Sabtu, Mei 9, 2026
Beranda blog Halaman 68

Kuasa “Ramal-Meramal” dan Hegemoni Perdukunan

0

“Banyak orang yang lebih suka membayar orang lain untuk mewakili mereka berpikir. Kita telah menjadi sebuah masyarakat yang bergantung… Jagad di mana kita diizinkan untuk bermain, menghibur, dan mempertanyakan berbagai macam misteri setiap hari telah menyempit” (Michael R. LeGault)

KampusDesa–Masyarakat kami amat percaya pada peramal dan dukun, tentu ini sudah diketahui oleh banyak orang—termasuk para pengamat kebudayaan. Bahkan dukun adalah orang yang dianggap bisa merubah alam sebagaimana dikehendaki. Misal, menghendaki hujan tidak turun karena akan ada acara “hajatan.”

Orang yang akan punya “hajat” seperti mengadakan pesta pernikahan anak (jawa: becekan), biasanya akan pergi ke dukun. Minta agar hujan tidak turun. Saya pernah melihat kegagalan dukun menghentikan hujan. Beberapa orang mengatakan bahwa ia pergi ke dukun untuk menghentikan hujan, tetapi nyatanya hujan turun juga. Malah suatu ketika ada Pakde saya sendiri yang minta dukun menghentikan hujan, ternyata acara “hajatan” yang dilakukannya malah diserang oleh hujan lebat. Hujan malah turun begitu lebatnya, hingga pesta pernikahan terganggu karena air meluap di bawah meja kursi tamu.

Bukan hanya tentang alam. Upaya mengubah suatu perilaku manusia juga dicarikan solusi ke dukun. Banyak yang gagal juga. Ada tetangga dekat yang mendatangi dukun, minta agar cucunya yang susah diatur tidak lagi nakal. Ia adalah cucu yang ditinggal ibunya bekerja sebagai buruh migran dan ayahnya sudah minggat dua tahun sebelumnya. Karena punya anak perempuan (ibu si cucu) yang punya tekad cari penghasilan di negeri orang, maka ia harus mengasuh si cucu.

Si cucu ternyata jadi anak yang nakal. Baru masuk sekolah menengah pertama sudah minta sepeda motor ninja. Sudah mulai merokok. Sering maksa kalau minta uang. Dan mulai berani berbohong dan melawan si kakek-nenek yang mengasuhnya. Maka, entah atas saran siapa, ia pergi ke mbah Dukun. Ia minta bantuan agar cucunya tidak nakal dan mudah dinasehati. Lalu apakah si cucu dengan serta merta tidak nakal? Ternyata tidak.

Saya masih ingat bagaimana ibu saya memberikan air putih di suatu pagi ketika saya mau menghadapi ujian akhir di sekolah SD. Lalu juga memberikan pensil, yang katanya harus digunakan untuk mengerjakan soal. Katanya dari Mbah dukun di desa sebelah.

Lebih lucu lagi, kalau bicara dunia perdukunan, adalah ketika saya membayangkan masa kecil saya dulu. Yang ternyata juga masih terjadi hingga sekarang. Saya masih ingat bagaimana ibu saya memberikan air putih di suatu pagi ketika saya mau menghadapi ujian akhir di sekolah SD. Lalu juga memberikan pensil, yang katanya harus digunakan untuk mengerjakan soal. Katanya dari Mbah dukun di desa sebelah. Hal yang sama juga dilakukan oleh teman sekolah yang juga masih saudara, yang rumahnya juga bertetanggaan dengan saya.

Bayangkan, untuk menghadapi ujian sekolah, dukun dianggap sebagai solusi. Ingin pintar, ingin bisa mengerjakan soal, solusinya adalah dukun. Tampaknya budaya ini juga dilakukan oleh banyak orangtua. Sebagai orang yang berhasil mengerjakan soal ujian, yang juga dikenal pintar, dan tidak nakal seperti anak yang saya ceritakan di atas, sebenarnya saya bisa berkata pada sejarah: “Ini lho, aku anak yang pintar dan tidak nakal karena bantuan dukun, pun akhirnya hidupku juga lumayan tak begitu gagal—karena jasa para dukun.” Tapi apa yang terjadi pada teman dan beberapa orang?

Teman dan saudara saya yang juga dibantu dukun agar bisa mengerjakan soal tadi nyatanya juga nilainya ‘jeblog’, bisa lulus sudah lumayan. Kami masuk di SMP yang sama—sekolah yang berjarak 1,5 km dari rumah kami. Di SMP saya lebih suka pelajaran dan selalu ranking. Sedang teman saya tadi tetap kurang punya motivasi belajar. Saya melanjutkan SMA dan kuliah. Ia hanya macet lulusan SMP. Pada hal, secara ekonomi ia anak orang jauh lebih mampu. Sedang saya hanya anak orang yang sangat minim secara ekonomi. Saya bisa lanjut SMA dan kuliah karena bantuan orang lain (saudara).

Yang lebih lucu lagi terjadi setelah saya sudah lulus kuliah. Ketika liburan di kampung halaman, ada seorang teman yang masih saudara minta diantar ke rumah dukun. Minta “sababiyah” (perantara) agar lolos dalam tes PNS di luar kota. Info tes didapat dari saudaranya yang kebetulan sudah jadi PNS di sana. Dugaan saya benar, ia tidak lulus. Pertama saya tahu waktu sekolah nilainya sering jelek. Kedua, ia sama sekali tidak belajar.

Jadi, bagi saya, amat sulit kemudian untuk bisa mengatakan bahwa para dukun adalah orang-orang yang selalu bisa membantu mengatasi masalah. Bisa jadi mereka malah menjerumuskan kita pada masalah itu sendiri. Seperti terjadinya kasus dukun cabul, yang bahkan dialami oleh beberapa teman dan saudara saya sendiri.

Saya masih ingat bagaimana ia diberikan secarik kertas bertuliskan huruf arab, yang disuruh dibawa. “Bisa ditaruh di dompet atau sabuk,” kata si dukun. Sedangkan satunya adalah air dalam botol Aqua. Kata dukun, harap diminum sebelum berangkat mengerjakan soal ujian.

Oya, apakah waktu itu saya tidak percaya pada dukun? Sangat percaya, makanya saya mau mengantar teman dan saudara saya itu!

Fakta bahwa dia tidak lolos tes PNS yang menurut analisa saya bukan karena dukunnya, tetapi karena tes PNS waktu itu “tidak fair” sudah saya sadari. Hingga seumur hidup saya tak pernah ikut tes PNS, kecuali sekali pada tahun 2010 di Trenggalek. Tapi saya memang tidak yakin bahwa saya lolos. Saya hanya ingin ikut untuk mengorganisir aksi menolak “Tes CPNS yang tidak bersih” yang isunya beredar luas di tahun-tahun itu.

Waktu itu saya kebetulan sudah tidak percaya pada dukun. Saya dan beberapa teman bahkan meyakini (entah ini subjektif atau tidak) bahwa: Dukun tak bisa membantumu, yang bisa membuatmu lolos tes hanyalah dua hal, uang dan relasi. Waktu itu, saya sedang berada pada masa pesimis-pesimisnya terhadap tingkahlaku kekuasaan pemerintah. Entah benar atau tidak, saya menganggap jual beli jabatan dan posisi waktu itu terjadi di mana-mana.

Ke(tidak)berdayaan
Lalu apakah saya sudah bisa lepas dari dunia perdukunan? Tentu tidak sepenuhnya. Akhirnya saya menganggap bahwa ini adalah bagian dari budaya, tidak perlu dipikir berat-berat. Sebagai bagian dari masyarakat yang diatur oleh budaya, saya menjalin hubungan dengan orang-orang yang percaya pada dukun, hidup di masyarakat yang percaya pada dukun. Termasuk saudara-saudara dan tetangga.

Ada dua hal yang saya ingat membuat saya berhubungan dengan dukun. Pertama, ketika saya mau buat rumah. Saya tidak mendebat mertua saya yang mendatangkan dukun yang katanya bisa melihat mana bagian tanah yang baik (tidak buruk) jika ditanami rumah. Bahkan saya ditugasi mengantar mbah dukun tua itu pulang ke rumahnya di sebuah desa paling pucuk di Kecamatan Pule, Trenggalek.

Kedua, terjadi sebelumnya. Pada saat istri saya hamil dan divonis dokter bayinya sungsang. Saya juga mengikuti saran mertua agar minta bantuan pada si dukun. Saya minta petunjuk seorang teman, dan saya dibawa di seorang kiai yang punya yayasan pesantren dan sekolah Islam. Pak Kiai memberikan gula yang menurut teman saya sudah dikasih “doa” di dalam kamarnya. Satunya adalah kertas bertuliskan huruf Arab yang disuruh diletakkan bawah bantal istri saya.

Saya kira, perilaku saya berhubungan dengan dukun punya situasi psikis yang sama dengan orang-orang dan teman-teman yang saya ceritakan di atas tadi—meski dengan motif yang berbeda dan kadar kepercayaan yang berbeda. Juga perbedaan dalam hal efek psikis dan kognitif dari kegiatan minta bantuan ke dukun. Kesamaannya adalah dalam hal, pertama, ada sisi harapan bahwa dukun itu akan membantu mengatasi masalah kita. Kedua, ada sisi di mana masalah yang dihadapi bisa dilupakan—kepanikan bisa hilang, kekhawatiran bisa berkurang.

Saya tahu bahwa itu bukan solusi, tapi memang ada efek kegiatan yang mesti dilakukan untuk menunggu jeda waktu antara ditemukannya masalah dengan hasil dari solusi di luar yang diberikan dukun.

Perbedaannya, terutama yang paling besar, adalah pada efek. Saya tidak punya efek berkurangnya nalar ilmiah dalam menghadapi masalah karena saya mengalir saja menuruti anjuran dan nasehat orang lain ketika berhubungan dengan dukun. Saya tahu bahwa itu bukan solusi, tapi memang ada efek kegiatan yang mesti dilakukan untuk menunggu jeda waktu antara ditemukannya masalah dengan hasil dari solusi di luar yang diberikan dukun. Pada saat istri hamil sungsang, kami menuruti nasehat dokter, untuk meminum resep yang diberikan dan perlakuan gerak senam yang dianjurkannya. Tapi saya juga tak menolak ketika mertua menyarankan agar “minta bantuan” dukun.

