Senin, Mei 11, 2026
Beranda blog Halaman 93

Adu Tajam Pena dan Uang

0

Menulis tidak sekedar membuat narasi yang dibaca orang menjadi informasi yang menarik pembaca. Menulis dapat bermakna perlawanan. Minke, pada film Bumi Manusia menyiratkan bahwa menulis bagian dari perlawanan, tidak sekedar ilmu pengetahuan dan seputar cerita. Menulis adalah senjata yang mengoyak sejumlah kemapanan.

Kampusdesa.or.id–“โ€ฆmenulis bukan hanya untuk memburu kepuasan pribadi. Menulis harus juga mengisi hidup.” Jean Marais, halaman 280


Pena dapat menginspirasi banyak orang. Pena dapat menerjemahkan berbagai ide yang ada di kepala manusia. Pena dapat menggerakkan hati ribuan dan bahkan jutaan orang untuk melakukan sesuatu. Apa yang dihasilkan sebuah pena bisa berubah wujud menjadi sebuah letusan dahsyat dalam bentuk revolusi, penentangan, perlawanan. Pena bisa membuat ribuan bahkan jutaan orang kehilangan nyawanya. Bukan satu atau dua saja tetapi bisa beribu kali lipat daripada yang bisa dihilangkan oleh sebuah pedang.

Berbahaya.

Pena Minke juga membawa bahaya, membuat nyawa banyak orang meregang. Ketika yang dihadapinya adalah kekuatan uang.

Anak Semua Bangsa merupakan novel kedua dari tetralogi Pulau Buru. Tiga novel yang lainnya yang termasuk dalam tetralogi ini ialah Bumi Manusia, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah. Peristiwa-peristiwa yang ada di dalam novel ini terjadi pada permulaan abad ke-20. Oleh sebab itu, ada beberapa istilah Belanda yang digunakan, seperti sekaut; zuivel; transvaal; dan Oranje Vrijstaat. Untuk menjelaskan istilah-istilah tersebut, Pramoedya menggunakan catatan kaki.

Jika Bumi Manusia diakhiri dengan tidak berdayanya Minke dan Nyai Ontosoroh untuk melindungi dan mempertahankan Annelies dari renggutan Maurits Melema, Anak Semua Bangsa dimulai dengan suasana duka karena datangnya telegram dari Jan Dapperste yang mengabarkan kematian Annelies. Kematian Annelies ini merupakan tonggak baru bagi Minke dan Nyai Ontosoroh. Minke mulai tumbuh menjadi pemuda terpelajar Belanda, yang sebelumnya berorientasi pada pola pikir kaum terdidik Belanda, berubah menjadi Minke yang sadar akan lingkungannya sendiri.

Apa yang dipuji-puji oleh Minke dan kaum terpelajar Belanda lainnya ternyata diremehkan oleh kawan-kawan dekat Minke yang mempunyai orientasi kepada kaum pribumi, seperti Jean Marais dan Kommers. Pada awalnya Minke tersinggung. Ia oleh kawan-kawannya dinyatakan sebagai penulis buruk.

Kritikan dari kawan-kawan dekatnya ini menyebabkan Minke harus berlibur ke desa. Di desa inilah Minke bertemu dengan petani yang bernama Kromodongso. Kromodongso sosok seorang petani yang tidak dapat mempertahankan tanahnya dari jangkauan tangan para pemilik perkebunan gula. Tidak hanya tuan-tuan Belanda bermodal yang menjadi musuh Kromodongso, tetapi juga pamong desa yang menginginkan kedudukan lumayan dengan adanya pabrik-pabrik gula tersebut.

Minke mulai menulis di surat kabar tempatnya biasa bekerja. Tanpa Minke sadari, reportasenya mengenai penderitaan Kromodongso akan berbalik membawa petaka

Minke menyadari petani-petani itu tidak memiliki pembela. Ia kemudian memutuskan untuk membela petani-petani itu. Minke mulai menulis di surat kabar tempatnya biasa bekerja. Tanpa Minke sadari, reportasenya mengenai penderitaan Kromodongso akan berbalik membawa petaka, karena ternyata korannya juga dimiliki dan dimodali oleh para pemilik pabrik gula. para pemilik modal gula tidak mau menerbitkan tulisan-tulisan Minke tersebut.

Saat itulah Minke sadar sepenuhnya bahwa ia harus menulis dengan bahasanya sendiri tentang rakyatnya sendiri dan dibaca oleh bangsanya sendiri.

Novel kedua ini pada hakikatnya merupakan suatu analisis kritis terhadap apa yang menyengsarakan kehidupan begitu banyak orang, dipaparkan secara luas dan mendasar benih-benih dan pokok kebangkitan bangsa-bangsa terjajah di awal abad ke-20. Lahirnya pikiran-pikiran baru dalam gelombang perubahan itu memberikan daya saran yang kuat pada gerak pikir Minke. Minke tidak lagi melihat lingkungannya hanya dalam ruang lingkup yang terbatas yang hanya dibatasi oleh kelemahan pribadi.

Minke yang selama ini hanya hidup di lingkungan terdidik dan priyayi pun menjadi peka terhadap penderitaan pribumi. Bahwa penderitaan yang ia alami secara pribadi dengan kehilangan Annelies hanyalah segelintir saja dari penderitaan yang dialami banyak orang dalam lingkungan terjajah.

Apabila dalam Bumi Manusia pemikiran tokohnya baru terbatas pada individu, sehingga penderitaan yang dialami dan dijalani berhenti sebagai penderitaan perorangan, dalam Anak Semua Bangsa hal itu dipahami sebagai sebuah sistem kemasyarakatan tertentu yang melahirkan kekejaman atas rakyat. Minke yang selama ini hanya hidup di lingkungan terdidik dan priyayi pun menjadi peka terhadap penderitaan pribumi. Bahwa penderitaan yang ia alami secara pribadi dengan kehilangan Annelies hanyalah segelintir saja dari penderitaan yang dialami banyak orang dalam lingkungan terjajah.

Sekolah Itu Tidak Ada Gunanya, Sebuah Catatan Kecil untuk Pendidikan

0

ANAK KECIL

Waktu itu tahun 2014, saya sedang makan di warung. Makan siang yang jamak takhir dengan sarapan. Bukanlah sesesuatu yang mengherankan jika mahasiswa rantau menjamak makan. Bukan. Itu adalah hal biasa. Secara garis besar motifnya ada dua. Pertama, karena sibuk kuliah. Kedua, karena berhemat biar bisa makan sampai akhir bulan. Saya ada dimotif kedua.

Baru beberapa suap nasi mendarat lahap di mulut, ketika seorang anak kecil menowel punggung saya. Saya pun menoleh dan bertanya.

โ€œAda apa dek?โ€.

Dia membalas dengan hal yang menakjubkan.

โ€œNgamenโ€ฆ ngamenโ€, kata anak kecil itu sambil menepuk tangannya sebagai musik latar.

