Sabtu, Mei 9, 2026
Beranda blog Halaman 69

Jangan Suka Menakut-nakuti Anak (1)

0

Gangguan keberanian yang alamiah dapat muncul karena salah asuh. Keinginan orang tua agar anaknya patuh dan mengikuti instruksi, kadang menjadikan anak-anak dipupuk menjadi seorang penakut. Awas, nanti ditembak polisi. Ada hantu. Termasuk kebiasaan menonton film horor. Ketika anak-anak tidak terkendali, potensi ketakutannya bisa menjadikan mereka kurang memiliki daya juang. Termasuk mencemari aqidah. Waspada!

KampusDesa.or.id–Ini tentang rasa takut yang konstruktif dan tidak konstruktif terhadap yang ghaib. Yaitu tentang Allah dan makhluk-makhluk metafisika ciptaanNya .

Dulu saya suka sekali nonton film-film hantu. Menurut saya seru! Saya suka mengajak anak-anak menyenangi film-film mistis dan horor semacam Ghost Buster. Motivasinya sih sederhana, menikmati naik turunnya adrenalin… lalu teriak bareng-bareng dan malamnya anak-anak berebut memeluk saya dari kanan dan kiri. Saya menikmati peran sebagai pelindung yang diperebutkan oleh keempat makhluk kecil kesayangan itu.

Padahal tontonan seperti itu belum tentu benar-benar menghibur. Efek negatifnya jelas. Anak-anak jadi penakut dan kolokan. Sedikit-sedikit minta antar. Cemen. Semua salah saya. Sekarang saya menyesal. Untunglah saya masih bisa mengoreksi semua kesalahan itu, termasuk pemahaman yang tidak tepat tentang ruh manusia meninggal yang digambarkan sebagai arwah bergentayangan yang bertanggung-jawab terhadap semua penampakan hantu mengerikan.

Bukan sekedar menjadikan anak penakut, namun tontonan semacam itu bisa mengancam tegaknya aqidah seorang anak.

Sekarang saya benar-benar menyesal pernah melakukannya. Karena persoalannya ternyata tidak sesederhana itu. Bukan sekedar menjadikan anak penakut, namun tontonan semacam itu bisa mengancam tegaknya aqidah seorang anak.

Tidak bijaksana mengajak dan memberi contoh anak-anak untuk menggandrungi film-film horor dan mistis. Sebelum memahami dengan tepat hakikat jiwa atau ruh manusia dan otoritas tunggal penciptanya. Sebelum mempelajari dengan benar hakekat penciptaan makhluk makhluk Allah pada dimensinya masing-masing.

Padahal anak-anak lebih butuh dibukakan mata indra dan hatinya terhadap lapis-lapis kekuasaan Allah yang tiada terkira dahsyatnyanya! Dibandingkan dikenalkan pada pengetahuan tentang jenis-jenis jin dan kekuatan mereka.

Ketakutan pada jin atau setan membuat kita jadi tidak realistis, mudah panik dan paranoid.

Mengapa? Karena  kedua hal di atas menimbulkan reaksi serta membentuk keyakinan yang berbeda. Ketakutan pada jin atau setan membuat kita jadi tidak realistis, mudah panik dan paranoid. Pada akhirnya ketakutan ini justru mengarahkan kita pada kekaguman atau malah ketergantungan pada sesuatu yang tidak semestinya. Ketakutan terhadap makhluk makhluk ghaib yang jahat serta penampakan yang menakutkan hanya menggiring kita untuk mencari perlindungan pada sesuatu yang derajatnya bahkan lebih rendah dibandingkan manusia itu sendiri. Pernah dengar orang kehilangan barang meminta bantuan setan gundul? Pernah tahu seseorang yang ingin melindungi keluarganya namun justru bekerjasama dengan jin melalui pemasangan tumbal? Ngeri bukan?

Beda sekali dengan kekaguman yang teramat sangat disertai ketakutan yang benar terhadap Allah. Reaksi baliknya adalah ketenangan dan kenyamanan di atas pengakuan terhadap otoritas yang Maha Digdaya dan Berkuasa. Allah menggenggam, mengontrol tapi mengasihi dan melindungi. Segala aturanNya untuk kemaslahatan hidup manusia itu sendiri. Jenis ketakutan terhadap penguasaan seperti inilah yang akan menjaga kelurusan aqidah kita sehingga menghasilkan kepribadian yang tangguh lagi mulia.

Jadi rasa takut memang harus direfleksikan dengan bijaksana. Dikendalikan. Mesti proporsional. Ditertibkan pada rel kebenaran tatanan pemilik semesta.

Dibalik Postingan Viral, Guyonan bisa bersifat Maladaptif

0

Bagi kebanyakan orang, komedi kelucu-lucuan adalah hal yang lumrah untuk memperbaiki suasana hati. Akhirnya orang-orang mencari hiburan di gadgetnya masing masing, mencari postingan viral untuk dinikmati. Padahal dibalik postingan itu, ada jenis humor yang jarang diketahui netizen, namun berdampak buruk dalam interaksi sosial, bahkan dapat mempengaruhi psikis individu. Bijak dalam guyonan sangat diperlukan sebagai filter kemajuan zaman.

KampusDesa–Langsung saja, yang pertama adalah postingan viral. Jika anda membaca tulisan ini berarti anda sedang online entah melalui Smartphone atau PC. Tentu saja anda memiliki akun media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, Line dan lainnya. Nah, disana terdapat suatu, text, gambar atau video unggahan oleh seseorang itulah yang disebut postingan. Jika hal tersebut menarik selera netizen, maka postingan itu akan cepat menyebar menjadi konsumsi publik (viral) dengan cara direpost, dilike, diretwit dan dishare.

