Digitalisasi Bahan Ajar Bahasa Indonesia Berwawasan Lingkungan

0
395
Wisata Kebun Bibit, Desa Jambu, Pare Kediri. Desa wisata yang dikelola secara mandiri terintegrasi dengan BUMDES dan bisa menjadi APDes alias Anggaran Pendapatan Desa. Foto : Syamsu Dhuha

Ajaib, dari beratus suku dan bermacam adat yang ada, tak membuat susah anak bangsa untuk berkomunikasi. Harmoni merah putih tetap terjaga melalui bahasa yang satu, bahasa Indonesia. Saat ini teknologi adalah medium yang meriah untuk mengawal pengajaran bahasa Indonesia.

Kampusdesa.or.id-Era Revolusi Industri 4.0. membawa dampak yang kompleks dan menyeluruh terhadap kehidupan manusia. Termasuk dalam ranah pendidikan. Era ini ditandai dengan semakin sentralnya peran teknologi siber dalam kehidupan manusia. Pemanfaatan daya komputasi dan data unlimited di era Revolusi Industri 4.0 akibat dari perkembangan teknologi digital dan internet menyebabkan segala hal menjadi tanpa batas.

Era ini memungkinkan terjadinya disrupsi di banyak bidang, tanpa kecuali juga terjadi di bidang pendidikan. Maka tak heran jika dalam dunia pendidikan muncul istilah “Pendidikan 4.0”. Pendidikan 4.0 (Education 4.0) adalah istilah umum digunakan oleh para ahli pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi siber, baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Ini adalah lompatan dari pendidikan 3.0 yang menurut Jeff Borden mencakup pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan. Pendidikan 4.0 adalah fenomena yang merespon kebutuhan munculnya revolusi industri keempat, dimana manusia berupaya memecahkan masalah dan tentu saja menemukan inovasi baru.

Hal tersebut berimplikasi pada munculnya berbagai tantangan dalam pembelajaran. Saat ini, guru dituntut agar mampu memberikan keterampilan yang dibutuhkan oleh siswa-siswanya dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Selain itu juga, pembelajaran pun hendaknya merujuk pada empat karakter belajar abad 21, yaitu 1) berpikir kritis dan pemecahan masalah, 2) kreatif dan inovasi, 3) kolaborasi, dan 4) komunikasi.

Karena itu, dibutuhkan sosok guru yang memiliki motivasi yang tinggi untuk terus belajar meningkatkan kualitas diri dengan mempelajari ilmu dan pengetahuan baru, bersifat terbuka dalam hal-hal yang baru, adaptif terhadap perubahan, merespon dengan tanggap dan cepat terhadap informasi baru dan akomodatif terhadap kebutuhan siswa, serta kreatif dalam mengembangkan media pembelajaran dan bahan ajar, baik dari segi penyediaan bahan ajar, penggunaan model pembelajaran, penggunaan teknik penilaian, dan penciptaaan atmosfir belajar yang mampu membuat nyaman dan semangat siswa untuk belajar.

Seorang guru yang luar biasa adalah sosok guru yang bukan hanya terampil dalam teknologi, berpengetahuan luas dan memiliki kemampuan mengajar yang baik, tapi juga harus mampu menginspirasi para peserta didiknya. Di sinilah seorang guru semestinya punya kreatifitas tinggi untuk bisa berkreasi dan berinovasi, diantaranya dengan melakukan inovasi pengembangan bahan ajar yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan peserta didiknya.

Baca juga : Bahasa Indonesia: Bahasaku dan Bahasa Kita Semua

Dalam hal pengembangan bahan ajar, seorang guru hendaknya memiliki kemampuan mengembangkan bahan ajar, yang bukan saja berorientasi pada pengembangan kompetensi berbahasa Indonesia dan apresiasi sastra, tapi juga mengakomodasi berbagai tuntutan yang bersifat lebih luas, yaitu untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik yang tentunya terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Misalnya terkait tentang pembelajaran. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru (teacher centered), namun lebih berpusat pada peserta didik (student centered), guru berperan sebagai fasilitator bagi siswa. Sebuah keniscayaan yang tidak terelakkan lagi terhadap perubahan yang dikarenakan dari waktu ke waktu kebutuhan, tuntutan dan keinginan manusia juga terus mengalami perubahan.

