Dramaturgi dalam Fenomena Peringatan Idul Fitri

0
218
Pertemanan yang terekspresikan dalam mode kebahagiaan melalui swafoto di era media sosial. Dokumentasi Mohammad Mahpur

Suka berfoto dengan pose penuh arti kebahagiaan. Momentum lebaran idul fitri tentunya Anda memiliki banyak kesempatan berswafoto bersama keluarga, teman, saudara dan aneka kesempatan bertemu dengan orang lain. Betulkah ekpresi berswafoto tersebut merupakan manifestasi keceriaan atau kebahagiaan yang sebenarnya, atau sebatas tipu daya yang menjadikan terlihat bahagia? Barangkali ada yang terjebak mutlak dalam skenario dramaturgi.

kampusdesa.or.id — Dari membaca judul tulisan saya di atas, mungkin menurut beberapa orang kurang familier terkait istilah dramaturgi. Karena itu akan saya jelaskan secara umum apa itu dramaturgi? Untuk penjelasan lebih mendetail atau khusus, bisa dipelajari oleh pembaca di forum-forum ilmiah, misalnya di seminar atau ruang kelas perkuliahan. Bisa juga dipelajari secara otodidak melalui Mbah Google, tinggal ketik kata kunci “dramaturgi” di mesin pencarian Google, pembaca bisa mendapatkan penjelasannya melalui link website yang tersedia.

Dramaturgi adalah teori yang mengemukakan bahwa teater dan drama memiliki arti yang sama dalam interaksi sosial dalam kehidupan manusia. Dramaturgi awalnya lahir dari Erving Goffman pada tahun 1959 yang termuat dalam karyanya yang berjudul “Presentasion of Self in Everyday Life.” Dramaturgi merupakan sandiwara kehidupan yang dimainkan oleh pribadi manusia sendiri. Bisa dikatakan, manusia hanya berperan sebagai aktor. Perbuatan dan kejadian yang terlihat adalah hasil manipulasi atau rekayasa saja, bukan kenyataan, fakta atau realitas aslinya.

Dalam perspektif dramaturgi, kehidupan ini ibarat teater, interaksi sosial yang mirip dengan pertunjukan di atas penggung, yang menampilkan peran-peran yang dimainkan para aktor. Untuk memainkan peran tersebut, biasanya sang aktor menggunakan bahasa verbal dan menampilkan perilaku noverbal tertentu serta mengenakan atribut-atribut tertentu, misalnya kendaraan, pakaian dan asesoris lainnya yang sesuai dengan perannya dalam situasi tertentu.

Apa yang diperlihatkan oleh manusia di depan umum yang terlihat oleh khalayak umum adalah cuma sandiwara atau permainan drama saja. Pada realitanya, tidak seperti yang terlihat.

Intinya, apa yang diperlihatkan oleh manusia di depan umum yang terlihat oleh khalayak umum adalah cuma sandiwara atau permainan drama saja. Pada realitanya, tidak seperti yang terlihat. Misalnya seseorang ketika di depan orang lain bicara dan bersikap dengan tegas, yang mengesankan orang ini adalah orang yang disiplin, cerdas dan pandai. Namun pada kenyataannya, ia pemalas dan ilmunya tidaklah seberapa. Ia bersandiwara di depan orang dengan sikap dan cara bicaranya, agar mendapatkan image dan tujuan tertentu.

Dalam kaitannya dengan fenomena Idul Fitri yang saya amati di media sosial, ada satu model kesamaan perilaku para netizen (penggiat media sosial), yaitu banyak diantara mereka mengunggah kebersamaan bersama seluruh keluarga, istri atau suami beserta anak-anak mereka. Dengan diberi caption ; “Selamat Idul Fitri 1440 H, Mohon Maaf lahir dan Batin”.

Ada juga yang mengunggah di media sosial kebersamaan bersama keluarga besar masing-masing saat silaturahmi, tak lupa dengan senyum tersungging dan gaya yang beraneka macam. Mengesankan kebahagian yang luar biasa bisa berkumpul bersama keluarganya masing-masing. Karena hampir semua orang melakukannya, ini saya sebut sebuah fenomena perilaku.

Pertanyaannya adalah, “apakah tujuan terselubung dibalik mereka mengunggah foto-foto tersebut?” apakah hanya sekedar mengucapkan selamat hari raya, atau ada tujuan yang lain? Nah, dalam hal inilah teori dramaturgi saya gunakan sebagai pisau analisis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Kita semua, sebagai manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan. Manusia dengan lingkungan sosial yang berbeda-beda, kebutuhan yang berbeda, cara pikir berbeda, dan banyak perbedaan-perbedaan lainnya, memiliki satu kesamaan dalam hal tertentu. Diantaranya adalah, setiap manusia berharap ingin hidup bahagia, sukses, kaya, sehat, bermanfaat, dihormati dan lain sebagainya. Karena itu, demi menggapai hal tersebut beberapa orang rela berkorban dan berjuang dengan segala daya upayanya.

