Ketika Sebagai Anak Dipuja Kesuksesannya, Apa Perasaanmu?

0
85
Gambar diambil dari solusisehatku.com

Apakah Anda pernah dipuja habis-habisan oleh orang tua Anda di hadapan keluarga besar ? Ya, sebagian mungkin pernah. Kadang kita tidak nyaman atau risih mendengarnya. Bagi kita sebagai anak, sebenarnya yang paling penting bukan pujian kesuksesan tetapi jalan panjang kita mencapai sukses jauh lebih menjawab eksistensi kita dari semata sebuah hasil kini.

Setiap orang akan merasa diakui eksistensinya dengan berbagai macam bentuknya. Mungkin jarang sekali orang ingin dimaknai secara sederhana, bukan karena embel-embel apapun. Bahkan pengakuan eksistensi seseorang yang dilakukan oleh keluarga sendiri, tak ayal disampaikan secara berlebihan.

Saya ingat betul pada saat pertemuan keluarga. Hal yang jamak, di setiap sesinya selalu membahas tentang sesuatu yang berkenaan dengan prestise dan sejenisnya. Pak De atau Bu De selalu membangga-banggakan anaknya. ”Anakku sekarang bekerja di Pertamina sebagai akuntan. Gajinya selangit!” Dan bla bla bla. Atau terlontar pula pertanyaan oleh anggota keluarga besar lainnya kepada orang tua saya. “Sekarang anakmu kerja dimana?”

Pertanyaan mereka terlihat membosankan bagiku. Mereka dengan euforianya menceritakan keberhasilan anak mereka. Ucapan bombastis pun seringkali terdengar. Lucu, aneh dan menggelitik bagi saya. Mengapa pertemuan yang indah semacam itu dihiasi dengan ajang pamer..entah itu pamer kekayaan, keberhasilan anaknya dan lain-lain. Ah tapi sudahlah itu kan mereka, bukan saya yang melakukan. Hak mereka untuk berbuat hal semacam itu.

Harapan anak sebenarnya adalah sangat sederhana. Pengakuan orang tua terhadap proses dalam mencapai sesuatu itulah menurut kami lebih berarti bukan pada ajang unjuk gigi.

Sebagai anggota junior dalam keluarga besar, saya merasa aneh apabila orang tua menyampaikan keberhasilan anaknya secara berlebihan. Memang betul kebanggaan itu merupakan salah satu indikator pengukur kerja keras orang tua menjadikan anaknya untuk menuju ke “kesuksesan.” Akan tetapi penyampaian itu seakan menonjolkan keegoan diri dan bahkan obyek perbincangan difungsikan bak etalase berjalan. Harapan anak sebenarnya adalah sangat sederhana. Pengakuan orang tua terhadap proses dalam mencapai sesuatu itulah menurut kami lebih berarti bukan pada ajang unjuk gigi.

Hikmah yang dapat dipelajari dari kejadian diatas bagi penulis adalah pengakuan eksistensi anak secara utuh memberikan rasa nyaman kepada anak ketimbang anak dijadikan obyek perbincangan yang dapat mengupgrade ego diri para orang tua

Hikmah yang dapat dipelajari dari kejadian diatas bagi penulis adalah pengakuan eksistensi anak secara utuh memberikan rasa nyaman kepada anak ketimbang anak dijadikan obyek perbincangan yang dapat mengupgrade ego diri para orang tua. Penulis menjadi ingat akan tulisan Sapardi Djoko Damono “ Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu…Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..” Walaupun tulisan ini disampaikan Djoko untuk ungkapan seseorang kepada kekasihnya akan tetapi nilai yang dapat diserap adalah ketulusan seseorang dalam mencintai termasuk didalamnya pengakuan eksistensi diri yang juga dapat diterapkan kepada anak.

Debrina Rahmawati. Alumni Pelatihan Menulis Kampus Desa dan selalu bergiat dalam upaya meningkatkan pengalaman tulis menulis. Menekuni dunia hukum

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here