Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 12

Keluar dari Efek Lampu Sorot

0

Manusia dibekali dengan karunia yang begitu berlimpah, baik yang berupa fisik maupun mental. Salah satu keunggulan kita sebagai manusia dalam perihal mental adalah kemampuan kita untuk bersosialisasi. Setiap manusia memiliki jiwa sosial dalam dirinya. Jiwa sosial itu tumbuh sejak manusia membuka mata dan melihat dunia pertama kalinya. Kita sudah diarahkan untuk bersosialisasi bahkan sejak kita masih berada dalam sentuhan kasih sayang orangtua ketika bayi. Bahkan bayi pun memiliki kerangka kognitif yang bergerak untuk menginternalisasi apa yang dirasakan oleh panca inderanya, walaupun belum semapan orang dewasa. Cukup adil untuk mengatakan bahwa, jiwa sosial itu layaknya sudah menjadi keterampilan “bertahan hidup” tingkat dasar yang perlu dilatih sebagai modal bagi manusia untuk disebut sebagai makhluk sosial.

Demi menjalankan tabiatnya sebagai makhluk sosial, manusia melakukan interaksi sosial dengan orang lain untuk membangun suatu hubungan timbal balik. Interaksi dengan orang lain memungkinkan individu untuk mengeksplorasi kesamaan dan keterhubungan dengan orang lain, sehingga memunculkan suatu kesadaran keanggotaan dalam suatu unit sosial. Tentu saja, dalam suatu komunitas, setiap orang memiliki keunikan dan kepribadian yang berbeda. Namun, penggabungan dari bermacam latar belakang dan kepribadian itulah yang menyihir interaksi sosial menjadi suatu keniscayaan yang berpengaruh pada dinamika masyarakat.

The Spotlight Effect

Dalam interaksi sosial sehari-hari, kita terkadang berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan—menjadi memalukan jika orang lain melihat kondisi kita saat itu. Situasi itu kemudian memunculkan spekulasi liar dalam benak mengenai pendapat orang lain terhadap diri kita. Katakanlah, seseorang pergi ke salon untuk mendapat gaya rambut yang indah. Ternyata, hasil potongan rambutnya tidak sesuai ekspektasi, bahkan terlihat buruk baginya. Dengan terpaksa dan karena harus bekerja, ia harus pergi dengan mahkota kepala yang hancur. Ia kemudian berpikiran, pasti orang lain menyadari rambutnya yang buruk dan akan menilainya dengan perkataan aneh, lucu, yang dapat menurunkan rasa percaya diri. Fenomena ini diteliti dan dinamakan sebagai the spotlight effect oleh Thomas Gilovich (1999, 2003) dari Cornell University, Amerika Serikat.

The spotlight effect—dicetuskan oleh Gilovich sebagai suatu fenomena ketika individu merasa ia sedang tampil dan diperhatikan oleh banyak orang seolah berada dalam panggung yang disinari lampu sorot.

Efek lampu sorotan—terjemahan dari the spotlight effect—dicetuskan oleh Gilovich sebagai suatu fenomena ketika individu merasa ia sedang tampil dan diperhatikan oleh banyak orang seolah berada dalam panggung yang disinari lampu sorot. Penelitian Gilovich menjelaskan bahwa perasaan ketika berada dalam pusat perhatian seperti itu menimbulkan pemikiran yang berlebihan tentang apa yang orang lain pikirkan tentang orang tersebut, mulai dari penampilan dan perilakunya. Pada kenyataannya, orang lain tidak selalu memperhatikan dan menilai secara seksama pada individu tersebut, karena mereka terlalu sibuk pada urusan mereka sendiri. Karena itu, penilaian orang lain sebenarnya tidak setinggi dan sebesar apa yang orang tersebut pikirkan. Orang itu—menurut Gilovich—sebenarnya hanya sebatas merasa khawatir yang berlebihan terhadap penilaian orang lain.

Sebagian besar orang pasti pernah mengalami ini. Mereka mungkin tidak mengenal fenomena ini dengan nama efek lampu sorotan. Ada istilah singkatan gaulnya: GR, atau gede rasa. Sikap gede rasa ini mungkin saja dapat meningkatkan kepercayaan diri saat orang tersebut berada dalam zona nyaman, seperti ketika memakai pakaian baru yang bagus. Bagaimana dengan orang yang mengalami kondisi yang buruk, seperti kondisi gaya rambut yang gagal tadi? Orang itu mungkin menjadi tidak nyaman dan malu karena terlalu berlebihan memikirkan penilaian orang lain terhadap kondisinya.

