Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 82

Menulis, Salah Satu Cara Keluar dari Jebakan Psikologis

0

Mengawali membuat kalimat pembuka amat sulit bagi penulis pemula. Ketakutan di sana sini juga godaan yang akhirnya kita tidak menulis. Wele-weleh, kalau dipanjangkan masalahnya, selalu ada saja persoalan cara menjadi penulis. Gini saja deh, tidak usah tedeng aling-aling, merdekakan diri Anda lalu ketik atau ambil pena dan menulislah tanpa bayang-bayang kesalahan. Selamat merdeka untuk menulis.

Bagaimana kawan-kawan yang baru mengikuti workshop menulis tanggal 18-19 Mei Lalu. Saya baru sempat ketak-ketik kali ini ya. Coba yang baru mengikuti workshop kampus desa mencermati judul yang saya buat. Saat saya mengikuti panduan yang dibuat oleh mas Edi, saya justru sulit mau membuat tulisan. Beda kali dengan kawan-kawan. Ketika sudah dipandu dengan sistematis oleh mas Edi, ternyata saya macet tidak bisa memulai menulis. Akhirnya juga tidak menulis.

Nah, setelah agak rileks, baru saya menemukan judul tersebut. Yah, menulis itu sebenarnya bisa dimulai dari yang remeh-temeh. Bukan dari yang paling sulit, tetapi memulai dari yang mudah dulu. Begitu juga saat menulis liputan yang sudah terendap lama ini, judul tulisan bagi saya membutuhkan waktu sehingga judul itu menentukan dari sudut pandang apa saya harus menulis sesuatu.

Saya ingin mengambil poin penting dari pertemuan dan membuat judul sebagai fokus tulisan saya yang menjadikan rangkaian berita kegiatan ini lebih mak jleb, nancep di ingatan.

Bagi pemula, menemukan judul menulis juga bisa merepotkan. Meskipun judul itu pendek, judul akan mencerminkan seluruh bangunan berpikirnya. Judul juga merupakan nasib dari sebuah tulisan karena ia membawa konsekuensi daya tarik dari isi tulisan. Oleh karena itu, kembali ke prinsip menulis saja yang remeh temeh, yang mudah, maka membuat judul yang remeh temeh dan mudah juga menjadi resep memulai menulis. Termasuk judul yang saya tulis. Saya ingin mengambil poin penting dari pertemuan dan membuat judul sebagai fokus tulisan saya yang menjadikan rangkaian berita kegiatan ini lebih mak jleb, nancep di ingatan.

{eserta dari Guru PAUD Omah Bocah An-Nafi serius mengikuti latihan menulis

Saya pilih judul itu sekaligus ingin mengulas mengenai hambatan memulai menulis. Selain terpaksa, berbagai keluhan selalu ada dalam kegiatan menulis. Mulai dari kebingungan memulai tulisan sampai aneka kesibukan yang mendera calon penulis pemula. Ini disampaikan baik bagi yang sudah studi S-3 maupun yang guru PAUD yang mereka terjebak dalam berbagai rutinitas menjadi ibu rumah tangga atau bertugas sebagai guru.

Pencapaian Kemerdekaan Pikiran

Memulai menulis adalah memulai melakukan pembebasan diri. Kondisi yang banyak diidamkan oleh banyak orang tetapi sulit dicari momennya. Bagi saya yang waktu itu mengantarkan sesi workhsop kilat menulis, maka saya akhirnya membuat kesimpulan yang bisa saya garis bawahi di menulis itu ternyata tidak lepas dari persoalan psikologis.

Sebagai seorang penulis, hal kunci untuk bisa menulis adalah melakukan pembebasan diri dari kenormalan yang sudah kadung menjerat. Kenormalan aktifitas atau kenormalan mindset kita yang kadung disetir oleh aturan yang mencengkeram. Membebaskan diri berarti kemampuan mencapai pikiran tanpa batas dan tidak dibayang-bayangi oleh pikiran takut. Apa yang dipikirkan bisa dikeluarkan, begitu juga perasaan yang dihayati dikenali untuk mudah dituangkan dalam bentuk tulisan karena sudah tidak ada lagi tabir/penghalang.

Para Pemateri Hebat. Dari kiri : Ulfa Muhayani (Kolumnis Auleea), Atika C Larasati (Penulis Buku Julia Mencari Tuhan) dan Hasan Abdillah (Moderator)

Ketika situasi penghalang pikiran dan hati kita mampu disingkirkan, maka pikiran merdeka itu akan mudah saja dituangkan dibantu jari-jemari kita. Bahkan kita bisa menghayati indahnya ritme keyboard dalam irama lirih yang menjadi semangat

Menulis adalah kondisi yang merdeka. Bebas luar biasa, tidak peduli siapa dan ada dimana tubuh kita. Ketika situasi penghalang pikiran dan hati kita mampu disingkirkan, maka pikiran merdeka itu akan mudah saja dituangkan dibantu jari-jemari kita. Bahkan kita bisa menghayati indahnya ritme keyboard dalam irama lirih yang menjadi semangat bahwa menulis adalah situasi merdeka yang diiringi oleh musik keyboard ketak-ketik.

Kebebasan ini juga didukung oleh kebebasan aktifitas. Kesibukan telah mendikte setiap pikiran dan tubuh manusia untuk patuh pada dunia yang ada di luar kita. Nah, kemampuan membebaskan diri dari kepatuhan eksternal juga menjadi salah satu cara penting untuk bisa memulai. Melawan dan mendapatkan kebebasan dari rutinitas untuk menemukan waktu menuangkan gagasan juga bagian dari kemerdekaan yang perlu dimiliki oleh seorang calon penulis. Kemerdekaan ini juga tidak perlu meninggalkan pekerjaan dan rutinitas, tetapi kemampuan mencuri momen kemerdekaan tersebut.

Nah, jika sudah demikian, kita bisa keluar dari jebakan psikologis dan mendapatkan kesehatan yang bermakna karena momentum kebebasan yang kita rebut dapat dibuat produktif. Tentu kalau sudah bisa menuangkan tulisan, gembiranya bukan main lo…. Kemampuan mendapatkan kemerdekaan dengan aktifitas produktif tentunya merupakan pencapaian kebermaknaan. Itu yang saya rasakan sendiri ketika berhasil menyelesaikan suatu tulisan. Bener, bahagia banget.

Sehat Mental, Dari Takut Kritik menjadi Hidup Lebih Bermakna

Saya jadi ingat kata-kata Achmidah, seorang guru di Kabupaten Malang. Achmidah mengatakan, sebelumnya dia mampu menulis penuh semangat hebat. Bahkan satu bulan sebelumnya bisa menulis rutin. Namun, ketika tulisannya mulai dibagikan ke khalayak, kegalauan perlahan mulai mengganggu produktifitas menulis. Dia mulai ragu tulisannya tidak pantas, kurang positif karena masih ada tulisan lain yang baik-baik.