Satu kelemahan fatal dalam bermedia digital adalah tidak adanya kontrol etika. sehingga suatu hal yang viral (populer) meskipun jauh dari kategori bermoral, akan menjadi suatu pengetahuan baru sekaligus trend yang mudah sekali dicontoh oleh kawula muda, terutama bagi mereka yang masih dalam tahap krisis identitas (remaja)

Satu kelemahan fatal dalam bermedia digital adalah tidak adanya kontrol etika. sehingga suatu hal yang viral (populer) meskipun jauh dari kategori bermoral, akan menjadi suatu pengetahuan baru sekaligus trend yang mudah sekali dicontoh oleh kawula muda, terutama bagi mereka yang masih dalam tahap krisis identitas (remaja).

Teknik membuat suatu postingan agar menjadi viral sebenarnya sangat berguna bagi start-up dan pengusaha untuk memasarkan produknya. Hari ini persaingan marketing online di Indonesia memang menggiurkan. Disisi lain, bagaimana jika postingan viral tersebut bukan tentang produk berkualitas, melainkan hanya bersifat hiburan semata? Berisi jokes yang kian hari meramaikan dunia digital nusantara. Alih-alih kebebasan berkreasi dan kreatifitas, padahal jokes tidak selamanya baik.

Disinilah letak yang harus dikoreksi, humor humor yang beredar viral dalam bentuk video, gambar atau tulisan jangan sampai tidak sejalan dengan norma moralitas budaya dan hukum agama, lebih lebih sampai mempengaruhi psikis seseorang menjadi lebih buruk dan mereduksi nilai moral yang sudah ada

Disinilah letak yang harus dikoreksi, humor-humor yang beredar viral dalam bentuk video, gambar atau tulisan jangan sampai tidak sejalan dengan norma moralitas budaya dan hukum agama, lebih lebih sampai mempengaruhi psikis seseorang menjadi lebih buruk dan mereduksi nilai moral yang sudah ada.

Etika adalah suatu ilmu yang menganalisa, menyelidiki, baik dan buruk tindakan manusia sejauh bisa diketahui oleh pikiran. Moral adalah suatu pandangan baik atau buruk, benar atau salah, apa yang sepantasnya dilakukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan berdasarkan kesepakatan budaya setempat. Sementara Akhlak adalah terminologi Islam yaitu suatu dorongan dalam diri manusia untuk melakukan kebiasaan perbuatan yang baik, dilakukan berulang ulang dan bukan pada waktu tertentu saja.

Etika dan moralitas adalah hal yang wajib dijunjung tinggi, karena dua hal tersebut adalah penyeimbang dalam kehidupan sosial. Dalam ilmu kesehatan mental orang yang berperilaku moral menyimpang bisa dicirikan sebagai patologi sosial atau bahkan bisa masuk kategori abnormalitas,tentu hal ini jauh dari yang kita harapkan.

Etika dan moralitas adalah hal yang wajib dijunjung tinggi karena dua hal tersebut adalah penyeimbang dalam kehidupan sosial. Dalam ilmu kesehatan mental orang yang berperilaku moral menyimpang bisa dicirikan sebagai patologi sosial atau bahkan bisa masuk kategori abnormalitas, tentu hal ini jauh dari yang kita harapkan. Manusia memang butuh hiburan, fungsinya untuk melepas lelah, mengalihkan masalah dan mungkin merilekskan diri supaya tidak tegang.

Hiburan akan dianggap berhasil jika mampu membuat penontonnya tertawa dan menikmatinya, mungkin itu yang disebut humor. Dalam pengertian jawa, humor bisa diartikan “guyonan.”  Perlu diketahui ada dua humor yang sangat tidak baik dilakukan dalam kehiduan sehari-hari yaitu aggressive humor dan self defeating humor. Kategori gaya humor ini merupakan hasil temuan R. Martin tentang perbedaan gaya humor individu dan dampaknya terhadap kepribadian.

Ketika seseorang membuat orang lain tertawa, dengan bentuk menyindir, mencela menjatuhkan dan menggali kekurangan (mengorbankan ) orang lain itulah yang dinamakan aggresive humor. Hal ini tentu berpotensi menyebabkan permusuhan, ketidaknyamanan dan saling serang.

Tak jarang didapati juga dalam layar komedi Indonesia, memanipulasi orang supaya tertawa dengan merendahkan dan menghina diri sendiri secara berlebihan bahkan orang tersebut rela menjadi bahan ejekan (mengorbankan diri) inilah yang dikenal dengan self defeating humor. Seakan akan hal ini tidak berdampak, padahal nyatanya orang yang memiliki gaya humor seperti ini memliki tingkat kesepian yang cenderung lebih tinggi dan menunjukkan kesejahteraan psikologi yang kurang baik.

Lingkungan sosial adalah pembentuk kepribadian yang potensial bagi manusia melalui proses imitasi, identifikasi, sugesti, simpati dan empati. Proses itu juga terjadi bahkan dengan intensitas lebih banyak melalui media online. Bisa kita buktikan dampak dan contohnya, kenapa banyak anak anak kecil saat ini sudah hafal lagu percintaan daripada lagu kanak-kanak tempo dulu. Padahal lagu anak tempo dulu mengandung humor yang pantas sesuai usia mereka.

