Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 13

Sebongkah Batu (2) Literasi Lintas Generasi

0

Lalu dari mana asal-usulnya istilah ‘sebongkah batu’ itu sehingga menjadi topik dan jembatan dalam pendampingan belajar antara saya dan si bungsu? Saya perlu momentum yang tepat untuk masuk dalam zona kepentingannya tanpa membuatnya ‘merasa digurui dan dikecilkan.’ Saat dia butuh pencerahan tentang penggunaan istilah ‘sebongkah batu’ secara tepat dalam tulisannya, maka saya pun mengambil peluang ini untuk menjelaskan tentang METAFORA yang belum dipahaminya dengan baik. Sekalian mengulas porsi atensi yang dia butuhkan dan sepakati dari arahan saya agar rangkaian perhatian itu tidak dipahaminya sebagai tekanan dan gangguan orang dewasa terhadap privasinya.

Anak lebih mudah patuh pada gurunya untuk mengerjakan semua tugas, juga mematuhi aturan yang disepakati bersama.

Pertimbangannya secara psikologis sikap anak pada orang tua berbeda dengan sikapnya pada gurunya, begitu pun sebaliknya. Anak lebih mudah patuh pada gurunya untuk mengerjakan semua tugas, juga mematuhi aturan yang disepakati bersama. Setiap orangtua bawaannya merajuk dan menawar. Anehnya orangtua pun tidak kalah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa orangtua lebih mampu sabar saat mengajari anak orang lain dibandingkan anak sendiri.

Berhadapan dengan darah daging sendiri, rasa pengertian orangtua acapkali menggerut, tuntutannya yang meninggi! Tak heran saat anak belajar bersama ibu, bawaannya sering ribut dan maunya cepat selesai. Bagaimana dengan kami? Serupalah. Apalagi jika waktu atau moodnya tidak klik. Gantian protes, gantian marah.

Dalam menjelaskan peran dan tugasnya, orangtua perlu merangkulnya dulu sebagai sahabat. Sok menguasai dan membatasi hanya membuat anak jengah lalu mogok.

Proyek bersama anak-orangtua rawan molor alias tertunda bila tidak ada kesepakatan atau komitmen sejak awal. Anak perlu penjelasan yang gamblang, runut lagi masuk akal sebelum berhasil ditantang. Revisi dan masukan tidak diperkenankan menjadi kritik yang membentur egonya. Dalam menjelaskan peran dan tugasnya, orangtua perlu merangkulnya dulu sebagai sahabat. Sok menguasai dan membatasi hanya membuat anak jengah lalu mogok.

Sebentuk perhatian beragam nuansanya. Tergantung niatan, intensitas, fokus, ketersediaan waktu, semangat berbagi, mood pikiran, dan keadaan juga!

Ada yang intens, ada yang tipis-tipis. Ada fokus, ada yang sambil lalu. Ada yang menyediakan rentang waktu panjang ada yang singkat-singkat saja. Ada yang membawa misi belajar sambil bermain, ada yang sekedar mengisi waktu saja. Kadang dengan penuh kesabaran, sering pula mudah tersulut kemarahannya.

Dari Batu ke Berlian

Berdasarkan penggambaran di atas, maka sebongkah batu bisa memiliki sekelompok frase sejenis tetapi berbeda intensitas makna, seperti berikut:

Sebongkah berlian
Segenggam batu
Sejumput kerikil
Seremah pasir

Dengan konteks pemahaman seperti ini, ternyata anak-anak lebih mudah memahami tentang NUANSA MAKNA tanpa harus menghafalkannya.

Seremah pasir, jika perhatian orangtua terhadap anak itu adalah sekedar menggugurkan kewajiban. ‘Say hello’ ringan tanpa sentuhan dan tatapan penuh kasih, langsung beralih fokus pada yang lain. Intensitasnya rendah.

Walau begitu, ternyata secara periodik anak pun butuh zona eksklusif pribadi.

“Aku hanya perlu seremah pasir deh Ma, kali ini!”

Warningnya saat dia ingin istirahat serta tidak ingin diganggu keasyikannya bermain. Tak mau tahu dengan definisi apa pun yang sudah disepakati. Untung saja kami telah merundingkan dengan matang jadwal atau agenda hariannya secara demokratis dan proporsional. Kala dia berpendapat, dia bisa mempertanggungjawabkan pilihannya.

Sejumput kerikil, jika orangtua sudah peduli tentang kabar, sekedar memberi ucapan sayang dan ngobrol sejenak. Namun topiknya nge-blurr. Garing-garing saja, karena kedua pihak yang sedang berinteraksi masih mencuri-curi waktu untuk ‘menengok’ subyek yang lain.

Segenggam batu benar-benar akan bisa menjadi tembok rutinitas kebaikan yang sangat kuat!

Segenggam batu, jika pada orangtua dan anak sudah muncul kebutuhan untuk saling bekerja sama dan melengkapi. Ada jalinan komunikasi, kesepahaman terhadap tujuan, pun keselarasan langkah. Visi-misi bersama menguat mengatasi segala tantangan di tengah jalan. Segenggam batu benar-benar akan bisa menjadi tembok rutinitas kebaikan yang sangat kuat! Sesekali wajar ada kesalahpahaman atau intonasi yang meninggi, namun semua itu hanyalah romantika kebersamaan. Dalam pengakuan orangtua sebagai guru pertama dan utama bagi anak.


Sebongkah berlian perhatian (bukan lagi batu), jika perhatian orangtua pada anaknya sampai pada level penghayatan yang sakral. Yaitu perhatian karena getaran cinta tanpa syarat tanpa pamrih. Sudah tidak lagi ditunggangi ambisi predikat, keuntungan materi maupun kebanggaan semu. Tidak kecewa jika perhatian itu tidak berbalas semestinya, atau hasilnya meleset jauh dari yang semestinya. Apalagi malu atas kegagalan-kegagalan yang terjadi. Ketulusan dari cinta yang berkilau seindah berlian. Dan secara alamiah berlian tidak akan terwujud tanpa dahsyatnya proses dan lamanya waktu.