Perasaan ini menguasai penulis pemula dan menjadikannya semakin ciut, apalagi di group WA menulis, beberapa penulis yang sudah mahir selalu tang ting tung mengirim tulisan yang dahsyat abis. Hati dan pikiran semakin menciut betul jadinya. Begitulah bayangan saya.

Bahkan, ada yang njapri ke saya dengan memberi informasi, “pak rektor (rektor abal-abal lo, jangan percaya), saya tidak Pede kalau langsung memosting di group tulisan saya, sebelum saya kirim, mohon dikoreksi dulu nggih.” Begitulah beberapa contoh bagaimana tulisan itu menjadi beban psikologis tersendiri ketika sudah diproduksi ?

saya sudah bisa menerapi diri saya sendiri. Jikalau tulisan sudah saya lempar ke publik atau ke media, jika dikritik atau tidak masuk nominasi dipublis, ya saya akan menulis lagi dan menulis lagi.

Sepertinya tulisan yang sudah jadi itu melahirkan godaan rasa bersalah. Tidak hanya mereka para penulis pemula. Saya pun demikian hingga hari ini. Tetapi saya sudah bisa menerapi diri saya sendiri. Jikalau tulisan sudah saya lempar ke publik atau ke media, jika dikritik atau tidak masuk nominasi dipublis, ya saya akan menulis lagi dan menulis lagi. Kebahagiaan saya, yang penting saya sudah bisa menulis satu artikel maka sudah cukup bermakna hidup saya. Di sini saya kemudian menganggap jauh lebih sehat dan bermakna karena saya mampu memroduksi tulisan. Hal ini jauh lebih membanggakan daripada memikir merasa selalu salah atau dikritik orang karena dianggap tidak baik.

Apapun yang kita hasilkan dari tulisan kita, saya kira selalu ada celah dan kekurangan. Maka dengan mengubah cara berpikir merasa kurang baik menjadi bebas saja, yang penting menulis berarti pribadi kita bermakna dan kreatif, cukuplah berarti hidup kita.

Menulis adalah terapi memerdekakan diri kita agar lebih bermakna dan saat tulisan sudah dibagi ke orang lain, kurang atau lebih, yang jelas kemerdekaan ini akan lebih membebaskan diri dari situasi tertekan atau telah bebas dari hantu-hantu rasa bersalah.

So… menulis adalah proses terapi menjadikan diri kita lebih berharga, bukan sebaliknya. Itulah kesehatan mental penulis terakui. Atau Anda tetap dihantui oleh situasi yang tidak sehat secara mental ? Begitulah refleksi atas kegiatan workshop kepenulisan kampusdesa.

Masyarakat Kampung Bertanya, Benarkah Pancasila Tanda Tanya?

0

Pengenalan Pancasila sebagai kekuatan jiwa bangsa, apakah tidak luput dari keraguan? Saat berbenturan dengan iman, Pancasila dianggap berhala, termasuk bendera. Kesemuanya menjadikan musyrik. Tetapi, Pancasila merupakan ideologi yang terbukti mengikat bangsa ini menjadi satu dalam keanekaragaman dari Sabang sampai Merauke. Apakah Pancasila sudah benar tercamkan di mentalitas anak bangsa?

Aku belum lama mengenal tanggal 1 Juni, jika ternyata 1 Juni adalah hari lahir Pancasila. Mengapa? Banyak sebab. Selain karena sewaktu berada di jenjang sekolah SD, SMP hingga SMA, aku terbilang murid yang kurang berhasrat dengan mata pelajaran PKN. Dugaanku juga karena minimnya masyarakat indonesia yang melek sejarah. Bahkan hampir tidak ada di forum lingkar diskusi kecil ataupun besar yang membahas habis tentang Pancasila.

Praktis, saya kira hal ini secara nggak langsung menjadi sebab tidak banyak kalangan yang paham dengan ada apa di tanggal 1 Juni. Faktor lain, kita tahu, walaupun semasa SD, SMP hingga SMA tiap seminggu sekali melalui ceremonial upacara kita selalu membaca teks Pancasila. Namun, itu hanya sekedar teks. Belum pada arah bagaimana mengaktualisasikan teks Pancasila kepada konteks nilai ber-manusia dan bernegara.

Melalui ‘Keppres’nya, setelah mengkaji berbagai macam historis yang ada, Pak Jokowi menetapkan tanggal 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Instrumen momentum itu ternyata mampu berdampak signifikan untuk memicu reaksi public.

Ngomongkan soal 1 Juni, baru baru ini publik diuntungkan oleh peran Pak Jokowi. Tepatnya di satu tahun yang lalu. Melalui ‘Keppres’nya, setelah mengkaji berbagai macam historis yang ada, Pak Jokowi menetapkan tanggal 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Instrumen momentum itu ternyata mampu berdampak signifikan untuk memicu reaksi publik. Di tanggal itu, dari mulai pemerintah kota, provinsi hingga pusat semua mengadakan upacara ceremonial peringatan harlah Pancasila. Begitu juga di sebagian kalangan masyarakat, mereka nampak mulai ikut-ikutan memperingati harlah Pancasila, walau hanya melalui sosmed yang dimilikinya. Juga akhirnya yang awal mula tidak paham sejarah Pancasila, sedikit banyak mulai mencari tahu sejarah Pancasila.

Sebelumnya, dari hasil -sinauku- di luar bangku sekolah, soal Pancasila setidaknya ada dua versi yang membicarakan kelahiranya. Pertama pada tgl 1 Juni 1945 –sebelum Bung Karno diangkat menjadi Presiden– beliau menyampaikan sambutan dalam forum sidang ‘Dokuritsu Junbi Cosakai’ atau BPUPKI. Beberapa isi sambutanya membahas tentang dasar negara yang kemudian disimbolkan dengan kata Pancasila.

Kedua, pada 18 Agustus 1945 melalui sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dimana sidang tersebut menetapkan dan mengesahkan UUD 1945, yang di dalamnya tercantum teks Pancasila. Sehingga pada tgl 18 Agustus 1945 Pancasila resmi berperan sebagai dasar ideologi bangsa Indonesia.

Namun sudahlah, poin sejarah itu mungkin cukup sebagai pengetahuan saja. Karena hasil pengkajian pemerintah mungkin lebih tajam hingga menetapkan di tanggal 1 sebagai harlah Pancasila. Sebab, di luar kedua versi lahirnya pacasila diatas, setelah ditetapkannya 1 Juni sebagai harlah Pancasila, dibalik itu ada hal penting yang patut diulas lebih mendalam.