Ayatullah Khumaini sebagai simbol pembebas Iran dari rezim otoriter. Atau Nadiem Makarim meningkatkan status sosial ojek menjadi transpostasi bernilai bisnis tinggi. maka adek kecil ini tokoh pembaharuan dalam bidang musisi jalan. Saya kagum dan tidak habis pikir dalam satu waktu.

Saya ajak anak kecil tersebut duduk di samping saya, kemudian kami berkenalan. Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Daus, sehari-hari mengamen dan jualan kresek di pasar. Saya tanya Daus sudah makan, dijawab sudah dengan mantap. Saya tanya lagi kenapa tidak sekolah, jawabannya mencengangkan.

โ€œSekolah itu tidak ada gunanya. Disuruh kerja tugas dan tidak dapat uang. Kalau ngamen, saya masih bisa bermain dan dapat uangโ€, Daus menjawab dengan polos.

Saya termenung, sekolah harusnya menjadi tempat yang menyenangkan untuk anak seusia Daus. Bukan dilatih untuk menjadi buruh yang efeknya tidak realistis. Daus tidak sendiri, saya pun sempat menganggap sekolah (dasar) bukan tempat belajar yang baik untuk anak kecil dengan naluri bermain, tetapi penjara. Hanya dua hal yang saya sukai dari sekolah ketika seumur Daus. Pertama, bel istirahat. Kedua, Bel pulang sekolah.

MENJADI DEWASA

Hidup kemudian mengizinkan saya menempuh pendidikan pascasarjana (S2). Satu angkatan ada 27 orang. Terbagi dalam 3 peminatan. Bedanya S2 dan S1, selain biaya kuliahnya lebih mahal adalah teman kelas saya lintas generasi. Ada yang lebih tua adapula lebih muda. Ada yang anak satu dan ada yang masih sendiri. Ada yang pengen nikah ada juga yang mau nikah lagi.

Salah satu diantara orang yang lebih tua dari saya bernama Ibu Silvi. Usianya sekitar 35 tahun lebih. Lebih tua sepuluh tahun dari saya. Dia seorang wanita karier di dunia pendidikan. Super enak diajak ngobrol dan gokil. Tidak jarang Ibu Silvi menciptakan selentingan yang mengundang tawa sekelas. Gayanya yang asik, selalu bisa menghidupkan suasana.

โ€œLoh ibu ngapain di sini? Gak kerjaโ€, tanya saya heran suatu waktu melihat Ibu Silvi di perpustakaan saat jam kerja.

โ€œDiem lu, jangan panggil Ibu. Lagi latian jadi kids jaman nowโ€

โ€œBilang aja kerjain tugas UASโ€

โ€œTau aje lu, Jaliโ€, balasnya dengan banyolan khas Betawi.

Meski usianya jauh di atas saya. Semangatnya tidak kalah. Dia pernah datang hujan-hujan dari kantornya demi ikut belajar bersama dengan kita. Suatu waktu dia minta tolong dijelaskan cara menyelesaikan tugas ujian akhir. Dia bilang gini โ€œIbu mah gak butuh jawabannya. Yang penting ngerti dulu cara menyelesainnya. Urusan benar gak apapa. Caranya itu yang pentingโ€. Saya yang mendengar itu seperti tertampar. Terkadang seumuran saya yang lebih muda lebih mementingkan ada jawaban, bukan proses  mendapatkan jawabannya. Belum lagi melihat semangat Ibu Silvi untuk kuliah. Padahal tanggung jawabnya banyak; mengurusi kantor, menyelesaikan tugas kuliah hingga menjadi ibu rumah tangga.

 โ€œUntung tidak telat nyampe kampusโ€, kata Ibu Silvi sambil menggosokan freshcare di kedua sisi kepalanya. Dari situ saya tahu Wonder Woman juga bisa lelah.

SECARA PSIKOLOGIS

Saya selalu berpikir harus berpendidikan sesungguhnya; bagaimana cara belajar dan bagaimana cara paham. Yang sering saya lakukan adalah menghafal isi catatan. Menghafal dan ketika ujian selesai, lupa lagi dengan pelajarannya. Begitu terus sampai tipes.

Sayang sekali, para orang-orang berprofesi guru gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sehingga kesimpulannya; saya harus menemukan jawabannya sendiri. Lalu saya memutuskan memperdalam Psikologi Pendidikan. Sebuah iktiar yang cenderung nekat, karena saya pun tidak tahu apakah ada jawabannya di sana. Yah, namanya juga usaha, ya kan.

Tidak ada yang lebih menarik dari rasa ingin tahu. Ingin tahu akan membuat kita belajar sampai paham. Sampai kita bisa dengan apa yang ingin kita ketahui. Rasa ingin tahu adalah pondasi yang baik dari pendidikan. Saya belajar dari Ibu Silvi, dia ingin tahu cara menyelesaikan, sehingga dengan jadual padatnya akan tetap ke kampus untuk berusaha memenuhi rasa ingin tahunya.

Begitulah harusnya cara pendidikan bekerja. Bukan dengan menentukan apa yang harus peserta didik ketahui. Akibat saya harus pelajari hal-hal yang ditentukan sekolah/kampus, saya seringkali merasa pelajarannya tidak relevan dengan minat atau tidak saya butuhkan. Pelajaran yang tidak saya minati hanya ada 2 pilihan baginya; pertama, kalau tidak saya tinggal bolos. Kedua, saya habiskan dengan baca novel dalam kelas. Toh hanya perlu tahu jawaban ketika uas, nilainya akan bagus.

Saya teringat Daus, barangkali proses pendidikan tidak bisa memasilitasi minatnya untuk bermain. Saya sih maklum, anak kecil nalurinya untuk bermain. Apalagi Calistung (baca, tulis, hitung) yang menguras emosi dan semua daya upaya seorang bocah. Saya masih ingat ketika seumuran Daus, untuk membaca satu kalimat butuh kerja keras. Kadang sampai keringat dingin. Pada cuma mengeja kalimat โ€˜Budi bermain bolaโ€™.

Pendidikan katanya sesuatu yang manis. Namun catatan kecil dari semua perjalanan panjang saya lalui di lembaga pendidikan, secara garis besar, untuk sesuatu yang manis, rasanya terlalu hambar.

Saiful Haq

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,

Penulis dua buku Saiful is me dan Diam-diam Suka, coach menulis dan inisiator

Gusdurian Bone Makasar.

Omah Hijau, Sebuah Semangat Dalam Hidup Berkeluarga

0

โ€œBagaimana caranya ikut komunitas Omah Hijau?โ€

โ€œProduknya Omah Hijau apa saja? Omsetnya berapa?โ€

Dua buah pertanyaan, serta beberapa lainnya yang senada, kerap ditujukan kepada kami, saya dan suami. Biasanya kami hanya menjawab dengan seulas senyuman.  Lalu, apa makna Omah Hijau? Rumah yang dicat hijaukah? Jawaban itu agak tepat, sesungguhnya.

