Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 81

Selamat Mudik, Dari Allahu Akbar hingga Via Valen

0

Mudiklah untuk belajar menjadi Indonesia. Cintailah Indonesia sebagaimana kita membela kampung halaman. Maka sebenarnya Indonesia bukan tentang keraguan apakah Garuda Pancasila kamu anggap simbol kemusyrikan tetapi ia penanda bahwa agar kampung halaman Indonesia tetap sebagai rumah aslimu. Mudiklah dengan bahagia karena Indonesia itu juga kampung halaman kita. Kita akan selalu ketemu saudara yang menjadi wadah kisah bahagia.

Pulang adalah perjalanan yang selalu menggembirakan, begitu kata Prof. Komarudin Hidayat suatu waktu. Walaupun berulang kali kita lakukan, pulang tetap memiliki nilai lebih yang mampu membahagiakan. Mahasiswa tetap bergembira kuliahnya selesai dan pulang ke kosan, meski baru saja diberi tugas yang menumpuk. Pekerja pulang dengan jumawa meski besok tetap harus menyelesaikan deadline. Pulang adalah jeda dari rutinitas.

Bagi muslim Indonesia, mudik merupakan salah satu keduniawian yang tiap prosesnya dilakukan dengan sepenuh hati.

Menjelang lebaran ramai orang-orang mudik. Bagi muslim Indonesia, mudik merupakan salah satu keduniawian yang tiap prosesnya dilakukan dengan sepenuh hati. Hampir tidak ada orang yang mudik dengan perasaan berat hati. Walau harga tiket mahal, walau ketemu mantan (beranak satu) di kampung bisa terjadi atau resiko apapun yang akan ditemui kelak, pulang untuk mudik tetap amboy rasanya.

Kenapa orang bahagia ketika pulang untuk mudik? Pertama, bisa kita kembalikan di kalimat pertama tulisan ini. Kedua, karena tiap kita butuh merawat kenangan tentang asal muasal kita. Saya bisa saja menggunakan dalil agama untuk menjelaskan poin kedua, tetapi seperti kata presiden SBY;

“Tentu saya bisa jelaskan. Tapi tak perlu dan tak baik di mata rakyat. Apalagi saat ini kita tengah menghadapi masalah keamanan, politik, dan ekonomi,” kata SBY dalam twitnya, Selasa (15/5/2018).

Mari Pulang Menjadi Indonesia

Rasa-rasanya mudik adalah momentum baik untuk saling memaafkan. Harusnya begitu, namun tetap saja selalu ada ruang dijadikan tempat saling senggol hanya karena beda pandangan. Misal masa depan presiden. Ada yang minta klakson 3x, ada yang beri ucapan “Anda berada di tol Jokowi”. Melihat hal ini, saya ingin menjadi SBY berkata; saya perihatin.

Alangkah canggungnya kita, ketika jauh-jauh mudik dan enak-enak makan opor ayam, tetiba mertua keluar menggunakan kaos #2019GantiPresiden saat kita menggunakan kaos “Dia sibuk kerja”. Percayalah opor ayam bisa jadi rasa ayam geprek; pedas.

Sudahlah. Rehatkanlah sejenak hati dan pikiranmu untuk sekat-sekat. Mudik untuk berkumpul dan berbahagia bersama. Barangkali mudik sebagai wadah pengingat asal-muasal agar kita kembali menjadi orang Indonesia yang bersatu, adil dan santun. Alangkah canggungnya kita, ketika jauh-jauh mudik dan enak-enak makan opor ayam, tetiba mertua keluar menggunakan kaos #2019GantiPresiden saat kita menggunakan kaos “Dia sibuk kerja”. Percayalah opor ayam bisa jadi rasa ayam geprek; pedas.

http://kampusdesa.or.id/pendidikan-yang-memanusiakan-bukanlah-mitos/

Mudik adalah pulang untuk berlebaran bersama sanak keluarga. Saat ditanya apa kabarmu? Jawablah dengan tiga jawaban; Alhamdulillah, luar biasa, Allahuakbar. Begitupula jika ditanya siapa saudaramu? Jawablah ada tiga yaitu saudara sesama muslim (ukhuwah islamiyah), saudara sebangsa-se tanah air (ukhuwah wathaniyah), dan saudara sesama manusia (ukhuwah basyariyah). Namun, jika ditanya siapa artis dangdut idolamu? Jawabannya hanya satu; Via Valen!

Jangan hanya fisik (lahir) yang pulang dan berjabat tangan, tetapi perasaan dan segala prasangka (batin) pun harus pulang sebagai manusia Indonesia yang utuh.

Jika kita merasa bahwa mudik adalah pulang, maka jangan hanya fisik (lahir) yang pulang dan berjabat tangan, tetapi perasaan dan segala prasangka (batin) pun harus pulang sebagai manusia Indonesia yang utuh. Bertuhan, mampu memanusiakan, menjaga persatuan, bijaksana dan mampu bermusyawarah bukan saling lapor, dan bersikap keadilan kepada siapapun.