Sebagai orangtua kita harus selalu belajar-berlatih agar saat mengajari atau membimbing anak tendensinya bukan agar anak kita tidak kalah dari si A atau si B. Senang jika kita bisa memamerkan kemampuan anak kita pada orang lain. Lalu marah dan kecewa berat saat anak kita gagal memenuhi harapan itu. Puas jika anak bisa meneruskan mewujudkan impian orangtua yang belum tercapai. Murka jika anak menolak atau memilih jalan sendiri.

Saat ego dikalahkan, kebijaksanaan pun terbit. Orangtua sepenuh hati mengasah potensi dan talenta anak-anaknya tanpa dibebani harapan mereka harus menjadi cerminan diri orangtuanya.

Saat ego dikalahkan, kebijaksanaan pun terbit. Orangtua sepenuh hati mengasah potensi dan talenta anak-anaknya tanpa dibebani harapan mereka harus menjadi cerminan diri orangtuanya. Indah saat orangtua mendampingi tumbuh-kembang anak-anaknya seprofesional seorang guru terhadap murid-muridnya. Saat berkomunikasi dengan anak-anaknya sefokus dan sesemangat pegawai kepada teman sejawatnya, atau bahkan atasannya. Jika kerja kerasnya belum menunjukkan hasil atau malah mengindikasikan hal sebaliknya, orangtua tidak akan marah atau berputus asa. Karena orangtua paham hanya Allah yang bisa memutuskan dan memberi hidayah.

Semoga kebersamaan yang berkualitas dan intens dengan anak-anaknya justru selalu menginspirasi dan meneguhkan semangat orangtua sebagai pembawa estafet nilai moral dan peradaban bagi generasi mendatang. Saat memberi totalitas perhatian justru menjadi kebutuhan bagi orangtua itu sendiri! Mengalahkan capek, bokek, sibuk, sakit serta sejuta alasan lainnya. Bak intan mengasah intan. Itulah harga dan pengorbanan untuk merubah seonggok arang menjadi sebongkah berlian. Siapa tahu melalui ketulusan yang bersahaja itu visi mulia orangtua malah terbingkai abadi dalam harapan anak-anaknyaโ€ฆ

Salam TintaMulia, Literasi Lintas Generasi

Ecoprint Fabric as a New Business

Many years ago people tried to make various business for a better life from the barter system until now (online trade).and we believe our country (Indonesia) have huge resources to explore as a good commodity for the global or local market. The pandemic Covid-19 makes people really hard to get much money. jobless. the weakness of purchasing power and the limited market makes everything not easy. Everyone tried to change this situation. Strategy market and following the trend is very important for survive with this condition.

Our company

We are a small company that made only limited designs and always research new techniques or natural materials with green product issue-based. We have been made from paper recycling. Wooden or marble stone project n another creation. And the eco print fabric is one of our projects to develop as a business. For almost 2 years we have been studied about eco prints fabric. We also tried to educate local people about how to make home industry with local natural resources.

Our Product

Our products in the eco print fabric are bags. masks and sheets of fabric but commonly we prefer made bag as our specialist/concentration.

Market

We sell our product online using social media and many of our resellers are always welcome with our product. Please visit our social media on Instagram.

Product by Dhenny Setia. Visit his Instagram.

Material of eco prints

If we live in the outback or village. We can reduce the cost of production. We can put all the material from around us. Like sappan wood, leaf (pohon secang), avocado, mangosteen, bark, etc -it can find in many places if we live in the village.

So eco print business is a big opportunity for us where we can make it in low-cost production and high price product to sell. Everything is about passion, prayer, and hard work.

UMKM Jaya, Desa Berdaya

Kampusdesa.or.idโ€”Pemerintah Desa Paciran Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan telah sukses menyelenggarakan kegiatan pelatihan โ€œPeningkatan Kapasitas UMKM: Branding dan Digital Marketingโ€ Jumโ€™at (31/12) sore. Acara ini dibuka langsung oleh ketua pelaksana Bagus Setyawan, ia mengatakan bahwa agenda ini merupakan strategi untuk mengembangkan UMKM di Desa Paciran dan sebagai bentuk persiapan untuk menunjang program pemerintah Desa Paciran.

โ€œKegiatan ini menjadi sarana pelatihan untuk peningkatan branding dan digital marketing UMKM di Desa Paciran. Kedepannya akan ada salah satu program pemerintah Desa Paciran berupa Warung Titipan untuk sentralisasi UMKM Desa Paciran. Maka dari itu pelatihan ini sebagai persiapan agara para pelaku UMKM melek digital,โ€ terangnya.

Menurut Sekretaris Desa Bapak Wafauddin Zaki dalam sambutannya, acara ini bagian dari bentuk program desa berdaya Provinsi Jawa Timur tahun 2021, di mana Desa Paciran termasuk salah satu desa yang memiliki potensi tinggi dalam menciptakan produk lokal.

โ€œWilayah yang strategis di pinggir pantai dan terdapat banyak tempat wisata menjadikan Desa Paciran termasuk desa yang berpotensi menyumbang produk lokal di Kabupaten Lamongan,โ€ ujarnya.

Senada dengan itu, tidak heran pada saat launching gerakan โ€œAyo Beli Produk Lamonganโ€ di Alun-alun Lamongan (5/3/2021), Bupati Lamongan Dr. H. Yuhronur Effendi menunjuk Paciran sebagai salah satu kecamatan yang menjadi Pilot Proyek Taman Tematik sebagai ajang pemasaran produk UMKM.

Dalam kesempatan ini, Muhammad N. Hassan selaku pemantik diskusi memaparkan dua pokok materi pada sesi inti pelatihan dengan format Forum Group Discussion (FGD), yakni terkait kemasan produk (product packaging) dan pemasaran online (digital marketing). Kedua pokok materi ini sebagai kunci dari bagaimana produk itu dapat ter-branding dengan baik.

Perserta pelatihan terlihat antusias dalam pelatihan ini. Ada beberapa pertanyaan dan feedback dari peserta FGD di antaranya bagaimana cara menaikan kunjungan media sosial produk UMKM; apa plus-minus sebagai reseller, dropshipper, atau hanya pemroduksi saja; apa bentuk aksi atau follow-up dari kegiatan pelatihan ini, dan apa saja dokumen yang perlu disiapkan sebagai syarat dalam pengurusan P-IRT.