Pertanyaan itu mengingatkan saya pada lahirnya semangat Omah Hijau, di awal kami menempati rumah sendiri.

Kira-kira lima tahun yang lalu, kami diijinkan-Nya untuk memiliki rumah. Rumah sendiri, bukan kontrakan. Ketika menyiapkan rumah tersebut, hal pertama yang langsung terpikirkan adalah tempat untuk menanam aneka tanaman dan sayuran.

Bagi saya, kegiatan berkebun sayur secara organik adalah suatu keterampilan yang terbilang baru. Sebelumnya hanya sekadar pengetahuan yang diselingi rasa penasaran dan keinginan kuat untuk bisa โ€“suatu waktu nanti- menikmati bahagianya panen sayuran sehat.

Dan saat bahagia itu akhirnya datang, tatkala sungguh-sungguh bisa menyaksikan proses tumbuhnya aneka sayuran, dari lahan yang amat sempit di rumah kami. Seperti menang undian ratusan juta. Sayuran yang tumbuh subur menjadi sarana โ€˜cuci mataโ€™ bagi tetangga yang melewati rumah kami. Mereka pun bisa turut mencicipi hasil panennya.

Secuil keberhasilan itu, menjadi semacam euforia yang selanjutnya melahirkan semangat untuk melakukan langkah lain, yang bisa kami lakukan, untuk menjaga dan merawat lingkungan hidup. Langkah satu dilanjutkan langkah lainnya. Dimulai, ditekuni, dan dinikmati sendiri. Tanpa keramaian.

Lalu lahir sebuah keinginan untuk membagikan semangat ini, semacam โ€˜virusโ€™ peduli lingkungan yang bisa dilakukan secara sederhana dari rumah sendiri. Dan, media sosiallah yang dijadikan sebagai sarana. Bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk berbagi semangat dan pengalaman.

Pertanyaan yang muncul kemudian, diberi nama apakah ruang untuk berbagi itu? Dan tercetuslah nama Omah Hijau.

Keberanian melahirkan sebuah nama, tentu tidaklah boleh mengabaikan makna dan semangat yang mengiringinya. Ya. Seketika itu pula, saat menjadikan rumah kami sebagai Omah Hijau, kami berupaya untuk menghidupi segala aktifitas di rumah pada rasa cinta kami pada ibu bumi.

Upaya itu tentu tidaklah seringan mengayunkan langkah kaki. Bahkan, sejatinya menjadi awal bagi kami untuk bereksplorasi โ€“mencari tahu, mencobanya, mencari tahu lagi- terkait tindakan peduli lingkungan dari rumah sendiri. Pun belum sempurna adanya, hingga hari ini. Tetapi nama โ€œOmah Hijauโ€ yang telah kami pilih, bahkan sekarang mulai dikenal di media sosial, selalu menjadi pemantik dalam helaan nafas kami untuk memikirkan dampak tindakan kami bagi lestarinya ibu bumi.

Tatkala ada lontaran terucap, โ€œKenapa bersedia melelahkan diri untuk lingkungan hidup? Hasilnya tidak akan nyata. Apalagi jika hanya secuil tindakan dari rumah.โ€ Inilah semangat yang selalu kami katakan dan bagikan, โ€œKami sudah terlalu banyak meraup kenikmatan dari semesta ini, bahkan memperkosa ibu bumi. Maka saatnyalah, meski lewat tindakan sederhana, kami mengasihi ibu bumi dengan mengurangi beban deritanya.โ€

Kristien Yuliarti. Penggagas Omah Hijau dan Motivator untuk reproduksi pembelajaran ramah lingkungan Malang

Anak Itu Sering Berbicara Sendiri, Bermasalahkah ?

0

Anak ini terlihat ceria saat pertama kali masuk sekolah, berbeda dengan teman-teman yang lain, saat yang lain masih berlomba dengan tangisan kerasnya karena harus berpisah dengan ayah bunda untuk sementara waktu. Anak ini tidak terlalu peduli. Awalnya dia sedikit terlihat bingung dengan sekitarnya, namun ketika aku mulai tersenyum dan menyapanya dia langsung masuk kelas dan bermain sepuasnya.

Aku melihat asyiknya dia bermain, satu keranjang mainan dia bawa ke pojokan kelas dan terihat paling sibuk. Sebentar-bentar dia bersuara dengan mainannya. Aku tenang karena dia dengan mudah merasa nyaman disekolah.

Hampir setengah jam aku disibukkan dengan tangisan anak-anak yang meminta untuk pulang, namun dia masih dengan banyak mainan yang ia bawa. sudah menjadi tantangan yang harus terselesaikan, berada di kehidupan anak-anak usia belum genap 5 tahun yang memang membutuhkan tenaga  luar biasa.

Usia anak yang memiliki emosi yang belum bisa di bilang stabil, usia di mana yang dia baru mengenal  dunia yang nyata, usia yang masih sangat rentan dalam belajar.  Di usia ini kita temui anak mulai dirasa sulit diatur karena keingintahuannya yang besar, anak ingin selalu bereksplorasi, berpetualang dan mencoba berbagai hal yang kadang itu membuat kita sangat lelah.

Ini adalah usia dimana kita akan merasakan bahagia dengan mereka, bermain bebas namun tetap menunjukkan berbagai hal positif untuk tumbuh kembangnya. Berbagai macam tingkah mereka munculkan, hal ini lah yang menjadi kewajiban bagi kita untuk jauh lebih peka dengan semua yang dia mulai tunjukkan. Sikap sensitif berlebih menjadi sangat baik ketika kita menghadapi anak dengan usia tersebut.

Saat lonceng tanda masuk berbunyi, aku menggandeng anak-anak satu persatu untuk masuk ke kelas mungilku, namun aku masih melihatnya dengan setumpuk mainan. Aku berpikir dia bermain dengan teman barunya karena terdengar asyik berbicara, namun ternyata aku temui dia hanya sendiri. aku mendekatinya lalu mengajak untuk bergabung dengan teman yang lainnya. Namun dia terlihat terlalu asyik sehingga  tak mendengarkanku.

โ€œMas, sudah dulu ya main robotnya sekarang ikut ibu main dengan teman-teman di sana.โ€

Dia lalu menoleh ke arahku, dan tersenyum.

Saat aku mulai kelas dia terlihat asyik bermain dengan tanggannya dan berbicara, seolah dia tidak mendengarkanku bicara seperti anak yang lain. Ketika kelas selesai dia tetap berada di dalam kelas dan sekarang terlihat mengagumi dinding kelas yang penuh tempelan gambar-gambar baru.

Dua minggu berlangsung, aku mulai merasa heran dengan anak itu, sampai dua minggu ini dia tidak bermain dengan teman barunya, dia selalu sendiri dan bahkan dia belum pernah menyebut namaku namun sepertinya dia paham apa itu sekolah,; meletakkan tas dan sepatu pada tempatnya, mengikuti belajar, mengeluarkan buku, ikut kegiatan, membaca doa dan bermain. Dia terlihat tau itu semua namun ada yang membuatku merasa berbeda.