Penutup, selamat mudik, salam untuk keluarga di kampung halaman. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Mantan sudah ke penghulu, kok kamu lebarannya masih sendirian?. Hehe.

Damai dengan Tumpukan Kesibukan

0

Kesibukan seseorang akan menjadi gejala kegalauan dan sebaliknya, kedamaian. Sibuk bisa menjadi penghalang bagi kita untuk selalu membuat privilege sehingga mengesankan jika kita adalah orang yang super hebat. Begitukah kita? Sibuk menjadi tidak sibuk saat pengelolaan waktu dapat diciptakan dengan tepat. Meskipun secara nyata memang kita sibuk, tetapi dengan kemampuan mengelola waktu, kesibukan menjadi aktifitas yang mendamaikan. Kok bisa! 

Masih mau mengeluh karena banyak tugas yang menumpuk? Atau masih tetap marah karena berulangkali revisi tugas yang ada dan pada ujungnya hasilnya tetap tidak memuaskan? Apakah memang sudah yakin benar apa yang telah anda kerjakan? Ataukah karena itu kita gagal dalam sesuatu hal? Dan apakah kesibukan yang kita lakukan telah berakhir sia-sia?

Sibuk, memang itulah tugas sebagai manusia, kalau mau menghindar coba lihat tujuan dan niat awal kenapa mau melakukannya. Sudah menjadi kewajiban dan memang anda sendiri yang telah menentukan pilihannya.

Jadilah yang berbeda agar tetap menjadi idola. Bukan dengan menjadi kebanyakan yang orang lakukan, namun majulah dengan potensi yang saat ini belum berkembang dengan baik dalam diri kita.

Kalau dilihat dan dirasakan, kita selalu berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. Tentu saja hal ini penting, karena dalam diri manusia ada kebutuhan dasar  yaitu  eksis/pengakuan dari orang lain (untuk dapat dikenal oleh banyak orang).

Apakah setiap individu memiliki kesempatan yang sama agar dia juga diakui oleh orang lain, dikatan hebat, genius dan berbakat oleh orang lain? Lalu bagaimana setiap orang dapat melakukannya?

Ada satu hal yang tidak banyak disadari oleh manusia, mereka berjuang keras menyibukkan diri mereka, agar hasilnya dapat dikenal oleh teman-temannya. Lalu apakah mereka menikmati kesibukan yang mereka jalani kalau tujuan utama yang mereka miliki bukan untuk membahagiakan diri mereka sendiri?.

Orang selalu ingin dianggap bahwa merekalah yang paling sibuk diantara yang lainnya. Dari segudang kesibukan itulah, orang akan menganggap bahwa dialah yang paling hebat, yang paling banyak memanfaatkan waktu dan peluang yang ada.

Dengan berbagai kegiatan yang padat, dari dini hari hingga petang, sampai melupakan waktu berharga mereka untuk beristirahat. Mereka menganggap bahwa mereka telah menggenggam dunia mereka. Selalu ada yang ingin mereka tunjukkan agar dapat diakui oleh yang lain.

Banyak kisah yang saya dengar, mengenai orang-orang yang telah berhasil karena segudang kesibukan yang mereka miliki, namun ada satu kisah kesibukan yang tak banyak orang dapat melakukannya. Kesibukan yang apabila dilakukan tidak pernah membuat kelelahan berkepanjangan dan yang pasti inilah yang diharapkan.

Kita dapat belajar banyak dari kisah ini. Kisah seorang wanita, ibu rumah tangga dan juga sedang menempuh pendidikan S3, dengan 2 orang anak yang cerdas yang menjadi kebanggan di sekolahnya. Wanita ini juga menjadi dosen di salah satu kampus negeri yang ternama di indonesia. Selain dua kesibukan itu, ada satu kesibukan di belakang layar yang menjadi kekaguman tersediri, yaitu pesantren yang didirikannya. Pesantren dengan 50 lebih santri dari kalangan mahasiswa yang semuanya adalah pecinta dan penghafal al-Qur’an.

Kampus, pesantren, dan keluarga adalah arena kesibukannya. Mengurus mahasiswa, mahasantri, anak dan juga suami setiap hari. tidak banyak wanita yang dapat melakukan kepadatan waktu sedemikian rupa. Kalau di fikir secara nalar, begitu berat tanggungjawab yang harus dijalani.  Tapi dengan kepadatan jadwal tersebut beliau juga telah berhasil mendapatkan gelar Doktor di usia yang masih muda.

Menjadi contoh wanita karier di zaman sekarang, tidak hanya kesibukan dunia yang dijalaninya, namun juga kesibukan untuk tabungan akiratnya. Sosok idola bagi calon wanita karier yang ideal. Tetap tenang dan terlihat nyaman dengan tumpukan aktivitas setiap harinya. Satu kesibukan lagi yang menjadi kepadatan waktunya, beliau adalah seorang penghafal al-Qur’an. Bagaimana beliau dapat melakukan semua kesibukannya dalam waktu 24 jam  dengan rutin? Beliau selalu berperang dengan waktu, bangun tidur hingga tertidur kembali. Semua aktivitas dijadikan berkualitas.

