Pilkada, Masihkah Pemimpin Baru Hadir dengan Wajah Lama

0
141
Bersiap mencoblos. Sudahkah dipertimbangkan secara rasional ?

Menjadi pemilih cerdas menandai salah satu ciri kualitas demokrasi kita. Setiap warga memiliki kemampuan memilih berdasarkan pertimbangan rasional karena mereka telah cukup mendapatkan informasi calon terbaiknya. Setali tiga uang, idealisme tersebut masih belum sampai ke masyarakat. Ditemui di masyarakat, mereka memilih masih dipengaruhi oleh keputusan eksternal, bahkan ditentukan oleh lembaran uang yang diberikan oleh para kader yang menjadi tim sukses calon. Selamat memilih secara cerdas.

Tulisan ini saya buat setelah usai lebaran seminggu. Akan ada perhelatan besar lainnya yang tengah menunggu. Hari ini Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk Gubernur Jawa Timur sekaligus Bupati di Kota saya, Bondowoso. Dan tahun ini adalah kali pertama bagi saya menggunaan hak suara. Bingung, tentu saja. Sebagai bagian baru di masyarakat tentunya saya merasa bingung bagaimana saya nantinya akan menggunakan hak suara saya. Pikir saya suara saya tak akan ada pengaruhnya dengan siapa nantinya pasangan calon yang akan terpilih. Akan tetapi, tanpa saya dan kita semua sadari satu suara rakyat akan menentukan bagaimana kebijakan serta nasib daerah kita sendiri kedepannya.

Sebenarnya, momen pilkada maupun pemilu raya merupakan momen yang paling dinanti oleh masyarakat. Hal ini terjadi secara alami. Naluri masyarakat yang menginginkan adanya pebaruan di kalangan pemimpin, untuk mencari pemimpin dengan program baru yang lebih fresh dan lebih baik dari sebelumnya. Begitupun saya. meskipun tidak secara langsung saya rasakan dampak dari terpilihnya pasangan tertentu, hadirnya pemimpin baru akan membawakan semangat tersendiri di awal masa jabatan, meskipun sulit bertahan hingga akhir.

Satu minggu menjelang Pilkada, saya membantu orang tua menyebarkan undangan pemungutan suara ke beberapa warga. Kebetulan ibu saya ditunjuk menjadi petugas KPPS di salah satu TPS (Tempat Pemungutan Suara) yang ada di desa. Maklum untuk tahun ini ada syarat khusus bagi mereka yang ditunjuk menjadi petugas, yakni minimal memiliki ijazah SMA sehingga banyak orang-orang baru yang jarang terlihat dalam agenda desa sebelumnya. Kesempatan di saat berkeliling membagikan undangan ini saya manfaatkan untuk meng-explore konstruk pemikiran masyarakat desa saat ini.

Tak dapat mengelak dari fakta yang ada, masyarakat hanya mengerti untuk memilih orang (pasagan calon) tertentu yang sebelumnya telah diarahkan oleh masing-masing pasangan calon. Dan tak jarang mereka memperoleh rupiah tuk sekedar menghidupkan dapur sehari-dua hari.

Banyak fakta unik yang saya temui dalam pemikiran mayarakat desa (wong cilik), terkait Pilkada. Hal yang paling membuat saya tercengan adalah ada beberapa masyarakat yang masih belum mengerti apa itu Pilkada. Tak dapat mengelak dari fakta yang ada, masyarakat hanya mengerti untuk memilih orang (pasagan calon) tertentu yang sebelumnya telah diarahkan oleh masing-masing pasangan calon. Dan tak jarang mereka memperoleh rupiah tuk sekedar menghidupkan dapur sehari-dua hari. Mayoritas masyarakat hanya memilih mereka yang memberikan uang, tanpa mengerti apa dan siapa yang mereka pilih. Inilah yang menjadi cikal-bakal khususnya daerah saya sulit untuk berkembang, tidak menutup kemungkinan bagi Indonesia pada umumnya.

Hal kedua justru bertolak belakang, sebagian masyarakat khususnya yang berada di perantauan enggan untuk kembali ke daerah mereka. Meskipun mereka tahu dan paham betul akan diadakannya pemilihan pemimpin daerah yang baru. Mereka tidak rela jika kemudian rupiah yang mereka peroleh dari bekerja digunakan untuk ongkos pulang, dan kehilangan rupiah-rupiah lainnya karena cuti kerja untuk beberapa hari, bahkan yang lebih parah lagi sebagaian dari mereka terancam kehilangan pekerjaan jika pulang bukan pada masa-masa libur kerja sehingga demi itulah kemudian mereka mengorbankan hak suara, lagi-lagi demi uang.

Dua kondisi ini menampakkan pada saya bahwa, masalah utama tak selalu datang dari pemimpin daerah. Masih banyak masyarakat yang memprioritaskan pekerjaan di atas segalanya karena tidak dapat dipungkiri lagi hanya dari itu mereka dapat menghidupi keluarganya. Hal ini juga merupakan dampak dari masih banyak program pemerintahan untuk memberantas kemisikinan yang sulit terlaksana sehingga tak jarang masyarakat enggan untuk menggunakan hak suaranya dengan bijak. Padahal satu suara kita sangatlah berarti bukan bagi mereka tapi bagi diri kita sendiri.

Memilih wajah baru untuk lima tahun kedepan, masihkah kita mempertahakan cara lama? Dengan membarter kehidupan lima tahun dengan lembaran uang yang cukup untuk makan lima hari.

Memilih wajah baru untuk lima tahun kedepan, masihkah kita mempertahakan cara lama? Dengan membarter kehidupan lima tahun dengan lembaran uang yang cukup untuk makan lima hari. Masihkah kita mengacuhkan pemimpin kita lima tahun kedepan, sedangkan kita secara tidak langsung telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Kemudian yang menjadi pertanyaan besar selanjutnya, setelah masyarakat kembali sadar akan pentingnya Pilkada.

Masihkah pemimpin baru hadir dengan wajah yang sama?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here