Pada saat mau membangun rumah, saya tak ada masalah sama sekali dengan tanah, masalah saya adalah tidak punya uang yang cukup untuk segera membangun rumah. Hehehe… Di tengah kebingungan menjawab masalah tidak punya uang, dan sambil menunggu jeda hingga saya punya uang, ya saya menghiasi kegiatan salah satunya setuju dengan mertua saya mendatangkan dukun. Di sini, waktu dan perasaan belum mendapatkan solusi lain, bisa diisi dengan kompromi dengan siapa saja, apalagi dengan mertua. Menuruti mertua adalah cara mengambil keuntungan memperbaiki hubungan. Jadi, setuju dengan kedatangan dukun dalam hal ini bukan karena percaya pada dukun, tapi percaya pada orangtua sebagai bagian dari menjaga kohesivitas sosial.

Saya tidak melihat apakah dukun-dukun itu tidak berhasil membantu? Itu wilayah spekulasi. Tapi cara membantu meringankan beban psikis dari suatu masalah yang dihadapi orang, mereka berhasil. Ada efek baik, ada efek jelek. Efek baiknya untuk siapa juga harus dilihat dan dipahami. Ketika teman saya pergi ke dukun untuk menghadapi tes PNS, sebenarnya ia menganggap bahwa nasibnya diserahkan ke dukun. Jadi, lulus tidaknya tes, tergantung pada dukun. Maka ia tidak tahu kalau, misalnya, lolos tidaknya tes itu tergantung pada uang dan relasi dengan pejabat tinggi yang menentukan dan berkuasa.

Orang yang hanya percaya pada dukun untuk mengatasi kesuksesan, sejenis teman saya ini, akan terus awet menjadi orang yang tak mau belajar dan meningkatkan kualitas diri.

Jadi ketika teman saya gagal, efeknya ia tidak marah dan kecewa. Maka efek ini baik untuk siapa? Baik untuk mereka yang bermain kekuasaan dan uang dalam rekrutmen PNS. Setidaknya dukun itu telah membantu (bermanfaat) bahwa peserta tes PNS yang sejenis dengan teman saya itu tak perlu tahu bahwa masalahnya adalah sistem rekrutmen yang bobrok dan kualitas dirinya yang tidak mau belajar. Orang yang hanya percaya pada dukun untuk mengatasi kesuksesan, sejenis teman saya ini, akan terus awet menjadi orang yang tak mau belajar dan meningkatkan kualitas diri.

Sama seperti kasus si kakek-nenek yang ingin membuat cucunya tidak nakal di atas tadi. Dengan pergi ke dukun dan percaya bahwa sepanjang umurnya dukun adalah solusi, maka efeknya ia akan tidak tahu tentang sumber dan penyebab dari masalah yang dialami cucunya. Ia mungkin mencari sumber penyebabnya justru cucunya, yang, misalnya, dianggap kerasukan setan. Ia tidak melihat masalah pada pengasuhan yang dilakukannya terhadap cucu. Ia tak ‘mikir’ dengan siapa saja si anak bergaul. Ia tak melihat masalah riil dan situasi konkrit sebagai penyebab masalah perkembangan si anak. Di sini, dukun menjadi pengharapan sekaligus penghibur dalam perasaan. Tetapi ketidakberdayaan dalam mengatasi masalah tidak diatasi. Peningkatan kemandirian dalam menghadapi masalah, keberdayaan mengatasi situasi, tidak muncul.

Sesuatu YANG TAK TERJELASKAN dan YANG TAK DIINGINKAN
Sama seperti kasus di atas, berharap pada bantuan dukun agar anak bisa pintar. Efeknya adalah budaya kemalasan mendorong dan mendidik anak belajar. Bagaimana anak malas belajar dan tak pintar, katanya karena suatu di luar perlakuan dan arahan nyata dari orangtua, tetapi suatu yang tak terjelaskan yang katanya hanya bisa dijawab dengan bantuan dukun. Berharap dengan memakai pensil pemberian si dukun, bisa mengerjakan soal. Mungkin menganggap bahwa di dalam pensil itu ada “makhluk lain” (YANG TAK TERJELASKAN) yang bisa menggerakkan tangan si anak hingga ia memilih jawaban yang tepat dan benar.

Frase “YANG TAK TERJELASKAN” sengaja saya kasih huruf kapital. Sebab di sinilah persoalannya. Sesuatu yang tak terjelaskan ini adalah ruang kosong yang bisa diisi oleh siapa saja, termasuk dukun. Sesuatu yang tak terjelaskan ini sebenarnya bisa diisi oleh penjelasan yang ilmiah. Yang ilmiah itu adalah yang berdasarkan bukti dari apa yang terjadi. Mengisi yang tak terjelaskan dengan suatu yang berdasarkan kenyataan berarti berpikir ilmiah.

Di sini adalah soal fakta dan kenyataan yang dipahami atau tidak dipahami. Tapi juga ada tambahan lagi yang penting agar bisa dijelaskan dalam ranah psikologis, yaitu kenyataan yang sesuai atau kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan.

Jadi manusia berhadapan dengan kenyataan itu ada dua hal: (1) Apakah kenyataan itu bisa dijelaskan dan dipahami—ini tergantung apakah ia menggunakan ilmu pengetahuan dan filsafat; (2) Apakah kenyataan itu mendukung kebutuhan dan keinginannya atau tidak. Jadi ada sesuatu “YANG TAK TERJELASKAN” dan “YANG TAK DIPENUHI.” Satunya berkaitan dengan hal ingin tahu. Satunya berkaitan dengan hal ingin memenuhi keinginan (dan kebutuhan).

Tak semua hal diketahui dan dijelaskan. Dan, tak semua keinginan bisa dipenuhi. Sesuatu yang tak terjelaskan dan yang tak terpenuhi (atau yang tertolak oleh kenyataan) akan melahirkan tingkahlaku, respon, dinamika berpikir pada diri manusia—sebab hidup ini prinsipnya gerak, tak ada yang diam, pun juga manusia. Sesungguhnya dalam pikiran manusia tak ada yang kosong. Ia selalu di isi. Apa yang mengisinya, bagaimana isi itu membuatnya berkembang dan membangun suatu cara berpikir, dasar berpikir, persepsi terhadap sesuatu, yang kemudian secara kontinyu juga digunakan untuk merespon dunia di luarnya. Membuatnya merespon dan mempersepsi masalah yang dihadapi dan cara mengatasinya.

Tentu mengatasi masalah itu bukan hanya tergantung pada cara berpikir. Tapi juga aspek kenyataan. Pikiran dan cara pandang, merespon realitas (keadaan dan kenyataan), dengan cara yang kadang cepat (responsif) dan kadang lama.

Ada cerita lagi yang sudah sering terjadi di sekitar kita. Mari kita bayangkan dan analisa lagi kisahnya, baik secara persis atau mungkin hampir sama dengan yang anda lihat. Ini seing terjadi di kampung kami.

Bayangkan, ketika seorang suami muda dari desa sedang menghadapi masalah di mana istri yang mau melahirkan harus dioperasi. Bayangkan ia adalah orang yang sangat miskin dan penghasilannya bahkan tak cukup untuk makan dan membiayai sekolah anak pertamanya (kakak calon si bayi) dan untuk kebutuhan sehari-hari lainnya. Waktu itu belum ada fasilitas bantuan kesehatan untuk orang miskin, atau katakanlah belum terjadi seperti sekarang di mana juga masih ada keluarga miskin yang tidak berhasil menjadi penerima manfaat program itu. Misal biaya operasi kandungan habisnya Rp 15 juta. Bagaimana kira-kira kalau kita menghadapi masalah seperti itu?

Kita lihat. Dalam kasus ini, keinginan utama adalah mendapatkan uang minimal Rp 15 juta. Belum lagi biaya di luar operasi. Sebab melahirkan anak artinya membuat kebutuhan biaya harus dihadapi. Paling tidak harus punya uang 20 jutaan. Sedangkan ia tahu bahwa uang sebesar itu mustahil didapat dalam waktu 2 hari, misalnya, sebagaimana operasi kandungan akan segera dilakukan dan dua hari ke depan biaya harus segera dibayar.

Situasi yang mendesak dipenuhi keinginan agar segera dapat uang. Tentang kenapa hal itu terjadi, (penjelasan) tidak mengisi pikiran. Ia hanya tahu bahwa takdir yang harus dihadapi adalah mencari uang sejumlah itu. Ketika pikiran fokus pada suatu hal yang berat dan harus terus dipikirkan, maka hal lain tak terpikirkan.

Kadang solusi datang. Misal, pada saat ia sendiri sedang dilanda kecamuk pikiran, ada saudara yang sudah mendiskusikan bagaimana caranya membantu mencari pinjaman. Tanpa ia sangka, tiba-tiba saudaranya memberitahukan agar ia pinjam uang ke seseorang (masih saudara). Hal ini membuatnya tertolong sementara, ia menganggapnya sebagai takdir dari Tuhan. “Kadang saat-saat genting dan kita menghadapi masalah yang pelik, Tuhan menolong kita,” begitulah kemudian wacana yang sering muncul dari situasi semacam ini. Ruang kosong dalam pikiran selalu diisi, dari yang tadinya harapan-harapan dan kecamuk, lalu kesimpulan baru yang kuat karena hasil dari menjawab solusi di kenyataan.

Singkatnya, kenyataan kadang buruk dan bahkan bisa amat buruk bagi kita. Tak selalu kita punya kemampuan untuk menjelaskan. Tak selalu kita bisa mengatasinya. Tetapi pikiran kita akan selalu harus dipenuhi oleh persepsi dan harapan-harapan untuk merespon kenyataan. Dan saat semua tak terjelaskan dan kenyataan tak bisa diatasi dengan memperlakukan kenyataan, maka manusia yang pikiran dan daya upaya materialnya terbatas, ketrampilan menghadapi masalahnya tidak ada, maka ia akan butuh bantuan yang murah dan praktis untuk: (1) mengisi ruang kosong pikiran yang butuh solusi dan jawaban akan masalah; (2) mempertahankan harapan hidup dengan cara membangun persepsi yang kadang tak selalu menjelaskan kenyataan dan syarat-syarat material mengatasi masalahnya, tanpa keberdayaan dan kemandiriannya didukung sarana yang dimiliki atau dijangkaunya.