“Semakin kita menyibukkan diri kita, akan semakin baik managemen waktu yang kita miliki.”

Beliau selalu berpesan, “semakin kita menyibukkan diri kita, akan semakin baik managemen waktu yang kita miliki.” Lalu bagaimana tetap dapat memaknai waktu dengan aktivitas-aktivitas yang selalu membuat kita penat dan lelah? Yang kenyataannya Orang selalu menginginkan semuanya berakhir dengan baik, mereka berusaha keras agar mendapatkan hasil yang maksimal, namun mereka belum tahu cara agar semua hal dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Managemen waktu yang berkualitas akan membantu kita memudahkan segala hal yang kita jalani.

Managemen waktu yang berkualitas akan membantu kita memudahkan segala hal yang kita jalani. Lagi-lagi masalah waktu, waktu yang tidak dapat kita putar kembali ke masa yang telah kita lewatkan, karena ia akan tetap terus berjalan. Waktu yang membuat kita selalu membuat kita menjadi tersudutkan. Bagaimana kita dapat membuat waktu menjadi sahabat kita? Sehingga semua akan berakhir sesuai dengan yang telah kita rencanakan?

Sama halnya dengan yang beliau lakukan, yang paling utama adalah sibukkan dirimu dengan hal yang berkualitas, meskipun dengan tumpukan aktivitas dan rutinitas, kita akan menemukan kedamaian dari segala macam kesibukan yang kita jalani. Apa yang berkuaitas itu? Ia adalah Al-Qur’an. Orang sibuk dengan perkejaan, sibuk dengan karier itu telah banyak diluar sana, mencari kesibukan yang berbeda, kesibukan yang mengantarkan mendapat keberhasilan yang kebanyakan orang tidak sepenuhnya mendapatkan kenikmatannya.  Kesibukan yang menyejukkan hati bagi siapa saja yang melakukannya.

Yang paling utama adalah sibukkan dirimu dengan hal yang berkualitas, meskipun dengan tumpukan aktivitas dan rutinitas, kita akan menemukan kedamaian dari segala macam kesibukan yang kita jalani.

Orang sering mengeluh karena dia belum terbiasa dengan tumpukan  kesibukan, namun banyak orang yang punya kesibukan tapi tidak melancarkan harapannya, itu karena dia belum memiliki managemen waktu yang baik, apalagi yang berkualitas.

Kita tidak pernah menginginkan hal yang kita kerjakan adalah sia-sia, semua harapannya adalah kelancaran, kejayaan, dan kesuksesan. Dengan managemen waktu yang baik dan berkualitas, kita akan dapat merasakan damai meskipun dengan segudang aktivitas setiap hari.

Dengan managemen waktu yang baik dan berkualitas, kita akan dapat merasakan damai meskipun dengan segudang aktivitas setiap hari.

Sama halnya ketika menjadi pelajar harus siap untuk sibuk, tidak hanya sekedar sibuk karena tugas yang menumpuk, tapi juga sibuk dengan waktu yang terus mengejar dan memaksa untuk segera selesai. Belum lagi dengan tuntutan dan keganjalan hati karena memberikan beban yang semakin berat pada orangtua.

Kita dapat belajar dari kisah yang sangat luar biasa tersebut. dengan belajar mengatur waktu dengan baik dan berkualitas akan sangat membantu kita dalam menyelesaikan semua pekerjaan yang ada dihadapan kita. Tidak hanya sekedar selesai namun dapat mengambil makna dari apa yang telah kita kerjakan.

Nigarin Situbondo, Keajaiban Air Laut

0

Nigarin, sari air laut yang tiada batas jumlahnya tentunya sangat mudah kita dapatkan di bumi Indonesia. Tahukah bahwa di situ ternyata berlimpah nikmat Allah yang tiada gunanya. Setelah dipadukan dengan tanaman Azadirachta Indica, ternyata Nigarin sangat potensial menyembuhkan aneka penyakit, bahkan penyakit yang dibilang sebagai penyakit degenerative (seperti jantung, diabetes, kolesterol dan lain sebagainya).

Kira kira 200 meter jarak antara rumah ke pantai. Deru ombak kadang sayup sayup terdengar. Terlintas dalam pikiran untuk mengambil manfaat dari melimpahnya air laut. Tiba tiba disepuluh awal bulan Ramadhan timbul keinginan menggebu untuk bereksperimen dengan air laut.

Di pagi hari kami mengambil air laut (ditengah laut) untuk mendapatkan air laut yang bersih untuk kemudian kami campurkan dengan tanaman yang kaya manfaat yang memang banyak tumbuh di daerah sekitar pantai. Tanaman itu adalah Azadirachta Indica.

Akhirnya dengan formulasi tertentu, kami mendapatkan sari air laut (yang di dunia orang mengenal dengan istilah Nigarin). Nigarin yang sangat bermanfaat untuk kesehatan.

