Selasa, September 1, 2026
Beranda blog Halaman 81

Mengapa Arab Bukan Tempat Kamu Mudik ?

0

Benar adanya Arab adalah tempat Islam diturunkan. Pemahaman kontekstual tentang Islam di Arab juga menjadi salah satu yang melengkapi khazanah praktik Islam. Namun, Arab bukan tempat kita kembali. Apalagi tujuan mudik kita. He he he. Kita terlahir dari tanah air Indonesia. Persemaian kekuatan kita tentunya adalah hasil kreatif perjumpaan Islam dalam konsep dan aplikasi dengan kampung halaman Indonesia. Wajah baru kita adalah tetap mengapitalisasi khazanah kekayaan Indonesia sebagai kekuatan bangsa dalam identitas muslim yang bertaut erat menjadi Indonesia.

Saya sudah agak lama menemukan pikiran sebagaimana judul tersebut terutama menyangkut pembelaan tanah air dan pola “de-tanahairisasi” menggunakan Arabisme. Ketika Arabisme berhasil dikooptasi oleh kepentingan tersembunyi pada mayoritas bangsa Indonesia, atau setidaknya kekuatan yang mampu mengambil alih pengaruh kekuasaan sehingga ibu pertiwi ini tidak lagi perlu dibela, kok saya pikir-pikir Arabisme senyatanya adalah imperialisme dengan senjata agama guna melemahkan pertahanan mental bangsa Indonesia.

Untung saja masih banyak umat Islam, utamanya seperti NU, Muhammadiyah dan yang saya tahu juga ada Syiah, Ahmadiyah masih menganggap Islam di Indonesia memiliki akar yang kuat di Ibu Pertiwi. Entah itu dinamakan Islam Nusantara atau Islam dengan berbagai konsep yang melatarbelakangi berdirinya negara ini meski tanpa negara agama tetapi dasar ideologisnya kokoh dipancari nilai-nilai Islam.

Kalau sudah tidak membela mati-matian tanah air ini maka pertahanan mental Indonesia menjadi rapuh

Mengapa saya berpikir Arabisme sebenarnya adalah imperialisme bersenjata agama. Begini rasionalisasi yang berhasil saya otak atik gatuk. Ketika kegilaan Arabisme (aliran dan mazhab) sudah menjadi mental baru, maka orientasi pikiran sebagian bangsa Indonesia utamanya sebagian saja dari umat muslim Indonesia, kok saya angan-angan terus, lek iki podo karo strategi mengikis nasionalisme dan mencintai tanah air. Jika orang sudah berpikir Arab, Arab dan Arab maka orientasi kepribumiannya akan terkikis. Kalau sudah tidak membela mati-matian tanah air ini maka pertahanan mental Indonesia menjadi rapuh. Apalagi alangkah senangnya ketika Arabisme telah terideologisasi maka akses atas SDA bisa terlupakan oleh pemiliknya sendiri.

Lah dalah, sing ngepek lek ngono sopo. Yo imperialisme kapitalis yang untung. Bangsa ini kemudian ribut melulu mengenai cara berislam tetapi EGP soal SDA yang dikelola imperialis. Imperialis yo ngguyu nyawang wong Indonesia seneng koar-koar agomo, sampek lali aset negoro iku digondol sopo. Kalau rewel sedikit, yang gembor-gembor Arabisme itu dikasih jatah memodali agama yang dia bela mati-matian itu sudah klimpungan buta aset bangsa. Trus sopo sing jingkrak-jingkrak ? Sopo jale.

Pribumisasi dan Islam Nusantara Jangan dipahami hanya tafsir

Jikalau seseorang itu sudah tidak memiliki akar kelahiran, mereka tidak akan memiliki perlawanan untuk membela tempat kelahirannya. Sama dengan orang yang tidak lagi memiliki Bapak/Ibu yang menetapkan jiwa raga mereka dalam konsep tanah kelahiran dan tambatan kampung halaman, maka mereka tidak begitu peduli bela-belain siapa yang membesarkannya dan perjuangan untuk tetap menyintai kampung halamannya.

Coba saja deh dilihat sekarang. Jutaan warga Indonesia mudik. Mereka berjibaku, berjuang dengan materi dan tentu sepenuh jiwa yang ditambatkan untuk terpaut erat menuju kampung halaman. Tempat mereka berpijak sejak kecil.

Mudik menjadi perjalanan mengukir keagungan diri dan mereproduksi aneka cerita sukses. Akar kekerabatan menguat kembali dan tidak bisa dicerai-beraikan.

Mereka mudik ke kampung halamannya. Mereka membela asalinya. Hari Raya kemudian menjadi momentum mendulang jiwa kerinduan terhadap kampung halaman. Mudik menjadi perjalanan mengukir keagungan diri dan mereproduksi aneka cerita sukses. Akar kekerabatan menguat kembali dan tidak bisa dicerai-beraikan. Seseorang yang menghargai tempat tinggalnya maka dia akan mampu menghargai dan menjunjung tinggi kelahirannya. Begitulah jikalau azas tempat kelahiran telah terpaut dengan hati itu, maka orang lain tidak mungkin akan diberi keleluasaan untuk mengeksploitasinya.

ketika Arabisme telah mencerabut secara mental dari pembelaan terhadap tanah kelahiran maka bangsa Indonesia akan mudah dicengkeram oleh kekuatan besar dari luar.