Selanjutnya, Pak Ahmad Syafiโ€™ selaku pendamping desa menutup acara ini dengan penyampaian bahwa pentingnya kegiatan semacam ini sebagai embrio awal untuk menghimpun pelaku-pelaku usaha UMKM di Desa Paciran dalam mengurus NIB dan P-IRT, serta menyosialisasikan kembali terkait program Wartip (Warung Titipan) yang digagas oleh Pemerintah Desa yang ke depannya akan dijadikan sebagai tempat pusat oleh-oleh khas Desa Paciran dengan mengusung gerakan #1001oleholehkhasdesapaciran []

Perdamaian pun Bisa Dimulai dari Perempuan Muda

Apa jadinya jikalau perempuan angkat tangan dan kaki menjadi agen perdamaian untuk mencegah lahirnya generasi teroris dan radikal? Ya, tentu agen perdamaian tidak melulu laki-laki. Perempuan pun mampu didorong menjadi salah satu pilar agen perdamaian. Semua menjadi semakin lengkap dengan berbagai pembekalan yang didukung oleh berbagai sudut pandang keilmuan dan ketrampilan di era digital ini.

Pasuruan, KampusDesa–Acara ini dimulai dari tanggal 28 Januari sampai dengan 1 Februari 2018 di kompleks wisata keluarga Bhakti Alam, Pasuruan. Dengan diikuti sebanyak 46 peserta pilihan dari seluruh penjuru nusantara, serta peserta-peserta dari latar belakang keyakinan berbeda. Teman-teman dari muslim, Kristen Katholik, Kristen Protestan, dan Hindu. Program ini diprakarsai oleh AMAN Indonesia dengan kerjasama antara Peace Leader, Girls Ambassador for Peace, dan Duta Damai BNPT untuk mengajak perempuan-perempuan muda pilihan yang telah di pilih melalui proses seleksi esai dan video kreatif berpartisipasi dalam langkah-langkah menjaga perdamaian dan perlindungan terhadap perempuan di Indonesia.

Dalam serangkaian program ini, para peserta terpilih diajarkan banyak hal mengenai pengenalan dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan maupun pencegahan tindak terorisme, juga pengajaran mengenai kesehatan reproduksi dan manajemen skill dalam metode yang menyenangkan. Acara yang dibuka pada tanggal 28 malam ini menerapkan sistem kontrak belajar yang telah disepakati antar sesama peserta. Yang menjaga tertibnya program selama pelaksanaanya, dalam contoh misalnya para peserta sepakat untuk tidak menggunakan telepon genggam selama acara berlangsung untuk menjaga konsentrasi peserta selama materi disampaikan, dan tentu saja dengan beberapa kesepakatan kontrak belajar lain yang telah dilaksanakan.

Poin-poin materi penting yang disampaikan peserta meliputi studi gender mengenai pengenalan tentang keadilan gender secara menyeluruh, kemudian materi mengenai HIV/AIDS yang disampaikan oleh perwakilan dari PKBI Jatim (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) dan materi mengenai bullying yang disampaikan dengan metode story telling. Selain itu, ada bentuk permainan edukasi berupa board games yang mengasah strategi peserta dan kerjasama antar tim untuk memenangkan permainan. Bentuk kegiatan lain ada creative media activity yang mengharuskan kelompok peserta untuk membuat video pendek dan meme sesuai tema yang di tentukan. Dengan tujuan, peserta dapat memanfaatkan sosial media dengan membuat konten-konten kreatif untuk mengkampanyekan tindakan anti kekerasan dan terorisme.

Setiap sebelum memulai materi, perwakilan peserta diharuskan untuk menyampaikan ulasan materi hari sebelumnya untuk mengingat kembali tentang apa yang disampaikan di hari sebelumnya sebelum materi pada hari ini disampaikan. Pada hari selanjutnya, materi yang di berikan adalah mengenai kesehatan reproduksi dan girls leadership. Kemudian, para peserta juga menyaksikan beberapa film pendek mengenai tindak ekstrimisme yang beredar di masyarakat yang menjadikan kaum muda terutama perempuan sebagai sasaran. Film yang ditampilkan berjudul Jihad Selfie garapan YPP (Yayasan Prasasti Perdamaian). Dengan adanya pemutaran film ini, diharapkan peserta mampu mengenali modus-modus perekrutan dan masuknya paham-paham yang bersifat radikal yang dapat memecah belah kesatuan bangsa. Selain itu, peserta juga diberikan materi mengenai UNSCR yang mengusung hak perlindungan terhadap perempuan dan anak muda.

Sesi malam dilanjutkan dengan sharing session bersama co-founder Rumah Faye yaitu Faye Simanjuntak mengenai human trafficking dan penanganan yang dilakukan. Kemudian, debat tentang materi-materi yang telah diterima dilaksanakan pada penghujung malam untuk mengetes kepahaman peserta dan pengasah kemampuan peserta agar kritis dalam menganalisis masalah.

Hari berikutnya, peserta mengikuti serangkaian kegiatan adventure hike yang pada tiap pos pemberhentiannya, peserta diberikan tantangan yang berkaiatan dengan materi yang telah diberikan. Dan pada malam penutupannya, peserta dengan grup yang telah dibentuk memberikan persembahan penampilan. Selama sesi cultural night ini, peserta memakai pakaian adat sesuai dengan daerah masing-masing. Sebagai bentuk pengesahan sebagai anggota Girls Ambassador for Peace, peserta mengucapkan ikar untuk kemudian menjadi lebih siap berkontribusi pada daerah masing-masing untuk menjaga dan mengkampanyekan perdamaian.