Nigarin sudah sejak lama digunakan untuk detoksifikasi antara lain untuk mengeluarkan racun tubuh, perawatan dan kecantikan kulit, dapat mencegah osteoporosis, dapat mencegah kerusakan gigi dan gusi, dapat mengatasi penyakit diabetes, dapat memblokir & membakar lemak, mencegah batu ginjal dan batu saluran kencing, mencegah kejang otot, mengatur detak jantung, mencegah jantung koroner, mencegah hipertensi & stroke, dan lain-lain.

Tapi Nigarin hasil eksperimen kami lain dari yang lain karena kami mencampurkan air laut dengan daun Azadirachta Indica dengan perbandingan tertentu, kemudian dijemur dibawah terik matahari sehingga tersisa sari air laut yang sudah memadat bersama sari daun Azadirachta Indica.

Inilah nigarin dari Situbondo yang akan kami kembangkan terus untuk bisa dimanfaatkan untuk memelihara kesehatan, mencegah datangnya penyakit, dan juga untuk mengatasi berbagai macam penyakit.

Dan di sepuluh akhir bulan ramadhan ini, percobaan membuat nigarin Situbondo sudah menampakkan hasil tinggal sedikit penyempurnaan. Wallahu A’lam

aGUS MULyono, Situbondo 12 Juni 2018

Tulisan ini direpost dari facebook penulis. Silahkan mengikuti hasil-hasil eksperimennya di linimasa aku media sosialnya.

Solusi Guru dalam Menghadapi Tantangan Zaman Now

Revolusi teknologi dan informasi memapar seluruh jantung kehidupan manusia. Siapapun yang sudah menggengam gawai akan bergerak menjadi tubuh virtual, tubuh yang dimainkan kedalam narasi media sosial dan internet. Imajinasi dan laku orang bergeser menjadi dominan dalam komunikasi dunia maya, bahkan orang banyak melakukan penyerapan ilmu pengetahuan dan perubahan diri dari internet. Buku pelajaran dan guru dikalahkan oleh kekuatan kecerdasan artifisial bagi orang-orang yang cerdik memanfaatkan gawai. Lantas, apakah guru menyadari ketika pidato mereka di kelas akan semakin ditinggalkan muridnya dan buku-buku teks hanya diakui sebatas seremonial kelas dan ujian-ujian, sementara anak-anak telah melejit melampaui kelas dan teks-teks buku pelajaran dalam menguasai ketrampilan atau passionnya.

Ibarat pisau, jika digunakan oleh penjahat, bisa jadi digunakan sebagai alat untuk mengancam bahkan melukai orang lain. Namun jika digunakan oleh ibu di dapur, pisau sebagai alat bantu yang sangat penting dan sangat berguna untuk membantu mengiris dan memotong bahan makanan (sayur, bumbu, daging, dan lain-lain).

Seperti halnya itulah kemajuan dunia informasi dan teknologi saat ini. Internet dan media sosial ibarat pisau, jika digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab atau orang jahat, tentunya internet dan media sosial merupakan media yang sangat terbuka untuk berbuat jahat, misalnya melakukan penipuan, pencurian, penyebaran berita bohong (hoax), fitnah, pornografi, plagiat tulisan dan lain sebagainya.

Kemajuan teknologi yang kian tak terbendung inilah tantangan guru zaman now. Bagaimana seorang guru mampu mengatasi tantangan tersebut dan memberikan solusi terbaik untuk mengatasinya demi anak didiknya. Teknologi bukan untuk dihindari dan tidak digunakan sama sekali, namun justru bisa digunakan untuk pengembangan media pembelajaran dan dimanfaatkan untuk mencari ilmu pengetahuan dengan mudah, cepat dan praktis

Guru harus update perkembangan teknologi, karena dengan internet dan media sosial sangat berguna dan membantu dalam mengembangkan metode pembelajaran,

Guru harus update perkembangan teknologi, karena dengan internet dan media sosial sangat berguna dan membantu dalam mengembangkan metode pembelajaran, membuat media pembelajaran, mencari informasi tentang pendidikan, mengakses dan mengunduh buku-buku pendidikan dan tak kalah penting adalah bisa digunakan sebagai wahana promosi dan penyebaran ide-ide pendidikan dengan menuliskan ide/ pemikiran tulisan di media sosial agar dibaca oleh banyak orang.

Dalam zaman now, yaitu era globalisasi dengan keterbukaan informasi dan teknologi yang berkembang pesat dan tidak bisa dibendung lagi, mau tidak mau dan suka tidak suka sebagai guru harus mampu memanfaatkannya untuk hal dan tujuan positif dalam mencapai tujuan pendidikan. Di dalam menggunakan internet misalnya, salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah, guru bisa dengan mudah menemukan video-video pembelajaran yang dapat diunduh di youtube dan sesuai dengan materi yang diajarkan, kemudian ditayangkan kepada peserta didiknya di dalam kelas melalui LCD Proyektor.

Terutama guru tingkat dasar (SD/MI), yang masih berpikir kongkrit, video pembelajaran dan gambar-gambar pendidikan sangat berguna dan membantu siswa dalam memahami dan menyimpulkan materi pelajaran yang diajarkan oleh guru.

