Sabtu, Mei 9, 2026
Beranda blog Halaman 70

Begini Cara Mudah Publikasi di Jurnal Ilmiah Internasional Bereputasi

0

KampusDesa, Makassar– “Publikasi merupakan tuntutan dunia akademik. Jadi memang tidak alasan untuk menolak,” demikian jelas Bayu Taufiq Possumah dalam Pelatihan Penulisan Jurnal Ilmiah Internasional Bereputasi yang diselenggarakan oleh Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar (24/10/2018).

Pria kelahiran 15 Januari 1974 ini menyebutkan beberapa alasan mengapa seseorang perlu rajin melakukan publikasi, bahkan setelah menjadi profesor sekalipun. Misalnya: untuk dikenal orang dan komunitas ilmiah, demi karir yang lebih baik, memiliki ide dan pengetahuan untuk dibagikan, persyaratan penilaian (KPI), merupakan kewajiban institusi, suka bepergian, generasi interface, mendapatkan uang (insentif). Diakuinya, sebagai pengajar di Universiti Malaysia Trengganu, ia berkewajiban publikasi 3-4 jurnal terindeks Scopus per-tahunnya. Tentu hal itu mendapatkan fasilitas dari kampus.

Doktor Ekonomi Islam alumnus Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) tahun 2013 ini menjelaskan bahwa di Malaysia juga ada tridharma perguruan tinggi, laiknya di Indonesia. “Di sana juga ada pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sampai-sampai ada yang namanya Research University (RU) dan Teaching University (TU). Di RU, porsi untuk riset dan pengajaran seimbang, yakni 50% dibanding 50%. Yang termasuk RU antara lain: UKM, University of Malaya, Universiti Teknologi Malaysia (UTM), dan Universiti Sains Malaysia. Kalau di TU, porsi pengajaran mencapai 70-80%, sementara bagian riset lebih kecil.

Baca juga : Unismuh Dukung 652 Dosen Segera Menjadi Profesor

Pembicara dengan puluhan publikasi di jurnal terindeks Scopus ini menjelaskan cara mudah untuk publikasi di jurnal internasional bereputasi. Pertama, memilih jurnal yang tepat. “Jangan sampai salah target jurnal,” pesannya. Kedua, ikuti guideline dan gaya selingkung jurnal. Ketiga, ikuti proses peer-review. Keempat, turuti respons tim penilai (referees). Kelima, nikmati setiap proses penolakan. Keenam, persiapkan langkah apa saja yang perlu dilakukan setelah manuskrip diterima. Ketujuh, publikasi jurnal.

Para peserta foto bersama dengan para narasumber

Reviewer untuk beberapa jurnal Internasional terindeks Scopus ini mengemukakan pula beberapa strategi publikasi di jurnal berimpak tinggi (high-impact journals). Misalnya: memutuskan dimana mengirimkan jurnal, mintalah umpan-balik dari sejawat, tulislah outline lalu organisasikan pemikiran sebelum menuliskannya, bertindaklah seolah Andalah reviewer sekaligus pembaca manuskrip tersebut, hindari overinterpretasi, bersinergilah dengan editor jurnal. “Turutilah nasihat editor dan reviewer. Lakukan revisi sesuai yang diminta sesegera mungkin,” ujarnya di hadapan tiga puluhan peserta.

Baca juga : Ini Cara Unismuh Makassar untuk Go Internasional

Peraih medali emas sebagai presenter terbaik dalam konferensi ISICAS di universitas Kyoto, Jepang tahun 2014 ini mengungkapkan beberapa kriteria penting tentang manuskrip yang baik. Pertama, originalitas. Kedua, kedalaman pengetahuan amat signifikan di bidangnya. Ketiga, menggunakan metode akurat dan konklusi tepat. Keempat, tidak menyalahi aturan dan tidak melanggar standar etis. Pelbagai problematika terkait etik contohnya: akurasi dan keaslian, plagiarisme, perlakuan etik terhadap manusia dan hewan coba, pernyataan tentang credit dan conflict of interest. Kelima, keterbacaan. “Sebisa mungkin, tulisan kita enak dibaca. Bahkan kalau perlu orang awam pun bisa paham,” tuturnya.

Dalam sambutannya, Ismail Rasulong, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan gairah dosen dalam melakukan publikasi di jurnal Internasional bereputasi. Senada dengan Dekan, Agusdiwana Suarni, Kepala Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar, mengemukakan bahwa kegiatan ini berpotensi meningkatkan akreditasi fakultas dan universitas. “Ke depannya, kami berharap dapat menjalin kerjasama, sinergi, dan kolaborasi, terutama dalam hal riset dan publikasi,” ujar dosen alumnus International Islamic University Malaysia (IIUM) Malaysia saat konfirmasi.

Kegiatan selama enam jam yang berlangsung di Aula Mini Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah ini berlangsung dengan tertib dan lancar. Matinya listrik selama beberapa menit usai ishoma tidak mengurangi antusiasme peserta pelatihan. Terbukti mereka tetap bertahan hingga acara usai.

Laboratorium Sains Diubah Menjadi Sarana Bermain Anak-anak Desa

0

KampusDesa, Malang–Anak-anak asik meskipun asing. Mereka disuguhi miniatur laboratorium sains di Kelurahan Cemorokandang. Mereka dikenalkan bahwa sains itu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Api, air dan minyak tanah dapat disatukan menjadi wujud baru yang bisa digunakan untuk kehidupan. Semuanya didekatkan bukan dengan abstrak, tetapi dapat disentuh dan dibuat secara akrab dengan tangan-tangan mereka. Sains lebih praktis. Anak-anak pun dapat mengenali produks sain menjadi wahana bermain sekaligus menyuguhkan inspirasi bagi mereka agar memiliki memori mengenai produk-produk sains terapan yang berguna di suatu waktu untuk masa depan hidup mereka.

Kampus Desa, bersama relawan dari sejumlah mahasiswa di Malang, pada Minggu 21 Oktober 2018, berkolaborasi dengan Markas Dolanan di Kelurahan Cemorokandang, berbagi kegembiraan bersama anak-anak usia Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, berkumpul bermain dan menyaksikan demonstrasi sains terapan. Menurut Iin Wahyuni, Markas Dolanan memang disuguhkan untuk kegiatan bermain di luar sekolah, bagi anak-anak di sekitar Cemorokandang.

Nah, kegiatan bermain akan dikelola dengan jenis-jenis permainan yang terhubung dengan sain terapan sehingga melalui pendekatan bermain ini mereka terekam peraga-peraga sains yang menyemangatinya mencintai sain. Banyak dari kita tidak menyukai sain karena tuntutan menguasai rumus dan logika sistemik menjadikan anak-anak takut dengan sains. Melalui bermain sains, kampus desa ingin menyuguhkan sain dengan cara menyenangkan sehingga mereka bisa terinspirasi mengakrabi sains dan memantik menyukai belajar sains secara praktis.

