Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 92

Memetakan Waktu Kreatif untuk Sukses Sejak Dini

0

MENJADI PRODUKTIF di sela-sela rutinitas boleh jadi menjadi peluang emas bagi seseorang. Itu pun kalau seseorang berusaha untuk tidak hanya terpaku dan cukup melakukan pekerjaan rutinnya yang kadang menjenuhkan dan bahkan menjadikan kita seolah seperti mesin. Sebagian waktu kreatif hanya dimiliki oleh orang yang bisa keluar dari jebakan rutinitas. Ini beda dengan orang yang memang memiliki passion untuk mengembangkan karya kreatifnya.

Renungan ini juga bagian dari refleksi tentang karir pemuda dan kesempatan menjadi pemuda yang berkarya. Mengapa ? Saya melihat keragaman pemuda. Dalam keseharian tugas, saya hampir setiap hari bertemu mahasiswa baik di kelas atau di luar kelas. Sebagian besar mereka tekun hadir dan menunggu masanya tiba diwisuda. Ketika awal semester, saya biasanya mengajak mereka membuat refleksi sebelum kontrak belajar dimulai. Saya ajak mengalkulasi biaya yang mereka habiskan dalam satu semester. Saya terkejut, rata-rata mereka menghabiskan uang Rp. 14 Juta sampai Rp. 19 Juta setiap semester. Jika semester enam uang itu sudah terkumpul Rp. 114 juta.

Fantastis jumlah itu. Saya pun juga tercengang. Selama ini saya tidak pernah menghitung biaya kuliah. Dialog kami pun berlanjut untuk mengidentifikasi apa dampak yang sudah diinisiasi, kegiatan positif yang bisa diukur sebanding dengan nilai uang tersebut. Mereka terdiam. Ada yang menyebutkan satu atau dua kegiatan selain kuliah. Ada yang menyahut sedikit guyon, yakni mendapat pengalaman. Ketika diumpan balik, pengalaman apa saja, mereka pada tertawa karena merasa sulit mengidentifikasi.

Saya tidak tahu, diamnya mereka apakah malu berkata-kata karena pertanyaan itu diajukan di ruang kelas atau memang masih terlalu dini untuk mengidentifikasi produk kreatif yang bisa mereka ukur sebagai sebuah kemajuan dan mampu ditimbang setara dengan uang yang sudah dihabiskan dalam memenuhi kebutuhan kuliah dan hidup di rantau. Ada sih, yang bersuara. Ya satu sampai tiga hal kreasi atau tindakan yang mereka anggap sebuah kemajuan dan bernilai bermanfaat. Itu pun tidak banyak yang menyampaikan. Yah, boleh jadi bias publik di kelas sehingga para mahasiswa jarang yang bersuara. Boleh jadi mereka berada dalam sindrom berbicara di muka umum.

Berkarya dan Kesiapan Karir

Saat menguji skripsi, saya menemui hasil penelitian jika masa SMU, remaja sudah memiliki perencanaan karir. Hasil ini meniscayakan masa remaja menjadi momen mengimajinasikan pilihan karir. Mereka lebih siap diberikan pelatihan dan pelatihan yang berorientasi karir. Fakta ini juga mendukung alasan menjamurnya Sekolah Kejuruan. Kepentingan ini juga sejalan jika setelah lulus SMU remaja sudah siap mengambil kerja atau merintis karirnya.

Namun, bagi remaja yang berniat melanjutkan studi inisiasi karir tidak serta merta mampu dilaksanakan. Para remaja ini membayangkan dengan harapan akan mendapat pekerjaan setelah studi S1. Baik untuk melamar pekerjaan dengan ijazah yang dikantonginya atau menjadikan pengetahuannya sebagai bekal merintis kerja. Bagi yang kuliah vocasional, mereka belajar lebih aplikatif, bagi yang S1 dengan beragam jurusan mereka berkutat dengan buku teks dan sebagian ada yang berpraktik di laboratorium. Sebagian besar mereka tenggelam dalam ritual kelas selama empat tahun. Sebagian besar mereka berharap mendapatkan pekerjaan dengan baik. Sebagian kecil melanjutkan studi lanjut. Ada yang belum lulus tetapi sudah diakui kualifikasinya dan ditawari bekerja saat lulus. Ada yang aplikasi setelah lulus, mencari-cari pekerjaan, ada yang menunggu cukup lama belum memperoleh pekerjaan sesuai minat studinya.

Jika perencanaan karir sudah muncul sejak SMU semestinya perguruan tinggi merupakan transisi realisasi karir. Memang, memulai usaha memang tepat berada pada rentang usia produktif 20-40 tahun. Namun, pembelajaran PT dengan keadaan lazim berfokus pada memahami pengetahuan yang mengisolasi praktik, maka mahasiswa didominasi pada cara penguasaan pengetahuan berbasis teks sehingga waktu mereka dihabiskan memahami teks dan banyak meminggirkan waktu kreatif mereka. Namun, bagi mahasiswa aktif, mereka bisa keluar dari ritus kelas dan memaksimalkan praktik yang menambah ketrampilan tambahan mengalami hidup, menyediakan waktu memanfaat waktu kreatif untuk latihan berkarya. Mereka mencoba hidup di luar kelas. Ada yang aktif organisasi, berkesempatan meluangkan waktu menulis, ada yang merintis bisnis kecil-kecilan. Mereka belajar mengisi dengan karya-karya kecil.

Tidak semua bidang studi akhirnya menjamin bahwa mereka akan seluruhnya melamar pekerjaan dan diterima bekerja sesuai minat studinya. Bisa dibilang sangat banyak lulusan yang akhirnya menekuni pekerjaan di luar minat studinya. Bahkan jumlah pengangguran terdidik (853.000 orang dari 7,24 juta jiwa pengangguran di Indonesia) meningkat sejalan meningkatnya penduduk yang mampu mengakses pendidikan yang lebih tinggi (Kompas, 21/04/2015, Berani-Menjadi-Wirausaha) sementara lulusan sarjana menjadi suram karena keterbatasan daya tampung lapangan pekerjaan lulusan S1. Pada kasus ini, meski mahasiswa mengambil jurusan calon profesional namun kebanyakan mereka tak dididik menginisiasi karir tetapi hanya dididik untuk menguasai pengetahuan. Pembelajaran di kelas lebih dominan dan kebanyakan meminggirkan pengalaman-pengalaman bagaimana mengkarirkan profesinya.

Apakah bisa ? Ini sangat tergantung kurikulum dan desain belajar. Kurikulum hari ini masih dikuasai pembelajaran SKS yang terpusat pada teks sehinga praktik diserahkan mahasiswa sendiri setelah lulus. Cara ini memutus mata rantai perencanaan karir yang sudah muncul ketika masa SMU. Masa PT sebaiknya masa menyimulasikan karir. Proses demikian berarti melatih karya dan mempresentasikan karya ke khalayak untuk peta peluang karir dalam berbagai uji coba sehingga mereka menjadi lebih kreatif. Masa PT berarti masa membuat laboratorium rintisan karir. Latihan berkarya menjadi proses pembelajaran yang tidak terbatas jurusan vokasional saja agar kuliah tidak menghabiskan waktu kreatif dan memenjarakan mahasiswa kedalam pembelajaran berbasis kelas. Fakta sukses dapat dirintis sejak masih kuliah seperti Mark Zuckerberg, Pendiri facebook itu merintis proyeknya saat masih kuliah. Beberapa orang yang sukses di usia muda, ia merintis usaha sejak dini. Setiap jurusan perlu dikaryakan dalam pilihan karir kreatif. Dalam dunia kedokteran, dr Gamal Albinsaid (@Gamal_Albinsaid) berhasil melakukan inovasi karir kedokteran dengan pola bisnis alternatif asuransi sampah. Di timeline twitternya, dia telah keluar dari pakem logika kedokteran dan megubahkan sebagai poros baru mengembangkan karir dengan kekuatan mentalitas dan pengalaman. Transformasi cita-cita dia geluti didasari oleh penjeburan dirinya latihan berorganisasi sejak dini. Dalam arti, dia telah menyediakan waktu kreatif guna menempa dirinya merengkuh pengalaman sejak awal lebih luas dari sebatas menggeluti pengetahuan dokter dari dalam kelas dan ruang praktik.