Deindividuasi

Manusia secara naluri tidak mau berada dalam situasi yang tidak menguntungkan dan tidak enak untuk dirinya. Sigmund Freud (1923) mengokohkan pendapat ini melalui konsep psikoanalisa miliknya yang amat berpengaruh pada dunia psikologi. Ia menjelaskan bahwa manusia didorong oleh naluri alam bawah sadarnya untuk selalu berada dalam kenikmatan dan kepuasan. Lantas, bagaimana jika orang itu tetap membiarkan saja pemikiran kusut yang tidak nyaman akan penilaian orang lain terhadap penampilannya itu?

Dalam skenario seseorang yang terjerat dalam efek lampu sorotan ini, individu tersebut terdorong untuk berpikir secara berlebihan bahwa ia mungkin terlihat dan dinilai berbeda dari orang lain. Ia menyangka dirinya telah keluar dari norma dalam kelompok komunitas tersebut, dan muncul suatu perasaan “berbeda”, tidak aman, dan terasingkan dalam diri.

Ketidaknyamanan ini mendorong dirinya untuk bergabung kembali ke dalam kelompoknya. Pada saat yang sama, ia kehilangan kesadaran akan dirinya sendiri (self-awareness) untuk menyamakan dengan kelompok itu, karena pada dasarnya, bergabung dalam kelompok memberi suatu keistimewaan anonimitas pada individu. Ia tak lagi berada dalam pusat perhatian. Ia berhasil kembali ke zona nyaman setelah menjadi satu dengan kelompoknya, tapi dengan bayaran kehilangan identitas dirinya. Inilah yang disebut oleh Leon Festinger (1952) sebagai deindividuasi (deindividuation).

Berinteraksi dengan orang lain memang memberikan pengalaman sosial yang unik bagi individu, selama ia dapat menjaga jati diri dan pendirian diri sendiri.

Berinteraksi dengan orang lain memang memberikan pengalaman sosial yang unik bagi individu, selama ia dapat menjaga jati diri dan pendirian diri sendiri. Tidak semua pengalaman interaksi sosial dapat kita internalisasi menjadi bagian dari perilaku. Pendirian dan keteguhan diri menjadi media penyaring hal buruk dari interaksi sosial. Individu yang merasa dalam tekanan penilaian orang lain seperti yang ada pada efek lampu sorotan perlu untuk melepas diri dan buahkan pemikiran segar bahwa setiap orang pernah mengalami kondisi di atas dan di bawah, dan kondisi itu sangat wajar.

Sudah menjadi rahasia umum, merumuskan dan menyarankan jalan keluar itu jauh lebih mudah daripada melakukannya. Namun, jika ada suatu hikmah yang bisa kita peroleh dari penemuan Gilovich, itu adalah pentingnya untuk mengambil suatu jeda di antara lautan rasa khawatir itu. Waktu yang dipakai untuk rehat sejenak itu, meskipun hanya beberapa detik saja, sudah cukup untuk merekonstruksi pemikiran yang kusut itu dan berdamai dengan diri sendiri.

Tuntutan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari tak hanya telah melelahkan fisik, tapi juga pikiran dan mental. Beruntung generasi Z dan milenial punya kesadaran akan kesehatan mental yang sangat kuat. Kita akhir-akhir ini sering melihat banyak webinar dan gerakan pro-kesehatan mental di media sosial, sebuah misi yang mulia untuk menumbuhkan rasa cinta pada diri sendiri (self-love). Kita tidak perlu memikirkan perkataan orang lain, tak perlu juga membandingkan diri dengan penilaian orang, karena kita tidak bersaing dengan orang lain, tapi dengan diri sendiri di hari kemarin. Membandingkan diri kita dengan orang lain adalah bentuk penghinaan terhadap diri sendiri. Kita memiliki makna dan keunikan masing-masing, dan berkata jujur dan terbuka pada diri sendiri adalah langkah awal untuk menemukan makna itu.*)

Sean Kafka Adhyaksa
Mahasiswa jurusan psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Editor: Mohammad Mahpur

Pengenalan Ecoprint bagi Siswa Disabilitas

0

Sebagaimana kita tahu saat ini pengolahan dan pemanfaatan lingkungan sekitar sangat penting bagi masyrakat luas dan pengetahuan akan jenis tanaman juga perlu ditingkatkan untuk menambah nilai ekonomis

Di sekolah perlu adanya praktek bagi siswa sebagai upaya meningkatkan ketrampilan mereka apabila terjun ke masyarakat luas. Ecoprint di nilai sangat cocok untuk siswa. Siswa nantinya bisa mengambil berbagai jenis tanaman dan praktek bersama., khusus untuk sekolah-sekolah disabilitas.. Ecoprint bisa menjadi ketrampilan pilihan di pendidikan seperti untuk anak-anak disabilitas.

