barisan pohon bambu yang ditanam mengelilingi batas desa, tetap saja kami dilanda bencana. Bibit padi yang telah ditanam dipastikan gagal tumbuh, terendam air yang menggenangi persawahan akibat derasnya hujan. Terpaksa para petani mengatur rencana baru. Membuat tampekan yang menghasilkan wineh, bibit padi yang siap tanam berumur sekitar dua minggu. Akibatnya mereka harus merogoh kocek lebih di awal musim tanam ini. Tak tahu apakah cuaca akan bersahabat dan menghasilkan gabah-gabah berkualitas saat panen atau serbuan hama akan menghabiskan sisa-sisa perjuangan para petani.

Aku yang memutuskan untuk menetap di desa selepas menyelesaikan kuliah karena ingin menemani ibu yang sudah beranjak tua dan hidup sendiri setelah kepergian bapak tak luput menjadi korban. Untung saja lahan peninggalan bapak bukan sawah tapi tegalan yang lebih tinggi dari lahan sawah. Meski lolos dari genangan air aku pun harus merubah rencana jika hujan turun semakin deras. Awalnya aku ingin menanam cabe dan tomat secara berseling. Urung. Hujan yang turun sore hingga malam akan membuat buah cabe terkena patet, penyakit yang menyebabkan buah cabe busuk berwarna kehitaman. Kalau saja hujan turun siang hari cabe akan berbuah dengan baik dan ranum.

Aku bertahan dengan 30 petak yang kutanami sayuran bertahap, sehingga bisa kupanen tiap hari. Sebedeng tambak berisi lele dan usaha baru pembuatan bibit tanaman yang kutekuni untuk menutup kebutuhan petani saat musim tanam. Mengisi pematang sawah agar tak kosong dan tetap menghasilkan. Cabe, tomat, bunga kol, terong, aku buatkan semua. Termasuk menjanjikan di desa yang mayoritas penduduknya petani seperti di sini. Meski kecil tapi terus memberikan pemasukan. Ibu pun senang karena ada kegiatan meski sekedar menyiram tanaman atau membantuku memasukkan tanah gembur ke kantong plastik kecil yang nanti kupotong-potong sebagai media tanam.

Menyikapi ulat jati yang berpesta pora aku sedikit merasa cemas. Biasanya saat ulat jati muncul di awal musim hujan bisa dipastikan bahwa hujan hanya akan sekejap mencumbu bumi. Kemarau akan panjang seperti tahun lalu. Berarti bisa dipastikan musim tanam tak bisa diprediksi seperti biasanya. Aku pun harus pintar mengolah lahan peninggalan bapak agar masih bisa bertahan dan menghasilkan. Nanti harus dipikirkan matang-matang apa yang harus kutanam dan bisa bertahan dalam cuaca yang absurd ini.

Di pagi mendung gerimis aku hanya menghabiskan waktu duduk di bale bambu depan rumah ditemani kopi dan singkong rebus. Ibu keluar tak lama kemudian ikut duduk di sampingku. Jemarinya terampil menjahit celanaku yang bolong-bolong.

“Kamu ndak pengen ke kota cari kerja Le”.

Aku tatap wajah di depanku yang masih asik menekuri jarum jahitnya. Mungkin dia resah dengan nasibku jika masih di desa. Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu seperti ini hampir mustahil menggantungkan nasib pada sawah dan tambak. Tapi terus terang aku tak tega meninggalkannya sendiri di sini. Ibu pun tak akan mau kalau aku ajak ke kota menemaniku.

Mengko yen bapakmu teka mundak nggoleki”.

Begitu jawabannya jika aku mengajaknya pergi. Entah bagaimana pikiran orang tua. Bapak jelas-jelas sudah pergi dan tak mungkin kembali. Tapi memang kepercayaan mereka yang sudah tua, terkadang arwah orang yang sudah meninggal kadang masih sering datang menemui mereka yang ditinggalkan. Aku sendiri antara percaya tak percaya, meski sangat ingin bertemu bapak tapi sampai sekarang belum pernah menjumpai arwah bapak datang.

Mboten Buk, kula ten ndeso mawon ngancani njenengan”.

Aku punya keinginan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan masyarakat desa. Menggalakkan ide-ide yang sebenarnya banyak mereka punya tapi karena keterbatasan pengetahuan hanya sampai di angan-angan saja. Memanfaatkan tenaga ibu-iburumah tangga yang sehari-hari hanya diam di rumah. Mereka pasti senang jika bisa menghasilkan uang sendiri meski hanya kecil. Paling tidak bisa membantu suami menyokong kebutuhan rumah tangga yang semakin membelit dengan naiknya harga secara simultan untu hampir semua kebutuhan.

Rencananya aku akan memanfaatkan sisa panen untuk dibuat pakan ternak dan kerajinan. Sampah-sampah daun dan ranting untuk dibuat briket menggantikan bahan bakar fosil. Sampah-sampah plastik yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan yang bernilai jual dan banyak ide lain yang bisa aku terapkan. Untuk sekarang pendapatan dari tegal, tambak, dan pembuatan bibit masih berlebih dan bisa kutabung untuk modal usaha selanjutnya.

Harusnya para sarjana itu kembali ke desa dan memakmurkan desanya daripada hidup di kota dengan persaingan ketat dan polusi yang memenuhi atmosfer. Hidup di desa tidak akan menjadikan tertinggal jika mau kreatif dan aktif. Bahkan menjanjikan peluang usaha yang besar bagi mereka yang mau berusaha.

Monggo buk diincipi”.

Kuulurkan sepotong singkong rebus pada ibu yang disambut senyuman. Aku tahu setiap orangtua lebih senang ditemani anaknya. Tapi mereka tidak akan bilang dan hanya diam. Sebagai anak aku belajar ini dari bapak kos dan ibu kos saat kuliah dulu yang hanya bisa memandang dengan tatapan syahdu ketika anak-anak mereka berpamitan satu persatu ketika liburan berakhir dan meninggalkan rumah lengang yang hanya berisi mereka berdua. Seketika senyum sirna di wajah keduanya.

Kutatap wajah ibu. Pelan kuulurkan tangan dan menggenggam jemarinya. Bersama kami nikmati pagi dengan mendung menggantung di langit dan senyum terukir di bibirku dan bibir ibuku..

 

 

**Naskah kiriman Marwita Oktaviana

Penulis lahir di Lamongan 34 tahun lalu. Saat ini mengajar di salah satu SMK di kabupaten Lamongan. Sangat suka membaca. Menulis adalah proses belajar baru untuk mengenal diri. Silahkan mampir di @marwita_oktaviana, fb: marwita oktaviana, atau www.witaoktavian.blogspot.com