Sudahkah Pancasila berperan sebagai representasi perilaku bangsa Indonesia? Lalu sudah paham dan mampukah masyarakat kita ini menerapkan nilai Pancasila dalam bermanusia serta bernegara? Atau jangan-jangan hanya cukup berlaku sebatas slogan semata? Lebih parahnya lagi jika ternyata hanya dimanfaatkan sebagai momentum untuk berpura-pura Pancasila?

Siang kemarin, aku sedang merenovasi rumah. Terdengar keras di telingaku ada beberapa warga kampung depan rumah terlihat sedang asik ngobrol. Termasuk bapakku ikut larut dalam obrolan itu. Mereka nampak serius membicarakan momentum peringatan harlah Pancasila. Sembari aku meneruskan aktifitasku merenovasi rumah, ada sepenggal kata-kata dalam obrolan warga itu yang sampai saat ini masih terngiang dalam ingatanku,

Hallah, masjid, gereja sudah nampak semakin sepi. Atau kalau gak gitu jemaahnya momentuman. Pejabat hanya ke masjid kalau pas waktu butuh pencitraan. Gitu katanya Ketuhanan Yang Mahaesa”

“Hallah, masjid, gereja sudah nampak semakin sepi. Atau kalau gak gitu jemaahnya momentuman. Pejabat hanya ke masjid kalau pas waktu butuh pencitraan. Gitu katanya Ketuhanan Yang Mahaesa (kebetulan yang ngmong itu beragama Kristen).” Warga lain pun menjawab, “benar, kalau dilihat, semakin banyak orang yang tak percaya terhadap Tuhannya masing-masing. Masak sesama agama saling menghujat. Lalu adu domba antar agama saling main hukum menghukum. Belum lagi soal Persatuan Indonesia, huweleh faktanya para pejabat elit hingga penggede-penggede bangsa ya pecah belah, padahal masyarakat yang di kampung-kampung ini lo ya tentram adem ayem. Kok mereka pada ribut dengan sendirinya (terjemahan bebas dari diskusi Bahasa Jawa).”

Hal di atas dirasa cukup representatif jika dibenturkan dengan realitas aktualisasi Pancasila sekarang. Seperti yang baru-baru ini terjadi, adanya pembubaran organisasi anti Pancasila. Iya organisasinya sudah bubar, namun para pelaku dan anggota-anggotanya masih mengidap ideologinya secara penuh, kan percuma namanya. Mereka bakal tetap leluasa mendakwahkan misinya menolak dan membubarkan sistem yang sudah berjalan di Indonesia. Sampai-sampai sekian bulan yang lalu negara tak henti-hentinya mendapat serangan adu domba, yang anti Pancasila dakwah kesana kemari menghasut warga untuk membubarkan Pancasila, yang pancasilaisme bubar membubarkan pengajian yang berbau radikal dan anti pancasila. Ini kan lucu, sesama warga negara Indonesia, namun beda ideologi. Akhirnya saling beradu strategi dan perang dingin tak terelakkan terjadi.

Ngobrol dan diskusi bareng mencarikan solusi secara baik-baik, membicarakan bagaimana enaknya dan jalan tengahnya. Kan katanya Persatuan Indonesia. Biar rakyatnya yang di bawah ini enak melihatnya. Rukun, saling mendukung kan menentramkan hati jika begitu.

Mbok ya yang anti Pancasila sadar diri. Ini negara Indonesia, bukan Arab. Juga yang Pancasilaisme bisa mengerti, kalau menghilangkan kaum miring anti Pancasila tidak harus dengan tindakan represif. Kalau memang punya KTP, pentolan-pentolan mereka diundang ke istana negara, atau ke meja paripurna DPR. Ngobrol dan diskusi bareng mencarikan solusi secara baik-baik, membicarakan bagaimana enaknya dan jalan tengahnya. Kan katanya Persatuan Indonesia. Biar rakyatnya yang di bawah ini enak melihatnya. Rukun, saling mendukung kan menentramkan hati jika begitu.

“Jika tidak begitu, pada akhirnya, mau buat apa ada peringatan harlah Pancasila? Manfaatnya juga apa? Bahayanya lagi, kesaktiannya bisa-bisa malah hilang. Jika ternyata yang memperingati hanya sebatas ceremonial upacara tanpa ada tindak lanjutnya.” begitu unek-unek warga kampung depan rumah saya.

Kini warga indonesia sana-sini sudah terlanjur pada berlomba menyuarakan jargon ‘Saya Indonesia, Saya Pancasila’. Pertanyaannya, mau dibawa kemana Pancasila setelah 1 Juni ini selesai? Dan tindak lanjut jargon-jargon itu bagaimana? Atau memang benar jika, “Pancasila Tanda Tanya?”

Mari saling menjawab, dalam hati, juga dalam berperilaku.

Semarakkan Ramadhan dengan Literasi Keuangan Syariah

0

Tidak semua orang bisa mengakses keuangan dalam jumlah lebih besar, terutama untuk kegiatan pengembangan wirausaha desa. Berbagai peraturan jaminan kadang menjadikan masyarakat tidak mampu mengakses permodalan. Bahkan, ibu-ibu dan orang berkebutuhan khusus, punya keahlian tetapi tidak bisa berkembang menjadi pewirausaha oleh karena terbatas modal. Bisakah keuangan syari’ah menjawab persoalan tersebut ? Barangkali keuangan inklusif adalah jawabannya.

Makassar-KDI – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah [FEB Unismuh] Makassar bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan [OJK] dan industri keuangan syariah mengadakan kegiatan literasi keuangan syariah bertajuk Ramadhan Islamic Health Economy Literacy 2018 di OJK Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua Jalan Sultan Hasanuddin No. 3-5 Makassar pada 21-22 Mei 2018. Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 230 peserta dan 15 tamu undangan [dari kalangan dosen FEB Unismuh] ini diapresiasi oleh banyak kalangan, termasuk para akademisi dan praktisi keuangan syariah.

Dekan FEB Unismuh Makassar, Ismail Rasulong, S.E., M.M., dalam pembukaan menyambut gembira kegiatan yang diinisiasi oleh dosen FEB Unismuh, Agusdiwana Suarni,S.E.,M.Acc., Sahrul.,SE.,M.AK dan Abdul Khaliq.,SE.,M.Ak.serta dr. Dito Anurogo,M.Sc.

”Semua peserta yang hadir ini adalah agen edukasi sampai ke pelosok desa yang akan memberikan pencerahan apa itu keuangan syariah di masyarakat,” ujarnya mantab. Terlebih lagi, mahasiswa FEB Unismuh memang sebagian besar perempuan. Nah, nantinya menjadi seorang ibu. Ibu berperan penting sebagai ”manajer keuangan” di rumah tangga, terutama dalam hal menabung dan investasi.

