Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 80

Pilkada, Masihkah Pemimpin Baru Hadir dengan Wajah Lama

0

Menjadi pemilih cerdas menandai salah satu ciri kualitas demokrasi kita. Setiap warga memiliki kemampuan memilih berdasarkan pertimbangan rasional karena mereka telah cukup mendapatkan informasi calon terbaiknya. Setali tiga uang, idealisme tersebut masih belum sampai ke masyarakat. Ditemui di masyarakat, mereka memilih masih dipengaruhi oleh keputusan eksternal, bahkan ditentukan oleh lembaran uang yang diberikan oleh para kader yang menjadi tim sukses calon. Selamat memilih secara cerdas.

Tulisan ini saya buat setelah usai lebaran seminggu. Akan ada perhelatan besar lainnya yang tengah menunggu. Hari ini Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk Gubernur Jawa Timur sekaligus Bupati di Kota saya, Bondowoso. Dan tahun ini adalah kali pertama bagi saya menggunaan hak suara. Bingung, tentu saja. Sebagai bagian baru di masyarakat tentunya saya merasa bingung bagaimana saya nantinya akan menggunakan hak suara saya. Pikir saya suara saya tak akan ada pengaruhnya dengan siapa nantinya pasangan calon yang akan terpilih. Akan tetapi, tanpa saya dan kita semua sadari satu suara rakyat akan menentukan bagaimana kebijakan serta nasib daerah kita sendiri kedepannya.

Sebenarnya, momen pilkada maupun pemilu raya merupakan momen yang paling dinanti oleh masyarakat. Hal ini terjadi secara alami. Naluri masyarakat yang menginginkan adanya pebaruan di kalangan pemimpin, untuk mencari pemimpin dengan program baru yang lebih fresh dan lebih baik dari sebelumnya. Begitupun saya. meskipun tidak secara langsung saya rasakan dampak dari terpilihnya pasangan tertentu, hadirnya pemimpin baru akan membawakan semangat tersendiri di awal masa jabatan, meskipun sulit bertahan hingga akhir.

Satu minggu menjelang Pilkada, saya membantu orang tua menyebarkan undangan pemungutan suara ke beberapa warga. Kebetulan ibu saya ditunjuk menjadi petugas KPPS di salah satu TPS (Tempat Pemungutan Suara) yang ada di desa. Maklum untuk tahun ini ada syarat khusus bagi mereka yang ditunjuk menjadi petugas, yakni minimal memiliki ijazah SMA sehingga banyak orang-orang baru yang jarang terlihat dalam agenda desa sebelumnya. Kesempatan di saat berkeliling membagikan undangan ini saya manfaatkan untuk meng-explore konstruk pemikiran masyarakat desa saat ini.

Tak dapat mengelak dari fakta yang ada, masyarakat hanya mengerti untuk memilih orang (pasagan calon) tertentu yang sebelumnya telah diarahkan oleh masing-masing pasangan calon. Dan tak jarang mereka memperoleh rupiah tuk sekedar menghidupkan dapur sehari-dua hari.

Banyak fakta unik yang saya temui dalam pemikiran mayarakat desa (wong cilik), terkait Pilkada. Hal yang paling membuat saya tercengan adalah ada beberapa masyarakat yang masih belum mengerti apa itu Pilkada. Tak dapat mengelak dari fakta yang ada, masyarakat hanya mengerti untuk memilih orang (pasagan calon) tertentu yang sebelumnya telah diarahkan oleh masing-masing pasangan calon. Dan tak jarang mereka memperoleh rupiah tuk sekedar menghidupkan dapur sehari-dua hari. Mayoritas masyarakat hanya memilih mereka yang memberikan uang, tanpa mengerti apa dan siapa yang mereka pilih. Inilah yang menjadi cikal-bakal khususnya daerah saya sulit untuk berkembang, tidak menutup kemungkinan bagi Indonesia pada umumnya.

Hal kedua justru bertolak belakang, sebagian masyarakat khususnya yang berada di perantauan enggan untuk kembali ke daerah mereka. Meskipun mereka tahu dan paham betul akan diadakannya pemilihan pemimpin daerah yang baru. Mereka tidak rela jika kemudian rupiah yang mereka peroleh dari bekerja digunakan untuk ongkos pulang, dan kehilangan rupiah-rupiah lainnya karena cuti kerja untuk beberapa hari, bahkan yang lebih parah lagi sebagaian dari mereka terancam kehilangan pekerjaan jika pulang bukan pada masa-masa libur kerja sehingga demi itulah kemudian mereka mengorbankan hak suara, lagi-lagi demi uang.

Dua kondisi ini menampakkan pada saya bahwa, masalah utama tak selalu datang dari pemimpin daerah. Masih banyak masyarakat yang memprioritaskan pekerjaan di atas segalanya karena tidak dapat dipungkiri lagi hanya dari itu mereka dapat menghidupi keluarganya. Hal ini juga merupakan dampak dari masih banyak program pemerintahan untuk memberantas kemisikinan yang sulit terlaksana sehingga tak jarang masyarakat enggan untuk menggunakan hak suaranya dengan bijak. Padahal satu suara kita sangatlah berarti bukan bagi mereka tapi bagi diri kita sendiri.

Memilih wajah baru untuk lima tahun kedepan, masihkah kita mempertahakan cara lama? Dengan membarter kehidupan lima tahun dengan lembaran uang yang cukup untuk makan lima hari.

Memilih wajah baru untuk lima tahun kedepan, masihkah kita mempertahakan cara lama? Dengan membarter kehidupan lima tahun dengan lembaran uang yang cukup untuk makan lima hari. Masihkah kita mengacuhkan pemimpin kita lima tahun kedepan, sedangkan kita secara tidak langsung telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Kemudian yang menjadi pertanyaan besar selanjutnya, setelah masyarakat kembali sadar akan pentingnya Pilkada.

Masihkah pemimpin baru hadir dengan wajah yang sama?

Kecerdasan Politik Nadliyin

0

Warga nahdliyin seringkali dieksploitasi secara instrumentalistik. Eksploitasi itu dalam bentuk membangun konsolidasi melalui kekuatan patron-klien, yakni kekuatan organisasi dan figur sentral seperti kyai dan para anak turunnya. Meski cara itu bagian dari praktik demokrasi yang tidak juga menyalahi aturan, tetapi akankah konsolidasi tersebut bersifat pragmatis atau idealis, yakni semakin mencerdaskan warga nahdliyin atau hanya memperalat suara nahdliyin di penghujung hasil akhir penghitungan suara untuk semata tujuan kemenangan ?

Suara pemilih nahdliyin selalu menjadi rebutan ketika pemilu. Warga nahdliyin acapkali dijadikan sebagai instrumentalisasi politik melalui reproduksi sikap dan perilaku dukungan.

Reproduksi tersebut dilakukan dengan memainkan identitas nahdliyin dalam berbagai simbolisasi ketokohan, keturunan dan pencitraan seorang calon. Ada pula dengan cara menggunakan silaturahim ke pesantren. Hasil silaturahim tersebut menunjukkan simbolisasi komunikatif jika seorang calon telah direstui dari seorang kyai ternama. Ada yang terang-terangan menggunakan simbolisasi NU untuk kebutuhan pengakuan terhadap calon.

Drama tersebut hingar bingar ketika para calon pemimpin negeri ini sedang berlomba untuk mencari simpati dan suara. Di tahun politik 2018 hingga 2019, sikap dan perilaku politik nahdliyin akan diuji. Terutama wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah yang seluruh calonnya diisi oleh figur sentral nahdliyin.

Di sinilah sebagai warga nahdliyin dibutuhkan sikap politik yang terbuka dan pandangan politik yang lebih rasional dalam menentukan pilihannya.

Melihat dinamika politik yang berkembang, tentunya warga nahdliyin akan terpolarisasi kedalam tarik-ulur kepentingan. Di sinilah sebagai warga nahdliyin dibutuhkan sikap politik yang terbuka dan pandangan politik yang lebih rasional dalam menentukan pilihannya. Kapasitas diri ini mendorong warga nahdliyin untuk lebih cerdas secara politik dalam membangun penalarannya pada calon pemimpin yang dipilihnya di tengah hingar bingar penokohan dan penarikan simpati melalui simbol-simbol kultural nadliyin.

Rasionalitas politik

Kapasitas personal yang dibutuhkan oleh warga nahdliyin di tengah-tengah kampanye atau upaya menarik simpati calon pemilih adalah mendorong lahirkan kesadaran personal dan kolektif dalam menguji sudut pandang kandidat. Kapasitas ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan melakukan penalaran dasar dan terbuka terhadap seluruh informasi yang masuk mengenai calon. Apalagi dominasi informasi tentang Pilkada selalu membanjiri akun media sosial dengan beragam konten yang saling mencari pembenaran.

Kesadaran kritis akan mampu memfilter informasi politik otentik mengenai rekam jejak prestasi calon dengan jernih.