Nuril Qomariyah, selaku pendamping 15 relawan yang turun sangat terinspirasi kegiatan tersebut sehingga literasi sains tidak didekati dengan pemikiran dan dominasi kemampuan bernalar, tetapi mendorong anak menyukai sains perlu didekati dengan praktik-praktik bermain. Dengan cara ini anak lebih akrab dengan sains, bukan sebuah produks abstrak yang hanya mampu menghafal rumus tetapi tidak pernah tahu kenyataannya di lapangan. Pendekatan Desa Belajar Sains dari kampusdesa mendorong menjembatani sekolah yang miskin praktik sains dengan bermain yang kaya sains.

Di tahap pertama ini, belajar sains dengan demo praktis membuat lampu damar dari bahan yang tidak asing dengan kehidupan sehari-hari, seperti menggunakan minya kelapa, air, sumbu api dan perangkat pendukung yang mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal. Seorang pemilik Markas Dolanan, Abdul Ghofar Ansori, kemudian mendemonstrasikan dengan mengajak anak-anak tersebut menjadi partisipan untuk menyiapkan lampu damar dari bahan yang sudah tersedia. Setelah dipandu demonya, terbentuklah lampu damar dari bahan tersebut. Kemudian anak-anak tersebut riuh setelah tahu lampunya bisa hidup meski bahan bakarnya dari dari minyak kelapa.

Abdul Ghofar Ansori mengatakan, bermain dan mendemonstrasikan sains lebih menarik jika dengan mengambil peraga sains yang jarang ditemukan di anak-anak tetapi bahannya tersedia. Cara ini akan memantik daya tarik karena asing dan baru. Berbeda dengan menanam sayur atau yang sudah umum terjadi, karena mereka sudah sering tahu, maka kuriositasnya (rasa ingin tahunya) rendah, tetapi ketika kita bisa menyuguhkan demonstrasi yang asing, maka akan meningkatkan rasa ingin tahu dan tertarik bermain.

Kegiatan bermain sains, diamini sebagai ide permulaan untuk mengembangkan ikon desa wisata pendidikan keluarga. Mengapa disajikan tempatnya di Markas Dolanan ? Bermain sains menjadi salah satu menu bermain sehingga anak-anak bisa bermain secara menyenangkan tetapi mereka dikondisikan mencintai sains. Sains disajikan dengan mengasikkan, bukan dengan berbagai sajian teori-teori yang dihafal atau dites seperti di sekolah. Selain itu, anak disuguhkan sebuah waktu bermain yang bisa menyeimbangkan penggunaan gadget. Begitu tegas Iin Wahyuni, penggagas Markas Donalan.

Nah, saat itu, demonstrasi praktikum sainsnya adalah membuat lampu damar sebagai pengganti lilin di saat listrik mati. Bahannya bukan lilin tetapi dari minyak goreng, air dan sumbu yang dirancang sedemikian rupa agar bisa terapung. Permainan yang menarik, anak-anak disuguhkan jika air dan minyak tidak bisa menyatu karena massa minyak lebih ringan dari air. Di situ terlihat warna kuning minyak ada di atas air. Lalu sumbu yang dirancang bersinergi dengan alat apung tidak tenggelam. Lalu sumbu itu disulut dengan korek api. Bullll menyala. Lalu disambung dengan tepuk tangan dan menyanyikan selamat ulang tahun, meskipun tidak ada yang berulang tahun. Heee….

Selain itu, anak-anak juga dilatih public speaking karena latar belakang relawan tidak hanya dari sains eksakta, tetapi ada yang calon pendidik, ekonomi dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk melatih kepercayaan diri, anak-anak dilatih tipis-tipis public speaking secara berkelompok dengan didampingi Relawan Desa Belajar dari mahasiswa. Nampaknya, penggabungan latihan public speaking dalam belajar sains melatih anak-anak percaya diri. Ini peluang yang menjadi bahan untuk kegiatan berikutnya, yakni melibatkan praktik public speaking untuk menambah serunya bermain dan menumbuhkan kepercayaan diri.

Melalui Desa Belajar Sains, kolaborasi antara Kampus Desa, Markas Donalan dan Relawan Mahasiswa, seperti memindah praktikkum berseragam dan formal di sebuah laboratorium sains menjadi sarana bermain di ruang terbuka anak-anak. Nuril menyebutnya sebagai praktikum dengan cara bermain.

Kegiatan ini menginspirasi para relawan, pemilik markas dolanan dan kampus desa mengenai penyelenggaraan praktikum sains dengan cara bermain. Banyak pelajaran yang diambil, yakni perlu menambah peraga lebih banyak. Pengalaman pertama bagi semuanya merupakan pengalaman berharga, bagaimana sains dikembangkan sebagai bagian dari dunia bermain. Masih butuh banyak peraga dan ketrampilan fasilitasi dalam mengelola permainan bernuansa praktikum sains yang sederhana-sederhana.

Pemuda sebagai Informal Leader: Penggerak Masyarakat Menuju Desa Lebih Baik

0

Desa membutuhkan informal leader yang potensial. Potensi yang sangat banyak di desa memerlukan penggerak yang tahu kebutuhan perubahan agar desa menjadi lebih baik. Desa-desa tidak akan tenggelam ketika informal leader memahami dan mampu menggerakkan potensi desanya. Siapa informal leader tersebut ?

Berbicara soal desa tidak akan ada habisnya. Beragam potensi yang bisa dikembangkan menjadi salah satu upaya untuk memajukan desa. Bukan perihal mengubah status desa dari terbelakang, mejadi berkembang atau maju, tetapi lebih bernilai dari itu.

Miniatur sebuah negara paling menarik adalah desa. Sebab, di sana merupakan sumber kehidupan yang nyata, alami, dan bersentuhan langsung dengan satu per satu orang. Karakter masyarakat desa itu ulet dan pekerja keras. Desa masih kental dengan nilai adat dan budaya. Nilai luhur dan kearifan lokal juga masih “hidup” di tengah masyarakat, meskipun telah terdapat pengeroposan.

Desa menjadi rumah tumbuh bagi anak muda setidaknya sampai usia 18 tahun. Mengapa demikian? Hal ini menjadi ancaman yang menerpa desa, saat ini, yaitu pemuda desa yang mulai bermigrasi ke kota-kota besar, entah untuk mencari penghidupan atau menimba ilmu. Dalih yang diutarakan kebanyakan untuk menyambung hidup agar bisa menyejahterakan orang tua di kampung halaman. Padahal tidak jarang oleh mereka, setelah menimba ilmu tetap berada di tanah rantau, bahkan ingin merantau ke tempat yang lebih jauh lagi. Hal ini yang menyebabkan pemuda melupakan tempatnya tumbuh sejak kecil.