Membaca gambaran itu, setiap calon profesional mahasiswa sebaiknya sudah waktunya membangun sudut pandang jurusan yang dipilihnya untuk memantapkan inisiasi proyek karirnya. Atau mematangkan bibit karir melalui uji coba beragam pilihan karir yang didekati menggunakan sudut pandang keilmuan yang digelutinya. Dibaca menggunakan literatur yang ada dan diperkuat uji lapangannya dengan penelitian terapan. Untuk itu metode belajar mahasiswa harus dirombak ke pendekatan terapan. Di sini kesiapan karir digodok matang agar mahasiswa menjadi pencipta dan bukan pencari kerja. Mahasiswa sudah dilatih membuat karya dan membuat penawaran kepada publik, bukan diajari mencari pekerjaan dengan ijazah. Kuliah bukan lagi menyiapkan diri mendapat ijazah untuk digunakan melamar kerja, tetapu ijazah adalah pengakuan profesional atas kompetensi mahasiswa atas sebuah karya yang menopang kemantapan karir. Oleh karena itu inovasi karir tidak terpaku pada ukuran jurusan yang mengharuskan bekerja dengan cara melamar kerja. Inovasi karir dengan harapan sarjana mampu menciptakan lapangan kerja meniscayakan setiap jurusan dapat melahirkan karya kreatif. Di sini uji kematangan karir dibangun dari perencanaan dan uji karya.

Toh kenyataannya tidak semua lulusan bekerja sebagaimana jurusan yang pernah ia pilih. Toh juga masih banyak pengangguran terdidik karena mereka selalu menunggu diterima bekerja di sebuah lembaga karena itu lebih praktis dan prestisius. Setelah lulus mereka dituntut bertahan hidup dan mereka harus keluar dari box kemapanan selama kuliah, tetapi dengan banyaknya pengangguran terdidik, lulusan menjadi galau melihat pilihan hidup yang sangat praktis. Realita ini perlu dihadapi dengan pribadi berkarakter, tetapi miniatur ini tak dibangun sejak kuliah tetapi diisolasi dan semata dilokalisir kedalam penjara pengetahuan abstrak berpijak pada teks.

Memetakan waktu kreatif

Tak banyak miniatur yang lahir dari karya kreatif mahasiswa kecuali mahasiswa yang memang aktif menemukan passion dengan memilih sejumlah aktifitas. Saya kira mereka punya peta pemikiran dalam melihat pilihan aktifitas dirinya. Kalau saya ibaratkan jejak historis diri saya sendiri,  sejak semester awal S1, saya telah menyisihkan uang saku setiap bulan untuk membeli buku non-mata kuliah. Jadi saya mesti meluangkan waktu ke toko buku setiap bulan. Selain itu saya pun butuh waktu membacanya. Saya menarget buku itu harus kulahap habis. Selain membeli buku, saya meminjam buku di perpustakaan dan membacanya rutin setiap minggu. Kebiasaan bersambung ke meluangkan waku berdiskusi dengan teman dan mulai belajar menulis. Di semeser 5 tulisan saya dimuat di majalah berhonor Rp. 15.000,-. Kegiatan menulis menjadi inisiasi baru sebagai bagian dari menyisihkan waktu kreatif. Saat masih S1 sayapun diminta membuat sebuah profil yayasan yang melibatkan kerja menulis juga. Menulis menjadi pilihan saya di luar rutinitas untuk menopang tambahan saku kuliah waktu itu hingga S2. Setelah lulus S2 saya pun diajak melakukan penelitian dan menulis buku. Seolah dunia menulis menjadi bagian dari proses menjadi saya hingga hari ini, meskipun tidak semata-mata untuk mencari tambahan biaya hidup. Saya merasa dengan menulis memiliki waktu kreatif, meskipun bukan penulis produktif. Kegiatan ini menjadi komitmen menemukan waktu kreatif agar saya bisa keluar dari penjara rutinitas.

Saya seringkali berdiskusi dengan para penulis. Memang, mereka mempunyai peta dalam menyisihkan waktu kreatif menulis. Mereka punya waktu istimewa. Ada yang mengatakan perlu istiqomah laten/buta. Ada yang uzlah seminggu untuk menghasilkan satu buku. Juga ada yang menyisakan waktu jelang subuh untuk memproduksi tulisan. Masing-masing orang memiliki peluang memetakan waktu kreatif.

Memetakan waktu kreatif menjadi salah satu cara mengasah passion. Ini bisa dibangun sejak pemuda mengeyam pendidikan tinggi. Dan alangkah beruntung jika waktu kreatif sejalan dengan passion plus jurusan yang dipilihnya sehingga tidak menyia-nyiakan waktu merintis karir. Bukan setelah lulus mereka masih bingung kesana kemari mencari karir yang cocok. Dengan begitu melalui cara memetakan waktu kreatif kita bisa memproduksi karya. Sudi berjerih payah melatih diri pada aktifitas produktif hanya bisa dilakukan kalau kita mampu menciptakan waktu kreatif dalam siklus 24 jam, seminggu, sebulan atau sesuai target diri.

Memetakan waktu kreatif berarti setiap diri harus mengetahui passion yang dimiliki. Pengetahuan ini dapat dijadikan kesempatan memperkuat kemampuan mewujudkan keinginan yang tersembunyi. Terkadang kita tahu keinginan kita. Tetapi keinginan itu biasanya sangat ditentukan oleh seberapa kita memiliki kemampuan menyediakan waktu kreatif untuk merealisasikan. Ketersediaan waktu kreatif menjadi prasyarat produktifitas diri. Tergantung apa isi yang kita buat saat waktu kreatif ada. Bagi yang kreatif, waktu itu dikenali untuk diisi latihan berkarya. Bagi yang tak tahu, waktu itu akan terlewatkan tanpa aktifitas berarti. Ada yang punya kemauan tetapi tidak kunjung diisi dan terlewatkan dengan penyesalan.

Adapun cara mendapatkan waktu kreatif dengan mengetahui dorongan berkarya. Selanjutnya kemauan berbuat untuk mengisi waktu yang ada dengan aktifitas berkarya. Melalui kesempatan yang konsisten, waktu kreatif lambat laun akan menjadi media transformatif mengubah diri anda karena anda telah melahirkan karya. Anda tidak perlu berpikir instan namun tidak kuasa mewujudkan dengan segera. Orang yang memahami, pilihan instan kurang orisinil dan bahkan membebani orang sehingga tidak melakukan sesuatu karena bayangan terlalu besar sementara kemampuan tidak mendukung. Namun, ketika waktu kreatif dikenali dan digauli dengan konsisten, kita akan mendapatkan fokus dan akhirnya terbentuklah sebuah karya. Inti waktu kreatif bukan instan tetapi sebuah ketekunan merangkai karya dari dasar.

Apakah kita telah menciptakan waktu kreatif ? Mari kita hitung karya yang lahir dari tangan kita.

Membuat Pondasi Hidup yang Layak dan Baik

0

HIDUP memberikan pelajaran kepada pemiliknya untuk selalu bertahan dalam segala keadaan. Usaha yang dilakukan harus maksimal agar hidup itu sendiri dapat berjalan pada rel yang benar, untaian doa sebagai penguatnya dan rasa pasrah kepada Allah SWT menjadi ujung tombaknya.

Bagaimanapun juga, kita juga harus menerima taqdir Allah SWT yang telah termaktub dalam Lauhul Mahfudzz, yang antara lain adalah keberagaman. keberagaman yang ada dalam hidup perlu diperhatikan oleh manusia. Keberagaman itu ibarat sebuah bangunan. Sedangkan masing-masing pribadi itu bahan baku dari bangunan tersebut. Bahan-bahan itu antara lain batu kumbung, semen, batu koral, pasir, besi, dan lain-lain adalah perlambang dari unsur keluarga yaitu suami, istri, anak-anak.