Peluang ini diujicobalatihkan secara swadaya oleh Dhenny Setiawan, seniman ekoprinting dari Ngranti, Boyolangu, Tulunggagung. Dhenny melatih anak-anak dengan berbagai kemampuan yang bebeda tetapi mereka dapat dengan mudah mengikuti tahapan ecoprinting yang ada. Anak-anak yang dilatih adalah para siswa dari Yayasan Disabilitas Bina Mandiri Bendoagung, Kampak, Kab. Trenggalek, Jawa Timur.

Ecoprint. Membatik dengan dedaunan

Dari praktik ecoprint di sekolah disabilitas ini, diharapkan kain ecoprint bisa dijahit dengan alat-alat mesin jahit yang sudah tersedia di sekolah dan menghasilkan produk yang bernilai jual tinggi. Dari kain ecoprint ini, siswa bisa membuat tas, dompet, baju, jilbab untuk dipasarkan melalui pameran ataupun lewat media online [Trenggalek].

Editor: Mohammad Mahpur

UNAIR Genjot Produktivitas Publikasi Ilmiah

0

Untuk meningkatkan produktivitas para peneliti dan dosen non-UNAIR terkait penulisan artikel, Lembaga Inovasi, Pengembangan Jurnal, Penerbitan dan Hak Kekayaan Intelektual (LIPJPHKI) menyelenggarakan Airlangga Editing Program Batch 1 pada 28-29 Maret 2022 di Hotel Bumi Resort City Surabaya. Kegiatan ini dilaksanakan untuk membantu meningkatkan produktivitas dosen dan peneliti non-UNAIR dalam hal kompetensi penulisan artikel ilmiah.

Workshop ini diisi delapan narasumber dari lingkungan Universitas Airlangga, yaitu Prof. Drs. Hery Purnobasuki, M.Si., Ph.D., Dr. Alexander Patera Nugraha, drg., M.Imun, Muhammad Miftahussurur, dr., M.es., Sp.PD-KGEH., Ph.D., Ferry Efendi S.Kep.Ns., M.Sc., Ph.D., Iman Harymawan, SE., MBA., Ph.D., Ayu Lana Nafisyah, S.Pi., M.Sc., Ph.D., Tahta Amrillah, S.Si, M.Sc, Ph.D., Rr Dian Tristiana.

Dalam acara tersebut tentunya juga diisi dengan beberapa materi yang nantinya akan dijelaskan oleh masing-masing pembicara seperti strategi peningkatan jumlah dan kualitas publikasi di institusi, strategi dan teknik penyusunan manuskrip standar publikasi internasional, best practice penulisan karya ilmiah internasional terindeks Scopus, strategi kerjasama internasional dalam penulisan karya ilmiah, pemilihan jurnal target, dan teknis submission.

“Program AEP ini berfokus pada kepenulisan artikel yang benar sampai tahap publikasi bagi dosen non-UNAIR dengan harapan workshop ini UNAIR dapat berkontribusi untuk bangsa,” jelas Hery Purnobasuki.

Telaah Praktis Literasi Publikasi Ilmiah

Dalam acara tersebut juga terdapat beberapa materi yang dipaparkan. Dimana pada materi pertama berjudul Strategi Peningkatan Jumlah Manuskrip Standard Publikasi Internasional yang langsung disampaikan oleh ketua LIPJPHKI UNAIR, Prof. Drs. Hery Purnobasuki, M.Si. Dalam hal ini terdapat beberapa strategi, yaitu terdapat aturan, kebijakan, dan target kinerja (gotong royong), pemertaan sumber bahan publikasi, SDM, dan tim penunjang, insentif berdasarkan ranking jurnal yang bertujuan untuk menumbuhkan semangat para peneliti yang nantinya akan memplubikasikannya ke dalam jurnal terindeks Scopus, melakukan penyelenggaraan seminar Internasional berbasis luaran proceeding, edisi khusu atau paper regular terindex scopus, melibatkan dosen yang berstatus mitra jurnal, program visiting professor dengan tambahan tugas publikasi dengan mencantumkan afiliasi unair, program perekrutan dosen khusus, reworking naskah skripsi, program join, dan selalu memotivasi.

