Kamis, Agustus 27, 2026
Beranda blog Halaman 94

Urutan Kelahiran Menentukan Jenis Kepribadian, Fakta atau Mitos?

0

Saat berkunjung pada salah satu lembaga pendidikan anak usia dini tadi pagi, terdapat diskusi yang menarik antara saya, pengelola, pengawas dari kementerian, serta mahasiswa tentang urutan kelahiran dan karakteristik kepribadiannya. Sebagian besar dari kita percaya bahwa urutan kelahiran adalah hal yang penting dalam membentuk kepribadian seseorang, apakah benar demikian?

Adalah Alfred Adler, psikiater berkebangsaan Austria yang pertama kali melempar polemik tentang urutan kelahiran dan eksesnya terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Adler mempercayai bahwa urutan kelahiran hampir memengaruhi segala hal tentang manusia, mulai dari perkembangan, karakter kepribadian, sampai pilihan karier mereka.

Sejauh ini, topik urutan kelahiran menjadi semacam kepercayaan, bahkan mitos yang terus menerus diperdebatkan dalam berbagai penelitian, terutama penelitian bidang psikologi. Menjadi sebuah mitos, bahwa anak pertama memiliki IQ lebih baik dan berjiwa pemimpin, sedangkan anak terakhir adalah anak yang lemah dalam tanggung jawab dan cenderung bebas. Apakah demikian?

Kepercayaan umum jenis kepribadian berdasarkan urutan kelahiran

Meskipun berpuluh-puluh tahun asumsi Adler ditentang oleh banyak penelitian, namun terdapat hal-hal yang cenderung terlihat konsisten dalam karakteristik kepribadian dalam urutan kelahiran.

Anak Sulung/Tertua

Pertama bagaimanapun merupakan hal spesial bagi siapapun. Cinta pertama adalah contohnya hehe. Anak pertama dalam banyak kepercayaan dan studi menyebutkan bahwa mereka memiliki bertanggung jawab yang baik, kepercayaan diri yang tinggi, lebih teliti, dan yang pasti memiliki cerminan kepercayaan dan sikap orangtua mereka.

Selain itu, dalam bergaul, anak pertama cenderung lebih nyaman memilih menghabiskan waktunya dengan orang yang lebih dewasa darinya. Kehadiran adik-adik dikemudian hari menjadikan anak pertama sebagai seorang pemimpin alami, hal tersebut terlihat jelas dalam kariernya kelak.

Pada sisi lain, akibat estafet otoritas atas adik-adiknya, anak pertama biasanya cenderung mengambil peran sebagai orangtua bagi adik-adiknya, mereka cenderung otoriter.

Sebagai ‘anak’ dengan otoritas orangtua, mereka seringkali menginginkan sesuatu seperti yang mereka inginkan. Anak pertama cenderung akan menjadi perfeksionis, lebih cemas dan menerapkan target yang tinggi pada diri mereka. Hal tersebut sekali lagi sebagai akibat alamiah dari orangtua ‘mini’ di rumah.

Anak Tengah

Urutan kelahiran terjepit, secara populer dipercayai sebagai sesorang yang cenderung sabar. Jika anak sulung bertransformasi dari anak tunggal menjadi anak pertama, anak tengah bertransformasi dari anak bungsu (terakhir) menjadi anak tengah. Secara alamiah hal tersebut dipercayai berdampak pada jiwa diplomatis dan mampu memposisikan diri untuk netral.

Anak tengah dipercaya memiliki kemampuan untuk menyatukan orang. Transformasi dari anak bungsu menjadi anak tengah juga dipercaya membentuk jiwa pejuang (kompetitif), hal tersebut karena anak tengah sering kali berjuang untuk membentuk peran yang jelas bagi diri mereka sendiri.

Anak tengah terkadang juga memiliki jiwa pemberontak yang kuat, mengingat mereka berusaha untuk keluar dari identitas anak terakhir dan tidak mungkin menjadi identitas anak pertama. Inilah yang kemudian membentuk mereka menjadi lebih kompetitif.

Bagaimana tidak, mereka tidak memiliki waktu bersama dengan orangtuanya sendiri seperti anak pertama, sedangkan peran kemanjaan sebagai anak bayi (terakhir) juga telah bergeser. Inilah yang membentuk mereka untuk terus berjuang mencari hal-hal baru dari luar.

Anak Terakhir

Sudah menjadi rahasia umum, sebagian anak bungsu akan selalu mendapatkan perhatian lebih atau lebih dikenal sebagai pe-manja-an. Bukan hanya dari orangtua, mereka juga dapat perhatian dari saudara-saudara kandung sebelumnya.

Anak terakhir memiliki kesan ‘bayi’, ‘kecil’ dan ‘lucu’. Itulah banyak orang percaya bahwa anak terakhir biasanya menarik, impulsif dan cenderung baik.

Tidak seperti anak pertama dan tengah, anak terakhir tidak mengalami transisi berarti, meraka dilahirkan dalam keadaan yang sama sampai mereka tumbuh dewasa kelak. Mereka tidak merasakan pergantian peran seperti anak pertama dan tidak juga mengalami kebingungan peran seperti anak tengah.

Ditambah dengan pengalaman mengasuh orangtua, anak terakhir biasanya memiliki lebih sedikit tanggung jawab dibandingkan dengan anak lainnya. Artinya mereka memiliki lebih banyak waktu untuk bersenang-senang.

Di sisi lain, mereka seringkali malah merasa tidak pernah dianggap serius oleh anggota keluarga yang lain, selalu saja mereka merasa dianggap sebagai anak kecil. Padahal, diam-diam meraka terus menerus merasa tidak pernah diberi waktu nntuk mengambil keputusan sendiri, selalu semuanya telah tersedia dihadapan mereka. Itulah mengapa anak terakhir memiliki perasaan terpendam untuk lebih bebas seperti yang mereka idamkan.