Seorang guru memiliki peran yang sangat strategis, karena gurulah yang paling menentukan keberhasilan pembelajaran di dalam kelas. Karena itu, guru harus mampu menerjemahkan dan menjabarkan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum dan mentransformasikan nilai-nilai tersebut kepada siswanya. Saat ini peran guru mengalami pergeseran, berbeda dengan guru zaman dulu. Misalnya terkait tentang pembelajaran. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru (teacher centered), namun lebih berpusat pada peserta didik (student centered), guru berperan sebagai fasilitator bagi siswa. Sebuah keniscayaan yang tidak terelakkan lagi terhadap perubahan yang dikarenakan dari waktu ke waktu kebutuhan, tuntutan dan keinginan manusia juga terus mengalami perubahan.

Menurut Munir (2010) mengatakan bahwa globalisasi merupakan justifikasi transformasi dalam pendidikan dan pembelajaran. Guru harus lebih fleksibel, bekerja lebih keras dan mengembangkan keterampilan teknologi agar pendidikan lebih berkontribusi terhadap produktivitas untuk mencapai daya saing. Di sisi lain dalam pembelajaran bahasa Indonesia, hambatan dan tantangan seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman, tentunya juga mengalami perkembangan dan perubahan pula.

Tentu pembaca penasaran dan bertanya-tanya apa makna dari esai berjudul “Digitalisasi Bahan Ajar Bahasa Indonesia Berwawasan Lingkungan,” dan apa alasan dan penjelasan dari judul esai ini. Secara umum, dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia dalam menghadapi permasalahan di era revolusi industri 4.0, solusi yang ditawarkan oleh penulis adalah dengan melakukan digitalisasi bahan ajar bahasa Indonesia berwawasan lingkungan, yaitu bahan ajar mata pelajaran bahasa Indonesia berbasis digital teknologi dengan mengakomodir nilai-nilai cinta lingkungan.

Secara khusus akan saya jelaskan judul di atas dengan menguraikan judul tersebut satu per satu sebagai berikut;

Digitalisasi bahan ajar

Cepat atau lambat, pembelajaran berbasis kertas dan papan tulis akan tergantikan dengan teknologi digital. Buku-buku pelajaran dan modul yang masih memakai kertas sudah mulai tergantikan dengan e-book (buku elektronik), menulis dengan kapur atau spidol di papan tulis, akan dianggap sebagai sebuah pemborosan dan ketidakefektifan, karena itu digantikan dengan teknolgi touchscreen (layar sentuh), jadi hanya dengan telunjuk jari saja kita bisa menulis di papan atau layar LCD (Liquid Crystal Display).

Disinilah perlunya digitalisasi bahan ajar, yaitu proses mengubah berbagai informasi, kabar, atau berita dari format analog menjadi format digital sehingga lebih mudah untuk diproduksi, disimpan, dikelola, dan didistribusikan (wikipedia). Tentu informasi yang dimaksud dalam hal ini adalah materi pelajaran atau bahan ajar mata pelajaran bahasa Indonesia yang diajarkan oleh guru kepada peserta didiknya.

Digitalisasi bahan ajar yang ditawarkan penulis pada esai ini bisa dijadikan alternatif pilihan sebagai upaya memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi pada kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia antara guru dengan siswa baik di dalam maupun di luar kelas. Selanjutnya di akhir pembelajaran bahasa Indonesia, sebagai penyempurna kegiatan pembelajaran, guru melakukan penilaian autentik (authentic assesment), yaitu suatu proses pengumpulan , pelaporan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti autentik, akurat, dan konsisten sebagai akuntabilitas publik (Pusat Kurikulum,

Bahasa Indonesia
Pelajaran bahasa Indonesia adalah salah satu pelajaran pokok dan penting di sekolah, yang harus diajarkan kepada para peserta didik setiap jenjang dan di setiap jurusan. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan komunikasi tentu sangat penting untuk dipelajari. Peserta didik tidak akan mampu memahami berbagai pelajaran yang lain tanpa sebelumnya memiliki kemampuan dan pemahaman terhadap bahasa Indonesia. Selain itu, dengan memahami bahasa Indonesia, diharapkan peserta didik memiliki etika dan kesopanan dengan berbahasa sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada, dan berbahasa sesuai dengan kaidah bahasa.