Selanjutnya pada materi kedua berjudul Strategi dan Teknik Penyusunan Manuskrip Standar Publikasi Internasional dengan diisi oleh Dr. Alexander Patera Nugraha, drg., M.Imun yang merupakan dosen muda dari UNAIR. Dalam hal ini pada manuskrip yang akan disusun harus ditulis sesuai dengan kaidah ilmiah dan bahasa yang benar. Selain itu, untuk menentukan ide penelitian juga harus memiliki beberapa kriteria seperti memiliki novelty/kebaruan, ide orisinal/asli, fenomena terkini, visible, dan lain sebagainya. Dalam hal publication starter pack program, biasanya dalam menulis  jurnal terdapat beberapa aplikasi, seperti Ms. Word, Ms. Excel, Power point, Bio render, Prism 8, Turnitin, SPSS, Grammarly, End note X9, Mendeley, Zetero, dan lain-lain. Kemudian, dalam penulisan manuskrip terdapat struktur penyusunannya. Adapun susunannya yaitu, title page, abstract, introduction, material and methods, results, discussion, conclusion, references, acknowlagdement, dan conflict of interest

Pada materi ketiga, yang berjudul Best Practice Penulisan Karya Ilmiah Internasional Terindeks Scopus yang diisi oleh pemateri Muhammad Miftahussurur, dr., M.Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D ini menjelaskan bahwa terdapat 2 tipe scientific paper. Diantaranya terdapat research paper (original research) dan review paper. Dimana pada 2 tipe tersebut memiliki beberapa perbedaan. Kalau research paper yaitu menyajikan temuan ilmiah baru dan asli, menjelaskan metodologi penelitian dan memberikan data, berguna untuk menjadi sumber utama, mengusulkan konsep, masalah, pendekatan baru untuk masalah yang diketahui, algoritme, perangkat, dan eksperimen. Sedangkan kalau review paper ini memberikan ikhtisar tentang bidang atau subjek, mensintesiskan penelitian sebelumnya, berguna untuk menjadi informasi latar belakang dan referensi tambahan.

Pada materi keempat, yang berjudul Etika Publikasi ini diisi oleh pemateri Ferry Efendi S.Kep.Ns., M.Sc., Ph.D. yang menjelaskan bahwa etika publikasi ilmiah ini merupakan pernyataan kode etik semua pihak yang terlibat pada proses publikasi jurnal ilmiah. Dimana terdapat pengelola, editor, mitra bestari, dan penulis (author).

Untuk penulisan karya ilmiah ini juga dibutuhkan kerjasama internasional dalam penulisan jurnal. Hal ini tentunya juga diperlukan beberapa strategi didalamnya. Pada pembahasan kali ini dijelaskan oleh pemateri Iman Harymawan, SE., MBA., Ph.D yang menjelaskan berbagai pengalamannya berkolaborasi terkait penelitian dengan rekan di luar negeri. Hal ini tentunya menambah insight yang sangat menarik bagi kita sebagai peneliti.

Teknik Memilih Jurnal Bereputasi dan Submit

Kemudian, materi dilanjutkan dengan judul Pemilihan Jurnal Target. Dimana pada pembahasan tersebut diisi oleh pemateri Tahta Amrillah, S.Si, M.Sc, Ph.D.  Dalam pemilihan tersebut, terdapat beberapa hal penting yang harus kita pahami, seperti kualitas jurnal dari segi penerbit, sitasi, kualitas proses peer review, dan kualifikasi pendidikan tim editorial. Selain itu terdapat pemilihan jurnal target yang dimana dalam pemilihan tersebut dapat menggunakan indicator peringkat jurnal, serta profesionalitas sebagai peneliti dan akademisi. Untuk kualitas sendiri, menurut Tahta Amrillah, selaku pembicara berpendapat terdapat 4 cara untuk menentukan kualitas jurnal, seperti kualifikasi Pendidikan tim editorial, kualitas proses peer review, sitasi paper, dan penerbit (mulai dari proses editing, publikasi, dan pengarsipan jangka panjang.

Pada materi terakhir, disampaikan oleh pemateri Rr Dian Tristiana dengan judul Langkah Submit Artikel. Dalam hal tersebut terdapat langkah-langkah yang harus dipenuhi, seperti mempersiapkan draft full length manuskrip, Memilih jurnal sesuai target tujuan (Scimago, scopus, journal suggester, journal finder), mempelajari informasi jurnal yang dituju (about journal, guide for authors, read many artikel), menyusun manuskrip beberapa bagian sesuai permintaan jurnal yang dituju (cover letter, tittle page, abstract, main document, table, figure), merevisi jurnal ( letter from editor, saat membalas revisi ke review selalu politem semua hasil review ditanggapi, dan oastikan sesuai jadwal sebelum deadline), melakukan pembayaran (lewat paypal, transfer bank, e-wallet), dan proofing (checking artikel sebelum published, biasanya dikirim dalam bentuk hyperlink PDF yang bias diedit, author diminta komen dan melakukan koreksi, setelah proses proofing, maka artikel author siap dipublikasikan.