Contoh lainnya adalah adegan remaja laki-laki berekspresi melambai. Adegan self talk dengan bahasa sarkasme dan gambar atau humor dewasa. Semua jenis guyonan ini mengandung aggressive dan self defeating humor. Humor seperti itu sangat diminati dan cenderung viral, tetapi apa hal ini wajar dan perlu dibiarkan? Maka dari sini kita bisa melacak bahwa pengetahuan masyarakat tentang humor maladaptif sangatlah minim.

Salah satu cara agar bangsa ini tidak kehilangan orientasinya dibidang pendidikan dan budaya akibat dampak  transformasi teknologi Industri 4.0 adalah moralitas dan sopan santun khususnya guyonan sehat perlu dikampanyekan sebagai bentuk investasi SDM yang sehat secara psikologis

Hal yang paling sulit untuk mengontrol guyonan adalah ketika berinteraksi dengan teman seumuran, sebab mereka adalah orang yang sederajad, orang yang paling sering bertemu dan seirama dalam pemikiran sehingga kita lupa untuk memperlakukan teman sebaya sesuai sopan santun yang ada.

Inilah yang perlu diluruskan dalam kehidupan sosial, terutama guyonan via online yang sangat dinikmati netizen millenialls. Salah satu cara agar bangsa ini tidak kehilangan orientasinya di bidang pendidikan dan budaya akibat dampak transformasi teknologi industri 4.0 adalah moralitas dan sopan santun, khususnya guyonan sehat perlu dikampanyekan sebagai bentuk investasi SDM yang sehat secara psikologis.

Dosen saya pernah berpesan “sesuatu yang tidak dibiasakan akan mudah dilupakan. Sesuatu yang dibiasakan akan mudah diingat untuk dilakukan, maka biasakanlah hal-hal yang baik dalam hidup.”

Seni Menjual Pedagang Pasar Tradisional

1

Kearifan lokal menyapa setiap orang yang berpapasan adalah etika keramahan yang sudah menjadi budaya di masyarakat desa. Ternyata keramahan tersebut dapat diadopsi menjadi satu bagian teknik marketing. Ketrampilan tersebut menjadi salah satu gaya Seni Menjual yang ditemukan di arena pasar tradisional. Jika anda pedagang, cerewet itu dibutuhkan tetapi tetap dengan situasi yang ramah dan membangkitkan minat pembeli.

KampusDesa.or.id--Teknik pemasaran tidak saja dipelajari dari kelas-kelas ekonomi dan bisnis. Ada orang-orang yang memiliki bakat dari sononya dan dia terasah di lapangan. Cas-cis-cus menawarkan barang ke orang lain dengan lincah dan penuh keakraban. Logat khas orang jawa perantauan dengan ringan selalu melontarkan aneka penawaran atas barang-barang yang dijualnya. Sepertinya dia tidak nyaman kalau diam menunggu pembeli datang.

Sekilas saya merenung di pojok lapak dia di sebuah pasar tradisional Braja Harjosari, Selebah, Lampung Timur. Seorang perempuan yang masih semangat dan bugar serta riang gembira, menekuni usaha menjual ayam potong, aneka plastik, telor ayam dan bebek serta aneka peralatan selametan menghimpit ruang geraknya yang memang lapak dia tidak terlalu besar.

Sepertinya dia selalu saja menyapa setiap orang uang berjalan di depan lapaknya disapa dengan hangat.

“Yu, endoke mundak sewu. Saiki 21 ewu lo.” Sapanya kepada orang yang entah dia kenal betul atau sok kenal.

Orang yang lalu lalang itu menjawab. “Iyo to.” Dia pun berlalu begitu saja. Tidak mampir untuk membeli telor rersebut.

Seni Mengambil Hati Pembeli

Dia berusaha mengambil hati (ingratiation) pada semua orang yang dia lihat lewat di depan lapaknya (Hidayat & Bashori, 2016). Cara seperti ini sebenarnya mentradisi pada orang Jawa. Kita bisa temui dari pengalaman hidup dengan hubungan pertetanggaan yang kuat. Di desa, ada budaya saling menyapa ketika seseorang yang dikenal bersimpangan atau melintasi rumah kita. Teknik menyapanya bisa dari orang yang sedang berjalan lalu menyapa orang dilalui, baik ada di jalan atau orang tersebut terlihat sedang duduk di teras.

Ketika orang disapa, dia sebenarnya sedang menarik perhatian. Intensi perhatiannya kemudian dipolarisasi ke membentuk pemikiran mengenai barang dagangan. Saat terjadi kontak komunikasi, pusat perhatian orang akan diambil alih dan tertuju pada sumber komunikasi, yakni penjual. Meningkatnya pusat perhatian baru ini, sistem otak calon pembeli kemudian diisi dengan pikiran telor atau barang-barang yang dijual.

Ada dua kemungkinan, ketika calon pembeli mungkin fokus pikirannya tidak berpikir telur, tetapi berpikir ingin membeli yang lebih utama dulu sesuai rencana yang dibentuknya. Nah, karena sudah punya pikiran ingin membeli telur tetapi ditunda dengan mendahulukan barang lain, ketika dicuri dengan menyapa, maka calon penjual yang berjalan di depannya akan terambil hatinya, dan memori telur yang sudah disimpan dalam pikirannya langsung muncul. Saat penjual mampu mengambil hati, otomatis calon pembeli akan meningkatkan fokus perhatiannya pada telur dan berbeloklah dia bertanya lalu terjadi transaksi dan lakukah telornya.

Keramahan mendorong tumbuhnya simpati sehingga mudah untuk mengambil hati orang lain karena merasa diperhatikan dan diposisikan lebih berharga di mata orang lain. Posisi hati ini perlu dilatih untuk terus ditumbuhkan pada calon-calon pelanggan.