Rasa takut akan lunturnya adat dan kebudayaan lebih tinggi dibandingkan dengan kemajuan. Maka perlu pencerahan kepada masyarakat agar dapat berpikir out of the box di era revolusi industri 4.0 yang sedang berlangsung.

Permasalahan tersebut disebabkan karena tidak tersedianya kanal-kanal lapangan pekerjaan di desa dan kreatifitas masyarakat yang kurang. Iklim sekuler dan anti permisif juga telah meracuni pemikiran masyarakat jika terdapat pembangunan besar di desanya. Rasa takut akan lunturnya adat dan kebudayaan lebih tinggi dibandingkan dengan kemajuan. Maka perlu pencerahan kepada masyarakat agar dapat berpikir out of the box di era revolusi industri 4.0 yang sedang berlangsung.

Sebagai insan yang ingin berkontribusi khususnya untuk desa, peran yang harus diambil adalah peran kepemimpinan. Bukan ujug-ujug, mencalonkan menjadi kepala desa, tetapi dengan tahapan yang runtut dan sistematis.

Siapa yang tidak ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain? Saya pikir tidak ada. Sebagai mahluk sosial, sudah seharusnya tujuan tersebut terpatri dalam hati. Ikhtiar yang harus dilakukan untuk berkontribusi adalah hal nyata bagi masyarakat. Mulai dari lingkup terkecil: desa. Merujuk pada permasalahan di atas, maka sebagai insan yang ingin berkontribusi khususnya untuk desa, peran yang harus diambil adalah peran kepemimpinan. Bukan ujug-ujug, mencalonkan menjadi kepala desa, tetapi dengan tahapan yang runtut dan sistematis. Setidaknya ada beberapa hal yang harus dimiliki, yaitu keterampilan (skill), cerdas menangkap peluang (opportunity), dan yang terpenting adalah panggilan jiwa (passion). Saya yakin kakrakter tersebut melekat erat di kalangan pemuda.

Pendekatan yang tepat khususnya untuk pemuda desa adalah menjadi informal leader. Pemuda harus menjadi orang yang menarik dan memiliki pengaruh di lingkup desa.

Pemuda sebagai penggerak desa bukanlah seorang kapten, tetapi sebagai fasilitator atau pemberdaya. Sebagian ahli mengatakan, ada tiga pilar peradaban yaitu pasar (market), pemerintah/penyelenggara negara (nation-state), dan masyarakat sipil (civil society). Kelompok pemuda yang bukan seorang aparatur negara, untuk melakukan perubahan, bisa memilih dua pilihan lain: pasar atau masyarakat sipil. Pendekatan yang tepat khususnya untuk pemuda desa adalah menjadi informal leader. Pemuda harus menjadi orang yang menarik dan memiliki pengaruh di lingkup desa. Hal ini adalah modal sosial yang harus dimiliki. Jika peran pemuda telah “berpengaruh” di masyarakat, mereka akan berhasil memenangkan kepemimpinan publik. Intinya adalah komitmen, jika tujuan untuk memperbaiki desa benar-benar diupayakan, pada akhirnya pemerintahan/perangkat desa pasti akan mengajak bersinergi.

Satu hal yang perlu diingat yaitu tidak mengedepankan nafsu untuk menguasai desa. Yakinlah bahwa kekuasaan hanyalah alat untuk melakukan perubahan-perubahan lebih baik. Kekuasaan bukan menjadi suatu tujuan.

Saya pernah berpikir, mengapa revolusi bisa terjadi? Apakah karena kekuasaan? Moncong senjata? Materi? Ternyata tidak. Semua itu terjadi karena ide kreatif dan gagasan yang solutif. Sebab, kekuasaan, moncong senjata, dan materi hanyalah alat. Sedangkan ide dan gagasan harus dimiliki secara mutlak.

Maka, dalam membangun desa, ketulusan cita-cita dan kesungguhan niat tidak melenceng dari visi misi desa agar budaya dan kearifan lokal tetap terjaga. Sikap peduli pemuda desa didasari dari sebuah contoh, itulah mengapa informal leader menjadi penting.

Pemuda sebagai informal leader juga tidak seharusnya mengejar “cita-cita” untuk memperbaiki desa sendirian. Hal ini akan menimbulkan penolakan secara tidak langsung. Maka, dalam membangun desa, ketulusan cita-cita dan kesungguhan niat tidak melenceng dari visi misi desa agar budaya dan kearifan lokal tetap terjaga. Sikap peduli pemuda desa didasari dari sebuah contoh, itulah mengapa informal leader menjadi penting. Tidak semua orang terpanggil untuk peduli terhadap lingkungannya. Tetapi sebagian besar akan memiliki kepedulian jika ada penggeraknya.

Pepatah mengatakan, “kita tidak bisa memilih dari tanah mana kita dilahirkan, tetapi kita bisa memilih menjadi seperti apa kita di masa yang akan datang.”

JOMBANG, 10 OKTOBER 2018

Desa Belajar II : Cemorokandang Belajar Sains dan Hukum

0

Malang, KampusDesa.or.id–Kampus Desa bergiat bermitra dengan para profesional, ilmuan dan calon ilmuan (mahasiswa) turun gunung ke kantong-kantong masyarakat. Tujuannya memutus mata rantai kesenjangan keilmuan dan berbagi untuk perubahan masyarakat.

Bagi Anda yang BERNYALI, yuk gabung, kami hanya bermitra dengan yang BERNYALI lo…

Desa Belajar II dilaksanakan pada Minggu, 21 Oktober 2018 Di Markas Dolanan dan Perkumpulan Pengusaha Perempuan Cemorokandang yang menurunkan para profesional ;

Kelompok I : Desa Belajar Sains
Aktifitas bermain sains di Markas Dolanan. Bertujuan menjadikan sains sebagai permainan yang menyenangkan untuk anak-anak. Sekaligus sebagai terapi tidak langsung menyeimbangkan gadget dari negatif ke positif. Dapat juga sebagai pengalihan anak dan remaja awal dari perilaku kontra-produktif.

Kordinator Nuril Qomariyah +62 852-3206-0506 (wa)

Kelompok II : Desa Belajar Melek Hukum Bidang HAKI UMKM
Kemitraan dengan pengusaha perempuan untuk mendorong melek hukum dan HAKI yang menunjang kepercayaan pasar.