Pada prosesnya, anak terakhir dipercaya sering memberontak sebagai cara untuk membedakan dirinya dari kakak laki-laki dan atau perempuannya. Mereka lebih cenderung mengambil risiko, dan sering memilih karier yang berbeda dengan anggota keluarga yang lain.

Anak Tunggal

Jika anak terakhir adalah anak yang dianggap tidak berhadapan dengan transisi peran, anak tunggal harusnya sama. Namun nyatanya tidak, anak tunggal secara tidak kasat mata juga mengalami transisi.

Pada awal kelahirannya, mereka dianggap sebagai ‘bayi’ dan saat beranjak menjadi anak-anak mereka mulai diperlakukan sebagai anak pertama, selanjutnya mereka dianggap sebagai anak satu-satunya.

Di indonesia, sepertinya sulit menemukan pasangan yang menginginkan hanya memiliki satu anak, karena secara rasional, satu anak dianggap memiliki resiko tinggi bagi kelangsungan sebuah keluarga.mulai ketakutan akan keselamatan umur anak, setiap pasangan biasanya memilih untuk memiliki anak lebih dari satu karena ingin melihat cita-cita terpendam mereka dilanjutkan oleh salah satu anaknya.

Model transisi ‘bawah tanah’ tadi, anak tunggal cenderung untuk berasumsi bahwa orang lain tahu bagaimana perasaan mereka, atau berpikir dengan cara yang sama seperti mereka, tanpa pertanyaan. Mereka mungkin bergantung pada orangtua mereka lebih lama dari anak-anak lain, menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan menunda keputusan tentang masa depan mereka.

Apa Kata Riset

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh dilakukan oleh peneliti dari dua universitas di Jerman, Universitas Leipzig dan Johannes Gutenberg pada tahun 2015 menyebutkan bahwa urutan kelahiran tidak memiliki efek pada atribut kepribadian seseorang.

Pada penelitian yang diterbitkan pada Proceedings of the National Academy of Sciences tersebut, Rohrer dan kolega (2015) tidak menemukan perbedaan yang signifikan pada ekstraversi, stabilitas emosional, kesesuaian, kesadaran, atau imajinasi dari subjek yang diteliti.

Studi lain dari Journal of Research in Personality yang melibatkan 377.000 subjek dari SMA di Amerika Serikat juga hanya menemukan sedikit bukti untuk perbedaan kepribadian.

Penelitian yang dipublikasikan juga pada tahun 2015 oleh Rodica Loana Damian dan Brent W. Robert ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara urutan kelahiran dengan sifat kepribadian serta kecerdasan seseorang.

Namun tidak semua penelitian membantah total apa yang dipercaya masyarakat, salah satunya adalah Harper dan kolega (2016) yang menyebutkan bahwa memiliki saudara kandung akan membantu anak untuk mengembangkan simpati kepada orang lain. Penelitian yang melibatkan lebih dari 300 keluarga ini menemukan sikap sosial yang terbentuk baik pada anak yang memiliki saudara kandung di rumah.

Lebih percaya yang mana?

Jika secara umum kita memiliki kepercayaan tentang urutan kelahiran dan karakteristik peribadian seseorang, namun sekaligus kita tahu bahwa kepercayaan tersebut banyak dibantah oleh penelitian ilmiah, bagaimana sikap kita? Secara pribadi, saya lebih memilih untuk memoderasi kedua arus tersebut.

Mengapa demikian? Karena saya sendiri, sebagai anak tengah, sedikit atau banyak memiliki karakter yang dipercaya seperti yang ditulis di atas, namun seringkali saya juga berbeda sama sekali dengan karakter di atas.

Akan selalu menarik memperdebatkan topik ini, karena secara historis perdebatan tersebut telah dimulai oleh Alfred Adler dan Sigmund Freud sebagai dua ilmuan besar dalam psikologi. Bahkan, karena ketidaksepakannya atas asumsi yang dilemparkan oleh Adler, Freud sampai memutuskan keluar dari the Psychoanalytic Society dan membentuk the Society for Individual Psychology (Damian & Roberts, 2015). Ini jelas bukan main-main bung!

Dalam psikologi, terdapat sebuah alat tes yang dikembangkan untuk mengukur kecocokan karakteristik kepribadian dengan urutan kelahiran, alat tersebut diberi nama Psychological Birth Order Inventory (PBOI). Sayangnya alat tes tersebut hanya menemukan 23% perempuan dan 15% laki-laki yang merasa dirinya cocok dengan gambaran umum tentang karakteristik kepribadian dengan urutan kelahirannya.

Sayangnya juga, tulisan saya sudah terlampau panjang, besok saya lanjutkan mengapa terkadang prediksi umum tentang urutan kelahiran bisa keliru.

Ahmad Mukhlis. Alumnus Magister Psikologi UGM Yogyakarta, Dosen Psikologi di FITK Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Founder 4IC Indonesia.

TULISAN INI DIPOSTING ULANG DARI KOMPASIANA SEIJIN PENULISNYA.

Kakak-Adik, Kok Ribut Terus ? Tips Menghadapi Konflik Saudara Kandung

0

Konflik antar saudara kandung kerap terjadi. Kadang terjadi tanpa sebab yang jelas. Persaingan semakin terasa pada anak yang sama jenis kelaminnya dan dekat jarak usianya.

”Ibu, dari tadi Kakak ganggu aku terus!”

”Huh, dasar cengeng!”

”Dia yang duluan!”

“Dia yang duluan!”

Sering dengar teriakan seperti itu? Bagi orangtua yang memiliki anak lebih dari satu, mungkin jawabannya “ya”. Itulah yang disebut sebagai sibling rivalry.

Sibling rivalry adalah permusuhan dan kecemburuan antara saudara kandung yang menimbulkan ketegangan di antara mereka. Memang tak dapat disangkal bahwa perselisihan antar mereka akan selalu ada. Biasanya ini terjadi apabila masing-masing pihak berusaha untuk lebih unggul dari yang lain.