Keramahan seorang penjual kepada siapapun menjadi salah satu teknik meningkatkan strategi pemasaran. Keramahan ini sudah tumbuh di masyarakat pedesaan dengan budaya saling bersapa saat saling berpapasan. Keramahan mendorong tumbuhnya simpati sehingga mudah untuk mengambil hati orang lain karena merasa diperhatikan dan diposisikan lebih berharga di mata orang lain. Posisi hati ini perlu dilatih untuk terus ditumbuhkan pada calon-calon pelanggan.

Penyapaan ini tidak sekedar berkata formal seperti,

“Mbak monggo telornya.” Atau “mbak monggo brambangnya.”

Kata-kata yang lebih mampu membangkitkan perhatian dan bahkan kepedulian, seperti sapaan basa-basi. Contohnya,

“Piye ndoke wis oleh opo durung. Ndak butuh endok meneh, iki mudak lo yo. Lek tuku endok ojo kaget. Opo persediaane endok isik neng omah.”

Kata-kata ini membangkitkan semacam daya tarik dan kepedulian. Bahasa keren jaman now, SKSD (Sok Kenal Sok Dekat).

Seni menjual seperti ini saya lihat ada di seorang penjual lapak di pasar tradisional Braja Harjosari, Selebah, Lampung Timur. Hasilnya nampak efektif. Ada saja penjual yang secara gestur tidak menoleh dan fokus ke tujuannya, akhirnya menahan langkahnya dan minimal dia memberikan umpan balik komunikasi meski tidak membeli. Para pembeli ini setidaknya telah menyimpan memori keramahan dan sosok penjual. Pengingat ini perlu terus diciptakan terus-menerus oleh penjual sehingga pelanggan menjadi loyal alias selalu ingat kalau kita berjualan ini dan itu.

Seni Mengolah Pesan Positif

Lain lagi pada orang ke sekian.

“Yu, iki legi lo peleme. Lek ora legi sampean balikne kulite,” sebuah nada enteng yang berujung gurauan.

Ujaran yang sama terulang tetapi dengan gurauan yang sedikit berbeda. “Lek kurang manis, lah manise berarti dipek bakule,” sambil sedikit tersenyum dan disusul dengan berusaha menyodorkan pisau untuk mengupas mangganya.

Sembari itu, dia juga menyelai aktifitas tersebut dengan langsung memberikan plastik sebagai bungkus mangganya. Diikuti juga dengan tawaran berat timbangan, dua kilo ya… dan seterusnya. Padalah saya melibat, pembeli belum begitu turn in (benar-benar ingin membeli mangga tersebut) tetapi penjual terus berusaha membangun sudut pandang mengenai mangganya.

Nah, agar kekurangan yang mungkin muncul tetap bisa diterima oleh pembeli dan bagian dari kewajaran maka penjual terus berusaha memberikan perspektif/sudut pandang yang positif terhadap kekurangan itu.

Meski mangga itu tidak benar-benar manis, upaya untuk membangun logika pembeli terhadap kemungkinan mangganya tidak seideal yang dipromosikan, maka penjual tetap berusaha memberikan penguatan jika selalu ada kekurangan. Nah, agar kekurangan yang mungkin muncul tetap bisa diterima oleh pembeli dan bagian dari kewajaran maka penjual terus berusaha memberikan perspektif/sudut pandang yang positif terhadap kekurangan itu. Bahkan berani memotong harga jika memang kekurangan itu dikenali oleh pembeli.

Teknik ini dalam psikologi sosial dinamakan disrupt the reframe (Hidayat & Bashori, 2016). Teknik mempengaruhi orang dengan cara menggangu pemikiran kritis pembeli dan kemudian membuat kesan yang lebih positif terhadap barang tersebut. Disrupt adalah kondisi saat ada kekacauan pesan. Kekacauan ini dibuat karena pembeli khawatir jangan-jangan mangganya kecut.

Memang tidak dipungkiri, tidak semua mangganya manis. Boleh jadi ada saja satu atau dua mangga yang ditemukan rasanya tidak manis. Kondisi ini diakui oleh penjual dan segera penjual berusaha membangun kesan positif terhadap mangga tersebut dengan cara tetap selalu menyuguhkan pikiran positif melalui pengolahan pesan-pesan bernada gurauan atau sedikit menohok tetapi dalam nuansa humor. Ini yang disebut reframing.

Ketrampilan reframing menjadi salah satu cara untuk selalu menjaga agar pembeli tetap berpikir positif terhadap kemungkinan jikalau ada cacat di mangganya. Cara ini bisa kita analogikan (umpamakan) dengan memberi garansi servis satu tahun. Atau mengganti cacat barang dengan yang baru. Pesan yang disodorkan dengan menguatkan hal positif saat ada kejadian yang mungkin ditemukan negatif oleh pembeli, maka proses mempengaruhi ini akan meningkatkan pikiran pembeli agar tetap fokus dan menerima barang tersebut.

Pengalaman mengamati proses jual beli di pasar tradisional Braja Harjosari, Selebah, Lampung Timur menunjukkan bahwa ketrampilan marketing tidak lain bagian dari seni seseorang dalam mengembangkan percepatan penjualan. Seni ini bisa lahir karena talenta atau bisa dipelajari.

Yang pasti, diam dan berbicara monoton sebaiknya dihindari jika anda adalah seorang penjual. Banyak bicara alias cerewet tetapi yang membangkitkan simpati kepada pelanggan adalah modal dasar yang perlu terus dikembangkan.