Di sinilah, kita butuh ‘juru selamat’ yang berada di luar kekuatan kita. Ada kalanya jurus selamat itu adalah dukun, orang yang kita anggap dengan kekuatannya membangun kita dari jalur “immaterial” dan mengatakan pada kita banyak hal yang hanya bisa kita dengarkan dan turuti. Sebab kita sudah tak berdaya menghadapi nasib kita dan tak mampu menjelaskannya. Bahkan kita butuh solusi yang tidak perlu berdasarkan kenyataan. Selama didengarkan enak. Selama harapan-harapan dan hiburan terpenuhi. Kadang juga dengan jujur si dukun mengatakan, “Saya ini hanya lantaran, semuanya tetap kembali pada Yang Kuasa,” Lalu kita membawa suatu “lantaran” itu pulang, yang kadang kita ganti dengan “amplop” sebagai ucapan terimakasih.

Mantra, Sugesti dan Perlakuan Ilmiah
Keyakinan akan solusi dari dukun kadang sudah kita bawa mulai kita berangkat dari rumah menuju tempat si dukun. Kita mendapatkan sugesti untuk berangkat menemui sang dukun, dengan harapan dan hiburan bahwa kita akan dapat solusi. Lalu saat pulang dan diberi “lantaran” kita juga merasa bahwa akan mendapat solusi. Di sini yang utama dan menarik adalah sugesti muncul dalam tubuh kita, semacam energi yang membuat kita yakin untuk “sembuh” (jika kita minta obat untuk atasi sakit) atau yakin bisa mengatasi masalah.

Perkara nasib kita berubah dan masalah kita teratasi atau tidak, kitapun kadang tidak tahu. Beberapa orang yang rajin mencari bantuan dukun juga seringkali ada penilaian soal itu. Misal bahwa dukun ini “mandhi” (‘manjur’) dan dukun itu tidak, hal itu juga dinilai oleh masyarakat, baik mantan pasien atau calon pasien.

Lalu apakah semua dukun bermain pada wilayah “immaterial” saja? Tentu tidak. Mereka juga memberikan suatu yang kadang memang solusi nyata, dan bukan menjual “abab” saja. Ambil contoh kecil saja, sebagaimana saya alami. Dulu mbah saya dikenal orang yang “sakti” oleh anak dan cucunya sendiri meskipun tidak praktik dukun. Ketika saya sakit, saya diminta ke rumahnya yang kebetulan tidak jauh dari rumah kami. “Sana, Le, ke rumah mbahmu, biar ‘disuwuk’ sama Mbah”, kata ibu saya. Waktu itu sata sakit batuk hingga tenggorokan sakit. Kepala juga agak pusing.

Sesampai di rumah Mbah, setelah diajak ‘ngobrol’, saya dikasih air putih hangat dalam gelas. Air itu memang “dijapani” (dikasih mantra), salah satu yang saya dengarkan dari mulutnya yang “umik-umik” adalah bacaan al fatihah di akhir tindakan ‘njapani’. Air dalam gelas itu awalnya dikasih garam dan diaduk. Belakangan saya baru tahu bahwa air garam memang punya kasiat menyembuhkan. Jadi, mbah saya sebenarnya tahu hal-hal ilmiah, pengetahuan berbasis kenyataan yang didapat dari interaksi manusia sejak dulu. Kitapun tahu, air hangat plus garam merupakan obat yang ampuh. Tetapi ketika ditambah nuansa “mistik” dengan mantra, tentu daya sugestifnya luar biasa.

Ada dukun cabul yang begitu nyata. Modus perdukunan untuk mendapatkan suatu tindakan cabul. Ada dukun terkenal yang kariernya berakhir setelah “konangan” mencabuli pasien perempuan. Rumahnya didemo warga dan si dukun disidang di balai desa setelah suami si perempuan tidak terima dan melakukan gugatan.

Memang ada beberapa dunia perdukunan yang menurut saya tak masuk akal dan belakangan menjengkelkan karena ada pengalaman buruk yang dialami saudara kami sendiri—dan juga sering kita dengar. Ada dukun cabul yang begitu nyata. Modus perdukunan untuk mendapatkan suatu tindakan cabul. Ada dukun terkenal yang kariernya berakhir setelah “konangan” mencabuli pasien perempuan. Rumahnya didemo warga dan si dukun disidang di balai desa setelah suami si perempuan tidak terima dan melakukan gugatan.

Tapi ya begitulah yang terjadi. Hingga kini dukun masih laris. Agar hubungan dengan suami bisa baik, orang pergi ke dukun. Agar mendapat pelanggan yang banyak, pergi ke dukun. Agar dagangan dan toko laris, pergi ke dukun. Agar berwibawa di hadapan bawahan, pergi ke dukun. Agar disukai majikan atau atasan, pergi ke dukun. Agar menang dalam pemilihan, pergi ke dukun.

Yang terakhir, agar Indonesia jadi negara maju, pergi ke dukun!**

Trenggalek, 24 Mei 2017

Rahasia Air Hujan, Bisa Diminum untuk Kesehatan

0

Jamak orang sering mengatakan, saya pilek dan meriang setelah kehujanan kemarin. Ada juga orang tua yang melarang anaknya hujan-hujanan karena takut anaknya terserang demam, pilek atau kepala pusing. Tetapi coba diingat, saat hujan, banyak juga para penduduk, biasanya di pedesaan justru keluar rumah untuk adus udan. Mereka berlari-lari di sepanjangan jalan, bak seperti lari pagi selama hujan belum reda. Setelah reda, jamak terlihat pemandangan para orang kampung pulang ke rumah dengan tubuh basah-kuyuk. Makan pun jadi rahap. Benarkah air hujan menimbulkan penyakit, atau justru air hujan adalah air asli yang bermanfaat untuk kesehatan?

Jombang, KampusDesa.or.idAir hujan. Jutaan manusia sering memintanya saat panas sedang terik hingga kekurangan air, dan menolaknya mentah-mentah saat banjir sedang melanda. Ini sudah biasa, sifat manusia memang begitu, kan?

Padahal mudah sekali mengakali hal itu. Bagaimana? Ketika musim hujan tiba, mudah saja menyediakan tong-tong besar untuk mewadahi air hujan. Tentunya sesuai kadar kebutuhan, khususnya air minum. Sehingga, ketika musim kemarau tiba dan kekeringan melanda, masih ada persediaan air untuk beberapa waktu. Mari simak penjelasan berikut.

Diskusi singkat dan dadakan berlangsung hari Ahad, (18/11) di basecamp Baramuba (Barisan Anak Muda Balongsari). Diskusi yang terbilang dadakan ini membahas tentang air hujan dan kelebihannya. Jamak di masyarakat menganggap air hujan dapat menimbulkan penyakit seperti demam, batuk, dan pilek.

Air hujan, air yang menyegarkan dan aman digunakan dalam aktivitas sehari-hari, seperti, mandi atau dikonsumsi. Bisa dikatakan aman, sebab air hujan bukanlah air yang sifatnya merugikan. Di industri pertanian dan perkebunan, kebutuhan air untuk tanaman masih didominasi oleh air hujan terutama ketika masuk musim penghujan sehingga tanaman menjadi subur dan tanah menjadi gembur.

Anton mengatakan ada orang yang menderita gangguan ginjal, setelah minum air hujan rutin, ada peningkatan kesehatan ginjalnya.

Anton (kaos hitam), anda dapat bertanya manfaat air hujan ke dia ya. Lutfi (kaos hijau putih) dan anggota Baramuba sedang diskusi manfaat air hujan

Ketika diskusi berlangsung, seorang mahasiswa aktif UGM, Anton, banyak menjelaskan rahasia air hujan. Dari pemikiran logika, sangat mudah dicerna. Anton mengatakan ada orang yang menderita gangguan ginjal, setelah minum air hujan rutin, ada peningkatan kesehatan ginjalnya. Dia-pun merujuk seorang dosen yang telah meneliti manfaat air hujan bagi kesehatan. Nah, untuk informasi lebih lanjut, anda bisa menghubungi Anton melalui instagram @baramuba.

Kebanyakan para ahli menyatakan bahwa air pegunungan adalah yang paling bagus. Dan sumber mata air bawah tanah juga paling bersih. Begitu pun kebanyakan orang mencari sumber air untuk kebutuhan sehari-hari dari mata air di bawah tanah seperti membuat sumur. Meskipun telah sesuai dengan standar-standar ketentuan pembuatan sumur, tetapi seiring perkembangan zaman, sampah, kotoran, dan jamban pun semakin banyak bukan? Mengapa jamban? Mari berpikir sejenak perbedaan asal mata air dari bawah tanah dengan air hujan.

Manusia buang ludah ke mana? Tanah
Jamban dibuat di mana? Bawah Tanah
Sampah buangnya ke mana? Tanah
Kotoran manusia larinya ke mana? Tanah juga kan?
Dan Mata air darimana? Bawah Tanah
Sedangkan air hujan darimana? Awan/Dari Atas

Adapun sanggahan yang masuk akal, bahwa air hujan yang turun ke bumi akan melewati asap-asap kendaraan dan itu adalah karbon. Ternyata karbon itu tidak apa-apa, jika jumlahnya masih sedikit. Anton memberikan permisalan secangkir kopi arang, bukankah itu mengandung karbon yang berlebih?

Tim penggerak lingkungan hijau bersama founder kampus desa Mohammad Mahpur (tengah-kaos lorek) dan Nurul Aini (Kontributor Kampusdesa.or.id–paling kanan)

Selanjutnya adalah perpektif Al-Qur’an. Bukan lagi manusia yang bilang, tetapi Allah yang berfirman. Di dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 48, Allaah berfirman:

Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih,”

Ini adalah fakta penting yang mungkin belum banyak diketahui oleh banyak orang. Selain bersih, air hujan juga dapat dikonsumsi.