Tentunya tak semua anak selalu berkonflik dengan saudara kandungnya. Ada anak-anak yang memiliki hubungan baik dengan saudara kandungnya. Dan, ada pula anak-anak yang hubungannya cepat beralih antara konflik dan damai.

Seringkali, konflik kakak-adik bermula bahkan sebelum anak kedua lahir dan berlanjut semasa anak tumbuh dan bersaing dalam segala hal, seperti berebut perhatian orangtua dan mainan.

Mengapa terjadi konflik ?

Kebutuhan yang berubah. Sudah sepatutnya jika anak-anak memiliki kebutuhan yang terus berubah, rasa ingin tahunya dan identitas dirinya yang mempengaruhi cara mereka berhubungan satu sama lain. Contohnya, untuk anak usia 2-4 tahun, akan sangat protektif terhadap mainan dan semua barang miliknya. Pada usia itu, anak mulai belajar untuk mempertahankan kepemilikannya. Jadi, jika anak di usia itu memiliki adik, dia akan marah jika adiknya mengambil mainannya. Anak usia sekolah biasanya sudah memahami konsep tentang keadilan, jadi mereka tidak bisa menerima jika adik yang lebih kecil mendapat perhatian yang lebih istimewa ketimbang dirinya.

Temperamen individu. Temperamen individu setiap anak, termasuk mood, karakter dan kemampuan mereka dalam beradaptasi, serta keunikan kepribadian memainkan peran yang besar pada sejauh mana anak dapat berinteraksi.

Kebutuhan khusus. Terkadang, dalam keadaan sakit atau kondisi emosional tertentu anak membutuhkan perhatian orangtua yang lebih banyak. Bila perhatian orangtua tidak didapatkannya, anak akan melampiaskan dengan kemarahan pada kakak atau adiknya.

Role models. Hati-hati dengan cara orangtua menyelesaikan masalah dalam perbedaan pendapat. Karena perilaku yang ditunjukkan orangtua menjadi model buat anak-anak. Suami istri yang tetap respek satu sama lain meski berhadapan dengan konflik, kemungkinan besar juga akan diikuti oleh anak-anak. Tapi, pada pasangan yang saling berteriak, membanting pintu atau barang jika ada masalah, maka anak-anaknya pun akan mengikuti cara yang sama.

Takut kehilangan perhatian orangtua. Anak-anak sangat bergantung akan cinta dan kasih sayang orangtuanya. Mereka merasa terancam apabila orangtua membaginya kepada orang lain. Hal ini sering terlihat saat ibu hamil, anak mulai menunjukan protesnya melalui perilaku yang ‘sulit’. Mereka merasa cemburu dan tersisihkan bila kelak ada anak lain lagi.

Bersaing. Bila seorang anak menyadari kekurangannya dari saudaranya yang lain akan timbul persaingan. Terlebih apabila si anak berjenis kelamin sama dan jarak usia yang berdekatan, maka diam-diam anak akan mengembangkan rasa benci terhadap saudaranya tersebut. Biasanya ketika orangtua sering memuji kemampuan anak yang lain di hadapan anak yang memiliki kekurangan, tentu saja akan membuat anak yang ‘kekurangan’ menjadi minder dan merasa kurang diterima di tengah-tengah keluarga.

Bagaimana mencegah konflik saudara kandung ?

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua agar tidak terjebak kedalam tindakan saling mengisolasi atau konflik serius

Jangan membanding-bandingkan anak. Hindarkan perkataan ”kamu ini kok nakal ya, nggak seperti kakak kamu yang anteng!” Ucapan semodel justru akan memicu konflik kakak-adik.
Libatkan anak dalam mempersiapkan kelahiran adik. Pada saat hamil, libatkan anak untuk mempersiapkan kelahiran, seperti ajak anak memilih pakaian ataupun perlengkapan bayi lainnya dan juga posthukan bahwa adik barunya tidak akan merebut perhatian ibunya.
Buat aturan tentang perilaku yang diperbolehkan atau sebaliknya. Seperti, tak boleh ada pintu yang dihempas, teriakan, ejekan, dan lain-lain.
Buat pula konsekuensinya bila ada yang melanggar. Aturan dan konsekuensi, selain mengajarkan mana yang ’baik’ dan ‘tidak’, juga akan mengajarkan anak tentang tanggung jawab.
Jangan biarkan anak berpikir bahwa segalanya harus ‘transparan’ dan ‘adil’, kadang-kadang kakak atau adik memerlukan perhatian yang lebih banyak.
Jangan menjadikan atau memaksa anak yang lebih tua sebagai pengasuh adiknya, karena anak akan merasa terbebani dan memberatkannya7. Buatlah anak merasa istimewa di mata orangtuanya. Cobalah proaktif dalam memberikan perhatian pada masing-masing anak. Contoh, anak yang senang bermain di luar rumah ajaklah jalan-jalan di taman. Tapi, jika anak lebih suka duduk sambil membaca buku, maka sediakanlah waktu untuk duduk bersamanya untuk mendengarkan cerita dan lebih dekat padanya.
Sebaiknya anak-anak memiliki ruangan tersendiri untuk melakukan keinginannya seperti bermain dengan mainan mereka sendiri, bermain dengan teman tanpa gangguan dari saudaranya atau menikmati aktivitas tanpa perlu berbagi.
Bergembiralah bersama sebagai sebuah keluarga dengan cara jalan-jalan bersama, berlibur, atau berkumpul bersama di ruang keluarga. Kebersamaan ini akan mengurangi ketegangan karena cemburu atau persaingan antar saudara. Perlahan juga akan mengurangi konflik kakak-adik.
Bila kakak-adik sering berantem karena berebut main komputer atau mainan lainnya, buatlah jadwal bersama mereka. Bila tetap berkelahi, ambillah keputusan untuk tidak membolehkan semua pihak memainkan mainan tersebut selama satu minggu, sampai kemudian mereka diajak berunding kembali tentang ‘jadwal’. Jika perkelahian antar kakak-adik di usia sekolah terjadi cukup sering, adakan pertemuan keluarga. Tekankan kembali tentang aturan yang telah disepakati bersama, atau buatlah aturan baru yang disepakati bersama.
Pisahkan anak sementara waktu bila perlu. Ajak anak, terutama yang lebih besar, untuk bicara dari hati ke hati. Buatlah kesepakatan-kesepakatan, setelah anak mencurahkan isi hatinya.