Tak hanya itu, acara tersebut juga diadakan kegiatan penugasan dimana didalamnya berisi check list terkait progress jurnal yang sudah dibuat oleh masing-masing peserta. Tujuannya dari penugasan ini adalah untuk mengukur sejauh mana peserta melakukan penulisan karya ilmiah.

Selain itu juga, terdapat kesan dan pesan yang disampaikan oleh peserta Airlangga Editing Program (AEP) yang dipilih oleh panitia secara acak. Lalu diakhiri dengan sesi penutupan oleh Prof. Drs. Hery Purnobasuki, M.Si. selaku ketua LIPJPHKI UNAIR.

*) Reporter: Eva Nur Kumalasari. Mahasiswi Universitas Airlangga, sedang internship di School of Life Institute (SLI)

Editor: dr Dito Anurogo MSc

Politik dalam Pandangan Tafsir Qur’an dan Teori Modern: Sebuah Dialog Intertekstual

Opini Oleh: Alya Khairani

Kampusdesa.or.id–Politik, bagaikan drama kehidupan yang penuh intrik dan perebutan kekuasaan. Di tengah hiruk pikuknya, agama tak jarang dijadikan alat untuk melegitimasi kepentingan politik. Namun, bagaimana sebenarnya Islam memandang politik? Jawabannya bisa kita temukan dalam Al-Qur’an dan tafsir-tafsirnya, serta dalam teori-teori politik modern.

Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, mengandung banyak ayat yang menyentuh ranah politik. Ayat-ayat ini berbicara tentang kepemimpinan, keadilan, musyawarah, dan bahkan perang. Para ulama menafsirkan ayat-ayat ini dengan berbagai cara, melahirkan berbagai pemahaman tentang politik Islam.

Salah satu tafsir klasik yang terkenal adalah Tafsir al-Tabari. Dalam tafsirnya, al-Tabari menjelaskan bahwa tujuan politik Islam adalah untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Ia juga menekankan pentingnya musyawarah dan peran rakyat dalam pengambilan keputusan politik.

Di era modern, muncullah berbagai teori politik yang mencoba memahami dan menjelaskan fenomena politik dari berbagai sudut pandang. Teori-teori ini, seperti liberalisme, komunisme, dan demokrasi, menawarkan solusi yang berbeda untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan.

Lantas, bagaimana hubungan antara tafsir Al-Qur’an dan teori politik modern? Jawabannya adalah dialog intertekstual. Dialog ini memungkinkan kita untuk melihat politik dari berbagai perspektif, baik dari sudut pandang agama maupun dari sudut pandang ilmu pengetahuan.

Melalui dialog intertekstual, kita dapat menemukan kesamaan dan perbedaan antara tafsir Al-Qur’an dan teori politik modern. Misalnya, baik tafsir Al-Qur’an maupun teori demokrasi menekankan pentingnya musyawarah dan peran rakyat dalam pengambilan keputusan politik.

Namun, terdapat pula perbedaan yang signifikan. Misalnya, teori liberalisme dan komunisme memiliki pandangan yang berbeda tentang peran negara dalam ekonomi. Hal ini tentu berbeda dengan pandangan Islam yang menekankan keseimbangan antara hak individu dan tanggung jawab sosial.

Dialog intertekstual antara tafsir Al-Qur’an dan teori politik modern bukan hanya tentang menemukan kesamaan dan perbedaan, tetapi juga tentang memperkaya pemahaman kita tentang politik. Dialog ini memungkinkan kita untuk melihat politik dari berbagai sudut pandang, sehingga kita dapat merumuskan solusi yang lebih komprehensif dan adil untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera.

Penting untuk diingat bahwa dialog intertekstual ini tidak boleh dilakukan secara serampangan. Kita perlu melakukan analisis kritis terhadap teks-teks agama dan teori-teori politik, serta mempertimbangkan konteks sosial dan politik saat ini.

Melalui dialog intertekstual yang kritis dan konstruktif, kita dapat membangun pemahaman yang lebih komprehensif tentang politik yang sejalan dengan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Politik bukan hanya tentang perebutan kekuasaan, tetapi juga tentang mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.