Cukup menjelaskan bahwa air dari langit atau yang dimaksud air hujan adalah air yang amat bersih. Bagaimana lagi mengelak atau menolak firman tersebut? Ini adalah fakta penting yang mungkin belum banyak diketahui oleh banyak orang. Selain bersih, air hujan juga dapat dikonsumsi. Tribunnews juga memuat laporan hasil penelitian dari ahli bahwa air hujan setara dengan air minum yang aman dikonsumsi. Hal ini juga dijelaskan pada ayat selanjutnya.

agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.” (Q.S. Al-Furqan:49)

Penjelasan yang cukup rinci dan sebagai petunjuk nyata bahwa air hujan dapat dikonsumsi oleh “sebagian besar dari mahluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.” Maka tidak ada alasan atau penolakan apabila haus melanda, air hujan adalah minuman yang paling menyegarkan. Tetapi hal ini harus diperhatikan. Tips minum air hujan untuk manusia. Ketika hujan turun, tunggu 10-15 menit, kemudian siapkan teko/bak atau tandon untuk mewadahi air hujan. Alasannya, air hujan yang turun sebelum 10-15 menit pertama dikhawatirkan kurang bersih.

Jika anda merasa kurang nyaman karena jijik, anda bisa memasak air hujan seperti merebus air, kemudian simpan di tempat yang aman. Perebusan ini tidak akan mengganggu kadar mineral air hujan dan bisa juga membantu sejumlah kuman yang barangkali tersimpan di air. Anda jangan khawatir jika tumbuh lumut saat air hujan disimpan dalam waktu yang lama. Lumut tidak akan mengganggu kesehatan kita karena lumut juga bagian dari tumbuhan yang bersifat organik. Menurut studi yang dirilis viva.co.id, dinyatakan bahwa air hujan layak diminum dengan mengambil air hujan yang belum tersentuh oleh dedaunan, atau atap rumah. Artinya, disarankan agar menampung air hujan yang langsung jatuh dari langit tanpa melalui perantara atap rumah atau dedaunan.

Anda juga bisa mengolah dengan cara filtrasi, yakni melakukan multi-filter air hujan dengan cara sederhana yakni menyaring dengan kerikil, pasir dan ijuk. Teknik lain juga dapat menggunakan media adsorpsi, yakni dengan Granular Activated Carbon (GAC) dan zeolit. Menurut penelitian Tanti Untari dan Joni Kusnadi di Jurnal Pangan dan Agroindustri Universitas Brawijaya, dengan metode filtrasi sederhana, air hujan dapat dimanfaatkan sebagai air minum. Kadar sifat kimia di air hujan terdiri dari pH 5-7, ada konsentrasi mineral dan logam berat rendah. Setelah difiltrasi, kandungan pH air hujan, dari hasil penelitian Untari dan Kusnadi menjadi, 7.30 yang berada di ambang toleransi Permenkes.

Berikut adalah yang terakhir dalam pembahasan air hujan kali ini. Kembali pada asumsi pertama untuk mempersiapkan persediaan air ketika musim hujan tiba agar tidak kekurangan saat musim kemarau datang.

Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (darinya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat).” (Q.S. Al-Furqan:50)

Sebab, tiap musim sudah dipergilirkan, tinggal bagaimana pintar-pintarnya manusia mengakali setiap peluang untuk memenuhi kebutuhan.

Rerimbunan Bambu dalam Pusaran Dialektika Alam

0

Ekosistem lingkungan perlu mendapat perhatian. Kebutuhan manusia untuk kelangsungan hidup selalu terpaut dengan ketersediaan alam. Orang menebang bambu, yang sejatinya bambu untuk mencegah erosi, sudah mulai punah ditebangi. Barangkali kerusakan ini sepele. Lain lagi jika para penebang hutan, demi mendapat keuntungan finansial, alam dieksploitasi tanpa ampun. Kebutuhan ini selalu menjadi ekosistem alam menjadi tidak seimbang.

KampusDesa.or.id–Manusia akan terus mengubah alam. Perubahan terjadi karena gerak. Gerak terjadi karena kontradiksi. Dan pada diri manusia, kontradiksi yang dihadapi selalu harus diatasi. Kontradiksi, gerak, dan perubahan adalah hukum besi Materi (alam) yang pasti terjadi.

Menebang pohon itu soal ekonomi. Soal bertahan hidup. Bagi orang yang tinggal di pinggiran hutan atau bahkan di atas bukit, sejak dulu mereka menebangi kayu.

Menebang pohon itu soal ekonomi. Soal bertahan hidup. Bagi orang yang tinggal di pinggiran hutan atau bahkan di atas bukit, sejak dulu mereka menebangi kayu. Untuk apa? Untuk membuat rumah. Bahkan juga ada yang dijual. Pohon-pohon besar yang akan dibelah dan dibagi dalam ukuran-ukuran yang diinginkan sesuai apa manfaat yang akan digunakan sebagai bahan membuat rumah.

Bagaimana lagi, tiap orang yang menikah beranak pinak. Setiap keluarga baru yang muncul pasti membutuhkan rumah sendiri. Untuk membuat rumah, lumayan kayu yang dibutuhkan. Dari manusia yang jumlahnya sedikit, hingga kini jumlahnya membludak.

Bagi generasi pra-mileial, tentu masih ingat bagaimana kakek dan nenek kita membangun rumah kenyakan dari kayu, juga bambu (keduanya sama tumbuh-tumbuhan). Lalu kayu dan bambu mulai langka, lalu orang harus membeli untuk mendapatkannya. Hingga harga kayu untuk bahan membuat rumah menjadi meningkat sesuai hukum penawaran dan permintaan. Dulu kalau butuh bambu tidak beli. Sekarang harga satu batang bambu bisa mencapai Rp 15.000.

Pohon-pohon bambu yang terkenal berfungsi untuk mengurangi banjir dan longsor itu kemudian banyak ditebang karena tuntutan ekonomi.

Pohon-pohon bambu yang terkenal berfungsi untuk mengurangi banjir dan longsor itu kemudian banyak ditebang karena tuntutan ekonomi. Ada yang selalu menebangnya ketika mau buat rumah, terutama menyangga atap yang akan dicor. Hingga dikomersilkan para pedagang bambu yang selalu akan mencari bambu-bambu untuk ditebang dan dijual ke pasaran. Bagi sebagian orang desa yang memang membutuhkan uang, menjual pohon bambu sudah menjadi pilihan untuk mendapatkan uang, terutama saat mereka butuh. Bisa jadi adalah pilihan terakhir, yang diambil karena sangat mebutuhkan uang.

Selain itu bambu juga ditebang untuk dibuat menjadi sarana atau alat lain yang lebih akan bernilai ekonomis. Bambu ditebang untuk dijadikan pagar halaman belakang rumah agar ayam peliharaan tidak liar. Bahkan juga dibuat untuk kandang ayam. Kenapa? Bagi sebagian masyarakat di desa, ayam adalah sumber penghasilan bagi mereka. Ayam kampung, misalnya, dibiarkan liar di belakang rumah yang halamanannya luas dan berpagar bambu, lalu suatu saat ketika ada kebutuhan yang mesti dipenuhi dengan membeli, mereka butuh uang. Ayam-ayam itu akan ditangkap dan dijual.

Bambu-bambu yang ada di belakang rumah, di kebun, yang bahkan terletak di pinggir kali kecil, akan ditebang untuk membantu membuat kegiatan memelihara ayam lancar.

Ayam adalah hewan peliharan yang amat ekonomis bagi masyarakat pedesaan. Tradisi genduren amat membutuhkan ayam kampung. Selain itu, ketika anak saatnya butuh membayar biaya sekolah, misal beli buku LKS, membeli sepatu, alat tulis, orangtua di daerah pedesaan akan menjadikan ayam peliharaan sebagai benda ekonomis yang amat bermanfaat. Bambu-bambu yang ada di belakang rumah, di kebun, yang bahkan terletak di pinggir kali kecil, akan ditebang untuk membantu membuat kegiatan memelihara ayam lancar.

Saya juga punya pengalaman menebang dua rumpun bambu Ori di belakang rumah yang saya tempati. Rumpun bambu pertama saya babat saat saya mendirikan rumah. Bambu itu mau tak mau saya ambil karena saya tak kuat beli bambu untuk menyangga cor-coran rumah. Rumpun bambu kedua saya habisi karena saya ingin membuka ladang kecil belakang rumah untuk menjadi tempat terbuka yang bisa ditanami dan juga menjadi tempat ayam-ayam dan Mentok mencari makanan.

Membaca tulisan-tulisan tentang manfaat bambu untuk mencegah banjir dan informasi tentang kian punahnya pohon bambu kadang juga menjadi agak tidak enak dalam hati. Saya harus memilih, apakah saya harus melihat keberadaan rumpun bambu yang rimbun di belakang itu menciptakan suasana agak menyeramkan dan bagian bawahnya yang membentuk jalinan batang dan “cangkring” yang di dalamnya menyerupai gua itu menjadi tempat persembunyian “Garangan” (Kucing Garong). Ataukah saya membabat rerimbun bambu itu agar hilang dan melihat suasana belakang rumah semakin indah jika ada tumbuhan yang lebih bermanfaat, sayuran, buah-buahan, di mana juga ada hewan unggas seperti ayam kampung dan mentok.

Lagian, naluri hidup saya membuat saya harus mengusir para Kucing Garong yang sering memakan ayam-ayam yang dipelihara orang-orang di sekitar lingkungan kami.

Naluri saya untuk bertahan hidup memilih menanam sayuran aneka ragam dan memelihara unggas. Sebab hidup lebih berwarna. Lagian, naluri hidup saya membuat saya harus mengusir para Kucing Garong yang sering memakan ayam-ayam yang dipelihara orang-orang di sekitar lingkungan kami. Agar tak ada lagi teriakan emak pada suatu subuh dengan rasa sedih karena ayam yang akan dijualnya mati dan terluka bersimbah darah lalu tewas karena diterkam kucing Garong (Garangan). Pada hal ia harus mendapatkan uang yang akan digunakan membayar buku LKS anaknya yang sudah telat.

Kita kadang tidak bisa menunda untuk mendapatkan uang karena kondisi mendesak daripada melihat pohon-pohon masih tumbuh sesukanya di atas tanah kita. Pohon-pohon besar di hutan-hutan di Trenggalek telah habis, dan orang memandapatkan tanahnya yang gundul dengan ditanami pohon-pohon atau tumbuh-tumbuhan baru yang lebih menjanjikan, mendatangkan nilai ekonomis. Karena naluri mempertahankan hidup dengan naluri memelihara alam itu bukan hal yang bertentangan.