Oleh karena itu, kemampuan warga nahdliyin membangun penalaran yang mengacu pada data otentik perlu dilatih secara individu atau jamaah. Kesadaran penalaran kritis berfokus pada analisis informasi yang masuk ke aplikasi media sosial warga nahdliyin. Kemampuan kritis akan mendorong lahirnya pemilih cerdas yang tidak mudah dipengaruhi oleh informasi semu dan hoax yang masuk di aplikasi setiap warga. Terlebih lagi di tahun politik ini, pemilih pemula dikuasai oleh generasi muda yang terpapar gawai dengan berbagai informasi yang riuh. Kesadaran kritis akan mampu memfilter informasi politik otentik mengenai rekam jejak prestasi calon dengan jernih.

Penalaran rasional akan menjaga pemilih obyektif, jernih dari pengaruh identitas, figur, simbol dan aneka kepentingan trah semata. Apalagi di zaman digital sumber informasi semu (hoax) dan logika salah kaprah (logical fallacy) selalu mewarnai gawai kita. Penalaran rasional menjadi prasyarat warga nahdliyin menjadi subyek kritis. Salah satu caranya adalah menerima informasi dari gawai mereka dengan melakukan konfirmasi dari berbagai sumber dunia maya secara berlapis sehingga ditemukan informasi yang akurat, kredibel dan orisinil dari para calon.

Kematangan emosi kolektif

Kecerdasan politik nadliyin berikutnya adalah kematangan emosional yang menumbuhkan sikap dan perilaku asertif (tegas dalam membangun pilihan). Hal ini didasari oleh kecenderungan kultural bahwa warga nahdliyin itu bersifat guyub. Keguyubannya memberikan kecenderungan setiap orang akan terpengaruh pada sikap dan perilaku bersama-sama (jawa: melok-melok) sehingga kalau tidak guyub akan merasa tidak menjadi bagian dari kelompok.

Kematangan emosi dibutuhkan untuk menopang penalaran kritis sehingga warga nahdliyin tidak hanya suka dan gembira dengan ikut arus. Jika sudah ikut arus merasa mendapatkan wadah dan diakui oleh orang lain, sebaliknya jika tidak guyub pada salah satu kelompok pendukung akan dianggap kurang kooperatif, bahkan kurang nahdliyin. Kematangan emosi adalah ketangguhan perasaan yang dipengaruhi oleh kecenderungan keguyuban, bahkan kematangan emosi juga menjadi kekuatan agar warga nadliyin dapat bertahan dari pengaruh emosional kampanye hitam.

Warga nahdliyin dengan demikian perlu tegas memilih pilihan politiknya dari pengaruh-pengaruh sentimen emosional sehingga pilihannya didasari oleh emosi positif yang didukung penalaran yang dapat dicek berdasarkan data-data otentik.

Warga nahdliyin tidak mudah terpengaruh provokasi kebencian, sentimen figur dan persekutuan membagikan konten media sosial akibat tersulut emosi antar-calon. Warga nahdliyin dengan demikian perlu tegas memilih pilihan politiknya dari pengaruh-pengaruh sentimen emosional sehingga pilihannya didasari oleh emosi positif yang didukung penalaran yang dapat dicek berdasarkan data-data otentik.

Suara langit dan kecerdasan spiritual

Kecerdasan politik terakhir yang perlu ditumbuhkan dalam dunia politik warga nahdliyin adalah independensi spiritualitas. Tidak dipungkiri, tonggak sikap dan perilaku politik nahdliyin dipengaruhi oleh cara seorang kyai membangun keberpihakan. Kyai juga menjadi simbol yang memiliki kekuatan untuk memengaruhi sikap dan pilihan politik masif jamaah. Oleh karena itu kyai akan selalu terpaut erat dengan simbol kapitalisasi suara jamaah sehingga para calon secara langsung atau simbolis biasanya menggunakan otoritas kyai sebagai strategi memengaruhi pesan politik.

Guna mengawal etika politik yang berkualitas dan calon pemimpin yang dapat membawa kehidupan bangsa dan negara serta kemakmuran seluruh masyarakat, suara langit perlu ditransformasi menjadi informasi yang terbuka, jujur dan melampaui batas-batas sentimen calon dan simbolisasi keagamaan.

Peran kyai dalam membangun kecerdasan spiritual politik terkenal dengan istilah suara langit. Guna mengawal etika politik yang berkualitas dan calon pemimpin yang dapat membawa kehidupan bangsa dan negara serta kemakmuran seluruh masyarakat, suara langit perlu ditransformasi menjadi informasi yang terbuka, jujur dan melampaui batas-batas sentimen calon dan simbolisasi keagamaan. Suara langit adalah kecerdasan spiritual yang memberikan pendidikan politik warga nadhliyin agar selalu berpijak pada nilai-nilai universal kemaslahatan melintasi simbolisasi figur. Kekuatan ini diposisikan sebagai bagian dari uji kebenaran diantara keragu-raguan siapa calon pemimpin terbaik.

Suara langit yang biasanya keluar dari kyai kharismatik dapat dijadikan sumber puncak informasi yang dirujuk oleh warga nahdliyin dengan nilai politik independen. Melalui suara kharismatik, warga nahdliyin mempunyai kualitas informasi yang kokoh sehingga berdasarkan kekuatan spiritualitas tersebut warga nahdliyin memiliki acuan cerdas, informasi berkualitas dan berani menolak bentuk-bentuk politik uang dalam berbagai cara karena sandaran imannya mampu membedakan antara politik nurani dan pragmatis.

Ketika Para Sastrawan Menulis Khasanah Kuliner Pedesaan Trenggalek

0

Belajar, apalagi mengajar kadang terlalu rumit diikuti, bahkan dipahami ketika menggunakan pendekatan klasik, seperti belajar membaca buku-buku teks atau buku formal lainnya. Buku ini merupakan potret mengedukasi masyarakat bukan menggunakan teks formal, tetapi disajikan melalui cerita pendek. Nah, inspirasi buku ini menegaskan bahwa cerita mampu mendidik atau mengajak masyarakat secara kritis tanpa rumit, cukup menggunakan cerita (Mohammad Mahpur).

Tahun ini, di Trenggalek terbit lagi buku baru yang ditulis oleh para penulis lokal pedesaan. Ini menandai bahwa eksistensi gerakan literasi Trenggalek yang dimotori oleh komunitas yang menamakan dirinya Quantum Litera Center (QLC) masih terus terjaga. Yang menarik, masih seperti kumpulan cerita pendek sebelumnya, buku Kumpulan Cerita Pendek Trenggalek 2018 ini masih beraroma lokal, berbau pedesaan. Cerpen yang tidak (belum) berbau besi dan plastik, tapi masih mengandung bumbu lokalitas yang meramu kisah dari bahan-bahan (materi) berupa tanah pedesaan, air, tumbuhan, hingga kuliner—bersama nilai-nilai yang lahir bersamanya. Baik sebagai latar semata, maupun sebagai inti cerita atau hal yang hendak ditonjolkan oleh penulisnya. Baunya amat sedap, ramuannya semakin “pas”.

Langsung saja, soal cerpen yang menurut saya paling berbau sedap dalam buku ini. Yang bisa kita buat untuk mengerucutkan bentuk cerpen Trenggalek bersama kecenderungan tema dan pesan-pesan moral yang diangkat—yang memiliki kecenderungan yang sama sejak Kumpulan Cerpen Trenggalek terbit sejak 2012.

Saya memilih salah satu cerpen yang bisa kita kembangkan sebagai sebuah kecenderungan cerpen Trenggalek di masa depan—yang saya sebut secara berani sebagai cerpen berbau pedesaan dan berbau kuliner. Sastra Kuliner ini telah menjadi topic obrolan saya bersama sastrawan Jawa Timur, mbak Wina Bojonegoro, saat kami (berempat) sedang menikmati Lodho Bojana Rasa Trenggalek beberapa bulan lalu. Sastra kuliner, menurut info beliau, pernah diujicobakan di Surabaya. Tetapi, menurut kesimpulan saya dari informasi yang disampaikan Mbak Wina, eksperimen itu tidak membawa dampak.

“Mungkin basis material untuk diangkat jadi karya sastra kurang”, komentar saya dalam hati. Tapi setidaknya kabar tentang penerbitan buku “Sastra Kuliner” tersebut menginspirasi. Dan tentunya harus dicoba di Trenggalek setelah ini (mungkin bisa jadi agenda tahun 2019 nanti—bisa juga diupayakan tahun ini juga).

Setelah membaca semua karya yang lolos dalam buku ini, saya kemudian menyadari bahwa sastra kuliner yang dimaksud juga sudah muncul dan bisa ditemukan dalam kumpulan cerpen ini. Cerpen “Kembang Sepatu” karya Isna Indriati yang saya pilih sebagai cerpen yang paling sedap dalam buku ini (di antara 25 cerpen yang tersaji), tidak bisa tidak, jelas mewakili genre Sastra Kuliner sebagaimana saya dengar dari Mbak Wina itu. Cerpen inilah yang merogoh hampir semua kenangan mas kecil saya (mungkin anda yang seusia kurang lebih hampir sama dengan saya) akan masa kecil dengan berbagai kekayaan kuliner—selain kenangan tentang rumah, alam, masyarakat, hingga permainan tradisonal di pedesaan.