Banyak sekali kebiasaan-kebiasaan baik yang coba diterapkan selama camp berlangsung, seperti berdoa dari masing-masing keyakinan yang dipimpin oleh perwakilan peserta, membiasakan tertib dan tepat waktu serta membiasakan iklim belajar yang nyaman dengan melaksanakan kesepakatan pada kontrak belajar yang telah disepakati, bukan hanya itu, selama beberapa har, peserta dibiasakan berada pada satu lingkungan yang berisi beragam teman dari berbagai etnis dan keyakinan untuk membiasakan hidup berdampingan bukan sebagai masyarakat suatu etnis saja, melainkan hidup berdampingan sebagai warga negara Indonesia yang memiliki ragam budaya. Pada tujuan akhirnya, diharapkan, peserta yang telah mengikuti Girls Camp 2019 mampu menjadi agen pelopor menyebarkan semangat cinta damai kepada masyarakat di seluruh penjuru negeri.

Apakah Olimpiade Tokyo 2020 Paling Ramah Gender ? Simak Fakta Berikut

SOBAT! YUK FLASHBACK SEJENAK KE GELARAN OLIMPIADE OLAHRAGA DUNIA TAHUN 2020. PADA MOMENT ITU TOKYO MENJADI TUAN RUMAH YANG MENYELENGGARAKAN OLIMPIADE DENGAN SANGAT MERIAH. SAKING SPEKTAKULERNYA TERDAPAT KLAIM BAHWA OLIMPIADE TOKYO 2020 DISEBUT SEBAGAI EVENT OLAHRAGA YANG PALING RAMAH GENDER. APAKAH BENAR DEMIKIAN?
Kampusdesa.or.id-Ditengah situasi krisis pandemi yang dihadapi penduduk dunia sejak awal 2020, Olimpiade memberikan warna baru meski sempat tertunda. Dengan tagar #Tokyo2020, komite Olimpiade internasional (The International Olympic Committeeยญ – IOC) pede maksimal mengklaimnya sebagai ajang olahraga dunia yang paling representatif ramah gender bagi kaum perempuan.

Pada awalnya, Pierre de Coubertin salah satu penggagas Olimpiade yang diselenggarakan pertama kali pada tahun 1896 menilai bahwa partisipasi perempuan bukanlah hal yang lumrah sehingga saat itu hanya perwakilan laki-laki saja yang dikirim untuk bertanding. Kabar baiknya, pada pagelaran selanjutnya yaitu tahun 1900, representasi perempuan dalam lima cabang olahraga resmi telah debut.
Layaknya memperjuangkan hak di berbagai aspek seperti representasi politik, akses pendidikan, dan kebebasan berekspresi serta berpendapat. Perjalanan panjang memperjuangkan Olimpiade yang ramah gender membuahkan hasil berupa kenaikan 49 persen peserta perempuan atau sekitar 11.000 atlet perempuan yang berpartisipasi di Olimpiade Tokyo 2020. Menarik sekali bukan?
Peningkatan representasi hak perempuan juga digambarkan dengan perubahan pada kebijakan pemberitaan media masa dimana saat ini peran pers lebih mengedepankan perspektif ramah gender. Sehingga berita faktual mengenai dunia perempuan dan olahraga semakin terbuka lebar di penjuru dunia.

Akan tetapi, sangat disayangkan sekali kabar baik tersebut tidak diiringi dengan hasil senada dalam kepengurusan IOC yang hanya 37,5 persen dari keanggotaannya diduduki oleh perempuan. Selain itu dalam upayanya untuk benar-benar menjadi ajang olahraga yang ramah gender, Olimpiade juga memiliki praharanya sendiri. Deskriminasi masih menjadi momok yang paling akrab bagi perempuan dalam olahraga dan Olimpiade.

Penilaian bahwa perempuan diremehkan untuk bisa bersaing secara global dibandingkan atlet laki-laki sejatinya dilatar belakangi banyak hal. Kurangnya dukungan dalam hal pendanaan promosi dan pelatihan, sampai dengan hadirnya kompetisi olahraga yang eksklusif yaitu tidak memperbolehkan atlet perempuan bertanding. Eklusif disini juga berarti tidak menyediakan cabang khusus bagi atlet perempuan dan tidak ada perlombaan kategori ganda campuran bagi perempuan. Sabar sob, emosinya diredam dulu.
Diskriminasi ini langgeng banget dalam dunia olahraga salah satunya karena stigma maskulin atau feminin yang melekat pada jenis olahraga tertentu. Cabang-cabang olahraga seperti angkat besi, tinju, judo, dan beberapa lainnya dikhususkan hanya untuk atlet laki-laki dengan alasan berhubungan dengan ilmu bela diri dan angkat beban yang membutuhkan kekuatan esktra yang dinilai tidak dimiliki oleh perempuan.

Walau cabang-cabang tersebut sudah bisa diikuti oleh atlet perempuan masa kini, rupanya di beberapa nomor tertentu masih terdapat aturan yang membelenggu. Misalnya pada cabang renang gaya bebas 1.500 meter yang baru menambahkan nomor khusus perempuan dan estafet campuran pada Olimpiade Tokyo 2020.

Satu hal lagi yang perlu sobat tahu, yaitu seksisme!
Diskriminasi ini memiliki teman akrab dalam dunia olahraga, namanya seksisme. Ketika suatu cabang telah berhasil meningkatkan representasi perempuan didalamnya, seksisme ini bandel banget layaknya bayang-bayang buruk yang masih terus menghantui. Seksisme adalah kebencian atau diskriminasi berdasarkan pada jenis kelamin seseorang. Merujuk dari sumber lain, seksisme adalah anggapan bahwa salah satu jenis kelamin lebih superior atau lebih baik daripada jenis kelamin yang lain, dimana dalam hal ini lebih banyak ditujukan pada perempuan.

Lantas apa dampak seksisme?.
Seksisme menyebabkan prestasi dan kerja keras para atlet menjadi kabur dimata masyarakat dan seksisme justru lebih meriah menggantikan sorak kebanggan dan penghargaan.

An San merupakan contohnya, nduk ayu ini adalah atlet panahan asal Korea Selatan yang memperoleh lebih dari satu emas pada Olimpiade Tokyo 2020 di usia yang sangat belia. Namun respon masyarakat atas prestasinya tidak seperti yang diharapkan, ia justru menerima rundungan hanya karena potongan rambutnya yang terlalu pendek. Kuwesel pol pokoknya.