Indonesia adalah kampung halaman. Ia berisi ukiran yang berharga. Kampung halaman yang mampu mengapresiasi menjadi karya dalam memperkuat kepemilikan akan tanah kelahiran. Jadi ketika Arabisme telah mencerabut secara mental dari pembelaan terhadap tanah kelahiran maka bangsa Indonesia akan mudah dicengkeram oleh kekuatan besar dari luar. Ibaratnya secara mental pertahanan diri sebagai bangsa telah berhasil diruntuhkan.

Gus Dur mudik ke kampung halaman dan menemukan keaslian bangsa ini. Dia gunakan menjadi strategi baru membangun bangsa yang mampu menghidupkan aset sendiri demi ketahanan dan kesejahteraan bangsa.

Jadi kalau Gus Dur telah menggagas Pribumisasi Islam dan orang-orang mayoritas NU menggelorakan Islam Nusantara maka pilihan itu bukan sekedar tafsir, melainkam upaya selalu membangu ketajaman mentalitas bangsa ini agar Islam tetap bertaut sangat erat dengan kepemilikan kampung halaman. Saya berkesimpulan pemikiran dan langkah progresif Gus Dur selalu memiliki keterpautannya dengan penalaran historis yang begitu kuat. Contohnya tentang mengangkat Menteri Kemaritiman tidak lain adalah kesadaran historis Gus Dur yang diambil dari kisah klasik bahwa nenek moyang bangsa Indonesia sebagian besar adalah pelaut. Gus Dur mudik ke kampung halaman dan menemukan keaslian bangsa ini. Dia gunakan menjadi strategi baru membangun bangsa yang mampu menghidupkan aset sendiri demi ketahanan dan kesejahteraan bangsa.

Gus Dur secara metodologis tidak mengajak mudik umat Islam ke Arab. Gus Dur mengajak mudik ke sejarah bangsa ini dan menemukan kekuatan mengelola tata ketahanan mental bangsa dan menjadikannya sebagai aset yang menyejahterakan semua. Gus Dur sungguh menjadi ahli strategi pertahanan ketika pemikiran dan langkah progresifnya dijangkarkan dari hasil pengkajian sejarah kekuatan bangsa ini. Dengan begitu pribumisasi Islam tidak hanya tentang tafsir Islam Indonesia tetapi sebuah kekuatan mengelola kekayaan bangsa ini dengan cerdas dan berdaya saing.

Dengan begitu pribumisasi Islam tidak hanya tentang tafsir Islam Indonesia tetapi sebuah kekuatan mengelola kekayaan bangsa ini dengan cerdas dan berdaya saing.

Apakah Anda akan mudik ke Arab, atau sepenuhnya sadar bahwa kampung halaman tempat kita mudik sebenarnya membisikkan sebuah aset, bahwa kelolalah kampung halaman kita sampai dititik terang bahwa kita memiliki kekuatan membangun mentalitas menjadi bangsa dan punya daya saing.

Malam Takbiran, Damai Sejahtera dari Allah Bapa

0

Agama itu sebagai budaya bisa menjangkau yang lain dan penikmatan agama bisa lintas batas meski tak mengganggu iman. Disitulah sebenarnya agama menyapa kemanusiaan. Iman boleh beda tetapi perjumpaan manusia tidak terhalang untuk saling menyapa. Begitulah ketika takbiran dimaknai dari orang yang berbeda iman.

Bengkulu-KampusDesa – Dulu, setiap pagi menjelang malam takbiran Pak Etek selalu mengantar obor ke rumah untuk saya, Barmen dan Kak Ulik. Bapak dengan sigap mengisi obor dengan minyak tanah dan memperbaiki sumbu obor dengan sabut kelapa yang lebih padat.

Nanti, di malam takbiran, anak-anak akan berkumpul di halaman masjid yang tidak jauh dari rumah. Pak Etek akan memanggil kami dari pagar bonsai, mengajak kumpul.

http://kampusdesa.or.id/pendidikan-yang-memanusiakan-bukanlah-mitos/

Kami mendengarkan instruksi dari Pak Etek. Berbaris rapi, tidak mengganggu kawan di kanan kiri depan belakang, tidak memainkan obor sembarangan, dan tentu saja mengikuti Pak Etek mengucapkan takbir.

Kami dengan fasih mengucapkan “Allaahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar” sepanjang pawai obor, dari halaman masjid menuju blok 1, blok 2, hingga melewati tiap-tiap blok, saya lupa hingga blok berapa, yang pasti banyak sekali. Hingga kembali ke arah rumah kami masing-masing.

Nanti, saat menuju rumah kami, Pak Etek akan menyalam bapak yang sudah menunggu di teras rumah. Dan bapak akan mengucapkan selamat hari raya. Pak Etek yang seorang ustad itu tidak pernah lupa menyalami bapak yang seorang penatua. Tidak hanya itu, esok saat lebaran tiba, Tante Sugeng akan mengantarkan banyak sekali makanan, begitu juga tetangga-tetangga kami yang lain.

Tadi pagi, saat sarapan bapak mengingatkan mamak,” nanti jangan lupa beli ketupat di pasar ya mam.”

Selamat merayakan hari kemenangan, untukmu. Damai sejahtera dari Allah Bapa, yang melampaui segala akal, itulah yang memelihara hati dan pikiranmu.

Salam,
Grasia Renata Lingga ????