Kegiatan kolaboratif nan komprehensif ini menghadirkan sebelas pembicara. Para pembicara berasal dari berbagai mitra, lembaga, dan industri keuangan syariah, seperti Fahmin Amirullah dan Achmad Irfan dari Bursa Efek Indonesia KP Makassar, Jaidin Abdullah dari PT Asuransi Takaful Keluarga Cabang Makassar, Nurfitri S Katili dari PT Pegadaian Syariah Makassar [PERSERO], Yudi dari Pegadaian Syariah, DR. Mukhlis Sufri, S.E., M.Si. selaku Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Sulawesi Selatan dari Dewan Pengawas Syariah [DPS] Bank Sulselbar Syariah, Hadidjah Samad selaku Branch Manager [Kepala Cabang] Makassar dari PT Bank Muamalat KC Makassar, Miftah Farid, S.E.,M.M., selaku Financing Head dari PT Bank Panin Dubai Syariah Cabang Makassar TbK, Budi Cahaya Nusantara selaku Head Marketing dari PT Al Ijarah Indonesia Finance Cabang Makassar, Jones Sutanto Bubun selaku Staf Bagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen dari OJK Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta dr. Dito Anurogo, M.Sc. selaku pengurus Indonesia Marketing Association [IMA] Chapter Makassar dan dokter literasi digital.

Berbicara literasi keuangan syariah, Jones Sutanto Bubun melalui presentasi berjudul ‘’Pengenalan Otoritas Jasa Keuangan dan Waspada Investasi’’ menyebutkan bahwa indeks literasi keuangan konvensional [28,36 persen] lebih tinggi dibandingkan indeks literasi keuangan syariah [6,18 persen]. ‘’Perlu edukasi terhadap lembaga, produk, dan layanan jasa keuangan syariah,’’ ujarnya ramah. Data lain menunjukkan bahwa indeks inklusi keuangan konvensional [68 persen] lebih tinggi jika dibandingkan dengan indeks inklusi keuangan syariah [14,55 persen]. ‘’Selain literasi keuangan syariah, inklusi keuangan terhadap produk dan layanan jasa keuangan syariah perlu ditingkatkan,’’ lanjutnya.

Di tempat terpisah, saat dikonfirmasi, penggagas kegiatan ini, Dito Anurogo, menyatakan bahwa Ramadhan Islamic Health Economy Literacy 2018 merupakan kegiatan literasi ilmiah yang mengandung nilai-nilai Islami, holistik, integratif, inovatif, berfokus pemberdayaan ekonomi syariah-kerakyatan, bertujuan mencerahkan, memberdayakan, menyehatkan dan menyejahterakan masyarakat, serta edukasi keuangan dan ekonomi syariah.

Ketika ditanya tentang tujuan, penulis 20 buku yang sering dijuluki dokter literasi digital itu menyatakan bahwa kegiatan ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, memberikan edukasi tentang Literasi Kesehatan dan Keuangan Syariah [LKKS], sehingga pemahaman mahasiswa meningkat. Kedua, pemahaman mendalam akan LKKS berpotensi meningkatkan pendapatan mahasiswa, sehingga secara tidak langsung kesejahteraan juga meningkat. Ketiga, menyadarkan mahasiswa akan pentingnya faktor kesehatan dalam mencerdaskan masyarakat. Keempat, menumbuhkembangkan kecintaan mahasiswa dan masyarakat kepada dunia literasi sekaligus membiasakan membaca dan menulis. Kelima, membudayakan literasi sehat sebagai pondasi dasar ekonomi kerakyatan dan salah satu pilar demokrasi demi mewujudkan Indonesia jaya. Keenam, menanamkan nilai-nilai integritas dan profesionalitas di semua lini dan kalangan. Ketujuh, membentuk passion, kecintaan mendalam terhadap literasi sehat, ekonomi syariah, riset Islami. Kedelapan, membentuk jejaring kerjasama yang berkesinambungan multi-lintasdisipliner. Kesembilan, menumbuhkembangkan kesadaran akan literasi, ekonomi syariah, kesehatan sejak dini. Kesepuluh, digitalisasi literasi dan medikonomi syariah [kedokteran dan ekonomi berbasis Islam].

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diakhiri dengan sarasehan dan diskusi interaktif tentang literasi kesehatan dan keuangan syariah yang disampaikan oleh Dito Anurogo, dilanjutkan dengan berdoa dan berbuka puasa bersama. Para mahasiswa sangat berantusias mengikuti kegiatan ini . Tampak wajah-wajah cerah, ceria, dan bersemangat, terlebih usai menunaikan ibadah salat Maghrib berjamaah.

Generasi Millenial Indonesia Wajib Memiliki Pemahaman “Akar Rumput”

0

Nampaknya sebutan generasi millenial akan bergeser dari hingar bingar kepedulian. Mereka bergulat dengan transformasi identitas yang separuh nyata dan separuh maya. Ketika diamati, sepertinya separuh maya akan melonjak dan meningkat drastis. Mungkinkah ada cara membuka keran ketakacuhan mereka pada arealitas ? Tentunya Anda bisa mengamati sejak sekarang, generasi millenial ada zona baru pertumbuhan dan perkembangan mentalitas baru.

Istilah “generasi millennial” sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Setelah generasi baby boomers yang kemudian dilanjutkan oleh Generasi X, kini adalah era generasi millennial atau juga dikenal dengan istilah Generasi Y. Menurut para peneliti sosial, generasi millennial adalah mereka yang lahir antara tahun 1980-2000 yang berarti usia mereka saat ini berkisar antara 18-35 tahun. Walaupun saat ini telah muncul generasi baru yakni Generasi Z, namun generasi millennial dianggap berpotensi besar untuk menentukan wajah Indonesia kedepannya.

Berdasarkan kalkulasi Badan Pusat Statistik (BPS), bonus demografi di Indonesia diprediksi akan terjadi antara tahun 2020 hingga 2030. Ketika memasuki tahun 2020 nanti, persentase penduduk usia produktif akan mencapai 70 persen dan dimasa tersebut generasi millennial akan mendominasi.

Sebagai generasi yang tumbuh dalam era revolusi media sosial, generasi millennial memiliki beberapa keunggulan diantaranya: melek akan teknologi, kreatif dan banyak ide, mayoritas berpendidikan tinggi, serta fleksibel dalam menghadapi perubahan. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Youth Laboratory, generasi millennial seringkali mendahulukan passion dibandingkan karir dalam bertindak (cenderung berpikir out of the box). Hal ini juga yang menjadikan mayoritas generasi millennial memiliki jejaring yang luas sehingga mereka memiliki pemahaman global yang mumpuni.