Baca Juga: Aksi Komunitas Lamongan Teduh Menanggulangi Climate Change di Pesisir Pantura Lamongan
Kemudian, seksisme sangat berlebihan juga diterima tim pesenam Jerman karena pakaiannya yaitu menggunakan unitards full-length daripada bikini untuk bertanding. Bagaimana bisa kostumnya dipermasalahkan?.
Masih segar juga di ingatan ketika atlet angkat besi yang mewakili Indonesia di Olimpiade, Kak Nurul Akmal yang menerima body shaming setibanya di Indonesia. Sedihnya sob, masih banyak atlet-atlet diluar sana yang menerima perlakuan serupa dari berbagai pihak bukan hanya masyarakat tetapi juga penyelenggara kompetisi olahraga itu sendiri.

Gak cukup pakaian dan bentuk tubuh, maraknya pemberitaan yang mengadopsi judul seksis dan perspektif bias gender juga memainkan peran tersendiri dalam mendukung diskriminasi. Selain itu, tak jarang atlet perempuan juga menerima bayaran yang lebih rendah termasuk pembiayaan pada proses persiapan menuju kompetisi. Nah sob, rupanya diskirminasi tidak hanya menghantui atlet perempuan, tetapi juga atlet laki-laki. Dari laporan organisasi Women in Sport menyatakan bahwa sebanyak 21 persen responden laki-laki dalam survei mengaku mendapatkan perlakuan diskriminatif.

Melihat permasalahan-permasalahan ini, ternyata masih banyak PR yang perlu diselesaikan untuk bisa benar-benar mewujudkan Olimpiade yang ramah gender . Sebab dalam mewujudkan kesetaraan, tidak seharusnya satupun yang tertinggal atau mengalami diskriminasi baik perempuan maupun laki-laki. Padahal, dalam hal perolehan medali atau prestasi diluar Olimpiade, atlet-atlet perempuan juga gak kalah top cer.
Contohnya terbukti dari sejarah yang telah dibuat oleh Hidilyn Diaz, perempuan dibalik emas pertama Filipina dalam Olimpiade dari cabang angkat besi nomor 55kg putri. Atau dari Indonesia sendiri yang berhasil membawa pulang 5 medali dengan dua cabang diantaranya yaitu bulu tangkis dan angkat besi dipersembahkan oleh atlet perempuan.

Baca Juga :Peran Gender di Tengah COVID-19, Sudahkah Keduanya Saling Melengkapi?
Belum selesai, masalah lain juga terdapat dalam penerapan kebijakan. Terdapat berheb (berita heboh) yang sempat memicu kontroversi yaitu larangan bagi atlet untuk membawa bayi mereka dengan alasan pembatasan ketat karena pandemi Covid-19 yang kemudian pada Juni 2021 IOC memutuskan agar para atlet yang memiliki bayi diperbolehkan untuk menyusui dan membawa anaknya. Dan lagi, perihal berita mundurnya Presiden Komite Penyelenggara Olimpiade Tokyo pasca komentar tidak pantas terhadap perempuan yang dinilai terlalu banyak bicara. Atau pada Maret 2021, Direktur Kreatif Olimpiade juga mundur dari posisinya pasca komentar negatifnya terhadap salah satu ikon mode Naomi Watanabe.

Prahara-prahara diatas menunjukkan bahwa walau visi dan misi Olimpiade telah dengan kuat mengadopsi paradigma yang lebih mengedepankan perspektif kesetaraan gender, sayang sungguh sayang ternyata masih banyak yang perlu dipersiapkan dan diseragamkan termasuk nilai dan pandangan yang diyakini orang-orang yang terlibat dalam penyelenggaraannya dan sistem yang harus diperbaiki dari waktu ke waktu agar menjadi semakin baik.

Editor: Maulana A.M

Panta Rhei Kai Uden Menei, Sebuah Pandangan Hidup

0

Kita adalah bagian tak terpisahkan, sejak awal dan akhir, dari alam raya. Semua bagian-bagian dari alam terus berhubungan dan menghasilkan gerak. Semuanya akan berubah. Suatu hal yang berupa kesatuan, adakalanya sementara. Ia juga akan tiba pada situasi keterpisahan, kerusakan, penyusutan, penguapan. 

Kampusdesa.or.id — Percayalah bahwa hidup ini adalah kontradiksi. Di dalamnya ada pertentangan-pertentangan dan kita berada di sana. Hidup terdiri dari fakta material, dan materi adalah hal yang nyata. Materi terdiri dari materi-materi yang lebih kecil dan pada bagian-bagian ini bisa saling ingin bersatu dan bahkan juga saling bertentangan. Materi akan terus berubah. Dan perubahan dan gerak materi tak selalu tergantung pada keinginan kita dan harapan kita.

Di antara materi-materi itu ada yang bergerak dan punya kemauan, punya pikiran. Dialah manusia. Dialah kita. Tapi kita, sebagai entitas tubuh dengan pikiran dan perasaan kita, juga berada dalam kekuasaan dialektika material: Tubuh kita sebagai materi organis dan lingkungan alam kita.

Alam selalu mengandung kontradiksi. Lapar, misalnya. Lapar adalah dialektika alam, dialektika material tubuh kita yang merupakan bagian kecil sekali dari alam raya. Sebenarnya bisa saja pikiran kita muncul keinginan dan imajinasi, misalnya kalau bisa makan itu mbok sebulan sekali saja atau setahu sekali saja. Sebab urusan cari makan ternyata cukup menyibukkan. Bukan hanya urusan mengisi makanan untuk perut kita sendiri, mungkin juga keluarga kita. Istri kita. Anak kita. Mungkin juga ibu dan bapak kita, atau siapapun mereka yang berada dalam tanggungan kita.

Nyatanya kontradiksi alam, rasa lapar, tidak bisa kita kendalikan. Tiap pagi tampaknya kita mesti sarapan.  Disambung siang, dan mungkin juga sore, atau malam bahkan. Lapar ini adalah kontradiksi. Dan karena kontradiksi inilah kita bergerak. Kita berpikir. Tanpa kontradiksi tak akan ada gerak.  Hukum besi  materi adalah Gerak sebab tiap materi terdiri dari materi-materi yang lebih kecil yang saling berhubungan dan berkaitan: upaya ke arah penyatuan atau pertentangan. 