Sangat mudah dicari di dunia maya media-media pembelajaran, gambar-gambar pendidikan dan lain sebagainya, asalkan menyempatkan diri untuk mencarinya. Tinggal ketik nama video pembelajaran di youtube, akan keluar video yang kita inginkan, begitu pula dengan media gambar-gambar pendidikan, tinggal ketik di google saja. Terutama guru tingkat dasar (SD/MI), yang masih berpikir kongkrit, video pembelajaran dan gambar-gambar pendidikan sangat berguna dan membantu siswa dalam memahami dan menyimpulkan materi pelajaran yang diajarkan oleh guru.

Asalkan guru mau menyempatkan waktu untuk mencari dan mengembangkan ide yang bertebaran di internet, pasti bisa dimanfaatkan dengan baik dalam upaya mengembangkan pendidikan. Selain itu internet dan media sosial dapat digunakan sebagai ajang promosi dan iklan gratis berbagai kegiatan yang telah dilakukan oleh guru dengan berbagi foto-foto dan video-video kegiatan yang telah dilakukan oleh guru.

Kemudian apabila guru mau menuliskan kegiatan inovasi pendidikannya tersebut dalam artikel atau Karya Tulis Ilmiah (KTI) bisa dibukukan sehingga akan mendapatkan nilai angka kredit yang bisa digunakan sebagai penghitungan nilai kenaikan pangkat atau bisa juga diikutkan lomba inovasi pembelajaran guru yang sering diadakan oleh Kementerian Pendidikan maupun instansi-instansi yang lain. Siapa tahu bisa menang dan diberi kesempatan presentasi dan berbagi ilmu kepada guru-guru yang lain. Sehingga bisa lebih bermanfaat dan memberi inspirasi bagi bagi banyak orang. Yang juga sebagai bentuk pengamalan Hadist yang diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda,”Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni). Insyaallah.

Cerdas Otak, Cerdas Hati dan Cerdas Religi

Guru memang sosok yang sakral dan wajib sepertinya memiliki keutuhan intelektual. Mereka tidak hanya memiliki kemampuan profesional dalam mengajar, tetapi mereka sudah selayaknya terus belajar untuk membangun ketajaman budi, sebuah lanskap kemampuan cerdas dengan otaknya, hatinya dan agamanya.

Hari Sabtu, pukul 14.00 saya menghadiri undangan dari Bapak Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kementerian Agama Kabupaten Malang, Bapak Dr. H. Muhammad Arifin, M.Pd, untuk menghadiri acara penerahan nilai UAMBD (Ujian Akhir Madrasah Bersatndar Daerah), USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) dan sosialisasi petunjuk teknis penulisan blangko ijazah, bagi kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri dan Swasta di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Malang.

Dari beberapa yang disampaikan Bapak Arifin, ada satu hal yang menarik dan mengena di hati dan pikiran saya serta menyentuh relung hati perasaan saya, baik sebagai saya pribadi maupun status saya sebagai seorang guru. Beliau titip kepada para guru yang hadir dalam acara tersebut agar mendidik anak didiknya hingga menjadi anak yang cerdas otak, cerdas hati dan cerdas religi. Tentunya untuk menjadikan anak didik tiga hal di atas, seorang guru terlebih dulu juga harus memiliki tiga hal itu. Tidak mungkin guru berhasil menjadikan anak didiknya menjadi anak yang cerdas otak, cerdas hati dan cerdas religi kalau dalam diri seorang guru belum memiliki ketiga hal tersebut dalam dirinya secara satu kesatuan dan menyeluruh.

Akan saya terjemahkan dan uraikan maksud Bapak Arifin satu per satu sesuai dengan pemahaman saya. Pertama, cerdas otak, maknanya adalah seorang yang berprofesi guru semestinya adalah sosok manusia yang lebih daripada profesi lain pada umumnya, yaitu harus pandai dan terampil dalam menjalankan tugas, pokok dan fungsinya sebagai guru. Pandai dan terampil bisa dibuktikan dengan ijazah, sertifikat, piagam penghargaan, prestasi, temuan inovasi pendidikan, kreatifitas mengajar, pengembangan media pembelajaran, kemampuan membimbing siswa hingga berprestasi dan lain sebagainya, terutama yang terkait dengan aktifitas guru.

S4 mungkin bermakna kuliah jurusan hakikat hidup di universitas kehidupan, yang bisa diambil hikmahnya setelah menjalani proses kehidupan yang tidak mudah, bagi orang-orang yang mau merenungi dan berpikir.

Pak Arifin mengatakan, seorang guru jangan sampai kalah dengan Kasi Pendma-nya yang sudah menyelesaikan S3 dan bergelar Doktor. Sampai Pak Arifin bergurau dengan mengatakan, “kalau perlu guru mengembangkan diri dengan kuliah sampai S4”. Yang saya pahami bahwasanya guru harus terus menerus belajar sepanjang hayat, karena kuliah S4 dalam lembaga formal itu tidak ada. S4 mungkin bermakna kuliah jurusan hakikat hidup di universitas kehidupan, yang bisa diambil hikmahnya setelah menjalani proses kehidupan yang tidak mudah, bagi orang-orang yang mau merenungi dan berpikir.