Sekali lagi saya ingin mengatakan, eksistensi manusia dengan eksistensi pohon-pohon dan hewan-hewan adalah satu kesatuan sebagai bagian dari alam. Kontradiksi ekonomi, pemiskinan, eksploitasi masyarakat pedesaan yang membuat mereka miskin dan tanpa pendapatan, bukanlah hal yang tidak penting untuk diatasi dulu daripada kontradiksi alam yang disebabkan oleh tumbangnya pohon-pohon.

Jadi jangan terlalu banyak mendiskusikan kenapa masyarakat desa yang menanam pohon-pohon yang lebih bernilai ekonomis dan dianggap merusak lingkungan. Kritik yang sama, atau bahkan yang lebih dulu, harus kita alamatkan pada kapitalis yang telah membabat hutan sebegitu luasnya demi menumpuk keuntungan besar. Dibabatinya secara massif hutan-hutan oleh pengusaha kayu (logging) dan konglomerat bos kelapa sawit itu harus kita singgung pula.

Kapitalisme yang dikendalikan oleh pemodal raksasa itulah yang paling banyak punya kontribusi dalam merusak lingkungan. Jangan menyalahkan dulu tetanggamu yang menebang pohon-pohon bambu di ladangnya sendiri yang terletak di pinggir hutan.

Kita harus memahami bahwa kapitalisme yang dikendalikan oleh pemodal raksasa itulah yang paling banyak punya kontribusi dalam merusak lingkungan. Jangan menyalahkan dulu tetanggamu yang menebang pohon-pohon bambu di ladangnya sendiri yang terletak di pinggir hutan. Mari kita menulis kontradiksi yang besar-besar juga. Tidak sibuk melulu mengangkat tema-tema remeh di sekitar kita. Mari kita menunjukkan masalah besarnya juga, jangan terlalu banyak mengritik perilaku rakyat kecil yang kita sendiri sebenarnya tak bisa langsung berkomunikasi untuk mencegah mereka, kecuali mereka hanya kita tulis dalam esai yang kita anggap indah dan kita puas beronani dengan keindahannya.*

Tumbuh Membaca Bersama Gus Dur

0

Bagi seorang yang tumbuh dengan semangat membaca, Gus Dur adalah inspirasi sempurna untuk kalangan terpelajar, lebih-lebih sebagai seorang aktifis. Gus Dur menyadarkan pada seorang Luthfi, yang sekarang telah tumbuh menjadi seorang aktifis cendekiawan. Dia tersadar, perjumpaan literatif saat usia SMP dengan buku Tabayun Gus Dur, memantik kegelisahan masa lalu, seandainya Dia lebih banyak mengonsumsi buku-buku sebagaimana Gus Dur, barangkali Dia akan tercerahkan sejak dini. Bagaimana dengan Anda, sudahkan mengenal buku-buku Gus Dur dan spirit keterbukaan tanpa batas untuk membangun sudut pandang tentang pribadi Anda? (Redaksi).

KampusDesa–Saya lupa pada usia berapa pertama kali bisa membaca. Sejauh saya ingat, pada tahun kedua masa Taman Kanak-Kanak (TK) saya lumayan lancar dalam membaca tulisan latin, juga menulis tentunya. Di sebuah desa bernama Ngadirejo, Trenggalek, karena kakek saya merupakan guru ngaji kampung, maka bahasa arab (Al Qur’an) lebih dulu familiar pada memori balita saya. Sebab mendengar orang-orang ‘ngaji’ di surau juga perkenalan saya dengan huruf-huruf hijaiyah lewat buku bernama IQRA.

Menginjak sekolah dasar, pada awal tahun 2000-an orangtua saya berlangganan majalah Bobo dan majalah Ummi. Dua buku yang membuat saya kenal dan mulai suka membaca komik. Sedikit melangkah dari komik di dua majalah tadi, saya mulai membaca kolom ‘pengetahuan’ terutama tentang akhlak, dunia hewan, sains dan sebagainya, yang tentu dikemas sesuai usia anak-anak.

Kalau ada pepatah ‘Witing tresna jalaran saka kulina’ atau ‘Cinta datang karena terbiasa,’ maka begitu pula dengan kebiasaan membaca. Dua majalah tadi dan beberapa buku ‘ngaji’ mendorong minat saya untuk lebih banyak membaca. Di perpustakaan SD yang tidak sepenuhnya dirawat dan mengatur sirkulasi peminjaman bukunya, dimana lebih tepatnya cuma difungsikan sebagai gudang bersama peralatan olahraga, di sana saya mulai mencari bahan bacaan lain. Terutama tentang ilmu pengetahuan sosial dan pengetahuan alam. Buku-buku sederhana yang menceritakan profil wilayah-wilayah di Indonesia, profil negara-negara, tentang galaksi dan planet-planet atau keunikan flora-fauna.

Seandainya pada usia sekolah dasar saya tahu bahwa semakin banyak dan semakin berat bacaan yang dibaca sejak kecil akan mampu melahirkan tokoh sekelas Gus Dur, tentu saja saya bakal lebih banyak membaca.

Seandainya pada usia sekolah dasar saya tahu bahwa semakin banyak dan semakin berat bacaan yang dibaca sejak kecil akan mampu melahirkan tokoh sekelas Gus Dur, tentu saja saya bakal lebih banyak membaca. Saya lupa nama buku apa saja, tapi dalam buku berjudul ‘Tabayun Gus Dur,’ cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama ini sudah membaca buku-buku ‘berat’ karya penulis-penulis Eropa, terutama Uni Soviet, sejak usia sangat muda.

Dua buku Gus Dur yang saya baca pada saat SMP berjudul ‘Kiai Nyentrik Membela Pemerintah’ dan buku bersampul hitam dengan judul ‘Gus Dur Bertutur.’ Masa itu saya tidak kenal betul siapa Gus Dur. Kecuali bahwa beliau putra Kyai besar, sebagaimana umumnya alam pikiran santri di pesantren, orang bergelar Gus selalu punya keunggulan. Suatu yang ‘diwariskan’ secara biologis, religius maupun sosial oleh orangtua dan sesepuhnya.

Di kemudian hari baru saya tahu pemikiran Gus Dur lahir dari intensitasnya membaca yang luar biasa, juga pergulatannya dengan realitas tahun 70-an ketika anak-anak muda NU yang semula hanya mendapatkan pendidikan pesantren mulai masuk ke kampus.

Obrolan tentang ‘Gus’ pada usia saya SMP-SMA dominan tentang cerita keramat (khaariq al ‘adat) terutama tentang Gus Miek. Menulis buku tentu saja perkara mudah, bagi seorang Gus Dur, pikir saya waktu itu, sebagaimana keunggulan yang dimiliki Gus Miek. Di kemudian hari baru saya tahu pemikiran Gus Dur lahir dari intensitasnya membaca yang luar biasa, juga pergulatannya dengan realitas tahun 70-an ketika anak-anak muda NU yang semula hanya mendapatkan pendidikan pesantren mulai masuk ke kampus.

Dalam buku Beyond the Symbols: Jejak Antropologis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur, diceritakan bahwa pada usia 10 tahun, Gus Dur sudah membaca novel sastra.

“Jangan terlalu banyak membaca, nanti matamu rusak,” begitu pesan ibunya.

Tahun 70-80 an Gus Dur menjadi salah satu yang terdepan dalam dunia gerakan intelektual dan sosial secara nasional. Tulisan-tulisannya banyak dimuat di media masa. Pandangan-pandangannya yang dikenal moderat dan visioner tentu lahir dari ‘ribuan’ halaman buku yang dibacanya sejak muda. Dalam banyak ulasan, Gus Dur diakui sebagai tokoh yang berperan sangat besar mengantar organisasi Nahdlatul Ulama masuk pada abad duapuluh satu. Dengan orientasi dan gerakan yang lebih modern.

Buku Gus Dur yang berjudul ‘Gus Dur Bertutur’ saya baca dua kali. Selain banyak bagian yang saya lupa tidak lama setelah terbaca, saya juga tertarik dan kagum pada teknik menulis artikel Gus Dur. Gus Dur mengulas berbagai macam isu atau masalah aktual. Dengan penyampaian yang begitu mudah dimengerti dan dipahami. Banyak dalam buku tersebut dengan teknik bercerita.

Gus Dur ini kalau meminjam pujian Ahmad Wahib (2012: 237) kepada Sukarno: ‘….. tidak ada teori-teori atau paham-paham politik yang pelik dan sukar dimengerti bila sudah sampai pada lidah Sukarno,’ demikian juga dengan tulisan, pidato dan guyonan Gus Dur.

Gus Dur (juga Sukarno) adalah inspirasi bagi generasi bangsa kita untuk membudayakan membaca. Dari mereka kita tahu bahwa kemampuan dan kemauan membaca akan mempengaruhi pengetahuan dan ketrampilan (skill) seseorang.

Kebiasaan membaca pada dasarnya diharapkan mengantar masyarakat kita memiliki cara pikir yang benar, punya gagasan strategis dan tidak mudah meributkan (bertengkar pada) hal-hal sepele sebab beda perspektif.

Membaca juga perlu dibiasakan sedini mungkin. Bahkan jika perlu dipaksakan oleh orangtua maupun lingkungan. Fenomena rendahnya minat baca bangsa kita yang sering disampaikan berdasar temuan survey, dibandingkan negara-negara lain tentu memprihatinkan. Kebiasaan membaca pada dasarnya diharapkan mengantar masyarakat kita memiliki cara pikir yang benar, punya gagasan strategis dan tidak mudah meributkan (bertengkar pada) hal-hal sepele sebab beda perspektif.

Kapasitas dan kompetensi Gus Dur tentu bukan sekedar berkat keramat atau khaariq al-adat, tapi juga sebab usaha keras membaca sangat banyak literatur dan bergulat dengan realitas zamannya. Tentu bisa ditiru, dicontoh dan dikuasai oleh generasi mendatang dengan syarat motivasi yang tebal, akses bacaan yang mudah serta murah dan tentunya lingkungan (mulai keluarga sampai masyarakat) yang mendukung.