Memang, cerpen ini pertama-tama menggambarkan suasana dan bentuk rumah yang ditinggal Mbah Ti dan cicitnya. Rumah jaman dulu yang dihidupi oleh orang yang secara materi tidak kekurangan, rumah yang pemiliknya punya tanah dan berhasil mendapatkan penghidupan

Ada Kendi, tempat minuman terbuat dari tanah liat di rumah yang di sekitarnya ditumbuhi berbagai tanaman yang hampir semuanya bermanfaat itu. Memang, cerpen ini pertama-tama menggambarkan suasana dan bentuk rumah yang ditinggal Mbah Ti dan cicitnya. Rumah jaman dulu yang dihidupi oleh orang yang secara materi tidak kekurangan, rumah yang pemiliknya punya tanah dan berhasil mendapatkan penghidupan dari tanah dengan berbagai tanamannya.

Isna berhasil menarasikan bentuk rumah kuno Trenggalek. Ada “bale” yang merupakan ruang luas dalam yang biasanya memiliki empat tiang besar. Lalu ada ‘kampung’, ruangan setelah ‘bale’, biasanya tak seluas ‘bale’ (lebih sempit). Gambaran yang mirip dengan rumah Mbah saya dulu. Saya mendapati memori masa kecil saya tentang rumah hampir utuh setelah membaca narasi Isna: “Satu pintu dengan dua daun pintu rangkap menghubungkan kampung dengan ruang tengah. Dua daun pintu depan atau luar kayu semua. Dua daun pintu dalam merupakan kombinasi kayu dan kaca… Di ruang tengah inilah ada tiga kamar, ruang keluarga dan ruang makan. Ruang tengah inilah yang bisa di sebut rumah. Sebelah kiri ruang tengah, ada satu pintu menuju ke dapur.”

Selanjutnya masuk ke narasi tentang kuliner berbasis tetumbuhan Trenggalek. Di belakang rumah, tepatnya beberapa meter dari pintu dapur belakang, ada tetumbuhan ‘mpon-mpon’ dan pisang. “Godhong Gedhang” adalah bahan untuk membungkus berbagai masakan. Dalam cerpennya, Isna menonjolkan salah satu kuliner tradisional berbungkus daun pisang (‘geneman’) yang barangkali sudah kita lupakan, yaitu “Temu Poh”.

Selayaknya narasi tentang kuliner, maka ada istilah bahasa Jawa (Trenggalek) yang menunjukkan kata kerja atau tindakan seperti “Ditus”—artinya dibiarkan hingga air yang menempel di barang yang dicuci kering. Ada pula alat masak tradisional dan bahan bakar yang digunakan di masa itu. Ada ‘blarak’, kata yang saya yakin sudah mulai hilang seiring hilangnya benda nyatanya. Sebab daun kelapa kering itu sudah digantikan oleh ‘liquid petroleum gas’ (LPG)—yang belakangan sempat menghebohkan karena langka di pasaran.

Waktu itu belum ada kompor, yang ada adalah “pawonan”, yaitu alat yang dijelaskan langsung melalui narasi dalam kalimat berikutnya oleh penulis: “tungku dari tanah yang pembuatannya dicampur dengan sekam”. Sekali lagi, suatu benda dan kegiatan tertentu memiliki efek tertentu, yang dalam konteks bahasa kemudian juga melahirkan istilah yang berkaitan dengan kenyataan yang berkaitan. Kata ‘plepek’ yang menggambarkan bagaimana mata harus sering terpejam dan kadang mengeluarkan air karena (menghindari) asap api di dapur dalam kegiatan masak atau memanasi benda-benda lainnya yang dilakukan didapur. Apakah ibu-ibu sekarang pernah ‘plepek’ gara-gara masak pakai kompor gas? Hehehe… Nggak kan? Gak ada lagi kata ‘plepek’ dari dalam dapur-dapur kita.

Meskipun tidak digambarkan dalam cerpen tersebut, setidaknya saya ingat masa kecil saya dulu. Waktu itu dapur Mbah saya terbilang luas dengan ‘pawonan’ berada di pojok dan meja kursi tempat makan ada di dapur yang sama—ya, saking luas dapurnya. Di antara ‘pawonan’ dan meja tempat makan dan meletakkan masakan yang siap saji. Ada tempat berbentuk persegi empat dari anyaman bambu yang disebut “Paga” (huruf ‘a’ dibaca ‘o’ seperti pada kata ‘tolong” dalam bahasa Indonesia).

‘Paga’ digantung dengan gagang yang ditalikan atau dicantolkan ke langit-langit dapur. Apa fungsi tempat itu? Antara lain untuk meletakkan lauk dan bumbu agar terjauhkan dari semut dan tikus. Bahkan juga agar tidak bisa diambil dari anak-anak kecil (mengingat posisinya yang di atas). Beberapa masakan ditaruh di sana, tidak diletakkan semuanya di meja makan, agar juga tidak dihabiskan oleh anggota keluarga saat makan.

Ini juga merupakan upaya masyarakat Jawa (Trenggalek) untuk mengirit makanan-makanan tertentu yang memang perlu diirit atau dibagi. Makanan yang dimasak dipastikan bisa dibagi rata karena anggota keluarga banyak. Kalau ditaruh disembarang tempat, siapapun akan mudah mengambil. Apalagi oleh anak-anak yang tak mengenal ukuran. Atau oleh salah satu anggota keluarga yang egois dan serakah.

Suasana dapur luas yang belum digambarkan lagi dalam cerpen itu antara lain bahwa selain meja makan, paga, dan pawonan, di dapur yang luas bahkan juga ada ambin, babragan (semacam tempat piring, lepek, sendok, cangkir, atau wadah-wadah lain untuk masakan dan makanan). Bahkan saya masih ingat bagaimana di dapur (pawon) Mbah saya dulu ada dua ambin.

Cerpen ini bukan hanya berhasil membawa ingatan saya pada “kekayaan” kuliner dan alam kehidupan masyarakat desa kita.

Meski demikian, fokus Isna Indriati dalam menarasikan kuliner, tanaman, rumah, dan relasi keluarga tradisonal dalam cerpen ini bukan hanya berhasil membawa ingatan saya pada “kekayaan” kuliner dan alam kehidupan masyarakat desa kita. Tapi bahkan mengingatkan kita pada kuliner yang sudah kita lupakan itu sendiri.

Dan Alhamdulillah, kita mendapatkan penjelasan tentang “Geneman Temu Poh” dari kalimat ini: “Masakan sejenis bothok ini dibuat dari rimpang sejenis kunyit putih. Parutan kelapa muda ditambah bumbu halus yang terdiri bawang merah, bawang putih, cabe rawit, ketumbar, garam dan gula menjadi bahan penting demi cita rasa temu poh yang menurut Mbah Ti tiada duanya. Bahkan dia meminta tambahan daun kunyit muda yang segar untuk alas saat dibungkus dengan daun pisang. Uni sangat hafal dengan selera nenek buyutnya yang tak absen dari nginang-nya itu.”

Kuliner pedesaan asli kita bukan hanya enak, tapi juga membuat kita sehat dan awet hidup.

“Nginang” adalah mengunyah daun sirih yang dicampur “Njet” (semacam kapur yang basah empuk tercampur air). Itulah yang membuat Mbah Ti yang umurnya sudah 95 tahun itu masing sehat. Hal yang mau disampaikan penulis juga: Kuliner pedesaan asli kita bukan hanya enak, tapi juga membuat kita sehat dan awet hidup. Sedangkan hilangnya kuliner asli, dengan bombardier makanan instan, masyarakat Trenggalek justru cenderung sakit-sakitan.

Ada juga narasi tentang masa kecil anak-anak era itu dengan permainan tradisional berbahan pedesaan yang masih alami. Bermain perang-perangan dengan “senjata laras panjang dari pelepah daun pisang”, hingga permainan ‘Gedrik’ yang alatnya adalah “pecahan genteng atau batu bata”. Tentu permainan yang terakhir ini butuh tanah lapang, halaman rumah yang luas. Dan sekarang, apakah halaman atau tanah lapang dan berbagai bahan yang bisa kita gunakan untuk melestarikan permainan tradisional itu masih ada (tersisa)?

Yang terpenting lagi dalam cerpen ‘Kembang Sepatu’ karya perempuan kelahiran Desa Panggungsari (Kecamatan Durenan) ini adalah semangat bertahan hidup dan mengembangkan kehidupan dengan nilai-nilai sosial yang berkembang, ikatan antara Buyut dan Cicitnya, sesama perempuan dari generasi yang berbeda. Apakah yang bertahan dari hubungan keduanya? Inilah kisah utama yang dinarasikan dari cerpen tersebut.