Pak Arifin berkata, “sekarang ini banyak orang yang cerdas otak tapi tidak cerdas hatinya”.

Kedua, cerdas hati, saya menafsirkannya adalah dimana seseorang yang dalam posisi memiliki kejernihan perasaan, kebaikan hati, ketulusan, ikhlas, adil, tanggungjawab dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, tidak tinggi hati, pemaaf, jujur, suka menolong, loyalitas tanpa batas, berintegritas, dan sifat-sifat baik lainnya yang mendarah daging dalam jiwa, hingga menjadi karakter dan sifat kesehariannya. Pak Arifin berkata, “sekarang ini banyak orang yang cerdas otak tapi tidak cerdas hatinya.” Karena itu kecerdasan otak semestinya diimbangi dengan kecerdasan hati.

Ketiga, cerdas religi, saya menerjemahkannya adalah seseorang yang memiliki rasa keimanan yang tinggi terhadap Allah Swt. Seseorang yang selalu merasa apa yang dilakukukannya dipantau oleh Allah Swt. Sehingga seseorang tersebut selain takut untuk berbuat keburukan atau kecurangan juga perilaku dan aktifitas kesehariannya senantiasa selalu diniatkan semata-mata untuk ibadah terhadap Allah Swt. Pak Arifin memiliki motto hidup yaitu; “layananku, ibadahku.” Bermakna beliau melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai Kasi Pendma, untuk melayani orang-orang yang membutuhkannya dengan semaksimal mungkin, sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Swt.

Cerdas otak, cerdas hati dan cerdas religi, harus senantiasa terus menerus kita usahakan untuk kita miliki sebagai manusia pada umumnya dan sebagai manusia yang berprofesi sebagai guru pada khususnya.

Cerdas otak, cerdas hati dan cerdas religi, harus senantiasa terus menerus kita usahakan untuk kita miliki sebagai manusia pada umumnya dan sebagai manusia yang berprofesi sebagai guru pada khususnya. Agar kita sebagai guru juga bisa mengajarkan ketiga hal tersebut pada anak didik kita. Sehingga pada akhirnya terwujudlah generasi penerus bangsa yang cerdas secara intelektual, cerdas secara moral atau sikap dan cerdas dalam nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Ketiga hal tersebut semuanya diajarkan dalam lembaga yang berbasiskan nilai-nilai agama yaitu madrasah. Insyaallah.

Bothok, Geneman, dan Hasanah Kuliner Pedesaan

0

Produk desa dalam bentuk masakan, ada yang sudah punah, ada juga yang masih bertahan. Bahkan pertahanannya telah mampu mengambil posisi penting dalam rak-rak kuliner di kota. Produk itu bernama, bothok, geneman, dan lain kota lain pula namanya. Nyatanya Trenggalek masih juga menyimpan bhotok, geneman sebagai salah satu simbol yang wajib ada dalam berbagai menu upacara hajatan/selametan.

Trenggalek-KampusDesa. Masih seputar kuliner. Di Trenggalek (nama Kabupaten sini) saja, untuk benda dan kegiatan mengolah kuliner itu saja beda. Di daerah Prigi, Kecamatan Watulimo, tempat saya lahir dan besar dulu, ada nama dan sebutan Bothok. Ternyata, nama dan istilah ini digunakan secara berbeda oleh Kecamatan lain, termasuk kota lain untuk menyebut suatu makanan secara berbeda.

Yang dimaksud Bothok di Prigi itu adalah olahan ikan laut yang dibuat agak “buthuk” atau agak membusuk, lalu diolah dengan bumbu. Biasanya yang sering saya jumpai, karena sering dimasak oleh (alm.) Mbok saya, adalah ikan Layur. Ikan itu dibiarkan selama sehari semalam tanpa pendinginan, agar agak membusuk, lalu diolah dengan bumbu, dan kemudian dicampur kelapa muda. Dibungkus dengan daun pisang atau istilahnya “Digenemi”. Dan bungkusan itu namanya “Geneman”.

Nah, Geneman inilah yang oleh kecamatan lain atau daerah lain dinamakan Bothok. Maksudnya, setiap olahan yang digenemi, di daerah luar Prigi-Watulimo, ya namanya Bothok. Jadi, daerah lain akan mengenal Bothok dengan aneka jenis masakan (olahan), seperti Bothok Tawon, Bothok Lele, Bothok Iwak Kali, Bothok Tempe, Bothok Teri, Bothok Jeroan, dll.

Sedangkan yang dimaksud Bothok di daerah Prigi, padanannya dengan itu, adalah “Geneman”. Jadi di Prigi, namanya adalah Geneman Luntas, Geneman Tempe, Geneman Iwak, Geneman Mlanding (lamtoro), Geneman Tempe Bosok, Geneman Tawon, Geneman Sembukan, dan lain-lain. Sedangkan istilah “Bothok” seingat saya ya hanya mengacu pada ikan laut yang diolah setelah agak dibusukkan karena aromanya memang lebih berasa itu tadi. Bukan hanya ikan  Layur, seingat saya juga ikan Tracah—mungkin  nama ikan ini juga asing untuk daerah lain.