Mronjo Kian Serius Kelola Potensi Desa Wisata Melalui Pelatihan

0

Setelah melewati hari pertama, Sabtu (26/9/2020) pelatihan pengelolaan desa wisata, warga Mronjo Blitar makin serius mengelola potensi wisata pada hari kedua pelatihan. Hal itu dibuktikan dengan makin banyaknya peserta yang datang saat pelatihan dan antusiasme warga saat mengikuti pelatihan pada Minggu (27/9/2020).

Pelatihan hari pertama diisi dengan pemetaan usaha dan identifikasi kebutuhan. Tak hanya itu, beberapa unit yang dianggap potensial, ditentukan pada hari tersebut seperti unit pengelolaan joglo desa, unit wisata perahu dan unit media sosial. Beberapa identifikasi kebutuhan yang sudah tertulis kemudian dibahas lebih lanjut pada pelatihan hari kedua.

Master plan desa wisata Mronjo, Blitar.

Pelatihan hari kedua banyak membahas tentang pendalaman dan pemantapan program kerja wisata dessa. Pendalaman program tersebut mendapat penguatan dari Winartono, Tenaga Ahli Pendamping Desa.

Cak Win, sapaan Winartono, bercerita tentang pengalamannya ketika mendampingi desa. Tidak sedikit desa yang sukses ia dampingi, meski tak sedikit juga desa yang tidak sesuai dengan harapannya. Salah satu desa yang sukses ia dampingi berada di Pasuruan.

“Desa itu, banyak yang bilang kalau desanya ruwet, tidak kondusif. Banyak pihak bertanya kepada saya mengapa saya mau mendampingi desa yang seperti itu. Saya bilang, saya hanya ingin mengabdi saja”, tutur cak Win.

Pelatihan dan Perubahan Menuju Lebih Baik

Perlahan, desa tersebut berubah melalui sentuhan magis cak Win. Banyak penduduk desa tak acuh dengan program-program dari cak Win, perlahan mau bergabung untuk memberi kontribusi positif bagi desa. Ketua ISNU kota Malang itu menambahkan, perubahan positif itu tak lepas dari peran semua pihak mulai pejabat desa hingga warganya.

Selanjutnya, pelatihan dipandu oleh M. Mahpur dan Yusuf Ratu Agung. Kedua pemateri dari Kampus Desa Indonesia tersebut membagi peserta yang hadir menjadi 3 kelompok, sesuai klaster hari pertama. Tiap klaster yang ada mendapat tugas membuat daftar kebutuhan dan analisis unit usaha.

Setelah tiap kelompok selesai membuat analisis kebutuhan, selanjutnya masing-masing kelompok melaporkan hasilnya di depan forum. Dari paparan tersebut, tiap anggota forum memberi saran dan masukan tambahan.

“Dengan adanya kegiatan ini, saya berharap nantinya potensi desa wisata Mronjo mendapat respon positif dari masyarakat sekitar”, harap Galuh, salah satu peserta pelatihan dan warga desa Mronjo.

Kupas Tuntas Perlindungan dan Strategi Pemberdayaan Petani

0

Seperti dalam jadwal agenda awal di hari kedua  (29/7) ini adalah Sarasehan Nasional II yang membahas tentang arus utama perlindungan dan pemberdayaan petani. Semenjak pagi hari, nampak peserta masih sangat antusias mengikut agenda ini. Adapun yang menjadi narasumber di Sarasehan Nasional II ini disampaikan oleh Arif Lukman Hakim Dosen Universitas Raden Rahmat Malang dan Rahadi dari Susdec LPTP.

Kegiatan Sarasehan Nasional II ini secara spesifik lebih menerangkan tentang peran pemerintah dalam memberdayakan produktivitas petani, serta meningkatkan kemandirian petani, seperti  mendaur ulang benih sebagai basis dari pertanian organik.

Permulaan materi, Arif menjelaskan tentang problematika pertanian. Banyaknya petani yang terlalu ketergantungan dengan benih-benih murni, lalu tidak berusaha mendaur ulang benih benih sebagai salah satu contohnya. Hal itu membuat persawahan mengalami penurunan dalam proses produksi, sebab liarnya hama dari pemupukan yang salah.

Untuk mewujudkan hal itu, peran pemerintah menjadi penting dalam bersinergi bersama petani. Hanya saja, persoalan hari ini adalah kehidupan masyarakat pedesaan khususnya petani hanya dinilai dari angka-angka pembangunan. Akibatnya, banyak bantuan dan pemberdayaan yang diberikan oleh pemerintah terkadang tidak sesuai dengan keinginan petani dan kebutuhan pertanian mereka.