Agar sebuah bangunan bentuknya bisa cantik dan berfungsi dengan baik, maka masing-masing untuk yang membentuk bangunan tersebut harus berperan sesuai dengan bagiannya. Besi berfungsi sebagai kerangka utama, semen sebagai zat yang digunakan untuk merekatkan batu bata, batako, maupun bahan bangunan lainnya yang bersifat pengeras dengan bahan bangunan lainnya, pasir digunakan sebagai campuran material pengikat adukan beton maupun pemasangan material lainnya. Apabila unsur-unsur bangunan tersebut bertingkah tidak pada fungsinya, maka bangunan yang hendak didirikan tak akan pernah jadi. Begitu pula dengan hidup ini. Keberagaman sifat, watak, perangai, jabatan, keahlian, dan perbedaan-perbedaan yang lain harusnya bisa membuat bangunan hidup menjadi lebih baik.

Dalam pembahasan ini kita ambil contoh sederhana sebuah bangunan keluarga. Sebuah keluarga tentunya kita semua telah mengetahuinya, ada beberapa bagian yang pasti, suami, istri, anak, adik, kakak, orang tua, mertua, dan lain-lain. Disamping itu juga ada keberagaman watak, sifat, pendidikan, keahlian, keluasan hati, keimanan, dan sebagainya.

Keluarga merupakan salah satu bagian hidup yang dilewati oleh manusia dalam misinya beribadah kepada Allah SWT. Keluarga yang baik tentunya adalah keluarga masing-masing anggotanya dapat berperan dengan baik dalam menjalankan kewajiban dan haknya berdasarkan syari’at agama islam. Hal ini berarti kebahagiaan sebuah keluarga itu akan terwujud apabila masing-masing anggota mampu dan selalu berusaha untuk menjalankan fungsinya dengan berpijak pada ajaran agama islam. Apabila hal tersebut tidak dapat dijalankan, maka pastilah keluarga tersebut akan hancur berkeping. Seorang suami yang mengingkari fungsinya untuk memberikan nafkah kepada keluarganya, maka kehidupan keluarganya akan selalu kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Seorang istri yang melupakan kewajibannya untuk menjaga kehormatannya, maka keluarga tersebut akan menjadi amburadul dan menjadi bahan cemoohan semua orang.

Proses pemenuhan kewajiban dan melaksanakan tugas pokok dan fungsi hidup dalam keluarga layaknya sebuah adonan cor yang berada dalam mesin molen (pengaduk cor). Dalam adonan cor tersebut ada pasir, batu koral, pasir, semen. Semua bagian tersebut diaduk sedemikian rupa sehingga membentuk adonan yang sangat bagus dan kemudian dipakai dalam cetakan-cetakan rangka bangunan. Semua unsur dalam proses pengadukan tersebut terjadi benturan-benturan. Seumpama bahan-bahan itu bisa berbicara, pastilah mereka akan menjerit dan mungkin sampai menangis ketika merasakan benturan-benturan yang dialaminya.

Sebuah jalinan keluarga tak mungkin akan datar terus. Gelombang-gelombang besar atau kecil pasti akan muncul seiring berjalannya waktu. Adakalanya cek-cok, pertengkaran, perselisihan, perbedaan pendapat dan lain sebagainya menghiasi jalannya sebuah keluarga. Keluarga yang baik akan selalu berusaha untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dengan jalan yang baik pula.

Dalam permasalahan-permasalahan yang muncul, setiap anggota keluarga adalah unsur-unsur yang selalu bergesekan. Jika gesekan-gesekan itu selalu dikelola dengan baik, maka hasilnya akan baik. Semisal, adanya perbedaan pendapat tentang pengelolaan keuangan (pendapatan dan pengeluarannya). Masing-masing anggota keluarga pastinya akan menunjukkan keinginnya atau kebutuhannya agar bisa terpenuhi. Seorang istri ingin agar kebutuhan perawatan wajah dan pakaian serta kebutuhan dapur, kebutuhan anak tentang biaya sekolah, sang suami juga mengutarakan keinginannya untuk mendirikan bangunan rumah dan perbaikan halaman depan. Untuk itu diperlukan sebuah musyawarah antara anggota keluarga agar bisa mengatur pengeluaran dan mungkin membuat prioritas pengeluaran. Sehingga semua kebutuhan keluarga bisa terencana dan terpenuhi dengan baik tanpa gontok-gontokan dan panas hati.

Untuk membuat sebuah pondasi keluarga yang baik, diperlukan beberapa hal-hal sebagai berikut:

Menyatukan visi dan misi bersama

Visi dan misi dalam sebuah keluarga bisa merupakan perwujudan dari niat awal membentuk keluarga. Untuk itu diperlukan pemikiran dasar bahwa setiap manusia dilahirkan adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Sehingga visi yang dirumuskan adalah niat untuk beribadah kepada Allah SWT dalam keluarga. Jika sudah demikian, maka setiap apapun yang dilakukan oleh pihak-pihak keluarga akan tercatat sebagai ibadah.

Sedangkan misi dalam keluarga adalah terciptanya keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ruum ayat 21, Allah SWT menegaskan:

“dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Q.S Ar-Ruum [30] :21)

Kerjasama dan musyawarah antara pihak suami-istri

Apapun yang dilakukan oleh seseorang jika dilakukan bersama-sama maka akan menimbulkan sebuah rasa saling memiliki dan saling menjaga satu sama lain. Kedekatan dan lancarnya komunikasi satu sama lain akan semakin meningkat.

Musyawarah dalam memecahkan masalah sangat penting untuk dilakukan. Saran dan pendapat dari masing-masing pihak dalam musyawarah akan sangat membantu terselesaikannya sebuah masalah. Hal ini sangat penting buntuk mencegak terjadinya konflik dalam keluarga.

Saling menunaikan hak dan kewajiban

Kesadaran masing-masing pihak dalam menunaikan hak dan kewajiban akan memberikan keharmonisan. Tercapainya keinginan masing-masing pihak dari terlaksananya kewajiban membentuk suatu kebersamaan yang tak akan pernah ditemukan dari luar keluarga.

Belajar agama dengan baik

Salah satu hal yang tidak boleh ditinggalkan dalam sebuah keluarga adalah selalu belajar agama. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6 yang artinya “Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” (terj. Qs. A
t-Tahrim ayat 6).

Ayat di atas adalah perintah kepada orang-orang beriman agar menjada diri dan keluarganya dari siksa api neraka. Tak ada hal lain yang dapat dilakukan oleh orang beriman untuk mencapai hal itu selain belajar agama dengan serius. Dengan belajar agama, manusia akan tahu perkara-perkara yang menjauhkan diri dari neraka dan perkara yang mendekatkan diri dari neraka.

Manusia beriman perlu mempertimbangkan dengan baik bahwa pendidikan agama tak hanya melalui pendidikan formal (sekolah) maupun pendidikan nonformal (pesantren dan amadrasah), manusia beriman perlu mempertimbangkan hal-hal lain guna pembelajaran agama keluarganya. Mengintip sedikit dari artikel Wahdah Islamiyah, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh manusia beriman dalam proses pencapaian tujuan “Menjauhkan diri dan keluarga dari siksa api neraka”, antara lain:

Bekali keluarga dengan ilmu.
Didik mereka menjadi pribadi yang beradab.
Ajak keluarga melakukan ketaatan.
Larang keluargamu melakukan maksiat.
Bimbing keluarga untuk selalu ingat kepada Allah dan berdzikir kepada-Nya.

Setiap manusia adalah pembelajar yang baik. Jika benturan-benturan yang ada dalam diri manusia didasari dengan niatan ibadah, maka hasil yang didapatkan akan sangat istimewa. Sebuah pondasi yang dibangun dari hasil kerjasama yang baik berdasarkan syari’at islam, maka pondasi tersebut akan berdiri dan menopang sebuah bangunan yang baik pula, misalnya bangunan masjid dan madrasah. Begitu juga sebaliknya, jika pondasi itu dibangun dengan kerjasama yang tidak sesuai dengan syari’at islam, maka meskipun pondasinya kokoh namun bangunan yang ditopangnya tidak berupa bangunan yang baik, misalnya bangunan diskotik atau warung minuman keras.

Muhammad Alim. Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Mulawarman (UNMUL) Samarinda-Kalimantan Timur, tahun 2011. Anggota aktif Komunitas Literasi Kita Belajar Menulis (KBM). Penulis bisa dihubungi melalui nomor WhatsApp 081330218115, facebook Muhammad Alim dan email: moh_alim86@yahoo.co.id

Sumber :

Al-Atsary, Abu Salman Farhan. 2014. Menikah untuk Bahagia: Antara Dua Arah Cinta. Jakarta: PT. Gramedia.