Selamat Mudik, Dari Allahu Akbar hingga Via Valen

0

Mudiklah untuk belajar menjadi Indonesia. Cintailah Indonesia sebagaimana kita membela kampung halaman. Maka sebenarnya Indonesia bukan tentang keraguan apakah Garuda Pancasila kamu anggap simbol kemusyrikan tetapi ia penanda bahwa agar kampung halaman Indonesia tetap sebagai rumah aslimu. Mudiklah dengan bahagia karena Indonesia itu juga kampung halaman kita. Kita akan selalu ketemu saudara yang menjadi wadah kisah bahagia.

Pulang adalah perjalanan yang selalu menggembirakan, begitu kata Prof. Komarudin Hidayat suatu waktu. Walaupun berulang kali kita lakukan, pulang tetap memiliki nilai lebih yang mampu membahagiakan. Mahasiswa tetap bergembira kuliahnya selesai dan pulang ke kosan, meski baru saja diberi tugas yang menumpuk. Pekerja pulang dengan jumawa meski besok tetap harus menyelesaikan deadline. Pulang adalah jeda dari rutinitas.

Bagi muslim Indonesia, mudik merupakan salah satu keduniawian yang tiap prosesnya dilakukan dengan sepenuh hati.

Menjelang lebaran ramai orang-orang mudik. Bagi muslim Indonesia, mudik merupakan salah satu keduniawian yang tiap prosesnya dilakukan dengan sepenuh hati. Hampir tidak ada orang yang mudik dengan perasaan berat hati. Walau harga tiket mahal, walau ketemu mantan (beranak satu) di kampung bisa terjadi atau resiko apapun yang akan ditemui kelak, pulang untuk mudik tetap amboy rasanya.

Kenapa orang bahagia ketika pulang untuk mudik? Pertama, bisa kita kembalikan di kalimat pertama tulisan ini. Kedua, karena tiap kita butuh merawat kenangan tentang asal muasal kita. Saya bisa saja menggunakan dalil agama untuk menjelaskan poin kedua, tetapi seperti kata presiden SBY;

“Tentu saya bisa jelaskan. Tapi tak perlu dan tak baik di mata rakyat. Apalagi saat ini kita tengah menghadapi masalah keamanan, politik, dan ekonomi,” kata SBY dalam twitnya, Selasa (15/5/2018).

Mari Pulang Menjadi Indonesia

Rasa-rasanya mudik adalah momentum baik untuk saling memaafkan. Harusnya begitu, namun tetap saja selalu ada ruang dijadikan tempat saling senggol hanya karena beda pandangan. Misal masa depan presiden. Ada yang minta klakson 3x, ada yang beri ucapan “Anda berada di tol Jokowi”. Melihat hal ini, saya ingin menjadi SBY berkata; saya perihatin.

Alangkah canggungnya kita, ketika jauh-jauh mudik dan enak-enak makan opor ayam, tetiba mertua keluar menggunakan kaos #2019GantiPresiden saat kita menggunakan kaos “Dia sibuk kerja”. Percayalah opor ayam bisa jadi rasa ayam geprek; pedas.

Sudahlah. Rehatkanlah sejenak hati dan pikiranmu untuk sekat-sekat. Mudik untuk berkumpul dan berbahagia bersama. Barangkali mudik sebagai wadah pengingat asal-muasal agar kita kembali menjadi orang Indonesia yang bersatu, adil dan santun. Alangkah canggungnya kita, ketika jauh-jauh mudik dan enak-enak makan opor ayam, tetiba mertua keluar menggunakan kaos #2019GantiPresiden saat kita menggunakan kaos “Dia sibuk kerja”. Percayalah opor ayam bisa jadi rasa ayam geprek; pedas.

http://kampusdesa.or.id/pendidikan-yang-memanusiakan-bukanlah-mitos/

Mudik adalah pulang untuk berlebaran bersama sanak keluarga. Saat ditanya apa kabarmu? Jawablah dengan tiga jawaban; Alhamdulillah, luar biasa, Allahuakbar. Begitupula jika ditanya siapa saudaramu? Jawablah ada tiga yaitu saudara sesama muslim (ukhuwah islamiyah), saudara sebangsa-se tanah air (ukhuwah wathaniyah), dan saudara sesama manusia (ukhuwah basyariyah). Namun, jika ditanya siapa artis dangdut idolamu? Jawabannya hanya satu; Via Valen!

Jangan hanya fisik (lahir) yang pulang dan berjabat tangan, tetapi perasaan dan segala prasangka (batin) pun harus pulang sebagai manusia Indonesia yang utuh.

Jika kita merasa bahwa mudik adalah pulang, maka jangan hanya fisik (lahir) yang pulang dan berjabat tangan, tetapi perasaan dan segala prasangka (batin) pun harus pulang sebagai manusia Indonesia yang utuh. Bertuhan, mampu memanusiakan, menjaga persatuan, bijaksana dan mampu bermusyawarah bukan saling lapor, dan bersikap keadilan kepada siapapun.

Penutup, selamat mudik, salam untuk keluarga di kampung halaman. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Mantan sudah ke penghulu, kok kamu lebarannya masih sendirian?. Hehe.

Damai dengan Tumpukan Kesibukan

0

Kesibukan seseorang akan menjadi gejala kegalauan dan sebaliknya, kedamaian. Sibuk bisa menjadi penghalang bagi kita untuk selalu membuat privilege sehingga mengesankan jika kita adalah orang yang super hebat. Begitukah kita? Sibuk menjadi tidak sibuk saat pengelolaan waktu dapat diciptakan dengan tepat. Meskipun secara nyata memang kita sibuk, tetapi dengan kemampuan mengelola waktu, kesibukan menjadi aktifitas yang mendamaikan. Kok bisa! 