“Seharusnya petani dapat mengembangkan sendiri pupuk yang mereka butuhkan sesuai kondisi lahan pertanian mereka. Jika kemudian petani dapat mendaur ulang sendiri, hal itu memungkinkan petani menghasilkan benih dan pupuk sendiri. Maka bukan hanya kemandirian petani yang terbangun, peningkatan produktivitas pertanian pun akan tercapai,” Tutur Arif.

Di akhir penyampaian materinya, Arif menambahkan tentang beberapa urusan penting petani. Ada tiga urusan petani; urusan pertama adalah ketersediaan tanah, tanpa tanah petani hanya akan menjadi buruh tani. Urusan kedua Ilmu, Petani juga harus memiliki ilmu pengetahuan, Ketiga pasar, di tengah arus modernisasi yang makin deras, petani sekarang harus mencoba mengembangkan jaringan pasar secara mandiri, agar tidak selalu ketergantungan terhadap labilnya harga yang berkisar di pasar.

Hadirnya pemerintah kadang tidak tepat pada kebutuhan para petani. Ini menjadi penting sebagai evaluasi bersama, untuk kemudian berbondong-bondong menciptakan jaringan pasar dan memproduksi sendiri.

“Petani dibiarkan bertarung bebas di tengah pasar bebas, tidak ada perlindungan terhadap hak-hak petani. Hadirnya pemerintah kadang tidak tepat pada kebutuhan para petani. Ini menjadi penting sebagai evaluasi bersama, untuk kemudian berbondong-bondong menciptakan jaringan pasar dan memproduksi sendiri. Sehingga nanti kemandirian petani mampu terbangun, tanpa bergantung dengan kehadiran investasi dan para elite berkepentingan,” Pungkas Arif.

Sementara itu, Rahardi selaku pemateri selanjutnya membahas terkait perlindungan petani dan pengakuan hak-hak petani. Menurutnya, sejauh ini persoalan yang paling subtansial dari sekian banyak masalah adalah tidak adanya perlindungan terhadap petani.

Banyak bibit baru yang ditemukan petani, namun tidak bisa dikembangkan tanpa adanya proses legal (sertivikasi) dari negara, sehingga sangat menghambat ketersampaian hak pokok petani

Menanggapi hal itu, Rahadi memberikan saran kepada peserta Sarasehan Tani, agar petani tetap percaya diri dengan modal pengetahuan dari dirinya sendiri. Seperti pengetahuan tentang proses pembibitan, pemberdayaan tanaman, hingga pemberian pupuk.“Petani mendapatkan banyak masalah tapi tidak lindungi oleh Negara, sedangakan Negara justru hadir dengan posisi yang represif. Banyak bibit baru yang ditemukan petani, namun tidak bisa dikembangkan tanpa adanya proses legal (sertivikasi) dari negara, sehingga sangat menghambat ketersampaian hak pokok petani,” Ungkap Rahadi.

Saat ini banyak dipersuasi oleh produk pestisida yang merusak produktivitas lahan, lahan tidak lagi subur sebagaimana dahulu, alias mandek. Karenanya, semua kalangan yang hadir di acara ini, terutama kalangan intelektual harus mampu bersinergi dengan para petani, belajar bersama petani, hidup bersama petani, dan memulai dengan apa yang mereka miliki (baca: petani). (HA)

Kawula muda bijaklah dalam bermelodi, karena musik itu sugesti

Ini tentang musik, sifatnya yang universal terkadang mereduksi pemikiran rasional. Lantas bagaimana dengan hal yang bersifat emosional? Bisa dibilang musik akan memperbudak emosi. Hanya dia yang bijak akan mampu mengendalikan kekuatan ilusi Nada dan suara.

Kampusdesa.or.id-Ada kalanya manusia butuh keheningan, menguatkan hati, meratapi apa yang telah terjadi atau menimang nimang kesibukan esok hari. Sedih, susah, lelah, galau, macam macam mood sesorang adalah bukti bahwa hati manusia itu rapuh. Sebagian mereka memilih musik sebagai obat penenang bak ekstasi.