Sumber gambar : https://www.google.co.id

Si Kecil ; Batas Pertumbuhan Anak-anak Desa dan Kota

0

Bertempat tinggal di pinggiran kota bukan berarti tanpa pilihan. Menjadi masyarakat yang sedikit jauh dari kota bukan berarti tertinggal segala berita. Kita bisa menyebutnya dengan desa, satu wilayah yang menjadi tanah kerinduan bagi sebagian besar orang yang merindukan kedamaian.  Memilih tinggal di kota juga bukan berarti akan dapat melakukan segalanya, kedua tempat inilah yang menjadi pilihan tersendiri, selalu ada kesenjangan diantara keduanya.

Ketika mulai membahas masalah desa selalu dengan hal-hal yang berlatar belakang terdahulu, namun jika sudah masuk dengan kata kota hampir sebagian besar yang terdepan. Memang tidak bisa dipungkiri padatnya area perkotaan membuat pesatnya kemajuan-kemajuan yang ditunjukkan. Pada umumnya dalam hal perkembangan masyarakat desa jauh lebih tenang dalam menanggapi kehidupan.

Entah dimulai dari kapan pemikiran mengenai jenjang antara kota dan desa itu terjadi namun sampai saat ini kita masih sering menjumpai dan merasakannya. Misalkan saja dalam hal pengembangan sumber daya manusia, lebih dekat lagi mengenai hal pengasuhan orang tua pada anaknya. Orang tua desa dengan orang tua kota tidak kalah sibuknya, bukan berarti yang di kota akan jauh lebih sibuk dibandingkan yang di desa, namun bedanya sibuknya orang tua kota tetap ditunjang dengan pengetahuan terbaru yang dimilikinya, namun orang tua desa mengasuh anaknya masih dengan pengalaman yang dimilikinya di masa lalunya atau pengalaman yang di sekitarnya.

Si kecil masih belum sepenuhnya mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan, kalau yang kita tau kasih sayang lebih besar diberikan pada anak namun tidak bisa dipungkiri juga masih banyak anak yang tidak mendapatkan hal itu meskipun mereka juga tetap tinggal di desa. Target perbaikan ekonomi mereka jauh lebih diperdulikan dibandingkan berada lebih dekat dengan si kecil, hal ini lah yang kadang dilupakan oleh para orang tua.

Terlepas dari perbandingan desa dengan kota, pengasuhan yang diberikan oleh orang tua desa lebih santai daripada yang seharusnya, pemahaman mengenai beberapa tahap pekembangan si kecil juga belum diterima secara penuh, ini yang menjadi kekhawatiran berkepanjangan. Karena pengasuhan terlihat lebih santai, anak menjadi berkembang seperlunya. Tidak ditekankan pada bagaimana anak harus bertindak dan bertingkah laku untuk kebaikan hidup si kecil selanjutnya.

Karena kurangnya pemahaman mengenai tumbuh kembang anak, orang tua masyarakat desa menjadi sangat bangga ketika anak melakukan sesuatu yang pada dasarnya malah berdampak kurang baik. Anak dianggap cerdas luar biasa ketika ia mampu melakukan hal yang lebih dari kemampuan anak-anak sebayanya, padahal belum  saatnya dia baik melakukan hal tersebut. Menjadi hal yang sering terlewatkan mengenai perilaku-perilaku menarik yang si kecil tunjukkan.

Jika dibandingkan, jumlah anak desa lebih banyak dibandingkan jumlah anak yang dimiliki orang tua di kota, namun banyaknya jumlah anak ini belum menjadikan pemahaman pengasuhan anak menjadi lebih baik, ini disebabkan karena lemahnya mengetahui potensi si kecil sejak dini. Orang tua menjadi kurang begitu peduli disebabkan banyaknya hal yang harus ia kerjakan disamping banyaknya anak yang harus dibesarkan.

Kalau dilihat dari sisi kepribadiannya, anak desa seharusnya akan jauh lebih baik dibandingkan dengan anak kota, hidup di kota dengan latar belakang individualis dan apatis menjadikan sikap kreatif anak menjadi terpendam, karena kebutuhannya terpenuhi secara praktis, sedangkan kehidupan di desa justru membantu dalam meningkatkan sisi kreatif anak dengan belajar berpetualang langsung dalam lingkungan sekitar, dengan permainan-permainan yang secara langsung melatih kemandirian, kecerdasan, keberanian dan juga kekreatifan anak, namun karena kurangnya pemahaman orang tua dalam mendampingi anak sehingga anak kurang dapat mengeksplor dan menekuni kemampuannya.

Satu hal yang menjadi problem besar bagi anak desa  adalah karena kurangnya orang tua dalam memberikan pengetahuan bersikap asertif pada anak. Orang desa lebih menekankan pada asas kekeluargaan, kasih sayang yang besar dan sikap tidak tega yang berlebih sehingga membuat anak belajar juga untuk tidak asertif (tegas) dalam berbuat. Anak tumbuh menjadi pribadi yang malu dan cenderung tidak menampakkan dirinya, karena kebanyakan orang tua desa bersikap lebih tidak tega untuk mengarahkan ketika anaknya melakukan hal yang kurang benar, selagi itu tidak membahayakan banyak orang orang tua desa lebih memilih untuk diam.

Padahal apabila sikap empati yang telah diterapkan orang tua di masyarakat desa dalam pengasuhannya dibarengi dengan kesungguhan untuk melatih anak menjadi anak yang tegas dalam bersikap, anak akan dengan mudah untuk tumbuh menjadi pribadi yang ideal, tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang tekun dan cerdas namun juga menjadi pribadi yang tegas yang membawa perubahan besar dengan sikap-sikap yang tidak mudah ditemukan pada anak daerah kota.

Kita memang tidak akan menemukan aktifitas-aktifitas secara mudah pada kehidupan yang ada di desa, namun kemudahan yang diberikan pada kehidupan kota yang serba praktis akan melemahkan anak dalam membentuk kepribadian yang baik. Akan tetapi dimanapun tempat tinggal kita ketika kita mampu mengarahkan kepribadian anak dengan baik maka porsi ideal dari si kecil yang sedang tumbuh dan berkembang tidak akan terlewatkan. 

Konflik Guru – Murid dan Seni Beladiri

0

ALLAHUMMAGHFIRLAHU warhamu waafihi wa’fuanhu. Semoga Pak Cahaya damai dalam peristirahatan menemui Tuhannya dan dipenuhi amal atas pengabdiannya menjadi guru, semoga menjadi amal khusnul khotimah. Kita tidak bisa menolong dan takdir tidak bisa dicabut untuk pak Cahaya. Semoga pengabdiannya menjadi syahid. Bukankah beliau mengajar meski gajinya pas-pasan. Ini seperti orang beribadah lalu pulang dan meninggal dalam perjalanan karena sebuah kecelakan. Peristiwa ini juga dihukumi syahid.

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari beberapa peristiwa tersebut? Kebanyakan pendapat mengarah pada Fulan, sebagai murid, yang menghajar seorang guru sampai kehilangan nyawa. Jika kita lihat pada sudut pandang patron-klien dan nilai ketawadhu’an, Fulan adalah murid yang telah melanggar nilai keutamaan menghargai guru, apalagi guru yang berjuang menjadikan murid bisa memiliki pengetahuan. Bagi orang yang memiliki pengetahuan, maka dia akan dimuliakan. Jadi tindakan Fulan telah keluar dari konteks kemuliaan itu.  Murid demikian jelas akan dinilai tidak sekedar tidak memiliki sopan santun. Lebih dari itu kiranya.

Kita coba ingat kembali sejumlah data yang muncul di beberapa viral media online untuk memahami konteks peristiwa pak Cahaya dan Fulan agar kita bisa belajar tentang relasi guru murid dalam proses pembelajaran di kelas. Saat sebelum kejadian, Fulan sedang mengganggu temannya ketika belajar melukis. Melihat peristiwa tersebut, pak Mudi menegur dan mengingatkan Fulan untuk tidak mengganggu temannya yang sedang belajar melukis. Fulan pun tidak kunjung menghentikan perilaku mengganggunya dan malah terus menggoda teman-temannya. Pak Cahaya lantas mengambil kuas cat dan mengolesi cat ke pipi Fulan. Fulan mereaksi dengan balik menyerang pak Cahaya dengan memukuli hingga mengarah ke kepalanya.