Namun, sebagai generasi yang kelak akan memegang peranan penting bagi kemajuan Indonesia, pemahaman global saja tidaklah cukup. Generasi millennial wajib memiliki pemahaman “akar rumput”

Apa yang ada dibenak kita ketika mendengar “akar rumput” ?

“Akar rumput” terdiri dari dua padanan kata, yakni akar dan rumput. Sebagaimana kita ketahui, bahwa akar memiliki fungsi yang sangat vital untuk menopang kehidupan sebuah tanaman. Kita mungkin merasa kagum ketika melihat sebuah pohon besar yang menjulang tinggi. Semua itu tidak terlepas dari andil sang akar yang menghujam kokoh kedalam tanah sehingga pohon mampu bertahan dari terpaan angin. Akar juga memiliki fungsi untuk menyerap nutrisi dari dalam tanah yang kemudian diedarkan keseluruh bagian tanaman. Tanpa nutrisi yang susah payah dihasilkan oleh akar, maka tanaman tak akan mampu bertahan.

Ketika kita menikmati berselancar di dunia maya dengan kondisi jaringan yang memadai, seringkali kita melupakan jasa para pekerja yang telah bersusah payah membangun pemancar-pemancar yang menjulang tinggi dengan nyawa sebagai taruhannya.

Kita seringkali hanya memuji yang terlihat oleh mata, seperti tanaman yang indah dan pohon yang kokoh, padahal akar yang tidak terlihat memiliki peran besar didalamnya. Seperti halnya ketika kita menikmati berselancar di dunia maya dengan kondisi jaringan yang memadai, seringkali kita melupakan jasa para pekerja yang telah bersusah payah membangun pemancar-pemancar yang menjulang tinggi dengan nyawa sebagai taruhannya.

Lantas, bagaimana dengan rumput? Tanpa disadari, rumput yang seringkali dianggap sebagai pengganggu ternyata memiliki peran besar dalam kehidupan kita. Bayangkan saja jika tidak ada rumput didunia ini, apa jadinya? Permukaan tanah yang tidak ditanami akan menjadi gersang dan penuh debu. Selain itu, rumput juga memiliki fungsi untuk menjaga vegetasi tanah (kandungan mikroorganisme). Rumput yang dibiarkan tumbuh berdampingan dengan tanaman akan menjaga vegetasi permukaan tanah. Sehingga, ketika ada tekanan panas dan dingin dari luar, makhluk-makhluk kecil yang ada didalam tanah yang berfungsi menjaga kesuburan tidak akan mati. Dan masih banyak lagi fungsi rumput yang jarang kita sadari. Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk memandang rendah pada rumput.

Rakyat kecil walaupun tidak terlihat perannya dipermukaan sebagaimana kaum elit, namun keberadaan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata.

Jadi, apa sebenarnya pemahaman akar rumput itu? Mengapa generasi millennial wajib memilikinya? Yang dimaksud akar rumput oleh penulis dalam hal ini adalah rakyat kecil yang memiliki peran dalam menyangga kekuatan suatu bangsa. Rakyat kecil walaupun tidak terlihat perannya dipermukaan sebagaimana kaum elit, namun keberadaan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Kehidupan berbangsa dan bernegara dapat berlangsung dengan baik tidak terlepas dari dukungan rakyat kecil.

Apa jadinya jika di negeri ini tidak ada petani, nelayan, tukang parkir, petugas kebersihan, penjaga pom bensin, asisten rumah tangga, dan berbagai profesi kecil lainnya yang begitu banyak memudahkan kehidupan kita? Tentu saja kita akan mengalami banyak kesulitan. Maka sangat penting memahami keberadaan rakyat kecil ini, dengan demikian akan lebih mudah untuk menjaga hak-hak mereka agar terpenuhi. Akar rumput yang dianalogikan sebagai rakyat kecil ketika dibiarkan mengering maka akan sangat mudah terbakar. Jika rumput habis terbakar, yang tersisa hanyalah tanah yang gersang.

Generasi millennial perlu memiliki pemahaman ini agar kreativitas yang mereka miliki dapat berguna bukan hanya untuk diri sendiri ataupun kaum elit tertentu namun dapat juga dirasakan oleh rakyat kecil. Rakyat kecil bisa saja rapuh jika tidak mendapat perhatian yang cukup. Rapuhnya sebuah pondasi akan meluluh lantakkan seluruh bangunan. Memiliki pemahaman global yang mumpuni serta networking yang luas oleh millennials adalah modal besar untuk memajukan negeri ini, namun semuanya akan sia-sia jika tidak mampu memahami keadaan rakyat kecil sebagai pondasi yang sesungguhnya.

Lantas, bagaimana cara agar generasi millennial bisa memiliki pemahaman akar rumput? Adalah dengan meluangkan waktu untuk berbaur bersama meraka. Berinteraksi secara langsung agar membuka mata yang selama ini tertutupi oleh sederetan berita nasional maupun internasional yang ada di TV. Yang selama ini hanya tertarik dengan isu-isu global, hanya berkomentar pedas jika tak sejalan dengan pemikiran, dan yang paling miris adalah ketika waktu terbuang hanya untuk memonitor kehidupan glamour para selebriti.

Cobalah berinteraksi dengan anak-anak kurang beruntung yang tidak mampu mencicipi manisnya pendidikan atau mereka yang harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk sampai di sekolah tempat dimana mereka menabur harapan demi janji kehidupan yang lebih baik. Dengarlah suara-suara lirih para pedagang yang menjajakan dagangannya disudut-sudut pasar atau teriakan anak-anak tukang pikul yang berharap ada yang mau memakai jasa mereka. Perhatikan para petani yang berjemur dibawah teriknya matahari untuk merawat tanaman yang kelak hasilnya akan kita cicipi atau pikirkan para nelayan yang melaut hingga berhari-hari yang mungkin saja terombang-ambing oleh gelombang lautan yang ganas. Dan cobalah beri kontribusi secara nyata sebisa yang kita lakukan. Dengan demikian pemahaman akar rumput telah ada di genggaman.

Keberhasilan yang Tertunda, Guru MI-pun Bisa

Kegagalan yang menyayat hati, barangkali hanya karena kurang kesabaran. Saat kesabaran bertambah, maka ada titik di mana kesuksesan itu dapat kita rengkuh. Apakah Anda termasuk orang sabar, atau orang yang menyerah oleh karena kapok bahwa Anda orang yang gagal. Lalu mengatakan, sepertinya ini bukan rejeki saya atau bukan mainan saya. Sudah ah, saya tinggal dan cari yang baru lagi.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa; “kegagalan adalah sukses yang tertunda”. Saya meyakini dengan pepatah tersebut, karena telah membuktikan sendiri kebenaran pepatah tersebut dalam berbagai peristiwa kehidupan yang saya alami dan saya juga yakin pepatah tersebut juga ada benarnya bagi para sahabat pembaca tulisan saya ini.