Adakalanya, konflik antara saudara kandung tak bisa cepat diselesaikan. Kadang, orangtua membutuhkan bantuan tenaga ahli. Upaya tersebut tentu harus segera dilakukan, mengingat konflik antar saudara bila dibiarkan berlarut-larut akan menyebabkan depresi dan frustasi.

“Hmmm, kalau mau disayang, kita harus sayang kakak dan adik ya, Nak.”

Amelia Aziz Daeng Matadjo, Psikolog. Psikolog Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Cabang Malang, Founder Klinik Psikologi Anak dan Keluarga Beloved Kanti Malang. Menerima Konsultasi Psikologi. Untuk kontak hubungi redaksi

Sejenak Membincang Kebijakan Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi

0

Tidak bisa dipungkiri bahwa sektor pertanian memegang peranan yang amat penting bagi pembangunan di negeri ini. Bahkan, sektor ini menjadi tumpuan bagi eksistensi sektor-sektor lainnya. Bagaimana tidak? Berkat sektor pertanian, sektor perdagangan bahan-bahan dan insdustri olahan pangan dapat berjalan. Berkat sektor pertanian pula, industri tekstil, ekspedisi, furnitur, obat-obatan tetap dapat menjalankan roda produksinya. Tidak hanya itu, masih banyak sektor-sektor lain yang turut dipengaruhi keberlangsungannya oleh sektor pertanian. Namun yang menjadi pertanyaan adalah di balik begitu sentralnya peran sektor pertanian, mengapa nasib para petani di negeri ini justru sebaliknya? Mengapa sampai dengan detik ini tingkat perekonomian mereka tetap begitu-begitu saja, menengah kebawah?

Hal tersebut tentu menjadi sebuah keprihatinan mengingat jumlah petani di negeri ini yang tidak sedikit yakni 39,68 juta jiwa. Jumlah ini setara dengan 31,86% dari jumlah penduduk Indonesia yang bekerja yakni 124,54  juta jiwa (sumber: https://www.tempo.co 5 Mei 2017) dan setara dengan 15,20% dari jumlah total penduduk Indonesia.

Sebenarnya jika dicermati, berbagai upaya peningkatan perekonomian petani terus dilakukan oleh pemerintah. Mulai dari pengaturan lahan dan pola tanam, penyediaan bibit unggul, pengembangan varietas tanaman baru, pengembangan pestisida dan insektisida, penyuluhan dan pendampingan berkelanjutan, optimalisasi kelompok tani, hingga pengaturan penggunaan dan distribusi pupuk bersubsidi. Namun demikian, sebagus apapun kebijakan yang diluncurkan, pasti selalu terdapat berbagai penyelewengan yang menyertainya. Seperti yang terjadi pada kebijakan penggunaan dan pendistribusian pupuk yang akan sedikit kita soroti kali ini.

Berbagai kebijakan yang diluncurkan pemerintah terkait penggunaan dan pendistribusian pupuk pada hakikatnya adalah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan dan distribusi pupuk kepada petani. Seperti Permendagri No. 17/M-DAG/PER/6/2011 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian. Namun pada kenyataannya, masih saja banyak dijumpai kasus-kasus kelangkaan pupuk di berbagai tempat yang menyebabkan para petani kesulitan memperoleh pupuk pada saat dibutuhkan. Hal inilah yang turut menjadi ancaman penurunan produktivitas sektor pertanian.

Faktor utama yang disinyalir menjadi penyebab terjadinya kelangkaan pupuk adalah sistem distribusi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini dapat disebabkan beberapa faktor, antara lain kondisi geografis, keterlambatan produksi, dan permainan para spekulan. Faktor terakhir ini yang acap kali terjadi. Sehingga menyebabkan para petani harus membeli pupuk dengan harga yang lebih tinggi, telebih lagi setelah diberlakukannya kebijakan pengurangan dan penghapusan subsidi pupuk.

Selain kelangkaan, ada hal lain yang juga perlu mendapat perhatian dari pemerintah, yaitu kecermatan dalam penyaluran dan tingkat kesadaran serta pengetahuan para petani tentang pupuk. Seperti yang terjadi di beberapa daerah misalnya di Kabupaten Bojonegoro, tepatnya di Desa Pejok, Kecamatan Kepohbaru dan di Desa Wadak Kidul, Kecamatan Duduk Sampeyan, Kabupaten Gresik. Satu di antara jenis pupuk dalam paket pupuk yang disalurkan pemerintah dan wajib dibeli  mendapat respon negatif dari para petani di kedua daerah ini. Jenis pupuk tersebut adalah pupuk organik Petroganik. Di dua daerah ini, para petani enggan untuk mengaplikasikan pupuk tersebut di lahan mereka. Alasan mereka hampir sama, yaitu efeknya tidak “terasa”. Bahkan di Desa Wadak, para petani harus membayar untuk semua jenis pupuk yang sudah termasuk dalam paket, tidak terkecuali pupuk Petroganik ini. Harga pupuk ini sebenarnya hanya 10-20 ribu rupiah. Namun, karena efeknya yang tidak langsung terasa, maka para petani enggan untuk menggunakannya. Bahkan, para petani lebih memilih mengalah membayar 10 ribu kemudian membuang pupuk ini, atau biasanya ditinggal begitu saja di toko distributor dan tidak dibawa pulang agar mereka tetap diperbolehkan membayar paket pupuk.