Kordinator Ambar +62 811-3663-269 (WA)

Cerdas Berselancar, Cerdas Membangun Konten Positif di Era Digital

0

Karena kurangnya ketelitian para penguna media sosial, informasi baik itu buruk ataupun baik menjadi hal yang sangat samar, memiliki perbedaan yang tipis dan pada akhirnya mudah menjerumuskan penikmat digital. Mereka menganggap bahwa mereka akan dapat dengan mudah menyembunyikan diri mereka ketika informasi yang telah mereka buat adalah kebohongan (hoax) belaka

Malang, KampusDesa.or.id–Menanggapi dunia digital yang kini kian membentuk aneka pengetahuan setiap orang tak dipungkiri media online terkadang juga menyesatkan. Oleh karena itu dibutuhkan literasi media sebagai penyeimbang derasnya informasi dan konten-konten yang dinilai kurang mendidik. Dari sinilah berbagai penggerak media tulis berbasis daring (online) mengikuti workshop dan forum group discussion (FGD) pada Senin, 8 Oktober 2018 di ruang sidang Jurusan Hubungan Internasional Fisipol Universitas Brawijaya Malang.

Dua puluh enam pemuda yang tergerak hatinya untuk melek digital, berbeda dengan generasi 80-an, kini generasi Y dan Z sudah mulai menggemparkan dengan berbagai karya, terutama tulisan. Tulisan memiliki andil terbesar bagi melek pengetahuan. Kebanyakan yang kita makan saat ini, terutama makanan pengetahuan di dunia internet, adalah konten-konten negatif dan sangat mudah jari seseorang memproduksinya. Ini mungkin yang menjadi sebab tanganmu kini lebih tajam dari mulutmu. Hal fenomenal terjadi. Ada orang yang telah berusaha bekerja baik, namun dinilai negatif oleh pembaca. Padahal sudah melayani dengan sepenuh hati namun dipandang setengah hati.

Sistem informasi di negara kita bisa dikatakan kurang adanya pembatasan. Sehingga yang terjadi banyak informasi negatif dibandingkan dengan informasi yang positif. Dunia pikiran kita tidak jauh dari kata “Hoax”. Bisa dilihat dari tayangan televisi saat ini yang jarang sekali informasi edukatif lagi. Paling tenar adalah gosip apalagi mengenai artis pendatang baru di kancah politik dan sebagainnya, apalagi anak-anak tidak begitu banyak mendapatkan informasi mendidik dari media televisi. Lebih canggih lagi, generasi anak muda harapan bangsa telah disuapi oleh informasi instan yang entah dari mana kejelasan dan kebenarannya.

Apalagi jika sudah memegang telepon pintar. Apa yang kita inginkan dapat kita peroleh hanya dengan satu kali sentuh. Semakin dipermudah dengan keajaiban-keajaiban dunia digital hingga informasi salah dan benar tidak lagi diindahkan. Yang terpenting adalah pengguna merasa nyaman dan senang. Tentunya dari berbagai media saat ini yang perlu kita pelajari.

Di samping itu, kemajuan media-media juga memberikan dampak-dampak tersendiri bagi pengguna, ada dua penggolongan media yaitu media mainstream dan media indie. dalam media mainstream ini literasi kurang ditegakkan paling banyak adalah membahas masalah bisnis. Sedangkan dalam media indie yang paling populer adalah media sosial (medsos). Melalui medsos inilah kita mendapat jutaan informasi dengan mudah baik itu benar maupun salah.

Medsos sudah berkembang secara hebat dan cepat pada tahun-tahun ini. Bahkan hampir semua penduduk di belahan dunia ini menggunakan medsos sebagai media komunikasi dan informasi secara lebih cepat dan ringan. Akan tetapi, yang perlu digarisbawahi adalah penggunaan yang kurang tepat dan sesuai yang pada akhirnya menyumbangkan kebobrokan intelektual pemuda penerus bangsa.

Ada pesan singkat yang disampakan oleh pemateri workshop dan FGD pertama Yatimul Ainun, mengenai polarisasi gerakan mainstream di dunia digital. Jika jejak kita di medsos negatif, maka positifkan. Jika memiliki jejak positif, maka tingkatkan. Namun jika tidak ada jejak yang dapat ditapaki, maka buatlah jejak dari sekarang dengan memposting hal-hal yang baik. Karena jejak digital kita akan tercatat sampai kapanpun dan mempengaruhi track record kita.

Sedangkan di materi selanjutnya saya dipahamkan oleh Husein Asy’ari dengan tema social network analysis dalam jejaring digital. Saat ini peminat media sosial sangat padat dan meluas. Kita menjadi semakin mudah untuk mendapatkan sesuai dengan apa yang kita inginkan, baik itu berupa barang dan jasa. Lebih kepada masalah informan yang ingin memiliki banyak jaringan, misalkan saja salah satu media yang menginginkan medianya dapat menjadi media dakwah yang dikenal oleh banyak orang yang informasi, sumber, sanad, isi, serta perowinya bisa dikatakan jelas dan terpercaya. Namun tidak banyak yang tertarik untuk sekedar melihat atau mengomentarinya, lebih banyak sekarang orang lebih menyukai informasi yang menguntungkan mereka dibandingan dengan informasi yang mempersulit mereka untuk memahaminya. Hal inilah yang menjadi pemicu timbulnya berita tanpa tahu kebenarannya (hoax).

Mengenai berita hoax yang menjadi informasi yang selalu meresahkan bagi semua orang, ada media yang telah berusaha untuk secara maksimal memberikan informasi yang sesuai dengan kebenarannya namun karena banyaknya pemahaman yang kurang teliti. Sehingga kebenaran yang telah tertulisakan menjadi keraguan yang meresahkan pembaca, yang pada akhirnya dari sinilah momen-momen kerusakan informasi itu terjadi.

Selanjutnya, Amrin Hakim dengan tema desain dan pengembangan artificial intellegence dalam jenjang digital tidak melepas pembicaraan dari hancurnya generasi karena ulah sendiri di dunia digital. Perlu adanya benteng yang kuat dalam diri dan pengetahuan yang luas untuk menyetir informasi-informasi yang ada, demi meluruskan generasi good character. Hal inilah yang menjadi perhatian penting bagi para pengguna media sosial. Ketika kita telah masuk dunia digital, orang lain akan dengan mudah mencari informasi tentang kita.

Maka benar apa yang dipesankan oleh pemateri pertama untuk membuat jejak positif dalam dunia digital. Namun karena kurangnya ketelitian para penguna media sosial, informasi baik itu buruk ataupun baik menjadi hal yang sangat samar, memiliki perbedaan yang tipis dan pada akhirnya mudah menjerumuskan penikmat digital. Mereka menganggap bahwa mereka akan dapat dengan mudah menyembunyikan diri mereka ketika informasi yang telah mereka buat adalah kebohongan belaka.

