UNBK: Ujian Nasional Berbasis Keadilan

0
289

Ujian nasional menggunakan Higer Order Thinking Skill (HOTs) sementara di kelas tidak disiapkan menggunakan model pembelajaran tersebut merupakan pelanggaran terhadap prinsip evaluasi pembelajaran, yakni keadilan. Sebegitu runyamkah pendidikan kita hari ini ?


UJIAN nasional merupakan hajat tahunan kementrian pendidikan dan kebudayaan yang selalu menarik perhatian siapa saja di Indonesia. Ujian nasional merupakan evaluasi puncak yang harus dilalui oleh peserta didik mulai dari jenjang sekolah dasar hingga menengah. Dari tahun ke tahun sejak diluncurkannya, program ujian nasional selalu saja memunculkan polemik yang menarik perhatian berbagai macam kalangan untuk berkomentar.

Pelaksanaan Ujian Nasional ditahun 2018 ini juga diwarnai polemik yang tak kalah seru bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Telah menjadi viral di media sosial, komplain peserta ujian nasional yang mengeluhkan sulitnya soal ujian nasional pada tahun ini, bahkan ada beberapa soal yang dikeluhkan tidak tercantum pada kisi-kisi soal yang diberikan kepada peserta didik dan ada juga yang protes bahwa soal ujian nasional ternyata tidak sesuai dengan materi yang diajarkan, dan masih banyak lainnya.

Menteri pendidikan dan kebudayaan, Muhadjir Efendi  memberikan keterangan melalui konferensi pers, bahwa ujian nasional pada tahun ini memang lebih sulit bila dibandingkan dengan ujian nasional sebelumnya karena sudah menggunakan soal berbasis higher order thinking skill (HOTs). Namun, yang menjadi persoalan adalah apakah pembelajaran di kelas sudah menerapkan HOTs?. Jawabannya ternyata belum. Realitas tersebut merupakan pelanggaran terhadap prinsip evaluasi pembelajaran yaitu prinsip keadilan (fairness). Statemen Mendikbud tersebut bisa diartikan bahwa pelaksanaan ujian nasional 2018 memanglah akan menimbulkan kesulitan tersendiri bagi peserta didik.

Tyler (Fernandes, 1984: 1) memberikan definisi evaluasi pendidikan, yaitu “ The process of determining to what extent the educational objectives are being realized,” definisi tersebut menegaskan bahwa evaluasi merupakan proses untuk menentukan sejauhmana tujuan pendidikan itu dapat dicapai. Tujuan pendidikan pendidikan direpresentasikan oleh kurikulum. Untuk bisa mencapai tujuan pendidikan dibutuhkan sebuah upaya atau proses pembelajaran di kelas, dan untuk mengetahui capaian dari proses pembelajaran tersebut harus dilakukan evaluasi pembelajaran dalam konteks ini yaitu ujian nasional.

Kurikulum, proses pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran merupakan tiga bagian yang harus menyatu dan terhubung. Masalah yang terjadi dalam konteks ujian nasional pada saat ini adalah ketiganya ternyata tidak menyatu dan terhubung. Untuk bisa menguji peserta didik dengan soal yang membutuhkan penalaran tinggi (HOTs) maka proses pembelajaran dikelas juga harus dilakukan dengan bahan, model dan strategi pembelajaran yang mengarahkan peserta didik untuk menguasai materi dengan penalaran tingkat tinggi pula.


Pemberlakuan ujian nasional berbasis komputer pada tahun 2018 ini, menyulut rasa tidak adil pada sebagian kalangan peserta didik.


Selain itu, pemberlakuan ujian nasional berbasis komputer pada tahun 2018 ini, menyulut rasa tidak adil pada sebagian kalangan peserta didik. Sebagian peserta didik di Indonesia memang belumlah familiar dengan komputer dalam pembelajaran sehari-hari. Sehingga dengan ujian nasional berbasis komputer bukanlah perkara mudah bagi mereka.

Kurikulum tahun 2013 memang secara tegas menyebutkan bahwa untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan oleh pemerintah dibutuhkan pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Pendekatan pembelajaran tersebut memang mengarahkan peserta didik untuk bisa berpikir tingkat tinggi atau dalam taksonomy bloom diharapkan peserta didik sudah terbiasa dengan level kompetensi C4 ke atas. Akan tetapi pada prakteknya, ternyata masih sangat jauh dari cita-cita yang diharapkan tersebut, yang menjadi penyebabnya adalah belum meratanya infrastruktur maupun suprastruk pendidikan di Indonesia pada saat ini. Kondisi tersebut memanglah tidak boleh secara terus menerus diratapi atau dijadikan alasan untuk memaklumi ketertinggalan, akan tetapi dibutuhkan langkah strategis dan serius yang adil, efektif dan efisien untuk terus melakukan perbaikan pendidikan di Indonesia termasuk ujian nasional.


Model ujian nasional yang ideal untuk dilakukan di Indonesia haruslah adil bagi untuk semua anak bangsa. Manajemen pengujian yang berbasis komputer memanglah efektif dan efisien dalam beberapa hal. Akan tetapi kalau malah meninggalkan tujuan awal dari ujian nasional, maka perlu dipikirkan kembali implementasinya.


Model ujian nasional yang ideal untuk dilakukan di Indonesia haruslah adil bagi untuk semua anak bangsa. Manajemen pengujian yang berbasis komputer memanglah efektif dan efisien dalam beberapa hal. Akan tetapi kalau malah meninggalkan tujuan awal dari ujian nasional, maka perlu dipikirkan kembali implementasinya. Selain itu, tim pembuat soal ujian nasioal tentu juga harus mempertimbangkan kondisi riil di lapangan dalam menentukan bobot soal yang akan diberikan kepada peserta didik. Dengan begitu aspek keadilan akan dirasakan untuk  semuanya. Ujian nasional berbasis keadilan merupakan keniscayaan yang harus diperhatikan dan dilaksanakan untuk mendapatkan hasil ujian nasional yang akurat untuk perbaikan pendidikan nasional. Wallahua’lam. (Artikel juga dimuat dalam koran Inspirasi Pendidikan edisi April 2018)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here