Ironisnya, di Desa Wadak ini mayoritas penduduknya adalah para petani tambak. Padahal pupuk organik sebenarnya memiliki banyak manfaat bagi lahan tambak, beberapa di antaranya adalah untuk menyediakan unsur hara makro dan mikro dan mempunyai daya ikat ion yang tinggi sehingga akan mengefektifkan bahan-bahan anorganik di dalam tanah, termasuk pupuk anorganik. Selain itu, pupuk kandang bisa memperbaiki struktur tanah, sehingga pertumbuhan tanaman bisa optimal (sumber : http://mediapenyuluhanperikananpati.blogspot.co.id). Meskipun mendapat penolakan dari para petani, pupuk ini tetap disalurkan kepada mereka.

Fenomena ini tentu tidak perlu terjadi andai saja para petani mendapatkan edukasi dan pendampingan secara berkelanjutan. Efek pupuk organik memang akan terasa dalam jangka waktu yang panjang, yaitu untuk mengembalikan kualitas kesuburan lahan yang telah tergerus oleh residu pupuk kimia. Dengan demikian pada akhirnya, ketergantungan terhadap pupuk kimia dapat diminimalisir. Selain itu, edukasi juga diperlukan dalam aspek pola tanam, irigasi, pemilihan benih, dan wawasan tentang dunia pertanian global.

Pembangunan di sektor pertanian akan sulit dilakukan jika tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas dan kompetensi sumberdaya manusianya. Oleh karena itu, yang juga tak kalah penting untuk dibangun pemerintah adalah kesadaran dari para petani untuk membuka diri terhadap informasi-informasi dari dunia luar. Di era informasi ini, kemauan dan kemampuan untuk mengakses informasi-informasi akan mempermudah jalan bagi upaya pemberdayaan petani. Hal ini tak lepas dari fakta bahwa sektor pertanian kita dewasa ini telah tertinggal jauh dari negara-negara lain. Jangankan dengan Negara Barat, dengan negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia saja dunia pertanian kita telah tertinggal. Sampai kapan kita akan terus tertinggal? Jika tidak mulai mengejar dari sekarang.

Pertanian Rahmatan Lil Alamin

0

Rahmatan Lil’alamin yaitu Rahmat bagi seluruh alam, jadi sebagai insan pertanian yang berusaha menjadi Rahmatan Lil’alamin itu harus mampu memberi kesuburan bagi sekitarnya yaitu mampu menjadikan ketentraman bagi sekitarnya dan mampu mengajak lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta, bukan merusak ketentraman atau menambah kebencian antar sesama manusia yang berbeda-beda di berbagai tempat manapun.

Mata air pegunungan yang mengalir perlahan-lahan bisa menyuburkan tanah dan tanaman dimana saja yang dilewatinya, tapi Air itu tidak pernah mengharap balas jasa pada tanah dan tanaman yang menjadi subur olehnya.

Air hujan yang berlebihan dan sangat deras akan mengakibatkan bencana banjir, sehingga merugikan siapapun dan tempat manapun yang telah dibanjiri air itu.

Pada dasarnya, kita menjadikan Pertanian sebagai Rahmatan Lilalamin harus bisa bersabar utk mewujudkannya agar terus memelihara, menghidupkan tanah dan memberi manfaat. Seperti air berkorban demi yang dialiri tetapi bukan merugikan yang dialiri.

Salam #NgajiTani

Tulisan ini dikliping dari founder #NgajiTani di laman https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10210916509297841&id=1506152457

Menyembuhkan Alergi terhadap Pembaruan

0

Satu di antara permasalahan mendasar dan sekaligus tantangan utama yang kerap dihadapi tokoh-tokoh progresif atau pembaru adalah munculnya resistensi terhadap gagasan dan pemikirannya. Hal ini dikarenakan gagasan dan pemikiran yang mereka tawarkan seringkali berbenturan dengan tradisi, adat istiadat, budaya, dan sistem sosial yang telah mapan dan mengakar di tengah masyarakat. Kemapanan ini kemudian melahirkan konstruksi pemikiran yang meng-absolut-kan tradisi, adat istiadat, budaya dan sistem sosial tersebut sebagai sebuah kebenaran dan kewajaran. Bahkan pada titik tertentu, kemapanan ini memunculkan fanatisme dan primordialisme yang berlebihan.

Fanatisme dan primordialisme inilah yang menjadi “musuh besar” para pembaru, karena berangkat dari fanatisme dan primordialisme inilah manusia menjadi eksklusif dan alergi terhadap konsep-konsep baru yang pada substansinya justru lebih baik dari konsep-konsep yang mereka pegangi itu. Hal inilah yang hendak didobrak dan dirobohkan oleh para tokoh pembaru. Terlepas apapun bidang yang mereka geluti.

Padahal jika mau terbuka dan merenungkan dengan pikiran jernih, pembaruan merupakan sebuah keniscayaan dalam hidup dan merupakan fenomena yang wajar adanya. Bahkan pembaruan justru dibutuhkan dalam hidup ini. Pemaknaan semacam ini akan muncul manakala manusia memaknai hidup ini sebagai sebuah sistem dan proses. Sebagai sebuah sistem, hidup dan kehidupan ini terdiri dari banyak sekali komponen yang saling terkait dan tak terpisahkan satu sama lain. Pembaruan merupakan satu di antara sekian banyak komponen tersebut. Pada konteks ini pembaruan berperan sebagai komponen yang memberi ruang kepada manusia untuk mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi diri merupakan satu di antara sekian banyak kebutuhan manusia. Sedangkan sebagai sebuah proses, hidup harus selalu dinamis dan bergerak. Kemandekan akan menyebabkan terjadinya anomali dalam keberlangsungan proses hidup dan kehidupan. Hal ini tak lepas dari realita bahwa hidup dan kehidupan berjalan selaras dan seiring dengan aliran waktu yang terus bergerak ke depan. Oleh sebab itu, konsep tentang pemikiran, budaya, adat istiadat, dan sistem sosial perlu untuk ditilik kembali relevansinya dengan konteks zaman yang tengah berlangsung dan yang akan datang.