Untuk menghindari hal inilah generasi yang telah sadar akan dampak-dampak negatif dunia digital menerbitkan sumber baru yang bisa kita sebut dengan artificial intellegence. Semua informasi mengenai orang lain dapat kita peroleh dengan mudah, cepat dan detail. Artificial intellegence ini juga dapat memberikan analisis dan monitoring data secara detail selama orang yang ingin kita cari aktif di internet, mencari kebenaran informasi akan jauh lebih mudah dan teliti. Melawan hoax tidak harus dengan mengkonter hoax, namun ada banyak macam cara yang dapat kita lakukan salah satunya adalah sedikit demi sedikit untuk menonaktifkan medsos agar terhindar dari penyebaran hoax.

Membangun Critical Thinking dalam Bermedia Sosial

0

Kebenaran dunia maya itu semu. Benar dan salah tidak ada bedanya. Semakin hanyut berselancar maka kebodohan semakin menjerat generasi. Nah, untuk menjadikan generasi tetap orisinil, maka generasi millenial wajib memiliki ketrampilan berpikir kritis. Tips berpikir kritis dapat dilalui dengan menerapkan saring, terima, proses dan berbagi. Kemampuan ini akan menjadikan generasi millenial bahkan mampu mengambil manfaat dari berselancar.

Generasi millenial atau yang akrab dikenal sebagai generasi Y adalah mereka yang lahir antara tahun 1980 sampai tahun 2000. Artinya saat ini generasi millenial berada pada masa-masa produktif, yakni pada rentang 17 sampai 37 tahun. Sedangkan generasi X (kelompok sebelum generasi Y) mengalami penurunan dominasi pengaruhnya dalam berbagai sektor di kehidupan sehari-hari, dan generasi Z (Mereka yang lahir diatas tahun 2000) masih belum dapat mendominasi publik. Generasi millenial lahir ketika TV, handphone, dan internet telah diperkenalkan secara luas kepada masyarakat dunia. Sehingga, generasi millenial sejak lahir telah akrab dengan teknologi seperti ini. Dan tidak dapat dipungkiri, hingga saat ini mereka (Generasi millenial) masih memiliki peranan penting dalam memegang kendali perkembangan teknologi yang sangat pesat, bahkan nyaris tidak terkendali.

Rentang waktu antara tahun 2018-2030 adalah gold period (Masa keemasan) generasi millenial. Kondisi ini memiliki dampak yang sangat positif bagi Indonesia, dan harus dioptimalkan, agar dapat memberikan kemajuan pada bangsa Indonesia sendiri.

Generasi millenial, yang sangat mendominasi publik saat ini menyebabkan mereka cukup famous utamanya dalam perbincangan menyiapkan Indonesia kedepannya. Berdasarkan hal ini dapat dikatakan bahwa rentang waktu antara tahun 2018-2030 adalah gold period (Masa keemasan) generasi millenial. Kondisi ini memiliki dampak yang sangat positif bagi Indonesia, dan harus dioptimalkan, agar dapat memberikan kemajuan pada bangsa Indonesia sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa gold period ini juga bersamaan dengan puncak dari bonus demografi di Indonesia.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik, bonus demografi di Indonesia diprediksi terjadi antara tahun 2020 hingga 2030. Begitu memasuki tahun 2020, persentase penduduk usia produktif akan mencapai 70 persen dan non produktif 30 persen. Persentase semakin ideal begitu memasuki masa puncak antara tahun 2028 sampai 2030.[1] Jika kondisi ini tidak dimanfaatkan secara maksimal, dan optimalisasi Sumber Daya Manusia (SDM) generasi millenial tidak dilakukan secara massive, akan berdampak bagi bangsa Indonesia kedepannya.

Hal pokok yang tidak dapat dihindari, dan sangat identik dengan generasi millenial adalah keberada gadget yang tidak selalu dalam genggaman generasi millenial. Setiap waktu terus mengalami perkembangan dan muncul versi terbaru. Dengan adanya gadget ini menyebabkan segala hal dapat dilakukan dengan mudah tanpa terkecuali, salah satunya adalah kemudahan generasi millenial untuk berselancar di media sosial. Menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2017 pengguna internet di Indonesia mencapai angka 143,26 juta pegguna, dengan 87,13 persen adalah pengguna aktif media sosial, angka yang sangat tinggi jika kita kalkulasikan dengan jumlah generasi millenial di Indonesia saat ini.[2]

Ironisya kondisi ini justru menjadikan generasi millenial menjadi pribadi individualis yang kurang memiliki pemikiran kritis. Mereka cenderung acuh terhadap kondisi lingkungan sekitar baik itu isu ekonomi, pendidikan, maupun politik. Generasi millenial justru mengedepankan hal-hal guna memperbaiki gaya hidup dan selalu up to date dalam bermedia sosial. Ini kemudian yang menyebabkan memudarnya identitas generasi millenial saat ini, sehingga mereka sendiri tidak memahami posisi mereka yang justru sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia 10 sampai 20 tahun kedepan.

Generasi millenial sudah sepatutnya memanfaatkan keunggulan mereka dalam bermedia sosial, dan memanfaatkan teknologi yang terus berkembang hingga saat ini, dengan cara  menjadi penggerak antar sesama agar dapat menjadi bijak dalam bermedia sosial.

Kondisi ini seharusnya dijadikan sebagai ajang aktualisasi diri, bukan justru menghilangkan identias diri sebagai generasi yang terdepan dalam teknologi dan aktif dalam media sosial. Generasi millenial sudah sepatutnya memanfaatkan keunggulan mereka dalam bermedia sosial, dan memanfaatkan teknologi yang terus berkembang hingga saat ini, dengan cara  menjadi penggerak antar sesama agar dapat menjadi bijak dalam bermedia sosial.

ola pikir kritis ini lebih ditekankan pada bagaimana generasi millenial saat ini mampu bersaing dapat menyalurkan konten-konten positif dan anti-hoax kepada masyarakat dunia.

Bijak dalam bermedia sosial, dapat ditempuh salah satunya adalah dengan membangun pola fikir kritis (Critical thingking). Karena saat ini terlihat dengan jelas generasi millenial mulai kehilangan identitas mereka, serta kurang kritis dalam berbagai hal di kehidupan saat ini. Pola pikir kritis ini lebih ditekankan pada bagaimana generasi millenial saat ini mampu bersaing dapat menyalurkan konten-konten positif dan anti-hoax kepada masyarakat dunia. Arus globalisasi yang juga mengiringi keberlangsungan gold period generasi millenial, menyebabkan informasi dari berbagai sumber dari berbagai belahan dunia masuk ke Indonesia dengan sangat mudah. Untuk itu menjadi pribadi millenial yang memiliki critical thingking yang baik, akan membawakan dampak positif pula bagi keberlangsungan gold period of millenial generation ini.