Tatat Hartati (2006: 75), menjelaskan tentang fungsi mata pelajaran Bahasa Indonesia. Standar Kompetensi ini disiapkan dengan mempertimbangkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara serta sastra Indonesia sebagai hasil cipta intelektual produk budaya yang berkonsekuensi pada fungsi mata pelajaran bahasa Indonesia sebagai berikut:

  1. Sarana pembinaan kesatuan dan kesatuan bangsa
  2. Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya.
  3. Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
  4. Sarana penyebarluasan pemakaian Bahasa Indonesia yang baik untuk keperluan menyangkut berbagai masalah
  5. Sarana pengembangan penalaran
  6. Sarana pemahaman beragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusastraan Indonesia.

Berwawasan Lingkungan
Pentingnya peserta didik diberi pemahaman dan pengetahuan tentang wawasan lingkungan dengan membangun kecerdasan ekologis, yaitu kemampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan di mana tempat manusia berada. Hal ini penting untuk dimiliki oleh manusia untuk mampu berinovasi dengan kecerdasan, kesadaran, kemampuan dan kreatifitasnya membentuk sebuah karakter cinta pada lingkungan. Mereka bisa menjadi manusia yang responsif dan cekatan dalam memberikan solusi terhadap suatu masalah lingkungan dan bermanfaat bagi manusia lainnya.

Adapun nilai-nilai karakter cinta pada lingkungan yang perlu ditanamkan pada peserta didik sejak dini dalam konteks kecil di sekolah, diantaranya adalah diharapkan peserta didik memiliki kepedulian lingkungan, sopan santun kepada orang tua dan guru, sayang sesama teman, suka menolong, bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan, disiplin, rajin belajar, patuh, jujur dan dapat dipercaya, cinta kebersihan kelas dan halaman sekolah, tindakan bersih-bersih ketika melihat kelas dan halaman sekolah yang kotor, selalu menghemat penggunaan air, hemat listrik, membuang sampah di tempat sampah, tidak suka mencoret meja, kursi dan tembok, tidak merusak bunga, memelihara dan merawat tanaman di sekolah dengan baik, membersihkan kaca dan jendela kelas dan lain-lainnya. Wawasan lingkungan perlu diintegrasikan dalam materi pelajaran bahasa Indonesia sesuai kurikulum yang sudah ditetapkan, sebagai memberikan bekal kepada peserta didik untuk kehidupannya di masa saat ini dan masa mendatang sehingga diharapkan, peserta didik memiliki nilai-nilai karakter di dalam jiwanya.

Digitalisasi bahan ajar bahasa Indonesia berwawasan lingkungan bisa dikembangkan oleh guru mata pelajaran bahasa Indonesia dengan sekelompok guru yang lain dalam forum KKG (kelompok Kerja Guru) atau MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Bahan ajar bahasa Indonesia yang dihasilkan berbasis teknologi digital yang dikembangkan oleh guru bisa berupa tulisan digital, foto, video, powerpoint, slide show, musik, suara digital, dan lain sebagainya, yang dapat dijadikan sarana guru untuk mendidik dan mengajar peserta didik secara langsung maupun tidak langsung tentang pelajaran bahasa Indonesia sesuai dengan materi pelajaran, sekaligus belajar karakter cinta pada lingkungan dengan berbasis teknologi.

Internalisasi nilai-nilai wawasan lingkungan terhadap peserta didik dalam pelajaran bahasa Indonesia akan lebih mudah dengan bahan ajar yang diinginkan dan sesuai kebutuhan peserta didik saat ini, yaitu bahan ajar berbasis teknologi digital. Bahan ajar yang sudah berbasis tenologi digital ini, tentu perlu didukung dengan sarana dan prasarana lainnya, misalnya komputer jinjing, LCD, pointer, I-pad, handphone berbasis android dan layar sentuh, loudspeaker, dan lain sebagainya.