Saat aku mulai untuk mengajaknya bercerita, bertanya hal-hal yang menurutku pasti akan mudah untuknya, โ€œtadi pagi sarapan apa mas? Kemarin di rumah bermain sama siapa?โ€ Mengejutkan jawaban yang diberikan. Dia hanya membolak-balikkan  pertanyaanku, entah itu jawaban atau dia belum paham apa yang aku tanyakan. Semakin sering aku mengajaknya untuk bercerita, dan aku mulai paham bahwa ada yang berbeda degannya, meskipun dia sering terlihat berbicara namun ternyata dia belum paham apa itu cerita.

Aku mulai memberikan perhatian khusus padanya, dia yang yang masih memperhatikan hal-hal di sekitar yang entah dia juga memperhatikan apa yang aku bicarakan dikelas atau tidak. tiga minggu dengannya baru aku ketahui bahwa anak ini tidak bisa memusatkan perhatiannya pada satu hal, dia selalu mencari hal yang membuatnya lebih menarik, namun juga cepat sekali berpindah pada hal yang menarik lainnya.

Anak yang memiliki kesulitan dalam memusatkan perhatiannya biasanya selalu terlihat gelisah, tidak mampu duduk dengan tenang dan perhatiannya sangat mudah beralih pada hal yang lain. Aku melihat gejala itu padanya.

Semakin aku mengerti keadaan di sekolah dan di rumahnya yang ternyata anak ini selalu bermain sendiri, dengan TV, HP dan mainan pribadinya, orang tua jarang mengajaknya bercerita karena kesibukannya bekerja,sehingga itu yang membuatnya sidikit sulit untuk memahami perintah dan cerita. Anak pada tahap ini masih sangat butuh perhatian dan waktu yang lebih dari orang sekelilingnya. Anak akan lebih mudah diarahkan ketika dia didampingi. Pakar bidang pendidikan dan tumbuh kembang anak juga mengingatkan bahwa pendidikan dan pengasuhan anak yang salah pada masa dini akan berdampak negatif pada aspek perkembangannya, dan itu memang benar adanya.

Dua minggu lebih aku mendampinginya secara khusus banyak hal yang aku rasa berkembang sangat luar biasa, anak ini sangat mudah untuk menghapal dan mengingat sesuatu termasuk benda yang dimilikinya yang dimiliki temannya dan tulisan namanya meskipun dia belum mengerti sama sekali bagaimana cara menulis. Walaupunn pada kenyataannya  aku masih menemui kebiasaan yang sama dengan pertama kali melihatnya, dengan seringnya aku mengajaknya bercerita dia mulai mengerti bagaimana dia bercerita dengan orang lain.

Bukan hal yang sulit untuk menemukan potensi pada anak usia dini. Kita membutuhkan kepekaan yang jauh lebih tajam dari perilaku-perilaku yang dia tunjukkan, memberikan perhatian yang lebih sehingga dia dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap usianya.

Harapan Sertani Bagi Revolusi Pertanian Indonesia

Akhir-akhir ini nama Surono Danu gencar menghiasi media massa baik koran, televisi, media sosial serta lingkungan akademis juga tak luput dari pengaruh beliau. Pria berusia 67 tahun tersebut telah memberikan tamparan telak bagi pemerintah karena memberikan kontribusi nyata terhadap harapan sektor pertanian di Indonesia.

Bagaimana tidak, dengan kondisi yang ala kadarnya, Surono Danu melakukan penelitian selama berpuluh-puluh tahun untuk mendapatkan benih padi unggul khas Indonesia disaat pemerintah terus menggenjot impor beras. Dengan tekadnya itu beliau bercita-cita memajukan dunia pertanian di Indonesia.

Perjuangan bermula ketika beliau menelusuri berbagai jenis varietas padi di sekitar daerah tempat tinggalnya yaitu Lampung Tengah. Berbekal tekad kuat dan ilmu yang dikuasainya, mantan pegawai departemen pertanian tersebut menemukan bibit padi unggul Sertani 1 dalam kurun waktu 20 tahun penelitian. Bibit lokal asli Indonesia ini mampu menghasilkan 14 ton gabah per hektar saat panen, tahan hama, dan perawatannya tidak membutuhkan banyak air. Berbeda dengan varietas benih padi yang selama ini diklaim sebagai bibit unggul, kisaran panennya hanya setengah dari benih sertani dan rawan terserang hama yang notabene adalah benih padi impor. Dan yang paling menggembirakan benih unggul tersebut juga diperuntukkan bagi jenis tanaman pertanian lainnya seperti singkong, semangka, jagung, kedelai, kacang panjang, kacang tanah.

Surono Danu: Penemu Bibit Padi Unggul Sertani 1

Berkaca dari kegigihan Surono Danu, pemerintah selayaknya bergegas untuk berbenah diri dalam rangka re-orientasi kebijakan pertanian di Indonesia yang masih mengandalkan impor. Setidaknya ada tiga faktor yang harus mendapat perhatian yaitu pertama, memprioritaskan benih lokal sebagai bibit unggul. Dikarenakan setiap varietas tanaman pertanian pasti memiliki karakteristik bawaan dari daerah asalnya sehingga benih impor harus dipikir beribu-ribu kali karena karakteristik bawaan tidak cocok untuk iklim pertanian di Indonesia. Kedua, pasar diperuntukkan bagi perekonomian Indonesia terlebih dahulu. Terdapat banyak tawaran dari petani diseluruh pelosok negeri agar benih unggul tersebut ditanam di daerahnya. Ketertarikan tersebut semakin menyakinkan bahwa benih lokal mampu memenuhi harapan masyarakat petani di Indonesia pada umumnya. Ketiga, perlindungan hak paten bagi benih unggul tersebut sehingga semua orang bahkan negara sekalipun dilarang membajak kerja keras peneliti/penemu.

Beranjak dari ketiga faktor tersebut legalitas serta kemauan politik lah yang mampu memperlancar tekad pembangunan pertanian yang mengarah pada kedaulatan pangan Indonesia. Masih jelas terdapat fenomena kelaparan, gizi buruk di beberapa wilayah di Indonesia. Rumus kedaulatan pangan memiliki empat area prioritas IPC (2006), yaitu

Hak terhadap pangan,
Akses terhadap sumber-sumber daya produktif,
Pengarusutamaan produksi yang ramah lingkungan serta
Perdagangan dan pasar lokal

Hak terhadap pangan dikaitkan dengan pengembangan pendekatan hak asasi manusia pada individu, serta pangan bergizi yang diterima secara kultural. Sedangkan akses kepada sumber daya produktif berkaitan dengan akses kepada lahan, air, dan sumber genetik.