Ternyata, cara ini mampu meningkatkan loyalitas pelanggan pemilik lapak bernama Siti Masfufah, saudara saya yang punya lapak di pasar tersebut. Bahkan pelanggannya pun juga berdatangan ke rumahnya untuk memesan aneka kebutuhan seperti ayam potong dan kebutuhan lainnya.

Selalu meningkatkan ketrampilan berbicara adalah modal bagi pengembangan pasar usaha anda.

Belajar di Tengah Alam Cemorokandang Malang

0

TK Islam Samudera Pakis dan Temboro mempunyai aktifitas jelajah alam sebagai bagian dari proses belajar anak-anak. Mengenal alam langsung menjadi kegiatan belajar yang penting agar anak melek potensi dan peluang. Mereka tidak hanya terpenjara di kelas-kelas yang tidak lagi peka realitas.

KampusDesa.or.id–Outing pada tanggal 20 Oktober 2018 kemarin terasa spesial. Mengajak anak-anak TK Islam Samudera Pakis dan Temboro belajar di alam bersamaan dengan tema ‘Binatang’. Enaknya ke mana? Kali ini kami coba menjelajahi sebuah desa sambil belajar tentang bercocok tanam organik dan kolaborasi antara hewan peliharaan dengan tanaman. Yang kami pilih adalah desa kami sendiri, yaitu Desa Cemorokandang.

Kedatangan rombongan anak-anak terdengar jelas dari dapur rumah saya, karena pertama-tama mereka menuju lapangan di belakang rumah saya untuk bermain-main sebentar dan berdoa bersama sebelum kegiatan. Setelah itu mereka menuju Green House milik warga di Jl. Palmerah I Vila Gunung Buring. Tempat ini menggunakan beberapa lahan kavling rumah kosong yang sebelumnya terlantar.

Dengan dipandu Bapak Andreas sang pengelola, anak-anak belajar tentang bercocok tanam organik dengan menggunakan tanah. Kegiatan di tempat ini diakhiri dengan mengajak anak-anak memanen cabe rawit. Tangan-tangan mungil itu cekatan sekali memetik buah-buah cabe yang merah ranum dari satu pohon ke pohon yang lain. Asyiik banget. Alhamdulillah, tidak ada insiden kepedasan!

Rute berikutnya lebih menanjak ke atas yaitu di Sentra Aquaponik yang dikembangkan oleh Perguruan Sanhikmah di Jalan Bandara Timika. Kali ini untuk belajar tentang bercocok-tanam organik dengan menggunakan air, yang lazim disebut Aquaponik.

Dipandu oleh Bunda Fitri dan rekan-rekannya, murid-murid TK saya dibimbing dari satu kegiatan kegiatan lainnya secara atraktif. Mulai dari melakukan pembibitan biji sawi di atas media tanam organik dengan pinset, memindahkan ke lokasi tunggu tunas, hingga memanen sawi di area Green House yang di bagian bawahnya dijadikan kolam pembiakan ikan.

Anak-anak jadi tahu fungsi kotoran ikan tersebut bagi kelangsungan hidup tanaman organik di atasnya. Maka mereka sangat bersemangat ketika diajak bersama-sama memberi makan ikan-ikan yang selalu bergerak lincah itu.

Anak-anak jadi tahu fungsi kotoran ikan tersebut bagi kelangsungan hidup tanaman organik di atasnya. Maka mereka sangat bersemangat ketika diajak bersama-sama memberi makan ikan-ikan yang selalu bergerak lincah itu. Ketika sudah capek, anak-anak disuguhi hasil olahan sayuran organik itu berupa gorengan tahu sayur dan minum susu kedelai. Benar-benar memuaskan!

Terakhir kami ajak anak-anak menuju empang ikan di tengah kebun Sengon di dukuh Kebalon di area persawahan yang cukup luas milik Mak Zen. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Namun desir angin semilir dan suara kecipak air sangat menggoda naluri bermain anak-anak.

Dengan dipandu Mas Al Fanu mereka menyusuri kebun Sengon sambil meniti jembatan goyang. Sebelum ‘nyemplung’ ke empang untuk menangkap ikan mereka bermain perosotan air dulu. Setelah itu mereka berlomba menangkap ikan nila di dalam air. Salah satu dari 4 petak empang yang tersedia memang sengaja diberi perahu buatan sendiri yang berasal dari ‘gelugu’ alias pohon kelapa. Walhasil anak-anak jadi berebut juga untuk menaiki dan mendayungnya. Ya ampun meriah dan hebohnya!

Tak terasa waktu pulang telah tiba. Ada yang sampai mau menangis karena tidak mau berhenti bermain. Seharian ini anak-anak belajar tentang banyak hal. Namun tidak terasa membosankan, karena dalam konteks praktek dan bermain di tengah alam. Tak percaya rasanya, semuanya dilakukan di desa kami sendiri!

PNS dan Dunia Tenaga Kerja Kita

0

Menjadi Pegawai Negeri Sipil adalah impian banyak orang Indonesia. Setiap pembukaan rekruitmen, ribuan orang akan berduyun-duyun mengikuti. Bak sebuah mitos, enak menjadi PNS karena pensiun dijamin, bulanan pasti, meskipun produktifitas dan nilai kekayaannya tidak akan sebanding dengan kerja di sektor lain atau berwirausaha. Meski tidak seideal itu, sepertinya sebagian kenyamanan menjadi PNS adalah daya tarik dan prestise yang terus diburu.

KampusDesa–Beberapa hari yang lalu saya mengikuti tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) CPNS 2018 di Surabaya. Tes yang berlangsung di daerah Blauran itu dihadiri ribuan orang. Mulai jam setengah tujuh pagi pria-wanita berbusana putih-hitam sudah mulai melakukan check-in, mulai dari registrasi kartu ujian sampai penggeledahan, sebab panitia melarang membawa apapun kecuali kartu ujian dan KTP.