Jadi ketika saya agak lama tinggal di luar daerah asal saya, awalnya saya kaget bahwa nama dan sebutan Bothok itu kok berbeda. Tapi lama-lama terbiasa. Namun  ketika saya berjunjung ke daerah asal saya, ya masih beda. Meskipun orang-orang di daerah Prigi mulai kenal istilah Bothok untuk mengganti istilah Geneman. Terutama yang memang pernah tinggal di luar Prigi dan kembali, misal pernah kos di luar kota.

Yang aneh lagi, terjadi ketika saya pindah domisili di kecamatan Karangan, kecamatan lain di Trenggalek yang agak dekat dengan kecamatan kota. Ternyata kami dari daerah Prigi, khususnya Margomulyo, punya olahan kuliner yang tak dijumpai di Karangan dan daerah-daerah lain. Ada olahan namanya Geneman Iwak Pitik (Ayam Kampung). Ketika saya ceritakan tentang olahan itu, keluarga Karangan malah kaget. “Pitik kok digenemi? Gek piye rasane?”

Di daerah saya, Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, Geneman ayam ini adalah kuliner khas acara genduren yang disebut “Nyambung Tuwuh”, terbiasa ada di acara genduren yang dilakukan siang hari, mulai acara megengan, berdoa saat ada anggota keluarga yang akan kerja ke luar kota (merantau), doa keselamatan (slametan), dll. Selain nasi, urap-urap, dan sajian tradisional sebagaimana acara slametan, lauknya ya Geneman Ayam itu tadi. Jadi, ayamnya tidak diingkung dengan bumbu Lodho. Tapi digenemi atau dibungkus daun pisang.

Saya belum menemui kuliner sejenis ini di manapun sependek pindah-pindahnya hidup saya di beberapa tempat. Karena saya belum “ngiyak” semua daerah di Indonesia, mungkin saja ada tapi belum menemui atau belum tahu.

Itu salah satu khasanah kuliner pedesaan yang kaya dan variatif. Banyak kuliner tradisional lain yang layak untuk dibahas. Banyak yang sepakat kuliner tradisional itu sehat. Ya, kalau dulu memang sehatnya dijamin. Wong Mbok saya masaknya pakai kayu bakar, bungkusnya daun pisang, belum ada racun-racun kimia di berbagai bahan makanan dan tumbuh-tumbuhan. Ayamnya juga ayam kampung, belum dikasih makan pakan pabrikan.[]

Tulisan ini direpost untuk disebarluaskan guna menambah ensiklopedi makanan desa dari facebook Nurani Soyomukti. Silahkan jika mau mengikuti linimasa beliau yang sangat produktif menulis.

Muhasabah Diri Di Bulan yang Suci

0

Alhamdulillah, tidak terasa kita sudah melewati sepuluh hari pertama bulan Ramadan, tepatnya sudah memasuki separuh bulan Ramadan tahun ini. Hari demi hari tentunya kita lalui dengan berusaha untuk senantiasa mengantongi sedikit demi sedikit butiran cinta dari-Nya. Sudah selayaknya menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk memaksimalkan ibadah kita di bulan suci nan berkah ini. Akankah kita melewatkan ladang amal yang begitu lapang atau akan menanam seribu kebajikan dengan sebanyak-banyaknya. Semua pilihan ada di tangan kita.

Akan sangat disayangkan sekali jika kita tidak bisa bermuhasabah diri di bulan yang mulia ini. Muhasabah ialah introspeksi, mawas, atau meneliti diri. Yakni menghitung-hitung perbuatan pada tiap tahun, tiap bulan, tiap hari, bahkan setiap saat. Oleh karena itu muhasabah tidak harus dilakukan pada akhir tahun atau akhir bulan. Namun perlu juga dilakukan setiap hari, bahkan setiap saat (Syukur, 2006). Pada intinya, muhasabah diri adalah bagaimana cara kita menelaah diri kita sendiri terhadap segala yang kita lakukan selama ini.

Seringkali kita berfikir orang lain lebih rendah dari kita padahal kita tidak pernah tahu bagaimana kedudukannya di hadapan Tuhan

Instropeksi diri tentunya bukanlah hal yang mudah, apalagi jika ‘ego’ dalam diri masih sepenuhnya berkuasa. Dengan mudahnya, kita bisa menilai orang lain tidak baik, orang lain lebih rendah daripada kita, padahal kita tidak pernah tahu bagaimana posisi kita sendiri di hadapan Sang Maha Pemilik Hati.

Menjelang hari-hari terakhir di bulan penuh berkah ini, tidak ada salahnya jika kita memaksimalkan ibadah kita yang hanya bisa kita lakukan pada bulan ini. Selain itu, di bulan suci ini tentunya Allah membuka pintu maaf seluas-luasnya. Alangkah baiknya jika kita bisa bernaung di dalamnya tanpa ada rasa gundah. Muhasabah diri tentunya memiliki banyak sekali manfaat. Diantaranya adalah kembalinya seluruh jiwa dan raga pada satu titik yaitu Tuhan. Jika kita sudah berada pada satu titik itu, maka tiada lagi yang perlu kita banggakan, karena kita hanyalah sebuah debu di padang pasir.