Mbah Ti yang digambarkan di cerpen ini adalah sosok perempuan kuat dan tangguh yang juga sering kita temui di daerah pedesaan. Ia merawat seorang cucu yang kemudian sukses karena perawatannya—ini nampaknya inti dari cerita dari cerpen ini. Bagaimana nenek tua ini bisa membiayai cucunya hingga sukses? Hampir persis Mbah saya dulu dalam hal mendapatkan penghasilan: Punya kebun dan ladang luas, ada banyak pohon kelapa yang buahnya dijual dan dari sinilah uang didapat. Punya pesuruh (pembantu) yang siap dimintai tolong untuk memetik hasil tani di sawah dan tanaman di tegalan—apalagi jika mengenang masa jaya Cengkeh sebelum harganya dirusak oleh BPPC.

Dari cerpen karya Isna, dengan menjual hasil bumi yang ada inilah Mbah Ti dapat uang untuk membiayai kuliah anak-anaknya, dan bahkan nyambung cicitnya yang bernama Uni. Gambaran ketercupukan hidup di era yang masih hijau itu dinarasikan seperti ini: “Uni tak kan kelaparan hidup berdua dengan buyutnya. Hasil kelapa juga yang dulu mampu mengantarkan pakdhenya jadi guru, dan sekarang sudah jadi kepala sekolah. Ibu dan pakdhenya lah yang dibiayai oleh buyutnya karena kakek Uni meninggal saat anaknya masih kecil.”

Kenapa tak mungkin kelaparan? Ya karena dari kebun dan ladang, segala tetumbuhan tersedia untuk dimakan. Tak ada bahan makanan (instan) dari pabrik yang “membanjiri” daerah pedesaan. Buah-buahan tidak usah beli. Bahkan juga berlimpah. “Beberapa tandan pisang tergeletak di pojok ruangan. Mereka juga tak malu untuk meminta. Mbah Ti bukan orang pelit. Jika anak-anak meminta untuk dimakan, dia pasti mengijinkan.”

Semuanya nyaris ada: “Halaman belakang rumah masih dipenuhi tumbuhan rimpang temu poh kesayangan buyutnya. Garut dan ganyong juga masih ada. Ayam, angsa dan menthok…” Keberadaan buyut janda yang punya segalanya itulah yang membuat Uni, tokoh utama cerpen ini, akhirnya bisa tumbuh menjadi perempuan sukses.

Yang menarik adalah setelah sukses dan jadi dokter (“tukang suntik”), Uni masih bisa mewariskan “bothok Temu Poh” pada anak kecilnya yang amat aktif, meskipun kuliner warisan itu ditampilkan dengan cara yang baru yang menarik anaknya: “Bothok temu poh yang sudah dibungkus dengan telur dadar itu lain dengan yang dimasaknya dulu bersama Mbah Ti. Bahan yang masih sama, khasiat juga masih sama tapi penampilan yang berbeda.”

Uni adalah perempuan modern yang masih mau meneruskan khasanak kuliner Trenggalek yang sehat dan bebas dari racun kimia. Dan dia juga ingin anaknya mencintai kuliner khas Trenggalek. Karena itulah ia mencintai apa yang tumbuh sejak Buyutnya dulu. Bukan hanya pisang, mpon-mpon, jagung dan palawija lain yang disebut-sebut dalam cerpen ini. Tapi juga pohon Ketapang dan pohon nam-naman. Dan terakhir adalah ‘Kembang Sepatu’. Di awal saya belum paham alias lupa apa itu Kembang Sepatu. Ternyata dibagian akhir cerpen ini saya baru ingat bahwa dulu saya juga sering menikmati kembang ini. Kembang Sepatu itu kalau kita lepas tangkai dan mahkotanya, ada air di dalamnya yang jika dihisap rasanya manis. Kembang Sepatu itu sejak Dokter Wuni Dwitari sudah ada di rumah buyutnya (Mbah Ti) itu. Perjuangan buyut dan cicit ini menghasilkan akhir hidup yang manis, semanis madu kembang sepatu.

Memang tidak semua cerpen dalam Kumpulan Cerpen Trenggalek 2018 ini mengangkat kuliner dalam narasinya, atau setidaknya disebut dalam tulisan yang diguritkan penulis Trenggalek yang memiliki latarbelakang berbeda-beda ini dari sisi usia, pekerjaan, tempat tinggal, pendidikan, dan lain-lain.

Tapi setidaknya beberapa cerpen menampilkan nama kuliner, makanan, minuman, buah-buahan, atau benda-benda yang bisa masuk di mulut dan masuk ke perut. Nasi Pindang dan Pecel Hutan Kota disebut dalam cerpen Adi Treswantoro (Inos). Juga Pecel Mbah Suti pada cerpen saya.

“Tak Senikmat Sego Gegok Buatanmu” karya Fitri jelas ingin menjadikan kuliner asal Bendungan itu sebagai latar cerita. Upaya untuk mengangkat Nasi Gegok bahkan tergambar jelas dari Narasi Fitri: “Hanya makanan ini yang membuatku bersemangat saat ke sawah tiap pagi. Dari sego berbalut pisang yang bernama Gegok ini aku menemukan kesederhanaan, yang menyimpan sejuta kecantikan. Ia tak jual mahal, tidak mengandung kolesterol dan bumbu-bumbu yang mengancam kesehatan. Hingga akhirnya muncul pertanyaan dalam benakku, tangan siapakah yang telah membuatnya? Dia pasti membuatnya dengan penuh cinta, buktinya semua pengunjung begitu berselera saat menyantapnya.”

Kuliner ‘Sompil’ dan ‘Gembrung’ juga muncul dalam cerpen karya Reny (penulis asal Desa Karanggangu Watulimo) yang berjudul “Pion Kangmas Gentong”. Bahkan kekayaan alam pedesaan Trenggalek juga diangkat, bukan hanya Cengkeh dan durian tapi juga buah-buahan: “Beberapa bungkus sompil dan gembrung selalu menjadi oleh-oleh Bu Mitro sepulang dari pasar berjualan sayur-mayur. Cipir, sawi, singkong, tewel, kelapa, rebung adalah barang dagangan Bu Mitro yang dipetik dari kebun di sekitar rumah. Pada musim tertentu, dia menjual sawo, belimbing, nangka, labu, tebu, manggis dan durian.”

Kuliner yang menyatu dalam ubo rampen juga disebut-sebut dalam beberapa cerpen, misalnya, cerpen ‘Watu Tledek’ karya Mbak Iin: Boreh kembang telon, minyak srimpi, ragi, tape… Juga ada sesajen, beberapa bentuk buah-buahan dan olahan, yang mengiringi sesajen utama. “Sesajen utama ritual ini adalah kepala kambing muda”, tulis dalam cerpen Harendhika Lukiswara berjudul ‘Desa Kutukan’.

Sedangkan nama-nama kuliner modern dengan nama-nama semacam “vanilla latte”, “tortilla chips”, “mayonais”, “cappuccino dengan marshmallow” seperti yang muncul dalam cerpen “Perahu Yang Berlabuh” karya Helfrida Miftakhur Raifa Sogara tidak mengganggu keseluruhan isi buku ini.

Cerpen-cerpen lainnya dengan tema yang berbeda-beda juga mewarnai buku ini. Masih seputar alam, konflik sosial, pendidikan, kecelakaan dan bencana yang dialami, cinta dan perpisahan (perceraian)—dan segala sesuatu yang sudah, sedang, dan akan terjadi pada orang-orang Trenggalek. Kisah-kisah ini teranyam dengan proses kreatif yang berbeda-beda antara satu penulis dengan penulis lainnya. Tergantung banyak hal. Ada yang penulis lama yang masih banyak hadir dalam buku ini—yang dalam kumpulan cerpen sebelumnya sudah hadir. Ada pula pendatang baru, termasuk adhik-adhik pelajar baik sekolah lanjutan tingkat pertama atau sekolah lanjutan tingkat atas—yang masih bisa dikatakan sebagai penulis anak (remaja).

Harapannya, terbitnya buku ini bisa bermanfaat dalam beberapa hal. Setidaknya, pertama, akan terus terjada budaya membaca dan menulis di Trenggalek. Dengan upaya menerbitkan buku kumpulan cerpen setidaknya setiap setahun sekali, akan ada harapan bagi para pegiat literasi Trenggalek (penulis) untuk melihat karyanya (cerpennya) bisa diterbitkan melalui penerbitkan yang difasilitasi oleg Quantum Litera Center (QLC) Trenggalek.

Kedua, dengan mengambil pilihan mengangkat kisah Trenggalek, akan banyak orang yang membaca buku ini. Branding “penulis Trenggalek” sendiri akan membuat banyak orang Trenggalek penasaran tentang apa yang ditulis orang Trenggalek dan bagaimana mereka menuliskan kisah dan imajinasinya. Ketiga, untuk mewarnai menggeliatnya tradisi literasi yang mulai bangkit, yang juga mulai tumbuh di daerah pedesaan.

