Dilema Kejujuran, Antara Prestasi atau Pengakuan Akademik

0
101

SEMUA ORANG yang masih memiliki nurani yang bening, pasti mengakui pentingnya kejujuran, namun suatu saat akan dijumpai sebuah pilihan yang dilematis, antara tetap mau istiqomah jujur atau ikut-ikutan tidak jujur

Jujur kuakui, saat ini saya menghadapi dilema tersebut.

Alhamdulillah, dua Madrasah Tsanawiyah Negeri hebat di tempatku, yaitu MTs Negeri Turen dan MTs Negeri Sepanjang, Gondanglegi setiap tahun pasti menyelenggarakan penjaringan siswa baru melalui “jalur prestasi” selain PPDB reguler

Namanya saja jalur prestasi, maka pesertanya juga harus anak-anak yang dikaruniai Allah kemampuan belajar yang cukup hebat. Syaratnya tahun ini, pertama, syarat administratif yaitu raport kelas 5 semester 1 dan 2 serta raport kelas 6 semester 1, mata pelajaran Matematika, IPA, IPS dan Bahasa Indonesia. Syarat kedua, harus lulus tes tulis Matematika, IPA, IPS dan Bahasa Indonesia ditambah Pendidikan Agama Islam.

Mungkin bagi yang lain syarat itu wajar, dan bagiku juga wajar. Hanya satu hal yang mengusik hati nuraniku, apakah kebijakan kejujuran, termasuk menggunakan kompilasi nilai asli untuk raport itu merugikan anak-anakku yang lain, yang tidak memenuhi syarat administratif?

Dengan syarat tersebut di atas, di Sekolah_Garasi MI Amanah, tahun ini hanya ada tiga anak yang memenuhi syarat dan alhamdulillah Sabtu kemarin untuk MTs Negeri Turen yang melalui jalur prestasi sudah diumumkan dan alhamdulillah ketiganya lulus dan sudah diterima.

Namun aku tahu persis, banyak anak MI Amanah yang juga memiliki kemampuan hebat tidak kalah dengan ketiga murid itu yang tidak memenuhi syarat administratif karena nilai raportnya untuk ke-4 Mapel itu ada yang kurang dari 80.

“Saat gelimang kompetisi dan reputasi lembaga serta meraup kepercayaan public, sekolah yang mengajarkan moral jujur kadang tergadaikan oleh kebutuhan semu bernama reputasi sekolah, gengsi dan institutional branded sehingga kejujuran sebatas daya Tarik di atas kertas dan syarat lulus ujian, selebihnya kepentingan lain dapat semakin menjauhi kejujuran itu sendiri”

Biasanya siswa MI Amanah memang yang melalui jalur prestasi hampir selalu diterima di kedua MTs Unggulan tersebut, dan juga banyak teman dari siswa MI Amanah yang melalui jalur reguler hampir selalu diterima semua, meski nilai raport dan nilai di ijazahnya (bukan Nilai Asli) rata-rata lebih rendah dari siswa-siswa dari sekolah lain.

Maafkan aku, anak-anakku yang hebatnya sama dengan mas Ammar, mas Riri dan mbak Nayli, tetapi kalian tidak bisa ikut jalur prestasi. Insyaallah melalui jalur reguler jalan kalian untuk masuk MTs Negeri Turen dan MTs Negeri Sepanjang serta SMP Negeri Turen tetap terbentang lebar. Hanya kalian masih perlu belajar lagi dalam waktu lebih banyak

Maafkan para orangtua siswa MI Amanah, kalau kebijakan menerapkan kejujuran, termasuk dalam nilai raport yang transparan berdasarkan nilai portofolio ini menyebabkan putra-putri panjenengan meski hebat, gara-gara syarat administratif nilai kurang dari 80 untuk ke-4 mapel tidak bisa ikut jalur prestasi

Terus aku kon piye…???

Tanggung, 13 Maret 2018

Kentar Budhojo
Direktur (DIREKen baTUR) Sekolah Garasi. Sekolah ini adalah cikal bakal Madrasah Ibtidaiyah Amanah, Tanggung, Turen Kabupaten Malang. Inisiator Ora Leren Dadi Wong Apik (OLDWA), sebuah jaringan pendidik non-mainstream se-Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here