“Tanda taubat adalah bersedih dengan maksiat yang pernah dilakukan, khawatir terjerumus dalam dosa yang sama lagi, menjauhi teman yang buruk dan bergaul dengan teman yang baik.” ( Syaqiq Al-Balkhiy )

Apalah arti diri ini di hadapan Dzat Semesta Alam? Apalah daya diri ini di hadapan dengan Dzat Yang Maha Segalanya? Lalu masih pantaskah kita berjalan di muka bumi ini dengan keadaan sombong? Semua kembali pada diri kita sendiri. Namun akankah kita harus menunggu waktu taubat pupus hingga nestapa hati menjadi sirna? Tidak bukan? Karenanya, di bulan suci penuh berkah ini, marilah kita bermuhasabah diri dengan memohon keselamatan, keberkahan, dan kebahagiaan dunia akhirat. Amin.

Saatnya kita menghapus perlahan segala gejala yang mungkin bisa menjadi penyakit hati bagi kita semua. Candra Malik, dalam salah satu taujihnya menjelaskan bahwa tujuan berpuasa dalam Surat Al-Baqarah adalah la’allakum tattaqun, agar kamu bertaqwa. Lantas selama ini sudah berapa kali kita melewati bulan Ramadhan? Sudahkah kita mencapainya? Siapa yang paling tahu jawabannya melainkan diri kita sendiri? Wallahu a’lam bisshowab.

Profesor Unhas dan Dosen Unismuh Menyapa Masyarakat Ini Dia Kegiatannya!

0

Gowa – KampusDesa. Sinergitas dan kolaborasi antara universitas dan desa tampak sekali dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) MELINESIA di Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pada 9-13 Mei 2018.

MELINESIA adalah program yang unik-futuristik, komprehensif-kolaboratif, solutif, produktif, inovatif, kreatif, visioner, dan berkesinambungan  di multiaspek, meliputi multikegiatan yang multi-lintasdisipliner di bidang medis dan kesehatan, edukasi, ekonomi, pemberdayaan (perempuan, anak-anak, masyarakat, manusia) dan sebagainya, berbasis literasi-riset-teknologi-komunitas, demi mewujudkan kejayaan Indonesia. MELINESIA merupakan akronim dari Medical, Education, Economy, Empowering (women, children, society, humanbeing), Etc., based on Literacy-researches-technology-community for the triumph of IndoNESIA. Istilah MELINESIA adalah ide inovatif  dari Dito Anurogo.

Kegiatan yang mendapat dukungan penuh dari LP3M Unismuh ini terdiri dari beberapa sub-kegiatan, seperti: edutechnopreneurship, eduekoliterasi, medikopsikologi, writenesia, accounting research camp, ecospiritualism, global village, FIRAL (Festival Culture and Literacy) bertema Pesona Kanreapia 2018: Desa Wisata Budaya. Selain senang dengan pemberian materi, ceramah, diskusi interaktif, warga masyarakat juga sangat antusias saat mengikuti ceramah ilmiah dari Profesor. Tak satupun warga yang beranjak dari tempat duduk hingga acara ceramah ilmiah usai. Mereka mengakui kalau baru kali ini desanya dikunjungi oleh Profesor dari Unhas.

Guru besar ilmu gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Prof. dr. H. Veni Hadju, M.Sc., Ph.D., hadir dan berperan aktif sebagai pembicara kunci di dalam acara PKM MELINESIA 2018. “Saya merasa sangat bersyukur dan bahagia dapat berbagi ilmu dan pengetahuan dengan warga masyarakat di desa Kanreapia,” tuturnya berwibawa. Ia mengakui bahwa kegiatan seperti ini hendaklah berkesinambungan dan perlu dibudayakan untuk menciptakan berbagai desa berkelas Internasional (global village) sebagai pondasi dasar kejayaan bangsa Indonesia.

Dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah (FK Unismuh) Makassar yang menjadi bagian dari tim PKM MELINESIA 2018 antara lain: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ibu Juliani Ibrahim, M.Sc., Ph.D., dr. Ihsan Jaya, dan dr. S. Zulfikar Gaffar Assegaf. Sedangkan para dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah (FEB Unismuh) Makassar yang tergabung di dalam tim PKM MELINESIA 2018 adalah Agusdiwana Suarni, S.E., M.Acc., Muhammad Nur Abdi, S.E., M.M., dan Firman Syah, S.E., M.M.

Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak dan organisasi, seperti: Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), pemerintah Desa Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa, Rumah Koran, Forum Lingkar Pena (FLP) Sulawesi Selatan, Sahabat Literasi Indonesia, Komunitas Rumah Penyu, IMA (Indonesia Marketing Association) Chapter Makassar, Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4), Writenesia, Indonesia Menulis Online (IMO), Open Access Indonesia. (Dito Anurogo, dokter literasi digital, dosen FK Unismuh Makassar, penulis 20 buku, pengurus IMA Chapter Makassar).