Yuk, Menjadi Relawan Camp Literasi Sains 2018

0

KampusDesa–Upaya mencintai sains sejak dini perlu disajikan dengan menyenangkan. Jika sekolah berjibaku dengan teks tetapi miskin percobaan, anak-anak semakin takut dengan bayangan sains yang rumit dan menakutkan. Untuk itu perlu adanya suatu kegiatan yang dapat menyederhanakan sains menjadi sains yang menggembirakan. Selain itu mulai hilangnya permainan tradisional di kalangan anak-anak yang berkembang di era teknologi, sepertinya mengangkat bermain yang lebih alamiah, bahkan bermain secara tradisional merupakan suatu ironi. Jaman digital kok masih mencari-cari egrang, gobaksodor, gatengan dan sebagainya.

Baca juga :

Laboratorium Sains Diubah Menjadi Sarana Bermain Anak-anak Desa
Belajar di Tengah Alam Cemorokandang Malang

Ada juga lo, bermain daun janggelan untuk bahan agar-agar, lalu dileburkan di air, kemudian di rendam di air, akhirnya mengental menjadi seperti agar-agar (cincau-lah kalau sekarang). Permainan ini adalah proses persenyawaan kimiawi yang sangat akrab pada anak-anak dulu, yang belum banyak tergantikan dengan teknologi. Nah, keakraban bermain ini menginspirasi bahwa realitas sains sudah dikenal anak-anak sejak dini melalui ragam permainan alami. Sayang permainan itu semakin tersingkir sejalan dengan kebutuhan waktu sekolah yang tergantikan dengan teks-teks sains yang kadang menjadi lebih abstrak, sehingga menjadi semakin sulit dan menakutkan.

Yuk pindah praktikum-praktikum di laboratorium yang eksklusif itu, digubah menjadi peraga-peraga bermain yang menyenangkan untuk anak-anak. Dengan cara ini mereka akan bisa dibangkitkan minat sainnya hanya dari kegiatan bermain, bukan berpikir formal saintifik.

Mari mengenalkan sains bukan dari teks, toh teks-teks sains sudah banyak diajarkan di sekolah. Yuk inspirasi anak-anak Indonesia mendapatkan pengalaman nyatanya melalui kegiatan bermain yang di situ terkandung praktikum mini sains. Yuk pindah praktikum-praktikum di laboratorium yang eksklusif itu, digubah menjadi peraga-peraga bermain yang menyenangkan untuk anak-anak. Dengan cara ini mereka akan bisa dibangkitkan minat sainnya hanya dari kegiatan bermain, bukan berpikir formal saintifik.

Yuk, yang menyadari bahwa anak-anaknya sudah terkuras pikirannya di sekolah sedemikian rupa atau sepertinya mereka sudah sangat antipati dengan sains di sekolah, ada baiknya mereka ikut bermain saja bersama kami. Meski mereka kesulitan di sekolah dan para Panda dan Bunda gelisah, bahkan marah-marah, ada baiknya dilibatkan dalam kegiatan ini. Mereka bisa bergembira tetapi langsung dikenalkan dunia sains dengan penuh kegembiraan. Biasanya, jika anak itu gembira, dia akan betah melakukannya. Betah ini berarti mereka suka. Suka berarti ada peluang dipelajari dengan serius. Jangan-jangan, mereka tidak suka sains, gara-gara mereka diajari bukan dari kegiatan yang mereka sukai terlebih dahulu. Oleh karena itu, pendekatan bermain menjadi sangat relevan agar anak-anak mencintai sesuatu. Bukankah anak-anak lebih suka menekuni sesuatu jika itu aktifitasnya bermain ? Mari kita pikir bersama jawabannya.

Baca juga :

Desa Belajar II : Cemorokandang Belajar Sains dan Hukum
Cemorokandang; Geliat Literasi Menuju Desa Belajar untuk Mandiri Wisata

Kampus Desa Indonesia melalui Tim Desa Sains bersaha membawa sains kepada masyarakat dan anak-anak di pedesaan yang masih awam atau bahkan sudah terlanjut takut dengan sains, untuk tumbuh kecintaannya kembali pada sains melalui cara-cara bermain. Tim Desa Sains dari Kampus Desa Indonesia sedang berkolaborasi dengan beberapa pihak yakni Markaz Dolanan, Komunitas Gubuk Tulis, Komunitas Garuda Malang, dan Tim Dolanan Malang, menggagas kegiatan Camp Literasi Sains yang dilakasanakan selama satu hari (full day).

Baca juga :

Desa Wisata : Empat Potensi Desa yang Diunggulkan
Menengok Desa, Mengikat Keluarga

Tentu kami tidak bisa sendiri, apalagi ikhwal sains yang bisa digubah menjadi permainan. Keterbatasan ini tentu menjadikan idealisme tersebut tidak boleh padam. Kami yakin, masih banyak anak muda Indonesia yang pandai tetapi memiliki kepedulian yang tinggi untuk mewujudkan anak-anak mencintai sains hanya dari kegiatan bermain.

Yuk, jika kamu orang baik dan peduli pada masa depan anak-anak Indonesia, daftarkan diri Anda menjadi RELAWAN CAMP LITERASI SAINs.

Tujuan Kegiatan

Mengenalkan sains sederhana dalam kehidupan sehari-hari
Untuk membumikan sains agar lebih memasyarakat dan mudah diterima oleh anak-anak
Sebagai bentuk pengabdian sosial masyarakat bagi relawan
Untuk membentuk generasi yang melek sains.

Siapa Relawan Camp yang Kami Ajak

Mahasiswa /Umum (Terbatas)
Bersedia mengabdi full time di kegiatan “Camp Literasi Sains”
Melakukan pendaftaran online melalui link formulir pendaftaran relawan camp literasi sains. E………. sudah klik apa belum, kok langsung membaca selanjutnya. Heee….
Jika sudah terdaftar dan lolos sebagai relawan maka wajib melakukan pembayaran kontribusi relawan.
Melakukan konfirmasi Pendaftaran dan pembayaran
Relawan yang telah terdaftar dan membayar WAJIB mengikuti pembekalan pada :

Sabtu, 15 Desember 2018 (09.00-14.00)

Persyaratan khusus relawan :

Aktif sebagai mahasiswa atau alumni dari jurusan MIPA (Murni, pendidikan). Lebih diutamakan yang kreatif mampu menciptakan peraga belajar
Teknik Arsitektur, Teknik Sipil dan lain sebagainya (khususnya mahasiswa yang sudah memiliki produk praktikum tetapi mudah dijadikan sebagai bahan bermain anak-anak)
Public Speaking, diutamakan yang suka bercerita
Psikologi Anak.
Reporter (junalis kegiatan)
Videografer dan Fotografer
Kesenian
Ikhlas dan komitmen
Mengabdi (urgent)

Timeline Kegiatan

Pendaftaran relawan camp >>>>>>>>  1-9 Desember 2018
Pengumuman lolos menjadi relawan >>  10 Desember 2018
Pembayaran relawan camp >>>>>>>> 10-15 Desember 2018

Pelaksanaan Kegiatan
19 Desember 2018

Lokasi Kegiatan

Kegiatan Camp Literasi Sains ini akan diadakan selama satu hari penuh (Full day) yang bertempat di Markaz Dolanan dan Seputaran Lahan Kelurahan Cemorokandang, Kota Malang.

Kontribusi Peserta : Rp. 25.000 (Konsumsi dan Sertifikat). Untuk transport biaya sendiri

Pembayaran dapat transfer melalui Rekening
BRI a.n. Deshinta Endah F. No. Rek. 034401093730507
Konfirmasi Pembayaran ke Deshinta (081231854903)

Masih mikir, tidak mendaftar, berat kehilangan uang. Wuiih, banyak sekali pertimbangan Anda…

Coba baca ini juga deh kalau begitu :

Family Gathering ; Bersama Keluarga Membangun Ceria
Kemiri, Bahan Masakan Menyelamatkan Kehidupan

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi :
Relawan Camp    :    Nuril ( 085232060506) dan Ilma ( 089696841554)

Liburanku Seru: Mendadak Aku Disuruh Pidato

0

Mengisi libur inspiratif merupakan pengalaman berharga. Apalagi seorang anak yang masih belum berjibaku dengan pengalaman public speaking. Nazira, berhasil menuliskan pengalaman liburan inspiratifnya berpidato dadakan dalam acara Maulid Nabi di sekolah ayahnya. Seru lo pengalamannya. Yuk simak si Penulis Cilik dan mendadak berani berpidato di hadapan anak-anak MI Miftahul Abror Karangploso Kab. Malang (Redaksi).

KampusDesa–Perkenalkan, nama lengkapku Nazira Fikriyatun Nuha Tatapangarsa Al-Qodri. Sangat panjang yaa..namaku. Hehehe. Lain kali kuceritakan asal mula namaku dan makna dari namaku itu. Saat ini aku belajar di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 3, kelas 1B dari Konsulat Malang. Aku akan menceritakan sedikit pengalamanku pada liburan 10 hari ini.

Hari pertama liburanku di rumah, aku diajak ayah dan ibuku bersilaturrahmi ke rumah tetanggaku yang baru saja pulang dari umrah. Di sana aku bertemu dengan dua teman lamaku, yang bernama Luna dan Tata. Mereka berdua adalah teman sepermainanku sejak aku kecil dan juga temanku mengaji di TPQ At-Thayyibah.

Pada hari kedua, aku berjalan-jalan bersama ayah dan ibuku serta adik-adikku ke Mall Dinoyo City (MDC) yang tidak jauh dari rumahku, sehingga cukup berjalan kaki saja menuju ke sana. Di MDC aku dibelikan ayahku peralatan sekolah, seperti buku, pensil, ballpoin, sampul buku, buku agenda, spidol dan lain-lain. Kami juga makan bakso dan berfoto di studio bersama seluruh anggota keluarga. Aku sangat bahagia sekali, karena bisa berkumpul bersama keluargaku.