Coba kita ingat flashback pada masa lalu kita, tentang kisah cinta kita misalnya. Sebelum akhirnya berhasil menemukan jodoh kita sekarang ini, yang hidup bersama kita saat ini dan insyaallah menjadi jodoh dunia akhirat kita, biasanya sebelumnya didahului dengan beberapa kisah percintaan yang gagal. Saya pribadi sebelum menikah dengan istri saya, pernah sekitar tujuh kali menjalin cinta dengan wanita yang pada akhirnya putus alias tidak berjodoh.

Orang yang jatah kegagalannya nol, adalah orang yang sekali mencoba langsung berhasil. Orang yang jatah kegagalannya sedikit, adalah orang yang membutuhkan sedikit waktu untuk mencoba, hingga pada akhirnya berhasil.

Ada banyak kegagalan-kegagalan lain yang mungkin pernah kita alami sebelum pada akhirnya kita berhasil. Misalnya dalam hal menemukan pekerjaan tetap, memiliki rumah, pendidikan, prestasi, rezeki, mimpi, keinginan, harapan dan lain sebagainya. Karena sesungguhnya setiap orang memiliki jatah kegagalan masing-masing, ada yang jatah kegagalannya nol, sedikit dan banyak. Orang yang jatah kegagalannya nol, adalah orang yang sekali mencoba langsung berhasil. Orang yang jatah kegagalannya sedikit, adalah orang yang membutuhkan sedikit waktu untuk mencoba, hingga pada akhirnya berhasil. Sedangkan orang yang jatah kegagalannya banyak, adalah orang yang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk berhasil menggapai impiannya.

Membutuhkan kesabaran, daya tahan dan keyakinan yang kuat dalam upaya menghabiskan jatah kegagalan yang mesti kita ‘habiskan’ sebelum pada akhirnya kegagalan itu habis dan kita pun berhasil menggapai harapan yang kita inginkan. Jikalau kita tidak sabar, malas dan tidak percaya bahwa suatu ketika kita akan berhasil ketika menghadapi kegagalan, bisa dipastikan kita akan selamanya gagal.

Berkat usaha dan doa yang tak pernah lelah, akhirnya keajaiban datang, saya pun dimutasi di tempat yang dekat dengan domisili saya. Bagi saya hal itu merupakan keberhasilan yang membahagiakan.

Perlu usaha terus menerus tentu juga dengan disertai doa, pasti suatu ketika keberhasilan itu akan tiba. Ada beberapa kisah dalam hidup saya, yang hampir rasanya tidak mungkin bisa berhasil namun pada akhirnya berhasil. Satu cerita diantaranya adalah ketika saya ditugaskan oleh pimpinan di tempat yang sangat jauh dari domisili rumah saya, hampir 11 tahun saya berada di sana. Namun berkat usaha dan doa yang tak pernah lelah, akhirnya keajaiban datang, saya pun dimutasi di tempat yang dekat dengan domisili saya. Bagi saya hal itu merupakan keberhasilan yang membahagiakan.

Penulis bertemu dengan Menteri Agama RI

Pernah juga dulu ketika tahun 2015 saya gagal mewakili Propinsi Jawa Timur untuk mengikuti lomba guru berprestasi tingkat nasional karena sesuatu hal, padahal saya adalah juara 1 guru berprestasi tingkat Jawa Timur, yang mestinya berhak untuk itu. Sempat waktu itu saya putus asa, emosi dan kecewa berat. Untung saja waktu itu saya ditelpon dan ditenangkan oleh sahabat saya yang merupakan panitia lomba dari Jakarta. Akhirnya saya pun positive thingking, insyaallah ada hal lain yang lebih baik yang akan saya terima

Namun subhanallah, benar saja dua tahun kemudian, di tahun 2017 saya berkesempatan ditugaskan oleh Kementerian Agama RI dalam kapasitas sebagai guru berprestasi Propinsi Jawa Timur, untuk mengikuti Diklat di Puncak Bogor selama seminggu (jadi tahu suasana Puncak) dan beberapa waktu kemudian diundang ke Jakarta untuk bertemu Menteri Agama RI dan setelahnya saya mendapatkan amanat untuk berbagi pengalaman pada guru di daerah pedalaman, tepatnya di Tarakan Kalimantan Utara. Kesemuanya itu gratis, naik pesawat gratis, tinggal di hotel mewah gratis, antar jemput mobil ke bandara gratis dan justru mendapatkan uang honorarium yang lumayan.

Intinya adalah kegagalan-kegagalan yang kita alami apapun itu sesuai dengan konteks kehidupan kita masing-masing, sejatinya adalah keberhasilan yang tertunda saja.

Intinya adalah kegagalan-kegagalan yang kita alami apapun itu sesuai dengan konteks kehidupan kita masing-masing, sejatinya adalah keberhasilan yang tertunda saja. Yakinlah akan ada sesuatu yang lebih baik dan indah suatu ketika yang akan kita dapatkan, asalkan kita tetap sabar dan semangat dalam menjemput keberhasilan kita. Aamiin..

Menikah Atau Lanjut S2?

0

Saat menjelang lulus sarjana strata-1, pilihan hidup semakin realistic dan setiap orang akan membangun berbagai keputusan penting. Bagi yang ingin tetap melanjutkan studinya dan merasa terus berkembang keilmuannya, melanjutkan studi S-2 adalah prestisius. Tetapi, menikah atau melanjutkan S2, kadang membikin hidup dilematis juga ?

Menikah dan S2 boleh jadi uji nyali bahwa kita bisa disebut sosok mandiri. Secara finansial, keduanya tidak bisa ditawar mesti dipenuhi oleh setiap orang. Menunda keduanya atau menyegerakan keduanya juga mempunyai peluang beresiko. Bagaimana sebaiknya membuat keputusan tersebut ?

Menjalani kehidupan memang selalu berurusan dengan bagaimana kita memilih diantara dua pilihan. Pilihan yang akan membawa kita pada tujuan-tujuan hidup kita selanjutnya. Tidak jarang mengarah pada dua pilihan yang berat bagi kita, yang seringkali membuat kebingungan dan juga stress sehingga memikirkan keduanya malah sering membuat kegiatan yang seharusnya segera dilaksanakan menjadi terbengkalai. Contohnya saja kita masih harus menyelesaikan skripsi tapi terlalu ambil pusing akan dua pilihan tersebut.

Belum lagi adanya tuntutan dari orangtua yang menyuruh segera menikah atau lanjut S2 yang membuat derita mahasiswa semester akhir semakin kompleks. Nah, dilema pada dua pilihan juga membuat kesehatan kita bermasalah seperti berkurangnya nafsu makan atau nafsu makan yang berlebih.