Agar lebih jelas, mari kita berdiskusi sejenak tentang konsep-konsep pembaruan yang oleh mayoritas manusia dianggap sebagai pemberontakan terhadap apa yang mereka anggap sebagai “kebenaran” dan “kewajaran”. Namun karena keterbatasan tempat dan waktu, serta agar Anda tidak semakin jenuh membaca tulisan ini, maka sebaiknya kita hanya berdiskusi tentang beberapa konsep pembaruan yang menurut saya urgen untuk dibahas dan (lagi-lagi menurut saya) sebenarnya sangat dibutuhkan oleh kita semua.

Pertama, pembaruan pendidikan. Di era modern ini, mau tidak mau penyelenggara pendidikan dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, baik secara langsung maupun tidak, harus legowo dan terbuka terhadap pembaruan konsep-konsep pendidikan yang sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan. Jika tidak demikian, upaya membangun dan meningkatkan mutu pendidikan tak ubahnya retorika yang utopis belaka. Beberapa pembaruan bidang pendidikan yang seringkali mendapatkan sorotan tajam adalah perubahan paradigma pembelajaran dari Teacher Centered  ke Student Centered. Pergeseran paradigma ini seringkali dianggap menghilangkan kharisma pendidik di mata peserta didik. Anggapan ini muncul karena, paradigma Student Centered memposisikan peserta didik sebagai pusat pembelajaran, sementara pendidik sebagai fasilitator, motivator, sekaligus sahabat bagi mereka. Pergeseran peran ini di satu sisi semakin membuka peluang bagi peserta didik untuk mengekspresikan dirinya, membangun dan mengembangkan bakat, minat, dan ketertarikan mereka pada bidang-bidang masing-masing. Akan tetapi, di sisi lain, pergeseran ini juga membawa dampak berubahnya relasi yang terbangun antara pendidik dan peserta didik, yaitu semakin terbuka, egaliter, dan luwes. Namun, pada kasus-kasus tertentu peserta didik berlebihan dan salah dalam memahami posisinya, sehingga rasa hormat yang harusnya mereka tujukan kepada pendidiknya kerap dilupakan. Apakah karena hal ini saja kemudian kita menolak pembaruan tersebut? Jika memang sikap hormat peserta didik mulai hilang akibat paradigma ini, bukankah justru menjadi tugas pendidik untuk mengembalikannya?

Kedua, pembaruan Islam. Isu tentang pembaruan ini, selalu menjadi diskursus yang selalu “seksi” untuk dibahas. Hal ini tak lepas dari kenyataan bahwa Islam merupakan agama yang universal dan mampu mewadahi keragaman pemikiran, pemahaman, dan gagasan manusia. Maka dari itu, bukanlah hal yang mengherankan jika terdapat begitu banyak aliran-aliran, madzhab, dan organisasi Islam di dunia ini. Bahkan, pengamalan ajaran-ajaran Islam di satu bangsa atau negara acap kali berbeda dengan bangsa atau negara lain. Islam juga merupakan agama yang ajarannya komprhensif (syumuliah) mencakup semua dimensi kehidupan manusia. Hal ini meniscayakan terjadinya perbedaan dalam aplikasinya karena pengaruh budaya, adat isitiadat, dan sistem sosial yang terbangun. Perbedaan ini menjadi indah jika umat Islam memiliki kedewasaan dalam beragama dan benar-benar meneladani apa yang diajarkan oleh Rasulnya, Muhammad Saw. sebagaiamana telah dilakukan oleh generasi awal umat ini. Namun sungguh disayangkan, fasilitas yang diberikan Islam ini belum sepenuhnya difahami oleh umatnya. Realita bahwa ramainya perang argumen, saling hujat, hate speech, bahkan saling mengkafirkan di beberapa kalangan Umat Islam dewasa ini menjadi bukti bahwa kedewasaan berpikir dan bergama mereka agaknya perlu dipertanyakan.

Fenomena tersebut dipicu oleh perbedaan dalam menafsirkan dan memahami ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Nabi. Perbedaan penafsiran dan pemahaman ini dipengaruhi oleh keluasan wawasan, kedalaman ilmu, kematangan pribadi, dan konteks budaya. Sebagaimana diungkapkan di muka, bahwa resistensi terhadap pembaruan timbul akibat kristalisasi pemikiran yang meng-absolut-kan kebenaran tradisi, adat istiadat, budaya dan sistem sosial. Agaknya hal ini pula yang terjadi pada sebagian umat Islam. Mereka yang “alergi” terhadap pembaruan konsep, gagasan, ide, dan pemikiran tentang ajaran-ajaran Islam disebabkan oleh terjadinya kristalisasi pemikiran yang meng-absolut-kan karya-karya pemikiran ulama klasik. Sehingga jika ada gagasan, pemikiran, dan ide baru yang dianggap bertentangan dengan apa yang mereka absolutkan itu, mereka akan serta merta menolaknya tanpa berpikir untuk mengkajinya terlebih dahulu. Beberapa pemahaman Islam yang seringkali memicu hal antara lain pemahaman yang bersifat tekstualis, formalis, dan fundamentalis. Bukankah untuk memhami Islam tidak hanya melalui teks? Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an sendiri, bahwa ayat-ayat Allah juga terhampar luas di jagad raya ini. Bukankah yang terpenting dalam Islam adalah substansinya? Bukankah Islam adalah agama yang menghendaki pemeluknya untuk selalu optimis dan progresif, tidak terbelenggu dalam kejumudan?

