Generasi Millenial Indonesia Wajib Memiliki Pemahaman “Akar Rumput”

0
96

Nampaknya sebutan generasi millenial akan bergeser dari hingar bingar kepedulian. Mereka bergulat dengan transformasi identitas yang separuh nyata dan separuh maya. Ketika diamati, sepertinya separuh maya akan melonjak dan meningkat drastis. Mungkinkah ada cara membuka keran ketakacuhan mereka pada arealitas ? Tentunya Anda bisa mengamati sejak sekarang, generasi millenial ada zona baru pertumbuhan dan perkembangan mentalitas baru.

Istilah “generasi millennial” sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Setelah generasi baby boomers yang kemudian dilanjutkan oleh Generasi X, kini adalah era generasi millennial atau juga dikenal dengan istilah Generasi Y. Menurut para peneliti sosial, generasi millennial adalah mereka yang lahir antara tahun 1980-2000 yang berarti usia mereka saat ini berkisar antara 18-35 tahun. Walaupun saat ini telah muncul generasi baru yakni Generasi Z, namun generasi millennial dianggap berpotensi besar untuk menentukan wajah Indonesia kedepannya.

Berdasarkan kalkulasi Badan Pusat Statistik (BPS), bonus demografi di Indonesia diprediksi akan terjadi antara tahun 2020 hingga 2030. Ketika memasuki tahun 2020 nanti, persentase penduduk usia produktif akan mencapai 70 persen dan dimasa tersebut generasi millennial akan mendominasi.

Sebagai generasi yang tumbuh dalam era revolusi media sosial, generasi millennial memiliki beberapa keunggulan diantaranya: melek akan teknologi, kreatif dan banyak ide, mayoritas berpendidikan tinggi, serta fleksibel dalam menghadapi perubahan. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Youth Laboratory, generasi millennial seringkali mendahulukan passion dibandingkan karir dalam bertindak (cenderung berpikir out of the box). Hal ini juga yang menjadikan mayoritas generasi millennial memiliki jejaring yang luas sehingga mereka memiliki pemahaman global yang mumpuni.

Namun, sebagai generasi yang kelak akan memegang peranan penting bagi kemajuan Indonesia, pemahaman global saja tidaklah cukup. Generasi millennial wajib memiliki pemahaman “akar rumput”

Apa yang ada dibenak kita ketika mendengar “akar rumput” ?

“Akar rumput” terdiri dari dua padanan kata, yakni akar dan rumput. Sebagaimana kita ketahui, bahwa akar memiliki fungsi yang sangat vital untuk menopang kehidupan sebuah tanaman. Kita mungkin merasa kagum ketika melihat sebuah pohon besar yang menjulang tinggi. Semua itu tidak terlepas dari andil sang akar yang menghujam kokoh kedalam tanah sehingga pohon mampu bertahan dari terpaan angin. Akar juga memiliki fungsi untuk menyerap nutrisi dari dalam tanah yang kemudian diedarkan keseluruh bagian tanaman. Tanpa nutrisi yang susah payah dihasilkan oleh akar, maka tanaman tak akan mampu bertahan.

Ketika kita menikmati berselancar di dunia maya dengan kondisi jaringan yang memadai, seringkali kita melupakan jasa para pekerja yang telah bersusah payah membangun pemancar-pemancar yang menjulang tinggi dengan nyawa sebagai taruhannya.

Kita seringkali hanya memuji yang terlihat oleh mata, seperti tanaman yang indah dan pohon yang kokoh, padahal akar yang tidak terlihat memiliki peran besar didalamnya. Seperti halnya ketika kita menikmati berselancar di dunia maya dengan kondisi jaringan yang memadai, seringkali kita melupakan jasa para pekerja yang telah bersusah payah membangun pemancar-pemancar yang menjulang tinggi dengan nyawa sebagai taruhannya.