Guna optimalisasi gold period  tersebut terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh guna terwujudnya critical thingking yang mengakar pada generasi millenial kususnya agar dapat bijak dalam bermedia sosial, diantaranya:

Saring (Filter)

Saring merupakan langkah awal bagi kita sebagai generasi millenial ketika menerima informasi. Memiliki pola fikir yang kritis sangat dibutuhkan disini agar informasi yang kita dapatkan, akurat dan tidak mengandung isu-isu negatif seperti radikalisme, terorisme, dan unsur SARA lainnya.

Proses filter ini memerlukan ketelitian dalam memperlakukan  segala aspek dari informasi. Mulai dari konten isi, sumber, dan bahkan tujuan dari dibuatnya informasi tersebut secara jelas. Sehingga, informasi yang nantinya akan kita terima telah memiliki konten yang dapat dimanfaatkan serta dipertanggung jawabkan keaktualannya.

Terima (Accepting)

Informasi yang telah selesai difilter tidak mewajibkan untuk diterima secara keseluruhan. Sebagai generasi millenial untuk membangun critical thingking kita dapat belajar untuk memilah informasi yang akan diterima dan informasi yang seharusnya diabaikan saja. Sehingga, dengan memiliki pola fikir yang kritis, generasi millenial akan mengetahui hal urgent yang harus segera diketahui oleh masyarakat luas, dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Menerima disini juga memiliki pengertian bahwa, kita akan memperoleh ilmu dan pengetahuan baru yang nantinya akan kita salurkan pada orang lain. Sehingga, sebagai generasi millenial kita juga dituntut untuk mengetahui informasi atau isu terkini yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat secara umum.

Proses (Processing)

Informasi yang telah diterima, tidak serta-merta berhenti sebagai wawasa baru bagi kita sendiri. Akan tetapi jika kita memiliki pola fikir yang kritis, informasi tersebut akan kita proses, dan diolah menjadi hl baru yang lebih menarik, dan layak untuk dikonsumsi sebagai informasi aktual bagi masyarakat luas.

Proses mengolah informasi berita ini dapat dilakukan dengan tidak hanya bertumpu pada satu informasi saja, akan tetapi dapat dilakukan  dengan menambahkan informasi-informasi terkait yang didapat deri media berbeda. Sehingga, melalui proses pengolahan informasi ini akan  memunculkan informasi akurat yang lebih lengkap dari hasil berfikir kritis sebelumnya.

Berbagi (Sharing)

Langkah terakhir guna bijak bermedia sosial adalah, berbagi atau sharing information. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap pribadi untuk berbagi segala informasi yang mereka miliki. Tentunya informasi tersebut telah terlebih dahulu melewati langkah di atas. Dan dinyatakan valid akan keakuratanya serta dapat dipertanggung jawabkan jika sewaktu-waktu terjadi error dalam informasinya.

Berbagi informasi juga merupakan dari proses menumbuhkan critical thingking pada generasi millenial. Hal ini terlihat bagaimana kemudian, generasi millenial menjadi informan yang akan menyalurkan informasi tersebut kepada orang banyak. Tanpa memiliki pola fikir yang kritis tentu mereka akan, membagikan informasi secara bebas tanpa melihat terlebih dahulu konten serta tujuan dari adanya informasi tersebut.

Empat langkah di atas dapat dijadikan salah satu rujukan untuk bijak dalam bermedia sosial. Hal mendasar yang ditekankan adalah membangun critical thingking pada generasi millenial. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa generasi saat ini mulai hilang pola berfikir kritis, tanpa terkecuali dalam bermedia sosial. Hal ini kemudian yang menyebabkan media sosial sering dimanfaatkan sebagai wadah untuk menyebarkan berita hoax, isus SARA, dan terorisme yang tentunya sangat mengancam stabilitas bangsa Indonesia sendiri.

Berdasarkan hal itu, media sosial menjadi bagian terpenting dari generasi millenial yang juga dapat menjadi senjata berbahaya jika tidak digunakan dengan bijak. Sehingga, dengan menanamkan pola berfikir kritis pada generasi millenial secara kuat diharapkan dapat mengubah mindset mereka, agar lebih terbuka terhadap segala isu sosial terkini, dan memahami kembali identitas mereka sebagai generasi millenial yang tengah memasuki gold period hingga 20 tahun kedepan.

Gold period yang diperkirakan berlangsung sejak tahun ini (2018) hingga 2030 nanti, tentu akan sangat sia-sia jika kita tidak mengoptimalkan peranan generasi millenial dalam mengisi rentang waktu 20 tahunan ini dengan hal-hal yang memiliki dampak positif bagi keberlangsungan bangsa Indonesia. Dan media sosial memiliki peranan yang sangat vital di sini, karena telah dijelaskan bahwa kehidupan generasi sekarang tidak terlepas dari yang namanya media sosial dalam kehidupan kesehariannya.

Persaingan generasi millenial saat ini, tidak terbatas pada sekat negara saja, akan tetapi persaingan mereka telah memasuki skala dunia. Artinya di sini, generasi millenial bukan lagi bersaing dengan mereka yang sama-sama berasal dari kota atau dengan mereka yang dari Indonesia saja, melainkan dengan seluruh generasi millenial di segala penjuru dunia. Hal ini yang menguatkan kembali, betapa urgentnya posisi generasi millenial dalam menggunakan media sosial dengan bijak. Karena melalui media sosial segala hal dapat dilakukan dengan mudah dan efisien. Dan generasi millenial bangsa dapat melakukan kerjasama dan hubungan dengan generasi millenial bangsa-bangsa di dunia dengan mudah, tentunya dalam hal yang membawa dampak positif.

Pola fikir kritis generasi millenial juga diharapkan mampu melahirkan konten-konten menarik yang memiliki manfaat bagi bayak orang, hal ini merupakan langkah strategis untuk memanfaatkan media sosial sebagai media sharing terkait edukasi, budaya, serta kearifan lokal yang ada di Indonesia kepada masyarakat dunia. Dalam hal ini, mengoptimalkan fungsi media sosial sebagai media sharing information guna memperkenalkan bangsa pada dunia juga merupakan bagian bijak dalam bermedia sosial. Dan memiliki dampak yang sangat positif bagi bangsa Indonesia tentunya.

Jadi, simpulan dari pembahasan ini adalah untuk mengajak dan menanamkan pada generasi muda di era millenial, khususnya yang ada di Inonesia untuk memiliki critical thingking yang mendalam. Salah satunya agar dapat bijak dalam bermedia sosial. Dampak yang sangat besar dari bijak bermedia sosial di sini bagi bangsa Indonesia akan terasa 10 sampai 20 tahun kedepan, yakni dalam mengisi gold period dari generasi millenial sendiri. Karena jika sejak dini generasi millenial telah ditanamkan untuk memiliki critical thingking yang kuat, generasi millenial tidak akan mudah goyah dengan isu-isu negatif yang bermunculan. Sehingga, kondisi ini dapat dilakukan sebagai bentuk optimalisasi gold period dari generasi millenial.