Saya masuk ruangan ujian sekitar pukul 8 kurang sedikit. Di ruangan dengan laptop berjajar panjang, sudah sangat banyak peserta lain masuk dan bersiap mengerjakan soal berbasis Computer Assisted Test (CAT) tersebut. Tes berbasis komputer dan internet ini tentu bertujuan positif, selain lebih efisien dalam proses juga diharapkan menghapus budaya negatif Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang sejak dulu identik dengan proses penerimaan kerja oleh pemerintah.

Harus menyelesaikan 100 soal dalam waktu 90 menit tentu bukan perkara mudah. Berdasar testimoni banyak pendaftar CPNS di media sosial, yang paling dikeluhkan adalah soal-soal pada Tes Karakteristik Pribadi (TKP). Sebab berisi narasi-narasi panjang yang membuang banyak waktu dan dianggap menjebak dengan perintah untuk menjawab secara subjektif, meskipun belum tentu benar sesuai jawaban.

Menarik untuk diamati, jumlah pendaftar CPNS 2018 ini sangat banyak. Berdasar berita di media online Kompas.com, jumlah pendaftar ada pada kisaran 5 juta orang. Meski lowongan (formasi) yang tersedia jauh lebih kecil dari jumlah tersebut. Lima juta tentu bukan sedikit. Ambil contoh pada formasi saya di Pengelola Pengadaan Barang dan Jasa di sebuah kampus Islam negeri, hanya ada 1 lowongan yang diperebutkan 93 kandidat yang telah lolos seleksi administrasi.

Jika dilihat datanya, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia per Februari 2018 berjumlah 6,87 juta orang atau 5,13%. Tentu tidak semua yang mendaftar CPNS masih berstatus menganggur. Banyak dari mereka telah bekerja di sektor swasta, informal dan sebagainya. Namun banyak yang masih mencoba peruntungan menjadi PNS, tentu dengan harapan memperoleh kehidupan (keuangan, karir dan status sosial) yang lebih mantap.

PNS: Masih Jadi Pekerjaan Diminati

Sampai saat ini negara masih dianggap sebagai pemberi kerja terbaik. Ibarat perusahaan, selama negara masih tegak berdiri, pegawainya (yaitu PNS) tidak perlu khawatir pada kondisi pasar dan perampingan pekerja. Sekali diterima, menjadi PNS akan berlangsung sampai tua, bahkan uang pensiuan sampai meninggal. Kecuali jika melanggar kode etik tentunya.

Masih lekat dengan budaya feodal yang menganggap menjadi aparatur negara bisa seenaknya pun ongkang-ongkan kaki, dengan kerja santai dan kebiasaan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Banyak kritik terhadap kerja sebagai PNS. Misalnya masih lekat dengan budaya feodal yang menganggap menjadi aparatur negara bisa seenaknya pun ongkang-ongkan kaki, dengan kerja santai dan kebiasaan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Apapun citra negatifnya, menjadi PNS tentu tetap memberikan banyak keuntungan, misalnya:

Pertama. Terlibat langsung dalam mengelola negara, bukan hanya kritik, walaupun dalam lingkup yang kecil.

Kedua. Jaminan status pegawai dan karir.

Ketiga. Gaji, tunjangan dan uang pensiun yang pasti dan menjanjikan.

Dan Keempat. Status sosial di tengah masyarakat. Terutama di pedesaan.

PNS dan Masa Depan Dunia Ketenagakerjaan

Teknologi dan internet mengubah dengan drastis wajah industri dan ekonomi kita hari ini, serta pada masa yang akan datang. Banyak pekerjaan yang sudah dan diprediksi akan segera tersisih sebab bisa digantikan oleh komputer, internet, kecerdasan buatan (AI) dan robot. Fenomena ini akrab kita sebut Revolusi Industri 4.0.

Beberapa pekerjaan yang menurun itu di antaranya adalah manajer administrasi, sopir, tukang cetak, pengantar surat, resepsionis, agen perjalanan, operator mesin, juru masak makanan cepat saji, dan ahli las.

Dikutip dari laman Kompas.com (2018), berdasarkan data Barenbang Kemenaker yang dirilis tahun ini, ada beberapa pekerjaan yang menurun dalam tiga periode Revolusi Industri 4.0 sejak 2018 hingga 2030 mendatang. Beberapa pekerjaan yang menurun itu di antaranya adalah manajer administrasi, sopir, tukang cetak, pengantar surat, resepsionis, agen perjalanan, operator mesin, juru masak makanan cepat saji, dan ahli las.

Dari hitung-hitungan ekonomi, investasi pada teknologi robot dan otomatisasi tentu lebih murah dan mudah daripada dialokasikan pada Sumberdaya Manusia. Dengan segala potensi curang dan protesnya. Meskipun tentu tidak semua pekerjaan akan terganti oleh mesin.

Kita mungkin masih lama menantikan hadirnya sistem ketika untuk membuat KTP, mengurus pajak kendaraan bermotor dan hal-hal sejenis akan semudah belanja di minimarket tanpa kasir bernama ‘Amazon Go.’ Dimana anda tinggal menginstal aplikasi, datang ke toko mengambil barang yang dibutuhkan, lalu pergi. Tanpa antre kasir, tanpa membawa uang tunai. Sebab sistem akan merekam semua belanjaan dan pembayaran langsung melalui pengurangan saldo pada aplikasi.