Lantas, bagaimana dengan rumput? Tanpa disadari, rumput yang seringkali dianggap sebagai pengganggu ternyata memiliki peran besar dalam kehidupan kita. Bayangkan saja jika tidak ada rumput didunia ini, apa jadinya? Permukaan tanah yang tidak ditanami akan menjadi gersang dan penuh debu. Selain itu, rumput juga memiliki fungsi untuk menjaga vegetasi tanah (kandungan mikroorganisme). Rumput yang dibiarkan tumbuh berdampingan dengan tanaman akan menjaga vegetasi permukaan tanah. Sehingga, ketika ada tekanan panas dan dingin dari luar, makhluk-makhluk kecil yang ada didalam tanah yang berfungsi menjaga kesuburan tidak akan mati. Dan masih banyak lagi fungsi rumput yang jarang kita sadari. Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk memandang rendah pada rumput.

Rakyat kecil walaupun tidak terlihat perannya dipermukaan sebagaimana kaum elit, namun keberadaan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata.

Jadi, apa sebenarnya pemahaman akar rumput itu? Mengapa generasi millennial wajib memilikinya? Yang dimaksud akar rumput oleh penulis dalam hal ini adalah rakyat kecil yang memiliki peran dalam menyangga kekuatan suatu bangsa. Rakyat kecil walaupun tidak terlihat perannya dipermukaan sebagaimana kaum elit, namun keberadaan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Kehidupan berbangsa dan bernegara dapat berlangsung dengan baik tidak terlepas dari dukungan rakyat kecil.

Apa jadinya jika di negeri ini tidak ada petani, nelayan, tukang parkir, petugas kebersihan, penjaga pom bensin, asisten rumah tangga, dan berbagai profesi kecil lainnya yang begitu banyak memudahkan kehidupan kita? Tentu saja kita akan mengalami banyak kesulitan. Maka sangat penting memahami keberadaan rakyat kecil ini, dengan demikian akan lebih mudah untuk menjaga hak-hak mereka agar terpenuhi. Akar rumput yang dianalogikan sebagai rakyat kecil ketika dibiarkan mengering maka akan sangat mudah terbakar. Jika rumput habis terbakar, yang tersisa hanyalah tanah yang gersang.

Generasi millennial perlu memiliki pemahaman ini agar kreativitas yang mereka miliki dapat berguna bukan hanya untuk diri sendiri ataupun kaum elit tertentu namun dapat juga dirasakan oleh rakyat kecil. Rakyat kecil bisa saja rapuh jika tidak mendapat perhatian yang cukup. Rapuhnya sebuah pondasi akan meluluh lantakkan seluruh bangunan. Memiliki pemahaman global yang mumpuni serta networking yang luas oleh millennials adalah modal besar untuk memajukan negeri ini, namun semuanya akan sia-sia jika tidak mampu memahami keadaan rakyat kecil sebagai pondasi yang sesungguhnya.

Lantas, bagaimana cara agar generasi millennial bisa memiliki pemahaman akar rumput? Adalah dengan meluangkan waktu untuk berbaur bersama meraka. Berinteraksi secara langsung agar membuka mata yang selama ini tertutupi oleh sederetan berita nasional maupun internasional yang ada di TV. Yang selama ini hanya tertarik dengan isu-isu global, hanya berkomentar pedas jika tak sejalan dengan pemikiran, dan yang paling miris adalah ketika waktu terbuang hanya untuk memonitor kehidupan glamour para selebriti.

Cobalah berinteraksi dengan anak-anak kurang beruntung yang tidak mampu mencicipi manisnya pendidikan atau mereka yang harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk sampai di sekolah tempat dimana mereka menabur harapan demi janji kehidupan yang lebih baik. Dengarlah suara-suara lirih para pedagang yang menjajakan dagangannya disudut-sudut pasar atau teriakan anak-anak tukang pikul yang berharap ada yang mau memakai jasa mereka. Perhatikan para petani yang berjemur dibawah teriknya matahari untuk merawat tanaman yang kelak hasilnya akan kita cicipi atau pikirkan para nelayan yang melaut hingga berhari-hari yang mungkin saja terombang-ambing oleh gelombang lautan yang ganas. Dan cobalah beri kontribusi secara nyata sebisa yang kita lakukan. Dengan demikian pemahaman akar rumput telah ada di genggaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here