Regulasi terkait kedaulatan pangan Indonesia telah dikembangkan untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996. Adalah Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang menggantikan Undang-Undang tersebut. Dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2012, persoalan pangan ditujukan untuk mencapai tiga hal sekaligus, yaitu kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan katahanan pangan. Dengan demikian, Undang-Undang baru ini akan menjadi identitas baru bagi pembangunan pertanian dan pangan Indonesia. Dengan kedaulatan pangan, diharapkan tidak lagi dijumpai persoalan-persoalan dasar tentang pangan, seperti gizi buruk, kelaparan, rawan pangan, dansebagainya. Undang-Undang Pangan yang baru ini berupaya memberikan kewajiban kepada negara untuk memenuhi, menghormati dan melindungi hak atas pangan warga negaranya.

Kedaulatan pangan merupakan konsep yang komprehensif dimana faktor manusia (petani) sebagai penggerak utama sektor pertanian pantas mendapatkan perhatian lebih. Maksudnya, ketika pemerintah menjamin akses petani untuk mengembangkan lahan garapan, proteksi terhadap produk lokal, menjamin pasar yang lebih luas, secara tidak langsung mengangkat derajat kehidupan petani yang selama ini masih miskin karena keuntungan yang diperolehnya. Oleh karena itu, penemuan benih unggul oleh masyarakat bangsa sendiri layak diperjuangkan serta dilindungi melalui hak paten agar keberlanjutannya dapat dinikmati oleh bangsa Indonesia.

Burhanudin Mukhamad Faturahman, Dosen Ilmu Pemerintahan UNISDA Lamongan, Lulusan Magister Administrasi Publik Universitas Brawijaya Malang

Dinamika Pedesaan, Modal Pembangunan yang Masih Tersisa

Telah menjadi pengetahuan umum bahwa pedesaan merupakan wilayah yang sedikit terpinggirkan dalam bingar-bingar pembangunan di era modern terutama arah kebijakan yang sifatnya pro terhadap pertumbuhan ekonomi. Pembangunan era serba modern sudah pasti mengutamakan tuntutan serba cepat sehingga mengakibatkan adanya kelemahan dalam mengakomodir pemerataan. Salah satu indikator pertumbuhan yang serba cepat ditandai oleh peningkatan Produk Domestik Bruto sektor industri. Data dari kementrian perindustrian menunjukkan sektor industri pengolahan non migas menyumbang 18 persen sedangkan sektor pertanian menyumbang 13,6 persen di tahun 2017.

Bagi daerah yang roda perekonomiannya didominasi oleh sektor industri sangatlah wajar apabila upah minimum lebih tinggi dari daerah bukan industri.  Kenaikan taraf hidup tersebut sudah pasti dibarengi dengan kemudahan pelayanan kebutuhan hidup yang menopang kehidupan masyarakat industri serta menarik minat pekerja dari berbagai daerah termasuk pekerja dari daerah pedesaan walaupun mereka datang ke daerah perantauan berbekal ketrampilan seadanya.

Padahal jika dicermati, kondisi pedesaan tidak kalah dengan perkotaan dalam menghasilkan pundi-pundi uang. Tengok saja berbagai potensi sumberdaya alam yang melimpah yaitu pertanian, peternakan, perikanan maupun potensi yang lainnya bisa dijadikan sumber penghasilan utama pagi penduduk yang tinggal di wilayah pedesaan. Namun kenyataan tak selalu demikian, kondisi pembangunan di pedesaan tidaklah secepat di perkotaan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Pedesaan ibarat jiwa bagi Indonesia dengan slogan negara agraris loh jinawi yang semakin terpuruk akibatnya jika kebijakan pembangunan tak mengarah pada kesejahteraan masyarakat pedesaan maka Indonesia kehilangan jati diri sebagai negara agraris.

Jati diri ini sangatlah penting mengingat pembangunan yang memprioritaskan sektor pertanian merupakan langkah pembangunan yang sustainable development (pembangunan yang berkelanjutan) yang tidak dimiliki oleh sebagian besar sektor perindustrian. Meskipun sebenarnya industrialisasi di bidang pertanian juga bisa dimaksimalkan namun pembangunan pertanian lebih mengarah ke perlindungan ekosistem alam dengan memperhatikan daya dukung lahan, keberlanjutan sumberdaya alam, dan tidak kalah penting adalah mengurangi tingkat kemiskinan.

Lalu mengapa pedesaan sampai saat ini masih bisa eksis ditengah derasnya perubahan struktur perekonomian dari pertanian ke perindustrian. Selain keberadaan sumberdaya alam sebagai penunjang hidup mereka faktor lainnya adalah modal sosial yang tinggi. Modal sosial menunjuk pada perilaku sosial dan organisasi sosial, seperti kepercayaan, norma-norma, dan jaringan-jaringan sosial yang dapat memfasilitasi tindakan kolektif.

Modal sosial ditekankan pada kebersamaan masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidup bersama dan melakukan perubahan yang lebih baik serta penyesuaian secara terus menerus. Dalam hal itu, Burt (1992) mendefinsikan modal sosial sebagai kemampuan masyarakat untuk melakukan asosiasi (berhubungan) satu sama lain sehingga menjadi kekuatan yang sangat penting, bukan hanya terhadap aspek ekonomi, tetapi juga terhadap setiap aspek eksistensi sosial yang lain.

Dimensi modal sosial lainnya adalah tipologi modal sosial. Modal sosial dapat berbentuk bonding ataupun bridging. Modal sosial yang berbentuk bonding yaitu modal sosial dalam konteks ide, relasi, dan perhatian yang berorientasi ke dalam (inward looking). Bentuk modal sosial semacam ini umumnya muncul dan berada dalam masyarakat yang cenderung homogen. Putnam (1993) mengistilahkan masyarakat dengan bonding social capital sebagai ciri sacred society, yakni masyarakat yang terdominasi dan bertahan dengan struktur masyarakat yang totalitarian, hierarchical, dan tertutup oleh dogma tertentu.

Pola interaksi sosial sehari-hari masyarakat semacam itu selalu dituntun oleh nilai-nilai dan norma-norma yang hanya menguntungkan level hierarki tertentu. Terdapat sosok penting dalam modal sosial ini, seseorang yang dianggap sesepuh/ kamituo masih menjadi sosok yang berpengaruh karena dinilai telah mengetahui seluk beluk tradisi masyarakat setempat sehingga menempati posisi strategis di pedesaan.

Berbeda dengan bonding, modal sosial yang berbentuk bridging bersifat inklusif dan berorientasi ke luar (outward looking). Bridging social capital ini mengarah kepada pencarian jawaban bersama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh kelompok dengan memanfaatkan jaringan yang dimiliki individu dalam kelompok. Bridging social capital diasumsikan dapat menambah kontribusi bagi perkembangan pembangunan dengan melakukan kontak dan interaksi dengan kelompok di luarnya.