Masih mau mengeluh karena banyak tugas yang menumpuk? Atau masih tetap marah karena berulangkali revisi tugas yang ada dan pada ujungnya hasilnya tetap tidak memuaskan? Apakah memang sudah yakin benar apa yang telah anda kerjakan? Ataukah karena itu kita gagal dalam sesuatu hal? Dan apakah kesibukan yang kita lakukan telah berakhir sia-sia?

Sibuk, memang itulah tugas sebagai manusia, kalau mau menghindar coba lihat tujuan dan niat awal kenapa mau melakukannya. Sudah menjadi kewajiban dan memang anda sendiri yang telah menentukan pilihannya.

Jadilah yang berbeda agar tetap menjadi idola. Bukan dengan menjadi kebanyakan yang orang lakukan, namun majulah dengan potensi yang saat ini belum berkembang dengan baik dalam diri kita.

Kalau dilihat dan dirasakan, kita selalu berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. Tentu saja hal ini penting, karena dalam diri manusia ada kebutuhan dasar  yaitu  eksis/pengakuan dari orang lain (untuk dapat dikenal oleh banyak orang).

Apakah setiap individu memiliki kesempatan yang sama agar dia juga diakui oleh orang lain, dikatan hebat, genius dan berbakat oleh orang lain? Lalu bagaimana setiap orang dapat melakukannya?

Ada satu hal yang tidak banyak disadari oleh manusia, mereka berjuang keras menyibukkan diri mereka, agar hasilnya dapat dikenal oleh teman-temannya. Lalu apakah mereka menikmati kesibukan yang mereka jalani kalau tujuan utama yang mereka miliki bukan untuk membahagiakan diri mereka sendiri?.

Orang selalu ingin dianggap bahwa merekalah yang paling sibuk diantara yang lainnya. Dari segudang kesibukan itulah, orang akan menganggap bahwa dialah yang paling hebat, yang paling banyak memanfaatkan waktu dan peluang yang ada.

Dengan berbagai kegiatan yang padat, dari dini hari hingga petang, sampai melupakan waktu berharga mereka untuk beristirahat. Mereka menganggap bahwa mereka telah menggenggam dunia mereka. Selalu ada yang ingin mereka tunjukkan agar dapat diakui oleh yang lain.

Banyak kisah yang saya dengar, mengenai orang-orang yang telah berhasil karena segudang kesibukan yang mereka miliki, namun ada satu kisah kesibukan yang tak banyak orang dapat melakukannya. Kesibukan yang apabila dilakukan tidak pernah membuat kelelahan berkepanjangan dan yang pasti inilah yang diharapkan.

Kita dapat belajar banyak dari kisah ini. Kisah seorang wanita, ibu rumah tangga dan juga sedang menempuh pendidikan S3, dengan 2 orang anak yang cerdas yang menjadi kebanggan di sekolahnya. Wanita ini juga menjadi dosen di salah satu kampus negeri yang ternama di indonesia. Selain dua kesibukan itu, ada satu kesibukan di belakang layar yang menjadi kekaguman tersediri, yaitu pesantren yang didirikannya. Pesantren dengan 50 lebih santri dari kalangan mahasiswa yang semuanya adalah pecinta dan penghafal al-Qur’an.

Kampus, pesantren, dan keluarga adalah arena kesibukannya. Mengurus mahasiswa, mahasantri, anak dan juga suami setiap hari. tidak banyak wanita yang dapat melakukan kepadatan waktu sedemikian rupa. Kalau di fikir secara nalar, begitu berat tanggungjawab yang harus dijalani.  Tapi dengan kepadatan jadwal tersebut beliau juga telah berhasil mendapatkan gelar Doktor di usia yang masih muda.

Menjadi contoh wanita karier di zaman sekarang, tidak hanya kesibukan dunia yang dijalaninya, namun juga kesibukan untuk tabungan akiratnya. Sosok idola bagi calon wanita karier yang ideal. Tetap tenang dan terlihat nyaman dengan tumpukan aktivitas setiap harinya. Satu kesibukan lagi yang menjadi kepadatan waktunya, beliau adalah seorang penghafal al-Qur’an. Bagaimana beliau dapat melakukan semua kesibukannya dalam waktu 24 jam  dengan rutin? Beliau selalu berperang dengan waktu, bangun tidur hingga tertidur kembali. Semua aktivitas dijadikan berkualitas.

“Semakin kita menyibukkan diri kita, akan semakin baik managemen waktu yang kita miliki.”

Beliau selalu berpesan, “semakin kita menyibukkan diri kita, akan semakin baik managemen waktu yang kita miliki.” Lalu bagaimana tetap dapat memaknai waktu dengan aktivitas-aktivitas yang selalu membuat kita penat dan lelah? Yang kenyataannya Orang selalu menginginkan semuanya berakhir dengan baik, mereka berusaha keras agar mendapatkan hasil yang maksimal, namun mereka belum tahu cara agar semua hal dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Managemen waktu yang berkualitas akan membantu kita memudahkan segala hal yang kita jalani.

Managemen waktu yang berkualitas akan membantu kita memudahkan segala hal yang kita jalani. Lagi-lagi masalah waktu, waktu yang tidak dapat kita putar kembali ke masa yang telah kita lewatkan, karena ia akan tetap terus berjalan. Waktu yang membuat kita selalu membuat kita menjadi tersudutkan. Bagaimana kita dapat membuat waktu menjadi sahabat kita? Sehingga semua akan berakhir sesuai dengan yang telah kita rencanakan?