Problem sosio-emosional, Membaca Konteks Fulan

Berita yang beredar, Fulan disebut murid dengan tingkat pelanggaran tinggi. Para guru lain juga sudah mengenalnya karena seringkali Fulan keluar masuk pendampingan konseling di sekolahnya. Fulan dikabarkan juga anak yang suka beladiri dan memang hidup dalam lingkungan identik kekerasan. Dia “anak pasar” dan akan dibayangkan anak yang berkembang dengan kebebasannya, tanpa nilai penting yang bisa dibelajari mampu mengendalikan dirinya. Orang tuanya pun sering dipanggil oleh guru konseling karena perilaku Fulan. Titik nadir gambaran konteks perilaku Fulan berujung pada tindakan agresif ke seorang guru, pak Cahaya.

Biasanya, Fulan lain sudah dikeluarkan dari sekolah. Namun, Fulan masih bisa bertahan di sekolahan tersebut. Barangkali ada sisi kemanusiaannya bahwa Fulan masih bisa bertahan di sekolahan sebelum peristiwa ini terjadi. Yah, bagaimana kita menempatkan Fulan-Fulan lain yang banyak ditemui di sekolah tersebut. Maka kajian sudut pandang Fulan akan lebih baik jika dilihat dari konteks hidup ekologis (lingkungan sosial) Fulan untuk mendapatkan kejernihan pengambilan hikmah mendidik anak, khususnya memfasilitasi gaya perilaku Fulan.

Fulan hidup diliputi oleh suasana resiko yakni hidup di lingkungan pasar dengan interaksi yang cukup kompleks. Dia juga ikut olah raga karate yang memberikan pelatihan diri ketrampilan bertarung. Pelanggaran yang terjadi di sekolah juga memberikan gambaran Fulan sedikit keluar dari norma sosial sekolah. Ketika terjadi peristiwa agresif pada pak Cahaya, kisah tersebut cukup bisa diterima sebagai satu kronologis bahwa Fulan adalah sosok murid dengan perilaku agresif. Tentu ini adalah gejala yang tidak sehat secara mental, khususnya perkembangan emosi-sosial Fulan.

Fulan dalam perkembangan emosi-sosial bermasalah. Fulan oleh karena itu perlu digaransi untuk dilatih membangun perkembangan sosio-emosional yang sehat. Mendidik Fulan dengan begitu butuh pendekatan inklusif karena dapat juga dikategorikan berkebutuhan khusus, atau lebih tepatnya diberi layanan yang sesuai dengan kepentingannya, yakni secara sosial-emosional. Oleh karena itu, dalam konteks relasi sosial di sekolahan, Fulan selalu ditempatkan dalam proses pendampingan pembelajaran dalam pantauan perkembangan emosi-sosialnya. Sedangkan perkembangan prestasi akademiknya, hanya satu dari media yang bisa dijadikan sebagai bahan belajar mengasah emosi-sosial Fulan.

Apalagi Fulan memiliki kegiatan yang bisa disebut positif, yakni sebagai murid yang menyukai olah raga beladiri. Gayung bersambut, kekuatan beladiri yang tidak didasari oleh pembentukan emosi-sosial yang positif, agresifitas Fulan-lah yang mereaksi gurunya ketika mendapat coretan cat di pipinya.

Kontrol emosi-sosial yang tidak terlatih, coretan cat dipipi seperti tamparan yang langsung memantik harga diri saat dia berposisi sebagai lawan tarung yang sedang terpojok. Emosi Fulan akan cepat mengambil posisi menyerang ketika habitus kekerasan membentuk perilaku bertarungnya. Ini adalah bukti Fulan yang belajar beladiri tetapi tidak diimbangi oleh struktur emosi-sosial yang memandunya menjadi lebih tumbuh dewasa.

Fulan tidak memiliki sumberdaya sosial-emosional yang positif dalam perkembangan dirinya. Biasanya, ini dibentuk cukup lama dalam kurun perkembangan mental dia.  Tragedi kematian pak guru Cahaya adalah akhir dari  gunung es ketika emosi agresif Fulan melahirkan babak baru pemutakhiran emosi sosial yang tidak matang.

Pendidikan Bisu

Mari kita rangkai diskusi kita menuju pada fokus mengapa Fulan memborbardir gurunya, sampai insiden tersebut menjadikan pak Cahaya meninggal ? Maghfurlahu.  Mari keluar dari stigmatisasi murid tidak ta’dhim dan guru yang dimuliakan. Saya ingin mengajak memberikan formulasi untuk menjawab secara positif agar kasus Pak Cahaya dan si murid Fulan tidak terjebak dalam menyalahkan sepihak dan membela pihak lain, namun meskipun guru menjadi korban, dan muridnya pun adalah produk korban salah asuh dan pendidikan, memangnya dunia pendidikan bergeming ?  Sudah, itu urusan SMA di sana yang tidak berkualitas, yang penting pendidikan di sekolah saya berkualitas.

Nyawa guru hilang tidak menjamin kesadaran pendidikan secara masif, bahkan pemangku kebijakan pun tidak bergeming untuk melakukan transformasi perubahan pendidikan yang lebih memanusiakan. Pendidikan kita berarti telah terjangkit budaya bisu meskipun nyawa Pak Cahaya sudah tiada.

Pendidikan berjalan instrumental. Kasus  di atas bagi saya adalah bukti instrumenalisme pendidikan telah mematikan daya tawar anak sebagai manusia yang butuh didampingi berproses, bahkan mewadahi apakah murid menyukai pelajaran atau tidak menyukai pelajaran. Saat anak tidak menyukai pelajaran, lantas mletik dengan keasliannya, salah satu reaksinya dia akan menjadi pengganggu temannya. Ini artinya, pelajaran seni melukis belum merasuki seluruh murid.  Jika sudah begini, guru semestinya bergerak kreatif. Guru dituntut bergeser dari pakem desain utama belajar ke desain metode belajar parsial/diferensial. Sebuah metode belajar yang dirancang mewadahi perbedaan sekumpulan murid. Bukankah ini sudah semestinya diterapkan ketika sekolah wajib memiliki tanggung jawab inklusif ? Sebuah tanggungjawab kreatif. Guru perlu memahami bahwa anak yang berbeda tetap bisa belajar bersama, bukan mendiskriminasi.

Pendidikan yang didominasi tujuan menggembleng prestasi akademik murni, bak seperti kacamata kuda, akan menimbulkan aneka konflik karena tata kelolanya dikuasai oleh model belajar instrumentalistik. Maksudnya, anak sudah dibentuk tujuan, cara belajar dan capaiannya secara saklek, seperti perkakas obeng  atau perkakasa dapur yang wajib siap pakai dan hasilnya harus baik.

Prestasi akan sangat ditentukan oleh kesukaan anak dan bentuk dorongan yang kuat yang mempengaruhi anak. Ketika kenyataan ini dpahami seragam, maka ada anak yang mampu menyesuaikan diri dan ada yang belum mampu. Saat guru semakin digenjot oleh target belajar, maka perlahan-lahan murid yang belum mampu akan semakin terpinggirkan. Mereka tidak memiliki daya tawar untuk memenuhi haknya untuk paham atau menyesuaikan dirinya. Ini akan memicu konflik. Oleh karena itu, peristiwa Pak Cahaya dan Fulan adalah produk konflik karena proses belajar tidak memberikan ruang penyesuaian diri terhadap pribadi siswa. Apalagi situasi konflik itu menimbulkan perilaku marah, bullying dan penilaian sosial pada setiap anak, seperti goblok, dedel, tidak paham-paham, ketinggalan dan lain sebagainya.

Bagi anak-anak yang berada dalam posisi terakhir, mereka pasti akan kehilangan daya tawar. Bahkan dia akan didera inferioritas dan ujung-ujungnya dilegitimasi dengan perangkingan. Jelas, murid yang seperti itu tidak akan banyak mendapatkan akses daya tawar dalam sebuah mata pelajaran.