Coleman (1999) menganggap bahwa tipologi masyarakat yang cenderung menciptakan jaringan ke luar dalam gerakannya lebih mampu memberikan tekanan untuk melakukan upaya bersama dengan kelompok di luar mereka. dalam tipologi ini nampaknya masyarakat pedesaan masih belum bisa memberi tawaran yang memadai dengan dunia luar. hal ini dikarenakan kualitas sumberdaya manusia masih rendah. hal ini bisa dilihat dari minimnya inovasi produk pertanian lokal masyarakat pedesaan. berbading terbalik dengan inovasi yang terdapat di daerah perkotaan.

Modal sosial bonding dan bridging ini bisa dijadikan pijakan ketika kebijakan pembangunan memberikan porsi lebih pada masyarakat pedesaan. Artinya pemerintah memberikan stimulus penguatan ekonomi pedesaan dengan meningkatkan inovasi produk pertanian pada tingkat yang lebih lanjut sehingga produk pertanian bisa bersaing dengan produk lain dengan dibukanya jaringan pemasaran yang jelas. Selain itu industrialisasi sektor pertanian bisa dibentuk ketika produksi dan pengolahan ditempatkan pada daerah pedesaan yang strategis. Pelibatan tenaga kerja lokal juga ditekankan dalam menjalankan perekomian yang sifatnya lokal. Setidaknya, kegiatan yang lebih progresif di sektor pertanian membutuhkan komitmen politik dari pemangku kepentingan sehingga pertanian di Indonesia kembali bergairah.

Burhanudin Mukhamad Faturahman
Dosen Ilmu Pemerintahan UNISDA Lamongan, Lulusan Magister Administrasi Publik Universitas Brawijaya Malang

Daftar Rujukan

Burt. R.S. 1992. โ€œExcerpt from The Sosial Structure of Competitionโ€, dalam Structure Holes: The Social Structure of Competition. Cambridge, MA, and London: Harvard University.

Coleman, J. 1999. Social Capital In The Creation Of Human Capital. Cambridge Mass: Harvard University Press.

Putnam, RD. 1993. โ€œThe Prosperous Community: Social Capital and Public Lifeโ€. The American Prospect 3:35-42.

Urutan Kelahiran Menentukan Jenis Kepribadian, Fakta atau Mitos?

0

Saat berkunjung pada salah satu lembaga pendidikan anak usia dini tadi pagi, terdapat diskusi yang menarik antara saya, pengelola, pengawas dari kementerian, serta mahasiswa tentang urutan kelahiran dan karakteristik kepribadiannya. Sebagian besar dari kita percaya bahwa urutan kelahiran adalah hal yang penting dalam membentuk kepribadian seseorang, apakah benar demikian?

Adalah Alfred Adler, psikiater berkebangsaan Austria yang pertama kali melempar polemik tentang urutan kelahiran dan eksesnya terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Adler mempercayai bahwa urutan kelahiran hampir memengaruhi segala hal tentang manusia, mulai dari perkembangan, karakter kepribadian, sampai pilihan karier mereka.

Sejauh ini, topik urutan kelahiran menjadi semacam kepercayaan, bahkan mitos yang terus menerus diperdebatkan dalam berbagai penelitian, terutama penelitian bidang psikologi. Menjadi sebuah mitos, bahwa anak pertama memiliki IQ lebih baik dan berjiwa pemimpin, sedangkan anak terakhir adalah anak yang lemah dalam tanggung jawab dan cenderung bebas. Apakah demikian?

Kepercayaan umum jenis kepribadian berdasarkan urutan kelahiran

Meskipun berpuluh-puluh tahun asumsi Adler ditentang oleh banyak penelitian, namun terdapat hal-hal yang cenderung terlihat konsisten dalam karakteristik kepribadian dalam urutan kelahiran.

Anak Sulung/Tertua

Pertama bagaimanapun merupakan hal spesial bagi siapapun. Cinta pertama adalah contohnya hehe. Anak pertama dalam banyak kepercayaan dan studi menyebutkan bahwa mereka memiliki bertanggung jawab yang baik, kepercayaan diri yang tinggi, lebih teliti, dan yang pasti memiliki cerminan kepercayaan dan sikap orangtua mereka.

Selain itu, dalam bergaul, anak pertama cenderung lebih nyaman memilih menghabiskan waktunya dengan orang yang lebih dewasa darinya. Kehadiran adik-adik dikemudian hari menjadikan anak pertama sebagai seorang pemimpin alami, hal tersebut terlihat jelas dalam kariernya kelak.

Pada sisi lain, akibat estafet otoritas atas adik-adiknya, anak pertama biasanya cenderung mengambil peran sebagai orangtua bagi adik-adiknya, mereka cenderung otoriter.

Sebagai ‘anak’ dengan otoritas orangtua, mereka seringkali menginginkan sesuatu seperti yang mereka inginkan. Anak pertama cenderung akan menjadi perfeksionis, lebih cemas dan menerapkan target yang tinggi pada diri mereka. Hal tersebut sekali lagi sebagai akibat alamiah dari orangtua ‘mini’ di rumah.

Anak Tengah

Urutan kelahiran terjepit, secara populer dipercayai sebagai sesorang yang cenderung sabar. Jika anak sulung bertransformasi dari anak tunggal menjadi anak pertama, anak tengah bertransformasi dari anak bungsu (terakhir) menjadi anak tengah. Secara alamiah hal tersebut dipercayai berdampak pada jiwa diplomatis dan mampu memposisikan diri untuk netral.

Anak tengah dipercaya memiliki kemampuan untuk menyatukan orang. Transformasi dari anak bungsu menjadi anak tengah juga dipercaya membentuk jiwa pejuang (kompetitif), hal tersebut karena anak tengah sering kali berjuang untuk membentuk peran yang jelas bagi diri mereka sendiri.

Anak tengah terkadang juga memiliki jiwa pemberontak yang kuat, mengingat mereka berusaha untuk keluar dari identitas anak terakhir dan tidak mungkin menjadi identitas anak pertama. Inilah yang kemudian membentuk mereka menjadi lebih kompetitif.

Bagaimana tidak, mereka tidak memiliki waktu bersama dengan orangtuanya sendiri seperti anak pertama, sedangkan peran kemanjaan sebagai anak bayi (terakhir) juga telah bergeser. Inilah yang membentuk mereka untuk terus berjuang mencari hal-hal baru dari luar.

Anak Terakhir

Sudah menjadi rahasia umum, sebagian anak bungsu akan selalu mendapatkan perhatian lebih atau lebih dikenal sebagai pe-manja-an. Bukan hanya dari orangtua, mereka juga dapat perhatian dari saudara-saudara kandung sebelumnya.

Anak terakhir memiliki kesan ‘bayi’, ‘kecil’ dan ‘lucu’. Itulah banyak orang percaya bahwa anak terakhir biasanya menarik, impulsif dan cenderung baik.

Tidak seperti anak pertama dan tengah, anak terakhir tidak mengalami transisi berarti, meraka dilahirkan dalam keadaan yang sama sampai mereka tumbuh dewasa kelak. Mereka tidak merasakan pergantian peran seperti anak pertama dan tidak juga mengalami kebingungan peran seperti anak tengah.