Sama halnya dengan yang beliau lakukan, yang paling utama adalah sibukkan dirimu dengan hal yang berkualitas, meskipun dengan tumpukan aktivitas dan rutinitas, kita akan menemukan kedamaian dari segala macam kesibukan yang kita jalani. Apa yang berkuaitas itu? Ia adalah Al-Qur’an. Orang sibuk dengan perkejaan, sibuk dengan karier itu telah banyak diluar sana, mencari kesibukan yang berbeda, kesibukan yang mengantarkan mendapat keberhasilan yang kebanyakan orang tidak sepenuhnya mendapatkan kenikmatannya.  Kesibukan yang menyejukkan hati bagi siapa saja yang melakukannya.

Yang paling utama adalah sibukkan dirimu dengan hal yang berkualitas, meskipun dengan tumpukan aktivitas dan rutinitas, kita akan menemukan kedamaian dari segala macam kesibukan yang kita jalani.

Orang sering mengeluh karena dia belum terbiasa dengan tumpukan  kesibukan, namun banyak orang yang punya kesibukan tapi tidak melancarkan harapannya, itu karena dia belum memiliki managemen waktu yang baik, apalagi yang berkualitas.

Kita tidak pernah menginginkan hal yang kita kerjakan adalah sia-sia, semua harapannya adalah kelancaran, kejayaan, dan kesuksesan. Dengan managemen waktu yang baik dan berkualitas, kita akan dapat merasakan damai meskipun dengan segudang aktivitas setiap hari.

Dengan managemen waktu yang baik dan berkualitas, kita akan dapat merasakan damai meskipun dengan segudang aktivitas setiap hari.

Sama halnya ketika menjadi pelajar harus siap untuk sibuk, tidak hanya sekedar sibuk karena tugas yang menumpuk, tapi juga sibuk dengan waktu yang terus mengejar dan memaksa untuk segera selesai. Belum lagi dengan tuntutan dan keganjalan hati karena memberikan beban yang semakin berat pada orangtua.

Kita dapat belajar dari kisah yang sangat luar biasa tersebut. dengan belajar mengatur waktu dengan baik dan berkualitas akan sangat membantu kita dalam menyelesaikan semua pekerjaan yang ada dihadapan kita. Tidak hanya sekedar selesai namun dapat mengambil makna dari apa yang telah kita kerjakan.

Nigarin Situbondo, Keajaiban Air Laut

0

Nigarin, sari air laut yang tiada batas jumlahnya tentunya sangat mudah kita dapatkan di bumi Indonesia. Tahukah bahwa di situ ternyata berlimpah nikmat Allah yang tiada gunanya. Setelah dipadukan dengan tanaman Azadirachta Indica, ternyata Nigarin sangat potensial menyembuhkan aneka penyakit, bahkan penyakit yang dibilang sebagai penyakit degenerative (seperti jantung, diabetes, kolesterol dan lain sebagainya).

Kira kira 200 meter jarak antara rumah ke pantai. Deru ombak kadang sayup sayup terdengar. Terlintas dalam pikiran untuk mengambil manfaat dari melimpahnya air laut. Tiba tiba disepuluh awal bulan Ramadhan timbul keinginan menggebu untuk bereksperimen dengan air laut.

Di pagi hari kami mengambil air laut (ditengah laut) untuk mendapatkan air laut yang bersih untuk kemudian kami campurkan dengan tanaman yang kaya manfaat yang memang banyak tumbuh di daerah sekitar pantai. Tanaman itu adalah Azadirachta Indica.

Akhirnya dengan formulasi tertentu, kami mendapatkan sari air laut (yang di dunia orang mengenal dengan istilah Nigarin). Nigarin yang sangat bermanfaat untuk kesehatan.

Nigarin sudah sejak lama digunakan untuk detoksifikasi antara lain untuk mengeluarkan racun tubuh, perawatan dan kecantikan kulit, dapat mencegah osteoporosis, dapat mencegah kerusakan gigi dan gusi, dapat mengatasi penyakit diabetes, dapat memblokir & membakar lemak, mencegah batu ginjal dan batu saluran kencing, mencegah kejang otot, mengatur detak jantung, mencegah jantung koroner, mencegah hipertensi & stroke, dan lain-lain.

Tapi Nigarin hasil eksperimen kami lain dari yang lain karena kami mencampurkan air laut dengan daun Azadirachta Indica dengan perbandingan tertentu, kemudian dijemur dibawah terik matahari sehingga tersisa sari air laut yang sudah memadat bersama sari daun Azadirachta Indica.

Inilah nigarin dari Situbondo yang akan kami kembangkan terus untuk bisa dimanfaatkan untuk memelihara kesehatan, mencegah datangnya penyakit, dan juga untuk mengatasi berbagai macam penyakit.

Dan di sepuluh akhir bulan ramadhan ini, percobaan membuat nigarin Situbondo sudah menampakkan hasil tinggal sedikit penyempurnaan. Wallahu A’lam

aGUS MULyono, Situbondo 12 Juni 2018

Tulisan ini direpost dari facebook penulis. Silahkan mengikuti hasil-hasil eksperimennya di linimasa aku media sosialnya.