Ketiga, pembaruan sistem sosial. Sama halnya dengan pembaruan pada bidang-bidang lainnya, pembaruan pada bidang sosial ini pun telah banyak melahirkan teori-teori sosial baru. Seperti yang dinyatakan oleh Emil Durkheim dengan Teori Solidaritas Sosialnya, Max Weber dengan Teori Tindakan Rasionalnya, Karl Max dengan Teori Struktural-Fungsionalnya, dan sebagainya. Satu di antara fenomena sosial yang menjadi objek kajian pembaruan adalah gender. Namun belum ada teori yang secara khusus membahas fenomena ini. Sehingga untuk mendekatinya, digunakan teori-teori lain seperti Teori Struktural-Fungsional, Teori Sosial-Konflik, Teori Feminis Liberal, Teori Feminis Marxis-Sosialis, Teori Feminis-Radikal, Teori Ekofeminisme, dan Teori Psikoanalisa.[1]

Gender dalam pandangan Lips adalah “cultural expectations for women and men,” atau harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Sementara menurut Mufidah Ch., gender adalah sifat atau karakter yang melekat pada dua jenis kelamin yang dikonstruksi secara sosial dan kultural.[2] Konstruksi sosial yang terbangun selama ini kerap kali merugikan salah satu jenis kelamin, sehingga menimbulkan kesenjangan dalam pemerolehan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat dari segala jenis bidang kehidupan. Sebagai akibatnya muncullah subordinasi, stereotype, dan beban ganda terhadap salah satu jenis kelamin. Gender mainstreaming merupakan salah satu upaya untuk mendobrak kemapanan konstruksi sosial yang tidak sesuai dengan fitrah manusia tersebut. Namun, sampai dengan saat ini diskursus tentang gender mainstreaming masih saja menuai pro dan kontra. Bukankah semua manusia sama derajatnya? Bukankah kita sepakat bahwa semua manusia mempunyai hak mendasar yang melekat pada diri masing-masing?

Berdasarkan uraian singkat tersebut, masih layakkah kita “alergi” terhadap pembaruan? Masih tepatkah kita antipati dan apatis terhadap gagasan-gagasan yang justru penting untuk kehidupan kita? Sepanjang gagasan dan pemikiran yang ditawarkan adalah demi kemanusian, maka sudah sepatutnya kita pertimbangkan aplikasinya. Bukan justru mengabaikan, bahkan mencela dan menuduh yang bukan-bukan sebelum mempelajarinya.

[1] Marzuki, Kajian Awal tentang Teori-Teori Gender, http://staffnew.uny.ac.id/upload/132001803/penelitian/25.+Kajian+Awal+Tentang+Teori-Teori+Gender.pdf, diakses tanggal 23 Januari 2018 pukul 11:36 WIB

[2] Muidah Ch., Strategi Implementasi Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan Islam, Al-Tahrir Vol.11, No. 2, (November, 2011), hlm. 395

Pentingkah Mengetahui Karakter Anak?

0

Ayah Shalih dan Bunda Shalihah, dalam keseharian, sering kali saya didaulat untuk membersamai acara-acara parenting. Mulai dari acara parenting di sekolah tempat anak-anak saya menimba ilmu, sekolah tempat anak-anak teman atau sahabat menimba ilmu, sampai Play Group, TK yang sudah mengenal saya. Namun bukan hal ini yang ingin saya sampaikan, melainkan tentang request (permintaan) mereka untuk menganalisa karakter anak. Antusiasme mereka dalam pengenalan dan pemahaman karakter anak rupanya cukup tinggi.

Hal ini membuat saya salut sekaligus bangga dan terharu. Mengapa? Karena antusiasme itu menandakan bahwa orang tua peduli dengan karakter anak. Peduli, dan menempatkannya pada posisi penting. Baiklah, izinkan saya mengajukan satu pertanyaan, pentingkah orang tua mengetahui karakter anak?

Jawabannya adalah penting.

Mengapa penting?

Karena dengan mengetahui karakter anak, ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh orang tua:

Bisa menerapkan pola 3A (Asah, Asih, Asuh) terhadap anak dengan lebih tepat karena dapat menyesuaikan dengan karakternya.
Dapat menentukan bakat anak, sehingga orang tua tidak keliru dalam menyalurkannya.
Dapat menghindari konflik dengan anak, karena orang tua bisa lebih ngemong dalam mendidik, membimbing dan membersamai anak.

Sedangkan keuntungan bagi anak:

Terhindar dari konflik, tekanan dan pemaksaan sehingga mendapatkan kesejahteraan batin.
Dapat membangun harga diri dan percaya diri yang kuat.
Dapat membangun bakat yang akan sangat bermanfaat bagi prestasi hidupnya.

Nah, demikianlah beberapa hal penting yang dapat saya sampaikan tentang penting atau tidaknya mengenali dan memahami karakter anak. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi reminder bagi kita.

Mengenai karakter itu sendiri, sebenarnya adalah watak dari kedua orang tua yang diturunkan kepada anak. Sementara watak adalah sifat khusus yang muncul dalam perilaku. Misalnya: Tertutup, pendiam, temperamental.

Nah, Ayah Shalih dan Bunda Shalihah, mari kita coba mengenali dan memahami karakter anak dari watak kita, yuk? Selamat mencoba!

Sleman, 21 Januari 2018
Humairah Samudra. Penulis yang juga anggota Indonesia Menulis Online. Saat ini bersama anggota group yang berafiliasi di whatsapp sedang mengerjakan proyek menulis bersama tentang Cerita Anak.

Penjelasan Sederhana Sekitar Literasi

0

Pagi dihiasi rintik hujan di Sleman. Apa kabar kalian di sana? Semoga senantiasa dalam naungan cinta dan kasih sayang Allah. Aamiin Yaa Allah.