Ditambah dengan pengalaman mengasuh orangtua, anak terakhir biasanya memiliki lebih sedikit tanggung jawab dibandingkan dengan anak lainnya. Artinya mereka memiliki lebih banyak waktu untuk bersenang-senang.

Di sisi lain, mereka seringkali malah merasa tidak pernah dianggap serius oleh anggota keluarga yang lain, selalu saja mereka merasa dianggap sebagai anak kecil. Padahal, diam-diam meraka terus menerus merasa tidak pernah diberi waktu nntuk mengambil keputusan sendiri, selalu semuanya telah tersedia dihadapan mereka. Itulah mengapa anak terakhir memiliki perasaan terpendam untuk lebih bebas seperti yang mereka idamkan.

Pada prosesnya, anak terakhir dipercaya sering memberontak sebagai cara untuk membedakan dirinya dari kakak laki-laki dan atau perempuannya. Mereka lebih cenderung mengambil risiko, dan sering memilih karier yang berbeda dengan anggota keluarga yang lain.

Anak Tunggal

Jika anak terakhir adalah anak yang dianggap tidak berhadapan dengan transisi peran, anak tunggal harusnya sama. Namun nyatanya tidak, anak tunggal secara tidak kasat mata juga mengalami transisi.

Pada awal kelahirannya, mereka dianggap sebagai ‘bayi’ dan saat beranjak menjadi anak-anak mereka mulai diperlakukan sebagai anak pertama, selanjutnya mereka dianggap sebagai anak satu-satunya.

Di indonesia, sepertinya sulit menemukan pasangan yang menginginkan hanya memiliki satu anak, karena secara rasional, satu anak dianggap memiliki resiko tinggi bagi kelangsungan sebuah keluarga.mulai ketakutan akan keselamatan umur anak, setiap pasangan biasanya memilih untuk memiliki anak lebih dari satu karena ingin melihat cita-cita terpendam mereka dilanjutkan oleh salah satu anaknya.

Model transisi ‘bawah tanah’ tadi, anak tunggal cenderung untuk berasumsi bahwa orang lain tahu bagaimana perasaan mereka, atau berpikir dengan cara yang sama seperti mereka, tanpa pertanyaan. Mereka mungkin bergantung pada orangtua mereka lebih lama dari anak-anak lain, menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan menunda keputusan tentang masa depan mereka.

Apa Kata Riset

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh dilakukan oleh peneliti dari dua universitas di Jerman, Universitas Leipzig dan Johannes Gutenberg pada tahun 2015 menyebutkan bahwa urutan kelahiran tidak memiliki efek pada atribut kepribadian seseorang.

Pada penelitian yang diterbitkan pada Proceedings of the National Academy of Sciences tersebut, Rohrer dan kolega (2015) tidak menemukan perbedaan yang signifikan pada ekstraversi, stabilitas emosional, kesesuaian, kesadaran, atau imajinasi dari subjek yang diteliti.

Studi lain dari Journal of Research in Personality yang melibatkan 377.000 subjek dari SMA di Amerika Serikat juga hanya menemukan sedikit bukti untuk perbedaan kepribadian.

Penelitian yang dipublikasikan juga pada tahun 2015 oleh Rodica Loana Damian dan Brent W. Robert ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara urutan kelahiran dengan sifat kepribadian serta kecerdasan seseorang.

Namun tidak semua penelitian membantah total apa yang dipercaya masyarakat, salah satunya adalah Harper dan kolega (2016) yang menyebutkan bahwa memiliki saudara kandung akan membantu anak untuk mengembangkan simpati kepada orang lain. Penelitian yang melibatkan lebih dari 300 keluarga ini menemukan sikap sosial yang terbentuk baik pada anak yang memiliki saudara kandung di rumah.

Lebih percaya yang mana?

Jika secara umum kita memiliki kepercayaan tentang urutan kelahiran dan karakteristik peribadian seseorang, namun sekaligus kita tahu bahwa kepercayaan tersebut banyak dibantah oleh penelitian ilmiah, bagaimana sikap kita? Secara pribadi, saya lebih memilih untuk memoderasi kedua arus tersebut.

Mengapa demikian? Karena saya sendiri, sebagai anak tengah, sedikit atau banyak memiliki karakter yang dipercaya seperti yang ditulis di atas, namun seringkali saya juga berbeda sama sekali dengan karakter di atas.

Akan selalu menarik memperdebatkan topik ini, karena secara historis perdebatan tersebut telah dimulai oleh Alfred Adler dan Sigmund Freud sebagai dua ilmuan besar dalam psikologi. Bahkan, karena ketidaksepakannya atas asumsi yang dilemparkan oleh Adler, Freud sampai memutuskan keluar dari the Psychoanalytic Society dan membentuk the Society for Individual Psychology (Damian & Roberts, 2015). Ini jelas bukan main-main bung!

Dalam psikologi, terdapat sebuah alat tes yang dikembangkan untuk mengukur kecocokan karakteristik kepribadian dengan urutan kelahiran, alat tersebut diberi nama Psychological Birth Order Inventory (PBOI). Sayangnya alat tes tersebut hanya menemukan 23% perempuan dan 15% laki-laki yang merasa dirinya cocok dengan gambaran umum tentang karakteristik kepribadian dengan urutan kelahirannya.

Sayangnya juga, tulisan saya sudah terlampau panjang, besok saya lanjutkan mengapa terkadang prediksi umum tentang urutan kelahiran bisa keliru.

Ahmad Mukhlis. Alumnus Magister Psikologi UGM Yogyakarta, Dosen Psikologi di FITK Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Founder 4IC Indonesia.

TULISAN INI DIPOSTING ULANG DARI KOMPASIANA SEIJIN PENULISNYA.

Kakak-Adik, Kok Ribut Terus ? Tips Menghadapi Konflik Saudara Kandung

0

Konflik antar saudara kandung kerap terjadi. Kadang terjadi tanpa sebab yang jelas. Persaingan semakin terasa pada anak yang sama jenis kelaminnya dan dekat jarak usianya.

โ€Ibu, dari tadi Kakak ganggu aku terus!โ€

โ€Huh, dasar cengeng!โ€

โ€Dia yang duluan!โ€

โ€œDia yang duluan!โ€

Sering dengar teriakan seperti itu? Bagi orangtua yang memiliki anak lebih dari satu, mungkin jawabannya โ€œyaโ€. Itulah yang disebut sebagai sibling rivalry.

Sibling rivalry adalah permusuhan dan kecemburuan antara saudara kandung yang menimbulkan ketegangan di antara mereka. Memang tak dapat disangkal bahwa perselisihan antar mereka akan selalu ada. Biasanya ini terjadi apabila masing-masing pihak berusaha untuk lebih unggul dari yang lain.

Tentunya tak semua anak selalu berkonflik dengan saudara kandungnya. Ada anak-anak yang memiliki hubungan baik dengan saudara kandungnya. Dan, ada pula anak-anak yang hubungannya cepat beralih antara konflik dan damai.

Seringkali, konflik kakak-adik bermula bahkan sebelum anak kedua lahir dan berlanjut semasa anak tumbuh dan bersaing dalam segala hal, seperti berebut perhatian orangtua dan mainan.

Mengapa terjadi konflik ?

Kebutuhan yang berubah. Sudah sepatutnya jika anak-anak memiliki kebutuhan yang terus berubah, rasa ingin tahunya dan identitas dirinya yang mempengaruhi cara mereka berhubungan satu sama lain. Contohnya, untuk anak usia 2-4 tahun, akan sangat protektif terhadap mainan dan semua barang miliknya. Pada usia itu, anak mulai belajar untuk mempertahankan kepemilikannya. Jadi, jika anak di usia itu memiliki adik, dia akan marah jika adiknya mengambil mainannya. Anak usia sekolah biasanya sudah memahami konsep tentang keadilan, jadi mereka tidak bisa menerima jika adik yang lebih kecil mendapat perhatian yang lebih istimewa ketimbang dirinya.

Temperamen individu. Temperamen individu setiap anak, termasuk mood, karakter dan kemampuan mereka dalam beradaptasi, serta keunikan kepribadian memainkan peran yang besar pada sejauh mana anak dapat berinteraksi.

Kebutuhan khusus. Terkadang, dalam keadaan sakit atau kondisi emosional tertentu anak membutuhkan perhatian orangtua yang lebih banyak. Bila perhatian orangtua tidak didapatkannya, anak akan melampiaskan dengan kemarahan pada kakak atau adiknya.

Role models. Hati-hati dengan cara orangtua menyelesaikan masalah dalam perbedaan pendapat. Karena perilaku yang ditunjukkan orangtua menjadi model buat anak-anak. Suami istri yang tetap respek satu sama lain meski berhadapan dengan konflik, kemungkinan besar juga akan diikuti oleh anak-anak. Tapi, pada pasangan yang saling berteriak, membanting pintu atau barang jika ada masalah, maka anak-anaknya pun akan mengikuti cara yang sama.

Takut kehilangan perhatian orangtua. Anak-anak sangat bergantung akan cinta dan kasih sayang orangtuanya. Mereka merasa terancam apabila orangtua membaginya kepada orang lain. Hal ini sering terlihat saat ibu hamil, anak mulai menunjukan protesnya melalui perilaku yang ‘sulit’. Mereka merasa cemburu dan tersisihkan bila kelak ada anak lain lagi.

Bersaing. Bila seorang anak menyadari kekurangannya dari saudaranya yang lain akan timbul persaingan. Terlebih apabila si anak berjenis kelamin sama dan jarak usia yang berdekatan, maka diam-diam anak akan mengembangkan rasa benci terhadap saudaranya tersebut. Biasanya ketika orangtua sering memuji kemampuan anak yang lain di hadapan anak yang memiliki kekurangan, tentu saja akan membuat anak yang โ€˜kekuranganโ€™ menjadi minder dan merasa kurang diterima di tengah-tengah keluarga.

Bagaimana mencegah konflik saudara kandung ?

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua agar tidak terjebak kedalam tindakan saling mengisolasi atau konflik serius

Jangan membanding-bandingkan anak. Hindarkan perkataan ”kamu ini kok nakal ya, nggak seperti kakak kamu yang anteng!โ€ Ucapan semodel justru akan memicu konflik kakak-adik.
Libatkan anak dalam mempersiapkan kelahiran adik. Pada saat hamil, libatkan anak untuk mempersiapkan kelahiran, seperti ajak anak memilih pakaian ataupun perlengkapan bayi lainnya dan juga posthukan bahwa adik barunya tidak akan merebut perhatian ibunya.
Buat aturan tentang perilaku yang diperbolehkan atau sebaliknya. Seperti, tak boleh ada pintu yang dihempas, teriakan, ejekan, dan lain-lain.
Buat pula konsekuensinya bila ada yang melanggar. Aturan dan konsekuensi, selain mengajarkan mana yang โ€™baikโ€™ dan โ€˜tidakโ€™, juga akan mengajarkan anak tentang tanggung jawab.
Jangan biarkan anak berpikir bahwa segalanya harus โ€˜transparanโ€™ dan โ€˜adilโ€™, kadang-kadang kakak atau adik memerlukan perhatian yang lebih banyak.
Jangan menjadikan atau memaksa anak yang lebih tua sebagai pengasuh adiknya, karena anak akan merasa terbebani dan memberatkannya7. Buatlah anak merasa istimewa di mata orangtuanya. Cobalah proaktif dalam memberikan perhatian pada masing-masing anak. Contoh, anak yang senang bermain di luar rumah ajaklah jalan-jalan di taman. Tapi, jika anak lebih suka duduk sambil membaca buku, maka sediakanlah waktu untuk duduk bersamanya untuk mendengarkan cerita dan lebih dekat padanya.
Sebaiknya anak-anak memiliki ruangan tersendiri untuk melakukan keinginannya seperti bermain dengan mainan mereka sendiri, bermain dengan teman tanpa gangguan dari saudaranya atau menikmati aktivitas tanpa perlu berbagi.
Bergembiralah bersama sebagai sebuah keluarga dengan cara jalan-jalan bersama, berlibur, atau berkumpul bersama di ruang keluarga. Kebersamaan ini akan mengurangi ketegangan karena cemburu atau persaingan antar saudara. Perlahan juga akan mengurangi konflik kakak-adik.
Bila kakak-adik sering berantem karena berebut main komputer atau mainan lainnya, buatlah jadwal bersama mereka. Bila tetap berkelahi, ambillah keputusan untuk tidak membolehkan semua pihak memainkan mainan tersebut selama satu minggu, sampai kemudian mereka diajak berunding kembali tentang โ€˜jadwalโ€™. Jika perkelahian antar kakak-adik di usia sekolah terjadi cukup sering, adakan pertemuan keluarga. Tekankan kembali tentang aturan yang telah disepakati bersama, atau buatlah aturan baru yang disepakati bersama.
Pisahkan anak sementara waktu bila perlu. Ajak anak, terutama yang lebih besar, untuk bicara dari hati ke hati. Buatlah kesepakatan-kesepakatan, setelah anak mencurahkan isi hatinya.

Adakalanya, konflik antara saudara kandung tak bisa cepat diselesaikan. Kadang, orangtua membutuhkan bantuan tenaga ahli. Upaya tersebut tentu harus segera dilakukan, mengingat konflik antar saudara bila dibiarkan berlarut-larut akan menyebabkan depresi dan frustasi.

โ€œHmmm, kalau mau disayang, kita harus sayang kakak dan adik ya, Nak.โ€

Amelia Aziz Daeng Matadjo, Psikolog. Psikolog Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Cabang Malang, Founder Klinik Psikologi Anak dan Keluarga Beloved Kanti Malang. Menerima Konsultasi Psikologi. Untuk kontak hubungi redaksi