โ€œPanta Rhei Kai Uden Meneiโ€, kata Herakleitos. Artinya: Semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap.”

Menurut Herakleitos, seorang Filsuf Yunani, tidak ada satu pun hal di dunia  ini yang bersifat tetap atau permanen. Segalanya  sebenarnya  berada di dalam proses menjadi. โ€œPANTA RHEI KAI UDEN MENEIโ€, kata Herakleitos. Artinya: Semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap. 

Hukum alam yang ada adalah CHAOS dan ORDER. Keteraturan dan Ketidakteraturan (chaos) adalah bagian dari alam yang bisa kita lihat sekilas. Kita terus melihat alam bergerak. Tanah panas dalam bumi tepat di bawah gunung berapi terus bergemuruh. Gelombang akan terus pasang dan surut. Manusia akan terus bergerak, salah satu hal utama yang mendorongnya adalah karena punya kebutuhan dan keinginanโ€”yang asalnya dari dalam dirinya. Pulau muncul, dan pulau hilang, dalam sejarah perjalanan bumi yang panjang.

Dalam sebuah situasi sepertinya kita melihat sebuah tatanan (order) atau bentukan suatu gabungan materi (bentuk, warna, ukuran, bau, dan lain lain) yang membentuk suatu keindahan. Lihatlah suatu Pantai yang indah, ia dibentuk oleh unsur-unsur materi yang di dalamnyaโ€”pada  bagian-bagiannya yang membentuk kesatuanโ€”yang menyuguhkan pada kita suatu tatanan keindahan.

“Suatu hal yang berupa kesatuan, adakalanya sementara. Ia juga akan tiba pada situasi keterpisahan, kerusakan, penyusutan, penguapan.”

Lihatlah seorang perempuan cantik. Bagian tubuhnya terdiri dari unsur-unsur ukuran, bentuk, warna, bau. Suatu kesatuan material yang bisa kita identifikasi satu per satu bagiannya, tapi jarang kita melakukannya. Kita hanya disuguhkan suatu kesatuan, seorang yang nampak indah dari jarak dan sudut pandang tertentu. Kita ingin merengkuhnya dan bahkan muncul hasrat penyatuan dengannya. Suatu hal yang berupa kesatuan, adakalanya sementara. Ia juga akan tiba pada situasi keterpisahan, kerusakan, penyusutan,  penguapan. 

Bagian-bagian tubuh akan rusak, menguap, tersedot ke bagian alam yang lain. Manusia semakin berumur akan mati. Bagian tubuhnya tak akan lenyap, ia akan tersedot ke alam sekitarnya. Fisiknya menyatu dengan tanah. Menjadi bagian dari alam semesta. Tidak ada yang kurang dan tambah dari MASSA alam semesta. Sejak awal, sebelum lahir dan setelah tak bernyata dan disatukan dengan alam dengan dikubur dalam tanah, MASSA materi tubuhnya tak akan merubah dan mengurangi MASSA alam raya. 

Kita adalah bagian tak terpisahkan, sejak awal dan akhir, dari alam raya. Semua bagian-bagian dari alam terus berhubungan dan menghasilkan gerak. Semuanya akan berubah. Sebelum saya lahir, alam raya baik-baik saja, akan menunjukkan wujud dari bagian-bagiannya dan dalam kesatuannya,  yang sesuai hukum gerak dan dialektika. Setelah nanti kita mati, alam juga akan terus bergerak dan berubah sesuai dialektikanya.

Apa kita pikir, sebelum dulu ada manusia, alam tidak baik-baik saja dan berjalan sesuai hukumnya sendiri? Dan apakah nanti setelah kita mati dan  katakanlah terjadi bencana besar lalu semua manusia mati, lantas alam akan ikut hilang? 

Tidak! Alam bergerak oleh dirinya sendiri. Tanpa intervensi pikiran, perasaan, dan harapan kita, Alam bergerak terus. Manusia ada dan tidak ada, tetaplah alam bisa ada. Karena kita ini bagian organis dari alam. Sebelum ada manusia atau setelah musnahnya manusia, MASSA alam tak akan bertambah dan berkurang! Hukum kekekalan massa!

“Kita adalah manusia yang membangun makna, terhadap diri kita dan terhadap alam.”

Saat manusia hidup, boleh saja kita menciptakan harapan-harapan pasca-kematian. Tetapi alam tetaplah alam yang bahkan tak bisa diintervensi oleh pandangan subjektif manusia. Sebab materi (kenyataan) tidak tergantung pada Ide. Tentu selama kita hidup, kita bisa membangun makna tentang kehidupan, tentang hubungan-hubungan antara kita. Kita adalah manusia yang membangun makna, terhadap diri kita dan terhadap alam. Justru di situlah beda manusia dengan makhluk organis lainnya: Kita bisa berimajinasi dan membangun harapan! Bahkan harapan yang melampaui kenyataan itu sendiri!

Saya dan anda adalah makhluk spiritual, yang menemukan semangat hidup dengan membangun makna kehidupan. Untuk menjembatani keterbatasan kita di hadapan alam raya semesta.  Semangat menjalani hari. Selamat terus bergerak! Jangan putus asa. Hidup ini menyenangkan. Ada keteraturan, ada ketidakteraturan. Ada pikiran dan imajinasi kita untuk memaknainya. Salam sejahtera untuk kita semua!

Editor: Haniffa Iffa

ISTRI โ€œNGLUNJAKโ€ KARENA SUDAH MANDIRI FINANSIAL?

0

Jika seorang perempuan sudah mandiriโ€”punya pekerjaan dan penghasilanโ€”dan dalam hak pemenuhan ekonomi tak tergantung pada laki-laki, bagaimanakah ketika ia menikah? Apa tidak akan โ€œnglunjakโ€ pada suami? Apa akan โ€œpatuhโ€ pada suami?

Kampusdesa.or.id-Loh, apakah istri itu budak suami kok ada istilah โ€œpatuhโ€? Lelaki dan perempuan (suami dan istri) menurut saya adalah hubungan yang dibangun atas dasar kesetaraan, bukan hubungan tuan-budak, tuan-abdi. Arah hubungan dan tindakan-tindakan atau putusan yang diambil dalam keseharian adalah hasil diskusi bersama, bukan atas dasar keinginan satu pihak yang dipaksakan dan harus dituruti satu pihak lainnya tanpa bisa ditolak atau direspon (dan diberi masukan jika salah).