Sejatinya memilih dua pilihan bukanlah suatu hal yang mudah, akan tetapi butuh persiapan dan keputusan yang tepat supaya kita yang menjalaninya juga tidak merasa terbebani akan hal baru. Setiap orang memilih menikah dulu atau S2 merupakan pilihan yang sah sah saja, akan tetapi sekali lagi bahwa pilihlah salah satunya berdasarkan segala pertimbangan yang matang baik secara pribadi maupun dengan orangtua Anda.

Berbicara mengenai fakta bahwa kedua pilihan tersebut sama-sama membutuhkan finansial yang cukup besar serta keduanya juga terdapat resiko masing-masing yang perlu dipertanggungjwabkan secara bijak. Oleh sebab itu bagi Anda yang menginginkan pilihan salah satu dari kedua tersebut berfipirlah dan putuskan dengan tepat supaya tidak salah pilih yang mengakibatkan masalah baru dikehidupan kita.

Fenomena 3 tahun belakangan ini banyak sekali yang memilih menikah muda karena berbagai alasan bagi masing-masing individu yang memilihnya. Bukan hal yang luar biasa jika terdapat mahasiswa memilih menikah disaat sedang menempuh kuliah. Banyak pula yang memilih untuk menyelesaiakn kuliah S1 kemudian setelah lulus menikah, atau sambil kerja melanjutkan S2 karena kesukaannya untuk terus melaksanakan pendidikan hingga jenjang tertinggi serta adanya dukungan psikis maupun finansial dari orangtua. Adapula yang berpikir memilih S2 dulu supaya setelah lulus S1 tidak langsung menganggur. Jadi apapun pilihannya setiap individu berhak untuk mendapatkan yang terbaik sesuai dengan keinginannya. Adapula yang kekeh ingin S2 terlebih dahulu

Jika Anda atau pasangan Anda masih terbilang belum mampu mengontrol emosi atau ego masing-masing maka perlu sekali untuk mengendalikan hal tersebut, banyak fakta pernikahan yang terlalu tinggi emosi dan egonya sangat rentan sekali untuk terjadi perceraian.

Bagi Anda yang menginginkan menikah setelah lulus S1 maka persiapkan mental yang matang, sebab menikah bukan suatu hal yang semua isinya bahagia saja akan tetapi dalam sebuah pernikahan akan muncul yang namanya permasalahan baru. Jika Anda atau pasangan Anda masih terbilang belum mampu mengontrol emosi atau ego masing-masing maka perlu sekali untuk mengendalikan hal tersebut, banyak fakta pernikahan yang terlalu tinggi emosi dan egonya sangat rentan sekali untuk terjadi perceraian. Tentunya Anda tidak menginginkan hal tersebut yang mana belajar mengendalikan emosi dan juga ego adalah hal penting untuk menuju rumah tangga yang harmonis. Selain itu, kemampuan finansial juga sangat diperlukan pasca menikah karena akan banyak sekali kebutuhan Anda bersama pasangan untuk melanjutkan hidup secara sehat. Janganlah menikah karena banyak teman anda yang menikah. Sejatinya menikah bukanlah ajang perlombaan tapi membentuk sebuah kesiapan dalam menata hidup baru dengan pasangan.

Orangtua akan sangat senang dan juga bangga melihat anaknya melanjutkan pendidikannya hinga ke jenjang tertinggi, namun kebahagiaan orangtua akan semakin lengkap jika Anda bisa membiayai separuh atau berapapun untuk kuliah Anda S2 serta ditambah Anda sudah memiliki pekerjaan

Bagi Anda yang memilih melanjutkan S2, tentunya menjadi hal yang bagus pula untuk memperdalam keilmuan Anda. Namun, sekali lagi bahwa biaya S2 bukan perkara murah sehingga Anda juga mempertimbangkan tersebut dengan orangtua. Atau setelah Anda lulus S1 alangkah lebih baiknya mencari pekerjaan dulu supaya bisa membiayai kuliah S2 Anda tanpa membebani orangtu secara keseluruhan. Orangtua akan sangat senang dan juga bangga melihat anaknya melanjutkan pendidikannya hinga ke jenjang tertinggi, namun kebahagiaan orangtua akan semakin lengkap jika Anda bisa membiayai separuh atau berapapun untuk kuliah Anda S2 serta ditambah Anda sudah memiliki pekerjaan.

Teman-teman semua bahwasannya dua pilihan di atas merupakan pilihan yang sama-sama baik. Pilihlah pilihan Anda dengan memohon ridho Sang Maha Pemberi Segalanya maka segala hal yang ingin Anda raih akan dipilahkan yang terbaik dari yang terbaik. Berusahalah dan terus berdoa maka Allah akan berikan jalan atas segala keinginan terbaik Anda.

Pengapesan, Waspada Saat Di Atas Angin Kekuatan

Selalu saja ada kelemahan pada setiap orang. Kelemahan yang tersembunyi akan menjebak pada kekalahan atau kegagalan, bahkan kematian. Saat berada di puncak, sudahkah kita selalu ingat bahwa setiap manusia selalu ada celah pengapesan (titik lemah setiap manusia) ?

Seperti dua sisi mata uang, setiap manusia mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kita mesti menyadari bahwa tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang sempurna. Menyadari kelemahan itu hal yang penting, agar tidak menjadi kesombongan dalam diri, juga penting menyadari kelebihan diri, agar kita tidak rendah diri dan mudah mengeluh namun justru mampu mengembangkan kelebihan yang kita punya.

Kelemahan kita adalah pengapesan kita, jadi kita mesti mampu menyikapi, mengantisipasi, menjaga diri agar pengapesan kita tidak diketahui orang lain, yang berpotensi merusak, menghancurkan bahkan mungkin bisa membunuh kita selamanya.

Jadi teringat kisah manusia super yang kalah karena musuhnya mengetahui pengapesannya, seperti Samson yang memiliki pengapesan pada rambutnya, singkat cerita Samson hilang kekuatannya karena kekasihnya Delia mencukur rambut Samson saat dia tertidur lelap dan mengikatnya. Ada juga kisah Superman si manusia super yang bisa terbang dan sangat kuat namun tubuhnya lemah dan kesakitan begitu dekat dengan batu kripton. Kisah Si Pitung yang mati ditembak peluru emas oleh Kompeni Belanda.

Kisah Barsisoh, seorang yang ahli ibadah yang memiliki santri 60 ribu yang tergoda iblis untuk melakukan dosa minum khamr yang justru menjadi awal dan pemantik Barsisoh melakukan dosa-dosa besar lainnya dan pada akhirnya mati dalam keadaan su’ul khotimah, naudzubillahimindzalik.