Solusi Guru dalam Menghadapi Tantangan Zaman Now

Revolusi teknologi dan informasi memapar seluruh jantung kehidupan manusia. Siapapun yang sudah menggengam gawai akan bergerak menjadi tubuh virtual, tubuh yang dimainkan kedalam narasi media sosial dan internet. Imajinasi dan laku orang bergeser menjadi dominan dalam komunikasi dunia maya, bahkan orang banyak melakukan penyerapan ilmu pengetahuan dan perubahan diri dari internet. Buku pelajaran dan guru dikalahkan oleh kekuatan kecerdasan artifisial bagi orang-orang yang cerdik memanfaatkan gawai. Lantas, apakah guru menyadari ketika pidato mereka di kelas akan semakin ditinggalkan muridnya dan buku-buku teks hanya diakui sebatas seremonial kelas dan ujian-ujian, sementara anak-anak telah melejit melampaui kelas dan teks-teks buku pelajaran dalam menguasai ketrampilan atau passionnya.

Ibarat pisau, jika digunakan oleh penjahat, bisa jadi digunakan sebagai alat untuk mengancam bahkan melukai orang lain. Namun jika digunakan oleh ibu di dapur, pisau sebagai alat bantu yang sangat penting dan sangat berguna untuk membantu mengiris dan memotong bahan makanan (sayur, bumbu, daging, dan lain-lain).

Seperti halnya itulah kemajuan dunia informasi dan teknologi saat ini. Internet dan media sosial ibarat pisau, jika digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab atau orang jahat, tentunya internet dan media sosial merupakan media yang sangat terbuka untuk berbuat jahat, misalnya melakukan penipuan, pencurian, penyebaran berita bohong (hoax), fitnah, pornografi, plagiat tulisan dan lain sebagainya.

Kemajuan teknologi yang kian tak terbendung inilah tantangan guru zaman now. Bagaimana seorang guru mampu mengatasi tantangan tersebut dan memberikan solusi terbaik untuk mengatasinya demi anak didiknya. Teknologi bukan untuk dihindari dan tidak digunakan sama sekali, namun justru bisa digunakan untuk pengembangan media pembelajaran dan dimanfaatkan untuk mencari ilmu pengetahuan dengan mudah, cepat dan praktis

Guru harus update perkembangan teknologi, karena dengan internet dan media sosial sangat berguna dan membantu dalam mengembangkan metode pembelajaran,

Guru harus update perkembangan teknologi, karena dengan internet dan media sosial sangat berguna dan membantu dalam mengembangkan metode pembelajaran, membuat media pembelajaran, mencari informasi tentang pendidikan, mengakses dan mengunduh buku-buku pendidikan dan tak kalah penting adalah bisa digunakan sebagai wahana promosi dan penyebaran ide-ide pendidikan dengan menuliskan ide/ pemikiran tulisan di media sosial agar dibaca oleh banyak orang.

Dalam zaman now, yaitu era globalisasi dengan keterbukaan informasi dan teknologi yang berkembang pesat dan tidak bisa dibendung lagi, mau tidak mau dan suka tidak suka sebagai guru harus mampu memanfaatkannya untuk hal dan tujuan positif dalam mencapai tujuan pendidikan. Di dalam menggunakan internet misalnya, salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah, guru bisa dengan mudah menemukan video-video pembelajaran yang dapat diunduh di youtube dan sesuai dengan materi yang diajarkan, kemudian ditayangkan kepada peserta didiknya di dalam kelas melalui LCD Proyektor.

Terutama guru tingkat dasar (SD/MI), yang masih berpikir kongkrit, video pembelajaran dan gambar-gambar pendidikan sangat berguna dan membantu siswa dalam memahami dan menyimpulkan materi pelajaran yang diajarkan oleh guru.

Sangat mudah dicari di dunia maya media-media pembelajaran, gambar-gambar pendidikan dan lain sebagainya, asalkan menyempatkan diri untuk mencarinya. Tinggal ketik nama video pembelajaran di youtube, akan keluar video yang kita inginkan, begitu pula dengan media gambar-gambar pendidikan, tinggal ketik di google saja. Terutama guru tingkat dasar (SD/MI), yang masih berpikir kongkrit, video pembelajaran dan gambar-gambar pendidikan sangat berguna dan membantu siswa dalam memahami dan menyimpulkan materi pelajaran yang diajarkan oleh guru.

Asalkan guru mau menyempatkan waktu untuk mencari dan mengembangkan ide yang bertebaran di internet, pasti bisa dimanfaatkan dengan baik dalam upaya mengembangkan pendidikan. Selain itu internet dan media sosial dapat digunakan sebagai ajang promosi dan iklan gratis berbagai kegiatan yang telah dilakukan oleh guru dengan berbagi foto-foto dan video-video kegiatan yang telah dilakukan oleh guru.

Kemudian apabila guru mau menuliskan kegiatan inovasi pendidikannya tersebut dalam artikel atau Karya Tulis Ilmiah (KTI) bisa dibukukan sehingga akan mendapatkan nilai angka kredit yang bisa digunakan sebagai penghitungan nilai kenaikan pangkat atau bisa juga diikutkan lomba inovasi pembelajaran guru yang sering diadakan oleh Kementerian Pendidikan maupun instansi-instansi yang lain. Siapa tahu bisa menang dan diberi kesempatan presentasi dan berbagi ilmu kepada guru-guru yang lain. Sehingga bisa lebih bermanfaat dan memberi inspirasi bagi bagi banyak orang. Yang juga sebagai bentuk pengamalan Hadist yang diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda,”Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni). Insyaallah.