Jadi, pagi tadi saya kembali merenung tentang sebuah kata, literasi. Apakah sebenarnya literasi itu? Dan apakah literasi hanya tentang menulis semata?

Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis.

Literasi juga dapat diartikan sebagai kemampuan ‘melek’ huruf (aksara) yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Jadi, literasi mencakup ‘melek’ visual, yaitu kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (video/gambar).

Menurut NIFL (National Institute for Literacy), literasi adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.

Sedangkan menurut EDC (Education Development Center), literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis. Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan keterampilan (skills) yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup membaca kata dan dunia.

Nah, dari berbagai pengertian di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa literasi adalah kemampuan memahami informasi dalam membaca, menulis dan segala proses yang terkait di dalamnya. Seperti berbicara, berkomunikasi, menghitung, mengukur, menggambar, sosialisasi dan memecahkan masalah.

Alhamdulillah. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat, ya?

Oh iya, ingin Anak-anak Negeri sadar literasi? Aktifkan literasimu dan ajaklah mereka!

Tidak harus dengan menulis atau membaca saja, tetapi bisa juga dengan role playing (bermain peran), bercerita atau simulasi problem solving. Bersemangat!

Sleman, 20 Januari 2018
Humairah Samudra. Penulis yang juga anggota Indonesia Menulis Online. Saat ini bersama anggota group yang berafiliasi di whatsapp sedang mengerjakan proyek menulis bersama tentang Cerita Anak.

Pola Komunikasi dalam Sebuah Keluarga, Sebuah Kisah Nyata

0

SeninKamisBerbagi [2]

Assalamu’alaikum, Ayah Shalih & Bunda Shalihah
Apa kabar? Semoga senantiasa dalam rahmat dan barakah Allah, ya?

Jadi, pagi ini saya ada secuil cerita nyata tentang sebuah pola komunikasi. Pola komunikasi yang saya maksud di sini, adalah pola komunikasi dalam sebuah keluarga. Oke, kita samakan persepsi terlebih dahulu, ya? Keluarga, terdiri dari Ayah, Bunda, Anak-anak, Kakek, Nenek, Om, Tante, Budhe, Pakdhe, Keponakan, Driver, Pembantu, atau siapa saja yang tinggal dan hidup bersama dalam satu rumah. Nah, jika persepsi kita sudah sama, mari kita lanjutkan pembahasan mengenai pola komunikasi dalam keluarga.

Ayah Shalih & Bunda Shalihah, dalam setiap keluarga, secara otomatis akan terbentuk sebuah pola komunikasi. Bagaimana terbentuknya? Fondasinya adalah sebuah kebiasaan dan bangunannya adalah pembenaran atas kebiasaan itu.

Kita ambil sebuah contoh, keluarga A dengan anggota keluarga Mommy, Daddy dan Anne. Mereka bukannya tidak pernah berkomunikasi, justru komunikasi merek sangat intensif. Tetapi, yang menjadi permasalahan adalah pola komunikasi mereka terbentuk dengan isyarat-isyarat dan media. Misalkan Mommy akan mengajak mereka makan malam, cukup dengan membunyikan lonceng yang stand by di meja makan. Semua akan mengerti dan segera berdatangan. Ketika hendak memulai makan, Daddy cukup menundukkan kepala sebagai isyarat mengajak Mommy dan Anne berdoa. Semua mengerti, semua berdoa. Lalu, saling menatap dalam senyuman dan mulai makan. Begitu juga dengan hal-hal yang lain, semua dikomunikasikan dengan isyarat dan media. Chatting via WhatsApp, Note yang tergantung cantik di pintu kulkas atau di pintu kamar masing-masing. Telepon hanya akan digunakan pada saat darurat.

Apakah pola komunikasi di atas salah? Tidak, tidak salah! Tetapi, inilah beberapa permasalahan yang dapat ditimbulkan :

Sewaktu di luar rumah, mereka akan mengalami kesulitan dalam bersosialisai atau presentasi
Akan membentuk pribadi-pribadi introvert yang dalam waktu panjang pasti akan mengunduh permasalahan tersendiri, misalnya adaptasi dengan kehidupan baru.
Keterbatasan media dalam penyampaian pesan dapat menimbulkan permasalahan

Contoh yang kedua, kita ada keluarga yang terdiri dari Ayah, Bunda, Najwa, Aldie dan Bi Imah. Mereka memiliki pola komunikasi yang unik. Karena kesibukan masing-masing, Ayah memutuskan untuk mengambil waktu antara ‘Ashar dan Maghrib untuk minum teh bersama. Dalam acara itu, Ayah mewajibkan seluruh anggota keluarga untuk hadir. Termasuk pembantu mereka, Bi Imah. Nah, di sanalah mereka mengobrol, diskusi, sharing … Pokoknya menceritakan segala hal yang terjadi dalam sehari. Semua cerita harus didengarkan dan diapresiasi dengan baik.

Pola komunikasi ini hebat. Menekankan pada kualitas komunikasi. Keterbukaan dan kejujuran terhadap keluarga, dapat membentuk pribadi yang empati, apresiatif, kooperatif dan bersedia menjadi pendengar yang bijak.

Ada satu contoh lagi, pola komunikasi dalam sebuah keluarga Long Distance Relationship. Nah, mereka memprioritaskan komunikasi dengan saling menghubungi setiap pagi, siang, sore dan malam sebelum tidur. Saling menanyakan kabar, saling support dan terkadang diskusi untuk menemukan solusi permasalahan tertentu.

Ayah Shalih dan Buda Shalihah, bagaimana dengan keluarga Anda?
Pola komunikasi seperti apa yang terbentuk selama ini?

Sleman, 15 Januari 2018
Humairah Samudra. Penulis yang juga anggota Indonesia Menulis Online. Saat ini bersama anggota group yang berafiliasi di whatsapp sedang mengerjakan proyek menulis bersama tentang Cerita Anak.