KAKI GUNUNG JABUNG, KARANGAN, TRENGGALEK 19 MEI 2018

Konvensi Pendidikan Indonesia VI di Kediri

0

Ikhtiar Menumbuhkan Pendidikan yang Mencerahkan

Pengalaman murid dan guru yang berbeda-beda semestinya diwadahi dalam dunia pendidikan. Pendidikan sejatinya adalah proses membangun kehidupan. Setiap orang yang berpartisipasi dalam dunia pendidikan, mereka mempunyai hak untuk mendapatkan pencerahannya masing-masing. Meskipun prestasi mereka berbeda, mereka tetap mendapat keunggulannya masing-masing.

Selain itu, jikalau tidak latah, pendidikan tidak bisa dipungkiri menjadi subyek yang diberi beban menjawab modal dasar kemanusiaan dan peradaban yang paripurna. Mungkinkah itu terwujud ditengah rancaunya cara pandang dan ukur yang saling berebut pengakuan atau otoritas mengenai pendidikan kita ? Apalagi kalau sudah bicara kebijakan dan politik pendidikan, selalu terjadi kesenjangan akan pendidikan kita hari ini.

Silahkan didownload dan disebarluaskan

Yuk, hadir saja dalam Konvensi Pendidik VI. Kita rame-rame akan membangun penawaran pendidikan untuk mengembangkan modal baru bagi pendidikan yang mencerahkan.

Kami mengundang bagi Anda yang memiliki aneka pengalaman pendidikan di luar mainstream untuk turut mengembangkan inspirasi pendidikan yang mencerahkan dengan berbagai tips dan pengelolaan pendidikan.

Undangan ini juga terbuka untuk umum, khususnya bagi para praktisi pendidikan yang ingin melakukan perubahan-perubahan kecil dari pengalaman mengajar atau mengelola pendidikan.

Lek pemerintah enggan atau rumit, yuk budal dewe ae

Mari para Pengamat, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Hadir di Kediri pada ;

]Minggu, 1 Juli 2018 | 08.00 WIB s/d Selesai
Tempat : The Naff. A Creatif and Fun School
Mojoroto, Gang 7 No 9 Kota Kediri
Rancangan Agenda Kegiatan :
08.00 sd 09.00 Pembukaan

Tabur Inspirasi Pendidikan yang Mencerahkan
Oleh :
????????‍???? Dinas Pendidikan Kota Kediri Sebagai Keynotespeaker
????????‍???? Perwakilan OLDWA sebagai representasi gagasan Konvensi Pendidikan

09.00 sd 11.00 Panel Session :

Pendidikan yang Mencerahkan, Keluar dari Paradog Belenggu Pendidikan (Kebijakan dan Praktik Penyelenggaraan Pendidikan)
Oleh :
????????‍???? Lukman Hakim (Founder Sekolah Dolan Malang)
????????‍???? Ulfa Muhayani (Pemerhati kebijakan alumnus kebijakan publik
ANU Australia)
Dipandu oleh Ilhamuddin Nukman

11.00 sd 12.00 Dialog Interaktif

Mengumpulkan sudut pandang yang berbeda untuk menemukan simpul pendidikan yang mencerahkan
????????‍???? Timeless Oriented Learning
Oleh : Kentar Budhojo Founder Sekolah Garasi
????????‍???? Revolusi Sekolah tanpa PR
Oleh : Nafik Palil (Founder The Naff A Creative and Fun School)
????????‍???? Mengangkat Mutu Pendidikan dari Situasi Terpuruk
Oleh : Najmah Katsir (Kepala MTsNU Pakis Kab. Malang
????????‍???? Pendidikan dan Entrepreneurship Sejak Dini
Oleh : Sir Saktiani (Founder MI Modern Sakti Permatahati Ibu T. Agung)
Dipandu oleh Yusuf Ratu Agung

12.00 sd 14.00 Lunch

Karaoke, Instirahat dan pameran hasil pendidikan yang mencerahkan

14.00 sd 15.00 Parallel Class

Class 1 : Tematic Parallel Class (Pilihan)
Class 2 : Tematic Parallel Class (Pilihan)
Class 3 : Tematic Parallel Class (PIlihan)
Pemandu : Alfin Mustikawan, Taufiqurrahman, Hasan Abdillah dan Agus Syamsul Arifin

Kelas ini tentatif, diumumkan saat di lokasi berdasarkan tawaran dari para ahli yang ingin berbagi atau mendiseminasi hasil pengalaman barunya di dunia pendidikan atau umum (setiap orang punya kesempatan untuk berbagi). Silahkan bagi yang peduli, memiliki pengalaman unik, ingin menyampaikan hasil-hasil temuan di lapangan untuk mendaftar sebagai Presenter untuk mengisi kelas-kelas tersebut.

15.00 sd 16.00 Sholat Ashar dan On Clinic Free

Peserta bisa berkunjung dan melakukan konsultasi di stand pameran pendidikan.

16.00 sd 17.30 Focus Group Discussion.

Membangun formula perubahan internal pendidikan. Menuju percepatan pendidikan yang mencerahkan.
Dipandu oleh Mohammad Mahpur, Edi Purwanto, dan Zainal Habib

Silahkan daftarkan diri Anda untuk turut berkonstribusi dalam mewujudkan jejak-jejak pendidikan di Indonesia yang lebih mencerahkan. Mohon kehadiran Anda dengan menyebutkan keterlibatannya sebagai,

Peserta
Berbagi khazanah keahlian, pengalaman baru dalam praktik-praktik pendidikan yang mencerahkan.
Pameran produk-produk pendidikan yang mencerahkan atau aneka inspirasi yang dapat dikembangkan dalam dunia pendidikan atau dunia pada umumnya.
Cara pendaftaran dengan mengirim melalui Whatsapp di nomer yang kami sediakan dengan cara Ketik : Nama#Instansi#hadir sebagai#

Informasi kegiatan dan pendaftaran silahkan menghubungi

Kentar Budhojo : 081333193605
Naff : 082110800869

Acara ini diselenggarakan oleh Ojo Leren Dadi Wong Apik (OLDWA) dan didukung oleh para praktisi pendidikan dan antek-anteknya seperti The Naff School and Training, Sekolah Garasi, MTsNU Pakis Malang, Sekolah Dolan, Kampus Desa Indonesia, Ngaji Tani, Sanggar Cendekia, B3M, dan beberapa tokoh dan lembaga yang ikut mengembangkan pendidikan non-mainstream.

Mudik dan Perjumpaan Kota-Desa

0

Mudik dan terhubung dengan saudara dari ayah ibu kita boleh jadi adalah isyarat masa depan. Ini awal dari titik masa depan yang mungkin tidak pernah terbayangkan. Ada pengalaman yang mendukung itu setelah sekian tahun besar tumbuh dewasa. Ternyata dukungan dari seorang saudara telah dia temukan maknanya sebagai awal kebangkitan suksesnya.

Selain ikatan kekerabatan dan ritus tahunan, keberadaan daerah pedesaan, baik karena kuliner maupun indahnya pemandangan yang hijau dan air yang masih berlimpah jumlahnya, adalah basis bagi daya tarik orang-orang yang mudik. Ada yang bilang “mudik” berasal dari kada “udik” yang berarti “desa” atau “kampong.” Desa yang sebenarnya adalah asal-usul mereka. Tanah air mereka. Di mana tanah dan air adalah syarat bagi kehidupan.

Di kota tanah-tanah menyempit karena berbagai macam bangunan, termasuk kantor-kantor pemerintahan dan swasta. Air juga suatu yang mahal harganya. Selebihnya adalah relasi-relasi sosial yang terbatasi oleh kondisi ruang dan pekerjaan. Di hari-hari biasa, kota adalah tempat orang terobotisasi dalam “ritus” ekonomi. Kota dipenuhi dengan orang-orang yang sepertinya hanya sibuk menjalani kegiatan yang seakan sudah dijalankan oleh sistem kehidupan yang dibingkai dalam penjara kapitalisme.

Tapi pada hari lebaran, Ibu Kota lengang seperti tak ada kehidupan. Semua orang mudik ke kampung halaman. Sebagai peristiwa budaya mudik bisa dilihat sebagai sebuah pergerakan manusia dalam jumlah yang cukup besar untuk mengikuti suatu ritualitas tahunan. Manusia-manusia itu mencari makna dari suatu ritus yang harus dijalani.

Mobilitas sosial ke kampung halaman ini menghasilkan suatu relasi sosial yang bisa melahirkan makna-makna baru, tujuan baru, dan mempengaruhi dinamika sosial.

Dari sisi sosiologis, mobilitas sosial ke kampung halaman ini menghasilkan suatu relasi sosial yang bisa melahirkan makna-makna baru, tujuan baru, dan mempengaruhi dinamika sosial. Yang tentu saja punya dimensi ekonomi dan politik juga (apalagi musim perhelatan elektoral bernama Pilkada).

Sedangkan aspek ekonomi cukup kentara karena ekonomi adalah relasi yang mengatur hal-hal yang sifatnyya nyata dan material. Penjual jasa transportasi yang kewalahan melayani pelanggan, karena mobilisasi massa dari kota ke desa membutuhan jasa untuk memindahkan orang dan barang yang dibawanya. Mereka juga membawa duit yang sepanjang perjalanan juga digunakan untuk mengonsumsi sesuatu yang dibutuhkan. Nyatanya mereka juga datang bukan hanya membawa duit, tapi juga oleh-oleh yang tak jarang dibeli dalam perjalanan.