Cerdas Otak, Cerdas Hati dan Cerdas Religi

Guru memang sosok yang sakral dan wajib sepertinya memiliki keutuhan intelektual. Mereka tidak hanya memiliki kemampuan profesional dalam mengajar, tetapi mereka sudah selayaknya terus belajar untuk membangun ketajaman budi, sebuah lanskap kemampuan cerdas dengan otaknya, hatinya dan agamanya.

Hari Sabtu, pukul 14.00 saya menghadiri undangan dari Bapak Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kementerian Agama Kabupaten Malang, Bapak Dr. H. Muhammad Arifin, M.Pd, untuk menghadiri acara penerahan nilai UAMBD (Ujian Akhir Madrasah Bersatndar Daerah), USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) dan sosialisasi petunjuk teknis penulisan blangko ijazah, bagi kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri dan Swasta di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Malang.

Dari beberapa yang disampaikan Bapak Arifin, ada satu hal yang menarik dan mengena di hati dan pikiran saya serta menyentuh relung hati perasaan saya, baik sebagai saya pribadi maupun status saya sebagai seorang guru. Beliau titip kepada para guru yang hadir dalam acara tersebut agar mendidik anak didiknya hingga menjadi anak yang cerdas otak, cerdas hati dan cerdas religi. Tentunya untuk menjadikan anak didik tiga hal di atas, seorang guru terlebih dulu juga harus memiliki tiga hal itu. Tidak mungkin guru berhasil menjadikan anak didiknya menjadi anak yang cerdas otak, cerdas hati dan cerdas religi kalau dalam diri seorang guru belum memiliki ketiga hal tersebut dalam dirinya secara satu kesatuan dan menyeluruh.

Akan saya terjemahkan dan uraikan maksud Bapak Arifin satu per satu sesuai dengan pemahaman saya. Pertama, cerdas otak, maknanya adalah seorang yang berprofesi guru semestinya adalah sosok manusia yang lebih daripada profesi lain pada umumnya, yaitu harus pandai dan terampil dalam menjalankan tugas, pokok dan fungsinya sebagai guru. Pandai dan terampil bisa dibuktikan dengan ijazah, sertifikat, piagam penghargaan, prestasi, temuan inovasi pendidikan, kreatifitas mengajar, pengembangan media pembelajaran, kemampuan membimbing siswa hingga berprestasi dan lain sebagainya, terutama yang terkait dengan aktifitas guru.

S4 mungkin bermakna kuliah jurusan hakikat hidup di universitas kehidupan, yang bisa diambil hikmahnya setelah menjalani proses kehidupan yang tidak mudah, bagi orang-orang yang mau merenungi dan berpikir.

Pak Arifin mengatakan, seorang guru jangan sampai kalah dengan Kasi Pendma-nya yang sudah menyelesaikan S3 dan bergelar Doktor. Sampai Pak Arifin bergurau dengan mengatakan, “kalau perlu guru mengembangkan diri dengan kuliah sampai S4”. Yang saya pahami bahwasanya guru harus terus menerus belajar sepanjang hayat, karena kuliah S4 dalam lembaga formal itu tidak ada. S4 mungkin bermakna kuliah jurusan hakikat hidup di universitas kehidupan, yang bisa diambil hikmahnya setelah menjalani proses kehidupan yang tidak mudah, bagi orang-orang yang mau merenungi dan berpikir.

Pak Arifin berkata, “sekarang ini banyak orang yang cerdas otak tapi tidak cerdas hatinya”.

Kedua, cerdas hati, saya menafsirkannya adalah dimana seseorang yang dalam posisi memiliki kejernihan perasaan, kebaikan hati, ketulusan, ikhlas, adil, tanggungjawab dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, tidak tinggi hati, pemaaf, jujur, suka menolong, loyalitas tanpa batas, berintegritas, dan sifat-sifat baik lainnya yang mendarah daging dalam jiwa, hingga menjadi karakter dan sifat kesehariannya. Pak Arifin berkata, “sekarang ini banyak orang yang cerdas otak tapi tidak cerdas hatinya.” Karena itu kecerdasan otak semestinya diimbangi dengan kecerdasan hati.

Ketiga, cerdas religi, saya menerjemahkannya adalah seseorang yang memiliki rasa keimanan yang tinggi terhadap Allah Swt. Seseorang yang selalu merasa apa yang dilakukukannya dipantau oleh Allah Swt. Sehingga seseorang tersebut selain takut untuk berbuat keburukan atau kecurangan juga perilaku dan aktifitas kesehariannya senantiasa selalu diniatkan semata-mata untuk ibadah terhadap Allah Swt. Pak Arifin memiliki motto hidup yaitu; “layananku, ibadahku.” Bermakna beliau melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai Kasi Pendma, untuk melayani orang-orang yang membutuhkannya dengan semaksimal mungkin, sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Swt.

Cerdas otak, cerdas hati dan cerdas religi, harus senantiasa terus menerus kita usahakan untuk kita miliki sebagai manusia pada umumnya dan sebagai manusia yang berprofesi sebagai guru pada khususnya.

Cerdas otak, cerdas hati dan cerdas religi, harus senantiasa terus menerus kita usahakan untuk kita miliki sebagai manusia pada umumnya dan sebagai manusia yang berprofesi sebagai guru pada khususnya. Agar kita sebagai guru juga bisa mengajarkan ketiga hal tersebut pada anak didik kita. Sehingga pada akhirnya terwujudlah generasi penerus bangsa yang cerdas secara intelektual, cerdas secara moral atau sikap dan cerdas dalam nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Ketiga hal tersebut semuanya diajarkan dalam lembaga yang berbasiskan nilai-nilai agama yaitu madrasah. Insyaallah.