Akan tetapi, harapan dan impian yang ada tidaklah selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Kegagalan dan masalah selalu saja dan pasti menimpa setiap manusia sesuai dengan level manusia masing-masing. Adapun beberapa masalah yang biasa dialami oleh seseorang diantaranya adalah, masalah keuangan, kesehatan, keluarga, hubungan sosial, pendidikan, percintaan, kondisi psikologis dan masalah-masalah lainnya.

Hidup kita tidak selalu bahagia dan tersenyum. Banyak orang yang terlihat tersenyum di depan orang, namun pada kenyataannya hatinya sedih dan menangis. Inilah yang disebut dramaturgi.

Dalam kehidupan kita ini, harapan kita tidak selalu berhasil atau sesuai seperti yang inginkan. Hidup kita tidak selalu bahagia dan tersenyum. Banyak orang yang terlihat tersenyum di depan orang, namun pada kenyataannya hatinya sedih dan menangis. Inilah yang disebut dramaturgi. Beberapa orang berupaya membuat kesan yang terlihat oleh orang lain dengan melakukan drama (bermain peran). Ia berpura-pura seperti halnya pemain teater atau artis yang memerankan tokoh dalam skenario sutradara.

Pendekatan dramaturgi berintikan pandangan, bahwa ketika manusia berinteraksi dengan sesamannya, ia ingin mengelola pesan yang ia harapkan tumbuh pada orang lain terhadapnya. Untuk itu, setiap orang melakukan pertunjukan bagi orang lain. Kaum dramaturgi memandang manusia sebagai aktor-aktor di atas panggung metaforis yang sedang memainkan peran-peran mereka.

Hal inilah, yang saya amati dari fenomena perayaan Idul Fitri di media sosial. Mereka mengunggah foto kebersamaan bersama seluruh keluarganya, dibumbui dengan senyum yang tersungging di bibir. Sesungguhnya hal itu hanya drama saja. Mereka tidak benar-benar bahagia seperti yang terlihat secara kasat mata, tapi realitanya adalah mereka pura-pura bahagia atau berusaha membahagiakan hatinya, agar terlihat dan disangka oleh orang lain bahagia. Adakah yang mau menyanggah pernyataan saya ini? Dengan mengatakan, “saya benar-benar bahagia dengan kehidupan saya.”

Foto bersama sebuah keluarga. Dokumentasi Mohammad Mahpur

Di sisi lain, bukan berarti kita ini dirudung kesedihan dan kesusahan terus menerus. Hidup kita selalu ada masalah. Tidak seperti itu juga, karena sesungguhnya bahagia dan kesedihan adalah satu paket bagi setiap manusia untuk dialami, silih berganti. Sudah sunnatullah bagi kita sebagai manusia, kadang kala kita bahagia, kadang kala kita bersedih hati. Sebagai orang yang beriman, jikalau diberi kebahagiaan hendaknya kita bersyukur dan jikalau diberi kesusahan harusnya kita bersabar. Sebagaimana Hadis di bawah ini;

Dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”.

Abdullah bin Mas’ud berkata: “Iman itu terbagi menjadi dua bagian; sebagiannya (adalah) sabar dan sebagian (lainnya adalah) syukur”.

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan bersyukur di saat bahagia dan bersabar di saat susah, bahkan kedua sifat inilah yang merupakan penyempurna keimanan seorang hamba. Abdullah bin Mas’ud berkata: “Iman itu terbagi menjadi dua bagian; sebagiannya (adalah) sabar dan sebagian (lainnya adalah) syukur”.

Dalam al-Qur’an, Allah Swt memuji secara khusus hamba-hamba-Nya yang memiliki dua sifat ini sebagai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran ketika menyaksikan tanda-tanda kemahakuasaan Allah. Allah berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kemehakuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (QS Luqmaan: 31).

Dramaturgi bukanlah sesuatu yang tidak baik untuk dilakukan. Sah-sah saja dan boleh-boleh saja dengan tujuan dan level tertentu. Namun semestinya kita perlu untuk berhati-hati agar tidak terjebak dalam kebahagiaan semu, yaitu kebahagiaan yang hanya terlihat di sebuah foto

Dramaturgi bukanlah sesuatu yang tidak baik untuk dilakukan. Sah-sah saja dan boleh-boleh saja dengan tujuan dan level tertentu. Namun semestinya kita perlu untuk berhati-hati agar tidak terjebak dalam kebahagiaan semu, yaitu kebahagiaan yang hanya terlihat di sebuah foto, namun kenyataan kehidupan fakta realitanya kita tidak bahagia dengan segala masalah yang menimpa diri kita. Sebagai penutup tulisan ini, saya berdo’a, agar kita semua selalu diberi kebahagiaan sejati dalam hidup dengan selalu bersyukur dan bersabar terhadap segala takdir yang diberikan oleh Allah Swt. Aamiin