Lalu, bagaimana kita bisa keluar dari budaya bisu ini ?

Seni Beladiri, Pelajaran Seni Alternatif

Kata berita yang beredar, Fulan aktif mengikuti beladiri. Saat pelajaran seni menggambar, dia cenderung suka mengganggu daripada menggambar itu sendiri. Mungkinkah memang dia secara emosional masih butuh pemandu. Kalau tidak mau repot-repot, Fulan dan beberapa teman yang lebih menyukai dan berkembang kecerdasan kinestetik (gerak fisik), sekalian saja dia diberi ruang belajar seni, bukan seni menggambar, tetapi seni beladiri sebagai pelajaran seni alternatif.

Bukankah beladiri tidak semata-mata olah fisik ? Beladiri juga dapat dikategorikan sebagai salah satu panggung seni gerak. Sebuah seni yang mengutamakan kreasi gerak indah berkarakter menyerang-bertahan. Penggabungan beladiri dalam pelajaran seni bukan tidak mungkin ? Justru memasukkan pilihan beladiri sebagai bahan belajar seni akan memberikan pengakuan terhadap anak-anak sedemikian sehingga anak dihargai kesukaannya. Penonjolan aspek seni dari gerakan beladiri memberikan modal baru belajar mengolah emosi. Jikalau dalam beladiri, aspek yang menonjol ada di kekuatan fisik, namun pada sisi seninya, beladiri akan ditonjolkan estetikanya. Cara begini memberi peluang si Fulan mampu dibantu menata sisi emosi negatifnya kedalam keseimbangan emosi positifnya.

Di sini barangkali pendekatan seni alternatif akan membantu proses resolusi konflik guru siswa ketika siswa sudah mulai tidak cocok dengan pelajaran yang dibawa gurunya. Nah, hikmah kasus kematian pak Guru Cahaya semestinya membawa implikasi terhadap perubahan metode belajar, dari metode penunggalan menuju metode alternatif diferensial (pilihan berbeda-beda) sehingga pendidikan kita akan jauh lebih menuju memanusiakan manusia. Guru perlu keluar dari kotak kebiasaan dalam mengelola kelas.

Masihkah kita bersikukuh mengejar target akademik yang saklek? Atau kebisuan pendidikan kita adalah jawaban jikalau memang pendidikan kita berada dalam budaya bisu yang dipelihara sejak kolonial? Semoga saja konflik Guru Murid tak melahirkan korban-korban nyawa lagi gara-gara keacuhan pelaku pendidikan.

Memanjakan Anak; Sebuah Pengabaian dalam Kasih Sayang

0

TULISAN INI disusun karena terinspirasi oleh cerita-cerita yang saya dapat dari adik perempuan saya tentang bagaimana beberapa tetangga sebelah rumah menerapkan pola asuh untuk  anaknya. Cerita ini saya dapat beberapa bulan lalu di sela-sela saya menikmati waktu santai sepulang dari kampus dan ketika menikmati hari libur di rumah. Jika dirangkum dan disusun, maka berikut hasil cerita dari adik saya.

Pertama, tetangga sebelah rumah katakanlah bernama A. Suami si A adalah buruh bangunan di Surabaya. Ia pulang tidak pasti, kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali. Setiap pulang, ia selalu membawakan snack dan mainan kesukaan anaknya dalam jumlah yang terbilang fantastis untuk ukuran orang desa.

Menurut penuturan adik saya, pola hidup keluarga kecil ini terbilang “hedonis” meski kondisi perekonomian mereka kembang kempis. Namun, bukan itu yang membuat adik saya prihatin dan bahkan agak jengkel, melainkan cara mereka dalam mendidik anak, yaitu terlalu memanjakan. Apapun yang diinginkan anak, baik si A maupun suaminya selalu menuruti. Meski kadang jatah jajan untuk si anak sudah habis, mereka tidak segan untuk berhutang demi menuruti keinginan si anak.

Selain itu, si A tidak membiasakan anaknya berbagi dengan temannya. Sebagai contoh, suatu ketika keponakan saya dan temannya bermain di rumah si A. Mereka bermain sambil makan snack, anak si A pengen juga makan snack tersebut. Adik saya kemudian menyuruh anaknya untuk memberikan sebagian snacknya kepada anak si A. Tapi si A melarang, ia kemudian buru-buru membelikan sendiri snack yang sama. Kejadian ini sering berulang, meskipun sudah diperingatkan oleh adik saya akan bahaya dan akibatnya. Namun tidak pernah digubris, ia berdalih bahwa hal itu dilakukan dalam rangka menyenangkan anaknya dan merupakan wujud kasi sayang mereka.

Tak lama berselang, apa yang dikhawatirkan adik saya terjadi. Si A mengadu kepada adik saya tentang sikap dan perilaku anaknya yang pelit dan ingin menang sendiri. Si anak tidak mau berbagi apapun dengan temannya.

Kedua, tetangga sebelah rumah satunya, katakanlah namanya B. Suami si B adalah karyawan sebuah toko roti di Surabaya. Ia pulang hanya sekali dalam beberapa bulan. Hampir sama dengan si A, si B dan suaminya juga selalu menuruti apapun yang diinginkan anak mereka. Hal ini mereka lakukan agar anaknya tetap rajin belajar. Selain itu, si B dan suaminya sangat menekankan kepada anaknya agar selalu mendapatkan nilai yang bagus di sekolah. Berbagai cara pun mereka tempuh, termasuk mencarikan guru les dan memberi iming-iming hadiah jika anaknya berhasil mendapatkan nilai yang bagus.

Namun, ternyata muncul persoalan baru yang tidak disadari si B dan suaminya. Anak mereka menjadi manja dan berani dengan orangtuanya. Bahkan—menurut yang disaksikan adik saya—anak si B berani membentak ibu dan ayahnya. Padahal masih kelas 4 SD.

Ketiga, tetangga yang agak jauh dari rumah, katakanlah si C. Menurut penuturan adik saya, si C tak beda jauh dengan si A dan si B. Namun, selain memnjakan si C juga agak over protektif terhadap anaknya. Kemana-mana anaknya selalu di antar dan ditunggui. Bahkan, guru TK anak si C pernah mengeluhkan bahwa anak si C tidak mau belajar jika tidak ditunggui orangtuanya. Anak si C sering takut dan bahkan menangis bila jauh dari orangtuanya.

Berdasarkan cerita yang saya dapat ini, dapat kita tarik satu benang merah. Benang merah tersebut adalah pola asuh yang terlalu memanjakan anak akan berdampak negatif pada kondisi kejiwaan, sikap, dan mental anak. Setidaknya terdapat beberapa kesimpulan yang dapat kita tarik dari sini.

Pertama, memanjakan anak akan mengondisikan anak menjadi pribadi egois. Semakin anak terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya untuk dirinya sendiri, maka akan terbentuk sikap dalam diri anak bahwa apa yang dia miliki adalah “hanya untuk dirinya sendiri.” Nah, sikap ini nantinya akan berdampak luas dalam hidup dan kehidupannya kelak. Misalnya saja dalam konteks pergaulan, ia akan sulit mendapatkan teman karena keengganannya untuk berbagi.

Kedua, memanjakan anak akan menjadikan anak tidak bisa mandiri. Kebiasaan segala kebutuhannya dipenuhi oleh orangtuanya tanpa ada usaha untuk mendapatkannya sendiri, akan melahirkan sebuah konsepsi pada diri anak bahwa ia tidak akan bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain. Dampaknya, anak akan menjadi pribadi yang malas dan selalu bergantung pada orang lain.

Dan ketiga, ini yang menurut saya agak menakutkan, semakin kita memanjakan anak, ternyata sikap hormatnya kepada kita justru hilang dan tak berkembang. Sehingga tidak heran kasus kedua dialami oleh si B. Jika terus dibiarkan, sikap ini akan terus terbawa hingga anak dewasa nantinya. Dan tentu akan berdampak tidak baik bagi mereka.

Pemahaman dan wawasan tentang pola asuh yang benar ternyata masih belum banyak dimiliki para orangtua. Terlebih mereka yang semasa kecilnya sudah terbiasa dimanjakan oleh orangtuanya. Selain itu, persepsi yang salah tentang kasih sayang juga perlu untuk diluruskan. Jangan sampai kasih sayang yang diberikan justru merupakan jalan “menyesatkan” anak.