[1] BADAN PUSAT STATISTIKA (BPS) INDONESIA,  2017.
[2] BULETIN APJII (ASOSIASI PENYELENGGARA JASA INTERNET INDONESIA) EDISI 23- APRIL 2018 (HLM.01)

Orang Tua Biologis Tidak Menentukan Faktor Kesuksesan Pembentukan Identitas Diri Remaja

0

Saat menguji skripsi, ada temuan sementara yang patut direnungkang. Terlepas dari sempurna dan belumnya metode yang diambil, bahwa peran orang tua sebagai faktor eksternal bisa digantikan oleh orang lain bagi pembentukan identitas diri.

Siapa orang lain itu ? Yakni orang tua angkat dan peran orang tua asuh di panti. Orang tua angkat yang berfungsi sebagai orang tua pengganti akan berkonstribusi terhadap pembentukan identitas diri remaja. Lebih spesifik, faktor tersebut berbentuk kuatnya pemenuhan dukungan emosional yang diterima oleh remaja tersebut.

Saya lantas berpikir dan mencoba melakukan pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan bukti yang berbobot dari penelitian ini. Yah, jikalau orang tua ditempatkan sebagai faktor eksternal dari pembentukan identitas diri, itu artinya bisa digantikan peran orang tua. Asalkan orang tua pengganti itu memerankan pengasuhan yang baik, maka anak-anak itu akan mampu menemukam identitas dirinya dengan baik pula.

Jadi, orang tua biologis tidak menjadi jaminan sebagai faktor pembentuk identittas diri anak ? Jelas tidaknya jati diri (identitas diri) anak tidak serta merta ditentukan adanya orang tua biologis karena yang berfungsi justru orang tua angkat dan berfungsinya pengasuhan dari orang tua pengganti di panti. Sayang, skripsi ini tidak terlalu kuat membuktikan temuan itu. Apalagi data kualitatifnya belum digali dengan data exhausted, khusus seperti apa fungsi orang tua pengganti ini.

Saya berandai-andai, mengapa kita perlu menyantuni anak yatim, lebih spesifik menjadi orang tua angkat bagi anak yatim. Berdasarkan logika di atas jika orang-orang terdekat anak yang mampu memerankan fungsi pengasuhan yang baik, khususnya mampu memberikan dukungan emosional maka orang-orang terdekat tersebuh benar-benar bisa menggantikan orang tua.

Artinya orang tua akan bermakna bagi anak dalam memberikan pembentukan jati diri bukan pada hubungan darah dengan anak (orang tua biologis) tetapi lebih pada pemberian fungsi psikologisnya, yakni berjalannya pengasuhan tersebut. Jadi pengasuhan itu dengan demikian bernilai netral. Siapapun bisa memerankan, tidak semata dibatasi oleh orang tua bilologis.

So. Jangan khawatir jikalau ada anak-anak yang hari ini banyak yang tidak lengkap orang tuanya, seperti anak yang lahir dari kehamilan tidak dinginkan maka dia akan menjadi baik jikalau ada peran pengganti yang mampu menumbuhkan fungsi psikologis pengasuhan. Jika demikian, masih ada solusi dalam menghadapi anak-anak yang ditinggal orang tuanya atau anak-anak yang mengalami diskriminasi dan korban.

Dan logika ini menjadi peringatan penting bagi orang tua biologis, tidak cukup memberikan garansi bahwa kita sebagai orang tua biologis akan menjamin anak bisa tumbuh identitias dirinya baik mana kala secara psikologis orang tua biologis tersebut tidak menjalankan peran-peran pengasuhan, utamanya kemampuan memberikan dukungam sosial yang baik.

Rabu, 14.56 WIB. Live dari dalam ruang ujian Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Tulisan di atas sebatas opini penulis dan pandangam pribadi sesaat setelah menguji skripsi atas nama Rizda Armi Mitasari, 2017, Strategi pembentukan identitas diri remaja di Panti Asuhan Putri, Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Alternatif Peningkatan Kesejahteraan Petani Melalui Pembiayaan dan Kemitraan

0

Kredit pertanian perlu dikelola secara adil. Setidaknya, petani mampu mengelola proses produksi dengan lebih baik. Tentu kredit yang bersifat kemitraan sehingga pembiayaan pertanian mampu meningkatkan kesejahteraan petani, bukan malah menjerat petani sebagai obyek eksploitasi oleh karena ketergantungan akut pada kreditur.

Era revolusi industry 4.0 saat ini lebih mengutamakan efisiensi dan efektivitas dalam segala aktivitas, demikian juga sektor pertanian. Pengembangan sektor pertanian agar lebih efektif dan efisien adalah dengan menerapkan industrialisasi pertanian. Industrialisasi pertanian menjadi peluang dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi di sektor tersebut. Namun, permasalahan yang terjadi adalah biaya dalam pelaksanaan industrialisasi tidak murah.

Petani sebagai produsen produk pertanian diharapkan mampu memanfaatkan segala potensi pasar yang ada, bukan hanya pasar tradisional tetapi juga pasar modern maupun prosesor yang memerlukan bahan baku dalam jumlah besar. Untuk bisa bermitra dengan pasar modern dan prosesor, diperlukan berbagai syarat, misalnya standar kualitas produk, kontinuitas pasokan, serta kontrak harga yang bersifat mengikat.

Pada umumnya, petani memiliki titik kritis dalam rantai agribisnis yaitu perihal pemasaran produk pertanian. Selain itu, petani juga menghadapi kendala modal untuk membeli sarana produksi. Bantuan modal dan pemasaran produk akan sangat berarti bagi petani, apalagi umumnya produk pertanian mempunyai sifat musiman dan mudah rusak. Partnership atau kemitraan dalam pemasaran produk pertanian diharapkan bisa meningkatkan efisiensi pemasaran, membantu petani dengan harga jual yang layak dan produk yang dihasilkan bisa diserap pasar. Selain itu, partnership dalam pembiayaan juga diperlukan guna pelaksanaan pertanian yang lebih efektif dan efisien.

Salah satu kendala yang dihadapi dalam pengembangan pertanian khususnya petani skala kecil yaitu lemahnya struktur permodalan dan akses terhadap sumber permodalan.