Dinamika ekonomi suatu masyarakat itu sangat ditentukan oleh jumlah manusia dan perpindahannya.

Meskipun, peristiwa ekonomi ini hanya berlangsung beberap hari. Setidaknya kita menjadi yakin bahwa dinamika ekonomi suatu masyarakat itu sangat ditentukan oleh jumlah manusia dan perpindahannya. Kota-kota dihuni mall-mall yang lengang, sebuah kejadian yang bisa dirasakan. Jalan raya di pedesaan menjadi ramai. Setelah menjalankan ritus berlebaran di hari pertama dan kebiasaan yang paling utama yaitu sholat Idul Fitri dan tradisi bermaaf-maafan dengan berkunjung ke handai taulan, para pemudik yang tak akan tinggal lama atau kembali ke kota ini akan melakukan kegiatan-kegiatan yang mengghidupkan ekonomi di desa.

Berkunjung ke tempat wisata, menikmati kuliner pedesaan, reuni dengan pengadaan acara yang membuat para penjual jasa sewa ‘soud system’, terop, dan jasa cathering menjadi hidup. Bahkan beberapa kegiatan reuni juga membutuhkan jasa pemandu acara (MC) dan musisi untuk menghiasi acara reuni yang diadakan.

Hotel juga kewalahan melayani para pendatang yang menginap. Dan memang, dunia wisata adalah yang paling mendapatkan dampak nyata akibat mobilisasi orang-orang dari kota ke desa. Di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, misalnya, saat lebaran tempat-tempat wisata akan dipenuhi dengan pengunjung. Di salah satu spot wisata seperti Pasir Putih, misalnya, terjadi kesulitan dalam memarkir kendaraan.

Pada lebatan tahun ini, warung-warung juga penuh pengunjung. Penuhnya warung-warung di Trenggalek, sudah berlangsung sejak dua hari sebelum lebaran. Hal itu terjadi karena sudah banyak yang mudik. Mereka yang selama setahun jauh dari desa, tinggal di kota-kota besar, ingin merasakan kuliner di desanya yang tentu saja lebih lezat dan enak dibanding kuliner yang dinikmati di daerah perkotaan.

Seorang anak di desa yang biasanya kesulitan mendapatkan uang, tiba-tiba mendapatkan “sangu” dari Pakde, Paklik, Tante, Mbah, yang sukses bekerja di kota. Jumlahnya cukup banyak.

Sementara itu, tradisi memberi “sangu” pada anak-anak juga membawa dampak yang baik bagi kehidupan di desa. Seorang anak di desa yang biasanya kesulitan mendapatkan uang, tiba-tiba mendapatkan “sangu” dari Pakde, Paklik, Tante, Mbah, yang sukses bekerja di kota. Jumlahnya cukup banyak. Bahkan ada anak yang bisa mendapatkan sangu secara akumulatif sejumlah 2 juta.

Ibunya berkata, “Alhamdulillah, Le, duitnya ditabung untuk daftar sekolah SMP nanti.” Anak tersebut termotivasi untuk sekolah karena punya biaya. Motivasi juga datang dari Pakde yang sukses bekerja di kota. Pakde yang dulu juga masa kecilnya kesulitan cari biaya sekolah, ternyata bisa berhasil dan justru lebih sukses dibanding tetangga yang anak orang-orang kaya.

Pakde yang memberi sangu dan sukses ini tak jarang adalah sosok yang menginspirasi anak-anak desa. Momen-momen inspirtif saat lebaran ini sering terjadi. Karena ada perjumpaan, ada cerita, ada hal yang dipelajari tiap kisah dari orang-orang yang kadang jarang kita jumpai dan baru kita temui pada saat lebaran. Ada kalanya, saudara yang jarang pulang di tahun-tahun sebelumnya, tiba-tiba lebaran ini datang. Dan ia punya segudang kisah hidup inspiratif pada anak-anak dan remaja di kampungnya. Yang bisa jadi satu atau dua anak yang meresapi kisahnya bisa menemukan kebangkitan.

Ada kalanya, saudara yang jarang pulang di tahun-tahun sebelumnya, tiba-tiba lebaran ini datang. Dan ia punya segudang kisah hidup inspiratif pada anak-anak dan remaja di kampungnya. Yang bisa jadi satu atau dua anak yang meresapi kisahnya bisa menemukan kebangkitan.

Saya punya cerita seperti ini. Beberapa tahun lalu, seorang laki-laki datang saat lebaran. Saya bahkan belum pernah melihat lelaki itu. Atau saya tidak ingat karena saat laki-laki itu masih hidup di kampung halaman, saya masih kecil sekali dan masa itu tak bisa diingat di usia saya berikutnya. Lelaki itu adalah adhik kandung ibu saya, datang bersama istri dan anaknya. Ia sukses di perantauan. Dari kisah hidup orang yang tak saya duga hadir di dan menginap di keluarga kami selama seminggu itu, saya mengalami kebangkitan. Salah satu kata-kata yang saya ingat adalah: “Pokoknya kamu harus sekolah terus, Ni. Nanti kalau ada apa-apa, Paklik siap membantu”.

Dari kisah hidup orang yang tak saya duga hadir di dan menginap di keluarga kami selama seminggu itu, saya mengalami kebangkitan.

Lelaki yang pernah sekolah di Solo dan bisa ndalang itu memberi kabar dan duit pada keluarga kami. Dan yang terlebih penting adalah memberi harapan. Saat itulah, hidup saya tak lagi putus asa di masa kanak-kanak. Saya lupa itu lebaran tahun berapa. Sebuah perjumpaan dari kegiatan mudik yang tampaknya mengubah hidup saya selanjutnya. Yang membuat saya giat belajar sejak masuk sekolah menengah. Yang membuat saya suka membaca dan berpikir di masa-masa selanjutnya.

(SUBUH HARI, LEBARAN KEEMPAT, KAKI GUNUNG JABUNG, 18/06/2018)

Silaturahim dan Inspirasi Sukses untuk Anak

0

Sebentar dulu, mumpung masih suasana anjang sana Hari Raya. Beberapa manfaat yang bias dipetik adalah memraktikkan cerita sebagai sumber inspirasi dan keteladanan. Bagi orang-orang yang Anda tuju dan mereka memiliki berbagai pengalaman sukses, sebaiknya mereka diminta untuk bercerita tentang perjalanan hidupnya. Silaturahim adalah wadah inspirasi yang bias kita sajian di hadapan anak-anak. Lebaran inilah momentumnya.

Ada sebuah hadits yang tersohor bagi umat Islam. Perbanyaklah silaturahim karena akan menambah rizki Anda. Hadits ini abstrak. Apa hubungannya antara silaturahim dan penambahan rizki? Beberapa menafsirkan kalau menambah persaudaraan itu juga bagian dari rizki. Lumayan menambah perbedaharaan rizki meski masih semi abstrak juga.

Nah, pada setiap masa lebaran, tradisi berkunjung setelah sholat idul fitri ke sanak keluarga, tetangga dan para guru menjadi tradisi yang saya lakukan juga. Ketika masa itu (masih kecil) rizki berlimpah karena mendapat total jendral uang saku (China: angpao). Lumayan, dulu bisa dibuat membeli sepatu atau mainan lainnya.

Kali ini sedikit saya perkaya pengalaman tersebut. Saya baru saja menemukan inspirasi tambahan untuk memaknai silaturahim sebagai stimulan (rangsangan) mengais rizki. Rizki yang saya maksud adalah stimulasi membangun mimpi (dream building) bagi anak-anak. Dulu saya masih anak-anak dan hanya mengerti saudara dan guru-guru saya yang saya kunjungi. Sesekali pernah menjadi anggota IPNU-IPPNU berkunjung ke para tokoh agama (Kyai di sepanjang jalur Tulungagung, Kediri dan Jombang). Tetapi seiring perluasan kekerabatan saya, utamanya dari kekerabatan istri, kami sekeluarga mendapat akses baru berkunjung ke orang-orang besar dan hebat di lingkungan Pondok Pesantren Denanyar Jombang.

Bersama Menristek Dikti, Mohammad Nasir yang juga menantu dari KH Iskandar Denanyar Jombang

Saya pun merasa senang karena bisa bertemu dengan para Kyai dan Bu Nyai yang lahir dari trah pendiri NU. Selain itu, keturunan beliau ada yang menjadi pejabat nasional. Kebetulan, di Hari Raya kali ini, kami berkunjung ke Pondok Pesantren Mambaul Maarif, di kediaman Bu Nyai Iskandar (Bu Is). Kami bertemu mantan menteri (Muhaimin Iskandar) dan Menteri Ristek Dikti sebagai menantu (Mohammad Natsir). Alhamdulillah kami sempatkan berfoto bersama. Meski saya tidak familier dengan Menristek Dikti, tetapi karena situasi di kediaman bu Nyai yang kami sudah sedikit akrab, suasana tidak setegang ketika bertemu dalam lingkungan kampus yang sangat berjarak.