Implementasi pembelajaran bahasa Indonesia dengan bahan ajar digital berwawasan lingkungan adalah dengan mengimplementasikan pembelajaran campuran sebagai suatu alternatif solusi permasalahan yang mungkin dihadapi oleh guru dalam mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia di Era Indutri 4.0. saat ini.

Satu contoh yang penulis sudah pernah lakukan adalah melakukan pengembangan bahan ajar bahasa Indonesia pada Tema 2 Kepahlawanan Kelas 6 SD/ MI semester 1, dengan mengunduh video di youtube tentang berbagai cerita sejarah dan profil para pahlawan Indonesia. Lalu penulis kumpulkan biodata dan potongan video pendek tersebut di dalam slide powerpoint sesuai dengan yang berisi bermacam-macam profil pahlawan. Peserta didik bisa melihat tayangan foto dan video setiap pahlawan yang ditampilkan dengan menggunaan LCD. Daripada harus membaca di buku, peserta didik lebih antusias dan termotivasi melihat tayangan videonya secara langsung.

Misalnya foto dan video tentang kisah sejarah pahlawan Pangeran Diponegoro. Tinggal klik, kita sudah bisa melihat foto, profil dan film tentang Pangeran Diponegoro. Nilai-nilai wawasan lingkungan bisa dijelaskan oleh guru dengan meminta para peserta didik melakukan refleksi setelah melihat tayangan video tentang Pangeran Diponegoro. Sikap apa saja yang dimiliki Pangeran Diponegoro yang layak untuk diteladani oleh peserta didik. Ditemukanlah nilai-nilaisikap rela berkorban, semangat berjuang demi kemerdekaan, tidak rela harga diri dihina oleh orang lain, tanggungjawab, kecerdasan, dan lain sebagainya. Hal itu juga bisa dicari di pahlawan-pahlawan yang lainnya.

Penulis juga pernah mengembangkan bahan ajar berbasis teknologi dengan mengedepankan nilai-nilai wawasan lingkungan dan spiritual, yaitu dengan mengunduh video-video berbagai bencana alam, yaitu; gempa bumi, angin topan, tsunami, banjir, pasang naik, gunung meletus, meteor jatuh, dan lain-lain lalu mengumpulkannya di dalam slide powerpoint. Misalnya salah satu wawasan lingkungan dalam bahan ajar tersebut diantaranya adalah kepedulian lingkungan dan menjaga kebersihan, untuk mencegah terjadinya bencana banjir. Adapun nilai-nilai spiritual dalam bahan ajar yang pernah saya kembangkant itu adalah, bahwasanya setiap bencana alam ada ayat-ayat Al-Qur’an yang membahasnya. Hal ini tentu dapat menambah keimanan peserta didik terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Berkehendak.

Digitalisasi bahan ajar bahasa Indonesia berwawasan lingkungan, adalah alternatif yang bisa dipilih untuk media pembelajaran yang efektif dan efisien dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan untuk peserta didik

Digitalisasi bahan ajar bahasa Indonesia berwawasan lingkungan, adalah alternatif yang bisa dipilih untuk media pembelajaran yang efektif dan efisien dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan untuk peserta didik. Bahan ajar bahasa Indonesia yang menggunakan sarana teknologi digital, tanpa meninggalkan dan mengabaikan nilai-nilai karakter wawasan lingkungan. Teknologi boleh digunakan, namun akhlak dan karakter yang baik juga harus mengiringi. Jikalau karakter baik sudah menjadi bagian dari kebiasaan diri peserta didik, tentu akan menjadi baik pula untuk orang-orang disekitarnya. Sehingga diharapkan peserta didik memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih hal-hal yang sesuai dengan dirinya atau tidak.

Untuk penutup esai ini, saya ingin menawarkan diri. Jikalau ada pembaca yang tertarik dan berminat melihat hasil pengembangan bahan ajar saya tersebut, saya bersedia mempresentasikannya sekaligus mengajari secara langsung cara membuatnya.
Daftar Pustaka :
  1. Depdiknas. 2009. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.
  2. Hartati, Tatat. 2006. Pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas Rendah. Bandung. UPI.
  3. Munir. 2010. Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta