Kamis, Agustus 27, 2026
Beranda blog Halaman 93

Seri Parenting : “Janji Hati Devo”

0

Bruuuk, buuug!

“Aduuuh, sakiiit!” Devo merintih kesakitan, tubuhnya terjerembab ke dalam tanah becek berlumpur. Karena kurang fokus, ban depan sepedanya oleng dan menabrak tumpukan batu kali.

Perlahan, dengan menahan perih di kedua lututnya, Devo bangkit. Nanar, dipandanginya buku-buku pelajaran dan alat tulis yang berhamburan di jalan.

“Huuuh, kok jadi gini sih?” gumamnya, antara sedih dan menyesal. Andai saja dia tidak melakukannya. Begitulah penyesalan yang menggumpal di dadanya.

Devo sudah mencangklong tas sekolah kembali. Senyum kecut melengkung di wajah gantengnya. Ternyata, nggak semudah yang kubayangkan. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Lah, apa pun peribahasanya, sama saja. Aku sakit dan menyesal!

Akhirnya, Devo memutuskan untuk pulang. Masalah Risna, akan diselesaikannya nanti. Bagaimanapun, dia harus menghadapinya.

Saat bersiap mengayuh sepedanya yang dipenuhi lumpur itulah, Nanda dan Pita berseru memanggilnya. Membuatnya mengurungkan niat, “Ya?” jawabnya tak acuh, untuk menutupi rasa malunya.

“Aku nyari kamu di kantin,” ungkap Nanda yang ditimpali anggukan oleh Pita.

Sejenak hening, Devo hanya sanggup menunduk. Seketika, perang batin mengguncangya. Kembalikan. Tidak. Kembalikan. Jangan. Harus. Tapi aku takut. Jangan takut, kamu harus berani jujur!

“Eh Div, bantuin nyari doskrip Risna, yuk?” Pita menepuk bahunya, “Kasihan lho, ada uang SPP-nya juga.”

Ha, ada uangnya? Devo geragapan. Haduuuh, kok aku bisa sebodoh ini sih? Hanya gara-gara selembar foto, malah jadi runyam begini!

“Woooiii, Div?! Kok malah bengong? Ayo, bantuin?” Nanda menggoyangkan sepedanya, membuat Devo nyaris terjatuh.

Tidak ada pilihan lain. Devo harus segera menemui Bu Shinta. Semoga masih ada di sekolah, batinnya.

Tanpa berkata-kata, Devo memutar sepedanya kembali ke arah sekolah. Lalu, mengayuhnya secepat mungkin tanpa memperdulikan Nanda dan Pita yang heran dengan sikapnya.

“Devo, kamu ingat dongeng Si Kancil?” Bu Shinta mengusap lembut kepalanya, “Dia, dijauhi teman-temannya karena suka mencuri ketimun. Nah, Devo nggak mau kan kalau sampai dijauhi teman-teman?”

Dengan penuh penyesalan, Devo menggeleng. Dalam hati berjanji, tidak akan mengulangi perbuatan buruknya lagi. Devo sadar, mencuri adalah perbuatan yang merugikan. Bukan hanya orang lain, tetapi juga akan merugikan dirinya sendiri.

“Besok pagi, kamu harus minta maaf pada Risna. Ibu temani.” Kali ini Bu Shinta tersenyum lega, “Ingat Devo, apa pun alasannya, mencuri adalah perbuatan tercela. Kalau kamu mau minta foto Risna kan bisa minta dengan baik-baik, nggak perlu sampai mencuri seperti ini.”

Sungguh, Devo malu sekali. Ini adalah pelajaran sangat berharga yang tidak akan pernah dilupakannya. Apalagi, Bu Shinta sudah berjanji, tidak akan memberi tahu Ayah soal ini. Bukan apa-apa, kalau sampai tahu Devo mencuri, Ayah bisa marah besar. Biarlah nanti kalau sudah siap, Devo akan menceritakannya pada Ayah, sekaligus minta maaf.

Sleman, 8 Februari 2018

Bruuuk, buuug!

“Aduuuh, sakiiit!” Devo merintih kesakitan, tubuhnya terjerembab ke dalam tanah becek berlumpur. Karena kurang fokus, ban depan sepedanya oleng dan menabrak tumpukan batu kali.

Perlahan, dengan menahan perih di kedua lututnya, Devo bangkit. Nanar, dipandanginya buku-buku pelajaran dan alat tulis yang berhamburan di jalan.

“Huuuh, kok jadi gini sih?” gumamnya, antara sedih dan menyesal. Andai saja dia tidak melakukannya. Begitulah penyesalan yang menggumpal di dadanya.

Devo sudah mencangklong tas sekolah kembali. Senyum kecut melengkung di wajah gantengnya. Ternyata, nggak semudah yang kubayangkan. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Lah, apa pun peribahasanya, sama saja. Aku sakit dan menyesal!

Akhirnya, Devo memutuskan untuk pulang. Masalah Risna, akan diselesaikannya nanti. Bagaimanapun, dia harus menghadapinya.

Saat bersiap mengayuh sepedanya yang dipenuhi lumpur itulah, Nanda dan Pita berseru memanggilnya. Membuatnya mengurungkan niat, “Ya?” jawabnya tak acuh, untuk menutupi rasa malunya.

“Aku nyari kamu di kantin,” ungkap Nanda yang ditimpali anggukan oleh Pita.

Sejenak hening, Devo hanya sanggup menunduk. Seketika, perang batin mengguncangya. Kembalikan. Tidak. Kembalikan. Jangan. Harus. Tapi aku takut. Jangan takut, kamu harus berani jujur!

“Eh Div, bantuin nyari doskrip Risna, yuk?” Pita menepuk bahunya, “Kasihan lho, ada uang SPP-nya juga.”

Ha, ada uangnya? Devo geragapan. Haduuuh, kok aku bisa sebodoh ini sih? Hanya gara-gara selembar foto, malah jadi runyam begini!

“Woooiii, Div?! Kok malah bengong? Ayo, bantuin?” Nanda menggoyangkan sepedanya, membuat Devo nyaris terjatuh.

Tidak ada pilihan lain. Devo harus segera menemui Bu Shinta. Semoga masih ada di sekolah, batinnya.

Tanpa berkata-kata, Devo memutar sepedanya kembali ke arah sekolah. Lalu, mengayuhnya secepat mungkin tanpa memperdulikan Nanda dan Pita yang heran dengan sikapnya.

“Devo, kamu ingat dongeng Si Kancil?” Bu Shinta mengusap lembut kepalanya, “Dia, dijauhi teman-temannya karena suka mencuri ketimun. Nah, Devo nggak mau kan kalau sampai dijauhi teman-teman?”

Dengan penuh penyesalan, Devo menggeleng. Dalam hati berjanji, tidak akan mengulangi perbuatan buruknya lagi. Devo sadar, mencuri adalah perbuatan yang merugikan. Bukan hanya orang lain, tetapi juga akan merugikan dirinya sendiri.

“Besok pagi, kamu harus minta maaf pada Risna. Ibu temani.” Kali ini Bu Shinta tersenyum lega, “Ingat Devo, apa pun alasannya, mencuri adalah perbuatan tercela. Kalau kamu mau minta foto Risna kan bisa minta dengan baik-baik, nggak perlu sampai mencuri seperti ini.”

Sungguh, Devo malu sekali. Ini adalah pelajaran sangat berharga yang tidak akan pernah dilupakannya. Apalagi, Bu Shinta sudah berjanji, tidak akan memberi tahu Ayah soal ini. Bukan apa-apa, kalau sampai tahu Devo mencuri, Ayah bisa marah besar. Biarlah nanti kalau sudah siap, Devo akan menceritakannya pada Ayah, sekaligus minta maaf.

Sleman, 8 Februari 2018

Membangun Jiwa Disiplin Anak

0

Ayah & Bunda, memiliki anak yang tertib dan disiplin, tentu menjadi impian indah kita, bukan? Karena kedisplinan merupakan salah satu kunci kesuksesan. Nah, untuk menunjang usaha kita membangun kedisiplinan pada jiwa anak, silakan menyimak tips berikut ini, Ayah & Bunda.

Tips sederhana membangun kedisiplinan pada anak:

Ajak dan bersamailah anak untuk :

Membuat jadwal kegiatan. Jadwal kegiatan ini, bisa harian, mingguan atau bulanan. Ayah & Bunda bisa merangkumnya dari kegiatan rutin anak.
Menulis jadwal pada board yang bisa menjadi mood boster bagi anak. Misalnya, kita hiasi board dengan gambar tokoh-tokoh karakter anak, quote-quote yang bisa menginspirasi anak atau kertas warna-warni yang sesuai dengan warna favorit anak.
Menggantungkan board di posisi terbaik bagi anak, di kamarnya. Misalnya, di atas meja belajar (ditempel di dinding) atau di sekitar rak buku. Saya sarankan, di tempat yang sering dilihat anak atau anak tertarik untuk sering melihatnya.
Melaksanakan jadwal dengan maksimal. Di sini, sebisa mungkin hindarilah pemaksaan dan tekanan. Agar anak bisa melaksanakan jadwal dengan bahagia. Ingatlah, tugas kita hanya mendampingi dan mengarahkan.
Tugas terbesar kita adalah membantu anak dalam melaksanakan jadwal. Misalnya, mengingatkan dengan pilihan kata dan sikap yang menyenangkan. Mengakomodir pelaksanaan jadwal, juga akan sangat membantu.

Jika dalam perjalanan waktu, anak lupa akan kegiatan yang sudah tertulis pada jadwal, kita tidak perlu marah. Ingatlah selalu, marah bukanlah solusi dari sebuah permasalahan. Kita juga tidak boleh menyakiti anak baik secara fisik maupun mental. Bully bukanlah hal yang dibenarkan dalam sebuah pendidikan.

Cukup berikanlah peringatan dan motivasi agar ke depan, anak tidak lalai lagi. Percayalah, kesabaran yang kita balurkan pada jiwa anak, akan memberikan kekuatan yang istimewa padanya. Kekuatan, untuk menjalani kehidupan dengan matang dan penuh semangat.

Demikian Ayah & Bunda, semoga bermanfaat, ya?

Sleman, 8 Februari 2018

Adu Tajam Pena dan Uang

0

Menulis tidak sekedar membuat narasi yang dibaca orang menjadi informasi yang menarik pembaca. Menulis dapat bermakna perlawanan. Minke, pada film Bumi Manusia menyiratkan bahwa menulis bagian dari perlawanan, tidak sekedar ilmu pengetahuan dan seputar cerita. Menulis adalah senjata yang mengoyak sejumlah kemapanan.

Kampusdesa.or.id–“โ€ฆmenulis bukan hanya untuk memburu kepuasan pribadi. Menulis harus juga mengisi hidup.” Jean Marais, halaman 280


Pena dapat menginspirasi banyak orang. Pena dapat menerjemahkan berbagai ide yang ada di kepala manusia. Pena dapat menggerakkan hati ribuan dan bahkan jutaan orang untuk melakukan sesuatu. Apa yang dihasilkan sebuah pena bisa berubah wujud menjadi sebuah letusan dahsyat dalam bentuk revolusi, penentangan, perlawanan. Pena bisa membuat ribuan bahkan jutaan orang kehilangan nyawanya. Bukan satu atau dua saja tetapi bisa beribu kali lipat daripada yang bisa dihilangkan oleh sebuah pedang.

Berbahaya.

Pena Minke juga membawa bahaya, membuat nyawa banyak orang meregang. Ketika yang dihadapinya adalah kekuatan uang.

Anak Semua Bangsa merupakan novel kedua dari tetralogi Pulau Buru. Tiga novel yang lainnya yang termasuk dalam tetralogi ini ialah Bumi Manusia, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah. Peristiwa-peristiwa yang ada di dalam novel ini terjadi pada permulaan abad ke-20. Oleh sebab itu, ada beberapa istilah Belanda yang digunakan, seperti sekaut; zuivel; transvaal; dan Oranje Vrijstaat. Untuk menjelaskan istilah-istilah tersebut, Pramoedya menggunakan catatan kaki.

Jika Bumi Manusia diakhiri dengan tidak berdayanya Minke dan Nyai Ontosoroh untuk melindungi dan mempertahankan Annelies dari renggutan Maurits Melema, Anak Semua Bangsa dimulai dengan suasana duka karena datangnya telegram dari Jan Dapperste yang mengabarkan kematian Annelies. Kematian Annelies ini merupakan tonggak baru bagi Minke dan Nyai Ontosoroh. Minke mulai tumbuh menjadi pemuda terpelajar Belanda, yang sebelumnya berorientasi pada pola pikir kaum terdidik Belanda, berubah menjadi Minke yang sadar akan lingkungannya sendiri.

Apa yang dipuji-puji oleh Minke dan kaum terpelajar Belanda lainnya ternyata diremehkan oleh kawan-kawan dekat Minke yang mempunyai orientasi kepada kaum pribumi, seperti Jean Marais dan Kommers. Pada awalnya Minke tersinggung. Ia oleh kawan-kawannya dinyatakan sebagai penulis buruk.

Kritikan dari kawan-kawan dekatnya ini menyebabkan Minke harus berlibur ke desa. Di desa inilah Minke bertemu dengan petani yang bernama Kromodongso. Kromodongso sosok seorang petani yang tidak dapat mempertahankan tanahnya dari jangkauan tangan para pemilik perkebunan gula. Tidak hanya tuan-tuan Belanda bermodal yang menjadi musuh Kromodongso, tetapi juga pamong desa yang menginginkan kedudukan lumayan dengan adanya pabrik-pabrik gula tersebut.

Minke mulai menulis di surat kabar tempatnya biasa bekerja. Tanpa Minke sadari, reportasenya mengenai penderitaan Kromodongso akan berbalik membawa petaka

Minke menyadari petani-petani itu tidak memiliki pembela. Ia kemudian memutuskan untuk membela petani-petani itu. Minke mulai menulis di surat kabar tempatnya biasa bekerja. Tanpa Minke sadari, reportasenya mengenai penderitaan Kromodongso akan berbalik membawa petaka, karena ternyata korannya juga dimiliki dan dimodali oleh para pemilik pabrik gula. para pemilik modal gula tidak mau menerbitkan tulisan-tulisan Minke tersebut.

Saat itulah Minke sadar sepenuhnya bahwa ia harus menulis dengan bahasanya sendiri tentang rakyatnya sendiri dan dibaca oleh bangsanya sendiri.

Novel kedua ini pada hakikatnya merupakan suatu analisis kritis terhadap apa yang menyengsarakan kehidupan begitu banyak orang, dipaparkan secara luas dan mendasar benih-benih dan pokok kebangkitan bangsa-bangsa terjajah di awal abad ke-20. Lahirnya pikiran-pikiran baru dalam gelombang perubahan itu memberikan daya saran yang kuat pada gerak pikir Minke. Minke tidak lagi melihat lingkungannya hanya dalam ruang lingkup yang terbatas yang hanya dibatasi oleh kelemahan pribadi.

Minke yang selama ini hanya hidup di lingkungan terdidik dan priyayi pun menjadi peka terhadap penderitaan pribumi. Bahwa penderitaan yang ia alami secara pribadi dengan kehilangan Annelies hanyalah segelintir saja dari penderitaan yang dialami banyak orang dalam lingkungan terjajah.

Apabila dalam Bumi Manusia pemikiran tokohnya baru terbatas pada individu, sehingga penderitaan yang dialami dan dijalani berhenti sebagai penderitaan perorangan, dalam Anak Semua Bangsa hal itu dipahami sebagai sebuah sistem kemasyarakatan tertentu yang melahirkan kekejaman atas rakyat. Minke yang selama ini hanya hidup di lingkungan terdidik dan priyayi pun menjadi peka terhadap penderitaan pribumi. Bahwa penderitaan yang ia alami secara pribadi dengan kehilangan Annelies hanyalah segelintir saja dari penderitaan yang dialami banyak orang dalam lingkungan terjajah.

Sekolah Itu Tidak Ada Gunanya, Sebuah Catatan Kecil untuk Pendidikan

0

ANAK KECIL

Waktu itu tahun 2014, saya sedang makan di warung. Makan siang yang jamak takhir dengan sarapan. Bukanlah sesesuatu yang mengherankan jika mahasiswa rantau menjamak makan. Bukan. Itu adalah hal biasa. Secara garis besar motifnya ada dua. Pertama, karena sibuk kuliah. Kedua, karena berhemat biar bisa makan sampai akhir bulan. Saya ada dimotif kedua.

Baru beberapa suap nasi mendarat lahap di mulut, ketika seorang anak kecil menowel punggung saya. Saya pun menoleh dan bertanya.

โ€œAda apa dek?โ€.

Dia membalas dengan hal yang menakjubkan.

โ€œNgamenโ€ฆ ngamenโ€, kata anak kecil itu sambil menepuk tangannya sebagai musik latar.

Ayatullah Khumaini sebagai simbol pembebas Iran dari rezim otoriter. Atau Nadiem Makarim meningkatkan status sosial ojek menjadi transpostasi bernilai bisnis tinggi. maka adek kecil ini tokoh pembaharuan dalam bidang musisi jalan. Saya kagum dan tidak habis pikir dalam satu waktu.

Saya ajak anak kecil tersebut duduk di samping saya, kemudian kami berkenalan. Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Daus, sehari-hari mengamen dan jualan kresek di pasar. Saya tanya Daus sudah makan, dijawab sudah dengan mantap. Saya tanya lagi kenapa tidak sekolah, jawabannya mencengangkan.

โ€œSekolah itu tidak ada gunanya. Disuruh kerja tugas dan tidak dapat uang. Kalau ngamen, saya masih bisa bermain dan dapat uangโ€, Daus menjawab dengan polos.

Saya termenung, sekolah harusnya menjadi tempat yang menyenangkan untuk anak seusia Daus. Bukan dilatih untuk menjadi buruh yang efeknya tidak realistis. Daus tidak sendiri, saya pun sempat menganggap sekolah (dasar) bukan tempat belajar yang baik untuk anak kecil dengan naluri bermain, tetapi penjara. Hanya dua hal yang saya sukai dari sekolah ketika seumur Daus. Pertama, bel istirahat. Kedua, Bel pulang sekolah.

MENJADI DEWASA

Hidup kemudian mengizinkan saya menempuh pendidikan pascasarjana (S2). Satu angkatan ada 27 orang. Terbagi dalam 3 peminatan. Bedanya S2 dan S1, selain biaya kuliahnya lebih mahal adalah teman kelas saya lintas generasi. Ada yang lebih tua adapula lebih muda. Ada yang anak satu dan ada yang masih sendiri. Ada yang pengen nikah ada juga yang mau nikah lagi.

Salah satu diantara orang yang lebih tua dari saya bernama Ibu Silvi. Usianya sekitar 35 tahun lebih. Lebih tua sepuluh tahun dari saya. Dia seorang wanita karier di dunia pendidikan. Super enak diajak ngobrol dan gokil. Tidak jarang Ibu Silvi menciptakan selentingan yang mengundang tawa sekelas. Gayanya yang asik, selalu bisa menghidupkan suasana.

โ€œLoh ibu ngapain di sini? Gak kerjaโ€, tanya saya heran suatu waktu melihat Ibu Silvi di perpustakaan saat jam kerja.

โ€œDiem lu, jangan panggil Ibu. Lagi latian jadi kids jaman nowโ€

โ€œBilang aja kerjain tugas UASโ€

โ€œTau aje lu, Jaliโ€, balasnya dengan banyolan khas Betawi.

Meski usianya jauh di atas saya. Semangatnya tidak kalah. Dia pernah datang hujan-hujan dari kantornya demi ikut belajar bersama dengan kita. Suatu waktu dia minta tolong dijelaskan cara menyelesaikan tugas ujian akhir. Dia bilang gini โ€œIbu mah gak butuh jawabannya. Yang penting ngerti dulu cara menyelesainnya. Urusan benar gak apapa. Caranya itu yang pentingโ€. Saya yang mendengar itu seperti tertampar. Terkadang seumuran saya yang lebih muda lebih mementingkan ada jawaban, bukan proses  mendapatkan jawabannya. Belum lagi melihat semangat Ibu Silvi untuk kuliah. Padahal tanggung jawabnya banyak; mengurusi kantor, menyelesaikan tugas kuliah hingga menjadi ibu rumah tangga.

 โ€œUntung tidak telat nyampe kampusโ€, kata Ibu Silvi sambil menggosokan freshcare di kedua sisi kepalanya. Dari situ saya tahu Wonder Woman juga bisa lelah.

SECARA PSIKOLOGIS

Saya selalu berpikir harus berpendidikan sesungguhnya; bagaimana cara belajar dan bagaimana cara paham. Yang sering saya lakukan adalah menghafal isi catatan. Menghafal dan ketika ujian selesai, lupa lagi dengan pelajarannya. Begitu terus sampai tipes.

Sayang sekali, para orang-orang berprofesi guru gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sehingga kesimpulannya; saya harus menemukan jawabannya sendiri. Lalu saya memutuskan memperdalam Psikologi Pendidikan. Sebuah iktiar yang cenderung nekat, karena saya pun tidak tahu apakah ada jawabannya di sana. Yah, namanya juga usaha, ya kan.

Tidak ada yang lebih menarik dari rasa ingin tahu. Ingin tahu akan membuat kita belajar sampai paham. Sampai kita bisa dengan apa yang ingin kita ketahui. Rasa ingin tahu adalah pondasi yang baik dari pendidikan. Saya belajar dari Ibu Silvi, dia ingin tahu cara menyelesaikan, sehingga dengan jadual padatnya akan tetap ke kampus untuk berusaha memenuhi rasa ingin tahunya.

Begitulah harusnya cara pendidikan bekerja. Bukan dengan menentukan apa yang harus peserta didik ketahui. Akibat saya harus pelajari hal-hal yang ditentukan sekolah/kampus, saya seringkali merasa pelajarannya tidak relevan dengan minat atau tidak saya butuhkan. Pelajaran yang tidak saya minati hanya ada 2 pilihan baginya; pertama, kalau tidak saya tinggal bolos. Kedua, saya habiskan dengan baca novel dalam kelas. Toh hanya perlu tahu jawaban ketika uas, nilainya akan bagus.

Saya teringat Daus, barangkali proses pendidikan tidak bisa memasilitasi minatnya untuk bermain. Saya sih maklum, anak kecil nalurinya untuk bermain. Apalagi Calistung (baca, tulis, hitung) yang menguras emosi dan semua daya upaya seorang bocah. Saya masih ingat ketika seumuran Daus, untuk membaca satu kalimat butuh kerja keras. Kadang sampai keringat dingin. Pada cuma mengeja kalimat โ€˜Budi bermain bolaโ€™.

Pendidikan katanya sesuatu yang manis. Namun catatan kecil dari semua perjalanan panjang saya lalui di lembaga pendidikan, secara garis besar, untuk sesuatu yang manis, rasanya terlalu hambar.

Saiful Haq

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,

Penulis dua buku Saiful is me dan Diam-diam Suka, coach menulis dan inisiator

Gusdurian Bone Makasar.

Omah Hijau, Sebuah Semangat Dalam Hidup Berkeluarga

0

โ€œBagaimana caranya ikut komunitas Omah Hijau?โ€

โ€œProduknya Omah Hijau apa saja? Omsetnya berapa?โ€

Dua buah pertanyaan, serta beberapa lainnya yang senada, kerap ditujukan kepada kami, saya dan suami. Biasanya kami hanya menjawab dengan seulas senyuman.  Lalu, apa makna Omah Hijau? Rumah yang dicat hijaukah? Jawaban itu agak tepat, sesungguhnya.

Pertanyaan itu mengingatkan saya pada lahirnya semangat Omah Hijau, di awal kami menempati rumah sendiri.

Kira-kira lima tahun yang lalu, kami diijinkan-Nya untuk memiliki rumah. Rumah sendiri, bukan kontrakan. Ketika menyiapkan rumah tersebut, hal pertama yang langsung terpikirkan adalah tempat untuk menanam aneka tanaman dan sayuran.

Bagi saya, kegiatan berkebun sayur secara organik adalah suatu keterampilan yang terbilang baru. Sebelumnya hanya sekadar pengetahuan yang diselingi rasa penasaran dan keinginan kuat untuk bisa โ€“suatu waktu nanti- menikmati bahagianya panen sayuran sehat.

Dan saat bahagia itu akhirnya datang, tatkala sungguh-sungguh bisa menyaksikan proses tumbuhnya aneka sayuran, dari lahan yang amat sempit di rumah kami. Seperti menang undian ratusan juta. Sayuran yang tumbuh subur menjadi sarana โ€˜cuci mataโ€™ bagi tetangga yang melewati rumah kami. Mereka pun bisa turut mencicipi hasil panennya.

Secuil keberhasilan itu, menjadi semacam euforia yang selanjutnya melahirkan semangat untuk melakukan langkah lain, yang bisa kami lakukan, untuk menjaga dan merawat lingkungan hidup. Langkah satu dilanjutkan langkah lainnya. Dimulai, ditekuni, dan dinikmati sendiri. Tanpa keramaian.

Lalu lahir sebuah keinginan untuk membagikan semangat ini, semacam โ€˜virusโ€™ peduli lingkungan yang bisa dilakukan secara sederhana dari rumah sendiri. Dan, media sosiallah yang dijadikan sebagai sarana. Bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk berbagi semangat dan pengalaman.

Pertanyaan yang muncul kemudian, diberi nama apakah ruang untuk berbagi itu? Dan tercetuslah nama Omah Hijau.

Keberanian melahirkan sebuah nama, tentu tidaklah boleh mengabaikan makna dan semangat yang mengiringinya. Ya. Seketika itu pula, saat menjadikan rumah kami sebagai Omah Hijau, kami berupaya untuk menghidupi segala aktifitas di rumah pada rasa cinta kami pada ibu bumi.

Upaya itu tentu tidaklah seringan mengayunkan langkah kaki. Bahkan, sejatinya menjadi awal bagi kami untuk bereksplorasi โ€“mencari tahu, mencobanya, mencari tahu lagi- terkait tindakan peduli lingkungan dari rumah sendiri. Pun belum sempurna adanya, hingga hari ini. Tetapi nama โ€œOmah Hijauโ€ yang telah kami pilih, bahkan sekarang mulai dikenal di media sosial, selalu menjadi pemantik dalam helaan nafas kami untuk memikirkan dampak tindakan kami bagi lestarinya ibu bumi.

Tatkala ada lontaran terucap, โ€œKenapa bersedia melelahkan diri untuk lingkungan hidup? Hasilnya tidak akan nyata. Apalagi jika hanya secuil tindakan dari rumah.โ€ Inilah semangat yang selalu kami katakan dan bagikan, โ€œKami sudah terlalu banyak meraup kenikmatan dari semesta ini, bahkan memperkosa ibu bumi. Maka saatnyalah, meski lewat tindakan sederhana, kami mengasihi ibu bumi dengan mengurangi beban deritanya.โ€

Kristien Yuliarti. Penggagas Omah Hijau dan Motivator untuk reproduksi pembelajaran ramah lingkungan Malang

Anak Itu Sering Berbicara Sendiri, Bermasalahkah ?

0

Anak ini terlihat ceria saat pertama kali masuk sekolah, berbeda dengan teman-teman yang lain, saat yang lain masih berlomba dengan tangisan kerasnya karena harus berpisah dengan ayah bunda untuk sementara waktu. Anak ini tidak terlalu peduli. Awalnya dia sedikit terlihat bingung dengan sekitarnya, namun ketika aku mulai tersenyum dan menyapanya dia langsung masuk kelas dan bermain sepuasnya.

Aku melihat asyiknya dia bermain, satu keranjang mainan dia bawa ke pojokan kelas dan terihat paling sibuk. Sebentar-bentar dia bersuara dengan mainannya. Aku tenang karena dia dengan mudah merasa nyaman disekolah.

Hampir setengah jam aku disibukkan dengan tangisan anak-anak yang meminta untuk pulang, namun dia masih dengan banyak mainan yang ia bawa. sudah menjadi tantangan yang harus terselesaikan, berada di kehidupan anak-anak usia belum genap 5 tahun yang memang membutuhkan tenaga  luar biasa.

Usia anak yang memiliki emosi yang belum bisa di bilang stabil, usia di mana yang dia baru mengenal  dunia yang nyata, usia yang masih sangat rentan dalam belajar.  Di usia ini kita temui anak mulai dirasa sulit diatur karena keingintahuannya yang besar, anak ingin selalu bereksplorasi, berpetualang dan mencoba berbagai hal yang kadang itu membuat kita sangat lelah.

Ini adalah usia dimana kita akan merasakan bahagia dengan mereka, bermain bebas namun tetap menunjukkan berbagai hal positif untuk tumbuh kembangnya. Berbagai macam tingkah mereka munculkan, hal ini lah yang menjadi kewajiban bagi kita untuk jauh lebih peka dengan semua yang dia mulai tunjukkan. Sikap sensitif berlebih menjadi sangat baik ketika kita menghadapi anak dengan usia tersebut.

Saat lonceng tanda masuk berbunyi, aku menggandeng anak-anak satu persatu untuk masuk ke kelas mungilku, namun aku masih melihatnya dengan setumpuk mainan. Aku berpikir dia bermain dengan teman barunya karena terdengar asyik berbicara, namun ternyata aku temui dia hanya sendiri. aku mendekatinya lalu mengajak untuk bergabung dengan teman yang lainnya. Namun dia terlihat terlalu asyik sehingga  tak mendengarkanku.

โ€œMas, sudah dulu ya main robotnya sekarang ikut ibu main dengan teman-teman di sana.โ€

Dia lalu menoleh ke arahku, dan tersenyum.

Saat aku mulai kelas dia terlihat asyik bermain dengan tanggannya dan berbicara, seolah dia tidak mendengarkanku bicara seperti anak yang lain. Ketika kelas selesai dia tetap berada di dalam kelas dan sekarang terlihat mengagumi dinding kelas yang penuh tempelan gambar-gambar baru.

Dua minggu berlangsung, aku mulai merasa heran dengan anak itu, sampai dua minggu ini dia tidak bermain dengan teman barunya, dia selalu sendiri dan bahkan dia belum pernah menyebut namaku namun sepertinya dia paham apa itu sekolah,; meletakkan tas dan sepatu pada tempatnya, mengikuti belajar, mengeluarkan buku, ikut kegiatan, membaca doa dan bermain. Dia terlihat tau itu semua namun ada yang membuatku merasa berbeda.

Saat aku mulai untuk mengajaknya bercerita, bertanya hal-hal yang menurutku pasti akan mudah untuknya, โ€œtadi pagi sarapan apa mas? Kemarin di rumah bermain sama siapa?โ€ Mengejutkan jawaban yang diberikan. Dia hanya membolak-balikkan  pertanyaanku, entah itu jawaban atau dia belum paham apa yang aku tanyakan. Semakin sering aku mengajaknya untuk bercerita, dan aku mulai paham bahwa ada yang berbeda degannya, meskipun dia sering terlihat berbicara namun ternyata dia belum paham apa itu cerita.

Aku mulai memberikan perhatian khusus padanya, dia yang yang masih memperhatikan hal-hal di sekitar yang entah dia juga memperhatikan apa yang aku bicarakan dikelas atau tidak. tiga minggu dengannya baru aku ketahui bahwa anak ini tidak bisa memusatkan perhatiannya pada satu hal, dia selalu mencari hal yang membuatnya lebih menarik, namun juga cepat sekali berpindah pada hal yang menarik lainnya.

Anak yang memiliki kesulitan dalam memusatkan perhatiannya biasanya selalu terlihat gelisah, tidak mampu duduk dengan tenang dan perhatiannya sangat mudah beralih pada hal yang lain. Aku melihat gejala itu padanya.

Semakin aku mengerti keadaan di sekolah dan di rumahnya yang ternyata anak ini selalu bermain sendiri, dengan TV, HP dan mainan pribadinya, orang tua jarang mengajaknya bercerita karena kesibukannya bekerja,sehingga itu yang membuatnya sidikit sulit untuk memahami perintah dan cerita. Anak pada tahap ini masih sangat butuh perhatian dan waktu yang lebih dari orang sekelilingnya. Anak akan lebih mudah diarahkan ketika dia didampingi. Pakar bidang pendidikan dan tumbuh kembang anak juga mengingatkan bahwa pendidikan dan pengasuhan anak yang salah pada masa dini akan berdampak negatif pada aspek perkembangannya, dan itu memang benar adanya.

Dua minggu lebih aku mendampinginya secara khusus banyak hal yang aku rasa berkembang sangat luar biasa, anak ini sangat mudah untuk menghapal dan mengingat sesuatu termasuk benda yang dimilikinya yang dimiliki temannya dan tulisan namanya meskipun dia belum mengerti sama sekali bagaimana cara menulis. Walaupunn pada kenyataannya  aku masih menemui kebiasaan yang sama dengan pertama kali melihatnya, dengan seringnya aku mengajaknya bercerita dia mulai mengerti bagaimana dia bercerita dengan orang lain.

Bukan hal yang sulit untuk menemukan potensi pada anak usia dini. Kita membutuhkan kepekaan yang jauh lebih tajam dari perilaku-perilaku yang dia tunjukkan, memberikan perhatian yang lebih sehingga dia dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap usianya.

Harapan Sertani Bagi Revolusi Pertanian Indonesia

Akhir-akhir ini nama Surono Danu gencar menghiasi media massa baik koran, televisi, media sosial serta lingkungan akademis juga tak luput dari pengaruh beliau. Pria berusia 67 tahun tersebut telah memberikan tamparan telak bagi pemerintah karena memberikan kontribusi nyata terhadap harapan sektor pertanian di Indonesia.

Bagaimana tidak, dengan kondisi yang ala kadarnya, Surono Danu melakukan penelitian selama berpuluh-puluh tahun untuk mendapatkan benih padi unggul khas Indonesia disaat pemerintah terus menggenjot impor beras. Dengan tekadnya itu beliau bercita-cita memajukan dunia pertanian di Indonesia.

Perjuangan bermula ketika beliau menelusuri berbagai jenis varietas padi di sekitar daerah tempat tinggalnya yaitu Lampung Tengah. Berbekal tekad kuat dan ilmu yang dikuasainya, mantan pegawai departemen pertanian tersebut menemukan bibit padi unggul Sertani 1 dalam kurun waktu 20 tahun penelitian. Bibit lokal asli Indonesia ini mampu menghasilkan 14 ton gabah per hektar saat panen, tahan hama, dan perawatannya tidak membutuhkan banyak air. Berbeda dengan varietas benih padi yang selama ini diklaim sebagai bibit unggul, kisaran panennya hanya setengah dari benih sertani dan rawan terserang hama yang notabene adalah benih padi impor. Dan yang paling menggembirakan benih unggul tersebut juga diperuntukkan bagi jenis tanaman pertanian lainnya seperti singkong, semangka, jagung, kedelai, kacang panjang, kacang tanah.

Surono Danu: Penemu Bibit Padi Unggul Sertani 1

Berkaca dari kegigihan Surono Danu, pemerintah selayaknya bergegas untuk berbenah diri dalam rangka re-orientasi kebijakan pertanian di Indonesia yang masih mengandalkan impor. Setidaknya ada tiga faktor yang harus mendapat perhatian yaitu pertama, memprioritaskan benih lokal sebagai bibit unggul. Dikarenakan setiap varietas tanaman pertanian pasti memiliki karakteristik bawaan dari daerah asalnya sehingga benih impor harus dipikir beribu-ribu kali karena karakteristik bawaan tidak cocok untuk iklim pertanian di Indonesia. Kedua, pasar diperuntukkan bagi perekonomian Indonesia terlebih dahulu. Terdapat banyak tawaran dari petani diseluruh pelosok negeri agar benih unggul tersebut ditanam di daerahnya. Ketertarikan tersebut semakin menyakinkan bahwa benih lokal mampu memenuhi harapan masyarakat petani di Indonesia pada umumnya. Ketiga, perlindungan hak paten bagi benih unggul tersebut sehingga semua orang bahkan negara sekalipun dilarang membajak kerja keras peneliti/penemu.

Beranjak dari ketiga faktor tersebut legalitas serta kemauan politik lah yang mampu memperlancar tekad pembangunan pertanian yang mengarah pada kedaulatan pangan Indonesia. Masih jelas terdapat fenomena kelaparan, gizi buruk di beberapa wilayah di Indonesia. Rumus kedaulatan pangan memiliki empat area prioritas IPC (2006), yaitu

Hak terhadap pangan,
Akses terhadap sumber-sumber daya produktif,
Pengarusutamaan produksi yang ramah lingkungan serta
Perdagangan dan pasar lokal

Hak terhadap pangan dikaitkan dengan pengembangan pendekatan hak asasi manusia pada individu, serta pangan bergizi yang diterima secara kultural. Sedangkan akses kepada sumber daya produktif berkaitan dengan akses kepada lahan, air, dan sumber genetik.

Regulasi terkait kedaulatan pangan Indonesia telah dikembangkan untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996. Adalah Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang menggantikan Undang-Undang tersebut. Dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2012, persoalan pangan ditujukan untuk mencapai tiga hal sekaligus, yaitu kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan katahanan pangan. Dengan demikian, Undang-Undang baru ini akan menjadi identitas baru bagi pembangunan pertanian dan pangan Indonesia. Dengan kedaulatan pangan, diharapkan tidak lagi dijumpai persoalan-persoalan dasar tentang pangan, seperti gizi buruk, kelaparan, rawan pangan, dansebagainya. Undang-Undang Pangan yang baru ini berupaya memberikan kewajiban kepada negara untuk memenuhi, menghormati dan melindungi hak atas pangan warga negaranya.

Kedaulatan pangan merupakan konsep yang komprehensif dimana faktor manusia (petani) sebagai penggerak utama sektor pertanian pantas mendapatkan perhatian lebih. Maksudnya, ketika pemerintah menjamin akses petani untuk mengembangkan lahan garapan, proteksi terhadap produk lokal, menjamin pasar yang lebih luas, secara tidak langsung mengangkat derajat kehidupan petani yang selama ini masih miskin karena keuntungan yang diperolehnya. Oleh karena itu, penemuan benih unggul oleh masyarakat bangsa sendiri layak diperjuangkan serta dilindungi melalui hak paten agar keberlanjutannya dapat dinikmati oleh bangsa Indonesia.

Burhanudin Mukhamad Faturahman, Dosen Ilmu Pemerintahan UNISDA Lamongan, Lulusan Magister Administrasi Publik Universitas Brawijaya Malang

Dinamika Pedesaan, Modal Pembangunan yang Masih Tersisa

Telah menjadi pengetahuan umum bahwa pedesaan merupakan wilayah yang sedikit terpinggirkan dalam bingar-bingar pembangunan di era modern terutama arah kebijakan yang sifatnya pro terhadap pertumbuhan ekonomi. Pembangunan era serba modern sudah pasti mengutamakan tuntutan serba cepat sehingga mengakibatkan adanya kelemahan dalam mengakomodir pemerataan. Salah satu indikator pertumbuhan yang serba cepat ditandai oleh peningkatan Produk Domestik Bruto sektor industri. Data dari kementrian perindustrian menunjukkan sektor industri pengolahan non migas menyumbang 18 persen sedangkan sektor pertanian menyumbang 13,6 persen di tahun 2017.

Bagi daerah yang roda perekonomiannya didominasi oleh sektor industri sangatlah wajar apabila upah minimum lebih tinggi dari daerah bukan industri.  Kenaikan taraf hidup tersebut sudah pasti dibarengi dengan kemudahan pelayanan kebutuhan hidup yang menopang kehidupan masyarakat industri serta menarik minat pekerja dari berbagai daerah termasuk pekerja dari daerah pedesaan walaupun mereka datang ke daerah perantauan berbekal ketrampilan seadanya.

Padahal jika dicermati, kondisi pedesaan tidak kalah dengan perkotaan dalam menghasilkan pundi-pundi uang. Tengok saja berbagai potensi sumberdaya alam yang melimpah yaitu pertanian, peternakan, perikanan maupun potensi yang lainnya bisa dijadikan sumber penghasilan utama pagi penduduk yang tinggal di wilayah pedesaan. Namun kenyataan tak selalu demikian, kondisi pembangunan di pedesaan tidaklah secepat di perkotaan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Pedesaan ibarat jiwa bagi Indonesia dengan slogan negara agraris loh jinawi yang semakin terpuruk akibatnya jika kebijakan pembangunan tak mengarah pada kesejahteraan masyarakat pedesaan maka Indonesia kehilangan jati diri sebagai negara agraris.

Jati diri ini sangatlah penting mengingat pembangunan yang memprioritaskan sektor pertanian merupakan langkah pembangunan yang sustainable development (pembangunan yang berkelanjutan) yang tidak dimiliki oleh sebagian besar sektor perindustrian. Meskipun sebenarnya industrialisasi di bidang pertanian juga bisa dimaksimalkan namun pembangunan pertanian lebih mengarah ke perlindungan ekosistem alam dengan memperhatikan daya dukung lahan, keberlanjutan sumberdaya alam, dan tidak kalah penting adalah mengurangi tingkat kemiskinan.

Lalu mengapa pedesaan sampai saat ini masih bisa eksis ditengah derasnya perubahan struktur perekonomian dari pertanian ke perindustrian. Selain keberadaan sumberdaya alam sebagai penunjang hidup mereka faktor lainnya adalah modal sosial yang tinggi. Modal sosial menunjuk pada perilaku sosial dan organisasi sosial, seperti kepercayaan, norma-norma, dan jaringan-jaringan sosial yang dapat memfasilitasi tindakan kolektif.

Modal sosial ditekankan pada kebersamaan masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidup bersama dan melakukan perubahan yang lebih baik serta penyesuaian secara terus menerus. Dalam hal itu, Burt (1992) mendefinsikan modal sosial sebagai kemampuan masyarakat untuk melakukan asosiasi (berhubungan) satu sama lain sehingga menjadi kekuatan yang sangat penting, bukan hanya terhadap aspek ekonomi, tetapi juga terhadap setiap aspek eksistensi sosial yang lain.

Dimensi modal sosial lainnya adalah tipologi modal sosial. Modal sosial dapat berbentuk bonding ataupun bridging. Modal sosial yang berbentuk bonding yaitu modal sosial dalam konteks ide, relasi, dan perhatian yang berorientasi ke dalam (inward looking). Bentuk modal sosial semacam ini umumnya muncul dan berada dalam masyarakat yang cenderung homogen. Putnam (1993) mengistilahkan masyarakat dengan bonding social capital sebagai ciri sacred society, yakni masyarakat yang terdominasi dan bertahan dengan struktur masyarakat yang totalitarian, hierarchical, dan tertutup oleh dogma tertentu.

Pola interaksi sosial sehari-hari masyarakat semacam itu selalu dituntun oleh nilai-nilai dan norma-norma yang hanya menguntungkan level hierarki tertentu. Terdapat sosok penting dalam modal sosial ini, seseorang yang dianggap sesepuh/ kamituo masih menjadi sosok yang berpengaruh karena dinilai telah mengetahui seluk beluk tradisi masyarakat setempat sehingga menempati posisi strategis di pedesaan.

Berbeda dengan bonding, modal sosial yang berbentuk bridging bersifat inklusif dan berorientasi ke luar (outward looking). Bridging social capital ini mengarah kepada pencarian jawaban bersama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh kelompok dengan memanfaatkan jaringan yang dimiliki individu dalam kelompok. Bridging social capital diasumsikan dapat menambah kontribusi bagi perkembangan pembangunan dengan melakukan kontak dan interaksi dengan kelompok di luarnya.

Coleman (1999) menganggap bahwa tipologi masyarakat yang cenderung menciptakan jaringan ke luar dalam gerakannya lebih mampu memberikan tekanan untuk melakukan upaya bersama dengan kelompok di luar mereka. dalam tipologi ini nampaknya masyarakat pedesaan masih belum bisa memberi tawaran yang memadai dengan dunia luar. hal ini dikarenakan kualitas sumberdaya manusia masih rendah. hal ini bisa dilihat dari minimnya inovasi produk pertanian lokal masyarakat pedesaan. berbading terbalik dengan inovasi yang terdapat di daerah perkotaan.

Modal sosial bonding dan bridging ini bisa dijadikan pijakan ketika kebijakan pembangunan memberikan porsi lebih pada masyarakat pedesaan. Artinya pemerintah memberikan stimulus penguatan ekonomi pedesaan dengan meningkatkan inovasi produk pertanian pada tingkat yang lebih lanjut sehingga produk pertanian bisa bersaing dengan produk lain dengan dibukanya jaringan pemasaran yang jelas. Selain itu industrialisasi sektor pertanian bisa dibentuk ketika produksi dan pengolahan ditempatkan pada daerah pedesaan yang strategis. Pelibatan tenaga kerja lokal juga ditekankan dalam menjalankan perekomian yang sifatnya lokal. Setidaknya, kegiatan yang lebih progresif di sektor pertanian membutuhkan komitmen politik dari pemangku kepentingan sehingga pertanian di Indonesia kembali bergairah.

Burhanudin Mukhamad Faturahman
Dosen Ilmu Pemerintahan UNISDA Lamongan, Lulusan Magister Administrasi Publik Universitas Brawijaya Malang

Daftar Rujukan

Burt. R.S. 1992. โ€œExcerpt from The Sosial Structure of Competitionโ€, dalam Structure Holes: The Social Structure of Competition. Cambridge, MA, and London: Harvard University.

Coleman, J. 1999. Social Capital In The Creation Of Human Capital. Cambridge Mass: Harvard University Press.

Putnam, RD. 1993. โ€œThe Prosperous Community: Social Capital and Public Lifeโ€. The American Prospect 3:35-42.