Jadi Penulis itu Mudah, Tips Jitu Dr. Ngainun Naim

0
347
Dr. Ngainun Naim saat memberikan tips dan trik menulis di Pesantren Rakyat Al-Amin Sumberpucung, Malang

Banyak orang mengikuti berbagai pelatihan menulis, namun tak satupun buku dihasilkan. Penyebab utamanya tak lain karena sepulang dari pelatihan tersebut, tak ada tindak lanjut dari yang bersangkutan. Ilmu kepenulisan yang didapat selama pelatihan menguap dan hilang entah kemana. Bagaimana membongkar permasalahan laten ini?

Tak sedikit orang yang bertanya bagaimana tips dan trik menjadi penulis best seller yang karya-karyanya dibaca banyak orang. Tapi anehnya, begitu disodorkan tantangan untuk mulai menulis, mereka ogah-ogahan. Akibatnya, tetap saja tak ada satu karya pun yang dihasilkan. Menulis tetap menjadi hal yang sulit, bahkan mustahil bagi mereka.

Problem inilah yang hendak dibongkar Ngainun Naim pagi ini (Sabtu/31/08) di Pesantren Rakyat Al-Amin Sumberpucung Malang. Ketua LP2M IAIN Tulungagung ini mengajak para peserta Sekolah Jurnalistik terlebih dahulu untuk menyelesaikan permasalahan diri yang kerap menjadi hambatan dalam menulis.

Dengan diselingi guyonan khasnya, ia menuturkan bahwa ada 4 (empat) permasalahan pokok yang dihadapi oleh orang belajar menulis. Pertama, problem psikologis. Misalnya perasaan malu, takut, dan khawatir saat tulisan dibaca orang lain lalu mendapatkan ejekan, kritik, dan saran.

“Jangan mikir apa yang mau ditulis. Tapi tulislah apa yang ada di pikiran. Seharusnya jika kita berbicara lancar, maka menulis juga harus lancar”

Kedua, bingung mau nulis apa. Sebagian besar orang sibuk memikirkan ide dulu, baru setelah itu menulis. “Ini namanya kebalik. Jangan mikir apa yang mau ditulis. Tapi tulislah apa yang ada di pikiran. Seharusnya jika kita berbicara lancar, maka menulis juga harus lancar” papar doktor alumni UIN Yogyakarta ini.

Ketiga, mindset (setting pikiran). Misalnya anggapan menulis itu sulit. Maka, Anda akan menganggap bahwa menulis itu tidak mungkin untuk dilakukan.

“Umumnya orang berkata “Aku ra bakat nulis“. Menulis itu gampang. Yakinkan dalam diri, ubah pikiran negatif itu ke postif. Jika ada orang berkomentar jelek, yakinlah bahwa dia bukan penulis. Komentator itu cirinya kalau ngoncek’i, pinter tapi praktik sendiri nggak bisa.”

Keempat, jam terbang. Menulis itu keterampilan. Jika mau terampil, maka harus terus diasah melalui latihan.

“Mengapa menulis terasa sulit? Karena belum terbiasa, belum punya jam terbang. Semakin sering kamu menulis, maka akan semakin terampil”

“Mengapa supir bus bisa lihai? Karena jam terbangnya tinggi. Begitupun menulis. Mengapa menulis terasa sulit? Karena belum terbiasa, belum punya jam terbang. Semakin sering kamu menulis, maka akan semakin terampil. Menulis jangan seperti kerja rodi. Langsung 3 jam berturut-turut. Yang penting istikamah.”

Untuk mengatasi semua permasalahan tersebut, yang diperlukan adalah komitmen. Komitmen untuk terus belajar menulis. Selanjutnya, teman masa kecil dari Rektor Kampus Desa ini memberikan empat tips mudah menulis bagi pemula.

“Ketika menulis, tulis saja jangan dibaca, tulis terus apa yang ada di pikiran. Setelah itu diamkan. Jangan menulis sambil ngedit. Jangan menulis sambil dibaca. Nulis adalah nulis”

Pertama, carilah ide yang menarik di pikiran Anda. Biasanya, setiap disuruh menulis, orang selalu muncul pertanyaan; menulis apa? Ya apa-apa bisa ditulis. Teman sekitar, sekolah, tugas, dan sebagainya. Kedua, ikat ide itu. Buatlah catatan tentang ide yang muncul. Ide itu kuncinya segera ditulis, jangan dibiarkan, nanti hilang. Kalau mau menulis, modalnya rajin mencatat apapun. Jangan berpikir soal uang. Yang penting punya tulisan dulu, terkenal itu mengikuti. Ketiga, hilangkan rasa takut, malu, atau khawatir tidak sesuai ejaan. Ketika menulis, tulis saja jangan dibaca, tulis terus apa yang ada di pikiran. Setelah itu diamkan. Jangan menulis sambil ngedit. Jangan menulis sambil dibaca. Nulis adalah nulis. Keempat, edit tulisan itu. Kapan ngeditnya? Tidak harus seketika itu. Ngedit itu waktunya harus terpisah dengan menulis” paparnya.

Peserta kemudian diberi tugas menuliskan tentang Pesantren Rakyat Al-Amin sesuai dengan ide yang ada di dalam otak masing-masing. Tulisan peserta akan dicetak ke dalam buku antologi. Kegiatan yang diikuti 25 orang dari berbagai latar belakang ini akan berlanjut hingga besok (Minggu/1/09).