Sebelum jauh melangkah pada teknologi dan internet, ditengah semakin banyak perusahaan yang bervisi global, salah satau kelemahan tenaga kerja kita terutama kemampuan bahasa asing. Hal ini sesuai pengalaman interview kerja saya dan rilis dari emerhub.com.

Tantangan (threat) berupa perampingan formasi sudah nyata terjadi, dan akan terus berlangsung. Bukan hanya pada sektor swasta, tapi tentu pada formasi PNS. Ditengah keterbukaan informasi, dimana hal-hal sepele bisa jadi viral, PNS tentu kedepan bukan pekerjaan mudah. Perlu bekerja keras bersaing dengan tuntutan masyarakat, perlu transparan, lebih responsif dan berintegritas.

Apa Artikel yang Anda Butuhkan ?

0

Permasalahan psikologi cukup luas, apalagi di era milenial dan revolusi 4.0. Ada banyak orang yang enggan pergi ke psikolog untuk melakukan konseling atau konsultasi masalah yang dihadapi hari ini. Alasannya tidak punya waktu, tidak tahu jalur ke mana untuk mendapatkan layanan konsultasi psikologi, atau ada pikiran jika datang ke psikolog dianggap sebagai orang yang sedang bermasalah, tidak sehat, bahkan merasa saya ini gila.

Kali ini saya akan membantu mengulas kebutuhan anda terkait masalah seksualitas, pengasuhan, hubungan dengan lawan jenis, atau mengenai karir. Oleh karena itu silahkan mengisi polling di bawah ini apa yang paling anda minati terkait tulisan yang akan saya dan beberapa penulis psikologi produksi sehingga bisa membantu anda berkembang lebih positif, maju dan sehat mental. Silahkan menjawab kebutuhan artikel anda dengan mengklik salah satu pilihan jawaban di bawah.

Jika ada masalah khusus yang perlu Anda tanyakan dari keempat tema tersebut, silahkan tulis di kolom komentar di bawa artikel.

Semoga kampus desa bisa berkontribusi membantu kesehatan mental anda untuk kelangsungan hidup anda ke depan.

Dilema Memilih Content dan Kemasan (2)

0

Konten dalam bentuk gambar, seorang keluarga muslim yang berfoto lalu diunggah ke media online, sangat jarang memainkan permainan alam atau tradisional. Kebanyakan ditemukan menggambarkan praktik-praktik beragama. Lalu kemana konten seorang berpakaian muslim tetapi bermain di alam dan permainan tradisional ? Sudah saatnya keluarga muslim mengupload aneka praktik-praktik umum dan mengambil gambar untuk menguploadnya di media maya. Kita bisa mendapatkan beridentitas muslim tapi memainkan permainan tradisional.

KampusDesa.or.id–Selain memiliki kekayaan budaya, Nusantara juga memiliki kekayaan khazanah permainan tradisional yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Hampir 60 jenis jumlahnya, bisa lebih bahkan. Negeri dan budaya mana yang bisa menandingi?

Lalu kenapa di dunia internet atau medsos kita lebih mudah menemukan para orang tua yang selfie dengan anak-anaknya dengan gaya begitu-begitu saja? Kalau ada sedikit bergaya, ya ulah orang tua yang nampang di Tik-tok dengan menjewer-jewer atau mengobok-obok muka anaknya. Pokoknya lucu saja. Walau tidak etis alias kurang mendidik. Jauh dari inspiratif.

Sedangkan kalau ada gambar yang menunjukkan orang tua sedang mendampingi anaknya belajar, ya terbatas di dalam ruangan dengan buku-buku saja.  Bisakah pemirsa menebak visi dan tingkat kreatifitas mereka? Bukankah yang sering dilakukan spontan atau tercetus begitu saja dari alam bawah sadar seseorang justru mencerminkan kepekatan nilai yang tersemat dibalik itu? Seolah ada kesepakatan bersama di antara para orang tua kita bahwa dunia pembelajaran memang berseberangan dengan dunia bermain.

Kalau belajar itu ya harus duduk anteng dan tenang di dalam ruangan dengan alat tulis dan buku-buku. Kalau banyak bergerak, bermain dan berpeluh-peluh di alam walau itu untuk menggali atau mempelajari sesuatu tetap saja hal seperti itu dianggap bermain belaka. Itu mah cuma bikin kotor, riskan kena kuman dan nambahin tumpukan cucian kotor saja!

Kembali ke khazanah permainan tradisional. Apalagi ini yang labelnya jelas-jelas ‘permainan.’ Tradisional lagi. Sudah lekang. Tak laik. Ketinggalan. Kata siapa? Hayo kata siapa? Dasarnya apa berpendapat seperti itu. Kalau anak-anak yang bilang, ya karena mereka tidak diperkenalkan dan dikondisikan dengan baik pada khazanah permainan tradisional.

Walau bukan pihak orangtua yang awalnya berpendapat seperti itu, sungguh merekalah yang mengondikasikan anaknya dengan baik supaya lengket pada hape. Sebelum orang tua berhasil mentradisikan untuk mengeksplorasi alam bersama anak-anaknya demi pembelajaran yang realistis dan menyenangkan. Sebelum orangtua berhasil mengajak anak-anaknya memainkan permainan-permainan tradisional yang seru dan mengasyikkan hingga ketagihan dan jasmani mereka menuai manfaatnya!

Ribet katanya. Nanti jadi sering di luaran, terpapar pergaulan kurang baik, kecapekan dan kulitnya hitam. Anehnya, justru orangtua tenang-tenang saja membiarkan anaknya tenggelam bermain hape tanpa kontrol dan pengawasan. Tanpa bimbingan dan pembekalan. Tanpa contoh pemakaian yang bijak dan produktif juga. Padahal justru isinya adalah belantara informasi yang penuh perangkap berbahaya. Laten dan bisa permanen.