Biasakanlah anak mengusahakan sendiri apa yang mereka butuhkan dan inginkan. Biarlah mereka merasakan jerih payah usaha agar kemudian bisa merasakan manisnya keberhasilan. Memanjakan bukanlah wujud kasih sayang, melainkan wujud pengerdilan, pembelengguan, serta penguburan potensi dan kepribadian anak []

Benarkah Cinta Mendatangkan Kebahagiaan, Kata Siapa?

0

TIDA ADA manusia di dunia ini yang tidak menginginkan kebahagiaan. Semua tindak-tanduk aktifitas yang dilakukan manusia sudah pasti akan berorientasi pada satu tujuan, yaitu kebahagiaan. Lalu apakah makna kebahagiaan itu sendiri ? Arisoteles memberikan pengertian menarik tentang ini. Menurutnya, kebahagiaan adalah good feeling (perasaan senang), having fun (besenang-senang),  having a good time (mempunyai waktu yang baik), atau sesuatu yang membuat pengalaman yang menyenangkan.

Nah, hari-hari ini nih banyak diantara kita ketika sedang mencari kebahagiaan, selalu saja diidentikkan dengan pasangan (khususnya yang muda-mudi nih, heuheu), yang seakan-akan pasangan adalah segala-galanya, dan jomblo adalah status mengerikan yang sebisa mungkin harus dihindari, yang selama ini jomblo seakan-akan menjadi orang yang terkucilkan dalam sebuah tatanan masyarakat. Untung saja tak ada hukuman pasung bagi para jomblo. Huahaha. “Jomblo itu berat, kamu tak akan kuat, biar aku saja. heueheu”.

Realitas seperti itu sudah tak bisa lagi dihindarkan lagi hari-hari ini. Realitas yang memberikan sebuah kesan bahwa “punya pasangan berarti bahagia, tidak punya pasangan berarti tak bahagia”. Maka jangan heran jika pada saat ini, manusia (anak muda) semakin menyempitkan makna kebahagian dengan hanya membubuhkan pasangan sebagai sumber kebahagian. Pun juga sebaliknya, bahwa sumber kesedihan orang terletak hanya dari seorang pasangan. Seakan sangat sulit menemukan kebahagian hidup selain mengenai pasangan. Realitas yang membuat saya semakin bertanya-tanya dengan kualitas hidup di zaman modern. Sebercanda itukah cinta ?. ecieeeee.

Biasanya, kata “cinta” selalu melekat dalam proses berpasangan. Kata “cinta” adalah simbol suci yang harus terbubuhkan dalam aktifitas berpasangan. Biasanya sih gitu ?, kamu gitu nggak ? heuheu. Cinta selalu tak bisa jauh dari kata bahagia. Kamu bahagia ngga sama dia ? Huahaha. Tapi kenapa banyak yang galau karena cinta ? cieeeee. Banyak yang stress, kacau, gundah, pusing, hancur, wa ala alihi wa sohbih. Loh, katanya cinta akan memberikan kebahagiaan ? lha ini trus gimana ? yang salah siapa ? cinta kah ? kamu kah ?. “Cinta itu berat, kamu tak akan kuat, biar aku saja.” Huahaha.

Coba kita tengok sebentar tips bercinta menurut Sabrang MDP alias Noe Letto. Nih, kata beliau, “ Rabi kui dudu mencari bahagia, lha kui konsep salah kui, rabi kok mencari bahagia ? tak jamin kecewa koe. Makanya ada konsep bahwa kawin di lima tahun pertama di jamin goyah, nanti setelah lewat lima tahun stabil, karena konsep rabimu golek bahagia ! ketika sebelum rabi kamu harus menemukan bahagia dalam dirimu sendiri. Dan ketika kowe rabi urusannya adalah membagi dan memberi kebahagiaan. lagi-lagi kita tertipu oleh peribahasa “badai pasti berlalu, kan ngono kalimate ? do lali, nek hari yang cerah ki yo berlalu, podo ae, mok pikir badai berlalu njuk entek ra ono badai maneh ? yok ono kok mestine, urip kok. Iki sing jomblo bahaya, njuk do wegah rabi ki”. *Jika anda butuh translate, anda bisa hubungi nomor ini, 085608244505. Huahaha …

Hmmm, gimana guys ? sudah sesak kah dada kalian ? hihihi. Biar semakin sesak, nih ada lagi pitutur dari mbah kita Erich Fromm, “Yang terpenting dalam hal ini (bercinta) bukan soal bahwa dia telah mengorbankan hidupnya demi orang lain, melainkan bahwa dia telah memberikan apa yang hidup dalam dirinya; dia memberikan kegembiraannya, kepentingannya, pemahamannya, pengetahuannya, kejenakaannya, kesedihannya-semua ekspresi serta manifestasi yang ada dalam dirinya. Dengan tindakan tersebut seseorang telah memperkaya orang lain, meningkatkan perasaan hidup orang lain lewat peningkatan perasaan hidupnya sendiri.” Iyuuuh benget kan ?

Dari dua pitutur tersebut, sebenarnya kita sudah bisa menebak inti keduanya. Bahwa sebenarnya dalam diri kita ada sebuah kebahagiaan yang harus terus kita cari, jangan sampai nggak dapet, harus dapet. Kita harus cerdas dan super kreatif untuk menemukan kebahagiaan dalam diri kita sendiri.

Nah urusannya dengan cinta adalah kita tidak sedang mencari kebahagiaan. Lha wong kita sudah bisa bahagia sendiri kok. Urusannya dengan cinta adalah bagaimana kita bisa dan mampu memberikan, membagi, mengeksplorasi kebahagiaan yang sudah ada dalam diri kita kepada orang lain, mungkin khususnya orang yang kita cinta.

Dengan ini akan ada hubungan positif yang bernuansa take and give atau give and take. Dan mungkin tidak akan lagi ada cerita aktivis yang tak lagi aktif atau kritis karena sibuk pacaran. Tidak akan lagi ada cerita karir seorang hancur karena masalah cinta atau cerita-cerita semacamnya. Semua saling respect dan saling mendukung. Romantis beut kan guys ?.

Ade Novit Rachmawan
Musisi dan Mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Alumni peserta Tutur Desa I Kampus Desa Indonesia

Seri Parenting : “Janji Hati Devo”

0

Bruuuk, buuug!

“Aduuuh, sakiiit!” Devo merintih kesakitan, tubuhnya terjerembab ke dalam tanah becek berlumpur. Karena kurang fokus, ban depan sepedanya oleng dan menabrak tumpukan batu kali.

Perlahan, dengan menahan perih di kedua lututnya, Devo bangkit. Nanar, dipandanginya buku-buku pelajaran dan alat tulis yang berhamburan di jalan.

“Huuuh, kok jadi gini sih?” gumamnya, antara sedih dan menyesal. Andai saja dia tidak melakukannya. Begitulah penyesalan yang menggumpal di dadanya.

Devo sudah mencangklong tas sekolah kembali. Senyum kecut melengkung di wajah gantengnya. Ternyata, nggak semudah yang kubayangkan. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Lah, apa pun peribahasanya, sama saja. Aku sakit dan menyesal!

Akhirnya, Devo memutuskan untuk pulang. Masalah Risna, akan diselesaikannya nanti. Bagaimanapun, dia harus menghadapinya.

Saat bersiap mengayuh sepedanya yang dipenuhi lumpur itulah, Nanda dan Pita berseru memanggilnya. Membuatnya mengurungkan niat, “Ya?” jawabnya tak acuh, untuk menutupi rasa malunya.

“Aku nyari kamu di kantin,” ungkap Nanda yang ditimpali anggukan oleh Pita.

Sejenak hening, Devo hanya sanggup menunduk. Seketika, perang batin mengguncangya. Kembalikan. Tidak. Kembalikan. Jangan. Harus. Tapi aku takut. Jangan takut, kamu harus berani jujur!

“Eh Div, bantuin nyari doskrip Risna, yuk?” Pita menepuk bahunya, “Kasihan lho, ada uang SPP-nya juga.”

Ha, ada uangnya? Devo geragapan. Haduuuh, kok aku bisa sebodoh ini sih? Hanya gara-gara selembar foto, malah jadi runyam begini!

