Guru, Digugu lan Ditiru

0
246

“Dia yang bisa menaklukkan orang lain adalah manusia kuat. Dia yang bisa menaklukan dirinya sendiri adalah manusia super“ ( Lao Tze ).

Bila ada orang yang sengaja untuk mengadakan survei tentang seorang guru yang tidak mengenali dirinya bahwa dia guru, maka jawabannya “mungkin” ada. Apabila pengertian guru diasumsikan sebatas pada perannya dalam mentransformasikan pengetahuan atau keterampilan, maka hampir semua orang melakukannya. Sebagai contoh, ketika beberapa anak sebaya berkumpul untuk mengadakan suatu permainan. Aturan bermainnya disampaikan oleh salah satu anak saja, maka sudah cukup si anak tersebut menjadi guru, karena dia sudah mampu memberikan penjelasan seputar pengetahuan permainan yang akan dilakukan. Namun cukupkah syarat sebagai guru hanyalah demikian?

Dalam falsafah Jawa, istilah guru diartikan sebagai “digugu lan ditiru.” Guru adalah sosok teladan. Perannya tidak hanya pada bagaimana ia mampu mendidik dan mentransformasikan pengetahuan, baik di dalam maupun di luar kelas, namun lebih jauh sebagai sumber informasi untuk perkembangan kemajuan masyarakat yang lebih baik.

Dalam pengertian ini, guru dianggap multitalent. Dia menjadi tumpuan warga masyarakat. Hal ini bagai sebuah cara untuk bercocok tanam yang baik sehingga dapat menghasilkan panen yang melimpah. Pertanyaan apa, bagaimana, mengapa seolah harus dikuasai oleh seorang guru. Seperti halnya bagaimana  harus melakukan persembahan kepada Tuhannya, bagaimana mereka akan membangun sebuah rumah yang baik atau bagaimana akan menikahkan putra-putrinya, mereka akan bertanya pada guru.

Seorang guru harus memiliki berbagai ilmu yang dibutuhkan oleh masyarakat. Ia harus mempunyai akhlak yang baik. Sebab masyarakat yakin bahwa akhlak yang baik akan ditunjukan pula oleh orang yang memiliki ilmu yang tinggi dan juga sebagai teladan yang baik.

Mulyasa (2005) menyatakan bahwa pentingnya guru bergantung kepada guru itu sendiri. Sedikitnya ada tiga hal yang mengantarkan seorang guru sangat penting, baik ketika dalam proses pembelajaran di kelas demikian juga dalam kehidupan bermasyarakat. Ketiga hal tersebut akan menjadi sifat dan karakteristik guru. Ketiga hal tersebut adalah kreatif, profesional, dan menyenangkan yang harus dikenali, dimiliki, dan dikembangkan oleh seorang guru.

Ketiga pokok tersebut tidak akan datang tiba-tiba, melainkan harus dipelajari dan terus giat dalam berlatih. Itupun jika seorang guru ‘mau’ dianggap penting. Artinya, seorang guru harus mampu mengenali dirinya melalui evaluasi pada diri sendiri. Apakah ia mampu untuk memilah dan memilih serta mengembangkan materi standar yang tertera dalam kurikulum untuk membentuk kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap pada siswa, atau bahkan sebaliknya? Guru harus kreatif dalam mengembangkan materi yang diajarkan, tidak hanya merasa cukup dengan buku siswa. Sesekali mungkin perlu mencari referensi di perpustakaan atau me-download melalui internet untuk mendapatkan materi yang sesuai dengan kebutuhan murid.

Guru harus kreatif dalam mengembangkan materi yang diajarkan, tidak hanya merasa cukup dengan buku siswa. Sesekali mungkin perlu mencari referensi di perpustakaan atau me-download melalui internet untuk mendapatkan materi yang sesuai dengan kebutuhan murid.

Di sisi lain, apakah ia profesional untuk membentuk kompetensi yang sesuai dengan karakteristik murid? Hal yang harus diingat adalah setiap murid tentunya memiliki perbedaan, baik aspek minat, hobi, atau bakatnya. Di atas pundak gurulah minat dan bakat alamiah murid akan tumbuh dan berkembang jika sesuai dengan pola anak dalam mengenali minat dan bakatnya.

Pokok yang ketiga, apakah seorang guru mampu menyenangkan murid termasuk juga dirinya? Melalui tangan lembutnya guru akan mengantarkan muridnya untuk membentuk dan membangkitkan rasa cinta dan gairah belajar terhadap materi yang disajikan guru.

Guru adalah seorang manusia yang memiliki kewajiban untuk belajar. Belajar mengenali diri sendiri. Belajar mengenali kekurangan diri sendiri. Jika kelemahan dan kekurangan diri sudah diakuinya, maka diperlukan motivasi yang kuat untuk memperbaiki  dan mengembangkan ketiga aspek minimal yang dibutuhkan. Upaya yang dapat dilakukan dalam kerangka mengembangkan keprofesian berkelanjutan guru adalah keaktifan dirinya dalam menggali dan mengembangkan potensi dirinya. Wadah pengembangan diri yang lazim bagi guru adalah MKG (Musyawarah Kerja Guru) di gugus sekolah.

Dengan mengenali kekurangan dirinya, ia akan termotivasi juga untuk mengikuti kegiatan diklat, workshop, atau seminar, baik yang diselenggarakan oleh dinas kependidikan terkait ataupun secara mandiri. Profesi guru adalah sebuah kehormatan untuk menyampaikan ilmu Allah. Tidak semua orang mampu untuk menjadi seorang guru. Oleh sebab itu apabila kita sudah berikrar untuk berprofesi guru, maka kenalilah diri kita bahwa kita sosok teladan yang akan digugu dan ditiru oleh murid, demikian juga oleh masyarakat. Peran guru sangat dibutuhkan untuk kemajuan kehidupan masyarakat.

Apabila kita sudah berikrar untuk berprofesi guru, maka kenalilah diri kita bahwa kita sosok teladan yang akan digugu dan ditiru oleh murid, demikian juga oleh masyarakat. Peran guru sangat dibutuhkan untuk kemajuan kehidupan masyarakat.

Seorang guru yang profesional dalam upaya membentuk karakteristik murid tentu akan bersumber dari karakteristik diri seorang guru. Seorang guru harus mampu membawa diri dengan citra yang baik, baik dalam keadaan emosi teruji. Karenanya, permasalahan yang muncul pra-pembelajaran atau dalam masa proses pembelajaran harus bisa diselesaikan dengan baik. Hal itu sangat nampak dari adanya kompetensi kepribadian yang matang dari seorang guru.

Jagalah harkat diri! Taklukkan temperamental berlebih. Sadarilah bahwa manusia yang super adalah manusia yang mampu menaklukan dirinya sendiri dari sifat temperamental yang tinggi. Temperamen yang tinggi dapat merusak nama baik diri sendiri yang kemudian berimplikasi negatif terhadap siswa. Sadarilah bahwa belajar, beramal, serta berdo’a adalah kewajiban kita sebagai guru. Sejatinya seorang guru adalah manusia yang senantiasa belajar. Belajar menjadi lebih baik untuk dirinya sendiri, siswa, dan juga lingkungan masyarakat luas. Kembali pada pepatah jawa, guru, digugu lan ditiru. (Editor : Faatihatul Ghaybiyyah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here