Hari ketiga sangat berkesan bagiku, yaitu pada hari Senin, tanggal 19 November 2018, aku diajak oleh ayahku pergi ke sekolah tempat ayahku mengajar murid-muridnya. Kebetulan di sekolah ayahku diadakan peringatan Hari Besar Islam, yaitu Maulid Nabi Muhammad SAW. Di sana, aku disuruh guru-guru teman ayahku untuk berpidato seputar acara maulid nabi dan pengalaman di pondok Gontor.

Awalnya, aku tidak mau karena malu. Tapi, karena Ust. Suwarno pernah bilang ‘jangan malu,’ dan juga karena dipaksa, maka aku bersedia berpidato di depan anak-anak kelas 1 sampai kelas 6 MI.

Acara pun dimulai. Pembawa acara membacakan susunan acaranya. Mulai dari pembukaan sampai dengan penutupan. Untungnya, aku tampil terakhir sebelum penutupan. Jadi, masih ada waktu untuk belajar.

Dengan sedikit takut dan ragu-ragu, aku maju dan berpidato dengan seenaknya. Aku mengucapkan kata-kata yang sengaja terlintas di otakku.

Akhirnya, tibalah saatku untuk maju ke depan panggung. Dengan sedikit takut dan ragu-ragu, aku maju dan berpidato dengan seenaknya. Aku mengucapkan kata-kata yang sengaja terlintas di otakku. Jadi, ada sedikit bahasa Arab yang mereka mungkin tidak paham dengan kata-kataku. Tapi, sesekali, aku mengajak mereka bercanda. Kalau tertawa keras sekali.

Ketika aku mengucapkan “Assalamualaikum,” masih sedikit yang menjawab salamku. Aku pun bercanda dengan berkata, “yang menjawab salamku aku doakan masuk surga, kalau tidak menjawab salamku, aku doakan sakit gigi,” begitu aku bilang begitu seluruh siswa kelas 1 sampai 6 beserta guru tertawa semua. Aku pun mengucapkan salam yang kedua, sontak seluruh yang hadir menjawab salamku dengan keras dan semangat, mungkin takut sakit gigi. Hehehehehe…

Alhamdulllah. Akhirnya pidatoku selesai. Seru sekali. Tapi, menurutku, lebih seru muhadoroh di pondok.

Pada akhir acara, aku dipersilahkan makan siang yang telah disediakan. Aku tidak mau makan banyak-banyak karena sudah kenyang makan roti.

Dan setelah acara selesai, aku bersilaturrahmi ke rumah teman BiMaGon (Bimbingan Masuk Gontor) yang sekarang sedang melanjutkan perjuangannya di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 2. Namanya Dea, dan teman sekelasku di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 3, namanya Aura.

Nazira dan Keluarga. Ayahnya pun seorang penulis produktif. Azis Tatapangrasa juga penulis di Kampus Desa

Pada hari Rabu, 21 November 2018, aku diajak ayahku lagi pergi ke Taman Wisata Songgoriti Batu. Disana banyak sekali permainan. Ada ayunan, kolam renang, perahu kayuh, juga ada patung dinosaurus, dan patung buah-buahan.

Di sana, aku bermain dan outbond bersama anak-anak kelas 6 MI Miftahul Abror Karangploso. Mereka adalah anak didik ayahku. Serunya bermain, bercerita dan bergurau bersama mereka.

Setelah asyik bermain, kami dipersilahkan makan siang. Aku mengambil lauk telur bali, dan tahu bali. Enak sekali. Kemudian, kami Shalat Dhuhur dan berenang. Tapi, aku tidak ikut berenang. Karena sudah besar dan aku tidak membawa baju ganti. Jadi, aku hanya melihat-lihat saja.

Akhirnya, acara wisata selesai. Aku bersiap-siap pulang. Langit sudah mulai mendung. Aku takut terjadi hujan. Tapi, sebelum pulang aku menyempatkan diri untuk membeli es krim yang ada di depan taman Songgoriti itu. Enak sekali….Hehehe…

Desa Wisata Jambu: Wujud Nyata Pengelolaan Dana Desa

0

Mengolah Dana Desa yang ratusan juta hingga miliaran menjadi tantangan baru bagi Desa. Apalagi para aparatus desa masih banyak yang bermental feodalis. Mental kerajaan yang masih mengunggulkan kepriayian dan menciptakan pola, sing penting opo jare pak Lurah. Situasi begini ini yang membawa budaya aristokratik. Lurah/Kepala Desa masih simbol kekuasaan yang belum mampu mengubah partisipasi dalam pengambilan keputusan pengembangan desa. Yah, nampaknya Desa Wisata Kebun Bibit, Desa Jambu, Pare, Kediri membuktikan jika kelahirkan desa wisata ini adalah bukti pergeseran dari gaya kepemimpinan feodalistik pemerintah desa ke partisipasi untuk melahirkan desa membangun.

Kediri, KampusDesa–Jamak di masyarakat, khususnya mereka yang usianya digolongkan sebagai pemuda atau bahkan mereka yang sudah jauh dari kata muda namun semangat hidupnya membara masih ingin berkontribusi untuk masyarakat setempat. Kendala yang banyak ditemui adalah keterbatasan informasi dan kurang diperhatikan. Bahwa sistem bottom-up seperti Musrenbang belum bisa menyeluruh, sebab hanya beberapa orang saja (yang termasuk kerabat) yang diperkenankan ikut. Padahal bisa jadi, beberapa orang itu hanya akan ber-musrenbang untuk kepentingan diri sendiri.

Khazanah ilmu ekonomi menyebutkan bahwa kelangkaan terjadi akibat sumber daya yang terbatas dan kebutuhan manusia yang tak terbatas. Nah! Konteks kebutuhan dalam hal ini tidak dibatasi melulu untuk konsumsi, melainkan kebutuhan akan pemimpin yang bertanggung jawab. Krisis pemimpin jujur menjadi konflik urgen di era ini. Tidak perlu membahas pemimpin daerah atau wakil rakyat yang akhir-akhir ini mulai menyeruak tercium “bau amis”nya.

Di lingkup desa, pemimpin yang diberi amanah mengelola dana desa saja, belum mampu/malas menyejahterakan masyarakatnya. Sedangkan dari perspektif khusnudzon, kemungkinan besar, mereka (pemimpin dan wakil masyarakat) kekurangan ide untuk mengelola dana desa.

Ini perspektif suudzon saya. Di lingkup desa, pemimpin yang diberi amanah mengelola dana desa saja, belum mampu/malas menyejahterakan masyarakatnya. Sedangkan dari perspektif khusnudzon, kemungkinan besar, mereka (pemimpin dan wakil masyarakat) kekurangan ide untuk mengelola dana desa. “Mau diapakan dana desa sebanyak ini?” Karena kekurangan ide, akhirnya mereka mudah saja memasukkan ke katong pribadi dulu.

Maka saya akan mengambil pembahasan dari sudut pandang khusnudzon. Karena kekurangan ide, pemimpin tersebut kemudian mencari ide kepada orang lain, pemuda misalnya. Berikut adalah desa yang patut dicontoh, baik dari pemimpinnya, pemudanya, juga masyarakatnya.

Wisata Kebun Bibit, Desa Jambu, Pare Kediri. Desa wisata yang dikelola secara mandiri terintegrasi dengan BUMDES dan bisa menjadi APDes alias Anggaran Pendapatan Desa. Foto : Syamsu Dhuha

Berikut adalah ulasan dalam menjawab opini saya sebelumnya, yaitu Rasionalitas dan Ekspektasi Penerapan Dana Desa.

Desa Jambu, Pare, Kediri atau biasa orang-orang menyebutnya Kebun Bibit Kediri. Kebun Bibit Kediri adalah suatu rest area yang memadukan konsep perkebunan dan restoran. Pemandangannya asri dengan pohon buah-buahan banyak tersebar. Ini hanya destinasi awal. Desa Jambu mempunyai 8 wisata edukasi antara lain, wisata edukasi, sungai sejuta ikan, gamelan, tanam padi, peternakan perah susu kambing etawa, taman baca, petik kelengkeng, taman sejuta warna, dan sungai Niagara. Semua wisata tersebut tersebar di dusun-dusun Desa Jambu. Berikut ulasan wisata yang dikembangkan melalui dana desa dan sinergi antara kepala desa dan masyarakat.

Sungai Sejuta Ikan adalah sungai kecil atau parit atau kalen (dalam bahasa jawa) yang letaknya di belakang rumah warga Dusun Kedungcangkring, Desa Jambu. Parit selebar (kira-kira) 2 meter ini dipasang jaring-jaring sepanjang 100 meter dan diisi ikan Koi, tombro, komet, dan ikan lainnya. Pengunjung bisa memberi makan ikan sambil mencelupkan kaki ke parit atau sambil mandi bersama ‘sejuta’ ikan. Adapun wisata edukasi tanam padi. Lokasinya hanya berjarak 50 meter dari sungai sejuta ikan. Namun wisata ini hanya bisa dinikmati bila berombongan minimal 20 orang. Saya yakin potensi-potensi itu ada di beberapa desa lain, namun kurang dikelola dengan baik.

Selain dua wisata di atas ada juga petik kelengkeng. Wisata petik kelengkeng ini berada di Dusun Jambu, berjarak 1 Km dari lokasi wisata sungai sejuta ikan. Lahan seluas 2 hektar ditanami 8400 pohon kelengkeng. Pengunjung bisa menikmati kelengkeng langsung dari pohonnya. Kalau mau bawa pulang buat oleh-oleh? Sangat bisa! Cukup membayar 25 ribu rupiah, 1 Kg Kelengkeng bisa disantap di rumah.

Tidak hanya pertanian dan perkebunan. Sektor peternakan pun mereka kembangkan seperti di wisata ini, yaitu peternakan perah kambing Etawa. Lokasinya hanya berjarak 100 meter dari wisata petik kelengkeng. Puluhan kambing etawa yang ditempatkan di kandang kayu yang besar dan cukup bersih. Kambing-kambing ini tampak bersih, dan siap diperah susunya. Setelah itu, susu yang diperahpun bisa di bawa pulang sebagai oleh-oleh.

Mengelola desa berpenduduk 5790 jiwa ini, tentulah bukan perkara mudah. Segalanya berawal dari tiga tahun lalu, ketika Desa Jambu hanya dikenal sebatas wisata petik buah kelengkengnya saja. Pak Agus sebagai kepala desa memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan potensi wisata desa Jambu. Sungai Desa Jambu yang berarus deras di musim penghujan, studio gamelan milik warga, dan peternakan perah susu kambing etawa sudah ada dan sangat potensial untuk dijadikan objek wisata.