Tentu jika seorang perempuan (istri) punya penghasilan sendiri, memang akan berbeda situasinya. Bentuk relasi dalam pernikahan yang dibangun tentu akan beda dengan ketika si perempuan hanyalah seorang yang tidak berdaya secara ekonomi dan menjadikan pernikahan sebagai ikatan yang menyelamatkannya karena artinya ia secara ekonomi akan ditolong oleh si laki-laki (suami). Di sini ada asumsi, seakan pernikahan adalah upaya perempuan tidak berdaya agar bisa  numpang hidup pada suami?

Baca Juga :Tips Melindungi Anak Dari Kekerasan Seksual

Lantas apakah perempuan perempuan mandiri tidak butuh pernikahan? Tentu kembali pada pilihan masing-masing individu (perempuan-nya).

Pernikahan sendiri adalah hak. Menikah adalah hak, tidak menikah juga hak. Ini berbeda dengan konsep dan praktik pernikahan yang dipaksakan. Di zaman modern, perempuan boleh menolak menikah jika memang tidak menginginkannya, misalnya dinikahkan dengan lelaki yang tidak diinginkannya. โ€œLha apa gak punya kebutuhan seks kok gak menikah?โ€, pertanyaan seperti itu terkadang muncul.

Saya juga pernah berbincang dengan teman beberapa kali soal itu. Saya balik tanya: โ€œKalau orang tidak ngeseks itu apa akan mati atau tak bisa hidup? Bukankah yang mungkin membuat kita mungkin mati itu adalah kalau tidak makan sebulan atau setahun. Tidak melakukan seks bertahun-tahun, saya pikir, juga tak akan membuat kita mati. Yang kadang bikin cepat mati itu bisa jadi pernikahan yang buruk, yang membuat depresi, lalu bunuh diri. Atau mungkin istri dibunuh suaminya, atau sebaliknya, dalam sebuah hubungan yang buruk!โ€

Lantas jika perempuan itu mandiri, menikah apa tidak bisa (boleh)? Ya bisa saja (boleh). Dan apakah suaminya (lelaki) akan nyaman dan hubungan berjalan dengan baik jika ternyata si istri ternyata pendapatannya lebih dari si suami.

Baca Juga: Aksi Komunitas Lamongan Teduh Menanggulangi Climate Change di Pesisir Pantura Lamongan

Apakah si istri tidak akan โ€œnglunjakโ€?

Kalau itu ya tergantung si lelakinya juga. Bukan semata karena pihak istri (perempuan). Masalahnya tujuan pernikahan memang bukan untuk saling mendominasi, tapi untuk saling mengerti. Istri bukan pelayan suami yang harus patuh. Suami juga bukan pihak yang harus selalu dituruti. Jadi tak ada masalah dengan kesetaraan antara suami dan istri. Sebab kesetaraan bukan kesamaan.

Kesetaraan itu menjamin masing-masing bisa diskusi soal pembagian tugas. Yang namanya orang mau membangun hubungan itu layaknya akan berbagi peran sesuai pengertian dan pemahaman, ada evaluasi, ada komunikasi yang bisa disampaikan. Latar belakang masing-masing, kemampuan masing-masing, bahkan pendapatan masing-masing, harus masuk dalam agenda diskusi.

Erich Fromm mengatakan: โ€œCinta didasarkan atas persamaan dan kebebasan. Jika ia didasarkan pada pembawahan (subordinasi) dan menghilangkan integritas pasangannya, yang demikian adalah ketergantungan masokistis, tak peduli bagaimana hubungan itu dirasionalisasikan. Sadisme juga sering menyamar sebagai cinta. Untuk menguasai orang lain, jika ia dapat mengatakan bahwa menguasai orang adalah demi orang itu sendiri, seringkali muncul ungkapan-ungkapan cinta, tetapi hakikatnya adalah kenikmatan menguasaiโ€.

Dasarnya bukan pembagian tugas dan peran yang hasil doktrin budaya yang diikuti, tapi atas kesadaran masing-masing. Dan begitulah seharusnya pernikahan modern yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang memahami pentingnya humanisasi, bukan untuk tujuan mendominasi dan mendapatkan keuntungan pribadi.

Jangan lagi ada laki-laki yang tujuan nikahnya hanya sekedar, agar bisa mendapatkan orang dekat yang terikat dan bisa memenuhi hasrat seks, ada yang memasakkan makanan untuk dia, ada yang menjaga rumah, bersih-bersih dan cuci baju, serta merawat anak-anaknya. Demikian juga untuk perempuan, bahwa menikah bukan hanya untuk โ€œnunut uripโ€ dengan kompensasi memberikan dirinya sebagai abdi pada laki-laki. Saya pikir memang sudah seperti itulah pernikahan modern berjalan. Jadi tak ada masalah dengan konsep kesetaraan gender.

Kita Semua adalah Makhluk Politik

0

Kampusdesa.or.id–Politik adalah seni membuat kebijakan. Politik adalah seni menggapai tujuan. Politik adalah urusan mendapatkan dan menggunakan kekuasaan. Kata โ€œpolicyโ€ (dalam bahasa Inggris) berarti โ€œkebijakanโ€ (dalam bahasa Indonesia).

Lantas mengapa kata โ€œpolitikโ€ seakan kotor dan kemudian orang menjauhi โ€œpolitikโ€. Pada hal, pada kenyataannya, semua orang itu berpolitik. Setiap orang punya tujuan dan seni menggapai tujuan adalah politik. Politik juga merupakan seni memilih. Di sini, mustahil bahwa ada orang yang tidak berpolitik.

Jadi, MENGAKU TIDAK BERPOLITIK ADALAH PILIHAN POLITIK. Titik!

Politik adalah cara memandang diri sendiri dan manusia lain. Bagaimana kita memandang diri kita adalah hal paling mendasar. Pembangunan persepsi diri (konsepsi diri) ini penting dan akan berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang orang lain. Cara pandang terhadap kekuasaan juga terkait dengan cara memandang diri.