Studi oleh (Syahza 2013) menyebutkan bahwa, salah satu kendala yang dihadapi dalam pengembangan pertanian khususnya petani skala kecil yaitu lemahnya struktur permodalan dan akses terhadap sumber permodalan. Salah satu faktor produksi penting dalam usaha tani adalah modal. Besar-kecilnya skala usaha tani yang dilakukan tergantung dari pemilikan modal. Secara umum pemilikan modal petani masih relatif kecil, karena modal ini biasanya bersumber dari penyisihan pendapatan usaha tani sebelumnya. Untuk memodali usaha tani selanjutnya petani terpaksa memilih alternatif lain, yaitu meminjam uang pada orang lain yang lebih mampu (pedagang) atau segala kebutuhan usaha tani diambil dulu dari toko dengan perjanjian pembayarannya setelah panen. Hal tersebut yang membuat sektor pertanian lamban berkembang. Jadi, faktor terpenting dalam pengembangan pertanian dari pemaparan tersebut adalah permodalan yang sistematis dan tidak memberatkan pihak lain.

Pembiayaan untuk pertanian sampai saat ini masih diadakan, namun tidak cukup efektif membantu masyarakat. Penelitian oleh (Ashari and Saptana 2005) ada tiga sifat yang melekat pada skim kredit pertanian yang berpeluang menimbulkan ketidakefektifan. Pertama, kredit selalu berbasis bunga tetap (fix interest). Setiap skim kredit, apapun bentuknya, menjadikan bunga sebagai harga tetap dari dana yang dipinjam dan harus dikembalikan ketika jatuh tempo.

Risiko kegagalan usaha umumnya hanya akan dibebankan kepada penerima pinjaman sementara kreditor tetap mendapatkan keuntungan sebesar tingkat suku bunga yang ditetapkan. Antara debitor dan kreditor tidak ada sinergi yang utuh karena masing-masing bergerak secara parsial dalam sistem penghitungan yang berbeda.

Kedua, terdapat kesenjangan (gap) dalam ”ruang usaha” antara debitur dan kreditur. Pihak debitor murni berusaha di sektor riil, sementara kreditor hanya bergerak di sektor moneter. Konsekuensinya, risiko kegagalan usaha umumnya hanya akan dibebankan kepada penerima pinjaman sementara kreditor tetap mendapatkan keuntungan sebesar tingkat suku bunga yang ditetapkan. Antara debitor dan kreditor tidak ada sinergi yang utuh karena masing-masing bergerak secara parsial dalam sistem penghitungan yang berbeda.

Ketiga, sistem pembiayaan pertanian selama ini diintegrasikan dengan pembiayaan nonpertanian. Sistem penghitungan usaha pada sektor nonpertanian (terutama industri dan jasa) jika diterapkan untuk usaha pertanian cenderung over estimate. Apabila dipaksakan hal ini akan membuat usaha pertanian tidak akan mendapat dukungan kredit dalam jumlah sesuai dengan kebutuhan.

Selama kurun waktu satu dasa warsa terakhir alokasi kredit yang disalurkan untuk sektor pertanian sangat rendah dibandingkan dengan untuk sektor-sektor lain.

Aturan main pada skim pembiayaan formal bagi usaha pertanian bersifat rigid yang mengakibatkan petani dan masyarakat pedesaan tidak mudah mengakses sumber-sumber pembiayaan. Kebijakan pembiayaan yang diharapkan untuk mendukung pengembangan usaha pertanian dirasakan sangat lemah dan cenderung mengabaikan sektor pertanian (Nurmanaf 2014). Selama kurun waktu satu dasa warsa terakhir alokasi kredit yang disalurkan untuk sektor pertanian sangat rendah dibandingkan dengan untuk sektor-sektor lain.

Untuk lebih menjamin rasa keadilan bagi pelaku bisnis pertanian, perlu dibuka wacana model pembiayaan alternatif yang sesuai dengan karakteristik usaha di sektor pertanian. Salah satu model yang sudah mulai dicoba diterapkan adalah dengan skim syariah.

Ada tiga hal yang menjadi ciri pembiayaan syariah, yaitu (1) bebas bunga (interest free), (2) berprinsip bagi hasil dan risiko (profit loss sharing), dan (3) perhitungan bagi hasil dilakukan pada saat transaksi berakhir.

Pemaparan permasalahan yang telah dijewantahkan sebelumnya dapat diatasi dengan beberapa cara. Salah satunya yaitu dengan pemberian modal melalui lembaga pembiayaan syariah. Secara teoritis, ada tiga hal yang menjadi ciri pembiayaan syariah, yaitu (1) bebas bunga (interest free), (2) berprinsip bagi hasil dan risiko (profit loss sharing), dan (3) perhitungan bagi hasil dilakukan pada saat transaksi berakhir. Hal ini berarti pembagian hasil dilakukan setelah ada keuntungan riil, bukan berdasar pada asumsi bahwa besarnya keuntungan usaha yang akan diperoleh di atas bunga kredit. Bantuan dari lembaga pembiayaan syariah ini dapat diimplementasikan dengan pendirian baitul mal wat tamwil (BMT) di setiap desa.

Sesuai dengan tujuan BMT, meningkatkan kualitas usaha ekonomi untuk kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Pengertian tersebut dapat dipahami bahwa BMT berorientasi pada upaya peningkatan kesejahteraan anggota dan masyarakat. Anggota harus diberdayakan supaya dapat mandiri. Dengan sendirinya, tidak dapat dibenarkan jika para anggota dan masyarakat menjadi sangat tergantung kepada BMT. Dengan menjadi anggota BMT, masyarakat dapat meningkatkan taraf hidup melalui peningkatan usahanya. Pemberian modal pinjaman sedapat mungkin dapat memandirikan ekonomi para peminjam. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pendampingan. Dalam pelemparan pembiayaan, BMT harus dapat menciptakan suasana keterbukaan, sehingga dapat mendeteksi berbagai kemungkinan yang timbul pada pembiayaan. Untuk mempermudah pendampingan, pendekatan pola kelompok menjadi sangat penting. Anggota dikelompokkan berdasarkan usaha sejenis atau kedekatan tempat tinggal, sehingga BMT dapat dengan mudah melakukan pendampingan.

Pendampingan oleh BMT yang dikelompokkan berdasarkan usaha sejenis dalam hal ini pertanian juga harus efektif dilaksanakan. Pembuatan gabungan kelompok tani (GAPOKTAN) tiap desa. GAPOKTAN nantinya dapat membantu mengurangi gap dari petani besar dengan petani kecil terkait dengan pemasaran yang lebih efektif sehingga pendampingan dapat dilakukan dengan mudah oleh pihak BMT dalam hal permodalan. Begitupun GAPOKTAN yang membantu dalam implementasi produksi pertanian dan proses pemasaran dengan perusahaan besar sehingga perpaduan GAPOKTAN dan BMT tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan para petani khususnya.