Kisah Juraij, seorang ahli ibadah yang ketika shalat lebih memilih meneruskan shalatnya daripada memenuhi panggilan ibunya, hingga mengecewakan ibunya dan ibunya pun mendoakan kejelekan pada Juraij. Kisah Alqomah pun hampir sama, ia didoakan jelek oleh ibunya karena ketika ibunya minta makanan, Alqomah tidah memberi.

Dalam masa kini pun banyak cerita yang menceritakan tentang pengapesan seseorang. Ada politisi yang tergoda melakukan korupsi, penegak hukum yang terlibat suap menyuap, artis yang terjerumus narkoba, pejabat yang melakukan penyalahgunaan wewenang, ataupun ustadz yang terjerumus pada perselingkuhan, yang pada akhirnya menjatuhkan mereka sendiri di mata khalayak umum.

Manusia adalah makhluk yang lemah. Setiap manusia sehebat apapun dia, pasti memiliki kelemahan alias pengapesan.

Dari beberapa kisah yang saya tulis di atas, bisa kita ketahui manusia adalah makhluk yang lemah. Setiap manusia sehebat apapun dia, pasti memiliki kelemahan alias pengapesan. Manusia pun mudah tergoda untuk melakukan hal-hal yang tidak baik yang justru bisa membuatnya hancur dan mati.

Menyikapi hal itu, kita bisa bertanya pada diri kita sendiri. Apa kelemahan dan pengapesan diri kita? Jika sudah bisa menjawab pertanyaan itu, kita mesti pelan-pelan berusaha memperbaiki dan kalau mampu berusaha menghilangkannya agar tidak berkembang hingga bisa menghancurkan diri kita suatu ketika. Namun jikalau tidak mampu, satu saja yang mesti kita usahakan, jangan sampai orang lain tahu kelemahan dan pengapesan kita.

Tutuplah rapat-rapat kelemahan dan pengapesanmu, jangan sampai orang tahu, biar jalan ceritamu tak berhenti dengan cara yang tidak baik. Ituuu.

Seperti halnya cerita Si Pitung andai tidak ada yang tahu kalau kelemahan dan pengapesannya adalah peluru emas tentu jalan ceritanya akan lain. Tutuplah rapat-rapat kelemahan dan pengapesanmu, jangan sampai orang tahu, biar jalan ceritamu tak berhenti dengan cara yang tidak baik. Ituuu.

Tak Butuh Hashtag, Tapi Aksi Nyata

0

Ramadhan menjadi momentum berbagi. Bulan yang hikmahnya mengingatkan kita pada batas kepemilikan dan kepedulian. Apakah semua orang mau peduli dan melakukan aksi nyata, atau sebatas menyiapkan quote dan membuat hastag #kamipeduli ?

Kampus Desa Indonesia — Lamongan. Kepekaan sosial telah menjadi barang langka dan hampir punah hari ini. Dalam kehidupan sehari-hari jamak kita jumpai berbagai tindakan dan sikap yang mencerminkan hal ini. Contoh kecil, ketika ada orang yang hendak menyeberang jalan, banyak di antara pengendara kendaraan bermotor yang justru cuek dan tidak peduli, hanya sedikit yang mau meluangkan waktu, berhenti sejenak memberikan kesempatan kepada si penyeberang jalan. Contoh lain misalnya membuang sampah sembarangan,  merokok di sembarang tempat, enggan membantu sesama, dan sebagainya. Akselerasi globalisasi dan modernisasi menjadi bidan dari lahirnya fenomena ini.

Pergeseran pola pikir dan gaya hidup yang semakin egosentris, konsumtif, dan hedonis, membuat laju lunturnya kepekaan sosial di tengah masyarakat semakin cepat. Kondisi ini terutama dialami oleh generasi milenial dan generasi Z, yang hidupnya berbasis gawai.

Pergeseran pola pikir dan gaya hidup yang semakin egosentris, konsumtif, dan hedonis, membuat laju lunturnya kepekaan sosial di tengah masyarakat semakin cepat. Kondisi ini terutama dialami oleh generasi milenial dan generasi Z, yang hidupnya berbasis gawai. Dalam berbagai kegiatan sehari-harinya, tak sedetikpun mereka terpisah dari gawainya. Sehingga tidak heran jika kita jumpai di kafe, warung kopi, taman, atau tempat-tempat nongkrong lainnya, ketika sedang berkumpul, mereka justru asyik dengan gawainya masing-masing. Sehingga bisa dikatakan, hari ini bertemu saudara, teman atau sahabat hanyalah formalitas belaka. Bahkan dalam kegiatan sosial, hashtag dan swafoto yang mereka utamakan.

LAM (Lembaga Abdi Masyarakat). Organisasi yang baru berdiri tiga bulan yang lalu ini mempunyai tujuan utama untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dan mengembalikan kepekaan sosial yang hari ini mulai luntur, terutama di kalangan generasi muda.

Kondisi inilah yang menjadi keprihatinan sejumlah kaum muda di Kabupaten Lamongan yang tergabung dalam sebuah organisasi sosial-kemasyarakatan, LAM (Lembaga Abdi Masyarakat). Organisasi yang baru berdiri tiga bulan yang lalu ini mempunyai tujuan utama untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dan mengembalikan kepekaan sosial yang hari ini mulai luntur, terutama di kalangan generasi muda.

“Organisasi ini dibentuk untuk membantu mereka yang membutuhkan uluran tangan dengan aksi yang nyata, bukan sekedar hashtag di media sosial. Karena yang saudara-saudara kita butuhkan bukanlah itu, tetapi aksi nyata dari orang-orang yang mampu, seperti kita” ujar Ahmad Rofiq, Ketua LAM, di sela-sela rapat rutin.

Meski baru terbentuk dan belum memiliki legalitas formal-administratif, namun organisasi yang diisi oleh anak-anak muda (siswa SMA dan mahasiswa) ini telah melakukan aksi nyata yang menjadi visi mereka. Seperti pada Minggu, 13 Mei 2018 lalu, mereka mengumpulkan dana dari kantong masing-masing untuk melakukan bakti sosial di masyarakat. Bakti sosial ini mengambil lokasi di Kecamatan Tikung. Mereka membagikan sembako kepada sepuluh orang miskin di lokasi tersebut.

Melalui bakti sosial ini, mereka berharap orang-orang dengan perekonomian yang memprihatinkan memiliki bekal untuk Bulan Ramadhan. Tidak hanya di bidang sosial, organisasi ini juga memfokuskan diri pada bidang-bidang lain. Terdapat tiga bidang yang menjadi titik fokus organisasi ini, bidang sosial (pendidikan dan kemiskinan), bidang tanggap bencana, dan bidang kesehatan. []