Krek krek cekrak-cekrek.

Ohya lupa. Anda tahu kan jamaah Pengamal Sholawat Wahidiyah Kediri. Kami juga meluangkan waktu berkunjung ke anak penemu Sholawat Wahidiyah, KH. Latif Madjid di Kedunglo Bandarlor Mojoroto Kediri. Dan wuhuiiiii…… berhasil juga berfoto dengan beliaunya.

Dream building

Dor, pikiran saya, mak cling, terlintas ide dream building sukses yang biasa digembar-gemborkan para motivator. Dream building adalah salah satu teknik memupuk motivasi internal pada setiap orang agar mereka memiliki dorongan yang kuat untuk sukses. Dream building  juga disebut sebagai bagian dari teknik memrogram pikiran sukses kita dengan  membentuk ikatan yang kuat di pikiran bahwa apa yang saya impikan melekat sampai di penghujam bawah sadar kita.  Jika mimpi itu sudah menghujam di bawah sadar, maka ia akan menjadi semacam pijar batin dan pikiran yang mengarahkan semangat kita selalu berusaha mencapai mimpi tersebut. Tinggal menunggu waktu, jika bangunan mimpi itu menjadi energi positif seseorang, maka kesuksesan akan ditemukan sendiri dengan jalan yang kita sendiri kadang tidak terpikir jalannya. Mendadak saja jalan itu hadir di kehidupan kita.

Jika mimpi itu sudah menghujam di bawah sadar, maka ia akan menjadi semacam pijar batin dan pikiran yang mengarahkan semangat kita selalu berusaha mencapai mimpi tersebut.

Cara ini juga dilakukan pada kegiatan tahunan Kelas Inspirasi. Kelas Inspirasi menggunakan methode semacam dream building melalui teknik berbagi cerita sukses dan memeragakan profesi seseorang di hadapan anak-anak Sekolah Dasar. Cara ini dapat dijadikan sebagai media mendekatkan mimpi yang jarang dibayangkan oleh anak-anak dapat dihadirkan lebih dekat pada kehidupan sehari-hari anak. Anak yang belum pernah membayangkan mimpi menjadi fotografer, dia akan mempunyai kosa kata baru mengenai profesi dia di masa depan.

Selain itu, anak yang sering bermimpi menjadi polisi, dokter, pilot, direktur bank, ketika para profesional tersebut bercerita dan hadir di kelas-kelas mereka, maka anak-anak tersebut dibantu memvisualisasikan mimpinya menjadi lebih realistik. Mereka tidak hanya berangan-angan. Mereka bisa menyentuh secara fisik dan bisa bertemu dengan figur-figur yang mereka mimpikan. Mimpi anak-anak bukan sebatas mimpi tetapi mimpi yang orang lain juga bisa meraihnya. Kehadiran para profesional tersebut membantu role model (figur peran) bagi anak-anak. Harapannya, mimpi itu bisa memompa semangat anak-anak untuk terus bergerak maju. Mereka terdorong energi positif dari kehadiran para profesional.

Deskripsi mengenai Kelas Inspirasi tersebut menjadikan saya berpikir dan menemukan wawasan baru saat kami menemui Silaturahim ke Bu Nyai Iskandar. Di situ ada Mantan Menteri Menakertrans dan Percepatan Desa Tertinggal, Muhaimin Iskandar dan Mohammad Natsir (Menristek Dikti sekarang). Saya dan istri kemudian bercerita ke anak saya bahwa dua sosok tersebut adalah menteri. Saya berharap pemberitahuan itu adalah cara agar mereka bisa memahami model perannya.

Ketika mereka tidak asing dan menganggap lebih familier terhadap figur-figur sukses, pikiran mereka akan lebih ringan untuk mencapai mimpinya. Mereka tidak lagi mengkhayal. Mereka bisa menyentuh miniatur sukses tersebut.

Pemberitahuan ini akan memerkaya pada wawasan anak saya mengenai figur penting yang berhasil mereka temui. Hal ini membantu dia untuk menangkap role model sukses. Meski anak-anak ini terlihat cuek, namun dengan bersentuhan secara fisik, anak-anak bisa lebih dekat secara realistik bahwa mereka bisa bertemu dengan figur-figur penting di negeri ini. Momen ini menjadikan pikiran mereka tidak lagi sebagai seorang pemimpi. Mereka bisa menjangkau figur sukses sangat dekat. Kedekatan ini mampu membantu menjembatani angan-angan sukses itu bisa lebih sederhana karena dia sendiri bisa bertemu dengan orang-orang sukses. Ketika mereka tidak asing dan menganggap lebih familier terhadap figur-figur sukses, pikiran mereka akan lebih ringan untuk mencapai mimpinya. Mereka tidak lagi mengkhayal. Mereka bisa menyentuh miniatur sukses tersebut.

Anak saya sedang turut silaturahim ke kediaman Romo KH Abdul Latif Madjid RA. Putra tertua Muallif Sholawat Wahidiyah

Story building

Saya tersadar, akan menjadi lebih bermanfaat ketika ajang silaturahim saat lebaran dengan berkunjung ke saudara, teman, para guru atau sosok tersohor jikalau kita kembangkan ketrampilan komunikasi melalui cerita. Boleh jadi satu diantara dari mereka adalah sosok yang memiliki keunggulan. Nah, tentu saat kita berkunjung lebaran, kita bersama keluarga. Di antara anggota keluarga kita ada anak kita. Kita tidak hanya berkomunikasi di seputar kabar dan beberapa tema komunikasi basa basi. Kita dapat menggunakannya sebagai salah satu kegiatan parenting.

Nah, ada jalan positif yaitu dengan memancing tuan rumah bercerita mengenai pengalaman suksesnya, jejak-jejak perjuangan dan beberapa cerita yang dapat merangsang anak-anak sedikit terlibat mendengarkan secara imajiner.

Sebagai orang tua, kita bisa memancing sedikit kisah-kisah sukses yang dapat menjadi bahan positif bagi anak-anak untuk mendengarkan. Biasanya, anak-anak selalu badmood saat turut serta anjang sana lebaran karena pembicaraannya selalu beraroma orang dewasa. Nah, ada jalan positif yaitu dengan memancing tuan rumah bercerita mengenai pengalaman suksesnya, jejak-jejak perjuangan dan beberapa cerita yang dapat merangsang anak-anak sedikit terlibat mendengarkan secara imajiner. Tentunya daya imajinasi ini akan memantik pelajaran positif bagi anak dan dia bisa mempunyai gambaran kisah-kisah sukses. Kisah sukses ini bisa menyangkut profesi apa saja. Bisa pengalaman politik, jabatan kenegaraan, usaha, dan kisah-kisah menarik lainnya mengenai jejak sukses.

Cerita memiliki efek positif bagi memori jangka panjang sehingga siapa tahu bahan cerita tersebut mampu menyentuh dan memantik mimpi-mimpi anak untuk memudahkan jalan meraih kesuksesan.

Membangun cerita seperti ini juga akan menstimulasi pemrograman kesuksesan di pikiran anak-anak. Bagi anak, cerita memiliki efek positif bagi memori jangka panjang sehingga siapa tahu bahan cerita tersebut mampu menyentuh dan memantik mimpi-mimpi anak untuk memudahkan jalan meraih kesuksesan.

Saya berpendapat satu diantara silaturahim menambah rizki antara lain perjumpaan ini menjadi wadah inspirasi bagi anak-anak. Membangun mimpi sukses adalah pijakan sejak dini agar anak mampu merintis rizkinya melalui kisah-kisah sukses.

Mengapa Arab Bukan Tempat Kamu Mudik ?

0

Benar adanya Arab adalah tempat Islam diturunkan. Pemahaman kontekstual tentang Islam di Arab juga menjadi salah satu yang melengkapi khazanah praktik Islam. Namun, Arab bukan tempat kita kembali. Apalagi tujuan mudik kita. He he he. Kita terlahir dari tanah air Indonesia. Persemaian kekuatan kita tentunya adalah hasil kreatif perjumpaan Islam dalam konsep dan aplikasi dengan kampung halaman Indonesia. Wajah baru kita adalah tetap mengapitalisasi khazanah kekayaan Indonesia sebagai kekuatan bangsa dalam identitas muslim yang bertaut erat menjadi Indonesia.

Saya sudah agak lama menemukan pikiran sebagaimana judul tersebut terutama menyangkut pembelaan tanah air dan pola “de-tanahairisasi” menggunakan Arabisme. Ketika Arabisme berhasil dikooptasi oleh kepentingan tersembunyi pada mayoritas bangsa Indonesia, atau setidaknya kekuatan yang mampu mengambil alih pengaruh kekuasaan sehingga ibu pertiwi ini tidak lagi perlu dibela, kok saya pikir-pikir Arabisme senyatanya adalah imperialisme dengan senjata agama guna melemahkan pertahanan mental bangsa Indonesia.