Ada orang yang memandang kekuasaan, kedudukan, otoritas yang dipunyainya untuk meninggikan eksistensi dirinya. Umumnya orang senang punya otoritas dan kedudukan karena ia merasa bisa mengendalikan orang lain dan menggunakan kewenangan untuk meraih akses-akses pertama terhadap informasi dan sumber-sumber keuangan.

Pemegang otoritas ini merasa punya kekuatan untuk melakukan banyak hal karena ia punya akses dan diberikan sumber-sumber kekuatan dan posisinya membawa pengaruh. Kekuasaan bisa dimainkan untuk kepentingan sendiri, memperkaya diri dan mengendalikan orang lain sesuai keinginannya. Pada sistek kekuasaan yang belum diatur oleh hukum modern yang berasaskan demokrasi dan keterbukaan, pemegang kekuasaan sepertinya bisa melakukan apa saja.

Di jaman yang modern sekarang ini, terutama di era demokrasi dan semangat keterbukaan, orang yang mendapatkan kedudukan diharapkan tidak berbuat seenaknya. Ada aturan yang mengarahkan pikiran, ucapan, dan tindakannya. Tapi sebagai orang yang punya kedudukan dan menguasai lembaga kekuasaan, iapun tetap punya akses pertama terhadap sumber keuangan dan informasi.

Persoalannya, ketika aturan-aturan tentang tingkahlaku kekuasaan itu adalah teks-teks hukum yang diproduksi oleh negara modern, apakah pimpinan dalam lembaga kekuasaan ini mau membacanya dan memahaminya. Kemudian apakah ia selaku pembuat kebijakan dan kegiatan akan mau menyebarkan ide-ide dan gagasan tentang kekuasaan yang partisipatif dan terbuka pada orang banyak?

Di sinilah masalahnya. Orang yang berada di puncak-puncak lembaga-lembaga kekuasaan bisa saja menyembunyikan informasi-informasi dan gagasan-gagasan tentang bagaimana kekuasaan diatur secara terbuka. Atau ia sendiri telah abai dengan ide-ide itu dan menganggap ide-ide demokrasi, partisipasi, dan keterbukaan sebagai hal yang akan menyulitkannya untuk menggunakan kekuasaan untuk kepentingan dirinya sendiri.

Paradigma modern yang menuntut pelibatan partisipasi orang banyak cenderung akan menyulitkan bagi pengendali kekuasaan yang ingin menggunakan kekuasaan untuk menumpuk keuntungan bagi dirinya sendiri. Kemudian, pengeloaan keuangan yang seharusnya direncanakan untuk kepentingan kemajuan bersama bisa saja dikangkangi oleh dirinya sendiri. Perencanaan dan penggunaannya harus diupayakan oleh dirinya sendiri dan jangan sampai diganggu oleh orang banyak.

Di sinilah, entah sengaja atau tidak, pengendali kekuasaan yang ingin mengabdikan kekuasaan untuk kepentingan bagi dirinya sendiri akan cenderung menyingkirkan keterlibatan orang banyak. Orang yang cenderung punya ide dan harapan tentang penggunaan kekuasaan untuk orang banyak terasa sangat menakutkan dan menjengkelkan. Orang-orang bernalar kritis dan menyukai ide-ide demokrasi-emansipatoris akan cenderung dijauhkan dari lembaga-lembaga kekuasaan yang berusaha dikuasainya. Yang dibutuhkan adalah โ€œpara pemandu sorakโ€ dan โ€œpenghiburโ€ atau โ€œhiasanโ€ bagi kegiatan-kegiatan yang sudah menjadi agenda pribadinya.

Tapi kecenderungan pemegang kekuasaan yang seperti itu, umumnya sudah jarang ada. Masalahnya era keterbukaan dan dasar hukum bagi partisipasi masyarakat sekarang ini sudah muncul sejak lama. Artinya, kalau masih ada masyarakat di mana mereka dipimpin oleh pengendali kekuasaan yang masih bisa mengendalikan sumber-sumber kekuasaan dan pengelolaan keuangan kegiatan yang tak terkontrol oleh warga, bisa jadi masyarakat tersebut adalah masyarakat yang โ€œanomaliโ€.

Konstitusi kita dan produk hukum turunannya seperti undang-undang maupun peraturan-peraturan di bawahnya sekarang ini didasari oleh ide demokrasi dan hak asasi manusia, gagasan-gagasan Kesetaraan, Partisipasi, Keterbukaan, dan ide-ide yang menjadikan kekuasaan tak lagi terpusat tanpa kontrol orang banyak. Agenda-agenda pribadi yang mengangkangi dalam mengelola kekuasaan sudah seharusnya ditinggalkan. Di satu sisi, masyarakat banyak juga harus berani bersuara, bicara, dan mendekat pada pusat-pusat kekuasaan.

Dan tentu saja untuk bisa bicara dan berpartisipasi dengan baik, tiap warga harus bisa berpikir. Proses berpikir itu perlu latihan, mulai dengan membaca, diskusi, menajamkan analisa terhadap persoalan, terutama persoalan yang menyangkut kepentingan pribadi dan orang banyak yang didasari oleh aturan dan tatanan moral yang jelas.

Kemudian jangan takut untuk โ€œberpolitikโ€. Pada kenyataannya kita semua adalah makhluk politik. Kita semua dalam keseharian kita ini selalu dihadapkan pada pilihan dan kita selalu harus memilih, makanya seni memilih dan mengambil kebijakan terhadap persoalanโ€”baik kecil maupun besarโ€”inilah yang disebut politik.

Sedangkan terkait dengan lembaga-lembaga yang menentukan hajat hidup orang banyak, baik organisasi sosial, maupun organisasi pemerintahan (dari berbagai level), POLITIK harus diabdikan untuk kepentingan orang banyak. Upayakan lembaga-lembaga sosial politik tidak dikendalikan ole orang-orang yang punya kepentingan pribadi dan orang banyak hanya dibodohi dan dieksploitasi.

TIDAK MAU BERPOLITIK, KAMU AKAN DIPOLITIKI!!!!