“Pengelolaan sumberdaya alam atau desa wisata ini lebih memaksimakan peranan BUMDes sebagai lembaga sosial dan lembaga komersial desa. … Lumayan lho mbak, pemasukan bersih perbulannya sekitar 11 juta dari modal awal 10 juta.

Wisata Edukasi Desa Jambu dikelola oleh masyarakat sendiri, tanpa melibatkan pihak luar dan bernaung pada Badan Usaha Milik Desa atau (BUMDes). “Pengelolaan sumberdaya alam atau desa wisata ini lebih memaksimakan peranan BUMDes sebagai lembaga sosial dan lembaga komersial desa. Dengan adanya Desa Wisata ini, tentu memberdayakan masyarakat dengan mengubah pola pikir dan perilakunya. Kesejahteraan masyarakatpun meningkat. Pendapatan dari pengunjung sebagian kembali kepada masyarakat, kemudian sisanya masuk kas desa dan menjadi pemasukan asli desa atau PADes. Lumayan lho mbak, pemasukan bersih perbulannya sekitar 11 juta dari modal awal 10 juta. Ini sebagai implemetasi nyata tulisan saya sebelumnya, yaitu Peran BUMDes Sebagai Sarana Kemandirian Ekonomi Desa.

Kesuksesan Desa Jambu menjadi destinasi wisata edukasi adalah wujud kerja keras BUMDes di bidang ekonomi dan dukungan nyata dari Dana Desa. Desa memanggil pemuda-pemudinya menjadi motor penggerak pembangunan melalui Karang Taruna maupun BUMDes. Karang Taruna yang merupakan organisasi sosial kemasyarakatan, adalah wadah dan sarana pengembangan setiap anggota masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/kelurahan. Melalui Karang Taruna, pemuda diharapkan berkiprah di bidang usaha kesejahteraan sosial, kegiatan keagamaan, pendidikan, olah raga, kesenian, dan lain-lain.

Pengelolaan BUMDes oleh pemuda mempunyai beberapa dampak positif: membuka lapangan kerja, mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi, memaksimalkan potensi desa karena pemuda memiliki kapasitas pendidikan yang tinggi, dan bersih dari kepentingan politis. Di atas adalah implemenatasi dari tulisan sebelumnya, tentang Pemuda Sebagai Informal Leader Penggerak Masyarakat Menuju Desa Lebih Baik.

Agama dan Keadaban Hidup Bersama

0

Apa yang kita yakini sebagai Tuhan, itu produk pikiran yang terbatasi oleh kapasitas nalar seseorang. Kebenaran pikiran kita tentang Tuhan bukan Tuhan itu sendiri. Seberapa kuat pemaksaan pikiran itu pada orang lain, tetap saja terbatas dalam kapasitas bernalar kita. Lantas apa yang penting dari keimanan atas Tuhan yang merupakan entitas pikir masyarakat beragama? Akhlaq. Begitu juga dalam sebuah kehadiran dalam keragaman agama-agama, keberadaban menjadi modal bersama ketimbang pertarungan kebenaran iman masing-masing yang semuanya berada dalam batas-batas relatifitas nalar.

Kampusdesa.or.id–Di penghujung akhir 2015, di sebuah gereja mungil di salah satu wilayah dataran tinggi di Jawa Timur, saya diminta untuk mengisi satu sesi di sebuah forum persiapan para calon pendeta. Tidak untuk berbicara tetang masalah teologi tentunya. Saya diminta untuk berbicara tentang agama dan tanggung jawab kemanusiaan. Kurang lebih seperti itulah topiknya, redaksi kalimatnya saya sudah lupa.

Suasana dingin malam itu tidak membuat diskusi membeku. Di salah satu bagian diskusi yang penuh keakraban, hangat dan blak-blakan malam itu, saya melontarkan pertanyaan: “Apakah Anda percaya bahwa doa yang kita kirimkan kepada orang yang sudah meninggal sampai kepada si mayat dan memberi dampak kepadanya dalam menempuh perjalanan setelah kematian?” Pertanyaan ini sebetulnya seperti debat kuno antara warga NU dan Muhammadiyah tentang apakah kiriman surat al-Fatihah atau Yasin atau doa secara umum kepada si mayat sampai ataukah tidak.

Kematian adalah gerbang di mana penghakiman Tuhan sepenuhnya akan dijalankan seadil-adilnya.

Seperti yang sudah saya duga, mereka serentak menjawab: “TIDAK”. Mereka adalah sekelompok calon pendeta dari sebuah denominasi gereja yang ajaran teologinya meyakini bahwa doa kepada si mayat tidak memberi efek apapun. Seseorang akan sepenuhnya menanggung apa yang diperbuatnya selama hidup di dunia. Saat kematian tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat. Kematian adalah gerbang di mana penghakiman Tuhan sepenuhnya akan dijalankan seadil-adilnya. Di mana, keadilan di sini berarti Tuhan akan memberi balasan, siksa atau pahala, sesuai dengan amal perbuatannya selama di dunia.

Tidak ada upaya yang bisa mengubah rumus ini, termasuk doa kerabat atau sahabat. Karena itu, bagi gereja ini, doa kematian sebetulnya bukan mendoakan si mayat, tapi doa penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Saya kemudian bertanya lagi: “Karena doa kepada si mayat tidak memberi dampak apapun, apa yang kamu rasakan jika suatu hari anggota keluargamu atau orang yang kamu sayangi meninggal dunia, dan saya mendoakan si mayat di depanmu, ‘semoga dia celaka dan dibakar api neraka’?” Seperti yang juga sudah saya duga, semuanya terdiam. Di titik ini mereka menyadari bahwa ada yang lebih penting dari klaim kebenaran teologis, bahkan sekalipun itu diyakini menempati posisi tertinggi dan absolut dalam jenjang kebenaran, yaitu keadaban dalam kehidupan bersama.

Secanggih apapun rumusan teologis yang disusun manusia, ia sebenarnya adalah hasil kerja rasio dalam menafsir pesan Tuhan. Tuhan sendiri karena kemutlakan-Nya tidak mungkin bisa dikurung dalam rumusan-rumusan teologis yang dihasilkan oleh rasio manusia yang nisbi.

Klaim kebenaran teologis, apapun agamanya, pada akhirnya kembali kepada keyakinan masing-masing. Secanggih apapun rumusan teologis yang disusun manusia, ia sebenarnya adalah hasil kerja rasio dalam menafsir pesan Tuhan. Tuhan sendiri karena kemutlakan-Nya tidak mungkin bisa dikurung dalam rumusan-rumusan teologis yang dihasilkan oleh rasio manusia yang nisbi.

Kebenaran teologis hanya memberi kita dua pilihan: percaya atau tidak percaya. Ia tidak menyediakan alat untuk menverifikasinya. Hanya Tuhan yang tahu apakah doa kepada si mayat akan sampai atau tidak. Kelompok yang pro maupun kontra, keduanya tidak memiliki alat untuk membuktikan klaimnya, kecuali kembali kepada pilihan keyakinan masing-masing.

Di sinilah titik batas klaim kebenaran teologis. Biarlah itu menjadi kewenangan Tuhan. Tak perlu kita bersaing dengan Tuhan untuk urusan ini. Seyakin apapun kita terhadap satu pemikiran teologi tertentu, kita harus menyadari bahwa hanya Tuhan sajalah pemilik kebenaran sejati. Karena itulah, saya menaruh hormat sepenuh hati kepada kiai-kiai NU yang selalu mengakhiri uraian-uraian keagamaannya dengan kalimat: wa-Allahu a’lam bi al-shawab (Allah sajalah yang Maha Mengetahui kebenarannya).

Bagi mereka yang meletakkan keyakinan teologinya sebagai kebenaran absolut sebagaimana kebenaran Tuhan itu sendiri, mereka mudah tergelincir untuk bersikap eksklusif dan intoleran dalam beragama. Mereka merasa bahwa merekalah pemegang kebenaran satu-satunya. Karena sikap seperti ini, mudah sekali mereka mengkafirkan kelompok lain yang berbeda. Inilah jalan pikiran kelompok takfiri (mudah mengkafirkan kelompok lain yang berbeda). Dari cara berpikir seperti ini jugalah lahir berbagai kekerasan agama, bahkan tindakan-tindakan teror.

Mereka tidak menyadari bahwa beragama tidak sebatas teologi, tapi juga akhlak. Bahkan Nabi Muhammad bersabda bahwa dia diutus Tuhan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Untuk apa beragama jika buahnya adalah kebencian dan kedengkian? Untuk apa mengklaim memiliki kebenaran sejati yang akan menggaransinya masuk surga jika hal itu hanya melahirkan permusuhan dan kekerasan?

Tidak mungkin melepaskan agama dari keadaban hidup karena justru di sinilah jantung hati agama dalam kehidupan manusia. Agama duturunkan Tuhan bukan untuk menambah keagungan-Nya, tapi untuk memberi terang hidup manusia.

Mengapa kita tak mungkin berdoa buruk kepada mayat di depan keluarganya sekalipun keluarga tersebut meyakini doa tidak memberi dampak apapun kepada si mayat, adalah karena doa buruk itu akan menyakiti hati keluarganya. Tidak mungkin melepaskan agama dari keadaban hidup karena justru di sinilah jantung hati agama dalam kehidupan manusia. Agama duturunkan Tuhan bukan untuk menambah keagungan-Nya, tapi untuk memberi terang hidup manusia. Jika cara kita beragama hanya menumbuhkan kebencian, pasti ada yang salah dalam cara kita menghayatinya.

Sampai di sini, jika Anda bertanya, mengapa ada orang yang melakukan bom bunuh diri dengan motif agama, jawabanya adalah karena orang itu memisahkan teologi dari etika; melepaskan agama dari keadaban hidup bersama. Anda juga tidak perlu heran jika ada sekelompok orang yang meributkan salam semua agama, karena begitulah cara mereka beragama. Bagi mereka, beragama semata-mata tentang kavlingan surga, tidak peduli apakah perkataan dan sikapnya menyakiti sesama.[]