Anda semua pasti pernah, memutar ulang lagi dan lagi sebuah musik sendu sesuai dengan suasana hati anda yang sedang mendung. Ketika tak berhasil mendekati pujaan hati, disitu ada ” kangen band “. Ketika anda putus dengan gebetan, ” lapang dada ” So7 atau ” Perpisahan termanis ” lovarian bisa menjadi pilihan. Beda lagi dengan western style, anda pasti akan memutar “she’s gone” milik steelheart. Ketika mood anda jatuh dalam kegalauan, Irama lagu adalah satu satunya yang mengafirmasi perasaan anda. Tanpa sadar melodi telah mematikan akal, anda terfokus dengan dunia anda sendiri, tidak ada orang lain. Hanya ada kisah kusut antara anda dan dia yang selalu terfikirkan, lucunya anda sangat menikmati kegalauan itu. Apa ini bukan ilusi?

Tanpa sadar melodi telah mematikan akal, anda terfokus dengan dunia anda sendiri, tidak ada orang lain. Hanya ada kisah kusut antara anda dan dia yang selalu terfikirkan, lucunya anda sangat menikmati kegalauan itu.

Jika tidak begitu, Ada saatnya manusia butuh keramaian, menikmati indahnya hidup. Pagi secerah mentari, malam seterang rembulan. Bahagia, sumringah, damai dan santai adalah dalil bahwa uniknya hati dalam mensyukuri hidup. Banyak dari mereka memutar musik sebagai wasilah menuju kesenangan. Iya itulah sugesti musik.

Coba perhatikan saat konser musik, pesta ulang tahun, atau dangdutan di kampung. Adakah yang susah gelisah disana?. Semua duka lara terhapus seketika oleh genjrengan gitar. Penat, lelah, terhemaskan oleh suara bass. Gegap gempita penonton sejenak melupakan manusia dari dunia realita, Mata terpejam , kepala menganggguk angguk ke atas dan ke bawah,  semua mengalir seirama dengan lagu “ Senorita ” yang didendangkan.  Alunan bunyi mampu menutup mata, telinga dan hati dengan cara yang santun. Melenakan dengan asyiknya irama, membuai oleh penguatan imajinasi. Namun ketika musik itu distop, kita akan tersadar kembali dan merasa sepi.

Alunan bunyi mampu menutup mata, telinga dan hati dengan cara yang santun. Melenakan dengan asyiknya irama, membuai oleh penguatan imajinasi.

Musik merupakan seni menyusun nada, memadukan irama dan lagu menjadi sebuah keharmonisan. Menggunakan alat alat yang berbunyi sehingga terbentuklah gagasan “ rasa “ di dalamnya. Tinggi rendahnya nada dikomposisikan dengan indah kata kata sengaja dibuat untuk memantik emosi pendengar. Setiap karakter musik memiliki kekuatan hipnotis yang khas, memanipulasi kepribadian muda mudi untuk tergerus dalam gagasan “ rasa “. Tak heran seperti contoh diatas, mood individu akan sangat mudah terombang ambing dengan irama musik. Seperti itulah kira kira daya pikat sebuah seni suara.

Jelas sudah, ini bukan tentang khilafiah haramnya musik dan halalnya Shalawatan. Tapi bagaimana memanfaatkan musik dengan bijak, menelaah baik dan buruk kapan musik itu tepat untuk dimainkan dan pada waktu apa bermelodi itu sebaiknya ditinggalkan. Sekali lagi kekuatan sugesti musik sangat kuat sekali!.

Contohnya ketika menonton film horor atau thriller, perasaan was was anda akan menjadi jadi dengan iringan instrumental mistis, apalagi jika ada nyanyian lirih “ lingsir wingi ” akan membuat bulu kuduk anda berdiri. Tarik napas.. mute televisi anda, maka apa yang terjadi? Seketika semua normal tidak ada efek menakutkan dalam film tersebut bukan?.

Anda mungkin masih bisa baper oleh manisnya kata kata gombal film india atau drama korea, semenit kemudian anda akan menari dengan sendirinya, terpana dan memeluk erat bantal ketika backsound rebana dimainkan. Tayangan romansa yang sempurna! Musik telah menyusup dalam relung hati anda.

Kesimpulannya, irama bunyi memiliki dua sifat, melenakan atau menyadarkan. Musik menarik keluar  jiwa jiwa yang terkurung , menyadarkan bahwa hidup itu terlalu indah untuk disesali. Namun kita harus jujur bahwa musik juga bisa menumpulkan akal budi, yaitu ketika manusia telah didominasi oleh hasrat “ rasa” melupakan waktu dan kewajibannya serta melakukan hal hal yang tak seharusnya oleh sebab rangsangan musik yang mempermainkan hati. Wahai sahabat, sedikit banyaklah merenung dan mulailah bijak dalam bermelodi.