“Woooiii, Div?! Kok malah bengong? Ayo, bantuin?” Nanda menggoyangkan sepedanya, membuat Devo nyaris terjatuh.

Tidak ada pilihan lain. Devo harus segera menemui Bu Shinta. Semoga masih ada di sekolah, batinnya.

Tanpa berkata-kata, Devo memutar sepedanya kembali ke arah sekolah. Lalu, mengayuhnya secepat mungkin tanpa memperdulikan Nanda dan Pita yang heran dengan sikapnya.

“Devo, kamu ingat dongeng Si Kancil?” Bu Shinta mengusap lembut kepalanya, “Dia, dijauhi teman-temannya karena suka mencuri ketimun. Nah, Devo nggak mau kan kalau sampai dijauhi teman-teman?”

Dengan penuh penyesalan, Devo menggeleng. Dalam hati berjanji, tidak akan mengulangi perbuatan buruknya lagi. Devo sadar, mencuri adalah perbuatan yang merugikan. Bukan hanya orang lain, tetapi juga akan merugikan dirinya sendiri.

“Besok pagi, kamu harus minta maaf pada Risna. Ibu temani.” Kali ini Bu Shinta tersenyum lega, “Ingat Devo, apa pun alasannya, mencuri adalah perbuatan tercela. Kalau kamu mau minta foto Risna kan bisa minta dengan baik-baik, nggak perlu sampai mencuri seperti ini.”

Sungguh, Devo malu sekali. Ini adalah pelajaran sangat berharga yang tidak akan pernah dilupakannya. Apalagi, Bu Shinta sudah berjanji, tidak akan memberi tahu Ayah soal ini. Bukan apa-apa, kalau sampai tahu Devo mencuri, Ayah bisa marah besar. Biarlah nanti kalau sudah siap, Devo akan menceritakannya pada Ayah, sekaligus minta maaf.

Sleman, 8 Februari 2018

Bruuuk, buuug!

“Aduuuh, sakiiit!” Devo merintih kesakitan, tubuhnya terjerembab ke dalam tanah becek berlumpur. Karena kurang fokus, ban depan sepedanya oleng dan menabrak tumpukan batu kali.

Perlahan, dengan menahan perih di kedua lututnya, Devo bangkit. Nanar, dipandanginya buku-buku pelajaran dan alat tulis yang berhamburan di jalan.

“Huuuh, kok jadi gini sih?” gumamnya, antara sedih dan menyesal. Andai saja dia tidak melakukannya. Begitulah penyesalan yang menggumpal di dadanya.

Devo sudah mencangklong tas sekolah kembali. Senyum kecut melengkung di wajah gantengnya. Ternyata, nggak semudah yang kubayangkan. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Lah, apa pun peribahasanya, sama saja. Aku sakit dan menyesal!

Akhirnya, Devo memutuskan untuk pulang. Masalah Risna, akan diselesaikannya nanti. Bagaimanapun, dia harus menghadapinya.

Saat bersiap mengayuh sepedanya yang dipenuhi lumpur itulah, Nanda dan Pita berseru memanggilnya. Membuatnya mengurungkan niat, “Ya?” jawabnya tak acuh, untuk menutupi rasa malunya.

“Aku nyari kamu di kantin,” ungkap Nanda yang ditimpali anggukan oleh Pita.

Sejenak hening, Devo hanya sanggup menunduk. Seketika, perang batin mengguncangya. Kembalikan. Tidak. Kembalikan. Jangan. Harus. Tapi aku takut. Jangan takut, kamu harus berani jujur!

“Eh Div, bantuin nyari doskrip Risna, yuk?” Pita menepuk bahunya, “Kasihan lho, ada uang SPP-nya juga.”

Ha, ada uangnya? Devo geragapan. Haduuuh, kok aku bisa sebodoh ini sih? Hanya gara-gara selembar foto, malah jadi runyam begini!

“Woooiii, Div?! Kok malah bengong? Ayo, bantuin?” Nanda menggoyangkan sepedanya, membuat Devo nyaris terjatuh.

Tidak ada pilihan lain. Devo harus segera menemui Bu Shinta. Semoga masih ada di sekolah, batinnya.

Tanpa berkata-kata, Devo memutar sepedanya kembali ke arah sekolah. Lalu, mengayuhnya secepat mungkin tanpa memperdulikan Nanda dan Pita yang heran dengan sikapnya.

“Devo, kamu ingat dongeng Si Kancil?” Bu Shinta mengusap lembut kepalanya, “Dia, dijauhi teman-temannya karena suka mencuri ketimun. Nah, Devo nggak mau kan kalau sampai dijauhi teman-teman?”

Dengan penuh penyesalan, Devo menggeleng. Dalam hati berjanji, tidak akan mengulangi perbuatan buruknya lagi. Devo sadar, mencuri adalah perbuatan yang merugikan. Bukan hanya orang lain, tetapi juga akan merugikan dirinya sendiri.

“Besok pagi, kamu harus minta maaf pada Risna. Ibu temani.” Kali ini Bu Shinta tersenyum lega, “Ingat Devo, apa pun alasannya, mencuri adalah perbuatan tercela. Kalau kamu mau minta foto Risna kan bisa minta dengan baik-baik, nggak perlu sampai mencuri seperti ini.”

Sungguh, Devo malu sekali. Ini adalah pelajaran sangat berharga yang tidak akan pernah dilupakannya. Apalagi, Bu Shinta sudah berjanji, tidak akan memberi tahu Ayah soal ini. Bukan apa-apa, kalau sampai tahu Devo mencuri, Ayah bisa marah besar. Biarlah nanti kalau sudah siap, Devo akan menceritakannya pada Ayah, sekaligus minta maaf.

Sleman, 8 Februari 2018

Membangun Jiwa Disiplin Anak

0

Ayah & Bunda, memiliki anak yang tertib dan disiplin, tentu menjadi impian indah kita, bukan? Karena kedisplinan merupakan salah satu kunci kesuksesan. Nah, untuk menunjang usaha kita membangun kedisiplinan pada jiwa anak, silakan menyimak tips berikut ini, Ayah & Bunda.

Tips sederhana membangun kedisiplinan pada anak:

Ajak dan bersamailah anak untuk :

Membuat jadwal kegiatan. Jadwal kegiatan ini, bisa harian, mingguan atau bulanan. Ayah & Bunda bisa merangkumnya dari kegiatan rutin anak.
Menulis jadwal pada board yang bisa menjadi mood boster bagi anak. Misalnya, kita hiasi board dengan gambar tokoh-tokoh karakter anak, quote-quote yang bisa menginspirasi anak atau kertas warna-warni yang sesuai dengan warna favorit anak.
Menggantungkan board di posisi terbaik bagi anak, di kamarnya. Misalnya, di atas meja belajar (ditempel di dinding) atau di sekitar rak buku. Saya sarankan, di tempat yang sering dilihat anak atau anak tertarik untuk sering melihatnya.
Melaksanakan jadwal dengan maksimal. Di sini, sebisa mungkin hindarilah pemaksaan dan tekanan. Agar anak bisa melaksanakan jadwal dengan bahagia. Ingatlah, tugas kita hanya mendampingi dan mengarahkan.
Tugas terbesar kita adalah membantu anak dalam melaksanakan jadwal. Misalnya, mengingatkan dengan pilihan kata dan sikap yang menyenangkan. Mengakomodir pelaksanaan jadwal, juga akan sangat membantu.

Jika dalam perjalanan waktu, anak lupa akan kegiatan yang sudah tertulis pada jadwal, kita tidak perlu marah. Ingatlah selalu, marah bukanlah solusi dari sebuah permasalahan. Kita juga tidak boleh menyakiti anak baik secara fisik maupun mental. Bully bukanlah hal yang dibenarkan dalam sebuah pendidikan.

Cukup berikanlah peringatan dan motivasi agar ke depan, anak tidak lalai lagi. Percayalah, kesabaran yang kita balurkan pada jiwa anak, akan memberikan kekuatan yang istimewa padanya. Kekuatan, untuk menjalani kehidupan dengan matang dan penuh semangat.

Demikian Ayah & Bunda, semoga bermanfaat, ya?

Sleman, 8 Februari 2018