Untung saja masih banyak umat Islam, utamanya seperti NU, Muhammadiyah dan yang saya tahu juga ada Syiah, Ahmadiyah masih menganggap Islam di Indonesia memiliki akar yang kuat di Ibu Pertiwi. Entah itu dinamakan Islam Nusantara atau Islam dengan berbagai konsep yang melatarbelakangi berdirinya negara ini meski tanpa negara agama tetapi dasar ideologisnya kokoh dipancari nilai-nilai Islam.

Kalau sudah tidak membela mati-matian tanah air ini maka pertahanan mental Indonesia menjadi rapuh

Mengapa saya berpikir Arabisme sebenarnya adalah imperialisme bersenjata agama. Begini rasionalisasi yang berhasil saya otak atik gatuk. Ketika kegilaan Arabisme (aliran dan mazhab) sudah menjadi mental baru, maka orientasi pikiran sebagian bangsa Indonesia utamanya sebagian saja dari umat muslim Indonesia, kok saya angan-angan terus, lek iki podo karo strategi mengikis nasionalisme dan mencintai tanah air. Jika orang sudah berpikir Arab, Arab dan Arab maka orientasi kepribumiannya akan terkikis. Kalau sudah tidak membela mati-matian tanah air ini maka pertahanan mental Indonesia menjadi rapuh. Apalagi alangkah senangnya ketika Arabisme telah terideologisasi maka akses atas SDA bisa terlupakan oleh pemiliknya sendiri.

Lah dalah, sing ngepek lek ngono sopo. Yo imperialisme kapitalis yang untung. Bangsa ini kemudian ribut melulu mengenai cara berislam tetapi EGP soal SDA yang dikelola imperialis. Imperialis yo ngguyu nyawang wong Indonesia seneng koar-koar agomo, sampek lali aset negoro iku digondol sopo. Kalau rewel sedikit, yang gembor-gembor Arabisme itu dikasih jatah memodali agama yang dia bela mati-matian itu sudah klimpungan buta aset bangsa. Trus sopo sing jingkrak-jingkrak ? Sopo jale.

Pribumisasi dan Islam Nusantara Jangan dipahami hanya tafsir

Jikalau seseorang itu sudah tidak memiliki akar kelahiran, mereka tidak akan memiliki perlawanan untuk membela tempat kelahirannya. Sama dengan orang yang tidak lagi memiliki Bapak/Ibu yang menetapkan jiwa raga mereka dalam konsep tanah kelahiran dan tambatan kampung halaman, maka mereka tidak begitu peduli bela-belain siapa yang membesarkannya dan perjuangan untuk tetap menyintai kampung halamannya.

Coba saja deh dilihat sekarang. Jutaan warga Indonesia mudik. Mereka berjibaku, berjuang dengan materi dan tentu sepenuh jiwa yang ditambatkan untuk terpaut erat menuju kampung halaman. Tempat mereka berpijak sejak kecil.

Mudik menjadi perjalanan mengukir keagungan diri dan mereproduksi aneka cerita sukses. Akar kekerabatan menguat kembali dan tidak bisa dicerai-beraikan.

Mereka mudik ke kampung halamannya. Mereka membela asalinya. Hari Raya kemudian menjadi momentum mendulang jiwa kerinduan terhadap kampung halaman. Mudik menjadi perjalanan mengukir keagungan diri dan mereproduksi aneka cerita sukses. Akar kekerabatan menguat kembali dan tidak bisa dicerai-beraikan. Seseorang yang menghargai tempat tinggalnya maka dia akan mampu menghargai dan menjunjung tinggi kelahirannya. Begitulah jikalau azas tempat kelahiran telah terpaut dengan hati itu, maka orang lain tidak mungkin akan diberi keleluasaan untuk mengeksploitasinya.

ketika Arabisme telah mencerabut secara mental dari pembelaan terhadap tanah kelahiran maka bangsa Indonesia akan mudah dicengkeram oleh kekuatan besar dari luar.

Indonesia adalah kampung halaman. Ia berisi ukiran yang berharga. Kampung halaman yang mampu mengapresiasi menjadi karya dalam memperkuat kepemilikan akan tanah kelahiran. Jadi ketika Arabisme telah mencerabut secara mental dari pembelaan terhadap tanah kelahiran maka bangsa Indonesia akan mudah dicengkeram oleh kekuatan besar dari luar. Ibaratnya secara mental pertahanan diri sebagai bangsa telah berhasil diruntuhkan.

Gus Dur mudik ke kampung halaman dan menemukan keaslian bangsa ini. Dia gunakan menjadi strategi baru membangun bangsa yang mampu menghidupkan aset sendiri demi ketahanan dan kesejahteraan bangsa.

Jadi kalau Gus Dur telah menggagas Pribumisasi Islam dan orang-orang mayoritas NU menggelorakan Islam Nusantara maka pilihan itu bukan sekedar tafsir, melainkam upaya selalu membangu ketajaman mentalitas bangsa ini agar Islam tetap bertaut sangat erat dengan kepemilikan kampung halaman. Saya berkesimpulan pemikiran dan langkah progresif Gus Dur selalu memiliki keterpautannya dengan penalaran historis yang begitu kuat. Contohnya tentang mengangkat Menteri Kemaritiman tidak lain adalah kesadaran historis Gus Dur yang diambil dari kisah klasik bahwa nenek moyang bangsa Indonesia sebagian besar adalah pelaut. Gus Dur mudik ke kampung halaman dan menemukan keaslian bangsa ini. Dia gunakan menjadi strategi baru membangun bangsa yang mampu menghidupkan aset sendiri demi ketahanan dan kesejahteraan bangsa.

Gus Dur secara metodologis tidak mengajak mudik umat Islam ke Arab. Gus Dur mengajak mudik ke sejarah bangsa ini dan menemukan kekuatan mengelola tata ketahanan mental bangsa dan menjadikannya sebagai aset yang menyejahterakan semua. Gus Dur sungguh menjadi ahli strategi pertahanan ketika pemikiran dan langkah progresifnya dijangkarkan dari hasil pengkajian sejarah kekuatan bangsa ini. Dengan begitu pribumisasi Islam tidak hanya tentang tafsir Islam Indonesia tetapi sebuah kekuatan mengelola kekayaan bangsa ini dengan cerdas dan berdaya saing.

Dengan begitu pribumisasi Islam tidak hanya tentang tafsir Islam Indonesia tetapi sebuah kekuatan mengelola kekayaan bangsa ini dengan cerdas dan berdaya saing.

Apakah Anda akan mudik ke Arab, atau sepenuhnya sadar bahwa kampung halaman tempat kita mudik sebenarnya membisikkan sebuah aset, bahwa kelolalah kampung halaman kita sampai dititik terang bahwa kita memiliki kekuatan membangun mentalitas menjadi bangsa dan punya daya saing.

Malam Takbiran, Damai Sejahtera dari Allah Bapa

0

Agama itu sebagai budaya bisa menjangkau yang lain dan penikmatan agama bisa lintas batas meski tak mengganggu iman. Disitulah sebenarnya agama menyapa kemanusiaan. Iman boleh beda tetapi perjumpaan manusia tidak terhalang untuk saling menyapa. Begitulah ketika takbiran dimaknai dari orang yang berbeda iman.

Bengkulu-KampusDesa – Dulu, setiap pagi menjelang malam takbiran Pak Etek selalu mengantar obor ke rumah untuk saya, Barmen dan Kak Ulik. Bapak dengan sigap mengisi obor dengan minyak tanah dan memperbaiki sumbu obor dengan sabut kelapa yang lebih padat.

Nanti, di malam takbiran, anak-anak akan berkumpul di halaman masjid yang tidak jauh dari rumah. Pak Etek akan memanggil kami dari pagar bonsai, mengajak kumpul.

http://kampusdesa.or.id/pendidikan-yang-memanusiakan-bukanlah-mitos/

Kami mendengarkan instruksi dari Pak Etek. Berbaris rapi, tidak mengganggu kawan di kanan kiri depan belakang, tidak memainkan obor sembarangan, dan tentu saja mengikuti Pak Etek mengucapkan takbir.

Kami dengan fasih mengucapkan “Allaahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar” sepanjang pawai obor, dari halaman masjid menuju blok 1, blok 2, hingga melewati tiap-tiap blok, saya lupa hingga blok berapa, yang pasti banyak sekali. Hingga kembali ke arah rumah kami masing-masing.

Nanti, saat menuju rumah kami, Pak Etek akan menyalam bapak yang sudah menunggu di teras rumah. Dan bapak akan mengucapkan selamat hari raya. Pak Etek yang seorang ustad itu tidak pernah lupa menyalami bapak yang seorang penatua. Tidak hanya itu, esok saat lebaran tiba, Tante Sugeng akan mengantarkan banyak sekali makanan, begitu juga tetangga-tetangga kami yang lain.

Tadi pagi, saat sarapan bapak mengingatkan mamak,” nanti jangan lupa beli ketupat di pasar ya mam.”

Selamat merayakan hari kemenangan, untukmu. Damai sejahtera dari Allah Bapa, yang melampaui segala akal, itulah yang memelihara hati dan pikiranmu.

Salam,
Grasia Renata Lingga ????