Bothok, Geneman, dan Hasanah Kuliner Pedesaan

0

Produk desa dalam bentuk masakan, ada yang sudah punah, ada juga yang masih bertahan. Bahkan pertahanannya telah mampu mengambil posisi penting dalam rak-rak kuliner di kota. Produk itu bernama, bothok, geneman, dan lain kota lain pula namanya. Nyatanya Trenggalek masih juga menyimpan bhotok, geneman sebagai salah satu simbol yang wajib ada dalam berbagai menu upacara hajatan/selametan.

Trenggalek-KampusDesa. Masih seputar kuliner. Di Trenggalek (nama Kabupaten sini) saja, untuk benda dan kegiatan mengolah kuliner itu saja beda. Di daerah Prigi, Kecamatan Watulimo, tempat saya lahir dan besar dulu, ada nama dan sebutan Bothok. Ternyata, nama dan istilah ini digunakan secara berbeda oleh Kecamatan lain, termasuk kota lain untuk menyebut suatu makanan secara berbeda.

Yang dimaksud Bothok di Prigi itu adalah olahan ikan laut yang dibuat agak “buthuk” atau agak membusuk, lalu diolah dengan bumbu. Biasanya yang sering saya jumpai, karena sering dimasak oleh (alm.) Mbok saya, adalah ikan Layur. Ikan itu dibiarkan selama sehari semalam tanpa pendinginan, agar agak membusuk, lalu diolah dengan bumbu, dan kemudian dicampur kelapa muda. Dibungkus dengan daun pisang atau istilahnya “Digenemi”. Dan bungkusan itu namanya “Geneman”.

Nah, Geneman inilah yang oleh kecamatan lain atau daerah lain dinamakan Bothok. Maksudnya, setiap olahan yang digenemi, di daerah luar Prigi-Watulimo, ya namanya Bothok. Jadi, daerah lain akan mengenal Bothok dengan aneka jenis masakan (olahan), seperti Bothok Tawon, Bothok Lele, Bothok Iwak Kali, Bothok Tempe, Bothok Teri, Bothok Jeroan, dll.

Sedangkan yang dimaksud Bothok di daerah Prigi, padanannya dengan itu, adalah “Geneman”. Jadi di Prigi, namanya adalah Geneman Luntas, Geneman Tempe, Geneman Iwak, Geneman Mlanding (lamtoro), Geneman Tempe Bosok, Geneman Tawon, Geneman Sembukan, dan lain-lain. Sedangkan istilah “Bothok” seingat saya ya hanya mengacu pada ikan laut yang diolah setelah agak dibusukkan karena aromanya memang lebih berasa itu tadi. Bukan hanya ikan  Layur, seingat saya juga ikan Tracah—mungkin  nama ikan ini juga asing untuk daerah lain.

Jadi ketika saya agak lama tinggal di luar daerah asal saya, awalnya saya kaget bahwa nama dan sebutan Bothok itu kok berbeda. Tapi lama-lama terbiasa. Namun  ketika saya berjunjung ke daerah asal saya, ya masih beda. Meskipun orang-orang di daerah Prigi mulai kenal istilah Bothok untuk mengganti istilah Geneman. Terutama yang memang pernah tinggal di luar Prigi dan kembali, misal pernah kos di luar kota.

Yang aneh lagi, terjadi ketika saya pindah domisili di kecamatan Karangan, kecamatan lain di Trenggalek yang agak dekat dengan kecamatan kota. Ternyata kami dari daerah Prigi, khususnya Margomulyo, punya olahan kuliner yang tak dijumpai di Karangan dan daerah-daerah lain. Ada olahan namanya Geneman Iwak Pitik (Ayam Kampung). Ketika saya ceritakan tentang olahan itu, keluarga Karangan malah kaget. “Pitik kok digenemi? Gek piye rasane?”

Di daerah saya, Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, Geneman ayam ini adalah kuliner khas acara genduren yang disebut “Nyambung Tuwuh”, terbiasa ada di acara genduren yang dilakukan siang hari, mulai acara megengan, berdoa saat ada anggota keluarga yang akan kerja ke luar kota (merantau), doa keselamatan (slametan), dll. Selain nasi, urap-urap, dan sajian tradisional sebagaimana acara slametan, lauknya ya Geneman Ayam itu tadi. Jadi, ayamnya tidak diingkung dengan bumbu Lodho. Tapi digenemi atau dibungkus daun pisang.

Saya belum menemui kuliner sejenis ini di manapun sependek pindah-pindahnya hidup saya di beberapa tempat. Karena saya belum “ngiyak” semua daerah di Indonesia, mungkin saja ada tapi belum menemui atau belum tahu.

Itu salah satu khasanah kuliner pedesaan yang kaya dan variatif. Banyak kuliner tradisional lain yang layak untuk dibahas. Banyak yang sepakat kuliner tradisional itu sehat. Ya, kalau dulu memang sehatnya dijamin. Wong Mbok saya masaknya pakai kayu bakar, bungkusnya daun pisang, belum ada racun-racun kimia di berbagai bahan makanan dan tumbuh-tumbuhan. Ayamnya juga ayam kampung, belum dikasih makan pakan pabrikan.[]

Tulisan ini direpost untuk disebarluaskan guna menambah ensiklopedi makanan desa dari facebook Nurani Soyomukti. Silahkan jika mau mengikuti linimasa beliau yang sangat produktif menulis.