Jadi, masih suka berkutat pada dilema kemasan saja? Menganggap adegan atau gambar orangtua dan anak yang tengah asyik mengeksplorasi alam untuk belajar dan bermain itu kurang layak untuk ditampilkan jika tidak dikemas dengan busana muslim? Hati-hati lho… bisa mandeg sebatas kulit!

Ada begitu banyak mutiara ilmu berserakan di tengah alam. Ada banyak manfaat dan hikmah dalam permainan tradisional. Sayang jika pemahaman anak dikunci sebatas teori dan wacana, orangtualah yang harus pertama kali memantikkan daya kritis, rasa keingintahuan hingga suka melakukan praktek dan penelitian pada anak-anaknya.

Kalau memang menginginkan gambaran ideal, jangan malah busana muslimnya jadi penghalang untuk mengajak anak-anak menadabburi ayat-ayat Qouniyah Allah di tengah alam. Ada begitu banyak mutiara ilmu berserakan di tengah alam. Ada banyak manfaat dan hikmah dalam permainan tradisional. Sayang jika pemahaman anak dikunci sebatas teori dan wacana, orangtualah yang harus pertama kali memantikkan daya kritis, rasa keingintahuan hingga suka melakukan praktek dan penelitian pada anak-anaknya.

Lalu… dokumentasikan momen-momen indah dan berharga itu. Tak mengapa dibagikan di internet atau media sosial jika niatnya untuk menginspirasi dan memotivasi keluarga lainnya. Hingga jagat maya kita penuh dengan gambar-gambar keluarga muslim dengan kegiatan yang berkualitas lagi layak ditiru. Hingga gambar-gambar seronok penuh unsur pamer dan konsumtif tenggelam dengan sendirinya. Dan saya tidak perlu berlama-lama kalau ingin mencari gambar-gambar indah yang merepresentasikan nilai-nilai yang senada dengan pikiran saya. Nah, sudah ngehkan solusinya ada di tangan siapa?

Salam damai ceria untuk seluruh keluarga Indonesia! (Tamat)

Bu Risma, Kami Kehilangan Ruang Bermain di CFD Tunjungan Surabaya !

0

Kampus Desa, Surabaya– Pernah Terusir 5 Kali di CFD Tunjungan dan kini pemerintah membuat keputusan CFD juga harus ditutup utk megadakan kegiatan/event dengan alasan2 tertentu sampai batas waktu yang tak ditentukan.

Entah apa yang menjadi alasan atas munculnya kebijakan tersebut. Setiap minggu, jika tidak ada halangan kami rutin mengisi di CFD Tunjungan, namun pada hari Minggu (28/10) yang bertepatan dengan sumpah pemuda tersebut, kami mencoba menghargai keputusan pemerintah utk meniadakan kegiatan/event di semua CFD, dalam hal ini di CFD Tunjungan.

Selama kurang lebih hampir 2 tahun, kami mengisi disitu dan mempunyai pengunjung rutin untuk membaca buku, latihan mendongeng dan bermain permainan tradisional.

Kami sungguh kaget karena masyarakat, pengunjung rutin kami mayoritas balik kanan untuk kembali pulang karena mereka mengira, kegiatan yang biasanya dilakukan tidak ada. Beberapa ekspresi masyarakat kurang lebih seperti ini :

“Lho, nak nggak ada. Tapi yang biasanya ngisi kok ada disitu?” Kata ibu yang tak mau disebutkan namanya.

“Lho Ma, bacanya kok nggak ada? Mainannya juga nggak ada. Egrangnya nggak ada. Aku pingin main Ma,” kata anak yang hampir mau pulang.

“Yah, Ma. Kok nggak ada semua? Tapi mas yang biasanya, ada di sana.” Kata Ali, salah satu pengunjung rutin di CFD Tunjungan.

“Mas, aku mau riwa-riwi rene. Tak kiro nggak onok kegiatan. Lha tak eling-eling kok sampean sing biasane nggak kene iko. Opo’o nggak nggelar dolanane Mas?” Kata bapak yang bawa anak-anaknya.

Dan tanggapan-tanggapan sejenis mulai dari anak-anak hingga orang tua. Tanggapannya rata, mereka kecewa karena baca buku, dongeng dan mainan tidak serame kemarin-kemarin.

Kami hanya membawa sedikit saja, cuma lompat tali, tarik tambang, raket, patil lele dan boneka untuk dimainkan sama anak-anak.

Dengan adanya ini, semoga aspirasi dari masyarakat bisa tersampaikan dengan baik dan membuat kebijakan baru yang berpihak pada rakyat dengan kegiatan-kegiatan positifnya.

Bu Risma, apa kami salah atau kami tidak mampu menangkap kuasa-kuasa pemangku kebijakan Surabaya sehingga kami seperti kehilangan tempat bermain tanpa alasan. Atau kami ditakdirkan menerima dalam kebisuan ?

Memang kecil yang kami lakukan, namun punya kisah kasih yang hangat bersama para pengunjung setia di CFD Tunjungan. Semoga tulisan ini dapat menjadi refleksi bersama untuk tetap menggiatkan permainan tradisional, literasi dan mendongeng.

Tulisan ini diambil dari tulisan Mustofa Sam dari laman facebooknya. Redaksi merepost sebagai salah satu komitmen memihak pada kebutuhan masyarakat dan sebelumnya kami sudah izin atas tulisan yang diproduksi oleh Beliau.